Page 18

C E R I TA S A M P U L PUNCAK GUNUNG LAINNYA: Menikmati keindahan Alpen, Swiss.

dan danau es, ditambah dengan sup hangat, dan kami telah siap untuk menyambut hari Sabat. Setelah lima hari mendaki dan memanjat kami siap untuk hari Sabat hari untuk beristirahat dan segera mengantuk. Saat Allah Berbicara

18

Adventist World | 07 - 2013

i l K l i n gb e

Kami mengalami Sabat yang indah di atas pegunungan. Suatu rombongan kabut yang lembut mengelilingi tenda kami, dan kami menghabiskan beberapa jam untuk berbincang dan berdoa bersama. Pada pagi berikutnya kami melanjutkan pendakian kami. Cuaca telah berubah. Musim dingin telah tiba,

G .

Dua Tahap Keajaiban

M a r t i n

Saya terbangun pada tengah malam dan di tengah angin ribut yang menyeramkan. Lokasi kami adalah tempat yang berbahaya. Hujan jatuh di atas tenda. Petir dan guntur saling bersahutan di langit. Menghitung waktu di antara kilat petir dan guntur, saya menyadari bahwa petir tepat di atas kami. Saya sangat ketakutan. Saya tidak mampu bergerak di dalam sleeping bag. Untuk pertama kalinya dalam masa muda saya, saya merasa takut menghadapi kematian. Saya tahu bahwa kami sangat dekat dengan puncak gunung di dalam sebuah tenda dengan tiang besi yang mengarah ke langit—sebuah magnet yang cocok bagi sambaran petir. Saya dapat membayangkan bagaimana jadinya tempat itu setelah disambar petir. Gelap. lebat, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Saya tidak tahu berapa lama saya akan terbaring tanpa bergerak. Lagipula saya tidak dapat berdoa; ketakutan telah mengunci saya. Seolah-olah waktu telah berlalu, kemungkinan besar tidak lebih dari lima belas menit. Lalu sesuatu di dalam diri saya diklik, dan pintu air terbuka. Saya mencurahkan isi hati saya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi dan angin badai dan hujan dan hidup dan keindahan. Saya memikirkan hidup dan menekan pikiran dan tindakan saya. Saya mengakui segala sesuatu yang memisahkan saya dari Pemelihara atas kehidupan. Akhirnya hal itu terjadi: tanpa lagi merenung saya menangis kepada Tuhan: “Tuhan, jika memang Engkau ingin agar aku melayani sepenuh waktu, biarlah angin ribut ini berlalu saat saya mengucapkan amin.” Dari mana datangnya ini? Saya tidak memikirkan tentang pertanyaan besar itu selama beberapa minggu; saya sedang menikmati masa liburan dan perasaan yang menyenangkan saat mendaki gunung. Tapi inilah yang terjadi, dan saya menutup doa saya dengan sebuah kata, Amin. Suatu keheningan yang mendalam menyelimuti tenda kecil kami. Petir, guntur, dan hujan berhenti seperti halnya ada seseorang yang menekan tombolnya. Saya kira ada yang telah melakukannya! Sementara saya terbaring di pegunungan Swiss hampir di ketinggian 10.000 kaki, saya mulai menyadari apa yang telah terjadi. Saya menggoncangkan teman saya untuk memberi tahu apa yang baru saja Allah lakukan bagi saya. Pencipta alam semesta telah mendengar tangisan putus asa dari salah seorang anak-Nya. Ia sangat tertarik akan masa depan saya; Ia telah memberikan kepada saya derap langkah milik saya.

Setiap kali saya bergumul dan yang mengingatkan bahwa Saya ada Tempat-Nya, sedang melakukan urus Nya satu langkah kecil setiap saat. serpihan salju telah menyentuh puncak gunung yang besar di mana kami berada. Sekarang malam menjadi lebih dingin. Kami kembali dan bertemu dengan seorang pengemudi yang baik hati yang tidak berkeberatan untuk ditumpangi oleh dua orang pendaki yang bau. Saya gugup. Saya sangat menghargai nasihat ibu saya. Pandangannya—dan saya mengetahui pendapatnya mengenai sekolah kependetaan. Bagaimanakah ia akan bereaksi terhadap pengalaman pendakian saya? Apakah yang akan dikatakannya? Saat saya berjalan menuju apartemen dan menekan bel saya berdoa di dalam hati. Pintu terbuka, dan ibu memeluk saya dengan penuh kegembiraan. (Hanya seorang ibu yang mau memeluk seorang pendaki yang bau). “Ibu, saya ingin memberitahu sesuatu. Allah telah melakukan sesuatu yang luar biasa kepada saya,” saya berbicara tanpa berpikir lagi. Ibu saya bimbang sejenak, kemudian berkata, “Gerald, ibu telah banyak berdoa untuk masa depanmu. Engkau memiliki waktu kurang dari dua bulan sebelum engkau menyelesaikan tugas sipil.” Sekarang ia menatap langsung pada saya: “Ibu tidak tahu mengapa, tapi seolah-olah Tuhan memberitahu ibu bahwa engkau harus pergi ke sekolah pendeta. Kau tahu apa yang pernah ibu katakan kepadamu, tapi nampaknya Tuhan memiliki rencana lain.” Demikianlah! Mulut saya menganga. Saya memeluk ibu saya dan menceritakan pengalaman saya di puncak gunung. Kami tertawa dan menangis bersama. Penguasa alam semesta telah menjawab. Menyadari saat yang dahsyat itu, kami berdua berte-

Aw indonesian 2013 1007  

AW, Indonesian,