Page 11

bumi Parahyangan, dan sudah seharusnya siswa di Jabar mendapatkan kesempatan lebih untuk memperoleh pendidikan di ‘tanahnya‘. Walaupun sebenarnya menurut data mahasiswa ITB tahun 2012, lebih dari 40% mahasiswa ITB tahun 2012 berasal dari Jabar. Kebijakan ini juga dinilai memiliki tujuan baik untuk memajukan daerah Jabar dengan meningkatkan kualitas SDM di Jabar. Semakin banyak putra-putri daerahnya yang bisa masuk ke perguruan tinggi unggulan, maka dianggap tingkat pencapaian kinerja Pemerintah Daerah di bidang pendidikan pun akan semakin tinggi. Sehingga sah-sah saka jika memang ingin menerapkan kebijakan ini.

Dari Redaksi

Namun dari sisi kontra, seperti yang dikutip dari pendapat beberapa dosen ITB, kebijakan ini dinilai akan membuat ketiga PTN tersebut, jangankan menjadi world class university, universitas nasional saja sudah tidak lagi. Ketiga PTN tersebut kemudian akan menjadi universitas ‘kedaerahan‘. Kebijakan ini juga dinilai akan menimbulkan persaingan yang tak adil terhadap putra-putri terbaik dari daerah-daerah lain. Ada juga tanggapan dari salah satu mahasiswa ITB yang mengatakan bahwa heterogenitas di kampus merupakan hal yang penting. Warna-warni heterogenitas ini akan lebih membuka wawasan dan cara pandang mahasiswa melalui interaksi dengan mahasiswa lainnya yang memiliki latar belakang dan asal daerah yang berbeda-beda. Selain itu, kebijakan ini juga dianggap bertentangan dengan pemerataan pendidikan di Indonesia, karena kesempatan ‘anak daerah’ untuk mencicipi ilmu di universitas unggulan pun semakin kecil. Jadi, bagaimana menurut kalian Bos-Bis? Apa tanggapan kalian mengenai kebijakan ini? Menolak? Ataukah setuju?

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” – Mahatma Gandhi

“Education without values, as useful as it is, seems rather to make man a more clever devil.” – C.S. Lewis

#42

11

R32 42  
Advertisement