Page 1


Keterangan Sampul Sampul ini dirancang menggunakan kombinasi warna dari seragam sekolah SD PPSP IKIP Malang yakni hijau daun dan kuning gading. Foto pada sampul ini dipilih untuk menampilkan kembali suasana masa lalu dari SD PPSP IKIP Malang, seperti: tampak depan sekolah, suasana di ruang kelas dan gedung aula. Foto yang dipergunakan dalam rancangan ini ada yang berasal dari koleksi pribadi alumni SD PPSP maupun dari dokumentasi IKIP Malang.


para penyusun

33 tahun kemudian ... .

 Raymond Valiant Ruritan lebih kerap dipanggil Raymond. Pernah menjadi ilustrator dan redaktur Derap, Majalah Siswa SD PPSP IKIP Malang antara tahun 1979-1982. Maka dalam penyusunan buku kenangan ini menjadi pemimpin redaksi.

I Gusti Agung Anom Astika lebih akrab dipanggil Nompi. Rajin menulis tentang berbagai hal sejak sekolah dasar sampai kini. Alhasil pria flamboyan ini pun didaulat menjadi salah satu penulis utama dalam buku kenangan ini.

Wahyu Trimurti sering dipanggil Murti. Pecinta alam yang berbadan mungil ini dikenal pandai berorganisasi, sehingga dalam penyusunan buku ini bertanggungjawab mengelola proses manajerial dan penggalian dana.


kenangan SD PPSP angkatan 1977

penyumbang bahan

Noer Rahmi Ardiarini lebih kerap dipanggil Dian. Dosen yang senang membaca dan menulis.

S

Yudho Sasongko yang sering dipanggil Dodik. Pegawai pada Departemen Luar Negeri ini dulu pernah menjadi redaktur Derap.

Elisa Mardiana yang akrab disapa Lisa. Ibu rumah tangga yang rajin membaca dan tekun mengumpulkan data.

Adi Poerwanto kerap dipanggil Antok. Penulis puisi yang sejak SD sudah menorehkan karyanya.Dia rajin menulis untuk Derap.

ebagian bahan dari buku kenangan ini berasal dari sumber-sumber lain. Terima kasih disampaikan kepada Pak Arief Sukadi Sadiman, Mbak Diantini Viatrie, Mas Novi Prihananto, Mas Estu Edi Hananto, dan Mas Agoes Danarto yang telah membagikan informasi dan dokumentasi mereka. Juga kepada narasumber, para guru dan teman sekolah semasa di SD PPSP IKIP Malang yang dengan antusias melayani keinginan para penyusun untuk menerbitkan buku ini.




I

barat mengeluarkan sebutir kerikil dari sepatu, demikian dapat kami gambarkan rasa lega dengan terbitnya buku ini. Buku ini bukan "kerikil� dalam pengertian sesungguhnya. Ini hanya kiasan untuk menunjukkan betapa gembiranya kami – para penyusun – dengan berakhirnya suatu proses yang menghasilkan sebentuk buku yang saat ini dapat dipegang para pembaca.

33 tahun kemudian ... .



pengantar

Buku kenangan terbit tahun 2010 dengan memanfaatkan momentum: 33 tahun silam angkatan 1977 memasuki Sekolah Dasar Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (SD PPSP) yang berada di bawah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Itulah sebab buku ini diberi judul "33 Tahun Kemudian ... �


untuk hadir maka muncul pemikiran untuk melakukan reuni dalam bentuk lain.

Reuni dalam bentuk lain – untuk menyiasati keterbatasan para alumni hadir secara fisik – akhirnya diwujudkan dalam sebuah buku. Sebuah buku tentang sekolah, tentang bapakibu guru, tentang teman-teman, tentang modul, tentang SD PPSP IKIP Malang.  Rentang antara 1977 hingga 2010, bukan sekadar perbedaan waktu, tetapi juga sebuah perjalanan hidup, yang dialami setiap siswa ataupun siswi menurut garis hidupnya. Ide awal penyusunan buku ini dirintis tatkala sejumlah alumni SD PPSP IKIP Malang angkatan 1977 berkumpul di sebuah rumah makan di Malang, sekitar bulan Oktober 2008 silam. Dari pertemuan itu bergulir keinginan mengadakan reuni, yang akhirnya berhasil diselenggarakan pada September 2009. Mengingat keterbatasan para alumni

Melalui sebuah buku diharapkan tidak ada lagi teman yang terlewat: yang jauh maupun dekat, yang sibuk maupun senggang, semua bisa terjangkau. Buku bisa menyambung yang terputus dan mengingatkan yang terlupakan. Proses menerbitkan buku ini terbilang singkat, dibatasi waktu, disertai pelbagai kendala dan kesulitan, namun aneh tapi nyata, prosesnya demikian menggairahkan hingga akhirnya memberikan kebahagiaan tersendiri ketika terselesaikan.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Peragaan busana SD PPSP IKIP Malang dalam rangka memperingati Hari Ibu Kita Kartini, dengan catwalk dari plesteran semen di depan auditorium dan penonton di lapangan rumput.




hingga tercipta rangkaian tulisan dan artikel dari berbagai sumber. Penyusunan buku ini memang unik, karena masing-masing penyusun bekerja secara terpisah. Kini, dengan hadirnya buku kenangan ini, para penyusun berharap tujuan penerbitannya dapat tercapai. Semoga "33 Tahun Kemudian ... � dapat membangun kenangan yang baik untuk semua siswa-siswi SD PPSP IKIP Malang – khususnya angkatan 1977. Konon, kenangan adalah kekayaan dari daya ingat, kata sastrawan Gabriel Garcia Marquez dalam One Hundred Years of Solitude. Sungguh sepi hidup ini, jika kita tak memiliki ingatan akan masa lalu.

33 tahun kemudian ... .



Diawali dengan pertemuan para penyusun: Raymond, Murti dan Nompi di sebuah kedai kopi, pada bulan Desember 2009. Dilanjutkan dengan wawancara melalui surat elektronik ke beberapa teman. Juga perburuan foto lama dan barang-barang masa sekolah dulu. Selanjutnya bertebaranlah – antara Mojokerto, Surabaya dan Jakarta – surat elektronik, chatting, pesan singkat, posting di situs jejaring sosial, bahkan telepon interlokal, lengkap dengan guyonan, berantem dan sesekali saling memotivasi

Akhirul kalam, para penyusun berterima kasih pada dukungan segenap teman sekolah yang sudah ikhlas menyisihkan rezeki untuk mendanai penerbitan buku ini. Semoga ini semua berarti bagi kita! Malang, 12 September 2010 Raymond, Nompi dan Murti


para penyusun penyumbang bahan

2 3

dari kehidupan masa kecil yang penuh dengan kedekatan "nur wulan ... ?!” "titis wirasari ... ?!” "elisa mardiana ... ?!” "wahyu trimurti ... ?!” "yudho sasongko ... ?!” "oki arisulistijanto ... ?!” "nugroho aristawarman ... ?!” "muhammad yahya ... ?!”

31 34 37 40 43 46 49 52 55

oh, coban rondo

58

dari kehidupan masa kini yang penuh dengan keberanian pra fajarrini rengganing sasanti tedja guntara karuna bawana (mus) rini dyah artanti

61 63 66 69 72

kenangan SD PPSP angkatan 1977

daftar isi




33 tahun kemudian ... .



catatan tentang guruku sumadji abduh abdullah imam rofii

77 82 85 89

sekolah kita maju mendahului zaman

92

aneka kudapan (jajan) masa lalu

99

derap: majalah siswa sd ppsp ikip malang agung wahyuono: kolektor derap PPSP vs MTsN I sneakers ÂŤwarriorÂť

105 107 108 113

mengembangkan potensi di sekolah dasar laboratorium pakasi (sebuah refleksi)

117

kemarin

135

33 tahun kemudian ... (behind the scene)

136

PPSP datangku kembali


F

oto siswa-siswi SD PPSP IKIP Malang angkatan 1977 yang diambil di Jalan Magelang, Malang. Dua orang guru mendampingi kita pada foto ini. Ada yang ingat nama beliau berdua?


ďƒ›

Berbaris rapih siswasiswi kelas 1 SD PPSP IKIP Malang. Foto ini diambil di halaman sekolah yang bertempat di Jalan Simpang Bogor, Malang, tempat angkatan 1977 sempat bersekolah selama setahun.

ďƒœ

Bersama-sama difoto pada perayaan ulang tahun Anitawati di kelas 1. Nasatyo berdandan rapih dengan dasi di latar belakang.


kosa kata sd ppsp Sebuah Ruang Cerita yang Hidup di tahun 1977

ari belum gelap, belum berderap ke remang peraduan, namun berarak menyongsong hawa dingin. Terang masih menyisir jalan-jalan di sekitar perimeter (dulu IKIP Malang) Universitas Negeri Malang, namun sepi hampir tanpa suara. Sesekali lolong anjing milik salah satu keluarga penghuni kompleks perumahan mengisi; sekelebatan kemudian raung sepeda motor menambahkan bunyi. Selebihnya hening, bening, menyejukkan, seolah merangsang semua pori-pori tubuh menangkap semua yang tak kasat mata. Basah merasuk relung hati, menarikan ingatan demi ingatan akan peristiwa.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

H

11


Modul-Maju Berkelanjutan-Cara Belajar Mandiri-GuruSiswa-Lembaran Kerja-Lembaran Kegiatan SiswaLembaran Test Unit-Lembaran Test Sumatif-Kerja Kelompok-Ketrampilan

33 tahun kemudian ... .

12

Sebuah gedung sekolah dasar di Jalan Magelang, Malang, Jawa Timur. Ada dua pintu gerbang di dua ujung dari panjang sekolah yang menghadap arah selatan ini. Pintu pertama, dari arah Jalan Surakarta, dan pintu kedua dari arah Jalan Jakarta. Jarak keduanya mungkin sekitar 200 meter, dan sepanjang itu pula bangunan sekolah berdiri. Ia dipagari. Dekat pintu pertama, kelihatan kelas-kelas dari luar yang berpintu dorong besar, dengan kaca-kaca yang besar pula. Setiap kelas memiliki halaman, dan ada kelas yang memanfaatkan halaman itu untuk kebun percobaan, dan ruang praktikum. Bunga dari macam macam jenis menyemai di sana. Bougenville, mawar, melati, Tiang bendera, matahari, sepatu, banyak lainnya tempat kita saling berdandan molek. Sesekali semua pernah secara bergantian, guru masingmenghormat sang saka merah putih. masing kelas membuka pintu dorong Sejak kelas 2 SD, agar segar udara melambung ke secara bergantian benak siswa. Saat istirahat pintu itu setiap kelas biasanya ditutup agar siswa bermain mendapat jatah di halaman dalam sekolah dan tidak menjadi pelaksana upacara: mulai merusak taman bunga itu. Dari Jalan dari komandan, Jakarta, panorama semacam di muka pembawa sampul tak nampak karena susunan gedung berisi teks Pancasila menatap ke timur dan ke barat. Hanya sampai ke pasukan pengibar bendera. bahu-bahunya menatap ke selatan.


Sekolah Dasar Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), biasa disebut SD Lab. Ia berada di sekitaran komplek perumahan dosen IKIP Malang. Sebagian besar murid berasal dari anak anak dosen IKIP Malang yang bertempat di Jalan Semarang, Jalan Surakarta, Jalan Blitar, Jalan Salatiga, Jalan Ambarawa, Jalan Simpang Bogor, Jalan Yogyakarta, dan Jalan Tumapel. Saling bertetangga, saling kenal, membentuk kelompok, bersepeda dan berjalan Jalan bersama cukup lazim terjadi di antara para murid dari lingkungan yang sama. Ku ingat pasti, si Mus anak Pak Lagon, si Fahiem anak Pak Taryono, si Aris anak Pak Habib, si Iwan anak Pak Ali Saifullah, si Wiwik anak Pak Heru, si Nisa anak Pak Widodo, si Emi anak Pak Tejo, dan begitu pula mereka mengingatku sebagai anak Pak Oka. Tetapi sekolah ini pun mendapat banyak perhatian dari masyarakat Kota Malang, sehingga mereka yang mengajar dan tinggal di kompleks perumahan dosen Universitas Brawijaya juga menitipkan anak anak mereka ke guru guru sekolah ini. Oki, Dina, Deta, Gede, Fritz, Aming, Eca, berasal dari lingkungan Universitas Brawijaya. Begitu juga dengan putra-putri dari pegawai Direktorat Bea Cukai, maupun dari Proyek Induk Brantas, seperti Diah putri Pak Sunarno, Lisa putri Pak Sunardi atau Choiri putra Pak Sofjan, dan bahkan

dari luar lingkungan pegawai negeri. Mengingat karakter Montessorian didorong maju oleh para pendiri sekolah, yaitu para dosen dan ahli pendidikan dasar di IKIP Malang, membuat hubungan antara guru, murid dan orang tua menjadi sangat dekat. Pak Koso-Pak Tamanu-Pak Jito-Bu Tatik Romlah-Pak Sidik-Pak Kanang-Pak Nardi-Pak Bambang- Pak IlhamBu Suryo-Bu Indra-Bu Win-Pak Heru-Bu Halik-Bu EttyBu Ita-Pak Maji Pagi hari sekolah dimulai. Ramai kendaraan pengantar siswa memenuhi Jalan Magelang dengan suara rotor mesin. Dari ujung timur tampak barisan orang tua yang mengantar anak-anaknya masuk gedung. Ada yang hingga ke depan kelas, ada yang henti di pintu gerbang. Mereka yang di antar tampil segar, klimis, dan kadang penuh bedak mukanya. Ada yang berlarian sambil memanggil temannya, ada yang jalan tenang, dan ada yang diantar orang tuanya sampai di depan kelas. Mereka yang lebih dulu tiba sudah bermain engklek, atau gobaksodor di lapangan kecil pemisah gedung barat dan timur. Tak cukup di sana, sekelompok anak berlarian di sebagian panjang koridor gedung timur. Di bagian lainnya, ada yang bermain bola bekel, lompat karet, dan sebagainya. Yang jelas tidak onar, tapi demikianlah hidup yang tak henti bergerak. Sempat terlihat di gedung timur, beberapa mahasiswa sibuk bersiap hendak berangkat ke kampus. Ada yang berlarian menuju kamar mandi di sebelah selatan, ada yang sudah berpakaian rapi dan berjalan cepat menuju keluar, dan ada

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Namun, tetap saja sebuah taman kecil dibuat di sana. Sebuah pohon merindang masing masing di dekat bangunan timur dan barat. Kadang tampak anak-anak sekolah berlarilarian di dalamnya, atau berbaris sebelum masuk kelas. Semuanya tak tampil beku dan perkasa, namun gemulai penuh warna dari hidup manusia dan tetumbuhan saat menyusurinya dari barat ke timur sepanjang Jalan Magelang.

13


Di balik kompleks gedung barat dan timur itu terdapat sebuah lapangan rumput luas memanjang. Sebuah jalan di sisi sebelah dalam gedung timur terdapat sebuah jalan kecil menuju lapangan itu. Ruang Elektronika, Perpustakaan, ruang UKS, ruang Memasak, ruang Ketrampilan/ Perkulitan yang agak menjorok ke dalam, lalu Aula, memagari batas selatan dari lapangan. Di seberangnya jarak 50 m ke arah utara adalah ruang ruang belajar siswa kelas IV, V, VI,VII, dan VIII. Di depan ruang belajar itu terdapat koridor dua meter, plus sebuah taman kecil memanjang memagari batas utara dari lapangan besar. Di sebelah barat lapangan itu dibatasi oleh ruang guru, ruang tata usaha, dan ruang bimbingan dan penyuluhan, yang lalu berujung di gerbang sekolah dekat Jalan Surakarta.

Sejak kelas 4, kita semua berpindah sesuai mata pelajaran ke ruang yang sesuai. Ada ruang untuk IPA, IPS, PMP dan Bahasa Indonesia. Suasana kelas-kelas itu tidak berubah hingga saat ini, walau cara pendidikannya sudah berbeda.

33 tahun kemudian ... .

14 pula yang duduk merenung seolah terganggu dengan ramai seru permainan anak-anak. Sebuah pemandangan yang aneh memang. Sekolah SD yang berdekatan dengan tempat tinggal para mahasiswa. Pasti para ahli ilmu pendidikan menganggap ini contoh lanskap yang buruk bagi pendidikan anak. Tetapi ku ingat pasti, dari sana anak-anak belajar menghormati mereka yang lebih tua usia, berikut ruang-ruang privat mereka. Bermain sebatas di lapangan dan tidak diperbolehkan memasuki koridor asrama mahasiswa. Di masa ujian mahasiswa tiba, ku ingat kita tidak boleh bermain terlampau berisik. Seandainya melanggar, pasti ada dari antara mahasiswa tersebut yang menegur atau membentak anak-anak itu, untuk menjauh dari lingkungan asrama.

Cerah fajar tampak menyinari mereka yang mulai tumbuh remaja. Suasana tak seriuh rendah di gedung sebelah timur, tetapi resap keindahan berbicara melalui celoteh berbagai kelompok laki dan perempuan, dari berbagai asal usul. Tampak mereka yang berambut pirang, berhidung mancung dengan tubuh tinggi besar, dari keluarga pendeta Jerman di kota Batu, 20 km dari Malang, melewati koridor sembari menyapa teman-temannya dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur yang kental. Kulit putih dan sawo matang berbaur; ras kaukasoid dan mongoloid bergandengan; dalam kultur Singosaren, Jawa Timur. Blak-blakan, suara keras, saling


Mobil Milo-Kasti-Sepakbola-Rounders-UpacaraPaduan Suara-Angklung-Piano-Panci-Wajan-KayuGergaji-Sepatu-Solder-PCB-Tabung Praktikum-Pot Tanaman-Buku-Sinopsis-Tas-Seragam

Apapun yang kemudian berlaku jarak 33 tahun kemudian berlabuh di wajah tua kami sebagai sebuah lingkar persahabatan masa kecil. Bagimu kawan, daulat kehidupan pantang berlalu. Selaras menatap masa depan, di balik semua yang sesak dan beku, meniti pematang, menata langkah, menutup kesalahan, meluruh duka, meresap kedamaian berlari menggapai kebahagiaan bersama.

Hari Senin pukul setengah tujuh pagi. Kilau putih warna seragam di bumi seolah menantang surya. Teras koridor, dan ruang-ruang kelas tak berbunyi. Semuanya berdiri di lapangan, berjajar memanjang. Khidmat, nyaris hening. Hanya suara pembawa acara, dan komandan upacara yang terdengar dalam interval yang panjang. Sebagian yang tinggi besar tubuhnya, mengrenyitkan sisi kanan matanya, menahan sinar dari arah timur, walau berdiri di belakang barisan. Keringat mulai mengalir di dahi anak-anak yang tegak lurus sudah selama sepuluh menit kemudian. Lalu memberi hormat, lalu menyanyikan Indonesia Raya, lalu mengibarkan bendera, dan akhirnya amanat kepala sekolah sebagai inspektur upacara. Saat istirahat, meregangkan dua belah kaki. Cekikikan yang berada di belakang, saling bercanda sambil berbisik satu dengan yang lain, menahan tawa. Entah apa isi gurauan mereka. Boleh jadi kesebalan Gedung aula ini mereka lantaran terbakar matahari, pernah tempat sementara para guru yang berdiri di kita menari, belajar seberang barisan, hampir tak kena memainkan sinar matahari sekalipun. Dirindangi angklung dan gamelan, bermain oleh atap aula. Entah pula apa makna lompat karet, berdiri bersama setiap hari Senin pagi, bahkan menempuh kecuali ada waktu tambahan istirahat ujian evaluasi lima belas menit sebelum kembali belajar akhir nasional (EBTANAS). memasuki kelas, memulai pelajaran.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

maki bercanda, saling menggoda laki dan perempuan, menutur di teras koridor kelas-kelas tersebut. Seramai keraguan yang berlanjut ke lantai pengharapan akan sebuah masa depan.

15


33 tahun kemudian ... .

16

Di luar hari Senin, lapangan dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan. Kadang pertandingan sepakbola antar kelas, kadang bermain kasti atau rounders, kadang bermain nyelawe atau gebokan, kadang bermain pal benteng atau bentengan, dan sekian banyak permainan lainnya. Waktu istirahat antar mata pelajaran dan waktu sepulang sekolah, adalah saat yang tepat untuk berbagi bermain bersama memanfaatkan seisi lapangan. Kerap setengah lapangan dipakai bermain sepak bola, setengah sisanya dipakai bermain kasti atau permainan lainnya. Batasnya adalah semacam pematang semen yang membelah lapangan, sebagai jalan dari ruang ruang kelas menuju gedung Aula. Begitu luasnya lapangan tersebut, hingga anak-anak hampir lupa waktu untuk bermain dan terus bermain, hingga lupa waktu makan siang di rumah. Tak jarang para ibu rumah tangga dengan mengenakan pakaian rumah atau daster, memasuki lingkungan sekolah saat seusai jam pulang, memanggilmanggil anaknya untuk segera pulang ke rumah. Tak jarang pula ada siswa yang menangis karena harus berhenti bermain meninggalkan teman-temannya, lantaran sang ibu menjemputnya. Hanya musim hujan mungkin yang membuat lapangan itu tak berfungsi maksimal. Genang air dan lumpur dari tanah lapangan membuat anakanak risih untuk sekedar melaluinya. Pasti seragam mereka kotor, dan sepatu penuh lumpur. Pasti ibu di rumah akan ngomel-ngomel bila seragam terkena ciprat lumpur dari

Koridor sekolah, menciptakan ruang bagi kita untuk bermain dan juga berkejar-kejaran.

ujung sepatu. Apalagi jika kaki dan tangan berbekas tanah basah. Namun bagi siswa kelas 5 sampai 8 keadaan hujan pun tak menghalangi mereka bermain sepakbola. Justru itu tantangannya, walau kerap para guru mewanti-wanti tentang bahaya sambar petir. "Sliding Tackle� sangat mengasyikkan bagi mereka bila dilakukan di tanah basah. Yang jatuh terpeleset lumpur saat menggiring bola menjadi bahan tertawaan. Kotoran yang melekat di tubuh dan seragam sudah tak dipedulikan lagi. Yang penting bermain dan bermain terus. Di tempat itu pula setiap enam bulan sekali hadir sebuah mobil wagon, yang bertuliskan MILO. Gratis satu gelas plastik berlabel Milo, dengan isi susu rasa coklat dibagibagikan kepada setiap anak. Dimulai dari anak anak


kelas rendah yang berbaris mengantri, lalu berlanjut ke anak-anak dari kelas yang lebih tinggi juga dengan berbaris mengantri. Namanya juga anak-anak, sering mengantri dua kali atau lebih terjadi. Para guru pengawas antrean hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil senyum, jika si anak sambil berbohong bersikeras belum mendapatkan jatah. Di dekat ujung timur lapangan, sebuah perpustakaan. Berisi buku buku cerita, dan sebagian buku pelajaran. Koleksinya cukup banyak, dan setiap siswa bebas meminjam buku itu untuk dibawa pulang ke rumah. Dengan satu syarat, saat pengembalian tepat waktu, dan harus menyerahkan sinopsis atau ringkasan isi buku. Bila tidak tepat waktuakan dikenai denda uang per hari Rp.100. Bila tidak membuat sinopsis, dilarang meminjam lagi buku yang lain, sampai si peminjam membuat sinopsis. Dua buah syarat yang begitu sulit dipenuhi oleh para peminjam perpustakaan sekolah di masa kini. Namun di masa itu, anak-anak seperti tak puaspuasnya menggali pengetahuan. Lebih-lebih pihak sekolah setiap enam bulan sekali memberikan penghargaan bagi siswa untuk sinopsis terbaik, dan pembaca buku terbanyak. Di sebelah perpustakaan adalah ruang memasak. Melewatinya tiap hari, pasti berganti-ganti aroma masakan yang tercium. Kadang tercium aroma terasi yang menyengat saat dibakar, atau aroma bawang merah dan lombok rawit yang digiling membuyarkan benteng air mata, dan kadang tercium aroma sup atau soto yang memprovokasi rasa lapar para siswa. Klontengan suara panci, suara gesek sutil

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Pintu geser yang besar, menjadi ciri khas ruang kelas SD kita.

17


naluri berbagi. Seandainya ruang bermain anak-anak saat ini diberikan seluas-luasnya, pasti kepercayaan diri mereka akan lebih besar saat menantang dunia yang lebih luas lagi. Di tengah lapang kami berlari, tertawa, berteriak, menangis, memaki, menyumpah-nyumpah, senda gurau, bermain bola, berkejar-kejaran, demi satu hal: kebahagiaan berbagi bersama. Tatap mukamu, tatap mukaku kawan, teringat satu peristiwa demi peristiwa di tengah lapang perumpamaan hidup bersahabat. Semoga di hati kita masing-masing tetap melekat rasa bersama tanpa kenal lelah.

Lapangan depan aula, tempat penting untuk bermain sepakbola dan bentengan.

33 tahun kemudian ... .

18 dan penggorengan, suara minyak yang bereaksi saat tempe atau tahu masuk ke wajan panas, suara cobek dengan ulekuleknya, bagai orkestrasi musik dapur yang tak bernotasi. Aku tak pernah tahu bagaimana hasil masakan yang keluar dari ruangan itu. Yang jelas, lomba memasak antar kelas selalu memancing partisipasi seisi kelas untuk bersama sama membuat masakan yang terenak. Ruang bermain seluas lapangan SD PPSP, tak lagi ku temui di berbagai sekolah di Jawa. Kalaupun ada, tak hidup, hanya sebatas ruang bermain. Apalagi ruang bermain di ranah-ranah publik, kian hari kian menciut, hingga anakanak harus bermain sepakbola di tengah jalan. Yang harus berhenti saat ada kendaraan melintas. Tak nyaman, tak pasti, dan tak teratur sehingga serba gesa gesa, serba darurat, demi

Pak Koso-Pak Tamanu-Pak Jito-Pak Slamet-Bu Tatik Romlah-Pak Sidik-Pak Kanang-Pak Nardi-Pak Bambang- Pak Ilham-Bu Suryo-Bu Indra-Bu Win-Pak Heru-Bu Halik-Bu Etty-Bu Ita-Pak Maji Empat orang pertama tersebut di atas tak sering hadir di dalam kelas. Tapi mereka selalu ada di lingkaran kompleks SD PPSP. Mereka yang tiap hari merawat kebun bunga, membersihkan sampah dari lapangan, membersihkan ruang-ruang kelas, WC dan kamar mandi, berikut semua infrastruktur listrik dan bangunan sekolah. Mereka marah jika anak-anak bersepatu penuh lumpur memasuki koridor. Mereka marah jika anak anak melompati pagar taman bunga. Baru sadar di kemudian hari bahwa mereka lah yang membuat sekolah ini nyaman dan asri. Lepas dari keseharian mereka yang penuh tekanan kerja, walau sesekali penuh hormat dan senyum jika bertemu dengan anak anak yang


Ibu guru yang mengajar di sekolah ini banyak jumlahnya, bahkan melebihi jumlah bapak guru. Mereka masingmasing berkompeten sebagai wali kelas maupun sebagai guru bidang mata ajaran tertentu. Pada masa tiga tahun pertama, guru wali kelas menjadi pengajar untuk hampir semua bidang mata ajaran, kecuali bidang mata ajaran ketrampilan, olahraga dan kesenian. Memasuki kelas empat dan seterusnya siswa diperkenalkan pada lebih banyak guru yang memiliki spesifikasi pengetahuan yang berbeda-beda. Almarhum ibu Etty wali kelas IIA mengajar membaca, menulis, berhitung, dan matematika sebagaimana juga Pak Madji ketika menjadi wali kelas IIIB. Pak Mistaram mengajar menggambar, Bu Mul mengajar ketrampilan kruijstijk dan menjahit, sedang Pak Bambang mengajar

kenangan SD PPSP angkatan 1977

orang tuanya mereka kenal. Maklum Stop! Ini Jalan mereka ini sebelum bekerja sebagai Magelang, tempat pesuruh di SD PPSP biasanya adalah SD kita. pegawai di IKIP Malang. Wajar jika mereka mengenali anak dari sesama pegawai ataupun dosen IKIP Malang, hanya dengan menduga raut muka anak anak itu. Kadang di antara mereka tebak-tebakan sambil bertaruh sebatang dua batang rokok untuk menduga-duga anak siapa yang mereka sapa. "Anaknya Pak Samsul ya?�, tanya Pak Koso kepada Oda. "Ya�, Oda menjawab. Dan terkekeh kekeh Pak Koso kepada Pak Tamanu, "Bener kan ... mana sebatangnya� kata Pak Koso dalam bahasa Jawa Timuran. Tak cukup informasi tentang keberadaan empat orang ini pada saat sekarang.

19


olahraga. Bu Win sebagai pengajar Biologi dikenal siswa pada usia 10 tahun, demikian pula dengan Pak Heru sebagai pengajar Matematika, Bu Indra sebagai pengajar bahasa Inggris, Pak Ilzam sebagai pengajar Pendidikan Moral Pancasila, Pak Is sebagai pengajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan Pak Kanang sebagai pengajar bahasa Indonesia, dan sejumlah nama lain yang tak tersebut di sini. Di usia yang sama pula, bentuk ketrampilan yang diajarkan lebih berkembang, seperti elektronika, perkayuan, menjahit dan memasak, dan tersedia masing masing pengajar untuk bidang ketrampilan itu dan kesenian seperti almarhum Bu Soeryo yang melatih angklung, piano dan paduan suara.

33 tahun kemudian ... .

20

Setelah memiliki ruang kelas yang permanen di kelas I, II, dan III, sejak kelas IV ruang belajar kami berpindah-pindah. Menemui Bu Win di ruang Ilmu Pengetahuan Alam, Pak Heru di ruang Matematika, Bu Koestiyah di Pelajaran Moral Pancasila, Pak Imam Rofi di ruang Bahasa Indonesia, belajar menyanyi di aula. Setiap harinya selalu tak tetap, selalu bergerak. Suara riuh rendah para siswa yang bergegas dan kursi yang menggeser lantai terdengar setiap terjadi perpindahan kelas. Tak melulu belajar di kelas. Siswa-siswa SD ini juga diajarkan untuk berani hidup mandiri, dan dekat dengan sesamanya. Aktivitas camping, setiap setahun sekali, mulai kelas empat SD. Mungkin itulah saat pertama bagi semua anak untuk berlatih meninggalkan rumah, sambil membawa panci,

Untuk angkatan 1977, kelas 3A dan 3B menempati ruang kelas ini

atau kompor kecil, atau beras, atau sayur mayur, atau telor, lombok, dan sebagainya, untuk hidup bersama teman temannya di tenda-tenda yang mereka tegakkan sendiri. Tikar, koran, dan matras menjadi alas tidur, dengan lampu minyak kecil sebagai penerangan. Masak bersama, membuat api unggun, bernyanyi bersama, semuanya membuat hubungan antar teman, antar murid dan guru menjadi akrab. Walau saat berangkat dan pulang mereka diantar jemput oleh orang tua masing masing, namun saat bersama selama sehari semalam sudah cukup berkesan bagi anak-anak SD PPSP.


Modul-Maju Berkelanjutan-Cara Belajar Mandiri-GuruSiswa-Lembaran Kerja-Lembaran Kegiatan SiswaLembaran Test Unit-Lembaran Test Sumatif-Kerja Kelompok-Ketrampilan Semua yang pernah bersekolah SD Laboratorium Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Malang, tak awam dengan kata Modul. Ukurannya sebesar buku tulis, bervariasi 10-25 halaman, berisi materi pelajaran dari masing masing bidang pelajaran. Putih bersih hanya dihiasi hitam huruf cetak, dengan fontasi kapital, LEMBARAN

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Wajah dari orang-orang yang Ruang ini dulu pernah mengajar di sekolah ini, tak merupakan sampai ke jurang pelupaan. Sesekali tempat kelas 2A muncul dalam genap satu peristiwa, dan 2B. sesekali melintas kemiripan wajahwajah mereka dengan orang-orang di luar lingkungan sekolah. Tak mungkin aksara dan angka sampai meresap ke lima panca indra kita jika bukan karena mereka. Tak sampai jiwa merayapi nilai-nilai kehidupan jika tiada teguran, hardik, maupun peringatan dari mereka. Tak lelah-lelahnya mereka menemani kita semua yang bandel dan kurang ajar, tidak sopan dan mau menang sendiri, tuk sekedar berkata, "Belajarlah�. Benderangnya dunia, benderangnya kehidupan, dibangun oleh beliau-beliau yang menabuh genderang pendidikan bagi semua anak bebas, kaya maupun miskin. Semangat mencerdaskan bangsa yang tak ternilai. Bagimu guru sujud sembah kami dari hati yang paling dalam.

KEGIATAN SISWA, misalnya. Di pojok kanan ada nomor kodenya, LKS.01. Sedang di bagian bawah tertera ‘Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Proyek Perintis Sekolah Pembangunan 1976’. Hari pertama setiap awal tahun ajaran baru mulai, guru menerangkan apa yang akan dipelajari pada tahun tersebut selama setengah jam, dan kemudian para siswa diminta untuk membaca Lembaran Kegiatan Siswa. Hari hari selanjutnya para siswa diminta mengerjakan lembaran kerja, lembaran test, lembaran test unit, hingga pada akhirnya test sumatif di akhir semester. Mereka yang berhasil menyelesaikan modul LKS 01 sampai dengan testnya, bisa langsung beranjak ke LKS-02 sampai dengan testnya, dan begitu seterusnya.

21


33 tahun kemudian ... .

22

Memang, tampaknya di sini siswa seperti terus menerus dipacu untuk belajar dan belajar, berkonsentrasi dan menyelesaikan semuanya secara mandiri. Tetapi tak sedahsyat itu sebenarnya. Pada tiga tahun pertama sekolah ini, para siswa belum belajar dengan menggunakan modul. Peran guru sangat dominan. Memasuki tahun keempat, kelima dan seterusnya, sistem modul baru diterapkan. Pada taraf dua tahun pertama dari sistem modul, perkembangan dari setiap siswa baru sebatas dipantau. Belum ada dorongan, atau bahkan program untuk siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Baru pada tiga tahun terakhir, yang setara dengan SMP pada umumnya, para siswa dikelompok-kelompokkan menurut program-program 4 semester, 5 semester, 6 hingga 7 semester bergantung pada tingkat kemampuan masing masing. Sehingga proyek ini, kerap disebut juga dengan program SD 8 tahun. Sehingga loncat kelas, memasuki Sekolah Menengah Atas, dan kemudian Perguruan Tinggi dalam usia yang lebih muda daripada rata rata, adalah pemandangan yang lazim bagi siswa SD PPSP. Tiga tahun pertama itu sesungguhnya adalah proses pembentukan siswa untuk belajar mandiri dalam ruang kebersamaan. Sebagian besar mata ajaran, tidak sepenuhnya diajarkan dalam forma guru memberi teori, murid mengerjakan latihan soal. Namun semuanya berselangseling antara permainan, ketrampilan, dan pengetahuan. Pelajaran bahasa Indonesia misalnya, mulai dengan latihan menulis bersama, latihan membaca sendiri maupun bersama, latihan mendengar, dan latihan berdeklamasi. Buku, alat tulis, dan kertas seperti tak ada habis-habisnya tersedia di

dalam rak dan lemari yang menempel di dinding kelas. Pelajaran matematika, mulai dengan latihan berhitung lewat permainan, lewat penjumlahan barang-barang yang ada dalam kelas dan sebagainya. Semua pelajaran di mulai pada hari Senin dan berhenti di hari Jumat. Hari Sabtu tetap masuk sekolah, tapi seluruh hari adalah untuk mata ajaran Studi Bebas. Dipersilahkan semua siswa untuk melakukan apa yang dia suka dan apa yang dia ingin pelajari, sepanjang berada di dalam kelas, atau di tempat-tempat belajar mandiri, seperti di Aula. Ada yang menggambar, ada yang membaca, ada yang ke perpustakaan, ada yang berlatih angklung, dan macam macam lainnya. Guru hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh para siswanya, dan semua hasil Studi Bebas lalu dikumpulkan ke meja Guru. Sedari awal siswa sudah didorong untuk merawat kelasnya dan mengenal semua temannya. Piket kebersihan, denah kelas, absensi siswa, adalah bagian dari ucap-ucap bapak dan ibu guru untuk mengenali murid-muridnya. Ada kerja bakti setiap bulan, ada lomba kebersihan kelas per catur wulan. Siswa perempuan asyik membersihkan ruang dalam kelas seperti melap meja dan kursi hingga mengkilap, siswa lakilaki begitu suka berlomba lomba mengepel lantai koridor dengan mendorong tongkat pel didepan, lalu berlari-lari berlomba mendorong alat pel dari satu ujung koridor ke ujung koridor yang lain. Tertawa, berlari-lari, basah, rusuh, semuanya melekat di tubuh dan seragam kami, demikianlah berlangsung seperti menembus batas waktu. Indah kebersamaan. (Nompi)


kenangan SD PPSP angkatan 1977

23

aku anak PPSP Raymond Valiant R.

R

asa bangga memang pantas disandang anak didik Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (disingkat PPSP). Selain jumlahnya relatif sedikit, mereka merupakan siswa-siswi pilihan yang diberikan pendidikan progresif pada zamannya.


33 tahun kemudian ... .

24

Supartinah Pakasi 1968 - 1973

Samsul Arifin 1973 - 1976

PPSP sendiri merupakan proyek penelitian yang dilaksanakan di 8 kota yang memiliki Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri, yakni: Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Medan, dan Ujungpandang. Pemrakarsa dari proyek ini adalah Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (BP3) di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tujuan dari pendirian PPSP adalah meneliti dan menguji suatu metode pendidikan baru yang diharapkan

Tatiek Romlah 1976 - 1980

Sidik Watjana 1980 - 1987

dapat bersifat komprehensif dan unggul. Sekolah ini diperkenankan menerima siswa dari seluruh negeri dan memiliki kurikulum yang berbeda dengan yang digunakan saat itu. Secara resmi PPSP dimulai pada awal 1974. Sekolah ini jugamemakai sejumlah cara pembelajaran yang progresif, yang tentu saja mahal harganya. Selain menerapkan belajar dengan modul dan guru-guru yang khusus, sistem belajar-mengajarnya pun menganut metode maju berkelanjutan – yang relatif baru untuk dunia pendidikan Indonesia saat itu. Walaupun demikian sekolah


menamatkan pendidikan doktoral di Peabody College of Education and Human Development, Tennessee, Amerika Serikat, menawarkan sebuah konsep yang radikal.

Sekolah Dasar 8 Tahun IKIP Malang

Beliau menggabungkan pendidikan SD selama 5 tahun dan SMP selama 3 tahun ke dalam satu sekolah yang disebut SLIP tadi. Lama pendidikan 8 tahun membuat lulusan SLIP memiliki kualifikasi pendidikan setingkat SMP. Gagasan ini mendahului pemerintah yang saat itu belum mencanangkan wajib belajar 9 tahun. “Sistem pendidikan 8 tahun tadi dirancang, dikembangkan dan dilaksanakan untuk mengurangi pemborosan di bidang pendidikan kita – yang waktu itu dan sekarangpun – masih terjadi juga,” kenang Pak Arief Sukadi Sadiman, yang sempat mengajar di SLIP.

Pendirian PPSP dimulai dengan menarik masuk beberapa sekolah percobaan yang telah didirikan IKIP Negeri di berbagai kota di Indonesia. Salah satunya adalah Sekolah Laboratorium IKIP (SLIP) Malang. Sekolah ini telah berdiri sebagai sarana uji ilmu kependidikan yang diajarkan di IKIP Negeri Malang. Pendirinya adalah seorang guru besar, yang sangat memperhatikan perkembangan (psikologi) anak, yaitu Ibu Supartinah Pakasi.

Sekolah ini menarik perhatian para pendidik – baik dari dalam dan luar negeri. Oleh karena terletak di kompleks perumahan IKIP, suasana residensial yang ramah tertanam di sekolah tersebut. Pendidikan berlangsung sederhana meskipun lengkap. Lingkup sekolah sebagai ruang publik menyatu dengan elemen lingkungan. Pada saat sama, IKIP Negeri Malang juga mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berafiliasi di Tumpang (1968).

SLIP Malang merupakan pengembangan dari sebuah Taman Kanak-kanak (TK) yang didirikan pada 1967 oleh IKIP Negeri Malang sebagai laboratorium pendidikan anak. Setelah TK tersebut menghasilkan sejumlah lulusan, dipandang perlu membuat sebuah SD yang juga menerapkan inovasi dalam metode pendidikannya. Ibu Pakasi, yang telah menekuni masalah kurikulum sejak

Setelah kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ke beberapa sekolah di luar negeri, Ibu Pakasi berhasil menyakinkan pemerintah untuk mendanai SLIP melalui Proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Mengajar (PKMM).

Pendidikan di sekolah percobaan ini tersusun atas gabungan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) selama 8 tahun yang dilanjutkan dengan sekolah menengah atas selama 3 tahun. Bagi murid yang rajin dan cerdas, dimungkinkan menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama dalam waktu 7 tahun, bahkan sekolah menengah atas (SMA) pun dapat ditempuh dalam waktu 2 tahun saja.

Namun, tak berselang lama kemudian terjadi perubahan. Pada 1973, pemerintah menyelenggarakan sebuah proyek

kenangan SD PPSP angkatan 1977

yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Bapak Mashuri, memang diakui banyak pihak melahirkan lulusan yang mampu belajar secara mandiri. Sekolah ini memberikan kail bukan ikan, demikian perumpamaan yang sering dikatakan.

25


Ibu Supartinah Pakasi (mengenakan toga) bersama suami.

33 tahun kemudian ... .

26

penelitian yang baru untuk menguji-coba penerapan sistem modul dan pendidikan maju-berkelanjutan. Proyek ini dipelopori oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (BP3) yang berada di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ketua BP3 saat itu adalah Bapak Setijadi – yang juga dosen IKIP Malang asalnya. “Saat itu, PPSP dengan sistem modul ‘dipaksakan’ untuk dicobakan di SLIP. Sejak awal Ibu Pakasi menolak perintah tersebut dengan alasan sebaiknya dicari sekolah lain. Kalau nanti hasilnya bagus belum tentu karena sistem modul

tersebut, karena SLIP sendiri sudah bagus. Begitu pula sebaliknya. Jadi keinginan beliau menghindari bias,” urai Arief.

Penolakan Ibu Pakasi menimbulkan persoalan. “Beliau diberi dua pilihan oleh Rektor IKIP Malang saat itu: take it or leave it (laksanakan atau pergi). Oleh karena Ibu Pakasi tetap pada keyakinannya maka beliau memilih yang kedua. Selanjutnya beliau pindah dan beralih aktif membina SD Karangkates di Sumberpucung yang mengadopsi sistem yang dirintis beliau,” tambah Arief. Pada tahun 1974, secara resmi SLIP digabungkan dengan PPSP dan diubah namanya menjadi SD PPSP IKIP Malang. Sekolah ini tetap menempati lokasi di perumahan dinas IKIP, Jalan Magelang No 4, Malang. Seiring itu, SMA afiliasi IKIP Negeri Malang di Tumpang telah diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Malang. Sebelumnya, IKIP Negeri Malang membuka SMA PPSP di Jalan Yogyakarta pada bulan Pebruari 1973. Oleh karena Ibu Pakasi mengundurkan diri, diangkat Bapak Samsul Arifin sebagai Kepala SD PPSP IKIP Malang yang baru. Umumnya, para lulusan terbaik dan berdedikasi


Perubahan SLIP menjadi SD di bawah PPSP, mengubah sedikit banyak cara pengajaran. Sistem modul dan pendidikan maju-berkelanjutan diterapkan secara konsisten. PPSP sendiri menganut pendidikan SD selama 8 tahun seperti halnya SLIP. Berkat kedudukannya yang relatif kokoh, perkembangan SD PPSP IKIP Malang lebih berhasil dibandingkan tempat lain. Sekolah ini memperoleh banyak perhatian. Pada 1976, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Bapak Sjarief Thayeb datang mengunjungi SD ini dan memuji perkembangannya. Beliau saat itu disambut tarian masal dari 100 lebih siswa-siswi TK dan SD. Namun segala bentuk ekperimen mesti ada akhirnya. Melalui pertimbangan cukup panjang, pada 1986 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk mengakhiri PPSP. Keputusan ini diberlakukan sejak tahun ajaran 1987 oleh BP3 yang saat itu dipimpin Bapak Harsja W. Bachtiar.

Mengapa PPSP Dihentikan? Meskipun metode pembelajaran yang diterapkan memang bagus, timbul persoalan bila konsep PPSP hendak diterapkan secara nasional. Oleh karena bersifat eksperimen maka diperlukan biaya dan alokasi sumberdaya secara

khusus. “Semua itu menjadi mahal bila harus diterapkan di semua sekolah,” tutur Pak Harsja dalam wawancara di Majalah Tempo, 25 Juli 1987. Tak cuma itu. Keberhasilan sistemnya pun masih diragukan, karena siswa tersaring lewat tes psikologi dan tes yang lain, hingga mereka memang sudah pilihan. “Jadi, yang bikin dia jagoan itu sistemnya atau memang mereka sudah jagoan?” tanya Pak Harsja kembali. Kesimpulannya, sistem PPSP sangat bagus untuk lingkungan sendiri, yang harus dibiayai secara khusus. Tapi percobaan itu dinilai gagal, bila model ini dimaksudkan untuk diterapkan secara nasional, karena mahal. Percobaan yang mahal ini, dilatarbelakangi penerapan sistem modul. “Pada saat saya mengambil pendidikan strata dua di Amerika Serikat tahun 1978-1979, baru saya tahu bahwa ide merintis PPSP dengan sistem modul adalah salah besar secara prinsip. Modul itu sendiri bagus, saya tidak menentang, tetapi menjadi tidak bagus karena komponenkomponen lain dari sistem sekolah tempatnya dicobakan sudah harus bagus dan lebih dari cukup. Jadi, pasti unit cost-nya mahal sekali,” papar Pak Arief. Tak pelak, ini alasan utama BP3 mengakhiri proyek ini. Sekolah ini pun diserahkan ke pemerintah kota setempat. Saat ini, SD PPSP IKIP Malang telah beralih menjadi SD Negeri Percobaan 1 di bawah Pemerintah Kota Malang. Kurikulum dan metode pengajarannya sudah mengacu ke sistem pendidikan nasional. Jejak dari uji ilmu kependidikan yang dulu pernah diterapkan di SLIP maupun SD PPSP IKIP Malang sudah

kenangan SD PPSP angkatan 1977

dari IKIP Malang, diangkat menjadi guru di SD PPSP. Beberapa pendidik muda lulusan IKIP Malang seperti Bapak Arief Sukadi Sadiman, Ibu Tatiek Romlah dan Bapak Sidik Watjana, dipertahankan dan dilibatkan dalam proses pendidikan di sekolah ini.

27


tidak tampak secara khusus di SD tersebut saat ini Walau demikian, diakui uji coba pendidikan yang dilakukan pada lingkup PPSP telah memberi dasar pada sejumlah konsep pengajaran masa kini, seperti cara belajar siswa aktif dan proses belajar dengan satuan kredit.

33 tahun kemudian ... .

28

Ada pula yang berpendapat uji coba pendidikan dengan metode PPSP memiliki kelemahan dari sisi pengembangan karakter. “Saya memandang, pendidikan dengan metode PPSP cenderung mementingkan aspek akademis saja. Padahal pengembangan karakter juga penting ‌â€? ungkap Ibu Murtini, Kepala SD Negeri Percobaan 1 Kota Malang. Walau demikian, beliau mengakui tidak mengetahui persis uji ilmu kependidikan yang dicobakan saat itu. Terlepas dari itu semua, sebagai mantan siswa-siswi SD PPSP, kita sungguh beruntung. Kita telah memperoleh keuntungan dari pendidikan pilihan yang boleh dinikmati manfaatnya hingga saat ini ketika usia kita telah lanjut.


S

uasana belajar di kelas, ketika kita masih SD PPSP IKIP Malang ...


ďƒ›

Usai berjalan-jalan dalam peringatan hari raya kebangsaan, kita semua berebut kembali ke kelas. Nina, di mana kamu sekarang? Juga lihat, ada Wiwik yang tersenyum lebar.

ďƒž

Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) tahun 1984. Suporter basket kelas VIII-B tidak kalah semangat dari pemainnya. Depan: Murti, Wike, Dina, Wiwik, Tanti, dan Ita. Belakang: Titis, Wennie, Niken, Ance, dan Denty.

ďƒ›

Peringatan Hari Ibu Kita Kartini, empat orang kartini kecil berpose, dari kiri ke kanan: Lisa, Murti, Ita dan Poppy.


L

engking suara anak anak mengisi terangnya hari. Wajah-wajah mungil yang penuh peluh memerah, berlari-larian ke sana kemari. Takar hawa yang mulai meninggi derajatnya ibarat lembut membelai semangat. Tak henti, degup menempa gerak yang berpindah-pindah. Yang berkulit coklat gelap, dengan panjang kakinya asyik menggiring bola plastik menuju gawanggawangan yang dijaga oleh yang bertubuh gempal. Sedang yang tubuhnya lebih kecil berusaha menyusul Si Tinggi agar jangan sampai bola yang digiringnya membuahkan gol.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

dari kehidupan masa kecil yang penuh dengan kedekatan

31


Si Tinggi = Iwan Si Kecil = Didin Si Keriting= Yahya Si Berat Suara= Tomi Si Kulit Kuning = Raymond Si Rambut Poni = Intos Si Gempal= alm. Bowo

33 tahun kemudian ... .

32

Namun si tinggi cepat berlari, berkelit, dan kini dihadang si rambut keriting yang berlari agak aneh. Teman si tinggi yang tegap bersuara berat sudah berteriak minta bola dioper kepadanya. Si Tinggi masih mencari celah. Datang musuhnya yang berkulit kuning, mencoba merebut bola, namun malang ia malah tertipu gerak dan jatuh sendiri. Si Tinggi membalik badan langsung menendang bola ke arah gawang-gawangan yang hanya dibatasi sepatu si Keriting dan si Rambut Poni. si Gempal berusaha menahan bola, tapi, "Gooollllll ... ... ”

Belum tuntas gema lengking, sorak mereka yang bermain pal-benteng (bentengan) di koridor bertalu-talu. Si Kaki Panjang berusaha mengejar dan mengenai tubuh si Tembam. Si Poni Kulit Kuning yang sudah selamat dari kejaran, memegang pal benteng dan mengejar si Kaki Panjang untuk melindungi si Tembam. Teman si Kaki Panjang, si Bongsor, berusaha menakut nakuti si Poni Kulit Kuning agar jangan mengejar si Kaki Panjang. si Ikal Hitam tak mau kalah, berusaha mengejar si Bongsor. Sementara si Tembam sudah selamat memegang pal benteng, empat yang tersisa saling menggertak di tengah jarak antara dua pal benteng. "Kenek aku ... matek koen (Kalau kena aku ... kamu mati)”, kata si Bongsor. "Gak wedi!” sanggah si Poni Kulit Kuning sambil terus berusaha mendekati si Kaki Panjang. "Hayoooo ... Kowe pisan matek koen (Hayoo ... Kamu juga mati),” ancam si Bongsor lagi kepada si Ikal Hitam.


"Kowe sing mati, aku wis nyekel benteng disik kok (Kamu yang mati, aku sudah pegang pal benteng dulu),� gertak si Ikal Hitam.

Pelajaran baris-berbaris sempat jadi prasyarat bagi siswasiswi SD PPSP IKIP Malang angkatan 1977 untuk menempuh Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS)

"Yo nggak, yo koen,� lanjut si Bongsor lagi. Tak usai perang mulut berhenti, karena teman teman dari masing masing benteng juga ikut perang mulut. Tidak ada yang melerai terus saja perang mulut itu berlangsung. Sampai bel kelas berbunyi, mereka yang berseteru saling melirik sebal. Salah satu di antara mereka lalu menaikkan jari kelingking dari empat jari yang menggenggam dan meniup kelingking itu di hadapan seterunya. "Siwak!� kata untuk menunjukkan rasa sebal karena merasa dicurangi.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Demikian saling gertak terus menerus secara silih berganti, di antara mereka yang sudah memegang pal benteng. Sampai akhirnya saling gertak itu berhenti menjadi perang mulut.

33

Si Kaki Panjang = Rini Dyah Artanti Si Poni Kulit Kuning= Poppy Si Tembam= Elisa Mardiana Si Bongsor= Nina Si Ikal Hitam= Murti Tak lama kemudian bel kelas berbunyi. Ibu guru memanggil semua anak yang sedang bermain untuk berbaris. Lalu ibu guru memanggil satu per satu nama anak-anak perempuan dan laki-laki yang berbaris, untuk kemudian memasuki kelas.


"nur wulan ... ?!� 33 tahun kemudian ... .

34

"

Ya Bu�, jawabnya sambil maju ke depan, dan segera ia memasuki kelas sebelum Ibu Guru berseru nama yang berikutnya. Pelangi warna jepit yang merapikan lebat rambutnya yang lurus. Rebah sudah kesunyian. Lompatlompat kecilnya saat memasuki kelas menabrak deretan kursi yang sudah tertata. "Wulaann, kalo jalan lihat-lihat�, tegur ibu guru sambil menolong bangkit tubuh kecilnya. Meringis menahan sakit, hampir urai air matanya. "Cup.. cup..cup sudah ... nggak papa. Sakit ngga? ... Nggak kan?� hiburnya lagi menolong Wulan untuk duduk di bangkunya.


"Waktu TK saya pernah dikejar anjing dalam perjalanan pulang kerumah. Saya di kejar anjing di Jalan Blitar waktu jalan sendirian, karena menunggu dijemput ibu tidak datang-datang. Saya menangis ketakutan, sampai akhirnya seorang perempuan di jalan tersebut kasihan pada saya dan mengantar saya naik becak sampai rumah. sampai rumah, ibu tersebut memarahi ibu saya yang terlambat menjemput anaknya�.

Kehadiran suami dan kedua putranya merupakan dukungan semangat bagi Nur Wulan semasa menempuh pendidikan doktoral (strata 3) di Australia.

Pun demikian pada usia yang lebih tua di SD PPSP. Cerita yang hampir sama terjadi dalam bentuk yang berbeda, seperti yang diceritakan Wulan: "Pelajaran memasak selama dua atau tiga tahun di SMP sangat berkesan bagi saya dan sangat berperan menumbuhkan hobi memasak saya. Dalam pelajaran itu, selain teknik memasak kita juga diajari manajemen memasak. Terimakasih, Bu Halik. Ini juga salah satu aspek pendidikan PPSP yang sangat baik. Dengan memberikan satu ketrampilan secara terus menerus, kita memiliki ketrampilan lain selain kemampuan akademik. Ternyata, manfaatnya sangat besar dan saya rasakan terutama ketika saya hidup di luar negeri�.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Di usia yang lebih dini, sebuah pengalaman melekat.

35


Barangkali masih ada banyak pengalaman lain di masa kecil Wulan yang belum terungkap, namun banyak berperan di masa dewasanya. Sepotong demi sepotong dikatakannya tentang pengalaman belajar di SD PPSP: "Saya juga masih ingat bahwa kita pernah mendapat satu pelajaran yang disebut pelajaran bebas, dimana ada satu jam dalam satu minggu murid-murid diberi kebebasan penuh untuk melakukan aktivitas yang mereka senangi (membaca, bermain, ngobrol, dan sebagainya). Juga ada satu hari dalam seminggu di mana siswa bisa memakai pakaian bebas. Halhal ini merupakan refleksi dari kebebasan yang diberikan kepada siswa. Semangat yang membebaskan ini adalah satu hal yang paling saya sukai dari pendidikan di PPSP�.

33 tahun kemudian ... .

36

Boleh jadi ada banyak hal yang dipikirkan oleh Nur Wulan pada saat dirinya menyerap semua yang diberikan di SD PPSP. Berbagai kepeduliannya pada persoalan pendidikan dicobatuliskan dengan kesadaran bahwa apa yang terpenting adalah kemandirian, dan otonomi siswa di dalam memperoleh pendidikannya. "Salah satu hal yang paling berkesan mengenai pendidikan di PPSP adalah sistem kemandirian belajar. Menurut saya sistem pendidikan mainstream di Indonesia pada saat itu (dan sampai sekarang) masih menerapkan pola pendidikan satu arah yang berpusat pada guru sebagai sumber penyedia informasi. PPSP sudah melakukan terobosan pendidikan dalam hal ini, karena siswa sudah diberi otonomi untuk belajar sesuai dengan kemampuan mereka�. Sistem yang demikian ini memang belum jamak berkembang dalam pola pendidikan pada periode akhir

1970an. Ini mengingat kepentingan pendidikan pada masa itu lebih banyak berkait pada upaya menyelenggarakan pendidikan seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia, dan belum menyentuh pada upaya peningkatan kualitas mutu pendidikan. Kendati demikian, sistem tersebut tidak mengandaikan bahwa siswa dapat berlaku sebebas-bebasnya tanpa batas di dalam lingkungan sekolah. Bagi Nur Wulan, " ... meskipun pada banyak hal kita juga masih harus menurut pada norma-norma yang sudah ditetapkan di sekolah. Saya rasa, murid PPSP pada saat itu lebih mempunyai otonomi dibandingkan murid-murid sekolah negeri lainnya.� Bekal dari SD PPSP inilah yang disimpan baik baik oleh Nur Wulan yang sekarang mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, dan telah usai menempuh pendidikan doktoral (strata tiga) di Australia beberapa bulan lalu. " ... sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi, nilai ini menjadi sangat penting, karena kemandirian berpikir merupakan satu hal yang harus dipertahankan di dunia akademik�, demikian tegas Nur Wulan. Kiranya tak sedikit yang sudah diberikan oleh ibu dan bapak guru di SD PPSP untuk murid-muridnya. (Nompi)


kenangan SD PPSP angkatan 1977

"titis wirasari ... ?!�

37

T

ubuhnya ramping, tapi tidak pendek. Tinggi untuk ukuran anak seusianya. Belah poninya di tengah dengan kepang tunggal berpita yang mengikat rambutnya. Sepasang sepatu hitam dengan kaus kaki putih yang kerap melapis lingkar kedua kakinya, menapak bumi dengan kuat. Saat dia bermain kasti, pukulannya tepat mengena bola dari pengumpan lawan dan larinya kencang dari pal ke pal.


33 tahun kemudian ... .

38

Nada suaranya rendah namun lantang. Sesekali tampak tenang, sesekali tak acuh, dan sesekali penuh canda. Semuanya melahirkan penampilan yang kuat di hadapan teman-temannya, sebagaimana juga keberanian yang lebih dibanding teman-teman sebayanya. Pantas jika seorang guru bernama Pak Firman cukup takjub dengannya, seperti yang diungkapkan: "(Saya) dihukum almarhum Pak Firman waktu klas 3 SD gara-gara naik meja pingpong, (dengan jalan) bergaya kayak peragawati ... . sepanjang hari itu nggak boleh ikut pelajaran di kelas.�

Empat sahabat semasa sekolah dasar, dari kiri ke kanan: Titis Wirasari, Henty Pratinawati, Nina Farmawati dan Sasanti Pradnya Paramati.


"Sistem maju berkelanjutan membuat kelas begitu unik di mana murid-murid dalam satu kelas bisa belajar atau mengerjakan hal-hal yang berbeda satu dengan yang lain ... ada yang ngerjakan LKS, ada yang tes formatif, ada yang tes unit, ada juga yang sepanjang jam pelajaran cuma mainmain saja” Apa sekiranya yang dapat membuat Titis memiliki kemampuan untuk mengatasi situasi belajar yang demikian ini? Belum dapat disimpulkan bahwa dia adalah anak yang cerdas. Akan tetapi ketekunan seperti apa yang membuatnya mampu memahami semua materi pelajaran yang diberikan? Ternyata, sepanjang bersekolah di SD PPSP, tak hentihentinya dia meringkas semua yang dibaca dan dipelajarinya. Apakah itu modul atau pun buku pelajaran, semua diringkasnya agar tak perlu ada biaya fotokopi untuk bahanbahan pendidikan itu. Boleh jadi dia kembali mengingatingat semua yang ditulisnya sepanjang perjalanan pulang dari sekolah menuju rumahnya. Apa boleh buat, kekerasan hatinya menegas saat berbicara: " ... sampai sekarang saya tetap berusaha ngerjakan apaapa sendiri dan nggak nyusahin orang lain terutama orang tua,dan tetep ada ‘target’ yang berusaha saya capai dan

saya bikin untuk jangka pendek (waktu dekat) dan jangka panjang (masih lama).” Ada ketekunan, ada kemandirian, ada kesahajaan dan ada keberanian, itu semua modalnya untuk melanjutkan kuliah di IKIP Malang pada tahun 1988, pada Fakultas MIPA, jurusan Biologi. Seusainya Titis sempat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru di SMAN Lawang selama 7 tahun. Kini Titis menjadi ibu rumah tangga, mengikuti tempat kerja suaminya di Sumatera. Sekalipun demikian, modal keberaniannya di muka kembali menegas dalam bentuk kritik terhadap model pendidikan saat ini, ungkapnya: "Sistem maju berkelanjutan sudah diterapkan dalam kurikulum sekolah sekarang ini dengan nama yang berbeda yaitu ‘akselerasi’ ... lompat kelas ... tapi nggak pakai ‘modul’ ... tapi laptop dan soft ware.” Seolah dia ingin berkata, secanggih-canggihnya teknologi yang kini tersedia itu semua tak kan berguna jika tidak ada keberanian, ketekunan dan kemandirian dari para peserta didik sekolah saat ini. Apalagi yang hendak kau sampaikan Titis? Seluruhnya sudah-kah? Tak perlu lagi ada harap yang mengambang sebab menjadi ibu rumah tangga adalah juga menjadi guru bagi keluarga. Ibarat ibu pertiwi yang tetap melahirkan peradaban demi peradaban sekalipun tak hentihentinya manusia melukainya. Salam hormat untukmu. (Nompi)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Namun keberanian yang bandel ini yang membuatnya menjadi keras dengan kehidupan, dan berjuang dengan apa adanya. Pelajaran demi pelajaran dilalapnya dengan tekun sehingga dia mampu melewati jenjang pendidikan dengan lebih cepat. Ini menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupannya, sekalipun situasi proses belajar mengajar adalah seperti yang diungkapnya:

39


"elisa mardiana ... ?!� 33 tahun kemudian ... .

40

S

eorang anak mengacungkan tangan. Ia maju memasuki kelas dengan langkah yang lamban seolah berat menanggung tembam pipinya. Kuning merona merah mewarna di wajahnya, dengan sedikit peluh mengalir di batas atas dahi dan rambut. Perlahan dan perlahan seiring dengan sorot mata yang lurus, tetap dan penuh simak ke depan dihias tebal garis alisnya. Bening suara yang mengiringinya masuk kelas tanpa hendak lekat pada riuh rendah seusai bermain. Sebening cerdas berpikirnya yang telah tampak sejak usia taman kanak-kanak. Sebening ruang hatinya yang tetap mengingat mereka yang membesarkannya di SD PPSP, "menjadi manusia yang mandiri�, ungkapnya.


"Masih di kelas 2 juga, aku ingat Oki setiap hari bawa jajannya martabak manis atau terang bulan isi kacang cokelat ... � (bener gak Ki..?)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Seorang pesuruh bernama Pak Slamet diingatnya, walau sebatas kesukaan Pak Slamet mencubit pipinya yang tembam. Namun sejumlah teman disebutnya lengkap dengan peristiwa-peristiwa yang menyertai.

41


Di kelas 3, antara aku, Niken, Nisa dan Heni Wardati, gantigantian satru dan baikan ... hari ini aku temenan sama Niken, satru sama Nisa dan Heni, besoknya baikan sama Heni gantian satru sama Niken ... � (inget Ken ... ?) Bahkan peristiwa yang hingar bingar bersama temantemannya pun tetap diingatnya, "Kalau main jumpritan singit (petak umpet), ngumpet-nya di koridor depan kamar-kamar mahasiswa, suka ngintip juga ke dalam kamar,� demikian lontarannya.

33 tahun kemudian ... .

42

Tampaknya kesan lugu, tanpa ekspresi menguap, karena hatinya selalu membuka ruang bagi teman-temannya. Pantas dia lalu mampu menarik api dari pengalamannya bersekolah di SD PPSP, yang dengan jeli mengingat, "Jumlah siswanya terbagi menjadi hanya 2 kelas dan setiap tahun ajaran baru diacak anggota kelasnya sehingga bisa kenal dan berinteraksi dengan semua teman seangkatan�. Mirip dengan yang dikemukakan oleh Paulo Freire, seorang ahli pendidikan dari Brazil yang menegaskan arti penting keterbukaan di antara peserta didik sebagai salah satu syarat untuk berjalannya proses belajar-mengajar. Tak mengherankan jika dengan kecerdasannya dia berhasil memasuki perguruan tinggi dalam usia yang belia, 17 tahun. Bahkan diterima di salah satu perguruan tinggi terkemuka, Institut Pertanian Bogor, tanpa harus melewati tes masuk penerimaan mahasiswa. Namun dia tetap menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang membuatnya berhasil, tetapi metode pendidikan belajar mandiri yang diajarkan di SD PPSP. Baginya, siapapun gurunya, siapapun muridnya,

apapun materinya, sehebat apapun fasilitas pendidikannya, apabila semuanya dirangkai menjadi sebuah sistem pendidikan, dan itu dijalankan dengan benar pasti akan menghasilkan murid murid yang berkualitas dan memiliki kemandirian. Ungkapnya: "Aku bisa masuk Institut Pertanian Bogor (IPB)melalui program penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Suatu peristiwa yang sangat membanggakan aku dan keluargaku pada saat itu. Di usiaku yang baru genap 17 tahun, aku dituntut untuk hidup sendiri jauh dari orangtua. Hal ini semakin menempa diriku untuk bisa hidup mandiri. Karena sudah terbiasa dengan sistem belajar di sekolah PPSP, maka ketika menjalani sistem belajar di Perguruan Tinggi, tidak mengalami masalah yang berarti. Tahun 1993, lulus program S1, langsung dilanjutkan dengan program S2 di IPB juga. Lulus program S2 pada tahun 1997.� Kini dia lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, agar lebih fokus untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya, dengan cara cara seperti yang pernah diterimanya di SD PPSP. Elisa, semoga semangat mendidikmu terus terpelihara, demi anak-anak bangsa yang lebih berkepribadian mandiri ... (Nompi)


P

eluh mungkin sudah banyak meluap ke bagian luar tubuhnya segera setelah permainan pal benteng berakhir. Ketika dipanggil dengan sigap dia bergegas masuk ke dalam kelas. Dengan kepala sedikit menunduk, dan langkah-langkah kecil yang cepat, hingga tinggal kelebatnya yang tampak. Pada ruang kelas dia duduk di depan karena tubuhnya yang lebih kecil. Namun selaku pengamat tampaknya dia terus mengikuti semua kehadiran sebayanya berikut peristiwa yang melingkupinya. Seperti yang diceritakannya berikut ini:

kenangan SD PPSP angkatan 1977

"wahyu trimurti ... ?!�

43


" ... waktu kelas 2 Agung Wahyuono pernah telat hampir satu jam ... dia buka pintu kelas dengan wajah tanpa dosa ... waktu ditanya Ibu Etty kenapa kok terlambat ternyata jam wekernya mati ... �

33 tahun kemudian ... .

44

Agung Wahyuono yang diceritakannya adalah sosok yang kalem dan menyenangkan. Tak satupun dari muridmurid SD PPSP yang tak mengenalnya. Badannya kuat, semangat belajarnya tinggi, dan pandai bergaul. Sehingga jika ia terlambat, sungguh berita besar. " ... belajar naik sepeda di rumah Mia, berantem sama Raymond sepulang sekolah, bibir sobek berdarah-darah kena pukul kaleng Dina, dikejar teman laki-laki sekelas waktu pulang sekolah bareng Nompi, pacok-pacokan ... � Dia ingin belajar naik sepeda, karena banyak dari temannya menggunakan sepeda untuk berangkat ke sekolah, jikalau bukan berjalan kaki, ataupun dibonceng oleh orang tuanya


Oleh karenanya juga pengalamannya bersekolah di SD PPSP menjadi berkesan baginya. Bukan sekedar karena sistem modul maju berkelanjutan yang berhasil mencetak kemandirian para siswanya, tetapi juga kemampuan dari guru-guru SD PPSP untuk memotivasi, menumbuhkan kreativitas, maupun menjaga dan mengendalikan anak-anak didiknya. Tentang hal ini, Murti bercerita: "Masih di kelas 2 ... Ibu Etty bikin lomba menyampul buku ... semua berusaha menyampul buku dengan sampul coklat serapi mungkin ... Jalan-jalan di sawah digendong Pak Bambang ... latihan menari bersama Pak Sidik, dapat hadiah buku dan pensil dari Ibu Ganung ketika tes matematikaku dapat nilai 98, ... diceramahin Ibu Kustiah satu jam pelajaran sambil berdiri� Salah satu aktivitas olahraga yang diasuh oleh Pak Bambang adalah membawa murid murid SD PPSP berjalan-jalan di sawah yang berada dekat lokasi sekolah. Tampaknya pengalaman yang begitu banyak diingatnya, tidak melahirkan sesuatu yang sia-sia. Dia menggunakan

seluruh kemampuannya untuk mengelola kehidupannya saat ini, baik sebagai ibu rumah tangga, maupun sebagai wanita karir yang bekerja di rumah. Murti sendiri menempuh pendidikan arsitekur di Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS). Ada banyak alasan yang dikemukakannya, sebagaimana yang terungkap berikut: "Jadi setelah punya anak aku pilih tinggal di rumah. Ada banyak hal yang bisa aku bagikan dan kerjakan bersama anakku. Semua yang aku pelajari ketika kecil di rumah dan di sekolah bersama keluarga dan teman-temanku. Sayang sekali kalau anakku harus diserahkan dalam pengawasan pembantu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga masa kini mempunyai peluang yang sama besar dengan wanita karier di kantoran. Kita bisa memilih untuk bekerja yang tidak terikat waktu tanpa meninggalkan keluarga, berkarya dan menghasilkan sesuatu, bergabung dengan komunitas di dunia maya, aktif dalam kegiatan sosial dan lain-lain.� Apa yang dapat dilakukan oleh Wahyu Trimurti tentunya bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi sesuatu yang berbeda dari yang biasa. Tidak mudah memang untuk mengasuh anak sambil bekerja. Sebuah pekerjaan yang mulia yang belum selalu dapat dilakukan oleh banyak dari ibu-ibu yang hidup pada masa kini. Wahyu Trimurti, setia berjuang, dan selalu berupaya mencari hal hal yang baru dalam kehidupannya. (Nompi)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

masing masing dengan kendaraan bermotor. Sementara baginya, maupun bagi mereka yang tinggal jauh dari kompleks perumahan dosen IKIP Malang, sebuah mobil Kijang mengantarjemputnya setiap hari. Apalagi dengan keberaniannya beradu mulut dengan teman-temannya, tentunya tak sulit baginya untuk mempelajari sesuatu yang baru. Setidaknya dari kecil, Wahyu Trimurti mulai belajar menyadari kekurangannya, dan terus mempertanyakan apa yang tidak selayaknya berlaku di hadapannya.

45


"yudho sasongko ... ?!� 33 tahun kemudian ... .

46

S

aat semua riuh rendah sedang berlangsung ia tampak tak terlalu tertarik. Panas udara saat itu seperti tak membuatnya nyaman. Berbincang-bincang dengan sesama yang tak ikut bermain, atau sekedar memperhatikan keramaian yang terjadi. Namun, lama kelamaan ia mulai berjongkok di sisi lapangan, bergabung dengan penonton sebayanya. Tepuk tangan, "Hiyaaa!�, ia turut bersorak saat seorang pemain terjatuh akibat kalah berebut bola. Apa daya, kering yang meletup di legam kulitnya pun tanpa rasa. Seperti juga saat dering bel masuk kelas berbunyi ia tampak belum usai menikmati kegembiraan bersama teman-temanya, walau sudah berada dalam jajar barisan.


Ia menekankan kemandirian sebagai hasil dari proses belajar di SD PPSP. Dalam hal ini dijelaskannya bahwa: "Menurut saya, sistem pendidikan di PPSP berhasil menumbuhkan nilai-nilai kemandirian dan keingintahuan siswa, mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya, membuat siswa senang membaca dan menaruh minat pada banyak hal, serta menghargai kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun orang lain�. Artinya upaya para siswa untuk memahami pelajaran berbasis pada pengetahuan yang dimiliki oleh masing masing siswa. Bagaimana pengetahuan itu diperoleh maka itu juga bermakna sejauh mana upaya siswa untuk menggali pengetahuan lebih lanjut dari apa yang telah diketahui dan dipelajarinya. Upaya menggali pengetahuan ini di satu sisi akan melahirkan gagasan tentang tanggung jawab, dan di lain pihak menumbuhkan kebiasaan kebiasaan baru pada diri siswa. Apakah itu membaca, atau pun menulis semuanya menjadi bagian dari dialog antara menggali pengetahuan dan menjawab persoalan-persoalan di dalam pengetahuan.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Belum dapat dianggap lamban, namun proses belajar bergaulnya seperti bertahap satu demi satu. Bagai keluh kesah yang berubah mendera semangat, bagai regang erat pelukan yang kian lama kian mengeras maka demikian pula lah pembelajaran Yudho Sasongko alias Dodik terhadap berbagai pelajaran dan segala situasi pendidikan di SD PPSP. Perlahan tapi pasti, dan masing masing yang didapatnya memiliki nilai tersendiri dalam hidupnya.

47


Pada akhirnya kesadaran untuk menghargai kelebihan dan kekurangan orang lain maupun diri sendiri akan muncul dengan sendirinya, ketika seluruh proses belajar mengajar tersebut dilihat secara sosial. Seluruh proses ini bagi Dodik hanya memungkinkan ketika sistem pendidikan di SD sifatnya tidak kaku, serta didukung oleh tenaga pengajar dan fasilitas yang memadai. Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa penerapan sistem maju berkelanjutan dengan menggunakan modul belajar siswa, tidak mengandaikan adanya keterpisahan ataupun kesenggangan komunikasi di antara guru dan murid.

33 tahun kemudian ... .

48

Sebaliknya para guru di sini harus lebih aktif memperhatikan perkembangan masing-masing siswanya, dan memberikan pengarahan-pengarahan yang diperlukan. Sebagai pengajar mata ajaran dan juga sebagai pendidik, seperti itulah peran guru-guru SD PPSP. Suasana kelas pun tidak menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan antara satu murid dengan murid lainnya, walau tingkatan modul yang dikerjakan berbeda beda. Situasi yang demikian ini yang lalu melahirkan keakraban di antara para siswa. Pun keakraban itu difasilitasi oleh SD PPSP dengan mendorong murid-muridnya untuk berlibat dalam pengerjaan Derap, Majalah SD PPSP dan Majalah Dinding kelas. Kemampuan Dodik bermain gitar dan bersosialisasi adalah contoh dari hasil para guru di dalam mendorong kreativitas dan inisiatif para siswa. Sehingga terjadi keseimbangan antara situasi di dalam dengan di luar kelas.

Semuanya ini dianggap oleh Dodik sebagai upaya penanaman nilai kemandirian yang sistematik, dan: "Ketika menempuh pendidikan lanjutan maupun dalam lingkungan profesi sehari-hari, saya merasakan nilai-nilai tersebut sesungguhnya jauh lebih berperan dalam menentukan keberhasilan seseorang daripada sekedar kecerdasan yang tinggi.� Tidak mengherankan jika Dodik kemudian berhasil menyelesaikan seluruh pendidikannya hingga tingkat magister (strata 2) dalam waktu yang relatif cepat, dan berupaya menghasilkan yang terbaik dalam hidupnya. Dodik dua kali menyelesaikan pendidikan magister, pertama di Iowa, Amerika Serikat, dan kedua kalinya di Universitas Indonesia. Sudah tentu ini tak kan berhenti di Kepala Sub Bagian Amerika dan Eropa, Bagian Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Biro Administrasi Menteri / Kantor Juru Bicara Kementrian Luar Negeri. Pasti, sesuatu yang lebih baru lagi akan dihasilkan olehnya. Pasti, semua yang telah dicapainya tak kan membuatnya lupa akan Pak Min si tukang es krim putar, berikut teman teman di masa kecilnya. Semoga keperdulian Yudho Sasongko alias Dodik terhadap dunia pendidikan tak usai. (Nompi)


A

kil balignya belum sampai, tetapi penampilannya selalu rapi dan selalu bersemangat. Ketika dipanggil namanya sebuah senyum penuh kesan menoreh di wajah. Sebuah senyum yang khas, dihias rambut tebal yang melingkup raut muka manis. Sebuah isyarat yang untuk bahasa tentang keramahan menangkap segala situasi. Sebuah kehendak untuk menerima semua orang apa adanya, di dalam hidup yang penuh perjuangan. Sehingga di dalam dirinya selalu terkandung semangat untuk menjadi yang terbaik. Sekalipun itu harus dengan mengayun-ayunkan pergelangan tangan kanannya, sebelum memasukkan bola ke keranjang sasaran. Sekalipun itu harus dengan berlari-larian di tanah lapang berlumpur untuk merebut bola sepak dari kendali lawan. Karenanya siapapun menjadi hormat dan segan kepadanya.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

"oki arisulistijanto ... ?!�

49


33 tahun kemudian ... .

50

Jika semasa SD dia dulu sering naik sepeda, sekarang Oki memiliki kegemaran berkuda.

Kendati demikian, ia berusaha untuk selalu rendah hati, dan itu yang membawanya menjadi pemuka bagi banyak temannya, ketika aktif di Senat Mahasiswa Fakultas di Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), dan kini ia terapkan sebagai prinsip untuk menjalankan profesinya saat ini. Sudah tentu, kerja kerasnya pasti kan menambah segala hal yang sudah dicapainya saat ini. Semuanya, menurut Oki, awalnya adalah hasil dari pendidikan di SD PPSP, sekalipun ada beberapa hal yang menurutnya perlu


menurut saya sukses akademis saja tidak akan cukup untuk dijadikan modal dan bekal hidup.�

" ... karena tidak terlalu suka dengan pembedaan kamar mandi untuk-murid dan guru saya sering menggunakan kamar mandi guru jika memerlukan. Selain itu kamar mandi guru relatif lebih bersih. Pernah juga beberapa kali pipisnya (air kencing) di bak penampungan air he he he, ngapunten nggih bapak dan ibu guru�.

Pendapat ini mungkin sedikit berbeda dari teman-temannya yang demikian meyakini bahwa sistem maju berkelanjutan membawa banyak nilai positif. Baginya, peluang untuk mengembangkan diri tidak mungkin hanya didapat melalui bangku-bangku sekolah. Namun apa yang diperoleh dari sekolah harus selalu didialogkan dengan realitas yang berkembang di tengah masyarakat. Sehingga antara sukses akademis dan sukses di dalam relasi sosial merupakan kunci untuk membuka Jalan ke kehidupan yang lebih maju. Sungguh sebuah pemikiran yang cerdas dan tidak sekedar nrimo dengan segala yang tampak baik di depan mata.

Boleh jadi kritik ini tidak enak didengar maupun diperdengarkan, ditulis atau dibacakan. Namun sejauh peradaban telah menghasilkan hal hal baru, maka hal hal yang lama tidak dengan serta merta akan hilang. Setidaknya segala fasilitas yang ada di SD PPSP saat itu sudah cukup memadai, tetapi barangkali juga para penggunanya saat itu belum terlalu tahu dengan baik bagaimana cara menggunakannya. Tidak semua guru dan murid maupun pesuruh yang mengajar di SD PPSP saat itu adalah mereka yang akrab dengan lingkungan perkotaan. Gagasan mengajar dan bersekolah adalah gagasan modern, tetapi tidak dengan sendirinya tindak tanduk manusia kan mengikuti nilai nilai modern. Mungkin itu yang hendak dikatakan oleh Oki Arisulistyanto. Logika kritis yang tak jauh berbeda pun diungkapnya untuk membuat kritik terhadap sistem maju berkelanjutan yang diberlakukan di SD PPSP. "Sistem maju berkelanjutan terbukti cukup efektif secara akademis dan sekarang`diterapkan dalam bentuk pendidikan akselerasi. Masalah dampak terhadap perkembangan anak didik di masa mendatang saya kira harus dikaji serius, karena

Oki Arisulistijanto, semoga semangat dan pikiranmu untuk berjuang selalu lekat pada benak dan perasaan semua orang yang berada di sekelilingmu. (Nompi)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

dicermati lebih jauh. Secara implisit dia membuat kritik tentang kebiasaan dari mereka yang berlibat di SD PPSP:

51


"nugroho aristawarman ... ?!� 33 tahun kemudian ... .

52

T

ubuhnya tak terlalu tinggi namun gempal. Kuat berlari, dan gigih berjuang dalam setiap pertandingan olahraga. Setiap langkahnya larinya seolah memiliki pegas hingga tampak kencang. Puas wajahnya ketika peluh membasahi tubuhnya. Pun setiap jam istirahat hampir tak pernah ia tak bermain. Menubruk, berkejar-kejaran, menjegal sebagaimana, meringis, terjatuh, semuanya tampak biasa baginya. Namun bukan dunia olahraga yang kemudian diinginkannya, tetapi sesuatu yang berbeda dari kebanyakan sebayanya.


kenangan SD PPSP angkatan 1977

Mula-mula, Aris yang tinggal di komplek perumahan dosen IKIP Malang di Jalan Tumapel melihat bahwa SD PPSP berhasil mendidik muridnya untuk menjadi mandiri dan bertanggungjawab. Kemudian ia menegaskan pula tentang nilai "Tidak mudah untuk menyerah meskipun dibawah tekanan.� Terakhir, sebagai konsekuensi dari nilai kemandirian yang ditanamkan sejak usia sekolah dasar maka dampaknya adalah munculnya kesadaran untuk bertindak cepat ,tepat dan tidak terlalu lama dalam pertimbangan.

53


" ... saat ini mengabdi pada Kepolisian Negara Republik Indonesia� Sebuah dunia yang mungkin agak tidak lazim bagi temanteman sekolah dasarnya yang rata-rata bergerak di bidang pendidikan atau pun di bidang perniagaan. Namun bagi postur gempal atletisnya, berikut nilai nilai yang diingatnya dari SD PPSP, dunia tersebut menyediakan tempat.

33 tahun kemudian ... .

54

Penting diperhatikan bahwa dengan modal belajar di SD PPSP dan jenjang jenjang selanjutnya hingga lulus SMA, membuatnya cepat menyelesaikan pendidikan di Akademi Kepolisian, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, serta Sekolah Staf dan Pimpinan. Tidak aneh jika jenjang riwayat jabatan yang dilaluinya kerap menanjak dari waktu ke waktu, seperti yang diceritakannya: "Secara garis besar riwayat jabatan diawali sebagai Kapolsek di Polres Tanjung,Kasat Serse Polres Kota Baru, Kasat Serse Polresta Banjarmasin masuk wilayah hukum Polda Kalimantan Selatan selanjutnya pindah tugas di wilayah Polda Jateng sebagai Kanit Udpal (uang dokumen palsu), Waka Polres Rembang, Perwira Inspektorat Ops Inspektorat Daerah selanjutnya jabatan sekarang Kabid Humas Polda Maluku Utara� Jika diperhatikan baik-baik seluruh jabatan yang dilaluinya, adalah jabatan pimpinan, dan atau jabatan komandan operasi. Sebuah posisi tinggi dan penuh tantangan bagi Aris yang masih muda usia dan memiliki potensi menduduki

jabatan yang lebih tinggi lagi. Boleh jadi seluruh riwayat jabatan ini bisa dicapai oleh karena karakter bertindak dan nilai nilai yang dianutnya. Namun yang lebih penting kemudian adalah melihat bahwa persoalan kemandirian dan tanggung jawab itu bukan hal yang sederhana. Ada nilai-nilai kebertahanan atau survivalitas dan ada nilai-nilai bertindak cepat di sana. Ini sungguh nilai nilai yang tak mudah ditemukan di antara generasi muda sekarang yang begitu mencintai hal hal yang serba instan, serba bergantung pada hal hal di luar dirinya, yang mana semuanya berada dalam situasi yang tidak memandirikan dan karenanya juga kebertanggungjawaban menjadi sulit dicari. Ris, Ris, sekalipun engkau seorang perwira Polisi, jikalau kelak bertemu dengan seorang teman sesama SD melanggar lampu lalu lintas, jangan percaya dengan segala tipu daya rayuannya kepadamu untuk tidak ditilang. Tetapi percayalah, ditilang atau tidak ditilang, sang teman itu akan mentraktirmu makan nasi rawon di Kota Malang. Selamat Ajun Komisaris Besar Polisi Aris! Semoga nilai nilai disiplin yang kau pegang sepanjang hidup melahirkan cita rasa kehidupan yang lebih maju dan demokratis. (Nompi)


kenangan SD PPSP angkatan 1977

"muhammad yahya ... ?!�

55

B

inar-binar matanya bagai tak usai menantang. Sekalipun fisiknya tak sekuat teman-temannya, tetap saja ia berusaha berlari dan berlari. Tekad bercampur semangat melahirkan kegigihan walau sengal-sengal nafas tak henti menahan laju. Langkahlangkah berlarinya kadang aneh dan menggelikan. Tapi demikianlah Yahya yang dikenal cerdas oleh kawan-kawan sebayanya. Terus melaju menghadapi tantangan demi tantangan yang harus dihadapinya.


Berbeda dengan teman-teman lainnya, Yahya cenderung serius dengan apa yang dipelajarinya. Seserius ia pulangpergi bersekolah dengan berjalan kaki dari Jalan Banten ke Jalan Magelang. Sehingga ia adalah salah satu yang berhasil menyelesaikan SD dengan percepatan (akselerasi). Sekalipun demikian, dengan segala kesahajaannya ia memiliki perhatian terhadap perilaku teman-temannya dan dunia pendidikan pada umumnya, seperti ujarnya: "Di sekolah lain, siswa nakal (atau lebih halusnya : "terlalu aktif �) - seringkali dianggap menyulitkan dan sebisa mungkin diredam. Banyak guru PPSP mencoba menyalurkan "keaktifan� ini menjadi suatu yang produktif - dan ini adalah bekal yang sangat berharga untuk hidup bermasyarakat nantinya�.

33 tahun kemudian ... .

56

Ini bermakna bahwa SD PPSP dengan segala kekurangan dan kelebihannya berhasil mengorganisasikan siswa-siswanya di dalam berbagai aktivitas. Kenakalan, kemalasan, berikut segala sikap siswa yang dianggap buruk oleh kebanyakan orang diolah sedemikian rupa. Pun demikian dengan kemampuan kognitif dari Dia memilih untuk masing masing siswa, tidak tidak menjadi dosen di disamaratakan dan tidak berada almamaternya karena dalam pengandaian bahwa yang rendahnya apresiasi pandai adalah yang baik, dan terhadap kerja seorang yang nakal adalah yang malas pendidik. Kini, Yahya dan bodoh. Pada titik ini, menjadi manajer Yahya dapat menggambarkan sebuah perusahaan lagi kehidupannya di SD PPSP: multinasional. " Mengerti bahaya ulat bulu


Saat-saat indah di pelajaran musik kalau sekelas nyanyi diiringi piano Bu Soeryo atau Pak Wagino” Sosok berambut keriting yang dikenal lancar di dalam menjawab banyak soal-soal matematika dan ilmu alam ini ternyata memiliki kepekaan kultural yang cukup baik. "Bahaya ulat bulu”, "Operet Koboi Cengeng”, dan "ermusik” adalah tanda-tandanya. Bagi siswa SD PPSP saat itu, ulat bulu kerap kali terlihat di dahan-dahan tanaman yang menghias sekolah tersebut. Tak sulit untuk menemukannya. Sering terjadi jika anak-anak bermain di dekat taman, saling dorong dan salah satu jatuh dekat tanaman, pasti yang mereka khawatirkan adalah apakah mereka tertimpa, atau terkena bulu dari ulat bulu. Bila terkena, kulit terasa gatal, dan jika digaruk maka bercaknya akan membesar seluas garukan. Sehingga ulat bulu saat itu seperti sesuatu yang menakutkan dan kalau bisa dihindari. Tak jarang untuk menakuti seorang siswa, ulat bulu yang melingkar di ujung lidi ditodongtodongkan ke muka siswa tersebut oleh siswa yang lain. Kegiatan drama dan musik adalah sesuatu yang hidup di lingkungan SD PPSP. Bernyanyi dan bermain angklung tumbuh bersamanya, sehingga ketika muncul operet pasti itu lahir karena ruang budaya yang dibuka luas di SD PPSP. Pantas pula Yahya mengingatnya dengan baik.

Ada beberapa pendapat serupa kritik yang diajukannya sehubungan dengan metode pendidikan di SD PPSP. Pertama ditegaskannya, bahwa metode pendidikan di SD PPSP adalah metode yang mahal, lebih lebih jika melihat bahwa biaya pendidikan saat ini meningkat jauh di atas pendapatan rata-rata masyarakat. Kedua, sistem yang dianut PPSP dahulu berpotensi menghasilkan siswa yang terlalu analitis dan individualis. Pemahaman pentingnya menangkap big picture dari awal kadang terlewatkan karena terlanjur fokus ke detail dan tujuan yang sudah ditegaskan dari awal. Sekalipun demikian dari sisi positifnya ia bersepakat dengan sistem akselerasi pendidikan untuk dapat diterapkan pada beberapa siswa khusus, dengan tetap secara terencana meningkatkan pengajaran nilai-nilai kolektif seperti team work, kemampuan organisasi dan lain-lain. Pandangan-pandangan Yahya tentang pendidikan sejatinya adalah hasil refleksi dari pengalamannya bersekolah dan bekerja. Setelah menunaikan kuliah di Teknik Pertambangan ITB dan Magister Manajemen di IBI, Yahya bekerja di Bluescope Steel Indonesia, dan akhirnya kini menjadi Manufacturing Director, PT Jayaboard. Semoga sukses selalu Yahya, dengan segala upayamu mengalahkan tantangan demi tantangan kehidupan. (Nompi)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

- saat lihat Oky disengat dan gatal-gatal waktu pelajaran Olahraga di lapangan basket IKIP Operet "Koboi Cengeng” dengan Cahyono (Nono), Deta (Itenk), dan Agung Surachman (Hadi).

57


33 tahun kemudian ... .

58

oh, coban rondo

Thantowi Jauhari N.S.

S

etelah siap semua, selesai berdoa bersamasama, maka berangkatlah kami dengan 10 buah colt dan 1 buah truk kira-kira pukul 08.00. Oh ya, anak-anak dan saya bersama 2 kelompok yang lain berada di colt nomor 3, colt yang paling disegani. Jam di tanganku menunjukkan sudah pukul 08.15 dan kita sudah melewati batas Kota Malang dan aku hanya bisa mengucapkan selamat tinggal Malang tersayang, nanti kalau aku pulang ta’ bawakan oleh-oleh ya ... dah dah dah.


Kira-kira pukul delapan malam kami mengadakan atraksi di depan api unggun yang hangat karena suhu udara sangat dingin sekali. Setelah atraksi kami tidur dan diberi bagian berjaga sampai pukul dua malam. Malam di Coban Rondo sangat dingin, sampai-sampai kabut turun dengan derasnya. Pukul dua malam saya bersama tiga orang teman Perkemahan di Coban tertidur sampai pagi. Kemudian saya bangun karena mendengar suara anak-anak yang berjaga, “ ... Wuuiiih, Perkemahan di Coban Rondo tahun 1983. Berdiri dari kiri ke kanan: Arief, Oki dan Aming. Duduk dari kiri ke kanan: Intos, Nono, Pulung, Deta (Ithenk), Fritz (Sigfriedo) dan Aris.

Nah, sampai di Coban Rondo sekitar pukul 09.00 lalu mengadakan undian untuk mendirikan tenda dan aku beserta kelompokku mendapatkan daerah yang dekat jalan yang berdebu, yakni kavling 11.

Setelah mendirikan tenda dan makan siang, kami lalu mengadakan penjelajahan ke daerah Coban Rondo. Di dalam perjalanan kami tersesat dan berputar-putar di atas bukit. Selama putar-putar itu kaki dan mukaku terkena duri dan berdarah, tetapi sesampainya di air terjun aku

Rondo tahun 1983. Dari kiri ke kanan: Dodik, Fahiem, Tomi, Yahya dan Iwan.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

langsung terjun membersihkan lukaku yang kemerahmerahan. Setelah puas kami pulang ke tenda dan mandi serta mempersiapkan acara untuk atraksi malam nanti.

59


Atraksi seni pada malam perkemahan: pentas musik dapur. Dari kiri ke kanan: Dodik, Eko Budi, Raymond, Budiono dan Aris.

33 tahun kemudian ... .

60

adem-e rek! ... � itulah kata-kata yang saya dengar karena pagi itu memang sangat dingin sekali. Lalu kami bersama-sama senam dan memasak untuk sarapan pagi. Sekitar pukul 09.00 pagi kami pergi menjelajah ke Coban Manten. Waktu perjalanan itu kami melewati bukit berbunga yang kiri dan kanannya banyak bunga-bunga yang merah. Dalam perjalanan itu banyak yang tersesat, juga guru-guru. Perjalanan itu kira-kira 3 jam dan sangat melelahkan, apalagi perjalanan pulangnya juga banyak yang tersesat karena keliru, eh ... salah jalan dan mengikuti jalan besar bukan jalan setapak. Setelah mandi dan masak, sore itu hujan dan pada malam

harinya banyak sekali orang sakit apalagi di dalam tendaku, banyak anak-anak dari kavling 18, 19 dan 20 datang dan sakit di dalam tenda anak-anak kavling 11. Kemudian keesokan siangnya, kami pulang ke Malang dengan segudang pengalaman. Derap, Edisi 2 Tahun XI, Pebruari 1983


kenangan SD PPSP angkatan 1977

dari kehidupan masa kini yang penuh dengan keberanian

61

P

ra Fajarrini, Rengganing Sasanti, Tedja Guntara Karuniabawana dan Rini Dyah Artanti. Mereka adalah empat orang teman kita yang menempuh hidup dengan penuh keberanian. Mereka telah mengubah kelemahan menjadi kekuatan, kesulitan menjadi kemungkinan, tantangan menjadi peluang. Mereka menempuh hidup dengan keyakinan pada hal-hal yang patut diperjuangkan.


33 tahun kemudian ... .

62

Profil berikut akan berkisah tentang mereka. Ada cerita tentang seorang perempuan yang berjuang menghadapi kelemahan kesehatannya hingga akhirnya menemukan tujuan hidupnya. Juga ada kisah tentang perempuan lain yang berani mengambil langkah untuk mandiri, seberapa pun pahitnya hidup dikunyahnya sendiri tanpa keluh. Profil ini juga akan menceritakan tentang seorang laki-laki yang mengubah kesulitan hidup menjadi sebuah jalan untuk

lahir kembali, menjadi baru ibarat kepompong menjadi kupu-kupu. Juga cerita lain tentang seorang perempuan yang bergelut mencari jati diri hingga akhirnya menemukan kecerdasan hidup dalam gerak pengabdiannya. Empat orang teman kita ini telah merayakan hidup ini dengan cara tersendiri. Untuk itu profil ini dipersembahkan kepada mereka.


Keindahan mentari di pagi hari, cahaya dalam pergumulan hidup.

pra fajarrini

Dia menempuh pendidikan dari SD sampai SMA PPSP IKIP Malang, sebelum akhirnya masuk Fakultas Teknologi Pertanian di Universitas Brawijaya. Sejak kecil Fajar – demikian dia dipanggil – sudah menyaksikan proses kreatif di lingkup keluarganya, maka tidak heran jika akhirnya dia tidak memilih bekerja di bidang teknologi pengolahan pangan. Memang, sebelumnya Fajar sudah mencoba bekerja di sebuah pabrik kulit di Malang untuk menangani pengolahan limbah. Namun, “Saya hanya bertahan dua minggu, lantas keluar karena tak tahan dengan bau limbah pabrik kulit.” Kembali kehidupan kreatif yang menarik batinnya, kebetulan sebuah museum lukisan di Bali menawarkan sebuah pekerjaan sesuai hatinya. Dia pun berangkat ke Bali.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

T

eman kita dilahirkan sebagai anak ke lima dari tujuh bersaudara. Ayahnya, almarhum Katjik Soetjipto, adalah seorang pelukis yang bekerja sebagai pengajar di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Saat ini, IKIP telah berubah menjadi Universitas Negeri Malang (UM).

63


“Pada tahun 1995 saya pindah ke Bali. Ternyata mengurus lukisan jauh lebih menyenangkan daripada mengurus limbah kulit. Saya langsung jatuh cinta dengan Bali” Namun belakangan tugasnya meluas, dia dipercaya menjadi asisten pribadi bagi pasangan pemilik museum tersebut. Selanjutnya bidang pekerjaannya tidak pernah lepas dari proses kreatif. Tahun 1996 sempat bergabung dengan Matamera Communication – sebuah advertising agency dan setahun kemudian pindah bekerja pada retailer mebel dan produk elektronik, PT Courts Indonesia, Tbk. Fajar bertanggung jawab untuk mengelola Divisi Marketing di perusahaan Inggris yang saat itu baru dibuka di Indonesia.

33 tahun kemudian ... .

64

Enam tahun bekerja di Courts, pada tahun 2003, dia pindah haluan ke Volcom, yang merupakan usaha life-style dari Amerika Serikat yang menjual apparel untuk selancar air dan skate board. “Tantangan sebagai orang pemasaran, untuk membangun image perusahaan di market-nya ternyata membutuhkan kreatifitas yang tinggi, dan saya sangat menikmatinya.” Malah dia sendiri heran, pada saat harus menangani suatu event yang mengharuskan dia stand by di pantai atau lapangan skate board di bawah terik matahari dari pagi hingga sore, dia Fajar telah tidak merasakan kelelahan apapun. menjadikan Sementara waktu sekolah dulu, berdiri suami dan 10 menit waktu upacara saja sudah mau putrinya sebagi ambruk! Tanggung jawab dan kreatifitas fokus hidupnya ternyata mampu menjadi ramuan saat ini. pendorong (doping) yang manjur.


Putri pertama bernama Cintanya Sanger, diperoleh dengan proses yang tidak sederhana. “Ada kelainan pada darah saya, resiko kehamilan saya cukup tinggi dan saya harus rajin transfusi darah kalau hamil. Puji Tuhan saya dan anak sehat.” Cintanya akhirnya menjadi salah satu hadiah terbesar dalam hidup.  Persis yang diharapkan almarhum ayahnya, kehadiran anak ini memperkuat keindahan hidup Fajar dan menyempurnakan rumah tangganya. Dalam perjumpaan suatu siang di sebuah pastry shop di Legian, Bali, bulan Juli 2010, Fajar tampak santai dengan kehamilan anak ke-duanya yang memasuki bulan ke-tujuh, walaupun minggu lalu proses transfusi yang ke-5 baru saja dijalaninya selama kehamilan tersebut. “Calon anakku ini sudah habis 17 kantong darah lho” ujarnya dengan riang seakan bukan masalah. Fajar tertawa ketika ditanya apa rencana hidup selanjutnya. “Saya merasa berbahagia telah menerima segala sesuatu dari Tuhan.  Saya pribadi sudah mendapatkan yang saya inginkan, mendapat pekerjaan yang saya nikmati, bepergian ke mana-

mana ... pokoknya cita-cita untuk diri sendiri sudah tercapai. Sekarang saatnya fokus ke keluarga. Saya bersyukur semuanya sudah diberikanNya tepat pada waktuNya. Kini hidup saya adalah untuk melayani anak dan suami, agar mereka beroleh kehidupan yang penuh berkat,” urainya. Memang, hidup patut disyukuri selain dinikmati. Sang fajar memberikan dirinya menjadi sinar bagi suami, anak dan lingkungannya. (Raymond)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Kini, setelah dikarunia seorang putri dari pernikahannya dengan Jappy Sanger, pada tahun 2009 Fajar memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Dia berdiam bersama keluarga di Denpasar, Bali.

65


S

embilan belas tahun silam, teman kita ini datang ke Denpasar. Dia tidak datang sebagai wisatawan. Tidak pula sebagai pelancong. Dia datang untuk merantau, dia sedang mencoba peruntungan nasib dengan bekerja.

33 tahun kemudian ... .

66

perempuan penyintas yang bekerja keras melampaui halangan hidup

rengganing sasanti

Untuk sampai ke Bali, dia naik bis. Berangkat dari Malang berganti kendaraan beberapa kali, lewat Probolinggo ke Banyuwangi, menyeberang Selat Bali sampai akhirnya tiba di Denpasar. Tidak banyak bekal dibawa, selain ransel berisi pakaian dan perlengkapan pribadi. Kuliah yang ditempuhnya di fakultas sastra sebuah universitas swasta di Kota Malang ditinggalkan. "Saya berpikir saat itu harus mencari penghidupan sendiri karena orangtua sudah tidak punya dana untuk membiayai kuliah. Sedangkan kakak saya yang laki-laki masih memerlukan biaya sekolah,� jawabnya ketika ditanya mengapa harus merantau ke Bali.


Hari-hari pertama di Denpasar dihabiskan dengan berkelana. Tidur di musholla. Bekal yang serba terbatas membuatnya harus mensiasati hidup. Sambil mencari kerja, dia berkeliling ke berbagai penjuru kota sambil berjalan kaki. "Saya bahkan mandi-cuci di kamar mandi umum,” kenangnya. Dia akhirnya bertemu dengan sepasang suami-isteri yang dikenalnya semasa menjadi pecinta alam. "Saya menumpang di rumah mereka di Renon, Denpasar. Sehari-hari saya memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Hampir enam bulan lamanya,” kenang Didin. Teman yg memberikan tumpangan gratis selama hampir 6 bulan ini lalu mendorongnya melamar bekerja di sebuah biro perjalanan di Sanur. Dengan modal bahasa yang pernah dipelajari semasa kuliah dulu, dia diterima menjadi pemandu wisata di biro perjalanan tersebut. Didin pun bekerja keras sebagai pemandu wisata. "Sebagai usaha sampingan saya bekerja sebagai penyulam. Setiap malam saya memasang manik-manik di sepatu dan sandal sampai larut malam, hingga pedih mata ini, ” tuturnya mengenang. Seorang sahabat dari Jerman, lalu memberi dia informasi mengenai program sekolah dan bekerja di luar negeri, yang dinamakan au pair. Program ini dikhususkan bagi pemudapemudi yang ingin mempelajari bahasa di negara asalnya

dengan menjadi seorang pengasuh anak di salah satu sebuah keluarga di Eropa. Dia pun mempersiapkan diri sebaik mungkin. Setelah siap, dia berangkat ke Jakarta untuk menuntaskan persiapan. Sayang sekali, persiapan panjang untuk program au pair ini gagal. "Saya tidak bisa ikut hanya karena umur saya kelewatan 1 hari saja dari batas usia yang diizinkan program. Saya terlambat karena tidak punya uang untuk membuat paspor,” imbuh Didin. Dengan perasaan galau, dia kembali ke Bali. Dia merasa tidak siap kembali ke Malang karena sudah merasa mengecewakan orang-orang yang dikasihinya. Sesampainya di Denpasar – bagaikan mujizat – seorang kenalannya datang membawa selembar koran berisi pengumuman lowongan kerja di jaringan Hotel Radisson. Didin pun mendaftar, bersama ribuan pelamar lain. "Saya sempat tidak percaya diri karena latar belakang pendidikan dan pengalaman saya sungguh terbatas sedangkan yang pelamar lain umumnya benar-benar berpengalaman.” Aneh tapi nyata, dalam proses rekrutmen tersebut sang pewawancara justru melihat potensi dalam diri Didin. Dia pun diterima bekerja di Hotel Radisson. Mula-mula dia bekerja sebagai operator telepon, kemudian di front office hingga menjadi executive guest relation. Berkat prestasinya secara nasional dalam melakukan penjualan, dia pernah diberi hadiah kunjungan ke luar negeri. Kini Didin menjadi asisten pribadi dari Direktur Pemasaran. Dia masih bekerja di hotel yang sama. Sejak peristiwa Bom Bali tahun 2002, Radisson sudah berubah menjadi Sanur Paradise,

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Rengganing Sasanti, demikian nama teman kita, oleh sebagian rekan semasa di SD PPSP IKIP Malang kerap dipanggil Didin. Dia seorang penyintas atau survivor: manusia yang dikaruniakan daya tahan menembus segala resiko.

67


sebuah jejaring hotel untuk wisatawan asing.

Didin menatap

masa depan Pengalamannya menempuh hidup dengan dengan segala kesulitan membuatnya mensyukuri yakin, karena hidup. "Banyak hal yang terjadi selama dia percaya saya merantau di Bali. Almarhum ayah Tuhan tidak tidak bisa menerima kenyataan ketika saya meninggalkan meninggalkan Kota Malang. Namun, hamba-Nya yang saya percaya hamba-Nya tak akan beriman. ditinggalkan.� Sejak pergi dari Malang tahun 1991, hubungan anak-ayah ini sempat mendingin.

33 tahun kemudian ... .

68

Hubungan mereka memang sedikit tidak harmonis. Penyebabnya, Didin sedikit enggan untuk pulang. Dia telah memilih menjalani hidup, sakit-susah, senang sendiri di rantauan. "Saya mengkasihi orang-orang terdekat saya, dengan cara saya, yang mungkin sedikit susah untuk dimengerti oleh orang lain.� Namun sebulan sebelum ayahnya meninggal, hubungan keduanya secara ajaib dipulihkan. Tidak ada marah, tidak ada benci. Saat di mana Didin bisa merasakan kembali pelukan seorang ayah, setelah berpuluh-puluh bulan dia rindukan. Pada bulan Juni 2008, ayahanda Didin, almarhum Roeswandi, meninggal di Malang. Didin tidak sempat melihat jasad ataupun mendengar pesan terakhirnya. Hanya deretan kalimat yang masih dia simpan ketika perjumpaan indah, sebulan sebelum beliau meninggal: "Anak perempuanku tidak boleh lemah dan mudah menyerah!� (Raymond)


tedja guntara karuna bawana (mus)

Bertemu, berinteraksi lagi dengannya setelah sekian lama tidak bertemu membuat saya menyadari hidup ini sangat berharga. Sekian lama saya berjalan ke banyak tempat, bertemu banyak orang, meninggalkan waktu panjang di belakang, ternyata dia mampu bermetamorfosis begitu sempurna.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

B

ertemu dengan teman sekolah saat SD, sebenarnya biasa-biasa saja. Namun menjadi luar biasa ketika sanggup menguras semua memori yang dipunyai. Memori itu mampu mencairkan kebekuan, melumerkan kekakuan menembus batas perbedaan. Hal ini saya alami sendiri, saat bertemu dengan Mus, teman masa kecil saya.

69


33 tahun kemudian ... .

70

Obrolan kami nyambung luar biasa, saat sebelum saya bertemu Mus, ada yang mengatakan pada saya Mus bakalan tidak mengenal saya dan memorinya sedikit hilang mengenai teman-teman SD-nya. Pada kenyataannya, setelah saya sendiri harus antre menemuinya – gara-gara ada amanah yang harus diantar dan tidak ada orang lain lagi – ternyata 180 derajat hipotesis teman saya tadi tidak terbukti. Mus malah menyapa saya duluan dengan nama kecil saya, dan tidak terbukti memori dia tentang saya hilang, malah utuh, dan bulat seperti bola. Mus tidak lupa bagaimana jahilnya dia dulu pada saya. Bagaimana senangnya dia bikin saya menangis. Betapa senangnya dia kalau saya kebingungan menjadi peralatan menulis. Betapa ekspresifnya dia saat dia mengejar saya ke seluruh sudut sekolah hanya untuk memegang rok seragam saya yang berwarna hijau. Dia juga ingat ketika saya marah, dan nggak bisa marah memang, tapi saya mampu mendorongnya ke tempat sampah besi di sebelah tempat duduk yang beratap bougenville yang pada mekar.

Mus (sebelah kanan) bertukar kenang-kenangan dengan Kak Seto, pada kunjungan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tersebut ke sanggar pembinaan anak jalanan yang dikelolanya.


Yang lebih lucu lagi, percaya tidak percaya, dia bisa ekspresif menampilkan rona wajah yang sedikit demi sedikit menjadi memerah karena malu dengan anak-anak asuhnya, saat dia menceritakan pertemanan dia dan saya dulu. Saya terharu ketika anak-anak itu begitu manja padanya dan Mus dengan penuh kasih sayang meladeninya dengan caranya yang santun. Dua puluh enam tahun tidak bertemu logikanya pasti kaku, tidak ada bahan pembicaraaan dan membosankan. Kenyataannya sangat berbeda, suasana siang itu luwes, obrolan nyambung, malah menyenangkan dan terasa kurang waktu untuk membahas hal apa saja yang bisa kami bahas. Ujung-ujungnya, saya yang termasuk tidak banyak bicara saat SD dulu, malah jadi bisa banyak bicara dengannya. Apa yang terlontar dari dirinya membuat saya merasa tidak rugi dengan waktu yang ternyata bisa 3 jam saya betah duduk di ruang tamunya. Wah, saya merasa terhormat menjadi tamunya siang itu. Mus adalah Mus. Di mata saya, dia teman yang menyenangkan, walaupun dulu pernah jadi teman yang menyebalkan. Tapi ada sifat humanisnya tetap ada, di

samping kejahilannya dulu. Saya ingat dia tidak menerima perlakuan seorang guru yang menghukum temannya garagara si teman ketahuan membuat contekan untuk Mus. Dia protes keras. Padahal itu semua gara-gara Mus yang diberi jawaban oleh temannya yang terhukum tersebut. Tapi itulah Mus, itulah sifat yang diajarkan pada kami semua saat SD, saat kami semua belajar menyerap nilai-nilai moral yang diajarkan guru-guru kami. Kejujuran Mus, membuatku sadar bahwa proses pendidikan moral dan etika baru terasa dampaknya saat kami beranjak remaja dan dewasa. Saat ini. Begitu sayangnya guru-guru kami pada kami, terutama Mus yang luar biasa jail padaku saat itu. Guru kami semasa SD, yakin tidak ada anak yang bodoh. Kami, anak-anak SD, itu adalah unik, dengan semua talenta dan potensi yang kami punyai. Rumah Mus, tetap rumah yang sama seperti tahun tujuh puluhan, yang berbeda hanya tanaman dan atribut papan nama tentang apa yang dikelolanya sekarang. Dia juga sama seperti dulu, ekspresif dan suara yang keras, yang menjadi cirinya, yang berbeda hanya penampilan rambutnya, dan perubahan dasar yang menjadikan dia menjadi seorang yang berani mengatakan bahwa semua hal layak diperjuangkan. Ada pelajaran berharga yang bisa aku tarik dari Mus, hidup adalah belajar mengalahkan diri sendiri. (Dian) Buat Mus, teman SD-ku yang jahil, yang telah bermetamorfosis dari kepompong menjadi kupu-kupu.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Walah. Bener-benar ingat semua. Malah yang bikin saya surprise adalah dia tidak lupa ekspresi saya. Wah, ekspresi saya itu adalah senyum saya. Senyum saya yang membuat dirinya langsung bisa menebak siapa saya. Padahal kalau dipikir, duapuluh enam tahun kita tidak pernah bertemu. Sayapun sudah berubah bentuk badan, memakai kerudung dan berkaca mata. Mus masih ingat saya dan semua tentang saya.

71


P

erawakan badannya tidak terlalu besar. Semasa sekolah, rambutnya yang lurus dipotong pendek sebahu. Wajahnya cenderung memanjang dihias hidung lurus dan mulut yang sedikit lebar. Matanya memiliki tatapan tajam dengan manik yang bersinar bila sedang tertarik pada sesuatu.

33 tahun kemudian ... .

72

rini dyah artanti

Sepintas menoleh, segera tampak karakternya yang serba gesit. Penggemar olahraga ini pun tak bisa dibilang diam. Bermain basket adalah kesenangannya semasa di SD PPSP IKIP Malang. Cara berjalannya pun tidak seperti anak perempuan lain: dia selalu bergerak cepat. Suaranya serba lantang. Rini – demikian dia dipanggil – memang memiliki kecerdasan pada ranah kinestetik. Dia adalah anak perempuan tipe tomboi atau istilahnya anak Malang saat itu: petrak.


kenangan SD PPSP angkatan 1977

Entah istilah ini resmi atau tidak. Namun karena mirip anak laki-laki, panggilannya pun menjadi: Rini Chikotink. Tambahan di belakang nama panggilan ini cukup seram, karena merupakan nama sebuah sebuah geng remaja di Kota Malang pada awal 1980-an. Walau bukan anak geng, pada waktu duduk di kelas 5 SD dia sudah membawa sepeda motor (milik kakak-mu ya?) ke sekolah. Tentu saja diam-diam, bahkan sengaja di sore hari, agar tidak ketahuan guru. Tatkala ditemui beberapa waktu silam, Rini tertawa saja mendengar panggilan itu. Dia kini tampil bersahaja dan santun. Sebuah hijab membingkai dirinya, menyisakan wajah yang tetap dihias dengan sepasang mata dengan tatapan tajam. Sepintas, kesaksian dirinya menunjukkan masa lalu adalah potret dari periode pencarian jati diri. Peran teman, pada saat itu sangat penting. “Seusai SD PPSP saya melanjutkan ke SMP dan SMA PPSP. Walau pernah pengen nyoba pindah ke sekolah lain supaya ada

73

teman dan suasana baru, tapi ternyata teman-teman lama lebih menarik ... jadi aku balik lagi ke PPSP,� urainya.

Karakternya yang serba gesit, membuat penggemar olahraga ini pun terlibat dalam kegiatan pecinta alam. Rini (berdiri sebelah kanan) turut hadir dalam reuni pecinta alam eks SMA PPSP IKIP Malang, bulan Maret 2010.

Pencarian jati diri ini juga berlangsung secara akademis. “Aku masuk diploma tiga di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, sampai selesai. Selanjutnya aku ingin terus sekolah, pertama-tama aku masuk Institut Pertanian Malang tapi cuma sampai semester 4 karena lingkungannya kurang


sesuai. Lalu aku pindah ke Universitas Muhammadiyah Malang, mengambil psikologi, tapi juga sampai semester 7 saja karena memilih merawat anak ... ”

Di dalam kegiatan inilah, kini Rini mencurahkan kecerdasan dan pengalaman hidupnya. “Alhamdulillah ternyata memang di situ kemampuanku ... ” tambahnya menjelaskan.

Rini dikaruniai tiga orang anak dari pernikahannya dengan Goegoes Dwi N. Ketiga buah hatinya ini benar-benar menjadi buah cintanya saat ini.

Rini mengakui pengalaman hidupnya – proses pencarian jati diri dan masa bersekolah di SD PPSP – membentuk caranya bekerja sebagai Kepala Sekolah. Nilai kemandirian dan disiplin, selain sikap sportif, tertanam dalam dirinya. Dia bahkan terkesan dengan guru Pendidikan Moral Pancasila, almarhum Ibu Koestiyah, yang menurutnya memberi banyak teladan dalam kedisiplinan.

”Sekarang aku kuliah kembali di Universitas Islam Malang, mengambil pendidikan agama Islam,” imbuhnya.

33 tahun kemudian ... .

74

Pendidikan agama Islam ini memang bersesuaian dengan apa yang ditekuninya saat ini. Proses pencarian jati diri semasa SD sampai kuliah, memberi keteguhan batin padanya untuk berbuat lebih banyak bagi anak-anak dan lingkungan sekitar lewat jalur pendidikan. “Awalnya aku ingin konsentrasi di bidang ilmu pertanian, tapi ternyata ada dunia lain yang lebih menarik dan membuat aku nyaman. Lantaran sering dititipi anakanak yang berusia balita, aku membantu teman-teman mendirikan lembaga pendidikan. Belakangan aku dijadikan Kepala Sekolah ... mungkin karena mereka tidak punya pilihan lain,” guraunya. Apakah itu kini menjadi sebuah karir atau profesi? “Aku tidak berkarir dan aku tidak bilang itu profesi. Sebab kalau bilang profesi maka itu sering berkaitan dengan pendapatan,  tapi bagiku apa yang kulakukan sekarang lebih kepada panggilan hati  dan obsesi. Aku suka melihat anak balita yang pinter dan aku nyaman bergabung dengan anakanak, maka aku tetap bantu teman-temanku di kelompok bermain dan taman-kanak-kanak.”

Rhenald Khasali, seorang pakar manajemen, pernah menulis ada kecerdasan yang tumbuh di dalam diri kita karena pengalaman dan pengulangan, bernama myelin. Ini adalah memori yang tertanam dalam jejaring otot – dikenal juga sebagai muscle memory – berbeda dengan brain memory yang merupakan ingatan yang terekam di otak. Myelin dapat ditumbuhkan untuk membentuk aspek intangibles (hal-hal menguntungkan) dalam diri kita. Fakta menunjukkan, pembentukan myelin ada di balik keberhasilan para artis besar, atlet hebat dan pakar terkemuka. Saya pikir, ini adalah kecerdasan yang diperoleh Rini pula, melalui pengalaman hidup dan pencarian jati dirinya. Sukses ya, Rini! (Raymond)


P

ara guru SD PPSP IKIP Malang tahun 1978. Dari kiri ke kanan: Pak Hamid, Bu Indra, Bu Kustiani (Bahasa Indonesia), Pak Harto (IPS) Bu Ariemamie, Bu Harlik, Bu Koestiyah (PMP) dan Pak Kanang.


guru dan staf SD PPSP IKIP Malang

F

oto ini diambil tahun 1977. Dari kiri ke kanan: Pak Harto (Ilmu Pengetahuan Sosial), Pak Bambang (Olahraga), Pak Mistaram (Seni Rupa) Bu Tatiek Romlah (Kepala Sekolah), Bu Tatik, Pak Imam Rofii (Bhs. Ind), Pak Heru Sunarto (Matematika), Bu Arimamie (Bimbingan), Pak Arief Sukadi (Bahasa Inggris), Pak Sunardi (Olahraga), Pak Abd. Manan, Pak Toha (Matematika), Pak Isgianto (Ilmu Pengetahuan Sosial), Pak Syamsul Arifin, Pak Kanang (Bahasa Indonesia), Pak Madji (Guru Kelas 3), Pak Slamet (Tukang Kebun).


G

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Guru hadir dalam kehidupan tiap orang dalam berbagai bentuk. Mulai dari Ibu Muslimah, gurunya Ikal dalam film Laskar Pelangi, Maleo-nya bagi Denias, hingga peran Neytiri bagi Jake Sully dalam Avatar. Mereka adalah sosok yang kadang tak kita sadari sangat menginspirasi dan membentuk kita saat ini.

77

uru adalah sesorang yang kerjanya mengajar. Bicara tentang guru, aku percaya semua orang pasti mempunyai guru dalam hidup mereka. Seseorang yang menuntun mereka untuk belajar tentang sesuatu, terlepas dimanapun, dan bagaimanapun sistem sekolah tersebut.

catatan tentang guruku Noer Rahmi Ardiarini

Kadang kita hanya menerima secara take them for granted tanpa pernah tahu usaha mereka untuk memberikan yang terbaik, khususnya guru-guru SD. Mereka mengajar di sekolah dasar bagi anak-anak usia 7-12 tahun. Aku sadar bahwa menjadi guru SD bukan perkara yang mudah karena merekalah yang menanamkan basis ataupun landasan pendidikan ke depan, berbagi perspektif tentang belajar serta semangat kepada murid untuk bisa maju dan menghargai pendidikan.


33 tahun kemudian ... .

78

Masih segar Berdiri di ujung kiri di ingatanku Pak Imam (Bahasa guru-guru Indonesia), dan SD siapa saja ujung kanan Pak yang sangat Sidik (Kepala berkesan di Sekolah). Duduk dalam hidupku dari kiri ke kanan: sebagai anak Pak Nur, pak Madji, SD dan yang dan Pak Nardi (olah raga). membuatku terpacu untuk belajar. Semua guru-guru sejak kelas 1 sampai 8 adalah guru yang luar biasa besar jasanya pada proses pendidikanku. Namun, diantaranya ada 4 guru SD favoritku yang sangat mempengaruhiku dalam berjalan sampai sejauh ini di masa kini. Catatan kali ini mungkin sangat pribadi tentang kenanganku dengan keempat guru SD-ku. Bu Tatik, wali kelas saat kelas IA. Bu Dewi, guru agama di kelas IA. Bu Sita, wali kelas saat kelas IIB. dan Pak Toha, guru matematika di kelas 6B. Merekalah yang memberiku kepercayaan, sayap untuk terbang dan semangat luar biasa untuk belajar. Nama lengkapku Noer Rahmi Ardiarini. Aku dulu bersekolah di SD PPSP IKIP Malang, dengan nomor induk 546. Saat itu, sekolah ini dikepalai oleh Ibu Tatiek Romlah. Aku

termasuk murid yang biasa-biasa saja, malah cenderung tidak banyak bicara. Aku bukan terbaik dalam disiplin ilmu ataupun dalam peringkat kelas, namun kata ke-empat guru favoritku tadi, dengan berbagai gaya mereka, intinya aku punya semangat menjadi yang terbaik dalam bidang yang aku sukai. Bu Siti Krisnarti biasa dipanggil Bu Tatik. Seorang perempuan berkulit putih, selalu rapi dalam berbusana dan selalu bersanggul dan lembut dalam mengajar. Beliau yang


Aku ingat Bu Tatik selalu setia mendorongku untuk menulis dan mengarang. Beliau juga mengirimkan karanganku yang pertama yang berjudul �Teko yang Pecah.� Mungkin aku belum sekaliber Nompi, Raymond, bahkan Yudho Sasongko dalam menulis, namun aku sangat bersyukur saat salah satu profesorku dalam menempuh studi lanjut saat ini, memberiku nilai excellent dalam salah satu ujiannya berupa tulisan mengenai Filsafat Sains. Paling tidak Bu Tatik memberiku spirit besar dalam mengajariku menulis huruf dengan baik dan benar sampai detik ini. Doaku untuk almarhumah, kuterbangkan untuknya, semoga bisa menjadi sayap yang memudahkannya mencapai istana abadinya.

Dari kiri ke kanan: mengajariku memegang pensil dengan benar, belajar Ibu Dewi (Agama menulis A–Z, menulis indah serta mengeja huruf di Islam), Ibu Soeryo buku Iin-Aan. Aku ingat betul Bu Tatik, karena beliau Ibu Titit Sunasita biasa dipanggil (Seni Musik), Ibu selalu sabar menungguku sampai aku dijemput. Beliau Bu Ita. Beliau adalah wali kelasku kala Ratna dan Ibu Mari. juga mengizinkanku untuk memukul papan tulis duduk di kelas IIB. Aku tidak tahu dengan penggaris kayu dan membaca dengan keraskeberadaannya saat ini. Dari semua keras. Bu Tatik memberiku sayap untuk membaca dan guru favoritku kala SD, beliaulah yang paling galak, namun mengeja dengan keras tanpa amarah. Sampai hari ini aku sebenarnya berhati lembut. Aku ingat beliau paling sering masih bisa mengingat bagaimana suara dan nada bicara Ibu memberikan koreksi dalam masalah ketelitian , karena Tatik kala mengajar membaca ataupun menghitung. Dalam kadang-kadang aku kurang teliti sehingga sering membuat

kenangan SD PPSP angkatan 1977

raporku juga tertulis dalam catatan dari guru. Beliau menuliskan: ... rupanya senang mengarang.

79


kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi. Catatan ini muncul pada rapor di catur wulan I.

33 tahun kemudian ... .

80

Tapi satu hal yang paling kuingat dan kadang kala melihat rapor SD-ku adalah sebuah pelajaran tentang berbagi kemenangan. Satu hal yang sangat kuingat hingga kini lewat keputusan beliau adalah bahwa tujuan belajar adalah bukan untuk menjadi pemenang dan untuk bersaing bahwa �seorang murid lebih pintar dari seorang murid lain� tapi, belajar adalah sebuah proses untuk menjadi tahu dari sebuah keadaan dimana sebelumnya tak tahu. Mungkin masih bingung dengan apa maksudku-kan? Ceritanya sewaktu SD, sekolah menerapkan aturan tidak ada rangking, namun ada juara 1, 2 dan 3. Saat itu di kelas IIB, Nunil (Anitawati) Dari kiri ke kanan: petisi dengan nilai dan memutuskan siapa menang temanku tetap terbaik, setelah itu yang Ibu Koestiyah atau kalah, tetapi lebih kepada sebuah pencapaian. Bu aku ingat aku dapat posisi 3 dan nilai(Pendidikan Moral Ita mengajariku untuk mencapai sesuatu dengan kerja nya sama dengan salah satu temanku, Pancasila), Ibu Mul keras dan semangat pantang mundur. jadi Bu Ita memutuskan untuk menulis (Ketrampilan), dan urutan pada raporku dan seorang teman Ibu Ita. Guru ketiga adalah Bu Dewi, guru agamaku, yang secara bersama-sama juara 3 karena juga entah sekarang beliau berada di mana. Aku mempunyai nilai yang sama. Kala bemengenangnya sebagai guru yang sangat kreatif. ranjak dewasa dan mengenang hal ini, aku belajar keputusan Bagaimana tidak beliau mengajar dengan menggambar apa wali kelasku adalah sebuah kebijakan yang bijak karena beli- yang beliau ucapkan di papan tulis dengan kapur warna-warau memutuskan pendidikan bukanlah sebuah ajang berkom-


Aku terkesan dengan caranya mengajar yang membuatku teringat sampai saat ini, bagaimana yang benar atau yang salah, bagaimana yang baik dan benar, bagaimana bersikap sopan dan santun. Beliau memberiku pemahaman agama dan moral dengan bahasa kanak-kanak tanpa filter yang tertanam hingga saat ini. Rasanya sampai hari inipun, tidak ada guru sekreatif beliau dalam mengajar dan memberikan dasar agama yang terpatri dalam benak kami, murid-muridnya saat itu. Keempat adalah Pak Toha. Beliau adalah inspiring teacher, memberiku contoh konkrit dalam berlogika. Mungkin saat itu, aku belum begitu paham maksud dari cara mengajar matematikanya yang sangat berbeda dari guru yang lain. Beliau sedikit demi sedikit membentuk pemikiran logis-ku tentang sesuatu hal, bukan hanya matematika saja. Baru kupahami sekarang bahwa cara pandang dan cara berpikir beliau memaksaku untuk merekonstruksi pemikiran mengenai berpikir logis, runut, jujur dan tertata dalam mengungkap pemikiran ilmiah atau akademis. Jejak beliau dalam menjelaskan sesuatu membuatku bisa meringkas berlembar-lembar kertas berisi kalimat menjadi skematis dan konsep tidak lebih dari 2 halaman saja, seperti Pak Toha memahamkan matematika dengan konsepnya yang begitu mudah kupahami. Beliau memberiku dasar berpikir

ilmiah secara perlahan-lahan dan ini membuatku menjadi mudah mempunyai sikap ilmiah dan mengurutkannya menjadi kegiatan ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan. Aku baru tahu jawabnya sekarang, begitu berartinya nilai-nilai yang ditanamkan Pak Toha padaku sejak beliau mengenalkan aku dengan cara mengajarnya yang spektakuler pada masa itu. Aku yakin, almarhum akan bangga melihat murid-muridnya dari surga di atas sana. Mereka, para guru SDku, bukan hanya para pahlawan tanpa tanda saja. Bagiku, mereka adalah para malaikat yang meminjamkan sayap kepadaku untuk bisa terbang, untuk bisa menjelajah dunia lewat �pinjaman� pengetahuan yang diberikan. Mereka adalah salah satu kepanjangan tangan Tuhan yang patut kusyukuri dalam hidupku karena mereka membantu menunjukanku jalan untuk menjadi aku yang seperti sekarang ini. Terima kasih untuk semua guruguruku.

In memoriam untuk Bu Tatik dan Pak Toha, juga untuk Bu Sita dan Bu Dewi dan semua guru-guru SD-ku di SD PPSP yang meminjamkanku keajaibannya dan yang tulus mengajariku dan semua teman-teman SD-ku dengan hati

kenangan SD PPSP angkatan 1977

ni. Masih segar kalau beliau menjelaskan Nabi Adam dan Hawa yang diturunkan ke bumi. Beliau menggambarkan banyak pohon dengan buahnya, juga buah kuldi, sehingga dengan bahasa anak-anak, Bu Dewi memberiku banyak pemahaman agama tanpa aku harus banyak menghafal.

81


S

ing telatèn panèn, sing tekun tekan, tetekan tekun tekan. Siapa yang tekun akan menerima hasil, yang tekun akan berhasil, dengan berpegang pada rasa tekun akan memperoleh hasil.

33 tahun kemudian ... .

82

Melestarikan seni-budaya sebagai cara mendidik karakter. Guru ini tekun memainkan wayang kulit dan gamelan.

sumadji

Beginilah pesan dalam Bahasa Jawa yang disampaikan Sumadji saat tampil sebagai dalang wayang kulit pada saat perpisahan siswa-siswi di SMA Negeri 8 Malang. Kecintaannya pada kelestarian budaya dan tradisi – dengan tekun menjadi dalang – menyatu saat menjalankan tugas sebagai guru Sosiologi. Nasihat luhur dan filosofis yang tergali dari kearifan lokal, terus dibagikannya pada generasi muda, agar mereka tidak tercerabut dari akar budaya.


kenangan SD PPSP angkatan 1977

Pria yang tahun ini genap berusia 59 tahun ini sudah menekuni wayang sejak kecil. Di tempat kelahirannya, Kanigoro, Blitar, dia sering menonton pertunjukkan wayang. Beruntung jika Pak Madji – demikian dia akrab dipanggil – dulu memiliki tetangga yang berprofesi sebagai dalang sehingga dia bisa ikut belajar tentang wayang. Saat kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, dia memperdalam kemampuan berwayangnya dengan mengikuti kursus. Niatnya menjadi dalang makin kuat. Pilihan menjadi dalang ini tentu bukan semata-mata agar kelak bisa dimanfaatkan mencari uang. "Saya hanya melestarikan seni budaya Jawa,” tuturnya terkekeh. Guru yang meniti karir dari SD Penanggungan di Kota Malang ini sadar, wayang kulit bukan cara mencari hidup. Pak Madji pun tidak pernah mematok harga saat ada orang nanggap dirinya. Bapak lima anak ini mengaku tidak bisa membuat harga, maka prinsipnya pun jadi sak paring-paring (tergantung yang memberi). "Sekarang orang segan menanggap wayang kulit, karena sekali pentas biaya bisa mencapai 10-jutaan Rupiah, maklum pembawa penabuh gending dan sinden-nya sekaligus,” urai berkilas. Bagi yang bersekolah di SD PPSP IKIP Malang pasti mengenal Pak Madji. Sosoknya yang gempal dan berkulit gelap, dikenal disiplin ketika mengajar. Tidak sedikit siswa SD PPSP Malang pernah merasakan cubitan, teguran bahkan pukulan darinya. "Saya menjadi guru di SD PPSP IKIP Malang selama hampir 10 tahun. Awalnya, sekitar awal tahun 1975, saya kebetulan mengajar sebagai sampingan di Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA), Batu. Dari salah seorang rekan guru di sana, saya

83 mendengar ada tes masuk menjadi guru untuk sebuah sekolah baru di bawah binaan IKIP Malang. Saya tertarik, mengikuti seleksi dan ternyata diterima,” urai menjelaskan. Sejak resmi menjadi guru di SD PPSP IKIP pada bulan Agustus 1975, kesan mendalam dirasakannya. Menurutnya, guru benar-benar mendapat kesempatan berkreasi. "Sebab, dengan metode belajar maju berkelanjutan, seorang guru bisa berbuat maksimal. Bagi siswa yang sudah bisa, tinggal memberi latihan. Bagi


siswa yang belum bisa, diberi pengertian. Bagi siswa yang sudah mampu, diberi pengayaan.” Selain mengajar di kelas 3, Pak Madji menyempatkan diri bermain gamelan menggunakan perangkat yang tersedia di SD PPSP IKIP Malang. "Waktu itu saya bermain gamelan dan Kepala SD saat itu, Sidik Watjana, yang menari.” Sekitar 10 tahun mengajar di SD PPSP Malang, ketika proyek percobaan itu terpaksa diakhiri, Pak Madji pindah mengajar ke SMA Negeri 8 Malang, hingga kini.

33 tahun kemudian ... .

84

Kini, guru yang tinggal di Kendalsari ini juga tergabung dalam kelompok wayang orang di daerah Blimbing bernama Wahyu Manunggal yang dibina Wakil Bupati Malang, Rendra H. Kresna. "Pernah juga tampil, terakhir saya tampil sebagai tokoh punakawan bernama Bagong pada pentas Ontoseno Takon Bapa di Stadion Kanjuruhan bulan Januari 2010 silam,” tuturnya. "Saya sering didapuk jadi Bagong, saya juga menyukai peran itu, karena Bagong selalu menyampaikan pesan dan hasil pembangunan,” ujarnya. Setelah pensiun 2011 mendatang, Sumadji berencana tetap menggeluti dunia wayang. Dia ingin memperkuat kesenian wayang – kalau perlu sampai luar negeri. Konon menurut Pak Madji, orang Malaysia sudah menggemari hiburan wayang. Toh, kalau tidak laku, Sumadji ingin membuka warung atau depot makan di Malaysia. Berbeda dengan situasi di negeri jiran itu, kesenian tradisional di Indonesia justru makin tidak dikenal generasi muda. Selain menurunnya animo masyarakat pada wayang

kulit dan kesenian Jawa pada umumnya, keprihatinan Pak Madji yang terbesar saat ini adalah pada etika. "Saya perhatikan semakin hari perilaku siswa-siswi masa kini semakin berubah. Sopan santun dan etika pergaulan mereka berubah. Terhadap guru pun orang sekarang kurang menaruh perhatian dan rasa hormat,” paparnya dengan sedih. Memang, kita semua berada di persimpangan jalan. Semakin menipisnya masyarakat yang melestarikan seni dan budaya, bisa jadi menjadi penanda kian tipisnya kehalusan budi yang diunggulkan orang timur itu ... (Raymond)

Sumadji Tempat/Tanggal Lahir :

Blitar, 6 Juni 1951 Nama Isteri :

Sri Medyawati Riwayat Pendidikan :

SD Negeri Karangsono, Kanigoro, Blitar (1965) ST Negeri, Blitar (1967) SPG Negeri, Blitar (1970) IKIP Malang – sarjana muda dari Fakultas Ilmu Pendidikan (1974) IKIP Malang – sarjana dari Fakultas Ilmu Pendidikan (1985) Pengalaman Mengajar :

SD Negeri Penanggungan, Kota Malang (1973-1975) SD PPSP IKIP Malang (1975-1985) SMA Negeri 8 Malang (1985-sekarang)


kenangan SD PPSP angkatan 1977

Ketika senja tiba, guru ini pun merenda kesunyian. Meski sakit, semangatnya tak pupus.

abduh abdullah

S

uara berderit yang disertai seretan kaki, terdengar dari belakang kelambu. Sejenak kemudian, kelambu itu tersibak dan seorang pria lanjut usia menampakkan diri. Perlahan dia masuk ke kamar tamu. Untuk berjalan, dia menggunakan sebuah alat bantu berupa kerangka dari aluminium untuk berpegangan. Kaki kirinya sudah tak kuat dipakai menapak, sehingga dengan beringsut dia harus mendorong maju alat bantu itu untuk bergerak.

85


Wajahnya yang bulat dengan kumis dan jenggot lebat, sama sekali tak berubah. Tigapuluh tahun telah lewat. Abduh Abdullah demikian nama pria itu, telah lanjut usia. Serangan stroke pada 2003 telah melumpuhkan kaki kirinya dan melemahkan sebagian anggota tubuh lainnya. Namun di balik itu semua, sepasang mata yang tajam dan hitam masih tampak menari hidup ketika namanya disapa. "Alhamdulillah, kita masih dapat bertemu ya?� suaranya yang mantap terdengar bergetar. Untuk sejenak, pria yang dulu mengajar Agama Islam di SD PPSP IKIP Malang ini mengusap matanya yang tampak sulit membendung rasa haru.

33 tahun kemudian ... .

86

"Maaf, demikian (kesehatan) Bapak sekarang. Hampir tujuh tahun berobat ke mana-mana, namun tetap saja keadaan Bapak begini. Tampaknya, semua harus diterima ya?� imbuhnya dengan nada bertanya. Namun pertanyaan itu seakan tak memerlukan jawab. Suasana di ruang tamu itu menjadi sunyi. Ruang tamu berukuran kurang lebih tiga kali tiga meter ini dibangun persis di sebelah garasi yang tak terpakai lagi milik Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Malang. Ruang tamu itu dihubungkan dengan garasi melalui pintu yang tertutup kelambu. Di balik kelambu Pak Abduh (duduk) masih ada sebuah ruang kecil yang kini masih belum berapitan dengan tembok garasi. pulih seluruhnya Kamar tidur Pak Abduh ada di dalam dari stroke yang bekas garasi tadi. Tidak ada televisi dideritanya sejak 2001. atau alat elektronik di sana.


Sejak pensiun dini karena sakit yang dideritanya akibat stroke, praktis Pak Abduh menghabiskan hari-harinya diri rumah. Walau demikian, daya ingatnya masih kuat dan jernih. Ketika ditanya, bagaimana sampai bisa mengajar di SD PPSP IKIP Malang – bahkan menjadi dosen di IKIP Malang – dengan bangga diceritakan pengalamannya. "Ketika itu tahun 1973, ada seminar di IKIP Malang yang diselenggarakan dalam rangka pengenalan Bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan. Saya waktu itu sudah sarjana muda, dan menjabat Ketua Senat Mahasiswa IAIN Malang, diutus mewakili Fakultas Tarbiyah ke seminar tersebut.” "Saat itu hadir para pakar bahasa seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Anton Moeliono. Dalam seminar tersebut, saya aktif berdiskusi dan terlibat tanya jawab dengan mereka. Seusai seminar, saya ditepuk di punggung oleh Alisjahbana. Sastrawan pujangga baru itu mengatakan kepada Rektor IKIP saat itu: tolong pekerjakan anak muda ini.” Setelah peristiwa itu, Pak Abduh mulai berkecimpung di ilmu kependidikan. Tahun 1975 dia ikut terlibat penelitian kebahasaan yang diselenggarakan Ford Foundation.

Pengalaman selama hampir 3 tahun mendampingi peneliti bahasa (linguis) dari Amerika Serikat, membuatnya dikenal sebagai dosen problematika bahasa. Sampai stroke memaksanya undur dari mimbar akademik, Pak Abduh masih mengasuh matakuliah tersebut di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) IKIP Malang. "Dari ke empat anak saya, hanya yang sulung mengikuti jejak dengan menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang dia berangkat ke Australia untuk menempuh pendidikan strata dua,” imbuhnya dengan bangga. Tahun ini usia Pak Abduh menjadi 68 tahun. Dia tinggal di sebuah rumah bekas garasi bersama isteri dan anak bungsunya yang masih duduk di kelas tiga SMA. Semasa mengajar di SD PPSP Malang, tahun 1978-1986, dia juga aktif dalam kegiatan pramuka. Badannya yang besar dan gemuk, membuat akrab dengan anak-anak. Selain berwatak penggembira, dia mudah terlibat dalam berbagai kegiatan. Bahkan bersama-sama Suharto dan Sumadji, dua orang guru SD PPSP lain, dia sering bermain wayang orang. Aneh tapi nyata: Pak Abduh sebenarnya orang Maluku yang lahir di Pulau Alor. Kemauan ikut main wayang orang barangkali adalah corak pembawaan beliau yang pemberani. Rainer M. Rikle, seorang penyair Jerman, pernah berujar kalau sumber kekuatan hidup adalah keberanian menatap kenyataan. Nun, armes Herze, sei nicht bang, nun muss sich

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Isteri Pak Abduh segera bergegas menyajikan air teh dingin. Percakapan pun mengalir. Dengan bersemangat Pak Abduh menceritakan kehidupannya sebagai seorang pendidik. Sarjana lulusan dari Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang – yang kini dikenal dengan nama Universitas Islam Negeri (UIN) Malang – mencoba mengingat segala peristiwa yang telah lampau.

87


33 tahun kemudian ... .

88

alles wenden. (Jangan risau hatiku, karena semuanya senantiasa berubah). Pak Abduh sudah mengurai lembar demi lembar kesetiaan pada hidup dan profesinya. Kini beliau memandang Sang Khalik dalam sebuah perbincangan senja, antara hari-hari kefanaan dan cita-cita keabadian. (Raymond)

Tampak depan rumah Pak Abduh, di sebelah bekas garasi milik SMA Negeri 8 Malang.


Penampilannya yang selalu rapih dengan hem dan celana pantalon, seakan memperkuat citra klasik pria akhir dasawarsa 1970-an.

Hikmah berbahasa adalah pekerti yang baik. Demikian filosofi sederhana guru Bahasa Indonesia ini.

imam rofii

Meskipun tampak gagah dan berwibawa, guru Bahasa Indonesia semasa di SD PPSP Malang ini santun dalam berlisan. Maklum, Imam Rofii demikian nama beliau, dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan mengutamakan akhlak. Hampir tigapuluh tahun kemudian, kumis dan cambang sudah tidak dipeliharanya. Demikian pula rambut ikalnya telah menipis dengan bertambahnya usia. Namun, tidak dengan semangatnya. Ketika di temui di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 8 Kota Malang, dia masih tampak hangat dan bersemangat, cara bertuturnya pun tetap santun.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

S

emasa mengajar di SD PPSP IKIP Malang, pria kelahiran Blitar ini berkumis tebal dan berambut ikal. Di sepanjang pipinya terdapat cambang yang dipotong halus. Sebuah gelang akar bahar juga melekat di lengannya.

89


Karir mengajarnya dimulai secara tidak terduga. Tapi, dorongan untuk menjadi guru telah ada sejak lama. "Saya menjadi guru karena pengaruh lingkungan, khususnya keluarga. Maklum sebagian besar keluarga saya menjadi guru, baik umum maupun agama.” Berawal dari kedatangan Arief Sukadi Sadiman – salah satu pendidik yang turut mengajar di SD PPSP IKIP Malang – untuk menemui sejumlah mahasiswa Fakultas Kependidikan Sastra dan Seni (FKKS) IKIP Malang pada awal 1977. Tujuannya mencari sejumlah tenaga muda usia untuk menjadi guru di sekolah yang tengah dirintis itu. Termasuk yang ditemui adalah Pak Imam, yang kala itu masih menyusun skripsi.

33 tahun kemudian ... .

90

"Berbahasa, dalam bahasa apapun termasuk Bahasa Indonesia, pada hakikatnya merupakan teknik berkomunikasi yang seharus menumbuhkan pekerti dan mendorong tumbuhnya interaksi sosial yang sehat,” urainya. Tampaknya menurut Pak Imam – demikian dia akrab dipanggil siswanya – bahasa bukan sekadar alat untuk membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Hikmah berbahasa adalah mengembangkan kepribadian, khususnya budi-pekerti yang baik.

Usai pertemuan itu, ternyata Pak Imam langsung diajak ke rumah Samsul Arifin, kepala SD PPSP Malang saat itu. "Saya diwawancarai dan setelah tanya jawab selesai, saya malah ditawarkan mengajar di sekolah yang beliau pimpin.” Oleh karena belum siap, Pak Iman meminta waktu seminggu untuk berpikir. Genap seminggu setelah wawancara itu, dia pun dipanggil. "Saya diikutkan tes untuk masuk menjadi tenaga pengajar, yang dilaksanakan beramai-ramai di auditorium IKIP Malang.” Setelah tes usai, dia pun kembali menyelesaikan urusan di kampus, tanpa terlalu berpikir tentang hasil seleksi.


Maka, "Saya pun bergegas mengumpulkan berkas kelengkapan dan menghadap kembali ke Kepala Sekolah SD PPSP IKIP Malang.” Sejak 1977, Pak Imam pun memulai karirnya menjadi guru Bahasa Indonesia. Hampir 8 tahun mengajar Bahasa Indonesia memberi banyak pengalaman baginya. Proses belajar dengan secara aktif dan mandiri, membuat guru memiliki banyak kesempatan mengembangkan kedekatan dengan anak didik. Kedekatan ini – menurut hemat Pak Imam – adalah metode pedagogi yang mumpuni. Sebab membantu pembentukan watak. Metode ini mirip tradisi tutorial yang dikembangkan secara klasik di pesantren. Salah satu pengalaman berkesan dalam mendidik di SD PPSP IKIP Malang adalah keberadaan Derap – majalah siswa. Majalah ini menurut Pak Imam, benar-benar karya dari siswa dan untuk siswa. Ruang kreatifitas siswa seakan terpentang luas melalui majalah berukuran setengah halaman folio itu. "Ketekunan anak-anak dalam menulis dan menyusun isi majalah. Derap seakan tidak pernah kehabisan bahan,” kenangnya dengan tersenyum. "Kreatifitas anak-anak SD PPSP Malang yang tertuang dalam Derap benar-benar murni, polos dan tidak ada rasa takut. Ini yang menjadi

kekuatan dari majalah siswa itu,” imbuh Pak Imam mengenang. Pendidikan zaman sekarang tampaknya memerlukan sekali kreatifitas. "Saat ini, proses belajar-mengajar sangat kental dengan nuansa menghafal. Itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak jelek, namun seharusnya proporsional. Sistem modul di SD PPSP merupakan bentuk pembelajaran yang berusaha untuk menjauhkan proses menghafal.” Kreatifitas memang adalah kekayaan batin. (Raymond)

Imam Rofii Tempat/Tanggal Lahir :

Blitar, 5 Pebruari 1953 Nama Isteri :

Nuraci Riwayat Pendidikan :

SD Negeri Sukosewu, Gandusari, Blitar (1966) Madrasah Tsanawiyah Ma’arif, Blitar (1969) SMA Negeri 1, Blitar (1972) IKIP Malang – sarjana dari Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1977) Universitas Islam Malang – sarjana dari Fakultas Hukum (1997) Universitas Widya Gama Malang – magister dalam humaniora dari Program Pascasarjana (2002) Pengalaman Mengajar :

SD PPSP Malang (1977-1986) SMA Negeri 8 Malang (1986-sekarang)

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Tanpa diduga, Pak Imam dinyatakan lulus. Pengumuman itu disampaikan lewat siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. "Bersama-sama saya, dinyatakan lulus sebagai guru SD PPSP adalah Bu Indra (Bahasa Inggris), Pak Suwartono (Fisika) dan Pak Bambang Basuki (Olah Raga).”

91


33 tahun kemudian ... .

92

sekolah kita maju mendahului zaman Yudho Sasongko

S

aya termasuk sebagian dari alumni yang tidak sempat menikmati masa sekolah di PPSP IKIP Malang secara penuh, karena setelah lulus kelas 8 dipindahkan oleh orangtua ke sekolah non-PPSP. Namun perasaan kehilangan akibat kepindahan itu sesungguhnya juga memberikan berkah, yaitu berkah untuk bisa merasakan perbedaan antara sekolah lama dan baru, dan apa yang membuat sekolah PPSP ini terasa istimewa. Kalau kita diminta untuk menggambarkan dengan satu kata saja mengenai istimewanya sekolah kita, mungkin salah satu kata yang langsung terbayang adalah ‘progresif ’, alias lebih cepat dari jamannya.


Apanya yang progresif? Bagi saya, yang pertama dan terutama adalah gagasannya, idenya, filosofi yang mendasarinya. Tentu pada saat duduk di bangku TK atau SD, atau bahkan sampai SMP, sebagian besar dari kita atau bahkan kita semua tidak menyadari hal ini. Tidak terpikir, dan memang tidak perlu dipikirkan oleh anak-anak seusia kita waktu itu. Yang kita tahu barangkali bahwa PPSP identik dengan sistem modul, masa sekolah bisa lebih cepat, tiap ganti pelajaran pindah ruang kelas, Bahasa Buku Iin dan Aan disusun oleh Supartinah Pakasi, diterbitkan pertama kali tahun 1975 oleh PT Bhratara, Jakarta. Buku ini menjadi pengantar pelajaran membaca.

Filosofi Ibu Pakasi sebenarnya sederhana, yaitu bahwa setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbedabeda, tidak seragam. Karena itu, untuk memaksimalkan potensinya, setiap siswa perlu didorong untuk berkembang sesuai kemampuannya masing-masing, tidak dipaksakan untuk maju secara bersama-sama. Dari filosofi inilah kemudian diturunkan metode yang kemudian kita kenal dengan istilah belajar dengan sistem modul, maju berkelanjutan, pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan dan kecepatan belajar, belajar mandiri (masih ingat ‘jam pelajaran bebas?’), jam khusus di perpustakaan, penggunaan alat bantu untuk memperkaya pengalaman belajar, dan sebagainya. Situasi belajar mengajar seperti itu memungkinkan terjadinya akselerasi pembelajaran, yang antara lain membawa konsekuensi masa belajar di jenjang pendidikan dasar bisa diperpendek menjadi hanya 5 tahun saja. Sumbangsih Ibu Pakasi tidak hanya sebatas pada ide progresif tentang pengakuan dan pengoptimalan kemampuan anak didik yang berbeda-beda, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk suatu Sekolah Laboratorium, namun juga ide-ide lain yang tidak kalah ‘revolusioner’, seperti menciptakan metode berhitung Pakasi dan buku

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Inggris sudah diajarkan di pertengahan masa SD, dan seterusnya. Namun seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa inti keistimewaan sekolah kita adalah gagasannya yang progresif. Di sini, kita sungguh patut menghargai tokoh yang berjasa melahirkan gagasan tersebut, yaitu pakar dan praktisi pendidikan Supartinah Pakasi.

93


Buku Iin dan Aan menjadi teman pertama kita untuk mengenal luasnya ilmu.

33 tahun kemudian ... .

94

belajar membaca yang kita kenal sebagai metode ‘Iin-Aan’. Efektifkah sistem ini? Setahu saya belum ada penelitian yang membuktikannya, tetapi setidaknya kita para alumni sudah merasakan bagaimana dalam waktu relatif singkat kita sudah bisa membaca dengan lancar berkat buku Iin-Aan. Saya masih ingat beberapa teman sebaya di kampung saya yang tidak bersekolah di PPSP waktu itu masih berjuang keras untuk bisa membaca melalui buku wajib ‘ini budi, ini bapak budi’, sementara dengan buku Iin-Aan barangkali sisa waktu kita sudah bisa dipakai untuk menambah jam bermain. Hal yang juga membuat sekolah kita progresif adalah desain proses belajar mengajarnya yang memungkinkan siswa melihat belajar sebagai kebutuhan dan bukan paksaan. Sistem modul mendorong siswa untuk aktif dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, tanpa perlu dipaksa-paksa oleh guru. Guru diperankan sebagai fasilitator yang membimbing dan memudahkan proses

belajar siswa. Sistem modul juga memungkinkan siswa belajar dengan nyaman sesuai kemampuannya menyerap bahan pelajaran. Bagi siswa yang memerlukan waktu lebih lama untuk memahami materi pelajaran, proses belajar tidak lagi menyiksa karena ia diberi keleluasaan waktu, sedangkan bagi mereka yang lebih cepat mencerna, belajar tidak lagi membosankan karena baginya selalu tersedia materi baru yang lebih menantang. Selain itu, tidak banyak sekolah waktu itu (atau bahkan sampai sekarang) yang memberikan waktu kepada siswa untuk belajar mandiri, baik melalui jam ‘studi bebas’ atau jam khusus di perpustakaan. Jelas salah satu maksud di balik pemberian ‘kebebasan’ ini adalah untuk memberi kepercayaan dan sekaligus tanggung jawab kepada siswa untuk memperdalam atau mengembangkan minatnya terhadap sesuatu. Dengan cara ini, sejak dini dapat ditanamkan pemahaman bahwa belajar tidak selalu bersifat


Buku rapor SD PPSP IKIP Malang, tidak sebatas daftar daftar nilai namun juga melaporkan perkembangan tingkah laku.

formal, belajar bisa dilakukan di mana saja, belajar merupakan kebutuhan dan menjadi aktivitas yang menyenangkan, yang dalam jangka panjang bisa menjadi benih bagi tumbuhnya long-life learning. Last but not least, untuk ukuran sekolah negeri, sekolah kita juga termasuk progresif dalam memberikan fasilitas untuk menunjang proses belajar mengajar. Mungkin ini terkait juga dengan statusnya sebagai sekolah laboratorium,

Dengan segala fasilitas ekstra seperti itu, sekolah kita tidak lantas identik dengan sekolah mahal, sekolah elit. Sebaliknya, sekolah kita diisi oleh siswa dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi dan profesi orangtua yang juga beragam, meskipun tidak dapat dihindari bahwa banyak orangtua siswa berasal dari keluarga besar IKIP Malang. Mudah sekali untuk melihat latar belakang yang berbeda itu, misalnya saat kita bermain ke rumah teman, atau diundang ke acara ulang tahun di rumah salah satu siswa. Atau bisa terlihat dari sarana yang digunakan untuk berangkat-pulang dari sekolah: ada yang berjalan kaki, naik sepeda atau diantar dengan sepeda, sepeda motor, semi-sepeda motor (zundap?), bemo, mikrolet, bus jemputan, sampai mobil pribadi dari yang berkategori biasa sampai mobil mewah. Sekolah kita juga sempat diisi oleh beberapa siswa asing (masih ingat Silke, Ralph, Kay?), yang barangkali mengindikasikan bahwa dari perspektif ‘orang asing’, PPSP bukan dilihat sebagai sekolah elit tetapi lebih sebagai tempat pendidikan yang progresif untuk ukuran sebuah negara berkembang seperti Indonesia. Saya berandai-andai kalau Barack Obama kecil waktu itu tidak tinggal di Jakarta (tahun

kenangan SD PPSP angkatan 1977

alias sekolah ‘percobaan’. Beberapa fasilitas yang jarang ditemukan di sekolah lain pada masa itu misalnya ruangan auditorium dengan kaca di sebagian sisi dindingnya, alat musik yang beragam (piano, angklung, kolintang dan gamelan), peralatan olahraga yang sebagian diantaranya jarang bisa ditemui di sekolah lain (softball, basket, volley, atletik: lempar lembing, lempar cakram, lompat tinggi, tolak peluru), ruangan khusus untuk pelajaran ketrampilan seperti memasak dan elektronika, dan sebagainya.

95


Dian dan Afif merayakan ulang tahun bersamasama di kelas I.

33 tahun kemudian ... .

96 1967-1971, dia berumur 6-10 tahun) tetapi di Malang, bukan tidak mungkin orangtuanya akan menyekolahkan ‘si Barry’ di SD PPSP, apalagi mengingat sifat Ann Dunham, ibunya, yang progresif. Dalam situasi kita saat ini, yang sebagian besar mungkin sudah berkeluarga dan mempunyai anak usia TK-SD, bisa kita bayangkan bagaimana dulu orangtua kita menimbang-nimbang sebelum membuat keputusan untuk menyekolahkan kita di SD PPSP. Tentu ada risiko yang diambil waktu itu dengan menyekolahkan anak di sebuah ‘sekolah percobaan’, ‘sekolah laboratorium’, yang meskipun sudah mulai dikenal namun belum diketahui apalagi dijamin efektivitas dan keberhasilannya. Belum lagi stigma dari sebagian orang yang mengatakan sekolah di SD PPSP ibarat

‘menjadi kelinci percobaan’. Namun kita sebagai alumnilah yang merasakan firsthand experience, betapa ‘menyenangkan’ menjadi kelinci-kelinci percobaan atas ide progresif yang luar biasa dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Saya kira orangtua kita juga tidak ada yang menyesali keputusannya.

Akhir kata, setiap alumnus tentu memiliki kebanggaan tersendiri terhadap almamaternya. Ada yang bangga karena prestasi sekolahnya, bangga karena reputasi tenaga pengajarnya, atau mungkin bangga karena ada alumninya yang menjadi orang penting atau tokoh terkenal, dan seterusnya. Semuanya sah-sah saja. Namun alumnus mana yang dapat berbangga bukan karena hal-hal yang ‘gemerlap’, melainkan justru karena hal-hal yang lebih mendasar, menawarkan perubahan, mencerahkan dan orisinil? Alumnus mana yang bisa berbangga karena almamaternya menjadi pionir dalam bidang pendidikan, yang sering dikunjungi tamu dari berbagai penjuru tanah air dan tamu asing karena kepeloporannya, gagasannya yang progresif mendahului zaman? Kita semua tahu jawabannya.


R

euni SD PPSP IKIP Malang angkatan 1977 pada 17 Agustus 1992 di Malang.


Adi Purwadi

Adi Purwanto

Anitawati

Annisa Hanifwati

Catur Cahyono

Afif Ogan Hermanto

Arief Indarto

Agung Wahyuono

Agustina Dewi

Arief Rahman Hakim

Choiri Adnan

Dewi Kartika Ardiyani

Bramantyo Pinardi

David Hendris

Dewi Maya Sari

Diah Ayu Kusumadewi

Ahmad Benyamin Hasyim

Budiono

Cahyono Afandi

Denty Mega Bhirawati

Dwi Aprianto


kenangan SD PPSP angkatan 1977

99

M

aneka kudapan (jajan) masa lalu

engenang masa kecil, tak lengkap jika belum mengulas tentang kudapan (jajan) zaman dulu. Siapa pun ingat, masa kanak-kanak tentu diwarnai mengudap, alias njajan kata arek Malang. Nah, apakah teman-teman masih ingat kudapan kesayangan masing-masing?


Ting-ting Jahe

P

33 tahun kemudian ... .

100

Kue Koya

ermen kenyal dan ditaburi gula halus di permukaannya, menggiurkan untuk dikunyah. Begitu menempel di lidah, tak ayal mulut kita bergerak mengulumnya.

M

Kekuatan rasa permen ini ada pada pedasnya jahe. Memang demikian ciri khasnya. Inilah permen yang dinamakan ting-ting jahe.

Kue koya, pasti tidak asing lagi. Ya, ini memang kudapan kuno yang sering dimakan sejak zaman SD dulu. Bentuknya bulat, terbuat dari campuran tepung yang dicetak dan diberi isi kacang hijau. Kue ini mudah sekali hancur dan cepat lumer di mulut.

Teman-teman pasti ingat, permen ini dijual dalam bungkusan plastik dengan isi 8 atau 10 buah. Sebagai kudapan, ting-ting jahe ini termasuk permen yang "mewah.� Harganya cukup mahal dibandingkan permen lainnya. Salah satu merk ting-ting jahe yang bertahan cukup lama adalah Sin-A buatan Pasuruan. Permen Sin-A sudah dibuat sejak tahun 1935. Pembuat pertamanya bernama Njoo Tjhay Kwee. Kini pabrik permen itu dikuasai generasi ketiga dari Njoo. Nikmat hangat dari permen ting-ting jahe semakin dunia. Tidak saja dinikmati oleh kita tapi juga di berbagai Negara: Belanda, Hongkong, Australia dan Timur Tengah.

eskipun terbilang kuno, kue ini pasti bikin kangen. Teksturnya renyah dengan rasa manis gurih ini nikmat dikenang. Apalagi ditemani secangkir teh hangat, lidah kita pun diajak bernostalgia bersamanya!

Koya dijual dalam bentuk kemasan silinder yang dibalut dengan kertas putih, dengan isi enam buah. Salah satu pabrik pembuat koya yang masih bertahan adalah Nam Hien. Delima Tawon merupakan merk kue koya yang diproduksi perusahaan tersebut. Perusahaan ini dimiliki oleh 2 bersaudara yaitu Djunaedi dan Senosudarmadji, terletak di Jalan Tenaga, Kota Malang. Selain merk Delima Tawon, ada kue koya merk Malang Indah yang diproduksi Cipta Rasa, Malang. Salah satu spesialisasi Cipta Rasa adalah membuat kue koya dari kacang. Rasanya lebih gurih dan tidak terlalu manis.


U

ang saku anak sekolah pada zaman dulu memang serba cekak. Alhasil, ketika hendak memilih suatu kudapan, harga menjadi faktor yang berpengaruh. Ternyata, zaman dulu ada jajan "mewah� namun dengan harga yang relatif ringan di kantong. Namanya: cokelat minimalis. Cokelat ini disebut minimalis, karena ukurannya relatif kecil. Ada yang berukuran kira-kira 1 cm x 2 cm dengan tebal sekitar 3-4 mm. Ada juga berukuran 2 cm x 10 cm namun tetap setipis 3-4 mm. Justru karena kecil dan tipis, harganya murah. Sekitar tigapuluh tahun lalu, cokelat minimalis yang beredar di pasaran adalah merk Jago dan Kupu-kupu. Cokelat dengan kelas lebih mahal adalah merk van Houten atau Silverqueen. Dari segi harga, Kupu-kupu dan Jago menjadi favorit anak-anak SD, barangkali termasuk kita. Saat ini, cokelat mini merk Kupu-kupu sudah tidak ada lagi di pasaran. Merk yang masih bertahan adalah Jago. Ukurannya pun masih mini. Pada bungkus cokelat

itu ada gambar ayam jago yang hendak berkokok. Cokelat Jago sendiri merupakan produk dari PT Ceres di Bandung. Perusahaan cokelat yang berdiri sejak zaman Hindia Belanda ini juga memproduksi cokelat merk Silverqueen. Bagaimana pun, kenikmatan sejati dari cokelat minimalis ini adalah pada kenangan yang ditimbulkan. Semacam sensasi dari masa lalu, ketika masih duduk di bangku SD dan semua kudapan terasa enak di lidah.

Asem-asem Permen ini berbentuk bundar, pipih dan tebalnya sekitar 2 mm. Rasanya asam bercampur manis, sehingga sering disebut asem-asem. Saat ini permen ini jarang ditemui. Bisa jadi karena merupakan produk yang diimpor dari Republik Rakyat Cina. Nama aslinya Haw Flakes. Rasa asam dari permen ini sebenarnya muncul karena adanya haw, yakni ekstrak buah dari tanaman Crataegus pinnatifida. Di berbagai penjuru Cina, permen dari pohon yang dinamakan shÄ nzhÄ ini, diminum sebagai pemanis setelah menelan obat.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Cokelat Minimalis

101


Pang Pang

I

ni jenis kudapan yang tidak lagi diketahui nama aslinya. Walau demikian, kita semua tahu bentuk dan (mungkin) ingat rasanya. Bentuknya mirip kue kering kecil, berukuran 1 x 0,5 cm, berwarna cokelat muda sampai oranye. Rasanya manis, gurih-legit, kadang-kadang diimbuh sedikit rasa pedas.

33 tahun kemudian ... .

102

Bahannya dari tepung tapioka dicampur tepung beras, yang dibuat adonan dengan ditambah minyak masak dan bahan perasa. Adonan ini dicetak kecil-kecil, dipanaskan dalam oven sebelum dilapis dengan cairan gula-berbumbu hingga warnanya berkilat. Kudapan ini dulu dijual dalam plastik kecil. Harganya sekitar Rp 10 per-plastik pada tahun 19781980. Sekarang masih dijual di toko makanan tertentu, harganya sekitar Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per ons.

Nougat Kacang

A

da yang ingat permen berwarna putih dengan bungkus oranye terang bergambar seorang pria menunggang kuda? Permennya terasa keras dengan tekstur yang terbuat dari taburan kacang yang dihaluskan. Ketika dikunyah, akan terasa taburan kacang yang dihaluskan tersebut. Ya, itulah nougat kacang. Permen yang terbuat dari gula, cokelat, susu, mentega dan kacang ini memang terkenal. Lidah anak-anak SD zaman dulu pasti mengenalnya. Di antara berbagai merk yang dikenal pada zaman dulu, salah satu merk yang bertahan hingga kini diproduksi oleh PT London. Pabrik permen ini berada di Surabaya.


D

ua kudapan ringan ini adalah favorit, khususnya untuk anak SD yang kini sudah berusia sepantaran kita. Brondong dibuat dari biji jagung yang dipanaskan sehingga memekar, sedangkan bipang terbuat dari biji beras yang diberi perlakuan sama. Setelah dipanaskan, brondong maupun bipang dibubuhi pemanis. Keduanya dapat dipermanis dengan menambah gula pasir – yang dibentuk sebagai karamel – maupun gula kelapa biasa yang dicairkan. Lalu dicetak berbentuk persegi, agar mudah membawa dan menyimpannya. Brondong yang berbentuk persegi ini umumnya berwarna cokelat tua, sedangkan bipang umumnya berwarna terang bahkan warna-warni. Saat ini brondong yang diberi gula pemanis dan dicetak, sudah jarang ditemui. Hanya beberapa pasar tradisional yang masih menjualnya. Sebaliknya, bipang masih sering dijual,

beberapa toko penjual kudapan atau super market juga memajangnya. Salah satu produsen bipang yang terkenal adalah Tjap Djangkar, yang terpusat di Pasuruan. Perusahaan ini sudah berdiri sejak tahun 1950-an dan memang mengkhususkan diri dalam memproduksi makanan ringan ini. Jika pada zaman dulu bipang cukup dibungkus plastik dan kertas minyak, kini kemasannya sudah lebih bagus. Untuk segmen menengah ke atas, Tjap Djangkar membungkus produknya dalam sachet yang berlapis alumunium foil. Sebaliknya untuk brondong yang berbentuk kotak, sebagian besar masih dibungkus plastik bening biasa. Produk ini dihasilkan pengrajin makanan tradisional. Selain di Mojokerto dan Jombang, perajin makanan ringan ini juga ditemui di Blitar dan Tulungagung – umumnya berbentuk industri rumah tangga.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Brondong dan Bipang

103


Es Krim Putar

S

emua anak pasti suka es krim. Nah, es krim yang satu ini memang istimewa, karena kerap pula disebut es tung-tung. Istilah yang terakhir ini sebenarnya mengacu pada sebuah gong kecil yang biasanya dibawa dan dipukul oleh pedagang es krim untuk menarik perhatian pembeli. Tung ... tung ... tung. Es krim putar terbuat dari es batu yang dihaluskan bersama gula, santan, pewarna, garam, sedikit susu dan zat perasa buah atau cokelat. Bahanbahan itu dicampur dan diaduk sampai rata sebelum dimasukkan dalam sebuah tabung yang terbuat dari alumunium.

33 tahun kemudian ... .

104

Tabung yang telah diisi bahan-bahan tersebut ditempatkan secara vertikal dalam sebuah wadah yang berisi pecahan-pecahan es batu berukuran sekepal tangan. Lantas, tabung itu pun diputar ke kiri dan ke kanan secara berirama. Bahan-bahan yang sudah dimasukkan di tabung akan mengalami pendinginan hingga akhirnya menjadi semacam es krim. Oleh karena proses diputar-putar inilah kudapan tersebut disebut es krim putar. Salah seorang penjual es krim putar bernama Pak Min. Pria yang kini berusia hampir 60 tahun ini pernah berjualan berbagai makanan – bakso dan kue – sebelum mulai menjual es krim putar. Sejak tahun 1978 dia sudah berjualan di Jalan Magelang, dekat SD yang dulu adalah PPSP IKIP Malang. Es krim putar umumnya disajikan di dalam sebuah wafer tipis berbentuk kerucut, yang disebut anak SD zaman dulu sebagai contong atau cum-cum. Selain es itu sendiri, kerenyahan wafer itu juga wajib dinikmati dengan mata yang (kadang) nyaris terpejam. (Raymond )

Pak Min, penjual setia es krim puter yang sejak 1978 telah berdagang di dekat bekas SD kita.


kenangan SD PPSP angkatan 1977

P

majalah siswa

ada zamannya, pendidikan yang utuh turut diciptakan antara lain melalui majalah ini. Meski sekadar majalah sekolah, kehadirannya cukup bermakna. Setidaknya bagi para pembacanya, yang kini rata-rata sudah berusia setengah baya.

Raymond Valiant R.

Siapa di antara kita tidak mengenal Derap? Bagi mantan siswa-siswi Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di Kota Malang, rasanya kebangetan jika tidak ingat nama majalah sekolah ini.

derap:

sd ppsp ikip malang

105


Untuk menyegarkan ingatan, dapat dijelaskan sepintas bahwa Derap adalah nama sebuah majalah sekolah yang diterbitkan sekolah dasar (SD) 8 tahun PPSP Malang. Majalah itu terbit pertama kali tahun 10 Pebruari 1973 dan berakhir 1987, saat PPSP yang merupakan sebuah proyek penelitian di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dibubarkan.

33 tahun kemudian ... .

106

Boleh jadi, majalah ini adalah pemula dari media sekolah yang terbit pada masa itu. Jauh sebelum sekolah lain memiliki media cetak (yang terbit secara teratur) Derap sudah rutin terbit mengunjungi pembacanya. Jika direnungkan untuk situasi saat Mobil Polisi ini, kehadiran majalah itu cukup M. Yahya (I-A) sensasional sebab Saya pernah melihat mobil polisi sebagian besar berkeliling. proses pembuatan Derap melibatkan Di dalamnya tampak dua orang siswa-siswi SD polisi. dan SMP PPSP Satu orang dari kedua orang itu Malang. sedang menyetir. Dan satu orang Baik pembaca, sedang membawa koran. penulis maupun Mobil itu menuju ke kantor polisi. dewan redaksi Beberapa polisi sedang berjaga. Derap adalah para siswa-siswi PPSP Mobil itu masuk ke garasi. Malang. Jadi bisa Derap, Edisi 7 Tahun V, Juli 1977 dikatakan: Derap adalah dari dan

untuk para siswa-siswi sekolah dasar dan menengah PPSP Malang. Hampir seluruh proses jurnalistik di balik penerbitan Derap ditangani oleh redaksi yang terdiri dari para pelajar. Redaksi dipimpin seorang kepala dibantu seorang wakil,


Agung Wahyuono:

ia akrab dipanggil Agung. Sebagian dari kita pasti mengingat dia sebagai seorang penggemar olah raga. Badannya memang kuat lantaran senang bermain sepakbola dan basket.

membaca tulisan yang dulu dibuat dan dimuat di majalah siswa tersebut. Tulisan yang khas anak-anak, dibubuhi ilustrasi yang meriah dan diperbanyak dengan cara di-stensil.

Meskipun sejak kelas 3 SD sudah mengenakan kacamata, bukan halangan bagi anak kelahiran Jalan Jombang, Malang, ini untuk aktif berolahraga.

Selain menyimpan Derap dari masa SD, Agung juga menyimpan sejumlah besar modul. Bahan pelajaran yang digunakan semasa PPSP IKIP Malang, disimpannya pula dengan rapih.

Di luar kegemarannya berolahraga, Agung memiliki kegemaran yang tidak banyak dari kita mengetahui. Ya, dia adalah kolektor Majalah Siswa Derap. Banyak di antara kita – barangkali – sudah tak memiliki majalah SD PPSP IKIP Malang ini. “Saya sudah mengumpulkan Derap ini sejak masih duduk di SD sampai lulus,” urainya ketika ditemui beberapa waktu silam di rumahnya. Koleksinya memang membangkitkan kenangan. Koleksi itu dijilid rapih. Mungkin, kita akan terbahak ketika ada sekretaris, dan anggota redaksi serta ilustrator. Sebagai pembina, umumnya ditempatkan para guru bahasa, seperti Drs. Sidik Watjana dan Drs. Imam Rofii. Redaksi menerima naskah, memeriksa dan memilih yang layak diterbitkan. Naskah itu merupakan karya tulis siswa-siswi PPSP Malang mulai dari kelas 1 sampai kelas

Agung yang menjadi guru agama setelah lulusan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang, ternyata menyimpan semua memorabilia ini untuk ditunjukkan ke anak-cucu. “Hehe, buat kenang-kenangan bahwa dulu saya pernah sekolah di PPSP,” tukasnya sambil tertawa. Salut dengan ketekunanmu, Agung! (Raymond)

8. Naskah dimasukkan dalam kotak surat redaksi yang terpasang di dekat ruang pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ada yang ingat di sebelah letak kotak surat redaksi tadi? Nah selanjutnya setelah memperoleh cukup karya tulis, redaksi mengadakan rapat untuk menentukan rubrik

kenangan SD PPSP angkatan 1977

D

kolektor derap

107


Reportase: Jangan Dilewatkan.

(kelompok tulisan) dan menetapkan karya tulis mana yang dapat diterbitkan. Pada rapat tersebut redaksi umumnya didampingi oleh guru pembina Derap.

33 tahun kemudian ... .

108

P

PPSP vs MTsN I

ada sore hari, tanggal 19 September 1984, bertempat di lapangan basket IKIP Malang, telah berlangsung pertandingan basket, antara team putra/putri SD PPSP IKIP Malang melawan anak-anak MTsN I Malang. Meskipun mendung sedikit membayang, namun pertandingan toh berlangsung menarik. Massa dari penduduk PPSP datang membanjiri lapangan basket IKIP, sekedar menyaksikan “pahlawanpahlawan sehari” mereka bertanding.

keunggulan PPSP maka permainan mulai menjadi “kasar” (wah, gimana ya?). Putriputri MTsN I berusaha menambah angka dengan tembakan jarak jauh. Sedangkan team putri PPSP memanfaatkan terobosan balik untuk menambah angka.

Setelah diperoleh rubrik, susunan isi Akhir pertandingan: PPSP Malang (putri) dan menetapkan menang 14 lawan 6 atas regu putri MTsN I naskah yang dimuat Malang. telah ditetapkan, seluruh karya tulis Setelah istirahat 5 menit, pertandingan yang telah akan (dwilomba) PPSP vs MTsN I dilanjutkan. Mula-mula (pada pukul 16.10 sore) team diterbitkan dikirim Kali ini team putra yang bertanding. putri PPSP bertanding melawan team ke percetakan di Bila team putri PPSP mengandalkan putri MTsN I. Pertandingan basket putri Jalan Magelang Maya Rumantir … eh … anu, salah … ini berlangsung agak lambat, tapi cukup untuk diketik ke maksudnya Dewi Mayasari, maka team putra tegang. Mula-mula permainan kedua team lembar stensil. mengandalkan Fatah Setiawan dan Juni ini masih amat hati-hati. Tapi setelah babak Derap dicetak oleh Suharyono. Pertandingan team putra PPSP pertama berakhir dengan 4 melawan 2 untuk sebuah penerbit lawan putra MTsN I sudah lama dinantikan. yang menumpang di garasi dari rumah dinas seorang dosen gambar (yang kadang-kadang lebih heboh dari tulisan yang Institut Keguruan diilustrasikan) maka lembar-lembar stensil tadi dikirim dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, Samsul Kislam. kembali ke percetakan untuk dicetak. Naskah yang sudah diketik dan diformat pada lembar Derap terbit dalam format setengah halaman folio, berwarna stensil lantas dikembalikan ke redaksi untuk dikoreksi dan hitam-putih karena digandakan dengan stensil. Tebal diberi gambar oleh ilustrator. Setelah selesai dibubuhi


Babak pertama dimulai. Melalui tangan Fakhur (kapten), team MTsN I membuka serangan. Permainan MTsN menemui backing yang alot dari Dwi Azis dan Agung Wahyuono, yang membela PPSP. Dibarengi selingan serangan balik yang menegangkan dari PPSP, angka bergerak lambat. Kecepatan pertahanan balik dari MTsN, menemui kelincahan PPSP. Tetapi toh (akhirnya) PPSP mulai unggul. Akhirnya pada babak pertama ditutup dengan baik oleh PPSP. Angka 14 lawan 6 untuk keunggulan PPSP. Babak kedua, kelihatannya lebih keras. Kegagalan memanfaatkan peluang emas, membuat pencarian skor semakin alot. Sementara MTsN I melalui tangan Saini memasukkan banyak bola, namun pertahanan yang kuat dari Dwi Azis dan Agung Wahyuono masih dapat menahan untuk sementara. Serangan balik yang cepat dari Fatah Setiawan dan Juni Suharyono dapat pula membuahkan angka bagi PPSP, sementara permainan menjadi semakin keras. Fauling alias pelanggaran semakin majalah itu 36 sampai 40 halaman termasuk sampul. Agar tampil lebih menarik sampul majalah ini dicetak pada kertas berwarna, sedangkan halaman dalam pada kertas buram. Walau serba sederhana, majalah ini termasuk dinanti-nanti oleh pembacanya. Tiras dari majalah sekolah ini cukup

banyak terjadi. Tapi di saat krisis waktu (karena nilai makin berimpit) kapten PPSP, Eko Widodo kelihatan mengambil alih serangan. Meskipun kalah badan dengan MTsN I namun semangatnya cukup besar (ck-ck-ck). Akhirnya menjelang babak kedua berakhir, terjadi “panenâ€? angka, yang semakin cepat menghujan. Permainan penghabisan ini akhirnya dituntaskan Juni Suharyono yang merubah skor menjadi 30 lawan 18 untuk keunggulan PPSP. Akhir permainan berlangsung adalah team putra PPSP menang (30-18) dan team putri PPSP juga menang (146). Terjadi pula insiden kecil di akhir pertandingan, yaitu hilangnya sebuah bola milik sekolah (PPSP). Pendek kata, pertandingan basket ini cukup menarik dan memuaskan untuk ditonton karena baru sekali ini team PPSP putra dan putri menang (tumben?) Namun (maaf ‌) konsumsi pertandingan ini koq kurang ya? (Hehehe) Para pencatat nilai bahkan saya sendiri, masih saja kehausan sehabis pertandingan. Derap, Edisi 8 Tahun XIII, September 1984

besar. Jangan heran, tirasnya sekitar 300 eksemplar. Setiap pelajar, mulai kelas 1 sampai kelas 8, memperoleh Derap secara cuma-cuma. Biaya cetak dari Derap merupakan salah satu mata anggaran dalam penyelenggaraan PPSP Malang. Lebih dari sekadar media, Derap boleh dikatakan sebagai

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Maka tak heran penduduk PPSP semakin menggerombol. Permainan team putra PPSP kelihatannya mengandalkan backing yang kuat.

109


33 tahun kemudian ... .

110

Derap, Majalah Siswa SD PPSP IKIP Malang dicetak dengan cara stensil. Melalui majalah ini siswa-siswi belajar mencintai keberaksaraan.


Teja Guntara K. (II-B)

Wahyu Trimurti (I-B)

Pada hari Jum’at, ibu saya membeli mobil sedan. Harga mobil itu satu juta Rupiah. Warna mobil itu hitam dan putih. Yang menyetir mobil itu Pak Hartono. Pada hari liburan itu saya pergi ke Kebun Binatang sambil naik mobil. Setelah sampai di Kebun Binatang, bapak saya membeli karcis. Sesudah bapak membeli karcis; ibu, bapak, saya dan kakak saya serta adik saya masuk di Kebun Binatang.

Waktu test sumatip aku mendapat hadiah karena nilaiku paling bagus di antara kakak-kakakku.

Di Kebun Binatang saya senang melihat gajah, burung, ular dan lain-lainnya. Setelah puas, bapak, ibu, saya dan kakak saya serta adik saya, pulang. Sebelum pulang saya mampir ke rumah Pakde Tris. Sebelum itu saya makan di restoran. Setelah semua kenyang, ibu saya membayari harga makanan dan minuman. Setelah ibu saya membayari, langsung semua naik mobil dan langsung ke rumah Pakde Tris. Derap, Edisi 4 Tahun VI, April 1978

bagian dari proses pendidikan di PPSP. Meskipun tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan, saya berani mengatakan Derap merupakan media pembelajaran dalam arti luas. Majalah ini adalah salah satu dari sekian kelebihan dalam metode pendidikan yang dikembangkan di lingkup SD dan SMP PPSP Malang. Melalui majalah sekolah ini, siswa-siswi SD dan SMP PPSP Malang mendapat kesempatan menuangkan pemikiran mereka secara tertulis, lalu memproses ide tersebut agar

Hadiah itu adalah baju yang sangat bagus. Baju itu berwarna hijau tua. Tetapi baju itu bukan buatan ibu. Waktu karnaval aku memakai baju itu, aku juga membawa tas kecil berwarna hijau tua seperti warna bajuku. Baju itu seperti koki. Dan baju itu juga ada ikat pinggangnya. Derap, Edisi 7 Tahun V, Juli 1977

dapat dibaca secara lebih luas. Proses jurnalistik ini secara langsung memberikan ketrampilan bagi siswa-siswi PPSP Malang untuk menuangkan pendapat. Tidak saja itu, ketrampilan menuangkan pendapat ini sebenarnya merupakan suatu langkah menciptakan penalaran dan imajinasi sosial yang sehat. Saya menyebut ini – mengutip istilah budayawan Gunawan Mohammad – sebagai keberaksaraan.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

Baju Baru

Ke Kebun Binatang

111


Ke Selorejo Dewi Mayasari (II-A)

Pada hari Minggu, kita semua pergi ke Selorejo. Di sana kita naik mobil Mersi. Sebelum ke Selorejo kita ke pasar dulu, kita di pasar membeli ikan untuk makan di rumah.

33 tahun kemudian ... .

112

Keberaksaraan berasal dari kata aksara yang dapat dimaknai sebagai melek huruf. Urusan melek ini bukan berarti orang sekadar bisa menulis dan membaca sesuatu, namun mampu lebih dari itu: memahami makna di balik apa yang terbaca. Ini dapat diibaratkan, Derap adalah sebuah sarana untuk melakukan transaksi ide di pasar kata-kata.

Sebelum pulang dari pasar kita ke Selorejo. Dulu di Selorejo kita melihat orang naik perahu bot. Di sana kita naik perahu karena kalau berbalik tidak bisa berenang. Saya juga melihat orang memancing. Kakak saya juga memancing tetapi tidak dapat. Saya lalu membeli es dan permen. Kita kalau sudah membeli es dan permen kita terus ke Pujon. Di Pujon jalannya berbelok-belok. Di sana kita berhenti dulu. Di sana kita turun untuk makan-makan dulu. Kita makan di pinggir sungai. Di Pujon hawanya segar sekali. Kalau sudah selesai makan, saya berenang dengan teman saya. Kita kalau berenang lama sekali. Di sungai itu ombaknya agak keras sedikit, saya dan teman saya hampir hanyut. Untung di dekat saya ada batu yang besar, cepat-cepat saya pegangi. Saya dan teman saya sudah tidak kuat lagi terus saya naik ke atas untuk mengambil handuk. Terus saya ganti baju. Sesudah ganti baju semua terus pulang. Sampai di rumah kita terus tidur.

Melalui keberaksaraan ini, para pendidik kita di PPSP Malang telah memberi kesempatan bagi siswa-siswi sekolah dasar dan menengah untuk berkembang. Tidak saja akalnya, tapi juga budinya. Ini barangkali yang disebut "pendidikan� dalam arti seutuhnya. Sesuatu yang terus menerus dicari dan didamba hingga kini.

Derap, Edisi 4 Tahun VI, April 1978


ni sepatu yang boleh disebut "sepatu resmi" dari siswa-siswi SD PPSP pada zaman dulu. Sepatu ini terbuat dari kain kanvas dengan sol berbahan karet. Bentuknya sederhana, dengan simbol (tanda merk) tercetak emboss pada kain dekat mata kaki. Sepatu ini memiliki tali sebagai pengikat.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

I

sneakers ÂŤwarriorÂť

113


1985 memang Warrior. Walau demikian ada pula merk lain yang beredar, sebab pabrik sepatu Bata pun mengeluarkan sneaker sejenis ini, selain merk lain seperti Butterfly dan The Great Wall. Lantaran berbahan sol karet dan kerapkali kaki berkeringat karena bermain, tak pelak ada kelemahan dari sepatu ini. Bila tidak rajin diangin-anginkan dan tidak kerap mengganti kaos kaki, (mohon maaf ) sepatu dapat memiliki aroma. Untuk anak laki-laki khususnya, persoalan ini cukup melekat.

33 tahun kemudian ... .

114

Umumnya, sepatu tipe sneaker ini berwarna hitam. Walau demikian, ada pula yang memiliki dengan warna merah, bahkan putih. Cuma, untuk warna terakhir ini kurang disukai karena lekas kotor, apalagi anak SD senang bermain sepakbola, lompat karet, pal-benteng dan lain-lain. Soal nama, sebagian menyebutnya sepatu Warrior. Sebab, merk yang terkenal untuk sepatu ini antara tahun1977-

Sekarang ini banyak perusahaan sepatu terkenal mengeluarkan sneaker. Merk terkenal seperti Converse, Nike dan Adidas, adalah contohnya. Harganya pun selangit. Tapi buat anak PPSP, kenangan memakai sepatu Warrior tetap terasa manis – di luar urusan bau kaki tentu saja. (Raymond)


W

isuda siswa-siswi SD PPSP IKIP Malang angkatan 1977 diselenggarakan di Gedung Sasana Krida. Mei 1982


Eki Reza Safitri

Epek

Fahiem Huda Maula

Ika Farikah H

Nina Farmawati

Eko Budi Cahyono

Fatah Setiawan S

Kwardiniya Andawaningtyas

Noer Rahmi Ardiarini

Hartadi

Elisa Mardiana

Henny Wardati

Laily Fitri

Elvita Ridha

Henty Pratinawati

Mia Alfia Rahmi

Nugraha Aristawarman

IGA Anom Astika

Muhammad Yahya

Nur Hariatik

Nur Wulan


Arief Sukadi Sadiman

T

ulisan ini lebih banyak merupakan refleksi saya, melihat kembali ke belakang, ke pengalaman sebagai guru di SD 8 Tahun Laboratorium IKIP Malang lebih dari 35 tahun yang lalu. Oleh karena sekolah tersebut sangat kental diwarnai oleh gagasan, pemikiran, keyakinan dan kreasi Supartinah Pakasi, kepala sekolahnya, dan setelah itu banyak pula bermunculan sekolah yang serupa tapi tak sama, maka untuk pertimbangan praktis dan menghargai keunikannya, untuk selanjutnya sengaja saya sebut saja SD 8 Tahun Laboratorium IKIP Malang tersebut dengan SD Laboratorium Pakasi.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

mengembangkan potensi di sekolah dasar laboratorium pakasi (sebuah refleksi)

117


belajar dan pembelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang sangat kaya dan kondusif, menyediakan berbagai sumber belajar yang relevan, menghargai perbedaan individu, menempatkan siswa sebagai fokus pembelajaran sementara guru sebagai fasilitator dan manajer pembelajaran, merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang PAKEM, serta membuat sekolah menjadi lahan yang subur bagi tumbuh dan berkembangnya para peserta didiknya sesuai dengan potensi masing-masing.

Sejarah

33 tahun kemudian ... .

118

SD Laboratorium Pakasi bukan sekolah khusus untuk anak berbakat, bukan sekolah eksklusif, tetapi terbuka luas bagi semua anak dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi, budaya, suku dan adat istiadat, agama serta tingkat kecerdasan. Tanpa saya sadari, setelah belajar dan banyak makan asam garam pendidikan, ternyata apa yang kami lakukan di sekolah tersebut sangat sesuai dengan teori Para pendekar putri SD PPSP IKIP Malang, berpose depan Air Terjun Coban Rondo. Masih ingatkah kalian dengan wajah masingmasing?

Pada tanggal 1 Januari 1967, atas prakarsa isteri-isteri dosen IKIP Malang didirikanlah Taman Kanak-kanak di Jalan Magelang, Malang, agar anakanak mereka tidak perlu terlalu jauh bersekolahnya. Sejak itulah TK yang dipimpin Supartinah Pakasi itu tumbuh dan berkembang menjadi SD 8 Tahun Laboratorium IKIP Malang, gagasan inovatif yang menggabungkan pendidikan SD 5 tahun dan SMP 3 tahun, jauh sebelum pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Sistem pendidikan tersebut dirancang, dikembangkan dan dilaksanakan untuk mengurangi pemborosan di bidang pendidikan kita (waktu itu dan sekarangpun masih juga). Pemborosan yang beliau maksud adalah tidak berfungsinya secara maksimal guru; tidak optimal dan maksimalnya anak


Dalam usianya yang 7 tahun sekolah yang semula hanya terdiri dari satu ruangan itu bertumbuh menjadi 15 ruangan lengkap dengan sarana dan prasaran belajarnya. Duabelas ruang untuk kelas, satu ruang untuk kantor, satu ruang sebagai dapur, satu ruang serbaguna untuk perpustakaan pusat, kamar dokter, dan juga sebagai tempat belajar seni rupa, keterampilan perkulitan, memasak, dan bermain musik. Selama kurun waktu tersebut sekolah ini telah dikunjungi 13.000 orang dari seluruh pelosok tanah air dan juga tamutamu dari luar negeri, termasuk tokoh-tokoh UNESCO, UNICEF, UNDP, World Bank yang ingin meninjau dan mempelajari bagaimana sekolah ini bisa membantu perkembangkan 462 orang muridnya secara optimal dan maksimal sesuai dengan potensi masing-masing. Sebagian besar dinas pendidikan di Jawa Timur telah mengadopsi sistem dan pendekatan serta best practices dari sekolah laboratorium ini setelah mereka mengamati dengan mata kepala sendiri proses serta produknya dan mengikuti workshop sebagai persiapan proses adopsi

tersebut. Sayang sekali pada tahun 1974 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dalam hal ini Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, yang memiliki proyek Pengembangan Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) meminta IKIP Malang untuk melaksanakan proyek baru tersebut bersama 8 IKIP lainnya di Indonesia. Sistem ini mengandalkan modul cetak untuk melakukan pembelajaran dengan siswa. Siswa belajar sendiri, membaca modul, mengerjakan soal-soalnya dan melihat kunci jawabannya sebelum pada akhirnya menempuh tes akhir semester. Tugas guru membagikan modul, menunggui siswa membaca modul, mengerjakan tugas, mencocokkan jawaban dengan kunci dan mengumpulkan kembali modul yang telah selesai dipelajari. Kreativitas tidak lagi dituntut di situ karena pembelajaran diambil alih oleh modul cetak. Pakasi keberatan kalau PPSP dilaksanakan di SD Laboratorium karena kalau nanti berhasil atau gagal belum tentu karena sistem baru tersebut. Namun keberatan tersebut tidak diterima dan beliau disuruh memilih: laksanakan atau minggir. Dengan berat hati akhirnya Pakasi mengundurkan diri dan sejak saat itulah SD Laboratorium Pakasi mati secara pelahan.

Landasan Apa sajakah keyakinan yang melandasi sekolah ini? Apabila kita ingin menghasilkan warga negara yang efektif, bertanggung jawab dan demokratis maka sekolah hendaknya merupakan tempat bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan sifat, minat, kemampuan dan laju perkembangannya. Kesempatan bertumbuh kepribadiannya

kenangan SD PPSP angkatan 1977

memperoleh pendidikan; tidak berfungsinya dengan baik aparat supervisi dan pembinaan; tidak efektif dan efisiennya organisasi dan administrasi sekolah; kurang dimanfaatkan waktu, tenaga, uang dan potensi manusia; dan yang paling disesalkan serta tidak dapat ditolerir adalah pemborosan kemampuan belajar anak-anak kita, karena – kata beliau – kepada merekalah akan kita bebankan tugas yang maha berat, yakni tugas membawa bangsa dan negara ke kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

119


dan menerima tanggungjawab untuk peningkatan kehidupan kelompok. Kalau kita ingin mereka belajar dan menghargai kebudayaannya maka sekolah harus mengajar mereka menghargai budaya dengan segala keindahannya, memberikan cukup waktu, kesempatan dan dorongan untruk mengekspresikan diri mereka secara kreatif. Supaya mereka tidak tersasing dari masyarakat sekitarnya sekolah harus memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar. Sementara untuk mengasah kepekaan sosial mereka maka hubungan kemanusiaan di kelas dan sekolah harus dikembangkan, siswa diajari hidup, belajar dan bekerja dengan orang lain.

Nilai dan Konsep Dasar 33 tahun kemudian ... .

120 Pementasan operet calon arang oleh kelas 8A pada Pentas Seni SD PPSP IKIP Malang tahun 1984. Deretan penari di depan: Fajar, Henti dan Lisa.

secara sehat melalui hubungan konstruktif dengan anak lain dan kelompok. Tempat yang memberikan perasaan diterima dan ikut memiliki; yang mengajarkan apa kebebasan itu dan bagaimana menggunakan kebebasan yang diberikan secara bertanggungjawab; yang mengajarkan berpikir secara ilmiah dan kritis, membuat pilihan dan keputusan yang bijak. Kalau kita ingin menghasilkan orang-orang yang memiliki tanggungjawab atas kesejahteraan bangsa dan negaranya, sekolah harus mengajarnya bekerja bersama dengan anak lain, berbagi

SD Laboratorium Pakasi dirancang dan dikembangkan berdasarkan konsep dasar antara lain bahwa: 1. Anak adalah ciptaan Tuhan, individu yang unik, dengan sifat dan tabiatnya sendiri yang berbeda dari anak yang lain. 2. Pertumbuhan seorang anak merupakan gerak maju yang berkelanjutan. 3. Pendidikan adalah suatu proses sosial, mengingat anak lahir dalam keadaan tak berdaya, lahir dengan berbagai kebutuhan, dan organismenya sangat lentur dan sangat mudah dipengaruhi faktor-faktor lingkungan. 4. Pentingnya pertumbuhan bahasa bagi perkembangan anak selanjutnya secara menyeluruh. 5. Anak perlu dididik untuk mencapai perkembangannya yang optimal.


Program Berikut ini adalah beberapa program atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah tersebut yang saya rasakan mampu memberikan ajang seluas-luasnya bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang: 1. Kebebasan yang berdisiplin (disciplined freedom). Disiplin penting karena tanpa disiplin tugas tidak akan selesai, usaha tidak akan berhasil, keselamatan tidak bisa dijamin. Satu-satunya cara membuat anak

menghargai disiplin adalah dengan menciptakan situasi belajar dan bekerja di mana anak dapat mengalami dan bertindak seperti yang kita harapkan. Peta disiplin (discipline chart), yang berisi daftar do’s dan dont’s yang dibuat guru bersama siswa ditempel di dinding. Siswa yang melanggar aturan diminta mengakui kesalahannya dengan mengisi grafik disiplin dan segera memperbaiki diri. 2. Belajar mandiri (independent study). Kegiatan ini diberikan seminggu sekali untuk memupuk kemampuan percaya diri, membantu diri, kontrol diri, pengarahan dan disiplin diri. Anak belajar bekerja secara mandiri memanfaatkan waktu luang secara bertanggungjawab sesuai dengan minatnya. Ini penting membuatnya menjadi manusia yang produktif di masa depan. 3. Perpustakaan. Untuk memupuk kecintaan akan buku dan membaca sejak awal anak sudah diperkenalkan dengan buku dan membaca sesuai dengan perkembangannya. Selain di pusat, setiap kelas memiliki perpustakaan kelasnya dengan koleksi bacaan yang sesuai. Perpustakaan menjadi sumber kesenangan dan bagian esensial dari pembelajaran karena di situ tersedia bukan saja buku “serius� tetapi juga komik, majalah dan kliping koran. Anak boleh meminjam buku dan membacanya apabila mereka sudah menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Perpustakaan pusat diletakkan di satu ruang khusus yang terbuka sepanjang jam sekolah. Jam membaca perpustakaan disediakan khusus satu jam perminggu dan itu secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. Mulai kelas dua anak diperkenalkan dengan formulir perpustakaan. Mereka diajari mencatat judul

kenangan SD PPSP angkatan 1977

6. Anak perlu dididik untuk menjadi warganegara yang baik, menjadi orang yang Pancasilais. 7. Nilai-nilai yang berlaku luas di masyarakat, di luar lingkungan hidup anak perlu diintegrasikan dalam jiwa anak. 8. Perlunya prestasi belajar yang setinggi mungkin. 9. Pentingnya kebebasan yang bertanggung jawab dan berdisiplin. 10. Perlunya proses dalam kegiatan kelompok dalam belajar. 11. Anak perlu mengerti bahwa manusia ikut bertanggungjawab terhadap kepentingan bersama. 12. Pentingnya hubungan antar manusia. 13. Anak membutuhkan untuk mengasihi dan dikasihi orang lain, mengakui dan diakui orang lain, mentolerir dan ditolerir orang lain, menerima dan diterima orang lain, merasa aman jasmani dan rohani serta untuk merealisasi diri. 14. Orang tua adalah mitra dalam menjalankan pendidikan di sekolah dan harus dilibatkan dalam mengambil keputusan-keputusan penting.

121


33 tahun kemudian ... .

122

buku yang dibaca, pengarang, dan pelaku-pelaku yang penting dalam buku tersebut. Di kelas tiga anak mulai diminta memberikan penilaian/komentarnya terhadap bacaan yang baru diselesaikannya: bagus, biasa atau jelek dan mengapa begitu. Mereka juga membuat sinopsisnya. Kerjasama yang erat dijalin antara guru dan pustakawan. Setiap akhir tahun ajaran, saat pembagian rapor selalu diumumkan pembaca perpustakaan yang baik untuk setiap kelas dan mereka yang menang mendapatkan penghargaan. 4. Lingkungan belajar yang kaya. Lingkungan belajar di kelas tidak steril tetapi kaya akan sumber belajar, termasuk hasil karya anak-anak. Perpustakaan kelas menawarkan buku dan bacaan yang relevan, pojok science memajang objekobjek IPA, dan masih banyak lagi. Banyak pilihan kegiatan yang disediakan di kelas/ sekolah yang akan mengurangi kebosanan atau Puput Novel, yang keinginan anak pada tahun 1983 untuk berbuat masih menjadi nakal. Anak bebas artis cilik, berfoto memilih kegiatan bersama grup tari SD PPSP IKIP sesuai dengan Malang angkatan kebutuhan pribadi, 1977. dari kiri ke minat, kedewasaan kanan: Lisa, Henti, dan tingkat Elly, Eca, Poppy, perkembangannya. dan Nina. Dengan demikian

perbedaan individu dapat dilayani, sementara kesiapan dan kecepatan belajar sangat diperhatikan. Begitu menjatuhkan pilihan anak harus memusatkan perhatiannya ke situ dan menyelesakannya sampai tuntas. Praktek ini juga mengajari anak akan nilai kebebasan dan di setiap kebebasan selalu ada tanggungjawab. Dalam kelas seperti ini belajar adalah melakukan dan mengalami sementara masalah disiplin bisa dikurangi karena anak sudah berusaha mendisiplin diri sendiri. Ada juga kesempatan untuk bekerja dan belajar bersama karena pengalaman kelompok ini dapat menumbuhkan


mereka berbaur tetapi tetap mengingat kelompoknya. Kelompok I untuk anak-anak yang cerdas, kelompok II untuk yang sedang sementara kelompok III untuk anakanak yang lambat. Dengan demikian maju berkelanjutan tetap dapat dilakukan, setiap anak merasa nyaman karena tidak ada kekangan maupun perasaan dikejarkejar. Anak yang cerdas dan berbakat bisa maju terus karena mereka mendapatkan kesempatan penuh untuk mempercepat pertumbuhan dan capaiannya. Kemajuan belajar kelas dapat berlangsung cepat karena tidak ada kelompok yang harus menunggu. Di kelas dipajang grafik prestasi dan grafik prestasi individu yang selalu diupdate secara berkala. Ini untuk memupuk keinginan berprestasi setinggi mungkin (n-achievement). 7. Kenaikan kelas otomatis (automatic promotion). Sejak 1970 kenaikan kelas otomatis telah diterapkan di tiga kelas awal SD untuk mengakomodasikan anak yang lambat atupun sedang. Ini didasari keyakinan bahwa anak berbeda satu sama lain namun mempunyai hak yang sama untuk berkembang secara maksimal, bahwa kebanyakan anak pergi ke sekolah tanpa persiapan fisik, emosi, sosial, dan kesiapan intelektual untuk belajar karena latar belakang keluarganya. 8. Pelajaran keterampilan. Ketrerampilan menjahit, memasak, dan kerajinan yang tidak ada di kurikulum SMP biasa diberikan selama 10 jam per minggu atau 20% waktu belajar anak. 9. Pelajaran Seni Rupa dan Musik. Kepekaan akan keindahan dan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dalam bentuk garis, warna, bentuk, nada dan irama diberikan lewat pelajaran seni rupa dan

kenangan SD PPSP angkatan 1977

kepekaan sosialnya, memperoleh kesempatan menunjukkan manfaat keberadaannya serta perasaan penting ada dalam kelompok tersebut. 5. Alat peraga. Alat peraga yang dikembangkan dan dibuat secara kreatif oleh para guru, memanfaatkan barangbarang bekas yang ada di sekitar, telah membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, mengasyikkan dan membuat proses pembelajaran lebih PAKEM. Kesadaran akan pentingnya alat peraga buatan sendiri ini muncul setelah guru mengalami dan menyaksikan hasilnya. Itu sebabnya SD Laboratorium Pakasi tidak terlalu suka memberikan alat peraga “pabrikan.� 6. Maju berkelanjutan dan pengelompokan berdasar prestasi. Sebab diyakini tidak ada dua anak yang sama persis dan bahwa setiap anak adalah individu yang unik, tidak mungkin kita mengajar anak-anak secara klasikal. Setiap anak berbeda dari anak lain (inter-individual differences) sementara penguasanya terhadap berbagai bidang studi juga tidak sama (intraindividual differences). Menangani seluruh kelas dengan cara yang sama tidaklah adil baik bagi anak yang pintar dan berbakat mapun yang lambat. Anak yang cerdas akan merasa dikekang sementara yang lambat merasa didorong-dorong untuk cepat. Keduanya akan akan membuat mereka frustasi. Karena pembelajaran individual sulit dilaksanakan dengan keterbatasan guru, bahan ajar dan fasilitas lain maka pengelompokan berdasarkan prestasi (achievement grouping) yang fleksibel dilakukan. Di kelas I pengelompokan dipisahkan tempat duduknya semata-mata untuk memudahkan guru membimbing mereka sementara di kelas II sampai V

123


33 tahun kemudian ... .

124

musik. Apapun dan bagaimanapun karya anak selalu mendapatkan penghargaan guru. Pelajaran musik yang mulai diajarkan di kelas III dengan menggunakan not balok juga telah menanamkan pentingnya kerjasama tim. 10. Majalah Sekolah. Majalah siswa Derap SD Laboratorium Pakasi adalah salah satu bentuk penyaluran bakat dan kegemaran anak-anak membaca dan menulis. Kemampuan membaca memang tidak dapat dan seharusnya tidak dipisahkan dari kemampuan

Reuni SD PPSP IKIP Malang angkatan 1977 pada tahun 1992, nah, ini sebagian para mantan siswi ...

menulis. Ini bermula dari arahan untuk setiap kelas (III ke atas) untuk membuat majalah dinding dengan kepengurusan kelas masing-masing, setelah mereka diberi penjelasan bagaimana mengelola majalah dinding. Nama dan pengurus diserahkan sepenuhnya pada


kenangan SD PPSP angkatan 1977

125

Sedangkan ini para mantan siswanya ‌

kelas untuk menentukan. Semaraknya tulisan yang ada di sana memancing inspirasi untuk mengangkatnya menjadi majalah sekolah. Pengurus mulai dari pimpinan dan dewan redaksi, termasuk ilustrator, koresponden dan bendahara mereka pilih berdasarkan minat, bakat

masing-masing. Untuk mengajarkan bagaimana mengirim tulisan ke majalah/koran di depan setiap kelas diletakkan karton bekas yang disulap menjadi kotak pos Derap SD Laboratorium tempat anak-anak memasukkan tulisannya. Tentu saja terlebih dahulu diajari bagaimana menulis surat, memasukkannya ke amplop dan menempeli dengan prangko bekas. Setiap Sabtu siang sehabis jam sekolah dewan redaksi mengangkut kotak-


33 tahun kemudian ... .

126

kotak pos tersebut ke ruang serbaguna, membuka isinya dan menyeleksi tulisan-tulisan yang baik dan terpilih (bukan saja cerpen atau puisi, tetapi juga berita, teka teki, lelucon, ulasan buku, artikel dan pojok bahasa Inggris). untuk dimuat dalam edisi yang bersangkutan. Karya semua kelas terwakili karena di situ juga ada ruang kecil untuk tulisan anak-anak kelas I dan bahkan TK. Majalah dibagikan ke setiap anak secara cuma-cuma karena biayanya sudah termasuk dalam uang sekolah! Perkembangan lebih lanjut adalah diterbitkannya kumpulan cerpen dan kumpulan puisi karya anak-anak SD Laboratorium Pakasi yang dipilih dari tulisan anakanak di majalah tersebut. Semangat mereka semakin menggebu-gebu karena ternyata majalah dan kumpulan karya mereka laku dijual sehingga menjadi pemasukan keuangan redaksi. 11. Kamis sore. Kamis sore (KARE) adalah acara seminar bedah buku yang khusus kami adakan untuk kelas VIVIII. Acara ini muncul sebagai upaya penyaluran bakat anak- anak untuk membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Berawal dari komentar beberapa anak yang menemukan persamaan/kemiripan isi buku-buku yang mereka baca lalu kami tugaskan untuk menuliskan dan menyajikannya dalam seminar. Prosedur seminar diajarkan, termasuk pemrasaran, penyanggah, moderator, penulis dan setelah itu program berjalan secara rutin setiap kamis sore tidak saja diikuti oleh murid kelas VI sampai VIII yang berminat, tetapi juga murid kelas V. 12. Penanaman sikap ilmiah. Penanaman sikap ilmiah dilakukan lewat pelajaran IPA (science). Baik secara perorangan maupun kelompok anak ditugaskan untuk

Almarhum Satrio

mengadakan percobaan Wibowo (Bowo). science, mengamati, mengumpulkan data, menganalisis, menyipulkan temuan dan melaporkannya. Laporan science menjadi sangat populer dalam pelajaran IPA waktu itu. Cara berpikir ilmiah ditanamkan sejak mereka di kelas rendah, dibekali dengan ketrerampilan memecahkan persoalan dengan menggunakan discovery approach.


Hasil Eksperimen selama 6 tahun (1968-1974) pada waktu itu terbukti memberi hasil yang sangat membanggakan. Penghematan waktu belajar setahun telah menghasilkan lulusan yang tidak saja survive di sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) tetapi juga menunjukkan prestasi belajar yang tinggi, kemandirian yang menonjol dan motivasi untuk berhasil yang kuat. Kebijakan maju berkelanjutan, kenaikan kelas otomatis, pengelompokan berdasarkan prestasi, akselerasi atau lompat kelas, pengajaran Bahasa Inggris sejak kelas III, pemberian program keterampilan, pengintegrasian perpustakaan dalam proses pembelajaran siswa, pengadaan jam membaca perpustakaan per jam setiap minggu, pemberian jam belajar bebas sebagai bentuk kebebasan yang bertanggungj-awab, pengajaran remedial, dan kurikulum yang fleksibel yang mengako-modasikan berbagai potensi siswa juga telah menunjukkan hasil positifnya mematahkan keraguan dunia pendidikan kita dan masyarakat pada umumnya pada waktu itu. Keyakinan akan kebenaran dan nilai lebihnya sistem Pakasi tersebut makin menguat kalau kita lihat lulusan yang dihasilkannya 35 tahun kemudian, saat ini, karena mereka telah menjadi “orang� yang berhasil di bidangnya masing-masing dan bertebaran di berbagai tempat di tanah air menyumbangkan pikiran, kemampuan dan keahliannya untuk bangsa dan negaranya.

Hasil-hasil positif yang nampak pada waktu itu antara lain: 1. Tidaklah sukar menciptakan lingkungan belajar yang kaya dan menantang bagi murid di SD dan di dalam ruang kelasnya. 2. Studi bebas telah membantu perkembangan siswa dalam usaha mengarahkan diri, mampu belajar sendiri, mendisiplin diri serta memperlancar berlangsungnya maju berkelanjutan dan pengalaman belajar yang berkesinambungan. 3. Pengelompokan siswa sekelas secara fleksibel berdasar prestasi belajar telah membuat anak merasa lega dalam belajar karena tidak merasa dikejar-kejar, merangsang siswa yang lambat, menantang yang sedang dan mempercepat proses belajar yang cerdas serta berbakat. 4. Bekerja dalam kelompok telah memperbesar penghargaan anak terhadap kerjasama (teamwork) dan prestasi secara individual. 5. Pengintegrasian perpustakaan dalam proses pembelajaran telah membantu perkembangan anak secara optimal dan maksimal, menghormati dan melayani perbedaan individu yang ada. 6. Kenaikan kelas secara otomatis untuk kelas I, II dan III dapat dibenarkan dengan memperhatikan beberapa batasan tertentu. 7. Kemauan dan kemampuan membaca adalah kunci tidak saja bagi pertumbuhan dalam bidang bahasa tetapi juga keberhasilan anak di sekolah. 8. Mata pelajaran musik, olah raga, kesenian dan keterampilan memerlukan guru yang memiliki pengetahuan, keterampilan, bakat dan kreatifitas khusus.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

13. Pengajaran remedial (perbaikan). Pengajaran ini diberikan khusus untuk anak-anak yang memerlukan bantuan khusus, terutama karena ketertinggalannya dari teman lain sekelasnya.

127


33 tahun kemudian ... .

128

9. Seorang guru Para bapak kelas bisa guru SD PPSP berfungsi sebagai IKIP Malang. pembimbing Bagi kita, (counselor) setiap guru yang lebih baik tentu memiliki daripada seorang kenangannya pembimbing yang masingtidak mengenal SD masing ‌ 10. Kelas I dan II SD yang kokoh dan berisi dapat merupakan head start yang baik untuk program SD 5 tahun. 11. Pendidikan Dasar yang baik dan kokoh dapat mencegah kehilangan yang sangat besar akan sumber daya manusia dan kemampuan manusia untuk belajar di Indonesia.

SD Laboratorium Pakasi dan Anak Berbakat Telah dikatakan di depan sekolah ini bukanlah sekolah yang eksklusif untuk anak berbakat tetapi untuk anakanak dengan berbagai latar belakang. Secara tidak langsung apa yang dilakukan di SD Laboratorium Pakasi ternyata telah memberikan layanan pendidikan bukan saja bagi kebanyakan anak tetapi juga untuk anak-anak yang berbakat. Sebagaimana kita ketahui anak berbakat memiliki perkembangan motorik yang cepat, kesenangan

bereksplorasi, motivasi belajar yang hebat, dan kemampuan analisis yang tinggi. Anak berbakat tidak bisa ditahan-tahan. Dia mencari solusi secara kreatif dengan caranya sendiri. Menahan dorongannya hanya akan membuat dia frustrasi dan depresi. Setiap anak berbakat mempunyai minat berbeda-beda, yang di satu materi mampu meninggalkan teman sekelasnya sampai beberapa tahun ke depan. Kemampuan analisisnya terhadap fenomena alam membuatnya segera paham akan berbagai


hukum-hukum fisika dan alam. Dengan begitu apa yang dicarinya saat di bangku sekolah muatannya sungguh berbeda dari anak-anak cerdas atau anak-anak normal. Ia membutuhkan materi yang penuh tantangan analisis (van Tiel, 2003). Dari segi intelektual anak berbakat mudah menangkap pelajaran, ingatannya baik, perbendaharaan katanya luas, penalarannya tajam, daya konsentrasi baik, menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan

Dari segi kreativitas, dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya). Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal (yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan.

kenangan SD PPSP angkatan 1977

sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal. Para ibu guru SD PPSP IKIP Malang. Pengabdian dan ketulusan hati mereka dalam mendidik kita telah memberi kita banyak hal, hingga kini.

129


Anak berbakat juga tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa.� Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya, mengejar tujuantujuan jangka panjang, senang mencari dan memecahkan soal-soal.

33 tahun kemudian ... .

130

Anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Mereka menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, misalnya: tulisannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya, yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yang tidak diajarkan di kelas. Pelayanan anak berbakat bisa dilakukan dengan: 1. Menyelenggarakan program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat untuk baik untuk seluruh mata pelajaran, atau disebut akselerasi kelas, ataupun akselerasi untuk beberapa mata pelajaran saja. Dengan akselerasi seluruh mata pelajaran anak bisa lompat kelas, sementara akselerasi untuk mata pelajaran tertentu, anak diperkenankan menempuh pelajaran tertentu di kelas yang lebih tinggi. 2. Sekolah di rumah atau home-schooling (pendidikan non formal di luar sekolah). Jika sekolah keberatan dengan

model akselerasi kelas atau mata pelajaran, cara lain yang dapat ditempuh adalah memberikan pendidikan tambahan di rumah atau di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling. Orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Apabila anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat perkembangannya. 3. Kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual. Dalam model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak. Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya. Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya; sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda tingkat perkembangan dan ritme belajarnya. 4. Membangun kelas khusus untuk anak berbakat. Dalam hal ini anak-anak yang memiliki bakat/kemampuan yang kurang lebih sama dikumpulkan dan diberi pendidikan khusus yang berbeda dari kelas-kelas tradisional bagi anak-anak seusianya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di mana pendekatan individual


Dengan pengelompokan berdasarkan prestasi SD Laboratorium Pakasi telah melakukan pendekatan individual dalam pembelajarannya sementara akselerasi juga dilakukan tidak saja dalam bentuk lompat kelas tetapi juga lompat mata pelajaran walaupun anak ybs tetap berada dalam kelas yang sama. Memang ada kekawatiran adanya pengaruh negatif atas lompat kelas pada anak yang bersangkutan dalam penyesuaian sosialnya, namun seperti yang dikatakan Rimm (1994) semua penelitian menunjukkan, lompat kelas tidak ada pengaruh negatif pada penyesuaian sosial walaupun secara fisik masih kecil atau belum dewasa dibanding anak sekelas lainnya. Walaupun pendidikan khusus untuk anak berbakat terkesan elitis, namun kebanyakan pendidik percaya bahwa semua anak (termasuk yang berbakat) berhak untuk memperoleh pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itulah, menurut McGrill (2005), kurikulum perlu dimodifikasi agar memenuhi kemampuan dan kecepatan belajar mereka, serta memberikan waktu dan sumber belajar yang memadai agar anak dapat mendalami minat khusus mereka. Modifikasi bisa dilakukan dalam bidang pelajarannya, tugas yang diberikan maupun penjadwalannya.

Modifikasi pelajaran dilakukan dengan akselerasi atau pemberian materi pengayaan. Modifikasi tugas dilakukan dengan memberi tugas anak yang berkemampuan tinggi dengan kerja mandiri (independent study), kerja dalam kelompok homogen maupun heterogen di kelas. Sementara itu Berger menambahkan kemungkinan modifikasi atas lingkungan dan hasil yang diharapkan. Ini juga sudah dilakukan di SD Laboratorium Pakasi. Kurikulum khusus SD 8 Tahun yang berbeda dari kurikulum standar dari Departemen Pendidikan Jakarta telah dirancang, dilaksanakan, dinilai dan disempurnakan. Dari tujuh prinsip dasar diferensisasi kurikukulum untuk anak berbakat yang dirumuskan Komisi Kurikulum dari Leadership Training Institute (Passow, 1982) paling tidak empat butir yang jelas terpenuhi di SD Laboratorium Pakasi tersebut yaitu bahwa kurikulum hendaknya memungkinkan siswa secara ajeg mencari informasi dan menggali ilmu pengetahuan serta menanamkan sikap bahwa dalam kehidupan global pengetahuan sangat bernilai untuk terus dikuasai; harus mengembangkan kegiatan belajar dan pertumbuhan atas dasar inisiatif diri; dan bahwa kurikulum tersebut hendaknya mampu mengembangkan pemahaman diri dan hubungannya dengan orang lain, lembaga kemasyarakatan, alam dan budaya.

Penutup Dari uraian di atas dapatlah kita lihat bagaimana sekolah yang dengan susah payah dikembangkan seorang Supartinah Pakasi berdasarkan penelitian yang kemudian ditulisnya dalam disertasinya tahun 1966 telah memberikan layanan

kenangan SD PPSP angkatan 1977

lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal. Kelas khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri sesuai dengan kebutuhan anakanak berbakat. Sistem evaluasi dan pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka (Wahidin, 2008).

131


33 tahun kemudian ... .

132

pada bukan saja pada anak-anak pada umumnya tetapi juga melayani anak-anak berbakat dan berkemampuan tinggi. Program yang baik untuk anak berbakat seperti adanya akselerasi dan pengayaan, adanya berbagai pilihan kegiatan belajar (multiple options) untuk melayani berbagai kebutuhan dan bakat, kurikulum yang menantang, lingkungan belajar yang kaya, layanan pembelajaran yang fleksibel, tidak terpaku pada batasan waktu maupun jenjang kelas, guru-guru yang mampu dan terlatih melayani anak-anak berkemampuan lebih ada semua di sekolah yang sekarang sudah tinggal menjadi kenangan. Kalau saja Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di pusat, pada waktu itu mau membuka diri dan berjiwa besar menerima kenyataan yang ada, pastilah pendidikan kita sudah lebih maju dari sekarang. Betapa banyaknya tenaga, dana dan waktu yang dapat kita hemat karena tidak perlu mengais, menemukan dan melaksanakan sesuatu yang (nampaknya) baru padahal sudah dilaksanakan dengan baik di tahun 1970-an itu.

Sumber Bacaan Berger, S. L. Differentiating Curriculum for Gifted Students. Pakasi, S. 1974. Usaha SD 8 Tahun Laboratorium IKIP Malang dalam Mengurangi Salahsatu Bentuk Pemborosan Dalam Bidang Pendidikan Dasar (Laporan tentang Suatu Action Research). Malang. Pakasi, S. 1979. A Proposed National Elementary Education Program for Indonesia. Dissertation Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Education, George Peabody College for Teachers, August 1966. Airlangga University Press. Passow, A.H. 1982. “Differentiated Curricula for the Gifted/Talented’

dalam Curricula for the gifted: Selected Japan Proceedings for the First National Conference on Curricula for the Gifted/Talented (pp. 4-20). Ventura, CA: State Leadership Training Institute. Rimm, S. B. 1994. Key to Parenting the Gifted Child. Van Tiel, J. 2003. Pendidikan Anak Berbakat di Negeri Belanda. Harian Umum Kompas. Wahidin. 2008. Deteksi Dini terhadap Anak Berbakat. Admin Bruder FIC

Arief Sukadi Sadiman adalah mantan guru SD Laboratorium Pakasi, Malang (1970-1977), Direktur Pustekkom Depdiknas (19902001); Direktur SEAMEO SEAMOLEC (1997-2001); dan Direktur SEAMEO Secretariat, Bangkok (20012004). E-mail: asadiman@ edc.org atau arief012001@ yahoo.com. Alamat kantor: DBE2 USAID, Gedung Bursa Efek Indonesia Tower II Room 1403, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta. Telepon (021) 5150454. Makalah disajikan pada “Seminar Nasional Optimalisasi Pendidikan Anak Berbakat” di Universitas Negeri Malang, 1 Nopember 2009.


M

antan siswa-siswi SD PPSP Malang Angkatan 1977 pada reuni tahun 2009 di Malang.


Nurul Hidayati

Nurul Kiswati Devi Utami

Pra Fajarini

Sigfriedo A Laikopan

Raymond Valiant Ruritan

Silvia Indriany

Thontowi Djauhari Nur Subchi

Sri Wijayatiningsih

Nurul Hidayati

Oda

Rengganing Sasanti

Rini Dyah Artanti

Rosli Anis

Syahru Deta Waluyojati

Taufig Pribadi

Taufiq Satrio Wibowo

Titis Wirasari

Poppy Herdina

Oki Arisulistijanto

Sasanti Pradnja Paramita

Tejo Guntoro

Wennie Widiawati

Zulfadina


kenangan SD PPSP angkatan 1977

Menembus jalan setapak aneh aku merasa kau ada dari lingkar sepi ke sepi dirimu nyata

135

kau hadir dalam derap tak bersuara

kemarin Adi Poerwanto

akukah yang kau tuju pada malam dan siang menjelang menjemput angan membelai harap dalam waktu tak pernah henti dari sorot magis mata kau ada hidupkan aku meretas cahaya (18 Mei 2010)


33 tahun kemudian ... (behind the scene) B 33 tahun kemudian ... .

136

ekerjasama dengan dua orang ajaib ini sungguh satu pengalaman yang berkesan buat aku. Seakan waktu mundur hampir 30 tahun yang lalu. Keduanya hanya beberapa kali berada di kelas yang sama dengan aku namun setiap kali mengingat SD PPSP IKIP Malang dua nama ini selalu muncul di antara beberapa nama yang lain.

Raymond Valiant Ruritan Namanya asing buat kami, Raymond, berperawakan rapi, rambut agak panjang, selalu membawa tas koper warna coklat tua, usai sekolah dijemput oleh neneknya untuk kemudian pulang ke rumah naik becak. Sesekali kami berantem tanpa alasan yang jelas. Saling pukul dan saling tendang sampai akhirnya tas koper coklat tua itu jadi sasaran kemarahan. Raymond santun berbahasa sedari kecil, kata-katanya selalu tertata. Tidak heran jika dia aktif menjadi redaktur majalah Derap. Ditambah lagi dengan kemampuannya membuat illustrasi yang terkadang lebih heboh daripada tulisannya. I Gusti Agung Anom Astika Anak dengan mata menari-nari ini dipanggil Nompi. Terbayang ketika jari mungilnya meloncat lincah di atas tuts piano melantunkan lagu klasik yang rumit sambil kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri. Juga ketika menonton konser sambil cekikikan di kursi depan sampai berkali-kali ditegur oleh ibu suster di belakang kami. Bertahun-tahun berlalu hanya kabar samar terdengar tentang Nompi. Dan ketika bertemu di dunia maya percakapan dan diskusi tentang berbagai hal mengalir lancar hingga dini hari. Mulai tentang buku, sejarah musik, arsitektur, biopori, kultur Singosaren hingga masalah ibu-ibu PKK.


kenangan SD PPSP angkatan 1977

Tetap menyenangkan mendengar suara sopan Raymond dan tawa renyah Nompi. Membaca tulisan mereka berdua membuat aku makin kagum betapa waktu dan pengalaman hidup telah mengasah pena mereka. Masingmasing dengan gaya bahasanya sendiri, enak dibaca dan akrab untuk kita sebagai teman lamanya.

137

Tak disangka jika kegemaran menulis akan menyatukan kami dalam proyek yang unik. Sebuah kolaborasi untuk mengekpresikan kenangan masa kecil kami, meskipun dari awal kami sadar waktu yang singkat dan posisi kami yang berjauhan sedikit akan menjadi kendala. Namun semangat kami terlanjur menyala, jadi kami manfaatkan semua fasilitas komunikasi yang ada semaksimal mungkin.

sebagai Joker dengan senyum khasnya menunggu laporan keesokan harinya. Ketika ide menabrak tembok dan naskah tak kunjung terkumpul pesan pendek bergantian masuk ke nomor ponselku dari Nompi dan Raymond. Posisiku pun mirip Hermione Granger saat Harry Potter dan Ron Weasley tak bertegur sapa.

Untuk mencari Nompi aku harus online di atas jam 12 malam agar bisa ketemu sang Batman, sementara Raymond

Bertemu muka bertigapun sangat sulit terwujud. Hanya sekali di awal kerjasama kami. Dua pertemuan


berikutnya gagal mempertemukan kami bertiga. Kami dari Mojokerto, Surabaya dan Jakarta, sementara tempat pertemuan selalu di Malang. Tapi show must go on, tidak mungkin membatalkan proyek ini. Seperti kata Nompi dalam pesan singkatnya â€œâ€Ś Murti, aku sayang dengan semua teman-temanku. Pasti kupersembahkan yang terbaik untuk mereka ... â€?

33 tahun kemudian ... .

138

Raymond sebagai pemimpin redaksi tentu saja memiliki beban lebih. Harus diakui sebagai pemimpin redaksi yang perfeksionis, beban kerjanya lebih berat. Memilih foto, menulis caption, mengedit naskah dan koreksi lay out dilakoninya sendiri. Bahkan bila perlu dia juga menyumbang tulisan demi mengisi kekurangan naskah. Buku ini seakan menghantuinya hingga tidurpun dia mimpi dikejar buku. Aku lebih banyak di bagian promosi, penggalian dana, mencari bahan foto dan tulisan dari teman-teman yang lain dan sedikit ikut menulis juga. Untuk promosi masih cukup efektif dengan memanfaatkan jejaring sosial. Terima kasih atas apresiasi teman-teman. Terimakasih juga bagi para donatur, sedikit memaksa sekalian curhat tapi aku yakin kalian tulus membantu terwujudnya buku kita ini.. Di antara kesibukan bekerja dan mengurusi keluarga, akhirnya sedikit demi sedikit buku ini mulai kelihatan bentuknya. Kadang muncul haru membaca tulisan kami berpadu dengan foto yang ditata secara artistik. Semoga buku ini bisa menjadi sarana reuni dalam hati kita PPSP angkatan 1977. (Murti)


PPSP datangku kembali Adi Poerwanto

Jalan rindang menyapaku kembali ketika masa itu pernah aku punyai melewati ceria masa kanakku tersaji tepat di beranda pelataran sekolah itu apa yang bisa aku kenang kini dari wujudnya yang nyaris tak berubah hanya kokohnya kini lebih terasa benderang maklum zaman sudah gerus menuntut terjadinya di lorong-lorong dan dereten koridor itu dulu kita selalu membagi mimpi dalam diam dalam harapan dan khusuk membagi waktu pelajaran yang kadang gontai memayungi hasil karena harapan terjebak diangka-angka warna merah "Proyek Perintis Sekolah Pembagunan� ... .. dulu jelas sekali terbaca hampir di setiap dada penghuninya yang bangga menjadi bagian dari hikayat penuh keajaiban warna itu kental mendadaki setiap pikiran dan perasaan menjadi alunan hampir disetiap mata yang memahaminya aku tetap merasa rohku tertanam disini.. di lantai tegel warna abu-abu yang kilap karena jilatan minyak tanah menyeka tiap saat.. siapa itu ... oh ya "Pak Koso� ... entah di mana dia kini dari pekak bunyi bel hingga riuh kantin terjajah oleh para penyerbu kenikmatan kanak-kanak dari aula penuh hikmah sampai tegak bendera merah-putih di luas halaman berpola lantai basket hingga ke panggung batu disisi-sisinya letak di ujung taman kanak-kanak merebut hati hingga gegap kelas 8 membahana duh jiwa dahsyat itu dulu pernah merdeka melanglang di anteronya menghujam penuh suka cita hingga surut masa harus berpisah kembali menapaki jalan-jalan berhias rindang pepohonan aku pulang mencabut mimpi membawa harapan masa lalu Malang 1977-2010


33 tahun kemudian  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you