Issuu on Google+

s


2

Editorial

dari kami

J

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 26 | Oktober 2008

ika ada yang berpendapat bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat menciptakan demokrasi yang diimpikan masyarakat, mungkin perlu dikritisi. Dalam prakteknya, teknologi tidaklah netral dan bebas nilai. Ada konstruksi ekonomi dan sosial yang membuat penggunaan teknologi tidak merata. Open source merupakan upaya untuk membongkar rezim software yang keberpihakannya hanya pada akumulasi modal semata. Pada titik inilah, kelompok-kelompok masyarakat yang sadar akan strategi penguasaan informasi untuk kepentingan modal, telah melakukan terobosan-terobosan baru yang kreatif dan menjadi pilihan bagi masyarakat dunia. Kombinasi kali ini mengangkat tema utama Open Source. Niken Lestari, aktivis Kluwek (Kelompok Linux Cewek Indonesia), mengupas banyak hal mengenai sistem operasi itu. Juga wawancara Saiful Bakhtiar dengan Yayasan AirPutih, yang menggabungkan Open Source untuk menanggulangi bencana, dan YPLI (Yayasan Penggerak Linux Indonesia). Untuk artikel lainnya, Elanto Wijoyono mencoba mengungkap kerja keras warga komunitas di sekitar Gunung Merapi dalam mengadakan sendiri air bersih guna memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.Dari Lombok, kami juga menghadirkan radio komunitas perempuan yang baru saja didirikan. Sedangkan rubrik Ekonomi Rakyat dalam Kombinasi edisi ini mengangkat gagasan Wildan Mathlubi, seorang sarjana perikanan IPB, yang memanfaatkan limbah kulit ikan menjadi kerupuk. Akhir kata, selamat membaca!

tim kerja Pemimpin Redaksi: Ade Tanesia Editor: Biduk Rokhmani Tim Penulis: Dedet Azhari, Elanto Wijoyono, Hatib Abdul Kadir, Hendra Indriyanto, Kustoro, Marwan, Niken Lestari, Saiful Bakhtiar, Yossy Suparyo Layout: Duotone Media Ilustrasi: Dani Yuniarto Alamat Redaksi: Jalan Ngadisuryan No 26, Yogyakarta 55133 Telepon/fax: 0274-418929 office@combine.or.id http://www.media.kombinasi.net

RALAT

Kombinasi Edisi 26!!! Capture web di halaman 11 (http://angkringan.or.id/) seharusnya http://angkringan.web.id. Segenap redaksi Majalah Kombinasi mohon maaf atas kesalahan tersebut, dan dengan demikian kesalahan telah kami perbaiki. Terima kasih.


3

Info Sekilas

Rekam

Denyut Pembangunan dari Desa Judul Penulis Penerbit Ukuran

: : : :

Pandangan dari Pedesaan : Jalan baru Menuju Pembangunan Poriaman Sitanggang Godown Lontar, Jakarta 2005 23 x 25 cm; x + 126 hlm

B

uku ini merupakan esai foto yang memotret Program Pengembangan Kecamatan (PPK) di Indonesia yang disponsori oleh Bank Dunia yang dimulai sejak 1998. Awalnya, PPK hanyalah program penelitian kecil yang kemudian dikembangkan hingga mencakup 28.000 desa. Proyek-proyek yang disponsori oleh program itu merupakan mikrokosmos dari transformasi yang sedang berlangsung di seluruh Indonesia. Lebih dari 100 foto dalam buku tersebut bukan hanya memperkenalkan para penduduk desa yang telah membuat PPK suatu cerita tentang perubahan sosial, tetapi juga diharapkan menjadi intensif tambahan untuk mengambil langkah-langkah alam pertarungan menghadapi kemiskinan. Foto-foto sengaja dicetak hitam-putih untuk menegaskan sensasi dunia pedesaan yang kukuh. Gambar-gambar dalam buku itu juga mengenalkan etnografi desa di hampir seluruh pelosok Indonesia, seperti Aceh, Yogyakarta, Kalimantan tengah, juga Nusa Tenggara Timur. Membaca buku itu tidak akan membuat Anda mengerutkan dahi, karena narasi yang mengiringinya berbentuk berita kisah (feature) sangat ringan dan memesona. • Yossy Suparyo

Komunikasi Bencana di Asia Judul : Penulis : Pengantar : Penerbit : Ukuran :

B

Communicating Disaster: An Asia PacificResource Book Nalaka Gunawan Sir Arthur C Clarke TVEAP dan UNDP, Srilanka: 2007 15 x 23 cm; x + 150 hlm

uku ini merupakan titik puncak dari proses bertahun-tahun yang dilakukan TVE Asia Pasifik dan Kantor UNDP Regional di Bangkok yang mengembangkan program yang memungkinkan pemanfaatan akses komunikasi oleh masyarakat ketika menghadapi bencana tsunami. Pada pertemuan peringatan dua tahun tsunami yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, 30 pimpinan media profesional yang memiliki perhatian pada liputan bencana bersepakat untuk menuliskan pengalaman mereka dalam bentuk buku yang berisi pengetahuan, keahlian, dan beragam perspektif lainnya yang akan merekam pengalaman media saat terjadi bencana. Semua pihak menyadari informasi merupakan alat yang ampuh dalam penanganan bencana. Namun, selama ini, masih sedikit dokumen yang menjelaskan peranan media dalam penanganan bencana secara detail. Buku itu menjadi kitab yang patut menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mengembangkan media pada saat situasi darurat bencana. • Yossy Suparyo

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

Kitab Panutan


4

Info Sekilas

Lugas Memangkas Rantai Bencana Ubah Ancaman Jadi

Peluang

Oleh Elanto Wijoyono

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 26 | Oktober 2008

B

ayangkan, Rp 19 juta habis hanya untuk air,” kata Sukiman (34), tokoh warga muda di Dusun Deles, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Walaupun kawasan tersebut tampak hijau sejauh mata memandang, tetapi dapat dipahami memang bahwa tempat yang berketinggian rata-rata 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut itu tidak memiliki air semelimpah di kawasan yang lebih hilir. Akibatnya, setiap masuk musim kemarau, warga pedesaan di lereng tenggara Gunungapi Merapi itu harus bersiap menghadapi kekeringan. Tak hanya sebulan-dua bulan, kekeringan itu mewujud pasti selama musim kemarau berlangsung, rata-rata 6 -7 bulan lamanya, dari April hingga Oktober; yang datang menghantui setiap tahunnya. Hitung-hitungan di atas bukannya tanpa dasar. Warga pedesaan kaki gunung yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan penambang pasir tradisional itu tahu betul apa yang mereka perlukan untuk menghadapi yang mereka alami. Setidaknya, sebuah inisiatif muncul di satu RT (rukun tetangga) di Deles untuk menanggulangi ancaman kekeringan. RT tempat Sukiman berdiam itu terdiri atas 20 KK (kepala keluarga) dengan rata-rata anggota keluarga berjumlah empat orang. Setiap KK memerlukan air sebanyak 230 liter per hari. Kebutuhan itu jika diperinci merupakan akumulasi dari beragam kebutuhan, mulai dari mandi dan cuci 100 liter, makan dan minum 60 liter, dan untuk ternak (rata-rata tiga ekor kambing dan tiga ekor sapi) sejumlah 70 liter air. Yup, tentu saja diperlukan air sebanyak 4.600 liter untuk mencukupi kebutuhan di satu RT itu saja. Jelas, air di banyak kawasan bukan lagi barang yang murah, justru makin mahal dan mungkin juga mewah. Untuk mendapatkan air sebanyak 5.000 liter, warga harus keluar uang sejumlah Rp 150.000. Itu merupakan ukuran sebuah tanki. Jadi, selama 6-7 bulan musim kemarau, truk-truk tanki pengangkut air hilir-mudik mengangkut air ke desa-desa di lereng Merapi sisi Klaten sudah menjadi pemandangan umum. “Namun, mereka hanya ada jika ada yang pesan,” urai Sukiman. “Pengusaha” pengangkut air itu sendiri sebenarnya juga warga desa setempat, yaitu beberapa orang yang memiliki truk. Mereka mengambil air di ibukota Kecamatan Kemalang, sekitar lima kilometer dari tempat Sukiman tinggal. Air itu sebenarnya sangat murah, tak sampai puluhan ribu rupiah. Biaya transportasilah yang mahal, yang mencapai lebih dari Rp 100 ribu. Bagaimana dengan air bantuan dari pemerintah kabupaten yang banyak diberitakan di surat kabar? “Sampai bulan puasa tahun ini saja truk tangki yang ngedrop air itu baru datang dua kali di dusun ini,” jawab Sukiman lepas. Jadi, bagaimanakah warga setempat selama ini mencukupi kebutuhan airnya selama musim kemarau? Ada beberapa tuk atau mata air kecil di sekitar desa yang masih mengalirkan airnya di musim kemarau. Namun, jumlahnya tetap tidak mampu mencukupi kebutuhan yang ada. Terlebih lagi, dengan masih maraknya penambangan pasir dengan alat berat di hulu Kali Woro menjadikan warga setempat khawatir sumber-sumber air yang ada semakin berkurang.

Tak sekadar bertahan “Kami tahu kawasan kami punya banyak keterbatasan,” lanjut Sukiman, “tetapi kami tak mau hanya menunggu untuk bisa bertahan karena kami pun tahu daerah ini punya banyak potensi yang bisa dimanfaatkan.” Ya, adalah semangat dan gagasan yang tak kunjung padam dari pegiat-pegiat muda warga desa di lereng Merapi. Lereng gunungapi yang sering disebut-sebut dengan nuansa keterbelakangan jika dibandingkan dengan kondisi lereng Merapi di kabupaten lain itu justru menyimpan potensi luar biasa yang ada di dalam manusia-manusianya. Melihat tak kunjung terwujudnya perbaikan fasilitas dan pelayanan dari pemerintah kabupaten secara optimal menyebabkan mereka harus mampu bertahan dengan berbagai cara terbaik yang bisa dilakukan. Disadari pula bahwa kawasan tempat mereka tinggal adalah kawasan rawan bencana. Ancaman itu datang dari berbagai penjuru, terutama ancaman letusan Gunungapi Merapi dan ancaman kekeringan yang datang setiap tahunnya. Untuk mampu bertahan di tengah berbagai ancaman itu, warga desa di kaki Merapi itu paham bahwa mereka harus bisa berdaya secara mandiri. Jika kemandirian dari sisi ekonomi sudah melekat pada diri warga maka dalam situasi ancaman seberat apa pun mereka masih akan lebih mampu bertahan. Jadi, bukanlah mengada-ada jika mereka ngotot tinggal dan menjaga ternak serta lahan pertaniannya ketika erupsi Merapi berlangsung selama hampir empat bulan di paruh awal 2006 lalu. Namun, bukannya pasrah sama sekali. Pengungsian dilakukan terhadap warga yang rentan, sementara warga yang lain tetap aktif mengurusi lahan dan ternak, didukung oleh sistem informasi darurat bencana yang dikembangkan oleh warga desa sendiri. Mereka berjaringan dengan Pos Pengamatan Gunung Api Merapi melalui radio telekomunikasi (rig/HT) yang pesannya mereka sebarkan secara menerus ke puluhan titik pos ronda swadaya yang berada di titik-titik teraman dari jangkauan awan panas dan lava pijar. Walaupun begitu, upaya pengungsian paksa pada April 2006 lalu itu ketika Merapi belum cukup mengancam bagi warga lereng tenggara menyebabkan gagal panen dengan kerugian ratusan juta rupiah untuk setiap jenis komoditas pertanian. Peristiwa itu membuat warga setempat semakin terpuruk dan justru trauma dengan penanganan penanggulangan bencana yang tidak tepat guna seperti itu.


5 Rencana “menantang” Ancaman

penggalangan dana!” ungkap Sukiman menambahkan, “siapa pun yang merasa peduli bisa turut menyumbang dan mendukung proyek kami ini.” Paling tidak, Sukiman dan pegiat warga sejawatnya telah punya cukup pengalaman dalam mengelola dana bantuan pembangunan. Di desa itu, mereka juga mendirikan sebuah radio komunitas bernama Lintas Merapi sejak awal tahun 2000-an. Radio warga yang bersiaran di frekuensi 107,9 Mhz itu digiatkan oleh kelompok warga muda setempat dan mampu menginisiasikan munculnya beragam kelompok kegiatan. Forum Klaster Lereng Merapi Klaten, misalnya, adalah salah satu kelompok kerja warga yang bergerak di bidang pertanian, peternakan, perkebunan, dan kerajinan. Sukiman dan kawan-kawan aktif di sana sejak kelompok itu didirikan. Salah satu program kegiatan yang saat ini sedang digiatkan adalah peternakan. Mereka menawarkan jasa pemeliharaan ternak kambing kepada warga luar daerah Sidorejo, Kemalang dengan sistem bagi hasil (Jawa: gadhuh, red). Beberapa warga Kota Yogyakarta, sebagian dari mereka adalah pegiat lembaga swadaya masyarakat dan akademisi rekanan Radio Komunitas Lintas Merapi, sudah menyambut tawaran tersebut dengan meng-gadhuh-kan ternaknya. Awal tahun 2008 lalu, anak-anak muda Deles yang bergiat sebagai penyiar di radio komunitas itu dengan lugas memanfaatkan jaringan internet yang mereka miliki untuk melakukan penggalangan dana pula. Sebuah program bertajuk “Tanam Air”; mereka menuliskan seri artikel mengenai pentingnya penghijauan di kawasan lereng Merapi dan rencana penanaman pohon di jalan-jalan desa di situs berita komunitas Jalin Merapi (Jaringan Informasi Lingkar Merapi). Tak dinyana, sambutan baik muncul dari pembaca, baik dari dalam maupun luar negeri, seperti dari Sumatera, Banten, Jepang, dan Australia. Sebagian besar dari mereka adalah perantau asal Kecamatan Kemalang sendiri, selain beberapa rekan akademisi yang sedang tugas belajar di luar negeri. Hasilnya, sejumlah 32.000 Yen mampu terkumpul dalam jangka waktu kurang dari empat bulan dan penanaman bibit pohon cemara pecut di seantero jalan Desa Sidorejo pun terwujudkan.

Tidak untuk sesaat, tapi seterusnya Pastinya, dengan membangun 16 buah bak penampung air tambahan di wilayah RT-nya, warga setempat bisa menekan pengeluaran sekitar Rp 19 juta, yang hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air itu. Warga memperhitungkan juga bahwa hingga 25 tahun ke depan, bak air itu tidak akan banyak berubah. Ada kemungkinan kerusakan setiap bak sebesar 10 persen dan biasanya cukup dengan melakukan penambalan. Itu jelas jauh lebih murah jika dibandingkan selama 25 tahun warga harus selalu menyisihkan Rp 19 juta, sehingga total mencapai sekitar Rp 480 juta. Belum lagi jika ada kemungkinan inflasi nilai tukar mata uang. Menariknya, inisiatif itu memang sengaja diawali di satu RT tersebut karena gagasannya memang muncul dari warga RT setempat. Beberapa RT lain di Desa Sidorejo itu ada yang sudah mendengar rencana itu dan tertarik. Tentu saja hal itu disambut baik oleh Sukiman dan kawan-kawan untuk selanjutnya mengembangkan gagasan bak airnya ke warga lain yang membutuhkan. Pastinya dengan semangat gotong royong yang khas pedesaan dan begitu indah. Sulit dipungkiri memang, bahwa tak ada yang lebih tahu tentang keadaan suatu daerah selain penduduk setempat. Di sana mereka membuktikan bahwa mereka mampu membaca kebutuhan lingkungan, yakni antara kelestarian dan kebutuhan manusia dengan kehidupan secara seimbang. Rencana besar pembangunan bak penampungan air untuk mengatasi ancaman kekeringan di atas, serta gerakan penanaman pohon, adalah salah sedikit contohnya. Dengan lugas—dan semoga itu tepat—warga Deles sudah berupaya untuk memotong rantai bencana; menjadikan ancaman sebagai peluang. Brilian! •

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

Dalam menghadapi ancaman kekeringan yang tak kalah buruk dampaknya, selain mengandalkan beberapa tuk sebagai sumber air, warga secara swadaya membangun bak-bak air untuk menampung air, baik air hujan maupun air yang didapatkan dari sumber lain. RT tempat Sukiman berada saat ini telah memiliki delapan bak penampung air yang masingmasing mampu menampung volume air sejumlah 40.000 liter, sehingga bisa ada 320.000 liter air yang akan digunakan selama musim kemarau. Sementara, dengan kebutuhan 4.600 liter air per KK per hari maka selama tujuh bulan musim kemarau dibutuhkan total 966.000 liter air. “Jadi, masih kurang 646.000 liter air,” jelasnya. Air sejumlah itu jika diwujudkan dalam bentuk tangki akan terbagi ke dalam 129 tangki air (dengan volume setiap tangki 5.000 liter). Harga Rp 19 juta yang dikatakan Sukiman tadi adalah harga seluruh air dalam 129 tangki itu; yakni 129 tangki x Rp 150.000 = Rp 19.380.000. Biaya hidup yang tak sedikit yang harus dibayarkan oleh warga desa lereng Merapi. Menariknya, air sejumlah itu, menurut warga, akan bisa dipenuhi jika di RT mereka ada 16 bak penampung air tambahan dengan kapasitas volume yang sama dengan bak yang sudah ada. Ya, tentu saja untuk mengadakannya juga perlu biaya. Perhitungan warga menerakan jumlah total Rp 87.360.000 untuk membangun 16 buah bak penampung air; atau Rp 5.460.000 sebuahnya. Total biaya itu jika diperinci, per baknya, meliputi biaya material sebesar Rp 3.750.000, biaya tenaga Rp 1.370.000, dan makan (konsumsi) sebesar Rp 340.000. Rata-rata perlu waktu setengah bulan kerja untuk mewujudkan satu buah bak penampung air. Jelas mereka memerlukan bantuan dana untuk mewujudkannya. Namun, warga setempat tak mau memulainya tanpa modal sama sek ali. Warga menyatakan mampu memenuhi sebagian biaya pembangunan bak-bak tersebut, yakni pada sebagian biaya tenaga dan biaya konsumsi. Jik a dihitung, kemampuan swadaya warga dalam pengadaan satu bak adalah Rp 910.000. Jika ada 16 bak air maka mereka sendiri sudah akan mengatasi sendiri biaya sebesar Rp 14.560.000. Jadi, masih ada kekurangan dana sebesar Rp 72.800.000. Dari manakah dana sebesar itu akan dicari? “Kami akan melakukan

Info Sekilas


6

Info Sekilas

Radio Komunitas Perempuan di Lombok

Berdayakan Perempuan Melalui Radio Komunitas

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

Oleh Dedet Azhari

N

usa Tenggara Barat yang terkenal dengan istilah Bumi Gora karena berhasil mengembangkan pola tanam dengan sistim Gogo Rancah pada daerah lahan kering atau tadah hujan, sampai saat ini terdapat tidak kurang dari 100 stasiun radio komunitas, puluhan radio swasta, dan publik. Dari retusan radio komunitas tersebut hanya 40 stasiun atau Lembaga Penyiaran Komunitas ( LPK ) yang tergabung dalam Jaringan Radio Komunitas (JRK) Wilayah Nusa Tenggara Barat. Dari 40 Lembaga Penyiaran Komunitas tersebut ada dua LPK yang memilih komunitas perempuan. Radio Komunitas Perempuan itu adalah Radio Komunitas Pekka FM di kawasan Dusun Batumulik, Desa Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok Barat dan Radio Komunitas Ninanta FM di Desa Ketangga, Kecamatan Swela, Lombok Timur. Suatu jarak yang cukup jauh dari ujung barat ke timur. Pekka Mengunjungi suatu dusun di daerah Kabupaten Lombok Barat, NTB yang sebenarnya tidak jauh dari pusat kota kabupaten tetapi keadaannya terpencil dan boleh dikatakan kurang maju. Dusun itu adalah Dusun Batumulik, Desa Gapung, Kecamatan Gerung. Di sana terdapat sebuah stasiun radio komunitas yang diberi nama Pekka FM. Kata “Pekka� sendiri diambil dari singkatan Perempuan Kepala Keluarga. Menurut pengurusnya, Riadul Wardiah, Radio Komunitas Pekka FM baru berdiri pada Februari 2008, lalu. Berdirinya Radio Komunitas Pekka memang diinisiasi oleh sebuah LSM yang peduli dengan nasib para perempuan kepala keluarga yang keadaannya miskin dan kurang beruntung dibanding perempuan kebanyakan. Tentu kegiatan mereka adalah memberdayakan perempuan di wilayah itu.

Sebelum ada radio komunitas, mereka aktif melakukan pertemuanpertemuan antaranggota komunitas tersebut untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang didampingi dan dibimbing oleh LSM Pekka. Dalam kegiatannya itu, penyebaran informasi seputar masalah-masalah perempuan tentu mengalami hambatan yang cukup berarti. Mereka hanya bisa menjangkau perempuan yang ada di desa itu dan desa-desa sekitarnya melalui pertemuan-pertemuan. Karenanya, mereka menggagas pembuatan sebuah media yang akan membantu menyebarkan kegiatankegiatan Pekka sendiri dan menyebarkan ilmu pengetahuan tentang perempuan kepada seluruh warga masyarakat. Dan mereka memilih radio komunitas. Namun karena dana untuk membangun sebuah radio komunitas mustahil akan bisa dilaksanakan, karena untuk menyukupi kebutuhan hidup mereka sendiri pun pas-pasan, maklum di sana tidak ada laki-laki selaku kepala keluarga. Koordinator Pekka Wilayah Kecamatan Gerung Riadul Wardiah, yang juga penginisiasi pendirian radio komunitas, menuturkan, awal mula adanya sinyal untuk bisa membangun radio komunitas adalah melalui jaringannya yang ada di Jakarta, dari Sekretariat Pusat Pekka. Pekka Pusat banyak bekerja sama dengan beberapa instansi tingkat pusat seperti Kementerian Koordinator Kesra. Dari hasil lobi-lobi, ternyata usahanya berhasil. Dari pihak Menko Kesra merencanakan menyuport perlengkapan radio komunitas untuk Pekka di Lombok Barat yang dikoordinasikan dengan JRKI (Jaringan Radio Komunitas Indonesia). Rakom Pekka FM bersiaran sekitar 12 jam setiap hari, mulai dari pukul 08.00 WITA, lantas beristirahat sekitar satu jam pada puku 13.00 WITA, dan mulai lagi pukul 16.00 hingga 24.00 WITA. Di samping menghibur warga masyarakat sekitar, Radio Komunitas Pekka FM juga tentunya memberikan


7

Ninanta Untuk menuju ke Studio Radio Komunitas Ninanta FM harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Kota Mataram menuju Desa Ketangga, Kecamatan Swela. Itu suatu perjalanan yang cukup melelahkan. Terbangunnya radio komunitas itu merupakan radio komunitas perempuan kedua setelah Pekka FM di Lombok Barat. Lokasi Radio Ninanta FM juga terpencil, berbatasan dengan pelabuhan penyeberangan menuju Pulau Sumbawa yaitu Pelabuhan Kayangan. Di desa itu terdapat peninggalan bersejarah dan merupakan desa tertua. Bukti sejarah itu adalah ditemukannya peninggalan Raja Seleparang, baik berupa perlengkapan persenjataan dan sarana lainnya serta makam yang sampai saat ini terpelihara dan disakralkan oleh masyarakat Pulau Lombok. Di sana, juga berdekatan dengan daerah wisata seperti Air Terjun Lemor yang indah dengan pemandangan pengunungan dan berhawa sejuk.

Radio Komunitas Ninanta FM baru berdiri pada bulan Agustus 2008, yang walaupun radio itu sudah lama diidam-idamkan warga namun hampir-hampir tidak dapat terbangun di desa itu. Helmiatun, warga Desa Ketangga, yang menginisiasi berdirinya Radio Komunitas Ninanta FM, menuturkan, di desanya dua kali gagal mendirikan radio. Dituturkannya, empat tahun lalu, dia bersama teman-temannya bekerja sama dengan sebuah LSM di Mataram, namanya Annisa, yang juga bergerak di bidang pendidikan dan kesejahteraan kaum perempuan. LSM itu tidak jadi mendirikan sebuah radio di desanya karena alasan teknis. Dua tahun lalu, mereka juga gagal mendirikan radio di desanya karena LSM Plan yang sedianya hendak memfasilitasi keburu pindah ke daerah binaan di Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa. Waktu itu, Plan sudah merencanakan dengan matang untuk mendirikan radio. Selama pendampingan tentang peningkatan pemberdayaan perempuan di Desa Ketangga oleh Plan, masyarakat telah mendukung pendirian sebuah radio untuk menyebarluaskan informasi dan menjadikan warga—terutama kaum perempuan—cerdas, serta berperan mengisi pembangunan. Kegagalan kedua membuat pengurus radio yang sudah terbentuk pada saat itu kehilangan semangat. Beruntung masih ada kegiatan berupa sanggar anak—yang diberi nama Sanggar Anak Bagun Mandiri—dan kegiatan ibu-ibu yang tergabung dalam PKK masih dapat melakukan pencerahan bagi kaum perempuan di desa itu. Mungkin, karena niat mendirikan radio, kata Helmiatun, sudah bulat, tiba-tiba ada tawaran untuk mengembangkan radio komunitas di desanya yang dibawa oleh Jaringan Radio Komunitas Wilayah Nusa Tenggara Barat. Mereka pun mengucap syukur apa yang diidam-idamkan selama ini untuk mendirikan sebuah radio tercapai. Radio itulah yang diberi nama Ninanta FM, yang artinya perempuan kita. Program acaranya yang disuguhkan, selain menghibur melalui musik atau lagu-lagu daerah sasak, juga memberikan informasi dalam bentuk dialog interaktif. Mereka juga bersiaran tentang permasalahan perempuan dan meningkatkan pemberdayaan perempuan di desanya. Walaupun Ninanta FM tergolong radio komunitas baru, apalagi dengan sasaran utama perempuan, tidak kalah bersaing dengan radio komunitas lain di Kabupaten Lombok Timur. Ninanta FM sudah banyak mendapat pendengar yang dibuktikan dengan banyaknya request, melalui SMS dan hotline telepon yang masuk ke radionya. Satu kali, salah seorang penyiarnya, Inkong, saat bersiaran membahas tentang gender. Ia banyak mendapat serangan pertanyaan dari warga masyarakat, ada yang mendukung dan banyak juga yang tidak mendukung. “Sampai kewalahan melayani pertanyaan dari para pendengar,” ungkapnya. Syukurnya, menurut Inkong, yang juga sehari-harinya bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di desanya, pertanyaan yang demikian bertubi-tubi dapat diakomodasi dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang dimilikinya. Yang penting, imbuh Inkong, berbicara mengenai pemberdayaan perempuan di desanya mendapat perhatian yang luar biasa dari pendengar dan warga masyarakat sekitarnya. Karena di desanya banyak laki-laki dan para suami yang mencari nafkah ke luar negeri dan meninggalkan anak istrinya. •

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

pengetahuan kepada warganya terutama kaum perempuan untuk selalu bangkit, ikut berperan aktif dalam proses pembangunan. Program acaranya di kemas dalam bentuk dialog interaktif, memutar sandiwara, bersiaran dengan topik-topik masalah pemberdayaan perempuan. Setiap hari bersiaran dipandu oleh penyiar-penyiar dari kalangan anggota Pekka sendiri. Mereka bergiliran sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama sesuai dengan kesempatan untuk menggemakan keberadaan perempuan dan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, baik bidang hukum, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan utamanya peningkatan pendapatan mereka. Mereka terkadang saling rolling bersiaran dengan temannya yang mempunyai kesempatan karena menggarap tanah pertanian, bekerja di kebun, dan mata pencaharian lainnya.

Info Sekilas


8

Utama

Open Sourcing Oleh Niken Lestari

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

K

alau masyarakat umum lebih banyak akrab dengan istilah outsourcing yang berkonotasi negatif, maka penggunaan istilah open source yang konotasinya positif perlu dipopulerkan. Latar belakang sejarah open source adalah mengembangkan diri secara keroyokan. Open source sebenarnya bentuk nyata dari proses mengelola pengetahuan bersama. Sama dengan orang memasak, kalau hanya dengan satu bumbu menjadi kurang sedap. Cita rasa dihasilkan dari ramuan berbagai bumbu dengan komposisi yang sesuai dan racikan yang tepat. Hasilnya akan memuaskan selera banyak orang. Begitu juga hakikat open source. Satu tunas ide diolah bersama oleh banyak kepala dan tangan. Berbagai pemikiran digunakan untuk “mematangkanâ€?-nya menjadi bentuk akhir yang menggugah keinginan untuk mencoba. Prinsip open source adalah masing-masing orang memiliki kekuatan dan kecerdasan yang berbeda. Kalau satu orang mau membuka dan berbagi kotak open source miliknya, akan muncul pengembangan kreativitas dalam berbagai bentuk. Wikipedia (http://www.wikipedia.org) adalah salah satu bentuk open source. Aplikasi itu bergantung pada kontribusi orang-orang yang menuliskan artikel dalam berbagai subjek. Kemudian, komunitas yang tersebar dalam berbagai bidang keilmuan akan meninjau dan menilai kembali validitas fakta dalam artikel. Hambatan dalam berbagi adalah rasa ketakutan dicontek. Namun, secara umum, masalah terbesar bukan mengenai orang lain mencuri ide kita melainkan kita yang tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan ide itu. Siapa pun dapat memiliki ide bagus dan hebat. Ide macam Google pun tidak hanya dimiliki Larry Page dan Sergey Brin, tapi mereka berdua telah berbuat sesuatu untuk membangunnya. Kreativitas tidak ditentukan dari segudang ide yang dimiliki seseorang yang ingin melakukan dan mengontrol seluruh pelaksanaan idenya seorang diri. Ide banyak bertebaran di sekitar kita tetapi sulit menemukan orang-orang dengan semangat yang sama untuk berbagi dan berkolaborasi mewujudkan suatu ide. Dengan pemahaman bahwa open source digerakkan dari kumpul-kumpul di warung, kampus, mal, forum internet, bahkan rumah teman maka karya yang dilahirkan lebih besar dari nilai teknis yang ada di dalamnya. Jika sebuah komunitas bergerak bersama mengembangkan sebuah ide maka hasilnya akan berdampak secara masal daripada ketika satu orang saja yang mengembangkannya. Proses melibatkan komunitas dalam pengembangan sebuah ide merupakan tantangan besar karena dapat terjadi konflik. Namun, konflik dapat dikendalikan dengan pengelolaan yang sehat dan semangat open source yang kuat. Jika praktik outsource yang merugikan dapat berjalan, tidak mustahil praktik open source berkembang lebih besar. •


Utama 9

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008


10 Utama

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

S

eberapa pun murahnya Microsoft, tetap menciptakan ketergantungan. Jadi harga bukan isu krusial, tapi lebih kemandirian sebuah bangsa dan mencegah pelarian devisa...” Kalimat itu mengalir dalam percakapan dengan Ahmad Suwandi. Sosok yang selama ini banyak bekerja dengan teknologi informasi untuk bencana bersama Yayasan AirPutih. Yayasan AirPutih sendiri, menurut Wandi (sapaan Ahmad Suwandi, red), adalah sebuah yayasan yang kemunculannya akibat dua “kecelakaan”. Kecelakaan yang pertama, AirPutih muncul dan berawal dari aksi tanggap darurat peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Kedua, karena para pegiat AirPutih adalah para penjaga warnet (warung internet) di Malang yang mengadu keberuntungannya dengan merantau ke Jakarta. Bencana dan AirPutih Tepat dua hari pascabencana tsunami di Aceh, AirPutih mengirim dua orang yang bertugas menulis berita terkini dan membangun jaringan internet. Karena tidak adanya jaringan telekomunikasi di Aceh, internet menjadi kebutuhan banyak pihak, baik LSM nasional, internasional, sampai pemerintah daerah. Pengiriman tim pertama, membawa satu buah unit VSAT (Very Small Aperture Terminal—stasiun penerima sinyal dari satelit dengan fungsi utama adalah untuk menerima dan mengirim data ke satelit). Setelah tim perintis berhasil membangun satu titik, AirPutih kemudian mengirim tim kedua yang membawa delapan buah VSAT dan pada gilirannya berhasil membangun 23 titik jaringan internet di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam perkembangannya, aktivitas AirPutih mendapat dukungan dari berbagai pihak. Maka dibentuklah Yayasan AirPutih, penamaan yang tidak serta-merta. Sebab, kata AirPutih sendiri berasal dari milis yang berisikan kumpulan jokejoke ala Jawa Timur-an. Kerja-kerja Yayasan AirPutih selanjutnya memfokuskan diri pada jalur informasi darurat berbasis internet di wilayah bencana seperti Pangandaran, Yogyakarta, banjir besar Bengawan Solo, Mentawai, Bengkulu, dan Porong, Sidoarjo. Dua tahun sudah perjalanan Yasasan AirPutih dalam keterlibatannya merespons berbagai bencana di Indonesia. Sampai sekarang emergency respons team dan Early Warning System (EWS) selalu siap kapan pun dibutuhkan. Keseriusan dan totalitas untuk kerja-kerja penanganan bencana tercermin dengan langkah AirPutih menggandeng BMG sebagai mitra dan meletakkan server EWS di BMG. Yayasan AirPutih juga menyebar 11 unit komputer di stasiun televisi nasional dan enam jaringan radio nasional. Jika ada gempa berpotensi tsunami, maka semua alat tersebut akan bekerja secara otomatis. Melalui langkah itu, AirPutih mencoba mengirimkan secepat mungkin pesan bencana ke masyarakat. Selain menjadi lembaga yang sangat dekat dengan penyebaran informasi kebencanaan, AirPutih juga melakukan gerakan sosialiasi dan pendidikan Open Source (OS). Lantai dua kantor AirPutih di Aceh dan Jakarta digunakan sebagai resource center bagi para pegiat LSM dan masyarakat sipil untuk belajar OS secara gratis. Selain itu, AirPutih juga menjadi fasilitator IT untuk masyarakat dengan memberikan free hosting dan training bagi NGO. OS dan AirPutih OS bukan menjadi “mainan” baru bagi AirPutih. Karena kebanyakan pegiat AirPutih adalah praktisi yang semuanya akrab dengan OS. Wandi menjelaskan belum ada aplikasi apa pun yang bisa mengalahkan aplikasi OS untuk jaringan. “Semisal aplikasi untuk server yang dipake Centos yang sudah dimulai sejak lama. Sementara, karena pegiat AirPutih kebanyakan adalah 'tukang IT', Vedora menjadi alat yang nyaman untuk dipakai,” tutur suami dari Meyrinda Nauli itu. Kini, AirPutih terpanggil untuk turut andil dalam sosialiasi OS di Indonesia, terlebih ketika pemerintah Indonesia mengeluarkan IGOS (Indonesia Go Open Source). Dengan sudah familiarnya OS di kalangan AirPutih, pada akhirnya, AirPutih memutuskan gerakan sosialiasi OS sebagai salah satu pilar program AirPutih. Selain faktor dalam lembaga yang sudah sangat siap secara SDM, faktor external juga menjadi pemicu semangat. “Belum banyak orang yang paham OS dan jika kemudian pengetahuan yang

AirPutih Terus Berjuang

untuk

OS

Oleh Saiful Bakhtiar


11

Utama

Selain pendekatan budaya lokal, terobosan lain yang coba dilakukan AirPutih di Aceh tiap akhir pekan AirPutih membuat training IT bagi pengunjung cafe. Sambil minum kopi ditayangkan slide bagaimana bermigrasi ke OS dan bagaimana membuat blog. Ketika ditanya bagaimana dengan dua daerah lainnya, Yogyakarta dan Jakarta? Ayah dari R Cundacinta dan M Dunda Rizwaan mengatakan, dalam kenyataannya, Yogyakarta dan Jakarta sangat berbeda karakter dengan NAD dalam hal pengenalan OS. Meskipun Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar, namun tingkat kesulitan migrasi ke OS lebih sulit. Menurut Wandi, hal itu terjadi karena pengetahuan belum selaras dengan pemahaman. “Mereka tahu OS dan membajak, namun hanya dipahami sebagai pengetahuan belum pada pemahaman,” jelasnya. Maka, strategi yang diterapkan pun berbeda dengan Aceh. Di Yogyakarta dan Jakarta, AirPutih lebih banyak bergerilya dan menggandeng partner strategis seperti LSM Satu Dunia maupun sekolah-sekolah. Di tengah berbagai upaya untuk memperkenalkan OS, Wandi menambahkan masih banyak kekonyolan di kalangan pegiat LSM atau

kelompok masyarakat sipil yang mengagung-agungkan kebenaran tetapi tetap melakukan pelanggaran hak cipta (dengan memakai bajakan, red). Mereka sekali lagi belum melihat betapa kronisnya ketergantungan terhadap Microsoft dan parahnya pembajakan. “Sekali lagi, seberapa pun murahnya Microsoft tetap menciptakan ketergantungan. Jadi harga bukan isu krusial tapi lebih kemandirian sebuah bangsa dan mencegah pelarian devisa. Jika kita beli dengan US$ 100, uangnya berkutat di Indonesia atau lari keluar? Kalau kita pakai OS, untuk jasa servis kita memakai tenaga kerja lokal,” papar Wandi. Perkembangan penggunaan Open Source di Indonesia menunjukan grafik yang terus meningkat. Tercatat pada tahun 2008, pengguna OS di Indonesia menempati urutan nomor dua di dunia. Dari kenyataan tersebut, Wandi optimis lima tahun mendatang, ketika kurikulum sekolah sudah bergeser ke OS maka akan banyak perubahan yang terjadi. •

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

dimiliki hanya dinikmati sendiri maka terlalu arogan,” tuturnya lagi. Selain itu, AirPutih sering mendapat pertanyaan tentang virus dan barang bajakan, maka pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi AirPutih. Memang bukan sebuah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan dalam proses sosialisasi Open Source di Indonesia. Faktor kebiasaan menjadi kendala yang paling sering dihadapi. Orang yang sudah terbiasa dengan yang berbayar dan dihadapkan dengan OS sehingga sangat susah untuk belajar. Kendala lainnya adalah faktor korupsi. Dengan menggunakan software berbayar, peluang korupsinya lebih besar. Hal itu menjadi sumber pendapatan ilegal bagi beberapa orang. Semisal, dalam anggaran ada pembelian software, padahal aplikasi yang dimasukkan ternyata bajakan dan bukan yang asli. Sementara dengan OS hampir tidak ada bea pembelian software. Tidak ada jalur untuk “bermain”. Kendala lainnya adalah ketidaktahuan. Masyarakat banyak yang tidak tahu bahwa ada software lain selain Windows. Untuk mengetik tidak hanya Microsoft Word, ada aplikasi lainnya. Ironisnya banyak warga yang tidak tahu. Anggapan komputer itu Windows seolah sudah tertanam dalam benak sebagian pengguna komputer awam di Indonesia. Menjadi tantangan tersendiri bagi pegiat AirPutih melihat kondisi di atas. Berbagai pola pendekatan pun dilakukan. Tiga daerah yang menjadi wilayah sosialiasi OS adalah NAD, Yogyakarta, dan Jakarta. Strategi yang dilakukan oleh AirPutih adalah dengan tidak menunjukkan tampilantampilan yang “menakutkan”, seperti tampilan-tampilan dengan bahasa pemrograman. Tampilan bahasa program akan membuat orang takut seolah-olah OS itu susah. Dengan menyajikan tampilan OS yang “sexy” dan keren akan mendorong warga untuk mencoba. Kedua, dengan pendekatan budaya lokal. Hal itu seperti yang dilakukan AirPutih saat di Aceh. Dengan mengusung isu barang bajakan itu haram, mendapat respons yang luar biasa dari berbagai kalangan. Pendekatan budaya lokal itulah yang dirasakan manjur di Aceh bahkan secara nyata Pemerintah Provinsi NAD menyatakan dukungannya. Kini, pemerintah setempat tengah menyiapkan kanun atau peraturan daerah yang menyarankan penggunaan OS.


12

Utama

Open Source sebagai

“Obat” Ketergantungan Akut Oleh Saiful Bakhtiar

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

B

erawal dari 20 orang yang memiliki latar belakang profesi yang berbeda, programmer, hukum, media, dosen, mahasiswa, desainer, bahkan ada juga pengusaha, YPLI (Yayasan Penggerak Linux Indonesia) lahir pada Oktober 2004 di Jakarta. YPLI lahir dengan niatan untuk memberikan motivasi supaya banyak orang mau menggunakan dan mengembangkan Linux di Indonesia. Linux sendiri merupakan salah satu contoh hasil pengembangan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka utama. Seperti perangkat lunak bebas dan sumber terbuka lainnya pada umumnya, kode sumber Linux dapat dimodifikasi, digunakan, dan didistribusikan kembali secara bebas oleh siapa pun. YPLI sendiri mempunyai program utama membuat distro linux yang digunakan khusus pengguna komputer di Indonesia. Distro merupakan satu proyek yang bertujuan untuk mengatur sebuah kumpulan perangkat lunak berbasis Linux dan memfasilitasi instalasi dari sebuah sistem operasi Linux. YPLI mengeluarkan distro dengan nama BlankOn. Persis empat bulan setelah YPLI berdiri, BlankOn versi pertama dirilis. Pada 2006, YPLI sempat vakum dari kegiatan pengembangan. Baru pada November 2007, BlankOn versi dua dikeluarkan. Lantas, Mei 2008, versi ketiga kembali muncul, dan berencana pada November 2008 BlankOn versi keempat bisa keluar. Program YPLI adalah sosialiasi OS dalam—hal ini Linux—ke semua pengguna komputer. Selain itu, YPLI juga bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan LSP Telematika dalam bidang sertifikasi peningkatan sumber daya manusia di bidang Linux dan Free/Open Source Software (FOSS), melakukan training calon assecor atau penilai sertifikasi, menyiapkan modul-modul pelatihan, soal-soal untuk sertifikasi Linux nasional. Juga, membuat dokumen-dokumen pelatihan atau panduan pemakaian aplikasi OS, seperti instalasi, server, pemrograman, dan beberapa panduan lainnya. YPLI tidaklah berjalan sendiri dalam menyuarakan penggunaan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka utama atau Open Source di Indonesia. Pertemuan awal YPLI dan Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) di tahun 2006 berhasil mengumpulkan puluhan KPLI seluruh Indonesia di Surabaya. Tahun berikutnya, pertemuan diselenggarakan di Yogyakarta. Untuk tahun 2008, direncanakan akan diadakan di Bali. Hubungan YPLI dan KPLI hanya sebatas sesama komunitas atau aktivis di bidang Linux atau OS, bukan hubungan atas dan bawah, namun sifatnya


13

rumah, di kampus, atau di mana pun harus membajak karena tidak mampu beli. Melihat adanya geliat gerakan Open Source di Indonesia, YPLI bersama dengan berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap Open Source kemudian mendirikan AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia). Kehadiran AOSI diharapkan akan dapat menekan pemerintah dalam artian yang positif. Membuka mata para pengguna IT, khususnya pemerintah, bahwa penggunaan OS akan banyak menghemat devisa, membawa kemandirian bangsa lebih baik, tidak tergantung pada pihak lain, juga tidak dapat ditekan. Berbagai upaya akan terus dilakukan dengan pendekatan kepada berbagai pihak, baik pemerintah—dengan menjelaskan bahwa OS itu pilihan yang terbaik untuk Indonesia, maupun ke kampus, sekolah, dan masyarakat. YPLI berharap Pemerintah Indonesia sudah mulai melihat dan menatap ke depan dalam penggunaan aplikasi komputer. Lebih lanjut, Rusmanto mencontohkan Brasil telah berhasil membuat UU khusus untuk penggunaan OS. “Perekonomian Indonesia sebenarnya masih lemah, sehingga sangat tepat jika penggunaan Open Source menjadi keputusan pemerintah,” tutur Rusmanto. Dampak yang akan sangat terasa adalah akan mendorong industri-industri dalam negeri untuk pengembangan IT. Dukungan pemerintahan tidak hanya dalam bentuk keputusan Presiden. Bahkan, jika pemerintah serius dibuatkan undang-undang khusus. Kesadaran itu dilatarbelakangi pemikiran bahwa gerakan Open Source menyangkut hidup orang banyak, karena kalau kita terus membajak, kita akan dikucilkan. Agar martabat bangsa terangkat yang harus berani dan tegas menghentikan penggunaan peranti yang diperoleh dengan membajak, OS solusinya. Kalau pun dalam pemakaian Open Source harus mengeluarkan uang maka maka perputaran uang itu akan berada di dalam negeri karena tidak ada bea lisensi keluar. Tentu saja itu akan menguntungkan negara kita sendiri. OS dan industri Kebutuhan akan SDM OS sangat tinggi namun tidak bisa diimbangi oleh SDM yang cukup untuk menguasai OS. Sehingga, sekarang ini, jika kita mampu menguasai aplikasi OS maka peluang bekerjanya jauh lebih tinggi. Tingginya kesdaran di dunia industri—karena dengan menggunakan OS bagi perusahaan akan menghebat bea lisensi, juga ketersediaan source code sehingga keamanan lebih terjamin. Optimisme pun muncul dari para pegiat Open Source terlebih dengan semakin meningkatnya pengguna OS baik perseorangan maupun industri. Ditambah, jika pemerintah sadar lebih mengupayakan OS. Kesadaran di tingkat instansi lebih karena kesadaran itu muncul dari lembaga tersebut. Jika diiringi keputusan bersama, maka membuka peluang kepada perusahaan-perusahan lokal untuk memberikan dukungannya. Berapa banyak penghematan devisa dan berapa banyak tenaga kerja yang akan terberdayakan, juga tingginya martabat Indonesia sebagai bangsa? Masihkan kita berpikir ulang? •

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

patnership. Untuk urusan dengan pemerintah, YPLI secara informal sering mewakili KPLI-KPLI seluruh Indonesia untuk berurusan dengan pemer intah atau dengan donatur. Karena tidak ada KPLI nasional dan KPLI sendiri organisasi yang belum berbadan hukum. Tidak sekadar gratisan Untuk promosi aplikasi OS seperti Linux membutuhkan dana dan SDM yang tidak sedikit. Sementara itu keangggotaannya pun bersifat sukarela, sehingga pegiatnya pun tidak bisa dikekang dengan aktivitas pribadi mereka. Di sisi lain, YPLI menyadari sepenuhnya bahwa keterbatasan dana untuk promosi menjadi salah satu hambatan terbesar dalam laju perkembangan OS di Indonesia. Selain kurangnya kegiatan promosi, di Indonesia, membajak adalah sesuatu yang masih dianggap lumrah. “Padahal, membajak itu melanggar moral dan hukum tapi kesadaran itu masih kurang juga penegakan huk umnya. Akibatnya orang masih lebih suka ngebajak,” tutur Rusmanto. Kendala lainnya adalah tingkat ketergantungan masyarakat yang sudah tinggi sehingga ketika dihadapkan pada pilihan lain maka berat meninggalkan yang lama. Juga, aplikasi OS, sementara ini, belum did ukung oleh perusahaan software besar. Dalam keseh arian yang ditemui, aplikasi game masih banyak yang belum berbasis OS. Namun Rusmanto menambahkan, ke depannya dengan berjalannya waktu maka driver dan software akan terus berkembang. Apalagi, sekarang ini, di jajaran Pemerintah Indonesia baru dua departemen yang serius mendukung penggunaan aplikasi OS seperti Linux, yaitu Kementrian Kominfo dan Ristek. Sementara kementrian lain belum muncul adanya dukungan yang nyata terhadap gerakan OS. Lebih lanjut, pria berkacamata itu menilai, secara umum, pemerintah belum seratus persen melihat potensi penghematan yang luar biasa. Ketika ditanya pengaruh kehadiran pendiri Microsoft ke Indonesia beberapa waktu lalu dan pengaruhnya, Rusmanto mengatakan, “Kehadiran Microsoft belum ada efek yang signifikan. Yang muncul kemarin hanyalah ceremonial belaka.” Dukungan yang lemah dari pemerintah terlihat dengan masih adanya tender-tender di bidang IT yang mensyaratkan harus menggunakan Windows dan Microsoft Office. Rusmanto melihat dengan masih adanya sistem tender seperti itu, lagi-lagi Indonesia tanpa terasa masih dicekoki dengan barang-barang yang sangat mahal. Lebih parah lagi, pada akhirnya, jika pengguna akan menggunakan aplikasi tersebut di

Utama


14

Utama

Migrasi Open Oleh Hatib Abdul Kadir

M

Sou

igrasi adalah sebuah perpindahan sebagai upaya manusia menuju ke jalan yang lebih baik. Perjalanan ke arah yang lebih baik itulah yang tampaknya tengah dilakukan oleh Combine Resource Institution (CRI). Beberapa kronologisnya adalah, pada waktu itu, tepatnya bulan September 2007, CRI diminta menjadi host di Yogyakarta tentang perkenalan dan penggunaan OSS (Open Source Software) yang bekerja sama dengan Departemen Riset dan Teknologi dan Yayasan Air Putih. Berangkat dari kerja sama itu, akan terasa sangat aneh jika CRI yang menjadi host tapi para stafnya masih menggunakan sistem operasi komputer yang menciptakan ketergantungan, Windows. Maka lembaga mulai bertekad untuk melakukan migrasi. Di lain cerita, seorang staf bernama Joyo (demikian sapaan akrabnya), hingga beberapa kali, komputer yang digunakan Joyo yang menggunakan software bajakan sempat terdeteksi oleh pihak Microsoft , seperti screen komputer yang tiba-tiba terbalik, misalnya. Pendeteksian itu sangatlah mengganggu kinerja beberapa karyawan karena beberapa komputer harus diinstal ulang, namun gangguan tersebut tidaklah berhenti. Rentetan “gangguan� itu pula salah satu yang menjadi alasan mengapa pada akhirnya lembaga memutuskan untuk menggunakan OSS. Pada sisi ideologis, Operating System Computer Windows telah menjebak pada ketergantungan pengguna, rentan


15

rce,

Utama

Menuju Jalan yang Lebih Baik

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

terhadap virus, dan tidak murah untuk menggunakannya. Hingga akhir tahun 2007, keyakinan CRI telah menggumpal dan pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada OSS sebagai rekan kerja yang aman, menyenangkan, dan membanggakan. Hingga pada akhirnya, CRI melakukan migrasi secara bersama sekitar awal tahun 2008. Menyadari tenaga IT yang terbatas dan pengetahuan terhadap penggunaan OSS masihlah terbata-bata, maka diadakanlah pelatihan yang bekerja sama dengan KPLI (Kelompok Pecinta Linux Indonesia) selama satu bulan. Pelatihan tersebut antara lain berisi pengecekan proses instalasi kembali dan menata ulang. Dokumentasi dan setiap komputer mengantri untuk dikonsultasikan mengenai penggunaan OSS Tidak lupa pula pelatihan itu juga dibekali visi-visi ideologis mengapa harus menggunakan OSS. Berbagai pelajaran yang bisa dipetik dari proses migrasi itu adalah banyak staf yang selama satu bulan pascapelatihan masih sulit beradaptasi dengan penggunaan OSS, karena sebelumnya telah terbiasa menggunakan Windows Microsoft. Kasus itu terjadi, misalnya, pada penggunaan Microsoft Excell bagi kru yang bekerja di bidang accounting, kebingungan ketika menggunakan Open Sussex. Pada kasus Open Office pengguna menghadapi kesulitan harus mencari berbagai tools yang belum diketahui dengan pasti tempat persembunyiannya. Namun demikian, semua hambatan rata-rata hanya pada masalah belum terbiasa dan proses adaptasi terbentur dengan kesibukan beban kerja para staf di lapangan. Sedangkan dari sisi teknis, berbeda jika dibanding pada awal tahun 2008, berbagai hambatannya adalah dalam satu kali instalasi ke OSS tidak semua aplikasi bisa masuk. Hal itu berbeda dengan sekarang, di mana ketika pengguna menginstall Ubuntu 7, 0 atau 8,04 otomatis langsung menginstal semua aplikasi. Hambatan penggunaan juga terjadi pada multiplayer yang tidak support terhadap CD yang dimasukkan. Agar dapat terbaca, perlu adanya upgrade beberapa program, seperti upgrade codex yang tidak familiar dan belum terbiasa menggunakannya. Berbagai aplikasi yang ada di Windows juga banyak yang tidak ditemui di OSS, seperti di multi media, misalnya, yang sangat minim animasi dan fiturnya. Namun demikian, hanya dalam hitungan bulan, sistem operasi OSS mampu membenahi dirinya, baik dalam fasilitas, tampilan, dan kemudahan. Keoptimisan terhadap berkembangnya OSS dikarenakan banyak perusahaan seperti IBM, HP, Netscape, DELL, Sony, yang menawarkan berbagai produk yang kompatibel dengan OSS. Dengan demikian, kemungkinan besar berbagai permasalahan OSS ke depan ak an semak in berkurang, dan alasan tidak menggunakannya menjadi semakin lemah.


Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

16

Proses migrasi internal Penggunaan OSS di radio komunitas yang sekarang tidak dijadikan sebagai program wajib seperti yang dilakukan di CRI. Sehingga masih banyak radio yang menggunakan komputer dengan Windows sebagai pilihan sistem operasinya. OSS diperkenalkan secara personal ketika CRI menjalankan berbagai program kerja samanya dengan radio dampingan seperti Radio Komunitas Angkringan di Bantul, misalnya. Pendekatan CRI terhadap penggunaan OSS masih disekitaran wacana antarpersonal. Seperti ketika beberapa rekan CRI yang membawa laptop, kemudian mendemokan penggunaannya pada beberapa rekan di lembaga lain tentang OSS. Pengenalan penggunaan OSS tersebut terselip di antara obrolan formal dalam sebuah program yang tengah berjalan. Hal itu merupakan salah satu strategi awal sebagai pengenalan. Untuk mempelajari dan melakukan migrasi OSS diperlukan berbagai pelatihan, seperti di CRI beberapa bulan lalu. Namun demikian, mengingat sibuknya agenda yang dilakukan oleh para staf CRI menyebabkan agenda untuk pelatihan migrasi di berbagai radio komunitas dampingan belum terlaksana secara serius. Sementara itu, CRI sendiri tengah belajar untuk terus memantapkan migrasi secara internal di antara para stafnya sendiri. Akan sangat janggal jika di internal CRI sendiri belum selesai melakukan proses migrasinya, namun mencoba menjadikan dirinya sebagai teladan bagi lembaga lain, atau mengajari lembaga lain cara bermigrasi ke OSS secara sempurna. Rencana CRI untuk melakukan pendampingan memerlukan kinerja sinergis antara tenaga ICT dan tenaga capacity building di lapangan. Sedangkan pada tahun ini, semua divisi telah dipenuhi dengan berbagai kesibukan dengan program lainnya. Ditambah, bahwa hingga saat ini, tenaga IT sangat sibuk dengan harus cepat-tanggap terhadap berbagai keluhan troubleshooting dan pendampingan para staf “end userâ€? OSS di CRI yang mencapai lebih dari 20 orang, sedangkan tenaga ahlinya sendiri hanya ada tiga personel. Dengan demikian dibutuhkan sebuah kesepakatan untuk melakukan pelatihan dengan tema yang sama, sebagai misal, mengumpulkan rekanrekan dampingan dari Radio Komunitas Lintas Merapi dan melakukan pelatihan secara bersama. Pelatihan juga bisa dilaksanakan berdasarkan mengumpulkan kluster pada kelompok radio dalam program yang sama, kemudian tinggal menentukan tempat untuk diadakan pelatihannya. Tidak menutup kemungkinan juga pelatihan dilakukan secara bersama, semua radio komunitas dari berbagai program yang berlainan dikumpulkan jadi satu. Hal itu tergantung pada sumber daya tenaga pelatih, sumber daya dana, serta waktu dan jarak. Beberapa radio dampingan seperti misal di Radio Panagati di Terban; Radio komunitas di Minomartani; Suara Malioboro yang perduli dengan isu anak jalanan; Radio Komunitas di Bantul; Parangtritis; hingga Radio Komunitas Swadesi di dekat Piyungan, Banguntapan. Dari semua radio komunitas di atas tidak semua pengelolanya mengenal komputer dan tidak semua kru di radio komunitas mampu menjalankan komputer. Beberapa kru di radio komunitas melihat bahwa tuntutan yang paling besar pada saat ini adalah keinginan untuk belajar internet terlebih dahulu. Sehingga isu mengenai migrasi terhadap penggunaan OSS dianggap sebagai pilihan tahap lanjut. Dengan demikian, salah satu strategi efektif dan menyenangkan bagi pengguna awal komputer adalah memberikan pelatihan mengenai penggunaan OSS sekaligus internet sebagai fasilitas yang mengikut di dalamnya. Untuk mengukur sebuah kesuksesan migrasi, tidak perlu semua kru kemudian paham benar tentang software dan berbagai troubleshooting di OSS. •

Utama

Dengan demikian, suksesnya migrasi pada lembaga menjadikan CRI sebagai sebuah unit kesatuan kelak diharapkan mampu mengintegrasi tiga hal, yakni: 1.

2.

Migrasi OSS dalam CRI menjadi sentrum percontohan dari penggunaan OSS secara massif bagi lembaga lainnya. Berbagai database, manual book, tenaga pelatih hingga end user adalah organ-organ yang secara sinergis mempunyai kemampuan untuk menularkan proses pengetahuan OSS ini terhadap individu dan lembaga lain. Permasalahan yang tak kalah penting adalah bagaimana menularkan proses kesadaran migrasi OSS kepada masyarakat secara luas. Terutama masyarakat di area radio komunitas yang menjadi konsentrasi dampingan bagi CRI. Membuat masyarakat lebih baik tentunya tidak membiarkan mereka menjadi tergantung dengan vendor global seperti Microsoft yang demikian mahal untuk dijangkau oleh masyarakat pinggiran.


15

D

ari pers release Hasil Survey/Polling Penggunaan Software Ilegal, sampai dengan hari ketujuh pada 23 Maret 2008, menunjukkan total responden adalah 441 orang, dan rasio penggunaan software ilegal vs software legal adalah sebesar 75 persen (335 responden) versus 23 persen (96 responden). Walaupun persentase penggunaan software ilegal hasil survey/polling itu sebesar 75 persen, yang masih di bawah angka yang sering dikutip pihak asing sebesar 85 persen. Namun, kami khawatir bila angka tersebut meningkat mendekati 85 persen atau bisa jadi lebih besar dari angka tersebut di atas, sejalan dengan meningkatnya jumlah pesarta survey/polling.

Tips

untuk Tidak Menggunakan

Utama 1.MultimediaOffice Audacity Sound Editor 2.MultimediaOffice Base (Data Base) 3.MultimediaOffice Calc (Excel) 4.MultimediaOffice Draw (Paint) 5.MultimediaOffice GIMP Image Editor (Photoshop) 6.MultimediaOffice Impress (Power Point) 7.MultimediaOffice Math (Mathematical expressions) 8.MultimediaOffice Opera web Browser 9.MultimediaOffice Thunderbird e-mail (Outlook Express) 10.MultimediaOffice Virtual Dub Video 11.MultimediaOffice Writer (Word) Kesemuanya di-compress dalam satu file sebesar 52 Mbytes, dan dapat ditemukan di lokasi URL dari Plata Software Inc di http://www.platasoft.eu/main/?. Kami harapkan informasi ini dapat dengan drastis menurunkan tingkat penggunaan software ilegal di Indonesia, bila mungkin menjadi yang terendah di dunia. •

Software Ilegal

Oleh Hendra Indriyanto

Ada empat penyebab utama mengapa banyak para pemakai komputer/PC/laptop di Indonesia memakai software ilegal, yaitu:

Dalam kerangka untuk membangun masyarakat Indonesia yang tertib hukum dan dalam rangka untuk meningkatkan citra bangsa dan negara Indonesia di dunia internasional, maka kami menyarankan agar: 1.Bagi perusahaan/lembaga/instansi/individu yang memiliki dana yang cukup, maka dipersilakan untuk menggunakan software-software proprietary legal (berlisensi) sesuai kebutuhannya. 2.Bagi perusahaan/lembaga/instansi/individu yang hanya memiliki dana terbatas, maka direkomendasikan untuk menggunakan software operating system proprietary (Windows/Mac) yang legal (berlisensi); atau software aplikasi Open Source, kombinasi SW aplikasi Open Source dan proprietary legal; operating system Open Source dan SW Aplikasi Open Source. Kami ingin tambahkan pula bahwa saat ini telah tersedia di internet yang dapat di-download secara gratis, sebuah paket lengkap software-software aplikasi, yaitu Multimedia Office dari Plata Software buatan Spanyol yang berlisensi GPL (General Public License), yang berisikan:

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

1.Harga software proprietary yang sangat tinggi dibandingkan dengat daya beli masyarakat Indonesia pada umumnya menyebabkan banyak yang mengambil jalan pintas untuk melakukan pembajakan software proprietary. 2.Kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya yang sudah mendarahdaging menggunakan software proprietary berbasis MS Windows. 3.Murah dan mudahnya masyarakat Indonesia untuk memperoleh softwaresoftware proprietary bajakan. 4.Kurangnya sosialisasi dan promosi penggunaan software Open Source sebagai alternatif yang sangat tepat, karena dapat diperoleh secara gratis atau murah tanpa melanggar UU HAKI.


18

Ekonomi Rakyat

Limbah Ikan Pun Jadi Kerupuk Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

Oleh Marwan

D

engan latar pendidikan yang dimiliki sebagai sarjana perikanan IPB, Wildan Mathlubi berhasil menyulap limbah kulit ikan menjadi makanan ringan yang dikemas dalam bentuk kerupuk ikan yang kaya akan protein. Alhasil, Wildan mampu membangun usaha di usianya yang masih muda, 25 tahun. Ide memanfaatkan limbah kulit ikan, mulai terbersit di pikiran Wildan saat dirinya melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu perusahaan ikan fillet di Bogor pada tahun 2002. Wildan melihat puluhan kilogram kulit ikan hasil pengolahan terbuang percuma setiap hari. ”Nah, pada saat itu memang limbah berupa kulit ikan itu tidak dimanfaatkan, itu hanya dibuang begitu saja. Oleh karena itu, saya sebagai mahasiswa teknologi di bidang perikanan mencoba untuk mengembangkan sebuah teknologi sederhana yang kita gunakan supaya bisa meningkatkan nilai tambah (added value) dari ikan tersebut. Setahu saya, kulit ikan itu mengandung banyak protein sehingga tebersit bagaimana memanfaatkan limbah itu,” tutur Willy, panggilan akrab Wildan Mathlubi, saat menjelaskan awal mula menekuni bisnis yang digelutinya sejak berstatus mahasiswa itu. Ide itu mulai dikembangkan Willy lewat sebuah penilitian yang sekaligus dijadikan sebagai bahan penyusunan skripsi. Kerupuk ikan olahan Willy ternyata cukup diminati oleh kalangan kampus. ”Pertama pemasaran sekitar kalangan kampus aja sebagai oleh-oleh dari IPB atau Bogor kalau ada yang berkunjung ke IPB. Awalnya hanya iseng sebetulnya. Jadi kita hanya mencoba dari limbah itu dibuat kerupuk, kerupuk itu coba dipasarin hanya pada kalangan terbatas. Jadi belum ada niatan sama sekali waktu itu memperbesar usaha ini, menjadi unit usaha besar,” ungkapnya. Usai PKL, Wildan membuka bisnisnya dengan modal awal Rp 200.000. Duitnya dipakai untuk membeli bahan baku kulit ikan patin dan kakap dari Muara Angke sebanyak 10 kilogram. Setelah melalui pengolahan yang cukup sederhana dibantu oleh seorang karyawan mampu menghasilkan olahan kerupuk ikan yang gurih dan kaya protein. ”Saya membidik pasaran menengah ke bawah seperti sekolah-sekolah. Tujuannya sederhana, memberikan camilan kaya protein kepada adik-adik di sekolah dasar,” kenang alumnus Intistut Pertanian Bogor (IPB) itu. Menurutnya, usaha olahan kulit ikan itu termasuk dalam kategori usaha musiman karena produksi ikan sendiri juga musiman. Jadi, pada saat bulan-bulan tertentu panen raya, bahan bakunya melimpah, namun pada bulan lain bisa kosong sama sekali. Panen raya itu biasanya sekitar bulan Januari hingga Juni, stok banyak, tapi setelah bulan Juni–Agustus sampai September–bahan baku sudah berkurang bahkan mulai kosong. Guna menjaga ketersedian bahan baku, Willy telah membangun kemitraan dengan nelayan di berbagai daerah, seperti Jakarta, Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. ”Ya, otomatis sudah terjadi kemitraan dengan nelayan karena kalau kerja sama itu tidak saya jalin bagaimana mungkin saya dapat barang


19

Tanpa pengawet Bagaimana membuat olahan kerupuk ikan yang gurih dan kaya protein? Menurut Wildan, yang pertama dilakukan penyortiran bahan baku untuk mengetahui layak tidaknya kulit ikan itu digunakan sebagai bahan baku kerupuk. Selanjutnya, sisa daging atau darah yang masih menempel pada kulit ikan dibersihkan selama beberapa kali pembersihan sampai kulit itu kelihatan putih bersih. Setelah dibersihkan, bahan baku itu lalu direndam dengan menggunakan berbagai jenis bumbu dapur Perendaman dalam bumbu sampai meresap kurang lebih 15-20 menit. Sayangnya, Willy tak mau mengungkapkan jenis dan takaran bumbu dapur yang ia gunakan, karena menurutnya itu rahasia perusahaan. ”Yang jelas, menggunakan bumbu dapur saja paling garam dan yang lainnya saya tidak bisa jelaskan karena itu rahasia perusahaan,” ujarnya. Kemudian, dilanjutkan dengan penjemuran sampai kering, sekitar kurang lebih selama dua hari kalau cuacanya bagus. Kalau cuacanya kurang bagus, pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven. Usai dijemur, karena kulit itu panjang–ada mencapai setengah meter–dilakukan pengguntingan panjang 5-10 cm, baru digoreng. Lalu dikemas dan terakhir dipasarkan. Lalu apa keistimewaan kerupuk kulit olahan Willy dibandingkan dengan olahan ikan dari tempat lain? Menurut pengakuan Willy, kerupuk kulit ikan yang dia produksi tidak menggunakan bahan pengawet apa pun, tetapi murni mengandalkan komposisi bumbu alami. Kedua, mengandung protein yang tinggi karena kerupuk itu murni terbuat dari kulit ikan patin dan kakap. Kelebihan lainnya, konsumen, terutama pelanggang, tetap senantiasa dilibatkan dalam penentuan cita rasa. ”Kalau cita rasanya kami serahkan kepada konsumen. Malahan kadang ada permintaan rasa tertentu dari Tangerang. Jadi kalau bumbu itu tergantung dari agen yang minta seperti ini, maka bumbunya dibuatin. Jadi tidak ada sesuatu yang khas, paling hanya asin karena di sini (Bogor, red) kebanyakan suku Sunda yang doyan asin. Kalau suku lain tidak doyan rasa asin, tapi mereka lebih menyenangi rasa tawar dan gurih. Jadi tergantung dari permintaan konsumen, kalau konsumen minta asin kita buatin yang asin, kalau minta yang pedas kita buatin yang pedas. Menurut mereka rasa ini kurang gurih kita tambah penyedap,” jelasnya. Selain itu, produk olahan Willy juga telah mendapatkan label jaminan keamanan kesehatan dari Departemen Kesehatan. Sementara dari segi pengemasan, juga tak kalah menarik. Willy mengemasnya layaknya kantong oleh-oleh dengan menggunakan paper bag. ”Kami buat dari kantong kertas sebagai oleh-oleh, jadi kelihatan menarik, kalau pengemasan hanya menggunakan plastik kurang menarik. Pada umumnya konsumen sangat menyenangi kemasan kerupuk ikan yang kami buat,” tandasnya. Meski usaha olahan kulit ikan dilakukan Willy terbilang lancar, namun bukan tampak kendala. Salah satu kendala yang dihadapi Willy adalah minimnya sarana dan prasana dalam mengatasi cuaca kota Bogor yang merupakan kota hujan sehingga menyulitkan penjemuran. ”Dalam proses produksi kerupuk itu butuh penjemuran dan pengeringan, kami belum punya alat pengering yang bagus. Jadi ketika musim hujan permintaan banyak agak sedikit mengecewakan pelanggan karena kerepotan memenuhi permintaan konsumen,” akunya. Selain itu, bahan baku yang terbatas karena musiman, saat panen raya banyak tersedia stok bahan baku, namun pada Juli- September bahan baku kosong. ”Jadi ada dua kendala, pertama sarana masih terbatas, kedua ketersedian bahan baku,” keluhnya. Selain usaha kerupuk ikan, Willy juga mulai mengembangkan sejumlah usaha olahan ikan lainnya seperti bakso ikan, kaki naga, serta kerajinan sandal. Lantas, apa yang menjadi kunci suksesnya? Menurutnya, kunci sukses suatu usaha sangat tergantung pada kerja keras, ketekunan dalam menjalankan segala sesuatu, serta harus fokus pada usaha yang ditekuni.

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

sebagai bahan baku pembuatan kerupuk kulit ikan. Saya beli barang dari nelayan hanya kulitnya bukan dagingnya, karena kalau daging ikan patin itu dipakai sebagai bahan baku pembuatan sosis, daging kakapnya untuk ekspor. Jadi saya hanya beli kulit, bukan daging secara utuh,” kata Willy. Selain itu, Willy juga menyiasati kekurangan kulit ikan dengan menggunakan bahan baku dari ikan laut atau kulit ikan kakap. ”Selama produksi tidak bisa berhenti, makanya saya coba beralih kerupuk kulit tapi dari jenis ikan laut atau kulit ikan kakap. Jadi sekarang saya memroduksi kerupuk kulit ikan patin dan kakap,” paparnya. Willy membeli bahan baku yang kering Rp 28.000 per kilogram, sementara kulit ikan basah lebih murah, Rp 3.000 per kilogram. ”Awalnya, kulit basah dibeli Rp 500 per kilogram, sekarang sudah sampai Rp 3.000, itu yang basahnya jauh lumayan harganya. Makanya sekarang pun saya awalnya jual per kilogram yang mentah cuma Rp 25.000, sekarang harganya mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Paling rendah masuk ke agen itu Rp 40 atau 50 ribu per kilogram. Sementara yang matang dijual di supermaket dengan ukuran 50 kilogram dijual Rp 7500,” terangnya. Kerupuk kulit kakap dan patin bermerek dagang Willy ia jual dengan harga beragam, dari Rp 1.000 per bungkus kecil hingga Rp 4.500 per ons untuk dipasarkan di supermaket dan warung makan. Willy menemukan respons yang tak terduga. Permintaan terus mengalir kepada CV Alfa Dinar itu. Pengusaha muda yang kini masih berusia 25 tahun itu mempekerjakan delapan orang karyawan dan mampu memroduksi empat kuintal kulit ikan patin per bulan, empat kuintal kulit ikan kakap per bulan dan sekuintal daging ikan per bulan. Omzetnya melejit hingga mencapai rata-rata Rp 10 hingga 15 juta per bulan. Wilayah pemasarannya tak hanya di Bogor, tapi kini mulai meluas hingga ke Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Purwakarta, dan Surabaya. ”Keluar Jawa belum ada karena belum punya link. Jadi biasanya pemasaran dilakukan lewat pameran. Pameran itu sebagai ajang untuk promosi. Lewat pameran itu banyak terjadi order dari luar Bogor, di samping itu rekan-rekan pers juga sangat membantu saya untuk memperkenalkan produk ke publik. Pemasaranya sudah merambah ke mini market terutama di Bogor. Juga, menggunakan jasa agen yang nantinya memasarkan ke mal-mal,” ungkapnya.

Ekonomi Rakyat


20

Telusur

Habis Compreng, Terbitlah Masalah

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

Oleh Kustoro*

E

ra 1980-an, Cilacap-Kalipucang harus ditempuh dengan jalur transportasi air. Ada 15 kapal besar berkapasitas hingga 300 orang beroperasi di sepanjang jalur itu. Ada juga ratusan compreng (sejenis perahu kecil, red) yang meramaikan jalur tersebut. Namun, sedimentasi di Segara Anakan menyebabkan jalur transportasi menjadi sempit dan dangkal. Kapal pun menghilang. Sebagian besar armada transportasi di sana dikelola oleh Dinas Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Kabupaten Cilacap dan Ciamis. Kapal itu terbuat dari besi seperti kapal feri, bedanya panjang dan besarnya lebih kecil dibanding kapal-kapal yang beroperasi di transportasi selat. Di badan kapal tertulis kata TA yang dilanjutkan dengan nomor serinya, sehingga warga menyebutnya dengan kapal TA-1, TA-2, dan seterusnya. Selain itu, ada juga armada yang dikelola oleh perusahaan swasta, seperti Kapal Kasih Sayang dan Sundawa. Dulu, kapal-kapal tersebut menjadi primadona angkutan penyeberangan. Jam keberangkatan dibagi menjadi pagi dan siang. Di pagi hari, jadwal dimulai pukul 07.00, 08.00, dan 09.00. Untuk siang 11.00, 12.00, dan 13.00. Selain mengangkut warga yang bepergian, kapal-kapal itu juga sering mengangkut penumpang turis mancanegara yang berlibur di Pantai Pangandaran maupun Yogyakarta. Tak jarang, para turis mampir di Cilacap dan Banyumas untuk mengunjungi objek wisata Benteng Pendem dan Batu Raden.


21 Kini, semua jalur itu sudah punah. Setiap tahun, jutaan meter kubik lumpur yang terbawa arus Sungai Citanduy dan Cimeneng mengendap di kawasan itu. Sedimentasi di laguna Segara Anakan menyebabkan transportasi laut terkendala. Sejak 2000, Dinas Angkutan Sungai, Danau, dan Perairan (ASDP) Cilacap telah menghentikan armadanya untuk jalur Cilacap-Kampung Laut-Kalipucang sehingga transportasi ke tiga desa di Kampung Laut, yaitu Desa Ujung Gagak, Klaces, dan Ujung Alang nyaris terputus.

Pilih Jalur Darat

Telusur De Haan menjadi kenyataan. Perairan yang terletak di selatan Cilacap dan berbatasan dengan Pulau Nusakambangan di sebelah timur dan wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, itu nyaris tinggal hikayat. Cepatnya sendimentasi dapat dilihat dari penyempitan Segara Anakan. Badan Pengelolaan Kawasan Segara Anakan (BPKSA) mencatat wilayah perairan Laguna Segara Anakan pada 1903 masih 6.450 hektare. Namun pada 1939, luasnya tinggal 6.060 hektare. Sekitar 1971, luas Segara Anakan menyusut lagi menjadi 4.290 hektare. Pada 1992, luas perairan yang tersisa tinggal 1.800 hektare (Barnabas: 2008). Besarnya pengaruh sedimentasi dengan cara yang lebih sederhana, yaitu penyempitan pintu arus pertemuan antara Samudera Hindia dengan laguna di Plawangan. Pada 1990, lebarnya masih mencapai 240 meter, setelah dua dasa warsa selanjutnya menjadi 60 meter. Kedalamannya pun menjadi semakin dangkal, mulai dari minus 0,63 meter sampai 4,6 meter.

Saat ini, warga Kampung Laut hanya dapat mengandalkan kapal compreng. Compreng adalah sebutan bagi perahu yang terbuat dari papan kayu menggunakan mesin tempel dengan daya kecil. Kapal compreng bisa mengangkut maksimal 16 orang. Jenis angkutan itu mendapat izin resmi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Cilacap untuk mengangkut penumpang. Namun, sebagian besar armada compreng hanya beroperasi pada hari-hari yang dimanfaatkan warga untuk berbelanja. Jalur Kampung Laut ke Kalipucang hanya ramai di hari Senin dan Kamis, sementara jalur ke Cilacap Sabtu dan Minggu. Di luar waktu-waktu itu, para pengelola Compreng memilih libur karena sepinya penumpang. Mereka memanfaatkan armadanya untuk mengangkut kayu bakar, mencari air bersih, atau dibiarkan tertambat di pangkalan. Tidak menentunya armada laut membuat masyarakat memilih jalur darat. Banyak warga Ujung Alang memilih mengendarai sepeda motor menyusuri jalan setapak sepanjang Pulau Nusakambangan, lalu

Habis compreng, terbitlah masalah. Mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kesulitan usaha para pengusaha sarana transportasi air itu. Minimnya penumpang umum membuat para pengelola compreng memutar otak. Pada tahun 2004, Forum Warga Kampung Laut merintis jalur wisata lingkungan. Mereka menawarkan paket wisata lingkungan mangrove dan aneka ragam biota laut. Para wisatawan akan diajak menelusuri laguna dengan perahu compreng. Forum warga telah menawarkan paket wisata itu ke sekolah-sekolah. Kerusakan hutan mangrove akibat penebangan kayu mangrove secara liar. Pada 1995 hutan mangrove masih seluas 9.804 hektare, saat ini tinggal

menyeberang ke Cilacap. Awalnya, jalan-jalan di Pulau Nusakambangan dibuat untuk menuju ke beberapa lembaga pemasyarakatan. Kini, masyarakat umum ikut memanfaatkannya. Dari pelabuhan timur Nusakambangan, kita tinggal menyeberang ke Pelabuhan Sentolo Kawat dengan jarak kurang dari satu kilometer. Jalur darat ternyata lebih efektif. Bila menggunakan jalur air (compreng) mereka membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, sedangkan melalui jalur darat (sepeda motor) cukup dengan 30-45 menit. Namun, jalur darat baru dapat dilalui dengan sepeda motor sehingga untuk sarana angkutan besar (mobil, red), warga tetap menggunakan armada compreng.

7.553 hektare. Semua itu terjadi karena tidak ada pendidikan lingkungan yang diajarkan di bangku-bangku sekolah. Wisata lingkungan akan mendorong anak-anak sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi untuk belajar mengamati fenomena lingkungan. Segara Anakan menyimpan sejumlah keunikan. Kawasan mangrove di Segara Anakan merupakan kawasan terluas yang mendukung kehidupan minimal 85 jenis burung, termasuk 160–180 bangau bluwok (mycteria cinerea) dan 25 bangau tongtong (leptoptilos javanicus). Keduanya tercatat sebagai burung yang saat ini terancam punah. Di samping itu, hutan mangrove merupakan surga bagi berbagai spesies ikan, udang, dan kepiting yang menjadi andalan para nelayan Kampung Laut. •

Usaha menyelamatkan Segara Anakan telah dilakukan sejak dulu. Pada 1931, De Haan, seorang pejabat Pemerintah Kolonial Belanda telah menaruh perhatian pada tingginya tingkat sedimentasi. Kini, kekhawatiran

* Ketua BPK Radio Komunitas Gema Nusa, Kampung Laut, Cilacap.

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

Sedimentasi Segara Anakan

Rintis Wisata Lingkungan


22

Komuniti

Berbekal Jurnalistik,

Suara Surabaya Bertahan di Papan Atas Oleh Yossy Suparyo

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

S

iapa bilang pendengar bosan berita? Radio Suara Surabaya (SS) bisa menduduki radio papan atas di Indonesia hanya bermodal jurnalistik. Di saat radio lain dalam kondisi sekarat, SS justru makin meroket. Konon, Radio Suara Surabaya mengudara bersamaan dengan Gerhana Matahari Total pada 11 Juni 1983. Studio SS berada di kawasan berbukit, tepatnya di Jalan Wonokitri Besar 40, Surabaya. Radio SS memakai teknologi frekuensi modulasi pada 100,55 MHz. Selanjutnya, SS dikenal sebagai founding father radio berformat berita dan informasi di Indonesia. Awalnya, SS hanyalah radio lalu-lintas. Lalu, ia berubah menjadi radio berita dan berkembang ke konsep interaktif. Konsep interaktif yang dikembangkan SS mengubah cara kerja radio sebelumnya yang hanya bersifat satu arah. Konsep interaktif menjadi karakteristik media radio yang tidak dimiliki oleh media lain. Saat Pemilihan Umum (Pemilu) 1997 digelar, sebagian besar warga Surabaya takut bila kerusuhan meledak karena pemerintah Orde Baru mulai represif pada musuh politiknya. Situasi itu menjadi laboratorium SS untuk mengembangkan konsep interaktif. Konsep tersebut ampuh memfasilitasi warga Surabaya untuk menyampaikan aspirasi dan uneg-uneg-nya. Keberhasilan radio bermotto News and Music Hit itu tidak dapat dilepaskan dari tiga pendekar radio; Soetojo Soekomihardjo, Djoko Wahjono Tjahyo, dan Errol Jonathans. Soetojo dan Djoko telah bersahabat sejak 1970-an. Kala itu, Soetojo menjadi pegiat di Radio Cakra Awigra. Sementara, Errol datang sedikit belakangan, sebelumnya ia bergerak di media massa cetak. Tiga sekawan itu dikenal sebagai orang yang berpendirian teguh, sehingga pada awal pendirian SS sering diwarnai debat sengit di antara ketiganya. Sebagai contoh, Djoko tidak setuju dengan konsep SS dibuat sebagai radio informasi atau radio berita. Waktu itu, radio swasta wajib merelai berita dari Radio Republik Indonesia (RRI) hingga sebanyak 13 kali. Pemerintah juga melarang radio untuk memroduksi berita sendiri. Menurutnya, ide Soetojo hanya cari perkara. Namun, setelah berdiskusi panjang, ia dapat memahami konsep Soetojo yang terobsesi menggagas radio sebagai media massa yang utuh. Radio bukan hanya untuk hiburan tapi harus memberikan informasi. Sebelum meraih sukses seperti sekarang, kegagalan pernah dialami SS. Mereka membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk membuktikan kebenaran konsep radio berita. Tak berlebihan apabila banyak kalangan menyebut SS sebagai etalase industri radio siaran di Indonesia.


23

Komuniti

Tiga pilar kekuatan Kekuatan utama radio SS ada di aktivitas riset. Menurut Djoko, masyarakat selalu termotivasi untuk memanfaatkan media massa, khususnya radio, untuk penyelesaian masalahnya. Setiap pendengar memiliki pengalaman batin berhubungan dengan radio. Pendengar juga mampu menyimpulkan apakah siaran radio yang ia dengar itu bermutu atau hanya obrolan ''kentut''. Riset khalayak menjadi sumber informasi penting bagi SS untuk melayani pendengar. Informasi itu selanjutnya dimanfaatkan oleh pihak manajemen untuk meningkatkan sumber dayanya dalam melayani publik. Bila pengelola radio tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan dari radionya sendiri dan pesaing utamanya, ia tidak mempunyai pegangan untuk memahami selera pendengar. "Bila esok muncul pesaing baru, mereka tidak yakin apa yang bisa dilakukan. Dengan kata lain, pengelola radio itu sama saja dengan terbang dengan mata tertutup," ungkapnya bersemangat. Kekuatan kedua SS adalah berani tampil beda. Tahun 1983, radio swasta diwajibkan relai berita RRI hingga 13 kali. Setiap jam tayang berita, banyak pendengar yang mematikan radio. Orde Baru juga melarang radio swasta memroduksi berita sendiri. Para pengelola SS ''memberontak'' dengan aturan itu. SS sejak awal menetapkan format siaran sebagai radio berita. "SS melawan arus, karena ia percaya bahwa larangan membuat berita jelas langkah yang salah. Radio bukan hanya media hiburan, tapi media informasi," sahut Soetoyo. Kekuatan ketiga adalah jurnalistik. Menyadari konsekuensi au Gate Keeper dengan motto

Kombinasi | Komunitas Membangun Jaringan Informasi | Edisi ke 23 | Februari 2008

dari penerapan format Radio News atau Informasi, sejak awal kelahirannya, SS mengembangkan Tim Reporter pada 1987. Lantas, pada 1995, mulai dikembangkan Konsep Interaktif yang memunculkan Tim Redaksi Interaktif atau Gate Keeper dengan motto News-Interaktif-Solutif. Lalu, lahirlah jurnalisme interaktif, karena dalam siaran SS mengandung unsur-unsur yang disyaratkan dalam aturan jurnalistik. "Masyarakat bukan tidak butuh berita, tapi ia butuh berita yang tidak seperti ia dengar selama ini. Lalu, SS menerapkan konsep jurnalisme interaktif dalam 24 jam siarannya. Sekarang terbukti kan?" tambahnya. Konsep jurnalisme interaktif yang diusung SS memberikan kesempatan pada pendengar untuk aktif memberikan informasi dan menyampaikan pendapatnya. Pendengar tidak hanya menjadi objek terpaan media. Konsep itu menciptakan hubungan dua arah, yaitu antara pendengar dengan penyiar, dan pendengar dengan pendengar. Interaksi tidak lagi hanya one way traffic, yaitu informasi satu arah, dari media massa pada khalayaknya; tapi bisa terjadi multitraffic, yaitu interaksi pendapat yang terjadi antara pendengar yang satu dengan pendengar lainnya. Dengan konsep interaktif multi arah, siapapun pendengar bisa memberi tanggapan atau komentar dari pernyataan narasumber maupun pendengar lainnya. Itulah yang disebut dengan demokrasi dalam siaran radio. Keberhasilan yang diusung Radio SS seharusnya menjadi motivasi bagi radio komunitas yang sejak awal menisbatkan diri sebagai media penyampaian informasi komunitasnya. Radio komunitas didirikan untuk menggali masalah dan mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya. Pengalaman Radio SS dapat ditiru untuk melayani kebutuhan masyarakat akan informasi. Radio komunitas muncul untuk mengisi keterbatasan dari lembaga penyiaran lainnya. Sayang, hingga kini, sangat sedikit radio komunitas yang mampu memberikan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Ironisnya, rakom yang akhirnya memilih radio hiburan sebagai sarana untuk mendapatkan finansial. Tanpa riset apa pun, mereka buru-buru berburuk sangka dengan beranggapan radio berita tidak disukai masyarakat. Radio komunitas perlu merenungkan fakta lain yang ''dinikmati'' oleh Radio SS. Radio itu tidak menerima iklan hingga 1,5 tahun ke depan, sebab seluruh waktu publikasi iklan sudah penuh. Para pengiklan harus antre menunggu. Tidak percaya, dapatkan informasi lengkap tentang Radio SS di http://suarasurabaya.net. •


BACK cover


Kombinasi #26