Issuu on Google+

MAJALAH ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI STIE YAPAN

YAPAN Sciense PENERBIT PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT STIE YAPAN

Volume 1 No. 1. Tahun 2008

1


MAJALAH

ILMIAH YAPAN SCIENCE

Volume 1 No. 1. Tahun 2008 PENASIHAT Tri Ongko G, ST., MM Ketua Yayasan Palapa Nusantara

PEMBINA M.Choiron,SE.,S.Pd.,MM Ketua STIE YAPAN

PENGANTAR REDAKSI

Majalah Ilmiah YAPAN Science adalah majalah Karya Ilmiah Manajemen Dan Akuntansi STIE YAPAN yang terbit setiap tahun sekali

PEMIMPINREDAKSI/ PENANGGUNGJAWAB Gogi Kurniawan,SE.,MM, Puket I

Majalah

YAPAN Science

lebih menekankan pada kegiatan-

kegiatan yang lebih spesifik yakni mempublikasikan kegiatankegiatan karya ilmiah para doen dan mahasiswa PS Manajemen dan

DEWAN REDAKSI Bambang Soemarsono,SE.,MM, Risky Arie Prabawa, SE.,MSA.,Ak, Dwi Probonurtjahjo,SE.,MSA Ketua PS Manajemen Ketua PS Akuntansi Ketua umum Senat Mahasiswa Ketua Himaprodi Manajemen Ketua Himaprodi Akuntansi Ketua IKA STIE YAPAN LAYOUT Nina Candra Dewi, S.Kom KEUANGAN Faruk,S.Sos.I KaBag AU ADMINISTRASI DAN SIRKULASI Kristian Setiyo C,ST KaBag AAK ALAMAT REDAKSI

Jl.IKIP Gunung Anyar Blok E, No.197-198, Surabaya Telp. 0318721694,96 Fax. 0318721695 Website . www.stieyapan.com Email. stieyapan@yahoo.com

PS Akuntansi.

Karya ilmiah ini meliputi penulisan hasil-hasil

penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan karya ilmiah lainnya seperti seminar dan artikel. Majalah ini diterbitkan sekali dalam setahun dengan masa baca mulai 20 September sampai dengan 19 September tahun berikutnya. Sehingga penerbitan

Majalah ini bertepatan dengan masa

perkuliahan selama satu tahun mulai semester gasal sampai dengan semester genap dan menjelang kegiatan-kegiatan awal perkuliahan awal perkuliahan bagi mahasiswa baru. Redaksi menerma sumbangan naskah tulisan para dosen dan mahasiswa seperti laporan hasil penelitian dan atau laporan hasil pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk rangkuman, makalah seminar, artkel dan karya ilmiah lainnya. Akan tetapi Redaksi dapat merevisi tulisan tanpa mengubah maksud dan isinya. Naskah yang dikirim kepada redaksi merupakan karya ilmiah asli dan belum pernah diterbitkan oleh penerbit lainnya. Penulis yang naskahnya dimuat akan memperoleh Sertifikat dari redaksi.

REDAKSI

2


ANALISA BIAYA RELEVAN TERHADAP KEPUASAN MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ABHIPURA ARTA KENCANA 88 Gogi Kurniawan, ST., SE., MM NIDN. 0722058102 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Salah keputusan yang dapat mempengaruhi profit yang diperoleh perusahaan, adalah keputusan yang diberikan kepada pesanan atau permintaan dari konsumen atau pelanggan khusus, yang menyimpang dari produk yang dihasilkan perusahaan atau menyimpang dan harga jual produk yang ditentukan oleh perusahaan. Pedoman pengambilan keputusan terhadap pesanan yang bersifat khusus dilakukan melalui analisis biaya relevan, yaitu biaya yang relevan dengan adanya pesanan khusus. Prinsip biaya relevan, akanmemperhitungkan semua biaya baik biaya produksi, administrasi dan umum maupun biaya pemasaran yang bersifat variabel akan berubah karena adanya keputusan khusus. Keputusan ini identik dengan perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan dengan menggunakan metode Variabel Costing, sehingga akan dipengaruhi secara tegas tentang berapa biaya yang terjadi sebagai akibat dan adanya keputusan khusus yang diambil oleh manajemen perusahaan. Dan hasil penelitian, yang dilakukan secara langsung diketahui bahwa pada PT. Abhipura Arta Kencana 88 , sering memperoleh pesanan-pesanan produk elektronik yang bersifat khusus baik dan pelanggan maupun dari konsumen lainnya, hanya permintaan bersifat khusus tersebut selalu ditolak karena adanya alasan bahwa harga yang ditawarkan oleh konsumen atau pelanggan dengan hubungannya dengan pesanan yang bersifat khusus adalah dibawah harga jual produk yang selama ini diterapkan perusahaan. Kondisi seperti ini menurut pertimbangan perusahaan bahwa dengan harga jual dibawah harga produk yang ditentukan, maka perusahaan akan mengalami kerugian jika pesanan yang bersifat khusus tersebut diterima, sementara perusahaan bekerja di bawah kapasitas normal sehingga masih banyak kapasitas produksi yang menganggur, sehingga dalam penelitian ini akan dicoba untuk membahas khusus yang berhubungan dengan analisis keputusan terhadap pesanan khusus yang berhubungan dengan analisis keputusan terhadap pesanan khusus dengan menggunakan metode Biaya Relevan. Rumusan Masalah " Apakah analisa biaya relevan dapat memberikan informasi secara tepat bagi perusahaan dalam membuat keputusan menerima atau menolak pesanan khusus ?" Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dari hasil penelitian ini, adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui apakah analisis relevan dapat memberikan informasi yang secara tepat bagi perusahaan dalam menerima keputusan atau menolak pesanan khusus. 2. Bagi perusahaan sebagai obyek penelitian, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan konsumen dalam pengambilan yang berkaitan dengan

3


masalah pesanan khusus, serta manfaat penggunaan metode biaya relevan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan tersebut. Sistematika Laporan Hasil Penelitian Terdiri dari: Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Anaslisis Kesimpulan Dan Saran. KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Pengertian Biaya Biaya diartikan beberapa antara para ahli namun pada prinsipnya menurut suatu dasar pengertian yang sama, dimana jika diterjemahkan secara umum, biaya adalah sejumlah uang ditambah beberapa barang bila perlu, yang di keluarkan untuk membiayai suatu kegiatan yang pada akhirnya diharapkan dapat memperoleh manfaat dari pengeluaran tersebut. Pengertian biaya menurut D. Hartanto (1997:75), mengemukakan bahwa : "Cost adalah biaya-biaya yang diharapkan akan memberi manfaat (service potentials) diwaktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang diciptakan dalam neraca. Selanjutnya "expence" atau "expired cost" adalah jenis biaya- biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi karena jenis biaya-biaya ini dapat memberi manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya adalah pada pemikiran laba rugi". Dari pendapat diatas jenis bahwa biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomis yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan usaha, biaya tersebut terdiri pengorbanan yang telah terjadi dan pengorbanan yang mempunyai kemungkinan akan terjadi. Klasifikasi Biaya Klasifikasi biaya menurut Supriono (1992:5), adalah sebagai berikut: 1. Klasifikasikan biaya sesuai dengan fungsi pokok kegiatan perusahaan 2. Klasifikasikan biaya kedalam biaya produk dan biaya periode 3. Klasifikasikan biaya berdasarkan perilaku biaya 4. Klasifikasikan biaya sesuai dengan obyek atau pusat biaya 5. Klasifikasikan biaya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya akandibebankan. 6. Klasifikasikan biaya sesuai dengan tujuan pengembalian keputusan. Klasifikasikan biaya sesuai tersebut jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Klasifikasi biaya sesuai dengan fungsi pokok kegiatan perubahan Klasifikasi menurut fungsi pokok kegiatan perubahan manufacturing, meliputi: a. Biaya meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produk, yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan menjadi barang jadi, yang terdiri dari: o Biaya bahan baku: Yaitu harga perolehan bahan yang dikelola menjadi produksi, pemakaian dapat ditelusuri secara langsung. o Biaya tenaga kerja langsung Merupakan batas kerja yang di berikan kepada tenaga kerja langsung yang dapat diidentifikasikan pada produk tertentu. o Biaya overheard pabrik Yaitu biaya produksi selain biaya bahan dan biaya tenaga kerja langsung,

4


meliputi: Biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap pabrik, reparasi dan pembelian aktiva tetap pabrik, biaya listrik dan air pabrik, biaya asuransi pabrik, biaya overheard pabrik dan lain-lain. b. Biaya Non produksi Merupakan biaya yang di keluarkan yang tidak berhubungan dengan produksi, yang terdiri dari: o Biaya pembahasan: Yaitu: semua biaya yang di keluarkan dalam melaksanakan kegiatan pemasaran, terdiri dari: o Biaya untuk menimbulkan pesanan o Biaya administrasi dan umum Yaitu: meliputi semua biaya dalam rangka melakukan fungsi administrasi dan umum,.yaitu biaya perencanaan, penentuan strategi dan kebijaksanaan, pengarahan dan pengendalian perusahaan. 2. Klasifikasi biaya kedalam biaya produk dan biaya periode a. Biaya produk Biaya perolehan barang dagang yang dibeli dengan tujuan untuk dijual, atau harga pokok produk yang dihasilkan perusahaan dengan tujuan untuk dijual. Biaya produk alokasikan sebagai beban dalam bentuk harga pokok penjualan, sedangkan biaya produk perusahaan manufacturing adalah biaya bahan baku, biaya tenaga langsung atau biaya overheard pabrik. b. Biaya periode Biaya yang diidentifikasikan dengan ukuran periode atau jarak waktu tentu.Biaya ini dibebankan sebagai expense dan langsung dimasukkan kedalam laporan rugi laba periode akuntansi saat terjadinya. 3. Klasifikasi biaya berdasar perilaku biaya Klasifikasi biaya perbedaan perilakunya dapat digolongkan menjadi: a. Biaya tetap Biaya yang jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkat tertentu.Biaya tetap perunit berbanding terbalik proporsional dengan perubahan volume kegiatan atau kapasitas. Semakin tinggi tingkat kegiatan maka akan semakin tinggi pula biaya perunit. b. Biaya variabel Biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas suatu perusahaan. Semakin tinggi volume kegiatan maka secara proporsional semakin tinggi total pula total biaya variabel dan sebaliknya. Biaya variabel perunit selama konstan, yang dipengaruhi oleh perusahaan kegiatan atau aktivitas. c. Biaya semi variabel Biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan tetapi tingkat perubahannya tidak proporsional.Jadi biaya semi variabel ini merupakan gabungan dari biaya tetap dan biaya variabel.Untuk tujuan perencanaan dan pembuatan keputusan maka biaya semi variabel harus dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Pemisahan biaya variabel menjadi biaya variabel dan tetap, menurut Mulyadi (1986:63), mengemukakan fungsi biaya dengan pendekatan historis : (1). Metode titik tertinggi dan

5


terendah, (2). Metode biaya berjaga dan (3). Metode kwadrat terkecil" Metode pemisahan semi variabel menjadi biaya tetap dan biaya variabel, dapat di jelaskan sebagai berikut: 1) Metode titik tertinggi dan terendah Biaya semi variabel akan dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel dengan melihat biaya pada tingkat kegiatan tertinggi dan biaya pada tingkat pada tingkat kegiatan terendah. 2) Metode biaya berjaga Metode ini digunakan untuk mencoba menghitung berapa biaya yang harus tetap dikeluarkan andaikata perusahaan akan ditutup sementara, jenis produksinya sama dengan nol. Biaya ini disebut juga biaya berjaga, dan merupakan bagian tetap, sedangkan perbedaan antara biaya yang dikeluarkan selama produksi berjalan dengan biaya berjaga merupakan variabel. 3) Metode kuadrat terkecil Metode ini didasarkan pada perhitungan dan dasar perhitungan ini didapat dalam persamaan garis lurus yaitu: Y = a + b.X Dimana a adalah elemen tetap dan b sebagai variabelitas, sedangkan Y merupakan variabel tidak bebas yaitu variabel yang perubahannya ditentukan oleh perolehan variabel X yang merupakan variabel bebas. Rumus yang digunakan adalah: 2)2 b=n-Exy —XxEy n•Zx (EX a=Ey—bEx 3. Klasifikasi biaya sesuai dengan obyek atau pusat biaya Klasifikasi biaya ini, dihubungkan dengan produk yang dihasilkan, departemen yang ada, atau bagian-bagian dalam organisasi yang lain atas dasar obyek atau pusat biaya, biaya digolongkan menjadi: 1. Biaya langsung Merupakan biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu. 2. Biaya tidak langsung Yaitu biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu, atau biaya manfaatnya dinikmati beberapa obyek atau pusat biaya. 4. Klasifikasi biaya sesuai dengan periode akuntansi dimana biaya akan dibebankan. a. Biaya pengeluaran model Merupakan pengeluaran yang dapat memberi manfaat pada beberapa periode akuntansi atau pengeluaran akan dapat memberi manfaat pada periode akuntansi yang akan datang. b. Pengeluaran penghasilan Merupakan pengeluaran akan memberi manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran terjadi. Umumnya pada saat terjadinya pengeluaran langsung dilakukan seperti biasanya. 5. Klasifikasi biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan Untuk tujuan pengambilan keputusan, biaya dikelompokkan kedalam: a. Biaya relevan Biaya masa depan yang berada pada bagaimana macam alternatif. Biaya tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan, karena itu biaya tersebut harus diperhitungkan dimana pengambilan keputusan.

6


b. Biaya tak relevan Biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan keputusan, karena biaya itu tidak perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.Biaya tidak relevan umumnya adalah biaya masa lalu atau biaya yang tidak berbeda berbagai alternatif. Pengertian dan tujuan biaya Akuntansi menurut R.A. Supriyono (1992; 11), mendefinisikan tentang akuntansi biaya: Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkat dan penyajian dari transaksi keuangan suatu badan usaha dengan cara yang sistematis, serta penafsiran terhadap hasilnya dari laporan-laporan yang disajikan akuntansi. Sedangkan tujuan akuntansi biaya yang dipergunakan oleh satu badan usaha, adalah: 1. Penentuan harga pokok persatuan produksi atau jasa Yaitu penyajian biaya-biaya yang berhubungan dengan kegiatan produksi, yang akan terdiri dari biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.

2. Mengendalikan biaya Akuntansi biaya dapat membuat perencanaan biaya yang akandikeluarkan pada periode berikutnya, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan akan dapat dikendalikan sehingga sesuai dengan rencana. 3. Menyediakan data biaya bagi pengambilan keputusan khusus, perumusan kebijaksanaan, dan perencana jangka panjang. Akuntansi biaya memberikan informasi secara rinci mengenai perkembangan biaya yang nantinya dapat digunakan dalam perhitungan rugi/laba, sehingga dapat digunakan sebagai perhitungan dalam menentukan kebijaksanaan. Konsep Dalam Perhitungan Harga Pokok Produksi Konsep biaya dalam perhitungan harga pokok produksi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Full costing Full Costing menurut Mulyadi (1986 ; 29) yang diidentifikasikan sebagai berikut: Full Costing atau sering pula disebut absorption atau conventional costing adalah metode penentuan harga pokok produk, yang membebankan seluruh biaya produksi, baik yang bersifat tetap maupun variabel kepada produk. Didalam konsep full costing, biaya overheard pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variabel, dibebankan produk yang diproduksi atas dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas normal atau atas dasar biaya overheard pabrik akan tetap melekat pada harga pokok persediaan produk jadi yang belum laku dijual, dan baru dianggap sebagai (elemen harga pokok penjualan) apabila produk jadi tersebut telah dijual. 2. Varibel Costing Konsep variabel costing menurut Mulyadi (1987: 30), mendefinisikan: "Variabel costing adalah metode penentuan harga pokok produk yang hanya membebankan biaya-biaya produksi variabel saja dalam harga pokok produk". Dalam konsep variabel costing biaya overheard pabrik tetap di perlukan sebagai period cost dan bukan sebagai pokok produk, sehingga harga overheard pabrik tetap dibebankan sebagai biaya di dalam periode dimana biaya overheard terjadi. Dengan demikian biaya overhead pabrik tetap didalam konsep variabel costing tidak hanya melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi

7


langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya. METODE PENELITIAN Definisi Konsep Dan Operasional Variabel-variabel dan penelitian ini, adalah: 1. Biaya relevan (X) Merupakan suatu proses pengumpulan, pengklasifikasian dan perhitungan biayabiaya yang terpengaruh dengan pengambilan keputusan menerima atau menolak suatu pesanan khusus. Biaya relevan, diukur dengan jalan menghitung suatu biaya-biaya yang terjadi sebagai akibat dari adanya keputusan terhadap pesanan khusus yang diukur dalam rupiah, terdapat pesanan khusus yang terjadi pada tahun terakhir. 2. Keputusan Menerima atau Menolak Pesanan Khusus (Y) Merupakan suatu kebijakan pihak menejemen perusahaan yang berkaitan dengan keputusan pihak menejemen untuk menerima atau menolak pesanan dari konsumen yang mempunyai kriteria tertentu.Keputusan terhadap pesanan khusus menurut perusahaan dan menurut metode biaya relevan, yang kemudian dianalisis dengan berdasarkan harga pokok produk per unit dari biaya relevan dengan harga jual yang ditawarkan oleh konsumen/ pelanggan. Jika harga jual yang ditawarkan konsumen atau pelanggan lebih besar dari pada biaya relevan yang diperhitungkan, maka pesanan khusus diterima, dan sebaliknya jika harga jual produk pesanan lebih rendah atau sama dengan biaya produksi relevan, maka pesanan khusus yang ajukan konsumen atau pelanggan tersebut di tolak. Populasi dan Teknik Sampling Jenis Data 1. Data Skunder 2. Data Primer Metode Pengumpulan Data 1. Library Research 2. Field Research a. Observasi b. Interview c. Dokumenter Metode Analisis Data Analisa data dengan menggunakan metode kuantitatif. ANALISIS Pembahasan Permasalahan Berhasil hasil penelitian yang dilakukan pada PT Abhipura Arta Kencana 88 ditemukan masalah bahwa perusahaan dalam beberapa tahun akhir menolak beberapa pesanan terhadap produk yang dihasilkan perusahaan tersebut. Data yang dikaitkan dengan masalah tersebut dapat dilihat pada tabel, 1, dimana pesanan khusus dari konsumen 2.980 unit, seluruhnya ditolak oleh perusahaan, karena harga yang ditawarkan dibawah harga jual yang ditentukan perusahaan. Sebab Masalah Di tolak oleh beberapa pesanan khusus tersebut disebabkan karena

8


perusahaan tidak menggunakan metode yang tepat dalam menganalisis pesanan khusus tersebut, perusahaan hanya berpedoman pada harga yang ditawarkan dengan harga sesuai atau lebih tinggi dari harga yang ditentukan perusahaan, maka pesanan tersebut diterima. Padahal jika dianalisa dengan menggunakan metode relevan belum tentu pesanan khusus yang harganya dibawah harga jual akan merugikan perusahaan, bahkan sebaliknya akan menämbah laba yang diperoleh. Akibat Masalah Dengan ditolaknya khusus mengakibatkan kekurangan omset pesanan penjualan yang dicapai, yang selanjutnya dapat mengurangi jumlah laba yang diperoleh perusahaan. Karena perusahaan bekerja di bawah kapasitas normal sehingga masih banyak kapasitas yang menganggur dan perusahaan akan kehilangan sebagian pelanggannya. Pengujian Hipotesis Untuk mengetahui penggunaan analisa biaya relevan dalam hubungannya dengan menerima atau menolak pesan khusus maka berikut ini akan dilakukan perhitungan biaya yang dimaksud, sebagai berikut: 1. Klasifikasi biaya Karena analisis biaya relevan terkait dengan biaya variabel, maka sebelum melangkah ke pembahasan, terlebih dahulu akan diklasifikasikan biaya sebagai berikut: a. Biaya produksi a) Bahan baku Karena bahan baku berkaitan langsung dengan produk yang dihasilkan maka biaya bahan baku merupakan biaya variabel. 1. Biaya tenaga kerja langsung Sebagai biaya yang dikeluarkan bagi karyawan produksi yang berhubungan langsung dengan hasil produksi maka biaya tersebut merupakan biaya variabel. 2. BOP Variabel Karena analisis biaya terkait dengan biaya variabel maka dalam analisis BOP, penulis hanya menyajikan data biaya saja, sebagai berikut: a) Bahan Pemotong. Karena bahan potong menyatu dengan produk yang dihasilkan seperti assesoris, maka biaya ini merupakan biaya variabel. b) Biaya bahan bakar. Karena bahan bakar digunakan untuk menjalankan diesel dalam proses produksi, maka biaya ini merupakan biaya variabel. c) Biaya listrik Dalam pelaksanaannya, biaya listrik yang digunakan proses produksi, terdiri atas dua jenis biaya yaitu:  Biaya listrik untuk produksi sebesar 60% dari total biaya listrik.  Biaya listrik untuk menerangkan sebesar 40% dengan demikian maka biaya listrik yang tergolong biaya variabel adalah yang digunakan untuk proses produksi, yaitu sebesar 60%.

b. Biaya pemasaran 1. Premi bagian penjualan

9


Penjualan memberikan premi kepada tenaga penjualan sebesar 5% dari hasil penjualan yang dicapai. Dengan demikian maka premi merupakan biaya variabel. 2. Biaya transportasi Setiap pesanan dari konsumen, perusahaan mengantarkan sendiri langsung kekonsumen, sehingga biaya tersebut merupakan biaya variabel. 3. Pemeliharaan kendaraan Biaya kendaraan ditentukan sebesar 60% sebagai biaya yang tetap rutin dikeluarkan perusahaan, sedangkan 40% merupakan biaya variabel. c. Biaya administrasi dan umum Biaya telepon Karena biaya telepon terkait dengan hubungan relasi, maka biaya tergabung sebagai biaya variabel. 2. Perhitungan variabel per unit produk untuk tujuan analisa biaya relevan maka dilakukan perhitungan biaya variabel per unit. Sebagai berikut: a. Biaya produksi 1. Biaya bahan baku per unit produk Rp.399.302.100 = Rp. 43.051 9.275 unit 2. Biaya tenaga kerja langsung Rp.958.371.500 = Rp. 103.328 9.275 unit 3. BOP Variabel a. Biaya bahan penolong Biaya bahan penolong, per unit produk: Rp.246.323.700 = Rp. 26.558 9.275 unit b. Biaya bahan bakar Biaya bahan bakar per unit produk: Rp. 64.360.000 = Rp. 6.939 9.275 unit c. Biaya listrik Biaya listrik per unit produk: Biaya listrik variabel 60% x Rp. 12.450.000 = Rp. 7.470.000 Rp. 7.470.000 = Rp.805 9.275 unit b. Biaya pemesanan 1. Premi bagian penjualan Karena premi bagian penjualan sebesar 5% dari tabel penjualan maka biaya yang relasi adalah: - Total penjualan pesanan khusus Rp.220.500 x 2.980 unit = Rp. 657.090.000,- Biaya premi adalah Rp. 657.090.000,- x 5% = Rp. 32.854.500,- atau Rp. 220.500 x 5% = Rp. 11.025,2. Biaya transaksi Biaya transaksi perunit produk adalah: Rp.12.400.000 = Rp. 1.352 9.173 unit 2. Biaya pemeliharaan kendaraan Biaya pembelian kendaraan yang variabel 40% x Rp. 6.000.000,- = Rp. 2.400.000,-

10


Biaya pembelian kendaraan per unit: Rp. 2.400.000 = Rp.262 9.173 unit c. Biaya administrasi dan biaya telepon per unit produk: Rp.8.473.150 = Rp. 924 9.173unit

Asumsi Setelah menganalisa biaya terlibat bahwa pesanan khusus tidak hams ditolak karena tidak sesuai dengan harga jual yang sudah di tentukan oleh perusahaan. Bahwa dengan adanya pesanan khusus ini, laba perusahaan akan bertambah. Sehingga penulis di sini mempunyai asumsi bahwa pesanan khusus ' tidak selamanya akan merugikan perusahaan selama pesanan tersebut tidak mengganggu pesanan biasa dan setelah dianalisa, harga pesanan tersebut tidak dibawah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi. Dengan mengamati pesanan khusus yang ditolak tanpa memperhatikan atau menganalisa biaya relevan maka asumsi penulis terhadap rumusan masalah serta pemecahannya adalah: 1. PT Abhipura Arta Kencana 88 berproduksi dibawah kapasitas normal dan mesin yang digunakan. 2. PT Abhipura Arta Kencana 88 masih berpatokan terhadap harga jual yang telah ditentukan oleh perusahaan tanpa mempertimbangkan lebih dahulu apakah jika pesanan khusus itu diterima akan merugikan atau tidak. 3. PT Abhipura Arta Kencana 88 tidak memikirkan langkah apa yang ditempuh apabila kondisi yang dihadapi perusahaan sedang sepi tanpa order.

11


KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Dalam PT Abhipura Arta Kencana 88 belum tepat dalam menggolongkan biaya sesuai dimana biaya tersebut digunakan, antara lain biaya produksi, biaya administrasi umum serta biaya penjualan. 2. Masalah yang timbul dalam perusahaan yaitu kurang tepatnya penganalisaan terhadap biaya yang sebenarnya bukan dikarenakan faktorfaktor yang sulit diatasi, dan pemisahan biaya semi variabel menjadi biaya variabel dan biaya tetap, sehingga sulit untuk menentukan biaya yang relevan yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Saran

1. Untuk mempermudah penganalisaan terhadap biaya, kiranya terdapat tenaga administrasi yang mampu untuk menggolongkan dan memisahkan biaya untuk mempermudah menentukan biaya relevan. 2. Dengan penggolongan dan pemisahan Biaya yang tepat dapat ditentukan biaya yang relevan. Apabila ada pesanan khusus, hendaknya perusahaan menganalisa terlebih dahulu apakah harga yang ditawarkannya itu lebih tinggi atau lebih rendah dari biaya relevan. 3. Upaya untuk menerima pesanan khusus seperti yang di bahas diatas, disisi manfaat bagi perusahaan, agar tidak kehilangan pelanggan atau pasar dengan asumsi perusahaan bekerja di bawah kapasitas normal.

12


ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PRIBADI, PENGENDALIAN INFORMASI DAN PENGEMBALIAN KEPUTUSAN TERHADAP SEMANGAT KERJA KARYAWAN PADA PT. BUANA LARASINDO SIDOARJO Drs. Subakir Dimyati, SE., ST., MM NIDN. 0717084901

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Setiap organisasi, baik organisasi sosial maupun organisasi bisnis, akan dihadapkan pada permasalahan pengolahan sumber daya manusia, keterlibatan pengolahan sumber daya manusia sehingga dapat terbentuk suatu organisasi yang harmoni dan sinergi. Kekuatan yang muncul dari suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang bisnis PT. Buana Larasindo Sidoarjo , akan tercermin pada keberhasilan dari perusahaan tersebut dalam memperoleh pelanggan sebanyak-banyaknya, yang ditunjukkan dengan omset penjualan yang dicapai dalam setiap periode usaha. Bertolak dari pertimbangan di atas, maka dalam penelitian ini dibahas mengenai pengaruh dari hubungan antar pribadi, pengendalian informasi dan pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja karyawan bagian pemasaran. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan yang akan diteliti adalah : 1. Apakah taktor hubungan antar pribadi, pengendali informasi dan pengambilan keputusan secara bersama-sama berpengaruh terhadap semangat dan kegairahan kerja karyawan pemasaran pada PT. Buana Larasindo Sidoarjo 2. Apakah faktor hubungan antar pribadi, pengendalian informasi dan pengambilan keputusan secara sendiri-sendiri berpengaruh terhadap semangat dan kegairahan kerja karyawan pemasaran pada PT. Buana Larasindo Sidoarjo Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui apakah baik secara bersama-sama maupun secara sendirisendiri hubungan antar pribadi, pengendali informasi dan pengambilan keputusan berpengaruh terhadap semangat dan kegairahan kerja karyawan pemasaran. 2. Untuk mengetahui peran kepemimpinan yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap semangat kerja karyawan bagian pemasaran. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Bagi pihak perusahaan diharapkan akan mengetahui dan bagaimana kepemimpinan yang sebenarnya diterapkan dalam perusahaan tersebut dan sejauh mana gambaran semangat kerja yang dimiliki oleh karyawannya. 2. Hasil penelitian dapat dipakai sebagai bahan untuk peneliti barn yang akan

13


mengangkat masalah yang sama dalam penelitian lanjutan. Sistematika Laporan Hasil Penelitian Terdiri dari: Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Anaslisis Kesimpulan Dan Saran. KAJIAN PUSTAKA Landaan Teori Pengertian manajemen personalia menurut (Nitisemito, 1992:10) yang mengemukakan bahwa manajemen personalia, adalah : Suatu ilmu seni untuk pelaksanaan antara lain, planning, organizing, controlling, sehingga aktivitas dan efisiensi personalia dapat ditingkatkan semaksmial mungkin dalam pencapaian tujuan. Fungsi-fungsi Manajemen Personalia Manajemen personalia merupakan pelaksanaan fungsi manajemen dalam kaitannya dengan personalia yang fungsinya mencakup masalah perencanaan, pengorganisasian sampai pada pengawasan atau controlling. Menurut (Ranupandojo dan Husnan, 1992:13) fungsi manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengembangan, pemberian, kompensasi, pengintegrasi dan pemeliharaan tenaga kerja. Fungsi manajemen personalia dimaksud, dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Fungsi-fungsi manajemen a. Perencanaan Fungsi manajemen personalia yang dimaksud di sini adalah suatu fungsi dalam menyusun perencanaan yang berkaitan dengan personalia, seperti pemenuhan kebutuhan tenaga kerja, perencanaan penempatan tenaga kerja, perencanaan pengupahan tenaga kerja dan sebagainya. b. Pengorganisasian Dalam fungsi ini, manajemen personalia mengadakan pengorganisasian dengan membagi atau menentukan tugas wewenang serta tanggung jawab bagi setiap fungsi yang ada maupun bagi tenaga kerja. c. Pengarahan Fungsi manajemen ini dimaksudkan dengan memberikan pengarahan yang berkaitan dengan semua hal, baik masalah kedisiplinan peraturan kerja, cara kerja dan sebagainya kepada tenaga kerja. d. Pengawasan Fungsi yang terakhir ini dimaksudkan bahwa manajemen personalia juga melakukan pengawasan kepada setiap fungsi yang ada dalam perusahaan maupun tenaga kerja yang ada, untuk keperluan pencapaian tujuan usaha, maupun untuk tujuan pengembangan tenaga kerja. 2. Fungsi-fungsi Operatif a. Pengadaan Yang berkaitan dengan fungsi ini, menyangkut kegiatan perekrutan atau pengadaan tenaga kerja, mulai dari pemberian informasi tentang penerimaan, sampai kepada seleksi menempatkan tenaga kerja. b. Pengembangan Fungsi ini merupakan pelaksanaan pengembangan tenaga kerja baik mental / sikap, keahlian maupun manajemennya agar karyawan dapat bekerja dengan baik. c. Kompensasi Melaksanakan pembayaran kompensasi atau penghasilan kepada karyawan

14


sesuai dengan tingkatannya, atau sesuai dengan fungsi dan jabatan yang dipegangnya. d. Integrasi Menciptakan dan memelihara hubungan baik antara tenaga kerja dengan pimpinan maupun dengan perusahaan, sehingga dapat menjalin suatu kerja sama yang saling menunjang. e. Pemeliharaan Lebih berkaitan dengan motivasi yang diberikan kepada karyawan baik moril maupun materil, sehingga karyawan selalu loyal kepada perusahaan. Pengertian Kepemimpinan Dalam segala macam aktifitas kepemimpinan memainkan peranan penting dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan baik itu tujuan seseorang maupun tujuan sekelompok orang. Memang secara konseptual ada persamaan antara definisi kepemimpinan dengan manajemen tetapi sebenarnya terdapat perbedaan antara keduanya. Menurut (Moenir, 1989:233) dalam bentuk kepemimpinan kerja : Kepemimpinan adalah sesuatu yang dim iliki seseorang, sehingga orang tersebut mampu menggerakkan orang-orang melakukan perbuatan atau tindakan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran. Selanjutnya menurut (As'ad, 1986:3) yaitu : Kepemimpinan adalah merupakan tindakan seorang pemimpin memimpin anggota kelompok bawahannya dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Sedangkan (Stoner, 1992:468) mendefinisikan lebih luas lagi bahwa : Kepemimpinan manajerial merupakan proses bukan hanya mengarahkan tetapi juga mempengaruhi aktifitas anggota kelompok yang berhubungan dengan tugas. Berdasarkan definisi ini timbul tiga implikasi : 1. Kepemimpinan itu hanya melibatkan orang lain 2. Kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak sama antara pimpinan dengan anggotanya. 3. Pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan pada bawahannya tetapi juga dapat menggunakan pengaruh dengan kata lain pemimpin tidak hanya memberikan instruksi pimpinan. Dan beberapa pendapat diatas, dapatlah disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sebagai sifat kemampuan dan proses yang dimiliki oleh seseorang sedemikian rupa, sehingga is dipatuhi, dihormati oleh sekelompok orang dalam usahanya untuk mencapai tujuan bersama. Jadi dengan demikian kepemimpinan dapat diartikan sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain atau sekelompok orang untuk bekerja sama guna mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan sebagai suatu kekuatan dalam penerapannya selalu dibatasi oleh waktu dan tempat demikian juga kepemimpinan dalam kenyataannya secara filosofi kepemimpinan mempunyai landasan yang sama tetapi karena tempat yang berbeda menyebabkan perbedaan dalam penerapannya. Dengan kata lain penerapan kepemimpinan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada jika berhasil seperti yang diketahui bahwa latar belakang setiap perusahaan satu dengan yang lainnya pasti berbeda, baik mengenai struktur organisasinya maupun policy yang diterapkan dalam perusahaan. Sehingga perlu didasari bahwa penerapan suatu kepemimpinan juga dapat membawa misi-misi positif dan dinamis tertentu, yang

15


kalau perlu harus dapat mengubah situasi dan kondisi yang dinilai menjadi hambatan bagi kemajuan efektifitas dan efisiensi kerja. Sudah barang tentu cara yang ditempuh harus tetap manusiawi dan mendidik agar mini itu berhasil tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Kepemimpinan yang demikian yang dapat menciptakan keselarasan kerja bagi seluruh anggota kelompok dalam bekerja sehingga bawahannya dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Prinsip-prinsip Pokok Kepemimpinan Kepemimpinan dalam organisasi adalah menjadi satu bagian yang esensial dari fungsi mengarahkan (directing) meliputi prinsip-prinsip manajemen yang penting yang berlaku untuk semua level manajemen. 1. (Facilitation of Accomplishing objectifies) tujuan dari fungsi mengarahkan adalah membantu pencapaian sasaran-sasaran organisasi. 2. Prinsip kepemimpinan (Principle of leadership) prinsip mengarahkan yang penting ini menggabungkan faktorfaktor motivasional dengan aktifitas-aktifitas manajerial. Prinsip ini menyatakan bahwa pemimpin tidak memotivasi bawahan untuk memuaskan kebutuhan dan tujuan-tujuan yang diinginkan organisasi. Sehingga prinsip ini mengakui bahwa orang-orang yang ada dalam organisasi mempunyai keinginankeinginan dan tujuan-tujuan tertentu dan kemungkinan akan mengikuti atasannya apabila mereka melihat kesempatan untuk mencapai tujuan dan keinginannya. 3. Prinsip pengawasan langsung (Principle of Direct Supervision) Fungsi mengarahkan akan lebih efektif apabila ada pengawasan langsung. Kontak tatap muka tidak digantikan oleh bentuk komunikasi yang lain. Sebab dengan tatap muka dapat mengkomunikasikan faktorfaktor bahwa atasan mempunyai ketertarikan tersendiri terhadap bawahan dan pekerjaan mereka. Melalui pengawasan langsung, atasan bisa langsung berkomunikasi secara baik dengan bawahannya dan bisa mengetahui masalah yang ada secara cepat dan bisa menerima saran-saran dari karyawan. 4. Prinsip Gaya Kepemimpinan (Principle of Leadership Style) Di lingkungan organisasi terdapat bermacammacam orang dan tugas, gaya kepemimpinan seharusnya disesuaikan secara tepat. Oleh karena itu, kepemimpinan yang benar memakai gaya kepemimpinan yang efektif untuk menimbulkan tanggapan dari bawahan sesuai dengan yang diinginkan atasan. Semangat Kerja Masalah semangat kerja adalah masalah yang penting dalam setiap usaha kerjasama dengan sekelompok orang dalam suatu grup atau organisasi, dalam usahanya mencapai tujuan kelompok atau organisasi itu. Semangat kerja adalah sesuatu yang timbul dari dalam diri manusia yang merupakan unsur penting dalam usaha memacu produktivitas kerja karyawan untuk meningkatkan output, sesuai dengan tujuan organisasi / perusahaan. Semangat kerja menurut (Davis, 1962: 130) adalah : Setiap individu dan kelompok terhadap lingkungan kerja mereka dan terhadap kesediaan bekerjasama dengan orang lain secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan mereka yang paling baik demi kepentingan perusahaan. Sedangkan (Siswanto, 1987:24) menyatakan bahwa : Moral kerja atau semangat dan kegairahan kerja secara definitif dapat diartikan: sebagai suatu kondisi rohaniah atau individu tenaga kerja dan keluarga yang menimbulkan kesenangan mendalam pada diri tenaga kerja

16


untuk bekerja lebih giat dan konsekuen dalam mencapai tujuan yang ditetapkan oleh perusahaan. Hubungan Antara Peran Kepemimpinan Dengan Semangat Kerja Menurut (Gondokusuma, 1980:51) hubungan kepemimpinan dengan semangat kerja adalah sebagai berikut : Semangat kerja atau moril adalah refleksi dari sikap pribadi maupun sikap keluarga terhadap kerja dan kerjasama. Seperti sikap setiap karyawan sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas dari pihak pimpinan terutama kebijaksanaan kepemimpinan. Semangat merupakan pengaruh utama yang membuat karyawan mencapai hasil yang tinggi. Pemimpin dapat memberi perhatiannya kepada karyawannya dengan memberikan pengakuan pada hasil pekerjaan mereka. Memberikan sedikit pujian pendek terkadang terasa lebih efektif dari pada mengkritik kekurangannya sehingga semangat kerja karyawan meningkat. Manager yang baik akan hati-hati dalam menjamin bahwa bawahannya tetap memiliki sikapsikap yang mendukung keberhasilan pencapaian tujuan dari organisasi. Dengan singkat is juga harus menjadi pemimpin yang baik dan bahkan terus mampu memberikan perhatian kepada timnya, sampai faktor eksternal yang ada di dalam kendali individu timnya yang cenderung akan mengarah pada rendahnya semangat kerja karyawan. Dari beberapa penjelasan yang dibahas sebelumnya tentang hubungan yang terjadi diantara semangat kerja dan kepemimpinan diatas, menurut penulis ada beberapa hal dapat mempengaruhi semangat kerja karyawan yaitu : a. Tinggi rendahnya tingkat komunikasi antara pimpinan dan bawahannya b. Tinggi rendahnya tingkat kepercayaan atasa kepada bawahannya dalam mendelegasi wewenang dan tugas-tugas. c. Kesediaan atasan memberi bimbingan, pengarahan atau contoh pada bawahan. d. Tinggi rendahnya tingkat kreatifitas pimpinan dalam menciptakan lingkungan kerja yang baik. METODE PENELITIAN Definisi Konsep dan Operasional Variabel-variabel yang diamati dalam penelitian ini, adalah dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Hubungan antar pribadi (X1) Merupakan pola komunikasi dua arah yang dibentuk oleh seorang oleh pimpinan baik komunikasi antar karyawan, maupun antar karyawan dengan pimpinan baik komunikasi formal maupun informal. Hubungan antar pribadi, diukur dari beberapa indicator yang terdiri dari : a. Sikap pimpinan terhadap bawahannya b. Komunikasi antara karyawan c. Kepedulian pimpinan terhadap bawahan 2. Pengambilan keputusan (X2) Merupakan suatu sikap pimpinan dalam membuat keputusan terhadap semua aktifitas perusahaan. Variabel ini, diukur melalui penilaian beberapa indicator sebagai berikut: a. Ketepatan membuat keputusan b. Kecepatan dalam membuat keputusan c. Obyektifitas dalam membuat keputusan

17


3. Pengendali Informasi (X3) Merupakan kemampuan pimpinan dalam memberikan informasi secara efektif kepada karyawan, dengan pola akurat dan memisahkan antara informasi yang pantas disampaikan dan sebaliknya. Pengukuran terhadap variabel di atas, menggunakan indicator : a. Teknik menyampaikan informasi b. Kecepatan menyampaikan informasi c. Keterbukaan menyampaikan informasi 4. Semangat kerja karyawan pemasaran (Y) Merupakan gambaran tentang semangat dan kegairahan kerja dari karyawan bagian pemasaran dalam melakukan tugas pokoknya. Variabel ini, diukur dengan menggunakan berbagai indicator sebagai berikut : a. Tingkat kedisiplinan b. Motivasi kerja sesuai dalam menyelesaikan pekerjaan c. Hasil kerja Semua variabel independen dan dependen yang diteliti, diukur dengan menggunakan scoring / skala likhert, dengan pemberian skor : Sangat baik Skor 4 Baik Skor 3 Cukup baik Skor 2 Tidak baik Skor 1 Populasi dan Sample Jenis Data 1. Data Skunder 2. Data Primer Metode Pengumpulan Data 1. Library Research 2. Field Research a. Observasi b. Interview c. Dokumenter Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Menggunakan metode kuantitatif / statistik dengan rumusan regresi linier berganda, dengan bantuan program SPSS versi 11, dengan persamaan : Y = a + bX 1 + b2X2 + b3X3 + e

18


ANALISIS Pembahasan Identifikasi Masalah Permasalahan yang terjadi dari hasil penelitian ini, dapat dijelaskan bahwa kemampuan perusahaan dalam meraih pasar atau menciptakan transaksi dibentuk oleh beberapa faktor, antara lain adalah kemampuan tenaga marketing perusahaan dalam menyampaikan informasi tentan produk yang dihasilkan perusahaan kepada masyarakat, yang dapat menimbulkan keyakinan yang penuh dari masyarakat untuk memilih produk yang ditawarkan tersebut. Kemampuan tenaga pemasaran dari perusahaan ini, disamping didukung oleh kredibilitas perusahaan juga dibutuhkan kemampuan menjual tenaga personal selling yang prima, yang betul-betul menguasai strategi pemasaran agar dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang dihasilkan perusahaan. Kemampuan menjual yang tercermin dari semangat dan kegairahan kerja tenaga personal selling dari PT. Buana Larasindo Sidoarjo tentunya dapat ditingkatkan melalui beberapa Iangkah, antara lain dengan meningkatkan efektifitas hubungan antar pribadi, baik antar karyawan maupun antar pimpinan dengan karyawan, peningkatan dalam pengendalian informasi yang terjadi maupun akan terjadi agar dilakukan seefektif mungkin, serta pengembalian keputusan yang dilakukan oleh pimpinan agar memuat kepentingan bersama dan bukan kepentingan pribadi, atau kelompok. Pengujian Hipotesis Sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini serta hipotesis yang diajukan, dimana harus diuji kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan, agar dapat menjawab permasalahan yang terjadi dalam penelitian ini pada PT. Buana Larasindo Sidoarjo. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, adalah dapat dikemukakan sebagai berikut : Diduga hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendalian informasi, secara bersama-sama berpengaruh terhadap semangat dan kegairahan kerja tenaga pemasaran. Diduga hubungan antar pribadi sebagai variabel yang memiliki pengaruh dominan terhadap semangat dan kegairahan kerja karyawan pemasaran. Variabel dan Reliabilitas Sebagai data primer yang diperoleh langsung dari responden secara acak dengan berbagai pertanyaan, maka untuk mengetahui makna pertanyaan tersebut perlu dilakukan uji variabel dan reliabilitas terhadap data yang telah diperoleh dengan menggunakan 60 sampel awal. Uji Validitas Suatu variabel dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan dan apa yang seharusnya diukur, sehingga dapat memberikan informasi variabel yang diteliti secara tepat. Dalam uji validitas ini digunakan teknik korelasi produk moment dari person dengan level of signifikan sebesar 5 %, untuk mengetahui apakah variabel bebas (x) memiliki hubungan dengan variabel tidak bebas (Y). Uji Reliabilitas Untuk menguji konsistensi alat ukur yang telah digunakan apakah akurat, stabil atau konsisten, maka digunakan teknik Alpha Cronbach (a) dengan taraf signifikan 5

19


%, dimana dengan hasil Alpha Cronbach sebesar 0,8949 maka disimpulkan 0,5604 > 0,5, sehingga alat ukur kuesioner dalam instrumen ini adalah reliabel. Pengujian Hipotesis Sampel penelitian untuk menilai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan pegawai, adalah sebanyak 60 responden, dengan menggunakan bantuan program SPSS (terlampir), model regresi yang digunakan adalah sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y : Semangat dan kegairahan kerja karyawan pemasaran a : konstanta bn : koefisien regresi X1 : hubungan antar pribadi X2 : pengambilan keputusan X3 : pengendalian informasi Dengan menggunakan rumus regresi linier berganda, melalui bantuan program SPSS, diperoleh hasil. 1. Koefisien Determinasi Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda, diperoleh hasil koefisien determinasi atau R Square sebesar 0,644, yang mengandung arti bahwa semangat dan kegairahan kerja personal selling, 64,4% disumbangkan oleh hubungan antar pribadi pengambilan keputusan dan pengendalian informasi, sedangkan 35,6 % lainnya disumbangkan oleh variabel lainnya yang tidak dijelaskan dalam persamaan ini. 2. Uji simultan Untuk mengetahui pengaruh dari hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendalian informasi secara bersama-sama terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling, dapat dijelaskan melalui hipotesis berikut ini : Ho : Ftes < Ftable tidak terdapat pengaruh signifikan antara hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendalian informasi, secara bersama-sama terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Ha : Ftes > Ftabel terdapat pengaruh signifikan antara hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendalian informasi, secara bersamasama terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Dengan basil perhitungan dan regresi linier berganda, dengan Ftes 33,830 atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari Alfa 0,05, berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan, terdapat pengaruh yang signifikan antara hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendalian informasi, secara bersama-sama terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. 3. Uji Partial Hubungan antar pribadi (X1) Untuk mengetahui pengaruh dari hubungan antar pribadi, secara sendiri-sendiri terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling, dapat dijelaskan melalui hipotesis berikut ini : Ho : Ttes < Ttabel tidak terdapat pengaruh signifikan dari hubungan antar pribadi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Ha : Ttes > Ttabel terdapat pengaruh signifikan dari hubungan antar pribadi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Dengan hasil perhitungan regresi linier berganda, dengan t tes : 7,760 atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari Alfa 0,05,

20


berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara sendiri-sendiri, terdapat pengaruh yang signifikan antara hubungan antar pribadi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Pengambilan Keputusan (X2) Untuk mengetahui pengaruh dari pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling, dapat dijelaskan melalui hipotesis berikut ini : Ho : Ttes < Ttabel tidak terdapat pengaruh signifikan antara pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Ha : Ttes > Ttabel terdapat pengaruh signifikan antara pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Demikian hasil perhitungan regresi linier berganda, dengan t tes : 4,438 atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari Alfa 0,05 berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara sendirisendiri, terdapat pengaruh yang signifikan antara pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Pengendalian Informasi (X3) Untuk mengetahui pengaruh dari pengendalian informasi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling, dapat dijelaskan melalui hipotesis berikut ini : Ho : Ttes < Ttabel tidak terdapat pengaruh signifikan dari pengendalian informasi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Ha : Ttes > Ttabel terdapat pengaruh signifikan dari pengendalian informasi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Dengan hasil perhitungan regresi linier berganda, dengan t tes : 6,088. atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari Alfa 0,05, berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara sendirisendiri terdapat pengaruh yang signifikan antara pengendalian informasi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. 4. Variabel Dominan Untuk mengetahui dari ketiga variabel independen yaitu hubungan antar pribadi (X1), pengambilan keputusan (X2) dan pengendalian informasi (X3) manakah yang memiliki pengaruh dominan terhadap semangat dan kegairahan kerja tenaga personal selling, yang mana dengan berpedoman pada hasil perhitungan regresi linier berganda untuk nilai BETA, yang berpengaruh paling dominan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling, dapat disimpulkan melalui hasil uji Beta, sebagai berikut: Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda, dengan memperhatikan Beta dari masing-masing variabel independent, diketahui bahwa hubungan antar pribadi (X1) memiliki pengaruh yang paling dominant, karena nilai Beta dari variabel tersebut : 0,619 lebih tinggi jika dibandingkan dengan variabel independen lainnya. 5. Koefisien regresi masing-masing variabel Koefisien regresi dari masing-masing variabel independent terhadap varibel dependen, dapat dijelaskan sebagai berikut : Y = -0,702 + 0,446 (XI) + 0,353 (X2) + 0,394 (X3) Berdasarkan persamaan tersebut, koefisien regresi dari masingmasing variabel dapat dijelaskan sebagai berikut : Hubungan antar pribadi

21


Dengan koefisien regresi sebesar 0,446 maka dapat dijelaskan bahwa jika hubungan antar pribadi ditingkatkan sebesar satu satuan, maka semangat dan kegairahan kerja personal selling, akan meningkatkan sebesar 0,446 satuan dengan asumsi bahwa pengambilan keputusan dan pengendalian informasi konstan tidak mengalami perubahan. a. Pengambilan keputusan Dengan koefisien regresi sebesar 0,353 maka dapat dijelaskan bahwa jika pengambilan keputusan ditingkatkan sebesar satusatuan, maka semangat dan kegairahan kerja personal selling, akan meningkatkan sebesar 0,353 satuan, dengan asumsi bahwa hubungan antar pribadi dan pengendalian informasi adalah konstan tidak mengalami perubahan. c. Pengendalian Informasi Dengan koefisien regresi sebesar 0,394 maka dapat dijelaskan bahwa jika pengendalian informasi ditingkatkan sebesar satu satuan, maka semangat dan kegairahan kerja personal selling, akan meningkatkan sebesar 0,394 satuan, dan asumsi bahwa hubungan antar pribadi dan pengambilan keputusan konstan tidak mengalami perubahan. 6. Uji Colineritas Dengan hasil VIF yang lebih besar dari nilai toleransinya, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi korelasi antar variabel independen.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Uji Simultan Dengan hasil perhitungan regresi linier berganda, dengan Ftes -- 33,830 atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendalian informasi secara bersamasama terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling PT. Dwijaya Persada Indah . Uji Parsial Hubungan antar pribadi (X1) Untuk mengetahui pengaruh dari hubungan antar pribadi, secara sendiri-sendiri terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling dapat dijelaskan melalui hasil perhitungan regresi linier berganda dengan t tes = 7,760 atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari alfa 0,05, berarti Ho ditolak sedangkan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara sendiri-sendiri terdapat pengaruh yang signifikan antara hubungan antar pribadi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Pengambilan Keputusan Untuk mengetahui pengaruh pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling, dapat dijelaskan melalui hasil perhitungan regresi linier berganda dengan t tes = 4,438 atau dengan signifikansi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari alfa 0,05, berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara sendiri-sendiri terdapat pengaruh yang signifikan antara pengambilan keputusan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Pengendalian Informasi Untuk mengetahui pengaruh dan pengendalian informasi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling dapat dijelaskan melalui hasil perhitungan regresi Tinier

22


berganda dengan t tes = 6,088 dengan signifikansi sebesar 0,000 berarti lebih kecil dari alfa 0,05, berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa secara sendiri-sendiri, terdapat pengaruh yang signifikan antara pengendali informasi terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling. Variabel Dominant Dari ketiga variabel independen hubungan antar pribadi (X1), pengambilan keputusan (X2) dan pengendali informasi (X3), manakah yang memiliki pengaruh dominant terhadap semangat dan kegairahan regresi linier berganda, untuk nilai beta dari masingmasing variabel independent diketahui bahwa hubungan antar pribadi (X1) memiliki pengaruh yang paling dominan karena nilai beta dari variabel tersebut = 0,619 lebih tinggi jika dibandingkan dengan variabel independent yang lainnya. Variabel Yang Memiliki Pengaruh Dominan Untuk mengetahui variabel mana yang memiliki pengaruh dominan terhadap semangat dan kegairahan kerja tenaga personal selling. Yang mana dengan berpedoman pada hasil perhitungan regresi linier berganda untuk nilai beda, yang berpengaruh paling dominan terhadap semangat dan kegairahan kerja personal selling dapat disimpulkan melalui hasil uji beta, sebagai berikut : Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda, dengan memperhatikan beta dari masing-masing variabel independent diketahui bahwa hubungan antar pribadi (X1) memiliki pengaruh yang paling dominan, karena nilai beta dari variabel tersebut 0,619 lebih tinggi jika dibandingkan dengan variabel independent lainnya. Pola hubungan antar variabel-variabel bebas yang terdiri dari hubungan antar pribadi, pengambilan keputusan dan pengendali informasi terhadap variabel tergantung (semangat kerja karyawan personal selling) semuanya positif, artinya apabila ada salah satu variabel bebasnya meningkat dengan asumsi variabel lainnya konstan, maka variabel tergantung akan ikut meningkat. Saran Bagi perusahaan, hendaknya peran kepemimpinan khususnya yang berkaitan dengan informasi harus dipertahankan karena paling dominan pengaruhnya terhadap semangat kerja karyawan bagian personal selling. 1. Sedangkan peran pimpinan yang berkaitan dengan hubungan antar pribadi yang terdiri dari peran pimpinan sebagai simbol, sebagai pemimpin harus lebih diperhatikan, yaitu dengan cara dalam mengatasi permasalahan yang ada secara satu per satu, sehingga dapat dipikirkan bersama untuk mencari pemecahannya (dalam arti pimpinan tidak menumpuk masalah, baru kemudian diselesaikan karena hal itu bisa menjadi rumit). 3. Dengan adanya penjenjangan serta kesempatan promosi untuk jabatan tertentu secara terbuka dan transparan dengan mempertimbangkan semangat dan kegairahan kerja tenaga personal PT. Buana Larasindo Sidoarjo umumnya lebih baik dan sesuai harapan dari karyawan personal selling. 4. Secara umum variabel-variabel yang mempengaruhi semangat dan kegairahan kerja tenaga personal selling yang meliputi : hubungan antar pribadi, pengendalian informasi dan pengambilan keputusan secara simultan seutuhnya berpengaruh signifikan terhadap semangat kerja tenaga personal seutuhnya berpengaruh signifikan terhadap semangat kerja tenaga personal selling. Sehingga ke depan bagaimana melakukan semua variabel tersebut menjadi lebih berarti dalam menuju mendorong produktifitas

23


ANALISIS KUALITAS LAYANAN SEBAGAI PENGUKUR LOYALITAS PELANGGAN PT. OSAKA DENGAN KEPUASAN VARIABEL MODERATING

M. Choiron, SE., S.Pd., MM NIDN. 0720066403 PENDAHULUAN Latar Belakang Globalisasi menyebabkan industri jasa yang terdiri dari berbagai macam industri seperti industri telekomunikasi, transportasi, perbankan, dan perhotelan berkembang dengan cepat (Zeithaml & Bitner, 2003, p.3-4). Industri perhotelan, khususnya, adalah salah satu industri yang memadukan produk dan layanan. Desain bangunan, interior dan eksterior kamar hotel serta restoran, suasana yang tercipta di dalam hotel, kamar, restoran serta makanan dan minuman yang dijual beserta keseluruhan fasilitas yang ada merupakan contoh produk yang dijual. Sedangkan layanan yang dijual adalah keramahtamahan dan keterampilan staff/karyawan hotel dalam melayani pelanggannya. Layanan yang prima merupakan salah satu strategi dalam memberikan kepuasan pada pelanggannya. Layanan yang prima merupakan salah satu strategi dalam memberikan kepuasan pada pelanggan karena kepuasan pelanggan merupakan hal yang penting dalam persaingan bisnis. Banyak perusahaan berusaha meningkatkan kualitas layanannya untuk memenuhi harapan dan kepuasan para pelanggannya. Perusahaan tersebut menjual jasa sewa kamar hotel, dimana dalam memasarkannya membutuhkan bantuan biro perjalanan pariwisata, bandara udara dan terminal bus antar kota serta sopir taksi. Dengan adanya biro perjalanan, pariwisata yang telah memberikan informasi mengenai tempat peristirahatan atau menyewa kamar hotel maka secara tidak langsung dapat diuntungkan juga. Dengan demikian bisa mendapatkan posisinya dan menguasai pasar seluas-luasnya, karena tujuan akhir dan penyampaian hasil penjualan produk dan jasa adalah konsumen. Setiap perusahaan untuk dapat berkembang dengan baik tentunya juga harus secara kontinuitas mengembangkan strategi pemasaran yang didasarkan pada kebutuhan, kepuasan konsumen, sumber daya perusahaan, dan pesaing. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka penulis akhirnya menemukan pokok permasalahannya, yaitu : â&#x20AC;&#x2022;Apakah kualitas pelayanan mempengaruhi loyalitas pengunjung PT. Osaka dengan kepuasan sebagai variabel moderating?â&#x20AC;&#x2013; Tujuan Masalah Berdasarkan permasalahan seperti diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : â&#x20AC;&#x2022;Untuk menguji apakah kualitas pelayanan mempengaruhi loyalitas dengan tingkat kepuasan pengunjung PT. Osaka?

Manfaat Penelitian Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Bagi Peneliti

24


Hasil Penelitian ii nantinya diharapkan dapat mengilhami dan memahami minat seseorang pengunjung dalam memilih sebuah hotel sebagai tempat penginapan. b. Bagi PT. Osaka Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak manajemen hotel dalam upaya untuk meningkatkan kepuasan pengunjung secara konsisten dan terus-menerus. Dan juga dapat sebagai informasi yang berguna bagi manajemen hotel dalam usaha mengimplementasikan strategi pemasaran sehingga dapat mempertahankan pengunjungnya. Sistematika Laporan hasil Penelitian. Terdiri dari: Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Anaslisis Kesimpulan Dan Saran. KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelancaran hidupnya, untuk berkembang dan mendapat laba. Berhasil tidaknya dalam pencapaian tujuan bisnis tergantung pada keahlian mereka di bidang pemasaran, produksi, keuangan maupun bidang lain. Selain itu juga tergantung pada kemampuan mereka untuk mengkombinasikan fungsi-fungsi tersebut agar organisasi dapat berjalan lancar. Menurut Phillip Kotler (1996 : 15) ―Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran‖. Selanjutnya juga kemukakan pengertian pemasaran menurut Basu Swasta (1996 : 5) ―Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang diajukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli yang potensial‖.

Konsep Pemasaran Falsafah konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan pembeli atau konsep seluruh kegiatan dalam perusahaan tersebut. Menurut William J. Stanton (1984 : 5) ―Konsep pemasaran adalah pencapaian sasaran organisasi tergantung pada penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran dan pencapaian kepuasan yang didambakan itu lebih efektif dan efisien dibandingkan pesaing. Definisi pemasaran ini berpijak pada konsep-konsep inti sebagai berikut : kebutuhan, keinginan dan permintaan, produk, nilai, biaya, kepuasan, transaksi dan hubungan, pasar dan pemasaran dan pemasar. Pengertian Perilaku Konsumen Menurut Basu Swasta dan T. Hani Handoko (1998 : 4) ―Perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa termasuk didalamnya pengambilan keputusan pada persiapan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut‖. Ada dua elemen penting dari arti perilaku konsumen yaitu : 1. Proses pengambilan keputusan. 2. Kegiatan fisik, yang semua ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa ekonomis.

25


Analisa perilaku konsumen yang realistis hendaknya menganalisa juga prosesproses yang tidak dapat atau sulit diamati, yang selalu menyertai setiap pembelian. Mempelajari perilaku konsumen tidak hanya mempelajari apa (what), yang dibeli atau dikonsumsi, tetapi juga dimana (where), bagaimana kebiasaan (how often) dan dalam kondisi macam apa (under what condition) barang-barang dan jasa tersebut dibeli.

Model Perilaku Konsumen Membicarakan perilaku konsumen berarti kita mempelajari kegiatan manusia dalam lingkungan yang terbatas karena setiap bagian dari manusia (masyarakat) akan selalu menyerupai perilaku konsumen adalah sesuatu yang sangat komplek terutama karena banyaknya variabel yang mempengaruhi dan kecenderungan untuk saling berinteraksi. Menurut Basu Swasta dan T. Hani Handoko (1998 : 4) â&#x20AC;&#x2022;Model adalah sebuah penyederhanaan gambaran dan kenyataan. Penyederhanaan ini melalui pengaturan aspekaspek dari model terkaitâ&#x20AC;&#x2013;. Model dikembangkan untuk berbagai macam penggunaan, tetapi tujuan dari pengembangan model perilaku konsumen adalah : 1. Membantu kita untuk mempelajari dan mengembangkan teori yang mengarahkan penelitian perilaku konsumen. 2. Sebuah dasar untuk mempelajari pengetahuan yang terus berkembang tentang perilaku konsumen. Keduanya membantu kita berpikir sistematis dan logis tentang konsumen, yaitu tahap-tahap : 1. Identifikasi variabel-variabel yang relevan. 2. Menunjukkan karakteristik masing-masing. Menganalisa hubungan diantara variabel-variabel tersebut, yaitu bahwa mereka saling mempengaruhi satu sama lain.

Pengertian Kualitas Pelayanan Pelayanan merupakan alat pemasaran yang penting. Untuk barang dan jasa berkualitas dan harganya sama dan dalam keadaan persaingan biasanya pembeli cenderung memilih yang pelayanan penjualannya lebih baik, maka dari itu peneliti pasar harus mencari jenis pelayanan yang dikehendaki oleh calon pembeli dan pelayanan bagaimana yang telah di berikan oleh pihak pesaing. Para pakar marketing dalam memberikan pengertian pelayanan itu pada pokoknya identik dengan jasa kenyataannya memang sulit untuk memberikan batasan yang jelas antara pelayanan dengan jasa. Agar tidak mengaburkan pengertian tersebut diatas maka disini penulis cenderung memakai pelayanan itu sinonim dengan jasa supaya lebih jelasnya dikemukakan pendapat para ahli dibawah ini dalam memberikan pengertian pelayanan. Menurut pendapat Philip Kotler (1997:49) pelayanan adalah keseluruhan ciri-ciri serta sifat dari suatu layanan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersiratâ&#x20AC;&#x2013;. Sedangkan menurut J. Suprapto (1997 : 277) mengatakan bahwa â&#x20AC;&#x2022;Jasa atau pelayanan adalah suatu kinerja keyakinan, tidak berwujud dan cepat hilang bila dapat dirasakan dari pada dimiliki dalam memproses, mengkonsumsi jasa tersebutâ&#x20AC;&#x2013;. Jadi pelayanan merupakan alat pemasaran yang paling penting. Untuk barang dan jasa yang bermutu sama serta sejenis dalam keadaan persaingan biasanya konsumen

26


cenderung memilih pelayanan yang lebih baik dan memuaskan, maka dari itu peneliti pasar harus dapat mencari jenis pelayanan yang dikehendaki oleh konsumen karena konsumen adalah raja. METODE PENELITIAN Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Agar konsep yang digunakan dapat diukur dan menghindari makna yang berbeda maka variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan alat data interval untuk mendapatkan rata-rata tanggapan responden tentang tingkat kepuasan serta dimensi pelayanan. 1.

Kualitas Layanan (X) Kualitas layanan yang dimaksud adalah persepsi pengunjung tentang keunggulan layanan untuk mengevaluasi kualitas layanan tersebut (Zenithaml, Berry & Parasuraman, 2005). Berdasarkan hasil penelitian Darmawan (2004) kualitas layanan dapat diindikatorkan oleh (Schmenner, 1986) : a. Dimensi Berwujud (Tangible) (X1), berkaitan dengan segala sesuatu yang bersifat nyata (fasilitas-fasilitas fisik), pada hotel Narita Surabaya dapat diimplementasikan dengan indikator-indikator sebagai berikut : 1. Keberhasilan dan kenyamanan hotel (X1.1). 2. Dekorasi, furniture pada hotel (X1.3). 3. Fasilitas pada hotel (X1.2). b. Dimensi Daya Tanggap (Responsiveness) (X2), yang dimaksudkan adalah kualitas layanan yang berkaitan dengan bantuan dan kecakapan karyawan untuk membantu para konsumennya dan memberikan service sebaik mungkin, pada PT. Osaka dapat diimplementasikan dengan indikator-indikator sebagai berikut : 1. Kesigapan karyawan dalam melayani saat konsumen baru check in (X2.1). 2. Ketanggapan karyawan atas keinginan konsumen (X2.2). 3. Kecakapan akan pemeliharaan 35 ruangan hotel (X2.3). c. Dimensi Jaminan (Recovery) (X3), yang dimaksud adalah kualitas layanan yang berkaitan dengan tindakan korelasi apabila terjadi sesuatu kesalahan atau sesuatu yang tidak diharapkan, pada hotel Narita Surabaya dapat diimplementasikan dengan indikator-indikator sebagai berikut : 1. Penanganan terhadap keluhan yang dilakukan oleh konsumen terhadap perusahaan dengan serius dan memecahkan masalah yang dihadapi konsumen (X3.1). 2. Kemampuan perusahaan dengan serius dan memecahkan masalah yang dihadapi konsumen (X3.2). 3. Penanganan khusus dan informasi alternatif (X3.3). d. Dimensi Pengetahuan (Knowledge) (X4), yang dimaksud adalah kualitas layanan yang berkaitan dengan kepedulian, komunikasi yang baik dan perhatian pribadi dari karyawan dalam melayani para konsumen, pada PT. Osaka dapat diimplementasikan dengan indikator-indikator sebagai berikut : 1. Hubungan yang baik antara karyawan dan konsumen (X4.1). 2. Pemenuhan kebutuhan konsumen selama menginap (X4.2). 3. Kecakapan pekerja dalam hal pengetahuan peralatan hotel (X4.3).

27


2. Kepuasan Pengunjung (Y). Kepuasan bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai (Tjiptono dan Chandra, 2005:1995). Menurut Oliver (dalam Barnes, 2003:64) kepuasan adalah tanggapan pelanggan atas terpenuhinya kebutuhan; sedangkan Kotler (2003:61) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang dialami setelah membandingkan antara persepsi kinerja dengan harapan-harapannya. Yang diukur dengan indikator (Hawkins dan Lonney, 1997:31) sebagai berikut : 1. Nilai pelanggan (Y1) Merupakan persepsi pengunjung tentang keuntungan yang diterima pengunjung dibandingkan dengan pengorbanan yang diberikan. 2. Kehandalan (Y2) Merupakan persepsi pengunjung tentang pelayanan yang dijanjikan secara cepat. 3. Respon karyawan (Y3) Merupakan persepsi pengunjung tentang daya tanggap karyawan dalam menyelesaikan permasalahan.

Pengukuran Variabel Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval yaitu skala pengukuran yang menyatakan kategori, peringkat jarak construct yang diukur dengan kata lain tidak hanya mengukur perbedaan subjek atau objek secara kualitatif melalui kategorisasi dan menyatakan urutan preferensi, tetapi juga mengukur jarak antara pilihan yang satu dengan yang lain. Sedangkan teknik pengukurannya menggunakan bentuk semantic differential. Yang merupakan segala pengukuran sikap dengan menggunakan skala nilai 7 butir yang menyatakan secara verbal dua kutub (Bipolar) penelitian yang ekstrim dan dapat dinyatakan dengan pecahan. Dua kutub ekstrim ini dapat berupa penilaian mengenai baik buruk, cepat lambat dan kuat lemah. Yang jawabannya sangat positif terletak di bagian kanan garis, jawabannya sangat negatif terletak di bagian kiri garis. Digunakan dalam penelitian ini mengikuti pola sebagai berikut :

1 Sangat tidak baik

2 Sangat Baik

Teknik Penentuan Sampel a. Populasi Populasi merupakan himpunan individu atau kelompok yang memiliki ciri atau karakteristik yang sama dan menjadi objek atau sasaran dalam penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung yang memanfaatkan semua fasilitas yang ada di hotel dan disediakan oleh pihak hotel untuk kepentingan pengunjung PT. Osaka. b. Sampel Dalam penelitian ini, cara pengambilan sampel yang dilakukan adalah teknik non random sampling (non probability), tepatnya

28


Purposive. Purposive Sampling adalah sampel yang diambil dari siapa saja yang sedang berkunjung, dimana ditentukan dahulu siapa saja yang dapat menjadi sampel, bila dipandang sesuai maka subjek tersebut menjadi sumber data semua tamu hotel Narita Surabaya yang ditemui pada saat dilakukan pengambilan sampel oleh peneliti. 1. Tamu yang telah dianggap dewasa dan mengerti tentang apa yang dimaksudkan oleh peneliti dalam penelitian dengan usia diatas 17 tahun. 2. Tamu yang dianggap oleh peneliti telah melakukan kunjungan transaksi lebih dari satu kali. Untuk menetapkan jumlah sampel menggunakan pedoman (Ferdinand, 2002:48) : 1. Ukuran sampel yang sesuai menurut para ahli adalah antara 100- 200 sampel untuk teknik maksimum likelihood estimation. 2. Tergantung pada jumlah parameter yang estimasi dengan pedoman 510 kali jumlah parameter yang diestimasi. 3. Berdasarkan pedoman ini maka jumlah sampel yang digunakan adalah antara 80 â&#x20AC;&#x201C; 160. dalam penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 100 sampel untuk mengantisipasi adanya outlier. 4. Bila sampelnya sangat besar penelitian memiliki teknik estimasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini ada 18 indikator yang diestimasi sehingga jumlah besar maksimumnya adalah 18*7 = 126 responden. Teknik Pengumpulan Data Populasi dan Teknik Sampling Jenis Data 1. Data Skunder 2. Data Primer Metode Pengumpulan Data 1. Library Research 2. Field Research a. Observasi b. Interview c. Dokumenter Teknik Analisis Data Teknik Analisis Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah Structural Equation Model (SEM). Model pengukuran faktor kualitas jasa dan kepuasan menggunakan Confirmatory Factor Analysis.

29


ANALISIS Analisa Data Evaluasi Outlier Outliner adalah observasi atau data yang memiliki karakteristik unik yang sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam bentuk nilai ekstrim untuk sebuah variabel tunggal atau variabel kombinasi atau mutivariat (Hair, 1998). Evaluasi terhadap outliner multivariate (antar variabel) perlu dilakukan sebab walaupun data yang dianalisis menunjukkan tidak ada outliners pada tingkat univariate, tetapi observasi itu dapat menjadi outliers bila sudah saling dikombinasikan. Jarak antara Mahalanobis untuk tiap-tiap observasi dapat dihitung dan akan menunjukkan sebuah observasi dari rata-rata semua variabel dalam sebuah ruang multidimensional (Hair dkk, 1998;Tabachnick & Fidel, 1996). Uji terhadap outliners multivariate dilakukan dengan menggunakan jarak Mahalanobis pada tingkat p  1%. Jarak Mahalnobis itu dievaluasi dengan menggunakan 2 (chi kuadrat) pada derajat bebas sebesar jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Evaluasi Reliabilitas Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Cronbach’s Alpha ini digunakan untuk mengestimasi reliabilitas setiap skala (variabel atau observasi indikator). Sementara itu item to total correlation digunakan untuk memperbaiki ukuran-ukuran dan mengeliminasi butir-butir yang kehadirannya akan memperkecil koefisien Cronbach’s Alpha yang dihasilkan (Purwanto, 2002).

Proses eliminasi diperlakukan pada item to total correlation pada indikator yang nilainya  0,5 [Purwanto, 2003]. Tidak terjadi nilai item to total correlation indikator seluruhnya ≥ 0,05. Indikator yang tereliminasi tidak disertakan dalam perhitungan coronch’s alpha. Perhitungan cronch’s dilakukan setelah proses eliminasi. Hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal untuk setiap construct diatas menunjukkan hasil baik dimana koefisien Cronbanch’s Alpha yang diperoleh seluruhnya memenuhi rules of thumb yang disyaratkan yaitu ≥ 0,7 [Hair et.al,1998]. Evaluasi Validitas Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai sebuah indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang seharusnya diukur, karena indikator multidimensi, maka uji validitas, dari setiap latent variable / construct akan diuji dengan melihat loading factor dari hubungan antara setiap observed variable dan latent variable. Berdasarkan hasil confirmatory factor analysis terlihat bahwa factor loadings masing-masing butir pertanyaan yang membentuk setiap construct sebagian besar  0,5, sehingga butir-butir instrumensi setiap konstruk tersebut dapat dikatakan validitasnya kurang baik. Evaluasi Construct Reliability dan Variance Extracted Selain melakukan pengujian konsistensi internal Cronbach’s Alpha, perlu juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance extracted. Kedua pengujian tersebut masih dalam koridor uji konsistensi internal yang akan memberikan

30


peneliti kepercayaan diri yang lebih besar bahwa indikator-indikator individual mengukur suatu pengukuran yang sama (Purwanto, 2002). Dan variance extracted direkomendasikan pada tingkat 0,50. Hasil pengujian reliabilitas instrumen dengan construct reliability dan variance extracted menunjukkan instrumen kurang reliabel, yang ditunjukkan dengan nilai construct reliability belum seluruhnya ≥ 0,7. Meskipun demikian angka tersebut bukanlah sebuah ukuran ―mati‖ artinya bila penelitian yang dilakukan bersifat exploratory, maka nilai di bawah 0,70 pun masih dapat diterima sepanjang disertai alasan-alasan empirik yang terlihat dalam proses ekplorasi. Dan variance extracted direkomendasikan pada tingkat 0,50.

Evaluasi Normalitas Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Skewness Value dari data yang digunakan yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. Nilai statistik untuk menguji normalitas itu disebut z-value. Bila nilai-z lebih besar dari nilai kritis maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat signifikasi 0,01 (1%) yaitu sebesar  2,58. Hasilnya diperoleh nilai c.r. multivariat diantara  2,58 dan itu berarti asumsi normalitas selanjutnya. Hasil uji menunjukkan bahwa nilai c.r. multivariate berada diantara 2,58 itu berarti asumsi penelitian normalitas terpenuhi. Fenomena ini tidak menjadi masalah serius seperti dilakukan oleh Bentler & Chou [1987] bahwa jika teknik estimasi dalam model SEM menggunakan maximum likelihood estimation [MLE] walau distribusi datanya tidak normal masih dapat menghasilkan good estimate, sehingga data layak untuk digunakan dalam estimasi selanjutnya. Analisis Model One – Step Approach to SEM Dalam model SEM, model pengukuran dan model penelitian struktural parameter-parameternya diestimasi secara bersama-sama. Cara Ini agak mengalami kesulitan dalam memenuhi fit model. Kemungkinan terbesar disebabkan oleh terjadinya interaksi antara interaksi antara measurement model dan structural model yang diestimasi secara bersama-sama (one-step approach to SEM). One-step approach to SEM digunakan apabila model diyakini bahwa dilandasi teori yang kuat serta validitas dari reliabilitas data sangat baik. (Hair.et.al, 1998). Pembahasan Dari hasil uji validitas pada tabel 4.17 diatas, dapat dilihat bahwa angka faktor loading menunjukkan tingkat respon dari setiap pertanyaan yang diajukan kepada responden. Konstrak yang memiliki indikator yang cukup ekstrim / menonjol antara lain : - Indikator (X1.1) ―Kebersihan dan kenyamanan hotel‖ memiliki faktor loading 0,238, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (X1.2) ―Dekorasi, furniture pada hotel‖ memiliki faktor loading 0,000, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (X1.3) ― Fasilitas pada hotel‖ memiliki faktor loading -0,029, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik.

31


- Indikator (X2.1) ―Kesigapan karyawan dalam melayani saat konsumen baru check in‖ memiliki faktor loading 0,074, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (X2.2) ―Ketanggapan karyawan atas keinginan konsumen‖ memiliki faktor loading 0,998, hal ini menunjukkan bahwa dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (X2.3) ―Kecakapan akan pemeliharaan ruangan hotel‖ memiliki faktor loading 0,001, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (X3.1) ―Penanganan terhadap keluhan yang dilakukan oleh konsumen terhadap perusahaan‖ memiliki faktor loading 0,075 hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden dengan baik. - Indikator (X3.2) ―Kemampuan perusahaan dengan serius dan memecahkan masalah yang dihadapi konsumen‖ memiliki faktor loading -0,169 hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden dengan baik. - Indikator (X3.3) ―Penanganan khusus dan informasi alternatif‖ memiliki faktor loading 0,998, hal ini menunjukkan bahwa dapat direspon oleh responden dengan baik. - Indikator (X4.1) ―Hubungan yang baik antara karyawan dan konsumen‖ memiliki faktor loading 0,306, bahwa hal ini menunjukkan tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (X4.2) ―Pemenuhan kebutuhan konsumen selama menginap‖ memiliki faktor loading -0,127, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon kurang baik. - Indikator (X4.3) ―Kecakapan pekerja dalam hal pengetahuan peralatan hotel‖ memiliki faktor loading 0,056 hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (Y1) ―Nilai pelanggan‖ memiliki faktor loading 0,275, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (Y2) ―Kehandalan‖ memiliki faktor loading -0,205, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (Y3) ―Respon karyawan‖ memiliki faktor loading 0,768, hal ini menunjukkan bahwa dapat direspon oleh responden dengan baik. - Indikator (Z1) ―Mengatakan hal yang positif‖ memiliki faktor loading 0,282, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (Z2) ―Merekomendasikan‖ memiliki faktor loading -0,162, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Indikator (Z3) ―Pembelian secara terus menerus‖ memiliki faktor loading 0,364, hal ini menunjukkan bahwa tidak dapat direspon oleh responden kurang baik. - Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis pengaruh service quality terhadap satisfaction, diperoleh hasil bahwa faktor service quality tidak mampu berpengaruh positif terhadap faktor satisfaction karena nilai probabilitas kausalnya ≥0,10. Dari hasil Tabel 4.16. Hasil Kausalitasnyas diatas, Dilihat dari tingkat Prob. arah hubungan kausal, maka hipotesis yang menyatakan bahwa : - Faktor Service Quality berpengaruh negatif terhadap Faktor Satisfaction, tidak dapat diterima [Prob, kausalnya 0,172 > 0,10 [tidak signifikan [positif]. - Faktor Satisfaction berpengaruh positif terhadap Faktor Loyalty, tidak dapat diterima [Prob. kausalnya 0,259 > 0,10 [tidak signifikan [positif].

32


- Faktor Satisfaction berpengaruh positif terhadap Faktor Loyalty, tidak dapat diterima [Prob. kausalnya 0,086 â&#x2030;¤ 0,10 [signifikan [negatif]. Hal ini dapat disebabkan bahwa service quality yang terdiri dari dimensi tangible, Responsiveness, Recovery, dan Knowledge yang diberikan oleh pihak hotel belum maksimal terhadap Satisfaction dapat dilihat dari ketidakpuasan akan keragaman jasa yang diberikan pihak hotel, ketidakpuasan penanganan komplain. Begitu juga service quality dengan Loyalty. Dilihat dari keinginan untuk menginap kurang ada, kurangnya rekomendasi kepada kerabat. Kualitas harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Ini berarti bahwa citra kualitas yang baik bukan hanya berdasarkan sudut pandang atau persepsi pelanggan, sehingga ada hubungan yang erat antara service quality terhadap Satisfaction dan Loyalty. Baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan penyedia jasa untuk dapat secara konsisten memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada umumnya konsumen lebih memperhatikan service yang diberikan oleh pihak hotel terhadap pengguna jasa serta fasilitas-fasilitas pendukung baik fasilitas teknis dan non teknis. Hal-hal lain yang juga perlu ditingkatkan antara lain adalah, peningkatan keterampilan dan keahlian para karyawan dengan mengikutsertakan dalam berbagai program pelatihan, kerapihan dan keramahan dari para karyawan yang agar selalu sabar dan sopan dalam melayani konsumen. Selain itu adanya saran ataupun kritik dari para konsumen menunjukkan kekurangan pelayanan yang diberikan oleh pihak hotel. Oleh karena itu kritik tersebut harus mendapat perhatian secara serius agar kepuasan konsumen tetap terpelihara dengan baik terlebih untuk reputasi layanan hotel tersebut. Faktor Satisfaction berpengaruh positif terhadap Faktor Loyalty karena dimensi dari Satisfaction yang berupa nilai pelanggan, kehandalan, respon karyawan sangatlah baik. Hal ini dapat dilihat dari kepuasan konsumen terhadap keragaman jasa pelayanan yang ditawarkan oleh pihak hotel, kepuasan yang dijanjikan oleh pihak hotel, dan kepuasan akan penanganan komplain pihak hotel. Secara umum, kepuasan merupakan tingkat perasaan konsumen setelah membandingkan antara kinerja layanan yang diterimanya dengan kinerja layanan yang diharapkannya. Ini berarti bahwa tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara harapan dengan kinerja layanan. Apabila kinerja layanan dibawah harapan, maka konsumen akan kecewa. Bila kinerja layanan sesuai dengan harapan, maka konsumen akan merasa puas sehingga akan tercipta loyalitas. Dan sebaiknya pihak hotel tidak boleh puas dulu, karena persaingan yang semakin ketat akan bisa mengatakan hal yang tidak diinginkan. Disamping itu pihak hotel harus waspada dan lebih meningkatkan kualitas layanan demi terciptanya kepuasan dan loyalitas konsumen. Karena kualitas layanan sangatlah penting bagi penyedia jasa. Khususnya industri perhotelan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Faktor Service Quality berpengaruh negatif terhadap satisfaction 2. Service Quality berpengaruh negatif terhadap loyalty 3. Faktor satisfaction tidak berpengaruh positif terhadap loyalty

33


Saran 1. Pihak hotel hendaknya lebih memperhatikan dan mengutamakan service quality yaitu meliputi fasilitas fisik, kerapian, keramhan, pengetahuan dan keahlian para karyawan sehingga nantinya para konsumen akan merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh pihak hotel. 2. Pihak hotel hendaknya selalu melakukan perbaikan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan dan kepuasan konsumen sehingga nantinya konsumen akan tetap loyal. 3. Meningkatkan loyalitas konsumen dengan cara memberikan informasi yang menarik mengenai produk dan jasa yang ditawarkan oleh pihak hotel, menangani dengan cepat keluhan yang dihadapi oleh para konsumen dan mencari alternatif solusi yang terbaik.

34


ANALISIS LABA DAN DEVIDEN PER LEMBAR SAHAM DAN PENGARUHNYA TERHADAP HARGA SAHAM DI PT. BUANA LARASINDO SIDOARJO Fariz, SE., MM NIDN. 0706078202

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keputusan investasi menyangkut masalah yang berkenaan dengan penggunaan dana, yaitu untuk investasi jangka panjang atau untuk modal kerja. Investasi jangka panjang dapat berupa investasi proyek, penelitian dan pengembangan, dan eksplorasi. Sedangkan investasi pada modal kerja adalah investasi untuk jangka pendek. Menurut pendekatan praktis, modal kerja diartikan sebagai investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang, dan persediaan, dikurangi kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar (Weston dan Copeland, 1992:379). Sejalan dengan semakin diakuinya peran strategis pasar modal, Bapepam berusaha melakukan regulasi dibidang pasar modal. Hasilnya tanggal 2 Oktober 1995 DPR menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang pasar modal yang kemudian pada 10 Nopember 1995 oleh presiden disyahkan menjadi UU No.8 tahun 1995 tentang pasar modal dan berlaku efektif tanggal 1 Januari 1996 dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah tentang penyelenggaraan kegiatan dibidang pasar modal. Sementara itu, para pengusaha sudah menyadari akan potensi yang dimiliki pasar modal kita. Bagi mereka pasar modal merupakan sarana mendapatkan dana segar. Pola pembiayaan melalui penawaran umum di pasar modal ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan pembayaran melalui perbankan. Selain perusahaan memperoleh dana yang cukup besar, kredibilitas perusahaan lebih terjamin, perusahaan akan terpublikasikan terus-menerus. Selain itu terjadi pula proses internasionalisasi perusahaan karena saham-sahamnya dimiliki pula oleh investor asing. Pendanaan melalui pasar modal tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan, tapi juga membawa dampak positif bagi ekonomi nasional. Dengan demikian banyak perusahaan yang masuk bursa, berarti mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha. Pada gilirannya akan menciptakan peluang usaha baru, dan penambahan pajak bagi negara. Faktor rasional umumnya berkaitan dengan analisis fundamental. Analisis ini difokuskan dan dilakukan terhadap aspek fundamental seperti laba per saham, deviden per saham struktur permodalan, potensi pertumbuhan dan prospek usaha perusahaan dari perusahaan yang memasuki pasar modal. Pada dasarnya pendekatan ini menekankan nilai atau harga saham berdasarkan laba yang akan diperoleh dari suatu saham tersebut. Analisis fundamental tidak menaruh perhatian pada pola pergerakan saham dimasa lalu tetapi berusaha menentukan nilai yang tepat untuk suatu saham. Proses pengambilan keputusan investasi yang dipengaruhi factor-faktor diatas

35


ditambah dengan mekanisme konversi mempengaruhi fluktuasi harga saham merupakan suatu masalah yang sangat penting bagi perusahaan. Harga saham mencerminkan citra perusahaan dimasyarakat. Jika harga saham di perusahaan baik maka dapat dikatakan bahwa citra perusahaan baik. Harga saham suatu perusahaan menunjukkan nilai penyertaan dalam perusahaan. Pada pasar modal sempurna dan efisien, harga saham mencerminkan segala informasi yang tersedia secara umum di bursa maupun informasi yang hanya dapat diperoleh dari golongan-golongan tertentu. Tinggi rendahnya harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kondisi dan kinerja perusahaan, resiko deviden, tingkat suku bunga, kondisi perekonomian, kebijaksanaan pemerintah, laju inflasi, penawaran dan permintaan serta masih banyak lagi, karena dimungkinkan adanya perubahan faktor-faktor diatas mengakibatkan naik dan turun harga saham. Persaingan ketat antar perusahaan yang go publik melalui pemecahan saham atau stock split terbatas akhir-akhir ini, mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai pemecahan saham guna menguji apakah pemecahan saham mempunyai kandungan informasi yang cukup untuk membuat pasar bereaksi terhadap faktor tersebut. Reaksi pasar tersebut akan ditujukan dengan adanya perubahan harga dari harga saham tersebut di pasar. Reaksi pemecahan saham ini kemudian diukur dengan laba per saham dan deviden per saham dimana pemecahan saham merupakan variabel kualitatif, didalam teori sinyal yang asumsi utama adalah bahwa manajemen mempunyai informasi yang akurat tentang nilai perusahaan yang tidak diketahui oleh investor.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka peneliti ini diharapkan dapat menjawab pokok permasalahan berikut : 1. Apakah laba dan deviden per lembar saham berpengaruh secara simultan terhadap harga saham ? 2. Manakah diantara laba perlembar saham dan deviden per lembar saham yang lebih dominan mempengaruhi harga saham ? Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan menganalisa apakah laba per saham dan deviden mempengaruhi secara simultan terhadap harga saham ? 2. Untuk mengetahui dan menganalisa manakah yang lebih dominan mempengaruhi harga saham diantara laba per saham dan deviden per saham? Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka manfaat dan hasil penelitian ini untuk kepentingan manajemen obyek penelitian, peneliti, ilmu pengetahuan, dan perguruan tinggi adalah sebagai berikut : 1. Bagi Perguruan Tinggi STIE YAPAN Surabaya, hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai salah satu pemikiran terkait dengan dinamika pengembangan Perguruan Tinggi. 2. Bagi manajemen perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja keuangan perusahaan sekaligus upaya-upaya untuk investasi jangka panjang atau untuk modal kerja perusahaan.

36


Sistematika Laporan Hasil Penelitian. Terdiri dari: Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Anaslisis Kesimpulan Dan Saran.

KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Saham Saham yaitu surat tanda ikut serta memasukkan modal kedalam perusahaan yang mengeluarkan surat tersebut, sehingga dengan sendirinya mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu sebagai seorang pemilik perusahaan Pengertian Saham Suatu perusahaan dapat menjual hak kepemilikannya dalam bentuk saham. Munandar ( 1996:3 ), memberikan definisi sebagai berikut : saham yaitu surat tanda ikut serta memasukkan modal kedalam perusahaan yang mengeluarkan surat tersebut, sehingga dengan sendirinya mempunyai hak-hak dan kewajibankewajiban tertentu sebagai seorang pemilik perusahaan (misalnya : hak ikut serta menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan, hak menikmati bagian-bagian dari keuntungan perusahaan, kewajiban ikut menanggung kerugian-kerugian perusahaan sampai batas tertentu dan sebagainya) Jenis-jenis Saham Saham yang dikeluarkan perusahaan dapat digolongkan berdasarkan atas perbedaan hak dari pemegang saham yang bersangkutan. Adapun jenis-jenis saham yang dikeluarkan perusahaan yang banyak dikenal di Indonesia adalah sebagai berikut : 1. Saham Biasa Adalah saham dengan hak untuk memperoleh keuntungan. Selain itu pemilik saham mempunyai hak suara dalam rapat umum pemegang saham dan juga memperoleh sebagian kekayaan perseroan setelah tagihan dari kreditur dilunasi. 2. Saham Bonus Adalah saham yang diberikan kepada pemegang saham karena adanya kondisi yang tidak berimbang dan perbandingan anrara cadangan dengan modal sendiri. Dengan diberikannya saham bonus kepada pemegang saham, kekayaan dan perusahaan tersebut tidak mengalami perubahan karena tidak ada kekayaan yang bertambah dan juga tidak ada modal yang dibayarkan. Perubahan hanya terjadi pada perubahan komulatif dan pergeseran struktur permodalan. Sifat dari pemberian ini pada hakekatnya merupakan satu pembesaran modal dari keuntungan-keuntungan tahun lalu yang seharusnya dibagikan dalam bentuk deviden kepada pemegang saham. Dengan kata lain pemberian saham bonus dilakukan untuk memelihara keseimbangan anrara modal nominal perseroan dan kekayaan. 3. Saham Preferen Adalah saham yang memberikan hak untuk mendapatkan deviden beserta bagian kekayaan pada saat pembubaran perseroan lebih dahulu dari pada saham biasa, disamping itu mempunyai persepsi untuk mengajukan usul pencalonan direksi atau komisaris. Saham ini lain dari saham biasa, karena pemegang saham tersebut diberikan hak utama atau prioritas tentang bagian

37


dari keuntungan ataupun hak-hak lain, seperti hak mengurus dan hak bagian pada pembubaran. Berbagai Nilai dari Saham Dunia usaha mengacu pada beberapa nilai saham yang berbeda. Nilainilai itu termasuk : 1. Nilai Pasar Adalah harga dimana seorang dapat menjual atau membeli selelmbar saham ( Horngren, 1998:700). Pemberihanuan atas laba bersih perseroan terbatas, posisi keuangan, prospek masa dating dan kondisi perekonomian umum menentukan nilai pasar. Surat kabar harian melaporkan harga pasar dari berbagai saham, laporan keuangan perseroan terbatas melaporkan nilai pasar yang rendah dan tinggi dan saham biasa pada tiap kuartal. Perusahaan tidak membuat penyesuaian untuk mencatat perbedaan dari nilai buku dan nilai pasar. Nilai buku dipengaruhi jumlah ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan nilai pasar dipengaruhi oleh banyak hal seperti laba, deviden, masalah internal perusahaan, sehingga hal ini menyebabkan perbedaan antara nilai buku dan nilai pasar. 2. Nilai Penarikan Perseroan akan membeli kembali, atau menarik saham preferen mereka untuk menghindari pembiayaan deviden. Saham preferen yang dapat ditarik kembali dengan harga tertentu disebut harga preferen dapat ditarik kembali. Pada beberapa kasus, perusahaan mempunyai pilihan untuk menarik kembali saham preferennya dengan harga tertentu. Pada kasus lain, perusahaan wajib untuk menarik kembali saham preferennya. Harga yang disetujui perseroan terbatas untuk menarik kembali sahamnya yang ditetapkan saat dikeluarkan disebut harga penarikan. 3. Nilai Likuidasi Nilai likuidasi yang berlaku pada saham preferen, adalah jumlah yang disetujui perseroan terbatas untuk dibayar pada pemegang saham preferen untuk tiap lembar saham jika perusahaan dilikuidasi (Horngren, 1998:701). Deviden yang belum dapat dibayar ditambahkan pada nilai likuidasi untuk menentukan pembayaran pada pemegang saham preferen. 4. Nilai Buku Nilai buku saham adalah jumlah ekuitas pemilik pada catatan perusahaan untuk tiap lembar sahamnya (Horngren,1998:701). Perseroan terbatas sering melaporkan jumlah ini pada laporan tahunan mereka. Jika perusahaan hanya memiliki saham biasa yang telah beredar, nilai bukunya dihitung dengan membagi total ekuitas pemegang sahan dengan jumlah saham beredar. Jika perusahaan memiliki saham preferen dan saham biasa yang beredar, pemegang saham preferen memiliki kesempatan pertama untuk menuntut bagian atas ekuitas pemilik. Biasanya, saham preferen memiliki nilai likuiditas atau nilai penarikan tertentu. Nilai buku dari saham preferen adalah nilai penarikannya ditambah deviden saham komulatif yang belum dapat dibayar. Jika ada, nilai buku per lembar saham sama dengan jumlah penarikan dan deviden komulatif yang dapat dibayar dibagi jumlah saham preferen yang beredar, setelah perseroan terbatas menghitung nilai buku saham preferen, is menghitung nilai buku per lembar saham biasa. Pereroan terbatas menghitung nilai buku saham biasa dengan membagi ekuitas saham (total ekuitas pemegang saham dikurangi ekuitas saham preferen) dengan jumlah saham biasa yang beredar.

38


Harga Pasar Saham Harga pasar saham bisa diartikan sebagai harga pasar yaitu harga yang berlaku di pasar pada saat itu dan dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran yang secara fundamental ditentukan oleh aktiva yang dimilikinya (Usman,1990 :126). Ada dua faktor yang mempengaruhi harga saham, antara lain factor fundamental dan non fundamental. Faktor fundamental umumnya berkaitan dengan penilain kerja perusahaan seperti laba per lembar saham, deviden per lembar saham, struktur permodalan, potensi pertumbuhan, dan prospek usaha perusahaan. Alat yang dipakai untuk menilai aspek-aspek fundamental itu disebut sebagai analisa fundamental. Pada umumnya pendekatan analisa fundamental menilai suatu saham berdasarkan laba dalam bentuk deviden dan prospek usaha perusahaan, sedangkan dasar untuk menilai kinerja perusahaan adalah hasil usaha perusahaan dalam laporan keuangan dan perkembangan harga saham di bursa (Sj ahrir,1995 :16) Sedangkan faktor-faktor non fundamental yang mempengaruhi harga saham biasanya merupakan hal-hal yang tidak dapat diperhitungkan dan diprediksi, seperti kebijakan pemerintah, keadaan ekonomi dan sebagainya. Meskipun demikian pada kenyataannya harga saham di Indonesia cenderung dipengaruhi oleh factor-faktor non fundamental, dari pada faktor-faktor fundamental dari dalam perusahaan sendiri. Sedangkan menurut Weston dari Bringham ( 1993:26 ), faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham : a. Proyeksi laba per lembar saham saat diperolehnya laba tingkat resiko, dan proyeksi laba. b. Proporsi hutang perusahaan terhadap ekuitas, serta kebijakan pembagian deviden. c. Adanya faktor eksternal seperti keadaan perekonomian, pajak dan keadaan bursa saham. Oleh karena itu dalam melakukan investasi di pasar modal, investor harus benar-benar menyadari bahwa disamping akan memperoleh keuntungan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengalami kerugian, karena hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor dalam menganalisa keadaan harga saham dan kemungkinan turun naiknya harga saham tersebut. Tingkat Pendapatan Per lembar Saham Laba per lembar saham (Earning Per Share) EPS, menurut Zaki Baridwan (1997:444) adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk setiap saham yang beredar. Informasi mengenai pendapatan per lembar saham dapat digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan deviden yang akan dibagikan. Angka EPS paling sering digunakan dalam publikasi mengenai performance perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat umum, karena EPS merupakan pendapatan yang diperoleh dari tiap lembar saham yang diinvestasikan, dimana besarnya pendapatan tergantung dari laba bersih yang diperoleh perusahaan dan jumlah lembar saham yang beredar. Sedangkan menurut Weston dari Bringham (1993:25), secara matematis EPS dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Earning Per Share (EPS) =

39


EPS ini nantinya dapat digunakan untuk mengukur perolehan pemegang saham dari tiap investasi pada laba bersih perusahaan yang dihasilkan. Pemecahan Saham ( Stock Split ) Pemecahan saham adalah perubahan nilai nominal per lembar saham dan menambah jumlah saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecahan. Pemecahan saham ( stock split ) yang biasa dilakukan pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi, sehingga akan mempengaruhi saham ini maka nilai nominalnya akan menjadi lebih rendah per lembar sahamnya, sehingga dapat dijangkau oleh investor dan diharapkan akan membantu meningkatkan daya tarik investor, membuat saham likuid untuk diperdangankan. Pada dasarnya ada dua jenis pemecahan saham yang dapat dilakukan yaitu: a. Pemecahan naik ( split-up) adalah penurunan nilai nominal per lembar saham yang mengakibatkan bertambahnya jumlah saham yang beredar, misalnya pemecahan saham dengan faktor pemecahan 2:1. 3:1, misal : nilai nominalnya Rp 1.000 / lembar saham, lalu dilakukan pemecahan sahan dengan factor pemecahan saham 2:1, maka nilainya akan turun menjadi Rp 500 / lembar sehingga dari satu lembar akan menjadi dua lembar saham. b. Pemecahan turun ( split-down ) adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar, misalnya pemecahan turun dengan faktor pemecahan 1:2, 1:3, yang merupakan kebalikan dari pemecahan naik. Di Indonesia para emiten sampai saat ini hanya melakukan pemecahan saham naik (stock splitâ&#x20AC;&#x201D;up). Dan belum pernah terjadi kasus pemecahan saham turun (stock splitâ&#x20AC;&#x201D;down). Oleh karena itu , dalam penelitian ini penulis hanya akan menggunakan sampel perusahaan yang melakukan pemecahan saham naik. Reaksi Pasar Terhadap Pemecahan Saham a. Reaksi Pasar Pemecahan Saham Berdasarkan Likuidasi Salah satu faktor yang menentukan nilai saham suatu perusahaan adalah tingkat likuiditas saham tersebut. Dalam akuntansi, likuiditas suatu asset menentukan seberapa cepat asset tersebut dapat dikonversi menjadi uang tunai (kas). Semakin cepat asset tersebut berubah menjadi kas semakin tinggi likuiditasnya. Copelan (1979) dalam Ewijaya (1999:61) menemukan bahwa memerlukan jurnal, yang diperlukan hanyalah sebuah memo (catatan). "Likuiditas saham akan menurun setelah dilakukan pemecahan saham". Penurunan tersebut disebabkan karena meningkatnya transaksi per lembar saham, karena dengan nilai transaksi yang lebih kecil para investor harus membayar biaya transaksi sama, sehingga para investor kemungkinan juga akan mengurangi kepemilikan jumlah saham hasil pemecahan dengan tujuan untuk mengurangi resiko investasi. b. Reaksi Pasar Pemecahan Saham Berdasarkan Harga Saham Harga saham yang dimaksud disini adalah harga pasarnya. Harga pasar saham lebih sering dipakai dalam berbagai penelitian di pasar modal, karena harga saham yang paling dipentingkan oleh investor. Harga saham mencerminkan nilai suatu perusahaan. Semakin tinggi harga suatu saham maka semakin tinggi pula perusahaan tersebut dan sebaliknya. Berbagai penelitian empiris telah dilakukan untuk menguji apakah benar bahwa pemecahan saham mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga

40


saham ?. Barker (1956) dan Fama et.al (1969) dalam Ewijaya (1999:54) melakukan pemecahan saham di Amerika Serikat, para peneliti tersebut memperoleh kesimpulan yang sama bahwa sebenarnya pemecahan saham tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Perubahana harga saham yang terjadi disektor periode pemecahan saham semata-mata hanya dipengaruhi oleh ekspektasi para investor terhadap deviden yang dibagikan. Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh Johnson (1996) dan Ewijaya (1999:61) yang melakukan penelitian dengan mengambil sample perusahaan yang murni melakukan pemecahan saham mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh deviden dan laba perlembar saham terhadap harga saham bagi perusahaan yang melakukan pemecahan harga nominal perlembar saham di Bursa Efek Indonesia. Definisi Operasional Variabel Dalam penelitian ini, penulis menggunakan 1 variabel dependen (terikat) dan 2 variabel independent (bebas). Variabel dependen diwakili oleh perubahan harga saham (Y), dan variabel independen masing-masing akan diwakili laba per lembar saham (X1), deviden per lembar saham (X2). Harga Saham Harga saham merupakan harga pasar yang berlaku pada saat itu dan dipengaruhi oleh adanya permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar modal. Laba Per Lembar Saham Laba per lembar saham merupakan rasio dari laba bersih terhadap jumlah saham yang memberikan ukuran tingkat hasil pengembalian investasi bagi pemegang saham. Variabel ini dapat dihitung dengan formula sebagai berikut: Laba per saham = Data laba per lembar saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah periode 2006-2010 dan data variabel laba per lembar saham ini diukur dalam satuan rupiah. Deviden Per Lembar Saham Deviden per lembar saham merupakan distribusi laba secara langsung dari perusahaan kepada investor yang didasarkan pada lembar saham, dengan formula sebagai berikut : (Bringham,1995:38) Deviden yang dibagikan Deviden per saham = Jumlah lembar saham yang beredar Data deviden per lembar saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah periode 2006-2010.

41


Data variabel deviden per lembar saham ini diukur dalam satuan rupiah. Teknik Analisis Data Populasi dan Teknik Sampling Jenis Data 1. Data Skunder 2. Data Primer Metode Pengumpulan Data 1. Library Research 2. Field Research a. Observasi b. Interview c. Dokumenter Teknik Analisis Data Menggunakan metode kuantitatif / statistik dengan rumusan regresi linier berganda, dengan bantuan program SPSS versi 11, dengan persamaan : Y = a + bX 1 + b2X2 + b3X3 + e

ANALISIS Pembahasan Hasil Perhitungan regresi tinier berganda Y= 951,462 + 0,995 Eps â&#x20AC;&#x201D; 0,3556 Dps yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Variabel Laba Per Lembar Saham Analisa pengaruh laba per saham terhadap variabel tidak bebas harga saham, hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi dengan arah yang positif sebesar 0,995 artinya hubungan antara variabel bebas laba per saham dengan variabel tidak bebas harga saham searah yaitu apabila laba per saham meningkat maka harga saham akan meningkat. Dilihat dari tingkat signifikan variabel bebas laba per saham terhadap harga saham ternyata thitimg > ttabei maka Ho diterima dan Hi ditolak sehingga tidak berpengaruh secara nyata dan berhubungan positif terhadap harga saham (Y). Variabel Deviden Per Lembar Saham Analisa pengaruh Deviden per saham terhadap variabel tidak bebas harga saham, hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi dengan arah yang negatif sebesar 0,3556 artinya hubungan antara variabel bebas laba per saham dengan variabel tidak bebas harga saham berlawanan yaitu apabila deviden per saham meningkat maka harga saham akan menurun. Dilihat dari tingkat signifikan variabel bebas deviden per saham terhadap harga saham ternyata thitung < ttabel maka Ho ditolak dan H1 diterima sehingga tidak berpengaruh secara nyata dan berhubungan positif terhadap harga saham (Y).

42


KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Hipotesis I yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh secara simultan antara Laba Per Lembar saham / EPS (Xi), Deviden Per lembar saham /DPS (X2) terhadap Harga Saham (Y) terbukti kebenarannya. Pernyataan didukung dengan hasil Uji F, dimana diperoleh hasil Fhitung= 5,823 lebih besar dari Ftabel = 3,81 2. Hipotesis II yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh secara parsial antara Laba Per Lembar saham /EPS (Xi) terhadap Harga Saham (Y) tidak teruji kebenarannya. Pernyataan ini didukung dengan hasil Uji t, diperoleh nilai thitung = 3,384 dimana thitung > ttabei yaitu 3,384 > 2,2010. 3. Hipotesis III yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh secara parsial antara Deviden Per lembar saham /DPS (X2) terhadap Harga Saham (Y) tidak teruji kebenarannya. Pernyataan ini didukung dengan hasil Uji t, diperoleh nilai t hitung = - 0,998 yang terletak pada interval â&#x20AC;&#x201D;ttabei < thitung > ttabei yaitu â&#x20AC;&#x201D; 2,2010 < thitung < 2,2010 atau berada pada penerimaan Ho dan penolakan Hi. Saran Investor lama yang menjual saham setelah pemecahan saham akan mengalami keuntungan karena harga saham akan mengalami kenaikan. 1. Investor baru sebaiknya membeli saham yang dipecah setelah tanggal pemecahan saham, karena harga pasarnya akan lebih rendah bila dibandingkan pada saat sebelum pemecahan saham. 3. Perusahaan yang melakukan pemecahan saham sebaiknya meningkatkan kinerja perusahaan dan SDM-nya sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan yang kemudian mampu meningkatkan besarnya deviden yang dibagikan, sehingga penurunan harga saham setelah pemecahan saham tidak mencapai posisi harga yang terlalu rendah.

43


ANALISIS PENGARUH INTENSIF TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PT. DARPA KASTARA SURABAYA

Sulastri, SE., MM NIDN. 0712057902

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pembangunan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. mempunyai tujuan untuk meningkatkan nilai dan martabat manusia dan selanjutnya dapat menimbulkan perubahan kemajuan disegala bidang guna meningkatkan pemenuhan kebutuhan manusia. Dalam dunia usaha yang bergerak di bidang produksi selalu menginginkan untuk dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Hal ini sangat penting karena menyangkut kelangsungan hidup suatu perusahaan. Seperti diketahui bahwa perkembangan suatu perusahaan sangat tergantung pada pengembangan tenaga kerja yang ada. Agar supaya manusia sebagai faktor tenaga kerja dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempunyai produktivitas yang tinggi perlu diupayakan adanya kebijakan kesejahteraan yang balk dan terarah. Dalam hal ini masalah insentif sebagai salah satu unsur kesejahteraan karyawan, perlu sekali diperhatikan dalam rangka meningkatkan produktivitas, mengingat produktivitas kerja karyawan dalam suatu perusahaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam usaha mencapai tujuan perusahaan. Salah satu Cara untuk merangsang agar karyawan berada pada tingkat produktivitas yang tinggi adalah dengan cara pemberian insentif. Hal ini kemungkinan karena pemberian insentif baik secara materiil (finansial) ataupun berupa non materiil (pemberian penghargaan, kesempatan untuk maju, promosi jabatan, kenaikan pangkat), ini merupakan bentuk imbalan kepada karyawan yang telah bekerja sesuai dengan prestasi kerjanya, sehingga dengan kebijaksanaan tersebut diharapkan akan dapat mendorong untuk bekerja secara optimal. Pemberian insentif dapat mendorong serta mempengaruhi tenaga kerja untuk lebih meningkatkan semangat dan kegairahan kerja. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa pemberian upah beserta insentif tidaklah besar jumlahnya, melainkan lebih ditekankan pada sejauh mana jumlah yang diberikan tersebut dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja. Disamping itu perusahaan juga hams mengetahui keadaan karyawan secara utuh, bagaimana kesenangan mereka, sampai sejauh mana prestasi yang dapat mereka kerjakan untuk kepentingan perusahaan dan sebagainya. PT. Darpa Kastara , yang merupakan obyek penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi kipas angin gantung, yang dalam menjalankan aktivitasnya mengalami penurunan produktivitas. Hal ini disebabkan karena dalam pemberian insentif kepada karyawan masih kurang memuaskan, akibatnya hasil produksinya tidak sesuai dengan target yang ditetapkan oleh perusahaan. Sedangkan pihak perusahaan selalu berupaya untuk memberikan kesejahteraan kepada karyawannya yang disesuaiican dengan kemampuan

44


perusahaan. Rumusan Masalah Permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut : "Apakah dengan pemberian insentif yang memadai akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan?". Tujuan Penelitian Untuk membuktikan apakah ada pengaruh pemberian insentif bagi peningkatan produktivitas kerja karyawan PT. Darpa Kastara Manfaat Penelitian Bagi Perusahaan Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan sehubungan dengan masalah yang dihadapi di bidang Sumber Daya Manusia Bagi Peneliti Penerapan teori-teori yang telah diperoleh selama di bangku kuliah ke dalam praktek perusahaan secara nyata, sehingga dalam kesempatan ini dapat meneliti kebijaksanaan yang ditempuh oleh perusahaan.

KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Pengertian manajemen sumber daya manusia ini menurat Handoko (2001:5) bahwa manajemen sumber daya manusia adalah pengakuan terhadap pentingnya saluan tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya manusia yang vital bagi pencapaian tujuan-tujuan organisasi, dan pemanfaatan berbagai fungsi dan kegiatan personalia untuk menjamin bahwa mereka digunakan secara efektif dan bijak agar bermanfaat bagi individu, organisasi dan masyarakat. Sementara itu pendapat lain dikemukakan oleh Marihot (2002:3) keseluruhan penentuan dan pelaksanaan berbagai aktivitas, policy, dan program yang bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja, pengembangan, dan pemeliharaan dalam usaha meningkatkan dukungannya terhadap peningkatan evektivitas organisasi dengan cara yang secara etis dan scsial dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan menurut Flippo (1995:5) Manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi integrasi, pemeliharaan dan perumusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan masyarakat.. Pada umumnya kegiatan-kegiatan di bidang sumber daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu : a. Dari sisi pekerjaan, kegiatan-kegiatan ini terdiri atas analisis pekerjaan dan evaluasi pekerjaan. b. Dari sisi pekerja, kegiatan itu terdiri atas pengadaan tenaga kerja, penilaian prestasi kerja, pelatihan dan pengembangan, promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja. (Simamora, 2004: 5) ada empat hal yang Ician penting berkenaan dengan manajemen sumber daya manusia : 1. Penekanan yang lebih dari biasanya terhadap pengintegrasian berbagai kebijakan SDM dengan perencanaan bisnis. Hal ini menganggap bahwa manajemen sumber daya bukan hanya aktivitas strategi belaka, melainkan

45


merupakan suatu yang sentral dalam pencapaian tujuan bisnis. 2. Tanggung jawab pengelolaan SDM tidak lagi terletak hanya pada manajer khusus, tetapi sekarang dianggap terletak pada manajemen lini senior. 3. Perubahan fokus dari hubungan serikat pekerja. Manajemen menjadi hubungan manajemen karyawan, dari kolektivisme menjadi individualisme. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran dari "Hubungan Industri" menjadi "hubungan karyawan". 4. Terdapat aksentuasi pada komitmen dan melatih inisiatif dimana manajer berperan sebagai penggerak dan fasilitator. Hal ini menyiratkan bahwa pembentukan dan pengelolaan kultur organisasi sama pentingnya seperti kerja orang itu sendiri, dimana individu diberikan peluang untuk merealisasikan seluruh potensi mereka. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia Tujuan utama manajemen sumber daya manusia menurut Sedarmayanti (2001:6) adalah untuk meningkatkan kontribusi pegawai terhadap organisasi dalam rangka mencapai produktivitas organisasi yang bersangkutan. Hal ini dapat dipahami karena semua kegiatan organisasi dalam mencapau tujuan, tergantung kepada manusia yang mengelola organisasi yang bersangkutan. Oleh sebab itu, sumber daya manusia tersebut harus dikelola agar dapat berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuan tersebut dapat dijabarkan ke dalam 4 tujuan yang lebih operasional, yaitu sebagai berikut: 1. Tujuan masyarakat Adalah untuk bertnggung jawab secara sosial, dalam hal kebutuhan dan tantangan yang timbul dari masyarakat. 2. Tujuan organisasi Adalah untuk melihat bahwa manajemen sumber daya manusia itu ada (exist), maka perlu adanya kontrihusi terhadap pendayagunaan organisasi secara keseluruhan.

3. Tujuan fungsi Adalah untuk memelihara kontribusi bagian lain agar mereka (sumber daya manusia aalam tiap bagian) melaksanakan tugasnya secara optimal. 4. Tujuan personal Adalah untuk membantu pegawai dalam mencapai tujuan pribadinya, guna mencapai tujuan organisasi. Pengertian Insentif Sebagai dasar atau pedoman di dalam menganalisis masalah dalam penelitian ini, maka penulis mencoba mengemukakan beberapa teori yang ada hubungannya dengan topik permasalahan dalam penulisan skripsi ini, yakni mengenai pengaruh insetif dengan produktivitas kerja, mengingat insentif merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam merangsang gairah dan semangat kerja karyawan. Menurut (Heidrachman Ranupandoyo dan Suad Husnan, 2001:161), yang dimaksud dengan insentif adalah : Memberikan upah gaji yang berbeda karena memang prestasi kerja yang berbeda. Walaupun dua orang karyawan mempunyai jabatan yang sama tetapi belum tentu mereka berdua menerima upah yang sama hesarnya, ini disebabkan karena prestasi kerja mereka yang berbed.

46


Sedangkan menurut (Murti Stunarrii dan John Soeprihanto, 1991:124), insentif adalah : "Diberikan sebagai upah atau bonus untuk pekerjaan yang memberikan basil yang lebih besar dari standard yang ditentukan". Lebih lanjut (Edwin B. Filippo dan Moh. Mas'ud, 2004:35), menjelaskan insentif adalah "Jumlah keluaran rata-rata yang perlu untuk prestasi kerja yang memadai dan jumlah uang yang wajar dan adil untuk basil kerja rata-rata". Dengan demikian insentif dapat diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk memberi dorongan kepada para karyawan agar dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan, khususnya karyawan sebagai produksi. Jadi dapat disimpulkan bahwa insentif diberikan kepada karyawan bagian produksi yang mempunyai prestasi kerja yang tinggi, dengan memberikan tambahan secara langsung disamping upah pokok atau upah dasar. Upah tambahan ini dimaksudkan untuk mendorong semangat dan gairah kerja karyawan meningkat, sehingga apabila produktivitas meningkatkan tentu saja hasil produksi juga meningkat pula. Tujuan dan Fungsi Pemberian Insentif Tujuan Pemberian Insentif Untuk memotivasi atau merangsang semangat dan gairah kerja karyawan, khususnya bagian produksi agar hasil produksi meningkat. Pemberian insentif dimaksudkan agar karyawan lebih produktif dan agar dapat meningkatkan basil produksi sesuai dengan target dan pada perusahaan. Fungsi Pemberian Insentif Adapun fungsi pemberian insentif adalah sebagai pendorong atau penggerak agar para karyawan bisa bersemangat dan ikhlas dalam melaksanakan tugas demi mencapainya tujuan organisasi tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Jadi dengan pemberian insentif diharapkan mampu menjadikan motivator pendorong dalam menyelesaikan pekerj aannya. Wujud atau Bentuk Insentif Untuk mengetahui macam jenis insentif penulis menguraikan tentang macammacam insentif. Menurut (Sarwoto, 1991:154) dalam bukunya Dasar-Dasar Organisasi dan Manajemen, mengatakan bahwa insentif digolongkan menjadi dua jenis : a. Insentif Berupa Materiii b. Insentif Berupa Non Materiil Dan wujud dan bentuk insentif tersebut diatas dapat penulis jelaskan sebagai berikut: a. Insentif Berupa Materiil Bentuk dari pada insentif ini adalah berupa uang yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya. Insentif jenis ini dapat menambah penghasilan yang diperoleh karyawan disamping upah pokok atau upah dasar yang diterimanya.

b. Insentif Berupa Non Materiil Insentif ini dapat diberikan dengan berbagai bentuk dan hal ini tidak dapat dinilai dengan uang antara lain : 1. Pemberian tanda jasa 2. Pemberian pujian secara lisan atau tulisan 3. Ucapan terima kasih secara formal atau informal 4. Kesempatan untuk maju

47


5. Promosi jabatan (kenaikan pangkat) 6. Dan lain-lain Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas, tidak terlepas dari pemenuhan kebutuhan, karena dengan terpenuhinya kebutuhan seseorang, maka orang yang bersangkutan terdorong akan bertindak, sehingga akan mempengaruhi suatu kegiatan. Sebuah kerangka dasar yang menarik untuk mencoba menjelaskan kekuatan dari pada kebutuhan adalah apa yang dikemukakan oleh A. Maslow. Ia menciptakan kebutuhan pokok yang membantu para pimpinan mengerti dan memahami faktor yang memotivasi karyawan. A. Maslow mengemukakan teori "Need Hierarchy Theory" dalam bukunya (T. Gibson Invanevuch, Donally, Djarkasih, 2001:97) meliputi : 1. Kebutuhan fisiologi (Physiological Needs) 2. Kebutuhan rasa aman (Safety Needs) 3. Kebutuhan Sosial (Social Needs) 4. Kebutuhan Harga Diri (Self esteem Needs) 5. Kebutuhan Perwujudan din (Self Actualitation Needs) Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dijelaskan sebagai berilcut : 1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs) Adalah tingkat kebutuhan yang paling rendah dalam hirarki Maslow, yaitu kebutuhan akan makan dan minum dan juga tempat tinggal. 2. Kebutuhan fisiologi telah dipenuhi, maka kebutuhan rasa aman akan muncul menggantikannya. Hal ini menjadi kebutuhan yang berusaha dipenuhi orang itu, yaitu kebutuhan akan perlindungan dari mara bahaya atau kehilangan sesuatu. 3. Kebutuhan Sosial (Social Needs) 1. Kondisi fisik pekerjaan Menyangkut bahan baku lingkungan kerja, kelancaran mesin, apabila penyediaan bahan baku lancar tidak pernah terlambat, mesin lancar yang akan dipakai sampai selesai tidak pernah macet dan lingkungan kerja nyaman, maka produktivits kerja akan lebih baik.

METODE PENELITIAN Definisi Konsep dan Operasional a. Insentif sebagai variabel independent atau variabel bebas (X) Insentif adalah suatu alat untuk memotivasi karyawan agar mereka bersemangat dalam bekerja. Sebagai alat ukurnya adalah tingkat absensi dan tingkat produksi yang dihasilkan. Intensif tersebut berupa ď&#x20AC;­ Intensif berupa materiil (financial), adalah imbalan yang diberikan oleh perusahaan yang berupa uang atau barang yang diterima secara langsung atau tidak langsung oleh karyawan yaitu bonus, tunjangan hari raya (THR), jaminan kesehatan (Askes). ď&#x20AC;­ Insentif berupa non materiil (non financial), adalah imbalan yang diberikan perusahaan kepada karyawan secara langsung yaitu : berupa pemberian penghargaan, kesempatan untuk maju, promosi jabatan, kenaikan pangkat. b. Produktivitas kerja sebagai variabel independent atau variabel terikat (Y) Produktivitas kerja adalah jumlah barang yang dihasilkan setiap pekerja dalam

48


waktu tertentu dengan menggunakan faktor-faktor atau alat-alat produksi yang tersedia. Sebagai alat ukurnya yaitu perbandingan antara volume atau jumlah barang yang dihasilkan dengan masukan (input) yang dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut : Jenis Data 1. Data Skunder 2. Data Primer Metode Pengumpulan Data 1. Library Research 2. Field Research a. Observasi b. Interview c. Dokumenter

Teknik Analisis Data Menggunakan metode kuantitatif / statistik dengan rumusan regresi dengan rumus: Y = a + bx ANALISIS Pembahasan. Sistem Pengupahan Upah merupakan suatu balas jasa perusahaan kepada karyawan atau tenaga kerja. Adapun system pembayaran gaji atau upah karyawan hariar dilakukan dua kali selama satu bulan, yaitu setiap targgal 1 dan 15. Sedangkan upah yang dibayarkan kepada karyawan adalah sebesar Rp. 35.250,- per harinya.

Pelaksanaan Pemberian Upah Untuk pemberian upah insentif dari PT. Darpa Kastara , tidak didasarkan pada prestasi kerja, tetapi didasarkan pada jumlah kehadirannya, sehingga setiap karyawan memperoleh insentif yang sama. Tingkat Absensi Absensi karyawan atau karyawan tidak masuk kerja disebabkan oleh beberapa hal diantaranya izin, sakit dan alpa. Adapun tingkat absensi karyawan bagian produksi PT. Darpa Kastara. Pengujian Hipotesis Untuk membuktikan rnasalah yang dihadapi yaitu melalui analisis kualitatif, penulis mempergunakan indikasi turunnya produktivitas kerja. Untuk mengatasi turunnya produktivitas kerja dapat dilakukan dengan memberikan insentif kepada karyawan bagian teknisi atau produksi yang mempunyai prestasi kerja yang baik, sehingga produktivitas kerja dapat ditingkatkan sesuai dengan target perusahaan. Agar dapat mencapai tujuan yang dikehendaki, maka perusahaan harus memperhatikan keaciaan atau kepentingan karyawan, karena apabila semangat dan tingkat produktivitas kerja karyawan menurun, maka akan menimbulkan kerugian perusahaan. Setelah penulis mengetahui masalah yang dihadapi, maka hipotesa yang ada masih diperlukan pengujian untuk meyakinkan tingkat kebenarannya dan untuk mengujinya penulis menggunakan analisa kuantitatif dengan menggunakan rumus regresi dan kolerasi. Untuk menghitung koefisien antara upah insentif dengan

49


produktivitas kerja karyawan dapat penulis tampilkan pada tabel dibawah ini Y2 Tahun X Y X2 X.Y 2005

425

40.7

180.625

1.656.49

17.297.5

2006

450

44.5

202.500

1.9170.36

19.980

2007

575

57.1

303.625

3.260.41

32.832.5

2008

550

47.4

302.500

2.246.76

26.070

ď &#x201C;

2.000

189.6

1.016.250

9.135.02

96.180

Keterangan : X = Insentif Y = Produktivitas Kerja Karyawan Regresi Linier Sederhana : Y = a + bx KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Sesuai hipotesa yang telah dianjurkan terlebih dahulu yaitu: dengan adanya pemberian upah insentif bagi karyawan bagian produksi secara tepat, maka dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan target produksi dapat tercapai, sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan. Dan hipotesa yang ada dapat terbukti kebenarannya. 2. Bila ditinjau dari basil regresi Y = 4,94 + 0,085 (X), dapat suatu kesimpulan apabila upah insentif diturunkan maka produktivitas kerja akan menurun dan apabila upah insentif dinaikkan maka produktivitas kerja akan meningkat. 3. Bila ditinjau dari hasil perhitungan uji t dengan tingkat level of signifikan 0,10, maka hipotesa yang penulis ajukan diperoleh nilai uji test sebesar 2,760 > 1,886, hal ini berarti bahwa Ho berada di daerah penolakan dari Hi berada di daerah penerimaan, sehingga hipotesa terbukti dan dapat diterima kebenarannya. Apabila perusahaan menerapkan pelaksanaan pemberi upah insentif terhadap karyawan bagian produksi secara tepat dan memuaskan maka akan dapat memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan. 4. Untuk mengatasi turunnya produktivitas kerja karyawan dapat dilakukan dengan memberikan insentif kepada karyawan bagian produksi. Saran

1. Pemberi upah insentif yang tepat kepada semua karyawan, khususnya bagian produksi, harus dipikirkan serius oleh pimpinan perusahaan dalam hubungan dengan peningkatan produktivitas dan target produksi sehingga nantinya perusahaan akan memenuhi permintaan 2. Perusahaan selain memberikan upah insentif kepada karyawan, perusahaan sebaiknya juga meningkatkan keterampilan lainnya yang masih berhubungan dengan pekerjaan yang ditekuni. 3. Pimpinan perusahaan sebaiknya menetapkan berapa jumlah minimal produksi yang harus dihasilkan oleh karyawan untuk memperoleh upah insentif Hal ini akan membedakan penerimaan upah insentif, sehingga tidak memicu adanya

50


kecemburuan sosial yang akan berakibat pada penurunan produktivitas kerja karyawan. 4. Pimpinan hendaknya memberikan bimbingan serta pengarahanpengarahan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilaksanakan oleh karyawan secara berkesinambungan sehingga dapat mendorong semangat dan gairah kerja karyawan yang pada akhirnya tujuan dan perusahaan dapat tercapai tanpa adanya kendala-kendala yang berarti. Dengan dimilikinya keterampilan .akan mempermudah karyawan menyelesaikan tugasnya.

51


"ANALISA UMUR PIUTANG SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN PIUTANG PADA PT. INDONESIA PARTNER SOLUTION 1. Rima Kurnia Fiastanti 2. Orie Pupuh Wigatie 3. Huriyanto 4. Rini Astuti

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Perkembangan usaha, baik dalam skala maupun intensitasnya seringkali dihadapkan pada kesulitan mendapatkan dana segar untuk menambah modal kerja yang semakin meningkat. Bagi perusahaan go publik kebutuhan tambahan modal kerja ini dapat dipenuhi dari penjualan saham-sahamnya. Akan tetapi bagi perusahaan yang masih tertutup, yang tidak mungkin menjual saham, kebutuhan tambahan modal kerja seringkali diperoleh dari lembaga-lembaga keuangan, khususnya dari bank, baik berupa kredit investasi maupun kredit modal kerja (KMK). Dalam kondisi normal, pengambilan kredit dari bank bukan masalah yang terlalu rumit, tetapi dalam kondisi krisis, yang berdampak diberlakukannya kebijakan uang ketat (TMP), hal tersebut dirasakan sangat sulit, sehingga setiap perusahaan dipaksa seoptimal mungkin mengelola sumber dana intern yang dimililcinya. Rata-rata pembayaran piutang oleh para developer (pembeli) berkisar 5 s/d 6 minggu atau lebih lambat 2 â&#x20AC;&#x201D; 3 minggu dari kesepakatan. Untuk keterlambatan tersebut PT. INDONESIA PARTNER SOLUTION (PT. IPS) tidak mengenakan denda dengan alasan untuk mempertahankan pelanggan dan menjaga nama baik. Dampak nyata dari keterlambatan pembayaran piutang oieh pelanggan adalah menurunnya kemampuan WSP dalam penyediaan bahan-bahan bangunan, mengingat saat ini supply bahan bangunan, khususnya berupa pasir, bata dan bantu kali sangat sulit didapatkan. Sementara pembelian dari petani / perusahaan penambang harus tunai bahkan tak jarang sebagian pembayaran dilakukan di depan sebagai ikatan. Dalam beberapa bulan terakhir, walaupun rencana kegiatan dan cashflow yang disusun sudah cukup fleksibel, namun seringkali mengalami kegagalan dan meleset dari perkiraan semula. Banyak permintaan bahan tak bisa dipenuhi dengan segera, sehingga beberapa pelanggan mulai beralih kepada supplier lain. Dalam jangka panjang, apabila tidak segera diatasi, kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kebangkrutan usaha. Dalam gambaran tersebut di atas, penulis memiliki keyakinan bahwa apabila WSP mampu mengatur piutang usahanya, dengan mengeluarkan kebijakankebijakan pengendalian piutang antara lain dengan aging schedule, dengan harapan piutang perusahaan akan segera dapat teratasi. Dengan latar belakang tersebut di atas penulis mengambil judul dalam pembuatan skripsi ini berupa "ANALISA UMUR PIUTANG SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN PIUTANG PADA PT. INDONESIA PARTNER SOLUTION

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang dirumuskan oleh

52


penulis adalah sebagai berikut : "Bagaimana analisa umur piutang dapat mengendalikan piutang sehingga permasalahan piutang perusahaan dapat segera teratasi". Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah ingin mengetahui sampai sejaulunana analisa umur piutang dapat digunakan sebagai alat untuk mengendalikan piutang. Sistematika Penulisan Penelitian

KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Pengertian Piutang Menurut Smith dan Skousen (1995:290), piutang mempunyai arti sebagai berikut : In its broadest sense, the term receivables is applicable to all callims against other for money, goods or services for all accounting purpose, however, the term is generally employed in a narrower sense to designate a claims expected to be settled by the receipts of cash. Sedangkan menurut Mulyadi (1992:469) pengertian piutang adalah sebagai berikut : "Klaim kepada pihak lain atas uang barang / jasa yang dapat diterima dalam jangka waktu satu tahun atau dalam siklus kegiatan perusahaan". Piutang dalam arti sempit menurut Munawir (1995:15), piutang dagang adalah tagihan kepada pihak lain (Iangganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagang secara kredit. Menurut Dr. Zaki Baridwan, MSc, Akt piutang dapat diartikan sebagai berikut : â&#x20AC;&#x2022;Piutang adalah tagihanâ&#x20AC;&#x201D;tagihan, tagihan disini dimaksudkan dengan klaim perusahaan atas uang. barang-barang, atau jasa terhadap pihakpihak lain. Dalam akuntansi tagihan biasanya digunakan untuk menunjukkan klaim yang akan dilunasi dengan uang". Menurut Efraim Ferdinan Girl dalam buku Akuntansi Keuangan I (1995:118) definisi piutang adalah; â&#x20AC;&#x2022;Piutang adalah tuntutan kepada pihak lain untuk memperoleh uang, barang dan jasa (aktiva) tertentu pada masa yang akan datang, sebagai akibat penyerahan barang atau jasa yang dilakukan saat ini. Piutang akan menimbulkan aliran kas masuk di masa yang akan datang".

Umur rata-rata piutang Umur rata-rata piutang adalah lamanya dana yang tertanam di dalam piutang Umur rata-rata piutang ini mencerminkan baik buruknya kualitas dari para langganan. Jika umur rata-rata piutang lebih panjang dari jangka waktu pembayaran yang telah ditetapkan, ini berarti bahwa ada sebagian langganan yang membayar tidak tepat waktunya. Periode standar relatif umum tintuk periode ratarata piutang adalah 60 hari 2 bulan artinya :

53


1. Periode rata-rata pengumpulan piutang < 60 hari, bagian penagihan dan penagihan bekerja dengan baik 2. Periode rata-rata pengumpulan piutang > 60 hari, bagian penagihan dan kredit bekerja kurang baik Untuk menghitung rata-rata piutang dengan rumus : Umur rata-rata piutang =

atau

= Apabila hari rata-rata pengumpulan piutang iebih besar daripada batas waktu pembayaran yang telah ditetapkan, berarti bahwa ada cara pengumpulan piutangnya kurang efisien. Analisis Piutang Suatu badan usaha yang melaksanakan penjualan barang secara kredit maka masalah piutang merupakan masalah yang cukup penting, oleh karena itu piutang ini harus diperhatikan secara sungguh-sungguh. Untuk mengetahui masalahmasalah yang dipiutang tersebut perlu diadakan analisis sehingga dengan adanya analisis tersebut dapat diketahui pada langganan mana piutang itu banyak menumpuk, berapa umur piutang tersebut.

METODOLOGI PENELITIAN Definisi Operasional 1. Analisa umur piutang Analisa umur piutang adalah suatu alat yang mengkategorikan setiap piutang menurut umurnya (Schedule umur) dan menerapkan persentase kerugian penagihan piutang terhadap setiap kategori umur untuk menentukan saldo akhir penyisihan yang diperlukan. 2. Alat pengendali piutang Media yang dapat digunakan sebagai pengontrol untuk mengetahui baik jumlah maupun umur piutang dari para pelanggan. Data dan Metode Pengumpulan Data 1. Sumber Data Sumber daya yang diteliti oleh penulis adalah data sekunder, yaitu sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder dalam penelitian mi berupa bukti, catatan seperti kuitansi pembayaran, surat tanda terima, formulir pemesanan kavling dan pesanan barang, form jadwal pembayaran serta laporan-laporan lainnya yang tersusun dalam arsip. 2. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penyusunan skripsi ini ada beberapa cara, antara lain : a. Interview Yaitu metode pengumpulan data dengan mengadakan wawancara langsung (bertanya langsung) dengan obyek penelitian, yaitu pihak staf dan pimpinan perusahaan serta pihak lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Wawancara merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap survei. b. Observasi

54


Yaitu metode pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti dan melaksanakan pencatatan terhadap obyek yang diteliti. Dalam menggunakan metode ini cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. c. Dokumentasi Yaitu pengumpulan data dengan cara langsung mempelajari dokumendokumen yang ada pada obyek penelitian. Teknik Analisis Data Dalam penulisan metode penelitian ini teknik yang digunakan adalah : 1. Mengumpulkan piutang berdasarkan waktu / periode jatuh tempo 2. Menganalisa berdasarkan periode waktunya clan menentukan jumlah piutang apakah termasuk kebijaksanaan tingkat kolektibilitas piutang tinggi atau rendah 3. Menentukan kebijakan manajemen terhadap adanya dua kelompok kolektibilitas tersebut. ANALISIS

Prosedur Pelaksanaan Penagihan Setelah diakui adanya piutang, perusahaan khususnya bagian keuangan yang mana diwakili oleh bagian penagihan akan melakukan penagihan piutang pada setiap pelanggan. Ada beberapa cara yang dilakukan oleh bagian penagihan daiam menjalankan tugasnya yaitu melalui: 1. Telepon Penagihan dapat dilaksanakan secara langsung menghubungi pelanggan melalui telepon untuk menanyakan kesediaan pelanggan melunasi tagihan yang menjadi tanggung jawabnya. Apabila terjadi kesepakatan pembayaran maka dapat dilaksanakan melalui transfer (pemindahbukuan) atau membayar langsung ke kantor atau mengirimkan petugas untuk mengambil pelunasan yang dimaksud. 2. Persurat Apabila melalui telepon ternyata belum ada tanggapan maka akan dilakukan dengan mengirimkan peringatan melalui surat dengan mendapat sanksi berupa denda sesuai yang termuat dalam surat perjanjian dan apabila pelanggan tetap membandel dalam artian tidak juga membayar maka akan dilakukan pembatalan sepihak dari developer dengan pemotongan denda dari uang muka yang sudah disetor.

Analisis Deskriptif Setiap perusahaan di dalam melaksanakan kegiatannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tidaklah lepas dari segala rintangan atau masalah. Oleh karena itu bagi setiap personel baik secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan permasalahan tersebut berupaya mengadakan pencegahan dengan tujuan agar masalah yang dihadapi maupun yang akan dihadapi tidak sampai berlarut-larut dan harus segera diambil langkah-langkah pencegahan atau jalan keluarnya. Begitu pula dengan PT. ISP dalam menjalankan aktivitas perusahaannya tidak selalu lancar seperti yang diharapkan, tetapi manajemen PT. ISP berusaha untuk segera mencari jalan keluarnya, karena apabila tidak segera dicari jalan keluarnya

55


kemungkinan besar perusahaan tersebut tidak akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan akan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Sehingga hal ini menambah kesulitan dalam penanggulangannya. Pembahasan Telah diketahui sebelurnnya bahwa perusahaan selalu mengalami penunggakan piutang oleh pelanggan yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian. Oleh karena itu perusahaan menerapkan suatu kebijaksanaan dalam melakukan analisa umur piutang (aging schedule). Selain itu untuk mengatasi penunggakan dan tidak tertagihnya piutang dari para pelanggan yang mengakibatkan teijadinya penumpukan piutang sebaiknya memberikan target pada bagian keuangan atas piutang perusahaan dan menyusun analisa umur piutang. Apabila perusahaan sudah dapat melakukan dan menetapkan target atas piutang perusahaan beserta menganalisa daftar umur piutang berdasar kelompok umur atau periode waktu maka diharapkan dapat mengurangi atau memperkecil piutang yang menumpuk. Dengan memberikan target pada bagian keuangan dan perhitunganperhitungan mengenai piutang tersebut diharapkan para karyawan bagian keuangan (khususnya bagian penagihan) dapat lebih giat dalam hal penagihan piutang kepada para pelanggan, dan memperbaiki administrasi serta selalu mengawasi bagian penagihan sehingga dana yang tertimbun dalam piutang dapat segera dicairkan dan dialihkan untuk menambah investasi perusahaan. Selain itu perusahaan juga hares lebih memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat digunakan sebagai upaya mengatasi kenaikan saldo piutang. Faktor-faktor tersebut antara lain : 1. Mengikuti perkembangan informasi kondisi keuangan pelanggan 2. Mengikuti informasi jalannya perusahaan pelanggan 3. Selalu mengikuti perkembangan informasi tentang kemampuan keuangan dari pelanggan 4. Menyusun daftar analisa piutang atau aging schedule 5. Adanya batasan pemberian kredit Salah satu cara untuk mendapatkan pengendalian yang kuat atas piutang adalah dengan adanya daftar piutang berdasarkan umurnya (aging schedule). Dalam daftar analisa umur piutang (aging schedule) ini terdapat kelompok-kelompok saldo piutang pada saat tertentu sesuai dengan waktu jatuh temponya. Jadi masing-masing debitur dianalisa piutangnya untuk menetapkan mana yang belum jatuh tempo dan mana yang sudah jatuh tempo. Dengan adanya aging schedule tersebut, maka pimpinan perusahaan akan dapat melihat berapa besar seluruh saldo piutang yang ada di perusahaan juga jumlah yang sudah lewat jatuh tempo dan sampai berapa lama lewat jatuh temponya selain itu dengan melihat aging schedule, maka pimpinan harus memberi perhatian khusus serta berhati-hati dengan piutang lama yang jatuh tempo dan saldonya bertambah besar, yang selanjutnya pimpinan bisa menganalisa serta kemungkinan untuk membuat kebijakan baru. Jadi untuk pelanggan yang demikian mungkin pimpinan akan memberhentikan dahulu pemberian kreditnya terhadap pelanggan sampai dilunasi terlebih dahulu seluruh hutangnya tetapi ada kemungkinan lain, yaitu kemungkinan pelanggan itu sudah melunasi hutangnya tetapi uangnya tersebut digelapkan oleh pengawas atau petugas penagih perusahaan sehingga membuat saldo piutang perusahaan ini tetap seperti semula.

56


KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Analisa umur piutang sangat berperan dalam menentukan mengendalikan piutang karena dari aging schedule tersebut dapat diketahui piutang-piutang mana yang telah jatuh tempo maupun yang belum sehingga penagihan bias lebih diintensifkan bagi piutang-piutang yang mempunyai saldo besar dan telah jatuh tempo. 2. Dengan memberikan target pada bagian keuangan (dalam artian kinerja bagian penagihan dapat lebih aktif) yang lebih mengintensifkan kebijaksanaan tingkat kolektibilitas perusahaan dan memperbaiki bagian administrasinya juga bagian penagihan maka jumlah piutang yang tertimbun / menumpuk pada pelanggan dapat segera dicairkan dan dialihkan untuk investasi perusahaan. Saran 1. Membuat analisa umur piutang sehingga dapat menentukan secara pasti sampai dimana piutang dapat berputar alam satu tahun dan sampai berapa lama rata-rata piutang tersebut dapat ditagih agar tidak memiliki resiko yang tinggi terhadap kemungkinan tidak tertagihnya piutang. 2. Sebaiknya perusahaan dalam melakukan penagihan piutang selalu menerapkan beberapa target piutang dan selalu lebih memperhatikan kebijaksanaan tingkat kolektivitas yang telah dibuat perusahaan sehinggta saldo piutang tidak menumpuk.

57


ANALISIS TINGKAT PERPUTARAN PIUTANG DAN PENGARUHNYA PT. MITRA WIJAYA SURABAYA

1.Melanny Methasari 2.Bambang Soemarsono, SE., MSA.

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Perekonomian di Indonesia perlahan semakin membaik dan terus menunjukan trend yang meningkat dengan terwujudnya nilai tukar rupiah yang semakin kuat atau stabil. Dengan stabilnya nilai tukar rupiah menyebabkan bermunculan perusahaan-perusahaan baru dimana perusahaan-perusahaan tersebut akan meninbulkan persaingan yang semakin ketat bagi perusahaan yang sejenis. Untuk menghindari persaingan tersebut maka setiap perusahaan harus memperbesar volume penjualannya. Salah satu cara yang dapat di tempuh oleh perusahaan adalah dengan menjual barang atau jasa secara kredit. Akibat dari penjualan kredit tersebut, perusahaan tidak akan menghasilkan penerimaan kas, akan tetapi melalui piutang usaha terlebih dahulu yang kemudian barulah terjadi aliran kas masuk melalui pengumpulan piutang pada hari jatuh temponya. Penjualan kredit ini dilakukan sebagai upaya untuk merangsang minat konsumen membeli barang atau jasa. Piutang merupakan salah satu unsur modal kerja yang sangat erat hubungannya dengan aktivitas perusahaan sehari-hari. Karena piutang mempunyai likuiditas yang sangat tinggi maka harus dijaga perputarannya jangan sampai mundur dari jadwal yang telah ditetap.Hubungan dengan likuiditasadalah elemen dari modal kerja, sehingga pendapatan perusahaan dari pembayaran piutang dapat menunjang pelaksanaan aktivitas perusahaan seharihari. Mengingat pentingnya modal kerja bagi perusahaan, pihak manajemen harus berusaha agar mendapatkan laba yang besar dengan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Baik untuk tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang sebagai dasar pengolahah perusahaan secara efisien. Piutang merupakan salah satu unsure modal kerja yang paling tinggi tingkatlikuiditasnya. Dengan meningkatnya volume penjualan berarti mengakibatkan peningkatan jumlah dana yang tertanam dalam bentuk piutang dan akibat selanjutnya perusahaan akan menanggung resiko piutang seperti keterlambatan tertagihnya piutang sehingga perusahaan akan mencari sumber dana baru sebagai tambahan kas. Hal ini akan menambah beban perudahaan yaitu biaya bunga. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengadakan penelitian yang berkaitan dengan keuangan dengan judul Penelitian : "ANALISIS TINGKAT PERPUTARAN PIUTANG DAN PENGARUHNYA TERHADAP LIKUIDITAS PADA PT. MITRA WIJAYA ". PERUMUSAN MASALAH Setiap perusahaan dalam menjalankanaktivitasnya untuk mencapaisuatu tujuan selalu dihadapkan pada suatu maalah. Berdasarkan tinjauan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan suatu

58


permasalahan sebagai berikut : "Bagaimana pengaruh tingkat perputaan piutang terhadap likuiditas pada PT.Mitra Wijaya. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN A. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui hubungan tingkat perputaran piutang terhadap likuiditas. 2. Untuk mengatahui sejauh mana pengaruh tingkat perputaran piutang terhadap likuiditas. B. Manfaat Penelitian Adapun yang menjadi manfaat dalam penelitian ini adalah : 1. Memberikan masukan bagi perusahaan tentang bagaimana tingkat perputaran piutang yang efektif dengan memperhatikan hubungan tingkat perputaran piutang dengan likuiditas 2. Menjadi dasar bagi perusahaan dalam membuat kebijakan yang menyangkutkegiatan penjualan kredit dan penagihannya.

KAJIAN PUSTAKA

LANDASAN TEORI Pengertian Piutang Menurut Bambang Riyanto : "Piutang Adalah penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas tetapi menimbulkan piutang langganan, maka baru kemudian pada hari jatuh temponya terjadi aliran kas masuk (cash inflow) yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut".2 Sedangkan Menurut Pendapat Dari Al Haryono Jusup, yang mengemukakan pendapatnya yaitu bahwa : "Piutang dagang adalah tagihan-tagihan kepada perorangan atau organisasi yang timbul dari penjualan barang â&#x20AC;&#x201D; barang atau jasa secara kredit dan disertai dengan janji tertulis secara formal".3 Dari definisi diatas dapat diambil kesimpula bahwa piutang timbul karena adanya penjualan dalam bentuk kredit yang dapat ditagih sesuai tanggal jatuh tempo yang telah disepakati bersama. Penjualan kredit disini merupakan bentuk penjualan yang banyakdigunakan dalam dunia usaha, hal ini dimaksudkan untuk merangsang minat para konsumen disamping untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan hasil penjualan serta untuk menjaga posisi perusahaan dalam persair gan dengan perusahaan lainnya. Pentingnya Manajemen Piutang Piutang merupakan salah satu elemen dari modal kerja perusahaan, dimana seperti halnya aktiva-aktiva lancer yang lain selalu dalam keadaan berputar secara terus untuk setiap periode selama berlangsungnya operasi perusahaan dan mempunyai kaitan yang erat satu sama yang lainya. Menurut pendapat Suad Husnam dalam bukunya pembelanjaan Perusahaan ada 3 (tiga) factor yang perlu dipertimbangkan dalam kebijakan piutang adalah

59


1. Standar Kredit Penentuan standart kredit pada dasarnya merupakan trade of antara peningkatan penjualan dan peningkatan resiko tidak tepayarnya piutang. Apabila perusahaan menjalankan sta idart kreditur yang sangat Ionggar, artinya hamper semua pembeli diperkenankan membeli dengan cara kredit, maka bias diperkirakan bahwa penjualan memang akan meningkat, tetapi proporsi piutang yang tidak terbayar pun akan meningkat pula. 2. Jangka Waktu Kredit Cara ini prinsipnya ditempuh dengan memperpanjang waktu kredit dan harapan agar bisa meningkat. Karena yang ditinggalkan hanyalah waktu kreditnya, maka umumnya tidak terbayarnya piutang tidak banyak berubah. 3. Pemberian potongan Faktor â&#x20AC;&#x201D; faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Investasi Dalam Piutang Dalam rangka usaha untuk memperbesar volume penjualan kebanyakan perusahaan besar maupun kecil menjual produknya dengankredit. Penjualan kredit ini tidak bias segera mendatang kan atau menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang pada langganan. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya piutang menurut Lukman Syamsuddin MA, Manajemen Keuangan Perusahaan sebagai berikut : 1. Volume Penjualan Kredit Makin besar promosi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan untuk setiap tahunnya,maka akan memperbesar jumlah investasiyang tertanam dalam piutang. Dengan demikian akan semakin besar pula resikonya, tetapi bersamaan dengan itu perusahaan akan memperbesar profitabilitasnya. 2. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit Dalam hal ini ada dua cara yang dapat ditempuh yaitu : - Syarat pembayaran kredit bersifat ketat - Syarat pembayaran kredit yang bersifat lunak Jika suatu perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketet berarti bahwa perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit dari pada pertimbangan profitabilitas. Demikian juga sebaliknya,jika perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang lunak berarti bahwa perusahaan lebih mengutamakan profitabilitas dari pada keselamatan kreditnya. 3. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit Dalam penjualan kredit penjualan kreditperusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau "plafon" bagi kredit diberikan pada para langganannya.makin tinggi "plafon" yang ditetapkan berarti makin besar dana yang diinvestasikan dalam piutang. Sedangkan ketentuan siapayang diberikan kredit, makin selektif perusahaan dalam memberikan kredit, maka semakin kecil jumlah investasi dalam piutang. 4. Kebijaksanaan Dalam Pengumpulan Piutang Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam pengumpulan piutang balk secara aktif atau pasif. Jika perusahaan menjalankan kebijakan secara aktif dalam pengumpulan piutang akan mempunyai pengeluaran uang yang semakin besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang tersebut dibandingkan dengan kebijak sanaan pengumpulan piutang secara pasif. 5.

60


6. Kebiasaan Menbayar Dari Para Langganan Para langganan menpunyai kebiasaan yang berbedabeda dalam hal pembayaran piutang. Sebagian langganan pempunyai kebiasaan untuk membayar dengan memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan cash discount dan sebagian lagi tidak memanfaatkan kesempatan tersebut. Perbedaan cara pembayaran ini tergantung pada cara penilaian mereka, yang lebih menggantungkan antara kedua alternative tersebut. Kebiasaan para langganan untuk membayar dalam cash discount atau sesudahnya maka mempunyai efek terhadap besarnya investasi dalam piutang. Apabila sebagian pelanggan membayar dalam waktu selama "discount periode". Maka dana yang tertanam dalam piutang lebih cepat bebas. Hal ini berarti investasi dalam piutang menjadi semakin kecil.

Cast ratio merupakan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang segera divangkan. Tidak jarang terjadi apabila perusahaan bermaksud untuk mencari pinjaman jangka panjang, maka kreditur menetapkan jumlahminimum Cash Ratio ppada tingkat tertentu serta untuk menjamin pinjaman - pinjaman yang dilakukan oleh perusahaan. Jumlah Cash ratio yang semakin besar menunjukkan tingkat likuiditas yang semakin tinggi pula. Adapun rumus yang dipakai adalah : Kas + Efek Cash Ratio = Hitung Lancar

Berdasrkan pada arti hipotesis adalah merupakan kesimpulan yang bukan final atau sementara sebagai kosekuensi sudah barbng tentu tidakdibuat dengan tergesa-gesa malainkan atas dasar pemikiaran yang mendalam yang dihasilkan dari penelitian. Hipotesis dianggap perlu dilakukan sebagai dasar dalam melakukan penyelidikan guna melakukan analisa Iebih lanjut dalam memperoleh suatu kesimpulan yang benar. Berdasrkan permasalahan serta tujuan penelitian maka peneliti menentukan hipotesis sebagai berikut : "Diduga tingkat perputaran piutang berpengaruh terhadap likuiditas".

METODOLOGI PENELITIAN PENJELASAN VARIABEL OPERASIONAL PENGUKURANNYA Variable operasional adalah definisi yang memuat tentang konsep secara operasional dari variable-variabel yang digunakan dalam penelitian yang terdiri dari dua variable : 1. Tingkat perputaran piutang Pitang yang dimiliki perusahaan mempunyai hubungan yang erat dengan volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulan dapat dinilai dengan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut ( turn over receivable ), yaitu dengan membagi total penjualan kredit dengan rata-

61


rata piutang yang rumusnya sebagai berikut : Penjualan Kredit Tinkat perputaran piutang = Rata-rata Piutang 360 hari Rata-rata pengumpulan piutang = _________________________ = ....hari Perputaran Piutang 2. Tingkat Likuiditas Merupakan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang atau kewajbankewajibannya dalam jangka pendek. Adapun indicator yang dipakai adalah Cash ratio yaitu merupakan perbandingan antara kas ti tarr bah dengan efekefek dan dibagi dengan hutang lancer ( Current Liabilitas ). Bentuk atau ukurannya adalah tingkat prosentase (%) yang dirumuskan sebagai berikut : Kas + Efek Cash Ratio = Hutang Lancar

TEKNIK ANALISIS Analisis Regresi adalah untuk memprediksi nilai suatu variable berdasarka nilai variable lain yang diketahui, yang dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = a + bX Keterangan

ANALISIS

PEMBAHASAN Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan berharap mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan sering kali tidak semulus apa yang diharapkan cepat atau lambat akan menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera dipecahkan. Sehingga setiap permasalahan yang timbul harus mencari dan menemukan apa yang benar-benar menjadi permasalahan pokok dan segera mencari jalan keluarnya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Adapun permasalahan yang dihadapi PT. PT.Mitra Wijaya. adalah meningkatnya saldo piutang dari tahun ke tahun, yang disebabkan dari penundaan pembayaran dari pelanggan, maka dalam jangka panjang dapat mempengaruhi pada tingkat likuiditas perusahaan. Pengujian Hipotesis Sebelum melakukanpengujian hipo esis penulis telah mengemukakan hipotesa sebagai berikut : "Diduga tingkat perputaran piutang berpengaruh terhadap likuiditas" Untuk mengetahui atau membuktikan kebenaran dari pada hipotesa tersebut, dalam pengujianhipotesa akan dilakukan analisis secara sistematis dengan menggunakan manual guna mengukur tingkat signifikan antara variable bebas dan variable terikat. Dalam memudahkan analisis secara sistematis penulis mempergunakan 2 (dua) metode yaitu :

62


1. Metode regresi adalah suatu metode yang berfungsi untuk memprediksi nilai suatu variable berdasarkan nilai variable lain yang diketahui. 2. Metode korelasi adalah suatu metode yang berfungsi untuk mengukur tingkat keeratan hubungan antara tingkat perputaran piutang dengan likuiditas. Metode Regresi Regresi adalah suatu metode yang berfungsi untuk memprediksi nilai suatu variable berdasarkan nilai variable lain yang diketahui. Adapun rumus persamaan regresi linier dan variable — variabelnya adalah sebagai berikut : Y = a + bX Keterangan : Y = tingkat likuiditas X = perputaran piutang a = konstanta b = koefisien regresi

KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini penulis akan memberikan simpulan dan saran — saran yang mungkin berguna bagi perusahaan dalam mengambil suatu keputusan atas kebijaksanaan selanjutnya. Kesimpulan a. Hipotesa yang penulisteliti adalah " diduga tingkat perputaran piutang berpengaruh terhadap likuiditas " pembuktian hipotesa tersebut dengan memakai dengan 2 metode statistic regresi dan korelasi. Dengan hasil koefisien regresi untuk perputaran piutang (X) menunjukan nilai terbesar 0,016 berarti ada hubungan antara perputaran piutang dengan tingkat likuiditas (cash ratio) karena apabila perputaran naik 1 maka akan mengakibatkan tingkat likuiditas (cast ratio)0 sebesar 0,016 kemudian untuk koefisien korelasi sebesar 0.697 atau mendekati 1 yang berarti antara variable dan y mempunyai hubungan yang kuat artinya apabila perputaran piutang meningkat maka tingkat likuiditas akan meningkE t, dandapat disimpulkan pengujian hipotesa tersebut dapat diterima dengan uji "t" dengan kesimpulan t hitung 4,559 > t tabel 1,717 sehingga korelasi tersebut terbukti dapat diterima. c. Untuk memecahkan masalah yang ada pada permasalahan, penulis akan kemukakan Iangkah — Iangkah sebagai berikut :  mengaktifkan dan mengefektifkan penagihan piutang terhadap para pelanggan.  Menjalankan kebijak sanaan kredit yang baru. Saran Adapun saran — saran yang ada hubunganya dengan masalah keuangan perusahaan terutama piutang yaitu sebagai berikut : a. perusahaan dapat mempercepat pengumpulan piutangnya apabila dalam b. penagihan disetai dengan potongan harga, hal ini akan merangsang pelanggan untuk lebih cepat melunasi hutangnya.

63


c. Perusahaan hendaknya merubah syarat pembayaran yang lebih cepat lagi. d. Perlu adanya administrasi piutang, sehigga dapat diketahui piutang mana saja yang jatuh tempo dan dapat diketahui pelanggan yang dsiplin dan tida < yaitu dengan membuat anggaran pengumpulan. d. Dalam penagihan piutang henth.iknya dilakukan dengan aktif dan efektif. e. Perlu diciptakan hubungan baik antara para pelanggan dengan perusahaan.

64


PENTINGNYA PEMERIKSAAN AKUNTANSI TERHADAP KAS DAN BANK DALAM UPAYA MENYAJIKAN LAPORAN KEUANGAN YANG WAJAR PADA PT. MITRA WIJAYA

1. Darmi Semiasri 2. Andi Nursetyawan

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH Sejalan dengan perkembangan peradapan manusia dalam melakukan kegiatan aktivitas dalam perusahaan dibutuhkan suatu informasi yang ditujukan kepada pihak luar. Informasi yang disampaikan itu tentang perkembangan dan potensi perusahaan pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Informasi yang disajikan oleh perusahaan dapat berbentuk laporan keuangan yakni laporan neraca, rugi laba dan lainnya. Agar pembuatan laporan keuangan itu memenuhi kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan dan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi, maka dibutuhkan suatu pemeriksaan atau auditing terhadap laporan keuangan tersebut yang dilakukan oleh profesi Akuntan Publik. Dimana Profesi Akuntan Publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat dan diharapkan dapat memberikan penilaian yang bebas (independent) tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh akuntansi dalam laporan pertanggungjawaban. Kedudukan seorang akuntan dapat bertindak sebagai pemeriksa yang mempunyai wewenang untuk memverifikasi laporan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Seorang Akuntan Publik dalam memeriksa laporan keuangan membutuhkan suatu transaksi-transaksi atau bukti-bukti yang kompeten. Transaksi tersebut berupa transaksi penerimaan dan pengeluaran keuangan, dimana berkaitan langsung dengan kas perusahaan dan rekening bank, yang pelaporannya disajikan dalam laporan keuangan neraca. Kas dan bank adalah aktiva lancar yang mudah diselewengkan dan merupakan pos neraca yang membutuhkan pemeriksaan yang selektif dan membutuhkan ketelitian dari pimpinan perusahaan supaya harta perusahaan dapat dikontrol dan dijaga sehingga terhindar dari kebangkrutan. Adapun tujuan dari pemeriksaan keuangan terhadap kas dan bank diharapkan dapat mengontrol dan meluruskan apakah transaksi-transaksi yang terjadi selama ini syah dan benar sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan, sekaligus dapat mengontrol dan menjaga kekayaan perusahaan sehingga terhindar dari kebangkrutan. Tidak adanya internal audit pada PT. MITRA WIJAYAmenyulitkan perusahaan untuk mengetahui tingkat kewajaran laporan keuangan khususnya dalam hal ini kas dan bank sifatnya penting dan potensial untuk diselewengkan dan disalahgunakan. Bertitik tolak dari permasalahan diatas, maka Penelitian ini disusun oleh penulis dengan judul â&#x20AC;&#x2022;Pentingnya Pemeriksaan Akuntansi terhadap Kas dan Bank dalam Upaya Menyajikan Laporan Keuangan yang Wajar pada PT. MITRA WIJAYAâ&#x20AC;&#x2013;.

65


Dari latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang bisa diangkat adalah : Apakah penyajian atas kas dan bank dalam satu periode sudah memberikan kewajaran sesuai dengan SAK. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan Penelitian Untuk mengetahui tingkat kewajaran atas laporan keuangan kas dan bank pada PT. Mitra Wijaya. Manfaat Penelitian Penulisan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau sumbangan pemikiran kepada pimpinan, dalam membantu memecahkan permasalahan yang ada, dan memberi saran perbaikan sehingga proses pencatatan akuntansi dapat dilaksanakan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang diterima umum.

TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori Pengertian Auditing Di dalam sebuah perusahaan untuk mengetahui ada/tidaknya perkembangan suatu usaha, maka dilakukan suatu alat yang mampu memberikan informasi. Auditing merupakan salah satu alat akuntansi yang dapat memberikan informasi kepada semua pihak yang membutuhkan. Banyak pengertian tentang auditing yang dikemukakan para ahli : Mulyadi, Kanaka Pradiredja (1998:7) mengemukakan pengertian auditing yaitu : â&#x20AC;&#x2022;Suatu proses sistematika untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti secara obyektif pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan.â&#x20AC;&#x2013; Sedangkan menurut 4 H.S. Munawir (1995:2) auditing adalah : â&#x20AC;&#x2022;Suatu proses pengumpulan dan penilaian bukti-bukti oleh orang/badan yang bebas pengumpulan dan penilaian informasi kuantitatif dengan kriteria yang sudah ditetapkan.â&#x20AC;&#x2013;

Kewajiban Penyajian yang wajar menurut Drs. Abdul Halim, MBA. Akt (1995:29), meliputi 3 hal sebagai berikut : 1. Ketepatan akuntansi 2. Pengungkapan yang cukup 3. Kewajiban pemeriksaan Ketepatan akuntansi menyangkut ketepatan metode akuntansi dapat dipercaya. Metode akuntansinya harus dapat diterima dan dimengerti oleh pihak ketiga serta penyajiannya harus tepat, tidak boleh menghilangkan informasi yang berguna ataupun menyesatkan apalagi meniru pihak pemakai laporan keuangan. Tujuan dari prinsip akuntansi adalah dapat menyajikan data keuangan yang benar-

66


benar mencerminkan kenyataan tentang kondisi keuangan dan hasil operasi dari perusahaan tersebut. Sedangkan metode akuntansi yang dapat diterima dan dimengerti oleh pihak ketiga adalah merupakan cara yang nyata dalam pencatatan transaksi beserta pengaruhnya dan dengan memakai dasar yang akurat sehingga dapat menghubungkan biaya dengan pendapatan dalam suatu periode tertentu. Pengukuran yang cukup mengandung ide bahwa auditor tidak perlu melaksanakan fungsinya untuk menjelaskan informasi keuangan kepada pihak ketiga, kecuali jika auditor tersebut sudah : a. Meyakinkan dirinya bahwa telah diperoleh informasi yang cukup bagi keputusan investmen sesuai dengan kondisi pasaran yang berlaku. b. Menunjukkan kemampuan dan itikad baiknya sebagai seorang ahli bahwa informasi tersebut telah diperiksa dan menyatakan pendapatnya. c. Mengambil langkah yang perlu untuk melindungi kepentingan para penanam modal sesuai dengan profesinya. Untuk melaksanakan kewajiban pemeriksaan, auditor harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi pemakai / pembaca laporan agar jangan sampai menyesatkan. Baik pada luas dan sifat pemeriksaan maupun terhadap sifat opini yang diberikan.

Pengujian Audit Untuk membuktikan efektif tidaknya struktur pengendalian intern di suatu perusahaan, auditor harus melakukan compliance test dan untuk membuktikan kewajaran saldo-saldo perkiraan neraca dan rugi laba, auditor harus melakukan substantive test. Menurut Sukrisno Agoes (1999:78) Compliance Test adalah test terhadap bukti-bukti pembukuan yang mendukung transaksi yang dicatat perusahaan untuk mengetahui apakah setiap transaksi yang terjadi sudah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur yang ditetapkan akuntansi. Sedangkan pengertian dari Substantive Test adalah test terhadap kewajaran saldo-saldo perkiraan laporan keuangan (Neraca dan Laporan Rugi Laba). Berbagai tes audit substantif memberikan bukti tentang penyajian wajar saldo kas, sifat, saat dan luasnya tes substantif tersebut tergantung pada keseluruhan tingkat resiko klien dan tingkat resiko pengendalian taksiran (assessed level of control rise). Jikalau tingkat resiko pengendalian taksiran relatif rendah, sifat, saat dan luasnya tes audit subtantif dapat dimodifikasi.

Pemeriksaan Kas dan Bank Pengertian Kas dan Bank Dr. Zaki Baridwan, M.Sc. (1992:85) mengemukakan pengertian kas adalah : Suatu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai ukuran dalam akuntansi dan merupakan aktiva yang tidak produktif, oleh karena itu harus dijaga supaya jumlah kas tidak terlalu besar sehingga tidak ada idle cash.

67


Pengertian Bank menurut IAI (2002:PSAK No. 31) Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Sedangkan pengertian Bank menurut Drs. Muchdarsyah Sinungan : Suatu lembaga keuangan, yaitu suatu badan yang berfungsi sebagai finansial intermediary atau perantara keuangan dari 2 pihak yakni pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana (1997:3).

METODE PENELITIAN Obyek Penelitian Sumber dan Metode Pengumpulan Data Sumber Data 1. Data Internal Data yang diperoleh dari sumbernya/pihak yang menjadi obyek penelitian. 2. Data Eksternal Data yang diperoleh dari luar perusahaan, bersumber dari referensi, study kepustakaan dan dokumen-dokumen lain yang ada kaitannya dengan obyek penelitian. Metode Pengumpulan Data 1. Cara Pengumpulan Data 2. Metode Analisis Data 1. Mengevaluasi perlakuan Akuntansi Kas dan Bank. 2. Melakukan perhitungan kas dan membuat Berita Acara Perhitungan Kas. 3. Membuat Rekonsiliasi Bank. 4. Membuat Jurnal Penyesuaian. 5. Membuat Laporan R/L dan Neraca Perbandingan setelah dilakukan pemeriksaan kas dan bank.

ANALISIS

Data Keuangan Kebijakan Akuntansi Transaksi Kas a. Transaksi kas dan setara kas yang dilakukan meliputi penerimaan dan pengeluaran kas, cek, giro dan transfer via Bank. b. Kepala Bagian Keuangan a. Semua transaksi kas dan setara kas hanya dapat dilakukan oleh bagian keuangan. b. Jika bagian keuangan berhalangan hadir :

68


- Jika kurang dari 2 (dua) hari langsung diambil oleh kepala cabang. - Jika lebih dari 2 (dua) hari kacab menunjuk pengganti bagian keuangan. - Tanggung jawab dokumen dan transaksi kas menjadi tanggung jawab pengganti bagian keuangan. c. Pencatatan, penerimaan, maupun pengeluaran kas dan setara kas yang dibuktikan dengan bukti pendukung harus meliputi: - Mencatat semua transaksi yang terjadi. - Transaksi yang dicatat adalah benar-benar terjadi. - Transaksi dicatat dalam jumlah yang benar. - Transaksi dicatat dan diringkas dengan teliti. - Laporan Harian Posisi Kas dan Bank. Setiap hari keuangan harus membuat buku harian kas dengan ketentuan sebagai berikut : - Dibuat setiap hari dan ditutup paling lambat jam 09.00 pagi hari berikutnya. - Pemindahan saldo akhir hari ini harus menjadi saldo awal hari berikutnya.

69


PEMBAHASAN Pembahasan dengan menggunakan dasar asumsi bahwa dalam prosedur pemeriksaan tidak ditemukan penyimpangan-penyimpangan : a. Memeriksa kebenaran penjumlahan dalam buku kas. b. Menelusuri setoran ke bank dari buku kas ke laporan bank. c. Menelusuri secara teliti tiap-tiap setoran ke dalam dokumen pendukungnya, yang meliputi bukti setoran ke bank dan bukti penerimaan kas. d. Memeriksa bukti pengeluaran cek yang menyangkut tanggal, jumlah, nomor cek dan lain sebagainya. Data-data laporan keuangan PT. MITRA WIJAYA yang dibuat oleh akuntansi perusahaan telah memenuhi standar ketaatan dari pelaksanaan akuntansi yang digunakan secara lazim untuk memastikan dari salah saji material. 1. Evaluasi Perlakuan Akuntansi Kas dan Bank - Kas merupakan saldo kas milik perusahaan. Pada PT. MITRA WIJAYAsistem pencatatan uang kas menggunakan Cash Basic. - Bank Merupakan saldo bank milik perusahaan yang terdiri dari rekeningrekening yang berupa giro umum. Pada PT. MITRA WIJAYAterdapat 2 kode rekening yaitu 001 dan 002, kode rekening 002 khusus untuk bunker (bahan bakar).

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN 1. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kas dapat disimpulkan bahwa jumlah kas yang ada setelah perhitungan khususnya terhadap jumlah uang tunai tidak ditemukan adanya kesalahan dalam artian perhitungan jumlah bukti tersebut sama dengan bukti selama satu semester awal tahun 2007. 2. Berdasarkan kertas kerja pemeriksaan kas terhadap sistem penerimaan kas dan pengeluaran kas, meskipun dipegang oleh satu orang ternyata tidak ditemukan adanya penyimpangan atau tidak ditemukan permasalahan dikarenakan sistem kas yang digunakan cash basic. Dengan kata lain tidak ditemukan adanya penyalahgunaan uang kas dan bank. 3. Pemeriksaan terhadap bank terjadi selisih pada perbedaan sebesar Rp. 1.470.320,- yaitu terdapat selisih pada laporan rekening Bank Negara Indonesia per tanggal 30 Juni 2007 sebesar Rp. 8.038.867,- dan saldo pada rekening perusahaan per tanggal 30 Juni sebesar Rp. 6.568.547,Selisih angka diatas disebabkan karena belum dibukukan transaksi-transaksi sebagai berikut : - Belum dibukukan biaya pengelolaan rekening pada rek 001 oleh perusahaan sebesar Rp. 20.000,- Belum dibukukan biaya pengelolaan rekening pada rek 002 oleh perusahaan sebesar Rp. 20.000,- Belum dicatatnya cek No. 985005 dengan nilai nominal Rp. 1.500.000,- oleh bank, karena memang belum diuangkan / dibayarkan oleh bank. - Belum dibukukan pendapatan atas jasa giro oleh perusahaan sebesar Rp. 12.900,-

70


- Belum dibukukan biaya pajak jasa giro oleh perusahaan sebesar Rp. 2.580,SARAN 1. Untuk menjaga terjadinya penyimpangan dan kesalahan transaksi pencatatan uang kas dan bank pada PT. MITRA WIJAYAperlu dilakukan pemeriksaan oleh pihak intern dan pada akhir satu periode dilakukan oleh auditor atau pihak yang independen yaitu akuntan publik. 2. Untuk menjaga dan meningkatkan administrasi terhadap voucher kas dan bank perlu disempurnakan bukti kas dan bank. Dan meningkatkan ferivikasi terhadap kas dan bank. 3. Pihak perusahaan PT. MITRA WIJAYAharus mengadakan konfirmasi dengan pihak bank agar diketahui saldo rekening perusahaan dan saldo rekening bank.

71


RATIO RENTABILITAS DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PERUSAHAAN Dwi Probonurtjahjo, S.E., MSA

Ratio-ratio yang dipelajari terdahulu pada dasarnya adalah untuk mempelajari bagian relatip antara modal pinjaman yang diberikan oleh kreditor dan modal sendiri oleh pemegang saham, dan berikut ini diberikan beberapa ratio untuk mengukur profit yang diperoleh dari modal-modal yang digunakan untuk operasi tersebut (rentabilitas) atau mengukur kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Profitability suatu perusahaan dapat diukur dengan menghubungkan antara keuntungan atau laba yang diperoleh dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau assets yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut (operating assets). Yang dimaksud dengan operating assets adalah semua aktiva kecuali investasi jangka panjang dan aktiva-aktiva lain yang tidak digunakan dalam kegiatan atau usaha memperoleh penghasilan yang rutin atau usaha pokok perusahaan. Ratio ini akan mencerminkan keuntungan yang diperoleh tanpa mengingat dari mana sumber modal dan menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan dalam melaksanakan operasi s sehari-hari. Ratio ini sangat berguna untuk membandingkan antara dua perusahaan atau lebih yang memiliki struktur permodalan yang berbeda atau untuk membandingkan perusahaan yang sama untuk dua periode yang berbeda, karena dengan demikian akan diketahui earning power atau Return on Investment (ROI) dari perusahaan yang bersangkutan atau dari periode ke periode lainnya. Ratio yang rendah menunjukkan kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut : a. adanya over investment dalam aktiva yang digunakan untuk operasi dalam hubungannya dengan volume penjualan yang diperoleh dengan aktiva tersebut. b. merupakan cermin rendahnya volume penjualan dibandingkan dengan ongkosongkos yang diperlukan. c. adanya efisiensi baik dalam produksi, pembelian maupun pemasaran d. adanya kegiatan ekonomi yang menurun. Untuk mempertajam hasil analisa maka sebaiknya angka ratio ini dihubungkan dengan tingkat peraturan (Turn over) dari aktiva yang digunakan tersebut serta operating margin rationya. 2. Turnover dari Operating Assets Merupakan ratio antara jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi (operating assets) terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. Ratio ini merupakan ukuran tentang sampai seberapa jauh aktiva ini telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan beberapa kali operating assets berputar dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Dalam menganalisa dengan ratio ini sebaiknya diperbandingkan selama beberapa tahun sehingga diketahui trend daripada penggunaan operating assets. Suatu trend angka ratio yang cenderung naik memberikan gambaran bahwa perusahaan semakin efisien dalam menggunakan aktiva. Dalam menaksirkan ratio ini harus hati-hati karena ratio ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain :

72


1. Ratio ini hanya menunjukkan hubungan antara penghasilan (sales revenue) dengan aktiva yang dipergunakan dan tidak memberikan gambaran tentang laba yang diperoleh. 2. Penjualan adalah untuk satu periode, sedang total operating assets adalah merupakan akumulasi kekayaan perusahaan selama beberapa periode, mungkin adanya expansi yang tidak segera dapat menghasilkan tambahan penjualan sehingga ratio pada tahun pertama adanya expansi menunjukkan ratio yang rendah. 3. Bahwa tingkat penjualan yang diperoleh mungkin sekali dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar kemampuan perusahaan untuk diatasi (uncontrollable). Untuk menghindari kelemahan-kelemahan turnover operating assets ini (kadang-kadang turnover ini dihitung untuk seluruh aktiva yang dimiliki. Tidak hanya operating assets saja) sering turnover ini dihubungkan dengan tingkat profit yang diperoleh atau profit marginnya, yang diperoleh dengan cara membagi profit yang diperoleh dengan total penjualan netto. Turnover yang tinggi menunjukkan management yang efektif tetapi dapat juga turnover yang tinggi disebabkan aktiva perusahaan yang sudah tua dan sudah habis disusut, jadi turnover yang tinggi ini karena keadaan perusahaan. Sehingga turnover ratio saja tidak dapat memberikan gambaran yang pasti tentang keefektifan kegiatan perusahaan dan harus dihubungkan dengan profit marginnya sehingga diperoleh rate returnnya (return on investment).

73


PENTINGNYA ANALISA RATIO SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN PERUSAHAAN

Melanny Methasari, S.E., M.M.

Dalam analisa ratio, maka angka-angka ratio keuangan yang diperoleh dapat dianalisa dengan memeprbandingkan angka ratio tersebut dengan : a. Standard ratio atau ratio rata-rata dari seluruh industri semacam dimana perusahaan yang data keuangannya sedang dianalisa menjadi anggautanya. b. Ratio yang semacam di waktu-waktu yang lalu (ratio historis) dari perusahaan yang bersangkutan. c. Ratio-ratio yang semacam diwaktu-waktu yang lalu (ratio historis) dari perusahaan yang bersangkutan. d. Ratio keuangan dari perusahaan lain yang sejenis yang merupakan pesaing perusahaan yang dinilai cukup baik/berhasil dalam usahanya. Dari keempat ratio pembanding tersebut maka bagi penganalisa extern yang memungkinkan diperoleh datanya hanyalah data pembanding c dan d berdasarkan angka-angka ratio dari waktu-waktu yang lalu dapat diketahui trend atau tendensi dari ratio yang bersangkutan. Kalau diketahui trend dari angka ratio yang bersangkutan maka dapatlah diambil kesimpulan mengenai tendensi atau kecenderungan keadaan keuangan serta hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Lain halnya bagi penganalisa intern, selain dapat menggunakan data pembanding c dan d maka dapat menggunakan data budget sebagai data pembanding. Dengan memperbandingkan antara angka ratio yang direncanakan dengan angka ratio yang dapat direalisir maka akan dapat diketahui penyimpanganpenyimpangan yang terjadi dan mengadakan koreksi-koreksi seperlunya. Angka pembanding â&#x20AC;&#x2022;standard ratioâ&#x20AC;&#x2013; untuk Indonesia sampai saat ini belum dapat dilaksanakan karena belum ada lembaga atau badan yang menyusun ratio industri atau standard ratio tersebut.

74


PENGENDALIAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS TERHADAP LABA PERUSAHAAN

Bambang Soemarsono, S.E., MSA.

Budget kas adalah gambaran atas seluruh rencana penerimaan dan pengeluaran uang tunai yang bertalian dengan rencana-rencana keuangan perusahaan dan transaksi lainnya yang menyebabkan perubahan-perubahan pada posisi kas atau menunjukkan aliran kas (cash flow) perusahaan tersebut. Dari budget kas akan dapat ditentukan : - Kapan dan beberapa besarnya deposit kredit akan dilaksanakan, serta jangka waktu kreditnya - Kapan dan berapa besarnya angsuran kredit dapat dilakukan - Kemungkinan adanya surplus / defisit karena rencana operasi perusahaan. Kalau diperbandingkan dengan analisa atau laporan sumber dan penggunaan kas, maka perbedaannya terletak pada tujuannya. Laporan sumber dan penggunaan kas menunjukkan darimana uang kas diterima dan digunakan untuk apa saja uang kas yang telah / akan diterima dalam periode tersebut, sedangkan cash budget tujuannya lebih jauh dari itu yaitu ingin mengetahui saat-saat penerimaan dan pengeluaran uang (serta jumlahnya masing-masing) serta saat-saat adanya surplus atau defisit kas. Penyusunan budget kas, menurut Drs. Bambang Riyanto dalam bukunya DasarDasar Pembelanjaan, mengatakan bahwa dapat dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut : 1. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran menurut rencana operasional perusahaan. Transaksi-transaksi disini merupakan transaksi operasi (operating transactions). Pada tahap ini dapat diketahui adanya defisit atau surplus karena rencana operasinya perusahaan. 2. Menyusun perkiraan atau estimasi hubungan dana atau kredit dari Bank atau sumber-sumber dan lainnya yang diperlukan untuk menutup defisit kas karena rencana operasinya perusahaan. Juga disusun estimasi pembayaran bunga kredit tersebut beserta waktu pembayarannya kembali. Transaksi-transaksi disini merupakan transaksi finansiil (financial transactions). 3. Menyusun kembali estimasi keseluruhan penerimaan dan pengeluaran setelah adanya transaksi finansiil dan budget kas yang final ini merupakan gabungan dari transaksi operasionil dan transaksi finansial yang menggambarkan estimasi penerimaan dan pengeluaran kas keseluruhan.

75


MAJALAH ILMIAH STIEYAPAN