Issuu on Google+

MANUAL

Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Penyusun 1. Ujang Susep Irawan 2. Edi Purwanto


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

ii


Kata Pengantar

K

egiatan penanaman, khususnya dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan, merupakan kegiatan berkelanjutan yang tidak hanya dilakukan sesaat seiring dengan selalu bertambahnya luas lahan terdegradasi dari waktu ke waktu. Keberhasilan suatu kegiatan penanaman sudah jelas tidak luput dari berbagai kegiatan persiapan sebelum penanaman. Pengusaaan teknik penanaman dan pemahaman persyaratan keberhasilan suatu penanaman menjadi modal dasar agar penanaman yang dilakukan tidak sia-sia sehingga dapat dicapai tujuan penanaman dengan kondisi pertumbuhan tanaman yang baik. Manual ini menyampaikan secara ringkas persyaratan untuk mencapai keberhasilan penanaman, beberapa teknik penanaman, alur kegiatan penanaman mulai dari persiapan hingga pelaksanaan penanaman, alur pemeliharaan tanaman, serta contoh tata waktu dan pembiayaan penanaman dan pemeliharaan tanaman. Manual “Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman� ini merupakan bagian dari Seri Manual Perlindungan dan Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air yang mengacu pada prinsip ke 2, 3, dan 6 pada Prinsip Perlindungan dan Rehabilitasi DTA Secara Vegetatif. Semoga manual ini bermanfaat khususnya dalam pemberdayaan masyarakat dan usaha-usaha penyadaran dan penyelamatan lingkungan. Penyusun,

OPERATION WALLACEA TRUST

iii


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Daftar Isi

hal iii iv v vi

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

1 1 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang B. Tujuan

3 3 6

BAB II PERSYARATAN DAN TEKNIK PENANAMAN 2.1 Persyaratan Penanaman 2.2 Teknik Penanaman

13 13 13 15 17 24

BAB III ALUR PENANAMAN 3.1 Persiapan Bahan dan Alat 3.2 Pembangunan Sarana dan Prasarana Penanaman 3.3 Pembersihan Lapangan dan Jalur Tanam 3.4 Penentuan Arah Larikan, Jarak Tanam, dan Pemasangan Ajir 3.5 Pembuatan Lubang Tanam, Piringan, dan Penambahan Pupuk Organik 24 3.6 Pengangkutan Bibit 26 3.7 Pelaksanaan Penanaman

29 29 30 31 31 34

iv

@ 2012

BAB IV ALUR PEMELIHARAAN 4.1 Penyulaman 4.2 Penyiangan 4.3. Pendangiran 4.4. Pemberian pupuk 4.5. Pencegahan hama dan penyakit tanaman


hal

37 37 38

BAB V PENJADWALAN DAN PEMBIAYAAN PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN 5.1 Penjadwalan Kegiatan 5.2 Pembiayaan Penanaman dan Pemeliharaan

42

DAFTAR PUSTAKA

Daftar Tabel hal

5 Tabel 1.

Contoh Syarat Khusus Mutu Beberapa Jenis Bibit Tanaman Hutan

29

Tabel 2.

Intensitas Penyulaman Berdasarkan Presentase Tumbuh Tanaman

32 Tabel 3.

Tanda-Tanda Umum pada Bagian Tanaman yang Kekurangan Unsur Hara

37

Tabel 4.

Contoh Tata Waktu Kegiatan Penanaman dan Pemeliharaan Tahun I

38 Tabel 5.

Contoh Anggaran Biaya Penanaman dan Pemeliharaan Tahun Berjalan

40 41

Tabel 6.

Contoh Anggaran Biaya Pemeliharaan Tahun I

Tabel 7.

Contoh Anggaran Biaya Pemeliharaan Tahun II

OPERATION WALLACEA TRUST

v


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Daftar Gambar

hal

7

Gambar 1. Pola tanam tumpangsari (kiri) dan pola campuran

7 8 13 14 15 15 16 16 18 18

Gambar 2. Pola tanam monokultur Gambar 3

Tanaman jalur dengan sistem tumpangsari

Gambar 4

Model Gubuk Kerja

Gambar 5

Contoh Model Papan Nama Kegiatan Penanaman

Gambar 6

Pembersihan pada lahan datar

Gambar 7

Pembersihan pada lahan miring

Gambar 8

Pembuatan cemplongan

Gambar 9

Sistem tugal

Gambar 10 Pemasangan ajir pada garis As di lahan datar Gambar 11 Pemasangan ajir-ajir setelah ajir pada garis As

19 21 21

vi

terbentuk

Gambar 12 Pembagian tugas pemasangan ajir pada lahan datar Gambar 13 Alat Ondol-ondol Gambar 14 Pembuatan jalur tanam pada lahan miring dengan

22 23

(kanan)

ondol-ondol

Gambar 15 Pemasangan ajir pada lahan miring Gambar 16 Model pengkayaan tanaman sisipan

@ 2012


hal

23 25

Gambar 17 Model pengkayaan pada batas pemilikan lahan hal Gambar 18 Cara mengangkut bibit benar (kiri) dan cara salah

26 31

(kanan)

Gambar 19 Pelaksanaan Penanaman Gambar 20 Pendangiran

OPERATION WALLACEA TRUST

vii


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Daftar Istilah

Areal Produksi Benih : Sumber benih terseleksi yang kemudian di up-grade melalui penebangan pohon-pohon inferior, serta dipelihara agar berbuah banyak. Bibit kokoh : Bibit yang batangnya tegak dan lurus, tampak seimbang antara tinggi dan diameter batang serta pangkal batang berkayu. Dormansi benih : Suatu keadaan dimana  benih-benih sehat  (viable) tetapi gagal  berkecambah  ketika berada  dalam kondisi yang secara normal  baik untuk perkecambahan, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai. Ekstraksi benih : Merupakan kegiatan mengeluarkan dan membersihkan benih dari bagian-bagian lain buah, seperti tangkai, kulit dan daging buah. Endemik : Jenis-jenis tanaman asli daerah yang memiliki ciri khas tertentu dan ditetapkan oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam/Balai Taman Nasional (BTN). Fast Growing Species (FGS) : Merupakan tanaman cepat tumbuh dan mempunyai masak tebang maksimal 15 tahun. Jenis Intoleran : Jenis tumbuhan yang dalam pertumbuhannya memerlukan cahaya matahari secara penuh. Jenis Toleran : Jenis tumbuhan yang dalam pertumbuhannya mampu tumbuh di bawah naungan tanpa cahaya matahari penuh.

viii

@ 2012


Kayu-kayuan : Jenis tanaman hutan yang menghasilkan kayu untuk kontruksi bangunan, meubel, dan peralatan tumah tangga. Kebun Benih Klon : Kebun benih yang dibangun dengan menggunakan bahan-bahan vegetatif, di mana bahan vegetatif (ranting, tunas, mata, dll.) berasal dari pohon plus yang selanjutnya dari kebunbenih klon akan dihasilkan benih dengan genetik unggul. Kebun Pangkas : Kebun hasil penenman pertanaman yang dibangun untuk tujuan khusus sebagai penghasil bahan stek. Kebun pangkas dikelola intensif dengam pemangkasan, pemupukan, dsb untuk meningkatkan produksi bahan stek.Kebun pangkas dibangun dari benih atau bahan vegetatif yang dikumpulkan dari pohon plus. Kebun Benih Semai : Kebun benih yang dibangun dengan menggunakan bahan tanaman berupa benih dari pohon-pohon plus hasil uji keturunan atau dari kebun klon yang sudah diseleksi. Mangrove : Jenis-jenis tanaman yang tumbuh di suatu areal yang kondisinya terpengaruh oleh pasang surut air laut. Media bibit : Bahan yang digunakan untuk menumbuhkan bibit. Media kompak : Kondisi di mana media dan akar membentuk gumpalan yang kompak. Mikorhiza : Hubungan simbiosis saling menguntungkan antara akar tanaman dengan cendawan.

OPERATION WALLACEA TRUST

ix


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Daftar Istilah

Multi Purpose Tree Species (MPTS) : Jenis tanaman yang menghasilkan kayu dan non kayu seperti buah, biji, getah, kulit. Mutu fisik fisiologis : Mutu yang menyangkut kondisi fisik fisiologis bibit, antara lain : kekompakan media, batang berkayu, standar tinggi bibit, standar diameter, jumlah daun, warna daun. Mutu genetik : Kualitas bibit yang merupakan cerminan sifat induk yang selalu diturunkan induk ke anaknya dari generasi ke generasi. Ortodoks : Benih yang dapat disimpan lama pada kadar air rendah (4 – 8 %) dalam kondisi temperatur rendah (4 – 18 ºC dan RH 40 – 50%). Pamsimas : Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat. Pematahan dormansi benih : Teknik memperpendek waktu dormansi benih suatu tanaman yang dapat dilakukan secara fisik (misal diamplas, dipecah, dll.), secara kimia (direndam senyawa kimia), biologi (bantuan mikroba). Pohon induk : Suatu individu pohon yang memiliki syarat-syarat sebagai pohon penghasil benih, antara lain : pohon tahan penyakit, batang lurus dan silindris, batang bebas cabang tinggi, atau menghasilkan buah berkualitas. Rekalsitran : Benih yang tidak dapat disimpan lama (1 – 4 minggu) pada kadar air tinggi (20 – 50%) dan kondisi temperatur dan kelembaban yang sedang (18 – 20 ºC) dan kondisi temperatur dan kelembaban yang sedang (18 – 20 ºC, RH 50 – 60%).

x

@ 2012


Reklamasi : Kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan umum agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai dengan peruntukannya. Rhizobium : Bakteri yang bersimbiosis dengan akar tanaman legum/kacangkacangan dan berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen, misalnya Rhizobium leguminosarum. Sumber Benih : Suatu tegakan hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman yang ditunjuk atau dibangun khusus untuk dikelola guna memproduksi benih bermutu (genetik unggul). Tanaman Unggulan Lokal : Jenis-jenis tanaman asli atau eksotik yang disukai oleh masyarakat, mempunyai keunggulan tertentu seperti produk kayu, buah, atau getah dan produknya mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan ditetapkan oleh Bupati/Wali Kota. Tegakan Benih Teridentifikasi : Jenis sumber benih yang terdiri dari tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata dan digunakan untuk koleksi benih, di mana sebaran lokasinya dengan tepat dapat teridentifikasi. Tegakan teridentifikasi tidak dikhususkan untuk produksi benih. Tegakan Benih Terseleksi : Jenis sumber benih yang terdiri dari tegakan alam atau tanaman, dengan pohon fenotipe superior untuk sifat-sifat yang penting (tegakan lurus, percabangan ringan, dll.) pada lokasi lingkungan tertentu. Pada mulanya tegakan ini tidak dimaksudkan untuk produksi benih, jika akan dipergunakan untuk produksi benih, maka dilakukan penebangan terhadap pohon-pohon inferior. Tegakan dapat dipergunakan sebagai penghasil benih hingga di atas umur rotasinya.

OPERATION WALLACEA TRUST

xi


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

xii

Daftar Istilah

Zona Pengumpulan Benih : Jenis sumber benih di mana suatu wilayah atau kelompok wilayah di dalam hutan alam yang memiliki keadaan ekologis (ketinggian tempat, arah kemiringan, iklim) yang seragam. Di dalam wilayah ini terdapat tegakan asli setempat dan merupakan suatu sumber benih geografik (provenan). Species yang dijumpai pada setiap zona ini dapat ditemukan pada zona lain yang berbeda dalam variasi genetik, ketinggian atau arah kemiringan. Zona pengumpulan benih dapat dibagi ke dalam beberapa sub zona.

@ 2012


OPERATION WALLACEA TRUST

xiii


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

xiv

Prinsip-prinsip

Prinsip Perlindungan dan Rehabilitasi DTA secara Vegetatif

1. Perlindungan hutan alam yang masih tersisa 2. Pengelolaan lahan pada kemiringan kurang dari 40 % dengan pola agroforestry/wanatani 3. Pengelolaan lahan pada kemiringan di atas kelerengan 40 % dengan vegetasi permanen (Keppres 32/1990) 4. Setiap jengkal pengelolaan lahan harus memberikan perlindungan tanah secara maksimal dengan tanaman penutup tanah, baik berupa tumbuhan bawah maupun tanaman penutup tanah : (a) rendah (misalnya rerumputan, Centrocema sp, dsb.),  (b) sedang (misalnya kaliandra, gamal), (c) tinggi (misalnya sengon) 5. Tidak melakukan pembukaan lahan (land-clearing) secara penuh 6. Merehabilitasi lahan terbuka (lahan kritis/bare land) dengan tanaman unggulan lokal atau  jenis pioner yang sesuai dengan kondisi  ekologi dan aspirasi masyarakat setempat. 7. Apabila tidak memungkinkan dilakukannya rehabilitasi jenis pepohonan karena alasan tertentu (misalnya biaya, ketersediaan bibit, kendala musim), maka dapat dilakukan penanaman tanaman penutup tanah. 8. Melakukan upaya mempertahankan kesuburan tanah dan menjaga pencemaran air permukaan dan tanah melalui penggunaan pupuk organik dan pertanian semi-organik. 9. Perlu penciptaan aneka usaha ramah lingkungan untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap sumber daya lahan. 10. Penerapan teknologi budidaya tanaman untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi lahan  

@ 2012


Prinsip Perlindungan dan Rehabilitasi  DTA secara Sipil Teknik

1. Penterasan lahan pada lahan miring hingga kelerengan 40 % 2. Penerapan teknik penteresan perlu memperhatikan kondisi setempat, khususnya kelerengan dan kedalaman tanah. 3. Teras yang dibangun perlu dipelihara dengan baik agar tidak menimbulkan mega erosi 4. Melakukan penguatan tampingan teras (terrace riser) dengan batu dan rumput yang tahan kekeringan. 5. Pembuatan rorak pada bidang olah teras 6. Penguatan batu dan rumput pada saluran pembuangan air 7. Pembuatan ‘rorak’ (silt-pit) saluran air yang memotong bukit 8. Pembuatan Sumur Resapan Air dan Embung pada lahan yang memiliki aliran permukaan berlebihan 9. Meminimasi  jalan/jalan setapak yang memotong bukit. 10. Bangunan jalan  perlu dilengkapi dengan saluran pembuangan air. 11. Saluran air yang dibuat pada kelerengan dilengkapi dengan bangunan terjunan dan perangkap sedimen (rorak/silt-pit) 12. Setiap jengkal pembangunan fisik harus memperhatikan peresapan air tanah (grass-block, sumur resapan, lubang biopori).

OPERATION WALLACEA TRUST

xv


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

xvi


BAB I

Pendahuluan 1.1 Latar belakang

Pelaksanaan penanaman merupakan tahap kegiatan penting dalam serangkaian kegiatan rehabilitasi hutan maupun lahan. Tanaman yang ditanam akan tumbuh dan berkembang seiring dengan berbagai faktor pendukung yang selanjutnya memberikan manfaat bagi perbaikan ekosistem. Agar manfaat dari tujuan penanaman dapat tercapai, maka penanaman yang dilakukan harus berhasil dengan baik dan memenuhi kaidah-kaidah/persyaratan penanaman yang benar. Keberhasilan penanaman tidak cukup selesai dengan hanya melaksanaan penanaman pada waktu yang telah ditentukan saja, namun akan dipengaruhi oleh serangkaian kegiatan sebelum, saat pelaksanaan, maupun sesudah penanaman. Serangkaian kegiatan yang menunjang keberhasilan sebelum penanaman antar lain penyediaan bibit untuk penanaman. Bibit untuk penanamn harus berkualitas baik, sehat, seragam, dan media tumbuh dalam polybag pada kondisi kompak. Adapun kegiatan penunjang keberhasilan saat penanaman antara lain : kesesuaian jenis/tempat tumbuh, kesesuaian musim, kesesuaian cara penanaman, dan kegiatan penunjang setelah penanaman terutama terkait dengan pemeliharaan tanaman. Sehingga dapat dikatakan bahwa jika tujuan penanaman ingin tercapai dengan baik, maka faktor penunjang sebelum, saat, dan sesudah pelaksanaan penanaman harus benar-benar diperhatikan dengan baik dan menjadi serangkaian kegiatan yang saling terkait dalam mempengaruhi keberhasilan penanaman. Manual ini akan banyak membahas faktor penunjang keberhasilan saat dan setelah pelaksanaan kegiatan penanaman, adapun faktor penyediaan bibit sudah banyak dibahas dalam Manual Pembangunan Persemaian dan Pembibitan.

1.2 Tujuan

Manual ini bertujuan memberikan arahan penanaman mulai dari persiapan penanaman, teknik penanaman, pelaksanaan penanaman, hingga pemeliharaan tanaman

OPERATION WALLACEA TRUST

1


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

2


Persyaratan dan Teknik Penanaman 2.1 Persyaratan Penanaman

Kegagalan penanaman sebagian besar disebabkan oleh kurang terpenuhinya persyaratan penanaman, karena penanaman masih lebih mementingkan asal bibit sudah tertanam, maka kewajiban menanam telah selesai, tanpa memperdulikan apakah bibit yang ditanam akan dapat tumbuh baik atau tidak di lapangan. Oleh sebab itu, di bawah ini diuraikan beberapa persyaratan penanaman yang minimal dapat membantu meningkatkan keberhasilan penanaman berdasarkan pengalaman beberapa kegiatan penanaman di lapangan sebagai berikut :

Bab II. Persyaratan dan Teknik Penanaman

BAB II

a. Kesesuaian Tempat Tumbuh

Tanaman akan tumbuh dengan baik jika memenuhi kesesuaian tempat tumbuh. Kesesuaian tempat tumbuh dapat meliputi : kesesuaian tanaman terhadap : jenis tanah, iklim (curah hujan, suhu), kondisi air, ketinggian tempat, dll. Cara paling sederhana untuk mngetahui kesesuaian tempat tumbuh suatu jenis adalah dengan melihat apakah terdapat jenis dimaksud telah tumbuh dengan baik di lokasi tersebut. Jika tanaman yang akan dikembangkan telah tumbuh secara alami atau terdapat contoh tegakan yang dapat tumbuh dapat tumbuh dengan baik, maka jenis tersebut dapat dikategorikan memiliki kesesuaian tempat tumbuh di areal tersebut. Jika informasi kesesuaian tempat tumbuh tidak diperoleh, maka dapat melakukan Uji Species, yaitu uji kemampuan tumbuh suatu tanaman pada lokasi baru yang belum diketahui kesesuaian tempat tumbuhnya. Namun tentu uji species seperti ini akan banyak memakan waktu, oleh karenanya kajian terhadap literatur atau pustaka akan lebih membantu.

b. Kesesuaian Musim Tanam

Penanaman harus dilakukan pada musim hujan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kematian tanaman sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pasokan air akibat penanaman dilakukan tidak pada musim tanam yang sesuai (dilakukan pada akhir musim hujan atau bukan pada musim hujan). Kondisi terbaik penanaman adalah pada awal musim hujan yaitu ketika hujan turun mulai stabil pada bulan tersebut, artinya turunnya hujan sudah mulai rutin setiap 1-2 hari sekali. Di samping itu penanaman

OPERATION WALLACEA TRUST

3


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

sebaiknya berakhir minimal satu bulan sebelum musim kemarau tiba, sehingga tanaman sudah cukup beradaptasi baik karena menerima pasokan air hujan yang cukup selama satu bulan sebelum musim kemarau tiba. Adapun untuk jenis tanaman mangrove, maka penanaman tidak bergantung pada musim hujan karena kebutuhan air tanaman mangrove dipenuhi oleh pasang surut air laut.

c. Kesesuaian Teknik Menanam

Salah satu penyebab lain kegagalan menanam adalah kesalahan dalam teknik pelaksanaannya di lapangan, antara lain : (1) cara mengangkut bibit yang salah (kumpulan banyak bibit diangkut dengan memegang bagian batangnya tanpa menggunakan alat angkut) yang menyebabkan bibit patah batang, (2) cara melepas polybag yang salah sehingga banyak akar bibit yang rusak, (3) membuat lubang tanam yang asal-asalan, tidak sesuai ukuran standar (30 cm x 30 cm x30 cm) sehingga bibit tidak tertanam sempurna di dalam tanah, biasanya lubang tanam dibuat terlalu dangkal. Untuk itu teknik menanam di lapangan harus diperhatikan agar tidak diperoleh kegagalan penanaman.

d. Keamanan dari Gangguan

Terlepas dari faktor teknis, keberhasilan penanaman juga dipengaruhi oleh faktor non-teknis yaitu dalam bentuk gangguan terhadap tanaman. Gangguan tanaman dapat disebabkan oleh : alam (bencana banjir, angin, longsor), manusia (kebakaran lahan, perusakan tanaman), atau hewan (perusakan tanaman). Oleh sebab itu perlu diidentifikasi kemungkinankemungkinan penyebab gangguan tersebut untuk mendapatkan solusi pemecahan di lapangan.

e. Kualitas Bibit

Bibit yang akan ditanam harus memenuhi kriteria bibit siap tanam yang berkualitas. Bibit siap tanam antara lain dicirikan oleh : pangkal batang telah berkayu, bibit sehat, media di polybag kompak, kecukupan tinggi/ diameter tanaman, batang kokoh/tegar, dan memiliki batang tunggal, tidak bercabang, kekokohan bibit, dan secara genetik diperoleh dar induk yang unggul. Bibit dikatakan kokoh jika terjadi keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter batang bibit. Penataan bibit pada bedengan yang terlalu rapat menyebabkan pertumbuhan tinggi lebih besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan diameter, sehingga bibit akan terlihat ‘langsing’, kondisi ini menyebabkan bibit mudah patah terutama ketika pengangkutan dan setelah ditanam di lapangan akibat terpaan angin. Demikian juga sebaliknya, bibit yang mendapatkan cahaya terlalu penuh (bibit terlalu jarang dan tanpa naungan) akan menyebabkan pertumbuhan kerdil dimana pertumbuhan diameter lebih cepat dan tidak diimbangi oleh tinggi. Bibit kerdil yang

4

@ 2012


Kerusakan bibit akan menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan penanaman. Oleh sebab itu persyaratan bibit siap tanam benar-benar harus dipenuhi untuk meningkatkan keberhasilan penanaman tersebut. Sebagai contoh kekompakan media memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan penanaman, media bibit yang tidak kompak akan menyebabkan akar mudah rusak atau putus pada saat pengangkutan maupun pelepasan dari polybag, sehingga dapat berakibat pada kematian tanaman di lapangan. Secara umum bibit yang layak untuk ditanam harus memenuhi persyaratan khusus, contoh syarat khusus beberapa jenis bibit disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Contoh Syarat Khusus Mutu Beberapa Jenis Bibit Tanaman Hutan No.

Jenis Bibit

Kriteria

Kondisi

1.

Akasia

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • > 30 cm • > 3 mm • 7 – 12 • Hijau

2.

Ampupu

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • > 30 cm • > 3 mm • 9 – 13 • Hijau

3.

Gmelina

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • > 40 cm • > 4 mm • 9 – 11 • Hijau

4.

Sengon

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • 36 > 45 cm • 4 – 7 mm • 5,1 – 9 • Hijau

OPERATION WALLACEA TRUST

Bab II. Persyaratan dan Teknik Penanaman

ditanam di lapangan akan menyebabkan pertumbuhan yangg lambat karena kurangnya jumlah daun, peerkaran yang pendek, dan kalah bersaing dengan gulma/alang-alang akibat ternaungi.

5


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

5.

Tusam

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • 31 – 40 cm • 3,6 – 4,5 mm • 7,8 – 10,8 • Hijau

6.

Meranti

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • 50 – 65 cm • 5 – 8 mm • 6,3 – 10,8 • Hijau

7.

Tengkawang

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Nilai kekokohan bibit • Warna daun

• Utuh • 55 – 70 cm • 5,5 – 9 mm • 6,8 – 11,6 • Hijau

8.

Jati

• Kekompakan Media • Tinggi • Diameter • Jumlah helai daun

• Utuh • 20 – 30 cm • > 4 mm • 3 pasang

2.2 Teknik Penanaman

Keberagaman kondisi lahan yang antara lain meliputi : tingkat kelerengan, tingkat penutupan vegetasi, kepekaan erosi, dan tujuan penanaman, akan memerlukan Cara, Sistem, dan Pola Tanam yang berbeda yang secara sederhana diuraikan sebagai berikut : 1. Cara penanaman dibedakan dalam dua cara, yaitu : - Cara penanaman pada lahan terbuka - Cara penanaman di lahan tegalan/pekarangan. 2. Sistem penanaman dibedakan menjadi tiga, yaitu : - Sistem Cemplongan : teknik penanaman yang dilaksanakan dengan pembuatan lubang tanam dan piringan tanaman. Pengolahan tanah hanya dilaksanakan pada piringan disekitar lubang tanaman. Sistem cemplongan dilaksanakan pada lahan-lahan yang miring dan peka terhadap erosi, - Sistem jalur : teknik ini dilaksanakan dengan pembuatan lubang tanam dalam jalur larikan, dengan pembersihan lapangan sepanjang

6

@ 2012


- Sistem tugal/zero tillage : teknik ini dilaksanakan dengan tanpa olah tanah (zero tillage). Lubang tanaman dibuat dengan tugal (batang kayu yang diruncingi ujungnya). Teknik ini cocok untuk pembuatan tanaman dengan benih langsung terutama pada areal dengan kemiringan lereng yang cukup tinggi, namun tanahnya subur dan peka erosi. 3. Pola Penanaman dibedakan menjadi dua, yaitu : - Pola Tumpangsari/Campuran : merupakan pola penanaman antara tanaman tahunan dan tanaman semusim atau penanaman beberapa jenis tanaman tahunan pada satu lahan yang sama. Pola ini dapat dilakukan dengan cara agroforestry sederhana maupun agroforestry komplek.

Bab II. Persyaratan dan Teknik Penanaman

jalur tanaman. Teknik ini dapat dipergunakan di lereng bukit dengan tanaman sabuk gunung,

- Pola Monokultur : merupakan pola penanaman yang menerapkan hanya satu jenis tanaman tahunan pada suatu lahan.

Gambar 1. Pola tanam tumpangsari (kiri) dan pola campuran (kanan) Gambar 2. Pola tanam monokultur

OPERATION WALLACEA TRUST

7


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Gambar 3. Tanaman jalur dengan sistem tumpangsari

8

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa penanaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penanaman pada lahan terbuka dan (2) penanaman pada lahan tegalan dan pekarangan. Cara penanaman tersebut secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Cara Penanaman di Lahan Terbuka (a) Baris dan larikan tanaman lurus Cara tanam ini sesuai untuk lahan dengan tingkat kelerengan datar, tetapi tanah peka terhadap erosi. Baris dan larikan tanaman dibuat lurus dengan jarak tanam teratur. Pada lahan hutan negara jumlah tanaman adalah 1100 btg/ha ( jarak tanam 3m x 3m) sedangkan pada lahan Hutan Rakyat jumlah tanaman 400 btg/Ha ( jarak tanam 5m x 5m). Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dan pola tanam monokultur atau campuran. (b) Tanaman jalur dengan sistem tumpangsari Pola tanam ini sesuai untuk lahan dengan tingkat kelerengan datar hingga landai dan tanah tidak peka terhadap erosi. Baris dan larikan tanaman dibuat lurus dengan jarak tanam teratur. Pada Hutan Rakyat jumlah tanaman 400 btg/Ha ( jarak tanam 5m x 5m). Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dan pola tumpangsari, di mana di antara tanaman pokok akan dilakukan penanaman tanaman semusim.

(c) Penanaman searah garis kontur Pola tanam ini sesuai untuk lahan dengan kelerengan agak curam hingga sangat curam dan peka erosi. Pada Hutan Rakyat jumlah tanaman 400 btg/ha. Penanaman dilakukan dengan sistem cemplongan dan pola tanam monokultur atau campuran.

@ 2012


Pada umumnya di lahan tegalan sudah terdapat tanaman kayu-kayuan maupun tanaman MPTS. Dalam rangka pengembangan hutan rakyat, pada lahan tegalan yang jumlah pohon dan anakannya kurang dari 200 batang/Ha dapat dilakukan pengkayaan tanaman. Pola penanaman di lahan tegalan meliputi : (a) Penanaman pengkayaan pada batas pemilikan lahan Pada umumnya pada lahan tegalan sudah terdapat tanaman kayu kayuan/MPTS, maka tanaman baru sebagai tanaman pembatas maksimal 200 Batang/ha. (b) Pengkayaan penanaman/sisipan Pada umumnya pada lahan tegalan sudah terdapat tanaman kayu kayuan dan MPTS, maka tanaman baru sebagai tanaman pengkayaan sisipan sejumlah 200 btg/ha.

Bab II. Persyaratan dan Teknik Penanaman

2. Cara penanaman di lahan tegalan dan pekarangan

Untuk memudahkan pemahaman pengelompokan beberapa cara, sistem, dan pola tanam dengan mengacu pada Permenhut No. P.70/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan, maka pelaksanaan Rehabilitasi Daerah Tangkapan Air secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut :

OPERATION WALLACEA TRUST

9


Penanaman Penuh • ∑ anakan < 500 btg/ha) • Penanaman 1100 btg/ha

REHABILITASI DTA

Di Luar Kawasan Hutan

Permenhut No. P.70/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dalam Kawasan Hutan

Lingkungan

Cara Penanaman Lahan Tegalan a. Penanaman pengkayaan pada batas pemilikan lahan b. Penanaman pengkayaan sisipan

Pengkayaan Hutan Rakyat (∑ anakan > 200 btg/ha, tanaman baru < 200 btg/ha)

Hutan Rakyat

Penghijauan

Hutan Kota

Penanaman Hutan Rakyat (∑ anakan < 200 btg/ha)

Cara Penanaman Lahan Terbuka a. Baris dan larikan tanaman lurus (400 btg/ha, tanah datar, peka erosi) b. Jalur pola tumpangsari (400 btg/ha, datarlandai, tidak peka erosi) c. Searah kontur (400 btg/ha, cemplongan, lereng agak curam-curam, peka erosi)

Tidak Perlu Penanaman (∑ anakan > 700 btg/ha)

Reboisasi

Pengkayaan Tanaman • ∑ anakan 500700 btg/ha) • Penanaman 400 btg/ha

Penanaman Penuh • Hutan Lindung : 60% kayu & 40% MPTS • Hutan Produksi : 90% kayu & 10% MPTS • Hutan Konservasi, misal Tahura (kecuali cagar alam dan zona inti Taman Nasional) : 90% kayu endemik dan 10% MPTS asli

Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

10


• Pembuatan lubang tanam • Pembuatan piringan 1 m dari tanaman • Pengolahan tanah hanya pada piringan • Dilakukan pada lahan miring dan peka erosi

Sistem Cemplongan

• Pembuatan lubang tanam dalam jalur larikan • Pembersihan lapangan sepanjang jalur tanam • Dapat di lereng bukit dengan sabuk gunung (contour planting)

Sistem Jalur

SISTEM PENANAMAN

• Disebut juga zero tillage/tanpa olah tanah • Lubang tanam dibuat dengan tugal • Jenis benih yang dapat langsung ditanam dalam lubang tugal • Kelerengan cukup tinggi, tanah peka erosi, dan tanah subur

Sistem Tugal

Bab II. Persyaratan dan Teknik Penanaman

OPERATION WALLACEA TRUST

11


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

12


Agustus 2012

MANUAL TEKNIK PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN

Bab III. Alur Penanaman

BAB III BAB III

ALUR PENANAMAN

Alur Penanaman

3.1 Persiapan Bahan dan Alat Bahan dan alat yang perlu disiapkan dalam kekgiatan sebelum, sesaat, dan setelah penanaman antara lain : cangkul, linggis, golok, ajir (dibuat dari bambu lebar 3 cm, tinggi 120 cm, pangkal dicat merah 10 cm dan ujung runcing), kompas, GPS, meteran rol 50 m, tali plastik 3.1 Persiapan Bahan dan Alat Bahan dan alat yangbibit, perlualat disiapkan dalamuntuk kegiatan sebelum, sesaat, dan 100 m, keranjang/alat angkut ondol-ondol penjaluran pada lahan miring. setelah penanaman antara lain : cangkul, linggis, golok, ajir (dibuat dari bambu lebar 3 cm, tinggi 120 cm, pangkal dicat merah 10 cm dan ujung runcing), kompas, rol Penanaman 50 m, tali plastik 100 m, keranjang/alat 3.2 Pembangunan Sarana GPS, dan meteran Prasarana angkut bibit, alat ondol-ondol untuk penjaluran pada lahan miring.

Beberapa sarana dan prasarana perlu disiapkan, meliputi : gubuk kerja ukuran 3 m x 4m, papan nama ukuranSarana 200 cm x Prasarana 100 cm sebsagimana 3.2 kegiatan Pembangunan dan Penanamandapat dilihat pada gambar berikut : Beberapa sarana dan prasarana perlu disiapkan, meliputi : gubuk kerja ukuran 3 m x 4m, papan nama kegiatan ukuran 200 cm x 100 cm sebagaimana dapat dilihat pada gambar berikut :

200 cm

90

Balok 10 cm x

360

360 cm

300 cm

400 cm Atap

Gambar 4. Model Gubuk Kerja

Gambar 4. Model Gubuk Kerja

OPERATION WALLACEA TRUST

11

13


Agustus 2012

MANUAL TEKNIK PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

200 cm

AREAL REHABILITASI DAERAH TANGKAPAN AIR Lokasi Luas Jarak tanam Jenis

100 cm

: Nagari Salareh Aia, Kec. Palembayan Kab. Agam : 40 ha :5mx5m : Kayu-kayuan dan MPTS

150 cm

Dipendam 50 cm

Gambar 5. Contoh Model Papan Nama Kegiatan Penanaman

Gambar 5. Contoh Model Papan Nama Kegiatan Penanaman

12

14

@ 2012


Pembersihan lapangan akan sangat terkait dengan lokasi dan kondisi vegetasi yang ada. Pada prinsipnya pembersihan lapangan akan menghindari teknik pembersihan total dengan cara membakar lahan, karena cara ini akan banyak menghilangkan vegetasi tumbuhan bawah yang dapat berakibat pada peningkatan aliran permukaan. Pembersihan lapangan dapat dilakukan secara mekanik atau dengan menggunakan gabungan antara mekanik dan mesin rumput. Pembersihan lapang dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada kondisi penutupan lahan, kemiringan lahan, dan tingkat kerawanan erosi sebagai berikut :

1.

Bab III. Alur Penanaman

3.3 Pembersihan Lapangan dan Jalur Tanam

Kondisi lahan terbuka dan datar

Pada kondisi ini gulma, rumput atau alang-alang dibersihkan sepanjang jalur tanam dengan lebar 1 m. Pembersihan dapat dilakukan menurut larikan dan baris tanaman. Pembersihan jalur tanam dapat dilakukan dengan menggunakan parang untuk memotong gulmagulma berkayu kemudian dilanjutkan dengan mesin rumput untuk membersihkan gulma-gulma tidak berkayu. Namun jika mesin rumput tidak tersedia dapat dilakukan secara manual dengan parang. Selanjutnya di sekitar lubang tanam dilakukan pembersihan gulma dan penggemburan tanah selebar 1 m mengelilingi lubang tanam.

2. Kondisi lahan terbuka, miring, tidak rawan erosi

Pembersihan lahan pada jalur tanam menurut kontur. Pada kondisi seperti ini maka lahan akan dibersihkan selebar 1 m pada jalur tanam sesuai kontur. Pada lahan yang bukan merupakan jalur tanam tidak dilakukan pembersihan lahan, vegetasi yang tumbuh dibiarkan hidup, dengan demikian pembersihan lahan tidak menyebabkan peningkatan erosi tanah karena pada bukan jalur tanam tidak dilakukan pembabatan dan pembersihan gulma.

OPERATION WALLACEA TRUST

Gambar 6. Pembersihan pada lahan datar Gambar 7. Pembersihan pada lahan miring

15


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

3.

Kondisi lahan terbuka, miring, dan rawan erosi

Pada kondisi ini pembersihan lahan dilakukan secara cemplongan, yaitu lahan dibersihkan hanya pada radius 1 m sekitar lubang tanam dan pada radius 1 m tersebut jika tanah agak padat dilakukan penggemburan tanah, sedangkan pada jalur tanam atupun antar jalur tanam tidak dilakukan pembersihan lahan.

4. Kondisi lahan terbuka, sangat curam, tanah subur, dan rawan erosi

Pada kondisi seperti ini tidak dilakukan pembersihan lahan, namun penanaman akan dilakukan dengan sistem tugal, yaitu memasukkan benih pada lubang-lubang yang dibuat dengan cara tugal, yaitu batang kayu berdiameter Âą 5 cm bagian ujungnya dibuat runcing dan digunakan untuk membuat lubang tanam

Gambar 8. Pembuatan cemplongan Gambar 9. Sistem tugal

16

@ 2012


Kondisi lahan tegalan/vegetasi jarang dan datar

Pada kondisi ini vegetasi pohon sudah ada, namun perlu dilakukan pengakayaan tanaman dengan cara melakukan penanaman sisipan atau pengkayaan pada batas pemilikan lahan. Pembersihan pada kondisi ini akan lebih menerapkan sistem cemplongan, yaitu lahan dibersihkan hanya sekitar lubang tanam dengan radius 1 m.

3.4 Penentuan Arah Larikan, Jarak Tanam, dan Pemasangan Ajir 1. Lahan terbuka, datar/landai

Bab III. Alur Penanaman

5.

Penentuan arah larikan, jarak tanam, dan pemasangan ajir ditentukan sebagai berikut : - Larikan ditetapkan menurut arah Utara-Selatan, sehingga baris menurut Barat-Timur - Pada lahan hutan negara, jarak tanam ditetapkan 3 m x 3 m sedangkan pada Hutan Rakyat jarak tanam 5m x 5m. Namun penentuan jarak tanam tersebut juga dapat disesuaikan berdasarkan beberapa hal berikut : •

Pada tanah yang subur jarak tanam dapat lebih lebar daripada tanah tidak subur

Tanaman bertajuk lebar ditanam lebih lebar daripada tanaman bertajuk kecil

- Siapkan tali plastik ukuran 100 m sebanyak 2 gulung. Pada tali plastik tersebut telah dilakukan penandaan jarak tanam, misalnya 5 m. Tali plastik ini digunakan untuk memasang ajir pada “Garis As”, yaitu garis uatama yang akan menjadi panduan dalam pemasangan ajir-ajir sesuai jarak tanam yang ditetapkan. - Siapkan pula tali plastik ukuran 50 m yang telah dilakukan penandaan jarak tanam untuk melakukan pemasangan ajir - Tahap awal, dengan menggunakan kompas, tentukan arah UtaraSelatan dan Timur-Barat. Kemudian tancapkan ajir pertama sebagai titi awal (T0) dimulainya pembuatan Garis As. T0 juga bisa dimulai dari pohon, atau balok. Tempatkan T0 kira-kira sebagai titik yang akan menjadi titik sudut pertemuan garis pinggir “Garis As UtaraSelatan dan Barat Timur”. - Dari titik T0 lalu tarik garis As ke arah Utara-Selatan, lalu tancapkan ajir pada setiap interval jarak tanam yang ditetapkan (misalnya setiap 5 m), dengan cara yang sama lakukan ke arah Timur-Barat, untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut :

OPERATION WALLACEA TRUST

17


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Utara

Garis As

Ajir setiap 5 m T0

Timur

- Setelah dua Garis As terbentuk, maka selanjutnya pemasangan ajirajir sesuai jarak tanam dapat mulai dilakukan. Diperlukan minimal 4-5 orang untuk melakukan pengajiran, 1 orang memegang tali di posisi A, 1 orang memegang tali di posisi B, 1orang memegang tali di posisi C, dan 1 atau 2 orang membawa ajir dan menancapkan ajir. Tali telah ditandai setiap jarak 5 m dan akan dibuat membentuk siku-siku terhadap dua garis As. - Langkahnya adalah, dari titik A tarik tali menuju titik B dan sikukan ke titik C. Jika sudah membentuk sudut siku ABC, maka ajir dapat ditancap pada tanda-tanda yang sudah ditandai pada tali. Pemasangan selanjutnya terus dilakukan dengan cara yang sama di mana garis siku bergeser ke arah Timur sebagimana gambar berikut:

Utara Jarak 5 m B

C

Ajir setiap 5 m

Gambar 10. Pemasangan ajir pada garis As di lahan datar Gambar 11. Pemasangan ajir-ajir setelah ajir pada garis As terbentuk

18

T0

A

@ 2012

Timur


Bab III. Alur Penanaman

2. Lahan terbuka dan miring

Pad kondisi lahan terbuka dan miring, maka arah larikan dan baris tanaman akan dibuat menurut garis kontur dengan cara sebagai berikut: - Tentukan arah yang mewakili kemiringan lahan - Siapkan tali plastik sepanjang 50-100 m untuk menarik garis lurus dari lembah menuju puncak bukit yang mewakili kondisi kemiringan lahan. Agar warna kontras, bisa dipilih tali plastik berwarna orange. - Siapkan pula tali plastik ukuran Âą 50 m sebagai tali penanda jarak yang telah ditandai sesuai jarak tanam yang diinginkan (misalnya jarak 5 m dan penandaan bisa menggunakan tali tis, untuk lahan hutan negara dengan lahan terbuka maka jarak tanam menggunakan 3 m x 3 m) - Siapkan ajir untuk menandai jarak di lapangan - Dari lembah menuju puncak bukit, dengan mengikuti tali yang yang telah ditarik lurus, lakukan penandaan setiap jarak mendatar 5 m menggunakan tali penanda jarak yang telah disiapkan dan tancapkan ajir pada setiap tanda jarak datar 5 m. - Ajir-ajir yang terpasang dari lembah menuju bukit tersebut merupakan penanda baris tanaman menurut kontur. - Dari setiap ajir tersebut, selanjutnya ke arah kiri dan kanan dari garis uatama dilakukan penandaan dengan ajir menurut kontur. Untuk

OPERATION WALLACEA TRUST

Gambar 12. Pembagian tugas pemasangan ajir pada lahan datar

19


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

melakukan pengajiran menurut garis kontur, maka di lapangan perlu dibuat penjaluran dengan menggunakan alat sederhana yang disebut ondol-ondol. Cara aplikasinya sebagai berikut : • Siapkan ondol-ondol. Ondol-ondol atau gawang segitiga terbuat dari kayu atau bambu, terdiri dari dua buah kaki) yang sama panjang (A = B = 2 m), sebuah palang penyangga (C = 1 m), benang (D), dan pemberat (ondol-ondol, E), Pada bagian tengah palang diberi tanda untuk menentukan bahwa kedua ujung kaki ondol-ondol terletak pada posisi yang sama tinggi. Untuk mempermudah melakukan pengukuran pada palang penyangga (C) dapat dipasang waterpas sebagai pengganti ondol-ondol. • Tentukan puncak bukit awal, misal titik A. • Tentukan titik B pada bagian lereng yang lebih rendah sesuai dengan beda tinggi (interval vertical = IV) yang diinginkan, misalnya 5 m. • Letakkan kaki ondol-ondol pada titik B sedang kaki lainnya digerakkan ke atas atau ke bawah sedemikan rupa sehingga tali bandul persis pada titik tengah palang yang sudah ditandai. Titik yang baru ini, misalnya titik B1, adalah titik yang sama tinggi dengan titik B. • Dari titik B1 tentukan titik B2 dengan cara yang sama dengan tahap di atas, demikian seterusnya sehingga diperoleh sejumlah titik pada lahan yang akan ditentukan garis konturnya. • Tandai titik tersebut dengan patok kayu atau bamboo (ajir) • Titik yang ditandai kayu dihubungkan dengan tali rafia/plastik sehingga membentuk garis yang sama tinggi. Jika garisnya patah-patah, hilangkan sudut-sudutnya dengan menggeser patok ke atas atau ke bawah sehingga terbentuk garis sabuk gunung yang bagus. • Garis yang terbentuk tersebut adalah garis sabuk gunung pertama. Lanjutkan pekerjaan yang sama untuk membuat garis kontur kedua pada titik C dan seterusnya dengan beda tinggi sesuai dengan apa yang telah ditetapkan di awal (5 m). Pada garis kontur tersebut dapat dilakukan kegiatan pembersihan jalur tanam, pembuatan lubang tanam, dan pelaksanaan penanaman.

20

@ 2012


Bab III. Alur Penanaman Gambar 13. Alat Ondolondol Gambar 14. Pembuatan jalur tanam pada lahan miring dengan ondol-ondol

OPERATION WALLACEA TRUST

21


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

3. Lahan tegalan/pekarangan

Gambar 15. Pemasangan ajir pada lahan miring

22

Pada lahan tegalan/pekarangan yang dalam pelaksanaan penanamannya akan menerapkan pengkayaan tanaman dalam bentuk tanaman pengkayaan sisipan dan penanaman pada batas pemilikan lahan. â&#x20AC;˘ Penanaman pengkayaan sisipan Pada kondisi ini maka tanaman akan disisipkan pada tegakan pohon yang telah ada. Asumsinya tegakan pohon sebelumnya telah ditanam dengan jarak tanam yang teratur sehingga arah larikan mengikuti arah yang telah terbentuk sebelumnya, di mana ajir-ajir untuk penanaman sisipan ditempatkan pada tempat kosong dengan patokan jarak tanam tertentu, misalnya 5m x 5m. Sedangkan jika tegakan yang akan dilakukan pengkayaan ditanam dengan jarak tanam yang tidak teratur, maka ajir dipasang pada tempat-tempat kosong dengan tetap memperhatikan jarak tanam. Untuk jelasnya lihat gambar berikut :

@ 2012


Bab III. Alur Penanaman

â&#x20AC;˘ Penanaman pengkayaan pada batas pemilikan lahan Pada kondisi ini maka ajir akan di pasang di bagian luar dari tanaman kayu yang sudah ada sebelumnya sebagai batas pemilikan lahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 16. Model pengkayaan tanaman sisipan Gambar 17. Model pengkayaan pada batas pemilikan lahan

OPERATION WALLACEA TRUST

23


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

3.5 Pembuatan Lubang Tanam, Piringan, dan Penambahan Pupuk Organik Setelah arah larikan, jarak tanam, dan pemasangan ajir selesai dilaksanakan, tahap selanjutnya adalah melakukan pembuatan lubang tanam. Lubang tanam dibuat pada ajir-ajir yang telah dipasang. Ukuran lubang tanam dibuat pada dasarnya bergantung pada kondisi kepadatan tanah. Lubang tanam dapat dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm atau umumnya menggunakan ukuran lebar cangkul. Adapun pada kondisi tanah padat, lubang tanam dapat dibuat lebih lebar, misalnya dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm (sekitar dua kali ukuran lebar cangkul). Selanjutnya di sekitar lubang tanam dilakukan pembuatan piringan radius 1 m dengan cara membersihkan tanah dari gulma dan tumbuhan bawah lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi persaingan dengan gulma sehingga tanaman pokok dapat tumbuh secara optimal dalam mendapatkan unsur hara maupun cahaya. Untuk membantu pasokan unsur hara dan perbaikan sifat fisik tanah, maka pada setiap lubang tanam disarankan ditambahkan pupuk organik baik dalam bentuk kompos daun-daunan, bokashi, pupuk kandang, atau pupuk kascing. Pupuk organik ditambahkan sekitar 1/3 volume lubang tanam, atau dapat juga ditambahkan sekitar 2-3 liter/lubang tanam. Jika di atas lubang tanam terdapat serasah-serasah yang telah menjadi kompos, juga dapat dimasukkan ke dalam lubang tanam sebagai kompos alami. Untuk kompos buatan yang sudah jadi, penambahan ke lubang tanam dapat dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan penanaman atau 1 hari sebelum penanaman. Sedangkan untuk kompos dari serasah di lantai-lantai hutan dimasukkan ke dalam lubang tanam sekitar 7 hari sebelum pelaksanaan penanaman, hal ini dimaksudkan agar proses pengomposan telah terbentuk sempurna sebelum penanaman.

3.6 Pengangkutan Bibit

Bibit yang diangkut adalah bibit yang telah diseleksi di persemaian dan memenuhi persyaratan untuk ditanam. Bibit yang layak ditanam harus memenuhi kriteria sebagai berikut : - Pangkal batang telah berkayu dan memenuhi tinggi minimal 30 cm - Bibit sehat dan seragam - Media perakaran kompak, artinya jika polybag dilepas maka media tanaman tidak hancur/lepas tetapi tetap kompak. Media yang hancur akan menyebabkan banyak akar putus sehingga dapat menyebabkan kematian saat ditanam di lapangan - Batang bibit lurus dan tidak bercabang - Bagian pucuk bibit tidak patah atau mati, karena akan menyebabkan

24

@ 2012


Pengangkutan bibit dilakukan melalui dua tahap, yaitu pengangkutan dari persemaian ke penampungan bibit di lokasi penanaman, dan distribusi bibit ke lubang tanam. Pengangkutan bibit ke lokasi penanaman dapat dilakukan dengan cara dipikul, menggunakan motor, gerobak, atau jika akses memungkinkan menggunakan mobil. Tempat penampungan bibit di lokasi penanaman harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan agar bibit tidak layu, antara lain bibit harus ditempatkan pada tempat yang ternaung. Tahap selanjutnya adalah mendistribusikan bibit ke lubanglubang tanam. Pada tahap ini harus memperhatikan cara mengangkut bibit agar dapat meminimalkan kerusakan. Kerusakan biasanya disebabkan oleh cara membawa bibit dengan memegang batang bibit, sehingga bibit dapat lepas dari polybag atau patah batang. Sebaiknya distribusi bibit ke lubang tanam tetap menggunakan alat angkut bibit seperti dengan cara dipikul. Oleh sebab itu terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pengangkutan bibit, yaitu: â&#x20AC;˘ Bibit diangkut dengan cara dipikul, bukan dipegang bagian batangnya karena akan patah, â&#x20AC;˘

Jarak jangkau untuk memikul maksium 2 km, agar bibit tidak terlalu lama dalam proses distribusi yang dapat menyebabkan bibit layu

â&#x20AC;˘

Jumlah bibit yang diangkut ke lubang tanam disesuaikan dengan jadwal penanaman dan kemampuan regu menanam, jumlah bibit yang terlalu banyak dan tertinggal di lapangan karrena belum sempat ditanam dapat layu sehingga bibit bisa mati setelah ditanam.

Bab III. Alur Penanaman

banyak tumbuh trubusan - Bibit tidak sedang memiliki daun muda, khususnya bagian pucuk bibit, karena hal ini akan menyebabkan bibit mudah layu saat diangkut ke lapangan.

Cara mengangkut

Gambar 18. Cara mengangkut bibit benar (kiri) dan cara salah (kanan)

OPERATION WALLACEA TRUST

25


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

3.7 Pelaksanaan Penanaman

Teknik penanaman dilakukan dengan cara sebagai berikut: - Pastikan bahwa penanaman dilaksnakan pada musim hujan - Polybag sebaiknya dilepas dari media, bukan dengan cara disobek. - Untuk melepas polybag dari media dapat dilakukan dengan menekan medai dalam polybag sehingga polybag mudah untuk dilepas. - Lepas polybag secara perlahan untuk menghindari kerusakan bibit khususnya jika media bibit kurang kompak. - Kumpulkan polybag yang telah dilepas karena dapat digunakan kembali untuk pembibitan, polybag jangan di buang di lokasi penanaman karena akan menjadi sumber pencemaran lingkungan. - Letakkan bibit yang telah dilepas polybagnya ke dalam lubang tanam, jika lubang tanam sudah berisi kompos maka bibit diletakkan dan ditimbun di antara kompos. - Masukkan tanah ke dalam lubang tanam, lalu tekan hingga kondisi bibit tegak/kokoh - Agar tidak tergenang air saat turun hujan, maka tanah di sekitar bibit dibuat agak lebih tinggi dengan cara digundukkan - Untuk areal yang banyak angin kencang, ikat batang bibit dengan tali rafia ke ajir

Pelaksanaan penanaman Agar penanaman berhasil, maka beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain : (a) Dilaksanakan pada musim hujan, (b) Bibit memenuhi kriteria siap tanam, yaitu: sehat, batang berkayu, kokoh, tinggi cukup, media kompak (c) Memiliki kesesuaian tempat tumbuh, (d) teknik menanam yang tepat

Gambar 19. Pelaksanaan Penanaman

26

Menanam Bibit Bibit dilepas dari polybag tanpa merusak polybag. Masukkan bibit ke lubang tanam lalu timbun dan padatkan dengan tanah. Polybag yang terlepas dapat digunakan kembali untuk pembibitan berikutnya.

@ 2012

Mengikat Bibit Agar bibit tidak mudah roboh, khususnya pada daerah penanaman yang berangin kuat, maka bibit perlu diikat dengan tali rafia ke ajir.


Bab III. Alur Penanaman

OPERATION WALLACEA TRUST

27


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

28


Alur Pemeliharaan

K

Bab IV. Alur Pemeliharaan

BAB IV

egiatan pemeliharaan perlu dilakukan secara baik, benar, dan periodik agar proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat berjalan secara optimal. Kegiatan pemeliharaan meliputi : penyulaman, pemupukan, penyiangan dan pendangiran, serta pengendalian hama dan penyakit.

4.1. Penyulaman

Maksud diadakannaya kegiatan penyulaman adalah untuk meningkatkan persentase jadi tanaman dalam satu kesatuan luas tertentu. Kegiatan penyulaman tersebut bertujuan untuk memenuhi jumlah tanaman per hektar sesuai dengan jarak tanamnya. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada sore hari dan atau pada pagi hari sebelum terik matahari. Frekuensi dan intensitas penyulaman adalah sebagai berikut : â&#x20AC;˘ Penyulaman tanaman pokok dilakukan maksimal 2 kali selama daur, yaitu 1-2 bulan setelah penanaman (Pemeliharaan Tahun Berjalan) dan akhir kegiatan Tahun II (Pemeliharaan Tahun I) yang dilaksanakan selama hujan masih turun/terdapat ketersediaan air. â&#x20AC;˘ Besarnya intensitas penyulaman tergantung pada persentase hidup tanaman. Intensiatas penyulaman berdasarkan presentase jadi tanaman disajikan sebagai berikut: Tabel 2. Intensitas Penyulaman Berdasarkan Presentase Tumbuh Tanaman Presentase Tumbuh

Klasifikasi Keberhasilan

100%

Baik sekali

80-100%

Baik

Sulaman ringan pada tahun pertama maksimal 20%

60-80%

Cukup

Sulaman intensif maksimal pada tahun pertama 40%

Di bawah 60%

Kurang

Diulangi menanam

Intensitas Penyulaman

Tanpa sulaman

OPERATION WALLACEA TRUST

29


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Cara penyulaman dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : 1. Menginventarisasi seluruh tanaman yang mati pada setiap jalur tanaman, kegiatan ini dilakukan pada tahun pertama (1-2 bulan setelah penanaman) 2. Menginventarisasi seluruh tanaman yang mati pada setiap jalur tanam pada tahun kedua 3. Memberi tanda pada semua tempat yang akan disulam atau ditanami kembali. 4. Tanaman yang disulam adalah tanaman yang mati, tanaman tidak sehat/ merana, tanaman yang rusak (patah, bangkok, daun gandul), dan tempat lubang tanaman yang tidak ada tanamannya. 5. Menggunakan bibit dari persemaian yang seumur dan sehat. Untuk penyulaman tahun kedua digunakan bibit yang lebih tinggi atau lebih tua umurnya dari bibit yang digunakan tahun pertama.

4.2. Penyiangan

Penyiangan tanaman bertujuan untuk memberikan ruang tumbuh pada tanaman pokok yang lebih baik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan presentase hidup tanaman. Jika pertumbuhan gulma atau rumput di sekitar tanaman sudah pada tahap mengganggu pertumbuhan tanaman (sudah masuk di sekitar proyeksi tajuk), maka perlu segera disiangi. Kegiatan penyiangan dilakukan sebanyak dua kali pada kegiatan Pemeliharaan Tahun Berjalan, yaitu pada umur 3 dan 6 bulan setelah penanaman. Penyiangan dilaksanakan pada waktu musim kemarau atau musim penghujan. Tanaman perlu disiangi pada saat 40-50% dari tanaman pokok tertutup oleh gulma (rumput, alang-alang, dan tanaman liar lainnya). Frekuensi dan intensitas penyiangan dilaksanakan minimal 3-4 bulan sekali dalam setahun sampai dengan umur 2 tahun. Kegiatan penyiangan diakhiri ketika tanaman pokok mampu bersaing dengan tanaman liar terutama dalam memperoleh kebutuhan cahaya matahari. Untuk jenis yang cepat tumbuh, kemampuan bersaing dengan gulma dalam mendapatkan kebutuhan cahaya matahari biasanya dicapai pada saat tanaman berumur 2-3 tahun, sedangkan untuk jenis yang lambat tumbuh dicapai pada umur 3-4 tahun. Teknik penyiangan dapat dilakukan diantaranya sebagai berikut : â&#x20AC;˘ Tanaman yang disiangi terdiri dari tanaman pokok dan tanaman tepi â&#x20AC;˘ Penyiangan dilakukan dengan cara manual dapat berupa piringan berdiameter 1 m atau dengan sistem jalur dengan lebar 1meter, dengan tanaman pokok sebagai porosnya, semua tanaman gulma yang ada dalam piringan atau jalur dibersihkan dengan alat sederhana seperti koret, cangkul, atau sabit. Cara pembersihannya dapat dilakukan dengan pembabatan atau pengolahan tanah. Hasil babatan disingkirkan dibagian luar jalur/piringan. Diharapkan hasil pembabatan tersebut

30

@ 2012


4.3. Pendangiran

Pendangiran bertujuan untuk memacu pertumbuhan tanaman dengan cara menggemburkan tanah di sekitar tanaman. Pendangiran dilaksanakan pada waktu musim kemarau menjelang musim hutan tiba. Pendangiran dilakukan pada tanaman yang sudah berumur 1-4 tahun dan diutamakan apabila terjadi stagnasi pertumbuhan atau tanah bertekstur berat/mengandung liat tinggi serta persiapan lahan tidak melalui pengolahan tanah. Frekuensi dan intensitas pendangiran adalah : (1) pendangiran tanaman dilakukan 1-2 kali dalam satu tahun tergantung pada tingkat tekstur tanahnya. Makin berat tanahnya makin sering dilakukan pendangiran. Dalam hal ini pendangiran dilakukan saat tanaman berumur 3 dan 6 bulan. Intensitasnya pendangiran tergantung pada jarak tanam dan kisarannya 50 cm sekeliling tanaman. Cara pendangiran adalah sebagai berikut : â&#x20AC;˘ Pendangiran dilakukan secara manual di sekitar tanaman dengan radius 50 cm tergantung pada jarak tanamnya.

Bab IV. Alur Pemeliharaan

dapat menutupi gulma. Untuk gulma yang merambat penyiangannya dengan memotong gulma (Âą 10 cm diatas permukaan tanah).

â&#x20AC;˘ Cara mendangir dengan menggunakan cangkul, pencangkulan tanah jangan terlalu dalam untuk menghindari terjadinya pemotongan akar tanaman pokok.

4.4. Pemberian pupuk

Pemupukan tanaman hutan bertujuan untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kuantiĂ­tas dan kualitas tanaman. Pemupukan dilakukan jika tanah miskin hara, tanaman pertumbuhannya terlambat walaupun sudah dilakukan penyiangan dan dijumpai gejala kekurangan unsur hara. Jenis pupuk yang digunakan umumnya mengandung unsur N,P,K. Namun demikian tidak menutup kemungkinan tanaman kekurangan unsur lain. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan diagnosa kebutuhan hara tanaman dengan menggunakan data hasil analisa jaringan tanaman/daun dan analisa tanah. Sebelum pemupukan seyogyanya pH tanaman diketahui dan tanah yang pH-nya asam (pH rendah) perlu diberi kapur dolomit (CaMgO3) agar pH tanah naik sehingga pemupukan memberikan respon dan dapat berjalan efektif. Waktu pemupukan tergantung pada kondisi iklim dan dilakukan menjelang atau awal musim hujan, kalau diperlukan tambahan pada pupuk yang sama, maka dilakukan menjelang akhir musim hujan.

OPERATION WALLACEA TRUST

Gambar 20. Pendangiran

31


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Pemupukan dilakukan umumya pada saat tanaman berumur 1-3 bulan, semakin jelek tingkatan kesuburan tanah dan lahan yang diolah maka pemupukan harus dilakukan lebih awal, kemudian diulangi 6-24 bulan sampai tinggi tanaman melampaui tinggi gulma. Tanaman yang tumbuh kerdil membutuhkan pupuk yang lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal. Pada tanah yang jelek dosis pemupukan lebih tinggi dibandingkan tanah yang relatif subur, untuk menentukan dosis pemupukan dilakukan dengan memperbandingkan data hasil analisa jaringan tanaman dan tanah. Pupuk yang akan digunakan sebaiknya sudah memenuhi standar mutu SNI (standar mutu yang telah diakui). Pupuk diberikan terutama pada lahan yang kadar pasirnya tidak terlalu tinggi karena pada lahan yang memiliki kandungan pasir tinggi maka pemberian pupuk anorganik akan mudah tercuci saat turun hujan. Jika lahan mengandung tanah (kandungan liat tinggi), maka pupuk NPK dapat diberikan pada umur 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, dan 2 tahun setelah tanam. Dosisnya untuk setiap tanaman pada masing-masing umur tanaman adalah = 50 gram/ tanaman. Pupuk ditabur di sekeliling proyeksi tajuk, di mana lahan telah dibuat jalur melingkar (piringan) dengan kedalaman Âą 5 cm. Setelah pupuk ditabur lalu ditutup kembali dengan tanah agar tidak tercuci. Secara sederhana pemupukan dapat dilakukan sebagai berikut : â&#x20AC;˘ Siapkan jenis pupuk yang diperlukan dan dosis yang dianjurkan (misalnya pupuk NPK dengan dosis 100 gram/tanaman â&#x20AC;˘ Sebelum dipupuk tanah sekeliling tanaman disiangi dan dibuat lubang melingkar di sekeliling batas tajuk tanaman sedalam 5-10 cm â&#x20AC;˘ Taburkan pupuk secara merata sepanjang lingkaran proyeksi tajuk tersebut â&#x20AC;˘ Tutup kembali pupuk yang telah ditabur ke dalam lubang dengan tanah untuk menghindari adanya fiksasi untuk fosfat dan kalium. Tanda-tanda tanaman kekurangan unsur hara disajikan pada Tabel berikut: Tabel 3. Tanda-Tanda Umum pada Bagian Tanaman yang Kekurangan Unsur Hara Gejala Kekurangan Unsur 01 Nitrogen (N)

32

@ 2012

Tanda-Tanda Umum 02 Gejala-gejala kelihatan pada seluruh daun yang tua, warna daun menjadi hijau muda kemudian berubah menjadi kuning dan jaringan kemudian menjadi kering dan berwarna merah coklat. Tanaman kerdil, perkembangan buahnya tak sempurna, kecil dan lekas masak, pertumbuhan tinggi terlambat.


Tanda-Tanda Umum 02

Phosporus (P)

Gejala-gejala kelihatan pada seluruh daun yang tua, secara menyeluruh warna daun hijau tua, lebih hijau dari biasa, sering kelihatan mengkilap kemerahmerahan, tangkai daun kelihatan lancip, daun yang tua tersebut kadang-kadang menjadi khlorosis (kuning). Pembentukan buah kurang sempurna begitu pula produksi bijinya, jerami dan gandum berwarna abu-abu, tanaman tumbuhnya menjadi kerdil.

Kalium (K)

Gejala-gejala kelihatan pada daun yang tua, dan mulanya setempat pada daun hutan itu, daun mulamula mengkerut dan mengkilap, setelah itu pada ujung daun mulai kelihatan chloroose, yang menjalar diantara tulang-tulang daun, kemudian bercak-bercak merah coklat itu sering jatuh sehingga daun-daun kelihatan bergigi mati.

Calcium (Ca)

gejala-gejala kelihatan pada daun yang muda, pada mulanya kelihatan setempat, kecuali perubahan warna pada beberapa tempat mati, pada ujung tepi daun mulai kelihatan terjadi chloroose dan menjalar diantara tulag-tulang daun seperti kekurangan borium. Selain itu kekurangan kapur mengakibatkan jumlah perakaran menjadi kurang. Pada umumnya tanaman menjadi lemah.

Magnesium (Mg)

Gejala-gejala kelihatan pada daun yang tua, dan mulanya setempat pada daun tersebut, chloroose mulai kelihatan pada tlang-tulang daun dengan tekstur menjalar dengan temperatur dan warna daun berubah menjadi kuning dan merah coklat. Sedangkan tulang daun tetap hijau. Tanaman menjadi lemah, mudah terbakar atau kering daunnya teriknya matahari dan produksi biji berkurang.

Mangan (Mn)

gejala-gejala kelihatan pada daun yang muda, pada mulanya kelihatan setempat kecuali perubahan warna maka pada beberapa tempat jaringan daun mati . antara tulang daun terjadi chloroose biasanya mati. Sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau bagian tengah helai daun kadang-kadang berwarna coklat dan kemudian patah, pembentukan bijipun kurang baik.

Zat besi (Fe)

gejala-gejala kelihatan pada seluruh daun yang muda, mula-mula diantara tulang daun muda tidak merata.

OPERATION WALLACEA TRUST

Bab IV. Alur Pemeliharaan

Gejala Kekurangan Unsur 01

33


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

Gejala Kekurangan Unsur 01

Tanda-Tanda Umum 02

Belerang (S)

gejala-gejala kelihatan pada seluruh daun yang muda, warna menjadi hijau muda tidak merata. Mengkilap keputihan sampai kuning sekali.

Borium (B)

gejala-gejala kelihatan pada daun yang muda, pada mulanya kelihatan setempat pada daun. Kecuali warna daun berubah, jaringan daun menjadi mati, chloroose dimulai dari bagian bawah daun dan menjalar kesepanjang tepi daun kemudian mati. Daun yang baru berukuran kecil dan kerdil.

Cuprum (Cu)

gejala-gejala kelihatan pada daun yang muda, pada mulanya kelihatan setempat pada daun. Kemudian ujung daun menjadi layu. Jaringan daun tidak ada yang mati. Pada daun yang muda terjadi chloroose.

Zincum (Zn)

Gejala-gejala kelihatan pada daun yang tua, dan mulanya setempat pada daun tersebut. Chloroose terjadi diantara tulang daun, kemudian mati dan gugur.

Molobdin (Mo)

Kekurangan unsur ini menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak normal. Terjadi perubahan warna pada daun, daun mengeriput dan mengering, mati pucuk yang menyebabkan tanaman menjadi mati.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, pemupukan lebih diutamakan menggunakan pupuk organik hasil produksi masyarakat baik dalam bentuk pupuk organik cair maupun pupuk organik padat sehingga lebih ramah lingkungan. Termasuk untuk pemenuhan kebutuhan hara nitrogen, fosfor, dan kalium sangat disarankan dilakukan pembuatan dari bahan-bahan alami.

4.5. Pencegahan Hama dan Penyakit Tanaman

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara dini agar tidak menimbulkan kerugian yang besar terhadap tanaman. Jika terdapat tandatanda serangan hama atau penyakit maka perlu pengendalian. Untuk pengendalian patogen yang disebabkan oleh cendawan, maka dapat digunakan fungisida, antara lain Mancozeb 80% dengan dosis 1800-2000 ppm (1,8-2 gram/liter). Adapun untuk penanggulangan insekta dapat digunakan insektisida dengan kandungan bahan aktif tertentu.

34

@ 2012


ď&#x201A;§ Cara mekanis/fisik, yaitu: dengan merusak benalu, menghilangkan tanaman yang sakit (misalnya dipotong atau ditimbun dalam tanah). ď&#x201A;§ Cara kimiawi, yaitu menggunakan pestisida baik fungisida maupun insektisida atau bahan kimia lain sesuai dengan jenis penyebabnya. Dosis dan tata cara penggunaan disesuaikan dengan jenis pestisida yang digunakan. ď&#x201A;§ Cara silvikultur, mengatur kerapatan tegakan, komposisi jenis, dan mengatur drainase. ď&#x201A;§ Cara biologi, yaitu menggunakan predator/musuh alami. Untuk serangan cendawan akar putih pada cempaka maka dapat dikendalikan dengan menggunakan cendawan Trichoderma sp sebagai musuh alami yang dapat menekan kolonisasi cendawan patogen.

Bab IV. Alur Pemeliharaan

Tujuan kegiatan adalah melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit, serta mencegah timbulnya serangan hama dan penyakit secara ekplosif. Pencegahan hama dan penyakit yang sifatnya pencegahan dilakukan sejak pembuatan tanaman, antara lain dengan cara: pengawasan yang intensif, pemupukan, pengaturan drainase, penanaman jenis yang resisten hama dan penyakit. Jika terjadi serangan hama dan penyakit, maka teknik penanggulangannya dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:

Dalam pelaksanaannya di lapangan, penanggulangan hama dan penyakit akan lebih disarankan menggunakan pestisida organik yang telah diproduksi oleh masyarakat.

OPERATION WALLACEA TRUST

35


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

@ 2012

36


Penjadwalan dan Pembiayaan Penanaman dan Pemeliharaan 5.1 Penjadwalan Kegiatan Tabel 4. Contoh Tata Waktu Kegiatan Penanaman dan Pemeliharaan Tahun I No

Kegiatan

 

 

Bulan keOkt

Nov

1

Pengadaan bahan dan alat penanaman

X

2

Pembersihan lahan

X

3

Penngaturan jarak tanam dan pemasangan ajir

X

4

Pembuatan lubang tanam

X

5

Pengangkutan bibit ke lokasi tanam

X

6

Pelaksanaan penanaman

7

Evaluasi Tanaman Tahun Berjalan Pemeliharaan Tahun Berjalan (penyulaman 10 %)

8 9

Pemeliharaan Tahun Berjalan (penyiangan, pemupukan, pendangiran)

10

Monitoring dan Evaluasi Tahun I

Des

Jan

X

X

Feb

Mar

Bab V. Penjadwalan dan Pembiayaan Penanaman dan Pemeliharaan

BAB V

X

X X X X

OPERATION WALLACEA TRUST

37


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

38

5.2 Pembiayaan Penanaman dan Pemeliharaan

Pembiyaan penanaman dan pemeliharaan meliputi kegiatan pelaksanaan Penanaman dan Pemeliharaan Tahun Berjalan, Kegiatan Pemeliharaan Tahun I, dan Kegiatan Pemeliharaan Tahun II sebagimana disajikan pada Tabel di bawah. Tabel di bawah hanya menyajikan contoh penganggaran biaya pada suatu daerah di mana besarnya satuan biaya disesuaikan dengan lokasi dan waktu pelaksanaan saat itu. Anggaran biaya meliputi : (1) kegiatan penanaman dan Pemeliharaan Tahun Berjalan (meliputi penyulaman 10%, pemupukan, penyiangan dan pendangiran), (2) kegiatan Pemeliharaan Tahun I (meliputi : penyulaman 20%, pemupukan, penyiangan dan pendangiran), dan (3) kegiatan Pemeliharaan Tahun II (meliputi : pemupukan, penyiangan dan pendangiran, tidak ada penyulaman). Secara detil contoh anggaran biaya disajikan pada Tabel berikut: Tabel 5. Contoh Anggaran Biaya Penanaman dan Pemeliharaan Tahun Berjalan No

JENIS KEGIATAN

Volume

Satuan

Harga

Jumlah

Satuan (Rp)

Biaya (Rp)

I

Persiapan Penanaman:  

a

Pembuatan jalan pemeriksaan (2 HOK/ha @ Rp30.000)

b

Pembersihan lapangan dan jalur tanam

 

(6 HOK/ha @ Rp 30.000)

24.9

ha

180.000

4.482.000

c

Penentuan arah larikan dan jarak tanam

24.9

ha

90.000

2.241.000

 

(3 HOK/ha @ Rp 30.000)

 

 

 

 

d

Pemasangan ajir

 

 

 

 

 

(2 HOK/ha @ Rp 30.000)

e

Pembuatan piringan& lubang tanam

 

(11 HOK/ha @ Rp 30.000)

f

Distribusi bibit ke lubang tanam

 

(2 HOK/ha @ Rp 30.000)

@ 2012

 

24.9  

 

ha  

24.9   24.9  

 

ha

747.000  

60.000  

ha  

24.9

30.000

ha  

 

1.494.000  

330.000  

8.217.000  

60.000

1.494.000


Pelaksanaan Penanaman :

a

Penanaman (6 HOK/ha @ Rp 30.000)

III

Pemeliharaan Tahun Berjalan

 

 

 

 

a

Pemupukan

 

 

 

 

 

(2 HOK/ha @ Rp 30.000)

b

Penyulaman

 

(2 HOK/ha @ Rp 30.000)

c

Penyiangan dan pendangiran (2 kali)

 

(15 HOK/ha @ Rp 30.000)

IV

Pengadaan Bahan Penanaman

 

 

 

 

a

Pengadaan patok arah larikan

 

 

 

 

 

(100 patok/ha x 24.9 ha)

b

Pengadaan ajir (1100 batang/ha x 24.9 ha)

c

Pengadaan pupuk NPK

 

(50 gram/btg x 1100 btg/ ha x 24.9 ha)

d

Pengadaan obat-obatan (1 paket/ha x 24.9 ha)

e

Pengadaan bahan dan peralatan kerja

V

Sarana dan Prasarana

a

Pembuatan papan nama blok (1 buah/blok) :

 

- Tenaga pembuatan (2 HOK/unit)

 

- Bahan pembuatan papan nama (Rp 500.000/ unit)

 

 

 

 

 b

Pembuatan papan nama petak (1 buah/petak)

 

 

 

 

 

- Tenaga pembuatan (2 HOK/unit x 8 petak)

1 unit

 

 

 

24.9 ha

180.000

24.9 ha  

 

 

  60.000

1.494.000

 

  450.000

2.490 patok 27.390 batang  

1.494.000

 

24.9 ha

 

4.482.000

60.000

24.9 ha  

 

11.205.000

500

1.245.000

137.5

3.766.125

 

1.370 kg

  3500

4.793.250

24.9 paket

82.500

2.054.250

1 paket

164.000

164.000

 

 

 

1 unit  

 

Bab V. Penjadwalan dan Pembiayaan Penanaman dan Pemeliharaan

II

  560.000

 

560.000  

560.000

OPERATION WALLACEA TRUST

560.000

39


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

 

- Bahan pembuatan papan nama (Rp 500.000/ unit)

 

c

Pembuatan pondok kerja (ukuran 6 m x 6 m : 1 unit/blok)

1 unit

 

- Tenaga pembuatan (75 HOK/unit)

 

 

 

 

 

- Bahan pembuatan pondok kerja (Rp 7.500.000/ unit)

 

 

 

 

VI

Supervisi

a

Operasional pengawasan/ supervisi lapangan

 

(0.32 OB/ha x 24.9 ha)

VII

a

Pengamanan/ Pemeliharaan Sementara

 

 

 

9.750.000

   

Pengamanan dan pemeliharaan tanaman sementara oleh mandor petak (1 orang/petak. Rp 110.000/ ha)

9.750.000

 

 

 

 

24.9 ha

 

 

 

72.000

 

1.792.800

 

 

24.9 ha

110.000

2.739.000

Jumlah Biaya Sebelum Pajak

64.774.425

Keterangan : Target luas penanaman 24,9 ha, HOK = Rp 30.000,-/hari, Anggaran belum termasuk biaya pembibitan dan penyulaman 10%, populasi penanaman 1100/ha

Tabel 6. Contoh Anggaran Biaya Pemeliharaan Tahun I No

40

JENIS KEGIATAN

Volume

Satuan  

I

Persiapan Pemeliharaan Tahun I :

 

a

Distribusi bibit ke lubang tanam

 

 

(0.5 HOK/ha @ Rp 30.000)

 

Harga

Jumlah

Satuan (Rp)

Biaya (Rp)

 

 

 

 

24.9 ha

15.000

373.500

II

Pelaksanaan Pemeliharaan :

 

 

 

 

a

Penyulaman dan pemasangan ajir sulaman

 

 

 

 

 

(4 HOK/ha @ Rp 30.000)

b

Penyiangan. pendangiran. dan pemupukan 2 x

 

(10 HOK/ha @ Rp 30.000)

@ 2012

24.9 ha  

  24.9 ha

120.000  

2.988.000  

300.000

7.470.000


a

Pengadaan pupuk NPK

 

 

 

 

 

(50 gram/btg x 220 btg/ha x 24.9 ha)

b

Pengadaan ajir (220 batang/ha)

IV

Supervisi

a

Operasional pengawasan/ supervisi lapangan

 

(0.2 OB/ha x 24.9 ha)

274 kg 5478 batang  

   

3500

958.650

125

684.750

 

 

 

 

24.9 ha

 

45.000

1.120.500

Jumlah Biaya Sebelum Pajak

13.595.400

Keterangan : Target luas penanaman 24,9 ha, HOK = Rp 30.000,-/hari, Anggaran belum termasuk biaya pembibitan untuk penyulaman 20%, populasi penanaman 1100/ha ( jarak tanam 3 m x 3m)

Tabel 7. Contoh Anggaran Biaya Pemeliharaan Tahun II No

JENIS KEGIATAN

I

Pelaksanaan Pemeliharaan :

a

Penyiangan. pendangiran. pemupukan 2x

 

(9 HOK/ha @ Rp 30.000)

II

Pengadaan Pupuk NPK

a

(50 gram/btg x 110 btg/ha x 24.9 ha)

III

Supervisi

a

Operasional pengawasan/ supervisi lapangan

 

(0.2 OB/ha x 24.9 ha)

Volume

Satuan

 

   

Harga

Jumlah

Satuan (Rp)

Biaya (Rp)

 

 

 

 

24.9 ha  

 

270.000

   

 

24.9 ha

6.723.000

 

137 kg  

 

Bab V. Penjadwalan dan Pembiayaan Penanaman dan Pemeliharaan

Pengadaan Bahan Pemeliharaan :

III

  3500

479.325

 

   

 

45.000

1.120.500

Jumlah Biaya Sebelum Pajak

8.322.825

Keterangan : Target luas penanaman 24,9 ha, HOK = Rp 30.000,-/hari, tidak ada penyulaman, populasi penanaman 1100/ha

OPERATION WALLACEA TRUST

41


Manual : Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman

DAFTAR PUSTAKA Anwar.C. dan E. Subiandono. 1996. Pedoman Teknis Penanaman Mangrove. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor. Balai Litbang Teknologi Perbenihan. 2002. Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Du-Hyun Kim. 2009. Forest Seed Storage Technology. Paper of Training on Forest Tree Seed Management and Development. Korea Forest Research Institute Kusmana.C., Sri.W., Iwan.H., Prijanto.P., Cahya.P.,Tatang.T., Adi.T., Yunasfi dan Hamzah., 2003. Teknik Rehabilitasi Mangrove. Fakultas Kehutanan . Institut Pertanian Bogor. Bogor. Primavera, J.H. et al., 2004. Handbook of Mangroves in PhilippinesPanay. Southeast Asian Fisheries Development Center Aquaculture Department UNESCO Man and the Biosphere. Panjiwibowo C, Soejachmoen MH, Tanujaya O, Rusmantoro W. 2003. Mencari pohon uang: CDM kehutanan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pelangi. Permenhut No. P.70/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Direktorat jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan. Schmidt. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Danida Forest Seed Center. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan. Sub-Teknik Konservasi Tanah. Direktorat Rehabilitasi dan Konservasi Tanah. 1999. Informasi Teknik Rehabilitasi dan Konservasi Tanah. Pusat Penyuluhan Kehutanan dan Perkebunan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta. Supriyanto. 1996. Penggunaan Inokulum Kelereng Alginat dalam Uji Efektifitas pada Semai Beberapa Jenis Dipterocarpaceae. Laporan DIP 1995/ 1996. SEAMEO-BIOTROP. Bogor. Supriyanto. 1997. Pengenalan Silvikultur Tanaman Hutan dan Teknik Pembibitan Tanaman Hutan. Makalah Pelatihan Manajemen Perbenihan dan Persemaian Tahun 1997 Tingkat Asper/ KBKPH dan Sederajat. Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Cianjur.

42

@ 2012


Manual Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman