Issuu on Google+

ACEH MEDIA lugas DAN cerdas

EDISI 2 TAHUN I 5 - 19 APRIL 2014

13

UUPA Kunci Utama Stabilitas Politik

14

Tradisi Dalam Beulangong

EDISI GRATIS

15

Tragedi Geulanggang Teungoh


SALAM REDAKSI

foto: Dedek SURYADI KTB

5 - 19 APRIL 2014

Sejarah Aceh mencatat Pemilu 2014 merupakan pesta demokrasi paling brutal, kejam, dan sadis. Bagaimana tidak, malah pemilu di era damai ini paling banyak korban jiwa yang melayang. Jika merunut ke belakang, pemilu sebelumnya, tidak ada korban meninggal dunia hanya karena memperebutkan kursi di parlemen. Termasuk pada saat Aceh dalam keadaan darurat militer.

Pemilu berjalan demokratis. Ironi dengan era damai sekarang ini. Setidaknya dalam catatan Aceh Media ada lima nyawa melayang karena pemilu. Penembakan caleg, pengeroyokan

kader simpatisan, dan terakhir penembakan mobil caleg yang menyebabkan tiga nyawa meninggal dunia. Inikah potret pemilu di era drama Aceh? Pemilu yang seharusnya berjalan demokratis, tetapi lebih parah teror dan kekerasannya pemilu di masa konflik. Kejam memang. Hanya memperebutkan kursi parlemen, balita dan remaja putri harus merenggang nyawa. Adalah Khairil Anwar, balita berusia 1,5 tahun asal Jeunieb, Bireuen. Ia men-

ACEH MEDIA

2

jadi korban jiwa setelah mobil berbalut caleg yang ditumpanginya bersama orang tuanya ditembaki. Tidak hanya Khairil Anwar, sang ayah, Juwaini pun turut menjadi korban. Kasus menimpa Khairil Anwar menambah catatan kelam perjalanan pemilu 2014 di Aceh. Catatan kelam ini akan diingat sepanjang massa, dalam pesta demokrasi di era Aceh damai. Tampaknya, deklarasi pemilu damai hanya cerita pelipur lara. Teror, intimidasi disertai ancaman, dan kekerasan jelang pemilu ini terus terjadi. Seolah-olah, berbagai kasus itu merupakan tindakan legal. Kepolisian sebagai alat negara yang seharusnya mampu memberi keamanan dan kenyaman rakyat, belum bisa berbuat banyak. Hingga saat ini, sebagian besar pelaku disebut orang tidak dikenal alias OTK. Apakah berbagai kekerasan, hingga penembakan kader Partai Aceh dan keluarganya di Bireuen, menjadi pekerjaan rumah yang panjang bagi polisi? Tentu harapannya tidak begitu. Yakinlah polisi mampu bekerja. Cerita Pemilu 2014 belum usai. Pemungutan suara calon legislatif belum berlangsung. Siapa pemenang pemilu ini dan peraih kursi parlemen akan ditentukan setelah 9 April nanti. Sudahilah kasus penembakan di Bireuen itu. Jangan ada lagi kasuskasus serupa di tempat lain. Bagi pelaku, berjiwa besarlah mengakui perbuatannya. Hanya orang yang kerdil yang mengganggu perdamaian Aceh. ***

Pers Rilis

Rakyat Aceh Jangan Terprovokasi

G

ubernur Aceh Zaini Abdullah menyatakan belasungkawa atas insiden penembakan warga sipil di Kabupaten Bireuen, 31 Maret 2014 malam. Atas tragedi itu, Gubernur mengimbau masyarakat Aceh tidak terprovokasi dengan aksi kekerasan menjelang pemilu legislatif, dengan meresponsnya secara berlebihan. “Biarlah aparat penegak hukum yang mengungkapnya. Masyarakat jangan terpancing. Kalau terpancing, maka itulah yang diharapkan oleh para penebar teror kekerasan di Aceh. Mereka yang menang karena maksudnya tercapai,” kata Zaini Abdullah, Selasa (1/4) Atas nama pemerintah Aceh, Gubernur menambahkan, dirinya mengutuk keras perilaku sadis dan tidak manusiawi tersebut. “Kami mengutuk keras penembakan tersebut, di mana dari insiden yang menimpa sekeluarga ini juga merengut nyawa seorang bocah yang tak berdosa.” Sebagaimana diberitakan, kekerasan menjelang pemilu memakan korban yang tak berdosa. Seorang perempuan dan bayi berusia 1,5 tahun menjadi korban penembakan orang tak dikenal (OTK) di Bireuen, Senin (31/3) sekitar pukul 20.30 WIB malam.

Peristiwa ini terjadi saat para korban sedang berobat ke Desa Buket Teukuh, namun dalam perjalanan pulang mobil Kijang LGX berstiker Caleg Partai Aceh itu diserang OTK dan diberondong dengan menggunakan senjata laras panjang. Terkait masalah itu, Gubernur meminta penegak hukum segera mengungkap tabir kriminal ini. Apapun motif dan siapa pun pelakunya harus ditindak tegas. Menurut Zaini, ia sudah berkoordinasi dengan pihak penegak hukum untuk menuntaskan persoalan ini. “Pesta demokrasi dan partai politik hanyalah sarana. Tujuan semua partai adalah untuk kebaikan. Mengapa harus menempuh jalan yang tidak demokratis dan melanggar hukum,” pungkas Doto Zaini.

dalam. Gubernur turut memberikan bantuan Rp5 juta. Doto Zaini mengharapkan korban agar cepat pulih dan bisa kembali beraktivitas. Ia juga berharap keluarga korban bisa bersabar dan tabah dengan cobaan ini.

“Jangan pikirkan apapun, jangan bebani pikiran tapi harus fokus berobat. Semua biaya ditanggung Pemerintah Aceh,” kata Doto Zaini, menyemangati pasien korban penembakan tersebut. ***

Jenguk Selasa (1/4) sekitar pukul 16.30 WIB, Gubernur Zaini Abdullah menjenguk korban penembakan Bireuen bernama Fakrurrazi (40 tahun). Kondisi korban sudah mulai membaik dari keadaan kritis. warga Blang Poroh, Jeunieb, ini sebelumnya dirawat di RSUD Fauziah, Bireuen. Pada kesempatan itu, Zaini Abdullah secara khusus menyampaikan duka cita men-

ACEH MEDIA Dewan Redaksi: Abu Razak, Atqia Abubakar, A Hakim, Reza Gunawan, MH Setiady Agus Pemimpin Umum: Atqia Abubakar, Pemimpin Redaksi: MH Setiady Agus Redaktur Pelaksana: Reza Gunawan, Redaktur: Fauji Yudha, Shiba Adzra, Rahmad Nuthihar, Sekretaris Redaksi: Dila Safitri, Wartawan: Fauzul Husni, Suryadi A Darma, Saradi Wantona, Arga Shabra, Marzuki (Pidie/Pidie Jaya), Khairul Anwar (Lhokseumawe/Aceh Utara), Biro Jakarta: Wella Sherlita, Foto: Imam, Ilustrator & Layout: Diki WS Manajemen Usaha Pemimpin Perusahaan: A Hakim, Direktur: Reza Gunawan, Marketing & Sirkulasi: R Gunawan, S Adi Darma, Haris ST, F Husni. Dipublikasikan oleh CV Aceh Media Website: acehonline.info Alamat redaksi: Jalan Hasan Dek no 102, Beurawe, Banda Aceh, Provinsi Aceh email: redaksi.acehmedia@gmail.com, redaksi@acehonline.info, Telp: 085222988398


3

ACEH MEDIA

5 - 19 APRIL 2014

LAPORAN UTAMA

Sejahtera Bersama Partai Aceh

M

enjelang hari Pemilihan Umum 2014, Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf tak terlihat tegang. Seperti biasa, orang nomor satu di Partai Aceh itu terlihat tenang. Seperti pembawaanya, dia juga berharap masyarakat Aceh tidak terprovokasi untuk membalas kekerasan yang intensitasnya semakin meningkat, menjelang hari pencoblosan. “Saya sudah intruksikan seluruh kader Partai Aceh untuk menahan diri demi perdamaian Aceh,â€? kata pria yang akrab disapa Mualem ini. Berikut wawancara dengan Wakil Gubernur Aceh ini seperti dikutip dari Harian Waspada, beberapa waktu lalu: Pemilu damai di Aceh sudah terusik dengan beberapa perisitiwa. Menurut Anda apa yang melatarbelakangi semua ini? Menjelang pemilu 9 April nanti, kami sudah tentu berusaha untuk menciptakan pemilu damai, sedamai mungkin. Meski, kita lihat di lapangan, ada kelompok tertentu atau partai-partai yang ingin mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan kepentingan umum atau masyarakat. Sehingga ketika kita lihat di lapangan, ada oknum aparatur negera yang mem-back up. Kejadian yang terjadi di Lhokseumawe, sudah jelas ada pelaku yang merusak, ternyata mereka tak ditangkap, hanya berkeliaran seenaknya saja. Lalu, kenapa dari partai kami, bila ada mobil-mobil dibungkus dengan lambang partai itu ditangkap dan dirusak. Jadi ini mengherankan kita. Tapi, bagi masyararakat di Lhokseumawe khususnya dan Aceh pada umumnya sudah jelas. Tapi kami di lapangan tetap berkomitmen dengan perdamaian. Dan itu juga sudah kami ikrarkan bersamaan dengan pemilu damai di Aceh. Dari kacamata Anda, apakah ini murni kriminal atau ada pihak-pihak yang coba memancing di air keruh agar Aceh chaos lagi? Ya‌seperti kita lihat begitu. Karena ada juga oknum-oknum yang tidak ingin melihat Aceh aman. Kita ambil bebebarap contoh di Aceh Tengah. Jadi intimidasi ini yang seperti kami alami seperti tahun 2009. Tim sukses kami meninggal di kebun dan di jalanan. Bahkan beberapa orang mengalami penembakan di Aceh Utara. Saya rasa ini terkait juga dengan masalah untuk menjatuhkan satu partai. Begitulah yang kami alami di lapangan. Namun, kami tidak akan terpengaruh dengan aksi-aksi mereka di lapangan, tetapi kami tetap bersabar dan memprioritaskan keamanan di Aceh yang abadi. Bisa dijelaskan apa kiat mengendalikan kemungkinan terjadi konik horizontal di Aceh? Saya instruksikan kepada bawahan, jika terjadi persitiwa yang sama jangan lawan. Kami bersabar saja. Semuanya kami serahkan kepada pihak berwajib. Pihak berwajiblah yang akan mengatasinya, karena kami patuh pada hukum. Kita serahkan kepada pihak berwajib. Makanya, saat turun kampanye, saya sarankan jangan sampai ada aksi-aksi balasan kepada siapa pun. Artinya Partai Aceh bisa menahan diri? Ya tentu saja, kami harus menahan diri. Sebab kami selalu berkomitmen untuk menjaga ketentraman masyarakat. Makanya kepada simpatisan saya katakan jangan membalas. Biarlah masyarakat Aceh tahu siapa yang melakukan kekerasan di Aceh. Hingga hari ini seberapa besar keberhasi-

lan kader-kader PA mengakomodir kepentingan rakyat Aceh di DPRA? Bisa dijelaskan dalam bentuk apa saja tindakan nyata itu? Sejauh ini, apa yang mereka lakukan saya rasa sudah cukup menyentuh hati masyarakat. Bagi kader-kader PA di legislatif juga sudah berjuang mengimplementasikan butir-butir Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA). Qanun-qanun yang selama ini menjadi prioritas untuk mengangkat harkat dan martabat Aceh sudah diperjuangkan kader-kader kita. Meski ada beberapa qanun yang masih perlu dirembukkan lagi dengan pemerintah pusat. Untuk memperjuangkan UUPA agar sesuai dengan harapan kita, maka saya pikir ini akan menjadi tugas- Partai Aceh ke depan untuk menggodok lagi di parlemen. Kondisi inilah yang saya pikir kenapa PA harus bisa tampil sebagai pemenang lagi pada pemilu ini. Karena banyak yang harus dan akan diperjuangkan lagi oleh Partai Aceh demi kesejahteraan rakyat Kader-kader PA juga melalui dana aspirasi mereka sudah salurkan ke gampong-gampong dan meunasah, masjid dan juga kepada kaum dhuafa atau kurang mampu. Mereka salurkan bantuan itu di daerah masing-masing. Bantuan yang disalurkan pun terkontrol dan diarahkan kepada siapa yang berhak. Dan keberhasilannya. saya rasa tidak dilakukan secara arogan. Kader kita selalu pulang ke daerah asalnya menyapa masyarakat dan juga berkomunikasi baik dengan masyarakat. Strategi apa yang dilakukan untuk memenangkan pemilu legislatif ini? Saya sarankan kepada kader-kader, supaya mereka mendekati dan mengambil hati masyarakat-masyarakat di gampong, dan juga keluarga-keluarga mereka agar disarankan untuk memilih partai PA untuk legislatif atau DPRK dan DPRA. Jika PA menguasai parlemen lagi, apa program prioritas untuk lima tahun ke depan? Ya, tentu banyak program yang belum bisa dituntaskan pada periode lima tahun sebelumnya, akan kita lanjutkan lagi, seperti memperioritaskan pembangunan sejumlah irigasi, sektor perkebunan, perikanan laut. Kita juga akan membantu nelayan-nelayan dalam mencari rezeki dengan mengeruk kembali muara sungai (kuala-kuala) yang sudah dangkal. Itu sudah dalam program kita lima tahun mendatang. Jadi mungkin tahun 2015 atau pada anggaran perubahan nanti kita akan prioritaskan supaya kuala-kuala itu dikeruk lagi untuk memudahkan keluar masuk perahu nelayan yang melaut. Itu yang saya prioritaskan, karena 30 persen penduduk kita mata pencahariannya ke laut. Sektor pertanian pun kita siapkan prioritas irigasi. Seperti irigasi yang dibangun di Aceh Utara, mungkin kalau itu nanti siap maka beberapa kecamatan di daerah itu akan terairi persawahannya. Begitu pula di daerah lain akan dilakukan hal yang sama. Bagaimana dengan perkebunan? Soal perkebunan, terutama sawit kita sudah komit dengan Menteri Perkebunan yang juga didukung Menko Perekonomian, akan kita prioritaskan sistim inti plasma 30 atau 35 persen

hasilnya untuk masyarakat. Kembali ke masalah partai, bisa dijelaskan secara ringkas visi misi dan program Partai Aceh? Secara umum visi misi PA, mengedepankan kepentingan masyarakat demi untuk kesejahteraan. membangun wawasan berpikir masyarakat Aceh dari citra revolusi party menjadi citra Development Party dalam tatanan transparansi untuk kemakmuran hidup rakyat Aceh khususnya dan Bangsa Indonesia. Kemudian, membangun citra positif berkehidupan politik dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia serta melaksanakan mekanisme partai sesuai aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menjunjung tinggi Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki yang telah ditanda tangani pada tanggal lima belas Agustus (15-08-2005) antara Pemerintahan Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Kita mendengar Partai Aceh akan menjadi partai terbuka. Bisa dijelaskan sejauhmana upaya ke arah sana yang dilakukan? Ya, tentu saja kami sudah terbuka dalam arti banyak hal. Bahkan, sekarang ini ada caleg-caleg kami dari orang Batak, Jawa dan lain-lain. Silahkan saja, PA terbuka bagi siapa saja yang berdomisili di Aceh. Kita buka selebarlebarnya tidak terkecuali, yang penting mereka setia kepada partai dan bekerja mempejuangkan kepentingan Aceh. Bahkan banyak orang Tiongkok pun juga simpatisan kita. Mereka menjadi timses untuk memenangkan PA. Bagaimana sistem kaderisasi yang sudah dilakukan? Yang kita harapkan terutama sekali dari mereka itu, saya pikir kesetiaan dan kejujuaran dalam bekerja memperjuangkan kepentingan rakyat. Dengan kejujuran dan dengan keikhlasan di situ nanti akan lahir ide-ide mereka yang tidak bersifat pribadi atau mementingkan kelompok saja. Dengan kesetian mereka sudah tahu siapa kawan, siapa lawan. Dan yang penting semua kerja keras mereka harus bermanfaar bagi Aceh di masa depan. Pesan Anda untuk caleg-caleg muda? Kalau caleg muda mungkin mereka kurang pengalaman tapi itu bukan masalah. Sebab mereka sudah sering mendapat training-training tentang bagaimana berinteraksi dengan siapa pun terutama dengan masyarakatnya. Partai mengeluarkan banyak dana untuk mendidik mereka dan syukurlah ada NGO juga menolong Partai Aceh untuk mendidik mereka agar memahami peta politik yang lebih cerah ke depan. Terakhir selaku Ketua DPP Partai Aceh, apa imbauan Anda kepada masyarakat luas terkait Pemilu 9 April di Aceh? Kita harapkan kepada seluruh masyarakat Aceh agar mendukung PA sebagaimana yang kita kampanye. Sebab Partai Aceh saya rasa yang menjamin kesejahteraan dan terus memperjuangkan implementasi perjanjian MoU Helsinki pada 2005 lalu. Dan kita harap kepada semua orang Aceh, agar mendukung program-program Zikir atau kepemimpinan Pemerintah Aceh yang sekarang untuk sama-sama tingkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya rasa semua masyarakat harus mendukung Partai Aceh agar bisa terus membangun dan kita tidak tertinggal jauh dari daerah-daerah lain. ***


LAPORAN UTAMA

5 - 19 APRIL 2014

ACEH MEDIA

4

Partai Aceh PARTAI ACEH MASIH DOMINAN MENGIRIMKAN WAKILNYA KE PARLEMEN LOKAL. MENGANDALKAN PEMILIH-PEMILIH TRADISIONAL, PARTAI INI MASIH TERLALU TANGGUH BAGI PARTAI NASIONAL DAN PARTAI LOKAL LAINNYA DI ACEH.

L

autan massa berpakaian merah menambah terik hawa alun-alun Kota Takengon, Aceh Besar. Iklil Ilyas Leube, juru kampanye Partai Aceh, tak mau menurunkan tensi orasinya. Membakar massa, Iklil berjanji akan menyejahterakan wilayah tengah Aceh. Massa menyambut orasi dengan yel-yel kemenangan Partai Aceh. Sama seperti juru kampanye partai lain, isu ekonomi masih menjadi jualan laris dalam setiap kampanye, termasuk kampanye Partai Aceh di Aceh Tengah, akhir bulan lalu. Kampanye yang dilaksanakan tiga hari setelah pembakaran atribut Partai Aceh di Takengon tak mengurangi animo masyarakat untuk datang. Bahkan, dalam kampanye tersebut, satuan tugas Partai Aceh dibantu rekan-rekan mereka satgas Pembela Tanah Air (PETA). Sejumlah petinggi partai penguasa di Aceh ini optimistis perolehan suara dari Dataran Tinggi Gayo meningkat dibandingkan pemilu sebelumnya. Partai Aceh tak berdaya di daerah pemilihan ini. Masyarakat lebih memilih partai nasional, seperti Partai Golongan Karya dan Partai Demokrat. “Sebelumnya dulu ada enam partai lokal di Aceh, dan PA bisa meraih 50 persen lebih suara. Untuk 2014 ini, jika hanya tiga partai lokal, maka PA harus meraih 80 persen suara,” kata Muzakir Manaf, beberapa waktu lalu (Baca: Mereka Bicara).

TETAP

BERJAYA FOTO:DOC.

Pengaman politik dan hukum Universitas Syiah Kuala, Saifuddin Bantasyam, memperkirakan Partai Aceh akan tetap menjadi partai politik peraih suara terbanyak pada Pemilu 2014. Dia menilai, partai ini memiliki mayoritas Saifuddin Bantasyam pemilih setia di beberapa kabupaten, seperti Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Aceh Timur. Selama ini, daerah-daerah itu diklaim sebagai basis tradisional suara PA. Bahkan dalam setiap kampanye, juru kampanye partai itu senantiasa menyebutkan bahwa Partai Aceh sebagai penyambung perjuangan yang bagi kalangan dan daerah tertentu masih memiliki pengaruh. “Secara umum, dalam masyarakat, masih terpelihara perasaan bahwa PA melalui orang-orang GAM dulu adalah orang yang memperjuangkan kepentingan Aceh, meskipun dalam struktur Partai Aceh sekarang tidak hanya para mantan GAM,” kata Saifuddin, Senin pekan lalu. Di pihak lain, kemampuan Partai Nasional Aceh (PNA) dan Partai Daula Aceh (PDA) untuk melakukan penetrasi ke tengah-tengah masyarakat masih belum sekuat Partai Aceh, khususnya di

titik-titik yang merupakan basis suara Partai Aceh, sehingga ketidakmampuan dua partai tersebut juga terlihat pada partai nasional yang lebih banyak wait and see. “Kalau partai nasional umumnya baru serius menggarap suara dalam setahun terakhir, sedangkan tahun 2010 hingga 2012 mereka diam saja, duduk manis di dewan. Namun nama Partai Aceh terus terbaca di media massa, baik terkait kiprah partai maupun terkait tindak-tanduk legislator Partai Aceh di dewan,” jelas Saifuddin. Menurut Muhammad Jafar, pengamat politik Universitas Syiah Kuala, Partai Aceh akan mengungguli partai lain. Partai Aceh akan mengendalikan parlemen Aceh bersama-sama Partai Nasional Aceh, Partai Golongan Karya dan pendatang baru; Partai Nasional Demokrat. Faktor kemenangan Partai Aceh pertama bisa dilihat dari struktur partai yang kuat serta memiliki kader dan simpatisan yang mau bergerak berjuang demi partai. Kemudian yang kedua popularitas pimpinan partai dan Caleg yang diusung juga masih memiliki nilai jual bagi masyarakat di gampong-gampong, dan yang ketiga Partai Aceh juga memiliki dukungan dana yang kuat untuk menggerakkan organisasi dan melakukan kampanye yang maksimal ke tengah-tengah masyarakat. “Banyak masyarakat pedesaan tidak mengerti persoalan politik di pemerintahan, mereka cendrung memilih Partai Aceh karena dengan struk-


5

ACEH MEDIA

LAPORAN UTAMA

5 - 19 APRIL 2014

tur organisasi yang bagus bisa masuk dan memberi informasi kepada masyakarat,” katanya. Jafar meyakini untuk DPR Aceh partai yang diketuali Muzakir Manaf tersebut akan mendapatkan 40 hingga 50 kursi. Namun jumlah tersebut bisa saja berkurang karena suara PA pecah ke PNA dan juga banyak pendukung sebelumnya beralih ke partai lain seperti ke Golkar, Nasdem, dan Demokrat. Sementara, T Kemal Fasya, dosen antropologi Universitas Malikul Saleh mengaku sulit mengukur elektabiltas partai lokal karena tak ada lembaga survei yang meneliti perolehan suara-partaipartai itu selama ini. Namun dia meyakini Partai Aceh tetap akan kembali meraih kemenangan pada Pemilu 2014. “Untuk Pemilu 2014 ini Partai Aceh tetap akan keluar sebagai partai pemenang Pemilu di Aceh. Namun, perolehan suara Partai Aceh akan tergerus oleh partai-partai baru, seperti Partai Nasional Aceh dan Partai Nasional Demokrat,” kata Kemal Fasya kepada ACEHMEDIA, Rabu lalu. Namun, kata Kemal, masyarakat akan menilai kredibilitas partai ini dari kinerja dan prestasi yang dilakukan kader-kader Partai Aceh selama ini mengisi pos penting di pemerintahan dan parlemen. Hal ini sangat menentukan keinginan masyarakat untuk kembali memilih PA atau tidak. Kemenangan PA juga tergantung dari masa kampanye ini, dengan menjaga elektabilitas mereka, yang akan menjadi daya “hisap” atau “tolak” bagi masyarakat. Namun Kemal tidak memungkiri jika banyak pelanggaran atau tindakan kriminal yang dilakukan kader partai akan berdampak bagi

Kemal Fasya

Taqwaddin

perolehan suara. Mengenai lumbung suara, Kemal menyatakan saat ini Aceh dibagi dalam tiga wilayah kekuatan suara, yakni wilayah timur, tengah, dan barat selatan. “Untuk wilayah timur seperti kita ketahui sebelumnya adalah mutlak dari basis Partai Aceh, namun ke depan, walaupun Partai Aceh dominan, suara-suara PA di wilayah timur juga akan tergerus oleh PNA yang juga memiliki basis massa kombatan. Walaupun tidak banyak, ya bisa diperkirakan jika perolehan suara 100 persen, maka 70 persen akan diraih Partai Aceh dan 30 persen diraih PNA atau Partai Nasional lainnya,” ujar Kemal. Sementara itu untuk wilayah tengah Aceh, Kemal menambahkan, beroptensi akan dikuasai oleh partai-partai nasional, atau partai-partai orde baru seperti Golkar atau Hanura. Sedangkan untuk wilayah barat selatan, akan terjadi perimbangan antara partai lokal dan partai nasional. Kemenangan yang akan kembali diraih Partai Aceh, menurut Kemal, dikarenakan saat ini Partai Aceh adalah merupakan partai penguasa di Aceh. Saat ini, Partai Aceh menguasai sebagian besar

pemerintahan dan parlemen. “Di mana-mana, partai penguasa diuntungkan dan berpotensi menang. Ini menjadi ‘deposit’ partai Aceh untuk memenangkan Pemilu nantinya,” kata Kemal. “Prediksi ini, juga dapat berubah. Semua itu tergantung dari citra para kader PA di lapangan, yang sangat menentukan perolehan suara bagi Partai Aceh,” tambahnya. Menurut Taqwaddin, Partai Aceh masih yang terbesar. Kunci keberhasilan partai ini karena kemampuan para kader menggalang massa. “Kemampuan mereka sangat optimal,” kata Taqwaddin. Partai Aceh juga memiliki pengaruh besar kepada para pemilih yang berhasil mengantarkan mereka mendominasi kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. “Tetapi kemenangan Partai Aceh kali ini tidak akan dominan, seperti yang mereka peroleh pada Pemilu 2009. Sebagian massa mereka terbagi ke Partai Nasional Aceh dan Gerindra dan beberapa partai nasional. Namun mereka masih kuat di pesisir Timur Aceh dan sebagian kawasan Barat Selatan,” ujar Taqwaddin. Di daerah tengah, kata dia, penolakan masyarakat terhadap Partai Aceh semakin besar dan ini tidak mempengaruhi perolehan suara di Dataran Tinggi Gayo yang memang tidak signifikan menyumbang kemenangan Partai Aceh. Taqwaddin masih melihat Partai Golongan Karya dan masih berpengaruh dan mereka akan mendapatkan suara dalam pemilihan ini. Disusul Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanah Nasional, Partai Nasional Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Hanura. Perlawanan dari partai lokal akan datang dari PNA. (Reza Gunawan)

FOTO:DOC.


LAPORAN UTAMA

5 - 19 APRIL 2014

ACEH MEDIA

6

Mereka Bicara Zakaria Saman, Anggota Majelis Tuha Peut DPA-PA Aceh Harus Aman dan Damai Zakaria Saman, Anggota Majelis Tuha Paut Dewan Piminan Aceh Partai Aceh, mengharapkan situasi keamanan di Aceh dapat terjaga. Hal ini akan mendorong terwujudnya perdamaian di Aceh. “Ada riakriak atau perbedaan politik itu tidak masalah, yang terpenting jangan ada kekerasan atau tindakan kriminal di Aceh. Dua hal itu hanya akan menganggu situasi keamanan dan perdamaian Aceh.” Persoalan yang terjadi di Aceh, Zakaria saman menilai, hal ini terkesan ada pihak-pihak yang tidak mengingingkan Aceh aman dan damai. Namun persoalan ini adalah ranah polisi. Dan tanggung jawab polisi adalah menyelesaikan kasus-kasus kekerasan tersebut. Dia berharap, aparat keamanan dapat menjaga situasi Aceh tetap kondusif. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh aksi sejumlah pihak yang ingin merusak perdamaian di Aceh. Kepada masyarakat, Zakaria Saman juga berharap dapat memberikan dukungan penuh untuk Partai Aceh, dikarenakan Partai Aceh merupakan partai untuk seluruh kalangan dan golongan masyarakat yang berada di Aceh.(*)

Dapil 1: 70 Persen Dari kegiatan kampanye yang telah beberapa kali dilakukan di Daerah Pemilihan (Dapil) I Aceh, Mukhlis Abee, juru bicara Partai Aceh, meyakini Partai Aceh bakal menang pada Pemilu 2014. Dia menilai, antusiasme masyarakat sangat tinggi dalam menghadiri kegiatan kampanye Partai Aceh. Jika dilihat di lapangan saat ini, malah lebih banyak dukungan pada pemilu kali ini dibandingakan sebelumnya. “Karena itu kami yakin Partai Aceh akan meraih suara hingga 70 persen di Banda Aceh, Sabang, dan Aceh Besar,” ujar Mukhlis. Bekas Panglima GAM wilayah Aceh Rayeuk ini menegaskan latar belakang Partai Aceh sebagai wadah bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk bergabung ke partai ini. Partai Aceh, kata dia, tidak membeda-bedakan golongan dan

Darwis Jeunieb, Ketua PA/KPA Kabupaten Bireuen Partai Aceh Memperjuangkan Kemakmuran dan Kesejahteraan Masyarakat Ketua PA/KPA Wilayah Bireuen, Darwis Jeunib mengatakan dalam menggapai kemenangan pada Pemilu 2014, jakaran pengurs dan kader Partai Aceh berbaur dan terjun langsung ke masyarakat, dalam hal meninjau berbagai persoalan masyarakat yang nantinya akan diperjuangkan di parlemen. “Sebelumnya juga telah banyak program-program untuk kepentingan masyarakat Aceh, baik yang telah dilakukan gubernur/wakil Gubernur Aceh maupun Bupati/Wakil Bupati Bireuen yang merupakan perpanjangan tangan Partai Aceh, yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat. Ke depan, berbagai persoalan dan keinginan masyarakat kan kembali diperjuangkan Partai Aceh mewakili wakil-wakil rakyat yang diberikan amanah di dewan,” kata Tgk Darwis.(*) Askari Syahkubat, Wakil Ketua KPA Wilayah Pereulak Minat Masyarakat ke PA Lebih Besar Dalam beberapa kampanye yang dilakukan di wilayah Aceh Timur, Askari Syahkubat menilai antusias masyarakat sangat tinggi. Ini sangat berbeda dibandingkan kampanye partai lain dan tentu saja sangat menggembirakan. “Jika melihat kondisi di lapangan saat ini, kami yakin Partai Aceh akan menang di wilayah Aceh Timur, dengan perolehan suara di atas 80 pesen,” kata Askari. Dalam menggapai kemenangan, kata Askhari, Partai Aceh telah melakukan berbagai persiapan dan pembinaan-pembinaan penguatan jajaran kader dan simpatisan Partai Aceh. Dia menegaskan, perjuangan Partai Aceh di masa depan melalui wakil-wakil rakyat di DPR akan fokus pada peningkatan perekonomian masyarakat. Sebari perlahan-

lahan membenahi sisi pendidikan, infrastruktur, serta berbagai bidang lainnya.(*) Tgk Zulkarnaini, Ketua PA/KPA Wilayah Pasee Pasee Lumbung Suara Partai Aceh Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan DPW Partai Aceh Wilayah Pasee, Tgk Zulkarnaini, menyatakan wilayah Pasee, Lhokseumawe dan Aceh Utara, akan menjadi penyumbang suara besar bagi kemenangan Partai Aceh. “Insya Allah Partai Aceh akan menang di wilayah pasee, dengan perolehan suara di atas 80 persen.” “Yang menjadi prioritas Partai Aceh nantinya adalah mengatasi persoalan masyarakat miskin di Aceh, khususnya Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, seperti peningkatan ekonomi masyarakat dan pemberian bantuan rumah bagi masyarakat dhuafa, dimana bagi masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni atau yang berhak mendapat rumah akan kita perjuangkan,” ujarnya. Selain itu, Tgk Ni menambahkan, Partai Aceh juga akan memfokuskan penyelesaian impelemtasi butir-butir perjanjian damai (MoU) Helsini, dimana hal itu menurutnya adalah modal untuk membangkitkan kejayaan masyarakat Aceh, demi menuju Aceh yang sejantera. Menurut diia, jika turunan MoU Helsinki diimpelentasikan seluruhnya ke dalam Undang-Undang Pemerintah Aceh, masyarakat Aceh bakal menjadi sejahtera. Kewenangan itu akan memberikan dampak psikologis dan pembangunan fisik di Aceh.(*) Tgk Hidayat alias Jenderal, Bekas Panglima Wilayah Tamiang Masyarakat Tamiang Dukung Partai Aceh Saat ini masyarakat pedalaman Tamiang (Teuming) sangat merindukan Partai Aceh kembali meraih kemenangan pada Pemilu 2014, hal itu dikarenakan masyarakat Tamiang telah merasakan programprogram yang telah dilakukan Partai Aceh melalui Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Zaini AbdullahMuzakir Manaf. “Saat ini masyarakat Tamiang menginginkan gebrakan-gebrakan baru Partai Aceh melalui kader-kader terbaik Partai Aceh di parlemen nantinya,” kata Tgk Hidayat alias Jenderal kepada ACEHMEDIA, Rabu pekan lalu. Untuk memasimalkan program Pemerintah Aceh, Tgk Hidayat menambahkan, masyarakat Teuming akan memberikan dukungan dan

sokongan kepada Pemerintah dan DPR Aceh. Dia berharap pemerintan dan DPR Aceh memperhatikan masyarakat Teuming, khususnya warga pedalaman. Seperti memprogramkan bantuan untuk pra nelayan di kawasan pesisir dan memberikan dukungan pertanian dan perkebunan untuk masyarakat di dataran tinggi.(*) Abu Yuh, Ketua KPA/PA Aceh Barat Perjuangan di Pemerintah dan Parlemen Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan DPW Partai Aceh Meulaboh Yusman yang akrab disapa Abu Yuh Partai Aceh di wilayah Aceh Barat akan meraih suara 65 persen. “Kami tidak mau menargetkan yang muluk-muluk. Insya Allah Partai Aceh akan menang di wilayah Barat,” ujarnya kepada ACEHMEDIA, Selasa pekan lalu. Saat ini, Abu Yuh menjelaskan, antusias masyarakat Aceh terlihat meningkat dibandingkan pada Pemilu sebelumnya, dimana saat ini dukungan masyarakat terhadap Partai Aceh terus berdatangan. Untuk strategi pemenangan, pihaknya hanya bersilaturrahmi dengan masyarakat. Para Caleg maupun kader Partai Aceh setiap hari dan malamnya membuat pertemuan dengan masyarakat. Jika dipercayakan dan diberikan amanah oleh masyarakat kepada Partai Aceh nantinya, Abu yuh mengatakan, Partai Aceh akan memperjuangkan persoalanpersoalan masyarakat sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri berdasarkan hasil mufakat dan musyawarah.(*)

Mereka Bicara

Mukhlis Abee, Juru Bicara KPA Pusat dan Ketua DPWPA Banda Aceh

kelompok. Semua bisa bergabung dan menyalurkan pendapatnya di Partai Aceh guna membangun dan menjadikan Aceh yang lebih baik. Kepada seluruh caleg dari Partai Aceh, Mukhlis Abee berharap dapat bekerja maksimal dengan bekerjasama dan bahu-membahu untuk menggapai kemenangan Partai Aceh. “Jika terpilih nantinya diharapkan dapat memperjuangkan programprogram kepentingan masyarakat, dan mendukung program-program Pemerintah Aceh yang menyentuh masyarakat, bukan bekerja untuk kepentingan pribadi,” ujarnya. (*)

Dirangkum oleh: Reza Gunawan


7

ACEH MEDIA

LIPUTAN KHUSUS

5 - 19 APRIL 2014

Untuk Sabang Lebih Mandiri Nazaruddin menolak anggapan bahwa program pemberian uang dan subsidi sejumlah kebutuhan masyarakat ini sebagai bentuk “memanjakan masyarakat”. Program ini untuk mendorong masyarakat untuk lebih produktif.

P

eningkatan kesejahteraan adalah dua kata kunci keberhasilan pembangunan di masa kepemimpinan Zulkifli A Adam dan Nazaruddin. Sejak menjabat, setahun lalu, pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sabang ini memberikan sentuhan yang dirasakan langsung masyarakat Sabang. Selain mendapatkan bantuan pendidikan Rp 2 juta per siswa setiap tahun, Zulkifli dan Nazaruddin juga menggratiskan beras bagi warga tak mampu di Sabang. “Ke depan, kami akan memperjuangkan listrik di 4 ampere bisa digratiskan untuk masyarakat,” ujar Nazaruddin yang akrab disapa Tgk Agam kepada Aceh Media, Jumat pekan lalu. Dengan membebaskan masyarakat kecil dari pungutan, pemerintah berharap, masyarakat dapat menjadi lebih produktif dengan mengalihkan sumber dana yang mereka miliki untuk modal usaha. Nazaruddin berharap, hal ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih sejahtera. Di awal masa pemerintahan, keduanya juga memberikan bantuan kemanusiaan Rp 5 juta bagi setiap anggota keluarga yang meninggal dunia. Nazaruddin menolak anggapan bahwa program pemberian uang dan subsidi sejumlah kebutuhan masyarakat ini sebagai bentuk “memanjakan masyarakat”.

Menurut dia, daya saing masyarakat Sabang saat ini sangat rendah. Hal ini terlihat jelas dari tingginya angka pengangguran di kota pulau itu. Minimnya perkembangan industri di daerah itu, membuat

berusaha di Sabang. Besarnya potensi alam Sabang dan iklim keamanan yang terus membaik, kata dia, memungkinkan Sabang berkembang menjadi daerah investasi di Aceh, seperti yang terjadi di masa lalu. Dia juga

Wakil Wali Kota Sabang Nazaruddin

banyak masyarakat terbelit kemiskinan. Nazaruddin yakin, dengan membantu masyarakat meringankan beban hidup, perlahan-lahan, masyarakat akan mendapatkan kekuataan untuk menata kembali kehidupan mereka. “Bagaimana mereka mau berpikir, kalau perut mereka lapar dan anak-anak mereka tidak sekolah,” kata Nazaruddin. Untuk mengurangi tingginya angka pengangguran di Sabang, duo Zulkifli-Nazaruddin juga terus mengundang investor untuk

mendorong masyarakat untuk terus berusaha di sektor industri kreatif, terutama pariwisata, yang memang menjadi satu “urat nadi” perekonomian Sabang. “Ke depan untuk mengatasi penangguran di sabang, kami juga akan berupaya untuk mengajak investor-investor berinvestasi di Sabang, agar terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat Sabang,” ujar Nazaruddin. PA Menang Dari berbagai program yang dilakukan Pemerintah

Kota Sabang, yang merupakan dipimpin oleh kader Partai Aceh, Tgk Agam optimistis Partai Aceh akan meraih kemenangan pada Pemilu 2014 nantinya. “Dengan izin Allah, kemenangan Partai Aceh mudah diraih. Dikarenakan banyak program-program Pemko Sabang untuk masyarakat melalui wakil Partai Aceh yang telah dipercayakan masyarakat memimpin Kota Sabang telah terwujud, di mana program tersebut belum pernah dilakukan pempimpin-pemimpin di Sabang pada periode sebelumnya,” ujar Tgk Agam. Kepada seluruh calon legislatif Partai Aceh, Tgk Agam berharap kemenangan partai kelak dapat mendukung programprogram Pemko Sabang untuk mewujudkan masyarakat Sabang yang sejahtera. Terutama dalam mencapai target menjadikan Sabang sebagai tujuan wisata unggulan di Indonesia. “Saat ini juga masih banyak fasilitas dan infrastruktur pendukung yang perlu dibangun untuk mendukung pariwisata di sabang. Untuk promosi kita telah gencar-gencar melakukannya, tetapi begitu turis luar datang ternyata masih banyak kekurangan, Jadi agar para pengunjung tidak kecewa, maka diharapkan Pemerintah Aceh dan pusat mendukung pengembangan sektor wisata Sabang,” kata dia. (Reza Gunawan)


LENSA

5 - 19 APRIL 2014

FOTO-FOTO: SARJEV, QAHAR MUZAKAR, TIM DOKUMENTASI PARTAI ACEH

ACEH MEDIA

8


9

ACEH MEDIA

5 - 19 APRIL 2014

LENSA


ACEH ONLINE

FOTO HUMAS PEMERINTAH ACEH

5 - 19 APRIL 2014

Wali Nanggroe Ajak Masyarakat Kedepankan Kearifan Lokal Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar mengajak masyarakat Aceh khususnya Pidie, untuk bersatu menuju kegemilangan Aceh dengan mengedepankan budaya dan konsep kearifan local sebagaimana pernah dibuktikan di masa lalu. "Dimasa lalu penegak hukum lebih mengedepankan kearifan lokal, masalah-masalah pelanggaran hukum mampu diselesaikan pada tingkat gampong dan tidak harus sampai ke mahkamah," ujar Wali Nanggroe Aceh dalam acara silaturrahmi dan temu ramah sekaligus Peusijuek Wali Nanggroe Aceh dengan Muspida dan Masyarakat Pidie, Senin (31/3/2014), di Meuligoe Pidie. Kedepan, tambahnya, Wali Nanggroe Aceh akan menerapkan konsep kearifan local dalam menangani persilisihan ditataran gampong. "Agar harmonisasi kehidupan menjadi lebih baik," tambahnya. Wali mengatakan, sejak penandatanganan Mou di Helsinky, 8 tahun silam, Aceh terus-menerus membangun kearah yang lebih baik. Berbagai bangsa juga telah membantu untuk kemajuan Aceh, yang prinsip utamanya adalah merawat dan mengisi perdamaian Aceh. "Sudah banyak yang kita terima dari bangsa-bangsa lain dan bangsa kita sendiri. Ini adalah wujud dukungan mereka atas perdamaian Aceh, oleh karenanya mari kita rawat terus perdamaian ini," pintanya. Tidak hanya itu, bangsa-bangsa didunia, ungkap Malik Mahmud, juga bahagia bila perdamaian yang juga hasil dari konstribusi bersama, menjadikan Aceh lebih maju dalam berbagai aspek. Wali juga mengatakan, era lglobalisasi yang begitu cepat me-landa, menuntut semua kalangan, untuk ikut berpartisipasi aktif agar tidak tergilas olehnya. Oleh kerenanya, Wali berharap era globalisasi harus menjadi perekat memperkuat tali ukhwah, dan menjadi teknologi untuk menunjang lahirnya ide-ide yang baik bagi kemaslahatan ummat. "Jangan sampai meluntur adat dan budaya dan keimanan kita, kami berharap pidie menjadi penegak pemerintah yang berbasis IT dan selalu melahirkan kebaikan dan menjadi contoh bagi daerah lain," pungkasnya. (Rilis)

ACEH MEDIA

10

MaTA Desak Caleg di Aceh Tidak Lakukan Politik Uang Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) meminta kepada seluruh calon legislatif (Caleg) di Aceh, baik DPR-RI, DPRA, DPRK maupun DPD, untuk tidak terlibat dan melakukan money politic (politik uang) dalam penyelenggaraan pemilu 2014. “Politik uang merupakan pidana pemilu yang dapat merugikan caleg dan juga partai pengusungnya. Seluruh elemen masyarakat diharapkan ikut serta memantau agar tidak terjadinya politik uang, sehingga penyelenggaraan pemilu di Aceh dapat terlaksana dengan baik dan bersih,” kata Koordinator Bidang Anggaran dan Kebijakan Publik Hafidh kepada acehonline. info, Rabu (1/4/2014) di Banda Aceh. Politik, jelas Hafidh, merupakan suatu tindakan yang memberikan uang atau bentuk lainnya kepada pemilih agar dalam pemilu

pemilih akan memilih caleg tertentu sesuai dengan tujuan pemberian. “Ini merupakan pidana pemilu yang dapat merugikan oknum caleg dan juga partai pengusungnya. MaTA berharap, ini difahami oleh caleg dan juga partai peserta pemilu sehingga tidak terjebak pada ‘pusaran’ pidana pemilu,”jelasnya. MaTA juga berharap agar masyarakat dapat memahami apa yang disebut dengan politik uang. Hal ini penting diketahui karena masyarakat adalah pemilih dalam pemilu dan merupakan sasaran dari tindak pidana pemilu ini, baik dari

oknum caleg maupun partai politik tertentu. “Politik uang bukan hanya bermakna pembagian uang kepada masyarakat semata, akan tetapi imingiming pemberian uang ataupun barang dengan tujuan agar masyarakat memilih atau tidak memilih oknum caleg dan partai tertentu pada pemilu mendatang juga disebut politik uang,” ungkapnya. MaTA menilai, politik uang akan berdampak sangat fatal terhadap masyarakat, bahkan bisa merugikan masyarakat dalam jangka waktu 5 tahun mendatang. Disamping itu, politik uang juga berpeluang terjadinya tindak pidana korupsi, jika oknum caleg yang membagikan uang atau barang kepada masyarakat terpilih nantinya. (Fauzul Husni)

Ganja Aceh Paling Disukai di Mancanegara Ahli Kimia Bahan Alam Musri Musman mengatakan, Ganja Aceh merupakan ganja yang paling diminati oleh kalangan masyarakat di berbagai negara, baik Asia, Eropa, hingga Timur Tengah, dikarenakan kesuburan dan zat kimia yang lengkap dikandung pohon tersebut. “Pohon ganja di Aceh bisa mencapai tinggi tiga meter dan memiliki kesuburan yang baik. Ini disebabkan karena faktor tanah yang mendukung suburnya tanaman tersebut,” kata Musri Musman dalam acara Bedah Buku Hikayat Pohon Ganja kerja sama antara Lingkar Ganja Nasional (LGN), Katahati Institute serta Himpunan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Indonesia di sekretariat BEM FKIP Unsyiah, Sabtu (29/3/2014). Ganja Aceh, Musri menjelaskan, apabila ditanami di luar negeri tmaka tidak akan dapat hidup, dikarenakan faktor tanah yang berbeda. Sehingga, masyarakat dimancanegara sangat menyukai Ganja di Aceh. “Banyak faktor kenapa Ganja Aceh disukai oleh mancanegara, yaitu karena memiliki manfaat yang tinggi dalam bidang kesehatan. Nutrisi yang terkandung dalan serat ganja melebihi tanaman-tanaman lain. Kemudian manfaat lainnya biji ganja yakni bisa dijadikan obat antibiotik,” jelasnya. Sementara itu kalangan akademisi Unsyiah, Syafruddin, menceritakan tentang perjalanan ganja di mancanegara,dimana ganja sudah menjadi sumber devisa bagi beberapa negara di Asia, Eropa dan Timur Tengah. “Di Eropa dan Jepang misalnya, ganja sudah menjadi sumber devisa yang baik. Tinggal di Indonesia saja yang belum, maka diharapkan LGN mendatangi pihak- pihat terkait untuk mendiskusikan tentang legalisasi pohon ganja, termasuk para ulama karena semua pihak harus dilibatkan dalam melegalisasi ganja ini,” ujarnya. Hal yang lain juga disampaikan oleh penulis buku hikayat pohon ganja, Dira Nirayana., dimana Ia menyatakan bahwa ganja memiliki manfaat positif yang tinggi dalam segala bidang. “Indonesia bisa memanfaatkan ganja ke hal positif itu sangat bagus. Beberapa negara, serat ganja dijadikan sebagai bahan tali tambang, kertas, pakaian, minyak bahan bangunan,” tambah Dira. (Fauzul Husni)

Universitas Teuku Umar Resmi Dinegerikan Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Rabu (2/4/2014), resmi dinegerikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara Jakarta, yang diterima langsung oleh Bupati Aceh Barat, H.T. Alaidin Syah bersama empat perguruan tinggi lain di Indonesia. Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang turut hadir dalam penegerian tersebut menyambut gembira peresmian kampus jantong hate masyarakat Barat Selatan Aceh tersebut. "Pemerintah Aceh, bersungguhsungguh berupaya memperbaiki mutu pendidikan untuk mencapai index partisipasi pendidikan tinggi maksimal nasional," ujar Wagub Aceh yang akrab disapa Mualem ini. Mualem berharap, dalam rangka peningkatan mutu sumberdaya manusia Aceh, Pemerintah Pusat memberikan perhatian

serius bagi pendidikan di Aceh dengan menegerikan lebih banyak lagi Perguruan Tinggi di Aceh. Pemerintah Aceh, kata Mualem, siap membantu menyumbangkan tenaga, pikiran dan dana, dalam mempersiapkan infrastruktur dan suprastruktur Perguruan Tinggi agar semua masyarakat Aceh dapat menikmati penddikan dengan kualitas yang lebih baik. "Kami sudah berbincang dengan Pemerintah Pusat, dan kementerian Pendidikan, mereka sangat mendukung lahirnya pemerataan perguruan tinggi negeri di Aceh," ungkap Mualem. Untuk itu bagi kawasan lain Aceh yang belum dinegerikan, Wagub mengimbau agar tokoh masyarakat dan pemerintah di sana lebih pro-aktif untuk memenuhi syarat-syarat bagi lahirnya sebuah Perguruan Tinggi Negeri. (Saradi Wantona)


11 ACEH MEDIA

SOSOK

5 - 19 APRIL 2014

Bertarung untuk Rakyat Pedalaman Persoalan ekonomi yang menimpa rakyat Aceh membuat batinnya tergerak untuk melakukan perubahan. Lewat parlemen, ia bakal memperjuangkannya.

D

i era kekinian, masih banyak masyarakat Aceh di kawasan pedalaman nan terpencil belum mendapatkan kehidupan layak. Hidup mereka dibelit runtutan persoalan mengenai kesejahteraan. Mulai dari kemiskinan yang mendera, tidak adanya listrik, pendidikan tak memadai, hingga infrastruktur jalan yang jauh dari layak. Kehidupan mereka berbanding terbalik ]dengan apa yang dirasakan masyarakat kota. Sengkarut-sengkarut itulah yang menggetarkan nurani Jamal Muhammad. Pria kelahiran Langsa 19 Januari 1954 ini, tergerak memperjuangkan nasib dan permasalahan rakyat Aceh, khususnya di wilayah Langsa dan Aceh Tamiang, agar lebih baik lagi. “Ini penting karena kehidupan ekonomi masyarakat Aceh sekarang masih jauh tertinggal. Inilah yang nanti harus diperjuangkan oleh wakil–wakil rakyat yang terpilih di dewan.

Untuk itulah saya berpartisipasi maju sebagai calon legislatif dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Dapil LangsaAceh Tamiang,” ungkap Jamal Muhammad kepada Aceh Media, Sabtu pekan lalu. Awalnya, kata Jamal, ia ingin memperjuangkan persoalanpersoalan masyarakat Aceh ke kancah nasional yakni DPR-RI, sesuai afiliasi Partai Gerindra dengan Partai Aceh. “Namun dikarenakan tingginya persaingan di partai, maka saya diperintahkan untuk maju sebagai Caleg DPRA,” ujar Jamal. Mulanya Jamal merasa berat. Namun, karena wilayah Langsa dan Aceh Tamiang selama ini merupakan basis partai nasional dan merinci persoalan-persoalan kesejahteraan yang dialami rakyat di sana, khususnya pedalaman, Jamal membuhulkan tekadnya menuju DPRA. “Dengan harapan, saya nantinya bisa bersanding dengan Partai Aceh di parlemen dalam memperjuangkan

pembangunan Aceh,” papar Jamal. Apalagi, Jamal memiliki hubungan batin dengan Partai Aceh yang dibentuk mantan kombatan GAM itu. Dulunya, sebelum Aceh damai, Jamal Abdullah pernah membantu perjuangan GAM. Kala itu, Jamal masih kuliah. Ia ketiban tugas memasok segala kebutuhan para petinggi GAM. Nasib berkata lain. Pada 1978 Jamal tertangkap. Namun kemudian dibebaskan karena Jamal beralasan ia hanya mahasiswa. “Setelah dilepas, saya tidak dapat lagi ‘bergerak’ seperti dulu dan terhentilah perjuangan saya, karena seluruh kegiatan yang saya lakukan terus dipantau,” ujarnya. Setelah perdamaian Aceh, barulah Jamal dapat menjalin hubungan kembali dengan para mantan petinggi GAM. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menjadi orang yang mendukung dan memperjuangkan kemenangan Partai Aceh. “Partai Aceh harus

menang besar di Aceh, agar Pemerintah Aceh menjadi kuat dalam mendesak Pemerintah Pusat merealisasikan seluruh butir-butir penjanjian damai RI-GAM (MoU Helsinki),” ungkap Wakil Ketua Partai Gerindra Aceh ini. Jika rakyat mempercayakannya sebagai wakil mereka di parlemen nanti, Jamal akan fokus pada perbaikan dan peningkatan ekonomi masyarakat, sesuai program utama Partai Gerindra. “Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia lewat pendidikan, pembangunan infrastruktur, dan membuka lapangan pekerjaan,” ujar Jamal. Kepada seluruh calon legislatif Partai Gerindra, Jamal mengimbau apabila nantinya diberikan kepercayaan oleh rakyat, maka betul-betuk memperjuangkan aspirasi tersebut. “Untuk itu diharapkan kepada masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya pada 9 April nanti. Karena orangorang dipilih itulah yang akan memperjuangkan aspirasi mereka di parlemen.” (Reza Gunawan)


5 - 19 APRIL 2014

ACEH MEDIA

12


13 ACEH MEDIA

PROFIL

5 - 19 APRIL 2014

UUPA Kunci Utama Stabilitas Politik

Fazlun Hasan

Politik juga tidak akan baik. Dan rahmat Allah tidak akan datang di Serambi Mekah, jika akidah tidak ditegakkan, sesuai predikat yang disandang Aceh, Negeri Bersyariat Islam.

Kondisi politik naik-turun, dan sikap “setengah hati” Pemerintah Pusat membuat kondisi Aceh saat jauh dari kata-kata sejahtera. Bahkan di saat perjanjian damai setelah 30 tahun lebih konflik tidak menyelesaikan penderitaan masyarakat Aceh. Diperlukan kerelaan Jakarta untuk memberikan hak Aceh, seperti tertuang dalam Perjanjian Damai Helsinki. “Kunci utama dari stabilitas politik di Aceh adalah penyelesaian (aturan) turunan Undang-Undang Pemerintah Aceh. Ini merupakan keinginan dari seluruh masyarakat Aceh. Kami menilai, Pemerintah Pusat setengah hati merealisasikan tuntutan MoU Helsinki dan UUPA,” kata Fazlun Hasan, Ketua Forum Perjuangan Keadilan Masyarakat Aceh (FOPKRA) kepada ACEHMEDIA, Ahad pekan lalu. Dalam perjanjian itu, Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menyepakati enam kewenangan yang sebelumnya berada di Jakarta untuk dilaksanakan langsung Pemerintah Aceh. Namun hingga kini, banyak turunan butir-butir MoU Helsiki, yang termaktub ke dalam Undang-Undang Nomor 11 Tentang Pemerintahan Aceh Tahun 2006 (UUPA), belum diimplementasikan. Hal itu, kata Fazlun, menjadikan kondisi politik di Aceh hingga kini tidak stabil. Cita-cita sejahtera rakyat Aceh juga belum terpenuhi. Satu di antaranya adalah persentasi pembagian hasil minyak dan gas. Dalam UUPA, Aceh harusnya mendapatkan 70 persen dari hasil minyak dan gas. Dia juga menegaskan, kondisi ini mengakibatkan Aceh berlarut-larut dalam polemik dan rentan dijadikan komoditas politik. Bahkan hingga saat ini, ketidaktegasan pemerintah mengakibatkan masyarakat masih menjadi korban. “Tidak mungkin sebuah negeri ekonominya akan baik jika politiknya tidak stabil. Khusus Aceh, politiknya akan stabil jika turunan MoU dan UUPA bisa terealisasi seluruhnya. Ini adalah keinginan dan harapan masyarakat Aceh,” ujar calon anggota Dewan Perwakilan Daerah nomor urut 12 ini. Persoalan Aceh, Fazlun Hasan menambahkan, adalah persolan politik, dimana Undang-Undang mengamanahkan bahwa ada 6 kewenangan pusat dan

selebihnya adalah kewenangan Pemerintah Aceh. “Tidak satupun amanah UU ini bisa dikurangi atau ditambahkan. Hanya saja kita mau konsistensi pemerintah pusat, karena UU ini merupakan produk (hasil) DPR-RI yang merupakan lembaga negara tertinggi di negeri ini dan sesuai dengan UUD 1945,” ujarnya. “Politik juga tidak akan baik. Dan rahmat Allah tidak akan datang di Serambi Mekah jika akidah tidak ditegakkan, sesuai predikat yang disandang Aceh, yaitu Negeri Bersyariat Islam.” Soal lain yang menunjukkan keengganan pemerintah pusat adalah dalam menghadapi polemik bendera. Sebagai produk yang dihasilkan oleh Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Jakarta harusnya tidak mengabaikan aspirasi masyarakat Aceh tersebut. Fazlun menjelaskan, Bendera Bulan Bintang sebagai Bendera Aceh bukan milik Partai Aceh. Bendera itu adalah representasi masyarakat di Aceh dan diakomodir oleh seluruh partai politik di Aceh. “Bendera itu adalah bentuk nasionaliesme Aceh terhadap NKRI. Ada opini yang sengaja disebar bahwa bendera ini adalah simbol pemberontakan dan keinginan Aceh untuk merdeka. Opini ini sangat sesat dan berpotensi merusak seluruh tatanan perdamaian,” ungkap Fazlun. Fazlun menantang pemerintah untuk berani bersikap. Menurut dia, pengibaran bendera Bulan Bintang tidak lebih tinggi dari Merah Putih. Bahkan dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat Aceh untuk mengibarkan lambang daerah itu, menunjukkan bahwa masyarakat Aceh juga menghormati konstitusi Indonesia. Fazlur bertekad untuk menagih janji Pemerintah Pusat, terutama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang berjanji untuk menyelesaikan turunan MoU dan UUPA sebelum masa jabatannya berakhir. Dia berharap, pemerintah tidak melewati tahun ini tanpa menyelesaikan janji tersebut. Di lain sisi, seluruh pihak di Aceh juga bertanggung jawab untuk mengawal dan memperjuangkan keberadaan qanun dan sejumlah turunan UUPA ini. Dia juga mengajak semua anak bangsa, melihat konsesus politik melahirkan MoU yang akhirnya melahirkan UUPA sebagai dasar Aceh di masa depan dalam mewujudkan perdamaian abadi di Aceh. “Jika turunan UUPA selesai, seperti Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Minyak dan Gas (Migas), maka hal itu akan menambahkan pemasukan untuk Aceh, baik untuk pembangunan infrastuktur dan meningkatkan perekonomian. Dan jika politik stabil, maka para investor akan datang ke Aceh, sehingga para pengangguran akan mendapatkan pekerjaan,” imbuhnya. (Reza Gunawan)

DEWAN PIMPINAN ACEH-PARTAI ACEH MENGHIMBAU KEPADA SELURUH RAKYAT ACEH PILIH DAN MENANGKAN PARTAI ACEH PADA PEMILU 09 APRIL 2014 DEMI PEMERINTAHAN ACEH YANG SATU VISI, HARMONIS, DAN KUAT DALAM RANGKA MEWUJUDKAN CITA-CITA BESAR RAKYAT ACEH

Kamaruddin Abubakar Ketua KPPA-Pusat

Fakhrurrazi Yusuf Sekretaris KPPA-Pusat

Abdul Hakim, SE.Ak Bendahara KPPA-Pusat

1. KOMITMEN MENJALANKAN BUTIR-BUTIR MOU HELSINKI DALAM UUPA 2. MENJALANKAN PEMERINTAHAN SESUAI DENGAN DINUL ISLAM 3. MEMBANGUN HUBUNGAN DIPLOMASI DENGAN LUAR NEGERI TENTANG PEREKONOMIAN ACEH 4. KOMITMEN DALAM MENJAGA PERDAMAIAN


KULINER

5 - 19 APRIL 2014

ACEH MEDIA

14

I

ni menginspirasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh menggelar Festival Kuah Beulangong. Apalagi, masyarakat Aceh memiliki berbagai cara dan resep khusus dalam menyajikan kuah beulangong. Festival ini sendiri mendapat sambutan meriah, bahkan dari luar Aceh. “Selain mie aceh, banyak kuliner lain yang belum terpublikasi dan diketahui oleh orang banyak di luar Aceh. Melalui even ini diharapkan Aceh tidak hanya terkenal dengan alamnya yang indah. Akan tetapi juga terkenal dengan beragam masakan atau kuliner,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh Reza Fahlevi, Kamis akhir Maret lalu. Dalam festival ini, seluruh masakan dilarang menggunakan menggunakan penyedap. Reza sendiri berharap, even ini dapat menjadi ajang memperkenalkan khasanah kekayaan kuliner Aceh kepada dunia. “Masakan khas ini di tengah-tengah

Tradisi Dalam Beulangong Bagi masyarakat Aceh, sepiring gulai daging dari belanga besar adalah syarat utama hidangan. Hampir di setiap perjamuan, hidangan khas Aceh ini, menjadi menu utama. Tak ada pesta tanpa sajian kuah beulangong.

masyarakat Aceh sudah sangat mengakar. Ini menjadi hidangan khas setiap ada hajatan seperti pesta perkawinan, keuduri blang (Kenduri Sawah), sunatan dan sejumlah hajatan lainnya selalu memasak kuah beulangong,” kata Reza. “Tentu saja ini harus kita kemas sehingga dapat menjadi salah satu magnet pariwisata Aceh.” Untuk tahap pertama sedikitnya 15 kacamatan dari Kota Banda Aceh dan Aceh Besar terlibat dalam festival ini. Tahun depan, Reza berencana melibatkan lebih banyak peserta yang mewakili berbagai daerah di Aceh. “Selain itu untuk melestarikan kuliner khas Aceh dan makanan ini merupakan makanan turun-temurun nenek moyang kita. Kemudian kita harap akan terlestarikan di aceh, jangan sampai makanan khas Aceh tertinggal karena arus globalisasi,” kata Reza. Selain itu, target jangka panjang yang dicitacitakan oleh Disbudpar Aceh akan menjadi agenda rutin tahunan nantinya. Sehingga akan menjadi even untuk mendatangkan wisatawan di Aceh dalam rangka program Visit Aceh 2014. Rizal, seorang peserta festival dari Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, mengungkapkan even ini patas diapresiasi. Selain menjadi ajang silaturahmi dan bertukar pengalaman memasak dan menyajikan kuah beulangong, kegiatan ini juga dapat menjadi promosi wisata. Dia juga menyakini, festival sejenis akan lebih mengenalkan makanan khas Aceh ke publik. Karena selama ini, publik lebih mengenal ayam tangkap dan mie aceh. Padahal, kata dia, banyak jenis makanan yang layak dinikmati, terutama saat berada di Aceh. “Bukan kuah beulangong namanya kalau tidak ada bu kulah. Jadi tugas perempuan adalah membungkus nasi dan laki-laki memasak kuah beulangong,” kata dia. Untuk memberikan penilaian, panitia menunjuk tiga juri yang terdiri dari dua perempuan dan seorang juri pria. Aiyup Yusuf, salah seorang dewan juri, mengatakan kreteria utama dalam penilaiannya adalah tekstur rasa yang tidak dipengaruhi oleh zat lain di era modern saat ini. “Kita nilai yang pertama adalah cita rasa yang alami, artinya tidak dicampur dengan penyedap rasa,” jelas Aiyub Yusuf. Umumnya, masyarakat Aceh mengolah Kuah beulangong dari beragam jenis bumbu dan campuran. Ada yang menggunakan nangka pisang dan hati pisang yang digodok bersama daging di atas beulangong hitam. Sedangkan daging yang sering digunakan adalah daging sapi. (Suryadi)


15 ACEH MEDIA

KISAH

5 - 19 APRIL 2014

foto.dok

Tragedi Geulanggang Teungoh

Almarhum Juwaini (kiri) saat mendampingi Atqia Abubakar Caleg DPRA Dapil Bireuen usai berkampanye beberapa waktu lalu.

Mobil yang ditumpangi satu keluarga diberondong tembakan di Bireuen. Ibu korban kini harus menjadi tulang punggung keluarga. Masrawati Mata wanita paruh baya itu berlinang, Selasa 1 April 2014. Baju hitam dan kain panjang yang tersampir di pundaknya kian menegaskan duka yang dirasakan. Tak hanya dia, seisi rumah berdinding bata di Gampong Lheu, Kecamatan Jeunieb, Bireuen itu ikut merasakan duka serupa. Sesekali, Masrawati, wanita paruh baya itu, menyeka air mata yang jatuh ke pipi. Para ibu yang datang melayat juga secara bergantian menyampaikan empati kepada Masrawati. Namun, tak gampang bagi Masrawati melupakan kejadian pada malam pengujung Maret tersebut. Malam itu, Senin 31 Maret 2014, Masrawati dan beberapa sanaknya menumpang sebuah mobil. Mereka baru pulang mengantar ibunda Masrawati berobat. Di dalam mobil ada Juwaini (suami Masrawati), Muhib, Muliadi, Fahrul Razi (abang ipar Juwaini), Hazirawati (adik ipar Juwaini), Latifah, Hamidah, Fitriani, Asiyah, Khairil Anwar (anak korban), dan Muhsyuhada. Masrawati dan Juwaini beserta dua anak mereka duduk di kursi paling belakang. Anak pertama yang berumur enam tahun dipangku Masrawati. Sementara

anak keduanya, Khairil Anwar, yang masih berumur 1,5 tahun dipangku. Sedangkan adik kandungnya Hazirawati, 16 tahun, duduk di kursi tengah dan Fahrul Razi duduk paling depan. Sekitar pukul 21.00 WIB, mobil melewati persimpangan dekat kuburan Cina. Kawasan ini masuk ke dalam Gampong Geulanggang Teungoh. Mobil melaju pelan menghindari lubang-lubang jalan. Saat itulah, naas datang. Masrawati mendengar suara rentetan tembakan. Sontak ia menjerit dan merunduk ke jok mobil. Sepintas, Masrawati melihat beberapa orang menembak dari kiri dan kanan mobil. Namun, karena dikurung pelor panas seperti itu, ia tak jelas melihat wajah pelaku. Setelah suara tembakan berhenti, Masrawati menyuruh supir mengemudikan mobil ke tempat yang terang. Lokasi penembakan memang berada di tempat yang sepi dan tak ada rumah penduduk. Mobil terus melaju dan berhenti di depan sebuah Puskesmas. Masrawati berteriak meminta pertolongan dari warga. Begitu pintu mobil dibuka, tampak tubuh Juwaini dan Khairil Anwar mengeluarkan darah cukup banyak. Hal serupa terlihat pada tubuh dua adik kandung Masrawati. Tak bisa menangani, pegawai Puskesmas membawa para korban ke Rumah Sakit Umum dr Fauziah Bireuen. Setiba di sana, semua korban menghembuskan nafas terakhir. Masrawati syok. Dia tidak menduga insiden malam itu merenggut nyawa suami, anak, dan adiknya. Beberapa hari sebelum kejadian, Masrawati pernah mengingatkan Juwaini untuk tidak terlibat lagi dalam kegiatan kepartaian. Juwaini juga jarang pulang ke rumah. “Pak, sudah bisa istirahat, sudah cukup pada masa perang dulu, sayang anak-anak kita,” ujar Masrawati. Namun Juwaini kala itu mengatakan, ia ikhlas dengan pekerjaannya itu. “Kalau memang di jalan ini nyawa saya diambil oleh Allah SWT, saya sudah ikhlas,” ujar Masrawati menirukan ucapan Juwaini. Kata-kata itulah yang terus diingat oleh Masrawati hingga kini. Sehari-hari, kata dia, almarhum Juwaini juga bekerja sebagai petani. Almarhum sangat tertutup dan sangat jarang menceritakan masalah-masalah pekerjaan. “Saya pun tidak pernah bertanya kepada beliau,” ujar Masrawati. Pada malam itu, adik kandungnya yang masih duduk di kelas dua Madrasah Aliyah Negeri, Hazirawati, sudah diingatkan oleh ayah Masrawati untuk tidak ikut. “Kamu jangan pergi, pergi mengaji saja,” ujar Masrawati mengulangi ucapan ayahnya. Namun Hazirawati menjawab, “Saya tetap ikut, mungkin ini kepergian terakhir saya.” Kini setelah kejadian itu, anak pertama Masrawati yang masih berumur enam tahun selalu bertanya kepadanya. “Ayah dan adik ke mana bu, kok belum pulang-pulang?” Namun sang ibu tak punya jawaban pasti. Kisah tragis kini harus ia pikul. Seperti ia memikul nasib menjadi tulang punggung keluarga setelah Juwaini tiada.(Fauzul Husni)


B EHIJAB dari Youtube L M A J A R

FOTO DOKUMEN INDAH

enjadi model di negeri bersyariat Islam memang tak gampang. Satu sisi, seorang model dituntut tampil cantik. Di sisi lain, tentu harus mampu mempertahankan nilai-nilai Islam dalam berpakaian. Hal inilah yang dirasakan Indah Sari Melisa. Namun, dua sisi itu tak menyurutkan semangat dara kelahiran 21 Maret 1995 ini untuk menekuni dunia mode. Tentu saja, mode yang islami. “Saya terus belajar untuk menambah pengetahuan dan wawasan di bidang fashion. Sehingga dapat tampil trendi dengan padanan busana yang layak bagi seorang muslimah,” ujar dara yang kerap disapa Indah ini, kepada Aceh Media, Rabu pekan lalu. Untuk memuaskan dahaga akan gaya berpakaian muslimah, terutama berhijab, mahasiswi Universitas Syiah Kuala ini kerap berseluncur di dunia maya. Di sana, dara Meulaboh ini menemukan banyak hal baru. Indah pun tak sungkan mengikuti video tutorial berhijab di Youtube. Menurut Indah, dunia hijab kini berkembang pesat. Tak hanya dari modenya saja, tapi juga menumbuhkan minat muslimah lain untuk menutupi aurat. Hobinya di bidang mode telah mengantarkan anak pasangan Nurman dan Zulbaidah memenangkan beberapa lomba fashion. “Awalnya sekadar coba-coba. Eh, ternyata menang,” ungkap Indah. Dia pernah meraih juara Top Model Hunting Akbar 2013 dan model video klip 2013. Untuk terus menambah ilmu di bidang mode, Juara The Best Catwalk 2012 ini juga bergabung di Aceh Model Community. Kini, setelah menggondol beberapa prestasi di ranah lokal, Indah ingin mencari tantangan baru. Dia membidik ajang Putri Muslimah Indonesia 2014. Indah sudah mengikuti audisinya pekan lalu di Hotel Oasis, Banda Aceh. Ia bertekad meraih salah satu penghargaan di ajang tersebut. Penyuka warna merah dan hitam ini meyakini tidak ada hal yang kebetulan dalam hidup. Semua berjalan dengan usaha dan doa. “Untuk melakukan perubahan, diperlukan kerja keras dan ikhtiar.” (Suryadi)


Aceh media 2