Issuu on Google+

alen a Mengelola Anugerah-Nya

EDISI 01 TAHUN I - JULI 2010

Kesalehan & Professionalisme Spiritual Leadership Mengelola Kinerja Karyawan “Religiositas� Sepakbola


DARI REDAKSI

Meniti Langkah Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam InsanGemilang Telah bersabda Rasulullah Saw, “Apabila mati anak Adam, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya.â€? (HR. Muslim). Segala puji bagi Allah, yang Mahamulya dan Mahasempurna atas segala ketentuan-Nya. Sehingga edisi perdana majalah Talenta ini bisa diterbitkan sesuai rencana. Majalah Talenta ini adalah media informasi yang fokus membahas mengenai dunia Human Capital dan Pengembangan personal. Digagas dan diterbitkan oleh PT Talenta Insan Gemilang (TIG), sebuah perusahaan HR Consultant dan Training Management. Kami bersyukur, bahwa perusahaan ini digawangi oleh tenaga-tenaga muda yang aktif, dinamis, dan kreatif. Sehingga melahirkan banyak sekali kreasi pemikiran maupun kegiatan yang tentunya diharapkan sedikit banyak bisa memberikan sumbangsih kepada dunia Human Capital di Indonesia. Termasuk salah satunya adalah majalah Talenta ini. Bermula dari keinginan beberapa peserta training yang kami adakan untuk meminta agar materinya bisa dicetak dan dibagikan kepada mereka. Kami berpikir, kalau saja materi-materi itu bisa dicetak dan disebarluaskan dengan gaya bahasa jurnalistik yang bagus, mungkin akan membawa manfaat lebih banyak bagi masyarakat. Selain juga untuk melaksanakan perintah agama untuk bersyi'ar dengan apapun kemampuan yang kita miliki. Maka dengan segala keterbatasan dan daya yang kami miliki, terbitlah majalah yang ada di tangan Anda saat ini. Terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan kepada segenap kru redaksi yang telah bekerja keras untuk terbitnya edisi perdana ini. Juga kepada segenap mitra-mitra kami dari Yayasan Rumah Zakat, Rumah Juara Indonesia, Rumah Mandiri Indonesia, PT Citra Niaga Tekhnologi, BPR Duta pasundan, dan pihakpihak lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu atas bantuan dan masukannya yang sangat berharga untuk majalah ini. Terakhir, kami sangat menyadari bahwa upaya yang kami lakukan ini pastilah masih jauh dari kata sempurna. Maka masukan, kritik, serta saran dari para pembaca sekalian amat sangat kami perlukan untuk peningkatan kualitas majalah ini pada penerbitan selanjutnya. Semoga dari sedikit apa yang bisa kami sampaikan ini ada manfaatnya bagi Negara, Bangsa, dan Agama. Insya Allah‌. Selamat Membaca Dedi A. Santika

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 01


Contents

12

14

MOTIVATOR Karena Kerja Bukan Gerak Tanpa Nilai dan Makna

SPIRIT

Attitude Sebagai Intangibles Asset

DALAM beberapa literatur dan teori akuntansi, intangible asset umumnya dikenal berupa goodwill (nama baik), merek, dan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Intangible asset dalam standar akuntansi keuangan termasuk dalam aktiva yang memperbesar nilai sebuah perusahaan. Kita mengetahui beberapa perusahaan ternama memiliki merek yang jauh lebih besar daripada nilai aset fisiknya.

TOPIK UTAMA 3 4 6

Kesalehan dan Produktivitas, Febi Rahmi Kesalehan dan Profesionalisme, Rachmatulloh Okky Dua Pilar (Potensi) Diri, Tutik Ratna Ningsih

LEADERSHIP 8

Spiritual Laadership, Alfath

KULTUR 10 "Religiositas" Sepak Bola, Elkasyafi

OASIS 23 Membangun masjid

GERAK

Muhasabah Diri di Bumi Madani

EDUKASI

Mengelola Kinerja Karyawan

16

Managing Today for Leading Tomorrow!

18 20

Para ahli perilaku organisasi merumuskan bahwa kinerja (performance) merupakan fungsi dari motivasi dan kemampuan (ability). Secara sederhana hubungan itu bisa dirumuskan: kinerja (P) = Motivasi (M) x Kemampuan (A).

alen a Mengelola Anugerah-Nya

PENANGGUNG JAWAB Dewan Komisaris CNA, Direksi PT CNA PEMIMPIN REDAKSI Dedi A. Santika WAKIL PIMPINAN REDAKSI Alfath REDAKTUR PELAKSANA Wildan Nugraha STAF REDAKSI Tutiek, Dicky Fria Senjaya, Murni Alit Baginda, Tita, Yeti Hertati, Miftah, Bambang Suratno DESAIN AND ARTWORK Deden Mulyana & Usman Thea ADVERTISING & MARKETING Heru Herdiana DISTRIBUSI Rachmatullah Oky Advertising & Marketing (022) 92964034, 085 7599 15665 Bank Mega Syariah No. Rek. 2001312101 An. Talenta Insan Gemilang

Penerbit PT Talenta Insan Gemilang rd CNA Building 3 Floor Jl. Gatot Subroto No. 71A Bandung Telp. (022) 7820 7821 Ext. 108, Fax. (022) 7820 7822 email : insan.gemilang@ymail.com

Percetakan PT. Tri Tunggal Abadi Sejahtera (Isi diluar tanggung jawab percetakan)


TOPIK UTAMA

Febi Rahmi HRD moZaik Pusat, Bandung

Kesalehan & Produktivitas SEORANG pemuda rajin melakukan shalat malam dan membaca Al-Quran. Tutur katanya lancar saat bersosialisasi dalam masyarakat. Kegiatan kesehariannya bermanfaat bagi umat. Singkat kata, dia dicintai banyak orang. Sebuah potret kesalehan secara umum. Saat seorang hamba memetik buah cinta kepada-Nya. Subhanallah.

D

alam mencermati idealitas demikian, barangkali timbul sederet pertanyaan pada diri kita. Sebenarnya apa dan bagaimanakah kita? Sudah sejauh manakah kesuksesan kita dalam menjalani kehidupan? Dalam konteks pekerjaan, sudahkah kita berhasil membermaknakannya? Seseorang barangkali akan merasakan kebermaknaan hidupnya saat dia mampu memberikan manfaat bagi sistem di luar dirinya. Hal ini diraihnya tatkala dia telah berusaha dengan optimal memenuhi tugas sebagai seorang abid, seorang hamba. Seorang saleh yang produktif. Demikianlah jika membuka-buka ulang sejarah para sahabat Rasulullah, kita menemukan kisah-kisah tentang kerja-kerja amal mereka. Khalifah Abu Bakar Siddiq berhasil membuat para pembandel aghniya untuk mengeluarkan zakatnya. Atau saat Abu Bakar menutupi jejak dalam sebuah perjalanan yang menyelamatkan Rasulullah dari ancaman kaum musyrikin. Termasuk juga di sini kecemburuan Umar bin Khatab terhadap Rasulullah yang amalan-amalan ibadahnya tidak

tersaingi. Sebuah ungkapan kecemburuan dalam dimensi kesalehan dan produktivitas. Ada lagi kisah Khalid bin Walid. Seorang panglima perang yang saleh pun produktif. Lewat nalar, usaha, dan strateginya pasukan Islam kerap meraih kemenangan. Akan tetapi, selain itu sejarah mencatat: panglima Khalid jeli mengontrol kondisi ruhiah pasukannya, piawai menyuntikkan ruh jihad kepada mereka untuk senantiasa berada di jalan Allah. Buahnya adalah prestasi demi prestasi, produktivitas. Demikianlah kesalehan dan produktivitas senantiasa melekat pada tokoh-tokoh sejarah dalam Islam: Umar Bin Abdul Azis, Salman Al-Farisi, dan masih banyak lagi. Buat para salihin, kesalehan dapat disebut energi. Energi ini tidak diam, tapi mengalir ke materi-materi di sekitarnya. Saat seorang saieh menyadari keberadaan energi ini, dia akan mampu menciptakan energi lebih besar lagi dalam kerja-kerja amal – dalam produktivitasnya. Sebuah kekuatan besar yang terhimpun akan memungkinkan seseorang mencipta karya besarnya.

Singa di siang hari, rahib saat malam menghampiri Demikianlah sebuah kunci. Demikianlah sebuah irama. Sebuah harmoni akan memungkinkan seseorang menggubah melodi-melodi indah dalam nyanyian hidupnya. Siang hari di lingkungan kerja kita mungkin menguras otak dan menghela fisik, memicu kegemilangan muncul berebutan. Dan demi menjaga irama hidup yang harmonis, kita menjadi rahib pada malam hari. Berzikir, bertilawah, bersujud kepada-Nya ketika sebagian penduduk bumi terlelap. Mendekatkan diri kepada sumber kekuatan yang tak pernah habis. Mengintegrasikan dua metafor kekuatan diri manusia tersebut dalam ruang-ruang kerja kita adalah sebuah upaya merebut sebuah keutuhan. Menjadi singa di siang hari dan menjadi rahib saat malam menghampiri adalah sebuah upaya seorang hamba yang sebenarnya tidak kunjung selesai dalam meraih kesalehan dan produktivitas.Wallahu’alam.***

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 03


TOPIK UTAMA

Kesalehan & Profesionalisme S

Rachmatullah Okky, Marketing Development

aleh diserap dari bahasa Arab sholuha. Makna sholuha adalah baik, tidak cacat, sempurna, damai, patut, pantas, bermanfaat. Kata ini adalah kata sifat. Kata sifat melekat langsung pada kata benda dan bisa menerangkan kata kerja. Maka bila ditelusuri, frasa baju bagus sebenarnya memiliki kedekatan makna dengan baju saleh. Begitu juga dengan frasa memasak dengan baik; bisa disebut juga dengan memasak dengan saleh. Negeri yang damai adalah negeri yang saleh. Memang secara lingustik tidak tepat demikian, namun hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya makna kata saleh tidak sempit. Tidak terbatas merujuk pada wilayah keagamaan formalistik saja. Maka, bila boleh berandai-andai kata saleh tidak mengalami peyorasi atau penyempitan makna, sebenarnya akan tidak ada pula jurang makna antara saleh dan profesional. Atau antara individu ber-skill tinggi dengan individu yang saleh. Lebih jauh, hal ini tentu dapat berpengaruh besar terhadap, misalnya, idenitas sosial seseorang atau sebuah

04

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli Juni2010 2010

organisasi, bahkan identitas sebuah kaum – sebuah bangsa. Jika tidak ada peyorasi itu, sebagai tidak lain merupakan dampak dari sekularisasi (pemisahan, pendikotomian – sebuah semangat yang berangkat dari pemikiran modernisme), maka kita sebenarnya akan dengan gampang saja menyebut seorang profesional adalah seorang yang saleh. Marilah sejenak kita bersepakat bahwa tidak berlaku peyorasi atas kata saleh itu. Alhasil, kesalehan menjadi kata kunci penting bagi kesuksesan pribadi seseorang. Saat seorang manusia menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi dengan baik, dia adalah seorang profesional. Dia adalah manusia yang (sebagaimana makna profesional) bersungguh-sungguh, serius, produktif, optimal; bukan manusia yang bekerja seenaknya saja, tidak tepat waktu, asal-asalan, dan serampangan. Maka, saat setiap Jumat umat Muslim diingatkan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, pada saat itu umat Muslim diingatkan untuk memiliki profesionalisme.


TOPIK UTAMA Al-Quran mendorong Muslim agar produktif. Dalam Al-Quran, sangat banyak subjek tentang kerja. Sebanyak 360 ayat membicarakan tentang amal. Sementara seratus sembilan ayat membicarakan tentang fi’il. Amal dan fi’il sama-sama bermakna kerja dan aksi. Selain amal dan fi’il, sangat banyak juga muncul secara ekstensif kasaba, baghiya, sa’aa, jahada, yang kesemuanya menekankan juga pada aksi dan kerja. Oleh karena itu, tampak Al-Quran menyiratkan betapa pentingnya kerja kreatif dan aktivtas yang produktif. Al-Quran sangat menentang tindakantindakan yang tidak produktif. Hal ini berkaitan erat dengan waktu. Oleh Al-Quran manusia diseru untuk mempergunakan waktu sebaik mungkin. Caranya dengan menginvestasikan waktu; mengisinya dengan tindakan-tindakan positif dan kerja produktif. Manusia yang tidak mempergunakan waktunya dengan baik termasuk dalam golongan yang merugi. Islam selalu menyeru manusia untuk senantiasa bekerja dan berjuang. Islam melarang segala bentuk kemalasan dan pengangguran. Muslim yang aktif bekerja adalah orang terhormat. Seorang Muslim pekerja bahkan diberi kelonggaran tertentu dalam beribadah agar dapat bekerja dengan baik. Misalnya, Al-Quran menghapus kewajiban shalat tahajud. Hal ini memberi kesempatan bagi umat Islam melakukan kegiatan bisnisnya pada siang hari dalam keadaan segar bugar. Lebih lanjut, Al-Quran memberi pedoman: siang hari itu adalah waktu dan sarana untuk bekerja mencari penghidupan. Oleh karena itu, kerja manusia dapat disebut sebagai sumber nilai yang riil. Jika seseorang tidak bekerja, maka dia tidak akan berguna dan tidak memiliki nilai. Ungkapan ini telah diproklamasikan Islam sejak belasan abad silam. Dalam pandangan Al-Quran, kerja (amal) menentukan posisi dan status seseorang dalam kehidupannya. Sebagaimana diungkap di dalam QS Al-Anam ayat ke-132, “Dan tiap-tiap orang memperoleh derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” Atau dalam QS Al-Ahqaaf ayat ke-19, “Dan setiap mereka mendapat derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan atas) pekerjaan-pekerjaan mereka, sedang mereka tidak dirugikan.” Kerja, oleh karena itu, adalah satu-satunya kriteria – di samping

iman – yang menentukan apakah manusia berhak mendapatkan pahala. Demikianlah Al-Quran selalu mendesak manusia untuk bekerja. Al-Quran menawarkan insentif-insentif kepada manusia agar senantiasa memiliki aktivitas yang positif, bekerja keras, dan berjuang. Insentif-insentif itu berupa pahala berlimpah, pertolongan, dan petunjuk Allah. Dalam banyak ayat, segala insentif atau penghargaan (reward) itu juga ditujukan agar manusia senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas (hasil) pekerjaanya: produktivitas. Oleh karenanya, Al-Quran juga menyeru agar manusia berupaya memiliki (melatih) kemampuan fisiknya sebagai salah satu modal dalam bekerja. Dalam situasi normal tidak seorang pun diperbolehkan untuk meminta-minta atau menjadi beban kerabat atau sahabatnya,

beribadah sepanjang waktu, lebih baik daripada saudaranya yang hanya beribadah dan tidak bekerja itu. Memang ada pernyataan Allah bahwa para pengemis dan orangorang miskin memiliki bagian dari harta orang-orang kaya. Namun, Allah menyatakan hal tersebut berlaku jika benar-benar mereka adalah orang yang berhak mendapatkannya. Hal ini bukan berarti mereka mendapat lisensi untuk selamanya tetap berpangku tangan dan menjadi tanggungan masyarakat. Suatu ketika seorang sahabat yang miskin mendatangi Rasulullah untuk meminta haknya. Rasulullah menyuruh dia pergi untuk mengambil kayu lalu menjualnya agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. Rasulullah ingin mengajarkan bahwa betapa pun seorang yang miskinmemiliki hak atas sebagian harta orang-orang kaya, tetapi

Jika seseorang tidak bekerja, maka dia tidak akan berguna dan tidak memiliki nilai. Ungkapan ini telah diproklamasikan Islam sejak belasan abad silam. Dalam pandangan Al-Quran, kerja (amal) menentukan POSISI dan STATUS SESEORANG dalam kehidupannya.

bahkan negaranya sekalipun. Al-Quran sangat menghargai mereka yang berjuang untuk mencapai dan memperoleh karunia Allah. Termasuk di sini segala macam sarana kehidupan. Rasulullah mengajarkan sebuah doa pada umatnya setiap keluar dari masjid, “Ya Allah! Saya mohon karunia-Mu.” Doa ini merupakan peringatan dan sekaligus pendorong bagi umat Islam untuk selalu mencari dan berjuang mendapatkan sarana hidup. Etika Islam, menurut Al-Faruqi, menentang segala bentuk meminta-minta. Etika Islam juga menentang cara hidup seperti parasit; memakan keringat orang lain. Islam menghargai perilaku bekerja dengan giat dan mengutuk perilaku menganggur. Rasulullah Saw menyatakan bahwa orang yang mencari nafkah hidupnya untuk dirinya sendiri dan untuk saudaranya yang terus

bekerja keras dengan tangan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah jauh lebih baik. Demikianlah bekerja dengan serius dan professional adalah sebuah ajaran dan bahkan kewajiban. Bekerja dan bertindak dengan profesional adalah bukti rasa syukur sekaligus pertanggungjawaban manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Adalah sebuah kekeliruan mendikotomikan saleh dan professional. Apa lagi menjadikan kesalehan sebagai alasan sebuah ketidakprofesionalan. Misalnya, terlambat ngantor karena shalat duha, mengantuk saat bekerja karena tahajud semalam, mengeluh lemas karena berpuasa. Segala ketidakprofesionalan itu sebenarnya berangkat dari peyorasi atau disposisi makna saleh dan profesional.***

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 05


TOPIK UTAMA

Tutik Ratnaningsih Talenta Insan Gemilang, Bandung

Dua Pilar (Potensi) Diri SECARA garis besar, manusia mempunyai dua pilar diri. Pilar pertama adalah hablumminallah dan pilar berikutnya adalah hablumminannas. Kedua pilar diri ini memiliki dimensinya masing-masing. Secara harfiah pilar berarti tiang penguat. Dalam menjalani kehidupannya, dengan atau tanpa disadari, setiap manusia tidak pernah lepas dari dua pilar tersebut.

PILAR PERTAMA

M

anusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Demikian sebuah hadits riwayat Muslim. Dalam Islam, fitrah manusia adalah bertauhid, menjadi penerima kebenaran. Sebelum lahir manusia sudah mengikat perjanjian dengan Allah bahwa Dialah Tuhannya. Secara fitrah pula manusia lahir ke dunia berbekal potensi akal, pendengaran, penglihatan, dan hati. Menyadari fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia mencapai eksistensinya dengan memenuhi keberfungsiannya, yakni menerima petunjuk Ilahiah, menjadi khalifah, memegang amanah (tugas keagamaan), dan menjadi pengabdi. Jalannya ialah dengan men-dayagunakan segenap potensi fitrahnya itu. Dalam sebuah tulisannya, Maryatul Kibtyah menyatakan bahwa manusia merupakan pusat hubungan-hubungan (center of 06

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

relatedness), tetapi dalam ajaran Islam pusat segalanya bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta. Dengan demikian, landasan filsafat Islam adalah theosentrisme atau Allah-sentrisme. Gambaran manusia dengan kehidupannya banyak sekali di dalam AlQuran. Menurut Musnamar dan Faqih, Allah menciptakan manusia yang memiliki beberapa fungsi. Pertama, sebagai makhluk Allah. Secara kodrati berarti manusia merupakan mahluk religius, makhluk yang mengabdi kepada Allah, atau abdullah. Kedua, sebagai makhluk individu. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu ini manusia memiliki kekhasan masing-masing, juga memiliki potensi dan eksistensi sendiri. Dengan keunikan yang dimilikinya manusia menjadi tidak seragam, memiliki ukuran masingmasing (QS Al-Qomar 54: 49). Oleh karenanya manusia dituntut untuk memikirkan keadaan dirinya.

Ketiga, sebagai makhluk sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk sosial manusia saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Dalam hal ini tidak mungkin manusia hidup sendirian tanpa melibatkan pihak lain. Oleh sebab itu, manusia selalu memikirkan orang lain. Allah SWT memerintahkan manusia untuk saling bersilaturahmi dan saling mengenal (QS Al-Hujurat 49: 13). Keempat, manusia sebagai makhluk berbudaya. Dengan akal dan pikirannya manusia yang hidup dan mengelola alam dunia ini menciptakan kebudayaan. Sebutan khalifah fil ardh merujuk pula tugas manusia sebagai pengelola alam. QS Al-Fatir 35: 39: Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi ini.


TOPIK UTAMA

PILAR KEDUA

S

etelah hablumminallah sebagai pilar pertama potensi diri, hablumminannas merupakan pilar kedua. Di dalam AlQuran Allah SWT berfirman mengenai beberapa dimensi hablumminannas ini. Dalam QS Ali Imron (3) ayat ke-110, manusia (umat Islam) adalah makhluk yang berkualitas. Manusia menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam QS Ali Imron (3) ayat ke-112, manusia adalah keseimbangan: manusia senantiasa menjaga hubungan vertikalnya dengan Tuhan dan juga hubungan horizontalnya dengan sesama manusia. Dalam QS Al-Maidah (5) ayat pertama dan kedua, manusia saling menolong dalam kebajikan dan menjauhi perbuatan yang jelek. Dalam tiga ayat QS Al-Ashr (103), manusia sailng menasihati dan menaati kebenaran, berlaku sabar dan adil.

Dalam QS Al-Qashash (28) ayat ke-77, manusia mempersiapkan kehidupannya di akhirat sambil sekaligus mencari penghidupannya di dunia. Dalam QS An-Nisa (4) ayat pertama, manusia adalah makhluk yang menjaga silaturahmi. Dari pemaparan ringkas di atas, demikianlah manusia memiliki dua pilar yang tidak pernah lepas dari keseharianya. Meskipun demikian, dua pilar tersebut sebenarnya bersifat potensial. Dalam artian, dua pilar tersebut bagaimana pun harus disadari dan dipahami sehingga bisa teroptimalkan keberadaannya. Lebih lanjut, dengan menyadari dan memahami keberadaan dua pilar diri tersebut, manusia akan mampu mengoptimalkannya secara bersamaan. Jika hanya menitikberatkan pada satu pilar saja, maka prestasi dan perwujudan potensi diri seseorang akan kurang optimal.

Perwujudan potensi diri manusia salah satunya dapat diukur dengan kesalehan dan produktivitasnya. Dengan perkataan lain, dua pilar diri tersebut merupakan ruh aktivitas manusia dalam berkegiatan; meraih kesalehan dan beramal dengan produktif. Hablumminallah adalah daya pendorong kesalehan pribadi; hablumminannas adalah daya ledak produktivitas dalam berkarya.***

Disarikan dari: "Penerapan Enam Dasar Dimensi" , "Positif Teori Eksisbensial Humanistik", "Dalam Konseling Islam, Maryabu, Kibtyah", (Dosen Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo- Semarang)

IKLAN RMI (sedang didesain ulang)

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 07


LEADERSHIP

Spiritual Leadership Alfath, Talenta Insan Gemilang - Bandung

BANYAK pakar kepemimpinan menilai sifat atau karakteristik kepemimpinan abad ke-21 berbeda dengan karakteristik kepemimpinan pada masa-masa sebelumnya. Dulu, kepemimpinan umumnya bersifat dogmatik. Sifat atau karakter itu kini tidak berlaku lagi. Model kepemimpinan saat ini bersifat inspirasional. Karenanya, konsep mengelola orang (managing people) sekarang adalah mengelola pola berpikir (managing mind set) dengan jalan memberikan inspirasi atau ilham. Jika dulu orang bisa dengan mudah diatur hanya dengan imingiming kesejahteraan, fasilitas, benefits, dan seterusnya, maka kini tidak lagi demikian.

K

arakter bisa disebut sebagai inner strenght atau kekuatan yang muncul dari dalam. Semacam kumpulan keyakinan, energi, spirit, dan passion (semangat) yang menggerakkan akal dan pikiran serta memberi ruh atas tindakan. Kekuatan itu tidak muncul begitu saja. Ia merupakan hasil tempaan dan didikan bertahun-tahun. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh core belief nilai-nilainya. Sehingga, perbedaan karakter tiap-tiap individu bisa diperiksa dengan menelusuri core belief-nya. 08

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

Dalam konteks kepemimpinan, jika seseorang mengambil core belief budaya Jawa, maka bisa dipastikan karakter kepemimpinannya yang akan muncul adalah karakter kepemimpinan Jawa. Begitulah kondisi naturalnya. George Washington pernah berujar, “Setiap pemimpin harus mengalami proses penentuan diri. Pemimpin sejati melangkah pada jalurnya.� Pencarian dan penemuan karakter diri adalah sebuah masa yang harus dilewati setiap pemimpin. Sejak munculnya gagasan spiritual quotient

yang dipopulerkan Danah Zohar, dunia seperti terkejut. Konsep tersebut memang lama diabaikan. Kini, spiritual quotient menjadi inspirasi bagi banyak orang dan spiritual quotient pun memasuki banyak wilayah kehidupan. Juga tidak luput memasuki wilayah kepemimpinan. Karakteristik pemimpin Mengenali pemimpin yang baik cukup mudah. Hanya perlu memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling sang pemimpin itu. Jendral Collin Powel, mantan Menteri


LEADERSHIP Pertahanan Amerika Serikat, pernah berkata, “The day soldiers stop bringing you their problems is the day you have stopped leading them. They have either lost confidence that you can help them or concluded that you do not care. Either case is a failure of leadership.” Teori dan konsep kepemimpinan terus berkembang. Meski tampak lebih banyak datang dari Barat, bukan berarti teori dan konsep kepemimpinan dari dunia selain Barat tidak berkembang. Menarik misalnya menyimak ulasan majalah Swa edisi 18 Agustus 2009. Disebutkan dalam sebuah tulisannya, “Kepemimpinan bisnis ala Barat mulai diragukan kehebatannya. Kini banyak bangsa yang gigih menggali dan menerapkan nilai-nilai kepemimpinan dari akar budaya sendiri. Seharusnya Indonesia juga.” Kita bisa menyebutkan salah satu sumber teori dan konsep kepemimpinan yang tersirat dari pernyataan itu adalah Islam. Di dalam Islam, role model kepemimpinan adalah Rasulullah Saw, para khalifah, dan para sahabat Rasul pada umumnya. Dari merekalah kajian tentang konsep kepemimpinan didapat. Beberapa karakteristik yang berkaitan dengan spiritual leadership di dalam Islam bisa dikenali sebagai berikut. Pemberi contoh baik (qudwah) Pemimpin yang memiliki kepekaan spiritual paham bahwa memberikan contoh perbuatan lebih ampuh ketimbang hanya berkata-kata. Pemimpin adalah man of action, bukan sebatas man of idea. Mengetahui peran dan tanggung jawabnya Dalam sebuah kesempatan kunjungan kerja ke Aceh pada pertengahan tahun 2008 silam, penulis menemui salah satu sesepuh di sana. Ia disapa Ustad Yusuf. Perbincangan kami mengerucut pada topik seputar kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin itu orang yang “mampu menjadi imam dan siap menjadi makmum.” Perkataan tersebut sekilas sederhana, namun bermakna mendalam. Menjadi imam mensyaratkan beberapa kecakapan. Mulai dari pemahaman ilmu shalat hingga kemampuan melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan merdu. Pemimpin adalah part of team. Ia bukan “dewa” di dalam sebuah tim. Pemimpin sejati akan terlihat justru saat tidak lagi berada di tampuk kekuasaan. Sekalipun sudah lengser, pemimpin sejati

masih dihormati, dirindukan dan memiliki tempat dalam hati umat, bahkan tetap dimintai saran dan pendapatnya. Predikat pemimpin sejati diraih ketika seorang pemimpin telah menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan baik. Saat orang lain terpilih menggantikan posisinya, seorang pemimpin sejati menerimanya dengan lapang dada. Ia “siap menjadi makmum”. Nabi Muhammad pernah mencontohkan tentang berbagi peran. Suatu saat beliau bersama para sahabatnya harus bermalam dalam perjalanan. Saat seorang demi

Memiliki kharisma seorang pemimpin Bagaimanapun, kharisma merupakan kata kunci penting dalam sebuah kepemimpinan. Pemimpin kharismatik terkadang mampu “menyihir” pengikutnya. Kharisma muncul dari hasil pendidikan ruhani. Dari hubungan intens yang dijalin seseorang dengan Sang Pencipta. Dari ideologi, keyakinan, dan spirit mengabdi kepada Tuhan, seorang pemimpin akan mendapat suntikan energi sangat besar sehingga mampu menggerakkan barisannya. Nabi Muhammad memiliki kharisma sangat

“Pemimpin itu laksana ayah dalam kedekatan, guru dalam pendidikan, syaikh dalam ruhani, dan teman dalam keakraban.” Ciri ini dikenal sebagai situasional leadership

seorang sahabat berkata akan mengambil air, mendirikan tenda, dan memasak, Nabi menyela, “Kalau begitu saya akan mencari kayu bakar.” Mendengarnya para sahabat melarang. Mereka mempersilakan beliau istirahat saja. Nabi menolak. Ujar beliau, “Allah tidak suka bila ada di antara kalian yang hanya duduk-duduk, sementara yang lain sibuk mengerjakan tugasnya.” Seorang pemimpin selalu mampu mengambil peran dalam setiap keadaan. Pemimpin menjalankan peran situasional Dalam sebuah tulisannya, Hasan Al Banna, seorang ulama Mesir menyatakan, “Pemimpin itu laksana ayah dalam kedekatan, guru dalam pendidikan, syaikh dalam ruhani, dan teman dalam keakraban.” Ciri ini dikenal sebagai situasional leadership. Berbagai konteks ruang dan waktu yang berbeda menuntut peran yang juga berbeda. Oleh sebab itu seorang pemimpin dituntut memiliki kompetensi beragam.

kuat. Suatu hari seorang sahabat menghadap kepadanya. Saat berjalan menuju Nabi, sekujur tubuh sahabat itu bergetar. Melihatnya Nabi berkata, “Bersikaplah biasa saja. Aku manusia biasa seperti kalian.” Masih banyak karaktristik lain yang bisa dikenali. Meski spiritualisme bukan hanya domain dalam Islam, namun spiritualisme selalu datang dari keyakinan manusia atas adanya sebuah kekuasaan di luar dirinya, bahkan di luar kekuatan nalarnya — yang jamak dibahasakan sebagai Tuhan. Seorang pemimpin dengan keyakinan spiritual tinggi akan menyadari bahwa jabatan kepemimpinannya tidak lain adalah amanah ketuhanan. Dengan hati yang bersih dia akan menunaikannya. Saat banyak pakar menilai karakter kepemimpinan abad ini berubah dari masa-masa sebelumnya, inspirational leadership – atau tepatnya spiritual leadership – sebenarnya tengah menemukan (kembali) masanya.*** TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 09


KULTUR

www.adidas-group.com

“Religiositas�

Sepakbola MILYARAN pasang mata ramai memandang lapangan hijau negeri Afrika. Ratusan kaki-kaki beradu kemampuan, Selama 30 hari, milyaran manusia melupakan sejenak kesulitan hidup mereka. Para pengamat ekonomi menghilang sementara dari hitungan-hitungan rumit soal dunia yang diancam resesi, kebangkrutan, kemiskinan. Para politikus reses dari sidang-sidang mereka. Sementara para pialang menghitung ulang peruntungan mereka: saham klub-klub sepak bola. New York Stock Exchange kalah populer oleh pusat bandar taruhan William Hill. 10

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010


KULTUR

I

nilah pesta empat tahunan seni olah kaki. Saat bagi para pemain, pelatih, wasit, suporter merasa seperti “naik haji”. Nasionalisme naik di dada banyak manusia. Bendera-bendera dipasang. Bahkan di dada banyak orang yang negaranya tidak turut sekalipun. Di perhelatan besar itu berbagai ekspresi tersaji: marah, sedih, gembira, kecewa, diam. Di perhelatan besar itu terselip pula: religiositas.

Para pesepakbola itu sangat paham gol yang mereka ciptakan tidak melulu berangkat dari kematangan strategi, kemahiran individual, atau ketangguhan fisik. Tapi juga berkat sentuhan keberuntungan

Dalam sejarahnya sepakbola memang menjelma ritual sosiokultural baru. Orangorang menunjukkan jati diri, semangat perlawanan, bahkan dendam. Argentina membalas kekalahan di perang Malvinas: ke gawang Inggris, pada Piala Dunia Meksiko, Maradona membikin gol “tangan Tuhan”. Orang Catalan mempunyai sejarah kebangsaan, bahasa, dan tradisi yang berbeda dari Spanyol. Sampai detik ini, mereka menitipkan pesan perlawanannya kepada klub sepakbola Barcelona. Bertanding melawan Real Madrid, yang dianggap representasi Kerajaan spanyol, betapa pemain Barcelona seperti punya kekuatan berlipat-lipat. Bagi mereka ini bukan sekadar permainan, tapi perlawanan! Demikian uniknya sepakbola. Dua puluh dua orang dari dua kubu di sebuah lapangan hijau berlaga dengan satu tujuan: melesakkan bola membobol gawang lawan. Dari syarat sederhana itu terlahir puluhan strategi permainan. Misalnya menyerang total ala Belanda, atau bertahan total ala Italia. Urusan mencetak gol memang bukan pekerjaan mudah. Tidak sebagaimana bermain basket, misalnya. Poin di sepakbola harus dipertaruhkan selama 2 x 45 menit, atau bahkan lebih. Stamina dan energi harus optimal sepanjang waktu itu. Tak heran, ketika (akhirnya) gol tercipta, luapan kegembiraan membuncah. Pecah. Seperti orang menemukan tambang minyak setelah eksplorasi berbulan-bulan. Terlebih untuk sebuah gol menentukan di detik-detik akhir. *** Maka kita melihat berbagai ekspresi kegembiraan itu. Berteriak dan meninju udara, jurkir balik dan berguling-guling. Atau bersujud syukur. Sebuah ekspresi religiositas. Setelah mencetak gol, mereka berterima kasih kepada Tuhan. Jamak tersaji gerakan mengacungkan kedua telunjuk. Dalam The Lost Symbol, menurut Dan Brown, itu menunjukkan: sebagaimana yang di atas demikian pula yang di bawah.

Di muka bumi seorang pemain adalah wakil Tuhan. Dan dia baru saja melakukan salah satu “pekerjaan” Tuhan: mencetak gol. Menunjuk langit memang bukan ritual agama tertentu, hanya semacam okultisme kuno yang – entah disadari atau tidak – banyak dipraktikkan para pesepakbola. Dulu setiap kali orang meraih kemenangan apapun, mereka biasa merayakannya dengan menunjuk langit. Para pesepakbola itu sangat paham gol yang mereka ciptakan tidak melulu berangkat dari kematangan strategi, kemahiran individual, atau ketangguhan fisik. Tapi juga berkat sentuhan keberuntungan. Posisi tendang yang tepat, waktu yang pas, juga kelengahan lawan. Betapa banyak tendangan yang diukur-ukur justru hanya membentur tiang, atau malah melengkung. Bahkan kerap saat hanya berhadapan dengan penjaga gawang, atau pun ketika terjadi penalti, gol gagal terjadi. Karena keberuntungan tidak hadir. Soal unsur keberuntungan ini, tidak seorang pelatih pun bisa memperkirakan keberadaannya. Apalagi mendatangkannya setiap saat. Demikianlah maka naungan keberuntungan – yang tak kasat mata – itu merupakan sebuah harapan. Jelas, bagi orang beragama keberuntungan hadir berkat kehendak Tuhan. Bilamana, bagaimana, dan mengapa, hanya Tuhan yang tahu setepat-tepatnya. Maka, adalah penting “menghadirkan” Tuhan. Demi inilah barangkali banyak pemain memulai pertandingan dengan ritual-ritual. Sejak berdoa, mencium rumput, mengecup bola, menendang ringan tiang gawang sampai membawa pernak-pernik mistik: air suci, jimat-jimat. Semua agar keberutungan hadir. Religiositas. Kata yang mungkin pula mewakili ritual-ritual itu. Sebuah kesadaran akan adanya kekuatan yang lain yang berkuasa mengatur. Yang tidak terjamah dunia sains,

tapi mampu menghadirkan kesuksesan. Para saintis menyebutnya Zat Mahacerdas. Para agamawan menyebutnya Tuhan. Dengan segala keterbatasannya, manusia merasa sangat perlu selalu didamping kekuatan itu. Misalnya dalam Islam. Seorang Muslim dianjurkan mengucap “Bismillah” sebelum memulai setiap pekerjaan. Ini sebuah ajaran dan ajakan untuk menghadirkan Allah. Dengan demikian setidaknya dua kesadaran penting hadir. Pertama: kesadaran akan kelemahan diri sebagai manusia. Ini membuat manusia yakin campur tangan Allah diperlukan dalam kesuksesan pekerjaannya. Kedua: kesadaran akan optimisme. Allah ada dan membantu kita di setiap langkah. Kesulitan apapun menghadang, manusia tetap bersemangat dan optimistik. Setelah tuntas sebuah pekerjaan, umat muslim dianjurkan mengucap “Alhamdulillah”. Memaknai (lagi) bahwa segala hasil yang diperoleh adalah juga berkat campur tangan Allah. Kalau toh hasil yang diperoleh belum sesuai impian, hati tetap bisa tunduk mengakui: mungkin menurut-Nya inilah yang terbaik untuk kita. Sebenarnya semangat religiositas itu tersirat dalam setiap gerak para pesepakbola di lapangan hijau. Sejak masuk lapangan sampai pertandingan usai; saat gol demi gol tercipta atau bola hanya membentur mistar gawang, saat akhirnya salah satu tim keluar sebagai pemenang mengalahkan tim lainnya. Sejatinya itu semua ritual kaya makna. Tatkala kemenangan datang, bukan kesombongan yang hadir, tapi kesyukuran. Seandainya kekalahan harus diterima, bukan kemarahan hadir menyulut, tapi introspeksi, kelapangan. Sebab mereka melibatkan Tuhan dalam pertandingan. Maka keputusan terbaik pun datang dari-Nya. Demikian pula sebenarnya saat kita mengalihkan pandangan dari lapangan hijau ke dunia bisnis. Dalam persaingan, semua pebisnis tentu hendak menjadi pemenang. Mereka berlomba menjadi terbaik. Laksana dalam laga sepakbola: ada individu pemain, pelatih, tim — ada peraturan, strategi bermain, pelatihan yang kontinu. Ada doa dan harapan setiap kali memasuki lapangan. Ada semangat rohaniah itu. Bekerja dan berjuangan dengan Izin Allah. Memohon bantuan-Nya agar senantiasa dinaungi “keberuntungan”.*** ElKasyafi,

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 11


MOTIVATOR

Rachmat Ari Kusumanto, CEO Rumah Zakat:

Karena Kerja Bukan Gerak Tanpa Nilai dan Makna

B

ekerja adalah salah satu bentuk ikhtiar. Oleh karenanya, bekerja bukan gerak tanpa nilai dan makna. Rachmat Ari Kusumanto, CEO Rumah Zakat, saat dijumpai di tempat kerjanya di Jl. Turangga No. 25, Bandung, Selasa (15/6), mengatakan bahwa bekerja harus dilandasi kesalehan dan profesionalisme. Dua sikap ini, menurut Rachmat, bisa diejawantahkan dari empat proses dalam ibadah haji. Selain tawaf, sa'i, dan lempar jumrah, wukuf 12

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

adalah prosesi yang harus dilakukan seorang jamaah haji. Menurut Rachmat, dalam melakukan wukuf, seseorang dituntut untuk berpikir dan merenung. Sebenarnya, baik disadari atau tidak, proses berpikir dan merenung sering kita lakukan. Misalnya, saat muncul pertanyaan dalam benak; siapa sebenarnya kita, mau ke mana kita melangkah, dan apa tujuan akhir kita. Saat merenung dan mencoba menjawab deretan pertanyaan itulah tidak lain pada hakikatnya kita sedang melakukan “wukuf”.

Setelah merenung dan menginventarisasi keinginan atau target-target, menurut ayah dua anak itu, kita akan memikirkan bagaimana cara mencapai atau mewujudkannya. Saat itulah kita mulai mengatur strategi. Dalam konteks ibadah haji, kita menemukan proses tersebut saat melakukan lempar jumrah. “Begitu pula dengan Rumah Zakat,“ kata alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung, ini. “Rumah Zakat


MOTIVATOR memakai irama haji. Dimulai dengan roadshow BOD (Board of Director) ke seluruh cabang. Setelah melihat kinerja di semua cabang itu, kami mulai merenungi apa saja kekurangan yang ada.“ Sebagai pimpinan, Rachmat — yang pernah lama malang-melintang di dunia perbankan — mencoba mengidentifikasi dan menganalisis berbagai kekurangan itu. Dari sana dia memulai pengaturan strategi untuk pembenahan dan pengembangan di Rumah Zakat. Dalam upayanya itu, dia selalu mengingatkan para amilnya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini agar segala pekerjaan dan aktivitas di Rumah Zakat berada dalam lindungan serta mendapatkan keberkahan-Nya. Dalam ibadah haji, kita menemukannya dalam proses tawaf. Ketika melakukan tawaf, sambil tidak berhenti berdoa, seorang jamaah haji mengelilingi Kabah tujuh kali ke arah kiri dimulai dari arah hajar aswad. Dalam keseharian di luar ibadah haji, demi memelihara kedekatan diri dengan Sang

Rachmat dapat dari proses sa'i dalam ibadah haji, yakni berlari-lari kecil di antara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Proses sa'i, dalam sejarahnya, adalah untuk mengenang Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang empat belas abad lalu berlari bolakbalik antara Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi anaknya, Ismail, yang kehausan. Betapa pun panas dan payahnya keadaan ketika itu, berbekal kesalehan dan keyakinan teguh akan keberadaan serta kasih sayang-Nya, Siti Hajar tidak menyerah dalam mencapai tujuan. Secara substansial, empat proses ibadah haji itulah — wukuf, lempar jumrah, tawaf, dan sa'i — yang coba diejawantahkan Rachmat Ari Kusumanto untuk membangun kesalehan dan profesionalisme di Rumah Zakat. Karena bekerja, baginya, bukan gerak tanpa nilai dan makna. Pria yang selalu Nampak ceria dan berwibawa ini menambahkan. Bahwa memang membangun pola manajemen seperti itu bukan semudah membalikkan tangan. Apalagi

macam training.” Hasilnya, pencapaian kerja yang luar biasa ditorehkan oleh amil Rumah Zakat. Pada medio April-Juni ini, pencapaian dana Zakat dan Infaq mencapai 70% dari target. Sesuatu yang mengejutkan sekaligus menggembirakan. Karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya, medio April-Juni adalah masa “paceklik” dalam penghimpunan dana zakat. Ketika disinggung mengenai adanya pendapat sebagian orang bahwa orang yang produktif dalam bekerja, biasanya ibadahnya akan keteteran, dan sebaliknya kalau ibadah seseorang itu rajin, maka kerjanya jadi kurang produktif. Rachmat menolak dengan tegas akan hal itu. “Orang yang ibadahnya rajin tapi kerjanya asal-asalan itu bagi saya ibadahnya belum sempurna. Karena dengan sikapnya itu, berarti dia sudah zalim kepada kantor tempat dia bekerja. Dan kalau hal itu menyebabkan income-nya turun sehingga ekonomi keluarganya terganggu, maka dia

Orang yang ibadahnya rajin tapi kerjanya asal-asalan itu bagi saya ibadahnya belum sempurna. Karena dengan sikapnya itu, berarti dia sudah zalim kepada kantor tempat dia bekerja. Dan kalau hal itu menyebabkan income-nya turun sehingga ekonomi keluarganya terganggu, maka dia juga zalim kepada diri dan keluarganya, kan? Khalik, seseorang sangat dianjurkan untuk rajin melakukan shalat malam. “Saya selalu mengingatkan seluruh amil untuk melakukan shalat malam, sebagaimana yang diamanatkan oleh founders Rumah Zakat, Abu Syauqi, sebagai salah satu kunci meraih kesuksesan hidup,“ ujar Rachmat. Sebagai upayanya dalam meningkatkan kualitas kinerja amil, Rachmat Ari Kusumanto mengadakan berbagai pelatihan internal. Di samping itu, untuk memacu produktivitas, Rachmat menggulirkan program Championship. Pada program ini, seluruh amil di Rumah Zakat yang tidak mencapai target funding dipotong gajinya sebesar 10%. Sementara, bagi amil yang mencapai target, imbal baliknya dia mendapatkan reward. “Meskipun berbentuk lembaga sosial, kami berupaya mengedepankan profesionalisme,“ tegas Rachmat. Inspirasi program tersebut, antara lain,

membangun budaya seperti itu di sebuah lembaga sosial yang identik dengan citra bekerja apa adanya dan nirlaba. “Butuh waktu lama untuk mengubah pola pikir dan pola kerjanya. Turbulensi jelas ada. Pada awal-awal penerapannya, banyak yang berteriak dan bilang kalau ekspektasinya terlalu tinggi. Tapi kemudian setelah kita wukuf kita merenung semua tentang potensi zakat yang ada dan kemampuan yang kita miliki tapi belum kita maksimalkan. Maka pelan tapi pasti semua amil di Rumah Zakat menjadi antusias melaksanakannya. Yang jelas selalu saya sampaikan, bahwa target dan ekspektasi yang kita sampaikan itu bukan muncul begitu saja, tapi sudah betul-betul kita perhitungkan. Jadi tidak ada alasan menyatakan itu terlalu tinggi. Toh belum dilaksanakan. Ditambah lagi, kita berikan apa yang amil kita perlukan untuk optimalisasi potensi dengan berbagai

juga zalim kepada diri dan keluarganya, kan? Padahal dalam sejarahnya Siti Hajar itu berlari-lari sampai 7 kali dari bukit Shafa dan Marwa itu untuk apa? Menemukan sumber air, kan? Karena dia tahu, sumber air itu tidak akan ditemukan hanya dengan berdoa lalu diam berpangku tangan saja. Ini filosofinya. Maka menurut saya, orang yang rajin beribadah itu yang seharusnya produktif bekerja," tuturnya. Sayang, perbincangan yang begitu hangat itu harus berakhir ketika CEO Rumah Zakat itu harus mengadakan rapat koordinasi bersama jajaran BOD yang lain. Di penghujung waktu, Rachmat kembali menegaskan bahwa 14 abad yang lalu sang “Super Manajer”, Rasulullah Saw telah mengajarkan kita akan keseimbangan itu. Bahwa seorang yang saleh, seharusnya adalah juga seorang profesional.***

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 13


SPIRIT

ATTITUDE sebagai Intangibles Asset Murni Alit Baginda

DALAM beberapa literatur dan teori akuntansi, intangible asset umumnya dikenal berupa goodwill (nama baik), merek, dan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Intangible asset dalam standar akuntansi keuangan termasuk dalam aktiva yang memperbesar nilai sebuah perusahaan. Kita mengetahui beberapa perusahaan ternama memiliki merek yang jauh lebih besar daripada nilai aset fisiknya. Berdasarkan riset Brown BrandZ, Google memiliki nilai merek sebesar US$ 114 miliar, Coca Cola US$ 68,7 milliar atau tiga kali lipat dari nilai aset fisiknya.

D

alam dunia HR, yang termasuk ke dalam intangible aset adalah sumber daya manusia (SDM). SDM dengan segala potensi yang dimilikinya yang merupakan anugerah Allah SWT sesuai dengan firman-Nya dalam QS At-Tin ayat ke-4, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.� Namun, apakah setiap SDM akan menjadi intangbles asset perusahaan? Unsur apakah yang menjadikan diri manusia dinilai dapat masuk dalam intangibles asset perusahaan? Jika diperhatikan, kata ‘asset’ menunjukan bahwa yang termasuk ke dalamnya tentu memiliki sebuah nilai. Nilai tersebut adalah nilai yang dapat dikonversikan ke dalam bentuk rupiah dan memberikan keuntungan bagi perusahaan, baik yang bersifat tangibles (berwujud) atau intangibles (nirwujud). Dengan demikian, SDM yang termasuk 14

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

sebagai intangibles asset perusahaan adalah SDM yang memiliki nilai, dalam arti memiliki peran penting dalam membangun perusahaan. Sebagai ilustrasi, dimisalkan SDM pertama adalah selembar kertas biasa dan SDM kedua adalah selembar uang. Kita bisa mudah saja merobek selembar kertas biasa lalu membuangnya begitu saja, tetapi tidak terhadap selembar uang, apa lagi uang tersebut lembaran seratus ribuan. Itulah analogi SDM yang bernilai. Sebelum dibuang pun perusahaan lain sudah terarik untuk dapat mempekerjakannya. Nilai SDM Pengetahuan dan keterampilan memberikan nilai berbeda antara satu SDM dengan SDM lainnya. Dengan menambah pengetahuan dan keterampilan, setiap SDM dapat

memperkaya dan memberi nilai bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, kompetensi adalah kata kunci. Namun, kompetensi pun perlu mendapatkan faktor pelengkap lain. Misalnya, agar seseorang tidak berlaku merugikan perusahaan, seperti melakukan kecurangan (fraud) atau menyalahgunakan aset perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Salah satu faktor yang dapat memperkuat SDM adalah tingkah laku atau attitude. Attitude, di sisi lain, dapat membangun image positif perusahaan dan memberikan keuntungan yang terus bertambah. Blue Bird terkenal sebagai the best taxi services. Yang menghantarkan perusahaan ini meraih prestasi tersebut tidak lain adalah sistem pelayanannya. Sikap para pengemudinya dikenal jujur, sopan, dan ramah. Dalam beberapa kejadian, barang bawaan penumpang yang ketingalan selalu


SPIRIT bisa dikembalikan. Meski argo taksi ini relatif lebih mahal, tapi tetap menjadi pilihan utama. Para pengguna taksi sudah percaya dan puas dengan pelayanannya. Contoh lain mengenai attitude bisa kita amati saat berbelanja, misalnya, di minimarket. Pramuniaganya yang ramah dan sopan seringkali menjadi alasan kita kembali berbelanja di sana, bahkan menjadikan minimarket tersebut tempat favorit kita dalam berbelanja. Sementara jika pramuniaganya tanpa senyum dan melayani semaunya, mungkin kita enggan datang lagi. Keengganan kita itu bahkan bisa berimbas lebih jauh. Dari hasil sebuah riset yang disampaikan Return on Behavior Magazine, seseorang dapat menyampaikan ketidakpuasannya kepada 22 orang lainnya. Dari kedua contoh tadi, sikap pramuniaga atau karyawan punya peran besar sehingga uang dapat masuk ke kantong perusahaan.

ini dapat membentuk budaya perusahaan (corporate culture) yang baik. Budaya perusahaan yang tumbuh secara alamiah dari cerminan pribadi karyawan, akan mampu bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan budaya perusahaan yang dipaksa-paksakan. Pada dasarnya, terdapat beberapa motif yang melatarbelakangi sebuah attitude. Salah satu aspek yang dapat dilakukan untuk membangun attitude adalah melalui

Jika setiap personal mulai dibentuk untuk memiliki attitude yang baik dalam setiap aktifitas kerja mereka, maka tidak menutup kemungkinan kumpulan personal-personal

Pemeliharaan attitude Memelihara attitude yang baik sebenarnya tidak sulit jika kita mengetahui unsur-unsur pembentuk attitude itu sendiri. Attitude terbentuk di antaranya melalui keyakinan, pengalaman, dan pengetahuan. Pembentukan keyakinan dilakukan di dalam hati. Pepatah lama mengatakan “wajah adalah cerminan hati”. Dari wajahnya yang ramah, hangat, dan murah senyum, kita menilai seseorang sedang dalam kondisi bahagia atau mungkin hatinya sedang berbunga-bunga. Soal kondisi hati, kita mengenal istilah hati nurani. Karena hati memiliki kecendrungan pada kebaikan, hati nurani sebenarnya tidak pernah berbohong. Dalam hal ini, terdapat keterkaitan antara hati dengan attitude setiap orang. Secara tersirat, keterkaitan ini diungkapkan sebuah hadits Rasulullah. “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badan. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota badan. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lantas, bagaimana dengan karyawan back office yang tidak terkait langsung dengan konsumen? Pada intinya setiap SDM memiliki peranan dalam membangun dan mengembangkan perusahaan, di mana pun posisi karyawan tersebut berada. Tidak terkecuali office boy sampai direktur utama, setiap SDM perlu memiliki produktivitas. Dengan kejujuran, kesungguhan, disiplin, dan integritas tiap-tiap SDM, kinerja perusahaan akan mencapai targetnya dengan optimal. Penumbuhan attitude Penumbuhan attitude merupakan soal menarik. Jika attitude terpuji mudah ditumbuhkan, maka rasa-rasanya setiap perusahaan dapat berkembang dan memiliki jaringan yang luas. Lebih jauh, kehidupan ekonomi sebuah negara akan senantiasa dalam keadaan bagus dan kehidupan masyarakatnya pun penuh keharmonisan. Akan tetapi, membentuk dan menumbuhkan attitude terpuji ternyata tidak mudah. Dan karena attitude melekat secara personal, maka treatment pembentukannya pun perlu dilakukan dengan personal.

memiliki spiritual attitude. Nilai spiritual tersebut dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dengan efektif.

motif spiritual. Seseorang yang bersemangat melakukan sesuatu dengan penuh pengorbanan biasanya karena motif spiritual. Sebagai contoh, seseorang yang menjadikan aktivitas kerjanya sebagai sarana beribadah tentu tidak akan mudah tergoda untuk menyalahgunakan aset perusahaan. Jika dia sopir taksi yang mendapatkan barang konsumennya tertinggal, dia akan berusaha mengembalikan dengan penuh tanggung jawab. Keberadaan motif spiritual ini sangatlah urgent karena menentukan arah tujuan dari pembentukan attitude yang dilakukan. Sebagaimana yang saat ini mulai ramai dilakukan perusahaan-perusahaan besar, memperkuat nilai spiritual diharapkan mampu membentuk pribadi SDM yang

Keyakinan yang tertanam dalam hati ini mampu menguatkan langkah seseorang dalam bertindak. Contohnya, kesediaan seorang sopir taksi untuk mengembalikan barang pelanggan yang tertinggal karena merasa barang tersebut bukan miliknya. Pengalaman atau latar belakang kehidupan seseorang, pola didik orang tua, dan pengaruh lingkungan juga dapat membentuk attitude seseorang. Kemudian, selain keyakinan dan pengalaman, pengetahuan juga memiliki peran besar pembentukan attitude. Ilmu pengetahuan mampu merubah persepsi seseorang. Filosofi padi, “makin berisi makin merunduk”, menunjukan semakin seseorang memiliki ilmu pengetahuan semakin dia rendah hati.***

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 15


EDUKASI

Photo:www.thesykesgrp.com

Dicky Fria Senjaya

Para ahli perilaku organisasi merumuskan bahwa kinerja (performance) merupakan fungsi dari motivasi dan kemampuan (ability). Secara sederhana hubungan itu bisa dirumuskan: kinerja (P) = Motivasi (M) x Kemampuan (A).

Mengelola Kinerja Karyawan

B

erbicara tentang ability atau kompetensi beberapa perusahaan punya kebijakan berbeda dalam hal rekrutmen. Ada perusahaan yang berusaha memperoleh karyawan yang “sudah jadi� atau siap kerja dengan asumsi karyawan yang direkrut itu punya kompetensi yang sesuai dengan spesifikasi pekerjaan. Kebijakan seperti ini memiliki keunggulan berupa frekuensi training, terutama untuk hard competency, yang lebih sedikit dibandingkan dengan karyawan yang 16

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

belum memiliki kompetensi. Proses rekrutmen seperti ini biasanya menggunakan assessment behavioral, seperti behavioral competency interview atau behavioral event interview, assessment center, dan uji kompetensi teknis. Perusahaan lain memilih untuk merekrut karyawan yang mendahulukan potensi yang unggul. Biasanya mereka fresh graduate dari universitas ternama yang masih minim pengalaman. Harapannya mereka bisa

dibentuk sesuai keinginan dan kultur perusahaan. Memang lebih mudah membentuk dan mengarahkan fresh graduate dibanding dengan mengarahkan SDM yang sudah memiliki pengalaman. Proses seleksinya biasanya menngunakan psikotest atau test potensi. Tentunya ada pula perusahaan yang menyeimbangkan keduanya, dengan harapan mendapatkan manfaat yang lebih.


EDUKASI Akan tetapi, ketika perusahaan menghendaki kinerja yang baik dari karyawannya, sebenarnya model rekrutmen manakah yang lebih unggul? Dalam buku Methods Competency Assessment: History and State of the Art David McClelland, Lyle Spencer, dan Signe Spencer mengemukakan sebuah hasil penelitian mengenai validitas berbagai jenis hasil assessment. Hasil penelitian itu mengurutkan macam-macam metode assesment berdasarkan tingkatan validitasnya, sebagaimana dapat dilihat di tabel berikut. Metode Assessment

Validitas

Assessment Centers

0,65

Interviews (Behavioral)

0,48 - 0,61

Work-sample Tests

0,54

Ability Test

0,53

“Modern� Personality Tests

0,39

Biodata

0,38

References

0,23

Interviews (Nonbehavioral)

0,05 - 0,19

Dari tabel tampak bahwa assessment yang bersifat behavioral yang digunakan untuk melihat kompetensi perilaku tertentu memiliki validitas lebih tinggi dibandingkan metode lainnya. Oleh karenanya, assessment behavioral disarankan untuk digunakan dalam menyeleksi karyawan. Namun, assessment jenis ini biasanya membutuhkan waktu dan resource yang lebih dibandingkan dengan assessment lainnya. Assessment kompetensi tidak hanya digunakan untuk seleksi, tetapi juga digunakan untuk mengetahui celah kompetensi (competency gap) yang dimiliki oleh karyawan dengan kualifikasi yang diperlukan untuk jabatan yang diembannya. Celah kompetensi yang ada harus segera diperkecil atau diatasi dengan memberikan pelatihan kepada karyawan yang bersangkutan. Celah kompetensi tentunya tidak bisa diketahui tanpa adanya suatu referensi yang menjabarkan level kompetensi ideal yang harus dimiliki oleh setiap karyawan pada jabatan tertentu. Inilah yang dinamakan dengan model kompetensi.

MOTIVASI KARYAWAN Motivasi berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan karyawan. Seorang karyawan bekerja dengan harapan bahwa dengan melalui pekerjaannya dia bisa memenuhi kebutuhankebutuhannya. Selama kebutuhannya terpenuhi, karyawan akan tetap bekerja. Jika yang didapatkan melebihi ekspektasinya, maka sangat mungkin karyawan lebih bersemangat untuk bekerja. Stephen P. Robbins dalam bukunya The Truth About Managing People memberikan sudut pandang mengenai cara memahami motivasi karyawan. Menurutnya, motivasi bergantung pada tiga hubungan. Jika ketiga hubungan ini kuat, maka motivasi karyawan akan tinggi. Jika salah satu atau bahkan ketiganya lemah, maka motivasi karyawan akan mengalami penurunan. Ketiga hubungan itu adalah sebagai berikut. 1. Hubungan antara usaha dengan penilaian kinerja. 2. Hubungan antara penilaian kerja dengan sistem penghargaan yang diberikan oleh perusahaan. 3. Hubungan antara sistem pengharaan yang diberikan perusahaan dengan penghargaan yang diinginkan karyawan. Dalam kaitannya dengan poin pertama untuk meningkatkan motivasi karyawan, sistem penilaian kinerja harus dibuat sedemikian rupa sehingga bisa betul-betul menilai dan membedakan karyawan berkinerja baik dengan karyawan yang berkinerja kurang baik. Sistem penilaian kinerja (performance appraisal) yang buruk dapat menyebabkan karyawan tidak peduli dengan kualitas pekerjaan mereka. Penilaian kinerja yang menilai karakteristik yang tidak terlalu berkaitan dengan kinerja atau produktivitas harus dipertimbangkan ulang untuk digunakan dalam penilaian kinerja. Motivasi karyawan juga bergantung pada hubungan antara penilaian kerja dengan sistem penghargaan perusahaan terhadap mereka, seperti terlihat pada poin hubungan kedua di atas. Harapan karyawan adalah penilaian yang baik terhadap mereka disertai dengan penghargaan dari perusahaan. Penghargaan tidak harus selalu diidentikkan dengan gaji atau bonus, tetapi misalnya fasilitas, kenaikan pangkat, kesempatan untuk berkembang. Perusahaan pun perlu memperhatikan apakah penghargaan-penghargaan yang diberikan kepada karyawan itu memang sesuai dengan penilaian terhadap kinerja mereka atau sebenarnya diberikan berdasarkan hal-hal lain, misalnya kedekatan emosional dengan pengambil kebijakan, senioritas, dan sebagainya. Sebab jika hal tersebut terjadi, maka bisa diprediksikan motivasi karyawan akan melunturkan. Robbins menilai bahwa kesesuaian antara penghargaan yang diberikan oleh perusahaan dengan penghargaan yang diharapkan oleh karyawan juga cukup berpengaruh terhadap motivasi karyawan. Bisa jadi alih-alih kenaikan gaji karyawan mengharapkan promosi; atau bonus cash alih-alih bonus dalam bentuk fasilitas tertentu. Sudut pandang Stephen Robbins mengenai motivasi bisa disimpulkan dalam dua hal, yaitu rasa keadilan dan pemenuhan kebutuhan/harapan karyawan. Pemenuhan kedua hal tersebut berbanding lurus dengan semangat karyawan untuk menampilkan kinerja terbaiknya. Robbins juga memberikan satu fungsi lagi yang bisa berpengaruh terhadap kinerja selain kemampuan dan motivasi, yaitu opportunity atau kesempatan. Kesempatan di sini mengandung arti luas, yaitu segala sesuatu yang menunjang munculnya kinerja yang baik dari karyawan. Termasuk di antaranya fasilitas penunjang kerja; bisa juga lingkungan sosiokultural di tempat kerja. Seorang desainer grafis membutuhkan komputer dengan spesifikasi khusus sehingga dia bisa berkarya dengan optimal; selain tentu lingkungan sosial yang terbuka terhadap ide-ide dan kreativitas, bukan lingkungan yang malah menghambat munculnya ide-ide kreatif.***

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 17


GERAK

Muhasabah Diri di Bumi Madani

P

ada 23-25 April 2010. Bertempat di Padepokan Madani Lembang, Bandung. Sebanyak 32 peserta dari Bank Saudara begitu antusias mengikuti Spiritual Building and High Motivation Training yang diadakan oleh Talenta Insan Gemilang Training Management.

Pelatihan ini beranjak dari kesadaran manajemen Bank Saudara akan kebutuhan peningkatan kualitas dan kompetensi SDM. Dengan memiliki SDM yang berkualitas dan berkompetensi, maka diharapkan akan meningkatkan performansi perusahaan secara kseluruhan. Menurut Ervy Sinoranti, MM, Kepala Departemen Pengembangan SDM Bank Saudara. Peningkatan kompetensi ini juga harus diikuti dengan peningkatan spiritualnya sehingga akan memunculkan pribadi-pribadi yang memiliki mental pejuang dan bekerja tidak hanya untuk materi semata, namun mereka akan bekerja untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, melayani sesama, mengaktualisasikan diri serta berkomitmen terhadap profesionalisme.

18

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

Hal ini senada dengan ungkapan Dedy A. Santika, direktur PT Talenta Insan Gemilang. Bahwa pada akhirnya, pelatihan ini bertujuan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas secara duniawi dan akhirat. Pelatihan ini akan memberikan pencerahan kepada peserta bagaimana sebaik-baiknya menjalankan pekerjaan dan amalan ibadahnya. Diawali dengan sesi pengenalan mengenai kegiatan pelatihan dan dilanjut dengan ta'aruf (perkenalan) antar panitia dan sesama peserta oleh Kang Miftah Salahudin, pada malam hari pertama peserta digali minat dan personality-nya oleh masingmasing pendamping/mentor. Hal ini selain bertujuan untuk mengetahui sejauh mana minat dan keinginannya dalam mengikuti training ini, juga untuk menggali apa target yang diinginkan peserta selama mengikuti training ini. Pada hari kedua, para peserta mendapat materi mengenai Etos Kerja Muslim yang disampaikan oleh Abu Syauqi. Seorang enterpreneur Muslim yang sekaligus juga da'i. Pendiri Rumah Zakat ini menerangkan

bagaimana sesungguhnya berusaha atau bekerja menurut gaya-gaya Islami. Abu juga banyak memberikan pegalamannya dan proses hingga menjadi pengusaha yang sukses seperti saat ini. Gaya penyampaian yang ringan, didukung dengan visualisasi beberapa film motivasi. Membuat suasana pelatihan berlangsung santai tapi serius. Beberapa peserta pelatihan tampak antusias menyimak pemaparan dari Abu. Materi yang dibawakan oleh Dedi Achmad Santika (Direktur Utama PT Talenta Insan Gemilang) ini selalu membawa inside baru bagi peserta. Pada sesi ini Dedy Santika mengisi materi mengenai bagaimana mengembangkan citra diri (positif) sebagai karyawan bank dan bagaimana menjadi seorang profesional yang memiliki kesalehan. Hal ini cukup mendapat apresiasi beragam dari peserta. Namun intinya bahwa mereka sadar, bahwa anjuran untuk menebar senyum, ramah kepada orang lain, berpakaian yang rapi dan indah, berkata jujur, dan profesional dalam bekerja adalah sebenarnya ajaran Islam yang dituntunkan oleh Rasulullah. Sehingga melaksanakan semua citra diri positif itu dalam dunia kerja


GERAK

Kegiatan muhasabah, qiyamulail, tilawah dan kuliah subuh

peserta pada malam itu. Pelatihan ini pada akhirnya ditutup dengan out bound. Flying Fox, spider web, dan rintangan lain menjadi tantangan para peserta di hari terakhir itu. Tujuannya jelas, memupuk rasa percaya diri, membangun jiwa saling menolong, dan membentuk pribadi yang berani menghadapi tantangan. Pada kesempatan selanjutnya Bank Saudara kembali bekerja sama dengan TIG untuk pelaksanaan training yang sama. Kali ini dilaksanakan di Hotel Grand Jaya Raya, Ciawi, Bogor, tanggal 21-23 Mei 2010.

pada hakikatnya adalah mengikuti sunah Rasulullah, bukan sekedar mengikuti SOP perusahaan. Materi terakhir, in class, adalah mengenai bagaimana membangun kualitas keagamaan peserta. Materi ini dibawakan oleh Ust. Acep Lu'Lu Iddin (Ketua Dewan Pembina Rumah Zakat). Dalam penyampaiannya, Ust Acep mengajak para peserta untuk mengosongkan diri. Dalam pengertian meletakkan diri sebagai manusia biasa dan melepas segala atribut keduniaan yang disandang. Sebab terkadang sisi-sisi jasmaniah manusia ini terlalu di prioritaskan, sehingga sisi-sisi ruhani dan spiritualitas manusia tertutup. Padahal manusia harus mengembangkan kedua unsur itu, baik Jasmani maupun ruhani secara seimbang, guna membangun jati diri menjadi insan kamil, atau manusia seutuhnya. Dengan metode membangun jiwa spiritualitas yang pada hakikatnya ada pada setiap manusia. Maka diharapkan tidak akan pernah ada rasa putus asa, ataupun sebaliknya menjadi takabur atas segala prestasi ataupun musibah yang menimpa. Sehingga yang ada adalah pikiran positif dan selalu berbuat untuk mengabdi hanya kepada illahi. Menjelang subuh, sesi shalat malam diadakan, sebagaimana yang di firmankan Allah

dalam Qur'an Surat Al-Israa:79 “Dan, pada sebahagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.� Dalam banyak Hadits Rasulullah Saw diceritakan bila mengerjakan qiyaamullail (salat malam), beliau melamakan berdiri – dan ini adalah sunah – dan begitulah para sahabat melakukannya hingga mereka bersandar kepada tongkat akibat lamanya berdiri. Para peserta diajak untuk shalat tahajud berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan tilawah Al-Quran berkelompok dengan bimbingan mentor masing-masing Puncak dari acara ini adalah materi MUHASABAH atau sesi renungan. Pada malam itu, para peserta diingatkan kembali akan tugas mulia dan utamanya sebagai khalifah. Sebuah tugas mulia yang bahkan malaikat pun tidak mampu melaksanakannya. Disadarkan pula tentang bagaimana tujuan lahir dari semua hal yang kita lakukan adalah menuju pertanggungjawaban agung di hadapan Allah kelak di hari kiamat. Sehingga tidak ada kebaikan yang sia-sia dan tidak akan ada dosa yang tak terbalas. Peserta diajak untuk menuliskan komitmen spiritual dan membacakannya. Suasana haru dan tangis dirasakan seluruh

Semua peserta ini merupakan staf atau officer dari kantor pusat dan beberapa cabang di daerah Jabodetabek dan Semarang, antara lain: KP Divisi SKAI, KP Divisi Int'l Banking, KP Divisi Bisnis, KP Divisi Sistem, Treasury, KC Ampera, KC The Energy, KC Bogor, KC Semarang, KC Surabaya, KCP Bulungan, KCP Tangerang, KCP Bidakara, dan KCP Serang.***

Ust. Abu Syauqi, sedang memeberikan materi menegai etos kerja islami Ust. Acep Lu'lu Iddin, menyampaikan materi tentang bagaimana membangun kualitas keagamaan Dedi Achmad Santika, memberikan materi mengenai bagaimana mengembangkan citra diri positif

Kegiatan outbond

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 19


GERAK

Managing Today For Leading Tomorrow! Untuk mempersiapkan jajaran manajer yang solid, berdedikasi, juga untuk menyatukan visi dan misi lembaga, PT Citra Niaga Abadi beserta anak perusahaannya menggandeng PT Talenta Insan Gemilang untuk mengadakan Manager Developing Program (MDP) yang dipusatkan di Bandung. Sebanyak 27 peserta calon manajer dari anak perusahaan CNA Group memulai pelatihan dengan melepas semua atribut kelembagaan dan kepangkatan, dan berganti dengan atribut pelatihan. Hal ini sengaja dibuat untuk memberikan kesan yang sama terhadap semua calon manajer meskipun dari entitas bisnis yang berbeda. Acara kemudian berlanjut dengan sesi “Kontrak Belajar”. Tidak seperti kontrak belajar pada umumnya, pada MDP 2010 ini diberlakukan sistem penilaian atau scoring 20

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

terhadap seluruh aktivitas dan performa peserta dan diawasi langsung oleh mentor. Tutik Ratnaningsih selaku koordinator menjelaskan bahwa aspek penilaian meliputi kehadiran, amal harian, penampilan, dan sikap. Diharapkan dengan cara seperti ini, peserta belajar terbiasa memiliki target, mengelola, dan senantiasa mengevaluasi dirinya setiap hari.

kegiatan in class

war games

Keseruan MDP 2010 ini dimulai dengan sesi “Imperial Journey”. Peserta ditantang untuk “berkelana” ke lembaga dan perusahaan di dalam imperium PT Citra Niaga Abadi. Miftah Salahudin selaku ketua panitia memberikan tantangan kepada para peserta untuk melakukan kajian sederhana tentang lembaga dan aspek-aspek manajerial dan menuangkannya dalam laporan tertulis dan presentasi. Yang lebih seru, semua peserta diharuskan menyerahkan alat komunikasi


GERAK dan alat pembayaran masing-masing untuk diganti dengan uang saku sebesar lima belas ribu rupiah. Maka, berhamburanlah para pejuang peradaban Islam ini menuju lembaga yang akan mereka kaji. Mulai dari PT CNA, Rumah Zakat, PT Agro Niaga Abadi, Rumah Wakaf Indonesia, Rumah Sehat Indonesia, Rumah Mandiri Indonesia, Rumah Juara Indonesia, PT Citra Niaga Teknologi, dan koperasi syariah Mozaik tak luput dari kunjungan para peserta. Meski ada yang berjalan kaki cukup jauh, tanpa kenal lelah peserta menuangkan hasil kajiannya ke dalam lembaran kertas yang diberikan panitia. Semuanya harus terkumpul sebelum pukul 16.00 pada sesi pertama In Class Training (ICT). Materi in class diisi dengan cukup beragam. Dimulai dengan penguatan misi spiritual oleh Ust Shobirin yang menggagas tema “Road To Heaven”. Dilanjutkan dengan materi “Effective Communication” dan “Effective Leadership” yang masingmasing disampaikan oleh Bapak Dedy Achmad Santika dan Bapak Rachmat Arie Kusumanto, CEO Rumaha Zakat. Ada yang luar biasa di sesi ini. Pemateri ingin membuktikan langsung kekuatan pikiran bisa membuat orang melakukan hal luar biasa. Peserta diajak untuk berlari di tengah terik panas matahari melalui jalanan aspal yang cukup terjal. Walhasil, peserta tercengang sendiri dengan kemampuan dirinya. Sampai ada yang push the limit dan tak mampu lagi kembali ke kelas, sehingga harus dievakuasi dengan mobil. Tak salah, sesi ini adalah salah satu sesi yang sangat berkesan bagi para peserta. Sedikit keluar dari dunia leadership. Para peserta diajak untuk beralih sejenak mempelajari tentang Graphology. Dicky Fria Senjaya, trainer TIG berbagi tentang ilmu membaca karakter manusia dari tulisan

tangannya. Meski oleh penggagasnya sendiri graphology disebut pseudo science alias setengah “ilmu kebatinan”, namun peserta cukup antusias ditunjukan dengan banyaknya pertanyaan. Pada sesi ICT malam, panitia sengaja menghadirkan Bapak Acep Lu'lu'Iddin dari dewan pembina grup Rumah Zakat untuk memberikan taujih berjudul “Rebuild Islamic Emporium”. Dari namanya dapat ditebak bahwa sesi ini mengajak peserta melihat dan mengingat kembali visi besar lembaga yang bukan sekadar menyediakan lapangan kerja dan mendapat profit, namun juga bercita-cita membangun peradaban Islam yang didambakan kaum muslimin seluruh dunia. Hari selanjutnya diawali dengan “Daily Declaration”, berupa tekad peserta mencapai target hari itu. Peserta langsung disuguhi materi “Finance Management for Non-Finance Manager” dari Bapak Herry Hermawan, direktur Mozaik. Materi disampaikan dengan presentasi dan simulasi serta studi kasus. Dengan demikian, diharapkan peserta yang sebagian besar tidak memilki latar belakang pendidikan keuangan mampu memahami laporan keuangan serta mengimplementasikan prinsip dasar manajemen keuangan yang baik dalam perencanaan. Selepas dzuhur, lalu istirahat dan makan siang, peserta langsung disuguhi pencerahan “Business Presentation Skill”. Bapak Gilang Mahesa, direktur PT Citra Niaga Teknologi, menjadi pembicara dalam sesi ini. Selama dua jam, peserta disuguhi tips dan trik dalam melakukan presentasi bisnis diselingi cerita dari pengalaman langsung di lapangan dari pemateri.Peserta langsung ditantang dengan praktik. Dengan dibentuk kelompok, peserta diminta melakukan perancangan produk inovatif

yang bisa mereka jual. Kemudian, mereka diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil rancangannya di hadapan semua peserta lain. Agenda ini terasa begitu cepat hingga sampailah di ujung acara sebelum maghrib. Materi softskill lain yang tak kalah seru mendpat perhatian dari peserta adalah mengenai “HR Management” yang dismapaikan oleh Alfath, GM PT TIG, dan juga Basic Managerial Skill oleh Direktur PT Agro Niaga Abadi (PT ANA), Virda Dimas Ekaputra. Di penghujung pelatihan, para calon manajer ini disuguhi tantangan terakhir dan mungkin terberat. Yaitu simulasi WAR GAME. Diawali dengan penjelasan tentang prosedur penggunaan air soft gun dan teknik tempur dasar, peserta dibagi ke dalam dua kelompok besar. Tugas mereka adalah membebaskan sandera! Dengan data yang minim tentang kondisi sandera dan medan tempur yang cukup berat, tantangan itu berhasil membuat peserta tercekam. Berbeda dengan simulasi tempur yang sering dimainkan, pada kali ini aspek manajemen dan team building yang lebih ditonjolkan. Mulai dari pemilihan group leader, sampai pada pemilihan strategi dan logistik cukup membuat peserta memutar otak. Ditambah dengan adanya marshall court yang merupakan forum pengujian konsep memenangkan pertempuran dari peserta. Akhirnya, pelatihan ini ditutup dengan perenungan. Mata para peserta ditutup dan kemudian diingatkan kembali akan misi suci mereka sebagai pemimpin dan beratnya amanah yang mereka pikul. Sehingga tak terasa , air mata mereka meleleh karena terharu. Di puncak acara, para peserta bersama meneriakkan pekik dan tekad: Managing today for leading tomorrow!***

perpisahan dan ramah tamah

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 21


ADVERTORIAL

Mengembalikan Manusia Kepada Fitrahnya

M

anusia merupakan salah satu makhluk yang disempurnakan penciptaannya. Lahir, tumbuh, dan besar selaras dan sesuai dengan fitrahnya, yaitu hidup dalam dimensi jasmani dan ruhani. Keseimbangan dalam pengembangan dua aspek di atas diharapkan bisa membentuk karakter manusia Indonesia seutuhnya. Dalam perkembangan dunia kerja saat ini, ketika situasi kerja semakin kompetitif dan karyawan dituntut untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas setiap hari, secara tidak langsung telah menggeser gaya kerja manusia menjadi lebih berorientasi kepada target dan pendapatan riil semata. Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, efek jangka panjang dari hal ini adalah ketika pola pikir kita pada akhirnya harus terkotak pada ukuranukuran jasmani semata. Sehingga keberhasilan diukur dari bertambahnya kepuasan jasmani, dan sebaliknya kegagalan terasa ketika kepuasan jasmani gagal dipenuhi. Perubahan pola pikir ini berakibat kepada orientasi kerja hanya pada urusan keduniaan semata. Yang bersumber dari materi dan mengabaikan unsur ruhani yang juga merupakan unsur pembangun karakter manusia seutuhanya. Imbasnya, banyak orang yang justru kehilangan jiwa sosialnya. Merasa terasing dan hidup sendiri di tengah kumpulan orang di sekitarnya. Secara materi seseorang bisa jadi berkecukupan. Tapi jamak kita temui pula, orang yang bergelimang materi justru jauh dari nuansa kebahagiaan. Bahkan tak jarang berakhir kepada sikap keputusasaan, sehingga mengakhiri hidupnya sendiri di tengah pusaran materi yang melingkupinya. Filsuf Yunani, Plato, menyatakan bahwa ketika seseorang merasa gagal menemukan kebahagiaan adalah disebabkan karena dia gagal mengenali dirinya. Karena ukuran-ukuran kebahagiaan yang ingin dicapainya tidak berkesesuaian dengan kodratnya sebagai manusia yang hidup dalam dua dimensi yang selaras dan sebangun, yaitu dimensi jasmani dan ruhani. Menitikberatkan hanya pada satu sisi saja akan membuat ketidakseimbangan yang berakhir pada kegagalan manusia menemukan kebahagiaan yang sebenarnya sudah dia peroleh. Untuk itulah, guna menyeimbangkan dua hal itu, potensi kecerdasan spiritual tersebut perlu digali dan dikembangkan, sebagaimana potensi 22

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010

intelektual dan jasmani juga dengan optimal dikuatkan. Banyak sudah perusahaan yang memasukkan spiritual training dalam program pengembangan karyawannya. Seiring kesadaran untuk membangun karakteristik karyawannya menjadi lebih humanis, produktif, dan sekaligus religius. Sehingga output yang diharapkan adalah nuansa kerja yang aktif, dinamis, egaliter, jujur, penuh dengan semangat kerja sama, saling membantu, dan bertanggung jawab. Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan sebelum melaksanakan spiritual training. Di antaranya adalah aspek psikologis para peserta spiritual itu sendiri. Sebab tujuan pelatihan ini adalah menyalakan kembali nilai spiritual yang secara fitrah sudah ada dalam diri setiap manusia. Jangan sampai justru nyala spiritual itu justru padam, misalnya karena peserta pelatihan merasa malu belum bisa melakukan beberapa ritual ibadah. Maka lihat dan telitilah program sipiritual training yang ditawarkan lembaga

training kepada Anda. Apakah programprogram pelatihannya mampu memberikan bimbingan spiritual atau malah sebaliknya. Selanjutnya, training spiritual haruslah memberikan gambaran jelas mengenai impact yang bisa didapatkan peserta bagi kehidupan pribadinya maupun kariernya. Training spiritual seharusnya bisa menempatkan nilai-nilai agama sebagai sebuah gaya hidup yang mendukung dan mengembangkan kehidupannya di dunia dan akhirat kelak. Bukan sebagai sebuah ajaran yang terpisah, sehingga mengesankan bahwa agama hanyalah urusan tempat ibadah, doa, dan membaca kitab suci saja. Maka perlu diperhatikan juga adanya materi pelatihan yang memberikan gambaran itu. Bahwa kesuksesan di tempat kerja berbanding lurus dengan kesuksesan nilai spiritual kita. Menghadirkan pembicara/trainer langsung dari tokoh agama yang sukses dan dunia bisnis maupun kehidupannya adalah salah satu hal yang bisa dilakukan untuk memberikan gambaran tersebut. Sehingga para peserta pelatihan meyakini bahwa agama tidaklah bertolak belakang dengan produktifitas dan kesuksesan yang akan diraihnya. Tuhan telah memberikan empat anugerah terindah kepada kita sebagai bekal hidup dan mengembangkan diri kita sebagai wakil-Nya di bumi. Keempat anugerah itu adalah: naluri, indera, akal, dan agama. Tugas kita adalah mensyukuri semua anugerah itu dengan mengoptimalkan penggunaanya, untuk mendukung semua tugas kita, sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Selamat mengikuti training spiritual.*** Disampaikan oleh:

TRAINING & DEVELOPMENT

Ketika seseorang merasa gagal menemukan kebahagiaan adalah disebabkan karena dia gagal mengenali dirinya. Karena ukuranukuran kebahagiaan yang ingin dicapainya tidak berkesesuaian dengan kodratnya sebagai manusia yang hidup dalam dua dimensi yang selaras dan sebangun, yaitu dimensi jasmani dan ruhani.


OASIS

DALAM sebuah perjalanan Pasuruan-Probolinggo-Jember, berkali-kali bus yang saya tumpangi dihentikan oleh masyarakat. Dengan dialek Madura yang kental mereka meminta dana pembangunan masjid. Lalu setiap kali berhenti saya mencoba menghitung. Subhanallah, sekitar 67 masjid sedang dibangun. photo: www.timesonline.typepad.com

Membangun Masjid

L

uar biasa. Tapi dengan cara-cara mereka mencari sumbangan itu jujur saya terganggu. Meskipun mereka mengembel-embelinya dengan kata seikhlasnya. Plus dalil Allah akan membangunkan rumah di surga buat siapa saja yang membangun masjid di dunia. Saya tahu dan mengamininya, tapi tetap saja merasa terganggu dengan cara-cara itu. Juga, muncul pertanyaan seberapa efektifkah pembangunan masjid-masjid itu untuk umat? Seberapa banyak jamaah yang hadir di sana? Mengapa sih mereka memaksa untuk “mufaroqoh” dari masjid lama dan ngotot membangun yang baru? Pikiran saya kemudian terbang ke kampung halaman di Ponorogo. Di sana, sebuah ormas Islam memiliki unit pengembangan ekonomi. Awalnya mereka mendirikan unit layanan kesehatan dan pendidikan. Kemudian, sejak tahun 1990-an mengembangkan sayap ekonominya dengan membuka sebuah BPR konvensional. Modal awalnya 500 jutaan. Didapat dari penawaran saham anggota. Sebuah cara penggalangan dana yang unik untuk masa itu oleh sebuah ormas Islam.

Tapi hal ini memang dilakukan untuk menjaga profesionalisme. Dari mulai membangun kantor kecil di pinggiran kota Ponorogo, BPR itu terus bergerak dan menyebar. Berkembang di hampir setiap kecamatan di kabupaten Ponorogo. Modalnya? Tentu saja selain menyertakan modal dari kantor lama juga kembali dari saham anggota ormas. Dengan profesionalisme dadakan dalam lingkup lokal, ternyata BPR itu kini memiliki aset hampir Rp 50 miliar. Untuk ukuran BPR di sebuah kota kecil ini luar biasa. Bisa Anda bayangkan berapa deviden yang diterima para pemegang sahamnya sekarang? Ormas itu lalu melebarkan lagi bisnisnya. Melihat ritel-ritel nasional mulai masuk Ponorogo, majlis ekonomi ormas itu berikhtiar membuat toko swalayan. Namanya Suryamart. Kembali penggalangan dana dilakukan dengan cara menawarkan saham. Punya pengalaman sukses mengembangkan BPR, kali ini penggalangan dana lebih mudah. Dengan penanganan yang amanah, dalam sepuluh tahun sudah ada lima belas cabang

toko swalayan di setiap kecamatan. Saat ini, Suryamart berhasil menguasai empat puluh persen pusat perkulakan barang di Ponorogo. Lebih lanjut dalam perkembangannya ormas itu membangun jaringan informasi berupa stasiun radio lokal. Lewat radio mereka menyuarakan dakwah dan sekaligus memasarkan unit usahanya. Tidak mau uangnya menguap begitu saja, keuangan dari semua unit bisnis diinvestasikan di BPR. Timbal baliknya, BPR mengeluarkan semacam kartu debet yang bisa digunakan untuk berbelanja di Suryamart, juga untuk berobat di RSI yang mereka kelola. Sebuah upaya pengamanan aset dan loyalitas pelanggan yang jitu. Dari pengoptimalan dana umat itu juga mereka bisa terus membiayai puluhan lembaga pendidikan. Dan, mereka membangun masjid. Ya, saya ingat masjid itu megah. Lengkap dengan sarana perpustakaan pula. Masjid itu pun makmur oleh jamaah. Mereka membangunnya tanpa harus “mengemis” di pinggir jalan, mencegat kendaraan-kendaraan lewat. Saya teringat kata-kata Emha Ainun Najib, “Saya benci pengemis dan peminta-minta itu. Karena gara-gara dia, saya memberi sedekah karena kasihan, bukan karena Allah” Wallahu'alam.***

TALENTA Edisi 01 Tahun I - Juli 2010 23


Insan Gemilang SPIRITUAL BUILDING

MENGAPA PELATIHAN INI PENTING? Peningkatan kompetensi SDM harus diikuti dengan peningkatan spiritualnya sehingga akan memunculkan pribadi-pribadi yang memiliki mental pejuang dan bekerja tidak hanya untuk materi semata, namun mereka akan bekerja untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, melayani sesama, mengaktualisasikan diri serta berkomitmen terhadap profesionalisme. Spiritual Building & High Motivation Training adalah pelatihan yang dikemas sedemikian rupa sehingga pada tujuan akhirnya adalah mencetak sumber daya manusia yang berkualitas secara duniawi dan akhirat. Pelatihan ini menitikberatkan pada bagaimana karyawan itu sebaik-baiknya menjalankan pekerjaannya dan amalan ibadahnya.

MATERI APA SAJA YANG AKAN DIDAPATKAN PESERTA? 1. Pemahaman mengenai Citra Diri dan Kesalehan Professional 2. Pemahaman mengenai Ethos Kerja Islami 3. Pemahaman mengenai spiritual Building 4. Pemahaman mengenai Team Work / Team Building 5. Pemahaman mengenai Achievement Orientation 6. Pemahaman mengenai Professional Attitude

DURASI DAN PESERTA Durasi : 3 (tiga) hari Peserta : Supervisor dan karyawan baru, maksimal 30 orang peserta

METODE PELATIHAN 1. 2. 3. 4.

Presentasi Role Play Studi Kasus Tilawah & Muhasabah

5. Qiyamullail 6. Kuliah Shubuh 7. Outbound

FASILITATOR

DENI TRIESNAHADI (ABU SYAUQI) – Komisaris PT Citra Niaga Abadi, – Founder Rumah Zakat – Trainer yang berpengalaman

DEDI ACHMAD SANTIKA, MM – Direktur Utama PT Talenta Insan Gemilang, – Trainer, Motivator, & Konsultan

ACEP LU’LU’IDDIN Ketua Dewan Pembina Rumah Zakat


Untuk informasi lebih lanjut hubungi: PT TALENTA INSAN GEMILANG CNA Building 3rd Floor Jl. Gatot Subroto No. 71 A Bandung Telp. : 022-87340270, Fax. : 022-87340271 e-mail : insan.gemilang@ymail.com atau TH Rustaman, Telp. 081.3210.11.812 / 022-70021102


PT. Bank Perkreditan Rakyat

PT. BPR DUTA PASUNDAN

BUMI BANDUNG KENCANA

BANK PERKREDITAN RAKYAT

Jl. Melong Asih 30 Cijerah, Cimahi Telp. (022) 6016018 Fax. (022) 6031054

Jl. Koposayati No. 258A Bandung Telp. (022) 5402140/5410733; Fax. (022) 5402140

S O L U S I

U T A M A

www.niagateknologi.net


majalah talenta