Page 1

TOPIK UTAMA

LEADERSHIP EDISI 2 TAHUN I - 2010

Sebuah Teori Kepemimpinan , Bukan Penguasaan

Interview with: DENI TRIESNAHADI

PEMIMPIN YANG MENDENGARKAN

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  1


2  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010


DARI REDAKSI

Dua Mata Pedang Assalamualaikum Wr Wb. LEADERSHIP, sebuah tema besar yang tak pernah henti diperbincangkan. Kepemimpinan yang pada hakekatnya adalah sebuah karakter individual dan bukan sekedar identitas kekuasaan semata. Bahwa Leadership adalah sebuah komitmen pertangggung jawaban. Semua teori kepemimpinan yang ditulis dan dibukukan serta diajarkan dari zaman ke zaman pada akhirnya bermuara pada satu kesepakatan bahwa LEADERSHIP adalah seni membangun kepercayaan dan komitmen. Adalah sebuah kenyataan bahwa bangsa ini pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan. Jaman Sriwijaya, Samudra Pasai, Majapahit, Kerajaan Demak adalah contoh nyata pola kepemimpinan yang beraneka ragam. Kalau mau ditarik jauh ke belakang lagi. Maka kita akan kembali menjumpai prestasi besar para pemimpin-pemimpin Muslim — sebagai umat terbesar di Negeri ini — yang begitu lihai memainkan peranannya dalam memajukan peradaban dunia pada masanya. Kesemuanya tak lepas dari kemampuan mengakomodasi berbagai kepentingan dan meramunya sebagai sebuah kekuatan yang dahsyat demi tercapainya tujuan. Dan muara dari karakteristik kepemimpinan ini adalah sikap bertanggung jawab. Pemimpin harus selalu punya ide, merancang program, implementasi dan pangawasan, serta evaluasi pertanggung jawaban. Sikap terakhir inilah yang seharusnya membawa seorang pemimpin kepada sebuah kesadaran hakiki, bahwa jabatan dan kekuasaan yang saat ini dia emban adalah mekanisme total dari sebuah kepercayaan yang bisa menjadi pedang bermata dua. Kalau dia berhasil menjalankannya, maka tentu orang percaya kepada dia untuk memberikan amanah yang lebih. Tetapi kalau salah memainkan “mata pedangnya” maka bisa jadi orang tak lagi percaya menyerahkan hal yang sama, atau bahkan hal yang lebih sederhana dari itu. Maka benarlah apa yang disampaikan Rasulullah, bahwa “Barang siapa menyerahkan suatu amanah kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat datangnya kehancuran”. Ibarat memberikan pisau kepada anak kecil yang memintanya sambil menangis. Bukan masalah kita mampu memberi pisau itu tidak, tapi adalah betapa kita tahu bahwa pisau itu akan membahayakan diri anak itu, bahkan orang lain. Maka sungguh, ketika kita memilih pemimpin, atau diberikan amanah sebagai pimpinan, elok rasanya kita memandang, bahwa kita tengah membawa sebuah pedang yang tajam. Semoga kita bisa menjadi kesatria sejati dengan pedang itu, dan bukan malah menjadi pecundang. Wassalamualaikum Wr Wb SELAMAT MEMBACA!

Dedi A Santika Pimpinan Redaksi

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  1


contents EDISI 2 TAHUN I - 2010

04

Mau Memimpin & Siap Dipimpin

12

Pemimpin yang Mendengarkan

08 The greatest leader ever 16 Perjalanan ke dalam 18 Menjadi pemimpin sejati 20 Skill, modal survive dalam hidup

32 Sunan Giri menyeberang sungai

22 Denyut spiritual Antara lembang dan bogor 26 Stress management

06

Menjadi Pemimpin “Tingkat Kelima”, Pemimpin Yang Membumi

30 Nothing is as fast as the speed of trust

Penangung Jawab Dewan Komisaris PT CNA, Direksi PT CNA Pemipimpin Redaksi Dedi A Santika Wakil Pemimpi Redaksi Alfath Redaktur Pelaksana Harian Rachmatullah Oky Redaktur Pelaksana Wildan Nugraha Staf Redaksi Tutiek, Dicky Fria Senjaya, Murni Alit Baginda, Tita, Yeti Hertati, Miftah, Bambang Suratno, Desain & Artwork Deden Mulyana, Usmanthea, Marketing & Distribusi Heru Herdiana Advertising & Marketing (022) 92964034 - 0857 599 15665 Bank Mega Syariah No Rek 2001312101 An. Talenta Insan Gemilang Penerbit PT Talenta Insan Gemilang Cna Building 3rd Floor Jl. Gatot Soebroto No. 71A Bandung Telp. (022) 8734 0270 Ext. 107, Fax. (022) 8734 0271, Email: insan.gemilang@ymail.com Percetakan PT. Tritunggal Abadi Sejahtera (Isi Diluar Tanggung Jawab Percetakan)

2  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010


TOPIK UTAMA

Pemimpin Kepemimpinan adalah soal paradigma dan sekaligus sebuah praktik. Menentukan tujuan dan berjuang meraihnya adalah kerja kepemimpinan. Segenap modalitas menunggu untuk disibak, digali, dan dioptimalkan dalam sebuah tatanan yang harmonis dan gerak yang dinamis. Tidak lain, kepemimpinan adalah proses menemukan diri. Baik itu diri individu, organisasi, atau perusahaan. Sebagai sebuah nilai, kepemimpinan dipegang bukan hanya oleh pimpinan pucuk, tetapi oleh semua. Sebagai paradigma dan sekaligus praktik, kepemimpinan adalah sebuah kesadaran kolektif — kesadaran struktural milik bersama pada sebuah tatanan yang hidup. Pada sebuah tatanan yang senantiasa berproses menjadi matang.***

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  3


TOPIK UTAMA

Rachmatullah Oky Redaktur Pelaksana Harian

Mau Memimpin & Siap Dipimpin Pernahkah anda membayangkan jika ada seorang jenderal bintang empat tiba-tiba diturunkan pangkatnya dan posisinya diganti oleh bawahannya? Barangkali agak sedikit susah bagi kita untuk membayangkan hal itu. Karena selain adat ketimuran kita tidak “mengijinkan” hal itu, hirarki militer — paling tidak sejauh ini — tidak mengenalnya.

S

ejarah pernah mencatat peristiwa langka itu. Pasca Rasullullah Muhammad, kepemimpinan Islam silih berganti dipegang oleh para sahabat. Peristiwa itu terjadi ketika Islam dipimpin oleh khalifah Syaidina Umar bin Khattab. Kala itu, Syaidina Umar bin Khattab memiliki panglima perang yang sangat terkenal, yakni Khalid bin Walid. Khalid bin Walid adalah salah satu pejuang Islam yang sangat piawai memimpin perang, baik pada zaman Rasulullah Saw pada zaman kepemimpinan Umar. Saking piawainya, 4  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

dia juluki “Pedang Rasulullah”. Suatu ketika, Syaidina Umar memerintahkan pasukannya untuk bertempur di medan perang. Namun, pada saat itu, Syaidina Umar justru membuat keputusan sangat tegas, yakni mencopot jabatan Khalid bin Walid sebagai pemimpin panglima perang sekaligus tidak memerintahkan beliau terlibat dalam pertempuran tersebut. Umar menggantikannya dengan panglima baru. Tentu, keputusan tersebut membuat semua prajurit dan seluruh elemen kekuasaan Umar bin Khattab kaget. Namun, apa yang

terjadi? Khalid bin Walid, walaupun sangat terkejut, menerima dengan ikhlas keputusan itu. Hanya, ia meminta kepada Umar agar tetap diperkenankan berangkat ke medan perang. Ketika pasukannya bertanya mengapa dia menerima perintah Umar begitu saja, Khalid bin Walid hanya berucap bahwa ia berjuang bukan untuk kekuasaan Umar, tetapi untuk dinul Islam — agama yang sangat dia cintai hingga kapan pun. Alkisah, perang tersebut berhasil dimenangkan oleh pasukan Umar bin Khattab. Khalid bin Walid kemudian


TOPIK UTAMA mendatangi lagi Umar untuk meminta klarifikasi mengapa dia dicopot jabatannya sebagai pemimpin perang. Dalam klari­ fikasinya, Umar pun mengemukakan tiga alasan mengapa memberhentkan Khalid. Dalam sebuah tulisannya, Andi Trinanada mengemukakan tiga alasan yang dike­ mukakan Umar itu. Pertama, Umar tidak ingin Khalid menjadi manusia yang sombong. Kedua, Umar tidak ingin pemimpin tidak lebih popular ketimbang bawahannya. Dalam konteks ini, tentang popularitas Umar sebagai khalifah berhadapan dengan popularitas Khalid sebagai pembantu Umar.

di hadapan para pejuang Islam sangat prestisius. Jika hal tersebut dibiarkan terlalu lama, Umar khawatir Khalid akan terjerumus pada suatu sikap arogan dan memaksakan kehendak. Ini bukan tidak mungkin terjadi pada sang “Pedang Rasul” mengingat prestasi dan pengalamannya pasti memberikan reward tertentu dari publik baginya secara politik dan sosiologis. Peristiwa Umar dan Khalid itu merupakan sebuah fragmen yang indah dalam reso­ nansi sejarah umat manusia. Dalam hal ini, Islam memandang dan mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah jabatan atau posisi yang harus diperebutkan. Tapi, kepemimpinan adalah sebuah sikap dan perilaku. Sebagaimana kisah tersebut, Khalid memang kehilangan jabatannya, tapi dia tidak pernah kehilangan kepemim­ pinannya. Oleh sebab itulah dia tidak mengurangi tanggung jawab dan

anak-anaknya, atasan pada bawahannya, presiden pada rakyatnya, officer pada tugas-tugasnya, pembantu pada semua kewajibannya; semua kepemimpinan berkaitan dengan pertanggung jawaban. Oleh karenanya, leadership adalah kemam­puan untuk bertanggung jawab. Kemampuan itu meliputi niat yang tulus dan benar, orientasi yang terarah, perencanaan yang matang, dan kesiapan mental untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari tim. Karena berani bertanggung jawab adalah pula menyanggupi atau siap menanggung segala akibat dan risikonya. Hal ini, tentu saja, sebanding dengan kesiapan menangguk keuntungan/kesuksesan dari setiap pekerjaan.

Ketiga, beliau tidak ingin melihat seluruh prajurit mengkultuskan Khalid. Sebab, bila hal ini terjadi, kemusyrikan dapat tumbuh dengan subur. Ketiga alasan Dalam bahasa Al-Quran, pemimpin disebut yang dikemukakan oleh Umar diterima juga dengan khalifah, yang secara harfiah tanpa reserve oleh berarti penengah Khalid sebagai suatu atau pengadil keputusan yang perselisihan. Dari “menyelamatkan”. kata tersebut, Islam memandang dan mengajarkan bahwa terdapat isyarat kepemimpinan bukanlah sebuah jabatan atau posisi Tentang pencopotan bahwa dalam dirinya sebagai kehidupan yang harus diperebutkan. Tapi, kepemimpinan adalah bermasyarakat panglima perang dengan mendadak itu, dan berkelompok sebuah sikap dan perilaku kepada Umar Khalid perselisihan justru berterima kasih. dan perbedaan Khalid menerima pandangan memang dengan ikhlas keputusan tersebut, malah loyalitasnya kepada khalifah sebagai merupakan sebuah keniscayaan. Tugas dan tetap berikhtiar untuk dapat bergabung pemimpinan tertinggi. tanggung jawab seorang khalifah adalah meski sebagai prajurit di bawah pemimpin menjadi komposer dari segala perbedaan perang baru pilihan Umar. Sebuah hadits riwayat Bukhari dan itu sehingga menjadi sebuah harmoni Muslim, “Setiap kalian adalah pemimpin yang indah. Semakin beragam perbedaan Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa (ro’i), dan setiap kalian akan dimintai yang mampu “diracik” menjadi sebuah tersebut adalah: pertama, sikap acceptance pertanggung jawabannya. Seorang imam simfoni, semakin terbentuklah karakteristik (keberterimaan) dan interest (minat positif) adalah pemimpin (ro’i), dan akan dimintai leadership pada pribadi seseorang. Khalid terhadap Umar yang dapat menjadi pertanggung jawabannya. Seorang refleksi untuk kita semua. Kedua, sikap suami (rojul) adalah pemimpin terhadap Maka, di sinilah diperlukan kerendahan Khalid bin Walid yang menerima keputusan keluarganya, dan akan dimintai pertanggung hati untuk meletakkan diri sebagai tersebut, namun dengan tetap menyimpan jawabannya. Seorang istri adalah pemimpin bagian dari komposisi indah itu. Seorang haknya untuk mempertanyakan alasan dalam rumah suaminya, dan akan dimintai pemimpin adalah perpaduan karakteristik keputusan Syaidina Umar pada waktu pertanggung jawabannya. Seorang dari kebijaksanaan dan kesabaran seorang dan tempat yang tepat. Ketiga, menerima pembantu (khadim) adalah pemimpin guru, ketegasan dan pertanggung jawaban alasan yang dikemukakan oleh Syaidina terhadap harta majikan­nya, dan akan seorang mandor, sekaligus keceriaan Umar sebagai sesuatu yang memberikan dimintai pertanggung jawabannya. Setiap dan kecerdasan seorang pemandu sorak. kemaslahatan bagi umat. kalian adalah pemim­pin dan akan dimintai Sebagaimana yang bisa kita ambil dari pertanggung jawabannya.” pesan Rasulullah, bahwa kesatuan sebuah Khalid bin Walid menyadari bahwa Umar sistem manajemen adalah laksana sebuah mengemban amanah yang jauh lebih Tersirat dari sabda Rasulullah tersebut, bangunan yang kokoh. Maka, dibutuhkan berat ketimbang dirinya. Dan, terhadap bahwa kepemimpinan adalah kata lain dari arsitek ulung yang bisa menyatukan besi setiap keputusan seorang khalifah, Khalid tanggung jawab. Bahwa setiap kita, apapun yang kokoh, pasir dan batu yang kasar, menyadarinya diambil berdasarkan posisi dan jabatannya, pada hakikatnya serta air yang sejuk dalam sebuah maha pertimbangan obyektif. Alasan agar Khalid adalah pemimpin. Disebut pemimpin karya arsiktektur yang indah. Dan semoga tidak menjadi sombong sangat relevan dan karena mempunyai tanggung jawab. arsitek itu adalah kita.*** rasional mengingat kala itu kedudukannya Suami bertanggung jawab pada istri dan   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  5


TOPIK UTAMA

Menjadi Pemimpin “Tingkat Kelima”,

Pemimpin yang Membumi Zaman bergerak cepat. Sekat-sekat negara memudar. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dahyat. Kehidupan sosial dan budaya bertranformasi dengan hebat. Arah semua sektor bisnis berubah-ubah. Di sisi lain, berbagai krisis menghadang. Singkatnya, di zaman gobalisasi ini berbagai peluang dan tantangan datang dan pergi bahkan dalam hitungan detik. Ini membuat para pemimpin, dalam bidang apa pun, harus senantiasa dinamis, sigap menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. Mereka dituntut selalu piawai membaca fenomena yang ada; menjemput segala peluang, mengubah semua tantangan bahkan krisis menjadi sarana untuk terus memajukan organisasi dan perusahaan.

U Sirodj, kru redaksi

ntuk menghadapi gerak cepat zaman inilah diperlukan kecakapan leadership yang mumpuni. Kecakapan leadership yang mampu melahirkan the great leader, pemimpin yang hebat. Karena dengan menjadi baik saja tidaklah cukup. Good is never good enough,begitu kata Jim Collins dalam bukunya Good to Great. Begitulah, dalam konteks kepemimpinan, yang harus tampil bukan sekadar pemimpin yang baik, tapi pemimpin yang hebat! “Efisiensi adalah mengerjakan sesuatu dengan benar. Efektivitas adalah mengerjakan sesuatu yang benar.” Dalam dunia bisnis dan organisasi, kata-kata Peter Drucker itu sepertinya menjadi mantra

6  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

sakti beberapa dekade terakhir ini. Banyak para pemimpin perusahaan dunia dan organisasi internasional menyepakati dan mengaplikasikan kata-kata Drucker. Dalam dunia manajemen, kata-kata itu menjadi semacam aksioma pembangunan paradigma kepemimpinan. Sebagian literatur dengan tegas memisah­ kan pola pikir “efisien” dan “efektif” mengenai peran manajer dan pemimpin. Konon, manajer berpikir to do things right, sedangkan pemimpin berpikir to do the right things. Seorang pemimpin mengerjakan hal-hal yang benar; manajer mengerjakan hal-hal dengan benar. Pengertian dasar tersebut tentu saja dilengkapi dengan berbagai pengertian


TOPIK UTAMA dan perspektif lain tentang manajemen dan kepemimpinan. Semuanya telah diajarkan di berbagai sekolah dan pelatihan bisnis dan kepemimpinan di seluruh dunia. Namun, keduanya merupakan kecakapan manajemen yang menjadi dasar bagi seseorang dalam menjalankan perannya sebagai seorang pemimpin. Kecakapan manajemen adalah bagian dari professional will yang menjadi syarat seorang great leader. Atau dalam model kepemimpinan Collins disebut sebagai pemimpin jenjang kelima. Ia gigih berkerja keras sekaligus cerdas mengatur sumber daya secara efisien. Paradigma serta kemampuan manajemen yang sehat merupakan modal dasar pemimpin sukses. Kemampuan dan paradigma manajemen yang sehat pula yang akan membedakan mana cita-cita dan angan-angan kosong dan lebih jauh mengubah mimpi menjadi visi. Dengan skill dan kemampuan mana­ jemen yang baik, seorang pemimpin akan mampu mengelola kompleksitas yang ada dengan menggunakan perencanaan dan anggaran sebagai tools utama, mengem­ bangkan kapasitas untuk mencapai rencana melalui organizing & staffing, serta mampu memastikan realisasi rencana dengan pengendalian dan pemecahan masalah. Tanpa kemampuan dan pola pikir mana­ jemen yang benar banyak pemimpin tak ubahnya sekadar orator atau trainer. Mereka memang mampu memotivasi dengan katakata menggelegar dan menggugah, namun di lapangan saat menghadapi dunia nyata mereka menemukan jalan buntu. Maka, manajemen yang sehat menjadi tools bagi seorang pemimpin yang akan mengurai visi menjadi suatu roadmap yang jelas menuju tujuan akhir, serta menjadi katalisator dalam mengelaborasi setiap visi menjadi suatu kemampuan eksekusi yang nyata di lapangan. Dalam konteks inilah Peter Drucker berujar, “The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence. It is to act with yesterday’s logic.” Situasi turbulensi, gonjang-ganjing lingkungan yang hebat, menjadi berbahaya bukan semata-mata karena skala goncangan yang ditimbulkannya, melainkan karena kita masih memaksakan diri membaca, memahami, dan kemudian menghadapinya dengan paradigma masa lalu. Tak heran, perspektif manajemen pun kini mulai bergeser dari generasi keempat menuju perspektif manajemen generasi kelima.

Tanpa kemampuan dan pola pikir mana­jemen yang benar banyak pemimpin tak ubahnya sekadar orator atau trainer Perspektif manajemen generasi keempat dikenal dengan istilah manajemen kreativitas nilai (value craetive), yaitu generasi manajemen yang menggunakan target kualitatif serta berorientasi kepada kepuasan pelanggan atau pekerja. Sementara perspektif manajemen generasi kelima dikenal sebagai Knowledge Creating Management. Dalam paradigma tersebut teknologi informasi serta jaringan SDM menjadi tumpuan atau kekuatan dalam merespons perubahan yang ada. Persaingan bisnis dengan menggunakan sumber daya informasi dan teknologi kini tidak dapat dihindari. Inovasi dan pembelajaran pun kini menjadi kosa kata yang begitu akrab di dalam dunia bisnis. Pada Ford Motor Company, misalnya. Ford merayakan hari jadinya ke-107 pada 16 Juni 2010. Ford kini mengaplikasikan sebuah teknologi inovatif yang membuatnya menonjol di antara para pesaing. Perusahaan ini merilis Ford Fusion Hybrid yang terbukti ekonomis dalam hal bahan bakar. Di samping itu, beberapa fitur seperti kunci terkomputerisasi mencegah pengemudi remaja untuk melanggar aturan lalu lintas. Hal ini membuat Ford tampak lebih optimistik dengan lebih banyak mengeluarkan jajaran mobil terbarunya di tahun 2010 saat badai krisis ekonomi menerpa Amerika sejak tahun 2008. Ford pun dikenal mampu bertahan dari beberapa kali hantaman krisis lain semenjak tahun 1921. Misalnya saat peluncuran Model A, kematian Edsel Ford, dan kebangkitan kembali Henry Ford II. Namun, ternyata kompetensi manajemen saja tidaklah cukup bagi seorang pemimpin untuk menjadi the Great leader. Karena kompetensi manajemen saja hanya mengantarkan kita menuju pemimpin jenjang ketiga dalam model kepemimpinan Jim Collins. Berikutnya, diperlukan karakter kuat dan kepribadian yang berkualitas dari seorang pemimpin. Pemimpin jenjang kelima, baik dalam model jenjang kepemimpinan Collins maupun Maxwell, adalah pemimpin yang mempengaruhi dan menggerakkan pengikutnya dengan bermodalkan personhood, kualitas pribadi; sehingga people follow because of who

you are and what you represent. Sang pemimpinlah yang mengarahkan organisasi agar tetap berada pada jalur yang benar. Jika profesionalisme manajemen dianggap sebagai tangga untuk mencapai tujuan, maka kualitas pribadi yang unggullah yang mampu memastikan agar tangga tersebut telah bersandar pada dinding yang tepat. John Maxwell menyebutnya sebagai pemimpin yang menginspirasi. Dalam model kepemimpinan Jim Coliins, pemimpin model tersebut adalah pemimpin yang rendah hati (huminity). Lebih lanjut Jim Collins menggambarkan hal ini sebagai prinsip “first who, then what” yang membedakan seorang great leader, pemimpin jenjang kelima, dengan pemimpin model ”a genius with a thousand helpers”. Faktor personal dengan nilai-nilai kepribadian yang ada di dalamnya lebih penting dibanding kompetensi teknis yang dimiliki. Hal ini akan membuat ia mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Daniel Goleman dalam bukunya The New Leaders menyebut hal ini dengan istilah primal leadership atau kepemimpinan utama. Dengannya, sang pemimpin mampu mengembangkan empati ke seluruh lapisan organisasi dan menumbuhkan kesadaran diri (self awarness), sehingga akan membangun rasa hormat dan percaya (trust and respect) dari para bawahan dan lingkungan sekitarnya. Nabi Muhammad Saw, dengan keluhuran sifat dan karakternya, menjadi contoh the great leader yang mampu menginspirasi jutaan orang di dunia hingga saat ini. Nilai-nilai kejujurannya yang dikenal sebagai alAmin serta berbagai karakter mulia lain yang mengintegral dalam dirinya mampu membuatnya menjadi pemimpin terbesar sepanjang masa di segala bidang: militer, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Kemampuan dan pola pikir manajemen, serta kualitas pribadi sebagai seorang pemimpin, ibarat dua sayap seekor burung. Seperti dikatakan Jim Collins, pemimpin sejati (pemimpin jenjang kelima) memiliki a paradoxal combination antara professional will (ambisi profesional) dengan personal humiliation (kerendahan hati).***   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  7


TOPIK UTAMA

The Greatest Leader Ever Keunikan gaya komunikasi dan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw telah mengantarkan pesan dan makna Islam ke seluruh jazirah Arab dan bahkan hingga ke negara tetangga termasuk ke Asia Tenggara. Menghadapi masa perang atau pun pada kondisi damai, Nabi Muhammad membuktikan diri sebagai expertise dalam teknik berkomunikasi dan memimpin untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada umat manusia.

8  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010


TOPIK UTAMA

menyatakan bahwa tidak ada ruang untuk berpura-pura dalam Islam. Karena, dengan memilih menghindari wanita sama saja menghindari godaan yang tidak mungkin tertahankan oleh laki-laki atas keinginan terhadap lawan jenis. Menikah adalah jalan untuk menghindari perbuatan zina. Hal ini menunjukkan perbedaan antara Nabi Muhammad dengan pemimpin spiritual dan pemimpin sekular lainnya sejak zaman dulu hingga saat ini. Tutik Ratnaningsih Staf Redaksi

P

esan yang Nabi Muhammad sampaikan tentang Islam adalah penghargaan kepada nilai-nilai kebebasan, keadilan, kebersahajaan hidup, pemikiran modern, dan kehormatan. Itu semua dicontohkan melalui perilaku nyata yang indah. Para sahabat berusaha sekuat tenaga meniru perilaku Nabi sampai hal-hal yang detil. Kemampuan dalam memanifestasikan ucapan ke dalam perilaku nyata menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pemimpin agung. Aisyah ra menyatakan bahwa Muhammad Saw adalah Al-Quran berjalan. Nabi Muhammad menggunakan Islam sebagai sarana dalam mengarahkan manusia pada derajat kebaikan universal. Misalnya, beliau mendidik istrinya Aisyah untuk mencintai fakir miskin. Ini juga merupakan didikan secara tidak langsung kepada seluruh umat manusia untuk membagi cinta dan kasih sayang di antara sesama dengan mengesampingkan status ekonomi dan kelas sosial. Dunia saat ini jauh dari nilai kebersahajaan hidup.

Perbedaan kepentingan dan diskriminasi sosial ekonomi telah menciptakan jurang pemisah antarmanusia. Manusia zaman sekarang telah tersekat oleh kelas-kelas. Jika Anda bukan bagian dari kelompok sosial tertentu dan tidak memiliki syarat yang mencukupi (kekayaan, misalnya) untuk bergabung dalam kelompok itu, maka Anda tidak akan dihiraukan. Keadaan ini tentu amat berbeda dengan nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad untuk seluruh manusia. Fondasi kesadaran (awareness) merupakan hal yang menjadi fokus ajaran Nabi Muhammad. Misalnya, saat ada seseorang yang menyatakan ingin masuk Islam dan meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu selama tiga hari, Nabi memberikan waktu selama sebulan. Ini agar keputusannya untuk masuk Islam merupakan buah dari pemikiran yang matang disertai kesadaran penuh.

Nabi Muhammad beberapa dengan pemimpin spiritual lain yang memilih hidup selibat tanpa menikah dan memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Dalam kenyataannya, para pengikut ajaran spiritual tersebut tidak bisa menghindari godaan kenikmatan “tubuh”, dan akhirnya terjatuh dalam godaan syahwat. Sikap hipokrit inilah yang sangat tidak disukai oleh Nabi Muhammad. Pernyataan Nabi Muhammad bahwa beliau juga menikah merupakan advokasi terhadap kebutuhan seks yang menjadi fitrah manusia. Nabi Muhammad mengisyaratkan keadilan bagi seluruh umat manusia. Tanpa keadilan kepada kaum yang lemah dan miskin, dan juga terhadap kaum wanita, maka tidak akan tercapai kedamaian di muka bumi. Anjuran itu termaktub dalam penggalan Surat An-Nisa ayat 135, “… Jika dia (yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kebaikannya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.”

Nabi Muhammad membangun fondasi kesadaran yang utuh dan menghindarkan manusia dari sikap hipokrit ataupun NATO (no action talking only). Pesan ini merupakan bentuk penghargaan terhadap “manner”. Manusia diajarkan oleh Islam untuk konsisten antara ucapan dan perilaku. Ketika ada sahabat yang menyatakan akan menghindari wanita dan akan mencurahkan energinya hanya untuk beribadah, Nabi merespons dengan menyatakan bahwa Nabi pun menikah. Dalam hal ini, Nabi secara tidak langsung

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  9


TOPIK UTAMA Realitas dewasa ini, tidak sedikit orang yang cenderung memuja diri sendiri dan uang sehingga memperjual belikan keadilan dan mengorupsinya. Yang miskin dan lemah menjadi semakin terpinggirkan. Sementara, para pemuja diri dan uang membajak dunia melalui kecanggihan moneter dan politik. Hal ini tentu menyimpang dari pesan Nabi yang menyatakan Allah SWT hanya akan menoleransi keadilan dalam kerajaan-Nya di hari akhir nanti. Pesan Nabi Muhammad tentang surga dan neraka merupakan “awaking call”; yaitu panggilan kesadaran jiwa bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara, dan kelak setiap manusia akan ditempatkan di dalam surga atau neraka sesuai dengan perilakunya di dunia. Ini merupakan ajaran mengenai tanggung jawab. Bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi hukumnya, dan setiap manusia tidak dapat terhindar darinya. Nilai-nilai Kepemimpinan Dalam aspek political leadership, Nabi Muhammad memperlihatkan pengendalian pribadi yang sangat ketat. Hal ini membuat para sahabat amat mencintainya dan para musuh pun menyerah lalu bergabung menjadi pengikutnya. Aisyah menyatakan bahwa saat marah Nabi tidak pernah mengangkat tangan (memukul) pada istri, pelayan, dan para sahabatnya. Beliau hanya mengangkat tangan pada musuh saat perang.

Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Muhamad sedang shalat. Selesai shalat, Nabi menegur dan menyesalkan perbuatan para sahabatnya. Kata beliau, “Ketika keduanya berkata jujur kepada kalian,

“Berapa jumlah mereka?” “Kami tidak tahu.” (Karena pasukan Quraisy berjumlah ribuan, kedua anak remaja itu kesulitan menghitungnya.) “Berapa ekor unta yang disembelih setiap harinya?” “Kadang sembilan ekor, kadang sepuluh ekor.” Mendengar jawaban tersebut, Nabi membuat analisis. Lantas sahut Nabi, “Musuh berjumlah sekitar sembilan ratus sampai seribu orang.” Demikianlah contoh “kecil” kecerdikan Nabi Muhammad Saw dalam menggali informasi dan memperlakukan kedua remaja pesuruh Quraisy yang tertangkap itu. Beliau mengajarkan kepada para sahabat dan — secara tidak langsung — kepada seluruh umat muslim perihal berkomunikasi sesuai dengan situasi yang dihadapi, yaitu, dalam kisah tersebut, berkomunikasi dengan anak remaja sesuai dengan tingkatan akal mereka. Dalam hadist lain yang diriwayatkan Ibnu Asakir dan Ibnu Babawih dari Muawiyah ra, Nabi menyatakan, “Siapa yang memilki anak kecil, maka berinteraksilah bersama mereka sesuai dengan tingkat akalnya.”

Nabi Muhammad membangun fondasi kesadaran yang utuh dan menghindarkan manusia dari sikap hipokrit ataupun NATO (no action talking only)

Ya, agaknya tidak ada seorang pun yang detil perilaku kesehariannya selama 24 jam terdokumentasi secara lengkap selain Nabi Muhammad. Kepribadian beliau sempurna di mata sahabat dan adil di mata musuh. Intinya, pada para sahabat maupun pada kalangan musuh, beliau senantiasa memperlihatkan wisdom leadership.

Dalam aspek komunikasi pendidikan, Nabi Muhammad menggunakan pendekatan yang berbeda dalam berbagai situasi. Pendidikan dan latihan tidak hanya berkutat pada memperbaiki kesalahan, melainkan juga pada bentuk pengajaran prinsip dasar aturan dan standar operasional serta penggunaan beragam metode. Untuk mengokohkan prinsip-prinsip dasar keislaman dalam hati para sahabat, Nabi memberikan contoh perilaku, perintah, dan menceritakan peristiwa, serta tidak jarang dengan mengajak berdiskusi. 10  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

Dalam perang Badar, untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan informasi terkait dengan pasukan Quraisy, Nabi mengirimkan intelejen dari kalangan sahabat. Kemudian, sahabat yang ditugas­ kan berhasil menangkap dua anak remaja yang mencurigakan. Saat diiterogasi, dua remaja itu mengaku sebagai pesuruh Quraisy yang bertugas mengambil air. Para sahabat menganggap kedua remaja itu adalah mata-mata Abu Sufyan. Mereka pun memukuli dua remaja tersebut hingga mengaku.

kalian justru memukulnya. Namun ketika keduanya berdusta (karena dipukuli), kalian membiarkannya. Keduanya memang benar. Demi Allah, sesungguhnya keduanya adalah pesuruh Quraisy.” Nabi kemudian menginterogasi kedua remaja tersebut dengan lembut dan berkomunikasi sesuai dengan kemampuan akal mereka. Nabi menghilangkan rasa takut dari keduanya. Apabila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, Nabi beralih dengan pertanyaan yang bisa dipahami oleh keduanya. Nabi bertanya, “Berapakah jumlah kaum Quraisy (yang datang)?” “Wah, banyak sekali,” jawab kedua remaja itu.

Sebagai transformasional leader, komunikasi publik Nabi Muhammad Saw sangat luar biasa. Pidatonya selalu menggugah dan menginspirasi para sahabat untuk berbuat melebihi kemampuan yang dimilikinya. Dengan demikian, tidak heran tercipta sebuah sinergi luar biasa dari para sahabat dalam membumikan kalimat takbir. Menurut Bass, transformasional leader adalah sosok pemimpin yang mampu menginspirasi pengikutnya untuk menempatkan kepentingan pribadi ke arah nilai-nilai kebaikan kelompok atau organisasi sehingga mereka termotivasi untuk menghasilkan usaha yang maksimal lebih dari keadaan normal. Nilai-nilai agung kepemimpinan Nabi Muhammad Saw bukan hanya berlaku pada masanya, di jazirah Arab, empat belas abad yang lalu. Tapi terus berlanjut hingga sekarang, di mana pun di muka bumi ini, hingga kapan pun. Semua orang yang membuka hati dan pikirannya akan memahami bahwa ungkapan itu benar adanya, yakni Muhammad adalah the greatest leader ever.***


MOTIVATOR

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  11


MOTIVATOR

Kaderisasi seorang pemimpin perlu

INTERVIEW WITH:

DENI TRIESNAHADI

melihat SDM yang punya kecakapan atau kapabel di bidangnya bukan hanya melihat senioritasnya

12  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010


MOTIVATOR

yang “Pemimpin Mendengarkan “ Pemimpin harus mampu bekerjasama dengan bawahannya yang mungkin saja

berbeda-beda karakter. Maka seorang pemimpin harus bisa bergaul dengan siapa saja;

menyatukan beragam kebiasaan, memunculkan kedekatan-kedekatan, sehingga timbul rasa kasih sayang antara atasan dan bawahan. Tentunya seorang pemimpin harus memiliki wibawa, tetapi ia tetap dicintai oleh bawahannya, bukan ditakuti. Salah satu parameter keberhasilan seorang pemimpin adalah: dia bisa memberikan kebaikan dan inspirasi kepada yang bawahannya.

P

emimpin yang baik mampu mendengarkan aspirasi bawahannya. Begitulah ujar Deni Triesnahadi — masyarakat umum lebih mengenalnya Abu Syauqi — komisaris PT Citra Niaga Abadi, saat dijumpai di tempat kerjanya di Jl. Gatot Subroto No. 71A. Tanpa mendengarkan aspirasi bawahannya, seorang pemimpin belum dapat dikatakan sebagai pemimpin yang cerdas. Sebagaimana yang terdapat dalam “Segitiga BI”, rumusan kepemimpinan Deni, “Kepemimpinan menempati tempat ketiga setelah visimisi, dan tim; dimana seorang pemimpin harus melahirkan visimisi, budaya, dan team work,” jelas Deni. Dalam organisasi, seorang pemimpin hendaknya memiliki visi dan misi kuat, karena salah satu ciri kokohnya organisasi adalah terdapat dukungan kuat

dari visi dan misi pemimpinnya. Selain itu juga seorang pemimpin harus mampu memotivasi bawahannya guna bersama-sama mewujudkan visi-misi perusahaan. “Dalam hal ini, seorang pemimpin perlu menyamakan mindset karyawannya,“ kata bapak enam orang anak ini. Sosok atau karakter pemimpin itu diciptakan, bukan bawaan dari lahir. Oleh karena itu, selain visi-misi yang kuat, perlu juga dibentuk kebersamaan atau team work. Pemimpin harus mampu bekerjasama dengan bawahannya yang mungkin saja berbeda-beda karakter. Maka seorang pemimpin harus bisa bergaul dengan siapa saja; menyatukan beragam kebiasaan, memunculkan kedekatan-kedekatan, sehingga timbul rasa kasih sayang antara atasan dan bawahan. Tentunya seorang pemimpin

harus memiliki wibawa, tetapi ia tetap dicintai oleh bawahannya, bukan ditakuti. Salah satu parameter keberhasilan seorang pemimpin adalah: dia bisa memberikan kebaikan dan inspirasi kepada yang bawahannya. Dalam kegiatan bisnis, karakter pemimpin sangat berpengaruh. “Uang yang dihasilkan perusahaan bertumpu pada pemimpin perusahaan, bukan semata-mata produk yang dimiliki perusahaan,“ ujar Deni. Artinya peran pemimpin sangat penting. Dari mulai ketegasannya, sampai bagaimana cara dia menjalin silaturahmi dengan klien, rekan bisnis, perusahaan lain, dan pihak-pihak lain. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang bisa berbagi ilmu dengan anak buahnya.

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  13


MOTIVATOR

“Jadi, di dalam perusahaan dia selalu berusaha untuk berbagi pengalaman; tidak cerdas sendiri,“ lanjutnya serius. Upaya ini tentunya dapat melahirkan pemimpinpemimpin baru, membuat regenerasi kepemimpinan yang kualitas yang terus lebih baik; tidak bertumpu kepada figur pemimpin puncak semata. Sehingga, perusahaan bisa berkembang dengan pesat dan bertahan lebih lama.

sumber daya manusia (SDM) yang punya kecakapan atau kapabel di bidangnya sehingga memudahkan perusahaan untuk berkembang. Selain membutuhkan sumber daya manusia yang kapabel di bidangnya, Deni Triesnahadi menuturkan bahwa perusahaan juga perlu dukungan SDM yang saleh. Mengapa? Karena kata saleh berdampingan dekat dengan sikap professionalisme. Maka seorang pemimpin harus bisa menyatukan antara ruhiah dan profesionalisme, yaitu dengan menyamakan presepsi atau mindset. Upaya itu sebagaimana dilakukannya dahulu ketika membangun Rumah Zakat. Dia selalu menekankan kepada para amil, karyawan di Rumah Zakat, untuk selalu meningkatkan ruhiahnya. Baik dengan shalat malam atau dengan cara-cara lain agar mereka selalu dekat dengan Allah SWT. Deni yakin upaya tersebut memudahkan aktivitas yayasan.

Sistem kaderisasi ini yang selalu Deni jalankan dalam membangun perusahaannya. Dia tidak henti-hentinya berbagi ilmu bersama karyawankaryawannya. “Kalau pemimpin cerdas sendiri, perusahaan atau organisasi dalam keadaan bahaya.“ tegasnya. Saat pemimpinnya bermasalah, hancurlah perusahaannya. Menurut Deni, dalam sistem kaderisasi, seorang pemimpin perlu melihat kapabilitas seseorang dan bukan hanya melihat senioritasnya. Karena, seiring perkembangan zaman, dalam pembentukan perusahaan perlu dukungan

14  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

“Dan, alhamdulilah, terbukti. Saat ini Rumah Zakat berkembang pesat. Ini tentu bukan karena kepiawaian pemimpin atau amilnya, tetapi berkat kemudahan yang selalu Allah berikan,“ jelas founder Rumah Zakat ini. Kualitas ruhiah memang sangat penting. Pada masa-masa awal Rumah Zakat, seiring terbentuk karyawan yang saleh, mereka pun semakin profesional; ghirah atau semangat dalam bekerja pun meningkat pesat, hampir tidak ditemukan kemandegan kaderisasi. Yang ada paling kendala pengelolaan SDM karena waktu itu Rumah Zakat belum memiliki sistem HR yang rapi seperti sekarang.

“Meskipun Rumah Zakat adalah lembaga sosial, tetapi tetap menjunjung professionalisme,“ ujar Deni. Seiring perkembangan Rumah Zakat, Deni pun membangun sebuah perusahaan bisnis, yaitu PT Citra Niaga Abadi yang kini telah memiliki beberapa grup bisnis lainnya. Pada perusahaan ini pun Deni selalu menanamkan norma agama. Dalam kepemimpinannya, dia selalu berusaha untuk menumbuhkan trust atau kepercayaan pada seluruh karyawannya. Hal ini dilakukannya dengan mengikuti kepribadian Rasulullah Saw. Salah satunya, dengan menumbuhkan integritas. Karena prinsip kepercayaanlah perusahaan mudah berkembang. Ini terbukti dari upayanya membangun Rumah Zakat. Menumbuhkan kepercayaan adalah kunci utama, baik di dalam perusahaan maupun terhadap rekan atau klien. Oleh karenanya Deni Triesnahadi tidak merasakan adanya perbedaan ketika memimpin Rumah Zakat yang bergerak di bidang sosial dan perusahaannya sekarang yang bergerak di bidang bisnis. Sebab, sistem yang ditanamkannya sama saja, sesuai dengan sistem “Segitiga BI” yang dia rancang. “Yang berbeda hanya visi dan misi perusahaan, sistem manajemen, dan sistem keuangannya. Sedangkan prinsip kepemimpinannya sama saja,“ ujarnya. “Jadi selain mencari nafkah, dalam bekerja semua karyawan memiliki semangat untuk beribadah,” Deni mengakhirinya.***


KONSULTASI HR

Dedi A Santika Trainer dan konsultan HR

Tingkatkan kompetensi dengan anggaran terbatas Bapak Dedi Santika yang saya hormati, Saya adalah salah seorang manager di Sebuah Perusahaan di Bandung, saya menghadapi dilema terkait dengan pengembangan kapasitas SDM. Saya menyadari bahwa salah satu hal yang menjadi faktor penentu keberhasilan tim saya adalah dengan meningkatkan kompetensi, tetapi disisi lain perusahaan membatasi anggaran untuk training. Dengan kondisi seperti ini bagaimana saya bisa melakukan pengembangan untuk diri saya sendiri maupun staf saya? Yani, Bandung Ibu Yani yang baik, saya memahami betul kondisi Ibu. Berbicara tentang pengembangan karyawan, tentunya tidak sebatas hanya melalui training. Ada satu prinsip dalam pengelolaan SDM, bahwa “Every Manager is HR Manager,” Bu Yani perlu memahami bahwa Ibu juga memikul tanggungjawab dalam pengembangan staff Ibu.Maka ibu perlu melakukan beberapa “invenstasi”, baik itu invesatsi lembaga ataupun investasi personal. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Ibu lakukan baik untuk pengembangan pribadi, maupun subordinat Ibu: 1.  Coaching. 2. Mentoring. Dalam hal ini, Ibu harus menemukan seseorang yang memiliki pengalaman sesuai dengan pekerjaan yang ibu tangani saat ini, dan ibu nilai memiliki kompetensi yang baik, kemudian mintalah yang bersangkutan untuk menjadi mentor

Ibu. Ajaklah diskusi dan mintalah saran-saran dari yang bersangkutan. 3. Penugasan. Bu Yani bisa melakukan penugasan kepada staff Ibu yang diarahkan pada pembentukan knowledge , Skill dan Attitude yang berkorelasi dengan tugas dan tanggungjawab mereka. Sedangakn Untuk investasi personal ibu bisa mencoba hal-hal berikut ini : 1 Komunitas. Bergabunglah dengan komunitas seprofesi. Didalamnya ibu bisa berdiskusi langsung dengan para praktisi, dan ibu juga bisa mencari mentor yang menurut ibu cocok. 2 Internet. Teknologi Informasi kian memudahkan kita untuk belajar, dan internet adalah salah satu gudang informasi yang bisa diandalkan. Updating informasi terkait dengan keprofesian bisa ibu lakukan melalui milis, atau situs terkait. 3 Buku. Ibu bisa belajar melalui buku yang ditulis oleh para profesional. Ibu bisa memilih kategori buku berdasarkan kontennya, misalnya berisi kiat praktis, pemaparan konseptual dan framework, atau gabungan keduanya. Ibu juga bisa mempertimbangkan level pemahaman konseptual suatu buku, misalnya apakah untuk pemula, menengah, atau mahir. Beberapa buku memberikan informasi mengenai hal ini. Ada baiknya ibu meminta rekomendasi dari praktisi yang lebih senior atau dari konsultan yang ibu kenal. Jika memungkinkan, Ibu juga bisa melakukan investasi secara mandiri untuk meningkatkan kapasitas Ibumelalui training, workshop,atau seminar, saya kira tidak ada ruginya. Seiring dengan meningkatkatnya kompetensi Ibu saya yakin perusahaan juga akan semakin memperhitungkan keberadaan Ibu di dalam perusahaan.***

Konsultasi tentang dunia HR dan Manajemen lainnya bisa dikirimkan ke : insangemilang@ymail.com   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  15


LEADERSHIP

Perjalanan KeDalam K

epemimpinan adalah soal paradigma. Menentukan tujuan dan berjuang meraihnya adalah kerja kepemimpinan. Tidak lain, kepemimpinan adalah proses menemukan diri. Sebuah perjalanan ke dalam. PERNAHKAH kita merenung dan bertanya, “Apa sebenarnya tujuan hidup ini?” Ya, pertanyaan tersebut sudah harus tuntas kita jawab setelah usia kita memasuki baligh (dewasa). Menemukan tujuan hidup sangat penting, sepenting hidup itu sendiri. Saya menamakannya “perjalanan ke dalam”. Perjalanan yang menuntut kita berpikir keras, kemudian jujur menjawab. Hal yang sama juga berlaku dalam kepemimpinan. Hakikatnya, menjadi pemimpin hanyalah proses menemukan diri sendiri. Kita bisa memakai rumus 5 W + 1 H dalam mengukurnya. Dimulai dengan proses mencari tahu siapa diri kita (self understanding) dengan pertanyaan, “Who am I?” Lalu, dengan menyadari eksistensi kedirian (self awarness): “Why I am here?” Selanjutnya, dengan pengelolaan diri (self control). Tahapan pengendalian diri adalah tahapan “how to”. Dengan prinsip “how to”, kita sampai pada pertanyaanpertanyaan berikutnya, “What should I do?” dan “Where I will go?” Pemahaman akan diri yang baik memungkinkan kita mampu me-lead (mengendalikan) diri sendiri—sebuah syarat sebelum lebih jauh

16  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

memimpin orang lain. Seperti nasihat sederhana yang sering kita dengar, “Awali dari diri sendiri. Mulai dari yang kecil. Kerjakan sekarang.” Mengapa kita harus me-lead diri sendiri sebelum memimpin orang lain? Dalam QS Ar-Ra’d (13) ayat 11 Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Di antara tafsir atas kalimat “mengubah keadaan diri mereka sendiri” adalah mengubah apa yang di dalam hati dan kepala. Apa yang di dalam hati berkaitan dengan semangat, passion, keyakinan, kesucian niat. Sedang apa yang di dalam kepala berhubungan dengan pemikiran, ide, gagasan, ilmu, konsep. Dalam kepemimpinan, ada proses influence, mempengaruhi. Menurut Stephen Covey, salah satu ciri kepemimpinan yang bagus ialah melebarkan pengaruh. Pengaruh digambarkan dalam dua lingkaran. Lingkaran pertama adalah diri kita. Lingkaran kedua melingkari lingkaran pertama. Lingkaran kedua itu adalah lingkungan sekitar diri kita. Covey menerangkan salah satu ciri kesuksesan kepemimpinan adalah melebarkan pengaruh dari lingkaran kecil ke lingkaran besar. Bicara soal pengaruh berarti bicara soal

Alfath, Pengamat HR


LEADERSHIP mengubah paradigma. Dalam proses mengubah paradigma, terkumpul seluruh aktivitas yang berkaitan dengan “apa yang ada di dalam hati dan kepala”. Dalam proses influence itu kita menawarkan konsep dan pemikiran yang kebenarannya kita yakini. Dalam hal ini, kita adalah subjek yang aktif. Saya sependapat dengan Al-Farabi yang mengatakan, “Manusia sempurna adalah mereka yang mengetahui kebajikan secara teoritis dan menjalankannya dalam praktik keseharian.” Dan manusia sempurna dalam pandangan Al-Faribi itu adalah manusia yang mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Dewasa ini agaknya banyak organisasi mengalami overmanage, tetapi kurang underlead. Terlalu banyak organisasi yang diatur, tapi kurang dipimpin. Penyebabnya lebih kurang bermula dari teori dan konsep yang hanya menjadi dokumen pelengkap ketimbang— meminjam istilah Al-Farabi—menjadi praktik keseharian. Pemimpin organisasi bergaya manajer mahir menyusun berbagai kebijakan, peraturan, dan prosedur, tetapi kurang lihai menciptakan visi jauh ke depan yang mampu memotivasi dan membangkitkan semangat juang setiap orang.

perintah itu. Karena melihat perintahnya tidak diindahkan, Nabi masuk ke dalam kemahnya. Wajahnya yang muram, terbaca oleh istrinya, Ummu Salamah. Tanya Ummu Salamah, “Apa perintahmu tidak dikerjakan oleh mereka, ya Rasulullah?” “Ya. Tidak satu pun yang mengerjakannya.” “Keluarlah Engkau. Cukurlah rambutmu dan kemudian sembelihlah hewanmu. Dan janganlah engkau berkata-kata.” Hasilnya, manjur betul saran Ummu Salamah. Tidak lama setelah melihat Nabi mencukur rambut dan menyembelih qurban, para sahabat langsung melakukan hal yang sama. Perintah—atau apapun istilah yang dimaknakan serupa dengan itu—baru menemukan ruhnya ketika dipraktikkan sang pemimpin. Sebab pada dasarnya pengikut tidak bergerak karena diperintah, tapi karena hatinya berkomitmen setelah menyaksikan integritas pemimpin mereka. ***

“Manusia sempurna adalah mereka yang mengetahui kebajikan secara teoritis dan menjalankannya dalam praktik keseharian.” Dan manusia sempurna dalam pandangan Al-Faribi itu adalah manusia yang mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Memang, sebagaimana para pakar menulis, mengelola organisasi dapat dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan manajemen. Pendekatan ini menghasilkan manajemen kinerja, balance scorecard (BSC), value based management (VBM), core competence, knowledge management (KM), dst. Pendekatan kedua, pendekatan leadership. Pendekatan ini melahirkan kejujuran (honesty), kepercayaan (trust), komitmen (commitment), tanggung jawab (responsibility), kematangan (maturity), motivasi (motivation), dst. Pendekatan yang disebut terakhir inilah yang dibutuhkan guna menyatukan seluruh unsur “man” (mind, body, spirit, passion) dalam “resource” organisasi (man, method, machine, money) agar konsep-konsep yang telah disepakati tidak sekadar word on wall yang dipajang di dinding-dinding kantor. Karena organisasi terdiri atas orang-orang, maka pendekatan kepemimpinannya adalah pendekatan efektivitas, bukan pendekatan efisiensi sebagaimana yang sering diterapkan. Sekarang, apa jadinya kalau sang pemimpin meminta orang lain berlaku jujur, tetapi dirinya sendiri malah jauh dari praktik? Hasilnya tentu saja berabe. Singkat kata, orang perlu melihat pemimpin sebagai role model terlebih dahulu. Ada kisah menarik tentang hal ini. Saat Nabi Muhammad Saw melakukan perjanjian Hudhaibiyah, ia memerintahkan sahabat untuk bercukur dan mereka sendiri kemudian menyembelih hewan qurban sebagi tanda telah melaksanakan haji; meski, kenyataannya haji yang dimaksud tidak pernah terjadi. Ketika itu, tidak ada satu pun sahabat melaksanakan

KESADARAN Saat terindah dalam hidupku Ketika aku tahu Siapa aku Saat terindah dalam hidupku Ketika aku tahu Hendak ke mana aku Saat terindah dalam hidupku Ketika aku tahu What should I do Saat terindah dalam hidupku Ketika aku tahu Siapa Tuhanku Yogyakarta, 13 April 2002

Saya menuliskan larik-larik itu dalam diary. Kala itu, rasanya saya menikmati sebuah perasaan yang mendalam: “menemukan” siapa sebenarnya diri ini. Waktu itu, umur saya genap 27 tahun, seorang mahasiswa di sebuah kampus di Yogyakarta. Mengingat-ingat dan menghitung-hitung waktu, selama empat tahun sebelum tanggal 13 April itu saya melakukan proses pencarian eksistensi diri, perjalanan ke dalam. Tentu saja hingga kini proses itu belum berakhir. Namun, rasanya selepas 13 April itu betapa indah hidup ini. Bagaimana dengan (kisah perjalanan ke dalam) diri Anda?***   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  17


SPIRIT

Menjadi Pemimpin Sejati D

alam sebuah organisasi, nilai kepemimpinan yang baik merupakan syarat agar organisasi tersebut dapat senantiasa tumbuh dan berkembang, terlebih dewasa ini dalam menghadapi arus deras globalisasi dunia. Begitu pentingnya nilai-nilai kepemimpinan ini bagi setiap organisasi, sampai-sampai keberadaannya dapat menentukan umur sebuah perusahaan atau organisasi. Pemimpin ibarat otak dalam tubuh manusia. Keberadaannya sangat menentukan ke mana arah kaki akan melangkah, kesungguhan dan komitmen dalam bekerja, serta pada akhirnya keberhasilan dalam meraih impian yang dicita-citakan. Membentuk pemimpin Menjadi pemimpin adalah fitrah. Allah SWT telah memberikan amanah kekhalifahah—amanah yang sangat berat— pada manusia. Terhadap amanah itu, tidak ada makhluk Allah di muka bumi selain manusia menerimanya. Nabi Muhammad Saw secara jelas menyebutkan soal kepemimpinan dalam salah satu sabdanya, 18  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

“Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri adalah pemimpin dan akan ditanya soal kepemimpinannya. Seorang pelayan/ pegawai juga pemimpin dalam mengurus harta majikannya dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.” Sebagai sebuah fitrah, idealnya setiap orang memiliki jiwa kepemimpinan dalam dirinya sehingga ia mampu untuk memimpin diri, keluarga, serta memberikan peran bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, pada kenyataannya, kita tetap menemukan adanya orang yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan. Jangankan untuk tampil memimpin orang lain dalam sebuah komunitas, memimpin diri sendiri pun dia tidak sanggup. Sebagai contoh, mereka yang diperbudak oleh sesuatu hal—oleh narkoba, misalnya—tidak akan mampu mengendalikan diri sebab akal dan

pikirannya tidak berdaya lagi. Dia hanya akan menyerah dan mengikuti kehendak nafsu dalam keadaan sakau. Atau, ada pula orang-orang yang lebih senang untuk menjadi pengikut belaka. Jiwa mereka kerdil sehingga merendahkan dirinya sendiri. Ketidakmampuan seseorang untuk tampil sebagai pemimpin pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud terdapat pada diri sendiri, seperti ketiadaan visi hidup sebagai bentuk tanggung jawab atas perannya sebagai khalifah (pemimpin). Sementara, pada aspek eksternal, kita tentu mafhum tentang pengaruh lingkungan yang begitu besar membetuk pola fikir (mindset) seseorang: buku-buku yang dibaca, pola didik orang tua, karakterkarakter orang sekitar, dan lainnya. Dalam kondisi negatif, kesemua faktor eksternal itu dapat membuat seseorang memiliki perasaan rendah diri dan puas dengan kondisi yang ada, sehingga tidak memiliki kemauan untuk mengembangkan akal maupun keterampilannya untuk mengasah jiwa kepemimpinan yang ‘tidur’ dalam dirinya.


SPIRIT Jika kita cermati, kepemimpinan merupakan pokok bahasan yang senantiasa hangat dan berkembang dalam dunia keorganisasian. Kita senantiasa dapat menemukan berbagai literatur tekait topik kepemimpinan dalam berbagai perspektif dan peranannya dalam organisasi. Kepemimpinan memang merupakan subjek yang selalu bermakna dalam organisasi.

Kepemimpinan adalah sebuah seni dan ilmu. Namun, kepemimpinan bukan semata teori di atas kertas. Kepemimpinan adalah sebuah praktik; ia tidak diajarkan langsung di sekolah, tetapi justru bisa didapatkan di luar sekolah. Mereka yang memiliki pengalaman organisasi umumnya terbiasa dan terasah dengan pola kerjasama, pendelegasian, pemecahan masalah, pemotivasian diri dan rekan-rekan dalam organisasi guna mencapai tujuan bersama. Keterampilan itulah yang dibutuhkan untuk memiliki jiwa kepemimpinan. Jika demikian adanya, jelas bahwa kepemimpinan adalah proses yang dibentuk dan bukan semata-mata dilahirkan. Karena, kematangan seseorang dalam menjalankan kepemimpinan akan bergantung pada kemauannya memperkaya akal dan jiwa dengan nilai-nilai yang baik. Manager dan pemimpin Masyarakat umumnya menyamakan manajer dan pemimpin. Padahal, pandangan tersebut keliru. Terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara manajer dan pemimpin sebagaimana dinyatakan Warren Bennis dalam bukunya On Becoming Leader bahwa manager tidak secara otomatis sebagai pemimpin. Terdapat keterampilan dan pola pikir yang harus diubah untuk mampu menjadi seorang pemimpin. Karakter pemimpin Bercermin pada karakter teladan Nabi Muhammad Saw, sosok pemimpin sejati memiliki karakter-karakter sebagai berikut. Pertama, mempengaruhi. John C Maxwell, penulis buku-buku hubungan kemanusiaan dan kepemimpinan, pernah menyampaikan, “Leadership is Influence (Kepemimpinan adalah soal pengaruh).� Mengenai keberpengaruhan seorang pemimpin, Michael Hart, dalam bukunya The 100, menempatkan Nabi Muhammad

Saw sebagai tokoh puncak yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Pengikut risalah dan tuntunan Nabi Muhammad masih bisa ditemukan sampai hari ini, bahkan setelah 14 abad berlalu. Pengaruh ditunjukan bukan dengan kekuasaan, namun dengan kemampuan hubungan sosial kemanusiaan seseorang. Kedua, amanah. Amanah berarti dapat dipercaya. Seorang pemimpin dapat dipercaya karena ia mampu menunaikan tugasnya dengan baik, penuh kesungguhan, dan bahkan mampu mempertahankan prinsipnya untuk melakukan hal-hal yang benar. Ketiga, memiliki Integritas. Pemimpin sejati memiliki integritas sehingga dapat menjadi teladan bagi para pengikutnya. Intergritas adalah bentuk yang tampak dari kuatnya keyakinan dan visi yang dimiliki seseorang.

Murni Alit Baginda Staf Redaksi

Integritas melahirkan keselarasan tutur kata dan perbuatan. Seseorang yang memiliki integritas senantiasa dijadikan rujukan atau panutan dalam berperilaku. Keempat, visioner, yakni memiliki pandangan jauh ke depan yang dibuktikan dengan dimilikinya visi hidup. Menjadi pemimpin sejati, tentu saja, adalah mempraktikkannya. Oleh karena itu, menjadi pemimpin sebenarnya merupakan proses pembelajaran. Dalam proses itu bukan tidak mungkin seseorang belajar dari kesalahan-kesalahannya. Seorang pemimpin sejati selalu siap mengambil hikmah dari mana pun datangnya. Belajar menjadi pemimpin sejati, mulailah dengan memiliki visi hidup yang jelas dan kuat. Itu akan menentukan arah bagi perjalanan hidup kita.***

Perbedaan MANAJER dan PEMIMPIN Menurut Bennis

Manajer

Pemimpin

Mengelola

Meninovasi

Tiruan

Orisinal

Mempertahankan

Mengembangkan

Berfokus pada struktur

Berfokus pada orang

Pengawasan

Membangkitkan kepercayaan

Perspektif jangka pendek

Perspektif jangka panjang

Bertanya kapan dan bagaimana

Bertanya apa dan mengapa

Melihat hasil pokok

Menatap masa depan

Meniru

Melahirkan

Menerima status qou

Menantangnya

Prajurit yang baik

Dirinya sendiri

Melakukan hal-hal dengan benar

Melakukan hal-hal yang benar   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  19


KULTUR

Skill, Modal Survive dalam Hidup

20  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

B

egitu saya lulus kuliah, pertengahan tahun 2008, sebuah keguncangan psikologis segera menyerbu. Betapa tidak. Saya seorang diri di negeri orang, dalam belantara kehidupan yang baru. Apalagi lingkungan turut mempengaruhi dengan slogan yang amat akrab di kalangan para freshgraduate: Welcome to the jungle, welcome to the real world! Tambah lagi, dengan kondisi IPK yang amat pas-pasan, amat tak layak jadi daya jual bagi company yang mempersyaratkan standar akademik yang tinggi dalam seleksinya. Namun, saya merenung. Betapa banyak pengangguran terdidik di Tanah Air. Mereka mencari jalan untuk bertahan


KULTUR

hidup dengan cara bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi dirinya. Ketika ditanya alasannya mereka menjawab dengan singkat: daripada tidak bekerja. Seolah pendidikan formal tak mampu menjawab tantangan zaman yang semakin berubah, kecuali bagi beberapa gelintir orang saja. Prof Munif Chatib, seorang pakar Multiple Intelligences, pun ternyata adalah seorang Sarjana Hukum. Dia pernah isengiseng mengadakan penelitian singkat pada teman-temannya yang lulusan Fakultas Hukum. Hasilnya, hanya beberapa dari mereka yang kemudian memang bekerja sesuai dengan bidangnya; lawyer, pengacara, hakim, dosen, dan sebagainya. Dan, siapa sangka jika sastrawan Taufik Ismail ternyata adalah lulusan Kedokteran Hewan IPB. Atau, bagi Anda yang sering menonton televisi, pasti kenal dengan drg Fadly. Dia dokter gigi, tapi kemudian menjadi aktor. Kasus-kasus itu memiliki benang merah yang jelas. Bahwa pada akhirnya kita akan dinilai dengan keterampilan atau skill yang kita miliki ketimbang selembar ijazah yang kita miliki. Kuliah atau pendidikan formal itu penting, namun dalam kenyataannya skill, khususnya softskill, jauh lebih penting. Kuliah itu penting sebab dengan pendidikan formal kita belajar bagaimana berpikir sistematis dan abstrak. Namun,

kuliah saja sangat tak cukup, kecuali bagi orang-orang yang berniat berkarir di bidang akademis. Di Jepang pernah ada seorang direktur perusahaan ternama yang sangat disegani karyawannya. Dia berwibawa. Banyak yang tak menyangka, ternyata dia hanya lulus sekolah dasar. Saya sangat percaya Allah Mahabaik. Dia memberikan berbagai macam potensi yang berbeda pada setiap orang. Apa itu potensi? Sederhananya begini. Potensi adalah sesuatu yang membuat Anda sangat nyaman dengan pekerjaan itu. Pekerjaan yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Jika Anda merasakan tandatanda tersebut, maka itulah bidang yang bisa menjadi titik keunggulan Anda. Robert T Kiyosaki dengan lantang mengatakan, “Carilah pekerjaan yang Anda sukai, bukan pekerjaan yang mendatangkan banyak uang pada Anda.� Dan pekerjaan yang paling kita sukai adalah pekerjaan yang sesuai dengan skill dominan kita. Sejenak, mari bercermin kepada para sahabat Rasulullah Saw. Betapa pintarnya Rasulullah mem-plotting para sahabat sehingga semua mendapat pengembangan potensi masingmasing. Istilah manajemennya, the right man on the right place. Rasulullah tak pernah memaksa seseorang dengan tugas yang tak sesuai dengan kompetensinya. Coba lihat pemetaan tugasnya; Mushab

bin Umair, seorang lelaki tampan, eye catching, cerdas, pintar dalam berdiplomasi, diutus sebagai duta ke negara lain. Abu Bakar, saudagar terkenal dan amat penyayang, ditunjuk sebagai pemimpin. Kemudian, Umar, yang sangat tegas dan koleris, tak pernah beliau tunjuk menjadi seorang pemimpin perang. Tanya kenapa? Karena potensi Umar jauh lebih besar untuk menjadi seorang negarawan daripada sekedar pemimpin perang. Khalid, yang jago perang, selalu ditempatkan sebagai panglima perang yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Huzaifah bin Yaman, sang sahabat yang amat pintar menjaga rahasia, ditempatkan sebagai mata-mata yang menyusup ke pasukan lawan. Abdurrahman bin Auf, sang pebisnis kesohor (kalau sekarang bisa menandingi Bill Gates), tak pernah diberikan amanah berupa jabatan pemerintahan. Sebab, Rasulullah mengerti jabatan pemerintahan bukan bidang yang membuat Abdurrahman berkembang pesat. Maka, skill alias keterampilan hidup adalah modal yang penting. Jangan menganggap remeh andaikata kita punya kemampuan memperbaiki sebuah kerusakan kecil pada komputer. Sebab, kalau skill kecil itu dieksplorasi lagi, bisa membuat kita menjadi dahsyat; menjadi ahli reparasi komputer. Jangan meremehkan kemampuan

memasak kita meski awalnya sekadar hobi. Sebab, siapa yang tahu kemudian kita menjadi pengusaha kue sukses. Jangan remehkan juga ketika kita begitu suka menulis, sebab siapa tahu itu potensi terpendam kita. Ketekunan, adalah kuncinya. Pertanyaan buat kita semua. Siapakah yang lebih mengenal diri kita kecuali kita sendiri? Yang orang ketahui tentang kita hanya sedikit, itu pun kadang acap salah. Yang lebih akrab dengan diri, ya kita sendiri. Maka, tak ada yang bisa menunjukkan kita pada skill tertentu kecuali diri kita sendiri. Lingkungan mungkin suatu saat berbaik hati memberikan sinyal kepada kita. Namun, hati kecil kita pastilah bisa mengatakan dengan jujur: kamu sebenarnya berbakat di bidang ini, ini, ini‌. Tentu bukan bermaksud menjadikan skill satu-satunya modal dalam bertahan hidup. Banyak faktor lainnya dalam bertahan hidup dan meraih kesuksesan. Namun, di era yang serba tak pasti ini, skill adalah hal yang bisa diandalkan. Sebab, misalny dalam hal pekerjaan, yang membuat kita akhirnya dipercaya orang lain adalah karena kita punya sesuatu (kemampuan) yang tak dimiliki orang lain. Selamat melejitkan skill masingmasing. Be profesional. Be Honest to yourSelf.*** Mala Hayati   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  21


TOPIK EDUKASI UTAMA

Dicky Fria Senjaya Staf Redaksi

STRESS MANAGEMENT

Stress adalah tema psikologi yang menjadi bagian dari keseharian kita, entah di tempat kerja, di keluarga, hubungn interpersonal, maupun hubungan dengan diri kita sendiri. Karena efek stress yang tidak menyenangkan inilah kemudian orang biasanya menginginkan hidupnya terbebas dari stress. Sekarang Coba Anda amati diri anda dan bandingkan dengan indikator stress berikut ini, jangan-jangan ketika membaca artikel ini Anda memang dalam keadaan stress.

FISIK

PSIKIS

Sakit kepala

Cemas

Sakit punggung

Sedih

Sakit leher dan pundak

Mudah marah

Sakit perut

Merasa tidak aman

Lelah yang berlebih

Mudah lupa

Jantung berdebar

Sedih

Kekebalan tubuh menurun

Tidak fokus

Tekanan darah naik

Tegang

Sakit Dada

Mimpi buruk

Ruam-ruam pada kulit

Insomnia

Keringat dingin

Makan berlebih Kurang nafsu makan Menghindar Banyak merokok Kecanduan alkohol

22  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010


TOPIK EDUKASI UTAMA

A

pa yang terpikir dalam benak anda ketika mendengar kata stress? Bisa jadi anda membayangkan sesuatu yang buruk, sesuatu yang harus dihindari,atau perlu dijauhkan dari kehidupan kita. Memang tidak bisa dipungkiri jika anda memiliki pemikiran seperti itu. Penelitian-penelitian mengenai stress menunjukan korelasi positif dengan kesehatan fisik yang buruk atau kinerja yang tidak optimal atau bahkan menurun. Tetapi apa pendapat Anda jika saya mengatakan bahwa “stress adalah anugerah”?mungkin ada sebagian diatara Anda kemudian berpikir “mana bisa?” meski saya yakin juga ada sebagian diantara Anda yang berpikir “hmm mungkin saja.” Sebelum kita lanjutkan,ada baiknya anda membaca kisah berikut ini. Suatu hari dengan tanpa sengaja saya melihat suatu tanyangan dokumenter di televisi yang mengisahkan tentang suatu proses latihan bagi atlit-atlit renang yang masih muda. Mereka didik untuk menjadi pemenang dalam kejuaraan-kejuaraan renang. Yang menarik saya adalah metode yang digunakan oleh sang pelatih dalam memacu anak didiknya dalam berenang. Ia memasukkan buaya kecil kedalam kolam sesaat setelah anak didiknya meluncur. Buaya kecil itu mengejar sang anak yang sudah meluncur terlebih dahulu, dan sang anak pun berupaya memacu kecepatan renangnya supaya tidak tersusul (baca: tergigit) oleh buaya kecil itu. Sang anak merasa terpicu dengan metode tersebut tetapi juga tetap merasa aman karena mulut buaya diikat sehingga tidak membahayakan. Kisah tersebut menginspirasi saya bahwa terkadang stress itu dibutuhkan oleh kita untuk memunculkan potensi terbaik dalam diri kita. Sang anak tentunya mengalami ketegangan, bagaiman tidak, dia dikejar oleh seekor buaya Coba anda bayangkan masa masa dimana anda merasa tegang tetapi sekaligus excited menjalani suatu hal, bisa jadi itu hal yang baru yang sama sekali belum pernah anda alami, bisa jadi pula suatu hal yang menantang anda. Nah pada saat itu anda juga mengalami stress. Stress pada saat seperti inilah yang dinamakan eustress atau stress yang positif. Stress yang positif inilah yang kemudian membuat anda tertantang dan terpicu untuk mengeluarkan potensi terbaik anda dalam menyelesaikan pekerjaan. Berbeda halnya dengan jenis stress yang satunya lagi, yaitu distress. Distress adalah stress yang negatif, yang membuat anda merasa begitu kelelahan, cemas, menjadi tidak fokus, dan berdampak pada menurunnya kinerja anda.

THE HUMAN FUNCTION CURVE Eustress

Distress

Perbedaan antara eustress dengan distress adalah pada persepsi terhadap sumber stress (stressor). Dan kata kunci untuk membedakannya adalah ‘tantangan’. Ketika Anda mash menganggap bahwa stressor itu adalah sebagai tantangan, maka stress tersebut masih bernilai positif dan memungkin kan anda untuk terus mengoptimalkan potensi anda untuk menyelesaikannya. Tetapi jika anda sudah mengaggap bahwa stressor tersebut adalah sebagi ancaman, yaitu sesuatu yang akan melukai diri Anda baik secara fisik paupun psikis, maka anda harus mulai waspada dan berhati-hati, karena anda akan mengalami yang namanya distress. Uniknya, keadaan dimana tidak adanya stress (baca: tantangan) bagi beberapa orang justru akan juga menimbulkan stress. Hal ini biasanya dialami oleh orang dengan tipikal achievement oriented. Oleh karenanya bagi anda yang memang achievement oriented, maka anda perlu bersyukur mengalami stress (eustress) dan jika perlu hadirkan buaya-buaya kecil dalam kehidupan anda. Mengelola stress Untuk bisa mandapatkan hasil yang baik dari stress yaitu berupa produktivitas, kita bisa melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Aware dengan keadaan anda sendiri (self awareness) Pengelolaan stress diawali dengan menyadari keadaan diri anda sendiri baik dari sisi psikologis maupun kondisi tubuh anda, potensi-potensi yang anda miliki, dan juga keterbatasanketerbatasan anda. Anda bisa menggunakan indikator-indikator yang telah disebutkan diatas untuk menilai kondisi anda apakah anda sedang mengalami distress atau tidak. Seringkali orang tidak menyadari kalau dirinya sedang dalam keadaan stress, sehingga sulit untuk melakukan manajemen stress. Untuk melatih awareness atau kesadaran diri ini, anda bisa melakukan meditasi atau olah nafas atau bertafakur, semakin sering anda berlatih tingkat kesadaran anda akan semakin tinggi. 2. Kelola mindset Anda Sadari mindset yang ada dalam diri anda tentang stressor yang anda hadapi. Apakah ia anda persepsikan sebagai ancaman atau tantangan. Apakah Anda memersepsikan bahwa stressor tersebut bisa Anda hadapi atau jauh dalam jangkauan kemampuan anda. Jika anda menganggap stressor tersebut sebagai ancaman, untuk mengelola mindset, Anda perlu menggali informasi baru, tentunya yang meyakinkan Anda bahwa Anda bisa menghadapinya. Informasi-informasi yang perlu digali adalah: • Hakikat stressor: karakteristik stressor, bagaimana menghadapi stressor. • Informasi tentang orang-orang yang telah berhasil menghadapi stressor tersebut.

Kinerja

Tingkat stress

Misalnya stressor anda adalah boss Anda, maka yang perlu anda ketahui adalah seluruh karaktersitik tentang boss Anda, bagaimana seharusnya berkomunikasi dengannya, apa harapan-harapannya dan sebagainya. Juga temukan orangorang yang berinteraksi dan kenal betul dengan bos Anda. Gunkan informasi-informasi tersebut untuk, pertama meyakini bahwa Anda bisa menghadapinya, karena anda tahu caranya, dan juga ada menjadi lebih percaya diri dengan mengetahui bahwa ada orang-orang yang berhasil menghadapinya. Adalah penting juga bagi kita untuk meyakini bahwa setiap tantangan   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  23


EDUKASI yang berhasil kita hadapi akan membuat kita semakin advance. Sehingga stressor yang sama tidak akan menyusahkan anda lagi. Ingat saja masa-masa ketika kita sekolah, bahwa ujian (stressor) adalah syarat mutlak bagi kita untuk naik kelas, kalau flight atau lari maka justru kita akan tinggal kelas. 3. Berikan tantangan pada diri sendiri Jika anda merasakan kinerja anda biasa-biasa saja, potensi anda gitu-gitu aja, maka saatnya anda berpikir untuk memberikan tantangan pada diri anda sendiri. Saatnya anda memasukkan buaya kecil dalam kolam tempat anda berlatih. Temukan halhal yang membuat anda merasa tertantang dan ukur juga kemampuan diri anda, lalu berikan tantangan dengan target sedikit melampaui kemampuan anda yang sekarang. Ukuran sedikit atau banyak disesuaikan dengan persepsi Anda, tidak ada ukuran khusus, kuncinya adalah anda merasa tertantang dan anda yakin bisa menyelesaikannya. 4. Jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain Jika anda merasa sudah mengalami distress, maka jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalah Anda. Ada dua hal yang bisa anda minta kepada orang tersebut; pertama, Mendengarkan keluh kesah Anda. Ketika mengalami stress, Anda perlu melakukan emotional release, melepaskan emosi-emosi negatif yang berkecamuk dalam diri anda, biasanya cukup dengan cara mengungkapkannya secara verbal. jika kurang cukup, makan Anda bisa meminta bantuan yang kedua, yaitu advis atau saran, atau sudut pandang mengenai permasalahan yang tengah anda hadapi. Dan pastikan kendali penyelesaian masalah adalah di tangan Anda, sehingga apapun masukannya Andalah yang bertanggungjawab atas putusan mengenai penyelesaian masalah tersebut. 5. Relaksasi Relaksasi dapat membantu menurunkan stress Anda. Relaksasi dapat dilakukan dengan cara mendengarkan musik-musik yang bertempo rendah atau musik khusus yang dirancang untuk relaksasi, melakukan meditasi, beribadah, pijat atau sekedar melakukan peregangan otot.

Manajemen stress ini juga dapat diterapkan pada tim anda jika anda adalah seorang team leader. Dengan prinsip yang sama Anda bisa melakukan manajemen stress ini untuk mendapatkan kesuksesan tim.

1. Kenali anggota tim anda • Ingat bahwa setiap individu itu unik, mereka memiliki persepsi tersendiri, ukuran sendiri terhadap kemampuan mereka. Apakah mereka tipikal achievement oriented atau bukan. • Sumber stressor yang sama belum tentu dipersepsikan 24  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

secaara sama oleh semua anggota tim anda. Satu stressor bisa berarti sangat berat dihadapi oleh satu orang dan dianggap ringan oleh anggota tim yang lain. • Anda bisa mengenali karakter individu ini dari respons mereka terhadap tantangan-tantangan yang anda berikan atau permasalahn tim yang dihadapi. 2. Bentuk mindset yang sesuai Sebagai team leader anda harus pandai-pandai mempengaruhi tim anda dengan membentuk mindset yang sesuai, dan menghilangkan mindset negatif dalam benak anggota tim anda. apabila anda merasakan bahwa tim anda menganggap permasalahan yang mereka hadapi adalah sesuatu yang berat, maka anda harus upayakan memberikan motivasi dan meyakinkan mereka bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Tetapi jika mereka menganggap bahwa permasalahan/tantangan tersebut sebagai hal yang tidak menantang, maka tentunya anda harus pandai memberikan sudut pandang lain terhadap permasalahan tersebut sehingga mereka merasa tertantang dan tidak bersikap menyepelekan. 3.  Berikan tantangan kepada tim Tantangan yang diberikan bisa bersifat individual maupun tim. Jika tantangan tersebut anda berikan kepada anggota tim secara individual, maka anda harus pastikan bahwa tantangan tersebut disesuaikan dengan karaktersitik individu sebagaimana yang dibahas sebelumnya. Tantangan yang diberikan kepada tim anda harus bisa memunculkan antusiasme tim dalam meraihnya. Ingat ukurannya adalah tim anda bukan anda. Bisa jadi suatu tantangan anda anggap mudah tetapi tim anda mempersepsikannya sulit. 4. Lakukan coaching dan/atau counseling bila dibutuhkan • Coaching adalah langkah preventif yaitu dengan memberikan skill baru kepada anggota tim untuk supaya mereka bisa menyelesaikan tantangan yang ada. Dengan memberikan coaching sama artinya anda memberikan bekal kemampuan sekaligus menumbuhkan keyakinan dalam tim bahwa mereka bisa mencapai tantangan yang anda berikan. • Counseling adalah langkah kuratif, dimana anda lebih banyak mendengarkan dan memberikan advis jika diperlukan. Ketika anda mengetahui tim anda mengalami frustasi atau stress yang berdampak pada penurunan kinerja artinya anda harus bersiap-siap untuk melakukan counseling baik secara kelompok maupun juga secara individual. Counseling dilakukan dengan lebih banyak mendengarkan keluh kesah tim anda dibandingkan anda sendiri yang banyak berbicara (setidaknya pada tahap awal), hal ini bertujuan untuk melepaskan energi negatif yang mereka rasakan. Setelah itu pandu tim anda untuk memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah dan biarkan mereka sendiri yang memutuskan alternatif permasalahan mana yang akan mereka ambil. Selamat menikmati stress positif anda sebagai bagian dari proses menuju pencapaian prestasi yang gemilang.***


GERAK

Denyut Spiritual

antara Lembang dan Bogor T

epat pukul 15.30, semilir angin sejuk dari Bumi lembang menyapa sebagian peserta Training Induction Program sore itu. Dalam indahnya balutan busana Muslim yang anggun, 31 orang karyawan baru Bank Saudara selama 3 hari kedepan akan disatukan dalam program Induction Program yang berkerja sama dengan PT Talenta Insan Gemilang (TIG) sebagai Training Providernya. Acara yang dihelat di Padepokan madani ini sepertinya akan memberikan nuansa baru. Talenta yang datang sejak siang agak sedikit terkejut. Mendapati beberapa fasilitas pergedungan yang pada pelatihan perdana lalu belum jadi, kini sudah bisa dinikmati. Di atas aula pertemuan sekarang ada tempat “kongkow” yang cukup menarik. Dimana para tamu bisa menyaksikan gemerlap Kota Bandung di malam hari. Beruntung bagi para peserta Induction program ini, karena mereka termasuk yang pertama yang menikmatinya.

Masih muda, itu kesan yang muncul ketika Talenta bercengkerama dengan beberapa peserta program. Aura semangat, keaktifan, dan idealisme pemuda begitu terasa dalam perbincangan kami. Cepat akrab dan antusias. Beberapa peserta mengaku belum terlalu memahami maksud dan tujuan program ini. Meskipun semua sepakat bahwa harapan mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik secara spiritual. Miftah Salahudin, panitia yang malam itu bertindak sebagai “Host” untuk acara ta’aruf (perkenalan) mengenai apa dan bagaimana program pelatihan ini menjelaskan, bahwa memang untuk pelatihan kali ini, konsepnya agak lebih dipertajam. Terutama dalam pengembangan karakter spiritual dan komitmen kerja. Mengingat para peserta adalah new employee. Hal yang sama diungkapkan Ervy Sinoranti MM, sebagai Kepala Departemen Pengembangan SDM Bank Saudara. Menurutnya, sebagai anggota baru

keluarga besar Bank Saudara. Para peserta pelatihan diharapkan mampu menempatkan diri sebagai cermin dari perusahaanya. Utamanya pada komitmen kepada kewajiban sebagai karyawan baru Bank Saudara. Malam pertama itu memang diisi Ervy dengan pengenalan mengenai perusahaan dan SOP yang harus diketahui segenap karyawan Bank Saudara. Beranjak larut, kang Miftah menutup acara ta’aruf malam itu dengan penggalian minat dan harapan peserta dari pelatihan ini. Dibagi dalam empat kelompok, para trainee mengungkapkan harapannya kepada mentor masing-masing. Selain itu juga moment ini digunakan sebagai sarana untuk lebih mengakrabkan diri antara peserta dengan mentornya, dengan tujuan tentu saja untuk menjembatani komunikasi yang baik selama masa pelatihan berlangsung. Sehingga diharapkan peserta training tidak canggung lagi bila ingin konsultasi mengenai berbagai hal kepada mentornya masing-masing.   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  25


GERAK

Para peserta pelatihan dengan antusias menyimak materi yang disampaikan oleh Ust. Acep Lu’lu’Iddin dan Dedi A. Santika

Embun masih begitu basah menyelimuti bumi madani ketika keesokan paginya para trainee dibangunkan untuk ber -tahajjud berjamaah. Menjelang subuh, segenap peserta memulai kegiatannya dengan tafakur dan munajat kepada Allah. Oky Rachmatullah, yang pagi itu menjadi imam dan sekaligus pengisi materi Kuliah Subuh mengungkapkan bahwa kegiatan ini adalah langkah pertama untuk pengosongan jiwa, atau dalam istilah Imam Ghazali sering disebut takhally. Secara ruhiyah, peserta dibawa untuk merendahkan diri sepenuhnya dihadapan Allah, dan meletakkan semua atribut keduniaannya. Hal ini penting, agar para trainee bisa meletakkan dirinya seperti gelas kosong yang siap menerima air keilmuan. Menjelang Pukul 7, sesaat setelah berolah raga dan makan pagi bersama para peserta. Talenta sempat menemui Abu Syauqi

yang pagi itu dijadwalkan mengisi materi pertama tentang etos kerja Muslim. Pria setengah Baya yang masih nampak prima ini menegaskan bahwa pada hakekatnya setiap manusia itu punya kecenderungan untuk taat kepada Allah, itu naluri. “Tapi terkadang ritme kerja dan Lingkungan pergaulan membuat kecenderungan itu tertutupi. Tugas kita sekarang, adalah membuka hijab dan mengembalikan fitrah mereka kepada manusia seutuhnya. Yang seimbang antara jasmani dan Ruhaninya” Demikian abu Syauqi menjelaskan. Benar saja, bebrapa saat ketika Abu membeberkan etos kerja muslim. Para peserta seperti mengalami de javu atas riwayat hidup mereka. Apa yang diceritakan oelh Abu sebagai perilaku muslim yang soleh, produktif, humanis, toleran, sekaligus tegas, seakan membawa mereka kepada kenangan masa lalu. Banyak dari para

peserta yang mengungkapkan bahwa dimasa kecil hingga remaja, kegiatan ritual peribadatan harian seperti sholat, puasa dan mengaji Al-Quran bahkan begitu sering mereka lakukan. Tapi karena perubahan lingkungan, perubahan pola fikir membuat semua kebiasaan mulya itu menghilang. “Saya sudah jarang sekali baca Al-Quran, padahal dulu saya pernah menjuarai Lomba Baca Al-Quran tungkat kabupaten. Mungkin karena pengaruh lingkungan sehingga saya tidak pernah lagi membacanya, sungguh saya malu, ketika tadi pagi disuruh membaca AL-quran, saya bahkan kesulitan membacanya, meski saya masih ingat huruf apa itu” Ujar salah seorang peserta wanita. Antusaisme peserta bertambah berlipat-lipat tatkala Abu syauqi mencertakan kisah hidupnya sebagai bukti nyata bahwa kesuksesan bisa diraih dengan komitmen total kepada Allah dan ajaran Nabi. Kesuksesan dalam bermasyarakat, membangun imperium berbisnis, dan membina keluarga harmonis, bisa di buktikan bahwa semua adalah soal komitmen itu. Beranjak siang. Dedi Ahmad Santika MM ganti mengambil alih komando training. Selepas sholat dzuhur berjamah dan santap siang, Trainer yang juga sekaligus DIRUT PT. Talenta Insan Gemilang itu dengan antusias menggambarkan tentang bagaimana seharusnya citra diri seoarng karyawan Bank itu dibangun. Sebagai orang yang pernah hamper 28 Tahun malang melintang di dunia perbankan. Dedi nampak menguasai

Setelah mengisi materi Dedi A. Santika dan Abu Syauqi foto bersama dengan para peserta pelatihan.

Setelah ditempa dengan peningkatan mental individual para peserta juga dibentuk untuk meningkatkan performa sosial (team work)

26  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010


GERAK betul bagaimana menguraikan prinsip dasar mempengaruhi orang dan memperbanyak kawan itu. Kondisi Dedy yang hari itu nampak kurang sehat tak menghalangi sedikitpun bagi dirinya untuk menebarkan ilmu dan pengalamannya. “Saya memang agak sakit, kata dokter suruh Istirahat, tapi ya hiburan saya memang mengajar seperti ini. Kalau dilarang training ya tambah stress saya” canda Bapak 3 putra ini. Hampir 3 Jam berinterkasi dengan pakar Human Relation sekelas dedy ahmad santika membuat para trainee seperti tercerahkan untuk kedua kalinya. Apalagi interaksi yang terjadi cukup intens. Terhitung ada sekitar 7 pertanyaan diajukan para trainee, utamanya tentang membangun citra diri professional yang kontinyu, sekaligus menikmati setiap detail perubahan itu sebagai sebuah proses metamorfosa yang berkesinambungan. Jeda sholat ashar berlanjut dengan coffee break ditengah hangatnya lembayung senja Bumi Madani. Nikmatnya hidangan ringan dan secangkir kopi panas mengantarkan Ust Acep Lu’lu’idin menyapa trainee di sesi ketiga sore itu. Kali ini pusaran konsentrasi mereka di bawa menuju ruh perjuangan sebagai khalifatullah sejati. Bahwa peran utama manusia, dalam berbagi bidang pekerjaan yang digelutinya adalah wakil Allah di bumi. Dalam peran dan fungsinya itulah manusia dituntut untuk bekerja maksimal. Bukan sekedar mencari uang, tapi bagaimana secara professional menjalankan fungsinya sebagai Wakil Allah, dalam berbagai perananan kita di masyarakat. Sebagai perbandingan Ust. Acep

memberikan Gambaran bagaimana “profesionalitas” para penduduk palestina yang masih sedia sholat malam ditengah desingan peluru dan ancaman rudal-rudal Israel, dibandingkan dengan kita yang bahkan bisa memilih, di Masjid mana yang kita anggap paling nyaman dengan segala fasilitas yang ada untuk melaksanakan Sholat Malam. Sembari menutup sesi ini, beliau juga mengingatkan betapa cepat jatah umur yang diberikan Allah ini berkurang, sedangkan amanah yang Allah berikan kepada kita, selalu saja berakhir dalam ketidak sempurnaan. Menjelang Malam, kembali para peserta memasuki sesi Muhasabah. Kali ini trainee diajak masuk lebih dalam untuk bertanya ke pada hati masing-masing tentang sebuah pertanyaan mendasar. “Apakah kita sudah cukup ikhlas untuk memilih Islam sebagai agama kita?” . Rachmatullah Oky yang kembali mengawal proses Muhasabah malam itu mengingatkan. Betapa kebanyakan kita Menjadi muslim bukan atas hadirnya sebuah kesadaran, tapi lebih karena keturunan. Karena memang “kebetulan” lahir dari orang tua yang muslim. Sehingga Islam dengan segala tata aturannya lebih banyak terasa sebagai doktrin daripada sebuah pilihan. Diselingi pemutaran film-film pendek inspirasional mengenai kematian dan amal sholeh. Air mata trainee-pun jatuh tak terbendung. Apalagi ketika mereka diminta menuliskan komitmen spiritual mereka setelah menyelesaikan training ini dan lalu membacakannya. Emosi para trainee seperti tertumpahkan. Betapa ternyata ada kebanggan mulya dalam diri sebagai

pribadi muslim setelah kesadaran ruhiani itu terbangun. Ada yang berharap bisa melaksanakan Ibadah sunah setiap hari, ingin menghajikan kedua orang tuanya, bahkan ada yang ingin membuka kembali dan mengkaji kitab suci Al-Quran setelah sebelumnya hanya sempat menjadikannya sebagai hiasan Rumah. Subhanallah Ritme inspirasional ini berlanjut ke esokan pagi dini hari. Ketika segenap trainee kembali menghadapkan diri kepada Allah dalam syahdunya qiyamul lail. 4 Rokaat sholat tahajud dan 3 Rokaat witir membelah kembali emosi dihadapan ilahi. Sholat Malam kali ini lebih terasa penuh dengan ke khusyu’an disbanding malam sebelumnya. Mungkin karena sholat malam sudah bukan lagi bersifat paksaan, namun sudah menjadi sebuah panggilan setelah pada hari sebelumnya dibawa ke pusaran arus Ruhani yang menyejukkan. Dipuncak pelatihan ini. Para trainee ditantang untuk melewati beberapa game dalam outbond yang dihelat pagi harinya. Hampir setengah hari penuh, para peserta diajak membangun rasa percaya diri, kejujuran, kerjasama, dan bagaimana “push the limit” menuju pengembangan nilai diri yang lebih bermakna. Berjarak satu pekan. Kali ini giliran karyawan Bank Saudara dari cabang Bogor dan Jakarta yang menjadi peserta. Tak berbeda jauh dengan training di Bandung. Harapan yang dibangunpun tentu hampir sama. Membangun Kecerdasan Ruhani, menapak bumi, meniti jalan, menggapai Ridho ilahi.***

Para peserta pelatihan foto bersama setelah melaksanakan shalat Subuh berjamaah dilanjutkan dengan olahraga pagi

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  27


ADV

Belajar Mandiri Membangun Negeri

Muhammad Shobirin GM Rumah Mandiri Indonesia,

Pemuda Mandiri Jawa Barat : Sabisa bisa, kudu bisa, Pasti bisa, BISA..!!!

G

empita suara tegas itu membahana di langit Cilengkrang, Bandung timur pagi itu. Sebanyak kurang lebih 150 pemuda dari seantero penjuru Jawa Barat yang telah melewati seleksi Program Pemuda Mandiri Jawa Barat (PPMJB) telah berkumpul bersama untuk memulai 3 bulan masa transisi mereka menuju rintisan kemandirian. Program yang dihelat atas kerjasama Bank Jabar-Banten (sekarang Bank BJB) bersama Rumah Mandiri Indonesia ini secara resmi dimulai pada tanggal 1 Januari 2010 silam. Ditandai dengan penyematan tanda peserta oleh Endang Ruchiyat , Pimpinan Divisi Corporate Secretary Bank Jabar Banten, saat Launching PPMJB, yang dilaksanakan di Yayasan Pendidikan Islam Nuruzzaman, jl. Cilengkrang 1 Pasir Angin Rt.02 Rw. 07 desa Cilengrang Kabupaten Bandung. Endang Ruchiyat mengungkapkan program yang diluncurkan oleh Rumah Mandiri Indonesia ini sangat menarik bagi Bank Jabar Banten, karena bermuatan unsur dunia dan akhirat. “Ini sejalan dengan komitment para pemegang saham dan direksi Bank Jabar Banten dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri melalui dana CSR” katanya dalam sambutannya dihadapan jajaran pengurus Rumah Mandiri Indonesia, pengajar PPMJB dan YPI Nuruzzaman. Sementara itu Direktur Program Pemuda Mandiri Jawa Barat, H. Iwan Kartiwan Manshur, Lc, penyelenggraan Program ini bertujuan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia yang mempunyai

28  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

jiwa Entrepreneur, SDM yang akan membantu programprogram pembangunan Jawa Barat, serta SDM yang mampu mengoptimalisasi potensi lokal daerah di Jawa Barat. “Peserta akan distimulan untuk membentuk para pemuda yang selalu mengoptimalkan kesempatan dan keadaan yang ada disekitarnya” ujanya H. Iwan. Secara garis besar kurikulum yang dikembangkan dalam program ini adalah kurikulum perpaduan antara kurikulum yang berbasis nilai-nilai positif dan life skill sebagai berikut : 1. Materi Character Building Yaitu kajian dan pelajaran untuk membentuk dan mengembangkan karakter siswa sehingga memiliki sikap positif. Adapun kajiannya meliputi : Aqidah, Tafsir, Hadist, Fiqh dengan fokus Dakwah dan wawasan keislaman kekinian. 2. Materi Entrepreneurship Adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan untuk menstimulasi serta mengasah jiwa wirausaha siswa. Adapun kajiannya meliputi :Leadership, manajerial, teknologi tepat guna dan entrepreneurship dengan landasan penguasaan potensi lokal dan keunggulan daya saing global. 3. Materi Hard Skill Ialah bahan kajian dan pelajaran yang tujukan untuk membekali para siswa dengan kemampuan di bidang peternakan domba dan perikanan. Dengan kajian meliputi pengajaran tentang budidaya perikanan & peternakan yang menjadi salah satu produk unggulan Jawa Barat.


ADV

Diharapkan dengan kurikulum tersebut tujuan utama program ini bisa tercapai, yaitu : mendidik kader dari daerah-daerah untuk menjadi da’i entrepreneur yang siap diterjunkan kembali ke daerahnya masing-masing. Kompetensi yang diharapkan dari lulusan Pesantren ini adalah : a. Da’i yang memiliki kepribadian dan karakter positif b. Da’i yang memiliki kemampuan berdakwah secara lisan (tabligh maupun taklim) maupun secara terapan c. Da’i entrepreneur yang memiliki keahlian berwirausaha di daerahnya masing-masing dengan mengoptimalkan potensi lokal d. Da’i sebagai kader pembangunan yang turut serta dalam mensukseskan program-program pembangunan di daerahnya masing-masing. Sampai saat ini, PPMJB telah melahirkan dua angkatan dan mewisuda kurang lebih 300 orang pemuda mandiri yang saat ini tersebar di seantero Jawa Barat. Diharapkan sampai akhir 2010 nanti ada 600 pemuda mandiri yang siap berkiprah dan mengabdi di Masyarakat.

“Pada prinsipnya RMI terbuka untuk bersinergi dengan fihak manapun di seluruh Indonesia untuk semakin banyak mencetak masyarakat mandiri yang berkeprobadian Islami” Ungkapnya, klise tapi tegas. Dan tentu kita juga berharap yang sama, bahwa akan ada ribuan program kemandirian lain yang akan menciptakan suasana sejuk ini: “Indah dan luas bagi para pecinta Ilmu, Sempit dan panas bagi para penghamba nafsu Teduh dan menyenangkan bagi para ahli fikir Gerah dan membossankan bagi para ahli pelesir Penuh tantangan dan harapan bagi para pecinta kemandirian Penuh sakit dan derita bagi para pecinta kemalasan”

Informasi hubungi: CP. Trifelly Azhar Telp. 081221050980 Rumah Mandiri Indonesia Jl. RAA Martanegara No. 22A Bandung

“Setelah lulus dari program ini, kami akan memberikan mereka modal berupa perlengkapan usaha sehingga mereka tak perlu mengeluarkan biaya dalam memulai bisnis. Hingga akhir 2010 ini kami menargetkan akan ada 600 pemuda Jabar yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan,” ungkap Iwan. GM Rumah Mandiri Indonesia, Muhammad Shobirin mengungkapkan, bahwa sinergi sebagaimana yang dibangun antara RMI dan Bank BJB dalam program ini sangat mungkin untuk dikembangkan bersama fihak lain.

Para peserta didik sedang mendapatkan materi hard skill, ilmu perikanan dan peternakan

  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  29


RESENSI BUKU

S

ecara sederhana, kepercayaan berarti keyakinan. Perbedaan antara tingkat kepercayaan yang tinggi dan tingkat kepercayaan yang rendah sangatlah jelas. Salah satu kuncinya adalah komunikasi. Dalam hubungan yang didasari oleh tingkat kepercayaan yang tinggi, bisa jadi Anda mengatakan sesuatu yang salah dan orang lain masih dapat mengerti maksud Anda. Tapi jika tingkat kepercayaannya kurang, Anda akan sangat diperhatikan. Meskipun Anda benar, orang lain bisa saja salah mengartikan maksud Anda. Anda tidak perlu melihat terlalu jauh untuk menyadari hal ini. Sebagai masyarakat global kita memiliki krisis kepercayaan dalam kepemimpinan kita. Dalam level organisasi, kepercayaan terhadap perusahaan telah menurun tajam. Akan tetapi, hubungan dari segala sesuatu dibangun atas dasar dan dukungan kepercayaan. Hal tersebut juga dapat menurun bahkan hancur karena kurangnya kepercayaan. Jika kita tidak dapat mempercayai diri kita sendiri, kita akan sulit mempercayai orang lain. Incongruence (ketidakselarasan) secara pribadi sering menjadi sumber kecurigaan kita terhadap orang lain. Sebenarnya kita berada dalam krisis kepercayaan. Hal ini memengaruhi kita dalam semua hal, baik masyarakat, institusi, organisasi, hubungan dengan orang lain, bahkan secara personal sekalipun.

NOTHING IS AS FAST AS

THE SPEED OF TRUST Data Buku Judul : The Speed of Trust: The One Thing That Changes Everything Penulis : Steven R Covey Penerbit : Free Pers, New York, 2006

Economics of Trust Kepercayaan akan memengaruhi dua hal, kecepatan dan biaya. Ketika kepercayaan menurun, maka kecepatan akan menurun dan biaya meningkat (coba kita perhatikan pertimbangan waktu dan biaya keamanan bandara setelah peristiwa 11 September). Sebaliknya, jika tingkat kepercayaan bertambah kecepatan juga bertambah dan biaya akan menurun. Sebagai contoh, karena kepercayaan yang tinggi antara dua pihak, merger dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat dan menghindari biaya yang lebih besar lainnya.

You Can Do Something About This! Siapa yang Anda percayai? Teman? Rekan kerja? Atasan Anda? Mengapa Anda mempercayai orangorang tersebut? Apa yang menginspirasi Anda untuk tetap yakin membina hubungan itu? Coba kita pertimbangkan pertanyaan lain yang lebih 30  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

provokatif, siapa yang mempercayai Anda? Kepercayaan membutuhkan karakter dan kompetensi. Pada saat Anda menyadari bahwa antara karakter dan kompetensi adalah penting untuk kepercayaan, Anda dapat melihat bagaimana kombinasi antara kedua dimensi tersebut terefleksi dalam pendekatan kepemimpinan yang efektif. Kita mungkin menggunakan kata-kata yang berbeda untuk mengekpresikan ide. Akan tetapi jika Anda mengurangi atau menghilangkan kata-kata untuk melihat intisarinya, maka yang akan muncul adalah keseimbangan antara karakter dan kompetensi. The FiveWaves of Trust Atasan Anda, pimpinan divisi, CEO, BoD, anakanak, teman, rekan kerja mungkin memiliki masalah sebatas pada apa yang mereka percayai. Tapi itu tidak berarti bahwa Anda tidak memiliki kekuatan. Pada kenyataannya, mungkin Anda tidak pernah menduga seberapa kuat Anda dapat mengubah tingkat kepercayaan dalam hubungan jika Anda tahu bagaimana Anda harus bekerja “from the inside out”. Kuncinya adalah memahami dan mempelajari bagaimana “mengemudikan” pengaruh kepercayaan itu sendiri. Model ini berasal dari perumpamaan “efek riak” yang secara grafis menggambarkan sifat saling ketergantungan dari kepercayaan itu dan bagaimana gelombang itu mengalir dari dalam keluar. Perumpamaan ini mendefinisikan lima level atau konteks bagaimana kita membangun kepercayaan. The FirstWave: Self-Trust Prinsip kunci yang mendasari gelombang pertama adalah kredibilitas. Kita dapat mengembangkan kredibilitas kita dan dapat melakukannya dengan cepat, terutama jika kita memahÅami empat elemen kunci atau inti. Covey menyebutnya “4 Cores of Credibility”. 1.  Integrity Jika diumpamakan sebuah pohon, maka integritas adalah akarnya. Meskipun berada di dalam tanah dan bahkan tidak terlihat untuk sebagian besar waktu, tapi jelas sangat penting berkaitan dengan makanan, kekokohan, kestabilan, dan pertumbuhan dari seluruh pohon itu sendiri. Kita sering melihat banyak orang yang memiliki kemampuan sangat besar, meskipun terkadang maksud baik, sayangnya dilakukan dengan cara yang tidak jujur atau tidak normal. Inilah yang disebut mental “menghalalkan segala cara”. Di sisi lain, untuk memiliki integritas sebagai orang baik, bahkan untuk benar-benar menjadi orang


RESENSI BUKU baik, seringkali menjadi tidak berguna. Bagi kebanyakan orang, integritas diartikan sebagai sebuah kejujuran, menyampaikan yang sebenarnya dan meninggalkan kesan yang baik. Jadi, bagaimana cara mengembangkan integritas kita? Membuat dan menjaga komitmen untuk diri kita sendiri, berpendirian terhadap sesuatu, dan terbukalah.

4.  Results Tiga indikator kunci untuk mengevaluasi hasil yaitu, performance masa lampau, performance masa kini, dan antisipasi untuk performance di masa mendatang. Lau, bagaimana cara meningkatkan performance kita? Bertanggung jawab terhadap hasil, berharap untuk menang atau sukses, dan selesaikan dengan kerja keras kita.

2.  Intent Berdasarkan pengertian kamus, intent diartikan sebagai rencana atau maksud. Ini berhubungan erat dengan motive, agenda, dan behavior. Motive adalah alasan kita melakukan sesuatu. Agenda adalah perkembangan dari motive. Itulah mengapa Anda melakukan sesuatu karena motive Anda. Sedangkan behavior adalah manifestasi dari motive dan agenda. Perilaku terbaik akan menciptakan kredibilitas dan melahirkan kepercayaan untuk bertindak demi kepentingan orang lain. Mudah untuk mengatakan “I care” dan “I want you to win”, tapi itu adalah perilaku yang menujukkan bahwa kita bersungguh-sungguh.

The Second Wave: Relationship Trust Yang kedua ini, berkaitan dengan konsistensi behavior. Diantaranya adalah: Berbicara dengan jelas, katakan apa yang Anda maksud dan jelaskan apa yang Anda katakan

Hasil penelitian dari sebuah studi disebutkan bahwa hanya 29% dari karyawan yang memercayai bahwa pihak manajemen peduli terhadap pengembangan keahlian karyawannya dan 42% yakin bahwa pihak manajemen peduli terhadap hal itu. Penting untuk diingat bahwa terkadang perilaku yang kurang baik akan menjadi penyelesaian buruk dari maksud yang baik. Jadi, coba periksa dan definisikan ulang motive Anda, nyatakan maksud Anda. 3.  Capability Kembali pada perumpamaan pohon, kapabilitas adalah cabang yang memproduksi buah atau hasil. Salah satu cara berpikir tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kapabilitas adalah akronim TASKS (Talents, Attitudes, Skills, Knowledge, dan Style). Talents (bakat) adalah karunia alami dan menjadi kekuatan kita. Attitudes (sikap) menggambarkan paradigma kita, cara pandang kita. Skills adalah keahlian, hal-hal yang dapat kita lakukan dengan lebih baik. Knowledge merepresentasikan pembelajaran, pemahaman, wawasan, dan kesadaran. Style merepresentasikan pendekatan dan kepribadian. Cara untuk meningkatkan kredibilitas kita dengan mengembangkan kemampuan kita adalah lakukan dengan kekuatan yang kita miliki, menjaga relevansi diri sendiri, ketahui dimana Anda berada.

Tunjukkanlah rasa hormat Anda, pada dasarnya setiap orang mengharapkan penghargaan dan ingin dihormati Ciptakan transparansi, keterbukaan akan menciptakan kepercayaan tapi sembunyikan hal-hal yang dapat menimbulkan ketidakpercayaan Meluruskan kesalahan, dalam hal ini memperbaiki keadaan bukan hanya dengan meminta maaf tetapi juga mengambil tindakan untuk membuat perbaikan Perlihatkan loyalitas (kesetiaan) dengan memberikan penghargaan kepada mereka yang berbicara seolah-olah mereka benarbenar hadir dan tidak membicarakan hal buruk di belakang mereka Selalu lebih baik, dengan memperlihatkan komitmen Anda melalui perbaikan yang terus menerus Menginformasikan hasil kerja, hal ini penting untuk membangun kepercayaan dalam hubungan kerja sama yang lain. Dengan membuat track record, melakukan hal yang benar, tepat waktu, dan budget yang sesuai, akan membangun atau memulihkan kepercayaan yang hilang Menghadapi kenyataan Memperjelas harapan Mempraktikkan akuntabilitas Mendengarkan (memahami) terlebih dahulu Menjaga komitmen Memperpanjang kepercayaan ThirdWave: Organizational Trust Kebanyakan orang beranggapan bahwa organisasi mereka memiliki gejala menurunnya tingkat kepercayaan. Contoh kasusnya seperti memanipulasi fakta dengan menahan informasi, menolak ide-ide baru, dan menutup-nutupi kesalahan. Beruntung, beberapa orang menemukan bahwa orangorang di organisasinya membagi informasi

dengan terbuka, toleran terhadap kesalahankesalahan, inovatif dan kreatif. Kondisi menurunnnya kepercayaan adalah efek dari pelanggaran prinsip, tidak hanya individual, tetapi juga secara organisasi. Seorang pimpinan kehilangan solusi karena tidak melihat sistem, struktur, proses, dan kebijakan yang mempengaruhi perilaku seharihari. Pimpinan itu berfokus pada gejala-gejala yang secara prinsip tidak dapat meningkatkan kepercayaan. Ketidaksesuaian ini akan menciptakan simbol-simbol yang mewakili nilai yang mendasar kepada semua orang. Simbol yang muncul bisa negatif atau positif. FourthWave: Market Trust Market trust berkaitan dengan reputasi. Ini tentang perasaan yang membuat ingin memberi produk atau layanan, menginvestasikan uang atau waktu, dan/atau merekomendasikan tindakan lainnya kepada orang lain. Ini adalah level di mana sebagian besar orang melihat dengan jelas hubungan antara kepercayaan, kecepatan, dan biaya. Brand sangatlah penting bagi seluruh entitas organisasi, termasuk pemerintah, kawasan sekolah, rumah sakit, dan tentunya perusahaan. Reputasi sebuah sekolah memengaruhi siapa yang akan pindah ke kawasan di mana sekolah itu berada. Kota-kota yang memiliki reputasi akan mendatangkan uang dan menarik bisnis wisata. Begitu pun pada level mikro, setiap individu memiliki reputasi yang akan memengaruhi kepercayaan, kecepatan, dan harga. FifthWave: Societal Trust Prinsip utama dari kepercayaan masyarakat yaitu kontribusi. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan nilai bukan menghancurkannya, untuk memberikan bukan mengambil. Ini bukan pandangan yang praktis atau utopis tentang dunia. Prinsip-prinsip kontribusi dan tanggung jawab dapat menimbulkan kepercayaan masyarakat melalui tren saat ini yang lebih dikenal Corporate Social Responsibility (CSR). CSR adalah bentuk “kebaikan yang disengaja” dan menjadi terobosan baru untuk kebangkitan global dalam menciptakan kepercayaan. Kepercayaan merupakan komponen penting dalam bisnis. Kepercayaan bukan konsep yang sederhana, kepercayaan memerlukan penyelarasan nilai-nilai dan pemahaman yang jelas tentang harapan-harapan. Kepercayaan akan hilang bila hasil yang diperoleh buruk.***   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  31


OASIS

         SUNAN GIRI MENYEBERANG SUNGAI T

elevisi menyiarkan warta: di sebuah bilangan Kota Jakarta, ratusan orang ramai berebut air rembesan di sebuah makam seorang habib. Mereka menganggapnya air keramat. Ada yang meyakininya obat aneka penyakit. Ada yang menjadikannya penangkal ketuaan. Bahkan ada yang ingin mandi dengan air itu agar hilang segala sial. Sebuah potret masyarakat, bangsa kita, yang mungkin belum benar meletakkan penghormatan terhadap sang habib; tokoh kharismatik yang telah berjasa menyebarakan agama Islam di daerah tersebut.

Ingatan saya pun terbang ke masa pesantren dahulu. Kepada sosok seorang ustadz yang suatu ketika menceriterakan sebuah kisah pada kami, murid-muridnya, setelah tahajud berjamaah di masjid. Sebuah kisah tentang perjalanan salah seorang penyebar syiar Islam di tanah Jawa: Sunan Giri. Pada suatu hari, dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Giri tiba di pinggir sebuah sungai. Dia melihat sesuatu yang ganjil di sana. Seorang lelaki separuh baya berusaha berlari menyeberang sungai. Saat sampai di tengah, lelaki itu tercebur, lantas berenang kembali ke pinggir. Lalu, berlari lagi, tercebur lagi, dan berenang lagi ke pinggir. Demikian berulangulang. Kanjeng Sunan Giri keheranan, lalu bertanya. Sang Pertapa menjelaskan: dia ingin menyeberangi sungai itu dengan ilmu berjalan di atas air. Sudah sekitar dua belas tahun dia terus belajar. Hasilnya, dia sudah bisa berjalan sampai setengah sungai. Sunan Giri menggumam lirih, berarti masih perlu 12 tahun lagi untuk betul-betul bisa menyeberangi sungai itu. Dia pun meninggalkan pertapa itu yang terus berlatih. Pikirnya, tentu susah untuk berbicara pada orang yang rela menghabiskan waktu begitu lama untuk tujuan ilmu kanuragan seperti itu. Sunan Giri pun berlalu ke arah sungai. Dan alangkah kagetnya sang pertapa. Orang yang tadi mengajaknya bicara tanpa terlalu dihiraukannya, ternyata dengan mudah dapat berjalan di atas air. Sontak dia mengejar Sunan Giri. Begitu sampai di hadapannya, pertapa tua itu bersujud sambil memohon terhadap Sunan Giri: sudilah kiranya engkau mengajarkan ilmu berjalan di atas air itu.... Sunan Giri tersenyum ramah “Bangunlah, Kisanak. Tidak pantas engkau bersujud kepada sesama manusia. Bersujudlah hanya pada Allah, Tuhan Semesta Alam. Dan kalau Kisanak ingin tahu bagaimana caraku berjalan di atas air, lihat dan pikrikanlah bahwa Kisanak telah menghabiskan waktu 12 tahun untuk berlatih, sedangkan aku hanya perlu waktu beberapa saat untuk mengumpulkan bambu, merakitnya, lalu kugunakan untuk menahan 32  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

tubuhku ini supaya tidak tenggelam. Dan aku pun bisa berjalan di atas air dan menyebrangi sungai ini dengan rakit bambu ini,” sahut Kanjeng Sunan. Sang pertapa tertegun “Kisanak, Allah melarang kita untuk menyia-nyiakan waktu untuk halhal yang tidak berguna. Allah memberi kita akal dan pikiran untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya, menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Kalau memang bisa lebih cepat menyeberangi sungai, mengapa Kisanak menghabiskan waktu dua belas tahun untuk melakukkanya? Bayangkan, betapa banyak hal lain yang bisa Kisanak lakukan selama waktu itu, bukan?” *** Waktu. Sebuah modal berharga. Kita tidak pernah tahu sampai kapan akan diberi waktu oleh Tuhan. Saking berharganya modal ini, Allah bersumpah dengannya: “Demi waktu....” Kisah hikmah di atas mengajarkan paling tidak dua hal. Yang pertama, betapa Islam mengajarkan untuk produktif dalam pemanfaatan waktu. Dua belas tahun adalah waktu yang terlalu panjang untuk sekadar belajar bagaimana bisa berjalan di atas air. Kalau saja manfaat atau hasil yang diberikan sesuai dengan pengorbanan waktu yang dihabiskan, itu bisa dimaklumi. Tapi, jika investasi waktu yang dibuang ternyata hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri dan tidak membawa manfaat bagi masyarakat banyak, tentu ini adalah sebuah pemborosan. Bukankah Rasulullah menyampaiakn bahwa sebaik-baik kita adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Kemudian, hikmah kedua adalah tentang bagaimana kita semestinya menggunakan anugerah besar dari Allah, yaitu akal. Tidak semua ajaran agama bisa ditangkap oleh akal. Dalam hal keimanan dan akidah, hatilah yang menggambil peran. Tapi, Islam juga sangat mengajarkan bahwa memang ada hal-hal yang merupakan “makanan” bagi akal. Untuk merampungkan urusanurusan itu, sudah selayaknya manusia menggunakan akalnya. Bukan malah sebaliknya, hal-hal yang semestinya dimengerti dengan hati justru dicari-cari pembenarannya melalui akal. Dan, hal-hal logis yang seharusnya bisa dinalar justru dihadapi secara “kebatinan”. Maka, yang tampak terlihat saat ini adalah sebuah fenomena aneh, mirip dengan laku sang pertapa di pinggir sungai itu. Sekarang, dengan akalnya semakin banyak orang menggugat eksitensi Tuhan. Sama banyaknya dengan orang yang berusaha terbang dengan bertapa, berusaha menyeberangi lautan dengan mantra, berusaha berobat dengan celupan batu, mencari peruntungan dengan SMS ramalan, bahkan rela menghabiskan ratusan juta hanya untuk membeli keris keramat yang dianggap bisa membawa kesusksesan. Ah, andai Sunan Giri masih ada….***Oky


UTAMA ARUNGTOPIK JERAM

FLYING FOX SPIDER WEB LOW IMPACT GAMES

PT Talenta Insan Gemilang CNA Building 3rd Floor Jl. Gatot Soebroto No. 71A Bandung Telp. (022) 8734 0270 Ext. 107 Fax. (022) 8734 0271 Email: insan.gemilang@ymail.com

Insan Gemilang Outbound   TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010  33


TOPIK UTAMA

34  TALENTA Edisi 2 Tahun I - 2010

majalah talenta ed.2  

LEADERSHIP, sebuah tema besar yang tak pernah henti diperbincangkan.Kepemimpinan yang pada hakekatnya adalah sebuah karakter individual dan...