Page 1

7

KAMIS, 10 April 2014

2 Bule Ini Korbankan Tenaga untuk Antar Warga ke TPS

BANTUL, HMP - Tidak hanya warga Indonesia yang menyukseskan pemilihan legislatif (pileg). Dua warga asing, yakni Austria dan Jerman, rela berkeliling Kampung Pelemsewu, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, DIY, menggunakan kereta dorong untuk menjemput warga ke TPS. Warga Jerman, Stephan Koe Perl, dan warga Austria, Sylvia Wingkler, berkeliling kampung sejak pukul 07.00 WIB hingga 13.00 WIB. Mereka mengajak warga naik

kereta dorong itu untuk mengantar ke TPS. Stephan mengaku mengikuti perkembangan informasi mengenai pemilu di Indonesia melalui internet. Ia bersama rekannya, Sylvia, berinisiatif memfasilitasi warga untuk mencoblos. “Kami menyediakan transportasi berupa kereta untuk membawa warga ke tempat pemungutan suara. Ini agar masyarakat tidak golput,” ungkap Stephan, Rabu (9/4/2014), dalam Bahasa Indonesia yang terbata-

KOTAK ... dikembalikan ke TPS. Motif dibalik kejadian itu masih dalam penyelidikan pihak kepolisian,” kata Lumentut.

DARI HAL 1 Sementara itu sejumlah warga meminta kepada pihak kepolisian untuk bisa mengungkap siapa otak dari pen-

PDIP GOLKAR ... Sudah bertemu. Beliau sudah bertemu dengan Ibu mega. Saya juga sudah,” ungkap Jokowi usai menghadiri acara di studio Indosiar, Jl Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (9/4) malam. Jokowi membantah Golkar dan PDIP sudah membahas hasil perolehan suara di pemilu legislatif seperti yang dirilis berbagai lembaga melalui quick count. “Enggak. Ini sekali lagi kita enggak bicara angka-angka. Kita ingin berbicara bagaimana menyelesaikan permasalahan negara secepat-cepatnya,” tegas Jokowi. Kerja sama antara kedua partai, kata Jokowi, baru akan dilakukan jika kedua partai sudah menemukan solusi bersama untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. “Nanti kalau itu sudah sambung dan sama klop, baru kita bicara (koalisi),” ujarnya. Terkait perolehan suara yang di bawah target Jokowi menegaskan koalisi yang akan dibangun tidak akan berbau transaksional. “Apakah kita yang di jakarta hanya punya 11 persen. Apakah kamu melihat bahwa kita transaksional? Memang tergantung kepemimpinan. Punya prinsip atau tidak punya prinsip. Berani atau tidak berani,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, terkait wacana berkoalisi dengan Partai Gerindra, hal tersebut bisa saja terjadi. SBY, yang juga Presiden RI, mengatakan, di dalam politik, se-

curian kotak suara tersebut. Harus diungkap, supaya diketahui siapa dalangnya. (JO/ PAL)

DARI HAL 1 gala kemungkinan bisa saja terjadi. “Menurut Otto von Bismarck, politics is the art of the possible,” kata SBY dalam jumpa pers di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, Rabu (9/4/2014). Kendati demikian, SBY mengatakan, terlalu dini jika dia berbicara soal peluang berkoalisi dengan partai pimpinan Letjen (Purn) Prabowo Subianto tersebut. Menurut dia, Partai Demokrat (PD) tengah melakukan konsolidasi. Setelah peta politik menjadi semakin jelas, PD tentu ingin menjalin komunikasi politik dengan parpol lain. Baik PD maupun Gerindra berniat mengusung calon presiden pada Pemilu 2014. Namun, berdasarkan hasil hitung cepat beberapa lembaga survei dan media, keduanya tidak berhasil memenuhi syarat mengajukan pasangan calon presiden-calon wakil presiden (presidential threshold), yakni 20 persen kursi di parlemen atau 25 persen suara sah nasional. Maka dari itu, baik PD maupun Gerindra harus berkoalisi dengan parpol lain agar mampu mengusung pasangan caprescawapres. Sebelum pemilu, kedua pemimpin parpol telah melakukan komunikasi politik, setidaknya dua kali. Pertemuan pertama berlangsung pada 11 Maret 2013. Selanjutnya, SBY dan Prabowo, yang juga rekan satu angkatan di Akabri 1973, kembali bertemu pada 24 Desember 2013. Saat bertemu, keduanya mengaku membicarakan ban-

TERANCAM ... count Pemilu 2014. Menurut Suryadharma, untuk melengserkan dirinya, ada proses yang harus dilewati. Wacana itu juga dinilainya belum merupakan pandangan semua komponen partai. “Ada proses. Pandangan seperti itu belum tentu pandangan seluruh PPP,” kata Surydharma, saat tampil di Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV, Rabu (9/4/2014) malam. Ketika disinggung adanya kekecewaan di internal PPP atas manuvernya menghadiri kampanye Partai Gerindra, Suryadharma mengatakan bahwa hal itu bagian dari penjajakan koalisi. Ia membantah pernyataan Wakil Ketua Umum DPP PPP Emron Pangkapi yang menyebut

bata. Stephan mengaku tidak difasilitasi pihak mana pun, melainkan murni atas inisiatif pribadi dan Sylvia. “Saya baru pertama kali, saya datang dan ingin mengajak masyarakat untuk memilih,” imbuhnya. Sementara itu seorang warga, Mira Octa, mengatakan, apa yang dilakukan Stephan dan Sylvia efektif untuk mengajak warga yang malas ke TPS untuk mencoblos. “Senang bisa diantar ke TPS,” katanya. (mdk)

yak hal, termasuk soal Pemilu 2014. Prabowo mengatakan, SBY sempat mendukung rencananya untuk maju menjadi calon presiden. Di tempat terpisah Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Nurpati mengatakan, Partai Demokrat menerima hasil quick count (hitung cepat) sejumlah lembaga yang menyatakan perolehan suara partai pemenang Pemilu 2009 itu belum melampaui dua digit. Berdasarkan hasil hitung cepat Kompas pukul 22.49, Rabu (9/4/2014), Demokrat mendapatkan 9,44 persen suara. Dikatakan Nurpati, partainya akan realistis setelah melihat hasil Pemilu legislatif. Demikian pula dengan kelanjutan Konvensi Capres Partai Demokrat. “Kami harus realistis dengan keadaan yang ada,” ujar Andi Nurpati, di Cikeas, Bogor, Rabu (9/4/2014). Kemungkinan, kata dia, Partai Demokrat akan mengusung calon wakil presiden. Namun, siapa sosok yang akan disodorkan, ia belum mau menyebutkannya. Ia juga mengatakan, Demokrat siap menjadi oposisi. “Tidak masalah buat kami. Berbuat untuk masyarakat tidak harus ada dalam koalisi. Oleh karena itu, Partai Demokrat tidak ada salahnya berpeluang juga menjadi oposisi,” kata dia. Nurpati mengungkapkan, saat ini, Ketua Umum DPP Partai Demokrat tengah menjalin komunikasi politik dengan pimpinan partai-partai lain. “Sekarang tidak ada partai yang suaranya dominan,” katanya. (JW/mdk/kps)

DARI HAL 1 bahwa langkah Suryadharma ibarat menyerahkan lehernya kepada partai lain. “Salah besar kalau kehadiran saya ke kampanye Gerindra sebagai bentuk penyerahan ‘leher’ saya pada Gerindra. Kita sama-sama merasa sejajar. Pandangan-pandangan tersebut tidak perlu dihiraukan karena kultur PPP seperti itu. PPP itu kalau ibarat perusahaan sudah go public, pemegang saham banyak sehingga mereka berhak bicara,” papar Menteri Agama ini. Ia juga membantah bahwa apa yang dilakukan merupakan manuver pribadi. Sebagai ketua umum, ia mengatakan, apa yang dilakukannya tak bisa dilepaskan dari partai. Terkait hasil quick count

Pemilu 2014 yang menempatkan PPP pada kisaran perolehan suara 6 persen, ia mengaku bersyukur sekaligus kecewa. “Hasil ini menggembirakan sekaligus mengecewakan. Gembira karena sejumlah lembaga survei banyak yang memprediksi PPP tidak masuk PT (presidential treshold). Nyatanya masuk, di kisaran 6,36 persen. Kami bersyukur. Kedua, perolehan suara PPP meningkat dibanding tahun 2009 walau peningkatan tidak banyak. Tidak sesuai harapan. Kami kecewa karena tidak sesuai target 12 persen. Saya harap bahwa angka quick count bisa berubah pada perhitungan real,” ujar Suryadharma. (kpc)

Ironi Pembunuhan Anggota TNI AL oleh Nelayan Thailand KABAR duka datang dari lautan jauh saat bangsa Indonesia tengah sibuk menghadapi pesta demokrasi Pemilu. Dua personel TNI Angkatan Laut dikhawatirkan telah gugur awal Maret lalu saat menjalankan tugas menjaga batas wilayah laut Indonesia. Yang lebih menyakitkan, mereka gugur bukan karena bertempur dengan pasukan musuh, melainkan diduga kuat dibunuh oleh sekelompok nelayan asal Thailand yang kepergok sedang mencuri ikan di lautan Indonesia, tepatnya di sebelah selatan Selat Malaka. Bahkan, hingga tengah pekan ini, jenazah mereka belum ditemukan. Pihak berwenang Thailand segera bertindak dengan mencokok para nelayan tersangka pembunuh itu setelah mendapat laporan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok, yang bersumber dari TNI AL. Proses hukum di Thailand tengah berjalan walau belum ditentukan kapan mereka diadili. Ironisnya, pembunuhan ini terjadi saat pemerintah Indonesia tengah memodernisasi pertahanannya dengan alokasi anggaran Rp83,4 triliun. Insiden ini juga menandakan bahwa pencurian ikan oleh nelayan asing di Indonesia masih marak terjadi. Badan Pemeriksa Keuangan pun pernah mendata bahwa pencurian ini telah merugikan Indonesia ratusan triliun rupiah. Kepada VIVAnews, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Untung Suropati, mengungkapkan cukup panjang lebar tragedi yang menimpa dua prajurit. Mereka adalah Sersan Mayor Afriansyah dan Edi. Peristiwa terjadi pada 8 Maret 2014. Mereka dibunuh saat berada di dalam kapal pukat harimau bernama Sor Nattaya 7, yang tengah berlayar ke Pulau Talampa, sebelah selatan Selat Malaka. Kata Untung, saat itu kapal patroli TNI AL pergoki para nelayan Thailand yang menangkap ikan secara ilegal di perairan Natuna. Mereka melihat dua kapal milik nelayan Thailand. Satu kapal yang digunakan oleh dua nelayan Thailand itu berbendera Indonesia dan bernama KM Laut Jaya 05. “Sementara satu kapal lagi tidak diketahui namanya, karena ketika dicek kapalnya, nama kapal samar dan tidak terlihat jelas. Lalu, ketika anggota kami ingin meminta dokumen, mereka tidak memilikinya. Oleh sebab itu, kami anggap mereka melakukan tindakan ilegal,” kata Untung pada 7 April 2014. Empat anggota TNI AL, yakni Sersan Dua Mes Syamsul Alam, Bujang, Sersan Mayor Afriansyah, dan Edi, segera menindak dua kapal itu. Mereka ingin membawa kedua kapal tersebut ke Landasan AL di Tarempa, Kabupaten Anambas, di Kepulauan Riau.

“Mereka dibagi menjadi dua tim. Serda Mes Syamsul Alam dan Bujang naik dan mengawal kapal KM Laut Jaya 05. Sementara Sersan Mayor Afriansyah dan Edi naik kapal yang tidak bernama itu,” papar Untung. Belakangan, kapal tersebut diketahui bernama Sor Nattaya 7. Ternyata, di tengah jalan saat menuju ke Tarempa, kapal yang tidak bernama itu, lanjut Untung, mematikan lampu. KM Laut Jaya 05, yang berada di depannya, kesulitan mencari. Suasana di sekeliling gelap. Kapal yang di dalamnya terdapat dua anggota TNI itu dinyatakan hilang pada Sabtu, 8 Maret 2014. Sementara KM Laut Jaya 05 tiba di Tarempa Minggu, 9 Maret 2014. Untung menjelaskan pihak TNI AL sudah meminta bantuan kepada Pemerintah Thailand untuk mencari keberadaan kapal tak bernama itu. Namun, hingga saat ini, dia mengatakan belum ada laporan apa pun yang dikirimkan oleh Polisi Kerajaan Thailand. Dia pun mengetahui soal adanya laporan dari media di Bangkok dan dalam negeri, bahwa dua anggota TNI AL telah dibunuh oleh nelayan Thailand itu. Tetapi, kata Untung, TNI AL belum berani menyimpulkan demikian, karena belum ada laporan dari polisi Kerajaan Thailand apakah benar dua anggota TNI AL telah dibunuh dan jasad mereka dibuang ke laut sehingga belum ditemukan. “Hingga saat ini belum ada konfirmasi dari Polisi Kerajaan Thailand. Kami masih terus berkoordinasi untuk mencari keberadaan kapal tersebut,” kata Untung. TNI AL, lanjut Untung, masih memiliki harapan yang besar anggotanya masih hidup, karena jasad keduanya apabila benar dibunuh, belum ditemukan sampai saat ini. Dia mengaku telah mendesak Polisi Kerajaan Thailand agar memberi informasi terkait perkembangan kasus ini, namun belum ada masukan resmi dari mereka. Menurut laporan harian Bangkok Post, yang mengutip seorang sumber, kedua anggota TNI AL itu telah dibunuh dengan cara kepalanya dipukul menggunakan palu, lalu tubuh keduanya ditusuk hingga tewas. Jasad keduanya lalu dibuang begitu saja ke laut lepas. Polisi Kerajaan Thailand hingga saat ini telah menahan sembilan tersangka terkait peristiwa pembunuhan itu. Sementara kapal yang disebut TNI AL tidak bernama, menurut Bangkok Post diketahui bernama Sor Nattaya 7. Kapal tersebut berhasil ditemukan polisi tanggal 13 Maret 2014. Pelaku diduga sengaja mengecat ulang kapal yang mereka gunakan untuk

mencari ikan. Operasi Pencarian Untung juga mengungkapkan hingga kini timnya masih terus mencari kapal nelayan Thailand yang ditumpangi oleh dua anggota TNI AL. “Area di wilayah Perairan Natuna yang kami sisir tentu yang berbatasan dengan Thailand. Karena pemikiran kami, apabila nelayan tersebut melarikan diri maka mereka biasanya akan kembali ke perairan negara asalnya,” ujar Untung. Beberapa alutsista dikerahkan untuk mencari keberadaan kapal yang menurut laporan harian Bangkok Post bernama Sor Nattaya 7. “Kami mengerahkan KRI Pati Unus 384, lalu Kaltarup II 428, Kapal Patkamla milik Lanal Tarempa II 429 dan pesawat patroli udara maritim. Selain itu, TNI AL juga mendapat bantuan satu helikopter yang digunakan untuk mencari kapal tersebut dari PT Conoco Phillips,” ujar Untung. Proses pencarian, lanjut Untung, masih terus berlangsung hingga hari ini. TNI AL juga menjalin kerjasama dan berkoordinasi dengan AL Kerajaan Thailand. “Saat berkoordinasi itu, kami aktif memberi informasi. Harapannya, kapal itu segera ditemukan,” kata Untung. Melihat kenyataan itu, kata dia, TNI AL masih berharap kedua anggotanya dapat ditemukan dalam keadaan hidup. Sebab, hingga saat ini, apabila dikatakan keduanya telah dibunuh, belum ada jasad yang ditemukan. Ditanya soal tingkat kerawanan di Perairan Natuna untuk aktivitas penangkapan ikan ilegal, Untung menyebut, setiap perairan yang berbatasan dengan negara lain kerawanannya tinggi. “Masalahnya kan tidak ada tanda perbatasan negaranya kalau di laut. Beda, dengan area di darat. Perbatasan antar negara telah ditandai menggunakan patok,” kata dia. Perairan yang rawan juga terjadi di Perairan Selat Malaka yang berbatasan dengan Malaysia. “Rawan di sini, tidak hanya untuk melakukan penangkapan ikan secara ilegal. Namun, bisa juga jalur itu digunakan untuk menyelundupkan orang atau narkotika,” ujar Untung. Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand, Lutfi Rauf, memastikan bahwa aparat Thailand menangani kasus dugaan pembunuhan itu. “Menindak lanjuti permintaan Pemerintah Indonesia, aparat Kepolisian Thailand segera melakukan pemeriksaan dan telah menahan beberapa orang yang diduga sebagai pelaku,” tulis Lutfi. Dalam waktu cepat, lanjut Lu-

BANTENG ... mendominasi perolehan suara Nusa Utara. Kursi ke-empat DPRRI, bisa menjadi milik Partai Demokrat dengan kader tua E. E. Mangindaan yang masih cukup tangguh bagi lima kader partai berlambang bintang mercy. Lima kader partai lain-

DARI HAL 1 nya yang bertarung rupanya masih harus merelakan jatah kursi senayan kepada mantan Gubernur Sulut ini. Sedangkan kursi kelima mungkin menjadi milik Partai Gerindra yang mengadalkan Wenny Warouw, Henny Wullur, Audy Lieke, dan Glenny Kairupan. Partai

besutan Prabowo Subianto ini sempat memasang target merebut dua kursi ke Senayan Sedangkan kursi keenam, diperkirakan akan dperebutkan oleh dua partai yakni Partai NasDem atau PAN. NasDem sendiri diperkirakan meraup suara signifikan melalui kadernya

PEMILU ... kan peninjauan langsung di sejumlah TPS di lima kabupaten dan kota menilai pemungutan suara secara umum lancar, aman, dan partisipasi rakyat cukup terpelihara. “Secara umum saya lihat, lancar dan aman. Rakyat antusias datang ke TPS,” kata SHS. Namun menurut SHS, pe-

rubahan tehnis pencoblosan masih kurang sosialisasi. Sebab banyak warga yang kurang memahami cara pencoblosan. Akibatnya, waktu yang tersedia untuk pencoblosan cukup tersita. Sehingga, hampir semua TPS terlambat melakukan penghitungan suara. “Perkiraannya,

penghitungan suara bisa selesai sore hari. Tetapi ternyata hampir semua penghitungan selesai malam hari,” katanya. Kepada penyelenggara Pemilu, KPU dan Panwaslu, Gubernur Sarundajang berharap untuk terus melaksanakan tugas lenjutan berupa rekapitulasi suara sesuai jadwal

dan ketentuan yang berlaku. “Kita akan terus mendukung KPU dalam tugas selanjutnya, tetapi KPU juga harus konsisten pada ketentuan dan menghindari praktik yang menyalahi aturan. Saya yakin KPU akan terus bertindak jujur dan adil dalam tugas lanjutannya,” harap SHS. (JW)

DARI HAL 1 ya meraih 19 % maka partai “moncong putih” ini harus membuka pintu berkoalisi dengan partai lain untuk bisa maju dalam Pemilu Pilpres Juni mendatang. Sementara itu di Sulawesi Utara sendiri, sesuai laporan dari berbagai daerah setidaknya ada enam partai berbasis nasionalis memperoleh suara cukup signifikan. Keenam partai itu masing-masing, PDI-P, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai NasDem, PAN, dan Partai Hanura. Ini sekaligus menggambarkan, public Sulawesi Utara lebih memilih

partai berbasis nasionalis disbanding partai berbasis sectarian agama. Partai Golar dan Partai Demokrat di perkirakan mengalami penurunan cukup signifikan terutama di kawasan Minahasa Raya dan di tiga kota utama, Manado, Bitung, dan Tomohon. Sedangkan tiga partai yang mengalami kenaikan perolehan suara adalah PDI-P, Gerindra, dan NasDem. PDI-P Optimis Sementara itu, PDI Perjuangan sendiri tetap optimis bisa memperoleh suara lebih 20 persen, sehingga bisa men-

jadi pengusung tunggal calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu Pilpres Juni mendatang. Berbagai hasil perhitungan cepat menunjukan PDI-P baru mencapai perolehan suara antara 19,57 % - 19,87 %. Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan, Puan Maharani Soekarnoputri PDIP mengatakan, pihaknya baru akan mengambil sikap lebih lanjut setelah perhitungan resmi KPU diumumkan. Diakuinya, ada optimisme perolehan suara partainya akan mencapai lebih 20 %. (JW/ JO)

pemilu legislatif. Demikian pula dengan kelanjutan Konvensi Capres Partai Demokrat. “Kami harus realistis dengan keadaan yang ada,” ujar Andi Nurpati, di Cikeas, Bogor, Rabu (9/4/2014). Kemungkinan, kata dia, Partai Demokrat akan mengusung calon wakil presiden.

Namun, siapa sosok yang akan disodorkan, ia belum mau menyebutkannya. Ia juga mengatakan, Demokrat siap menjadi oposisi. “Tidak masalah buat kami. Berbuat untuk masyarakat tidak harus ada dalam koalisi. Oleh karena itu, Partai Demokrat tidak ada salahnya berpeluang

juga menjadi oposisi,” kata dia. Nurpati mengungkapkan, saat ini, Ketua Umum DPP Partai Demokrat tengah menjalin komunikasi politik dengan pimpinan partai-partai lain. “Sekarang tidak ada partai yang suaranya dominan,” katanya. (kpc)

DEMOKRAT ... Pemilu 2009 itu belum melampaui dua digit. Berdasarkan hasil hitung cepat Kompas pukul 22.49, Rabu (9/4/2014), Demokrat mendapatkan 9,44 persen suara. Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Andi Nurpati mengatakan, partainya akan realistis setelah melihat hasil

Pdt. Dr. Nico Gara, Virgie Baker, dan Meydi Sumerah. Sedangkan PAN sendiri untuk merebut satu kursi, mengandalkan Yasti Supredjo, Bara Hasibuan, dan Tonny Kauang. Kedua partai ini diperkirakan bersaing ketat merebut satu kursi ke Senayan. (JO/JW)

DARI HAL 1

PDI-P ... Sedangkan dua partai yakni PBB dan PKPI diperkirakan tidak akan lolos atau terdegradasi. Perhitungan cepat ini dapat berubah, selain masih bersifat sementara dan memiliki margin error sekitar 1 % dan dapat berbeda dengan hasil perhitungan resmi KPU. Tampilnya PDI-P memimpin perolehan suara memang sudah diprediksi banyak kalangan sebelum Pemilu legislatif digelar. Namun capaian sekitar 19 persen ini masih jauh dari target optimis PDI-P sendiri sebesar 27 persen. Jika PDI-P pada perhitungan resmi han-

thfi, Polisi Kerajaan Thailand lantas menugaskan Mayor Jenderal Polisi Pisit Pisutisak, untuk menangani kasus tersebut. Hasilnya, sebanyak sembilan tersangka berhasil dibekuk. Kesembilan tersangka yakni bernama Lampian Kanthee, Suthi Kiriphob, Solae Pandika, Nudda Kumeaid, Chum Yodwongsa, Dang Kanmunee, Sripai Suwannaprapha, Sorasit So-in, dan Suriwong Chuehom. Dalam sebuah jumpa pers yang dihadir Pelaksana Pejabat Konsuler KBRI Bangkok, Yuyun Kamhayun, kesembilan tersangka mengaku telah terlibat dalam aksi pembunuhan keji itu. Menurut laporan seorang sumber, usai membunuh dua anggota TNI AL itu, kapal pukat itu kembali ke perairan Thailand, lalu berlabuh di Koh Nu di daerah Songkhla pada 13 Maret 2014. Polisi kemudian berhasil menemukan kapal itu. Pelaku sengaja mengecat ulang kapal yang mereka gunakan untuk bekerja mencari ikan. Selain itu, polisi Thailand juga menyita senjata yang diduga milik salah satu anggota TNI AL, Alfriansyah. Sebelumnya tanggal 25 Maret 2014, Pengadilan Kabupaten Songkhla telah mengeluarkan surat penahanan terhadap 12 kru kapal Sor Nattaya 7. Kerugian Besar Sebagai negara maritim, Indonesia kaya dengan hasil laut, termasuk ikan. Namun, luasnya perbatasan maritim dengan kemampuan yang sangat terbatas dalam menjaganya membuat Indonesia jadi sasaran empuk bagi para nelayan asing untuk mencuri ikan. Badan Pemeriksa Keuangan pun pernah menghitung potensi kerugian akibat pencurian ikan (illegal fishing) oleh nelayan asing di lautan nusantara. Jumlahnya mencapai Rp300 triliun. Anggota BPK, Ali Maskur Musa, menyatakan pencegahaan illegal fishing sangat sulit dilakukan karena berbagai hal. Di antaranya penjagaan perbatasan laut yang kurang optimal. Selain itu, dia menambahkan, jaringan illegal fishing bekerja dengan sangat rapi. “Beberapa modus illegal fishing di antaranya masuknya kapal asing dengan memanfaatkan kelengahan aparat. Manipulasi izin kapal yang tidak sesuai dan transaksi di laut lepas oleh para nelayan asing,” kata Ali seperti dikutip VIVAnews beberapa waktu lalu. BPK berharap, dermaga-dermaga lokal bisa dioptimalkan. Dari titik ini, jumlah kerugian negara bisa dikontrol. Pencurian ikan ini memang membuat gusar pemerintah. Indonesia pernah menyerukan negara-negara ASEAN untuk menhadang aksi illegal fishing ini.(VIVA)

DARI HAL 1

Hal 7  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you