Issuu on Google+


TAKE 2

DARI REDAKSI

P TRET

EDITORIAL

HARI FILM

Film ‘Jangan Biarkan Mereka Lapar”

MARET, bulan renungan bagi masyarakat perfilman Indonesia. Seperti biasa, terlihat aktivitas menjelang 30 Maret yang ditetapkan sebagai Hari Film Nasional (HFN). Sejumlah kantong-kantong perfilman di daerah dan Jakarta sebagai pusat film industri tampak sibuk sejak awal Maret. Kineforum di Jakarta, Komunitas Film Solo, Yogya, Purbalingga, Medan, Bandung merayakan HFN dengan intensitasnya masing-masing. HFN sejatinya menjadi momentum bagi masyarakat film nasional untuk kembali menengok sejarah. Penetapan HFN yang tertulis dalam Keputusan Presiden No 25/1999 merupakan perjuangan insan film Indonesia selama 37 tahun. Kesepakatan itu diambil dalam konperensi organisasi-organisasi perfilman dengan Dewan Film Indonesia yang jadi Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N). Hal yang melatari pemilihan tanggal 30 Maret sebagai HFN adalah film Darah dan Doa (Long March Th 1950). Film perjuangan karya sutradara Usmar Ismail itu, diproduksi pertamakalinya oleh perusahaan film nasional Perfini. Ada semangat kebangkitan di sana. Setelah puluhan tahun film Indonesia melebarkan layar, suasana tidak beranjak. Insan film masih dalam kesimpangsiuran suasana lahir dan batin akibat ketiadaan aturan dan perhatian sungguh-sungguh dari pemerintah. Maka, banyak insan film yang tedesak, memilih membuat film-film busuk. Kemunduran pengelolaan perfilman terasa sejak beberapa tahun. Matinya Badan Pertimbangan Perfilman Nasional tahun 2009 tanpa pengganti, adalah langkah konkret merusak perfilman. Ditambah lagi dengan disahkannya UU No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman tanpa peraturan pemerintah. Wacana tentang pemerintah memperbaiki kondisi perfilman menjadi omongan usang. Perubahan kebijakan membagi pengurusan perfilman di Kementerian Pendidikan dan Kebudayan serta di Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, tidak membuat urusan perfilman menjadi lebih baik. Alih-alih mengurus film justru pembagian pengelolaan di dua departemen ini menjadi majal bagi usaha dan kreatifitas perfilman. Sebab, tidak ada pejabat yang berkompetensi untuk mendukung usaha perbaikan tersebut. Kita menyaksikan kepengurusan di kedua departemen, lebih sekadar berbagi kue anggaran yang pengelolaannya patut dicurigai. Selamat Hari Film. Teguh Imam Suryadi di twitter @teguhimamsurya

(foto: Buku Poster Film Indonesia/KF)

FILM Jangan Biarkan Mereka Lapar dirilis pada tahun 1974, disutradarai oleh Arifin C. Noer dan dibintangi oleh Enteng Tanamal, Rano Karno, Rachmat Hidayat, Sukarno M Noor, Pitrajaya Burnama, dan Broery Marantika. Diproduksi Tim Aurea Aristo Film dengan produser Chris Pattikawa. Kisahnya tentang Ruslan dan Kemal (Sinyo Hilaul dan Rano Karno) yang bekerja mencari uang dan meninggalkan sekolah untuk menghidupi dua adiknya. (foto: Sinematek Indonesia)

Sihar dan Misteri Lukisan Nabila WARTAWAN yang juga aktivis kebudayaan Sihar Ramses Simatupang, kembali menetaskan karya. Kali ini sebuah novel dengan citra misteri berjudul Misteri Lukisan Nabila. Dia mendedikasikan novelnya untuk kalangan yang ingin merespons ingatan atas tercampaknya keadilan di negeri ini. Sihar yang kini redaktur kebudayaan di Harian Sinar Harapan, saat merilis bukunya menyebut karyanya berisi 188 halaman dan diterbitkan Nuansa Cendekia medio November 2012 “Ini tentang pergantian rezim di negara ini. Pergantian yang menuntut banyak korban, termasuk mereka yang diculik dan dihilangkan secara paksa,” katanya saat bedah buku di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jum’at, 1 Februari 2013. Bedah novel ini banyak didatangi peserta, menghadirkan pembicara Imam Muhtarom sebagai pengamat sastra, Fransisca Ria Susanti sebagai jurnalis dan aktivis PRD 1998 dengan moderator Lusiana Indriasari dari Kompas. “Jujur, ini buku paling sulit yang pernah saya buat karena bukan sematamata imajinasi,” kata pemilik nama lengkap Sihar. Penulis lulusan Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, tersebut ingin mengajak pembaca menyelami kepedihan yang dirasakan oleh orang-orang terdekat dari para aktivis yang hilang tanpa jejak. Hal ini tersaji melalui tokoh sentral, Nabila

EDISI 42 / TH V / MARET 2013

yang berprofesi sebagai pelukis. Dikisahkan bahwa kekasih Nabila, seorang aktivis bernama Bentar, hilang ketika memperjuangkan reformasi. Dalam novel ini, hilangnya Bentar menjadi urusan pribadi belaka, yakni urusan Nabila dan Sutarmi - wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Bentar. Orang lain belum tentu memiliki simpati yang sama ataupun merasakan kepedihan sebesar dua tokoh tersebut. “Awalnya, saya mengira ini cerita tentang kasih tak sampai atau perempuan yang tidak berjodoh dengan kekasihnya. Tapi, ketika saya menutup buku ini, yang pertama kali muncul di benak saya adalah wajah Bimo Petrus, wajah Herman, dan kawan-kawan lain, yang sampai saat ini tidak kembali,” tutur Santi, salah satu jurnalis yang ikut membedah buku Misteri Lukisan Nabila. Sihar sendiri mengaku tidak ingin menyajikan rincian data ataupun fakta dalam novel ini, karena menurutnya semua itu bisa didapatkan melalu internet serta arsip-arsip berita nasional. “Tapi saya mengincar ke perasaan orang-orang yang ditinggalkan,” Sihar menjelaskan. Kemasan Misteri Ada dua jenis misteri pada novel ini, pertama misteri ala detektif, yang berusaha mengungkap hilangnya Bentar, sedangkan yang kedua adalah misteri

INFOTEMEN

Aktivis kebudayaan, Sihar Ramses Simatupang

dalam arti klenik (berhubungan dengan roh halus). Klenik di sini dimunculkan dalam wujud roh Bentar yang berusaha “mengontak” Nabila dan Sutarmi, ibunya, untuk membantu mereka menguak misteri dirinya yang hilang. “Perihal klenik ini bukan sekadar guyon. Paling tidak saya bisa menyentuh sampai saat Bentar disiksa. Segala siksaan (itu) hanya bisa disaksikan melalui mata roh. Dengan latar belakang kristiani saya memang tidak meyakini bahwa roh bisa berhadapan langsung dengan manusia, maka saya mengakalinya dengan mimipi. Jadi, rohnya tidak pernah bertemu langsung,” kata Sihar seraya tertawa. Ayah satu anak itu pun berharap novel ini bisa dibaca seluruh kalangan masyarakat agar mereka mengingat jejak para pejuang reformasi, yang kasusnya belum terselesaikan. (kf/tis)

Diterbitkan pertamakali di Jakarta tanggal 12 Mei 2009 oleh Komunitas Pekerja Perfilman Jakarta Kode ISSN 2086-0358 NPWP 54.158.6009.5-027.000 Pendiri/ Penanggungjawab Teguh Imam Suryadi Redaktur Pelaksana Didang Pradjasasmita Redaksi Bobby Batara Jufry Bulian Ababil (Medan), Desain: Rizwana Rachman Distribusi: Dede, Jamilan Penasihat Hukum Drs H Kamsul Hasan SH MH Alamat Redaksi/ Iklan/ Sirkulasi Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya Seksi Film dan Kebudayaan, Lantai IV Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Jalan HR Rasuna Said Kavling No C-22 Kuningan, Jakarta Selatan. Tlp: 021-97924704 - 0818404013. Rekening BANK BCA No Rekening: 5730257874 a/n Teguh Imam Suryadi Email kabar.film@yahoo.com Facebook Kabar Film Grup Website www.kabarfilm.com

ISTILAH KATA DIALOG DIRECTOR: Orang dalam set yang membantu para aktor atau aktris dalam mempelajari dialog mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog pra-syuting. MASTER: Rekaman asli dari suatu produk yang dianggap sudah tuntas. Safety master adalah master yang hanya digunakan sebagai sumber terakhir, sehingga risiko kerusakan atau penurunan kualitas dapat diminimalisir. Copy master adalah salinan dari master. SEQUENCE : Rangkaian adegan. Squence shot menunjuk pada shot panjang. Biasanya dengan pergerakan kamera yang rumit. SET : Lingkungan buatan yang digunakan untuk pengambilan gambar. Biasanya set tidak dibuat selengkap lingkungan yang dikehendaki naskah demi kemudahan proses syuting, namun tetap diupayakan natural dilihat di kamera.**

DATA PENONTON FILM INDONESIA SAMPAI 18 MARET 2013 Petualangan Singa Berani Sule Detektif Tokek Berlian Si Etty Belenggu Rectoverso Air Terjun Pengantin Phuket Mika Operation Wedding Dead Mine Rectoverso Belenggu Jeritan Danau Terlarang Demi Ucok Misteri Cipularang Gending Sriwijaya Habibie dan Ainun 5 CM Di Sini Ada Yang Mati Kata Hati

32.508 37.643 6.209 77.429 135.325 213.602 169.151 144.835 144.768 135.325 77.429 72.849 61.825 58.629 49.084 4.383.149 2.386.165 29.537 38.887

Sumber data: Berbagai sumber/ PPFI


CASTING

AKTRIS Atiqah Hasiholan mendapatkan tantangan baru saat beradu akting dengan aktor Hollywood, Mickey Rourke di film Java Heat. Meski sempat grogy, namun dia bangga bisa bermain dengan aktor pemeran film Iron Man 2, The Expendable, Once Upon A Time In Mexico, dan Sin City. “Deg-degan syuting bareng Mickey. Aku tahu dia sudah lama sejak 1980-an. Aku juga suka filmnya. Sebelum syuting aku deg-degan, sampai keringat dingin. Aku bayangin saja dia siapa, orang lain, bukan Mickey,” katanya di Jakarta, Selasa (26/2/2013). Menurutnya, sosok Mickey sangat rendah hati. Atiqah sendiri baru saja menyelesaikan film terbarunya yang berjudul Java Heat. Ia sendiri berpe-

FILM Sang Kyai telah selesai produksi dan siap tayang. Film berlatar perjuangan Kyai Hasyim Asy’ari ini menjadi film kolosal termahal dari rumah produksi Rapi Films yang diproduseri Gope Samtani. Sejumlah pemain dihadirkan antaranya Christine Hakim, Ikranegara, Adipati Dolken, Agus Kuncoro, dan lainnya. Ditemui saat syuting Sang Kyai di Kediri beberapa waktu lalu,

Deg-degan syuting bareng Mickey. Aku tahu dia sudah lama sejak 1980-an. Aku juga suka filmnya. Sebelum syuting aku deg-degan, sampai keringat dingin ran sebagai puteri dari Kerajaan Keraton yang beradu akting dengan bintang film yang diseganinya. Film kerja sama Amerika Serikat dan Indonesia tersebut tidak hanya melibat-

Agus Kuncor mengatakan film Sang Kyai merupakan metafora baru perfilman Indonesia. “Skenarionya kuat dan padat, meskipun dalam buku tidak tercatat, namun ada kisah menarik di balik film ini,” ungkap Agus Kuncoro, yang di film Sang Kyai, memerankan sosok ayah dari KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) pimpinan Nahdlatul Ulama, yakni KH Wahid Hasyim. “Film ini akan menjadi

kan aktor Indonesia, tapi juga aktor asal Hollywood lainnya, Kellan Lutz. “Kesannya senang, dia rendah hati meski namanya telah dikenal di dunia film Hollywood, bahkan dia kasih masukan tentang syuting dan akting. Nggak nyangka dia serendah hati gitu. Malah aku yang malu, dia yang senior tapi lebih ramah,” ucap Pemain film Hello Goodbye itu yang mendapat pengalaman baru tentang dunia akting. Kekasih Rio Dewanto tersebut mengaku bangga bisa terlibat dalam penggarapan film Java Heat yang mengambil lokasi di Yogyakarta tersebut. Pasalnya, film yang disutradarai Conor Allyn tersebut juga akan dirilis di AS pada Mei 2013 mendatang. (kf1)

karya yang bagus,” lanjutnya. Tentang proses adaptasi peran, Agus tidak hanya membaca kisah sang tokoh, juga mendengarkan cerita dari kerabat-kerabat Wahid Hasyim. “Yang terutama saya pelajari dari mereka (keluarga Wahid Hasyim), adalah belajar bersikap dan gesture tubuh orangtua Gusdur,” kata Agus. Dia pun memberikan kesan, film Sang Kyai berbeda dengan film pop pada umumnya. “Ada sesuatu yang tidak ada di film pop, yang diangkat di film ini. Ini bicara tentang pendiri NU, dimana, bagaimana orang-orang memandang sosok itu,” katanya. Satu hal yang dia khawatirkan adalah, tidak terimanya orang-orang yang mengenal sosok yang dia perankan. “Aku sudah berusaha memerankan sebaik mungkin, tapi tetap khawatir orang-orang dekat beliau tidak berkenan,” ujar Agus, yang beradu akting dengan Christine Hakim dalam satu adegan di film besutan Rako Prijanto tersebut. Bagaimana pula kesannya bermain satu frame dengan Christine Hakim? “Ini pengalaman saya untuk pertamakalinya berakting dengan Christine Hakim. Ya nervous, karena dari kecil saya sudah kenal dia,” tandasnya. (kf1)

Ray Sahetapy Keranjingan Sepakbola DIAM-DIAM aktor senior Ray Sahetapy juga keranjingan sepakbola. Kok bisa? Usut punya usut ternyata berkaitan dengan perannya di film anyarnya, Hari Ini Pasti Menang. “Nama asli saya kan gabungan dari nama bintang sepakbola. Ferenc Raymond Sahetapy. Ferenc daril bintang Hungaria, Ferenc Puskas. Sedangkan Raymond dari bintang asal Perancis, Raymond Kopa,” jelas Ray saat dihubungi awal Februari lalu. Aktor film Gadis ini mengaku ayahnya pernah berharap agar dirinya menjadi bintang sepakbola. Jadi bukan pemain film. Eh ternyata semasa sekolah dirinya sempat juga menjadi pemain bola, meskipun hanya di level daerah. “Sampai pernah geger gara-gara

Ray Sahetapy. (Foto: Ist)

saya mencetak gol,” lanjutnya lagi. Di film arahan Andibachtiar Yusuf ini, Ray bakal berperan sebagai pelatih sepakbola. Siapa sosok yang dipelajari untuk tokohnya?

“Sutradara sih minta saya melihat tokoh Jose Mourinho. Padahal secara pribadi saya lebih suka Fabio Capello,” tuturnya kalem. Awas offside…(bobby)

TAKE 3 EDISI 42 / TH V / MARET 2013


ZOOM

PENGELOLAAN kegiatan perfilman di dua kementerian, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dirasakan tidak memberi arti bagi perkembangan perfilman nasional. Kecenderungannya, film Indonesia bergerak liar tanpa kebijakan yang jelas. Arah perubahan itu baru sebatas mengalokasikan anggaran yang juga tidak jelas urgensinya. Situasi darurat perfilman selama hampir empat tahun pasca pengesahan UU No 33 tahun 2009 tentang Perfilman yang tidak memiliki petunjuk pelaksanaan atau PP, membuat kegiatan industri perfilman jalan di tempat bahkan berjalan liar tanpa arah. Salah satu persoalan yang sangat krusial dalam manajerial bidang perfilman di pemerintahan adalah ketiadaan Sumber Daya Manusia (SDM) di dua kementerian yang sekarang mengurusi anggaran perfilman tersebut. Mereka yang sekarang menjabat di tingkat pelaksana seperti pejabat eselon III sama sekali tidak memahami sektor perfilman. Demikian sulitnya mendapatkan SDM bidang perfilman ini, sehingga untuk mencari pengganti pejabat setingkat Direktur Perfilman pun tidak mampu dilaksanakan pemerintah setelah Direktur Perfilman Kemenparekraf Drs

Adegan Film Rayya

Syamsul Lussa MA, ‘dinaikkan’ jabatannya sebagai staf ahli bidang hubungan antar lembaga Kemenparekraf sejak Desember 2012. Kekosongan posisi Direktur selama ini dijabat oleh pejabat pelaksana tugas yang lagi-lagi tidak memberikan harapan. Dalam hal pasokan anggaran bagi perfilman nasional melalui APBN dan APBNP yang mengalir di kedua lembaga Negara tersebut di tahun anggaran 2012 dalam berbagai kasus seperti di ajang Festival Film Indonesia seperti dikatakan Direktur Perfilman saat itu Drs Syamsul Lussa memakai biaya Rp16, 2 Miliar kemudian diralat oleh Ditjen Ahman Sya Rp10,2 M semakin menajamkan fokus masyarakat perfilman, atas ketidakjelasan aturan main. Hal yang juga perlu dicatat adalah kegiatan Apresiasi Film Indonesia (AFI) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sampai hari ini menyisakan persoalan yang serius dalam hal pengelolaan anggarannya. Kepanitiaan AFI yang ricuh hingga bidang EO yang tidak jelas mekanisme tendernya, semua saling silang. Untuk pelaksanaan AFI pemerintah mengeluarkan anggaran Rp5 Miliar. Pengelolaan anggaran film jadi bancakan

TAKE 4 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Adegan Film Tanah Surga

“Ujung-ujungnya seperti yang dikhawatirkan banyak pihak, pemisahan kepengurusan anggaran dan pengelolaan manajemen perfilman di dua kementerian hanya akal-akalan dan bancakan saja. Tidak ada mekanisme yang jelas dan baku untuk memperbaiki kondisi perfilman,” ujar pengamat perfilman Didang Pradja-

sasmita yang juga penggiat Forum Penonton Film. Dikatakan oleh Didang Pradjasasmita, adalah kesalahan vatal dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang membidangi perfilman – saat menteri dijabat Ir Jero Wacik SE – yang melahirkan dan memaksakan diterbitkannya UU Perfilman tanpa menghasilkan sa-

Adegan Film Lovelyman

tupun PP hingga saat ini. Sementara itu, praktisi periklanan yang juga pengamat perfilman Totot Indrarto menilai pasca restrukturisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, kegiatan perfilman nasional ditangani dua kementeriaan belum jelas benar bagaimana pembagian tanggung jawabnya, tampaknya


TAKE 5

ZOOM

EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Adegan Film Jakarta Hati

Adegan Film Sang Kyai

akan lebih besar perhatian pemerintah sekaligus anggaran yang disediakan untuk film Indonesia. Yang sangat ironis menurut Totot, sepanjang semester pertama 2012 yang terjadi justru tidak ada kebijakan dan bantuan apapun dari pemerintah. Dari sejumlah cerita dan pemberitaan kita bisa mengetahui pemerintah membiayai partisipasi Indonesia di sejumlah festival, pasar film, dan kegiatan lain di luar negeri: Cannes, Berlin, Puchon, AS, dan lain-lain. Tapi sampai sekarang tidak pernah jelas apa urgensinya dan terutama hasilnya buat industri perfilman Indonesia. Hanya dengan ketegasan (dan dalam konteks hari ini mungkin juga keberanian) untuk menegakkan aturan main itu sebagian besar persoalan, baik yang disebut di atas maupun yang tidak, bisa diselesaikan guna menumbuhkan industri yang benar-benar sehat. Pasal 10, misalnya, menyebutkan semua pelaku perfilman (kecuali importir) wajib mengutamaan film Indonesia dan menggunakan sumber daya dalam negeri secara optimal. Se-

mentara pasal 32 mewajibkan bioskop memutar sekurangkurangya 60% film Indonesia dari seluruh jam tayangnya. Lalu di Pasal 85 ditegaskan bahwa aturan tersebut harus sudah dilaksanakan paling lama dua tahun sejak UU disahkan. Ini jelas merupakan ekspresi

Adegan Film Perahu Kertas 2

Adegan Film Rectoverso

tegas pemihakan pemerintah, yang sayangnya tidak sedikit pun terlihat dalam kenyataan di lapangan. Perlu contoh lain? Penegakan Pasal 11 akan menghancurkan praktik integrasi usaha vertikal di mana pemilik bioskop, importir/distributor, dan usaha perfilman lain harus

terpisah kepemilikan dan pengelolaannya. Pasal 12 dan 13 bisa menghentikan monopoli karena film-film dari satu importir/distibutor tidak boleh diputar di lebih dari 50 persen layar dalam satu (jaringan) bioskop dan dilarang membuat perjanjian khusus yang berakibat terjadinya monopoli atau persaingan tidak sehat. Pelanggaran atas ketentuan-ketentuan tersebut dalam Pasal 81 diancam hukuman pidana atau denda Rp 100 miliar. Pasal 27 dan 28 memberi peluang besar bagi munculnya importir/distributor yang lebih banyak dengan hak perlakuan yang

adil oleh bioskop, berpedoman pada tata edar yang dibuat oleh menteri. Sementara Pasal 33 mewajibkan keterbukaan bioskop untuk melaporkan dan mengumumkan jumlah penonton setiap film, yang penting buat menciptakan persaingan sehat. Berkaitan dengan pengarsipan, dalam Pasal 38 dan 39 disebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kegiatan pengarsipan melalui pusat pengarsipan film Indonesia (PPFI). Maka sungguh aneh jika pemerintah tidak sedikit pun tergugah apalagi tergerak menyelamatkan Sinematek Indonesia yang kondisinya sudah sangat menyedihkan ketika mengetahui restorasi film Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail sepenuhnya dibiayai oleh National Museum of Singapore (NMS) dan Wolrd Cinema Foundation (WCF). Konon pemerintah hanya memberikan sumbangan Rp 25 juta untuk membiayai malam peluncuran hasil restorasi tersebut. Supaya mudah, apa sebetulnya kesalahan yang dilakukan pemerintah paruh pertama 2012 dan kita harapkan segara diperbaiki tahun ini juga oleh Menparekraf dan Mendikbud yang kini berkuasa, sebelum industri perfilman benar-benar ambruk seperti 1990-an? Pertama tentu saja menerbitkan peraturan-peraturan pelaksanaan UU tersebut (Peraturan Pemerintah, SK Menteri, dan lainlain). Dalam Ketentuan Penutup Pasal 88 jelas diatur kewajiban pemerintah untuk merampungkan dalam tempo satu tahun setelah UU disahkan. Berarti kedua menteri baru tersebut sudah ikutikutan menteri sebelumnya melanggar UU yang dibuatnya sendiri. Sungguh menyedihkan. Di dalamnya termasuk menyegerakan pembentukan Badan Perfilman Indonesia (BPI) sebagaimana diamanatkan dalam pasal 68, 69, dan 70 guna menangani berbagai aktivitas apresiasi, promosi, pendanaan pembuatan film-film bermutu tinggi, serta penelitian dan pengembangan perfilman Indonesia sebagai masukan kepada pemerintah. Sebenarnya sejak masih di bawah Menbudpar tahun lalu sudah dilakukan rapat-rapat persiapan, tapi kemudian diulang di bawah koordinasi Menparekraf dan sekarang tidak terdengar lagi kelanjutannya. (kf1)


ZOOM

TAKE 6 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Faozan Rizal. (Foto-foto: Dudut Suhendar Putra)

DIBANDINGKAN dengan Hollywood mekanisme pembayaran pekerja film di Indonesia tergolong tidak kondusif. Hal ini diungkapkan sutradara film Habibie dan Ainun, Faozan Rizal. Kendati film itu sukses besar dengan ditonton 4,3 juta orang, namun tidak ada hak dari sutradara untuk mendapatkan pembayaran lebih. “Untuk merubah mekanisme pembayaran pekerja film kita perlu melibatkan banyak pihak, seperti Departemen Tenaga Kerja, dan juga kementerian terkait yakni Kemenparekraf,” kata Faozan Rizal, ditemui Kabar Film di markas Dapur Film, Februari lalu. Dia pun mengungkapkan bagaimana system pembayaran di Hollywood, yang memberikan kesempatan bagi sutradara untuk mendapatkan hak ekonomis dalam film yang dibuat. “Kalau di Hollywood, untuk pembayaran sutradara saja sudah mendapat 20% dari budget produksi film. Itu baru menyutradarai, belum dari pendapatan tiket. Di sini harus berubah juga,” kata pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah tahun 1973 ini. Diakui Fao, sapaan Faozan setiap kali film dianggap menguntungkan di Indonesia, maka pekerja film tidak mendapat hak lebih. “Samalah seperti ketika Ayat Ayat Cinta meledak dan sekarang Habibie dan Ainun,

saya tidak pernah meminta lebih. Yaa, nunggu sajalah. Karena memang system pembayaran kita flat. Posisi kita di sini sebagai pekerja,” jelasnya. Toh, Fao merasa cukup senang karena film yang sempat dikhawatirkan akan dihujat di sana-sini, lantaran ketidakcocokan pemeran Habibie (diperankan Reza Rahadian), justru dipuji dan ditonton banyak orang. Fao yang ketika ditemui menjadi DOP untuk film terbaru berjudul 2014, menerima kunjungan Kabar Film, dan berbincang seputar film terlaris 2012 tersebut: Sukses film Habibie dan Ainun buah tangan Anda? Kalau kita lihat film ini terutama kalau melihat Habibie, pasti orang akan melihat tentang politik, presiden, terus iptek. Kalau aku bikinnya tentang ketiga hal tadi, pasti tidak menarik. Makanya aku ambil angle lain, yaitu cinta. Kebetulan dia menulis novel dan isinya betapa besar cinta Habibie pada Ainun. Dipersiapkan untuk ditonton banyak orang? Iya dan tidak. Karena aku punya misi untuk mengembalikan penonton Indone-

sia ke bioskop. Terus aku juga ingin punya film yang bisa menginspirasi. Bangsa kita ini kan semakin hancur saja, bukan cuma badminton dan sepakbola tapi semuanya makin hancur. Ya, jangan sampai filmnya juga seperti itu dong? Aku membuat film yang bagus saja. Kalau diterima ya disyukuri. Semangat awalnya memang ingin bikin film yang baik untuk Pak Habibie, setelah beliau menangis tidak kuat melihat beberapa scene yang kita perlihatkan. Sempat terfikir pasti film ini akan dihujat habishabisan karena pemerannya tidak mirip. Berapa sih jumlah penontonnya? Kemarin, Pak Manoj sudah SMS katanya mencapai 4.219. 500 penonton Ini diluar estimasi? Aku sebelumnya tidak mengira seperti ini, karena yang menjadi Habibie kan tidak mirip. Banyak yang bilang begitu, Kan Pak Habibie pendek, tapi diperankan Reza yang tinggi. Tapi, setelah Reza berakting bagus kan lain lagi ceritanya. Cukup hanya dari hasil jumlah penonton saja? Memang secara jumlah penonton kita sudah capai. Kita kan punya strategi, untuk mendatangkan kembali penonton yang bukan penonton un-

tuk ke bioskop. Masalahnya juga buat kita, karena kota-kota yang menjadi kantong-kantong film Indonesia justru tidak punya bioskop. Bayangin dari Jakarta ke Semarang, yang ada bioskop hanya di Jakarta, Cirebon, Pekalongan dan Semarang. Padahal ada kota-kota lain seperti Tegal, Pemalang, Weleri dan lainnya yang tidak punya bioskop. Tapi mengapa film seperti ini diminati? Ya, masalahnya yang datang ke bioskop yang nonton Habibie dan Ainun, juga nonton Ayat Ayat Cinta, mungkin juga film Laskar Pelangi dulu itu bukanlah penonton film. Ibu-ibu pengajian, yang biasanya ngaji dan mau nonton film Habibie. Nah, moviegoer kita dimana? Mungkin nonton film-film lainnya. Maka ini sangat membahayakan, karena penonton film kita kemarin bukanlah penonton loyal. Entah ibu-ibu dari majelis taklim mana, pengajian mana tiba-tiba berbondong-bondong ke Planet Hollywood kan? Membahayakan bagaimana maksudnya? Misalnya kita tetap membuat film, misalnya seperti film Habibie yang ditonton oleh penonton yang tidak loyal, maka ketika bikin film sesuatu yang lain, aku khawatir yang tadinya nonton akhirnya tidak nonton lagi kan? Jadi cuma ditonton oleh penonton yang biasa menonton. Karena penonton kita paling sejuta, 2 juta. Sampai 500 ribu itu sudah luar biasa. Taruhlah film The Raid yang actionnya gila-gilaan, itu ditonton 1,8 juta orang, nah jumlah itulah penonton loyal bioskop sebenarnya. Hehehe .. Di Indonesia selalu bicara jumlah penonton, tidak bicara gros. Makanya ketika ada eyeleyelan soal film Laskar Pelangi yang lebih tinggi penontonnya yakni 4,6 Juta dan Habibie dan Ainun 4,2 Juta, orang tidak melihat gros-nya. Di era Laskar Pelangi jumlah penonton segitu tapi tiket masih Rp15 ribu, kalau sekarang tiket sudah Rp50 ribu.

Artinya, kalau dibandingkan 2 juta penonton Habibie, gross Laskar Pelangi sudah sama. Meski Reza dianggap miss casting tapi tetap melaju, kenapa? Sebenarnya ketika casting pertama, kita semua mencari orang yang mirip Habibie. Ada beberapa tapi selalu terjebak pada mimiknya Habibie yang comical. Jadi orang terlihat seperti karikatur, seperti yang di tivi itu, Habibie jadi seperti melawak. Aku tidak mau lawak-lawakan, dan penonton tertawa karena Habibienya seperti itu. Ini film serius. Lalu ketika dua minggu menjelang syuting, Reza datang. Lalu, aku bilang ke Hanung, kayaknya ini deh yang cocok. Tapi, juga didebat, soal postur Reza. Lalu, kita minta Reza untuk mempelajari cara bicara Habibie. Dia sanggupi dua hari belajar. Lalu dia datang lagi, dan tinggal aku training bahasa Jermannya. Lalu aku syuting dia, dan kasih ke Pak Manoj, maka jadilah. Dikenal sebagai DOP filmfilm Hanung, lalu menjadi sutradara. Bagaimana ceritanya? Hehehe.. jadi DOP-nya Hanung kan juga sudah 21 judul film. Jadi sudah hapal. Jadi, awalnya, aku dikasih novel sama Hanung tentang rencana bikin film Habibie dan Ainun. Aku bacabaca dan bilang ke Hanung, wah ini bagus banget. Aku juga belum tahu kalau Habibie seperti yang ada di novel ini. Ini beneran mas? “Ya kamu yang tanya langsung ke Pak Habibie, kan kamu bisa bahasa Jerman”. Dan ketika bertemu, dia menceritakan semuanya. Maka mulailah aku set lagi, aku tulis. Setiap habis nulis aku laporkan ke Pak Habibie. Revisi dan terus revisi sampai 27 dradt. Apa kekuatan film ini? Ini film sederhana, soal cinta saja. Yang ternyata masih dirindukan penonton Indonesia, adalah cinta yang sederhana seperti itu. Dapat dong bonus? Hahaha.. kita tunggu saja. Belum. Kita tunggu saja.. (tis)


PROFILM LEWAT film terlaris tahun 2011 berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan (SKUT), nama Harris Nizam langsung mengorbit. Film pertama garapannya itu, juga mendapat penghargaan di berbagai ajang festival bergengsi. Tak pelak, jika pria kelahiran Denpasar Bali 16 Desember 1983 ini layak diperhitungkan dan memiliki potensi di kemudian hari. Namun, perjalanan karir Harris sebagai sutradara film cukup unik jika tidak ingin disebut sebagai ‘kecelakaan’. “Aku mendadak diminta jadi sutradara saat naskah film Surat Kecil Untuk Tuhan memasuki draft kelima,” ungkap Harris, dalam obrolan ringan dengan Tabloid Kabar Film di siang mendung, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan akhir Februari 2013. Harris bertutur, dia sebenarnya cuma salah satu tim riset film produksi Skylar Pictures tersebut. “Entah apa alasannya, dan aku tidak mau tahu juga kenapa produser minta aku menjadi sutradara. Yang pasti, kesempatan itu langsung aku ambil setelah minta pertimbangan mama dan kakakku,” ujar jebolan IKJ 2005 ini. Menurut Harris memang sejak SMP dia sudah bercita-cita jadi sutradara. Tetapi, waktu itu tidak terfikir menjadi sutradara film. “Dulu aku senang dengan video klip dan para sutradaranya seperti Rizal Mantovani, Dimas Jayadiningrat, dan lain-lain,” kenang Harris, yang kemudian mendesak

dirinya kuliah di IKJ jurusan Penyutradaraan. Tetapi kenyataan tak seperti harapan. Di IKJ, dia tak lulus untuk bidang penyutradaraan dan malah masuk ke bidang Editing. “Tapi, semangatku untuk jadi sutradara tidak berhenti,” katanya. Usai kuliah Harris kembali ke Bali sambil menunggu panggilan kerja. “Saat di Bali, ada teman dari band Indie yang minta dibuatkan video klip. Meski aku harus tekor Rp200 ribu untuk proyek video itu, tetap aku buat senang hati,” katanya. Harris tak tahu ketika videoklip itu disertakan di ajang awarding di Bali TV. “Ternyata, video itu masuk 10 Besar Video Klip Terbaik. Senang dong,” katanya, Harris baru saja menyelesaikan film kedua, berjudul Hasduk Berpola. Dia pun berharap filmnya kali ini akan sukses seperti film SKUT. “Meskipun tidak ada jaminan untuk film yang laku, tapi sejak awal riset sudah aku lakukan pola yang sama dengan film sebelumnya. Semoga Hasduk Berpola menginspirasi banyak orang Indonesia untuk pantang menyerah dalam meraih cita-cita,” ujarnya. Film SKUT besutan Harris Nizam berhasil menembus angka signifikan dalam hal jumlah penonton, di saat industri perfilman lesu darah. Ketika rata-rata film tak mencapai jumlah 250 ribu penonton, film SKUT mencatatkan sukses dengan meraih sekitar 748.842 penonton. Dua film lain

TAKE 7 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

SEBAGAI EDITOR Minimal nilai penyutradaraan harus B. Ada 7 mata kuliah yang dinilai, penyutradan, editing, artistik, penulisan scenario, suara, produksi minimal D. Aku semuanya nilainya A. Malahan nilai ku banyak yang A plus seperti Skenario, Editing, dan lainnya A. Hanya Penyutradaraan aku dapat D min. Jadi aku tidak bisa lanjutkan kare-

yang bilang, udahlah, sadar kemampuan diri dan jangan lebay banget. Sadar aja deh kemampuan diri. Tapi aku fight untuk mewujudkan mimpi. Aku tidak peduli, meski itu kuanggap pecutan. Jadi, setiap ada temen minta tolong editing film, syaratnya saya harus jadi astrada juga. Jadi, memposisikan diri editing tidak nyaman, karena kalau sudah nyaman sebagai editor aku melupakan mimpi besarku. Lulus kuliah 2005. Ga bisa kerja di perfilman tapi kerja di Bali ada music indie band di sana. Waktu itu mereka mau bikin video klip tapi dia gak punya duit. Akhirnya, kita patungan, dia 300 ribu aku 200 ribu. Prinsipnya kalau sudah suka, walau tidak dibayar ga apa-apa. Dan ternyata, video klip itu masuk 10 Video Klip Indie terbaik di dalam acara awarding di tivi lokal Bali. Aku kaget, karena membuatnya simple saja dan ternyata mendapat apresiasi yang lumayan. Setelah itu, aku hijrah ke Jakarta setelah mendapat restu dari ayahku. Karena mimpiku memang di Jakarta. 2008 aku ke Jakarta, mulai dari project manager lalu menjadi tim research di film Surat Kecil Untuk Tuhan. Tapi di draft ke-5 entah apa alasannya dan aku juga gak mau tau kenapa, aku disuruh menjadi sutradara oleh produsernya. Saat itu aku telepon orang-orang di rumah, mamaku, kakakku, se-

yar dengan apapun. Saat saya melihat penonton ada yang menangis, terharu dan memberi selamat, itu sangat luar biasa. Lebih pure. Kekuatan film ini ada di ceritanya. Ceritanya sangat kuat, powerfull dan dekat dengan kita. Bukan karena sutradaranya? Aku gak mau sombong. Ceritanya bagus dan kuat. Apakah pola SKUT akan dipakai di film Hasduk Berpola? Insya Allah iya. Aku selalu berusaha membuat film sebagai media merupakan cerminan dari keseharian kita. Ini mungkin ini jelek, tapi baik buat saya. Maksudnya, mungkin banyak orang yang kadang-kadang, seperti astradaku atau kru yang ‘protes’, “Mas, ini film. Terserah dong harusnya?” menurutku tidak bisa begitu. Karena ini film drama, aku harus buat se-real mungkin. Jadi penonton harus ‘dilibatkan’ emosinya, seperti berada di dalam film. Jadi sudah punya ramuan, bagaimana memancing penonton? Seberapa penting penonton? Penonton penting, bukan aku mengesampingkan award atau apresiasi dari masyarakat melalui penghargaan tapi penonton sangat penting. Karena di film itu kita ada beban moral, ada message yang kita buat. Kalau film sekadar dijadikan alat hiburan oleh si pembuatnya menurutku sangat saying. Karena banyak hal bisa

na syaratnya harus B. Makanya aku tidak bisa ikut jurusan yang aku mau. Daripada harus ikut audisi lagi di tahun berikutnya. Lalu masuklah aku ke editing yang pastinya berguna ketika aku jadi sutradara nanti. Karena aku bisa lebih memiliki efisiensi shot, bisa tahu masalah shot, dan punya pemahaman editing yang baik. Semuanya basic dapat. Kecuali di tingkat mayor, itu lebih khusus. Bagaimana, sekarang diposisikan sebagai sutradara? Memang niatnya sudah mau jadi sutradara sejak SMP. Tapi tidak terbayang jadi sutradara film. Karena dulu booming video klip. Aku favorit sama Rizal Mantovani, Dimas Djay, Sanca Bahtiar. Enak kayaknya bikin video klip, durasi pendek tapi bisa eksplorasi banyak hal. Nah akhirnya masuk IKJ, niatnya sudah mau jadi sutradara video klip. Ya, tadi itu gak diterima. Yang tahu kapasitasku adalah aku sendiri, meski banyak orang

muanya memberi dukungan. “Ya, ambil dong, bego banget!” kata kakakku. Ini tanggungjawab dan kesempatan yang luar biasa. Ini aku anggap gift harus gunakan secara baik. Prosesnya semua aku ikuti dari A-Z karena mulai casting, art, wardrobe, dan lain-lain. Aku tidak mau kehilangan setiap moment. Dan menjadi sangat worthed karena ternyata film SKUT diterima oleh masyarakat. Tahun 2011 itu Allah sangat luar biasa memberikan hadiah buatku, karena film SKUT menjadi film terlaris tahun itu. Tidak ada niat untuk mengikuti festival apapun, tiba-tiba menang di FFI menang di Indonesia Movie Awards, di Bali International Festival. Kenapa aku niat banget setelah baca novelnya. Karena ini akan sangat baik banyak anak-anak di negeri ini, bagaimana mereka harus tetap semangat bersekolah. Ketika penonton memberikan apresiasi terhadap karya kita, maka perasaan itu tidak bisa diba-

melakukan hal positif untuk kebaikan. Aku berusaha menginspirasi anak-anak muda melalui karya. Jadi aku bikin film bukan yang sok besar-besaran, berbicara yang sifatnya luas dan sebagainya. Bisa menginspirasi mereka menjadi lebih baik saja sudah puas. Terkesan menggurui? Kita sama-sama belajar, bukan ingin menjadi guru atau menggurui. Karena aku dapat kesempatan untuk berkarya. Di film SKUT aku belajar tentang ikhlas menerima apapun yang terjadi. Berubah pola pandangku terhadap lingkungan setelah membuat SKUT. Nah di Hasduk Berpola aku menjadi pribadi yang menghargai merah putih, lebih bangga pada bangsa ini. Skeptis tentang Indonesia? Yang harus disadari, lo lahir besar dan cari makan di mana? Kalau ga suka, ya do something dan keluar dari sini. Aku tidak membenci juga tidak suka, hanya mencintai Indonesia dengan cara yang jujur. (kf1)

Harris Nizam. (Foto-foto: Dudut Suhendar Putra)

di bawahnya Arwah Goyang Karawang (727.540) dan Poconggg Juga Pocong (572.276). Sebagai film terlaris sepanjang tahun 2011, banyak produser mencoba tema film sejenis namun tak berhasil.


TAKE 8

KOMUNITAS

EDISI 42 / TH V / MARET 2013

TANTOWI YAHYA:

Musisi muda kurang sadar organisasi SYUKURAN HARI MUSIK NASIONAL- Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), Tantowi Yahya (2 kiri) di dampingi Penyanyi Titiek Puspa (kiri), Ketua Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) Dharma Oratmangun (2kanan) dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif UkusKuswara (kanan) saat syukuran Hari Musik Nasional di Jakarta, Selasa (12/3). Pemerintah menetapkan 9 Maret yang merupakan tanggal kelahiran tokoh pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman sebagai Hari Musik Nasional (HMN) melalui Keputusan Presiden. FOTO ANTARA/Teresia May

SENIMAN multi talenta yang juga anggota DPR RI, Tantowi Yahya sumringah. Di era dirinya sebagai Ketua Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) periode 2012-2017, dia menerima kado berupa penetapan Hari Musik Nasional dari pemerintah, terhitung 9 Maret 2013. Namun dia juga prihatin dengan rendahnya kesadaran musisi muda dalam berorganisasi. Lelaki berpenampilan resik kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 29 Oktober 1960 ini saat dikukuhkan sebagai Ketua PAPPRI, menyatakan kesungguhannya sebagai ketua organisasi insan musik terbesar Indonesia itu didasari niat tulus dan perencanaan jangka panjang, serta professional. “Agar PAPPRI dapat memainkan

perannya bagi seluruh anggotanya yang tersebar di seluruh dunia,” kata Tantowi setahun lalu, yang pengukuhannya dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Kakak kandung presenter kondang Helmy Yahya ini, terpilih secara aklamasi menjadi ketua PAPPRI menggantikan Dharma Oratmangun pada Kongres PAPPRI ke VI tahun 2012. Dia bertekad menjadi PAPPRI organiasi yang mampu melindungi musik Indonesia dari pembajakan. “Tidak hanya melindungi insan musik, tetapi juga melindungi seniman musik Indonesia,” kata Tantowi. Terkait dengan penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional (HMN), tabloid Kabar Film mewawancarai Tantowi Yahya yang akrab dengan

lagu-lagu country tersebut. Berikut ini petikannya: Sebagai Ketua PAPPRI seperti apa Anda memaknai peringatan Hari Musik Nasional, terutama pada tahun pertama disahkan oleh pemerintah? Ditetapkannya 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional adalah wujud perhatian Pemerintah terhadap eksistensi dan kontribusi musik dalam perjalanan bangsa dan negara ini. Kami selaku penggiat musik tentu saja menyambutnya dengan suka cita. Seperti apa konsep kegiatan HMN yang ideal agar tidak menjadi sekadar seremoni? Karena, kebijakan pemerintah terutama bidang seni-budaya seringkali tak serius. Kami menginginkan agar 9 Maret dijadikan momentum setiap tahun bagi seluruh yang terlibat di musik untuk bersatu dalam langkah dan pemikiran untuk kemajuan musik itu sendiri. Tidak sekadar merenung tapi lebih daripada itu kita bersama-sama melihat kondisi hari ini dan merancang apa yang seharusnya kita lakukan, khususnya dalam memperjuangkan hak ekonomi dan hak moral para pencipta. Memperjuangkan kelayakan upah atau honor bagi teman-teman kita yang bekerja di sektor pertunjukan dan memper-

baiki kualitas SDM agar kita dapat kompetitif secara internasional. Seperti apa kordinasi PAPPRI dengan pemerintah pasca dibentuk Direktorat Musik di Kemenparekraf? Kerjasama kami rasakan semakin baik dan produktif. Bisa dibayangkan kan musik itu dari tidak punya ibu di Pemerintah, sampai sekarang kami mempunyai orangtua, tempat kami mengadu. Bagaimana sikap PAPPRI melihat industri musik yang dikuasai anak-anak muda? Apakah PAPPRI juga merangkul mereka untuk jadi anggota? Musik itu sangat dinamis, baik dari sisi substansi maupun eksistensinya. Pada awal kemerdekaan, musik adalah alat perjuangan. Sebagai produk kreatif, musik sekarang adalah komoditas ekonomi. Kreatifitasitu domainnya anak muda. Wajarlah kalau musik, bukan saja di lndonesia, dikuasai anak muda. PAPPRI tentu saja merangkul mereka. PAPPRI harus sanggup menjadi rumah bagi mereka. Alhamdulillah sudah banyak yang mengakui PAPPRI. Berapa jumlah anggota PAPPRI saat ini? Seberapa aktifnya mereka? Siapa saja yang termuda? Kurang lbh 2000 orang tapi

dengan perubahan AD/ART di kongres tahun lalu lalu yang membuat Pappri bukan lagi sebagai organisasi yang menaungi penggiat musik di rekaman saja tapi semuanya, Pappri berpotensi mempunyai puluhan juta anggota. Anggota-anggota muda kami cukup aktif dalam organisasi, sesuatu yang di masa lalu tidak terjadi. Saya lupa yang termuda siapa. Apa yang akan Anda lakukan untuk lebih memperkenalkan PAPPRI? Saya akan membuat Pappri itu bermanfaat bagi banyak pihak karena dengan itulah Organisasi ini keberadaannya menjadi relevan. Pappri harus bermanfaat bagi anggota, masyarakat, bangsa, pemerintah bahkan dunia. Konsep ini saya sebut 4 Manfaat 5 Sempurna. Apa sih untung-ruginya menjadi anggota PAPPRI? Terus terang banyak yang belum sadar keuntungan atau manfaat berorganisasi, khususnya di kalangan muda. Ketika tidak terjadi apa-apa, segala sesuatu memang bisa diselesaikan sendiri. Tapi ketika ada persoalan besar, terlebih ketika terkait dengan Pemerintah, organisasi menjadi keniscayaan. Lembaga ini memberikan bantuan advokasi, pendidikan jika dibutuhkan anggota. (tis)

Museum Musik Indonesia di Malang KOTA Malang di Jawa Timur dikenal memiliki banyakj jenis cemilan khas, dari yang diracik secara tradisional berupa bakso bakwan hingga buah-buahan seperti apel ‘Si Manalagi’ yang imut itu. Tetapi jika Anda berkunjung ke kota ini, bisa juga mampir ke museum musik Indonesia bernama Galeri Malang Bernyanyi di kawasan Perum Griya Santa Blok G No.407. Galeri Malang Bernyanyi (GMB) didirikan oleh Komunitas Pecinta Kajoetangan (kapeka) dan sejumlah musisi antaranya Donny Pras, Sylvia Saartje serta Sigit Hadinoto. Adapun musisi dan gitaris rock Ian Antono bertindak sebagai penasihat. Pemilik GMB adalah seluruh penyumbang koleksi galeri yang sampai saat ini jumlahnya 298 orang. Visi Galeri Malang Bernyanyi (GMB ) adalah turut memelihara sejarah musik Indonesia yang dilaksanakan melalui misi pengumpulan rekaman musik Indonesia. Sampai Desember 2012 telah terkumpul sekitar 7.400 koleksi yang sebagian besar berupa kaset, ph, dan cd, termasuk rekaman dari mancanegara. Untuk itu, kami mengundang

Ahmad Albar. (Foto: Ist)

masyarakat yang peduli dalam pelestarian musik Indonesia untuk berperan serta mengembangkan museum ini. Saat ini seluruh koleksi tersimpan di Grha Galeri Malang Bernyanyi melalui Bapak Hengki Herwanto di nomor 0811 109 430. Tentang seberapa besar koleksi di dalamnya, berikut adalah testimony dari para musisi. “Saya terkesima melihat sekumpulan album saya menjadi koleksi Galeri Malang Bernyanyi. Saya malah tak punya beberapa

album lama saya.” (Ian Antono, dimuat di majalah TEMPO, 9 September 2013) Sementara itu, menurut pengamat musik Bens Leo, dirinya pernah berkunjung ke GMB mengaku terkesan. “Saya sempat mengunjungi Galeri Malang Bernyanyi dan menyaksikan ribuan koleksi rekaman lama sumbangan dari masyarakat. Beberapa foto lama saya yang pernah dimuat di majalah aktuil tahun 70-80 an juga tersimpan di Galeri Malang Bernyanyi,” kata Bens Leo. Dia menyarankan, GMB selain mengimpun musik jadul, sebaiknya juga memiliki koleksi karya musisi-musisi muda sekarang. Sepuluh tahun lagi karya-karya tersebut akan menjadi barang istimewa yang turut mewarnai sejarah perjalanan musik Indonesia. Ayo kita dukung upaya Galeri Malang Bernyanyi dalam memelihara seni budaya bangsa, khususnya seni musik dengan cara menyumbangkan rekaman musik Indonesia yang Anda miliki,” kata Bens Leo. Berikut ini adalah sebagian koleksi utama di GMB, yang dapat membawa nostalgia dan juga pengalaman batin saat menyi-

Galeri Malang Bernyanyi. (Foto: Ist)

maknya; Abadi Soesman, AKA, Anggun C Sasmi, Anto Baret, Anna Mathovani, Annie Rae, Arema Voice, Arie Kusmiran, Atiek CB, Balawan, Bambang Jon, base Jam, Benny Soebardja, Betharia Sonata, Bimbo, Bing slamet, Broery, Bubi Chen, Casino, Chandra darusman, Chrisye, Cokelat, Dara Puspita, Dewa, Diah Iskandar, Dian PP, Donny Pras, Ebiet, Eka Sapta, Elpamas, Ernie Djohan, Ervinna, Farid, Fariz RM, Franky & Jane, Gembel’s, Gigi, Godbless, Gombloh, Grace Simon, Guruh Gipsy, Harry Roesli, Hetty Koes Endang, Ian antono, Ida Royani, Ikang Fauzi, Indra Lesmana, Ita Purnamasari, Ivo Nilakreshna, Iwan Fals, jamrud, Keenan Nasution, Kharisma Alam, Koes Plus/Bersaudara,

Krisdayanti, Laily Dimyati, Lanny sister, Leo Kristi, Lilis suryani, Lily Djunaedhi, Mel Shandy, Mercy’s, Mickey, Mira Tania, Mus Mulyadi, Nanin Sudiar, Nartosabdo, Nicky Astrea, Nike ardilla, Panbers, Peterpan, Prambors band, Prijo sigit, Rhapsodia, Ritta Rubby Harland, Rhoma Irama, Rollies, Ruth sahanaya, SAS, Sheila on 7, Syaharani, Sylvia Saartje, Titiek Puspa, Toto Tewel, Vina Panduwinata, Vivi Sumanti, Waldjinah, Yap Brothers, dan Yuni Shara. Untuk informasi lebih lengkap tentang Galeri Malang Bernyanyi, Anda dapat hubungi telepon secretariat GMB di nomor 0341-490948. Atau bisa diakses melalui www.museummusik indonesia.com. (kf)


KOMUNITAS

TAKE 9 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Juri XXI Short Film Festival 2013, berfoto bersama Director Festival: Catherine Kang. (Foto: Dudut Suhendra Putra)

SETELAH melalui tahap seleksi pendaftaran yang berakhir 10 Desember 2012, festival pendek tingkat nasional pertama yang diadakan oleh Cinema 21, yaitu XXI Short Film Festival, segera mengumumkan para finalisnya. Tercatat sebanyak 730 film pendek terdaftar dalam kompetisi film pendek, yang merupakan jumlah pendaftaran terbanyak untuk festival film pendek tingkat nasional dalam beberapa tahun terakhir. “Kami merasa senang dan sekaligus bangga atas animo yang luar biasa dari para pembuat film di seluruh Indonesia, mengingat festival ini baru pertama kali diadakan,” ujar Catherine Keng dari pihak Cinema 21. “Semoga festival ini bisa menjadi tolak ukur perkembangan film pendek nasional dalam rangka mencari bakat-bakat baru untuk kemajuan dan masa depan perfilman Indonesia.” Setelah melalui proses seleksi yang dilakukan tim panitia, terpilihlah sebanyak 29 karya yang masuk final. Ke-29 film terbagi dalam 3 katagori, masing-masing 10 (sepuluh) finalis film pendek fiksi naratif, 9 (sembilan) finalis film pendek animasi, dan 10 (sepuluh) finalis film pendek documenter. Seluruh karya finalis ini berkompetisi untuk mendapatkan

sejumlah penghargaan penghargaan yang penilaiannya dilakukan oleh para juri terdiri dari kalangan sutradara film, pengamat, dan wartawan serta penonton film. Juri dari kalangan sutradara antaranya Hanung Bramantyo, Lola Amaria, Ifa Isfansyah (Fiksi Naratif Pendek), Wahyu Aditya, Chandra Endroputro, Hikmat Darmawan (Animasi Pendek), Lulu Ratna, Vivian Idris, M Abduh Aziz (Dokumenter Pendek), Leila S Chudori, Teguh Imam Suryadi, Adrian Jonathan, Yan Widjaya, Timothy Marbun, dan Teguh Priyo Sadono (Penghargaan Khusus Media), Joko Anwar, Lance, Lasja Fauzia, Salman Aristo, Robby Ertanto, Richard Oh (Indonesia Film Director’s Club). Seluruh finalis film akan dinilai untuk memperebutkan penghargaan berdasarkan katagori: a. Film Pendek Fiksi Naratif Terbaik, b. Film Pendek Animasi Terbaik, c. Film Pendek Dokumenter Terbaik, d. Film Pendek Fiksi Naratif Pilihan Media (Media Choice Award), e. F ilm Pendek Animasi Pilihan Media (Media Choice Award), f. Film Pendek Dokumenter Pilihan Media (Media Choice Award) g. Film Pendek Pilihan Versi IFDC (Indonesia’s Film Directors Club), h. Film Pendek Favorit “Pi-

lihan Penonton.” Puncak acara program XXI Short Film Festival sendiri akan diadakan tanggal 21-24 Maret 2013 di Epicentrum XXI. Seluruh program festival ini diadakan secara gratis dan terbuka untuk umum. Hal itu dikatakan oleh Festival Director XXI Short Film Festival 2013 Catherine Keng kepada pers, Senin (4/3/2013) di Djakarta Theater. “Ini merupakan ajang pertama kami yang rencananya akan dilaksanakan setiap tahun sekali, jadi kami berikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan film-film peserta ini secara gratis,” kata Catherine. Ditambahkan oleh Catherine, “Kita tidak hanya memberi kompetisi tapi juga pembinaan melalui workshop. Setelah pemenang terpilih baru pemutarannya nanti akan dipungut biaya layaknya film-film yang di putar di bioskop,” imbuhnya. Selain menampilkan karya dari para finalis, ada program nonkompetisi salah satunya bertajuk ‘Focus On Director’ yaitu retrospektif film-film pendek karya 2 sutradara berbakat B.W. Purbanegara dan Ifa Isfansyah. Kedua sutradara tersebut diketahui sudah memiliki karya film pendek yang diakui oleh negara lain.

Juri perwakilan wartawan (Foto: Ist)

Selain program pemutaran juga akan menghadirkan 2 sesi workshop yaitu Workshop Distribusi Film Pendek dan Rock your Short!, mengenai cara penyebaran film pendek serta penggunaan ilustrasi musik di film pendek. Berikut ini ke-29 film peserta kompetisi XXI Short Film Festival 2013: Katagori Film Pendek Dokumenter: 1. Donor ASI (sutradara: Ani Ema Susanti/ Tangerang/ 21 mnt), 2. Honey I’m Home (Dosy Omar/ Jakarta/ 26 mnt), 3. Jadi Jagoan Ala Ahok (Amelia Hapsari dan Alm Chandra Tanzil/ Jakarta/ 30 mnt), 4.Jakartark (Ari Rusyadi/ Jakarta/ 30 mnt), 5. Lukah Gilo (Renold/ Padang/ 22 mnt), 6. Musica De Tugu (Syaeful Anwar/ Bekasi/ 15 mnt), 7. Salah Gaul (Abdul Razzaq dan Sahree Ramadhan/ Surabaya/ 18 mnt), 8. Sebongkah Asa di Sambirata (Heri Afandi/ Purbalingga/ 14 mnt), 9. Ungku Shaliah (Ahmed Khamiel/ Padang/ 11 mnt), 10. Young Man and The Sea (Yusron Fuadi/ Yogyakarta/ 30 mnt). Katagori Film Pendek Fiksi Naratif: 1. Boncengan (Senoaji Julius/ Yogyakarta/ 17 mnt), 2.

Dalang Kecil (Christopher Hanno/ Vancouver/ 8 mnt), 3.Dino (Edward Gunawan/ Jakarta/ 15 mnt), 4. How to Make Perfect Xmas Eve (Monica Vanessa Tedja/ Jakarta/ 11 mnt), 5.Jumprit Singit (Mahesa Desaga/ Malang/ 9 mnt), 6. Makan di Luar (Acid Agustine/ Jakarta/ 3 mnt), 7. Merindu Mantan (Andri Cung/ Jakarta/ 11 mnt), 8. Palak (Jaka Wiradinata/ Surabaya/ 10 mnt), 9. Parkir (Jason Iskandar/ Yogyakarta/ 15 mnt), 10. Wan-An (Yandi Laurens/ Jakarta/ 20 mnt). Katagori Film Pendek Animasi: 1. Altitude Alto (Aditya Prabaswara/ Kuala Lumpur/ 5 mnt), 2.Binekon: Kelapa (Oktodia Mardoko dan Haryadhi/ Jakarta/ 6 mnt), 3. Hebring dan Bagol 2 (Dennis Adishwara/ Jakarta/ 4 mnt), 4. Keripik Sukun Mbok Darmi (Heri Kurniawan/ Jakarta/ 4 mnt), 5. Matahari (Yusuf Radjamuda/ Palu/ 10 mnt), 6.Moriendo (Andrey Pratama/ Jakarta/ 7 mnt), 7. Pilem Pertamaku (Anton Wiyono/ Surabaya/ 4 mnt), 8. Sang Suporter (Wiryadi Dharmawan/ Surabaya/ 10 mnt), 9. Timun Mas (Gangsar Waskito/ Yogyakarta/ 16 mnt). (kf/tis)


RUMAH PRODUKSI KOMUNITAS

“Tidak Bicara Cinta” Keliling Mancanegara

Mouly Surya. (Foto: Cinesurya)

LAMA tak terdengar, sineas Mouly Surya langsung menggebrak. Film keduanya What They Don’t Talk About When They Talk About Love, tayang perdana di Sundance Film Festival,

Utah, Amerika 19 Januari silam. Film berdurasi 106 menit itu bersaing dalam kategori World Dramatic Competition dan berhadapan dengan 11 film lain yang berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, Inggris, dan Italia. Film yang dibintangi Nicholas Saputra, Ayushita Nugraha, Karina Salim, Anggun Priambodo, dan Lupita Jennifer itu berkisah tentang rumitnya hubungan cinta yang dialami para penyandang disabilitas. Mouly menyatakan bahwa Tidak Bicara Cinta berbeda dari film yang menggambarkan disabilitas secara umum. “Banyak film disabilitas tapi selalu pengen membuat orang nangis, istilahnya tear jerker. Bikin orang yang nonton jadi mengasihani,” demikian menurut sutradara terbaik FFI 2008 tersebut. Setelah Sundance Film Festival, Tidak Bicara Cinta juga akan diputar di

Rotterdam Film Festival dan Goteborg Film Festival. Di Rotterdam filmnya meraih NETPAC Award di International Film Festival Rotterdam 2013. Ini merupakan penghargaan bagi film panjang Asia terbaik versi tim juri NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema), yang tersebar di berbagai festival film internasional. Film Tidak Bicara Cinta menjadi film Indonesia perdana yang meraih NETPAC Award di Rotterdam. Film ini bersaing dengan sembilan film Asia lainnya. Menurut catatan tim juri, film ini unggul dalam soal “penggambaran yang lembut atas hasrat dan fantasi siswa dan siswi sebuah sekolah luar biasa di Jakarta”. Penggambaran ini yang dirasa juri “menghadirkan sensasi yang kuat secara indrawi” dan “mewakili tekstur serta ritme perkembangan sinema Asia Tenggara”. (bobby)

KEMENDIKBUD TERBITKAN BUKU

‘A Brief Cultural History of Indonesia Cinema’

PENAMPILAN buku berjudul ‘A Brief Cultural History of Indonesia Cinema’ terkesan lux. Berukuran persegi empat dengan bahan kertas art paper glossy berisi foto-foto dan poster film Indonesia dari masa ke masa. Di sudut kanan halaman muka buku tertulis; The Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia. Buku yang tidak dilengkapi daftar penyusun ini cukup untuk kado Hari Film Nasional, dan rencananya akan diluncurkan pada 2 April 2013 di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Secara keseluruhan gambar-gambar yang dikemas dalam buku merupakan foto adegan dan poster film Indonesia, dalam rentang waktu yang panjang

antara 1926 (film Loetoeng Kasaroeng) hingga tahun 2013 diwakili film Java Heat. Tidak ada yang istimewa dari buku ini selain ‘memindahkan’ foto-foto dan gambar poster yang sudah terbiasa lalu-lalang dalam promosi film, dan terutama yang tersimpan dalam pusat dokumentasi film Sinematek Indonesia. Kelebihannnya terdapat pada penampilan dan isi yang cerah, lantaran hasil cetakan yang baik. Namun demikian kekuatan fisik buku dengan jumlah hampir 200 halaman ini tidak diantisipasi. Meskipun ini buku baru, hati-hati dalam membuka setiap halamannya, karena proses penjilidannya hard cover rapuh. (kf)

Adisoerya Gantikan Berthy Ibrahim Sebagai Kepala Sinematek Indonesia PUSAT data dan informasi film Indonesia Sinematek Indonesia (SI) memiliki pimpinan baru, setelah H Berthy Ibrahim Lindia dinonaktifkan sejak 9 November 2012. Kepala SI yang baru adalah Adisoerya Abdi, produser yang pernah menjadi pengurus organisasi Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Adisoerya dipilih secara voting dalam rapat Dewan Pembina Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, terdiri atas H Djonny Sjafruddin, H Firman Bintang, H Irwan Usmar Ismail, Jimmy Haryanto, dan Robin Simanjuntak pada Kamis (14/03/2013). Proses pemilihan calon Kepala Sinematek tersebut menghadirkan sejumlah nama diantaranya Marselli, Tenata,Pong Harjatmo, Adisoerya Abdi, Bobby Sandhy, dan Sindhu Dharma. Sinematek Indonesia dirintis sejak Januari 1971 dalam lingkungan LPKJ (sekarang IKJ) dengan nama Pusat Dokumentasi Film. Jadi bukan arsip film, melainkan hanya menghimpun dokumen-dokumen untuk kepentingan penulisan sejarah

Adisoerya Abdi (Foto: Dudut SP)

film Indonesia guna diajarkan di LPKJ. Sejak tahun 1973, setelah mendapatkan orientasi di Nederland dan Eropa, barulah muncul gagasan mendirikan arsip film. Sejak tahun 1973 badan ini selalu ikut memeriahkan FFI dengan penyelenggaraan Pameran Sejarah Film Indonesia, yang selalu menarik perhatian. Pada 20 Oktober 1975 berdirilah Sinematek Indonesia (SI) dengan SK Gubernur DKI bersamaan dengan berdirinya gedung/lembaga Pusat Perfilman H Sofia WD. SI merupakan

penghuni utama Pusat Perfilman, dan kepala Sinematek merupakan pimpinan PP bersama direktur. Pusat Perfilman menyediakan fasilitas ruangan bagi sekretariat semua organisasi perfilman dan Yayasan Artis Film. Semuanya berstatus sebagai penyewa. SI merupakan arsip film pertama di Asia tenggara. Tahun 1978 diterima bergabung dalam FIAF (Federation Internasionale des Archives du Film), dan merupakan arsip pertama di Asia yang tergabung dalam asosiasi internasional. Sejak Juli 1997, Sinematek Indonesia berada di gedung baru Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jl. HR. Rasuna Said, kav. C-22 Kuningan Jakarta 12940. Kantor sekretariat dan bagian dokumentasi berada di lantai 4, perpustakaan berada di lantai 5 serta ruang penyimpanan dan perawatan berada di lantai dasar (basement). Sinematek Indonesia berturut-turut dikepalai H Misbach Yusa Biran, Adipranadjaja, H Berthy Ibrahim Lindia, dan kini Adisoerya Abdi. (kf)

TAKE 10 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

DI BALIK KEMENANGAN ARGO Oleh: Bobby Batara HINGAR-BINGAR perhelatan piala Oscar baru saja usai. Hasilnya, film arahan Ben Affleck Argo berjaya di ajang Academy Awards akhir Februari 2013. F ilm bergenre thriller tersebut menyabet gelar film terbaik, sementara anugerah sutradara terbaik jatuh ke tangan Ang Lee lewat film Les Miserables. Banyak pihak sudah menduga kemenangan Affleck ini. Bayangkan, pembacaan pengumumannya saja dilakukan oleh ibu negara Michelle Obama langsung di kediamannya. Kejutan ini masih ditambah dengan dialog interaktifnya bareng bintang Jack Nicholson. Sempat mengundang senyum khalayak., karena nyaris tanpa jarak antara rakyat biasa dengan istri pemimpin negara. Sekilas, kemenangan Argo memang sahsah saja. Bersama film Lincoln arahan empu Steven Spielberg (saya menjagokan ini), Argo adalah karya yang ngamrik banget. Ada semangat (dan impian) rakyat Amerika yang digambarkan di sana. Boleh jadi, inilah alasan mengapa nyonya Obama mau ikutikutan repot dalam ajang ini. Argo sendiri diadaptasi dari buku The Master of Disguise, buah karya agen CIA Tony Mendez plus sebuah artikel yang ditulis Joshuah Berman. Uraian Berman secara menarik bisa menggambarkan, bagaimana upaya Mendez mengevakuasi enam diplomat AS dari Teheran, Iran pada masa krisis sandera di sana. Nah, Affleck menuangkan kisah ini dengan heroiknya. Betapa tidak, amunisinya saja sebuah tulisan yang berjudul How the CIA Used a Fake Sci-Fi Flick to Rescue Americans from Tehran. Sebuah upaya yang cerdas. Bagaimana sih persisnya agen CIA pura-pura bikin film fiksi ilmiah, agar bisa menyelamatkan para sandera. Harap dicatat: pura-pura bikin film! Tak pelak, Argo adalah film yang bercerita tentang proses produksi film. Sebelumnya mungkin pernah ada Tropic Thunder, misalnya. Namun tak pernah terlintas di dalam benak, intel kok bisabisanya menjalankan sebuah operasi rahasia dengan pura-pura bikin film. Sejenak, cukup bikin penasaran bukan? Penasaran karena penonton macam yang diajak main-main. Bagi anak sekarang proses produksi film mungkin bukan hal aneh. Tapi tidak dengan operasi intelijen. Dibutuhkan kecerdasan ekstra di sana. Mulai dari mengarang-ngarang cerita, improvisasi hingga proses penyamaran. Semua harus rapi. Jangan sampai ketahuan pihak lawan. Di sinilah kekuatan Argo diperlihatkan. Dia mewakili Amerika sebagai negara yang piawai dalam urusan produksi (dan berjualan) film di kolong langit ini. Saking jagoannya, mereka bisa memakainya sebagai alat untuk operasi intelijen. Di sisi lain, mereka harus membuat sejarah sendiri lewat versi filmnya. Perkara akurasi itu lain hal. Intinya, mereka harus tampak perkasa dalam segala hal. **


ON THE SPOT

TAKE 11 EDISI 42 / TH V / MARET 2013


TAKE 12

PREVIEW

EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Cinemasphere produksi film “Kisah Tiga Titik” Titik Tomboy

Tiga pemeran Titik dalam film Kisah “Tiga Titik”, Ki-ka: Mariam Supraba, Ririn Ekawati, dan Lola Amaria. (Foto: Dudut Suhendra Putra)

RUMAH produksi Cinemasphere yang selama bergerak di bidang produksi film iklan, beralih ke film layar lebar. Untuk debut pertamanya ini, Cinemasphere milik produser Novia Litta bekerjasama dengan Lola Amaria dalam film berjudul Kisah Tiga Titik. Sejumlah pemeran ditampilkan antaranya, Lukman Sardi, Gary Iskak, Lola Amaria, Ririn Ekawati, Mariam Supraba, Donny Alamsyah, dan lain-lain. Ditangani sutradara Bobby Prabowo, film yang menurut Lola Amaria dibuat berdasarkan potongan-potongan peristiwa di dunia nyata ini berkisah tentang kehidupan buruh perempuan. “Mereka berjuang di bidang masing-masing, dimana ada tiga tokoh perempuan di sana yang samasama bernama Titik,” kata Lola Amaria. Film bertema pekerja ini menurut Lola tidak dimaksudkan untuk mecari solusi atau menggerakkan buruh. Film ini hanya memotret dan mengalir dengan masalahnya masing-masing perempuan. “Apakah ini film side stream? Coba lihat di media kan banyak kasus sama, padahal ada kasus yang menarik dan besar bisa menjadi sejarah bangsa pada sepuluh atau 15 tahun nanti,” jelasnya. Artinya, film ini pada beberapa tahu ke depan akan menjadi ‘catatan sejarah’, dimana kita bisa melihat bahwa tahun 2012 kondisi buruh seperti ini. Ia mengatakan, semangat produksi film ini mirip seperti garapan sutradara yang dikaguminya, Syuman Djaya untuk film misalnya Doel Anak Modern, Si Mamat, atau Usmar Ismail di film Lewat Djam Malam. “Kita kan jadi bisa belajar dari film-film itu tentang Indonesia

pada masa lalu pada saat sekarang ini. Taruhlah ini investasi yang berguna bagi banyak orang lain di masa datang dan aku sendiri yang rancang mulai dari cerita, milih sutradara dan lain-lain,” jelasnya. Salah seorang pemain, Inggrid Widjanarko mengatakan, film ini memang cukup high ideal and low budget dibanding film-film yang ada. Namun demikian, dia bekerja secara standar profesonal mengikuiti ritme produksi yang memang berstandar film. “Saya senang bisa bergabung di tim yang cukup idealis ini,” kata Inge, begitu dia disapa yang dalam film ini memerankan sosok pemilik warung. Sinopsis Kisah pertama menceritakan tentang Titik Sulastri atau Titik Janda yang sedang hamil anak kedua saat ditinggal mati suaminya karena kecelakaan di pabrik tempatnya bekerja. Tanpa tunjangan kematian, ia terpaksa harus bekerja untuk bertahan hidup. Agar dapat diterima di pabrik garment tempatnya melamar, ia terpaksa harus menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang hamil muda. Untunglah ia diterima walaupun hanya menjadi pegawai kontrakan dengan upah yang

(Foto-foto: Dok/Cinemasphere)

rendah. Titik Janda tinggal di perumahan kumuh yang sebagian besar orangnya adalah buruh. Ia bersahabat dengan mbah Dince, tetangga sebelahnya, yang adalah seorang waria tua. Mbah Dince membuatnya lebih bijaksana dalam menerima nasib. Karakterkarakter unik yang berada di sekelilingnya juga membuat hidupnya lebih menarik sehingga kesedihan tidak terlalu ia rasakan sepeninggal suaminya. Waktu berlalu, ia tidak bisa berbohong tentang kehamilannya. Sialnya, pabrik garment tersebut malah memintanya untuk mengundurkan diri. Titik kalut. Uangnya belum cukup terkumpul untuk biaya persalinan. Upahnya sangat rendah sehingga untuk sehari-hari saja ia masih kedodoran. Ia pun berjuang untuk dapat terus bekerja di pabrik tersebut. Atas bantuan seorang petinggi perusahaan pemilik pabrik, yang tak lain adalah Titik Dewanti Sari, atau Titik Manager, Titik Janda dapat kembali bekerja setelah bayinya lahir. Namun ternyata kehadirannya kembali menimbulkan permasalahan yang lebih pelik lagi. Masalah tersebut tidak hanya menimpa Titik Janda, namun juga Titik Manager yang membantunya.

Titik Janda

Kisah kedua, tentang Titik Manager atau Titik Dewanti Sari yang merupakan seorang perempuan kuper yang cerdas, serius dan ambisius dalam mengejar karier. Karenanya, ia pun diangkat sebagai Manager SDM bagi pabrik garment yang baru dibeli oleh perusahaan raksasa tempat ia bekerja. Ia banyak menemui kesulitan dari rekan kerjanya. Belum lagi dari ribuan buruh yang harus ia tangani. Sisi kemanusiaannya bersinggungan dengan kepentingan perusahaan, sehingga kariernya kini berada di ujung tanduk. Dilema yang ia rasakan membuatnya menjadi terpojok dan hampir putus asa. Ternyata, selama ini ia memiliki sebuah rahasia yang bisa membuat kariernya cepat melejit. Ia pikir, rahasia tersebut dapat menjadi senjatanya, namun ternyata, itu pun tidak dapat mempermudah jalannya untuk memperjuangkan hak para buruh, terutama buruh perempuan. Ketiga, kisah ini menceritakan Kartika atau Titik Tomboy, seorang anak preman kota yang kabur dari rumah sejak remaja. Ia dibesarkan di sebuah lingkungan yang keras.

Itulah sebabnya ia berpenampilan seperti laki-laki. Titik Tomboy tidak kenal takut. Ia adalah seseorang yang emosional dan berani melawan ketidak adilan. Walaupun begitu, sisi lembutnya terkadang keluar karena perasaannya terhadap Anto, sahabatnya, yang juga menyukai dia. Titik bekerja di sebuah industri rumahan yang memproduksi sandal dan sepatu. Tempat ia bekerja itu sering mempekerjakan anak-anak sekolah karena bayaran mereka yang murah. Anak-anak itu sengaja dihadang oleh oknum makelar buruh di depan sekolah dan diiming-imingi uang jajan, sehingga pada akhirnya, mereka memilih untuk bolos sekolah dan bekerja mengelem sandal. Tak jarang, anak-anak itu menjadi ketagihan ngelem gara-gara pekerjaan ini. Ia berjuang sendirian untuk menghentikan keadaan ini. Lalu bagaimana dengan kelanjutan cerita mereka? Apakah akan berakhir bahagia? Langit Jakarta menjadi saksi kisah hidup tiga Titik. Dalam peluh, roda kehidupan harus terus mereka kayuh. Dan… kisah tiga Titik pun berlanjut, sampai ajal tiba menjemput. (kf)


AGENDA

TAKE 13 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Buk u ffot ot ogr afi kke-3 e-3 Buku otogr ografi Jerry A urum Aurum unt uk Denad untuk Denadaa APA kabarnya artis Feby Febiola? Di mesin pencari Google, sang mesin pencari segera mengusulkan frasa “Feby Febiola cerai” di kotak pencarian yang belum selesai diketik. Ini menandakan bertebaran informasi seputar perceraian Feby dengan suaminya, Bruce Delteil warga negara Prancis. Dan ini bukan kali pertama, Feby dan Bruce digosipkan bakal cerai. Tak ada asap kalau tidak ada api. Apalagi model sekaligus penyanyi ini kerap tampil di depan publik tanpa disampingi Sang suami. Feby yang ikut berperan di film ‘KM 97’ beralasan dirinya dari dulu tidak terlalu suka diekspos kehidupan pribadin-

Feby Febiola. (Foto: Ist)

ya. Meski begitu, Feby sempat mengaku ada masalah dalam rumah tangganya. “Kalau bermasalah, saya mau tanya. Rumah tangga mana yang tidak pernah punya masalah? Tidak ada. Semua rumah tangga pasti punya masalah,” ungkapnya. Namun menurut sumber terdekat Feby, pasangan yang menikah pada 15 Agustus 2001 ini sudah benar-benar berakhir. “Feby dan Bruce sudah lama tidak tinggal bersama. Dan masingmasing sudah memiliki pasangan baru,” ungkap sumber yang tidak mau disebut namanya itu. Pasan-

gan baru Feby adalah orang yang selama ini cukup dekat dengannya. Sumber itu juga mengatakan bahwa kekasih baru Feby adalah seorang pemusik yang terlibat dalam penggarapan album terbaru Feby. Hingga saat ini status pernikahan yang telah berjalan selama 11 tahun belum ada kejelasan. Feby pernah mengatakan bahwa dirinya masih berstatus menikah. Jadi dengan siapa status itu dia buat ? Kita tunggu saja kabar terbaru dari Feby. (kf)

WINDI INDIRA

Antara profesi dan asmara GAGAL menikah tak membuat kalut Windi Indira, mojang kelahiran Bandung, 8 Juni 1983. Mantan calon istri pencipta lagu, Ageng Kiwi ini tak merinci alasan pembatalan rencana tersebut. “Batal bukan bukan karena ada pria idaman lain,” ujar Windi, yang justru terlihat jalan bareng meniti karir bersama dengan kekasihnya di industri musik. “Urusan kerja tetap profesional. Urusan pribadi biarlah aku sama dia yang tahu. Justru masalah ini makin menguatkan ikhtiarku menjadi penyanyi,” ujar model, bintang sinetron dan film yang kini merambah jadi penyanyi. Soal proyek musiknya dengan Ageng Kiwi, arts yang pernah membintangi film “Kawin Kontrak Lagi” (Multivision Picture) ini mengatakan, tetap sesuai komitmen profesionalisme. Apalagi lagu karya cipta Ageng Kiwi, I Love You yang dinyanyikan Windi mendapat respon bagus dari masyarakat.

Windi Indira (Foto: Dok/Pribadi)

“Mungkin lagu ini lebih punya inner. Dalam kali ya. Soalnya memang lagu ini yang menjadi awal mula aku ‘jadian’ sama mas Ageng. Inner contact (kontak batin) gitu deh,” ujar Windi. Windi Indira didapuk membawakan salah satu karya Ageng Kiwi dalam single hit : I Love You. Dan AK

Pro Team sebagai peracik musiknya mengakulturasikan House Music dengan Jaipong menjadi elemen penting di lagu Windi. Harmoni musik Dangdut memang secara histories lekat dengan musik-musik dunia; Arab, India, Barat, dan lainnya. Pengaruh tersebut akhirnya membawa musik ini masuk ke dalam tradisi Melayu yang terus berkembang. Maka perpaduan House Music dengan Jaipong dalam kemasan lagu I Love You [wolrd music] menjadi dengaran yang harmonis, “semriwing” dan menghentak, menstimulan gerakan tubuh dan membawa pendengarnya untuk bergoyang. I Love You memberi nuansa baru bagi khasanah musik Indonesia. “Harapannya lagu ini menjadi History of Indonesian House Music!,” ujar artis yang pernah membintangi sinetron ‘Gengsi GedeGedean’ (RCTI ), ‘Hidayah-Mu’ (TPI), ‘Ku Sebut Nama-Mu’ (TPI), ‘Dendam Pocong’ (TPI), dan sinetron ‘Tikungan Maut’ (TPI) ini. (kf)

Jerry Aurum didampingi istri dan anak mereka. (Foto: Dudut SP)

JERRY AURUM fotografer paling berpengaruh di Indonesia baru meluncurkan buku fotografinya yang ketiga. It’s not my camera that makes me a photografer demikian ditulis Jerry Aurum dalam buku Hampir Fotografi yg di luncurkan di Decorous, Kemang 89, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013). DI buku ini Jerry mengedepankan esensi-esensi penting dunia kreatif dengan mengambil sisi fotografi sebagai kendaraannya. Ditulis dengan bahasa humoris, santai dan apa adanya. “Saya percaya, tidak ada aturan baku dalam mendapatkan sebuah foto yang baik. Bahkan digital imaging pun sah digunakan dan dapat menjadi karakter dari masing-masing fotografer” ujar Jerry. Pria kelahiran 1976 ini mungkin merupakan fotografer indonesia yang mengumpulkan paling banyak penghargaan di gengre foto berbeda. Beberapa dari penghargaan terakhir yang dimenangkan adalah pemenang ganda Platinum dan Emas di Graphis 100 Best in Photography 2012 di New York dan medali Emas di Asian Print Awards 2011 di Bangkok. Buku pertamanya, Femalography, dinobatkan sebagai 2nd Best Recommended oleh toko buku Borders di Singapura di tahun 2006 dan buku keduanya, In My Room, menjadi salah satu buku fotografi terlaris di Indonesia. “Kekuatan seorang Fotografer tidak hanya terletak pada kamera, karena banyak unsur-unsur lain di belakangnya yang juga berpengaruh terhadap hasil jepretan. Di dalam buku ini pula, saya ingin menyampaikan bagaimana sebuah momen bisa menjadi sangat penting dalam hal fotografi. Tidak hanya menemukan momen, namun fotografer juga harus bisa menciptakan momen,” ujar Jerry. Buku ketiga Jerry Hampir Fotografi ini didedikasikan buat Denada, sang istri yang dengan setia telah mendukung pembuatan buku ini selama 1,5 tahun serta putri pertamanya, Shakira Aurum. (dsp).

or Sol id arit y” “Born to Speak ffor Solid idarit arity BERAWAL dari rasa keprihatinan dan kepedulian terhadap nasib para Pekerja Seni serta para awak media yang tidak begitu beruntung tatkala memasuki usia senja, Andalan Entertainment dan Charity Club Indonesia ( CCI ) menggagas untuk menggelar sebuah Solidaritas dalam bentuk konser musik bertajuk Born to Speak for Solidarity — konser Kemanusiaan

dan kebersamaan dari Musisi untuk para Pekerja Seni dan Wartawan Konser ini bukan konser biasa. Beberapa musisi dan penyanyi kenamaan akan tampil di sini, yakni NOAH, Rezza Artamevira, Bondan Prakoso & Fade 2 Black, Rebecca, Sandy ‘Pas’ & Liza Harun, Kohar Kahler, Alika, KJP dan Audiensi Band Konser ini merupakan kelanjutan dari 3 pertunjukan musik amal sebelumnya ( Februari 2010,

Desember 2012 dan Februaru 2013 ) yang digelar oleh oleh Yayasan Charity Club Indonesia ( CCI ) pimpinan Bens Leo. yang kemudian menggandeng Andalan Entertainment di bawah komando Rifalalla Dewi, dan kali ini diberi judul Born to Speak for Solidarity. Duapuluh persen dari penjualan ticket, akan didonasikan pada rekan-rekan artis dan pekerja seni serta awak media yang tengah sakit.

“ Pekerja seni dan pers selalu sejalan dalam menapaki dunia entertainment tapi kadang ada beberapa diantaranya yang kurang beruntung, maka pada kesempatan pertama ini, Kami mencoba berbuat untuk mereka dan kami berencana untuk menjadikan konser ini menjadi acara reguler setahun tiga kali,”ujar Rifaralalla Dewi saat dijumpai di kantor Andalan Enter-

tainment, Jl. Darmawangsa Jakarta Selatan Untuk konser yang akan dihelat pada 27 Maret 2013 pukul 20.00 WIB - selesai di Tennis Indoor Senayan, Andalan Entertainment menggandeng Key Management n Prod dan Charity Club Indonesia. Sementara tiket masuk pihak penyelenggara mematok harga Rp 900.000 (VIP), Rp 600.000 (Tribun) dan Rp 300.000 (Festival).**


DIA

Sekolah akting ‘Underdog Kickass’. (Foto-foto: Dudut Suhendra Putra)

SUTRADARA Rudi Soedjarwo geram dan ingin ‘menggebuk’ penonton film Indonesia. Dia mengaku hampir gila menghadapi selera penonton, yang menurutnya terpola system industri. Rudi pun melakukan langkah progresif, membuat film-film dengan bintang tidak populer melalui metode sekolah akting ‘Underdog Kickass’. “Saya harus sinting sekalian, mengajak orang tidak terkenal bermain di film,” kata Rudi Soedjarwo pada Tabloid Kabar Film di markas ‘Underdog Kickass’, kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (03/02/2013). Selama ini, produksi film mainstream menempatan bintang terkenal sebagai hal wajib. Namun, system itu tidak diberlakukan oleh Sutradara Terbaik FFI 2004 ini. “Saya beri kesempatan mereka yang nggak cakep, atau bahkan misalnya cacat tapi punya minat dan berpotensi untuk main film,” jelas Rudi. Menurut Rudi, metode yang dia terapkan hanya membalikkan system. “Kalau biasanya calon aktor dan artis dicasting ketika scenario sudah jadi, maka metode saya artis harus tercipta dulu, baru menyusul skenarionya,” lanjut Rudi yang berkolaborasi dengan dua mitranya untuk membangun metode yang dimulai sejak 24 Desember 2012.

Setelah pemain terbentuk, filmnya bisa tentang apa saja. Film akan disesuaikan dengan kemampuan para pemain. “Saya menyayangkan kalau ada orang, misalnya maaf tak punya kaki tapi berhasrat jadi pemain film dan punya kemampuan untuk itu tapi diabaikan. Atau umur mereka di atas 40 tahun, punya kemampuan, juga dianggap tidak punya hak jadi pemain film,” jelasnya. Metode Rudi memang nyeleneh dan out of the box. Dia yakin metodenya ini akan merubah pasar. “Penonton film nantinya akan terbiasa melihat, bahwa potensi yang mereka lihat di film, tidak seperti yang terlihat seperti sekarang ini,” tegasnya. Rudi juga bertekad akan terus memproduksi film dengan metode gilanya. Bahkan, sejak awal dia sudah menancapkan tagline ‘Underdog Kickass’ — Cara Sinting Belajar Akting’. Soal untung dan ruginya bagaimana? “Saya balik bertanya, siapa yang mau nonton mereka secara tidak dikenal? Setidaknya di atas kertas, mereka tidak akan ditonton kan? Makanya, tujuan saya bukan laku atau tidak laku, tetapi ingin membuktikan bahwa yang semula dianggap gak bisa, ini bisa loh. Untuk film pertama minimal. Paling tidak, keluarga mereka dan teman-teman mereka menonton dulu deh,” jelas Rudi. Dari 24 film yang pernah dibuatnya selama 10 tahun lebih, hal itu dirasakan penting bagi ayah dua anak ini. Moment kelahiran

anak kedua itulah, yang menurut Rudi mulai terfikir soal ‘masa depan’ di perfilman. “Nanti anak saya mau ditinggalin apa? Apakah hanya akan meninggalkan film yang tersimpan di lemari, dan dikenang “oh bapak pernah bikin ini.. Masak hanya itu doang? Kalau duit saya tinggalin bisa, tapi akan habis juga. Jadi ya cuma ada dua pilihan, ninggalin (mewariskan-red) film atau duit. Kan itu kemungkinannya. Lalu buat anak saya dapat apa? Menurut Rudi prioritasnya dalam kerja kreatif di perfilman mulai berubah. Maksudnya, jika dia dulu membuat film terbiasa laku atau tidak laku. Namun pada suatu pagi, Rudi mengaku terbangun dan melihat anaknya dan terfikir “Kalau ninggalin film pada 10 tahun ke depannya pasti hanya itu doang. Malah mungkin ketiban sama film-film lain yang baru. Nah saya tidak mau hanya itu. Lalu saya juga berfikir masa iya bikin film yang memakan banyak tenaga, fikiran dan dana hanya dilihat dari sisi hasil akhirnya saja. Kan hasil akhirnya cuma untung ga untung, laku ga laku, banyak ga banyak penontonnya. Nyampe ga nyampe pesannya, selain kritikan bagus atau jelek,” papar Rudi. Dia pun mendapatkan ide, mengapa tidak sebelum filmnya jadi saja, saya sudah mulai melakukan suatu kebaikan untuk di sekeliling. Kenapa ngga bisa? Kan banyak levelnya tuh, seperti casting atau apapun prosesnya. Maka terbentuklah system bela-

TAKE 14 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

jar yang dia sebut sebagai Cara Sinting Belajar Akting. “Selama ini saya buat film selalu dengan pemain baru dan itu tidak bisa banyak. Selalu saja produser meminta beberapa saja dari mereka. Nah itu yang pertama. Dan yang kedua, seperti yang banyak saya lihat orang yang sudah usia di atas 40 tahun yang sebenarnya memiliki potensi tapi tidak mendapatkan media. Kemarin, lihat saja di film Sang Kapiten. Memang tidak laku tapi yang jadi peran utama adalah teman lo wartawan Andy Bersama umurnya 55 tahun,” ujarnya. Masak untuk menjadi aktor harus anak muda? Padahal dia punya potensi. Artinya banyak hal di perfilman yang belum diakomodir oleh industry. Entah karena dianggap tidak menjual, entah karena memang skenarionya gak ada buat mereka, entah karena memang wajahnya tidak ada dalam scenario. Misalnya kakinya patah satu, lalu kapan dia mulai mendapat skrip. Sayang dong, kan mereka asset yang berpotensi. Padahal mereka sangat potensial Kenapa nggak saya balik saja prosesnya. Dibuka selebarnya orang bisa masuk, baru dibuatkan scriptnya. Ini memang sinting. Makanya dipakai motto cara sinting belajar akting kan? Nggak ada yang bantu saya. Menurut orang lain sinting, menurut gue sama saja. Cuma gue balik saja prosesnya. Kita lihat materinya, kita bisa angkat apa dari materi itu, kekurangannya apa, kita latih, dan peristiwa apa yang tepat untuk dia bisa mainkan hingga tidak kelihatan jelek. Potensinya kita cari sampai seberapa bisa, dia punya rasa takut apa, terhadap rasa tidak nyaman apa dan akhirnya kita bikin film yang cocok buat dia, sebuah karakter yang cocok buat dia, sehingga kita menontonnya juga menjadi enak. Bagaimana mengakomodir kepentingan industry dengan idealism Anda? Nah, film ini nantinya pasti gak laku kan? Kok pesimis? Sekarang saya balik, siapa yang mau nonton mereka secara tidak dikenal? Setidaknya di atas kertas, mereka tidak akan ditonton kan? Makanya, tujuan saya bukan laku

atau tidak laku, tetapi ingin membuktikan, bahwa yang semula dianggap ga bisa, ini bisa loh. Untuk film pertama minimal. Paling tidak, keluarga mereka dan teman-teman mereka menonton dulu deh. Jadi yang mau dihantam siapa dengan konsep ini? Yang mau saya hantam adalah penonton film itu sendiri. Mereka harus melihat bahwa potensi yang kalian lihat di film, tidak seperti yang terlihat seperti sekarang. Bukankah ini akan memukul para produser? I don’t care. Maksud saya begini, kalau satu film dibuat ini tidak laku, maka saya akan terus membuat film lagi ‘jebret!’ pookoknya akan terus bikin. Karena saya akan buat film yang unik. Karena kan saya balik prosesnya., Saya tidak akan bikin film yang tiba-tiba mewah, glamour. Karena orang akan beranggapan pasti butuh yang cakep-cakep. Saya pasti bikin film yang tidak mainstream. Kalau mau bikin tentang pembunuhan massal, pembunuhan massal kali. Atau kalau kita bikin yang berkarakter banget, pokoknya ekstrim. Jadi yang mau saya hantam bukan,.. begini.. bayangkan misalnya anak saya harus tumbuh besar nanti di tengah masyarakat yang berfikiran bahwa bakat itu dinilai dari penampilan. Sinting. Jadi apakah ini akan menghantam produser, saya tidak bisa katakan begitu. Karena produser kan punya kepentingan dan itu uang. Tapi kalau yang saya berikan balancing adalah masyarakat penontonnya untuk menambah referensi lebih mengenai sosok-sosok yang mereka lihat adalah alternative terus. Ada yang seperti ini, seperti itu, dan seterusnya. Jadi mereka nonton karena filmnya, misalnya ekstrem atau apa bukan karena cakep atau jeleknya pemain. Sehingga ketika penonton sudah mulai merasakan itu, dan terus diberikan, sehingga ketika film saya keluarkan terus menerus dengan ke-ngehean-ngehean’ kita, mereka akan menjadi selalu ingin tahu. Mereka akan pingin nonton. Ketika akan menonton, hal itu diharap akan menjadi suatu kebiasaan nantinya.


DIA

TAKE 15 EDISI 42 / TH V / MARET 2013

Drs Ukus Kuswara MM, Sekjen Kemenparekraf

Memahami penonton film Indonesia

Rudi Soedjarwo

Akan tahan berapa lama model produksi seperti yang Anda tempuh ini? Yaa kalau berfikir uang sih, pasti luluh hehehe... Tapi coba tengok hitungan registrasi menjadi peserta ini. Registrasi Rp4 Juta let say lima juta. Dikalikan, letsay sekarang 70 orang. Atau letsay tahun ini saya ambil 300 orang saja, hasilnya Rp2,1 Miliar. Itu kan, hitungan budget satu film. Nah, berapa orang yang harus saya bikini? Tapi kan, mereka konsepnya bisa saya bikin yang multi character, multy story dalam satu film kan? Tapi tetap saja bukan satu film kan? Satu film paling maksimal 50-60, selebihnya nggak bisa. Makanya paling nggak saya musti bikin banyak. Tapi, gini‌ yang bikin saya tidak takut lock dengan seberapa lama pijakan saya, kita melakukan ini dengan.. kan belajar akting yang seperti saya bilang, kita bikin ini menjadi satu kesatuan proses. Satu-satunya bidang yang dipelajari orang tapi tidak bisa langsung digunakan itu akting. Lo belajar jurnalistik, belajar manajemen, belajar arsitektur, desain, matematik apapun itu, selesai belajar lo bisa wiraswasta sendiri. Atau cari kerja kemana-mana. Tapi akting maneee? Makanya saya heran kalau ada lembaga sekolah yang buka jurusan akting sampai tiga tahun. Emangnye dia tahu selesai

kuliah terus jadi ape? Jasa pelayanan akting? Kan nggak! Selama ini salah kita. Lo ngajarin orang yang ketika selesai tidak bisa ngapa-ngapain. Karena mereka harus tetap casting. Kalau dapet,.. berarti apa yang mereka pelajari lama tidak digunakan. Artinya tidak berguna sekolah akting? Bukan tidak berguna, tapi caranya yang salah. Kalau selama ini mereka diajari akting, apakah mereka juga diberikan ruang untuk mengaplikasikan kemampuan mereka. Kenapa keluar metode saya ini. Mereka belajar akting dan diajar mengaplikasikannya ke dalam film. Dan saya mengajari mereka apakah mau main film, dan bagaimana supaya tidak diketawain jutaan orang? Kalau maunya cuma main film, besok saya tinggal nge-shoot bikin film dan transfer ke digital beres. Apa itu yang dimaui? Itulah yang saya tanamkan ke mereka. Jadi harus latihan dong supaya nggak diketawain orang. Dengan belajar mengaplikasinnya ke dalam film, mereka belajar mempertanggungjawabkannya di depan orang lain atau penonton. (tis)

MEMASUKI tahun 2013 perfilman Indonesia mendapat kejutan dengan meningkatkanya secara signifikan dua film nasional Habibie dan Ainun dan 5 Cm. Padahal angka statistik mencatat, sepanjang 2011 kecenderungan menurunnya animo penonton film Indonesia. Menarik menyimak naikturunnya penonton film Indonesia. Dan seperti apakah karakteristik penonton film Indonesia, serta bagaimana perkembangan terakhir penonton film berdasarkan data pemerintah? Untuk itu Tabloid Kabar Film mewawancari Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Drs Ukus Kuswara MM, yang sempat menjabat direktur film di kementerian yang sama ketika masih bernama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Berikut ini petikannya: Bagaimana perkembangan terakhir penonton film di Indonesia? TAHUN 2011 memang sempat mengkuatirkan. Jumlah penonton tahun tersebut turun 18% dari tahun 2010. Tahun 2010, jumlah total penonton film bioskop mencapai 59,3 juta orang, tahun 2011 turun menjadi 48,6 juta orang. Di tahun 2012 jumlah penonton kembali meningkat 18%, menjadi 57,5 juta orang, sudah hampir menyamai posisi tahun 2010. Film Habibie dan Ainun, serta Film 5cm berperan besar menaikkan jumlah penonton tahun 2012. Apa yang bisa dipelajari dari angka-angka penonton tersebut? Jumlah penonton tahun 2012 lalu sangat terdongkrat melalui Film Habibie dan Ainun yang ditonton lebih dari 4 juta orang. Penonton film mencapai angka di atas 4 juta orang tidak terjadi setiap tahun, khususnya untuk film Indonesia. Terakhir terjadi di tahun 2008 lewat Film Laskar Pelangi. Tahun 2013 ini, ada kemungkinan jumlah penonton kembali menurun. Ini merupakan tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan perfilman, bagaimana untuk terus memperbaiki statistik jumlah penonton dari tahun ke tahun, dari berbagai aspek perfilman. Film Apa yang paling banyak ditonton oleh masyarakat Indonesia? Dari sisi genre, film drama masih mendominasi. Sekitar 40% menonton film bergenre drama. Selanjutnya diikuti oleh film bergenre komedi dan horor. Ini juga menegaskan bahwa serial drama televisi, baik sinetron maupun film televisi, diminati oleh masyarakat. Selain itu, memang produksi film bergenre drama masih lebih banyak dibanding genre lain. Saya sendiri tidak alergi terhadap genre tertentu. Semakin banyak genre yang diangkat, maka semakin banyak pilihan masyarakat, dan itu baik. Yang penting adalah kualitas filmnya harus tetap dijaga, baik cerita maupun teknik pembuatannya. Sebenarnya, siapa penonton film Indonesia dan bagaimana karakteristiknya? Saya belum berani menyimpulkan karakteristik penonton film Indonesia. Perlu kajian akademis yang lebih empiris. Karena memang penonton Indonesia itu unik. Tetapi ada beberapa catatan yang perlu kita cermati. Pertama, kalau melihat rata-rata jumlah penonton setiap film, maka penonton yang dikatakan captive market atau penonton tetap, sulit ditentukan. Tahun 2012 misalnya, rata-rata penonton per film sebanyak 211 ribu orang. Tetapi ada film yang hanya ditonton 50 ribu orang dan ada film yang ditonton 4,1 juta orang. Variasi jumlah penonton terendah, rata-rata, dan tertinggi, cukup besar. Kedua, dari sisi lokasi, maka dapat kita simpulkan bahwa saat ini sebagian besar penonton film adalah masyarakat di pulau Jawa dan wilayah perkotaan. Tidak dapat kita pungkiri bahwa 72% bioskop kita ada di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sebagian besar bioskop ini menyatu dengan mall atau pusat perbelanjaan. Bahkan 10 provinsi

Drs Ukus Kuswara MM. (Foto: Dudut Suhendra Putra)

belum memiliki bioskop. Hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat perfilman, bagaimana agar film dapat dinikmati seluruh masyarakat. Ketiga, dari sisi harga dan jam tayang, maka kelompok remaja dan mahasiswa kelihatannya menjadi sasaran utama. Kecuali akhir pekan, kelompok remaja dan mahasiswa inilah yang paling besar kemungkinannya menonton di bioskop pada jam tayang siang dan sore hari, termasuk di malam hari. Harga tiket masuk juga disesuaikan dengan daya beli mereka, bahkan muncul terminologi nomat, nonton hemat. Apakah ada kaitannya antara karakteristik penonton dengan perkembangan film Indonesia? Tentu ada. Salah satunya pada kualitas film. Sebagian remaja dan mahasiswa ini motifnya bukan untuk menonton film saja, tetapi juga berkumpul dengan teman atau teman-teman, dan menonton menjadi salah satu aktivitasnya, sehingga kualitas film yang akan ditonton bukan prioritas. Memperoleh 50 ribu penonton kelompok ini boleh dikatakan tidak terlalu sulit. Horor berbau pornografi dengan kualitas rendah pula, sudah cukup menjadi daya tarik. Dengan harga tiket Rp. 30 ribu, maka produsen film memperoleh 750 juta rupiah, sisanya untuk bioskop. Maka muncullah film-film berkualitas rendah dan tidak mendidik, karena motivasi produsennya meraih penonton minimum tersebut. Yang ingin saya katakan, bahwa dalam ekonomi kreatif, logikanya tidak hanya business as usual. Ekonomi kreatif yang berhasil, termasuk film, bukan hanya market driven (didikte kebutuhan pasar), sebaliknya drive the market, mengedukasi pasar dengan menciptakan trend dan produk berkualitas. Konsekuensinya memang ada, yaitu biaya produksi yang tinggi. Ini juga menjadi perhatian pemerintah, bagaimana pembiayaan film ini bisa berjalan di negara kita, sehingga resiko tidak hanya ditanggung produsen film, tetapi juga pemerintah. Karena manfaat lain dari film adalah pembentukan karakter dan jati diri bangsa, yang notabene adalah bagian tugas negara. Teknologi digital sebetulnya merupakan harapan baru membuat film bagus dengan biaya lebih murah. Dibanding penduduk Indonesia, jumlah penonton film di Negara kita relatif kecil, mengapa demikian? Ya ini merupakan tantangan bersama. Hampir 60 juta penduduk Indonesia berusia muda, 15-29 tahun, yang merupakan penonton film potensial. Jika menonton film 2 kali saja setahun, maka penonton film sudah mencapai 120 juta. Belum termasuk penduduk usia di atasnya. Banyak yang masih harus kita benahi, diantaranya akses terhadap bioskop, akses terhadap film, akses terhadap pembiayaan film, kebijakan dan perizinan yang kondusif, SDM perfilman, sampai kepada literasi masyarakat terhadap film. Semuanya sedang kita godok dalam program-program pengembangan perfilman, baik nantinya yang ditangani Kemendikbud, maupun Kemenparekraf. Apa pesan Anda untuk masyarakat penonton dan perfilman secara umum? Sederhana, untuk penonton, jangan tonton film yang tidak bagus dan jangan menonton film bajakan. Untuk pembuat film, buatlah film yang bagus, yang tidak didikte pasar tetapi sebaliknya mengedukasi pasar. (kf)



TABLOID KABAR FILM EDISI 42