Page 1

Jakarta, September 2005

Jatinegara: DR. Ir. Budi Faisal, MLA, MAUD Arief Firmansyah, ST Indri Desvianty, ST Nyoman Sulandika, ST


LATAR BELAKANG

HISTORIS

Kawasan Segitiga Jatinegara adalah suatu kawasan di Kotamadya Jakarta Timur yang dikenal memiliki nuansa kental sejarah dan perdagangan, sebagai uratnadi ekonomi masyarakat sejak era kolonial di Indonesia.

Gereja Koinonia

Stasiun KA Jatinegara

Gedung Eks Kodim

§ Kawasan Jatinegara merupakan bagian kota Jakarta tertua kedua setelah Jakarta Kota. § Kawasan ini mulai dikenal pada abad 17, sebagai kediaman para pangeran yang berasal dari Banten. § Nama Jatinegara diriwayatkan berasal dari kata "Jatina Nagara" yang berarti kekuatan negara dan merupakan simbol penggalangan kekuatan para pangeran Banten (melawan Belanda) pada waktu itu. § Daerah Jatinegara kemudian dikenal juga dengan nama Meester yang berasal dari nama Meester Cornelis Senen. § Tahun 1734, Belanda membangun pertahanan di kawasan ini dan memberi nama bentengnya Fort Meester Cornelis. Sejak itu, kawasan Jatinegara dikenal sebagai bagian depan (voorstad) Kota Batavia.

Yang dimaksud dengan kawasan segitiga Jatinegara adalah sebagai berikut : § Sebelah Utara : Rel Kereta Api Jatinegara/Kel. Pal Meriam § Sebelah Barat : Jl. Jatinegara Barat/Kel. Kampung Melayu § Sebelah Timur : Viaduct (putaran jalan tol)

§ Jatinegara sejak zaman kolonial sudah menjadi salah satu pusat transportasi di Jakarta, salah satunya dengan adanya pangkalan trem kuda mulai tahun 1869. § Selain memiliki pangkalan trem kuda, Jatinegara juga memiliki Stasiun Jatinegara yang merupakan satu dari empat stasiun kereta api pertama yang dibangun di Jakarta. Trem melewati pinggiran kanal dan pangkalan trem di Jatinegara tempo dulu.

VISI DAN TUJUAN PERENCANAAN DAN PENATAAN KAWASAN JATINEGARA Visi Perancangan Merencanakan kawasan yang berkarakter unik dan tertata baik dengan melakukan peningkatan kualitas lingkungan dan memanfaatkan potensi-potensi yang ada secara optimal.

Tujuan Perancangan Perencanaan dan penataan yang menjadikan kawasan ini tertata dengan baik, manusiawi, berkarakter (dengan karakter kolonial Belanda, Cina, dan Melayu), dengan menyelesaikan permasalahan-permasalahan transportasi, PKL, kebutuhan RTH, peningkatan kualitas lingkungan serta aktivitas ekonomi di kawasan ini.

§ Kebudayaan yang berkembang di kawasan ini didominasi oleh kebudayaan mayoritas etnis yang bermukim di kawasan ini, yaitu etnis Cina dan Betawi-Arab. Di beberapa tempat di kawasan ini saat ini masih terdapat kelompok Barongsai dan kesenian tradisional Marawis. § Langgam arsitektur yang ada di kawasan ini adalah langgam arsitektur kolonial dan arsitektur bergaya Cina.

Pasar Lama di Jatinegara yang sampai kini masih lekat dengan kebudayaan dan langgam arsitektur Cina

01


TEORI-TEORI PENDUKUNG New Urbanism_Krisis Transportasi Mengatur pertumbuhan, mengurangi lalu lintas, menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan membangun investasi transportasi tepat, merupakan tantangan-tantangan yang dihadapi perkotaan saat ini. New Urbanism adalah sebuah strategi pembangunan yang menekankan isu-isu tadi dengan menciptakan komunitas-komunitas yang lebih liveable, walkable, dan sustainable, dengan meningkatkan kualitas kehidupan. Pemilihan kendaraan pribadi sebagai alat transportasi utama saat ini perlu diperhatikan lagi dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut. 1. Kecelakaan lalu lintas oleh kendaraan bermotor yang mengakibatkan angka kematian yang tinggi di jalan raya. 2. Kapasitas jalan raya yang ada saat ini tidak mampu lagi menampung jumlah kendaraan yang terus bertambah setiap tahun. Penambahan atau pelebaran jalan tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang lebih tinggi, sehingga tingkat kemacetan lalu lintas pun terus bertambah. Investasi yang berikan bagi pelebaran, penambahan dan perbaikan jalan pun menjadi tidak efisien. 3. Waktu kemacetan lalu lintas yang terjadi tiap tahun semakin meningkat. Hal ini tidak efisien dilihat dari nilai ekonomi, waktu, biaya, dan bahan bakar yang terbuang percuma di jalan raya. 4. Mobil memiliki harga beli dan biaya perawatannya dapat menghabiskan kira-kira sepertiga dari pendapatan rumah tangga tiap tahunnya. 5. Mobil menimbulkan permasalahan-permasalahan lingkungan seperti polusi udara, polusi suara, polusi dan kontaminasi tanah, polusi air dari proses penambangan berkurangnya lahan pertanian dan ruang terbuka, pemanasan global, serta merusak lingkungan alami. 6. Secara keseluruhan, mobil merupakan sarana transportasi yang paling tidak terjangkau, tidak efisien, menimbulkan polusi, dan apabila jumlahnya banyak justru terbukti tidak mampu berperan sebagai sarana mobilitas yang baik. Solusi yang dianjurkan untuk menangani masalah transportasi di perkotaan ini adalah dengan membangun kembali lingkungan perkotaan dan memadatkan daerah-daerah pinggiran kota menjadi kota-kota yang berorientasi pada pejalan kaki dan dihubungkan dengan sistem transportasi massal berbasis rel. Bentuk pembangunan semacam ini dikenal dengan Transit Village atau Transit Oriented Development (TOD).

§ §

Kepadatan dipusatkan di jalur-jalur pemberhentian kendaraan umum Tempat-tempat pemberhentian utama membangkitkan kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tempat-tempat pemberhentian sekunder.

§Basis-basis TOD akan membentuk koridorkoridor yang mendukung kegiatan transit.

§TOD memanfaatkan jaringan-jaringan transit yang sudah ada.

TOD (Transit Oriented Development) Ide awal TOD adalah mendorong orang untuk lebih banyak berjalan kaki dan menggunakan sarana transportasi umum daripada menggunakan kendaraan pribadi dengan menempatkan lokasi pekerjaan dan perumahan lebih dekat atau di sekitar lokasi transit dan lokasi-lokasi yang menjamin kemudahan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari , dengan meningkatkan pola tata guna lahan yang mendukung kegiatan transit. TOD harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

Diagram TOD Meskipun bentuk dan konteksnya bisa bermacam-macam, secara umum TOD memiliki unsur utama berupa kelompokkelompok bangunan berfungsi campuran dengan intensitas penggunaan tinggi yang ditempatkan dalam jarak berjalan kaki yang nyaman di setiap jalur transit dan pusat-pusat aktivitas.

02


LATAR BELAKANG GAMBARAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTAMADYA JAKARTA TIMUR 1. Pemanfaatan Ruang Kawasan Hijau Binaan - Pembangunan taman kota antara lain di Kawasan Sentra Primer Baru Timur dan Kawasan Pemukiman Baru - Peningkatan penghijauan pada jalur jalan ( jalan arteri dan daerah aliran sungai) - Pengadaan lahan untuk ruang terbuka hidup di Kawasan pemukiman padat penduduk 2. Pemanfaatan Ruang Kawasan Pemukiman - Perbaikan lingkungan pada pemukiman padat di seluruh Kecamatan - Pembangunan dan peningkatan rumah susun 3. Pemanfaatan Ruang Kawasan Bangunan Umum - Penataan kawasan perdagangan dan jasa di Jatinegara 4. Pemanfaatan Ruang Kawasan Sistem Pusat Kegiatan - Perbaikan lingkungan fasilitas perdagangan lama dan peningkatan fasilitas perdagangan batu akik yang disertai dengan penataan sarana dan prasarana pejalan kaki dan sistem transportasi 5. Pemanfaatan Ruang Sistem Prasarana Wilayah - Pembangunan jalan lokal yang berfungsi sebagai jalan tembus serta jalan inspeksi sungai - Peningkatan dan penerapan manajemen lalu lintas dan fasilitas pejalan kaki - Penataan moda angkutan umum yang disesuaikan dengan hirarki jalan berikut fasilitas penunjangnya

RENCANA STRUKTUR TATA RUANG WILAYAH KOTAMADYA JAKARTA TIMUR YANG TERKAIT DENGAN KAWASAN JATINEGARA 1.Rencana Pengembangan KawasanHijau Binaan - Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olahraga yang ada - Menata jalur hijau di sepanjang jalan arteri - Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai, terutama pada lingkungan padat 2. Rencana Pengembangan Kawasan Pemukiman - Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan - Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berat melalui pembangunan rumah susun murah - Melengkapi fasilitas umum di kawasan-kawasan permukiman - Mendorong pengembangan kawasan permukiman KDB rendah beserta fasilitasnya terutama pada kawasan pembangunan baru secara vertikal 3. Rencana Pengembangan Kawasan Sistem Pusat Kegiatan Kotamadya - Sistem Pusat Kegiatan Penunjang berdasarkan kegiatan sebagai pembentuk struktur ruang, ditetapkan terutama pada lokasi Pasar Jatinegara 4. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah - Di Kotamadya Jakarta Timur, jaringan jalan arteri dan kolektor, jaringan rel KA, lokasi stasiun KA, lokasi terminal bus dan terminal angkutan barang 5. Rencana Intensitas Ruang - KLB 1,0 Kawasan Campuran di Kecamatan Jatinegara - KLB 2,0 Kawasan Permukiman dan Kawasan Campuran di Kecamatan Jatinegara - KLB 3,0 Kawasan Campuran di Kecamatan Jatinegara - KLB 4,0 Kawasan Bangunan Umum dan Kawasan Campuran di Kecamatan Jatinegara (Sumber: RTRW DKI Jakarta 2010)

PERMASALAHAN UMUM KAWASAN JATINEGARA Seiring pesatnya perkembangan kota Jakarta, kawasan Jatinegara menjadi kawasan perdagangan dan jasa yang potensial dalam rangka menunjang pertumbuhan kegiatan ekonomi. Akan tetapi, perkembangan yang pesat itu tidak didukung oleh perkembangan infrastruktur yang memadai, baik infrastruktur yang bersifat kepranataan/ kelembagaan, infrastruktur yang bersifat sistem, maupun infrastruktur yang bersifat fisik, yang pada akhirnya mengakibatkan ruang-ruang kota yang ada menjadi tidak nyaman. Rencana Tata Ruang Kota yang ada saat ini pada kenyataannya belum menjadi kontrol pembangunan yang baik, karena seringkali kalah dengan berbagai kepentingan ekonomi jangka pendek yang antara lain disebabkan § Maraknya praktek KKN di berbagai instansi terkait § Adanya ketidakcocokan antara kebijakan dan pelaksanaan di lapangan § Adanya ketidakcocokan serta egosektoral antara dinas-dinas yang terkait.

Lalu lintas di Jl. Matraman

§ Transportasi Kemacetan lalu lintas yang disebabkan volume lalu lintas kendaraan yang padat baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum (dilewati 21 trayek angkutan umum), ditambah dengan Stasiun Kereta Api dan pasar tradisional yang membangkitkan aktivitas yang tinggi, angkutan umum yang tidak teratur, perparkiran di bahu jalan, serta pedagang kaki lima yang menempati badan jalan. § Pedagang Kaki Lima PKL tumbuh secara tidak teratur menempati trotoar, bahu jalan, dan bahkan badan jalan. Kerapatannya sangat tinggi sehingga menutupi jalur sirkulasi, bahkan sampai di jembatan penyebrangan, selain itu menutupi fasade pertokoan di belakangnya.

Deretan PKL

§ Penurunan Kualitas Budaya (Heritage) Sebagian besar kondisi bangunan banyak yang kusam, kotor, dan tidak terawat karena tidak dipakai sehingga secara visual maupun fisik sudah mengalami penurunan kualitas Gedung Eks Kodim

§ Kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kondisi kawasan yang sangat padat secara horizontal mengakibatkan kurangnya ruang terbuka hijau untuk paru-paru kota dan ruang publik yang nyaman. § Ruang-ruang kota yang tidak manusiawi (inhuman) Tidak adanya pedestrian yang nyaman, kepadatan, kesemrawutan, Suasana semrawut di sekitar serta lingkungan mengalami penurunan kualitas secara keseluruhan. Pasar Regional Jatinegara

03


ANALISIS TRANSPORTASI

1

2

3

4

5

6

1 3 6

5

2

4

KONDISI EKSISTING SISTEM SIRKULASI

PETA ARAHAN PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI WILAYAH JAKARTA TIMUR (Sumber: RTRW DKI Jakarta 2010)

PERMASALAHAN

POTENSI

PROSPEK

- Kemacetan yang disebabkan pertumbuhan jumlah kendaraan tidak berimbang dengan pertumbuhan sarana dan prasarananya. - Maraknya Pedagang Kaki Lima yang mengambil badan jalan sehingga mengurangi kapasitas jalan_jalan kendaraan bermotor yang seharusnya dapat dilalui 3 (tiga) jalur kendaraan, hanya dapat digunakan 1 (satu) jalur. 2 (dua) jalur lainnya telah dipenuhi oleh PKL. - Kepadatan juga disebabkan parkir kendaraan yang masih menggunakan badan jalan. - Kondisi saat ini menunjukkan bahwa meskipun ruas jalan yang disediakan untuk kendaraan sudah cukup lebar (9 jalur kendaraan), tetap saja tidak memecahkan permasalahan kemacetan ini.

- Kawasan ini berada pada lintasan pendukung jalur Utara-Selatan dan juga merupakan jalur padat kendaraan dari arah Bekasi menuju ke Jakarta. - Sebagai sentra sekunder Jakarta Timur, kawasan Jatinegara menampung aktivitas yang sangat tinggi (perdagangan, jasa, perkantoran), yang didukung oleh Pasar Regional, Pasar Rawa Bening, serta pertokoan dan perkantoran di sepanjang jalur utama. - Adanya Stasiun KA Jatinegara yang merupakan pintu gerbang komuter untuk wilayah Jakarta Timur - Stasiun KA Jatinegara juga menjadi salah satu pintu masuk Jakarta bagi para penumpang dari beberapa kota di Pulau Jawa.

- Kawasan Jatinegara menjadi pusat primer dengan skala pelayanan kota dan nasional - Stasiun KA Jatinegara menjadi salah satu pusat transit utama di kota Jakarta yang mampu menampung aktivitas transit masyarakat kota dalam intensitas tinggi dan padat - Kawasan Jatinegara menjadi salah satu gerbang masuk Jakarta yang tertata baik dengan Stasiun KA Jatinegara sebagai pusatnya.

04


ANALISIS PEDAGANG KAKI LIMA

1

2

3

4

5

6

Jenis PKL di Jatinegara 1

! PKL Pakaian-Peralatan

Rumah Tangga-Makanan ! PKL Elektronik ! PKL Ikan HIas ! PKL Unggas ! PKL Buku Bekas dan Peralatan Tulis ! PKL Barang-barang Plastik ! PKL Batu Aji dan Permata ! PKL Besi Tua dan Besi Tempa

2

3 4 5

6

KONDISI EKSISTING PENYEBARAN PKL

PERMASALAHAN

POTENSI

PROSPEK

- Pedagang Kaki Lima muncul dikarenakan adanya kebutuhan terhadap ruang untuk usaha yang meningkat tajam namun tidak berimbang dengan sarana dan prasarana yang tersedia. - Timbulnya PKL ini menyebabkan matinya beberapa pertokoan dan pusat perbelanjaan di kawasan ini. - Pengaturan PKL yang tidak tertata menimbulkan kemacetan lalu lintas, serta ketidaknyamanan bagi pejalan kaki.

- Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan salah satu fungsi penggerak ekonomi bagi masyarakat golongan ekonomi lemah. - Keberadaan PKL tidak dapat dipungkiri lagi, karena meskipun sebagai sektor informal dan berada di luar mekanisme pasar, PKL akan terus muncul dikarenakan adanya kebutuhan dari sebagian besar golongan masyarakat yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan primer melalui sektor formal. - Dengan penataan baik dan ketersediaan infrastruktur yang memadai, PKL dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi keseluruhan kawasan.

- PKL menjadi salah satu magnet perekonomian kawasan serta menunjang kegiatan wisata belanja berkarakter unik di kawasan pusat transit Jatinegara.

05


ANALISIS KUALITAS BUDAYA (HERITAGE)

KUALITAS LINGKUNGAN

Gereja Koinonia

Kondisi Eksisting: 65% Area Terbangun 10% Ruang Terbuka

Daerah Pasar Lama

(Sumber: Urban Design Direction and Strategic Jatinegara_Desember 2003_ Dinas Tata Kota DKI Jakarta)

Stasiun KA Jatinegara

Salah satu bangunan berlanggam Salah satu bangunan berlanggam arsitektur Cina di Pasar Lama arsitektur Kolonial di Kompleks TNI

PERMASALAHAN

KONDISI EKSISTING TATA MASSA PERMASALAHAN

Gedung Eks Kodim

POTENSI

PROSPEK

- Area perumahan, kawasan padat - Pe n a t a a n k e m b a l i d e n g a n - Peningkatan kualitas lingkungan secara horizontal (bangunan melakukan peningkatan intensitas dan kenyamanan ruang-ruang kota dengan KDB tinggi dan KLB b a n g u n a n d a n p e n d o ro n g a n dengan optimalisasi penggunaan rendah) sehingga penggunaan pembangunan ke arah vertikal lahan sehingga menghasilkan untuk mendapatkan ruang terbuka ruang terbuka publik dan ruang lahan menjadi tidak optimal yang lebih banyak. terbuka hijau yang lebih banyak. - Kurangnya ruang terbuka hijau Ruang terbuka hijau di perumahan - Ruang terbuka hijau yang sebenarnya berpotensi sebagai j l . U r i p S u m o h a r j o d a p a t ruang publik pada kenyataannya d i m a n f a a t k a n d e n g a n hanya dimiliki oleh kalangan mengintegrasikan kawasan hijau di terbatas dengan akses minimal sekitar kompleks. (dipagari)

- Sebagian besar kondisi bangunan tua banyak yang kusam, kotor, dan tidak terawat, sehingga secara visual maupun fisik sudah mengalami penurunan kualitas. - Gedung ex-Kodim 0505 (Rumah dan Kantor Bupati Meester Cornelis yang dibangun pada tahun 1905) pada masanya adalah "bangunan nomor satu" di kawasan selatan Batavia, namun kini dibiarkan

POTENSI - Jatinegara merupakan bagian kota Jakarta tertua kedua setelah Jakarta Kota dan secara historis memiliki kedudukan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. - Di beberapa bagian kawasan ini masih terdapat bangunan-bangunan tua dengan langgam arsitektur yang unik dan mewakili zaman berdirinya. Misalnya bangunan-bangunan bergaya arsitektur Kolonial Belanda dan arsitektur Cina, baik yang masih berada dalam kondisi baik maupun harus mengalami perbaikan-perbaikan baik fisik maupun fungsional (Gereja Koinonia, Vihara Amurva Bhumi, Stasiun Jatinegara, Gedung Ex Kodim, Daerah Pasar Lama yang berlanggam Cina, serta kompleks perumahan TNI di Jl. Urip Sumohardjo yang berlanggam Kolonial Belanda)

PROSPEK - Kawasan Jatinegara menjadi salah satu kawasan yang menjadi daerah tujuan wisata budaya di kota Jakarta, dengan mengintegrasikan serta mengakomodasi berbagai kegiatan kultural unik yang saat ini menjadi potensi kawasan. - Kawasan Jatinegara menjadi "museum" arsitektur dengan mempertahankan dan memelihara kondisi bangunan-bangunan bersejarah dan memiliki langgam arsitektur kolonial Belanda dan Cina.

06

Sayembara Jatinegara  

Sayembara Jatinegara Jakarta Tahun 2005

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you