Page 1

HMTM “PATRA” ITB 2017/2018

#PELOPORSATUPERGERAKAN


PATRA ENERGY REVIEW KAJIAN ENERGI - PROPAGANDA

BP PELOPOR HMTM “PATRA” ITB 2017/2018


KATA PENGANTAR PATRA Energy Review HMTM PATRA ITB 2017/2018 disusun sebagai salah satu bentuk media penyampaian hasil kajian, analisis, dan opini Divisi Kajian Energi HMTM PATRA ITB 2017/2018. Buku ini berisi tulisan-tulisan dari mahasiswa Teknik Perminyakan yang berisi berbagai isu energi migas, panas bumi, serta EBT (Energi Baru Terbarukan) yang sebagian besar diinspirasi oleh dinamika isu yang berkembang di masyarakat setahun kebelakang. Sebagai salah satu bentuk konkret penerapan budaya menulis yang sedang diwujudkan oleh himpunan merupakan salah satu dorongan untuk terciptanya buku ini. Menulis merupakan proses akhir yang didahului oleh masukan informasi melalui indera, pengolahan informasi melalui pikiran, dapat melalui pengolahan dengan berdiskusi, lalu pada akhirnya menuangkannya dalam bentuk tulisan yang merupakan salah satu media penyampaian pendapat, ide, ataupun pikiran dari manusia. PATRA Energy Review HMTM PATRA ITB 2017/2018 ada untuk menjadi salah satu referensi dan informasi bagi isu-isu yang pernah ada baik di regulasi, kebijakan, ataupun realitas di lapangan di Indonesia. Sehingga pada akhirnya buku ini dapat bermanfaat secara nyata demi meningkatkan kesadaran mahasiswa khususnya terkait dengan isu-isu yang terjadi di masyarakat. Semoga buku sederhana ini dapat menambah informasi bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya buku yang telah disusun dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik serta saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan buku ini di waktu yang akan datang.


DAFTAR ISI

Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid 1

Katalisator Kemandirian Energi Bangsa 4

Stragegi Pencapaian Sustainable Energi Berkeadilan

10

Catatan Kebijakan Revolusioner BBM Satu Harga Jokowi

16

Emas Hitam yang Mempengaruhi Dunia 20

Dana Stabilitas BBM Lebih Baik dari Petroleum Fund

31


Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) : Angin dan Surya Penulis : Budi Prayoga Energi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Setiap saat kita membutuhkan energi seperti untuk menyalakan lampu, tv, mesin cuci, kipas angin dan perabot rumah yang lain. Energi Berkeadilan adalah memberikan akses energi secara merata kepada seluruh rakyat Indonesia melalui pembangunan infrastruktur sektor ESDM serta pengoptimalan potensi sumber energi setempat dengan harga yang terjangkau dan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33, yaitu energi harus digunakan untuk sebesar-besar kemaslahatan rakyat, bangsa, dan negara. Pada tulisan ini, akan dibahas mengenai pemanfaatan tenaga angin dan surya untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Pantai Baru, Kabupaten Bantul, Darah Istimewa Yogyakarta. Selama ini daerah pesisir pantai dikenal sebagai daerah terpencil yang jarang ditinggali penduduk. Fasilitas dan akses di sekitar wilayah ini pun masih terbatas. Salah satu permasalahan yang muncul adalah minimnya pasokan energi ke daerah tersebut. Fenomena ini kemudian dilihat sebagai suatu masalah yang harus di selesaikan oleh Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Solusi yang ditawarkan oleh Pemerintah yaitu dengan memanfatkan energi angin dan surya. Hal ini mengacu pada karakteristik daerah pantai yang memiliki intensitas angin yang memadai dan intensitas sinar matahari yang tinggi. Pada akhirnya muncul sebuah gagasan untuk membuat pembangkit listrik tenaga hybrid (angin dan surya). Energi listrik yang dihasilkan dari PLTH ini akan disalurkan ke pondok-pondok penjual ikan, perumahan warga, dan penerangan jalan disekitar kawasan tersebut. Pada prinsipnya PLTH Pantai Baru sama dengan pembangkit listrik tenaga angin dan pembangkit listrik tenaga surya. Hanya saja listrik yang dihasilkan dari masing-masing pembangkit digabungkan menjadi satu dengan menyimpannya pada suatu baterai. Berikut adalah skema dari PLTH Pantai Baru:

Listrik yang dihasilkan oleh turbin dan sel surya masing-masing akan diteruskan ke baterai melalui control panel masing-masing pembangkit. Seperti yang kita ketahui bahwa listrik yang disimpan pada baterai merupakan tipe DC, sedangkan listrik yang digunakan untuk keperluan sehari-hari merupakan listrik bertipe AC, sehingga diperlukan converter terlebih dahulu sebelum disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Secara teknis, pembangkit energi listrik yang dikembangkan di kawasan pesisir ini terbagi menjadi tiga group besar yaitu Group Timur, Group Barat, dan Group KKP. Group Timur terdiri dari turbin angin dengan sistem 48 volt, 120 volt, dan 240 volt dimana keseluruhan terdiri dari 13 unit turbin angin serta 40 unit panel surya. Group Barat terdiri dari 21 turbin angin dengan sistem 240 volt serta 150 unit penel surya dengan sistem 120 volt. Sedangkan group KKP terdiri dari 48 unit panel surya dengan sistem 48 volt. Total daya pembangkit energi listrik dari ketiganya adalah 90 KW. Berikut adalah data pembangkit yang terdapat di kawasan tersebut :

1

Jenis Pembangkit Jumlah (Unit) Daya (KW) 4 Turbin Angin 1 KW/48V (Tri Angle) 4 Sistem 48V 2 2 Turbin Angin 1 KW/48V (Lattice) Turbin Angin 2,5 KW/240V (Lattice) 2 5 Turbin Angin 10 KW/240V (Lattice) 1 10 Group Tmur 1 10 Sistem 240V Turbin Angin 10 KW/240V (Tri Angle) Turbin Angin 5 KW/240V (Lattice) 1 5 Panel Surya 4 KW/240V 40 @100W 4 Sistem 120V Turbin Angin 2 KW/120V (Lattice) 2 4 Sistem 240V Turbin Angin 1 KW/240V (Lattice) 21 21 Group Barat Sistem 120V Panel Surya 15 KW/120V 150 @100W/12V 15 Group KKP Sistem 48V Panel Surya 10 KW/48V 48 @220W/24V 10 90 Total Daya Listrik


Apabila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga lain, daya yang dihasilkan oleh PLTH Pantai Baru ini masih terbilang kecil. Sebagai pembanding, PLTU Krakatau yang menghasilkan daya total sebesar 400 MW, kemudian PLTA Bakaru (Kabupaten Pinrang) dengan total kapasitas 126 MW, dan PLTP Wayang Windu sebesar 227 MW. Kecilnya daya yang dihasilkan dari PLTH ini tidak lepas dari tujuan awalnya yang hanya dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat di sekitar kawasan Pantai Baru. Selain itu luas lahan yang digunakan untuk pembangkit ini yaitu 8 hektar atau sekitar 12 kali ukuran lapangan bola.

Masalah yang dihadapi dari pembangkit listrik jenis ini yaitu efisiensi dari komponen pembangkit itu sendiri. Teknologi panel surya saat ini kebanyakan hanya dapat menyerap 20% cahaya matahari. Namun, seiring perkembangan teknologi, ditemukan juga teknologi baru seperti panel surya yang berupa lembaran fleksibel dan mampu menyerap cahaya sampai dengan 90% dan di tahun 2016 sudah tersedia di pasaran dunia. Panel surya jenis ini ada yang berjenis semi fleksibel ada juga yang 100% fleksibel. Kelebihan lain dari panel surya ini yaitu mudah dibawa, ringan dan sangat tahan terhadap kondisi cuaca yang ekstrim seperti badai. Pada dasarnya panel surya jenis ini dapat di tempel di atap rumah, mobil, kapal dan tidak memerlukan penopang. Teknologi panel surya ini menggunakan teknik deposisi uap kimia. Teknologi ini dikembangkan oleh sekelompok peneliti dari Massachusetts Institute of Technology dengan dukungan dari National Science Foundation dan Eni-MIT surya Frontiers Program. Fokus lain dalam pengembangan sel surya yaitu menemukan cara penyimpanan energi yang dihasilkan oleh sel surya tersebut. Media penyimpanan energi ini biasanya menggunakan baterai. Beberapa masalah yang muncul kemudian yaitu umur penyimpanan energi dalam baterai tersebut. Energi yang tersimpan harus segera digunakan agar tidak hilang. Berdasarkan hal tersebut, terbesit inovasi baru yaitu penyimpanan listrik di panel surya menggunakan teknologi penyimpanan pada garam cair. Pada dasarnya, teknik ini menggunakan garam anorganik untuk mentransfer energi yang dihasilkan oleh panel surya menjadi uap panas dengan menggunakan cairan yang dapat memindahkan panas yang jauh lebih efektif dibandingkan memakai cairan minyak yang ada pada teknologi sebelumnya. Hasil dari teknologi ini yaitu membuat pembangkit tenaga surya dapat beroperasi pada suhu lebih dari 500 oC sehingga menghasilkan daya listrik yang lebih tinggi dan biaya penyimpanan listrik yang rendah. Ada juga teknologi lain dalam penyimpanan energi listrik pada sel surya yaitu baterai built-in pada sel surya. Teknologi ini merupakan hasil dari proyek penelitian yang didanai oleh Departemen Energi Amerika Serikat. Peneliti ini berhasil membuat sebuah baterai yang 20% lebih efisien dan 25% lebih murah daripada jenis baterai apapun di pasaran.

2


Selain itu penemuan teknologi baru yang lebih efisien tidak hanya datang dari pembangkit listrik tenaga surya. Terdapat beberapa penemuan baru mengenai pembangkit listrik tenaga angin antara lain ditemukannya turbin angin “jellyfish� berbasis sayap burung hantu. Penemuan ini merupakan hasil karya yang telah dituangkan dalam suatu paper yang dibuat oleh beberpa mahasiswa Teknik Konversi energi dan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Semarang. Suatu kebanggaan tersendiri karena yang berhasil membuat adalah anak negeri ini. Pada dasarnya teknologi ini mengembangkan teknologi sebelumnya yaitu turbin angin jellyfish. Setelah dibandingkan ternyata hasil percobaan menyimpulkan bahwa kinerja turbin angin jellyfish sayap burung hantu mempunyai kinerja yang lebih baik. Daya mekanik dan coefficient of power dari turbin angin jellyfish sayap burung hantu adalah 18,199 Watt dan 0,025. Terdapat peningkatan dari jenis turbin angin jellyfish yang besarnya 7,304 Watt dan 0,01. Teknologi-teknologi baru yang ada harusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi listrik PLTH ini. Namun, hal ini tidak lepas dari dukungan pemerintah karena jika tidak ada dana yang diberikan sama saja menunggu PLTH ini akan tutup. Kelebihan PLTH dibanding dengan pembangkit listrik tenaga lain terletak pada sumber energinya sendiri. Angin dan surya termasuk sumber energi yang dapat diperbaharui, selain itu dengan mengkombinasikan kedua sumber energi tersebut, pembangkit tetap dapat menghasilkan listrik apabila salah satu komponen (sel surya/turbin) mengalami kerusakan. PLTH dapat dikembangkan disepanjang panatai di Indoensaia khususnya yang mempunyai potensi angin yang tinggi. Berdasarakan data Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebutkan, total panjang garis pantai Indonesia adalah 99.093 km. Apabila kita asumsikan lebar pantai yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit 0,5 km, kita peroleh luas pantai Indonesia sebesar 49546,5 km2 atau setara dengan 4954650 hektar. Dengan mengacu pada PLTH Pantai Baru dengan luas 8 hektar dapat menghasilkan 90 KW, maka total potensi dari PLTH akan mencapai 55,74 GW. Kadang kala untuk mewujudkan energi yang berkeadilan tidak harus berpikir jauh-jauh dan rumit. Cukup berpikir sederhana dan mencari potensi apa yang terdapat di daerah tersbut. Dampak yang dirasakan masyarakat di sekitar wilayah tersebut akan sangat terasa karena begitu dekatnya sumber energi dan pembangkit dengan lingkungan masyarakat.

3


ENERGI NON-KONVENSIONAL : KATALISATOR KEMANDIRIAN ENERGI BANGSA PENULIS : DANNY HIDAYAT Energi merupakan eksistensi yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia, terutama pada zaman modern ini. Sejak tahun 1800-an, minyak, gas, dan batubara telah menjadi energi yang paling digemari hampir di seluruh dunia. Hal itu merupakan imbas dari penemuan mesin uap dan internal combustion engine pada masa revolusi industri. Memasuki dekade 1900-an hingga 2000, ledakan penduduk serta kemajuan teknologi dan perkembangan industri membuat minyak dan gas semakin digemari dan menjadi sebuah pra-syarat bagi pembangunan. Hal tersebut membuat minyak dan gas mempunyai fungsi yang sangat strategis bagi sebuah Negara yang memiliki produksi berlimpah. Pada awal dekade 1970-an, Indonesia pernah mencapai produksi minyak berlimpah sejak puncak produksi Lapangan MINAS. Saat itu, produksi mencapai 853.000 BOPD (Barrel Oil Per Day) dan meningkat menjadi 1,6 juta BOPD pada sekitar tahun 1977, sedangkan konsumsi hanya sekitar 122.000 BOPD dan meningkat menjadi 400.000 BOPD pada 1977. Artinya kita mendapatkan surplus lebih dari 75% total produksi. Namun, memasuki tahun 1998, ledakan penduduk, kemajuan teknologi serta terjadinya krisis ekonomi membuat kondisi berubah 180 derajat, ditambah dengan minimnya eksplorasi saat itu. Pada saat ini, produksi minyak kita sekitar 860.00 BOPD, namun konsumsi sudah melampaui 1,4 juta BOPD (ESDM,2012). Hal ini membuat Pemerintah Indonesia memutar otak dan menentukan kebijakan – kebijakan baru terkait energi. Kebijakan energi tersebut tertuang pada Peraturan Presiden (PERPRES) no.5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pada pasal 2, disebutkan bahwa salah satu tujuan dari Kebijakan ini adalah terciptanya bauran energi yang optimal pada 2025. Kebijakan ini dilanjutkan dengan keluarnya Indonesia Primary Energy Mix 2010-2030 (Gambar 1) yang dikeluarkan oleh pusat data dan informasi Kementrian ESDM dalam Indonesia Energy Outlook (IEO). Dalam 20 tahun mendatang, kebutuhan pasokan energi primer meningkat lebih dari tiga kali lipat. Menurut Skenario Mitigasi dalam IEO 2010, di tahun 2030 kebutuhan pasokan energi primer akan menjadi 3,45 Miliar BOE (Barrel Oil Equivalent) atau rata-rata 9,45 Juta BOEPD (Barrel Oil Equivalent Per Day). Minyak, gas konvensional serta batubara tetap menjadi pasokan energi terbesar pada 2030, namun komposisinya berubah. Pasokan energi dari minyak dan batubara turun menjadi 26% dan 30%, sedangkan gas konvensional naik menjadi 27%. Hal ini disebabkan karena gas merupakan energi yang lebih bersih dan ketersediannya lebih banyak daripada minyak.

Hal diatas mengindikasikan bahwa Indonesia membutuhkan banyak pasokan energi agar dapat mencapai ekuilibrium dalam supply-demand energi. Namun, perlu diingat bahwa produksi minyak bumi Indonesia masih banyak bergantung pada cekungan – cekungan tua yang telah memasuki masa penurunan produksi secara alamiah. Sedangkan, di sisi lain kita memiliki nilai Reserve Replacement Ratio (RRR) yang rendah, yaitu 44,42% (SKK MIGAS,2014), dan diperparah dengan kondisi kilang yang terbatas bahkan untuk mengolah produksi dalam negeri. Maka, kita tidak dapat lagi hanya bergantung pada pasokan energi dari minyak dan gas konvensional saja. Salah satu pasokan energi tersebut, yang juga tertuang dalam Bauran Energi Primer Nasional diatas, adalah memanfaatkan pasokan energi non-konvensional. Pertanyaannya, apakah energi ini memiliki ketersediaan yang serupa dengan minyak dan gas? Apakah mungkin untuk dikembangkan? Jika ya, apa saja dampak yang akan ditimbulkannya? Dari sekian banyak potensi energi non-konvensional tersebut, tulisan ini akan mengupas 2 sumber energi non-konvensional yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, yaitu Coal Bed Methane (CBM) dan Geothermal atau panas bumi, serta kendala dan solusi dari permasalahan teknis maupun nonteknis dari kedua energi tersebut yang terjadi di Indonesia. 4


Coal Bed Methane

Coal Bed Methane (CBM) adalah gas bumi, utamanya metana, yang terkandung dalam lapisan batubara di bawah permukaan akibat proses coalification selain air dan batubara itu sendiri. Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak, karena permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun batubara berupa benda padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi didalamnya banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala mikron, sehingga batubara ibarat sebuah spons. Kondisi inilah yang menyebabkan permukaan batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu menyerap gas dalam jumlah yang besar. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar. Beberapa orang (atau perusahaan) menggunakan istilah lain, yaitu Coal Seam Gas (CSG). Berdasar penelitian Advance Resource International Inc. (ARI) bersama dengan DitJen Migas, Indonesia memiliki potensi cadangan (resource) CBM sebesar 453.3 TCF yang terbagi ke dalam 11 (sebelas) cekungan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan cadangan CBM terbesar ke-6 di dunia.

Pada tahun 2015, seharusnya Indonesia mampu untuk memproduksi CBM sebesar 500 MMSCFD dan naik menjadi 1000 MMSCFD dalam 5 tahun berikutnya (ESDM,2015). Namun, pada tahun 2015, Indonesia hanya mampu memproduksi sebesar 0,5 MMSCFD atau setara dengan 0.1% saja dari target yang telah ditentukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya pengembangan CBM Indonesia, antara lain : a. Kurang tersedianya peralatan operasi Berdasar data dari ESDM, pada tahun 2013 hingga 2015 seharusnya dibor 412 sumur CBM baru. Namun, hal ini terkendala dengan ketersediaan rig pemboran untuk CBM. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM telah menargetkan untuk menyediakan 20 rig CBM setiap tahun. Namun, pada tahun 2012 saja, telah terdapat 54 PSC CBM. Jumlah 20 rig per tahun tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan investor. Hal seperti ini tentulah tidak bisa diselesaikan oleh satu buah lembaga saja, namun memerlukan kolaborasi yang baik antara lembaga – lembaga terkait, misalnya Lemigas, yang juga telah mengembangkan rig CBM dengan harga yang relatif lebih murah. Kontribusi dari Kementrian Perindustrian juga diperlukan dalam menangani masalah ini. b. Tumpang tindih lahan Kendala lainnya dalam pengembangan CBM di Indonesia adalah tumpang tindih lahan dengan pemegang kegiatan pengelola batubara. Pada dasarnya, CBM dan batubara tidak bisa dieksploitasi secara bersamaan. Penambangan batubara secara open pit akan merusak pori dari batubara sehingga mengakibatkan gas yang terkandung didalamnya akan terlepas ke udara. Surface facilities yang digunakan antara 2 kegiatan ini juga sangat berbeda. Dalam hal ini, Pemerintah merupakan kunci untuk menentukan keekonomisan dari suatu wilayah kerja CBM atau batubara. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melakukan pemetaan pada wilayah kerja, sehingga dapat dibagi daerah dengan prospek penambangan batubara dan prospek eksploitasi CBM. Dibutuhkan juga kerjasama masing – masing kontraktor agar kedua kegiatan bisa berlangsung dengan optimal.

5


c.

Biaya pengembangan yang tinggi dan lamanya Break Event Point Berbeda dengan batuan reservoir gas konvensional, batubara memiliki porositas rekah yang sangat kecil (dapat mencapai < 3%) dan permeabilitas kurang lebih 10mD. Selain itu, untuk dapat memproduksi gas yang teradsorbsi, maka perlu dilakukan proses dewatering untuk menghilangkan air yang terdapat pada lapisan batubara. Setelah tekanan air turun hingga mencapai suatu batas tertentu, molekul gas dapat berdifusi dari struktur molekul batubara. Pada proses dewatering, gas belum terproduksi, melainkan yang terproduksi adalah air. Karena CBM terdapat pada kedalaman yang relatif lebih rendah dibanding gas konvensional, maka dibutuhkan pompa seperti ESP untuk menyerap air. Hal ini mengakibatkan biaya produksi tinggi, padahal gas belum terproduksi. Meskipun telah mencapai tahap produksi, masih terdapat beberapa kendala lain, yaitu periode produksi yang tidak sepanjang gas konvensional, yaitu 10-20 tahun. Hal ini diperparah dengan flow gas yang lambat, akibat dari permeabilitas batubara yang buruk, yang berakibat pada lambatnya Break Event Point. Selain itu masih dibutuhkan Pioneering Cost untuk pengadaan infrastruktur di bagian hilir. Proses produksi CBM secara umum dapat dilihat pada grafik berikut:

Untuk mengatasi masalah ini, maka Pemerintah selayaknya memberi insentif fiskal pada kontraktor. Insentif dapat berupa keringanan pajak atau kredit investasi, terutama saat proses masih mencapai dewatering phase. d.

Ketidakpastian hukum dan harga jual Hasil tender pengelolaan lapangan panas bumi pada kenyataannya tidak menentukan harga dalam Power Purchase Agreement. Sehingga, utamanya pemenang tender merupakan Perusahaan yang dapat memberikan harga jual listrik terendah kepada PLN sebagai pembeli. Selain itu, harga listrik yang ditawarkan umumnya juga lebih tinggi dari listrik yang dibangkitkan oleh pembangkit listrik tenaga batubara, yaitu 9,6 sen Dollar AS per KWh (Kilowatt-hour) berbanding 8,2 sen Dollar AS per KWh. Pemerintah sebagai lembaga tinggi Negara harus bersifat tegas dalam hal ini. Memang, selama ini tender lebih banyak dimenangkan oleh PGE, namun kerjasama dengan kontraktor asing juga diperlukan untuk mengembangkan sektor panas bumi dengan optimal. Perlu adanya hukum yang jelas mengenai mekanisme pemenang tender seperti dalam bisnis migas. Agar harga jual listrik dari PLTP kompetitif, perlu diberikan insentif fiskal pada kontraktor seperti tax holiday.

e.

Keterbatasan sumber daya Tak dapat dipungkiri, sumber daya alam yang melimpah membutuhkan kesiapan dari sumber daya manusianya. Beberapa ahli panas bumi memperkirakan dibutuhkan 30-50 tenaga ahli untuk mengembangkan proyek panas bumi sebesar 1000 MWe. Keahlian tersebut meliputi pengetahuan terpadu serta pengalaman dari ekplorasi, eksploitasi, utilisasi, manajemen dan analisa keekonomian, serta analisa lingkungan panas bumi. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, pendidikan dan penelitian memegang peranan yang sangat penting. Pembentukan Central Research dan lembaga pendidikan lainnya sangat berpengaruh untuk pengembangan panas bumi kedepannya. Kerjasama antara Kementrian ESDM, BAPPENAS, Pemerintah, Industri panas bumi maupun LSM lainnya juga merupakan komponen yang sangat penting agar dapat memajukan geothermal Indonesia sesuai target bauran energi.

6


Geothermal Menurut Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang Panas Bumi, yang dimaksud dengan panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak pada rangkaian gunung api yang disebut sebagai Ring of Fire, sehingga memiliki potensi panas bumi yang melimpah. Statistik menunjukkan bahwa potensi panas bumi Indonesia mencapai 29.000 MWe (Badan Geologi Indonesia, 2013). Analisis oleh Kementrian ESDM juga menghasilkan potensi yang sama, lebih tepatnya 28.994 MWe (ESDM,2013). Jumlah tersebut membuat Indonesia sebagai Negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia, dengan memiliki cadangan kurang lebih 40% dari cadangan panas bumi dunia. Jumlah tersebut juga setara dengan lebih dari 200 Miliar BOE. Di sisi lain, geothermal juga menempati peringkat 4 sebagai energi utama dalam pembangkit listrik. Maka, geothermal seharusnya menjadi jawaban pemerintah atas Mega Proyek 35.000 MW dan permasalahan elektrifikasi pada Bangsa ini yang baru mencapai angka 86,4% (ESDM,2013). Namun, realita tidak seindah ekspektasi. Kenyataannya, hingga saat ini, menurut data dari PT PERTAMINA Geothermal Energy (PGE), potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 1,4835 GW dari 11 pembangkit listrik, atau hanya sekitar 5% dari total potensi yang ada. Dengan jumlah tersebut, Indonesia hanya menempati peringkat ke-3 dunia sebagai Negara dengan kapasitas geothermal terpasang (Installed Capacities). Indonesia berada dibawah Amerika Serikat (3,4 GW) dan Filipina (1,87 GW) (Renewables 2013 Global Status Report). Filipina, dengan potensi geothermal “hanya” 10,2 GW, atau kurang dari setengah dari cadangan geothermal Indonesia, justru mampu mengembangkan potensinya hingga melebihi Indonesia. Hal ini tentunya menjadi pertanyaan bagi kita semua, seluruh Bangsa Indonesia. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat alasan mengapa geothermal ini layak untuk dijadikan pemasok energi. Pertama, geothermal merupakan energi yang ramah lingkungan. Emisi gas CO2 pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sekitar 122 kg per Megawatt-jam, atau kira – kira seperdelapan dari total emisi pembangkit listrik tenaga batubara. Kedua, luas daerah untuk PLTP relatif lebih kecil, yaitu 0,4-3 hektar, sedangkan pembangkit listrik lainnya membutuhkan area hingga 7,7 hektar. Dan ketiga, energi ini dikategorikan sebagai energi yang dapat diperbaharui, karena ekstraksi panasnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan muatan panas bumi itu sendiri. Lalu, mengapa hal itu tidak membuat panas bumi Indonesia berkembang pesat? Ibarat 2 sisi mata uang tak terpisahkan, keuntungan selalu diikuti dengan kendala. Dalam tulisan ini, akan dipetakan kendala – kendala tersebut dan solusinya, antara lain : a. Ketidakpastian cadangan yang tinggi Bisnis geothermal merupakan bisnis dengan ketidakpastian yang tinggi. Ketidakpastian itu dapat berupa ketidakpastian prediksi cadangan bawah permukaan, yang akan berdampak pada ketidakpastian ekonomi. Lembaga keuangan tentu tidak akan mengganti Capital Expenditure (CAPEX) yang digunakan untuk eksplorasi sebelum ditemukannya cadangan yang menarik secara ekonomis. Pertimbangan lain yang juga menjadi perhatian lembaga keuangan adalah recoverable reserves dan kemampuan dari fluida produksi untuk membangkitkan listrik. Jika kontraktor telah mendapatkan semua itu, masih ada permasalahan lain, yaitu dampak lingkungan yang akan ditimbulkan. Kontraktor harus dapat meyakinkan lembaga keuangan agar penginjeksian fluida kembali kedalam sumur tidak menimbulkan permasalahan yang baru. Permasalahan ini pernah dibahas dalam laporan World Wildlife Fund (WWF), Igniting the Ring of Fire : A Vision for Developing Indonesia’s Geothermal Power pada 7 Mei 2012. Salah satu solusi yang diusulkan saat itu ialah kebijakan cost recovery atau asuransi eksplorasi yang diberikan pada Perusahaan yang melakukan eksplorasi geothermal.

7


b.

c.

d.

e.

Biaya pengoperasian yang tinggi Eksploitasi panas bumi melibatkan lapangan dengan temperatur bawah permukaan yang tinggi (mencapai 200oC), sehingga dibutuhkan peralatan khusus untuk pengoperasiannya. Umumnya, PLTP di Indonesia menggunakan teknologi Single Flash Steam, dan teknologi ini diprediksi tetap akan menjadi backbone selama 10 tahun ke depan (PGE,2015). Pada Flash Steam, suhu pengoperasian diatas 180oC, sehingga peralatan yang dibutuhkan juga harus sesuai dengan temperatur operasi. Karena itu, kebanyakan dari peralatan tersebut didapat dengan sewa atau impor. Untuk menghemat biaya alat, kemampuan rancang bangun dan rekayasa dalam negeri merupakan sektor yang harus dibenahi. Selain itu, dibutuhkan simulasi atau pemodelan kinerja reservoir secara menyeluruh untuk berbagai kemungkinan lapangan agar pengoperasian kegiatan eksploitasi terintegrasi dan terencana dengan baik. Proses perizinan yang rumit Meskipun area untuk PLTP tergolong kecil, namun kawasan dengan potensi panas bumi seringkali berada pada daerah pegunungan atau hutan konservasi, sehingga proses perizinan akan melibatkan banyak stakeholder. Proses perizinan ini semakin rumit dengan adanya penolakan dari beberapa kalangan masyarakat dan juga lambatnya pengeluaran IUP yang mencapai 2 tahun. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan perizinan satu pintu yang terintegrasi mulai dari proses eksplorasi hingga penyelesaian lapangan. Koordinasi antar stakeholder sangat dibutuhkan, utamanya adalah Kementrian ESDM dan Perhutanan. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat juga harus dilakukan, baik teknis maupun nonteknis, agar kelancaran dan keamanan proyek tidak dipermasalahkan oleh lingkungan sosial. Sustainable environment akan tercipta jika diimbangi dengan proper management. Ketidakpastian hukum dan harga jual Hasil tender pengelolaan lapangan panas bumi pada kenyataannya tidak menentukan harga dalam Power Purchase Agreement. Sehingga, utamanya pemenang tender merupakan Perusahaan yang dapat memberikan harga jual listrik terendah kepada PLN sebagai pembeli. Selain itu, harga listrik yang ditawarkan umumnya juga lebih tinggi dari listrik yang dibangkitkan oleh pembangkit listrik tenaga batubara, yaitu 9,6 sen Dollar AS per KWh (Kilowatt-hour) berbanding 8,2 sen Dollar AS per KWh. Pemerintah sebagai lembaga tinggi Negara harus bersifat tegas dalam hal ini. Memang, selama ini tender lebih banyak dimenangkan oleh PGE, namun kerjasama dengan kontraktor asing juga diperlukan untuk mengembangkan sektor panas bumi dengan optimal. Perlu adanya hukum yang jelas mengenai mekanisme pemenang tender seperti dalam bisnis migas. Agar harga jual listrik dari PLTP kompetitif, perlu diberikan insentif fiskal pada kontraktor seperti tax holiday. Keterbatasan sumber daya Tak dapat dipungkiri, sumber daya alam yang melimpah membutuhkan kesiapan dari sumber daya manusianya. Beberapa ahli panas bumi memperkirakan dibutuhkan 30-50 tenaga ahli untuk mengembangkan proyek panas bumi sebesar 1000 MWe. Keahlian tersebut meliputi pengetahuan terpadu serta pengalaman dari ekplorasi, eksploitasi, utilisasi, manajemen dan analisa keekonomian, serta analisa lingkungan panas bumi. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, pendidikan dan penelitian memegang peranan yang sangat penting. Pembentukan Central Research dan lembaga pendidikan lainnya sangat berpengaruh untuk pengembangan panas bumi kedepannya. Kerjasama antara Kementrian ESDM, BAPPENAS, Pemerintah, Industri panas bumi maupun LSM lainnya juga merupakan komponen yang sangat penting agar dapat memajukan geothermal Indonesia sesuai target bauran energi.

8


D

ari kedua ulasan mengenai kedua jenis energi non-konvensional diatas, terlihat bahwa masing â&#x20AC;&#x201C; masing energi tersebut mempunyai kelebihan serta kendala masing â&#x20AC;&#x201C; masing. Ini merupakan pekerjaan rumah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia untuk memecahkan kendala tersebut dengan perannya masing â&#x20AC;&#x201C; masing. Pemerintah serta seluruh Lembaga Tinggi Negara Indonesia sebagai pemegang kebijakan tertinggi harus dapat menjalankan fungsi yang dirumuskan Mahkamah Konstitusi atas Pasal 33 UUD 1945 yaitu merumuskan kebijakan (beleid), pengaturan (regelendaad), pengurusan (bestuurdaad), pengelolaan (beheerdaad), dan pengawasan (toezichthoudendaad) untuk mencapai tujuan Negara seperti disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945 (Widjojanto,2010). Pemerintah harus menyadari bahwa cadangan sumber energi konvensional Indonesia tidak tak terbatas, sehingga diversifikasi melalui energi non-konvensional adalah salah satu cara yang harus ditempuh untuk menciptakan kemandirian energi Bangsa dan modal pembangunan berkelanjutan. Kerja keras juga harus dilakukan oleh seluruh perusahaan yang terlibat dalam bisnis energi nonkonvensional ini. Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PERTAMINA dan PLN untuk mengelola keseluruhan proses pengembangan dari hulu hingga ke hilir. Lembaga Pemerintah seperti SKK MIGAS, stakeholder penunjang seperti Perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction), dan juga lembaga keuangan Nasional juga memegang peranan penting dalam proses niaga, pengadaan infrastruktur, dan transportasi di bagian hilir. Dengan sinergisasi komponen hulu dan hilir, maka model bisnis energi non-konvensional seperti CBM dan geothermal yang sehat, menguntungkan, dan berkelanjutan dapat dicapai. Last but not least, peran peneliti dan akademisi sangatlah penting dalam mewujudkan pengembangan teknologi berbasiskan inovasi. Teknologi eksplorasi dan eksploitasi energi nonkonvensional, khususnya CBM dan geothermal merupakan sektor yang harus dimaksimalkan. Lembaga pendidikan dan pengembangan serta lembaga riset harus bekerja keras melakukan inovasi dari sektor teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan transfer teknologi. Pemanfaatan geothermal di Negara Filipina serta elektrifikasi di Negara Vietnam yang mencapai lebih dari 90% adalah bukti nyata dari peran peneliti dan akademisi yang terintegrasi dengan baik. Perguruan Tinggi Indonesia harus membuka mata terhadap dunia industri agar tercapai link and match antara riset dan perkembangan kondisi industri saat ini. Hal ini penting agar riset yang dilakukan oleh Peneliti dan Akademisi Indonesia memiliki tujuan yang jelas, serta didukung oleh nilai guna dan nilai tukar komersial. Seleksi alam telah membuat energi Indonesia tidak lagi menjadi komoditas, namun menjadi aset strategis untuk memajukan Bangsa Indonesia. Karena itu, kemandirian energi menjadi hal yang wajib dimiliki oleh Indonesia untuk terus memutar roda perekonomian Negara. Pengembangan sektor energi non-konvensional merupakan suatu jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Semoga tulisan ini dapat menyadarkan berbagai kalangan untuk mengembangkan energi non-konvensional, menjadi katalisator menuju kemandirian energi Bangsa Indonesia.

9


Go Invest Go Explore: Strategi Pencapaian Suistainable Energi Berkeadilan PENULIS : FAJAR KHAMIM MUSTOFA Dalam perwujudan salah satu nawacita pemerintah dan dambaan masyarakat Indonesia, kini, tentunya suistanable “energi berkeadilan” bukan lagi sebuah retorika belaka. Melainkan, harus dalam wujud nyata yang dapat dicapai jika optimisasi investasi migas dan penemuan cadangan baru sebagai opsi pencapaian energi berkeadilan yang berkelanjutan dilakukan. Retorika Energi berkeadilan ”Suistanable Energi Berkeadilan” ialah memberikan akses energi secara merata kepada seluruh rakyat Indonesia melalui pembangunan infrastruktur sektor Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) serta pengoptimalan potensi sumber energi setempat dengan harga yang terjangkau. Namun, tak cuma untuk jangka pendek, melainkan berkelanjutan ke generasi mendatang. Indonesia, negara yang terkenal akan sumber daya alamnya, memiliki potensi minyak bumi yang besar. Berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy, pada tahun 1990-an, Indonesia memiliki cadangan minyak sebesar 5,9 miliar barel. Minimnya penemuan cadangan tersebut dan buruknya manajemen telah membuat Indonesia kalang kabut dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Menanggapi hal tersebut, terbukti bahwa Indonesia masih kurang piawai dalam pengelolaan migas untuk jangka panjang. Sejak tahun 2004 silang, Indonesia telah menjadi negara net importer minyak. Hal ini tak lain terjadi karena adanya ketimpangan yang besar antara produksi dan konsumsi minyak nasional.

Dilihat dari kacamata hulu migas, tak layak jika kita menyebut Indonesia sebagai negara yang “sanggup” dalam energi. Jika ditinjau dari cadangan operasional saat ini, data dari Pertamina menunjukkan, angka Operational Petroleum Reserve (OPR) hanya bisa bertahan untuk 18-20 hari saja, bahkan untuk cadangan strategis Strategic Petroleum Reserve (SPR) adalah 0 hari. Tak seperti negara tetangga, Singapura yang mempunyai nilai SPR sebesar 90 hari. Konsep energi berkeadilan tidak jauh berbeda jika dikaitkan dengan ketahanan energi. Ketahanan energi adalah suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Berdasarkan data yang dirilis oleh Dewan Energi Dunia, Indonesia berada pada peringkat ke-69 dari 129 negara pada tahun 2014 mengenai ketahanan energi. Ketahanan energi meliputi tiga aspek yaitu ketersediaan sumber energi, keterjangkauan pasokan energi, dan kelanjutan pengembangan energi baru terbarukan.

10


Dapat dilihat bahwa angka ketahanan energi Indonesia memang cenderung miris, suatu negara bisa dikatakan kuat dalam ketahanan energi ialah ketika empat komponen yaitu availability, accessibility, acceptability dan affordibility terpenuhi untuk jangka panjang. Sejenak kita bisa melihat keadaan hilir migas Indonesia dari kancah politik terutama era kepemimpinan saat ini, pemerintah mencoba memberikan secercah harapan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia melalui program BBM satu harga. Walau program ini terkesan sulit untuk direalisasikan pada awalnya, namun kini program ini sudah terealisasi ke seluruh pelosok negeri yang mana di Wamena Papua pada awalnya berharga premium Rp. 100.000,00 per liter, kini seperti daerah lain di Indonesia Rp. 6450,00 per liter. Sementara itu, jika dilihat dari kacamata hilir migas Indonesia, pelayanan terhadap masyarakat Indonesia cenderung lebih baik. Namun, perlu digarisbawahi bahwa tak bisa jika hanya menonjolkan hilir migas saja, perlu ada driving force juga dari sektor hulu migas dan juga connector hulu ke hilir seperti transportasi dan infrastruktur pendukung yang memang belum memadai seperti pipeline transportation dan kilang, sehingga konsep â&#x20AC;&#x153;energi berkeadilanâ&#x20AC;? ini tak hanya dinikmati sekejap saja oleh masyarakat Indonesia, melainkan bisa suistain untuk jangka panjang.

Krisis Investasi Migas Nasional Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak bumi Indonesia semakin menurun, sementara di lain sisi kebutuhan energi nasional terus meningkat. Setiap tahunnya terjadi peningkatan konsumsi energi nasional sekitar 8 %. Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) 2016, produksi minyak nasional pada tahun 2016 sebesar 832 ribu barel per hari (BOEPD), sementara itu, kebutuhan minyak nasional adalah 1,6 juta barel per hari. Target-target produksi minyak yang ditetapkan oleh pemerintah setiap awal tahun, ternyata tidak tercapai untuk beberapa tahun berturut-turut karena sebagian besar produksi minyak berasal dari sumur-sumur yang telah menua dan hype investasi migas yang telah menurun. Dalam era harga minyak yang turun ini, keadaan investasi migas baik di sektor hulu dan hilir Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja. Kementrian ESDM mencatat, target investasi tahun 2017 sebesar US $ 15,28 miliar. Namun, target tersebut berbeda dengan realita yang terjadi di negeri ini dikarenakan major constraint pada minat investor Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Total realisasi investasi migas di sektor hulu per 2 Oktober 2017 baru sekitar US $5,57 miliar. Tentunya angka ini belum mencapai target yang diinginkan pemerintah pada saat penyusunan investment plan awal tahun sebesar US $ 12,85 miliar. Begitu pun di sektor hilir migas, realisasi di sektor hilir baru mencapai US $ 835,52 juta. Sementara target investasi hilir tahun 2017 sebesar US $ 2,42 miliar. Hype investasi yang menurun ini tak lain disebabkan karena kesulitan keuangan yang dialami KKKS dan juga faktor harga minyak yang sedang mengalami tren penurunan. Kondisi demikian menuntut pemerintah untuk berpikir lebih kreatif lagi untuk bisa mengoptimalkan keuangan yang ada untuk kepentingan investasi dan eksplorasi. Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, menerangkan bahwa untuk faktor harga minyak sebenarnya telah dimasukkan dalam penyusunan work program and budget, namun dalam praktiknya masih saja banyak perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Kondisi keuangan yang buruk dan harga minyak yang turun juga telah berdampak pada pengurangan rencana eksplorasi dan pengeboran yang dilakukan oleh KKKS.

11


Menelisik Eksplorasi Migas Indonesia Dalam menopang pasokan energi nasional untuk jangka panjang dan tercapainya keadilan energi, eksplorasi atau penemuan cadangan baru migas memang harus segera dilakukan. Namun, tak sematamata bekerja tanpa perencanaan dan kalkulasi yang jelas namun harus memperhitungkan kondisi keuangan dan dugaan potensi, sehingga kedepannya perlu dilakukan langkah optimisasi eksplorasi. Idealnya satu barel minyak yang terproduksi harus digantikan dengan satu barel minyak temuan yang baru. Perbandingan cadangan baru dan cadangan yang diproduksikan disebut dengan Reserve Replacement Ratio (RRR). Berikut adalah grafik RRR minyak Indonesia dari tahun 2007-2013.

Semakin kecilnya RRR Indonesia menyebabkan pengurangan minat investor untuk menanamkan modalnya, ditambah lagi dengan keadaan keuangan KKKS yang kurang bersahabat. Hal tersebut tentu berdampak pada minimnya insentif bagi para investor. Namun, dipenghujung tahun 2017 lalu, pemerintah telah menerbitkan aturan perpajakan kontrak bagi hasil gross split yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 tahun 2017 tentang Perlakuan Perpajakan pada Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dengan kontrak bagi hasil gross split. Tertuang dalam peraturan tersebut terdapat empat insentif pajak untuk para kontraktor. Insentif tersebut adalah adanya pembebasan pungutan bea masuk atas impor barang yang digunakan dalam rangka operasi perminyakan, pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah, kontraktor tidak dipungut pajak penghasilan (PPh) pasal 22 atas impor barang yang telah memperoleh fasilitas pembebasan dari pungutan bea masuk dan terakhir, kontraktor akan mendapat pengurangan pajak bumi bangunan (PBB) sebesar 100% dari PBB migas terutang yang tercantum dalam surat pemberitahuan pajak terutang. Bertaburnya insentif pajak bagi kontraktor tentu merupakan salah satu strategi dari pemerintah dalam mendorong minat para investor migas di Indonesia. Hasilnya memang belum bisa dievaluasi terkait baru terbitnya peraturan tersebut, namun, disisi lain tentunya pemerintah harus mempertimbangkan cash flow yang terjadi ketika banyak memberikan insentif pajak dan perlu dilakukan upaya maintain jangka panjang untuk ketertarikan investor jika metode ini berhasil dalam realitanya. Menelisik upaya eksplorasi migas Indonesia, hingga kini, sebagian besar eksplorasi hanya dilakukan di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Tercatat sekitar 91 % eksplorasi dilakukan di wilayah barat dan tengah.

12


Maka dari itu, prospek cadangan Indonesia ke depan berada di wilayah Indonesia Timur. Terdapat tujuh cekungan yang belum tereksplorasi (frontier basin) yang terletak di Indonesia Timur, yaitu Flores & Tukang Besi Basin; Buru, West Buru & South Sula Basin; North Halmahera, East, South & North Obi Basin, Misool, Seram, South Seram, W. Weber, Weber & Tanimbar Basin; Waipongan Basin; Akimegah Basin, dan Sahun Basin. Namun, banyak constraints yang dihadapi jika akan melakukan eksplorasi di wilayah timur. Dikarenakan sebagian besar cekungan tersebut terletak pada laut dalam dan susah diakses sehingga perlu teknologi yang tinggi dan ujung-ujungnya tersendat pada masalah anggaran. Solusi dengan Go Invest, Go Explore ! Keberlanjutan energi berkeadilan sejatinya tak akan terwujud jika tidak didukung oleh kedua komponen penting dalam dunia migas yaitu investasi dan eksplorasi. Secara gamblang telah disajikan bahwa hype investasi migas telah mengalami penurunan dikarenakan berbagai macam alasan seperti minimnya insentif bagi kontraktor dan investor, kurangnya data pendukung (hystory data) dan survei seismik geofisika, dan manajemen keuangan KKKS yang buruk. Tentunya berbagai resistansi tersebut juga berimbas pada kurangnya semangat untuk mengeksplorasi potensi hidrokarbon baik konvensional maupun non konvensional. Optimisasi Eksplorasi dan Konsep Petroleum Fund Kita memang harus sadar bahwa Indonesia memang masih sangat membutuhkan pasokan minyak bumi sebagai sumber energi utama. Berdasarkan data proyeksi Dewan Energi Nasional (DEN), konsumsi energi nasional sekitar 42.1 % mengonsumsi dari minyak bumi. Dilihat dari data tersebut, jelas bahwa Indonesia sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang satu ini. Oleh karena itu, langkah pertama yang semestinya dilakukan adalah mecoba melakukan optimisasi eksplorasi migas konvensional. Masalah utama yang dihadapi yakni terkait dengan dana yang minim dari pemerintah dan memang memiliki tingkat kegagalan yang tinggi untuk masalah eksplorasi ini.

13


Petroleum Fund bisa menjadi salah satu opsi penyelesaian untuk masalah diatas. Secara konseptual, Petroleum Fund atau yang biasa disebut dengan Sovereign Wealth Fund atau Natural Resource Fund merupakan sebagian dana penerimaan negara dari sektor migas, yang didepositokan atau disisihkan untuk peruntukan tertentu. Paradigma munculnya petroleum fund disebabkan karena negara memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun cenderung menghadapi masalah “resource curse” atau “paradox of plenty”. Kondisi Indonesia yang memprihatinkan seperti dalam lemahnya kemampuan membelanjakan yang baik dalam eksplorasi hingga eksploitasi migas, tingkat KKN yang tinggi, dan masalah lingkungan telah menjadi analisis kondisi rencana penerapan Petroleum Fund di Indonesia. Dalam revisi UU Migas yang hingga kini belum menuai kabar lanjutan, konsep petroleum fund turut juga diusulkan. Tertuang dalam BAB IX mengenai dana minyak dan gas bumi pasal 54 ayat 1 dimana “Mentri, Mentri Keuangan, dan Badan Penggusahaan wajib mengusahakan dan mengelola dana minyak dan gas bumi secara bersama-sama dalam sebuah rekening bersama secara transparan dan akuntabel”. Diduga munculnya usulan petroleum fund ke revisi UU migas ditenggarai karena kekhawatiran pemerintah akan “depletion premium”, yaitu kondisi dimana sumberdaya migas tersedia dalam jumlah tertentu (stock) akan menurun karena tidak adanya peningkatan stok dideposit terkait, atau karena laju penggunaan lebih dari laju penggantian. Untuk kondisi Indonesia saat ini, sisa cadangan minyak terbukti Indonesia sebesar 3,7 miliar barel, tetapi laju penggantian indeks cadangan dalam kurun 5 tahun terakhir selalu dibawah 1, yang menunjukan bahwa akumulasi cadangan baru tidak bisa mengimbangi laju produki minyak nasional, sehingga lifting cenderung terus menurun. Kurangnya perangkat pendukung seperti data geofisika dan geologi yang bermutu diduga menjadi minimnya investasi untuk eksplorasi migas. Oleh karena itu, petroleum fund diharapkan bisa menjadi titik terang masalah dana migas. Dengan menyisihkan sebagian dana penerimaan negara dari sektor eksploitasi migas, maka secara kasarnya Indonesia akan mempunyai “tabungan atau simpanan”, dimana dana tersebut bisa kita manfaatkan untuk kelengkapan eksplorasi migas, yang pada akhirnya akan menambah pasokan migas nasional untuk jangka panjang. Pemanfaatan Potensi Gas Bumi Nasional Disamping terus melakukan pengoptimalan eksplorasi minyak melalui konsep petroleum fund, pemerintah juga harus memikirkan energi alternatif lain yang diharapkan secara perlahan bisa menggantikan posisi minyak bumi sebagai konsumsi energi primer pertama di Indonesia. Dengan melihat kecenderungan produksi gas nasional yang meningkat dan temuan yang bertambah, dirasa perlu pengoptimalan pemanfaatan gas bumi terutama untuk masa depan bangsa. Baru-baru ini, lapangan gas Jambaran Tiung-Biru telah diresmikan pada akhir September 2017 lalu. Lapangan ini akan menjadi salah satu pemasok gas terbesar dengan laju sekitar 330 MMSCFD. Diharapkan lapangan gas baru ini, bisa menjadi tambahan penopang produksi gas nasional. Hal ini merupakan suatu terobosan yang patut dilanjutkan, dan kedepannya yang perlu dilakukan adalah pengoptimalan dan stabilitas laju gas yang diproduksikan sehingga akan terus beroperasi hingga cadangannya benar-benar habis. Selain itu, juga masih terdapat lapangan-lapangan gas besar seperti Lapangan Masela Abadi dan wilayah Indonesia Timur yang memang harus dilakukan eksplorasi lebih lanjut terkait potensi gas bumi yang besar.

14


Di samping mengembangkan gas konvensional, Indonesia juga bisa melakukan penambahan pasokan gas nasional melalui Coal Bed Methane (CBM). Saat ini, pemanfaatan unconventional hydrocarbon seperti CBM di Indonesia tengah mengalami sebuah dilema. Di lain sisi, berdasarkan data Penelitian Ditjen Migas dan Advanced Resources International, Inc. pada tahun 2014 sumber daya CBM Indonesia diperkirakan sekitar 456,7 TSCF. Indonesia menempati kedudukan 10 besar dalam hal besarnya cadangan CBM di dunia. Sejak ditandatanganinya Kontrak Kerja Sama (KKS) CBM di Indonesia sejak tanggal 27 Mei 2008 hingga Maret 2015, total jumlah kontrak CBM yang telah ditandatangani sebanyak 54 kontrak.

Sesuatu yang diambil dari CBM adalah gas yang terperangkap dalam lapisan batubara. Banyak kontrak yang menuai kendala seperti lamanya Return of Invesment (ROI) karena laju alir dari gas yang kecil, lamanya proses penghilangan air dalam lapisan batubara (dewatering), dan tumpeng tindihnya Wilayah Kerja Batubara dengan CBM. Dalam mencapai titik optimal produksi CBM, pemerintah perlu melakukan upaya-upaya insentif seperti stimulasi dari pemerintah kepada KKKS yang mengelola untuk melakukan pengeboran sumur produksi yang lebih banyak untuk meningkatkan rate produksi, melakukan injeksi ke sumur CBM dengan pemanfaatan gas misalnya dari Natuna, dan membuat regulasi UU yang jelas terkait pemetaan wilayah tambang batubara dan CBM.

Secercah Harapan Anak Bangsa Energi berkeadilan sudah waktunya dirasakan oleh bangsa Indonesia, bukan hanya untuk dinikmati sekarang, melainkan anak cucu kita juga mempunyai hak yang sama untuk diperjuangkan. Penambahan pasokan energi untuk mencapai tingginya konsumsi energi nasional darurat dilakukan dan strategi yang bisa diterapkan adalah dengan membuat iklim investasi migas yang menarik dan stabil sehingga kegiatan eksplorasi migas baik konvensional maupun non konvensional bisa berjalan optimal. Opsi Petroleum Fund bisa menjadi dana tabungan migas untuk keperluan penunjang eksplorasi kedepan dan dengan terus menggencarkan â&#x20AC;&#x153;go invest go exploreâ&#x20AC;?, bukan suatu hal yang mustahil, Indonesia yang masih mempunyai potensi minyak dan gas bumi, akan menjadi negara yang tak lagi menjadi net importer minyak dan pasokan energi nasional tidak mengalami ketertimpangan lagi, hingga akhirnya pada sisi hilir, energi berkeadilan untuk generasi anak cucu Indonesia akan segera terwujud. Jayalah Negeriku, Jayalah Energi Indonesia!

15


Catatan Kebijakan Revolusioner BBM Satu Harga Jokowi PENULIS : KHALID UMAR Menurut KBBI kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Sedangkan revolusioner adalah suatu sifat yang cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Sehingga Kebijakan Revolusioner bisa saya artikan sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak yang cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Lantas apa hubungannya dengan Kebijakan BBM Satu Harga di Era Jokowi ini? Kebijakan BBM Satu Harga ini jelas merupakan kebijakan revolusioner terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang menyertainya. Bagaimana tidak? Penentuan harga BBM di luar Jawa, Madura, dan Bali sebelumnya menggunakan model ekonomi sebagai berikut [1], HPi = HIPi + ιi, dengan Harga Patokan (HP) yang dihitung berdasarkan rata-rata Harga Indeks Pasar (HIP) BBM yang bersangkutan pada periode satu bulan sebelumnya ditambah ongkos distribusi dan margin. Dimana HIP mengacu pada harga transaksi di bursa Singapura. Dari rumus penentuan harga patokan di atas dapat kita ketahui bahwa semakin besar ongkos distribusi, semakin besar pula nilai dari Harga Patokan. Jika kita bandingkan antara Jawa dan Papua, Pulau Jawa yang luasnya 128.297 km² memiliki 58% total kapasitas kilang Indonesia [2] dan tersebar di 3 tempat yaitu Kilang Balongan di Indramayu, Kilang Cilacap, dan Kilang Cepu, sehingga ongkos distribusi di Pulau Jawa baik itu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur relatif kecil. Sedangkan Pulau Papua yang luasnya 459.412 km2 hanya memiliki satu yaitu Kilang Kasim berkapasitas 10 MBSD atau 1% total kapasitas kilang Indonesia dan bertempat di Kabupaten Sorong yang terletak di bagian kepala burung cendrawasih pulau ini saja. Sehingga jika kita ingin menyalurkan BBM ke Yahukimo yang berjarak sekitar 1000 km lewat perjalanan darat, sedangkan BBM biasanya dikirm menggunakan Kapal Perintis Yahukimo I yang seringkali terganggu akibat surutnya Sungai Brasa di kabupaten tersebut, mengakibatkan harga bensin bisa mencapai Rp150.000 per liternya. Dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa ongkos distribusi di Pulau Papua jelas lebih mahal daripada Pulau Jawa dan berakibat tingginya harga jual BBM di Pulau Papua.

16


Maka dari itu pemerintah melalui Permen ESDM No.36 tahun 2016 tentang Percepatan BBM Satu Harga hendak mewujudkan harga jual eceran BBM yang sama di seluruh Indonesia sebagai upaya mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Penjelasan ringkas isi peraturan tersebut terdapat pada gambar berikut. Hingga akhir tahun 2017, pemerintah telah menerapkan 57 titik BBM Satu Harga di berbagai wilayah terutama di daerah 3T (Tertinggal, Terdean, dan Terluar).

Sebaran lengkapnya sebagai berikut:

17


Subjective Theory of Value Subjective Theory of Value adalah teori nilai yang mengemukakan ide bahwa nilai suatu barang bukan ditentukan oleh apa yang dikandungnya maupun seberapa besar usaha untuk menciptakan barang tersebut, namun oleh seberapa penting nilai barang tersebut bagi suatu indivitu untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

(a). Kebutuhan Energi di Jawa

(b). Kebutuhan Energi di Maluku dan Papua

Dalam hubungannya dengan kebijakan ini maka perlu sekiranya kita menelisik seberapa â&#x20AC;&#x153;pentingâ&#x20AC;?-kah BBM bagi objek kebijakan tersebut. Dari kedua grafik tentang pangsa kebutuhan energi di kedua koridor [2], dapat kita simpulkan bahwa memang di koridor Papua, BBM menjadi lebih â&#x20AC;&#x153;pentingâ&#x20AC;? jika dibandingkan dengan koridor Jawa. Maka dari itu sejatinya harga BBM di Papua lebih mahal daripada Jawa. Namun melalui Permen ESDM No.36 tahun 2016, Pemerintah nampaknya hendak mengesampingkan semua hal untuk mewujudkan keadilan tersebut. Telah banyak tulisan yang mengulas tentang sisi positif kebijkan ini. Kali ini penulis ingin memaparkan saran dan kritik yang diharapkan mampu menjadikan pelaksanaan kebijakan ini menjadi lebih baik lagi.

Permasalahan Pengecer Ilegal Setelah didistribusikan, dalam hitungan jam BBM di agen resmi disebut ludes diborong oleh para pengecer. Akibatnya, stok BBM di agen resmi sudah habis, tetapi stok BBM di pengecer tidak resmi malah melimpah dan harganya jauh lebih tinggi dibanding dengan harga di agen resmi. Peristiwa ini terjadi di Tolikara, Papua, yang ditulis Kompas edisi 29 September 2017. Di sejumlah daerah, fenomena di atas kerap terjadi. Di Gorontalo, misalnya, adalah hal yang lumarah tatkala SPBU kehabisan stok BBM. Sementara BBM eceran dalam botol atau jeriken banyak yang dijual pengecer dengan harga yang lebih mahal daripada harga resmi. Ironisnya, tak sedikit lokasi pengecer yang jarkany ahanya selemparan batu dari SPBU. Kompas menyaksikan fenomena tersebut pada kurun 2011-2014.[3]

18


Tanpa izin resmi, pengecer BBM bisa dikategorikan sebagai pengecer ilegal. Di dalam Pasal 55 UU No. 21 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi disebutkan bahwa orang yang menjual bensin secara ilegal akan dihukum denda sebesar Rp 6 miliar dan kurungan selama enam tahun. Namun, pada tataran empiris bukan perkara mudah untuk melakukan penegakan hukum pada pengecer ilegal tersebut. Selain mereka sudah menguasai pasar, juga letak geografis yang jauh dan luasnya area distribusi. Sebenarnya jika hanya mengandalkan keberadaan agen resmi, jarak tempuh bagi konsumen ke agen resmi terlalu jauh sehingga keberadaan penyalur tidak resmi praktis masih dibutuhkan. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, tugas pengawasan distribusi BBM adalah kewenangan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) maka dari itu BPH Migas harus bersinergi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Sementara itu, beberapa pemda telah memberikan izin usaha eceran ini melalui Peraturan Daerah (Perda)[4]. Karena itu untuk mengatasi masalah ini tanpa memberantas pengecer illegal, perlu ada kepastian hukum yang berpihak pada pengusaha kecil dan seimbang dengan jaminan kualitas, harga yang wajar dan faktor keselamatan atau perlindungan terhadap lingkungan. Sehingga pengecer illegal ini bisa saja menjadi pengecer resmi yang dibina oleh pemerintah. Beban APBN Semua pembiayaan operasopnal penerapan BBM satu harga ini dibebankan kepada Pertamina. Selain itu dengan harga minyak dunia yang telah mencapai 70 US$/bbl pemerintah pun sudah wanti-wanti akan membebankan ongkos akibat tidak menaikkan harga BBM hingga Maret 2018. Jadi, anggapan bahwa kebijakan ini tidak menambah beban APBN tentu saja salah. Akibat segala beban ditumpahkan kepada Pertamina, maka laba Pertamina terkikis. Sehingga setoran keuntungan Pertamina kepada Pemerintah (APBN) berkurang. Jadi, secara tidak langsung ada dampak terhadap APBN. Jika Pemerintah mengotot target setoran laba Pertamina ke APBN tidak turun, maka Pertamina akan mencari jalan lain. Misalnya, menaikkan harga Pertamax dan Pertalite yang tidak diatur pemerintah serta secara sengaja mengurangi pasokan bensin Premium dan solar ke pompa bensin.[5] Sudah semakin banyak pompa bensin yang tidak menyediakan bensin Premium. Ujung-ujungnya yang dirugikan rakyat juga.

19


Emas Hitam yang Mempengaruhi Dunia PENUILIS : ABDEL MOHAMMAD DEGHATI Nampak sudah tidak asing lagi di dalam kehidupan manusia yang hidup tidak hanya untuk berdiam diri, namun ia bergerak melakukan banyak aktivitas untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Hampir dalam setiap tulisan yang berisikan tentang energi, terdapat argumen yang mengatakan bahwa energi adalah salah satu hal yang terpenting bagi manusia untuk hidup. Menurut saya, bukan energi yang terpenting, namun memenuhi kebutuhan hidupnya lah yang merupakan hal yang paling penting bagi manusia. Namun, berbicara bagaimana memenuhi kebutuhan hidup, tentu saja diperlukan sebuah usaha, sebuah tenaga, sebuah pergerakan yang dibutuhkan seorang manusia. Lantas disinilah energi memberikan peranannya sebagai sesuatu yang dapat mendorong dan memudahkan manusia untuk memiliki semua modal dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. This is the Power of Energy! Sejarah Penemuan dan Pemanfaatan Minyak Bumi di Dunia Sebenarnya minyak bumi sudah ditemukan lama sekali sebelum abad ke 19 M. Bahkan pada tahun 6000 SM bangsa Mesopotamia telah menggunakan minyak bumi sebagai pharmaceuticals dan penerangan, penambal kapal, dan sebagai senjata. Pada tahun 1853, Georges Bissel, seorang pengacara asal New York, menemukan rock oil di kota Pennsylvania, Amerika Serikat. Dengan intuisinya, dia meyakini minyak bumi dapat menjadi bahan penerangan. Ia pun memanggil Benjamin Silliman untuk mempelajari rock oil temuannya. Pada tahun 1855, Silliman berhasil menciptakan kerosen dari hasil distilasi minyak bumi. Penemuan tersebut berhasil menyaingi penemuan Abraham Gesner yang dapat menciptakan Coal Oil yang memiliki sifat kimia yang hampir mirip dengan kerosen, tetapi membutuhkan lebih banyak biaya dibandingkan dengan produksi kerosen. Inilah yang menjadi awal mula sejarah pemanfaatan turunan produk minyak bumi dalam kehidupan manusia. Catatan sejarah menuliskan bahwa bangsa Cina telah melakukan eksploitasi minyak bumi untuk pertama kalinya pada 347 SM. Eksploitasi yang digunakan pada saat itu ialah dengan cara menggunakan rig yang bermaterialkan bambu, dan menggunakan bambu sebagai drillpipe, dan batu sebagai mata bornya. Pada tahun 1857, George Bissel dan rekannya, Edwin L. Drake mencoba melakukan kegiatan pemboran sumur minyak bumi dengan menggunakan rig kayu dan beberapa peralatan lainnya, dan berhasil menemukan campuran minyak bumi dan air pada kedalaman 20 m (69.5ft) pada dua tahun setelahnya. Keberhasilan Bissel dan Drake melakukan eksploitasi minyak bumi, telah menimbulkan oil fever di seluruh dunia. Pada November 1960, 75 sumur memproduksikan minyak bumi di Oil Creek dekat Pennsylvania, dan lusinan kilang minyak kecil membuat kerosen dari minyak bumi mentah Ketika Era Industri berpaling ke Pelukan Emas Hitam Ya, bagaikan seseorang yang sedang jatuh cinta kepada seseorang, dia akan sangat tergantung kepadanya, mengaguminya, menginginkannya, dan selalu mengharapkannya selalu ada di sampingnya. Begitu pun dengan era industri yang sedang menjalin kisah asmara dengan cintanya pada saat itu, batubara. Revolusi industri yang ditandai dengan diciptakannya mesin sebagai alat pengganti manusia untuk mengerjakan banyak hal, kini tidak lagi mencintai batubara sebagai kekasih sepenuhnya, namun perlahan minyak bumi muncul merusak hubungan mereka yang telah jalin, karena tentu saja minyak bumi lebih cantik, indah, dan mempesona.

20


S

ejak revolusi Industri muncul ke permukaan Bumi pada abad 17 M di Inggris, manusia perlahan-lahan mulai merasakan kemudahan dalam mengerjakan berbagai macam pekerjaannya. Tetapi, Revolusi Industri telah mengubah segalanya, era yang memberikan kekuatan lebih, mesin-mesin yang dapat memiliki kemampuan khusus, pabrik-pabrik, dan produksi massal, berkembangnya industri tekstil, besi dan baja, serta maraknya pembangunan sektor transportasi dan komunikasi serta semakin menggeliat dan menjamurnya bank menjadi penanda lain munculnya Revolusi Industri. Penemuan mesin uap pun menambah semarak geliat munculnya revolusi industri ke permukaan bumi ini. Lalu dengan tenaga apa mereka menjalankan semua mesin-mesin ini? Batubara adalah jawabannya. Walaupun dirinya berwarna hitam, pekat, dan berbentuk padatan, namun saya tidak menjulukinya emas hitam. Pencarian dan penambangan yang relatif mudah (dibandingkan emas hitam), sumber daya yang melimpah, dan relatif mudah untuk digunakan adalah jawaban saya mengapa saya tidak menyebutnya sebagai emas hitam. Hampir seluruh mesin pada zaman tersebut menggunakan batubara sebagai sumber energi utamanya, menggantikan kayu bakar dan arang yang semakin sulit dicari. Batubara memiliki daya bakar yang lebih tinggi dibandingkan kayu bakar dan arang, dan juga dapat langsung dimanfaatkan. Pada saat itu, terdapat cukup banyak singkapan batubara di permukaan, sehingga memudahkan penambang batubara untuk mengeksploitasi tanpa harus menggali ke bawah tanah dan membuat batubara semakin diminati orangorang untuk menggerakan mesin-mesin yang dimilikinya. Hingga akhirnya, batubara menjadi kekasih tercinta pada awal-awal zaman revolusi industri.

Perjalanan kisah batubara sebagai kekasih revolusi Industri nampaknya tak lama lagi akan berakhir. Di tengah-tengah zaman revolusi industri yang semakin menggeliat, populasi manusia meningkat pesat, kebutuhan manusia terhadap energi menjadi berlipat-lipat adanya. Energi bukan hanya sekedar digunakan untuk memasak, dan untuk menghangatkan air pada saat musim dingin saja, namun pabrik-pabrik besar, mesin-mesin, kereta api telah menyedot banyak energi yang tersedia. Sehingga untuk memenuhi hasrat energi yang semakin besar ini, diperlukan bahan energi yang dapat digunakan dengan mudah, dan yang paling utama ialah mudah diperoleh dan mudah ditrasnportasokan. Pencarian dan penambangan batubara pun semakin sulit dilakukan, dibutuhkan penggalian hingga beberapa meter ke bawah tanah, tak banyak lagi singkapan batubara yang dapat dengan mudah diambil. Selain itu, asap dan debu hasil dari pembakaran batubara sangat menganggu kehidupan manusia, karena selain menyebabkan kualitas udara memburuk, asap batubara pun mengandung racun yang berbahaya apabila dihirup terlalu banyak oleh manusia. Akan tetapi, semua itu bukanlah menjadi akar masalah keretakan kisah perjalanan batubara merenggang. Keberhasilan pengeboran minyak bumi pertama kali di Titusville, Pennsylvania pada pertengahan abad 19 M adalah biang keladi keretakan hubungan antara mereka berdua. Penemuan kerosen sebagai hasil dari proses distiliasi minyak bumi pun menambah lagi sumber keretakan. Ya, kerosen dapat menjadi bahan bakar penerangan yang sebelumnya menggunakan minyak paus, yang sangat sulit ditemukan, karena keberadaan paus di samudera luas terbatas dan sulit untuk didapatkan. Dibandingkan dengan batubara yang merupakan bentukan padatan, minyak bumi dapat diperoleh secara langsung dalam bentuk cairan, sehingga memudahkan sumber energi ini dapat dengan mudah ditransportasikan.

21


Walaupun memiliki harga yang lebih mahal untuk setiap unit energinya, namun minyak bumi memiliki harga yang lebih murah untuk ditransportasikan, bahkan pada tahum 1955 harga per mil untuk mentransportasikan minyak bumi dengan menggunakan tanker atau pipa lebih murah 15 persen dibandingkan dengan jumlah volume batubara yang sama, menjadikan minyak bumi menjadi penggoda terbesar bagi hubungan batubara dengan revolusi industri. Alhasil, industri minyak bumi semakin berkembang dan semakin membuat dunia menjadi demam minyak di akhir abad 19 M, termasuk memicu insinyur-insinyur mesin untuk berpikir dan bereksperimen bagaimana caranya menciptakan mesin yang dapat memanfaatkan minyak bumi sebagai bahan energi utamanya. Dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai macam teknologi mutakhir saat ini, Jerman tak bosan-bosannya melahirkan insinyur-insinyur cerdas yang dapat membuat perubahan di dunia ini. Dialah Gottlieb Daimler, yang lahir di Schorndorf (Kingdom of WĂźrttemberg, sebuah negara federal dari The German Confedertion) yang sekarang merupakan bagian dari negara Jerman, berhasil menciptakan high-speed liquid petroleum fueled engine yang mendorong industri kendaraan bermotor semakin berkembang. Bukan hanya Daimler saja, Jerman pun memiliki Rudolf Christian Karl Diesel yang berhasil menciptakan mesin diesel yang memiliki kekuatan lebih dibandingkan mesin biasa (mesin yang menggunakan bensin). Mesin diesel pun menggantikan mesin uap pada lokomotif kereta api, dan pada automobile yang membutuhkan tenaga yang besar untuk mengangkut barang. Kedua penemuan ini berhasil menyumbang semangat bergeliatnya industri automobile di Amerika, hingga pada tahun 1900 yang hanya terdapat 8000 mobil saja, meningkat menjadi 900.000 pada tahun 1912. Tak bisa dihindari lagi, kebutuhan akan minyak bumi sebagai sumber energi bagi manusia untuk beraktivitas, khususnya berpergian dengan menggunakan kendaraan dan penggunaannya untuk menggerakan mesin-mesin pabrik pun semakin meningkat. Sehingga retaklah sudah kini hubungan batubara dengan era industri, dan minyak bumilah yang menjadi primadona hingga saat ini. Walaupun batubara hingga saat ini masih tetap digunakan dalam skala relatif lebih kecil untuk pembangkit listrik dan kebutuhan pabrik lainnya.

Oil and War â&#x20AC;&#x153;Siapa yang menguasai energi, berarti dia yang akan menguasai duniaâ&#x20AC;?- Anonymous Bukan nilai keuntungan materil dari hasil penjualan minyak yang sebegitu melimpah ruah yang dilihat, namun bagaimana energi dapat menggerakan kehidupan manusia lah yang membuat pernyataan di atas menjadi benar adanya. Kita bisa bayangkan, bila kita hidup tanpa bahan bakar minyak, bisa saja peradaban manusia yang sedang berlangsung akan berhenti. Tidak akan ada lagi mobil, motor, pesawat ataupun kereta api yang dapat mengantarkan diri kita ke tempat yang kita akan kunjungi, bahkan sepeda kayuh yang sebenarnya tidak menggunakan bensin sebagai sumber energi untuk menggerakannya, akan lenyap dari permukaan bumi ini, karena pabrik perakit sepeda pun tentu saja membutuhkan energi berupa minyak bumi dan listrik untuk menjalankan mesin-mesin perakit sepeda. Tanpa minyak bumi, sulit tampaknya untuk melihat pabrik-pabrik tetap beroperasi menghasilkan kebutuhan manusia dari a sampai z, belum lagi produk turunan minyak bumi tidak terhitung jumlahnya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dunia tanpa listrik pun akan membuat dunia ini menjadi gelap gulita, tidak akan ada lagi kehidupan setelah matahari tertidur di singgasananya, bahkan untuk menyalakan lilin pun tidak akan bisa, karena yang kita tahu bahwa lilin pun merupakan bagian dari hasil turunan minyak bumi.

22


Iya sebegitu penting energi di kehidupan ini, terutama minyak bumi! Tak heran apabila negara-negara besar di dunia berlomba-lomba untuk menguasai energi, khususnya minyak bumi. Hasrat yang begitu tinggu pun akan mengalahkan segala rintangan yang ada di depan mata. Apa pun akan dilakukan, sekali pun untuk merebutnya dari sang empunya, dengan cara halus ataupun dengan terang-terangan, yaitu Perang. Sudah tidak asing lagi kita mendengar, bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang memiliki pengaruh dan power yang kuat di dunia ini. Walaupun Amerika sebelumnya pernah dijajah oleh Inggris, namun selepas kemerdekaannya, negara ini pun berubah menjadi penjajah bagi bangsa-bangsa yang ada di dunia. Hasrat yang begitu tinggi untuk menguasai dunia pun seperti menjadi gen yang terpendam dalam setiap individu rakyat Amerika. Termasuk hasrat yang begitu tinggi untuk menguasai minyak yang ada Timur Tengah, yang tak lain untuk menyukseskan misinya menjadi penguasa di dunia. “Capturing oil and oil fields and establishing direct or imperial control over oil has not been part of the US strategic logic for war. But protecting oil, oil producers, and the flow of oil has been”- the Journal of American history Seperti itulah strategi politik minyak Amerika di Timur Tengah. Mereka tidak akan langsung secara terang-terangan ingin memiliki minyak disana, namun mereka lebih memilih cara yang lebih halus, yaitu dengan cara membantu para negara minyak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyaknya, dan membukakan pasar kemana minyak hasil produksi tersebut akan disalurkan, dan pasar itu adalah Amerika Serikat.

Lantas, mengapa harus negara-negara Timur Tengah? “…. . Right now, outside this region, producers are being forced to venture into less productive and more difficult localities. So, projections show that in the long term, OPEC and the Arab Gulf producers will become ever more important.”, Amirahmadi 1998. Sementara itu Saudia Arabia memiliki cadangan terbukti minyak terbesar di dunia dengan 262 triliun barrel, sedangkan Irak memiliki cadangan terbukti terbesar kedua sebesar 113 triliun barrel (Alkadiri 2001; Research Unit for Polotical Economy 2003). Lebih dari itu, Departemen Energi Amerika Serikat memperkirakan bahwa Irak memiliki 220 triliun barrel cadangan belum terbukti yang akan menjadikan total minyak yang dimiliki Irak menyamai jumlah dari 98 tahun nilai impor minyak tahunan Amerika Serikat. As Raad Alkadiri (2001), senior analyst at the Petroleum Finance Company in Washington, DC, berkata, “Industri minyak Internasional menganggap Irak sebagai salah satu hadiah utama yang ditawarkan kepada dunia hari ini”. Cukup sudah bukti yang ditunjukkan di atas untuk menasbihkan bahwa negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Irak, menjadi negara sasaran utama Amerika Serikat untuk mengamankan pasokan minyak yang mengalir ke negaranya.

23


Awal sejarah Timur Tengah memikat penguasa dunia dan kapitalis sudah dimulai dari awal abad ke-20. Ketertarikan Amerika dimulai pada awal tahun 1930an, ketika geologis dari Standard Oil of California menemukan sejumlah minyak yang komersial di timur pantai Saudi Arabia. Beberapa tahun kemudian, ketertarikan berubah menjadi keinginan yang tinggi untuk memiliki. Setelah perang dunia II, minyak menjadi komoditas yang didambakan sebagai komoditas industri. Salah satu sejarah yang paling penting adalah ketika Franklin D.Roosevelt mengundang ‘Abd al’Aziz Ibn Saud, pendiri kerajaan Arab Saudi, menaiki kapal USS Quincy di Egypt’s Great Bitter Lake pada februari 1945. Pertemuan ini menjadi awal hubungan antara Amerika Serikat dengan Arab Saudi, dan menjadikan hubungan yang strategis agar Amerika mendapatkan minyak dengan harga yang murah dari Arab Saudi. Dari peristiwa itulah sumber kekacauan di Timur Tengah dimulai. Amerika Serikat mulai secara perlahan menduduki Timur Tengah dengan cara mengirimkan perusahaan minyaknya ke negara penghasil minyak untuk membantu memproduksikan minyak dengan teknologi yang mereka miliki. Perusahaan-perusahaan inilah yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat untuk secara tidak langsung menjajah minyak yang begitu melimpah negara Timur Tengah. Lebih dari itu, perusahaan minyak pun dengan dalih mempelajari dan mengeksplorasi minyak berusaha untuk mencari dan menggali informasi secara mendetil mengenai potensi minyak yang belum ditemukan. Hasil eksplorasi yang diterima sebenarnya membuat negara penghasil minyak menjadi bahagia bukan kepalang, namun dibalik itu, telah ada strategi yang disiapkan Amerika Serikat bagaimana minyak tersebut bukan sepenuhnya keuntungan yang hanya dapat dinikmati oleh negara penghasil, tetapi untuk pemenuhan hasrat Amerika Serikat untuk menguasai dunia. Kontrol secara langsung terhadap minyak Timur Tengah hanya berlangsung hingga 1970an saja. Hal ini diakibatkan hubungan baik antara Amerika Serikat dengan negara-negara minyak di Timur Tengah mulai luntur ketika Amerika Serikat secara terang-terangan mendukung Israel yang kala itu sedang bersitegang berperang dengan Mesir, karena Israel mencaplok semenanjung Sinai yang merupakan wilayah Mesir. Alhasil, negara-negara penghasil minyak Timur Tengah pun dengan dipimpin Arab Saudi melakukan embargo ekspor minyak ke Amerika Serikat. Tidak lama kemudian, harga minyak pun naik berkali-kali lipat, dan peristiwa ini menjadi kejadian pertama harga minyak naik secara signifikan dan menjadi awal dimana Amerika memulai strategi perangnya untuk dapat menguasai minyak di Timur Tengah. Hasil pendapatan yang meningkat secara signifikan dinikmati oleh negara-negara penghasil minyak. Hal tersebut memaksa Amerika Serikat berfikir bagaimana caranya untuk memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperbaiki hubungan dengan Timur Tengah. Salah satu solusinya yaitu dengan cara menjual peralatan senjata dan alat pertahanan dengan meyakinkan bahwa betapa pentingnya bagi suatu negara yang memiliki sumber minyak yang berlimpah untuk memiliki persenjataan yang lengkap untuk mengamankan sumber daya yang dimilikinya. Negara Iran dan Saudi Arabia menjadi dua negara terbesar yang melakukan jual beli senjata dengan Amerika. Total biaya pembelian senjata oleh Iran mencapai 22 US$ triliun dan Arab Saudi sebesar 3.5US$ triliun. Hal tersebut menjadikan kedua negara ini menjadi “The twin pillars of US new regional geopolitik Strategy”.

24


Nampaknya strategi perang Amerika untuk menguasai minyak di Timur Tengah mulai berhasil ketika pada tahun 1979 pemerintahan Shah di Iran jatuh ke tangan kelompok oposisi Amerika. Walaupun Shah bersahabat dengan pemerintahan Amerika, tetapi Amerika sepertinya menginginkan kekacauan terjadi di Iran. Hal tersebut bertujuan agar Amerika dapat mengintervensi pemerintahan Iran sehingga Amerika dapat dengan leluasa mengirimkan pasukannya ke Iran dengan dalih perdamaian, namun dibalik itu semuanya sepertinya hanya salah satu strategi untuk menguasai minyak yang ada di Iran dan negara sekitarnya. Pada tahun 1980 melihat kekacauan pemerintahan yang terjadi di Iran, Saddam Husein, yang merupakan pemimpin negara Irak, menugaskan pasukannya untuk menginvasi fasilitas minyak yang dimiliki Iran. Perang ini berlangsung hingga 8 tahun dan menewaskan ratusan ribu orang yang tidak berdosa. Beberapa pembuat kebijakan Amerika, menganggap perang ini bermanfaat untuk menghilangkan ancaman terhadap politik ekonomi minyak mereka. Dengan begitu, Amerika melakukan strategi politik dengan cara menyuplai senjata, uang, dan intelejen ke kedua belah pihak agar perperangan tetap berlangsung dan menciptakan pandangan kepada dunia bahwa wilayah Timur Tengah tidak aman dan bahaya sehingga mengancam berbagai aktivitas eksploitasi minyak yang pada akhirnya dapat membawa militer Amerika untuk tinggal disana untuk mengamankan politik minyak mereka. Keterlibatan Amerika di dalam perak Iran-Irak juga menjadi awal terbentuknya konflik antara Amerika dengan Irak. Walaupun Amerika banyak membantu Irak dalam urusan peperangan, namun fakta tersebut tidak dapat meredam konflik yang semakin memanas diantara kedua negara tersebut. Setelah dua tahun situasi di Timur Tengah cukup membaik, pada tahun 1990, Saddam Hussein kembali lagi mengadakan penyerangan untuk menginvasi sumber daya minyak yang ada di Kuwait dan bahkan akan menyasar ke Arab Saudi. Dengan segera Amerika mengirimkan 500 ribu pasukan yang merupakan usaha terbesar setelah perang di Vietnam, untuk mengamankan potensi jatuhnya minyak Kuwait dan Arab Saudi ke tangan Irak. Namun, hanya beberapa hari saja Amerika berhasil memukul mundur tentara Irak dari Kuwait. Sejak saat itu, Amerika memberikan berbagai sanksi dan menaruh waspada tinggi kepada Irak. Selain itu, Amerika menaruh perhatian yang sangat tinggi kepada Saddam Hussein dan mencari momen yang tepat untuk menemukan cara menjatuhkan dia. â&#x20AC;&#x153;It hardly needs to be added that if Saddam does acquire the capability to deliver weapons of mass destruction.. a significant portion of the worldâ&#x20AC;&#x2122;s supply of oil will all be put at hazard. The only acceptable strategy is.. to undertake military action as diplomacy is clearly failing. In the long term, it means removing Saddam Hussein and his regime from power. That now needs to become the aim of American Foreign Policyâ&#x20AC;?. (1998 letter from Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, and Richard Perle).

25


Berita mengejutkan datang dari amerika, tepatnya pada tanggal 11 September 2001, ketika serangkain peristiwa bunuh diri terjadi di Amerika Serikat dan menewaskan lebih dari 3000 orang. Pada saat itu, pemerintah Amerika menduga teroris Al Qaeda dan Irak yang menjadi dalang peristiwa itu terjadi. Al Qaeda mengklaim serangan tersebut sebagai respon terhadap intervensi yang dilakukan pemerintah kepada Arab Saudi dan Irak. Namun, timbulah sebuat pertanyaan yang menarik? Apakah peristiwa ini benarbenar murni hasil dari rencana Al Qaeda untuk menggertak Amerika, atau sebaliknya bahwa peristiwa ini dibuat hanya sebagai momentum yang tepat agar Amerika dapat menumpas Saddam Hussein dan benarbenar dapat meningkatkan kekuasannya terhadap minyak bumi di Timur Tengah dengan cara menyerang dengan dalih membalas perbuatan serangan tersebut? Hasilnya bisa dilihat, pada tahun 2003, Amerika melakukan serangkaian serangan ke Irak dengan alasan untuk menumpas Al Qaeda yang berafiliasi dengan Saddam Hussein. Pada serangan ini Amerika berhasil menangkap Saddam Hussein dan runtuhlah kekuasaan Saddam di Irak. Hasil dari serangan ini pun membuahkan kesempatan untuk menempatkan sebanyak-banyaknya pasukan Amerika untuk menetap di Irak dengan dalih menjaga keamanan dan perdamaian disana. Oleh karena itu, berhasilah sudah Amerika menjatuhkan Saddam Hussein dengan cara yang sepertinya sudah direncanakan sangat matang dan penuh perhitungan. Perjalanan Amerika untuk mengamankan minyak bumi di Timur Tengah nampaknya masih terus belanjut, bahkan bisa saja menyebar hingga ke kawasan Afrika. Namun, semua ini hanyalah sebuah hipotesa yang bisa saja salah dan bisa saja benar. Bila kita melihat beberapa tahun ke belakang, bagaimana Libya, Mesir, Aljazair yang merupakan negara produsen minyak yang cukup besar di Afrika mengalami gejolak politik yang akhirnya dapat menjatuhkan rezim pimpinan negara tersebut yang telah berlangsung sejak lama. Amerika pun selalu menjadi terdepan dalam urusan menegakan semangat demokrasi dan mendukung segala upaya untuk meruntuhkan rezim pemimpin yang sudah mengakar. Tapi dibalik itu semua, apakah negara-negara tersebut sebenarnya mengalami hal yang sama dengan beberapa negara sebelumnya yang sudah pernah merasakan? Ya, hanya Tuhan yang bisa menjawab. Naik Turunnya Harga Minyak hingga Terjadinya Syeikh Oil vs Shale Oil Ketergantungan dunia terhadap minyak bumi semakin lama semakin meningkat. Meningkatnya ketergantungan ini tak lepas dari mudahnya pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi. Berkembangnya ekonomi beberapa negara besar pun turut andil dalam meningkatkan kebutuhan minyak bumi untuk menggerakan roda ekonomi mereka. Cina dan India merupakan dua contoh negara besar di Asia dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan jumlah penduduk yang banyak yang membutuhkan suplai minyak bumi yang tinggi. Akan tetapi, kebutuhan minyak bumi yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan suplai yang cukup, sehingga kondisi ini menyebabkan harga minyak bumi yang terus meroket hingga pada pertengahan awal tahun 2008, minyak bumi mencapai harga tertingginya dalam sejarah, yaitu sekitar 140 US$/barrel.

26


Tingginya harga minyak pada saat itu tidak berlangsung lama, karena harga tersebut menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya krisis ekonomi dunia pada akhir tahun 2008. Harga minyak pun terjun bebas dari puncaknya hingga menyentuh angka 40 US$/barrel dikarenakan kebutuhan akan minyak bumi menurun akibat krisis ekonomi tersebut. Namun, perkembangan ekonomi dunia yang membaik di tahun 2009 dan ditambah dengan terjadinya perang saudara di Libya dan serangkaian gerakan revolusi di berbagai negara produsen minyak lainnya seperti Mesir, Aljazair, dan Nigeria serta ditambahnya sanksi Amerika terhadap Iran membuat kebutuhan minyak bumi kembali stabil sedangkan suplai minyak bumi menurun cukup drastis dan menyebabkan harga minyak dunia kembali melambung tinggi di kisaran harga 100 US$/ barrel. Kondisi harga minyak yang tinggi tersebut tentunya menjadi keuntungan besar bagi negara produsen dan sekaligus menjadi bencana bagi negara-negara konsumen. Kita coba ambil contoh negara Saudi Arabia yang sebagai negara penghasil minyak bumi terbesar dunia. Dengan rata-rata produksi sekitar 9-10 juta barel per hari, dengan biaya lifting cost sekitar di bawah 10 US$/Barrel, bisa dibayangkan dalam sehari, dengan harga 100US$/barrel, Saudi Arabia bisa mendapatkan keuntungan hingga mencapai 900 juta US$ per hari (perhitungan kasar tanpa memperhatikan biaya lainnya) atau setara dengan 11 triliun rupiah setiap harinya (dengan Rp 11.000/US$). Betapa besar keuntungan yang dapat diperoleh Arab Saudi, tak ayal mereka menggratiskan sekolah, listrik, pajak, hingga berbagai macam kebutuhan hidup lainnya yang dapat diperolah dengan harga yang murah karena pemerintah dapat memberikan subsidi yang besar dari hasil yang diperoleh dari penjualan minyak bumi. Berbanding terbalik dengan negara kita, Indonesia sebagai negara konsumen. Dari data sumber kementerian Keuangan Indonesia, pemerintah harus mengeluarkan subsidi bahan bakar sebesar 23 miliyar US$ pada tahun 2013 atau setara dengan sekitar 245 triliun rupiah, meningkat dari 20 miliyar US$ di tahun 2012. Tentu saja hal ini menggambarkan betapa bolongnya kantong pemerintah untuk mensubsidi bahan bakar minyak yang dibutuhkan setiap harinya oleh masyarakat. Namun, cerita harga minyak dunia yang stabil di angka 100US$/barrel berakhir di akhir tahun 2014, hal ini ditenggarai meningkatnya produksi minyak bumi Amerika karena beberapa produsen minyak bumi di Amerika berhasil memproduksikan minyak dan gas langsung dari source rock nya. Istilah yang lazim digunakan untuk jenis minyak ini ialah shale oil and shale gas. Selain itu, dicabutnya sanksi embargo ekspor minyak Iran pun turut berpengaruh terhadap cerita berakhirnya tingginya harga minyak dunia pada saat itu. Nampaknya, harga minyak yang tinggi selama 4 tahun terakhir membuat orang-orang berlomba untuk menemukan teknologi yang mutakhir untuk mengeksploitasi minyak dan gas yang sebelumnya sulit untuk diambil. Hingga akhirnya, harga minyak pun terjun bebas pada akhir tahun 2014, hingga menyentuh angka 30US$/barrel. Bahkan pada akhir tahun 2015, harga minyak dunia mencapai titik terendahnya hingga 27 US$/barrel. Supply minyak bumi dunia pun pada saat itu benar-benar melampaui batas dari kebutuhan yang ada.

27


Peristiwa tersebut tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan dan perdebatan mengenai alasan apa yang sesungguhnya terjadi. Banyak orang yang menduga bahwa US Shale oil yang menjadi aktor utama turunnya harga minyak dunia pada saat itu. Akan tetapi, sebagian orang balik bertanya. Apakah dengan harga sedemikian rendah itu, produsen minyak di Amerika masih mampu memproduksikan Shale Oil yang membutuhkan lifting cost yang lebih mahal yang berada di kisaran 50US$/barrel? Perdebatan tersebut akhirnya menimbulkan spekulasi yang mengatakan bahwa terdapat andil besar Arab Saudi dan negara produsen minyak lainnya di Timur Tengah terhadap turunnya harga minyak. Apabila kita cermati data produksi Arab Saudi, di tengah turunya harga minyak bumi hingga 30 US$/barrel, Arab Saudi malah meningkatkan produksinya dari akhir tahun 2014 yang hanya mencapai 9.64 juta barrel/ per hari menjadi 10.49 juta barrel di pertengahan awal tahun 2015. Sebuah langkah yang bisa dibilang tak lazim untuk dilakukan, dikala harga minyak dunia turun akibat oversupply dari Amerika, Arab saudi malah menaikan produksinya, sehingga semakin memperburuk harga minyak dunia. Timbulah sebuah anggapan bahwa Arab Saudi ingin sekali mematikan industri shale oil dan shale gas yang ada di Amerika dengan cara menekan harga minyak bumi serendah-rendahnya agar pengembangan shale oil dan gas di Amerika tidak berkembang dan gulung tikar. Karena dengan lifting cost yang hanya di bawah 10US$/barrel, Arab Saudi masih mampu memperoleh keuntungan dibandingkan dengan shale oil yang membutuhkan lebih dari 40US$/barrel. Namun, perkembangan teknologi yang pesat, dan semakin efisiennya pengembangan shale oil di Amerika, membuat produksi shale oil di Amerika cenderung stabil dan malah meningkat. Hal ini tentu saja menjadi kabar buruk bagi Arab Saudi yang sebelumnya sudah merelakan turunnya harga minyak dunia hingga ke angka terendah. Kondisi harga minyak yang rendah ini membuat Arab Saudi menjadi benar-benar terpuruk. Negara ini yang sebelumnya memiliki cadangan devisa yang sangat besar, perlahan kelimpungan akibat tidak membaiknya harga minyak dunia. Alhasil untuk pertama kalinya, Arab Saudi mencabut aturan tanpa pajak di negara tersebut dan menaikkan harga BBM hampir 100% untuk membantu memulihkan keuangan negara. Selain itu, gerakan anti korupsi pun bermunculan untuk mengais sisa kekayaan-kekayaan negara yang tersangkut di beberapa kantong koruptor yang sebelumnya sama sekali tidak disentuh akibat tertutupi dengan besarnya penerimaan negara di tahun-tahun sebelumnya. Hingga akhirnya, pada akhir tahun 2016 beberapa negara OPEC menyepakati kebijakan pemotongan produksi sebesar 1.3 juta barrel dari 33.8 juta barrel/hari menjadi 32.5 juta barrel/hari. Kebijakan ini pun akhirnya berlanjut hingga tahun 2017 dengan bergabungnya beberapa negara Non-Opec seperti Rusia yang sepakat untuk menurunkan produksinya hingga 600 ribu barrel/hari. Tentu saja kebijakan ini perlahan menaikan dan mempertahankan harga minyak di kisaran 40-50 US$/barrel.

28


Di tengah turunnya harga minyak ini, tentu saja terdapat beberapa hikmah yang sangat berarti bagi beberapa negara konsumen seperti Indonesia. Salah satu dampak yang terbesar yaitu bahwa Indonesia tidak perlu lagi mensubsidi kebutuhan bahan bakar minyak untuk rakyatnya. Bahkan pada akhir tahun 2014, Presiden Jokowi memutuskan untuk mencabut subsidi BBM. Dana subsidi BBM pun sebagian besar dialihkan untuk membiayai berbagai biaya proyek infrastruktur di Indonesia, alhasil dari periode 2014 hingga sekarang, pembangunan infrastruktur mencatatkan sejarah tertinggi di dalam sejarah pembangunan infrastruktur di Indonesia selama ini. Berbanding terbalik dengan negara Venezuela, yang merupakan salah satu negara pengekspor terbesar minyak di Amerika Selatan, mengalami krisis parah yang melanda negara tersebut yang sangat bergantung kepada minyak. Inflasi terjadi hingga 4000% pada akhir tahun 2017 menyebabkan negara ini sepertinya akan bangkrut. Banyak masyarakat Venezuela yang kelaparan dan menderita penyakit karena tidak mampu membeli makanan dan membayar air bersih untuk keperluan sehari-harinya. Pemandangan memungut makanan dari tong sampah menjadi hal lazim yang dapat kita lihat di berbagai sudut kota negara tersebut. Dari berbagai peristiwa di atas, tentu saja kita dapat mendapatkan gambaran betapa besarnya pengaruh minyak bumi terhadap suatu negara. Bahkan dalam sekejap pun, minyak bumi dapat mengubah negara yang awalnya kaya menjadi miskin dan sebaliknya, negara yang miskin menjadi kaya. Melambungnya Harga Minyak dan Bagaimana Harga Minyak Kedepannya Beberapa bulan lalu, tepatnya bulan Desember 2017, dunia dikejutkan dengan harga minyak dunia Brent yang menyentuh 70US$/barrel untuk pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir. Kejadian ini pun membuat banyak orang bertanya mengenai apa penyebab terjadinya kenaikan harga minyak bumi. Keberhasilan pemenuhan pemotongan produksi oleh negara-negara OPEC sepertinya menjadi alasan utama mengapa kenaikan harga minyak dunia terus terjadi. Secara perlahan namun pasti, kebijakan ini membuahkan hasil yang cukup positif. Semenjak kebijakan ini pertama kali digulirkan pada akhir tahun 2016, harga minyak memang cenderung meningkat. Bergabungnya sejumlah negara-negara non-OPEC, seperti Rusia, turut andil berpengaruh terhadap harga minyak bumi yang mencapai 70 US$/barrel pada Desember 2017 dan Januari 2018. Kejadian meledaknya saluran pipa penyalur minyak ke pelabuhan Es Sider di Libya pun turut memberikan andil terhadap naiknya harga minyak di akhir tahun 2017. Perusahaan nasional minyak Libya mengatakan bahwa meledaknya pipa berpengaruh terhadap turunnya 70.000 â&#x20AC;&#x201C; 100.000 barrel per hari, dan dibutuhkan 2 minggu untuk memperbaiknya. Selain itu, pada waktu yang hampir bersamaan, salah satu pipa terpenting yang mengalirkan minyak dari North Sea ke UK, the forties pipeline, mengalami kerusakan. Pemilik pipa, Ineos, mengatakan kerusakan pada pipa yang mentransportasikan sekitar 40% minyak mentah dari North Sea mengharuskan pipa berhenti beroperasi selama tiga minggu. Pemberhentian operasional pipa ini pun menyebabkan terhentinya sekitar 80 platform minyak di North Sea.

29


Bukan hanya itu saja, bangkrutnya negara Venezuela yang mengalami krisis parah berdampak terhadap turunnya produksi minyak di negara tersebut. Negara dengan cadangan minyak cukup besar di dunia ini mengalami penurunan produksi minyak. Pada awalnya, produksi minyak venezuela berkisar di angka 2.5 juta barrel/hari, namun pada bulan Desember 2017, produksinya menurun hingga sekitar 1.6 juta barrel/ hari. Hal ini tentu saja menambah penderitaan bagi negara tersebut yang telah mengalami inflasi hingga 4000% pada tahun yang bersamaan. Selain itu, sanksi yang diberikan Amerika Serikat terhadap Iran akibat perakitan dan pengembangan senjata nuklir membuat negara tersebut kembali berpotensi menerima embargo ekspor minyak, yang turut menurunkan supply minyak dunia. Namun, di tengah harga minyak yang terus naik dan stabil di angka 68-70 US$/barrel, berbagai spekulasi mengenai harga minyak dunia kedepannya bermunculan. Salah satunya adalah beberapa negara OPEC yang memiliki niatan untuk mengakhiri kesepakatan pemotongan produksi. Namun, beberapa perdana menteri negara OPEC membantah adanya niatan tersebut dan berkomitmen untuk tetap melanjutkan pemotongan produksi hingga akhir tahun 2018. Di tengah harga minyak dunia yang semakin tinggi ini, beberapa orang mengkhawatirkan, apabila kenaikan minyak bumi ini tetap berlangsung, keuntungan yang sebagian besar pengusaha industri minyak harapkan akan berubah menjadi kerugian. Hal ini dikarenakan harga minyak yang tinggi tentu saja akan kembali mendorong lebih produksi minyak di berbagai negara khsususnya shale oil di Amerika Serika. Selain itu, Kanada dan Brazil pun berpotensi meningkatkan produksi minyak yang dapat menggantikan produksi Meksiko dan Venezuela yang mengalami penurunan beberapa tahun ini. Tentu saja, apabila kondisi ini tidak bisa dikendalikan, kejadian yang terjadi pada akhir tahun 2014 bisa saja kembali terulang. Sehingga diperlukan adanya strategi yang tepat bagaimana OPEC dan negara produsen minyak lainnya dapat menyeimbangkan supply dan demand untuk menjaga harga minyak tetap stabil.

30


Dana Stabilitas BBM Lebih Baik Dari Petroleum Fund!!! PENULIS : DEFRY ERWINSYAH UMRA LUBIS Industri minyak dan gas Indonesia pada awalnya dibentuk atas dasar kesadaran akan kebutuhan energi untuk menunjang kehidupan sehari - hari. Indikator tercapainya industry minyak dan gas Indonesia tentu kemampuan memenuhi kebutuhan energi secara berkelanjutan kepada rakyat Indonesia. Untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan energi tersebut, terdapat beberapa faktor yang saling terkait yaitu institusi, kebijakan, regulasi, investasi, dan perencanaan dan pelaksanaan. Sebagai energi tidak terbaharukan, minyak dan gas bumi sudah memiliki nilai sebelum di eksploitasi. Sehingga, dengan alasan keadilan energi, generasi selanjutnya seharusnya dapat menikmati energi yang sama dengan generasi yang mengeksplotasi minyak dan gas bumi saat ini. Terdapat beberapa cara dalam mewujudkan keadilan tersebut yaitu dengan mengefisienkan penggunaan minyak dan gas bumi, menggunakan energi alternatif, dan manajemen sumber daya alam yang bijaksana. Manajemen sumber daya alam adalah bagaimana memastikan keberlanjutan daripada lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk generasi sekarang maupun yang akan datang sesuai dengan prinsip -prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Manajemen sumber daya alam juga berfungsi sebagai cara menghindari resource curse yang biasa terjadi di negara berkembang. Terdapat berbagai cara untuk mencapai manajemen sumber daya alam, salah satunya melalui Petroleum Fund. Petroleum Fund merupakan cara untuk mengelola instrumen fiskal, mencapai keadilan antar generasi, dan merubah sumber daya menjadi aset produktif. Penggunaan minyak dan gas bumi pada tulisan ini dapat direpresentasikan dengan subsidi BBM. Subsidi merupakan suatu bentuk proteksionisme untuk menstimulasi perkembangan ekonomi suatu negara dengan menjual harga barang dibawah harga produksinya. Pada tahun 2015, pemerintah memutuskan untuk memangkas subsidi BBM dan melepaskan harga BBM sesuai harga minyak dunia dengan menerapkan jangka waktu atau range tertentu pada harga minyak dunia sebagai threshold dalam mengubah harga BBM di pasaran. Hal tersebut cukup menyebabkan beberapa demo yang terjadi di beberapa daerah walau tidak terlalu “panas”. Pelepasan harga BBM sesuai harga minyak dunia pada saat itu tidak menyebabkan kenaikan yang drastis dari Rp 6.500 menjadi Rp 6.900 karena harga minyak dunia pada tahun 2015 jatuh hingga lebih dari setengah harga tahun 2014. Kekhawatiran melonjaknya harga BBM sesuai dengan naiknya harga minyak dunia kedepan memunculkan istilah “Dana Stabilitas BBM” untuk menanggulangi tertekannya rakyat akibat fluktuasi harga BBM. Dana tersebut akan didapatkan dengan selisih harga sesungguhnya pada harga minyak dunia tertentu dan harga BBM di pasar ataupun jika ada penguatan nilai tukar rupiah dengan tetap menahan harga BBM di pasar. Jika terjadi lonjakan harga minyak dunia yang akan berimbas pada naiknya harga BBM yang melewati batas ambang, maka dana tersebut dapat digunakan untuk mengurangi kerugian negara akibat dampak sosial di masyarakat. Namun, bagaimana jika lonjakan harga minyak dunia akan stabil pada harga tinggi yang menyebabkan habisnya dana “tabungan” tersebut?

31


Apakah untuk menjaga kestabilan sosial akan mengambil dari APBN yang merupakan subsidi lagi? Bagaimana jika kenaikan harga minyak dunia berkelanjutan? Subsidi merupakan kebijakan yang baik untuk jangka pendek untuk mendorong infant industry, namun untuk jangka panjang subsidi akan banyak menimbulkan dampak buruk terhadap keefektifan pasar itu sendiri. Tetapi, sampai saat ini belum ada regulasi yang jelas tentang keberlanjutan Dana Stabilitas BBM ini di Indonesia.

Petroleum Fund umumnya dilaksanakan pada saat pendapatan negara sangat bergantung kepada sektor migas sehingga dapat menggunakan dana simpanan tersebut di kemudian hari saat negara sudah tidak dapat lagi bergantung kepada sektor migas. Pada gambar diatas dapat dilihat pendapatan negara sektor migas menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam pendapatan total Indonesia sebelum harga minyak dunia jatuh pada akhir tahun 2014. Pada sebelum tahun 2014 dan sesaat setelah fenomena oil boom merupakan waktu yang sangat tepat untuk menerapkan Petroleum Fund di Indonesia karena pendapatan sektor migas sangat tinggi pada tahun tersebut. Hal tersebut sesuai dengan terbentuknya Petroleum Fund dalam menghindari resource curse pada kejayaan sumber daya alamnya dan menyandarkan ekonominya ke sektor yang lebih berkelanjutan setelah tidak bisa bersandar pada sektor sumber daya alam.

32


Indonesia sepertinya serius dalam menerapkan kebijakan Petroleum Fund untuk mencapai energi berkeadilan dan menghindari resource curse walau sebenarnya banyak yang berpendapat sudah terlambat dengan mengubah UU Migas nomor 22 tahun 2001 dalam RUU Migas seperti dibawah ini BAB IX DANA MINYAK DAN GAS BUMI Pasal 54 (1) Menteri, Menteri Keuangan, dan Badan Pengusahaan wajib mengusahakan dan mengelola dana minyak dan gas bumi secara Bersama-sama dalam sebuah rekening bersama secara transparan dan akuntabel. (2) Dana minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penggantian cadangan minyak dan gas bumi, pengembangan energi terbarukan, dan untuk kepentingan generasi yang akan datang. (3) Dana minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari persentase tertentu: a. Hasil penerimaan kotor minyak dan gas bumi bagian Negara; b. Bonus-bonus yang menjadi hak pemerintah berdasarkan kontrak kerja sama dan Undang-Undang ini; c. Pungutan dan iuran yang menjadi hak Negara berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Pasal 55 Pengelolaan dana minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 wajib diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan Akuntan Publik. Pasal 56 Ketentuan lebih lanjut mengenai dana minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 dan Pasal 55 di atur dalam Peraturan Pemerintah. Dari RUU diatas, dapat dilihat bahwa masih ada ketidakjelasan perincian dari kebijakan petroleum fund di RUU Migas. Beberapa poin ketidakjelasan tersebut yaitu: 1. Tujuan penggunaan Petroleum Fund yang masih belum jelas apakah untuk eksplor asi energi baru atau pembangunan infrastruktur publik atau lainnya. 2. Badan pengelola Petroleum Fund yang masih belum jelas apakah langsung kemen trian atau badan independen khusus. 3. Peraturan Petroleum Fund di RUU Migas masih harus diperjelas mengenai konsep dan teknis dan membuat peraturan khusus yang rinci terkait Petroleum Fund.

33


Pembahasan diatas menunjukkan bahwa Petroleum Fund dan Dana Stabilitas BBM berbeda tujuan yaitu energi berkeadilan dan stabilitas sosial. Petroleum Fund pun merupakan kebijakan jangka panjang untuk kestabilan ekonomi suatu negara, sedangkan Dana Stabilitas BBM hanya kebijakan untuk jangka pendek jika terjadinya lonjakan harga minyak dunia. Namun, pada harga minyak dunia yang rendah lebih masuk akal diterapkannya Dana Stabilitas BBM dikarenakan pasti ada selisih antara harga pasar sebenarnya dan willingness to pay rakyat Indonesia. Sebaliknya, pada harga minyak dunia yang tinggi dan pendapatan negara sektor migas yang besar yakni rentang tahun 2008 â&#x20AC;&#x201C; 2014 seharusnya Indonesia sudah menerapkan Petroleum Fund untuk menstimulasi energi yang pada saat itu belum ekonomis agar dapat mengakomodir penurunan pendapatan negara sektor migas pada saat rendahnya harga minyak dunia sekarang. Keseriusan Indonesia untuk menerapkan Petroleum Fund dengan dimasukkannya kebijakan tersebut di dalam RUU Migas merupakan langkah baik. Meskipun Petroleum Fund tidak akan besar pada era sekarang ini, setidaknya jika diterapkannya Petroleum Fund dapat menarik minat investor migas dengan mensubsidi dana eksplorasi yang merupakan bagian paling berisiko di industri migas.

34


KAJIAN ENERGI DAN PUSAT DATA-PROPAGANDA

PATRA ENERGY REVIEW  

PATRA ENERGY REVIEW merupakan sebuah majalah dan bentukan kepeloporan dari Divisi Kajian Energi yang berada dalam Departemen Kajian dan Prop...

PATRA ENERGY REVIEW  

PATRA ENERGY REVIEW merupakan sebuah majalah dan bentukan kepeloporan dari Divisi Kajian Energi yang berada dalam Departemen Kajian dan Prop...

Advertisement