Issuu on Google+

ISSN: 1978-3833

JURNAL

KESEHATAN MASYARAKAT Volume 1/Nomor 2/Maret - September 2007

49 Memajukan Kabupaten Miskin dengan Competitive Advantage Rizanda Machmud

72 Konsumsi Suplemen Makanan dan Faktor-faktor yang Berhubungan pada Remaja SMA Islam Al-Azhar 3 Jakarta Selatan Tahun 2005 Mery Ramadani

ARTIKEL PENELITIAN

STUDI LITERATUR

54 Peta Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Kota Padang Tahun 2006 Zulkarnain Agus

77 Penyimpangan Seks (Pedofilia) Masrizal Khaidir

EDITORIAL

59 Analisis Tingkat Kepuasan Klien terhadap Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam Kota Padang Tahun 2006 Nizwardi Azkha, Deni Elnovriza

84 Vitamin A, Imunitas dan Kaitannya dengan Penyakit Infeksi Azrimaidaliza 91 Pemanfaatan Komposter Berskala Rumah Tangga Nizwardi Azkha

67 Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Melitus dengan Keterkendalian Kadar Gula Darah di Poliklinik RS Perjan Dr. M. Djamil Padang Tahun 2003 Isniati

Diterbitkan Oleh/Published by : PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG E-mail : jurnalkesmas@gmail.com Website : http://psikm.unand.ac.id/jurnal

Pemimpin Umum

:

Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Penanggungjawab

:

FK- UNAND

Ketua Redaksi

:

Dr. dr. Rizanda Machmud, MKes

Anggota Redaksi

:

Deni Elnovriza, STP, MSi Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, MPd, MSi Syafrawati, SKM Vivi Triana, SKM Masrizal, SKM Fivi Melva Diana, SKM

Penerbitan

:

2 x setahun (Maret, September)

Langganan

:

Rp.75.000,00 per tahun Rek. a/n Dr. H. Hafni Bachtiar, MPH No. Rek. 0051061837 BNI Padang Cabang Imam Bonjol

Alamat Redaksi

:

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK- UNAND Jln. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613

Jurnal Kesehatan Masyarakat merupakan majalah ilmiah Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UNAND. Redaksi menerima sumbangan naskah ilmiah di bidang Gizi, Epidemiologi, Kebijakan Kesehatan, Kesehatan Reproduksi dan bidang-bidang lain yang terkait dengan kesehatan masyarakat. Pedoman penulisan dapat dilihat pada halaman berikut ini. Jurnal Kesehatan Masyarakat dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya. i

PETUNJUK BAGI PENULIS 1. Jurnal ini memuat naskah di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat yang meliputi: Epidemiologi, Biostatistik, Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Kesehatan Lingkungan, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Gizi Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Reproduksi. 2. Naskah yang dikirimkan kepada redaksi adalah naskah hasil penelitian atau studi literatur yang belum pernah dan tidak akan dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk cetakan. 3. Naskah hasil penelitian memuat : judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan dan saran. Naskah studi literatur memuat unsur yang sama kecuali metode dan hasil. 4. Unsur-unsur naskah: a. Judul ditulis dengan singkat, maksimal 15 kata b. Identitas peneliti dicantumkan sebagai catatan kaki pada halaman pertama naskah c. Abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris dengan kata kunci dalam 1 (satu) paragraf dengan jumlah maksimal 200 kata. d. Pendahuluan tanpa sub judul, memuat latar belakang masalah, sedikit tinjauan pustaka serta masalah dan tujuan penelitian. e. Metode yang digunakan dijelaskan secara rinci, memaparkan disain atau rancangan penelitian yang digunakan, sasaran penelitian (populasi, sampel dan sumber data), teknik dan instrumen pengumpulan data yang menggambarkan teknik atau prosedur analisis data. f. Pembahasan menginterpretasikan secara tepat hasil penelitian, mengaitkan secara argumentatif temuan penelitian dengan teori yang relevan, menggunakan bahasa dialog yang logis, sistematik dan mengalir g. Tabel diketik satu spasi dengan nomor yang sesuai dengan penyebutan dalam teks. Jumlah maksimal 6 tabel dengan judul singkat. Semua singkatan yang tidak baku dijelaskan dalam catatan kaki. h. Kesimpulan dan saran menjawab masalah penelitian, dibuat berdasarkan hasil penelitian, dan tepat guna. i. Rujukan ditulis sesuai dengan penulisan vancouver, diberi nomor urut sesuai dengan pemunculan dalam keseluruhan teks, dibatasi 25 rujukan. Nama penulis yang dicantumkan maksimal 6 orang, selebihnya diikuti et al. 5. Naskah diketik menggunakan program MS-Word, font Times New Roman 12, spasi ganda, garis tepi kiri 4 cm, tepi kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm. 6. Tebal naskah 8-15 halaman. Naskah dikirimkan dalam bentuk CD dan print out. 7. Naskah dikirim kepada: Redaksi Jurnal Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand Jln. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613 Fax. (0751) 38613

ii

DAFTAR ISI EDITORIAL Memajukan Kabupaten Miskin dengan Competitive Advantage (53-58) Rizanda Machmud ARTIKEL PENELITIAN Peta Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Kota Padang Tahun 2006 (59-63) Zulkarnain Agus Analisis Tingkat Kepuasan Klien terhadap Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam Kota Padang Tahun 2006 (64-72) Nizwardi Azkha, Deni Elnovriza Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Diabetes Melitus dengan Keterkendalian Kadar Gula Darah di Poliklinik RS Perjan Dr. M. Djamil Padang Tahun 2003 (73-77) Isniati Konsumsi Suplemen Makanan dan Faktor-faktor yang Berhubungan pada Remaja SMA Islam Al-Azhar 3 Jakarta Selatan Tahun 2005 (78-82) Mery Ramadani STUDI LITERATUR Penyimpangan Seks (Pedofilia) (83-89) Masrizal Khaidir Vitamin A, Imunitas dan Kaitannya dengan Penyakit Infeksi (90-96) Azrimaidaliza Pemanfaatan Komposter Berskala Rumah Tangga (97-99) Nizwardi Azkha HIMA PSIKM FK Unand dalam sorotan (100-103)

iii

DARI REDAKSI

Ada kesibukan baru di lingkungan kantor PSIKM. Beberapa staf tampak sibuk menyiapkan proposal, undangan, leaflet, spanduk dan lainlain. Ada apa? Ya, ternyata akan ada Seminar Nasional tanggal 28 Juli mendatang di Ballroom Pagaruyung, Rocky Hotel. Tema yang diangkat adalah Peran Profesi Kesehatan Masyarakat menuju Millenium Development Goals (MDGs). Pembicara yang diundang adalah Prof. DR. dr. Azrul Azwar, MPH anggota Dewan Pembina IAKMI Pusat dan Prof. Dr. Amal C. Sjaaf , SKM, Dr. PH, konsultan Kesehatan Masyarakat dari FKM UI. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Kongres I Ikatan Alumni PSIKM FK Unand dan Musyawarah Daerah IAKMI Sumbar. Kenapa tema diatas menjadi menarik? Tentu saja, karena terdapat 3 tujuan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat dari 8 tujuan yang hendak dicapai dalam MDGs, yaitu penurunan angka kematian bayi dan balita, peningkatan kesejahteraan ibu, penanggulangan HIV/ AIDS dan penyakit menular lainnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan masyarakat untuk ikut serta dalam pencapaian tujuan- tujuan tersebut. Ulasan dari kedua nara sumber yang sangat berkompeten ini

iv

diharapkan mampu membukakan wawasan dan cara pandang profesi kesehatan masyarakat untuk turut serta dalam pencapaian tujuan MDGs baik untuk skala lokal maupun Nasional. Pembaca yang budiman, pada edisi kali ini ada ulasan yang menarik tentang Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Kota Padang. Dari studi yang dilakukan oleh Zulkarnain Agus (2006) didapatkan hasil bahwa telah terjadi peningkatan prevalensi Gondok endemik secara bermakna , yaitu 300 % dalam 8 tahun terakhir yaitu dari 8.5 % pada tahun 1998 menjadi 26.3 % pada tahun 2006. Ulasan tentang konsep competitive adventage dan kaitannya dalam memajukan kabupaten miskin untuk mencapai tujuan memberantas kemiskinan dan kelaparan sebagai mana yang ingin dicapai dalam MDGs bisa juga anda simak dalam editorial. Masih banyak lagi artikel menarik yang dapat anda baca pada edisi kali ini. Tentunya redaksi menunggu naskah ilmiah anda untuk dibagikan kepada khalayak. Selamat membaca.

Redaksi

EDITORIAL

MEMAJUKAN KABUPATEN MISKIN DENGAN COMPETITIVE ADVANTAGE Rizanda Machmud* ABSTRAK Kemiskinan merupakan hulu dari berbagai permasalahn yang ada seperti tingginya angka kesakitan dan kematian, pengangguran, gizi buruk , rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Upaya menghilangkan kemiskinan dirasakan selama ini masih dalam bentuk parsial, belum secara holistik. Pada makalah ini diberikan suatu pemikiran pentingnya keunggulan bersaing suatu daerah (yang merupakan tipikal masing masing daerah) dengan melakukan clustering, dalam memajukan kabupaten tersebut. Tidak ada pola satu resep untuk penanggulangan kemiskinan ini, penanganan kemajuan suatu kabupaten harus sesuai dengan pola individualistik kabupaten masing-masing.

PENDAHULUAN Keunggulan bersaing daerah (competitif advantage of nation) adalah kemampuan pemerintah daerah untuk mengenali setiap potensi daerahnya dan kemudian mengembangkannya semaksimal mungkin. Keunggulan bersaing daerah juga menggunakan tenaga kerja, sumber dana dan sumber alam daerahnya sendiri. Daerah tersebut mampu berkompetisi dalam menawarkan keseluruhan lingkungan produktif daerahnya untuk dijadikan bisnis (Porter, 2003) Contoh kasus yang dapat melakukan keunggulan bersaing (competitive advantage) adalah kota Guang Zou China, pemerintah China berhasil melihat potensi masyarakatnya, dan memiliki pola dalam pengembangan ke depan kota tersebut. Pemerintah China berhasil meyakinkan investor bahwa sangat menguntungkan bila berinvestasi di Guang Zou. Penduduk Guang Zou sangat mahir dalam pembuatan tas, sepatu, asesoris. Pemerintah mengundang investor untuk menanamkan modal dalam pembuatan barang-barang tersebut dengan ongkos produksi yang amat murah. Sektor industri bergerak, pendapatan rumah tangga meningkat, pembangunan di sektor lain ditingkatkan. Perkembangan infrastruktur berkembang cepat, agar banyak pembeli China * Staf Pengajar PSIKM FK UNAND

mempersiapkan sektor pariwisata. Sehingga terkenal kota ini sebagai kota pariwisata dengan produkproduk bermerek dengan harga ’miring’ Data menunjukkan setelah kematian Mao tahun 1976. Presiden Deng Xiao Ping menjadi pengganti, dan membuka pintu China, setelah puluhan tahun tertutup secara sosial di dunia. Hanya dalam 20 tahun China bisa berubah menjadi negara yang patut diperhitungkan dalam perekonomian dunia. Export China yang dulu hanya 20 juta dollar per tahun naik menjadi 350 juta pertahun hanya dalam 20 tahun. Suatu sukses yang luar biasa, China mampu melakukan kompetisi di pasar dunia (Sach, 2003). Terdapat empat determinan yang harus diperhatikan karena amat menunjang suatu daerah agar berhasil dalam mewujudkan keunggulan bersaing daerah ini, yaitu (Gambar 1); 1. Kondisi Faktor (Factor conditions), yaitu posisi daerah dalam faktor produksi seperti ketersediaan tenaga kerja yang terlatih, sumber pendanaan, infrastruktur dalam administratif, informasi, tekhnologi, sumber daya alam. Faktor-faktor ini amat penting dalam mengkreasikan keunggulan bersaing daerah yang tidak dimiliki daerah lainnya. 2. Kondisi Demand (demand conditions), alamiah permintaan yang dibutuhkan pelanggan lokalnya terhadap industri, spesialisasi segmen. 3. Industri yang mendukung atau berhubungan (related and supporting industries). Keberadaan

53

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

di daerah tersebut industri yang mensuplai kebutuhan industri, adanya cluster yang mensuplai segala kebutuhan industri di daerah tersebut. 4. Peraturan daerah yang mendukung investasi dan perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual Gambar 1. Produktivitas dan Lingkungan Bisnis

Sumber : Modifikasi Porter, Michael E, 2003 Microeconomic foundations of competitiveness – A new agenda for international aid institutions. Workshop with the UNDP Leadership Team New York, 18 november

daerah memiliki arahan dalam mengeluarkan budget dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ada sesuai dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan. 2. CLUSTERING DALAM KEUNGGULAN BERSAING DAERAH Clustering merupakan pengelompokan sektor-sektor yang menunjang industri potensi daerah dan kemudian berkembang secara dinamis. Dalam pembuatan cluster ini kita mengetahui sektor mana yang akan kita lakukan pendekatan secara terintegrasi dengan berbasis kerangka Porter tersebut. Hasil dari cluster ini, kita akan memiliki jenis kegiatan yang akan kita lakukan, yang selanjutnya pemerintah daerah memiliki arahan dalam mengeluarkan budget dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ada sesuai dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Berikut contoh gambaran kegiatan dalam cluster (Gambar 2), jika potensi yang ada adalah potensi pariwisata. Gambaran cluster ini merupakan cluster pariwisata dari negara Australia (Porter, 2003).

Keunggulan bersaing daerah akan memberikan dampak yang baik sekali, dimana akan terjadi pergeseran wewenang untuk perkembangan ekonomi. Model lama, pemerintah saja mengarahkan perkembangan ekonomi melalui langkah-langkah kebijakan dan insentif. Pada model baru, perkembangan ekonomi adalah suatu proses kolaborasi yang melibatkan pemerintah pada berbagai level, perusahaan, pengajaran, institusi penelitian, dan kolaborasi instansi yang ada (Porter, 2003). 1. CLUSTERING DALAM KEUNGGULAN BERSAING DAERAH Clustering merupakan pengelompokan sektor-sektor yang menunjang industri potensi daerah dan kemudian berkembang secara dinamis. Dalam pembuatan cluster ini kita mengetahui sektor mana yang akan kita lakukan pendekatan secara terintegrasi dengan berbasis kerangka Porter tersebut. Hasil dari claster ini, kita akan memiliki jenis kegiatan yang akan kita lakukan, yang selanjutnya pemerintah

54

Gambar 2.Contoh Pola Cluster Pariwisata Australia Sumber : Modifikasi Porter, Michael E, 2003. Microeconomic foundations of competitiveness – A new agenda for international aid institutions. Workshop with the UNDP Leadership Team New York, 18 november

Contoh lainnya cluster untuk industri tambak udang (Gambar 3), gambar kegiatan dalam cluster adalah sebagai berikut. Gambaran kegiatan cluster tambak udang ini contoh dari negara Equador (Porter, 2003)

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Program IDT adalah ini program untuk menumbuhkan dan memperkuat kemampuan penduduk miskin untuk meningkatkan taraf hidupnya. Program ini diarahkan pada pengembangan sosial ekonomi untuk mewujudkan kemandirian penduduk miskin di desa tertinggal dengan menerapkan prinsip gotong royong, keswadayaan dan partisipasi. Dana program IDT sebesar Rp 20 juta per desa. Permasalahan pelaksanaan IDT salah satunya kesulitan dalam menyalurkan juga memasarkan hasil produksi yang telah meningkat karena adanya program ini (Kartasasmita, 1997). Ini menunjukkan kegagalan yang terjadi karena program yang ada tidak dibuat dengan program cluster kegiatan. Gambar 3. Contoh Pola Cluster Tambak Udang Equador Sumber : Modifikasi Porter, Michael E, 2003. Microeconomic foundations of competitiveness – A new agenda for international aid institutions. Workshop with the UNDP Leadership Team New York, 18 november

Dengan adanya cluster ini akan meningkatkan produksi dan efisiensi. Efisien akses terhadap apa yang diinginkan, pelayanan, pekerja, informasi, institusi, dan public good. Meringankan kooordinasi, akan terjadi difusi yang cepat, perbandingan kinerja yang jelas, cepat melakukan perbaikan jika ada masalah, ini sangat diperlukan dalam menghadapi pesaing untuk memuaskan pelanggan (Porter, 2003). Cluster juga akan merangsang untuk selalu melakukan inovasi dan perkembangan. Pengetahuan untuk selalu berkreasi lebih juga bertambah, mencegah upaya sekedar ’coba-coba’ apa yang dilakukan hanya untuk kepuasan pelanggan. Kelebihan lainya, dengan cluster akan timbul usahausaha baru untuk menunjang bisnis, sehingga industri terus bertumbuh (Porter, 2003). Melihat bagaimana suatu daerah bisa mengikuti keunggulan bersaing, maka terdapat kelemahan-kelemahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah di Indonesia. Penanganan potensi daerah untuk pendekatan sektor, belum terpadu. Kelemahan lainnya, jenis-jenis kegiatan yang melingkupi dan dibutuhkan industri potensial tersebut, belum dalam bentuk cluster. Contoh pentingnya dibuat cluster dalam kegiatan competitive advantage di suatu daerah adalah sebagai berikut; Indonesia dalam penangulangan kemiskinan ini sudah memiliki program antara lain; Program Inpres Desa Tertinggal (IDT).

2. HUBUNGAN INDUSTRI, PEMERINTAH, DAN RUMAH TANGGA Dalam rangka mengurangi jumlah penduduk miskin di dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2000 telah mendeklarasikan Millenium Development Goals atau MDGs. Dalam deklarasi tersebut,diharapkan seluruh negara anggota PBB, melalui berbagai upaya serius, dapat mengurangi jumlah penduduk miskin dan kekurangan pangan hingga mencapai 50% pada tahun 2015 (Sumodiningrat, 2005). Banyaknya penduduk miskin salah satunya disebabkan banyaknya jumlah penduduk usia produktif yang menganggur atau tidak bekerja, baik secara terbuka maupun semi pengangguran. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sarkesnas) Biro Pusat Statistik (BPS), Bappenas menggambarkan sekaligus memprediksikan terjadinya trend peningkatan pengangguran terbuka dari tahun 2000 sampai 2009. hal ini berakibat pada pertambahan penduduk miskin (Sumodiningrat, 2005). Hubungan antara pemerintah, industri, dan rumah tangga digambarkan dalam teori makro ekonomi. Pengkajian yang akan dilakukan adalah corak kegiatan perekonomian modern. Kegiatan perindustrian yang berkembang di suatu daerah akan menambah pendapatan keluarga, dalam perekonomian yang lebih maju penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung. Tabungan ini aka dipinjamkan kepada pengusaha dan mereka menggunakan itu untuk investasi. Investasi akan menambah jumlah barang modal yang tersedia dan meninggikan kemampuan perekonomian menghasilkan barang-barang

55

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

kebutuhan masyarakat. Sebagai balas jasa kesediaan penerima pendapatan untuk menabung dan seterusnya dipinjamkan ke pengusaha, pengusaha akan membayar bunga ke seluruh tabungan yang disediakan sektor rumah tangga. Perputaran ini yang dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga (Samuelson, 1998).

Gambar 29. Sirkulasi Aliran Pendapatan Modern Sumber : Modifikasi Sukirno Sadono, 1998 Pengantar teori makroekonomi. Edisi kedua. PT Raja Grafindo Persada Jakarta

Dengan adanya bentuk cluster dalam keunggulan bersaing suatu daerah, secara tidak langsung akan merubah lingkungan daerah tersebut menjadi berkembang lebih baik lagi. 3. KEGIATAN PROGRAM KESEHATAN TERPADU DALAM KEUNGGULAN BERSAING DAERAH Pola pikir yang sama untuk program kesehatan terutama program kesehatan yaitu, perlu dasar pemikiran ’global’ bukan linier. Begitu juga ketika melihat pola masalah kesehatan harus besamasama bahwa kesehatan juga merupakan satu bagian dari keunggulan bersaing daerah. Perubahan kejadian penyakit terjadi karena adanya perubahan-perubahan dari determinan kesehatan. Adanya variasi tingkat dalam determinant ini, diperlukan pendekatan secara integrated multistate population health modelling. Pendekatan terpadu dapat menjelaskan berbagai kejadian faktorfaktor risiko, penyakit serta hubungan sebab akibat (Niessen, 1997). Pengembangan konsep Manajemen P2M & PL Terpadu Berbasis Wilayah (selanjutnya disingkat

56

Manajemen P2M & PL Terpadu) diperkenalkan oleh Dirjen P2M dan PL pada tahun 2002 (Fahmi, 2002). Dalam proyek ICDC telah dikembangkan berbagai model inovatif dalam rangka meningkatkan kinerja program P2M dan PL. Setelah dilaksanakan selama 5 tahun, Dirjen P2M dan PL berkesimpulan bahwa proyek tersebut harus menghasilkan suatu sistem manajemen P2M & PL terpadu yang dapat diterapkan di tingkat kabupaten dan kota (Depkes, 2004) . Manajemen P2M dan PL Terpadu adalah tatalaksana pemberantasan dan pengendalian penyakit dengan cara mengendalikan sumber penyakit dan atau berbagai faktor risiko penyakit secara paripurna, dalam satu perencanaan dan tindakan yang terintegrasi berdasar pada fakta yang dikumpulkan secara sistematik periodik dan terpercaya, dalam satu wilayah (Depkes, 2004) . Kata wilayah memiliki 2 pengertian. Pertama, wilayah dalam pengertian ekosistem. Penyakit menular memiliki akar kuat (bounded) ke dalam ekosistem, terutama yang ditularkan oleh binatang penular atau melalui reservoir penyakit. Kedua, wilayah bisa bermakna wilayah kewenangan administratif pembangunan seperti kabupaten dan pemerintah kota. Dengan demikian, pemberantasan penyakit menular meski secara administratif merupakan kewenangan para bupati dan walikota. Masalah penyakit menular pada hakekatnya adalah borderless, atau lintas batas. Beberapa penyakit menular memiliki sifat lintas batas negara dan antarwilayah, khususnya berkaitan dengan dinamika mobilitas penduduk, barang, dan jasa (teknologi). Oleh sebab itu kerjasama antar wilayah administratif/ negara amat diperlukan (Depkes, 2004). Upaya untuk mengembangkan Manajemen PPM-PL Terpadu pada wilayah kabupaten/kota yaitu tatalaksana pemberantasan dan pengendalian penyakit menular dengan cara mengendalikan sumber penyakit, faktor risiko lingkungan dan faktor risiko perilaku penduduk secara paripurna di berbagai sarana kesehatan di kabupaten/kota. Manajemen PPM & PL Terpadu direncanakan secara terintegrasi berdasarkan fakta dari hasil kajian tim surveilans epidemiologi yang dikumpulkan secara sistematik, periodik, dan terpercaya. Dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan mitra kerja serta penguasa wilayah lain/tetangga yang mempunyai ekosistem yang sama. Pada kenyataannya, kegiatan terpadu dengan lintas batas sangat sulit dilakukan. Hal ini terjadi karena dasar pemikiran pengambil kebijakan masih

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

berpikiran linier. I.ni dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan, belum berupa cluster kegiatan. Bila sudah dalam cluster kegiatan, pengganggaran kegiatanpun akan dalam bentuk cluster pengganggaran terpadu juga. Bila dilihat dari kegiatan Manajemen P2M – PL Terpadu untuk penanggulangan pneumonia balita, kegiatan kesehatan juga harus mengikuti individualistik pola kabupaten. Kegiatan yang terbentuk dengan landasan competitive advantage teori Porter, mengkaji pada empat faktor dan bentukan cluster kegiatan kesehatan yang terintegrasi dengan daerah. Berdasarkan hasil pada prevalensi kabupaten yang bervariasi ini, tampaknya penentuan target angka kesakitan balita akibat pneumonia balita perlu disesuaikan per kabupaten. Pada beberapa kabupaten memang telah di bawah target, tetapi masih ada kabupaten yang memiliki angka kesakitan akibat pneumonia balita yang cukup tinggi. Pandangan baru dalam pembangunan kesehatan yang dicanangkan sejak tahun 1999 adalah paradigma sehat. Maknanya, perencanaan pembangunan dan pelaksanaan di semua sektor harus mampu mempertimbangkan dampak negatif dan positif terhadap kesehatan, individu dan masyarakat. Upaya kesehatan yang dilakukan perlu lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat preventif dan promotif yang proaktif, tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Dengan kebijakan desentralisasi, program kesehatan dalam konteks otonomi penuh kabupaten dan kota sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain pemahaman dari pimpinan kabupaten yaitu Bupati, DPRD, dan jajaran kepala dinas tentang makna sehat. Pencanangan gerakan pembangunan berwawasan kesehatan merupakan dasar yang kuat

untuk pengalokasian dana sektor kesehatan terutama untuk masyarakat miskin serta upaya-upaya dalam peningkatan pembangunan kesehatan penduduk. Pemerintah perlu menekankan pada pelayanan yang mempunyai dampak pada masyarakat luas ’public good’ serta melindungi masyarakat miskin untuk tetap dapat menjangkau pelayanan kuratif yang mereka perlukan. KESIMPULAN Keunggulan bersaing daerah (competitif advantage of nation) adalah kemampuan pemerintah daerah untuk mengenali setiap potensi daerahnya dan kemudian mengembangkannya semaksimal mungkin. Dampak yang didapatkan sangat baik sekali, dimana terjadi perkembangan ekonomi yang merupakan proses kolaborasi yang melibatkan pemerintah pada berbagai level, perusahaan, pengajaran, institusi penelitian, dan kolaborasi instansi yang ada. Peranan Clustering dalam keunggulan bersaing daerah adalah dengan melakukan pengelompokan sektor-sektor yang menunjang industri potensi daerah dan kemudian berkembang secara dinamis. Dalam pembuatan cluster ini kita mengetahui sektor mana yang akan kita lakukan pendekatan secara terintegrasi dengan berbasis kerangka Porter. Hasil dari cluster ini, kita akan memiliki jenis kegiatan yang akan kita lakukan, yang selanjutnya pemerintah daerah memiliki arahan dalam mengeluarkan budget dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ada sesuai dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Sementara itu peranan kesehatan harus beriringan dan menyatu dengan konsep competitive advantage dari masing-masing kabupaten. Tidak menyama-ratakan program kesehatan untuk seluruh kabupaten. Tiap kabupaten/kota memiliki karakteristik program kesehatan masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA 1. Departeman Kesehatan Republik Indonesia, 2004 Pelatihan Manajemen P2M & PL Terpadu Berbasis Wilayah kabupaten/Kota Modul Analisis Faktor Risiko Lingkungan. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta 2. Departeman Kesehatan Republik Indonesia, 2004 Pelatihan Manajemen P2M & PL Terpadu Berbasis Wilayah kabupaten/Kota Modul Tim epidemiologi Kabupaten dan Tim Epidemiologi Puskesmas (TEK dan TEPUS). Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit menular dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta 3. Kartasasmita Ginanjar, 1997 Kemiskinan. Balai Pustaka. Jakarta, 110h.

4. Niessen LW en Hilderink HBM,1997 The population and health model. Ch 4 in: Rotmans J and De Vries (eds): Perspectives on global change: the TARGETS approach. Cambridge UP. 5. Porter, Micchel E, 1990 The competitive advantage of nations. The Free Press, New York 6. Porter, Michael E, 2003 Microeconomic foundations of competitiveness – A new agenda for international aid institutions. Workshop with the UNDP Leadership Team New York, 18 november 7. Sach D Jeffrey, 2003Economic reform in emerging economies, Public lecture, January 14th 8. Sach D Jefrey, 2003 Ending Global Poverty. Humanitarian

57

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Intervention Today: New Issues, New Ideas, New Players, September 24 9. Sach D Jeffrey, 2003 Achieving the Millenium goals: Health in the Developing World. The Second Global Consultation of the Comission on Macroeconomics and Health Geneva, October 29th 10. Sach D Jeffrey, 2003 Lessons for Brazil from China’s succes, San Paulo, November 5, 2003 11. Sach D Jeffrey, 2004 Stages of economic Development, Chinese Academy of Arts and Sciences. Beijing, June 19 12. Sach D Jeffrey, 2004 Plan aims to end extreme poverty: if

58

aid pledges are honoured, goal is attainable, UN told 13. Sach D Jeffrey, 2005 The end of Poverty. Publish monthly in US by Penguin. 14. Sach D Jeffrey, 2005 The end of Poverty: In a world of plenty, 1 billion peopleare so poor, their lives are in danger. How to change that for good. Time , March 14. 15. Samuelson Paul A; Nordhaus William D, 1998 Economics. Sixteenth editionIrwin McGraw-Hill 16. Sumodiningrat Gunawan, 2005 MDGs dan Indonesia. Kompas, Sabtu, 6 Agustus 2005.

ARTIKEL PENELITIAN

PETA PREVALENSI GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY) DI KOTA PADANG TAHUN 2006 Zulkarnain Agus*

ABSTRACT Iodine Deficiency Disorders (IDD) are symptoms can prominence because of deficiency iodine in a long period, specially influenced by environment factors where land water in that area are poor of iodine, especially in montinous area In contras, Padang is a coastal area of West Sumatera province but has a high prevalence of IDD. National mapping of IDD figures that Total Goiter Rate (TGR) in Padang district increased during the last 8 years, it was increased from 8.5 % in 1998 to 21.6 % in 2003. The objectives of the study were to know goiter prevalence among the schoolchildren based on thyroid gland palpation. This study was an observational study with cross sectional design and conducted in all subdistrict . Samples i this study were design as cluster sampling, where 3 primary school in each subdistric were selected by epidemiological recommendation as coastal and hinterland area, traditonal and modern villages. There were 3419 schoolchildren from 8 to 12 years old from 11 subdistricts of Padang. The goiter prevalence data collected by using palpation method and conducted by trained health center doctors. Based on this data collection, total goiter rate was 26.4 %, it was increased about 23.9 % from 21.6 in 2003 to 26.4 % in 2006. The prevalence of TGR was high in 3 sub districts, it was more than 30 % or severe endemic areas, namely as Bungus Teluk Kabung, Koto Tangah and Kuranji subdsitricts. There was no significant different of TGR prevalence between coastal and hinterland areas, but the significant different of TGR prevalence were showed between TGR of schoolcheldren in area of traditional and modern or new villiges TGR of traditional villiges was 43.9 %, while in modern or new villiges was only 18.1 %. Keywords : IDD, TGR, Schoolchildren

PENDAHULUAN Masalah Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan ribuan tahun sebelum Masehi, seperti tergambar pada patung ataupun relief di berbagai tempat di dunia. Upaya penanggulangannyapun sudah dilakukan pula di berbagai belahan dunia sejak ribuan tahun yang lalu. Referensi tertua dikenal adalah buku yang paling awal menulis tentang kelainan yang disebut gondok itu diterbitkan pada zaman Dinasti Shen Nung (2838-2698 SM), yaitu buku Pen-Ts’ao Tsing (pengobatan dengan daun rumput) dan akar tanaman laut. Di buku itu ditulis bahwa rumput laut Sargassum sangat efektif untuk pengobatan goiter. Akan tetapi ribuan tahun kemudian GAKY masih menjadi masalah besar dan tersebar

* Staf Pengajar PSIKM FK-UNAND

hampir di seluruh belahan bumi. 1 Banyak negara di dunia yang berhasil dalam penanggulangan GAKY, seperti Amerika Serikat, negara-negara di Eropa Timur, Republik Rakyat China dan lain-lain, akan tetapi banyak pula negara yang kurang berhasil, pada umumnya di negara berkembang terutama di Asia dan Afrika salah satu diantaranya adalah Indonesia. Kota Padang termasuk salah satu wilayah endemik sedang. Situasi ini tampak dari hasil pemetaan GAKY Nasional tahun 2003 dengan meningkatnya prevalensi GAKY pada murid Sekolah Dasar dari 8.5 % pada tahun 1998 menjadi 10.8 % pada tahun 2003. Ini berarti TGR pada tahun 2003 adalah 21,5 %.Di beberapa propinsi terlihat pula daerah-daerah endemik sedang dan berat yang baru, seperti beberapa daerah pantai di Jawa Timur dan Sumatera Barat.2 Rendahnya asupan (intake) yodium sebagai

59

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

akibat dari rendahnya kandungan yodium pada air dan tanah mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, sehingga terbentuk daerah endemik gondok di berbagai daerah di tanah air. Kekurangan yodium di Indonesia sudah sudah dikenal sejak tahun 1927, ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia mulai dari ujung utara (Aceh) pulau Sumatera sampai ke Papua. Penanggulangannya telah diupayakan sejak 1927 itu dengan memperkenalkan garam beryodium dengan konsentrasi 1 :200.000 atau 5 ppm., khususnya di daerah Pegunungan Dieng dan Tengger di pulau Jawa. Kemudian , tahun 1928 diperluas ke daerah Gayo Alas di Aceh dan tahun 1933 juga meliputi Keresidenan Kediri di pulau Jawa. 4 Simons tahun 1939 menulis bahwa pencegahan gondok dengan yodisasi garam merupakan intervensi yang kecil sekali resikonya. Pada saat itu garam briket (balok) mulai di produksi di pulau Madura. Di Pulau Sumatera pada literatur lama ditulis tentang daerah gondok mulai dari Aceh, Siantar Binjai, Padangpanjang dan sekitar Danau Singkarak. Pada tahun 1939 atau sekitar tahun 1940 kadar yodium dalam garam ditingkatkan menjadi 1:100.000 atau 10 ppm. Uji coba dilakukan oleh Van Veen di Kintamani (Bali) Pada tahun 1953 diketahui pula adanya daerah gondok endemik yang luas di pulau Kalimantan, bahkan sampai ke daerah pantai di Brunei. Di daerah itu ditemukan prevalensi goiter yang bervariasi sekali, umumnya dari 1 % sampai 25 %, bahkan terdapat pula daerah dengan prevalensi (waktu itu) 33,6 %. Untuk menanggulangi gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) itu, sejak tahun 1976 secara nasional telah dilaksanakan berbagai upaya seperti penyuntikan yodium dalam minyak (suntikan Lipiodol), fortifikasi garam konsumsi dengan yodium, pendistribusian kapsul yodium dalam minyak. Dari target penyuntikan sebanyak 3.952.035 jiwa selama Repelita IV telah dapat diberikan suntikan untuk 3.547.796 penduduk atau sekitar 90 % dari target. 3 Mulai periode tahun 1990-an diperkenalkan pula kapsul minyak beryodium yang diberikan sekali dalam setahun untuk kelompok rawan di daerah endemik berat dan sedang. Disamping itu dilakukan pula penyempurnaan monitoring dan evaluasi yodisasi garam Hasilnya jelas sekali, telah terjadi penurunan prevalensi GAKY, dan penurunan jumlah anak yang

60

dilahirkan dengan gejala kretinism. Hampir di semua daerah. Akan tetapi dalam 5-10 tahun terakhir terjadi fenomena yang menarik, dimana terjadi penurunan prevalensi GAKY yang sangat lambat, bahkan terdapat gejala meningkatnya Total Goiter Rate (TGR) di beberapa daerah pesisir dan kepulauan, seperti Maluku, Nusa Tenggara Barat, Kota Padang dan lain-lain. Pada survei pemetaan GAKY nasional tahun 1998, prevalensi GAKY pada murid Sekolah Dasar di Kota Padang hanya 8.5 %, akan tetapi pada survei nasional pemetaan GAKY tahun 2003 angka TGR ini naik secara bermakna menjadi 21.5 %, karena kecilnya sampel pada survei itu, maka tidak bisa dipetakan prevalensi GAKY menurut kecamatan, sehingga timbul berbagai pertanyaan, yaitu : 1. Bagaimana Peta GAKY menurut kecamatan yang ada di Kota Padang ? 2. Berapa TGR di Kota Padang saat ini, bagaimana sebarannya menurut kecamatan –kecamatan. ? 3. Apakah ada hubungan antara angka TGR dengan letak geografis dan kemajuan pembangunan disuatu daerah? Untuk menjawab pertanyaan itu telah dilakukan survei pemetaan GAKY di Kota Padang melalui kerjasama BAPPEDA dan Dinas Kesehatan Kota Padang dengan Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Unand. Pertanyaan-pertanyaan diatas diharapkan terjawab melalui survei ini, sehingga dapat dijadikan referensi dalam menyusun program penanggulangan selanjutnya. Secara spesifik survei tersebut bertujuan untuk diperolehnya : 1. Total Goiter Rate (TGR) Kota Padang 2. TGR setiap kecamatan, sehingga dapat dibuat peta GAKY di Kota Padang 3. Determinan GAKY yang penting. Dari studi ini dapat diperoleh manfaat bagi masyarakat, juga pemerintah, khususnya instansi terkait, termasuk swasta, seperti Pemerintah Kota (termasuk DPRD), sektor-sektor pembangunan seperti pendidikan, kesehatan, kepemudaan, perindustrian, perdagangan dan lain-lain. MATERI DAN METODA PENELITIAN Studi pemetaan GAKY di Kota Padang didisain sebagai studi diskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan dilaksanakan selama bulan April 2006. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh murid Sekolah Dasar/

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) yang berada di Kota Padang. Sampel dipilih secara multistage random sampling dengan klaster Sekolah Dasar (SD), dengan mempertimbangkan aspek epidemiologik dari GAKY seperti faktor risiko, letak geografis dan sosiobudaya masyarakat Kota Padang, sehingga pada langkah pertama kecamatan di Kota Padang dibagi menjadi : 1. Kecamatan yang memiliki pemukiman penduduk di daerah pantai, yaitu. Bungus Teluk Kabung, Padang Selatan, Padang Barat, Padang Utara, Koto Tangah dan Lubuk Begalung. 2. Kecamatan dengan pemukiman di daerah pedalaman (hinterland), yaitu Pauh, Kuranji, Nanggalo, Lubuk Kilangan dan Padang Timur Langkah ke dua adalah memilih 3 SD dari tiap kecamatan yang mewakili karakteristik, pemukiman lama (kampung) dan pemukiman baru (real estate). Dari setiap kecamatan dipilih 3 kluster SD yang memenuhi kriteria di atas dan dari setiap SD terpilih secara acak sederhana 100 murid usia 6-12 tahun dan belum akil balig. Apabila di SD tersebut jumlah murid yang memenuhi kriteria inklusif beberapa orang lebih dari 100 orang maka semua murid dijadikan sampel. Kriteria eksklusi adalah murid absen waktu penelitian, tidak bersedia diperiksa dan dalam keadaan tidak sehat. Tabel 2.1. Jumlah Sampel Menurut Kecamatan di Kota Padang

Kecamatan Padang Barat Nanggalo Bungus Padang Utara Koto Tangah Padang Selatan Kuranji Padang Timur Pauh Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Total

1. Data yang dikumpulkan meliputi profil daerah dan sekolah sampel, karakteristik responden, garam-garam konsumsi RT dan warung serta tingkat pembesaran kelenjar 2. Validasi data dilakukan dengan pengecekan ulang palpasi gondok oleh pakar sebagai gold standard. 3. Analisis data dilakukan secara diskriptif melihat profil masing-masing daerah penelitian 4. Difenisi Operasional a) Pembesaran kelenjar gondok 1) Normal kelenjar gondok tidak teraba., 2) Grade 1 apabila kelenjar gondok terlihat sewaktu ekstensi leher dan teraba lebih besar dari ibu jari orang yang bersangkutan. 3) Grade 2 apabila kelenjar gondoknya teraba dan tampak membesar dari jarak beberapa meter b) Endemisitas daerah adalah derajat prevalensi TGR, sebagai berikut: TGR <5 % 5 - 19.9 %

Endemicity : Non endemik : Endemik ringan

Warna hijau kuning

20 â&#x20AC;&#x201C; 30 % >30 %

: Endemik sedang : Endemik berat

merah hitam

HASIL SURVEI DAN

PEMBAHASAN

Keadaan Umum

Frekuensi 306 313 308 313 300 308 305 311 329 317 309 3419

Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan oleh tim yang telah dilatih sebelumnya di Dinas Kesehatan Propinsi, yaitu : 5 orang dokter Puskesmas sebagai palpator, dan petugas gabungan dari Bappeda dan Dinas Kesehatan Kota Padang yang bertugas mengumpulkan data garam serta melakukan test garam.

Kota Padang yang luasnya 694,96 km2 dengan panjang garis pantai sekitar 68 km terdiri dari 11 kecamatan dan 104 kelurahan dengan penduduk 784.740 jiwa. Karakteristik kependudukan Kota padang sebagai berikut 1. Kepadatan penduduk rata-rata adalah 1129 jiwa/km, dengan rentang sbb a. 625 jiwa/km2 Kecamatan KotoTangah b. 9.991 jiwa/km 2 Kecamatan Padang Timur 2. Laju pertumbuhan rata-rata adalah 2.43 % pertahun dengan rentang sbb : a. -(negatif) 1.25 % Kec. Padang Utarab. 4.33 % Kecamatan Koto Tangah 3. Jumlah penduduk tiap kecamatan rata-rata 71340 jiwa dengan rentang sbb : a. Paling kecil :22.717 jiwa Kec. Bungus-Teluk Kabung b. Paling besar :145.193 jiwa Kecamatan Koto Tangah

61

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium Dari hasil survei pemetaan GAKY Nasional tahun 2003 diperoleh angka peningkatan prevalensi GAKY dari 8.5 % tahun 1998 menjadi 21.5 % tahun 2003 dan 26.26 % pada survei pemetaan tahun 2006 ini, seperti digambarkan pada grafik berikut: Grafik 1 : TGR Murid SD di Kota Padang tahun 1998, 2003, 2006

Sumber : Diolah kembali dari data Survei Nasional Pemetaan GAKY ta2003, serta Survei Pemetaan GAKY Kota Padang tahun 2006

Telah terjadi peningkatan prevalensi Gondok endemik secara bermakna , yaitu 300 % dalam 8 tahun

terakhir yaitu dari 8.5 % pada tahun 1998 menjadi 26.3 % pada tahun 2006. Terjadi peningkatan TGR sekitar 300 % dalam 8 tahun terakhir. Dari banyak faktor determinan tingginya TGR itu, yang amat penting diantaranya adalah rendahnya kandungan yodium garam konsumsi masyarakat. Disamping itu, faktor penting lainnya adalah tingginya tingkat pencemaran lingkungan di Kota Padang, termasuk pencemaran laut, sehingga kandungan yodium ikan laut di perairan sekitar Padang juga rendah sekali Bila dilihat sebaran TGR ini menurut kecamatan maka akan terlihat bahwa terdapat 3 kecamatan dengan kategori endemik berat, dua kecamatan diantaranya adalah kecamatan yang secara geografis memiliki daerah pantai, yaitu Kecamatan Bungus Teluk Kabung dan Kecamatan Koto Tangah. Dari 3.419 murid dari 33 SD di 11 Kecamatan di Kota Padang ternyata 26.3 % diantaranya telah mengalami pembesaran kelenjar Gondok dan 35 orang atau 1 % telah mengalami pembesaran grade 2. Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kecamatan Koto Tangah dan Kecamatan Kuranji adalah 3 kecamatan dengan TGR diatas 30 % Kecamatan Lubuk Begalung adalah dengan prevalensi grade 2 paling tinggi, yaitu 5.8 %.

Tabel 2 TGR Menurut Kecamatan di Kota Padang Kecamatan

Jumlah Murid

Grade 1

Grade 2

TGR

Padang Barat

306.0

74.5

24.5

1.0

25.5

Nanggalo

313.0

78.6

20.8

0.6

21.4

Bungus Tel.Kabung

308.0

55.5

43.2

1.3

44.5

Padang Utara

313.0

80.8

18.5

0.6

19.2

Koto Tangah

300.0

60.0

38.7

1.3

40.0

Padang Selatan

308.0

72.1

27.6

0.3

27.9

Kuranji

305.0

67.9

32.1

0.0

32.1

Padang Timur

311.0

80.4

19.3

0.3

19.6

Pauh

329.0

79.9

20.1

0.0

20.1

Lubuk Kilangan

317.0

85.2

14.8

0.0

14.8

Lubuk Begalung

309.0

74.8

19.4

5.8

25.2

Kota Padang

3419.0

73.6

25.4

1.0

26.3

Prevalensi GAKY pada murid SD yang berlokasi di kampung-kampung atau pemukiman tradisional jauh lebih tinggi dibanding murid-murid

62

Normal

SD di pemukiman baru (real estate), seperti dilihat pada tabel 3.2

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Tabel 3. TGR Menurut Lokasi SD di Kota Padang (Pemukiman Tradisional dan Pemukiman Baru) StatusGondok

Lokasi SD

Normal Grade I Grade 2

Kp trad

Pemukimn Baru

Lainnya

Rata-rata

56.1 41.0 2.9

81.9 18.1 0

74.6 24.4 0.9

73.7 26.3 1.0

Dari tabel diatas terdapat perbedaan yang bermakna antara prevalensi GAKY (TGR) pada SD yang berlokasi di tradisional yaitu 43.9 baru dan 24.4 % di pemukiman campuran, serta prevalensi pembesaran gondok grade 2 relatif sedikit lebih tinggi murid SD (2.9 %) pada murid SD di lingkungan pemukiman tradisional. Penduduk di pemukiman baru pada umumnya adalah pendatang yang mobilitasnya lebih tinggi

dengan status sosial ekonomi yang juga relatif lebih baik, serta pola konsumsinya yang lebih beraneka ragam dibanding penduduk asli di pemukiman tradisional. Dengan menggunakan test kualitatif ternyata garam konsumsi masyarakat di Kota Padang cukup bagus. Namun dari test kuantitatif (titrasi) dengan sampel kecil hanya sekitar 19 % garam di pasar-pasar yang mengandung yodium > 30 ppm.

Tabel 4. Persentase Garam Rumah Tangga yang Mengandung Yodium dengan Yodina Test Menurut Kecamatan di Kota Padang Kecamatan Padang Barat

Garam + mengandung Yodium (%) 92.2.

Nanggalo

84.3

Bungus Tel.Kabung

90.3

Padang Utara

84.0

Koto Tangah

87.7

Padang Selatan

91.9

Kuranji

93.8

Padang Timur

96.5

Pauh

94.5

Lubuk Kilangan

87.1

Lubuk Begalung

90.9

Kota Padang

81.9

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil survei pemetaan GAKY Kota Padang ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Telah terjadi peningkatan prevalensi GAKY dalam 3 tahun terakhir 2. Terdapat 3 kecamatan dengan TGR > 30% 3. Tidak terdapat perbedaan prevalensi GAKY di daerah pantai dan pedalaman 4. Prevalensi GAKY pada murid SD di sekitar pemukiman tradisional (kampung lama) lebih tinggi dari murid SD di pemukiman baru (real estate) 5. Secara kualitatif garam konsumsi cukup bagus, akan tetapi dengan test titrasi ternyata

kandungan yodium garam konsumsi sangat rendah. Saran 1. Perlu pemeriksaan kadar yodium dalam garam secara kuantitaf secara berkala 2. Perlu dan lebih tajam untuk mengetahui akar masalah meningkatnya prevalensi GAKY di Kota Padang 3. Untuk melindungi masyarakat kota Padang, maka perlu segera dilakukan langkahlangkah kongkrit (sangat) segera untuk menanggulangi GAKY 4. Perlu studi yang lebih spesifik dan dibuat Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur peredaran garam di Kota Padang

63

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Daftar Pustaka 1. 2.

3. 4.

64

Djokomoeljanto R. Masalah iodine deficiency ddisorders di Indonesia. Medika, 1985 Dir Bina Gizi Masyarakat dan dan Balitbang Gizi Depkes RI.. Pedoman Umum Survei Pemetaan Nasional GAKY tahun 1997 Hetzel B S. Iodine deficiency and fetal brain damage (editorial). N.Engl J Med 1994 Muhilal dkk. Laporan Su1rvei Nasional pemetaan Gaky tahun 2003. Depkes RI 2003.

5.

6.

7.

Peter F, Wersinga W, and Hustalek (editors). The Thyroid and environment. Merck European thyroid symposium. Budapest, 2000 Thaha A R dkk. Analisis faktor risiko Coastal goiter. Dalam Djokomoeljanto: Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional GAKY tahun 2001. Badan Penerbit UNDIP. Semarang, 2001 Zulkarnain Agus. Laporan Survei Nasional pemetaan Gaky tahun 1998 di Sumatera Barat.. Fakultas Kedokteraan Unand.. Padang, 1998

ARTIKEL PENELITIAN

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KLIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS DALAM WILAYAH KOTA PADANG TAHUN 2006 Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, MPd, MSi* , Deni Elnovriza, STP, MS*1 ABSTRACT To win emulation, Health Centre have to be able give satisfaction to all client. A Health Centre successful, the client is a goal and capital which must be defended by its existence. The Quality of Health Services more related at officer comments dimension in fulfilling requirement of patient. The Aim of research is to know describe the patient satisfaction to health services at Health Centre in Padang Regency in 2006. Design of research is qualitative descriptive. Population in this research is the client who come to health centre in Padang Regency, with the amount of sample is 400 people. Primary data in collecting by direct interview to responder by use questioner instrument, Secondary data taking away from Health Centre and Health Office in Padang. Analysis data done with univariat analysis, Importance and Performance analysis and it’s processing by manual and computerize. The result of research found that most responder express important to give service, attribute found on priority kwadran A is health officer quickly listen carefully, action quickly at the time of client require, officer quickly listen carefully to sign of client, polite and friendly officer service and officer give special attention to client.Importance Performance between Priority and satisfaction around 76,84% - 83,96%, Where attribute owning storey 80% have been told to satisfy, while attribute which is storey more than 80% expressed by less satisfied where the attribute is timely service schedule, officer health quickly listen carefully in handling sigh of client, action quickly at the time of client require, officer quickly listen carefully to sigh of client, polite and friendly officer service and officer give special attention to client.For that have to be more pay attention things lionized by responder, have to be more improve employees discipline to on schedule in fulfilling health service, and room freshment, and also look after equipment, readiness and hygiene of appliance in giving health service. Keywords : Patient Satisfaction, Health Centre, Quality of Health Services

PENDAHULUAN Mutu pelayanan kesehatan adalah faktor yang dapat meningkatkan kepuasan pasien. Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi ketanggapan petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi petugas dengan pasien, perhatian dan keramah-tamahan petugas dalam melayani pasien serta kesembuhan penyakit yang di derita oleh pasien. Pelayanan kesehatan yang bermutu akan tergantung pada proses pelaksanaan kegiatan itu sendiri, sumber daya yang diberikan dengan kegiatan pelayanan itu, faktor lingkungan yang mempengaruhi dan manajemen pelayanan (Wijono, 1999 : 33). Dalam proses kepuasan pasien ini terkait dua aspek utama pelayanan keprofesian meliputi aspek kompetensi menyangkut ilmu dan teknologi * Staf Pengajar PSIKM FK Unand

kesehatan dan kedokteran dalam melakukan tindakan dan yang kedua adalah aspek “Art” atau seni dalam berinteraksi secara psikologi dan sosial antara pemberi jasa dengan klien / pengguna jasa. Salah satu upaya untuk memenangkan persaingan itu adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan pasien sehingga nantinya akan memberikan kepuasan kepada pasien. Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada 30 orang pasien, 48% menyatakan puas dengan pelayanan yang diterima dan sisanya 52% menyatakan tidak puas terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas di Kota Padang karena terlalu lama menunggu, petugas kurang terampil, petugas kurang ramah dan kurangnya informasi tentang pelayanan yang diterima Bertolak dari uraian diatas maka peneliti ingin melakukan analisis tentang tingkat kepuasan pasien

65

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas dalam wilayah Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006. Tujuan penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas Kota Padang tahun 2006. Tujuan khusus a. Diketahuinya gambaran tingkat harapan pasien rawat jalan di Puskesmas Kota Padang tahun 2006 b. Diketahuinya pelaksanaan kinerja petugas pada atribut-atribut harapan dan kinerja di Puskesmas Kota Padang tahun 2006 c. Diketahuinya gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap atribut-atribut harapan dan kinerja pada pelayanan kesehatan di Puskesmas Kota Padang tahun 2006 d. Diketahuinya posisi dan prioritas artibut harapan dan kinerja e. Diketahuinya gap analisis KERANGKA KONSEP Adapun alur dari analisis data tersebut adalah seperti yang digambarkan pada Gambar 1 1. Reliabilitas (keandalan) a. Ketepatan pelayanan sesuai dengan prosedur b. Pelayanan pemeriksaan sesuai dengan prosedur c. Jadwal pelayanan tepat waktu. d. Prosedur pelayanan tidak berbelit-belit

METODE PENELITIAN Disain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian analitik kualitatif yang dipergunakan untuk pencarian fakta dengan interprestasi yang tepat Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Nopember 2006 di puskesmas dalam wilayah Kota Padang. Populasi dan sampel Populasi adalah seluruh pasien yang datang ke Puskesmas selama bulan September â&#x20AC;&#x201C; Oktober 2006. Sampel penelitian adalah pasien yang berkunjung dan bersedia menjadi responden penelitian. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus:

n=

Î&#x2013; 21 - Îą / 2 x p x q d2

Jumlah sampel dari perhitungan adalah 384 orang, cara pengambilan sampel adalah dengan Random Block Sampling. D. Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data primer dilaksanakan melalui wawancara dengan kuesioner, dan data sekunder diambil dari Dinas Kesehatan Kota Padang dan Puskesmas berupa jumlah kunjungan dan data penduduk.

Tanggapan Pelanggan

2. Daya Tanggap (responsiveness) a. Petugas kesehatan cepat tanggap dalam menangani keluhan klien b. Petugas memberikan informasi yang mudah dimengerti c. Tindakan cepat pada saat klien membutuhkan d. Petugas cepat tanggap terhadap keluhan klien 3. Jaminan (assurance) a. Pengetahuan petugas kesehatan tentang penyakit baik b. Petugas trampil dalam menangani keluhan klien c. Pelayanan yang sopan dan ramah. d. Jaminan keamanan dan kepercayaan terhadap pelayanan

Tingkat Kepentingan

Tingkat Pelaksanaan

4. Empati (emphaty) a. Petugas memberikan perhatian khusus pada klien b. Petugas menanggapi keluhan klien c. Pelayanan yang adil tanpa memandang status ekonomi d. Perhatian petugas terhadap keluhan keluarga 5. Bukti Fisik (tangibles) a. Kebersihan ruangan b. Penataan eksterior PPK. c. Kerapian dan kebersihan petugas d. Kebersihan dan kesiapan alat-alat yang dipakai

Kepuasan Pelanggan

Gambar 1 Alur Penentu Tingkat Kepentingan Dan Tingkat Kepuasan

66

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

HASIL PENELITIAN 1. Analisis Harapan dan Kinerja Analisis nilai rata-rata ini dilakukan untuk mengetahui rata-rata dari keseluruhan penilaian klien terhadap suatu atribut. hasil analisis harapan dan kinerja tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Dari tabel 1 tersebut dijelaskan bahwa : a. Tingkat kesesuaian pasien terhadap kepuasan pelayanan kesehatan di Puskesmas Kota Padang berkisar antara 76,84 % sampai 86,16 %. Ini berarti masih terdapat perbedaan antara harapan pasien dengan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan , sehingga secara

keseluruhan belum tercapai kepuasan pasien. Dengan demikian atribut-atribut yang eâ&#x20AC;? 80 % dikatakan sudah memuaskan sedangkan atribut yang < 80 % dikatakan belum memuaskan. Dari 20 (dua puluh) atribut tersebut terdapat nilai kepuasan tertinggi yaitu atribut 19 (Jadwal pelayanan tepat waktu) 86,16 % dan nilai kepuasan terendah terdapat pada atribut 3 (Jadwal pelayanan puskesmas yang tepat waktu) 76,84 %. 2. Diagram Kartesius Untuk lebih jelasnya pengolahan data pada tabel 1 diatas dapat menghasilkan gambaran tentang pelayanan kesehatan di Puskesmas Kota Padang yang tergambar pada diagram kartesius.

Tabel 1. Tingkat Harapan dan Kinerja Terhadap Atribut Yang Mempengaruhi Kepuasan di Puskesmas Kota Padang tahun 2006 Atribut

Kinerja

Harapan

X

Y

Tingkat Kesesu-aian

Interprestasi

Ketepatan pelayanan sesuai dengan prosedur yang dijanjikan Pelayanan Pemeriksaan sesuai dengan prosedur Jadwal Pelayanan tepat Waktu Prosedur Pelayanan tidak berbelit-belit Petugas Kesehatan cepat tanggap dalam menangani keluhan klien Petugas memberikan informasi yang mudah dimengerti Tindakan cepat pada saat klien membutuhkan Petugas cepat tanggap terhadap keluhan klien Pengetahuan petugas kesehatan tentang penyakit Petugas trampil dalam menangani keluhan klien Pelayanan petugas ramah dan sopan Jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap pelayanan Petugas memberikan perhatian khusus kepada klien Petugas menangganpi keluhan klien Pelayanan yang adil tanpa memandang status sosial ekonomi Perhatian petugas terhadap keluhan keluarga Kebersihan ruangan Penataan eksterior ruangan Kerapian dan kebersihan petugas Kebersihan dan kesiapan alat-alat yang dipakai Jumlah

1419 1385 1304 1385 1371

1690 1697 1697 1681 1750

3,55 3,46 3.26 3.46 3,43

4,23 3,98 3,98 3,95 4,11

83,96 81,61 76.84 82,39 78,34

Puas Puas Kurang puas Puas Kurang puas

1371 1368 1354 1431 1402 1363 1404

1702 1731 1724 1777 1734 1764 1675

3,43 3.42 3,39 3,58 3,51 3,41 3,51

4.00 4,06 4,05 4,17 4.07 4.14 3,93

80,55 79,03 78,54 80,53 80,85 77,27 83,82

puas Kurang puas Kurang puas puas puas Kurang puas Puas

1378 1412 1443 1375 1435 1345 1419 1391

1724 1688 1719 1651 1698 1621 1647 1684

3,45 3,53 3,61 3,44 3,59 3,36 3,55 3,48 69,39

4.05 3,96 4.04 3.88 3,99 3.81 3.87 3,95 80,20

79,93 83,65 83.94 83,28 84,51 82,97 86,16 82,60

Kurang puas Puas Puas Puas Puas Puas Puas Puas

3.47

4.01

Mean

67

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

y

5.5 5.25

B 5

A

Harapan

4.75 4.5

1

8

4.25

10

15

20

4 3.75

C

y

13 11 7 69 12 14 18 2 3 16 D 19 17 4

3.5

4,14

x

3.25

X 3,47

3 2

2.25

2.5

2.75

3

3.25

3.5

3.75

4

4.25

Kinerja/Kepuasan

Gambar 2 Diagram Kartesius atribut harapan dan kinerja pada pelayanan Kesehatan di Puskesmas Kersik Tuo

Dari gambar 1 diatas terlihat bahwa letak atributatribut yang mempengaruhi kepuasan pasien diatas terbagi atas 4 bagian yaitu : a. Kuadran A Atribut yang termasuk pada kuadran ini adalah : 1) Petugas kesehatan cepat tanggap (5) 2) Tindakan cepat pada saat klien membutuhkan (7) 3) Petugas cepat tanggap terhadap keluhan klien (8) 4) Pelayanan petugas ramah dan sopan(11) 5) Petugas memberikan perhatian khusus kepada klien (13) b. Kuadran B Atribut-atribut yang termasuk pada kuadran ini adalah 1) Ketepatan pelayanan sesuai dengan prosedur yang dijanjikan (1) 2) Pengetahuan petugas kesehatan tentang penyakit baik (9) 3) Petugas trampil dalam menangani keluhan klien (10) 4) Pelayanan yang adil tanpa memandang status social ekonomi (15) c. Kuadran C Atribut-atribut yang termasuk pada kuadran

68

ini adalah : 1) Pelayanan pemeriksaan sesuai dengan prosedur (2) 2) Jadwal pelayanan tepat waktu (3) 3) Prosedur pelayanan tidak berbelit-belit (4) 4) Petugas memberikan informasi yang mudah dimengerti (6) 5) Perhatian petugas terhadap keluhan keluarga (16) 6) Penataan eksterior ruangan (18) d. Kuadran D Atribut-atributnya adalah : 1) Jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap pelayanan (12) 2) Petugas menanggapi keluhan klien (14) 3) Kebersihan ruangan (17) 4) Kerapian dan kebersihan petugas (19) 5) Kebersihan dan kesiapan alat-alat yang dipakai (20) 3. Gap Analysis Dari nilai skor kinerja maupun skor harapan pasien kemudian dicari nilai rata-ratanya (mean) yang selanjutnya dibuatkan perhitungan nilai gapnya yaitu selisih antara nilai rata-rata tingkat harapan dengan nilai rata-rata tingkat kinerja/kepuasan . Untuk lebih jelasnya mengenai nilai gap dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini :

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Tabel 2 Gap Analysis Harapan dengan Kinerja Pada Pelayanan Kesehatan di Puskesmas dalam wilayah Kota Padang tahun 2006 Atribut Ketepatan pelayanan sesuai dengan prosedur yang dijanjikan Pelayanan Pemeriksaan sesuai dengan prosedur Jadwal Pelayanan tepat Waktu Prosedur Pelayanan tidak berbelit-belit Petugas Kesehatan cepat tanggap dalam menangani keluhan klien Petugas memberikan informasi yang mudah dimengerti Tindakan cepat pada saat klien membutuhkan Petugas cepat tanggap terhadap keluhan klien Pengetahuan petugas kesehatan tentang penyakit baik Petugas trampil dalam menangani keluhan klien Pelayanan petugas ramah dan sopan Jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap pelayanan Petugas memberikan perhatian khusus kepada klien Petugas menanggapi keluhan klien Pelayanan yang adil tanpa memandang status sosial ekonomi Perhatian petugas terhadap keluhan keluarga Kebersihan ruangan Penataan eksterior ruangan Kerapian dan kebersihan petugas Kebersihan dan kesiapan alat-alat yang dipakai Jumlah Mean

Dari tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa masih terdapat kesenjangan antara tingkat harapan dengan tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Kota Padang, dimana kesenjangannya berkisar antara 0,32 sampai 0,73 dengan kesenjangan tertinggi terletak pada atribut ( pelayanan petugas ramah dan sopan). PEMBAHASAN Posisi dan Prioritas Atribut Harapan dan Kinerja Dalam gambar diagram kartesius terlihat bahwa dari unsur-unsur pelaksana atribut-atribut yang mempengaruhi kepuasan pasien di Puskesmas dalam wilayah Kota Padang terbagi menjadi 4 (empat ) bagian. Adapun interpretasi dari diagram kartesius tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Kuadran A Kuadran A adalah kuadran yang menunjukan atribut-atribut yang mempengaruhi kepuasan pasien di Puskesmas Kota Padang, namun didalam pelaksanaannya belum sesuai dengan keinginan pasien sehingga dalam pelaksanaannya perlu di prioritaskan oleh Puskesmas dalam wilayah Kota Padang karena atribut-atribut inilah yang dinilai sangat penting oleh pasien akan tetapi di dalam pelaksanaannya belum memuaskan. Atribu-atribut yang berada pada kuadran ini adalah : a. Responsiveness (kehandalan) Atribut petugas kesehatan cepat tanggap dalam

Â&#x201E;

Skor 1690 1697 1697 1681 1750 1702 1731 1724 1777 1734 1764 1675 1724 1688 1719 1651 1698 1621 1647 1684

Harapan Rata-rata 4,23 3,98 3,98 3,95 4,11 4.00 4,06 4,05 4,17 4,07 4,14 3,93 4.05 3,96 4,04 3,88 3,99 3,81 3,87 3,95 80,20 4,01

Skor 1419 1385 1304 1385 1371 1371 1368 1354 1431 1402 1363 1404 1378 1412 1443 1375 1435 1345 1419 1391

Kinerja Rata-rata 3,55 3,46 3,26 3,46 3,43 3,43 3.42 3,39 3,58 3,51 3,41 3,51 3,45 3,53 3,61 3,44 3,59 3,36 3,55 3,48 69,39

Gap 0.68 0.52 0.72 0.48 0.68 0.57 0.64 0.66 0.59 0.57 0.73 0.42 0.60 0.43 0.43 0.44 0.40 0.44 0.32 0.48

3,47

menangani keluhan klien, Â&#x201E; Tindakan cepat pada saat klien membutuhkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa atribut diatas berada pada kuadran A diagram kartesius sehingga peningkatan pelaksanaannya perlu diprioritaskan karena sangat dianggap penting oleh pasien sementara puskesmas belum melaksanakannya sesuai dengan keinginan pasien. Sesuai dengan pendapat Wijono (1999: 25) bahwa sikap dari seorang petugas pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah pelayanan yang diberikan bermutu atau tidak, sehingga dengan sikap petugas yang ramah dan baik dalam memberikan pelayanan dapat menjadi penentu dari kesembuhan seorang pasien, sebaliknya sikap petugas yang kasar dan tidak acuh dapat mengurangi kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diterimanya. Jacobalis (1981) menyatakan bahwa mutu yang baik dikaitkan dengan kesembuhan penyakit, kecepatan pelayanan, lingkungan yang menyenangkan, keramahan petugas serta biaya yang terjangkau. Diantara faktor-faktor tersebut ternyata kecepatan pelayanan dan prosedur menentukan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan yang dirasakan. Untuk itu agar dapat meningkatkan daya tanggap petugas dimata pasien sebaiknya pihak manajemen membuat suatu alur pelayanan yang cukup jelas dan tetap pada setiap pelayanan yang serta

69

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

menetapkan standar pelayanan dan uraian tugas bagi setiap karyawan selain itu pihak manajemen juga harus melakukan pendekatan kepada petugas dan selalu menekankan pentingnya keramahan dalam pelayanan. b. Assurance (Jaminan) Atribut Pelayanan petugas ramah dan sopan Assurance/keyakinan menyangkut keramahan petugas yang berarti petugas suka senyum dan bersikap sopan. karena hal tersebut akan membuat pelanggan terikat bahkan bisa menceritakan kepada orang lain dan langsung bisa menjadi pelanggan di penyedia pelayanan kesehatan tersebut.(Azwar,1995 : 28). Untuk itu agar dapat meningkatkan pelaksanaan atribut ini maka pihak manajemen harus meningkatkan keterampilan dokter dan perawat dengan pelatihan serta pihak manajemen lebih memberikan informasi yang jelas kepada pasien terhadap segala tindakan yang dilakukan. c. Emphaty (empati) Atribut perhatian petugas terhadap keluhan pasien. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa atribut tersebut pada kuadran A diagram kartesius yang artinya dalam pelaksanaannya juga harus diprioritaskan. Terbinanya hubungan dokter-pasien yang baik adalah salah satu dari kewajiban etik, adalah sangat diharapkan setiap dokter bersedia memberikan perhatian yang cukup kepada pasiennya secara pribadi, menampung dan mendengarkan semua keluhan pasien serta menjawab dan memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya tentang segala hal yang ingin diketahui pasien. Perhatian petugas dalam mendengarkan keluhan pasien dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya sangat penting artinya bagi pasien karena dengan perhatian dan kesemapatan bertanya pasien akan merasa dihargai, namun berdasarkan penilaian pasien terhadap atribut-atribut ini puskesmas belum mampu menunjukan kinerjanya sesuai harapan pasien sehingga pasien masih kurang puas. Untuk meningkatkan kualitas atribut-atribut tersebut maka pihak manajemen diharapkan lebih memperhatikan dan memahami kebutuhan klien serta dapat memberikan perhatian yang tulus dan kepada klien. 2. Kuadran B Faktor-faktor atribut yang mempengaruhi kepuasan pelanggan di Puskesmas dalam wilayah

70

Kota Padang yang berada dalam kuadran B ini perlu dipertahankan karena pada umumnya tingkat pelaksanaannya telah sesuai dengan kepentingan dan harapan pasien, sehingga telah memuaskan pasien Dari hasil penelitian atribut yang termasuk pada kuadran ini adalah : a. Reliability (kehandalan) atribut ketepatan pelayanan sesuai dengan prosedur yang dijanjikan, b. Assurance (jaminan) yaitu atribut pengetahuan petugas kesehatan tentang penyakit baik, dan petugas trampil dalam menangani keluhan klien, dan c. empathy yaitu atribut pelayanan yang adil tanpa memandang status sosial ekonomi. Hakekat dasar mutu pelayanan kesehatan adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan pemakai jasa pelayanan kesehatan yang apabila dapat dipenuhi akan dapat menimbulkan rasa puas (Azwar 1996 :57). Muninjaya (2004:10) juga mengatakan bahwa prosedur pelayanan yang tidak berbelit-belit memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap variasi tingkat kepuasan pasien. Karena atribut-atribut telah dianggap memuaskan pasien maka pihak manajemen dan staf harus mempertahankannya yaitu dengan terus berkomitmen dan bekerja sama yang lebih baik. 3. Kuadran C Dari hasil penelitian diketahui atribut yang termasuk pada kuadran C ini adalah atribut reliability, dimensi emphaty dan dimensi tangible Atribut diatas terdapat pada kuadran C yang artinya atribut tersebut masih dianggap kurang penting bagi pasien sedang didalam pelaksanaannya oleh Puskesmas dalam wilayah Kota Padang juga biasa saja. Harapan pasien terhadap atribut yang terdapat pada kuadran ini tidak begitu tinggi sedangkan dalam pelaksanaannya sudah cukup memuaskan maka pihak manajemenpun perlu meningkatkan perhatian kepada pasien dan lebih bersikap ramah dalam memberikan pelayanan dan menaggapi keluhan pasien. 4. Kuadran D Faktor-faktor yang berada pada kuadran D ini dianggap berlebihan dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan karena pasien menganggap atribut atribut tersebut tidak terlalu penting terhadap adanya faktor tersebut, akan tetapi pelaksanaannya dilakukan

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

dengan sangat baik sekali, sehingga sangat memuaskan . Atribut-atribut yang berada pada kuadran ini adalah atribut yang termasuk yaitu atribut jaminan keamanan pelayanan, kepercayaan terhadap pelayanan, atribut petugas menanggapi keluhan klien, dan atribut kebersihan ruangan, kerapian dan kebersihan petugas serta kebersihan dan kesiapan alat-alat yang dipakai. Menyelenggarakan pelayanan yang nyaman adalah salah satu kewajiban etik. Untuk dapat terselenggaranya pelayanan yang bermutu, suasana yang nyaman, tersebut harus dapat dipertahankan. Untuk itu pihak manajemen perlu mempertahankannya karena sangat memuaskan pasien, namun disisi lain pihak manajemen juga harus mempertimbangakan karena disamping memuaskan atribut pada kuadran ini juga kurang dianggap penting sehingga dapat menyebabkan pemborosan (inefisiensi). B. Gap Analysis Dari nilai rata-rata skor kinerja dan rata-rata tingkat harapan dihitung selisih antara nilai rata-rata harapan dan kinerja. Dari perhitungan didapatkan masih terdapat kesenjangan (gap) antara tingkat harapan dengan kinerja dengan nilai gap berkisar antara 0,32 â&#x20AC;&#x201C; 0,73 dimana gap yang tertinggi terdapat pada atribut pelayanan petugas ramah dan sopan. Semakin besar nilai absolute dari hasil pengurangan harapan dan persepsi akan besar pula gap yang terjadi. Semakin mendekati 0 (nol) atau lebih maka akan semakin bermutu hasil yang didapatkan demikian sebaliknya (Tjiptono, 2000:55) Penelitian yang dilakukan Edison (2001: 41) didapatkan nilai gap relatif tinggi yaitu 0,55. Setelah dilakukan gap analisis didalam penelitian ini didapat nilai gap yang tertinggi yaitu 0,73 ini berarti masih ada kesenjangan yang besar dan menunjukan bahwa masih ada atribut yang pelaksanaannya masih kurang dari setengah harapan pasien maka untuk pihak manajemen agar memprioritaskan masalah dengan gap yang terbesar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas dalam wilayah Kota Padang maka dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebagian besar responden menyatakan penting terhadap atribut yang mempengaruhi kepuasan pada pelayanan kesehatan di Puskesmas dalam wilayah Kota Padang 2. Sebagian responden menyatakan bahwa kinerja pelayanan kesehatan di Puskesmas dalam wilayah Kota Padang adalah baik terhadap atribut-atribut yang mempengaruhi kepuasan pasien. 3. Sebagian responden yang menyatakan baik masih belum puas terhadap kinerja pelayanan kesehatan, tingkat kepuasan tertinggi pasien terletak pada atribut ketepatan pelayanan sesuai dengan prosedur yang dijanjikan. 4. Atribut yang menjadi prioritas utama dalam penelitian ini adalah atribut yang terdapat pada kuadran A yaitu petugas kesehatan cepat tanggap, tindakan cepat pada saat klien membutuhkan, petugas cepat tanggap terhadap keluhan klien, pelayanan petugas ramah dan sopan dan petugas memberikan perhatian khusus kepada klien. 5. Dari gap analysis didapatkan gap terbesar adalah pada atribut petugas ramah dan sopan. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat dikemukan beberapa saran yaitu : 1. Perlu adanya komitmem bersama antara pihak manajemen dengan pelaksana pelayanan untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pasien. 2. Didalam peningkatan kualitas pelayanan fokuskan perhatian pada atribut-atribut yang berada di kuadran A dan dengan nilai gap yang terbesar, karena atribut-atribut ini sangat dianggap penting oleh pasien. 3. Atribut-atribut yang berada pada kuadran D juga perlu diperhatikan karena kinerjanya baik meskipun dianggap kurang penting pada saai ini oleh pasien tapi dimasa mendatang bias saja kepentingan pasien terhadap atribut-atribut dalam kuadran D tersebut akan bergeser. 4. Perlu adanya perbaikan, peningkatan dan pengembangan sarana dan fasilitas pendukung lainnya yang berpengaruh terhadap mutu pelayanan dan kepuasan pasien. 5. Perlu adanya kedisiplinan dan komitmen dalam melaksanakan pelayanan yang sesuai dengan jadwal, pedoman, standard dan kompetensi yang dimiliki secara konsisten.

71

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

DAFTAR PUSTAKA 1.

Supranto, J. Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan; untuk menaikkan pangsa pasar. Jakarta: PT Rhineka Cipta, 2001. 2. Rangkuti, F. Measuring customer satisfaction; teknik mengukur dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003. 3. Arifin, Z. Tingkat kepuasan pasien terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas Teluk Pinang, Riau. Skripsi FKM Universitas Indonesia. Jakarta, 1999. 4. Aritonang, R., Lerbin, R. Kepuasan pelanggan; pengukuran dan penganalisaan dengan SPSS. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005. 5. Adriani, Tim Peneliti Rumah Sakit dan Dinkes Propinsi Sumatera Barat. Analisis hubungan mutu pelayanan di poliklinik dengan tingkat kepuasan pasien dan dampaknya terhadap kemauan memanfaatkan ulang (repeat buyers) berdasarkan kelas rumah sakit B, C, D di Sumatera Barat. Laporan Penelitian, 2004. 6. —————Laporan tahunan BKMM; tahun 2003-2005. Padang. 7. Salim, M. Pengembangan BKMM dalam sistem rujukan mata. Makalah Pelatihan Kesehatan Indera. Padang, 2006. 8. Tjiptono, F. Strategi Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2000. 9. Tjiptono, F, Chandra, G. Service, quality & satisfaction. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005. 10. Tjiptono, F. Manajemen jasa. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2004.

72

11. Wijono, D. Manajemen mutu pelayanan kesehatan. Surabaya: Airlangga University Press, 1999. 12. Azwar, A. Program menjaga mutu pelayanan kesehatan; aplikasi prinsip lingkaran pemecahan masalah. Jakarta: Yayasan Penerbitan IDI, 1994. 13. Muninjaya, A.A. Manajemen Kesehatan. Edisi kedua. Jakarta: EGC, 2004. 14. Departemen Kesehatan. Pedoman pemantauan berkala; kepuasan pengguna jasa puskesmas. Jakarta, 2003. 15. Muninjaya, A.A. Survei kepuasan pengguna jasa pelayanan kesehatan Perjan RS Sanglah Denpasar. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2004;07:115123. 16. Suryawati - Chriswardani. Kepuasan pasien rumah sakit; tinjauan teoritis dan penerapannya pada penelitian. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 2004;07:189-194. 17. Bachtiar, A, Achmad, K, Hatrtriyanti, Y. Metodologi penelitian kesehatan. Universitas Indonesia, 2000. 18. Ariawan, I. Besar dan metode sample pada penelitian kesehatan. Jurusan Biostatistik dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 1998. 19. Yessy - Helvira. Hubungan kualitas pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD Lubuk Basung. Skripsi PSIKM Universitas Andalas. Padang, 2003. 20. Tjiptono, F, Diana, A. Total Quality Management. Yogyakarta: Penerbit Andi, 1998. 21. Irawan, H. 10 Prinsip kepuasan pelanggan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2002.

ARTIKEL PENELITIAN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA DIABETES MILITUS DENGAN KETERKENDALIAN GULA DARAH DI POLIKLINIK RS PERJAN Dr. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2003 Isniati* ABSTRACT Diabetes Mellitus brings health and economic consequences to the patients. The chronic complications lead to difficulties in its management. A good and rational management could diminish the difficulties. A research has been done with cross sectional design on April 2003 towards 61 respondents. Research instruments are questionnaire, fasting and 2nd post-prandial blood sugar concentration. Data processing and analysing was using SPSS programme software for Windows 9.05 version. The result shows that most of fasting blood sugar concentration has poor 2hr post-prandial blood sugar concentration, while having sufficient knowledge about Diabetes Mellitus, dieting, exercising and anti-diabetic drugs. An approach is needed to obtain what kinds of effort could be carried out to lower or stabilize blood sugar concentration. Further research should focuses on other factors contributing in blood sugar concentration control, such as; attitude, tradition, faith/belief, etc. Keywords : Diabetes Mellitus, Knowledge, Blood Sugar Concentration

PENDAHULUAN Masalah kesehatan dipengaruhi oleh pola hidup, pola makan, faktor lingkungan kerja, olahraga dan stress. Perubahan gaya hidup terutama di kotakota besar menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, obesitas dan tekanan darah tinggi.1 Diabetes Melitus merupakan penyakit menahun yang ditandai oleh kadar gula darah yang tinggi dan gangguan metabolisme pada umumnya, yang pada perjalanannya bila tidak dikendalikan dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi baik yang akut maupun yang menahun. Kelainan dasar dari penyakit ini ialah kekurangan hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas, yaitu kekurangan jumlah dan atau dalam kerjanya. Ada dua tipe Diabetes Melitus yaitu tipe 1 DMTI (Diabetes Melitus Tergantung Insulin) dan tipe 2 DMTTI (Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin). DMTI merupakan akibat kekurangan insulin karena kerusakan dari sel b pankreas. * Staf Pengajar PSIKM FK Unand

Sebagian besar individu biasanya dengan berat badan normal atau di bawah normal. DMTTI ditandai dengan kerusakan fungsi sel b pankreas dan resisten insulin atau oleh menurunnya pengambilan glukosa oleh jaringan sebagai respon terhadap insulin. Dari jumlah penduduk Indonesia yang 210 juta orang, prevalensi Diabetes Melitus adalah 1,4 â&#x20AC;&#x201C; 1,6 %. Pada tahun 1994 diperkirakan 1,5 juta orang menderita Diabetes Melitus dan jumlah tersebut akan menjadi 4 juta pada tahun 2000 dan 5 juta pada tahun 2010. Data di propinsi Sumatera Barat, berdasarkan dari Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, pada tahun 1999 terdapat penderita Diabetes sebanyak 25,5 / 100.000 jumlah penduduk, dan pada tahun 2001 terdapat 37,7 / 100.000 jumlah penduduk. Berdasarkan data tersebut terlihat peningkatan sebesar 12,2 % selama kurun tahun tersebut. Sedangkan di Instalasi Rawat Jalan Penyakit Dalam Perjan RS. Dr. M. Djamil Padang angka penderita dengan diabetes setiap tahunnya meningkat. Pada tahun 2000 terdapat 383 penderita diabetes baru dari 7256 orang penderita yang datang berobat pada tahun

73

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

tersebut, dan pada tahun 2001 terdapat 414 orang penderita diabetes baru dari 8958 orang penderita yang datang berobat pada tahun tersebut, ini terlihat terjadi peningkatan sebesar 31 orang penderita pada tahun 2001 bila dibandingkan dengan tahun 2000. Berdasarkan angka kejadian di atas, maka diperlukan biaya perawatan penderita yang cukup besar pada penderita Diabetes Melitus tersebut. Biaya perawatan minimal untuk rawat jalan penderita Diabetes Melitus di Indonesia diperhitungkan sebesar 1,5 milyar perhari atau Rp 500 milyar pertahun. Pada penderita Diabetes Melitus selain pengobatan, salah satu upaya yang sangat penting adalah penyuluhan atau pendidikan kesehatan bagi penderita diabetes beserta keluarganya agar penderita tetap hidup sehat walaupun dengan diabetes. Penyuluhan kesehatan ini diperlukan karena penyakit diabetes adalah penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup. Penderita yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang diabetes kemudian mengubah perilakunya akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya sehingga penderita dapat hidup lebih lama dan meningkatkan kualitas hidupnya. Basuki (1995) menyatakan pula bahwa pada penelitian terhadap penderita diabetes, didapat 80 % diantaranya menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat, 58 % memakai dosis yang salah dan 75 % tidak mengikuti diet yang dianjurkan. Pengendalian gula darah penderita Diabetes Melitus merupakan hal yang sangat penting. Pengendalian diabetes yang baik berarti menjaga kadar glukosa darah dalam kisaran normal seperti halnya penderita bukan Diabetes Melitus, sehingga terhindar dari keadaan hiperglikemia ataupun hipoglikemia. Suatu penelitian berskala besar dan dilakukan dalam jangka panjang di Amerika Serikat dan Kanada telah berhasil membuktikan bahwa dengan mengendalikan kadar glukosa darah sebaik mungkin, kemungkinan terjadi penyulit dapat dicegah, bahkan penyulit yang sudah timbulpun dapat membaik. Selain untuk menghindari faktor penyulit, juga dapat dicegah berbagai macam komplikasi baik yang bersifat akut seperti hipoglikemia, ketoasidosis dan komplikasi kronis. Berbagai upaya intervensi dilakukan pada penderita Diabetes Melitus untuk menghindari berbagai komplikasi atau faktor penyulit. Untuk mengikutsertakan penderita Diabetes Melitus sendiri dalam mengontrol kadar gula darah, penderita diberikan berbagai informasi dalam penyuluhan.

74

Setelah penderita diberikan penyuluhan diharapkan pengetahuan penderita terhadap penyakitnya dan pengelolaannya meningkat, sehingga diasumsikan penderita memiliki motivasi dan menunjukkan prilaku dalam mengontrol kadar glukosa darahnya. Dari permasalahan di atas diperlukan suatu penelitian terhadap hubungan tingkat pengetahuan penderita Diabetes Melitus dengan keterkendalian kadar gula darah. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan penderita Diabetes Melitus dengan keterkendalian kadar gula darah. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional study. Penelitian ini untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yang dilakukan secara serentak pada individu yang ada pada populasi. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini adalah di instalasi rawat jalan R.S. Perjan Dr. M. Djamil Padang dan waktu penelitian pada bulan April â&#x20AC;&#x201C;Juni 2003. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuisioner kepada responden untuk menilai aspek pengetahuan dan pengambilan hasil pemeriksaan kadar gula darah puasa â&#x20AC;&#x201C; 2 jam pp dari status penderita. Pengolahan Data dan Analisis Data Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan komputer dan dianalisis dengan menggunakan program software SPSS. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan cara : 1. Analisis Univariat, untuk menggambarkan distribusi frekuensi dari beberapa variabel yang diteliti. 2. Analisis Bivariat, untuk melihat hubungan antara dua variabel (variabel independen dengan variabel dependen) dan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel tersebut. Dilakukan uji statistik chi-square dengan derajat kepercayaan 90 % dengan p < 0,05. Apabila p < 0,05 maka ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen, apabila p > 0,05 maka tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

HASIL DAN PEMBAHASAN ANALISIS UNIVARIAT 1. Gambaran Keterkendalian Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes Mellitus Di Poliklinik RS. Perjan Dr.M.Djamil Padang Tahun 2003 Dari hasil penelitian diketahui bahwa lebih dari sebagian responden kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2jppnya buruk (67,2% dan 59,0%). Menurut Basuki (1999) penderita dengan kadar gula darah yang buruk (tidak terkontrol) akan mudah terkena infeksi dan sulit disembuhkan dan bahkan dapat timbul penyakit infeksi yang lebih berat seperti gangrene (pembusukan jaringan), nefropati dan lainlain. Hal ini sejalan dengan penelitian Manaf, A (1995) yang mengatakan bahwa tidak terkendalinya kadar gula darah dengan bak akan memperepat tahapan Nefropati Diabetika. 2. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Penyakit Diabetes Mellitus di Poliklinik RS. Dr.M.Djamil Padang Tahun 2003 Dari hasil penelitian ternyata lebih dari sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi (59,0%) mengenai penyakit diabetes. Dilihat dari tingkat pendidikan, umumnya responden berpendidikan SMA/sederajat. Tingginya tingkat pengetahuan responden dapat disebabkan oleh pengetahuan tidak hanya diperoleh dibangku pendidikan tetapi juga dari pengalaman langsung maupun tidak langsung. 3. Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Perencanaan Makan Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Poliklinik RS. Perjan Dr.M.Djamil Padang Tahun 2003 Dari hasi penelitian ternyata lebih dari sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang tinggi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan perencanaan makan (70,5%) hanya 29,5% responden yang berpengetahuan rendah. Menurut Perkeni (1998) perencanaan makan merupakan kunci pengendalian kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus. Dengan demikian diharapkan responden mampu melaksanakan perencanaan makan yang baik sehingga dapat meningkatkan kepatuhan terhadap diet dan perawatannya sehingga akan meningkatkan kualitas hidupnya, seperti hasil penelitian Kasmiyetti, dkk (2002).

4. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Olahraga pada Penderita Diabetes Mellitus di Poliklinik RS. Perjan Dr.M.Djamil Padang Tahun 2003 Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden berpengetahuan tinggi (67,2%). Menurut Perkeni (1998) manfaat olahraga yang teratur pada penderita Diabetes Mellitus akan memperbaiki metabolisme, menormalkan kadar gula darah, meningkatkan kesegaran jasmani, rasa percaya diri dan mengurangi resiko penyakit kadiovaskuler. Dengan demikian diharapkan respoden wajib melakukan olahraga yang dibatasi oleh kemampuan, umur atau ada tidaknya penyakit lain. 5. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Obat-Obat Diabetes Mellitus di Poliklinik RS. Perjan Dr. M.Djamil Padang Tahun 2003 Dari hasil penelitian ternyata sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang tinggi (52,5%) mengenai obat-obat Diabetes Mellitus. Menurut Soegondo. S (1995) jika responden telah melaksanakan program makan dan olahraga teratur, namun pengendalian kadar gula darah belum tercapai, perlu ditambahkan obat-obatan diabetes. Dengan demikian diharapkan responden mengerti prinsip kerja obat sehingga dapat memberikan manfaat berupa semakin baiknya penatalaksanaan penyakit tersebut. ANALISIS BIVARIAT 1. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Diabetes Mellitus Dengan Keterkendalian Kadar Gula Darah Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keterkendalian kadar gula darah puasa dan 2jpp yang buruk, responden yang tingkat pengetahuannya yang tinggi proporsinya lebih besar dibandingkan dengan responden yang tingkat pengetahuannya rendah. Hasil analisis bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp. Berbeda dengan penelitian Kasmiyetti, dkk (2002) dimana jumlah penderita diabetes yang berpengetahuan rendah / kurang lebih banyak dari pada yang berpengetahuan tinggi / baik. Hal ini disebabkan oleh karena pengetahuan tidak hanya diperoleh dibangku pendidikan tapi juga dari pengalaman langsung maupun tidak langsung. Secara teoriti, pengetahuan merupakan domain yang

75

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, tapi bukan faktor yang cukup kuat utuk merubah perilaku sehat. Perlu adanya niat yang cukup sehingga seseorang berbuat sesuai dengan pengetahuannya. 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Perencanaan Makan Dengan Keterkendalian Kadar Gula Darah Dari hasil penelitian terlihat bahwa pada keterkendalian kadar gula darah puasa dan 2jpp yang buruk, responden yang tingkat pengetahuannya tinggi proporsinya lebih besar dibandingkan dengan tingkat pengetahuannya rendah. Hasil analisis bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perencanaan makan dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp. Hal ini disebabkan oleh karena banyaknya counfounding variable seperti tradisi, kepercayaan dan sikap yang dapat mempengaruhi, berbeda dengan penelitian Kasmiyetti, dkk (2002) yang menemukan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pengaturan diet.26 Secara teoritis, bahwa banyak faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap tindakan seseorang atau individu agar mempunyai perilaku yang positif, diantaranya pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/ keyakinan dan lain-lain. Keterbatasan peneliti menyebabkan tidak semua variabel tersebut diteliti. Untuk membuktikan apakah variabel-variabel tersebut betul-betul berhubungan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. 3. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Olahraga Dengan Keterkendalian Kadar Gula Darah Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keterkendalian kadar gula darah puasa dan 2jpp yang buruk, responden yang tingkat pengetahuannya tingi proporsinya lebih besar dibandingkan dengan responden yang tingkat pengetahuannya rendah. Hasil analisis bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang olahraga dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp. Secara teoritis, menurut Perkeni (1998) manfaat olahraga yang teratur dapat memberikan efek menurunkan kadar gula darah karena bertambahnya uptake glukosa oleh sel otot. Untuk keberhasilan ini diharapkan responden wajib dilakukan olahraga yang porsinya dibatasi oleh kemampuan, umur atau ada tidaknya penyakit lain.

76

4. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Obat-Obat Diabetes Dengan Keterkendalian Kadar Gula Darah Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keterkendalian kadar gula darah puasa dan 2jpp yang buruk, responden yang tingkat pengetahuannya tinggi proporsinya lebih besar dibandingkan dengan responden yan tingkat pengetahuannya rendah. Hasil analisis bivariat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang olahraga dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp. Berbeda dengan penelitian Waran, dkk (1988) yang menyatakan bahwa penderita yang kadar gula darahnya tidak terkendali/ gagal, menggunakan obat-obat diabetes adalah pendeita yang berpengetahuan rendah. Secara teoritis pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Unsur-unsur yang diperlukan seseorang untuk berbuat sesuatu antara lain adalah pengertian / pengetahuan tentang apa yang dilakukan, keyakinan / kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukan serta sarana yang diperlukan untuk berbuat. Untuk keberhasilan ini responden perlu mengerti maksud pengobatan seumur hidup sehingga dapat menjalankannya dengan ringanringan saja dan konsisten. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Sebagian besar responden tidak terkendali kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jppnya. 2. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi tentang penyakit diabetes. 3. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi tentang hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan makan. 4. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi tentang olahraga. 5. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi tentang hal-hal yang berhubungan dengan obat-obat diabetes. 6. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang penyakit Diabetes Melitus dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp (p>0,05). 7. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perencanaan makan dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp (p>0,05).

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

8. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang olahraga dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp (p>0,05). 9. Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang obat-obat diabetes dengan keterkendalian kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2jpp (p>0,05). Saran 1. Dalam rangka meningkatkan status hidup sehat dengan Diabetes Melitus perlu dilakukan pendekatan dan penyuluhan oleh para petugas

kesehatan, baik dokter maupun edukator agar : 2. Agar meningkatkan perubahan sikap yang diperlukan untuk hasil kesehatan yang optimal. 3. Penyesuaian kejiwaan yang positif dan penatalaksanaan mandiri yang efektif. 4. Meningkatkan motivasi dalam menjalankan disiplin pengobatan. 5. Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut disarankan untuk meneliti faktor-faktor lain yang juga merupakan variabelvariabel berpengaruh terhadap keterkendalian kadar gula darah.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3.

4.

5.

6.

7.

Moerdo. Spektrum Diabetes Melitus. Etiopatogenesis. Klinik dan Terapi Penyakit Kencing Manis : Jakarta :1989 _______Perkeni. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia Semarang 2002 Soeryodibroto. Beberapa Metode Diit untuk Diabetes Melitus. Dalam Makalah Seminar Sehari Edukator Diabetes Melitus : Jakarta : 18 September 1998. Waspadji, S. Diabetes Melitus Mekanisme Dasar dan Pengelolaan yang Rasional. Dalam : Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : Bumi Aksara : 1999 Soemosarjono, S. Manfaat dan Macam Olahraga Bagi Penderita Diabetes Melitus. Dalam : Naskah Lengkap Simposium Pengendalian Diabetes dan Komplikasinya. Bandung : 1986 Soegondo, S. Prinsip Pengobatan Diabetes, Obat Hipokglikemik Oral dan Insulin, Dalam Penatalaksanaan Diabetes Terpadu.Balai Penebit FK UI : Jakarta : 1995 Basuki, E. Komunikasi Dan Motivasi. Dalam : Diabetes

8. 9.

10. 11. 12. 13.

14.

Melitus. Penatalaksanaan Terpadu : Balai Penerbit FK UI : Jakarta : 1995 Notoatmodjo. S. Pengantar Pendidikan Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Perlaku, Rineka Cipta : Jakarta : 1998 Reily, Dorothy E. Obermann, Marylyn H. Clinical Teaching in Nursing education (Noviestari) Boston : Jones and Bartlett Publisher. Inc (Sumber asli diterbitkan Tahun 1999) Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta : 1993. Bachtiar, Adang, dkk Metode, Penelitian Kesehatan, Jakarta Jurusan Biostatistik dan Kependudukan, FKMUI, 1998 Manaf, A. Beberapa Aspek pada Gangguan Saraf Perifer (Neuropati) tahun 1995. Kumpulan Makalah Simposium. Kasmiyetti, dkk. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Diet pada Penderita Diabetes Club dan Non Club Persadia Padang. Skripsi. FKUA, Padang 2002 Warman, dkk. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Kepatuhan pada Penderita Diabetes, Jakarta Tahun 1988

77

ARTIKEL PENELITIAN

KONSUMSI SUPLEMEN MAKANAN DAN FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN PADA REMAJA SMA ISLAM AL – AZHAR 3 JAKARTA SELATAN TAHUN 2005 Mery Ramadani*

ABSTRACT Quality of human resource (SDM) is the one of primary factor that need to performed a national development. Nutrient aspects takes a vital role to get the best quality of human resources. Adolescent need to getting some specific attention because of they have been growth experience and develop physically (Growth Spurt) and mentally. With the rapid development and improvement in food product, nutrition, pharmacy and communication, has influenced the behavior and life style, including eating habit in adolescent. One of it is the consumption of supplements to improve the quality of adolescent’s dietarry. This research aim to see proportion of sex, nutrient knowledge, nutrient status, physical activity, body image, parents’s education, parents’s occupation, parents’s food supplements consumption, and related with adolescent’s food supplements consumption in SMA Islam Al-Azhar 3 Jakarta Selatan.This research use the cross sectional method. Research population are, all adolescent of I class and II class which fulfill of criteria and amount to 173 person. The result showed 62,4% of adolescent consumes food supplements. As a result from bivariat analysis known that nutrient knowledge and parents’s food supplements consumption have a meaning correlation with adolescent’s food supplements consumption. While of sex, nutrient status, physical activity, body image, parents’s education and parents’s occupation showing meaningless correlation with adolescent’s food supplements consumption. Base on result of these researches so it is suggested to parents and school side to give nutrition knowledge for adolescent. We also suggested adolescent consumes health menu better than food supplements to fulfill daily food intake. Keywords : Adelescent, Consumption of Food Supplements, Nutrition

PENDAHULUAN Memasuki era globalisasi saat ini, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas mutlak diperlukan. Terciptanya SDM yang berkualitas ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah sektor kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Gizi merupakan bagian dari sektor kesehatan yang penting dan mendapat perhatian serius dari pemerintah. Gizi yang baik merupakan pondasi bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh masalah gizi terhadap pertumbuhan, perkembangan, intelektual dan produktivitas menunjukkan besarnya peranan gizi bagi kehidupan manusia. Jika terjadi gangguan gizi,

* Staf pengajar PSIKM FK Unand

78

baik gizi kurang maupun gizi lebih, pertumbuhan tidak akan berlangsung optimal. Kekurangan zat gizi menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi dan jatuh sakit, sedangkan kelebihan zat gizi akan meningkatkan resiko penyakit degeneratif di masa yang akan datang 1 . Remaja adalah SDM yang paling potensial dalam sebuah negara karena remaja merupakan generasi penerus dan penentu masa depan bangsa. Remaja dalam bahasa latin Adolecare berarti “tumbuh” atau tumbuh menjadi dewasa, dimana pada masa remaja pertumbuhan fisik berjalan sangat pesat (Growth Spurt). Di masa depan, remaja dapat menjadi SDM yang berkualitas jika sejak dini terpenuhi kebutuhan gizinya. Untuk memenuhi kebutuhan gizi remaja ini tidaklah mudah mengingat remaja merupakan golongan rawan gizi. Rata-rata kecukupan energi remaja berdasarkan Recommended Dietary

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Allowence (RDA) adalah 3000 kkal/hari untuk remaja laki-laki dan 2200 kkal/hari untuk remaja puteri (Worthington, 2000). Untuk remaja Indonesia, angka kecukupan energi yang dianjurkan lebih rendah yaitu 2500 kkal/hari (laki-laki) dan 2000 kkal/hari (puteri)2. Setiap orang memiliki gaya hidup dan pola makan masing-masing yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keluarga dan lingkungan. Sewaktu kecil, peran orang tua sangat dominan dalam menentukan kandungan gizi dan pola makan anak. Namun di usia remaja, anak mulai menentukan sendiri makanan yang disuka dan sering tanpa memperhitungkan aspek gizi. Remaja saat ini gemar mengkonsumsi makanan siap saji yang cenderung tidak seimbang kadar gizinya, terutama zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Terbentuknya konsep diri berupa body image pada remaja, juga menyebabkan kebanyakan remaja kekurangan asupan makanan karena melakukan diit yang salah. Kebiasaan makan yang buruk ini menjadikan suplemen makanan sering digunakan untuk meningkatkan kualitas diit remaja 3 . Suplemen makanan adalah produk jadi yang dikonsumsi untuk melengkapi makanan sehari-hari. Suplemen makanan mengandung satu atau lebih bahan sebagai berikut: vitamin, mineral, tumbuhan atau bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, bahan yang digunakan untuk meningkatkan Angka Kecukupan Gizi (AKG); atau konsentrat, metabolit, konstituen, ekstrak, atau kombinasi dari beberapa bahan sebagaimana tercantum dalam butir sebelumnya 4. Di Indonesia, suplemen makanan dimasukkan dalam kategori makanan atau didaftar sebagai obat tradisional. Produk-produk suplemen makanan, sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) No. HK 00.063.02360, semula dikenal sebagai produk yang digunakan untuk melengkapi makanan. Saat ini ada sekitar 3500 jenis produk suplemen yang diizinkan beredar di Indonesia. Tidak sembarang produk suplemen boleh beredar di Indonesia, hanya produk suplemen yang diproduksi oleh perusahaan farmasi yang memenuhi syarat Good Manufacturing Process (GMP) saja yang dibolehkan untuk beredar. Dewasa ini penggunaan suplemen makanan cenderung meningkat. Meskipun perlu atau tidaknya mengkonsumsi suplemen masih menjadi perdebatan, kenyataan yang ada justru menunjukkan adanya peningkatan jumlah pengguna produk suplemen. Hal ini mungkin dikarenakan perubahan pola makan dan

gaya hidup, dimana saat ini masyarakat cenderung lebih menyukai jenis makanan yang praktis, cepat saji, berkadar lemak tinggi yang banyak beredar di pasaran 3. Selain itu, lingkungan dengan tingkat polusi yang semakin tinggi bisa menjadi pertimbangan dalam menambah asupan vitamin dan mineral tubuh melalui penggunan suplemen. Suplemen makanan juga dibutuhkan oleh pekerja yang tidak memiliki waktu berolah raga secara teratur serta pekerja dengan tingkat stress yang tinggi 6. Berbagai penelitian mengenai suplemen makanan juga menunjukkan tingkat konsumsi yang tinggi. Hasil penelitian Eldridge et.al (1994) pada mahasiswa di Arizona menyebutkan bahwa, 62,1% mahasiswa mengkonsumsi suplemen makanan. Persentase yang lebih tinggi juga didapatkan melalui penelitian Anggondowati (2002), dimana 70,9% mahasiswa FKM UI yang diteliti mengkonsumsi suplemen makanan. Sedangkan penelitian pada karyawan BNI yang dilakukan Indriana tahun 2003 menyebutkan bahwa 63,3% karyawan mengkonsumsi suplemen. Berdasarkan laporan Food Standars Agency (FDA), di Amerika Serikat 40% kaum perempuan dewasa dan 30% laki-laki diketahui mengkonsumsi suplemen makanan. Pada tahun 2000, Puslitbang Farmasi Depkes RI telah melakukan survei konsumen di tiga kota besar (Jakarta,Surabaya dan Bandung) tentang konsumsi suplemen makanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi suplemen makanan terbanyak adalah pada perempuan (78,1%). Kebanyakan mereka mengkonsumsi untuk menjaga kesehatan atau meningkatkan stamina (59,4%), sebagian hanya untuk mengatasi kegemukan, mencegah keriput (proses penuaan) serta menghaluskan kulit yang kasar. Lama pemakaian suplemen makanan untuk menjaga kesehatan berkisar 1-3 tahun (40,6%). Mengkonsumsi suplemen makanan tidaklah salah, namun yang perlu diperhatikan adalah penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Konsumsi yang berlebihan akan mengganggu pencernaan, menyebabkan diare dan keracunan 5. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa di kota-kota besar, suplemen makanan lebih banyak dikonsumsi oleh golongan menengah ke atas. Dipilihnya SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta Selatan sebagai lokasi penelitian adalah dengan pertimbangan bahwa sekolah tersebut merupakan sekolah dengan mayoritas siswa berasal dari golongan ekonomi menengah keatas, sehingga kecenderungan untuk

79

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

mengkonsumsi suplemen lebih besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi jenis kelamin remaja, pengetahuan gizi, kebiasaan makan menu seimbang, status gizi, aktivitas fisik, body image, pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, konsumsi suplemen makanan orangtua dan hubungannya dengan konsumsi suplemen remaja di SMA Islam Al-Azhar 3 Jakarta Selatan. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dari data primer melalui kuesioner. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional, dimana variabel dependen dan independennya diamati dalam waktu yang bersamaan untuk mengetahui konsumsi suplemen dan faktorfaktor yang mempengaruhi pada remaja. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20,21 dan 25 Mei 2005 di SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta Selatan, dengan alamat Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Populasi adalah seluruh siswa SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta Selatan yang duduk di kelas I dan kelas II Siswa kelas I berjumlah 187 orang sedangkan siswa kelas II berjumlah 168 orang, sehingga didapatkan jumlah keseluruhan siswa sebanyak 355 orang. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 173 orang yang diperoleh melalui perhitungan menggunakan uji hipotesis beda proporsi 2 sisi. Pengumpulan data dilakukan secara primer dengan alat bantu kuesioner yang diisi sendiri oleh masing-masing siswa. Data diperoleh peneliti berdasarkan hasil kuesioner tersebut. Untuk data antropometri, diperoleh dengan cara menimbang berat badan (kg) dan mengukur tinggi badan siswa (cm). Uji yang digunakan yaitu Chi-Squre (karena varibel dependen dan independennya adalah variabel kategorik dan kategorik), pada 95% Confidence Interval (95% CI). Bila p-value <0,05 berarti hasil perhitungan statistik signifikan, yang artinya ada perbedaan proporsi antara variabel independen dengan dependen. Sedangkan bila p-value >0,05, berarti tidak ada perbedaan proporsi antara kedua variabel tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian di SMA Islam Al- Azhar 3 juga menunjukkan kecenderungan tingginya tingkat konsumsi suplemen makanan di kalangan remaja, dimana lebih dari separuh responden (62,4%) mengkonsumsi suplemen. Dari 108 responden yang

80

mengkonsumsi suplemen, sebanyak 75% mengkonsumsi satu jenis produk suplemen, sedangkan 25% lainnya mengkonsumsi lebih dari 1 jenis produk suplemen dan 50,9% dari mereka mengkonsumsi suplemen setiap hari. Alasan terbanyak responden mengkonsumsi suplemen adalah untuk menjaga kesehatan (72,2%) dan atas anjuran dari keluarga (68,5%). Setelah mengkonsumsi suplemen, sebanyak 44,4% merasakan manfaat untuk stamina (kebugaran dan tidak gampang sakit), 32,4% merasa lebih sehat (membantu proses penyembuhan penyakit), dan manfaat lainnya dirasakan oleh 3,7% responden. Meskipun begitu, ada juga responden yang tidak merasakan perubahan apapun setelah mengkonsumsi suplemen (19,4%). Persentase jumlah remaja lakilaki lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah remaja perempuan. Jumlah remaja laki-laki sebanyak 56,1%, sedangkan remaja perempuan sebanyak 43,9%. Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan proporsi antara jenis kelamin, kebiasaan makan menu seimbang, status gizi, aktivitas fisik, body image, pendidikan Ibu, dan status bekerja Ibu dengan konsumsi suplemen remaja. Sedangkan perbedaan proporsi didapatkan antara pengetahuan gizi dengan konsumsi suplemen remaja dan konsumsi suplemen Ibu dengan konsumsi suplemen remaja ( tabel 1). Dari hasil penelitian antara pengetahuan gizi dengan konsumsi suplemen, diperoleh bahwa persentase responden yang mengkonsumsi suplemen, lebih banyak berpengetahuan gizi baik (78,0%), dibanding pengetahuan gizi kurang (57,6%). Hasil uji statistik menunjukkan, adanya perbedaan proporsi antara pengetahuan gizi dengan konsumsi suplemen, dengan p Value = 0,029. Dapat disimpulkan bahwa remaja yang mempunyai pengetahuan gizi baik, lebih memperhatikan keadaan gizinya, salah satunya dengan cara mengkonsumsi suplemen. Hal ini sejalan dengan penelitian tentang suplemen omega-3 oleh Utami (1998), yang menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan kuat dengan penggunaan suplemen. Responden yang pengetahuan gizinya baik mempunyai kemungkinan 5,18 kali menggunakan suplemen omega-3. Konsumsi suplemen responden lebih besar persentasenya pada Ibu yang juga mengkonsumsi suplemen (70,5%), sedangkan Ibu yang tidak

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

mengkonsumsi suplemen hanya 43,1% anaknya yang mengkonsumsi suplemen. Hasil uji statistik juga menunjukkan adanya perbedaan proporsi antara konsumsi suplemen anak dengan konsumsi Ibu.

KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 62,4% remaja SMA Islam Al Azhar 3 Jakarta Selatan mengkonsumsi suplemen makanan. Lebih banyak pada responden yang mempunyai kebiasaan makan menu kurang seimbang (63,8%), status gizi baik (67,5%), aktivitas tinggi (70,1%), dan body image sesuai (71,1%). Sebagian besar remaja (72,2%) mengkonsumsi suplemen dengan alasan untuk menjaga kesehatan dan atas anjuran dari keluarga (68,5%). Berdasarkan uji statistik didapatkan ada perbedaan proporsi antara pengetahuan gizi dengan konsumsi suplemen, dan perbedaan proporsi antara konsumsi suplemen Ibu dengan konsumsi suplemen remaja.

Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Lee et.al (2001) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara konsumsi suplemen Ibu dengan konsumsi suplemen anak. Ibu yang menggunakan suplemen lebih mengutamakan makanan sehat dan lebih mengawasi intake makanan anak perempuannya. Adanya perbedaan proporsi antara konsumsi suplemen anak dengan konsumsi suplemen Ibu bisa disebabkan karena besarnya persentase ibu yang mengkonsumsi suplemen dan menerapkan hal yang sama pada anaknya.

Tabel 1. Hasil Analisis Bivariat Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Konsumsi Suplemen Remaja Konsumsi Suplemen Ya

Variabel Jenis Kelamin ƒ Laki-laki ƒ Perempuan Pengetahuan Gizi ƒ Baik ƒ Kurang Kebiasaan Makan Menu Seimbang ƒ Kurang ƒ Baik Status Gizi ƒ Gizi kurang ƒ Gizi baik ƒ Gizi lebih dan obesitas Aktivitas Fisik ƒ Tinggi ƒ Rendah Body Image ƒ Tidak sesuai ƒ Sesuai Pendidikan Ibu ƒ ? SMA ƒ > SMA Status Bekerja Ibu ƒ Bekerja ƒ Tidak bekerja Konsumsi Suplemen Ibu ƒ Ya ƒ Tidak

Tidak

p Value

n

%

N

%

62 46

63,9 60,5

35 30

36,1 39,5

0,765

32 76

78,0 57,6

9 56

22,0 42,4

0,029*

95 13

63,8 54,2

54 11

36,2 45,8

0,501

8 77 23

57,1 67,5 51,1

6 37 22

42,9 32,5 48,9

54 28

70,1 58,3

23 20

29,9 41,7

0,247

81 27

60,0 71,1

54 11

40,0 28,9

0,292

29 79

65,9 61,2

15 50

34,1 38,8

0,710

45 63

58,4 65,6

32 33

41,6 34,4

0,260

86 22

70,5 43,1

36 29

29,5 56,9

0,001*

Besarnya persentase konsumsi suplemen ini dikhawatirkan menggeser kedudukan menu seimbang dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi, padahal mengkonsumsi menu seimbang adalah cara terbaik. Oleh karena itu disarankan kepada remaja untuk

0,200

mencukupi kebutuhan zat gizi adalah paling tepat melalui makanan, dibandingkan dengan cara mengkonsumsi suplemen. Jika ingin mengkonsumsi suplemen, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan ahli gizi.

81

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Daftar Pustaka

1. 2. 3. 4.

82

Almatsier, S, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 1998. LIPI, Jakarta. Wahlqvist, M.L, 2002. Food and Nutrition. Allen &Unwin Pty Ltd, Australia. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, 1996. Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

5. 6. 7. 8.

Guthrie, H.A & Mary, F.C, 1995. Human Nutrition. Mosby Company, St. Louis. Missouri. Tati, 2004. Suplemen Diperlukan Bila Tidak Mencukupi Dari Makanan. www.mediasehat.com. Krummel, 1996. Nutrition in Womenâ&#x20AC;&#x2122;s Health. An Aspen Publication, Gaithersburg, Maryland

STUDI LITERATUR

PENYIMPANGAN SEKS (PEDOFILIA) Masrizal Khaidir*

PENDAHULUAN Pedofilia adalah orang dewasa yang berulangkali melakukan tindakan seksual dengan anak prepubertas. Prevalensi pedofilia sulit ditentukan karena banyak kasus tak tercatat. Statistik sulit diinterpretasikan karena pelecehan seksual pada anak-anak dicatat dalam berbagai kategori yang berbeda, mencakup turut serta dalam menyebabkan kenakalan pada anak (contributing to the delinquency of a juvenille), penyerangan fisik terhadap anak (indecencies with children), penyerangan seksual (indecent assault), lewd conduct, dan frase serupa lainnya. Lebih jauh lagi, pelecehan seksual terhadap anak (child molesting) seringkali tercakup dalam kategori umum, seperti pelecehan seksual(sexual offensses) pada laporan statistik kriminal. Penyidik cenderung mendefinisikan pedofilia dengan cara yang berbeda. Beberapa batasan yang digunakan mencakup anak berusia di bawah 12 tahun, sedangkan yang lain mencakup orang yang berusia 14 sampai 16 tahun. Hal ini tidak menguntungkan karena beberapa penyidik menemukan pelaku pelecehan terhadap wanita dewasa berbeda dengan pelaku terhadap anak prepubertas. Pelecehan terhadap anak merupakan pelecehan yang cukup sering. Sebagian besar penyidik meyakini bahwa pelecehan terhadap anak memiliki proporsi yang besar di antara seluruh kejahatan seksual. Glueck memperkirakan setengah hingga dua pertiga dari seluruh pelecehan seksual merupakan laki-laki yang melakukan kejahatan seksual terhadap anak. Mohr dkk meyakini bahwa tindakan seksual terhadap anak dan ekshibisionisme merupakan pelecehan seksual yang paling banyak dibawa ke pengadilan. Keseriusan terhadap pedofilia, yang menjadi perhatian masyarakat, ditunjukkan dengan penatalaksanaan yang diberikan terhadap tersangka * Staf Pengajar PSKIM FK Unand

pedofilia. Walaupun pelaku yang baru pertama kali diberikan masa percobaan dengan layanan terapi psikiater, residivis biasanya dipenjarakan atau dilembagakan. Legislasi khusus pada 31 yurisdiksi di Amerika Serikat memberikan komitmen sipil atas penjahat seksual, seringkali untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Hukum psikopat seksual pada beberapa negara bagian, seperti California, Michigan, dan Wisconsin, biasanya ditujukan kepada penjahat seksual yang menggunakan kekerasan atau yang menjadikan anak sebagai obyek seksual. Sebagai contoh, di Atascadero State Hospital, California, sekitar 80 persen dari pasien yang masuk sebagai orang yang berbahaya secara seksual dan keluar dari RS antara tahun 1954-1960 merupakan pedofilia. Hukum ini sangat dikecam masyarakat karena ketidakjelasan dasarnya, kekerasan pada prosesnya, atau karena tidak tersedianya terapi yang efektif bagi pelaku. Jika terapi yang efektif belum tersedia bagi pedofilia di RS jiwa, keadaan akan sangat lebih buruk di penjara. Pelaku pelecehan seksual mendapatkan posisi terendah dalam hirarki penjara. Jauh dari ketersediaan pelatihan bagi pedofilia mengenai kebiasaan heteroseksual yang normal, lingkungan penjara kemungkinan dapat mendukung penyimpangan lebih lanjut. KLASIFIKASI PEDOFILIA Pedofilia dapat diklasifikasikan dalam beberapa macam. Pembagian terluas dari pelaku pelecehan seksual terhadap anak adalah berdasarkan jenis kelamin korban. Pedofilia yang memiliki obyek seksual anak dengan jenis kelamin yang berbeda disebut sebagai pedofilia heteroseksual (heterosexual pedhopile), sedangkan pedofilia yang tertarik terhadap anak dengan jenis kelamin yang sama disebut sebagai pedofilia homoseksual (homosexual pedhopile). Beberapa penyidik mendapatkan sekelompok orang dimana permasalahan utamanya bukan pada penyimpangan seksual. Mereka adalah pelaku pelecehan seksual yang tua, psikotik, atau

83

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

defisiensi mental. Pada kasus ini, deviasi seksual hanyalah bagian dari ganguannya yang lebih umum. Para peneliti juga mengidentifikasi kelompok penjahat atau psikopat. Pelecehan seksual pada anak oleh pelaku pada kelompok ini dapat merupakan bagian kecil dari gaya kehidupan kriminal atau merupakan pelampiasan impuls agresif atau sadistik. Pedofilia pada kelompok ini hanya merupakan sebagian kecil dari total populasi pedofilia. Sisanya, kemungkinan sebagai mayoritas populasi pelaku pelecehan seksual dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu: 1. Pedofilia Tipe I Pedofilia tipe ini tidak dapat berinteraksi sosial dengan wanita karena kecemasan atau ketidakmampuan sosial atau keduanya. Individu ini dapat terangsang secara seksual baik oleh obyek normal dan anak-anak. 2. Pedofilia tipe II pedofilia ini dapat berinteraksi sosial dengan wanita dewasa namun tidak mampu terangsang seksual oleh mereka. Mereka hanya dapat terangsang seksual oleh anak-anak. 3. Pedofilia Tipe III Pedofilia ini tidak dapat berinteraksi sosial dengan wanita dan tidak dapat terangsang secara seksual oleh mereka. Mereka hanya terangsang secara seksual oleh anak-anak. FAKTOR PENCEGAH Pada suatu masyarakat yang memaafkan beberapa cara mencapai kepuasan seksual dan menghukum cara-cara lainnya dengan pengasingan atau pengurungan, penyimpangan dari metode yang diizinkan oleh masyarakat tersebut berkembang karena faktor pencegah tertentu yang menghalangi individu dari melakukan kepuasan seksual dengan metode tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) kekhawatiran berinteraksi sosial dengan wanita, (2) kemampuan sosial yang tidak adekuat, dan (3) ketidakmampuan terangsang secara seksual oleh wanita dewasa. Jika terdapat salah satu faktor tersebut dalam keadaan yang ekstrim, hal itu dapat mencegah perkembangan perilaku seksual normal seseorang. Jika kecemasan, ketidakmampuan sosial, atau ketidakmampuan akan rangsangan tidak berat, seseorang dapat mengalami penyesuaian seksual yang cukup atau kecil, meskipun cukup rentan terhadap tekanan lingkungan. Pada kasus lain, seorang individu dapat melakukan penyesuaian seksual yang memuaskan yang dihambat oleh munculnya salah satu

84

faktor pencegah di kemudian hari. Walaupun ketidakmampuan membentuk hubungan seksual yang normal dengan wanita dewasa tidak selalu mengarahkan kepada perilaku psdofilik, hal itu meningkatkan kemungkinan pemikiran alternatif penyaluran seksual. Ketakutan berinteraksi sosial dengan wanita dewasa dapat dipelajari melalui berpasangan dengan wanita dengan kejadian yang tidak menyenangkan atau kejadian yang menghukum. Jika seseorang takut dengan ibunya, ketakutan ini dapat menyamaratakan terhadap semua wanita. Seorang laki-laki yang berulangkali gagal ketika mencoba bersosialisasi atau melakukan permulaan seksual dengan wanita dapat menjadi takut terhadap interaksi tersebut. Apapun kejadian pencetusnya, ketakutan terhadap wanita akan membuat seseorang sangat cemas ketika berpikir untuk mendekati wanita secara sosial dan kemudian akan menghindari situasi tersebut. Untuk menegakkan hubungan seksual yang memuaskan dengan wanita dewasa, seorang laki-laki harus melakukan berbagai keterampilan sosial, seperti mengidentifikasi kemungkinan pasangan, mencakup hubungan sosial, dan berpartisipasi dalam percakapan. Ketidakmampuan keterampilan sosial dalam hal-hal tersebut dapat menghambat terjalinnya hubungan sosial. Pada beberapa kasus, seseorang dengan kemampuan sosial yang rendah dapat berhasil dalam membina hubungan dekat dan menjaganya untuk beberapa lama. Jika hubungan berakhir, individu tersebut dapat tidak mampu mencari pasangan baru. Terkadang seseorang yang telah memiliki penyesuaian seksual dan sosial dapat mengalami situasi yang membutuhkan keterampilan sosial baru yang belum ia dapatkan. Seperti seorang dapat menjadi seorang duda yang lebih tua atau lakilaki yang sudah bercerai yang tahu cara mendekati wanita teman kuliahnya, namun tidak tahu cara menemukan calon pasangannya dalam lingkungan sosialnya saat ini. Ketidakmampuan terangsang secara seksual oleh wanita dewasa adalah faktor pencegah yang ketiga. Rangsangan seksual sebagai respon fisiologik dapat dipengaruhi oleh berbagai stimulus lingkungan yang berbeda. Pada perjalanan normal perkembangan, rangsangan seksual laki-laki dipengaruhi oleh stimulus yang berkaitan dengan wanita. Pada beberapa kasus, pola rangsangan tidak terbentuk atau dihambat oleh kecemasan. Pada kasus lain, jika hubungan seksual dengan wanita dewasa menyiksa dan merupakan pengalaman yang tidak

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

menyenangkan, respon terhadap rangsangan akan turun dan bahkan padam. Salah satu dari kombinasi faktor-faktor tersebut dapat mencegah terbentuknya hubungan seksual yang memuaskan dengan wanita dewasa pada satu waktu dalam hidupnya. Individu itu kemudian dapat mencari alternatif penyaluran seksual. Jika dia menemukan dirinya terangsang dengan anak-anak dan merasa bahwa perilaku tersebut menguatkan, pola perilaku pedofilik dapat terbentuk dengan baik. PELECEHAN SEKSUAL Pola pelecehan seksual terhadap anak perempuan yang belum matur dapat terjadi melalui beberapa cara. Pada perkembangan yang normal, permainan seksual antar anak muda umum ditemukan. Ketika seorang pemuda menghampiri untuk bergabung dengan pemudi atau dengan pemuda lainnya untuk mendapatkan kepuasan seksual, kondisi ini merupakan kondisi yang normal dan sehat dan hal ini tidak akan mempengaruhi perkembangan yang normal. Jika perkembangan seksual yang normal dihambat oleh adanya defisit keterampilan bersosialisasi maupun oleh adanya ansietas, kondisi ini dapat berlanjut yang mengakibatkan seorang perempuan menjadi imatur dalam aktivitas seksual. Hal ini sesuai dengan penjelasan Mohr dkk mengenai pedofilia pada orang dewasa, Gebhard mengenai penyerang sosioseksual yang belum berkembang maupun dengan tipe pedofilia yang terfiksasi oleh Cohen. Pada kasus lain, saat kepuasan seksual dihubungkan secara kuat dengan perempuanperempuan muda dan pelaku gagal mendapatkan kepuasan dari perempuan sebaya, maka hasrat seksualnya dapat kembali lagi ke dirinya sendiri atau dia menjadi terisolasi secara sosial. Pada contoh yang lain, hasrat seksual pada anak-anak dapat terbentuk secara sirkumstansial. Seseorang yang sedang mencari orang lain sebagai pelampiasan seksualnya akhirnya mencari anak kecil karena anak kecil lebih mudah didapatkan dan kurang menuntut dari segi emosional maupun sosial. Perlu diingat pula bahwa seorang anak dapat memulai kontak fisik dengan orang dewasa saat anak tersebut melihat bahwa orang dewasa terpuaskan olehnya. Tanpa memperhatikan alasan seseorang melakukan kontak seksual dengan anak kecil, namun mengingat hal ini dapat memberikan pengalaman yang memuaskan, pelecehan seksual dan perilaku

seksual terhadap anak-anak memiliki kecenderungan kuat untuk berulang. Fantasi seksual tentang anak kecil dapat memicu pelecehan seksual. Pemuasan seksual terhadap fantasi dalam hal ini akan mempengaruhi pola pelecehan. Pola pelecehan seksual terhadap terhadap anak-anak cenderung berkembang pada individu yang memiliki sosialisasi yang bervariasi maupun pada individu yang memiliki kekurangan dalam menjalin hubungan dengan perempuan dewasa. Walaupun perilaku ini dapat ditemukan bersamaan dengan pola seksual yang normal namun hal ini sangat jarang ditemukan mengingat penyimpangan yang terjadi merupakan konsekuensi dari penghukuman terhadap diri sendiri. Menurut Mees pelaku pelecehan seksual sering melakukan perilaku seksual yang berulang baik berupa perilaku seksual normal maupun menyimpang. Berdasarkan penelitian, gambaran pedofilia didapatkan melalui karakteristik psikologi dan sosialnya disertai dengan ofensi alami yang ia miliki. PEDOFILIA HETEROSEKSUAL Pedofilia heteroseksual sulit dibedakan dengan populasi normal. Menurut Mohr dkk, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pedofilia heteroseksual dengan populasi normal dari segi intelegensia, pekerjaan maupun pendidikan. McCaghy menemukan bahwa mereka memiliki status sosioekonomi dan level pendidikan dan pekerjaan yang lebih rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Gebhard pelaku heteroseksual terhadap anak kecil sangat bervariasi dalam hal intelegensia namun pada 11% ditemukan feeble-minded dan 34% memiliki IQ antara 70 hingga 90. Beliau juga menemukan bahwa 57% mengecap pendidikan kurang dari 8 tahun dengan status pekerjaan unskilled dan semi-skilled. Swanson menemukan bahwa nyaris semua sampel yang diteliti minimal mengecap pendidikan hingga SMU dengan 60% diantaranya memiliki riwayat pekerjaan yang baik dan 40% sisanya memiliki riwayat pekerjaan yang kurang layak dan berpindahpindah. Level pendidikan pada 33% dibawah ratarata. Pedofilia heteroseksual umumnya tidak memiliki latar belakang tindak kriminal. Menurut Gibbons, mereka cenderung memiliki perilaku prososial dan konsep diri nonkriminal dimana 60% sampel dari Gebhard dan 50% sampel dari Swanson tidak memiliki bukti adanya perilaku nonseksual yang menyimpang.

85

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Hanya sedikit dari Pedofilia heteroseksual yang psikotik dengan berbagai derajat gangguan psikologi yang bervariasi. Gebhard menemukan 10% sampelnya psikotik ataupun neurotik berat saat melakukan serangan dimana 14 hingga 20% diantaranya mengalami retardasi mental. Swanson menemukan 12% sampelnya neurotik dan dalam perbatasan psikotik dimana 16% mengalami retardasi mental dan 68% memiliki gangguan kepribadian. Pedofilia bervariasi dari segi umur dari dewasa muda hingga orang tua. Menurut Gebhard, rata-rata usia pedofilia heteroseksual adalah 35 tahun. Frisbie menemukan rata-rata usia pelaku 41 tahun dengan korban di bawah 12 tahun. Umumnya pedofilia telah menikah namun pernikahan tersebut cenderung bermasalah. Mayoritas pedofilia heteroseksual telah menikah lebih dari 20 tahun dengan usia awal menikah yang lebih tua. Gebhard menemukan mayoritas pedofilia menikah dalam waktu yang relatif lama namun pernikahan tersebut tidak stabil. Pada saat melakukan serangan hanya 31% yang masih menikah dan 41% belum pernah menikah. Dari minoritas yang masih menikah, 75% memiliki pernikahan yang relatif bahagia. Frisbie melaporkan adanya proporsi yang tinggi dari pelaku yang masih lajang, telah bercerai maupun tinggal terpisah dari pasangannya. Kebanyakan peneliti setuju bahwa beberapa pelaku pedofilia mengalami kesulitan memulai dan mempertahankan hubungan sosial. Kesulitan ini tercermin dari data statistik status pernikahan yang sudah disebut diatas. Menurut sejumlah peneliti, pelaku pedofilia dapat berperilaku tidak lazim dan gaya yang aneh. Penyesuaian sosial dan psikologis yang tidak normal ini telah diungkapkan oleh banyak peneliti. Dalam menjelaskan penyerangan seks di Rumah Sakit Pemerintah Atascadero, Laws dan Serber mengatakan, â&#x20AC;&#x153;Sebagian populasi kita nampak tidak mampu bersosialisasi dengan lawan seks secara memadai.â&#x20AC;? Mohr dan rekannya menemukan bahwa pelaku pedofilia cenderung berkepribadian tidak dewasa dan sering diisolasi dari kontak dengan dewasa. Cohen dan Kozol menemukan kesulitan hubungan antar manusia umum dijumpai pada pelaku pedofilia. Gibbons menyatakan pelaku pedofilia biasanya sering malu-malu, pensiunan dan orang yang bergaya tidak lazim. â&#x20AC;&#x153;Pelaku pedofilia sering nampak sering terhalang, nampak menjunjung moral dan terbawa rasa bersalah,â&#x20AC;? menurut Gebhard dan Gibbons. Berdasarkan pengamatan Revitch dan

86

Weiss, mereka yakin bahwa kebanyakan pelaku pedofilia heteroseksual beralih ke anak-anak karena mereka sering terhalang mendapatkan kepuasan dari hubungan dengan dewasa. Mohr dan Gebhard menemukan bahwa beberapa pelaku pedofilia heteroseksual menderita dari penyesuaian seksual abnormal , walau banyak dari mereka mendapatkan kepuasan berhubungan dengan wanita dewasa. Hanya 20 persen dari sampel pelaku pedofilia Swanson (N=25) dapat menyesuaikan secara adekuat dalam hubungan heteroseksual dengan dewasa, walau 75 persen memiliki orientasi heteroseksual dewasa pada awalnya. Gebhard dan Mohr melaporkan pelaku pedofilia sebenarnya tidak berkecenderungan dengan anak-anak, namun mereka tidak menolak untuk berhubungan dengan anak-anak. Kesimpulan mereka didasarkan atas laporan yang diberikan pelaku pedofilia sendiri. Para peneliti juga telah mengembangkan teknik laboratorium untuk mengidentifikasi pelaku pedofilia. Dengan menggunakan penis buatan untuk mengukur peningkatan gairah, Freund menemukan bahwa pelaku pedofilia dapat dibedakan dari orang dengan orientasi seksual yang normal dari respon gairah ketika ditunjukkan gambar pria, wanita dan anak-anak telanjang. Teknik ini juga untuk membedakan pria homoseksual. Dibandingkan kontrol, pelaku pedofilia heteroseksual menunjukkan gairah yang lebih tinggi terhadap gambar anak-anak perempuan dan gairah yang rendah terhadap gambar wanita dewasa. Namun, gambar anak-anak tidak selalu menjadi perangsang gairah yang utama. Yang menarik, dari 20 pelaku pedofilia yang diteliti Freund, 15 menyatakan bahwa sebelum pemeriksaan mereka berkecenderungan terhadap wanita dewasa, dan menjelaskan bahwa orientasi terhadap anak-anak hanya muncul dalam situasi yang lain dari biasanya. Setengah kasus yang diteliti Swanson, konflik atau hilangnya kepuasan dari berhubungan dengan mitra seksual dewasa mendahului tindakan ofensif mereka terhadap anak-anak. Dalam studi yang sama dengan Freund, Quinsey dan rekan menemukan bahwa saat diameter penis meningkat ketika diperlihatkan gambar pria, wanita atau anak-anak telanjang dapat dibedakan dari pria berorientasi seksual normal. Namun respon konduksi kulit dan peringkat subjek menunjukkan hasil sama saja. Para peneliti berbeda pendapat mengenai watak pelaku hemofilia yang berulang kali melakukan

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

hubungan seksual dengan anak-anak. Masalah ini berpusat pada pengaruh lingkungan dan pengaruh kepribadian pada perilaku pelaku hemofilia. Sebagai contoh, Swansons melihat penganiayaan anak-anak terjadi berkesinambungan dengan alasan yang beragam, mulai dari alasan anak-anak sebagai pilihan objek seks yang ada sampai pada alasan kepuasan seks yang hanya didapat pada anak-anak. Revitch dan Weiss membedakan hubungan seksual yang terjadi karena keinginan dan yang terjadi karena desakan. Peneliti juga berbeda pendapat tentang berapa banyak pelaku padofilia yang tergolong kronik dan berapa banyak yang tergolong â&#x20AC;&#x2DC;situasionalâ&#x20AC;&#x2122;. Mohr dan rekan, dalam studi yang telah disebutkan diatas, menyebutkan lima sampai delapan persen pelaku pedofilia heterogen yang melakukan hubungan seksual dengan anak-anak yang pertama kali, sedangkan 20 persen pernah berhubungan dengan anak-anak sebelumnya. Mohr percaya bahwa hanya tiga persen dari semua penganiaya anak-anak yang tergolong kronik yang kemudian akan menjadi terbiasa berhubungan dengan anak-anak dalam jangka waktu yang lama. Data statistik tentang residivis dapat menyesatkan karena data tersebut hanya menjelaskan bahwa para pelaku pedofilia kini lebih berhati-hati. Pelaku pedofilia sering beralasan karena pengaruh alkohol mereka terdorong untuk berhubungan dengan anak-anak. Gebhard menemukan bahwa alkohol berpengaruh 30 persen dalam terjadinya perilaku, sedangkan Swansons menyebutkan angka 33 persen. Gebhard, bagaimana pun, menyatakan, â&#x20AC;&#x153;Walau banyak pelaku hubungan seksual, terutama yang memilih anak-anak, mengklaim mabuk dalam usaha mereka membebaskan diri dari dakwaan, hanya beberapa kasus saja dimana intoksikasi dapat berperan lebih dari sekedar melepaskan hasrat yang sudah ada sebelumnya.â&#x20AC;? Gebhard menyimpulkan 70 persen perilaku pedofilia sudah direncanakan sebelumnya. Kadang-kadang tindakan pertama disebabkan dorongan hati, namun tindakan berikutnya karena sang pelaku memang mencari-cari. Faktor situasional mempengaruhi pelaku pedofilia dalam berbagai derajat. Bagi beberapa pelaku pedofilia, kecenderungan seksual pada anakanak telah ada sejak lama, lepas dari situasi apapun dalam hidup mereka. Pada contoh yang disebutkan Gebhard, 30 sampai 40 persen pelaku pedofilia heteroseksual telah memiliki keinginan atau tindakan seksual terhadap anak-anak sejak 10 tahun lamanya

atau lebih. Pada kasus yang lain, perilaku pedofilia tidak muncul kecuali jika ada stress emosional. Sekali perilaku itu dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan dan berlangsung lama dalam kehidupan. Namun, perilaku pedofilia dapat juga terjadi karena dorongan sesaat dibawah pengaruh alkohol, stres yang tidak biasanya, atau karena ada kesempatan. PEDOFILIA HOMOSEKSUAL Seorang pedofil homeseksual adalah orang dewasa yang melakukan tindakan seksual dengan anak laki-laki prepubertas. Terdapat 2 penyimpangan pilihan objek seksual dalam perilaku ini yaitu usia dan jenis kelamin. Pedofil homoseksual biasanya memiliki riwayat perilaku homoseksual sebelumnya. Gebhart melaporkan kebanyakan pelaku pedofil homoseksual telah memiliki pengalaman homoseksual, sedikit diantaranya (16%) telah menikah. McCaghy percaya bahwa perilaku ini adalah suatu bentuk pilihan gaya hidup; mereka biasanya telah memiliki identitas sebagai seorang homoseksual. Menurut Gigeroff dan kawan-kawan, seorang pedofil homoseksual lebih egosintonik dan lebih sulit untuk berubah dibanding pedofil heteroseksual. Angka kekambuhan pedofil homoseksual 2 kali lebih tinggi daripada pedofil heteroseksual. PENATALAKSANAAN Penelitian-penelitian baru telah mencoba mengembangkan metode perawatan baru bagi para pedofilia di penjara dan rumah sakit. Beberapa teknik diantaranya yang menjanjikan akan digambarkan disini. Walaupun demikian saat ini belum ditemukan penelitan bagus yang terbukti efektif untuk perawatan pedofilia. Teknik perawatan pedofilia dapat dibagi menjadi beberapa grup besar, diantaranya: 1. Teknik Fisiologis Dibuat berdasarkan fakta bahwa dorongan seksual dapat dikurangi dengan kastrasi dan pemberian hormon. Teknik perawatan ini, walaupun tidak digunakan secara umum di AS, telah dilakukan di Belanda dan beberapa negara Skandinavia. Terapi hormonal disertai dengan terapi psikologi telah digunakan untuk menurunkan dorongan seksual secara sementara. 2. Psikoterapi tradisional Psikoterapi individu dan grup yang dilengkapi dengan terapi rekreasional, terapi okupasi, pendidikan seks, dan aktivitas lain digunakan

87

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

dibeberapa fasilitas perawatan. Walapun demikian, menurut penelitian, efektifitas terapi psikologi bagi pedofilia masih beragam. Beberapa penelitian menganjurkan psikoterapi tradisional dapat membantu bila dikombinasi dengan terapi perilaku. McCaghy berpendapat apakah â&#x20AC;&#x153;pandanganâ&#x20AC;? yang diperoleh para pedofilia saat terapi ataukah jika mereka jarang diberikan justifikasi tentang perilaku mereka yang menyimpang yang dapat merubah perilaku mereka. 3. Pendekatan perilaku Teknik ini bertujuan untuk meningkatkan atau memfasilitasi interaksi sosial yang adekuat dengan wanita dewasa, meningkatkan keinginan sejsual terhadap wanita dewasa, dan menurunkan dorongan seksual pada anak-anak, mengurangi fantasi seksual dan pikiran seksual yang melibatkan anak-anak, dan mengurangi keinginan beraktivitas seksual dengan anak-anak. Desensitisasi sistematik, pelatihan asertif dan pelatihan kemampuan bersosialisasi digunakan untuk membantu meningkatkan atau memfasilitasi interaksi sosial yang cukup dengan wanita dewasa.Terapi berbagai jenis penyimpangan seksual biasanya disertai dengan desensitisasi sistematik bila kecemasan atau ketakutan terhadap wanita menjadi faktor penting. Penelitian-penlitian juga membuktikan keuntungan penggunaan latihan asertif dan kemampuan sosial. Stevenson dan Wolpe berhasil menyembuhkan seorang pedofilia heteroseksual dengan riwayat penyimpangan perilaku selam 3 tahun dengan latihan asertif. Edwards menggunakan terapi asertif untuk menyembuhkan pedofilia homoseksual dengan penyimpangan perilaku selama 10 tahun. Latihan perilaku asertif dan perilaku sosial (seperti postur tubuh dan berbicara secara lancar) telah digunakan untuk mengobati pedofilia di Rumah Sakit Atascadero. Peneliti telah menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan ketertarikan seorang pedofil terhadap wanita. Peningkatan ketertarikan terhadap wanita dewasa mungkin juga dapat menurunkan ketertarikan terhadap anak-anak. Beech dan rekanrekan mengobati pedofilia dengan mengkondisikan ketertarikan seksual dengan gambar wanita dewasa, dengan model klasik. Ketertarikan pasien berhasil diubah menjadi ketertarikan terhadap wanita dewasa di dunia nyata. Secara perlahan stimulus yang menimbulkan

88

rangsangan seksual diubah sehingga rangsangan tersebut dibangkitkan oleh stimulus yang sesuai. Barlow dan Agras telah berhasil menerapkan prosedur tersebut terhadap homoseksual. Gambar laki-laki telanjang secara perlahan diganti dengan gambar wanita telanjang sehingga rangsangan seksual dapat dipertahankan. Pergantian fantasi mempengaruhi pengkondisian fantasi masturbasi. Evan menemukan bahwa orang dengan fantasi seksual yang menyimpang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berespon terhadap penatalaksanaan dibandingkan dengan yang tidak mengalami penyimpangan fantasi. McGuire, Carlisle, dan Young percaya bahwa aberasi seksual diperkuat oleh meningkatnya orgasme dari fantasi yang menyimpang tersebut. Mereka menyarankan agar fantasi para pelaku pedofilia dibentuk dan fantasi yang sesuai tersebut akan diperkuat dengan adanya orgasme. Pada teknik ini pasien akan diminta untuk berganti ke fantasi yang sesuai segera sebelum terjadinya orgasme. Pada hilangnya perasaan yang tidak menyenangkan, hilangnya stimulus yang tidak menyenangkan dipasangkan dengan stimulus seksual yang sesuai, misalnya gambar wanita dewasa. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk menurunkan rangsangan seksual pelaku pedofilia pada anak-anak, untuk mengurangi fantasi seksual dan pikiran mereka terhadap anak-anak, serta untuk mengurangi keinginan mereka untuk melakukan hubungan seksual dengan anak-anak tersebut. Kelompok Cautela dan Barlow telah menggunakan covert sensitization untuk menurunkan rangsangan seksual mereka terhadap stimulus yang tidak sesuai. Pada prosedur tersebut, subjek (pada kasus ini, memiliki riwayat 13 tahun sebagai pelaku pedofilia), membayangkan mendekati objek yang tidak sesuai kemudian membayangkan akibat yang tidak menyenangkan seperti mual dan muntah. Lalu ketika membayangkan menjauh dari objek, keadaan yang tidak meyenangkan tersebut dihilangkan. Prosedur ini mengurangi rangsangan subjektif dan otomatis pada gadis muda dalam penatalaksanaan dan dalam kehidupan pasien sehari-hari. Callahan dan Leitenberg membandingkan covert sensitization dengan contingent shock dalam mengobati pedofilia. Pada prosedur contingent shock, rangsangan pada gambar anak kecil dipasangkan dengan sebuah shock. Prosedur covert sensitization yang mereka lakukan sesuai dengan yang dijelaskan sebelumnya, namun terdapat perbedaan dimana subjek tidak hanya membayangkan menghindar dari

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

objek yang tidak sesuai namun juga membayangkan mendekati objek yang sesuai ketika hilangnya rasa yang tidak menyenangkan tersebut. Pengukuran fisiologis mengenai rangsangan (penile tumescence), laporan subjektif mengenai urgensi dan fantasi seksual, masturbasi dan overt act digunakan pada prosedur ini. Pada 2 kasus yang dikemukakan, covert sensitization paling efektif, khususnya dalam menurunkan penyimpangan fantasi. Pada kasus pelaku pedofilia homoseksual, contingent shock tidak meningkatkan respon terhadap wanita atau merubah fantasi, sementara covert sensitization meningkatkan fantasi heteroseksual. Edwards menggunakan though-stopping yang dikombinasi dengan latihan yang disiplin untuk menekan pikiran dan fantasi pedofilia pada pelaku pedofilia homoseksual Subjek diminta untuk mengatakan â&#x20AC;&#x153;stop!â&#x20AC;? pada dirinya sendiri lalu melakukan relaksasi ketika ia menyadari adanya pikiran atau stimulus yang tidak sesuai. Shame aversion therapy yang dulu biasa digunakan untuk mengobati pelaku pedofilia dilaporkan oleh Serber (subjek memiliki riwayat 30 tahun pedophilia heteroseksual). Para pelaku memperlihatkan perilaku menyimpangnya pada korban pengganti (tidak pada

anak-anak) sebelum ke hadapan penonton. Pada artikel berikutnya, Serber menekankan bahwa prosedur tersebut tidak dapat secara permanen menekan perilaku menyimpang kecuali individu tersebut dilatih untuk melakukan perilaku alternative. KESIMPULAN Berdasarkan laporan studi kasus penatalaksanaan psikologis pada pelaku pedofilia dan pada program penatalaksanaan pada penyimpangan lainnya, peneliti bisa mendisain well-controlled exploratory studies pada pelaku pedofilia di laboratorium. Studi tersebut menghasilkan dukungan empirik untuk multiple causative model dalam perkembangan pelaku pedofilia, sistem klasifikasi pelaku pedofilia, prosedur untuk mendiagnosis faktor yang menyebabkan bertahannya perilaku menyimpang tersebut, dan program penatalaksanaan yang meningkatkan heteroseksualitas orang dewasa, serta mengurangi atau menghilangkan perilaku pedofilia. Dengan begitu pelaku pedofilia akan memperoleh rehabilitasi sebagai alternatif dari penjara yang akan membantu mereka kembali ke masyarakat tanpa masalah seksual yang bisa membuat mereka berurusan dengan pengadilan

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3.

4.

5.

6.

Atkinson, R.L., Atkinson R.C., Hillgard E.R.. Pengantar Psikologi, Edisi Kedelapan, Jilid 2.Erlangga: Jakarta; 1991 Coleman, James C. Abnormal Psychology and Modern Life, 5th edition ;1976 Indian, D.B. Taraporevala Sons & CO. Private LTD. Davison, G.C., Neale, J.M. 1994. Abnormal Psychology. New York, John Wiley & Son Inc Psikoterapi, Penggunaan Psikoterapi Pada Kasus-Kasus Klinis. Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran: Bandung; 1992 Kartono, Kartini. Psikologi Abnormal Dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju; 1989

Yogyakarta; . 1999 Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguang Jiwa: Jakarta; 1995 8. Rathus, S.A., Nevid, J.J. Abnormal Psychology. Prentice Hall: New Jersey; 1991 9. Englewood Cliffs. digitized by USU digital library 20; 2002 10. Supardi, Sawitri. Paradigma Psikopatologi (Saduran Dari Buku Paradigms For Psychopathology, A Contribution To Case History Analysis). Biro Psikologi Psikodinamika: Bandung; 1982 11. Wicaksana, Inu. Skizofrenia : Antara Kerja dan Kualitas Hidup, Artikel pada harian Kompas 15 Oktober 2000, halaman 21;2000. 7.

Martaniah, Sri Mulyani. Hand Out Psikologi Abnormal:

89

STUDI LITERATUR

VITAMIN A, IMUNITAS DAN KAITANNYA DENGAN PENYAKIT INFEKSI Azrimaidaliza*

Pendahuluan Vitamin A merupakan salah satu zat gizi mikro mempunyai manfaat yang sangat penting bagi tubuh manusia, terutama dalam penglihatan manusia. Seperti diketahui Vitamin A merupakan vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Secara umum, vitamin A merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan prekursor/provitamin A/ karotenoid yang mempunyai aktivitas biologik sebagai retinol. Secara kimia, vitamin A berupa kristal alkohol berwarna kuning dan larut dalam lemak atau pelarut lemak. Dalam makanan, vitamin A biasanya terdapat dalam bentuk ester retinil, yaitu terikat pada asam lemak rantai panjang. Di dalam tubuh, vitamin A berfungsi dalam beberapa bentuk ikatan kimia aktif, yaitu retinol (bentuk alcohol), retinal (aldehida) dan asam retinoat (bentuk asam). Retinol bila dioksidasi berubah menjadi retinal dan retinal dapat kembali direduksi menjadi retinol. Selanjutnya, retinal dapat dioksidasi menjadi asam retinoat. Vitamin A mempunyai sifat tahan terhadap panas cahaya dan alkali, tetapi tidak tahan terhadap asam dan oksidasi. Dalam proses memasak biasa vitamin A tidak banyak yang hilang. Tapi pada suhu tinggi untuk menggoreng dapat merusak vitamin A, begitupun oksidasi yang terjadi pada minyak yang tengik. Pengeringan buah di matahari dan cara dehidrasi lain menyebabkan kehilangan sebagian dari vitamin A. Ketersediaan biologik vitamin A meningkat dengan kehadiran vitamin E dan antioksidan lain. Bentuk aktif vitamin A hanya terdapat dalam pangan hewani. Pangan nabati mengandung karotenoid yang merupakan precursor (provitamin) vitamin A. Diantara ratusan karotenoid yang terdapat di alam, hanya bentuk alfa, beta dan gama serta * Staf Pengajar PSIKM FK UNAND

90

kriptosantin yang berperan sebagai provitamin A. Beta-karoten adalah bentuk provitamin A paling aktif, yang terdapat atas dua molekul retinol yang saling berkaitan. Karotenoid terdapat di dalam kloroplas tanaman dan berperan sebagai katalisator dalam fotosintesis yang dilakukan oleh klorofil. Karotenoid paling banyak terdapat dalam sayuran berwarna hijau tua. Beta-karoten mempunyai warna sangat kuning dan pada tahun 1954 dapat disintesis. Sekarang beta-karoten merupakan pigmen kuning yang boleh digunakan dalam pemberian warna makanan, antara lain untuk memberi warna kuning pada gelatin, margarine, minuman ringan, adonan kue dan produk serealia. Sehubungan dengan penjelasan yang dikemukakan di atas, maka berikut ini dibahas mengenai absorpsi, transportasi dan metabolisme vitamin A dalam tubuh, perannya terhadap imunitas dan pencegahan terhadap penyakit infeksi serta interaksinya dengan Zn. PEMBAHASAN Absorpsi, Transportasi dan Metabolisme Vitamin A Pencernaan dan absorpsi karoten dan retinoid membutuhkan empedu dan enzim pankreas seperti halnya lemak. Vitamin A yang di dalam makanan sebagian besar terdapat dalam bentuk ester retinil, bersama karotenoid bercampur dengan lipida lain di dalam lambung. Di dalam sel-sel mukosa usus halus, ester retinil dihidrolisis oleh enzim-enzim pankreas esterase menjadi retinol yang lebih efisien diabsorpsi dari pada ester retinil. Sebagian dari karotenoid, terutama beta-karoten di dalam sitoplasma sel mukosa usus halus dipecah menjadi retinol. Retinol di dalam mukosa usus halus bereaksi dengan asam lemak dan membentuk ester dan dengan bantuan cairan empedu menyeberangi sel-sel vili dinding usus halus untuk kemudian diangkut oleh kilomikron melalui sistem limfe ke dalam aliran darah

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

menuju hati. Dengan konsumsi lemak yang cukup, sekitar 80-90% ester retinil dan hanya 40-60% karotenoid yang diabsorpsi. Hati berperan sebagai tempat menyimpan vitamin A utama di dalam tubuh. Dalam keadaan normal, cadangan vitamin A dalam hati dapat bertahan hingga enam bulan. Bila tubuh mengalami kekurangan konsumsi vitamin A, asam retinoat diabsorpsi tanpa perubahan. Asam retinoat merupakan sebagian kecil vitamin A dalam darah yang aktif dalam deferensiasi sel dan pertumbuhan. Bila tubuh memerlukan, vitamin A dimobilasi dari hati dalam bentuk retinol yang diangkut oleh Retinol Binding-Protein (RBP) yang disintesis di dalam hati. Pengambilan retinol oleh berbagai sel tubuh bergantung pada reseptor pada permukaan membran yang spesifik untuk RBP. Retinol kemudian diangkut melalui membran sel untuk kemudian diikatkan pada Cellular Retinol Binding-Protein (CRBP) dan RBP kemudian dilepaskan. Di dalam sel mata retinol berfungsi sebagai retinal dan di dalam sel epitel sebagai asam retinoat. Alur transport vitamin A di dalam tubuh dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Kurang lebih sepertiga dari semua karotenoid dalam makanan diubah menjadi vitamin A. Sebagian dari karotenoid diabsorpsi tanpa mengalami perubahan dan masuk ke dalam peredaran darah dalam bentuk karoten. Sebanyak 15-30% karotenoid di dalam darah berupa beta-karoten, selebihnya adalah karotenoid nonvitamin. Karotenoid ini diangkut di dalam darah oleh berbagai bentuk lipoprotein. Karotenoid disimpan di dalam jaringan lemak dan kelenjar adrenal.Konsentrasi vitamin A di dalam hati yang merupakan 90% dari simpanan di dalam tubuh mencerminkan konsumsi vitamin tersebut dari makanan. Kurang lebih sepertiga dari semua karotenoid dalam makanan diubah menjadi vitamin A. Sebagian dari karotenoid diabsorpsi tanpa mengalami perubahan dan masuk ke dalam peredaran darah dalam bentuk karoten. Sebanyak 15-30% karotenoid di dalam darah berupa beta-karoten, selebihnya adalah karotenoid nonvitamin. Karotenoid ini diangkut di dalam darah oleh berbagai bentuk lipoprotein. Karotenoid disimpan di dalam jaringan lemak dan kelenjar adrenal.Konsentrasi vitamin A di dalam hati yang merupakan 90% dari simpanan di

Ester retinil (makanan) Retinol

Ester retinil (mukosa usus)

B-Karoten (makanan)

Retinal (usus halus) Kilomikron BLipoprotein (limfe)

Sel RBP Reseptor permukaan (sel sasaran)

Retinal (mata)

Retinol-Binding Protein (RBP) Prealbumin (darah)

Ester retinil (hati)

Asam retinoat (sel epitel)

Gambar 1. Alur transport vitamin A di dalam tubuh Sumber : Mahan, LK dan Mt Arlin, Krauseâ&#x20AC;&#x2122;s Food, Nutrition & Diet Therapy, 1002, hlm 72 dalam Almatsier, 2002

91

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

dalam tubuh mencerminkan konsumsi vitamin tersebut dari makanan. Fungsi Vitamin A Vitamin A berperan dalam berbagai fungsi faali tubuh, yaitu : 1. Penglihatan Vitamin A berfungsi dalam penglihatan normal pada cahaya remang. Di dalam mata, retinol, bentuk vitamin A yang didapat dari darah, dioksidasi menjadi retinal. Retinal kemudian mengikat protein opsin dan membentuk pigmen visual merah-ungu (visual purple) atau rodopsin. Rodopsin ada di dalam sel khusus di dalam retina mata yang dinamakan rod. Bila cahaya mengenai retina, pigmen visual merahungu ini berubah menjadi kuning dan retinal dipisahkan dari opsin. Pada saat itu terjadi rangsangan elektrokimia yang merambat sepanjang saraf mata ke otak yang menyebabkan terjadinya suatu bayangan visual. Selama proses ini, sebagian dari vitamin A dipisahkan dari protein dan diubah menjadi retinol. Sebagian besar retinol ini diubah kembali menjadi retinal, yang kemudian mengikat opsin lagi untuk membentuk rodopsin. Sebagian kecil retinol hilang selama proses ini dan harus diganti oleh darah. Jumlah retinol yang tersedia di dalam darah menentukan kecepatan pembentukan kembali rodopsin yang kemudian bertindak kembali sebagai bahan reseptor di dalam retina. Penglihatan dengan cahaya samar-samar/buram baru bisa terjadi bila seluruh siklus ini selesai. 2. Diferensiasi Sel Diferensiasi sel terjadi bila sel-sel tubuh mengalami perubahan dalam sifat atau fungsi semulanya. Perubahan sifat dan fungsi sel ini adalah salah satu karakteristik dari kekurangan vitamin A yang terjadi pada tiap tahap perkembangan tubuh, seperti tahap pembentukan sperma dan sel telur, pembuahan, pembentukan struktur dan organ tubuh, pertumbuhan dan perkembangan janin, masa bayi, anak-anak, dewasa dan masa tua. Vitamin A dalam bentuk asam retinoat diduga memegang peranan aktif dalam kegiatan inti sel yaitu dalam pengaturan faktor penentu keturunan/gen yang berpengaruh terhadap sintesis protein. Pada diferensiasi sel terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi sel yang dapat dikaitkan dengan perubahan perwujudan gen-gen tertentu. Sel-sel yang paling nyata mengalami diferensiasi adalah sel-sel epitel khusus, terutama sel-sel goblet, yaitu sel kelenjar

92

yang mensintesis dan mengeluarkan mukus atau lendir. Mukus melindungi sel-sel epitel dari serbuan mikroorganisme dan partikel lain yang berbahaya. Bila terjadi infeksi, sel-sel goblet akan mengeluarkan lebih banyak mucus yang akan mempercepat pengeluaran mikroorganisme tersebut. Kekurangan vitamin A menghalangi fungsi sel-sel kelenjar yang mengeluarkan mucus dan digantikan oleh sel-sel epitel bersisik dan kering (keratinized). Kulit menjadi kasar dan luka sukar sembuh. Membran mukosa tidak dapat mengeluarkan cairan mukus dengan sempurna sehingga mudah terserang bakteri (infeksi). 3. Fungsi kekebalan Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh pada manusia dimana mekanismenya belum diketahui secara pasti. Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B (leukosit yang berperan dalam proses kekebalan humoral. Kekurangan vitamin A menurunkan respon antibodi yang bergantung sel-T (limfosit yang berperan pada kekebalan selular). Penjelasan lebih lanjut mengenai vitamin A dan imunitas dapat dilihat pada bagian berikutnya. 4. Pertumbuhan dan perkembangan Vitamin A berpengaruh terhadap sintesis protein, yaitu terhadap pertumbuhan sel. Vitamin A dibutuhkan untuk perkembangan tulang dan sel epitel yang membentuk email dalam pertumbuhan gigi. Pada kekurangan vitamin A, pertumbuhan tulang terhambat dan bentuk tulang tidak normal. Pada anakanak yang kekurangan vitamin A, terjadi kegagalan dalam pertumbuhan. Vitamin A dalam hal ini berperan sebagai asam retinoat. 5. Reproduksi Vitamin A dalam bentuk retinol dan retinal berperan dalam reproduksi pada tikus, yaitu pembentukan sperma dan sel telur serta perkembangan janin dalam kandungan. 6. Pencegahan kanker dan penyakit jantung Kemampuan retinoid mempengaruhi perkembangan sel epitel dan kemampuan meningkatkan aktivitas system kekebalan diduga berpengaruh dalam pencegahan kanker, terutama kanker kulit, tenggorokan, paru-paru, payudara dan kantung kemih. Di samping itu beta karoten yang bersama vitamin E dan C berperan sebagai antioksidan diduga dapat mencegah kanker paru-paru (Almatsier, 2002).

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Vitamin A, Imunitas dan Penyakit Infeksi 1. Vitamin A dan Imunitas Kaitan vitamin A dalam fungsi sistem imun dapat dilihat dari asosiasi defisiensi vitamin A dengan penyakit infeksi. Dari eksperimen diketahui retinoat dapat menstimulasi respon imun (McLaren, 2001). Studi pada hewan dan manusia menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A mempengaruhi imunitas humoral, dimana imunitas sel-mediated rusak. Produksi dan maturasi limphosit menurun dengan kurangnya vitamin A. Studi di Indonesia menemukan bahwa rasio sel T hubungan dengan antigen CD4+ dan CD8+ rendah dalam limphosit darah peripheral pada anak yang menderita xerophthalmia dibandingkan dengan kontrol non xerophthalmia (Semba, Muhilal, Ward et al, 1993). Setelah suplementasi vitamin A, proporsi CD4+ sampai CD8+ sel T dan persentase CD4+ limphosit T meningkat. Mekanisme vitamin A terhadap fungsi respon imun masih belum jelas. Bentuk aktif level seluler adalah asam retinoat, dan bisa jadi metabolit retinol lain juga aktif (McLaren, 2001). Vitamin A dalam bentuk retinol dan retinoat memelihara integritas permukaan epithelial (seperti paru-paru, kulit dan kulit) dan produksi sekresi mukosa. Defisiensi vitamin A menyebabkan menurunnya jumlah leukosit, sirkulasi komplemen dan antibody, rusaknya fungsi sel T dan menurunnya resisten immunogenik tumor. Beta-karoten secara langsung melindungi sel dari oksidasi dan meningkatkan limphosit proliferasi, fungsi sel T, produksi sitokin dan toksik sel mediated, contohnya sitotoksiksiti sel Natural Killer (NK). Karotenoid dapat menghambat proksidan seperti aktivitas antioksidan (Wahlqvist, 2002). Vitamin A merupakan faktor esensial untuk perkembangan sistem limpoid dan perkembangan permukaan mukosa saluran pencernaan, pernapasan dan genitourinary (Clausen, 1934; Robertson, 1934 dalam Semba, 2002) dan tingginya morbiditas serta mortalitas pada anak di Eropa dan Amerika pada awal abad 20 dan sekarang ditemukan di negara sedang berkembang. Vitamin A mempunyai peran mengatur berbagai aspek dari fungsi imun, termasuk komponen imunitas non spesifik (seperti phagositosis, pemeliharaan permukaan mucosal) dan imunitas spesifik (seperti perubahan respon antibodi). Ross & Hammerling (1994) dalam Olson (2004), menyebutkan bahwa pada defisiensi vitamin A, mekanisme protektif spesifik dan non spesifik rusak, yaitu respon humoral terhadap bakteri,

imunitas mucosal, aktivitas sel NK dan phagositosis. Respon imun terhadap antigen pada deplesi vitamin A anak ditingkatkan dengan suplementasi vitamin A. Sel T-helper merupakan tempat utama peran vitamin A dalam respon imun. Retinol, melalui 14hydroksiretroretinol (HRR) juga terlibat dalam proliferasi sel B normal dan sel T. Berbagai jenis Sitokin dapat mempengaruhi proses, tapi tidak dapat menggantikan HRR dalam proses tersebut. Efek kekurangan vitamin A terhadap pertahanan tubuh sebagai berikut (Semba, 2002) : 1. Keratin yang abnormal pada saluran pernapasan, saluran genitourinary dan permukaan mata 2. Kehilangan silia dari respiratori epithelium 3. Kehilangan mikrofili dari usus kecil 4. Penurunan sel goblets dan produksi mucin dalam mucosal epitel 5. Rusaknya fungsi neutropil 6. Rusaknya fungsi sel Natural Killer (NK) dan penurunan jumlah sel NK 7. Rusaknya aspek hematopoisis 8. Perubahan T helper tipe 1 dalam respon imun 9. Penurunan jumlah dan fungsi limfosit B 10. Rusaknya respon antibodi terhadap T-cell dependen dan antigen independen a. Imunitas mukosal Defisiensi vitamin A merusak fungsi mucosal sebagai salah satu aspek dari fungsi imun melalui beberapa mekanisme, yaitu melalui kehilangan silia pada saluran pernapasan, kehilangan mikrofili pada saluran genitourinary, hilangnya mucin dan goblets pada saluran pernapasan, gastrointestinal dan genitourinary, metaplasia dengan keratinisasi abnormal pada saluran pernapasan dan genitourinary, alterasi antigen spesifik sekretori konsentrasi immunoglobulin A (IgA), rusaknya mucosal yang berkaitan dengan fungsi sel imun dan penurunan fungsi usus. b. Sel Natural Killer (NK) Defisiensi vitamin A menurunkan jumlah sirkulasi sel NK dan rusaknya aktifitas sitolitik sel NK. Sel ini berperan dalam imunitas anti-viral dan anti-tumor serta terkait dalam regulasi respon imun. Dari penelitian pada anak yang menderita AIDS yang menerima 2 dosis vitamin A secara oral (60 mg Retinol Equivalent/RE) diketahui meningkatkan jumlah sirkulasi sel NK dibandingkan dengan yang menerima placebo (Hussey et al, 1996 dalam Semba, 2002).

93

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

c. Neutrophil Fungsi neutropil akan rusak bila terjadi defisiensi vitamin A. Neutropil berperan sebagai imunitas non spesifik karena pagositosis kemudian membunuh bakteri, parasit, sel yang terinfeksi virus dan sel tumor. Asam retinoat sendiri berperan dalam maturasi normal neutropil. d. Haematopoiesis Defisiensi vitamin A merusak hematopoisis dari beberapa lineages, seperti CD4 + limposit, sel NK dan eritrosit. Pada manusia, defisiensi vitamin A ini ditandai dengan penurunan jumlah total limposit dan CD4 + limposit pada darah peripheral. Retinoid diimplikasikan dalam maturasi sel pluripoten menjadi sel lineages yang menghasilkan sel hematoputik, seperti limposit, granulosit dan megakariosit. Retinoid juga berperan dalam maturasi diferensiasi sel pluripoten menjadi koloni multipoten-bentuk sel unit gabungan granulosit-eritroid-makropag (CFUGEMM) dan diferensiasi dan CFU-GEMM menjadi eritroid-bentuk unit dan kemudian menjadi koloni eritroid bentuk unit. e. Limphosit T dan B Vitamin A menjaga keseimbangan T-helper tipe-1 dan T-helper tipe-2. Defisiensi vitamin A merusak pertumbuhan, aktivasi dan fungsi limphosit B. Limphosit B untuk penggunaan metabolit retinol, 14-hidroksi-4, 14-retro-retinol, termasuk asam retinoat sebagai mediator pertumbuhan (Buck et al, 1991 dalam Semba, 2002). Antigen sel dependen-T digunakan untuk diferensiasi dari sensitisasi limphosit B menjadi immunoglobulin-sekresi sel dan semua trans asam retinoat meningkatkan sintesis IgM dan IgG. Tingginya limphosit T inkubasi dengan asam retinoat meningkatkan sintesis IgM oleh limphosit B, menunjukkan bahwa asam retinoat mempengaruhi sel T melalui produksi sitokin (Ballow et al, 1996 dalam Semba, 2002). f. Monosit/makropage Retinoat berperan dalam diferensiasi dan aktifitas sel monosit/makropage. Dari banyak studi diketahui efek all-trans-asam retinoat terhadap fungsi murine macrophage (Dillehay et al, 1988 dalam Semba, 2002) atau sel myeloid. g. Respon antibodi Tanda defisiensi vitamin A dapat diketahui dengan rusaknya kapasitas untuk menghasilkan

94

antibodi respon terhadap antigen sel T-dependen (Smith and Hayes, 1987; Semba et al, 1992, 1994; Wiederman et al, 1993) dan antigen sel T-independen tipe 2, seperti polysaccharide pneumococcal (Pasatiempo et al, 1989). Respon antibodi dikaitkan dengan proteksi immunitas terhadap banyak tipe infeksi dan merupakan basis utama untuk proteksi immunological untuk banyak tipe vaksin. Turunnya respon antibodi terhadap tetanus toxoid diobservasi pada anak yang mengalami defisien vitamin A (Semba et al, 1992) dan pada hewan (Lavasa et al, 1988; Pasatiempo et al, 1990 dalam Semba, 2002). Peran Vitamin A Terhadap Penyakit Infeksi Defisiensi vitamin A adalah salah satu masalah gizi utama yang dihadapi oleh penduduk di dunia, menyebabkan kebutaan melalui xerophthalmia, tapi juga meningkatkan resiko penyakit infeksi (Wahlqvist, 2002). Ross (1996) dalam McLaren (2001) menyebutkan 2 hipotesis untuk menjelaskan proteksi vitamin A melawan infeksi, sebagai berikut : Tabel 1. Dua Hipotesis Kontras dari Peran Protektif Vitamin A melawan Infeksi Hipotesis Epithelial Barrier - Reaksi dasar adalah serangan - Melindungi dari invasi infeksi

-

- Integritas struktural adalah yang paling penting

-

- Resisten terhadap infeksi turun apabila defisiensi vitamin A

-

- Efek utama intervensi vitamin A akan menurunkan insiden infeksi

-

Hipotesis Respon Immunologic Reaksi dasar adalah pertahanan Meningkatkan pertahanan tubuh terhadap pathogen Integritas fungsional adalah paling penting, sebagai differensiasi sel Resisten terhadap proliferasi infeksi menurun apabila defisiensi vitamin A Efek utama intervensi vitamin A akan menurunkan durasi/severitas infeksi

Sel epitel organ dan jaringan mempunyai fungsi pertahanan. Ross (1996) menyatakan bahwa disamping peran menyerang (offensif) juga respon immunologic yaitu respon pertahanan (defensif) melawan infeksi. Proteksi offensif akan menurunkan insidens infeksi sedangkan mekanisme defensif akan menurunkan durasi/severitas infeksi (McLaren, 2001). Defisiensi vitamin A meningkatkan susceptibilitas beberapa tipe infeksi. Oomen et al (1964) dalam Semba (2002) mengatakan bahwa defisiensi vitamin A berperan terhadap rendahnya resisten terhadap infeksi dan sebaliknya penyakit infeksi berpengaruh terhadap terjadinya xerophthalmia. Lebih dari 100 penelitian klinis tentang vitamin A yang dilakukan pada manusia.

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Beberapa studi ini menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas karena penyakit campak dan diare, morbiditas malaria Plasmodium falciparum dan morbiditas dan mortalitas ibu saat hamil. Suplementasi vitamin A tidak menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi saluran pernapasan bawah akut atau menurunkan transmisi HIV tipe 1 ibu ke anak. a. Penyakit Campak Suplementasi vitamin A menurunkan morbiditas dan mortalitas campak akut pada bayi dan anak di negara berkembang. Suplementasi vitamin A mengatur respon antibodi terhadap campak dan meningkatkan total limposit. Anak dengan infeksi campak akut dan menerima suplementasi vitamin A dosis tinggi (60 mg RE) secara signifikan tinggi IgG dan merespon virus campak dan tingginya sirkulasi limposit selama follow-up, dibandingkan dengan anak yang menerima placebo (Coutsoudis et al, 1992 dalam Semba, 2002). Suplementasi vitamin A yang diberikan secara simultan dengan vaksin campak, menimbulkan efek antibodi terhadap campak bila antibodi ibu juga ada. Pada bayi umur 6 bulan di Indonesia, pemberian vitamin A (30 mg RE) pada saat imunisasi dengan standar titre Schwarz vaksin campak mengganggu serokonversi terhadap campak pada bayi yang memperoleh antibodi ibunya, dan secara signifikan menurunkan insiden campak (Semba et al, 1995). Pada uji klinik lain menunjukkan bahwa vitamin A (30 mg RE) menurunkan respon antibodi terhadap virus campak pada bayi umur 9 bulan yang memperoleh antibodi dari ibunya, tapi tidak mengganggu serokonversi campak. (Semba et al, 1997) b. Penyakit Diare Di negara berkembang, penyakit diare diantara anak yang disebabkan oleh patogen, termasuk rotavirus, Escherichia coli, Shigela, Vibrio cholerae, Salmonella dan Entamoeba histolytica. Dari segi epidemiologi, klinik, immunologi dan patogenesis diare mungkin berbeda tergantung karakteristik patogen, seperti produksi toksin, invasi jaringan, kehilangan cairan dan elektrolit dan lokasi infeksi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A atau fortifikasi menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diare pada anak (Beato et al, 1993; Barreto et al, 1994 dalam Semba, 2002). Defisiensi vitamin A diasosiasikan dengan

penyakit diare pada anak (Sommer et al, 1984; Briliant et al, 1985; DeSole et al, 1987; Gujral et al, 1993; Schaumberg et al, 1996 dalam Semba, 2002). Keluarnya vitamin A lewat urin selama infeksi Shigella pada beberapa anak (Mitra et al, 1998) dan suplementasi vitamin A (60 mg RE) menurunkan morbiditas pada anak dengan shigellosis akut (Hossain el, 1998 dalam Semba, 2002). Walaupun perbaikan terhadap status vitamin A dapat mencegah penyakit diare, tapi masih belum jelas apakah dapat memberikan efek pada semua pathogen diare atau hanya pada beberapa tipe pathogen saja. c. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) ISPA merupakan penyebab utama kematian anak di negara berkembang dan penyebab utama dari ISPA termasuk infeksi pernapasan virus syncytial, parainfluenza, Haemophilus influenza, Streptococcus pneumoniae dan Bordetella pertussis. Studi di rumah sakit menunjukkan bahwa tinggi dosis suplementasi vitamin A tidak memberikan efek teraputik terhadap morbiditas ISPA pada anak (Kjolhede et al, 1995; Nacul et al, 1997; Fawzi et al, 1998 dalam Semba, 2002). Di Chile dan Amerika, uji di rumah sakit menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A memberikan dampak kecil terhadap infeksi pernapasan virus syncytical pada bayi dan anak (Bresee et al, 1996; Dowell et al, 1996; Quinlan dan Hayani, 1996 dalam Semba, 2002). â&#x20AC;&#x2DC;Clinical trial controlledâ&#x20AC;&#x2122; terbaru di Quito, Ecuador menunjukkan suplementasi vitamin A pada anak umur 6-36 bulan, secara signifikan menirukan insiden ISPA pada anak yang underweight (berat badan per umur Z score < 2), tapi signifikan meningkatkan insiden ISPA pada anak dengan berat badan normal (berat badan per umur Z score > -1), dibandingkan dengan placebo (Sempertegui et al, 1999 dalam Semba, 2002). Walaupun status vitamin A berkaitan dengan severitas ISPA pada anak (Dudley et al, 1997), tapi masih belum jelas mengapa terapi vitamin A tidak memberikan efek pada beberapa penelitian morbiditas ISPA pada anak. Usia yang muda mungkin salah satu faktor berkurangnya efek, seperti studi pada komunitas yang besar menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A mempunyai efek kecil terhadap morbiditas dan mortalitas pada bayi (West et al, 1995; WHO/CHD studi grup imunisasisuplementasi vitamin A, 1998 dalam Semba, 2002). d. Malaria Adanya bukti bahwa suplementasi vitamin A menurunkan morbiditas P. falciparum malaria.

95

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

Penelitian klinik â&#x20AC;&#x2DC;randomized placebo-controlled dilakukan pada anak-anak Papua New Guinea umur 6-60 bulan yang menderita penyakit malaria dengan memberikan suplementasi vitamin A (60 mg RE setiap 3 bulan). Setelah diikuti selama 1 tahun, vitamin A menurunkan insidens malaria 20-50% kecuali level parasetemia tinggi. Suplementasi vitamin A memberikan efek yang sedikit pada anak umur dibawah 12 bulan dan efek yang besar dari umur 13 sampai 36 bulan. (Shankar, et al, 1999 dalam Semba, 2002)

g. Infeksi pada ibu hamil dan ibu menyusui Data dari Nepal menunjukkan bahwa ibu hamil dengan defisiensi vitamin a secara klinik (seperti buta senja) merupakan resiko tinggi morbiditas penyakit infeksi (Christian et al, 1998 dalam Semba, 2002) dan mortalitas (Christian et al, 2000 dalam Semba, 2002). Suplementasi vitamin A atau B karoten setiap minggunya menurunkan resiko morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi pada wanita, hal ini karena status vitamin A penting bagi kehamilan.

e. Infeksi HIV Suplementasi vitamin A memberikan beberapa manfaat pada anak terinfeksi HIV dan ibu hamil di negara sedang berkembang. Rendahnya konsentrasi plasma/serum vitamin A atau intake vitamin A diasosiasikan dengan peningkatan penyakit infeksi dan mortalitas dan tingginya transmisi HIV dari ibu ke anak (Kennedy et al, 2000 dalam Semba, 2002). Periodik suplementasi vitamin A dosis tinggi menurunkan morbiditas anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV (Coutsoudis et al 1995) dan morbiditas penyakit diare pada anak yang terinfeksi HIV dirawat di rumah sakit karena ISPA (Fawzi et al, 1999). Suplementasi vitamin A tidak menurunkan transmisi HIV ibu ke anak (Coutsoudis et al, 1999; Fawzi et al, 2000 dalam Semba, 2002).

Interaksi Vitamin A dan Zink terhadap Penyakit Infeksi Banyak enzim yaitu zink-dependen dan diantaranya adalah retinol dehydrogenase yang berperan dalam fungsi rod. Di beberapa kasus buta senja yang kekurangan vitamin A juga mengalami kekurangan zink. Kekurangan ini terkait dengan sintesis retinol-binding protein. Sejumlah studi menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A dengan Zink mempunyai efek yang bermanfaat terhadap diare dan beberapa penyakit infeksi lainnya. Respon limphosit dapat meningkat dengan vitamin A dan zink (Kramer, Udomkesmalee, Dhanamitta et al, 1993 dalam McLaren, 2001).

f. Tuberculosis Walaupun malnutrisi dan defisiensi vitamin A merupakan faktor resiko utama peningkatan tuberculosis, manajemen klinis biasanya melibatkan kemoprophylaxis dan kemoterapi daripada status gizi host. Minyak â&#x20AC;&#x2DC;cod-liverâ&#x20AC;&#x2122;, sumber kaya vitamin A dan D, digunakan sebagai strategi pengobatan terhadap tuberculosis selama lebih 100 tahun (Williams dan Williams, 1871 dalam Semba, 2002). Dari penelitian klinik menunjukkan bahwa suplementasi vitamin A dosis tinggi mempengaruhi morbiditas tuberculosis pada anak. (Hanekom et al, 1997 dalam Semba, 2002)

Penutup Vitamin A berperan terhadap fungsi kekebalan tubuh (imunitas) manusia. Terjadinya defisiensi vitamin A menyebabkan mekanisme protektif spesifik dan non spesifik rusak, yaitu respon humoral terhadap bakteri, imunitas mukosal, aktivitas sel NK dan phagositosis. Selanjutnya defisiensi vitamin ini berakibat pada meningkatnya resiko penyakit infeksi, seperti campak, diare, ISPA dan malaria. Dengan suplementasi vitamin A dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas karena penyakit campak dan diare, begitu juga menurunnya morbiditas malaria Plasmodium falciparum dan morbiditas serta mortalitas ibu saat hamil.

Daftar Pustaka 1. 2.

3.

96

Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. PT Gramedia McLaren, Donald S, and Frigg, Martin. 2001. Sight and Life Manual on Vitamin A Deficiency Disorders (VADD) Second Edition. Switzerland. Task Force Sight and Life Olson, JA, et al, Fat-soluble Vitamins dalam Garrow, et al. 2004. Human Nutrition and Dietetics. Tenth Edition.

4.

5.

Churchil Livingstone. London Semba, Richard D. 2002. Vitamin A, Infection and Immune Function dalam Nutrition and Immune Function. USA. CABI Publising Wahlqvist, Mark L and Wattanapenpaiboon, Naiyana, 2002, Food and Nutrition, 2nd Edition, Allen & Unwin Pty Ltd. Australia

STUDI LITERATUR

PEMANFAATAN KOMPOSTER BERSKALA RUMAH TANGGA Nizwardi Azkha*

Pendahuluan Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan ini tidak saja pembangunan fisik tapi juga pembangunan spriritual. Pembangunan akan lebih berhasil bila kita dapat memanfaatkan potensi alam yang ada disekitar kita. Sebenarnya sumber daya sangat banyak sekali namun belum dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Hal ini karena kurangnya pengetahuan dan ketrampilan kita sehingga perlu sosialisasi dan pelatihan agar masyarakat dapat memanfaatkan potensi tersebut. Salah satu contoh yang akrab dengan kehidupan kita adalah sampah rumah tangga. Sampah ini disamping dapat dijadikan pupuk juga dapat didaur ulang sebagai peningkatan ekonomi masyarakat, pengelolaannyapun sangat mudah dan sederhana. Paradigma umum yang dijumpai saat ini dalam pengelolaan sampah kota adalah kumpul â&#x20AC;&#x201C; angkut â&#x20AC;&#x201C; buang. Seiring dengan pertambahan penduduk, tambah lama akan tambah banyak jumlah sampah yang harus ditangani. Dengan demikian beban pengelolaan sampah kota akan tambah berat, kecuali bila cara pandang dalam pengelolaan sampah diperbaiki. Perbaikan ini tidak dapat dilakukan dalam waktu sekejap, karena menyangkut pula cara pandang masyarakat penghasil sampah, dan yang juga penting adalah cara pandang pengambil keputusan baik esksekutif maupun legislatif. Sampah perkotaan merupakan masalah yang perlu mendapatkan penanganan dan perhatian serius serta sebanding dengan masalah lingkungan hidup lainnya. Hal ini mengingat kenaikan volume sampah perkotaan dari tahun ke tahun terus meningkat, seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan peningkatan teknologi serta aktivitas sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Sejak beberapa tahun terakhir ini partisipasi masyarakat dalam kebersihan lingkungan terlihat

menurun. Hal tersebut dapat dilihat dari sampah yang berserakan di tempat-tempat umum, terminal, lokasi pedagang kaki lima, selokan penuh dengan tumpukan sampah, sekitar TPS sampah berserakan. Ini merupakan suatu bukti kurangnya kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap kebersihan lingkungan khususnya dalam pengelolaan sampah. Kasus sampah dan banjir yang setiap saat dapat terjadi kembali, kemudian baru dipikirkan oleh setiap orang, seharusnya masalah tersebut kita hadapi dan bagaimana persoalan ini dapat kita pecahkan bersama merupakan suatu kesadaran baru di masyarakat untuk ikut serta memecahkannya. Hal ini adalah suatu langkah positif, inilah yang harus segera direspon untuk menyusun upaya konkrit dalam mengatasinya, salah satu upaya konkrit yang dapat dikembangkan pada setiap kelurahan. Program alternatif yang memanfaatkan limbah atau sampah yang kemudian di daur ulang kembali menjadi suatu produk yang mempunyai nilai ekonomis, sehingga program ini bukan saja akan dapat mengurangi sampah akan tetapi juga bermanfaat bagi alam & lingkungan hidup serta dapat memberikan sumber penghasilan bagi pelakunya. Jenis Sampah A. Mudah membusuk (sampah organic) 1. Daun tanaman 2. Sisa makanan 3. Sayur-sayuran 4. Kulit telur 5. Sisa ikan 6. Kotoran ternak 7. Dll B. Tidak mudah membusuk (Sampah an organic) 1. Plastik 2. Kertas 3. Botol 4. Kaleng

*Staf Pengajar PSIKM FK UNAND

97

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

5. Kayu 6. Dll Kegiatan pengelolaan sampah yang dapat dikerjakan masyarakat Masalah sampah timbul karena masyarakat kurang peduli untuk mengelolanya. Masyarakat masih banyak membuang sampah secara sembarangan terutama daerah pemukiman. Lingkungan kotor akibat tumpukan dan berserakannya sampah.. Sampah menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara, mengganggu kesehatan, kenyamanan dan pemandangan yang tidak sedap. Pengurangan (Reduksi) timbulnya sampah hendaknya menjadi priorits utama dalam mengurangi timbulnya sampah, dan ini hanya dapat dilakukan bila penghasil sampah itu sendiri menyadarinya. Salah satu penyebab tambah banyaknya timbulan sampah adalah karena pola komsumsi masyarakat itu sendiri. Untuk itulah pada tulisan ini mengajak masyarakat untuk dapat mengurangi sampah rumah tangga melalui kegiatan komposter ini. Timbulan sampah rumah tangga Sampah yang ditimbulkan dari rumah tangga berdasarkan penelitian yang pernah saya lakukan di Kota Padang berdasarkan SNI diperoleh bahwa timbulan sampah perorang/hari adalah 0,49 kg/hari, atau 2,4 l/orang/hari, dan sampah oraganik mencapai 96%. Pemilahan Sampah Di Rumah Tangga Jangan membuang sampah sembarangan, harus dilakukan pemilahan sampah menjadi sampah kering (an organik) seperti plastik dan kaleng) dan sampah basah (organik) seperti daun dan sisa sayuran lainnya). Sampah kering dapat dimanfaatkan kembali atau dijual pada pengumpul sampah an organik merupakan nilai ekonomi (daur ulang) sedangkan sampah basah diolah menjadi pupuk kompos. Tujuan 1. Mengurangi volume sampah basah 2. Mengelola sampah secara dini, cepat dan tepat 3. Mengurangi beban angkutan sampah dari Pemerintah Kota 4. Menyediakan pupuk yang ramah lingkungan Langkah Pembuatan Pupuk Kompos

98

1. Pemilahan sampah 2. Membuat rumah kompos dan terowongan segitiga bambu (tempat untuk membuat kompos) 3. Pembuatan kompos Proses Pengomposan Aktif Selama proses pengomposan aktif, yaitu sejak tumpukan kompos di susun sampai masa pematangan, dilakukan pengendalian mutu dengan pemberian tanda, dan pembalikan. Tahap ini merupakan pemilahan lanjut. Harus dilakukan secara benar sehingga menjamin tercapainya pengomposan yang sempurna, serta memisah Pada setiap rumah tangga hendaknya sudah harus menyediakan dua buah keranjang/plastik sampah. Satu keranjang/plastik diisi dengan sampah yang mudah membusuk, dan satu lagi dengan sampah yang tidak mudah membusuk. Kegiatan ini diperlukan kepedulian dan kemauan ibu rumah tangga untuk melakukan, maka peran tokoh masyarakat seperti RW dan RT untuk mendukung program ini sangat menentukan. Sampah basan (organik) dibuatkan kompos dan sampah an organik (tidak mudah membusuk) dikumpulkan untuk selanjutnya dijual. Kompos organik merupakan hasil pemrosesan dan pengolahan dari sampah organik yang telah dipilah terlebih dahulu, berasal dari sampah rumah tangga. Manfaat kompos : 1. Kompos dapat digunakan dengan aman bagi tanaman dan tanah tanpa memberikan dampak negatif pada tanah dan tanaman. 2. Masyarakat petani kembali ke pola pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia dalam melakukan proses kegiatan pertaniannya. 3. Meningkatkan ekonomi masyarakat 4. Terciptanya lingkungan yang asri, bersih dan sehat 5. Memberikan peluang untuk lapangan kerja Usaha Daur Ulang dan produksi Pupuk Kompos sebagai alternatif A. Usaha Daur Ulang Sampah adalah segala sesuatu yang tidak berguna lagi, sampah sudah merupakan masalah yang serius, terutama dikota. Usaha daur ulang dan produksi kompos adalah unit pengolahan sampah yang merupakan memilah sampah organik dan non organik dimana yang non organik disalurkan kepada bagian yang bisa dikomposkan dari yang organik

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

dirubahmenjadi kompos. Usaha daur ulang dan produksi kompos dikembangkan untuk membantu mengurangi beban permasalahan sampah yang harus dipikul oleh pemerintah daerah, perumahan, pasar dan lainnya. Usaha daur ulang dan produksi kompos juga dapat menjadi usaha yang menghasilkan keuntungan bagi pengelolanya. Usaha yang dilakukan dengan melakukan dua kegiatan sekaligus yaitu, pendaurulangan sampah organik yang mempunyai nilai ekonomi dan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Usaha daur ulang sampah dapat dilihat dari dua segi yaitu sebagai unit pengolahan sampah dan unit produksi kompos. B. Cara Pemilahan sampah dalam pembuatan kompos

Sampah yang masuk dipilah untuk mendapatkan bahan organik pilihan sebagai bahan baku kompos. Selain itu, barang berbahaya dapat diamankan dan barang-barang yang dpat didaur ulang bisa dikumpulkan untuk dijual, sehingga tidak menyita tempat dan dapat mengurangi pencemaran. Barang yang berbahaya seperti bekas pisau cukur, alat suntik, infus harus diamankan. Barang berbahaya ini harus dibakar melalui incenerator, sedangkan sisa dari pemilahan sampah seperti daun keras, tulang, kayu dan sebagainya dapat diserahkan pada petugas kebersihan atau pengangkut sampah. Barang lapuk; berupa kaleng, kardus,k plastik, gelas, besi tua dan aneka logam bekas dapat dijual kepenampung atau bandar.

Daftar Pustaka 1. 2.

3.

Panduan Praktis Pembuatan Kompos. CPIS (Center For Policy and Implementation Studie)s, Jakarta, 1992 Teori dan Aplikasi Teknis Pembuatan Kompos dari Sampah. CPIS (Center For Policy and Implementation Studies, Jakarta , 1992 Damanhuri, Enri. Paradigma Baru Pengelolaan Sampah

4.

Kota: Minimasi Sampah Terangkut dan Optimasi TPA. Dalam Seminar dan Lokakarya Forum Kota Sehat Padang, 2004 Dewina, Reno& Sadoko, Isono. UDPK Sebagai Suatu Alternatif Pemecahan Masalah Sampah. Media Tumbuh dan Penyehat Tanaman. Jakarta, 1993

99

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

HIMA PSIKM FK UNAND DALAM SOROTAN

PENDAHULUAN HIMA PSIKM FK Unand telah berdiri sejak 2001 setelah setahun berdirinya PSIKM. Sebagai bagian yang melekat dan tidak terpisahkan dari PSIKM, HIMA merupakan organisasi intra perguruan tinggi yang berfungsi sebagai wahana dan sarana perluasan wawasan dan peningkatan kecendikiawanan mahasiswa, menanamkan sikap ilmiah, pemahaman profesi dan meningkatkan kerjasama, serta menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Hal ini sangat diperlukan mengingat mahasiswa PSIKM berasal dari beberapa jalur yaitu jalur A, B1 dan B2. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan berbagai kegiatan dalam organisasi kemahasiswaan ini. Kegiatan â&#x20AC;&#x201C; kegiatan tersebut merupakan suatu upaya untuk pengembangan potensi yang ada pada mahasiswa, diantaranya kegiatan penalaran dan keilmuan, minat bakat dan kegemaran, kesejahteraan mahasiswa serta bakti sosial mahasiswa. Kepengurusan HIMA PSIKM periode 2007 / 2008 ini, disahkan dengan SK Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand No. 259/ J16.2/PSIKM/V/ 2007. VISI DAN MISI HIMA PSIKM Visi : HIMA PSIKM sebagai organisasi yang terpandang di Unand, berkualitas dan berperan besar bagi anggota dan masyarakat. Misi : 1. Menyiapkan anggota untuk memiliki kemampuan akademika 2. Mengembangkan dan menyebarkan IPTEK, minat bakat / kegemaran dan kesenian. 3. Mendorong dan mengembangkan potensi jati diri mahasiswa sebagai insan yang berguna di masa depan. 4. Memelihara dan mensosialisasikan gerakan HIMA PSIKM ke semua fakultas di lingkungan Universitas Andalas melalui kegiatan ilmu pengetahuan, teknologi, minat bakat / kegemaran dan kesenian.

100

Demi tercapainya Visi dan Misi HIMA PSIKM ini maka di perlukan peran aktif dan kesadaran dari semua pihak terutama mahasiswa PSIKM untuk membangun dan mengembangkan HIMA di masa yang akan datang. PROGRAM KERJA HIMA PSIKM FK UNAND HIMA PSIKM FK UNAND periode 2007/ 2008 telah membuat dan menyusun program kerja. Program kerja ini didasari atas usulan dan rancangan dari masing -masing seksi yang ada di HIMA, yang Insyaallah akan segera direalisasikan Untuk melaksanakan rencana kerja HIMA, telah di bentuk 3 bidang dengan masing â&#x20AC;&#x201C; masing seksi, yaitu : 1. Bidang Pengembangan Prestasi Minat dan Bakat a. Sie Ilmiah b. Sie Apresiasi dan Seni c. Sie Olah Raga d. Sie Publikasi dan Jurnalistik 2. Bidang Ekonomi a. Sie kerohanian b. Sie pengabdian Masyarakat dan Sosial c. Sie usaha 3. Bidang keorganisasian dan anggota a. Sie pengembangan organisasi dan Anggota b. Sie Humas Berikut rencana program kerja masing-masing bidang: I. Bidang pengembangan Prestasi Minat dan Bakat 1. Seksi Ilmiah a. Pengumpulan informasi ilmiah ( dari majalah , buku dan internet ) b. Mengkoordinasikan mahasiswa yang berpotensi dalam lomba â&#x20AC;&#x201C; lomba ilmiah c. Seminar kesehatan masyarakat d. Berlangganan majalah kesehatan

Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, I (2)

2. Seksi Apresiasi dan Seni a. Pembentukan group seni ( tari tradisional, tari modern , drama / parodi ) b. Kerajinan tangan 3. Seksi Olahraga a. Open recruitment b. Pengadaan alat – alat olah raga c. Pertandingan persahabatan dengan fakultas perguruan tinggi lain d. Kegiatan jalan santai e. Kegiatan senam masal f. Latihan olah raga rutin ( Volley, basket , badminton ) 4. Seksi publikasi dan jurnalistik a. Penertiban mading b. Pembuatan artikel kesehatan c. Penertiban buletin seputar kesehatan d. Goes to school II. Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan 1. Seksi Kerohanian a. Program ramadhan ( buka bersama ) b. Halal bi halal c. Peringatan Hari Besar Islam : - Peringatan tahun baru Islam - Peringatan Isra’ Mi’raj - Peringatan Maulid Nabi d. Daurah awwal e. Rihlah f. Pengajian per dua bulanan g. Mengkoordinasikan mahasiswa yang berpotensi dalam lomba – lomba kerohanian h. Mading dan buletin Islam 2. Seksi pengabdian masyarakat a. Posyandu binaan b. Pembagian sembako

c. Pembinaan UKS 3. Seksi usaha a. Pembuatan pin b. Pembuatan stiker c. Pembuatan kalender 2008 d. Pembuatan gantungan kunci e. Pembuatan imsakiah f. Bazaar buku g. Penjualan buletin h. Pasar murah i. Lomba disain pin dan stiker j. Bazaar jilbab k. Stan karya seni mahasiswa l. Pembuatan dokumen BAKTI III. Bidang Keorganisasian dan Anggota 1. Seksi Pengembangan Organisasi dan Ilmiah a. Study Tour b. Open Recruitment c. Pelatihan d. Evaluasi perbulan dan Mentoring 2. Seksi Humas Memfasilitasi kegiatan intern PSIKM / kepengurusan HIMA dengan pihak luar untuk keperluan acara dan kegiatan. KEGIATAN HIMA YANG TELAH BERJALAN Kegiatan yang telah di lakukan oleh HIMA PSIKM periode 2007 / 2008 adalah pembuatan artikel HIMA untuk Jurnal IKM dan pemberian bantuan bencana alam abrasi di Padang Kegiatan tanggap bencana alam abrasi dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 27 Mei 2007 bertempat di Parupuk Tabing, Padang. Jenis bantuan yang diberikan berupa beras, mie instan, susu, makanan ringan, lotion anti nyamuk dan telur.

101

SUSUNAN KEPENGURUSAN HIMPUNAN MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FK UNAND PERIODE 2007/2008

KETUA WAKIL I WAKIL II SEKRETARIS BENDAHARA

: LENI SUSANTI RUSLI : DETTY ERVITA : JONI AFRICO : SELVY OLIVIA : INDAH LOVE SIANDA

I. BIDANG PENGEMBANGAN KEORGANISASIAN DAN ANGGOTA A.Seksi Pengembangan Organiosasi Dan Anggota Koordinator : Dini Syafitri Anggota : Fadjriyana Eka Putri Misrina Mutia Prajuwita Mario Virgo B. Seksi Humas Kordinator Anggota

: Rustam Efendi : Dike Akmal Sri Zil Wardati Ridho Ichsan Syaini Dinasti Mularsih

II.BIDANG PENGEMBANGAN MINAT, PRESTASI DAN BAKAT A. Seksi Ilmiah Kordinator Anggota

B. Seksi Olah Raga Kordinator Anggota

102

: Betty Niarulen : Efra Komaria Reno Ela Zaifa Yori Novrianto Hendri Defita

: Willia Nespita : Fifi Novria Yarsi Antoni Hendra Desnova Abdul Arfan

C. Seksi Apresiasi Dan Seni Kordinator : Muslim Abra Anggota : Dedi Maulana Hasyim Dina Fitria Ellia Zen Mega Mulyani D. Seksi Publikasi Dan Jurnalistik Kordinator : Dian Kurnia Robbani Anggota : Vierolli Amanda Novrita Susanti Ernita Yusnita Renita Afriza III. BIDANG EKONOMI DAN KESEJAHTERAAN A. Seksi Usaha Kordinator : Sittatun Anggota : Nia Prima Sartika Melvita Wulandari Reny Darmayenty Yulia Chartian B. Seksi Rohani Kordinator Anggota

: Suci Inayati : Yulmaida Kurnia Novrita Darman Leni Lendia

C. Seksi Pengabdian Masyarakat Kordinator : Erwin Noviar Anggota : Gusweni Ayu Kusuma Wati Widia Handayani Dewi Oktavia Eva Westaizi

FOTO-FOTO KEGIATAN HIMA PSIKM

Gambar 1: Suasana pelantikan pengurus HIMA PSIKM FK Unand

Gambar 2 : Sebagian Pengurus HIMA PSIKM FK Unand periode 2007/2008

Gambar 3: Pemberian bantuan kepada korban abrasi pantai di Parupuk Tabing

Gambar 4: Panitia baksos bersama masyarakat korban abrasi di tenda pengungsian

103

FORMULIR BERLANGGANAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama

: ...........................................................................................................................

Alamat

: ...........................................................................................................................

Telepon

: ...........................................................................................................................

e-mail

: ...........................................................................................................................

Bersedia untuk menjadi pelanggan Jurnal Kesehatan Masyarakat dengan biaya Rp. 75.000,00/tahun/2 Edisi (sudah termasuk ongkos kirim).

Pembayaran ditransfer ke Rek. a/n. Dr. H. Hafni Bachtiar, MPH. No. Rek. 0051061837 BNI Padang Cabang Imam Bonjol Bukti Transfer berikut Formulir ini dikembalikan ke : Redaksi Jurnal Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Jl. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613

104


Volume 1 Nomor 2 (Maret - September 2007)