Issuu on Google+

2

PEMILIHAN KETUA UMUM

PC PMII KUTAI TIMUR Sabtu (20/5) 2010 bulan lalu, PC PMII Kutim mengadakan muscab dengan agenda memilih kepengurusan baru PC PMII Kutim periode 2010-2012. Musyawarah Cabang (Muscab) PC PMII Kutim diseleng garakan mengingat periode kepemimpinan kepengurusan lama yang dipimpin oleh sahabat M. Idris Proses Pemilihan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indoneisa (PMII) periode sebelumKutai Timur Periode 2010-2011 nya telah berakhir. Dasar (PKD)”. Acara Muscab sendiri diselenggarakan mulai Agenda Muscab PC PMII 2010 kemudian dari pukul 08.30-17.00 WITA bertempat di dilanjut dengan pemilihan Ketua KOPRI (bikampus Sekretariat PC PMII Kutim. dang kegiatan perempuan). Dalam pemilihan Muscab PC PMII Kutim menghasilkan ketua KOPRi ini sahabat Khusnul Khotimah Moch Khoirul Faizin sebagai ketua umum terpilih sebagai ketua. PC PMII periode 2010-2012 secara aklamasi. Dalam Muscab ini juga terpilih beberapa Meski jabatan ketum PC PMII Kutim sebena- kepengurusan baru, diantaranya sahabat rnya terbuka untuk semua anggota PMII yang Moh. Nursyah menjadi Ketua bidang Internal aktif dan memenuhi syarat untuk menjadi PC PMII Kutim, dan Ketua Bidang Exsternal Ketua Umum. Namun tidak semua anggota ditempati oleh sahabat Hadi Supranoto, Ketua PC PMII besedia mencalonkan diri. bidang keagamaan diketuai oleh sahabat Ali Dari ketiga anggota PC PMII yang me- Basuki dan ketua bidang pengkaderan oleh samenuhi kriteria sebagai calon KETUM, yakni habati Dahniar. sahabat Fitri Istiqamah, Khusnul Khotimah KETUM PCPMII Kutim terpilih (Moch. dan Moch. Khoerul Faizin, yang hanya ber- Khoerul Faizin) mengatakan pasca Muscab sedia menjadi seorang KETUM adalah Moch. pembentukan struktur kepengurusan akan Khoerul Faizin. Sementara dua calon yang segera dilakukannya, mengingat PC PMII lain mengundurkan diri. Dengan adanya KUTIM sangat membutuhkan kepengurusan calon tunggal, maka faizin terpilih sebagai yang pasti dalam rangka turunnya SK Definitf KETUM PC PMII Kutai Timur secara aklam- dari PB PMII. “Setelah kepengurusan yang baru ini asi. Persayaratan pencalonan ketua umum PC terbentuk, secepatnya saya akan menyiapkan berkasPMII sendiri diatur dalam ADART PMII pasal berkas untuk diajukan ke PKC PMII Samarinda 23 ayat 2 yang berbunyi bahwa “calon ketua dan PB PMII Jakarta agar secepatnya kita Umum PC PMII adalah mereka yang mini- mendapatkan pengakuan yang definitive”, kata samal telah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan habat Faizin dalam sela-sela istirahat.**mchtr PM I I K U TAI T I M U R 2010

3 PMII KUTIM PERKUAT KADER

IKUTI PELATIHAN KADER DASAR (PKD)

PMII News-Sebagai tindak lanjut dari telpon, Subhan Arafat (Ketua Panitia Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Pelaksana) mengatakan bahwa kegiatan PKD yang telah dilakuakan beberapa waktu lalu, ini bertujuan untuk menciptakan kader-kader PMII Kutim mengirimkan sekitar dua belas yang militan. “Dengan adanya kader-kader orang anggotanya untuk mengikuti Pelatihan yang millitan, saya optimis PMII akan mampu Kader Dasar (PKD) di Samarinda. Kegiatan berkembang sesuai dengan visi misi yang yang dilakukan mulai dari tanggal 10-13 Juli ini diembannya”, tambahnya melalui telfon. ditujukan untuk membentuk kader-kader yang Pengiriman kader untuk mengikuti militan dan merekatkan tali silaturrahmi antar PKD ini merupakan yang ke tiga kalinya. anggota PMII dari berbagai daerah, khususnya Sebelumnya PMII Kutim telah mengirimkan Kalimantan Timur. kadernya pada tahun 2008 dan 2009. Moch Rencananya para anggota PMII Kutim Khoirul Faizin (ketua PMII periode 2010) ini diberangkatkan satu hari sebelum acara mengatakan PMII Kutim hendaknya bisa dimulai, tepatnya pada Jum’at (09/06) nanti, mengirimkan kadernya untuk mengikuti PKD pasalnya jarak yang ditempuh antara Sangatta yang diadakan oleh sahabat-sahabat PMII Samarinda cukup lumayan jauh. Sebelum Kaltim, hal ini perlu dilakukan mengingat mengikuti PKD, para calon peserta diwajibkan PMII Kutim membutuhkan kader yang militan memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah untuk menjadi generasi penerus pengelola ditentukan oleh panitia pelaksana. Syarat- PMII ke depannya. “Dengan mengikuti syarat yang harus dipenuhi antara lain: mengisi Pelatihan Kader Dasar (PKD), diharapkan formulir pendaftaran, membuat makalah yang para sahabat/i anggota PMII nantinya bertemakan tentang Ke-Indonesia-an, Ke- akan mempunyai semangat dan tanggung Islam-an, atau Ke-PMII-an dan menyertakan jawab yang penuh, untuk membangun dan surat delegasi utusan dari PMII setempat. mengembangkan PC PMII Kutai Timur”, Dalam kesempatan perbincangannya melalui tandasnya. PM I I K U TAI T I M U R 2010

4

GENEOLOGI KENAKALAN

PADA USIA REMAJA Oleh : Siti Asiyah*

Kenakalan remaja dalam studi masalah remaja (Kauffman, 1989: 6). sosial dapat dikategorisasi sebagai perilaku Kauffman mengemukakan bahwa perilaku menyimpang. Fenomena menyimpangnya menyimpang dapat dilihat sebagai perwujudan perilaku remaja dalam prespektif psikologi dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak perkembangan terjadi karena pada usia dapat dilihat secara sederhana sebagai tindakan remajalah aturan-aturan sosial ataupun yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus nilai dan norma sosial yang ada dan baku dilihat sebagai hasil interaksi dari transaksi mulai dipertanyakan dan ditentang. Perilaku yang tidak benar antara seseorang dengan menyimpang pada usia remaja ini kemudian lingkungan sosialnya. Ketidak berhasilan dianggap sebagai sumber masalah yang belajar sosial atau “kesalahan� dalam dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. berinteraksi dari transaksi sosial tersebut dapat Stereotype bahwa remaja identic dengan termanifestasikan dalam beberapa hal. kenakalan kemudian digeneralisasi untuk Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan semua usia remaja. sehari-hari melalui interaksi sosial dengan Tentunya generalisasi terhadap kenakalan menggunakan media atau lingkungan sosial sebagai hasil usia remaja tidak dapat dibenarkan tertentu. Oleh sebab itu, kondisi kehidupan secara serta merta. Menurut penulis, sebelum lingkungan tersebut akan sangat mewarnai mengeneralisasi dan menstigmatisasi remaja dan mempengaruhi input dan pengetahuan sebagai penyimpang, harus ada usaha untuk yang diserap. Salah satu variasi dari teori yang membongkar akar tungangang kenakalan menjelaskan kriminalitas di daerah perkotaan, itu sendiri, yakni dengan mengetahui latar bahwa beberapa tempat di kota mempunyai belakang dan motif kenakalan yang terjadi. sifat yang kondusif bagi tindakan kriminal oleh Yang perlu analisis lebih tajam dalam kasus karena lokasi tersebut mempunyai karakteristik kenakalan remaja ini adalah pembedaan antara tertentu, kemiskinan, dan rendahnya tingkat perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan pendidikan (Eitzen, 1986: 400) yang disengaja. Penyimpangan perilaku yang Pendekatan sistem dalam memandang tidak disengaja muncul dan berangkat karena perilaku meyimpang remaja, menganggap ketidakpahaman seseorang terhadap aturan- bahwa perilaku individu yang menjadi masalah aturan yang ada, sedangkan kenakalan dan sosial adalah bersumber dari sistem sosial perilaku yang menyimpang dengan disengaja dengan bentuk disorganisasi sosial sebagai adalah sebentuk perilaku menyimpang yang sumber masalahnya. Menurut Eitzen, seorang dilakukan untuk menyimpang, dan bahwa ia dapat menjadi buruk/jelek oleh karena tahu apa yang dilakukan adalah melanggar hidup dalam lingkungan masyarakat yang aturan. Becker (Soerjono Soekanto, 1988: 26). buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada Perilaku menyimpang yang merupakan umumnya pada masyarakat yang mengalami sebentuk kenakalan remaja ini menurut gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai Kauffman dapat didekati melalui pendekatan sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. individual dan pendekatan sistem. Pendekatan Dengan demikian kontrol sosial menjadi individual dalam persoalan kenakalan remaja lemah, sehingga memungkinkan terjadinya ini adalah pendekatan melalui pandangan berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di sosialisasi. Pandangan sosialisasi memandang dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, bahwa perilaku penyimpang bisa diidentifikasi seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil pastian dan surutnya kekuatan mengikat dalam melewati belajar sosial (sosialisasi). Oleh norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku Kauffman perilaku menyimpang ini disebut menyimpang karena tidak memperoleh sanksi dengan perilaku disorder di kalangan anak dan sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa PM I I K U TAI T I M U R 2010

5 dan wajar. Dalam satu dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin menunjukkan trend yang amat memprihatinkan. Kenakalan remaja yang diberitakan dalam berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan. Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok, mabukmabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan dan penyalahgunaan obat-obatan seperti narkotik (narkoba).Kenakalan remaja diartikan sebagai suatu outcome dari suatu proses yang menunjukkan penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma-norma yang ada. Kenakalan remaja disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor pribadi, faktor keluarga yang merupakan lingkungan utama (Willis, 1994), maupun faktor lingkungan sekitar yang secara potensial dapat membentuk perilaku seorang anak (Mulyono, 1995). Berdasarkan hasil beberapa penelitian ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab

timbulnya kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya orangtua sebagai figur tauladan bagi anak (Hawari, 1997). Selain itu suasana keluarga yang meninbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja. Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994) orangtua dari remaja nakal cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anakanaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orangtua terhadap remaja. Sebaliknya, suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya Akhirnya usaha untuk mengurangi tingkat kenakalan remaja ini berpulang pada semua pihak, yakni orang tua dengan kasih-sayangnya, lingkungan yang kondusif dan kontrol sosial yang berimbang.

ARTI PENTING KELUARGA

BAGI ANAK-ANAK Mustatho’* Peringatan Hari Anak yang jatuh pada pemikiran kearifan. Anak-anak akan tumbuh 23 Juli pada tiap tahunnya ini semestinya ti- sesuai warna yang dipoleskan kepada mereka, dak hanya dianggit sebagai usaha memaknai oleh karena itu pengaruh keluarga, lingkungan terus menerus posisi anak di tengah-tengah dan pendidikan sangatlah dominan dan menkehidupan ini. Peringatan Hari Anak Nasional garahkan masa depan mereka. Pertanyaannya, semestinya dimaknai lebih dengan sebentuk bagaimanakah sebebarnya posisi keluarga bagi usaha koreksi diri terhadap penilaian, pemaha- pendidikan anak-anak?. Artikel ini berusana man dan sikap kita dalam pemenuhan hak-hak memaparkan peran keluarga bagi pendidikan mereka. Namun demikian, usaha-usaha ini anak dengan dua perannya, yakni peran kelemsering kali hanya bergerak dalam ranah ser- bagaan dan peran pendidikan. emoni belaka, perayaan terjadi di mana-mana, Peran Kelembagaan. Dalam perspektif hari anak diperingati besar-besaran, anak-anak pendidikan, terdapat tiga lembaga utama yang dipaksakan ikut namun tanpa pendampingan sangat berpengaruh dalam perkembangan kedan pemberian paham akan apa yang mereka pribadian seorang anak yaitu lingkungan kelulakukan. arga, lingkungan sekolah dan lingkungan maDunia anak yang merupakan dunia awal syarakat, yang selanjutnya dikenal dengan istikehidupan adalah dunia serba warna, yang lah Tripusat Pendidikan. Dalam ­GBHN (Tap. harus diwarnai dengan tangan kebijakan dan MPR No. IV/MPR/1978) ditegaskan bahwa PM I I K U TAI T I M U R 2010

6 “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat�. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Zakiah Darajat, 1992). Lembaga keluarga merupakan tempat pertama untuk anak menerima pendidikan dan pembinaan. Meskipun diakui bahwa sekolah mengkhususkan diri untuk kegiatan pendidikan, namun sekolah tidak mulai dari “ruang hampa�(Hery Noer Aly, 2000), sekolah menerima anak setelah melalui berbagai pengalaman dan sikap serta memperoleh banyak pola tingkah laku dan keterampilan yang diperolehnya dari lembaga keluarga. Keluarga adalah sekolah tempat putra putri belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, sifat kesetiaan, kasih sayang, gairah (kecemburuan positif) dan sebagainya. Dari kehidupan keluarga, seorang ayah atau suami memupuk sifat keberanian dan keuletan dalam upaya membela sanak keluarga dan membahagiakan mereka pada saat hidup dan setelah kematiannya (M. Quraish Shihab, 1997). Keluarga adalah unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat tradisional misalnya, keluarga menjalankan proses pengembangan sosial anak dengan memperkenalkan berbagai keterampilan, kebiasaan dan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kehidupan komunitas. Karena kehidupan masyarakat tradisional yang sangat terbatas dan sederhana, baik anasir-anasir sosoialnya maupun isinya, maka pola-pola pendidikannya pun masih sangat sederhana. Anak-anak diajarkan memanah, berburu dan bercocok tanam. Mereka belajar langsung melalui lembaga keluarga yang mereka miliki. Peran kedua adalah peran pendidikan. Dari segi pendidikan, keluarga memegang peranan yang sangat penting untuk melanjutkan dan mengembangkan sosial budaya yang telah diajarkan kepada anak. Dianggap bahwa kejadian sehari-hari dalam kehidupan keluarga, anak-anak harus mempelajari kebenaran dan peraturan-peraturan yang ada, menghormati hak dan perasan orang lain, menghindari pergaulan yang kurang baik dan lain sebagainya

(Koestoer Partowisastro, 1983). Pada setiap anak, sebagian besar tingkah lakunya diberi corak oleh tradisi kebudayaan serta kepercayaan keluarga. Hanya saja hal ini belum tentu dapat dipastikan, karena adanya gejala bosan terhadap tradisi lama. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama dikenalkan kepada anak, atau dapat dikatakan bahwa seorang anak itu mengenal hubungan sosial pertama-tama dalam lingkungan keluarga. Adanya interaksi anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain menyebabkan seorang anak menyadari akan dirinya bahwa ia berfungsi sebagai individu dan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai individu, ia harus memenuhi segala kebutuhan hidupnya demi untuk kelangsungan hidupnya di dunia ini. Sedangkan sebagai makhluk sosial, ia menyesuaikan diri dengan kehidupan bersama yaitu saling tolong-menolong dan mempelajari adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian, perkembangan seorang anak dalam keluarga sangat ditentukan oleh kondisi keluarga dan pengalamanpengalaman yang dimiliki oleh orang tuanya sehingga, di dalam kehidupan bermasyarakat akan kita jumpai bahwa perkembangan anak yang satu dengan yang lain akan berbeda-beda (Abu ahmadi, 1997). Hal yang penting diketahui adalah bahwa dari lingkungan keluargalah perkembangan perasaan sosial anak akan dimulai, perasaan simpati misalnya, diketahui, dipahami dan dimulai anak dari keluarga yakni usaha anak menyesuaikan diri dengan perasaan orang lain. Anak-anak akan merasa simpati kepada orang dewasa dan juga kepada orang yang mengurus mereka. Dari rasa simpati ini kelak tumbuh pada anak-anak rasa cinta terhadap orang tua dan kakak-kakaknya. Demikian pula, perasaan simpati itu menjadi dasar untuk perasaan cinta terhadap sesama manusia. Di samping itu, lingkungan keluarga dapat memberi suatu tanda peradaban yang tertentu kepada sekalian anggotanya. Dari caranya bercakap-cakap, berpakaian, bergaul dengan orang lain, dapat kita kenal pertama kali dalam lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perasaan sosial anak selanjutnya. Wassalam.

PM I I K U TAI T I M U R 2010

*Dosen STAIS Kutai Timur

7

PEMENUHAN

HAK ANAK DAN MASA DEPAN BANGSA Oleh: Ais*

“ Saya Anak Indonesia Kreatif, Inovatif, Cerdas dan Unggul dalam menghadapi Tantangan Masa Depan, Tidak akan menyerah demi terwujudnya generasi penerus bangsa Yang cemerlang� Mencetak generasi yang cerdas, unggul, kreatif dan inovatif adalah anggitan yang harus dikembangtumbuhkan oleh pemerintah dan kuasa politik dimanapun ia adanya. Generasi yang cerdas dan unggul dimulai dari bagaimana seorang anak diperlakukan. Namun apa lacur, potret dunia anak-anak di dunia bahkan di Indonesia menunjukkan hal berbeda; yang ada anak-anak terlantar di jalanan, berdiri di pinggiran lampu merah berteman dengan asap knalpot kendaraan bermotor, akrab dengan debu, bahkan menggadaikan keceriaan mereka dengan mengamen demi sesuap nasi. Dunia anak yang seharusnya indah, menyenangkan menjadi kelam dan menakutkan. Akan kemanakah arah Negara-bangsa ini jika dunia anak-anak yang menjadi harapan bangsa ke depan telah tergadaikan?. Kasus human traffic king (penjualan anak-anak) menambah panjang deret pilu dunia anak dan memastikan semakin mengukuhkan kekhawatiran akan hilangnya gerenerasi penerus bangsa! 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Hari Anak merupakan upaya untuk menumbuh kembangkan kesadaran, motivasi tekad dan semangat segenap lapisan masyarakat, khususnya para orang tua dan keluarga terhadap pentingnya hak-hak perlindungan, pertumbuhan dan pendidikan anak-anak. Sejak ddikeluarkannya Konvensi Tentang HakHak Anak oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 20 November 1989, perhatian terhadap dunia anak-anak mengalami kemajuan. Konvensi ini lahir di antaranya, didasarkan pada kesadaran bahwa anak harus dipersiapkan seutuhnya untuk hidup dalam suatu kehidupan individu dan masyarakat, dan dibesarkan semangat cita-cita yang dinyatakan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa, dan terutama dalam semangat

perdamaian, kehormatan, tenggang rasa, kebebasan, persamaan dan solidaritas. Pemerintah memiliki Konvensi Hak Anak dengan Keppres No.39/1990. Keberhasilan yang sangat siginifikan dalam perundangundangan nasional adalah ditetapkannya UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. UU ini telah mengintegrasikan seluruh prinsip-prinsip yang ada dalam Konvensi Hak Anak. Selain itu, UU lain yang berkaitan dengan hak-hak anak telah pula ditetapkan, seperti UU Sistem Pendidikan Nasional, UU Ketenagakerjaan dan UU dalam meratifikasi Konvensi ILO tentang Bentuk Terburuk Tenaga Kerja Anak. Pada tingkatan operasional, berbagai perencanaan program nasional telah disusun antara lain penghapusan bentuk-bentuk terburuk pekerja anak, penghapusan perdagangan perempuan dan anak, penghapusan eksploitasi seksual komersial pada anak, penanganan terhadap anak jalanan.Namun berbagai peraturan perundang-undangan yang ada terhadap anak itu belum dapat memberikan jaminan bagi peningkatan kualitas anak Indonesia. Banyaknya sekalin faktor yang menghambat terwujudnya peraturan perundang-undangan di lapangan menunjukkan bahwa masalah pembinaan kualiatas anak merupakan masalah yang penting. Faktor yang menghambat pengimplementasian ketentuan tersebut dapat bersifat internal maupun eksternal. Untuk dapat mengentaskan anak-anak dari kondisi demikian, yang perlu dilakukan pertama-tama adalah: kenali masalah yang terdapat di dalam lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga. Fungsi perlindungan kepada anak merupakan salah satu fungsi yang penting karena dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa aman dan kehangatan dalam keluarga. Bila fungsi

PM I I K U TAI T I M U R 2010

8 ini dapat dikembangkan dengan baik, keluarga akan menjadi tempat perlindungan yang aman secara lahiriah dan batin bagi seluruh anggotanya.Namun, selain fungsi perlindungan keluarga juga memiliki fungsi ekonomi. Fungsi itu menjadi pendukung kemampuan kemandirian keluarga dan anggotanya dalam batas-batas ekonomi masyarakat, bangsa, dan negara dimana keluarga itu hidup. Apabila dikembangkan dengan baik fungsi ini dapat memberikan kepada setiap keluarga kemampuan untuk mandiri dalam bidang ekonominya, sehingga mereka dapat memilih bentuk dan arahan sesuai kesanggupannya. Sehingga kasus kasus yang menimpa anak anak kita tidak lagi menjadi momok yang mengerikan bagi masa depan mereka Momentum 23 Juli sebagai hari anak nasional menjadi sangat penting adanya. Negara Indonesia adalah satu di antara Negara-negara yang telah menetapkan Konvensi Hak Anak ini. Penjaminan hak ini bermakna Negara berkewajiban untuk mengakui dan memenuhi hak dan kebutuhan anak Indonesia, ketika

orang tua tidak sanggup lagi melakukannya. Atau ketika anak-anak berada dalam kondisi yang sangat rentan bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Melalui Hari Anak Nasional ini, kita diingatkan pada kewajiban Negara untuk melakukan tugasnya. Lebih mendasar lagi, Negara diingatkan kembali untuk terus menerus melihat kondisi anak Indonesia yang semakin terpuruk. Tidak hanya sebatas itu, melalui peringatan hari anak nasional ini juga masyarakat diajak untuk ikut mengambil peran dalam meminimalkan kondisi-kondisi yang dapat memperburuk kehidupan anak-anak Indonesia. Terakhir disamping political will dari pemerintah melalui ratifikasi hak anak ini, dukungan dan peran semua pihak sangat menentukan terjaminnya hak-hak mereka, guna mewujudkan generasi bangsa masa depan yang cemerlang. Dengan pemenuhan hak-hak anaklah negara ini akan menjadi negara yang sejahtera. Di mulai dari merubah sikap terhadap mereka dunia akan berubah!

PM I I K U TAI T I M U R 2010

*Sahabati PMII Kutai Timur

9

GERAKAN

UNTUK MAHASISWA Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, bangsa yang selalu gandrung akan kejayaan dan keadilan. Dalam konteks berbangsa dan bernegara PMII mempunyai tanggung jawab penting untuk meneruskan tampuk kepemimpinan bangsa yang berkeadilan dan bertanggung jawab terhadap nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Tidak jauh dari konteks tersebut, peran PMII dalam keagamaan adalah mewujudkan budaya religius yang dibarengi dengan zdikir, fikir, dan amal soleh. PMII sebagai satuan komunitas mahasiswa harus mampu memposisikan diri sebagai perekat bagi semua komponen kebangsaan yang ada tanpa pretensi dan tebang pilih antar satu kelompok dengan kelompok lain. Untuk itu upaya yang dilakukan PMII untuk merangkul semua kelompok masyarakat dalam mewujudkan tatanan demokratis, terciptanya civil society dan good governance adalah membangunkan semangat mahasiswa dalam upaya menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya. Berangkat dari pemikiran tersebut, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kutai Timur mengajak para mahasiswa dan mahasiswi untuk bergabung bersama PMII membekali diri dalam menghadapi tantangan kehidupan beragama dan berbudaya indonesia serta menjalankan tugas dan tanggung jawab

sosial keagamaan di masyarakat. Dua landasan utama yang dijadikan acuan oleh PMII dalam melakukan gerakannya yaitu ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Landasan tersebut berdasarkan pada jati diri PMII yang sebagai umat islam yang memiliki budaya Indonesia. Visi ke-Islaman yang dibangun PMII adalah visi ke-Islaman yang inklusif, toleran dan moderat. Sedangkan visi kebangsaan PMII mengidealkan satu kehidupan kebangsaan yang demokratis, toleran, dan dibangun di atas semangat bersama dalam mewujudkan masyarakat yang adil, sejahteran, dan hidup harmonis. Misi PMII merupakan manifestasi dari komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, dan sebagai perwujudan kesadaran beragama, berbangsa, dan bernegara. Dengan kesadaran ini, sebagai salah satu eksponen pembaharu bangsa dan pengemban misi intelektual berkewajiban dan bertanggung jawab mengemban komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan demi meningkatkan harkat dan martabat umat manusia dan membebaskan bangsa Indonesia dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan baik spiritual maupun material dalam segala bentuk.

SUSUNAN PENGURUS CABANG PMII KUTAI TIMUR MASA KHIDMAT 2010-2011

MAJELIS PEMBINA CABANG Ketua : Haryono, M.Si Wakil Ketua : Imam Hanafie, M.A Sekretaris : Musthatho’, M.Pd.I Anggota

: Khusnul Wardan, M.Pd Drs. Mustajib Dharoini. M, M.Pd Faiz Tajulmillah, M.A Achmad Surono, M.S.I Agus Sulistyanto, S.Pd.I Musthofa Luthfi, S.pd.I PM I I K U TAI T I M U R 2010

10

Mujiburrahman, M.Ag Muhammad Idris, S.T

PENGURUS HARIAN Ketua Umum Ketua Internal Ketua External Ketua Bidang Keagamaan

: Moch. Khoirul Faizin : Sadam Husien : Muh. Nursyah : Ali Basuki

Sekretaris Umum Sekretaris Internal Sekretaris External Sekretaris Bidang Keagamaan

: Muhammad Akhyar : Siti Qoriyah : Ula Nuris Mamba’ul Ilmiati : Rini Rivariah

Bendahara Umum Wakil Bendahara

: Siti Asiyah : Nurusshofiah

Departemen-Departemen Internal : Kaderisasi dan Pengembangan SDA Koordinator Anggota

: Dahniar : Mukhtar Eka Martikawati

Pendayagunaan Potensi dan Kelembagaan Organisasi Koordinator : Heldawati Anggota : Aspiana Khusnul Khatimah Kajian Pengembangan dan eksplorasi Tekhnologi Koordinator : Agustina Said Anggota : Nurul Rokhim Hastuti Pemberdayaan Ekonomi dan Kelompok Profesional Koodinator : Yuni Sri Purwanti Anggota : Khairun Nisa Kumida Puspa External : Hubungan dan Komunikasi Pemerintah dan Kebijakan Publik Koordinator : Hadi Supranoto Anggota : Andi Muh. Fauzan Razak Ahmad Sodikin Organ Gerakan Kepemudaan dan Perguruan Tinggi (PT) Koordinator : Dewi Murtisari Anggota : Muh. Mariyanto Abdul Ghani PM I I K U TAI T I M U R 2010

11 Hubungan Lintas Agama dan Komunikasi Informasi Koordinator : Nur Laila Anggota : Imam Hanfie Abdul Goffar Hubungan kerja Sama LSM Koordinator Anggota

: Fitriani : Muhammad Randi gumilang Dedi Arman

Advokasi, HAM, Lingkungan Hidup (LH) Koordinator Anggota

: Siti Rohani : Abdul Basith Salahuddin

PM I I K U TAI T I M U R 2010


Buletin Edisi II