Issuu on Google+

Kendari Pos | Minggu, 13 Januari 2013

Hidup ini Keras Bung.....!

Penulis : Mas Jaya Editor : Abdi Mahatma Foto-foto Oleh Suwarjono

M

atahari baru menampakkan diri. Semburat merah cahanya berlomba meloloskan diri dari celah-celah dinding rumah semi permanen belum rampung yang dihuni Titi Juwiyanti bersama suami dan tiga anaknya. Wanita berusia 34 tahun itu sudah mahfum, pagi seperti ini, dan seperti juga pagi-pagi sebelumnya adalah awal perjuangan hidup baginya. Pasca membersihkan rumah dan perabot kotor bekas semalam, membuat secangkir kopi buat suami, menyiapkan sarapan bagi anak-anaknya ke sekolah, ia ke pekarangan. Dua tumpukan batu gamping yang diambil dari bukit batu tak jauh dari rumahnya, dan ditumpahkan truk siang kemarin di depan rumahnya, di Desa Puuasana, Kecamatan Moramo Utara, Konawe Selatan, menunggu aksi Tuti. “Saya harus cari teman dulu untuk Bantu kerja ini. Kami menyebutnya karyawan, entah itu cocok atau tidak, tapi itulah sebutannya. Kebetulan masih pagi,” kata Tuti, sembari bergegas ke tetangga rumahnya, yang berjarak seperlemparan batu kerikil. Tak lama, seorang wanita paruh baya datang bersama Tuti. Ia dikenalkan bernama Sufi, berusia 40 tahun. Di tangannya tergenggam martil kecil, kaos tangan dan sebuah ember bekas wadah cat tempok yang sudah habis terpakai. Perempuan itulah yang dimaksud Tuti sebagai karyawan, yang ternyata akan membantunya, memecahkan batu-batu gamping yang masih berbentuk bongkahan besar, untuk selanjutnya dikecilkan menjadi suplit, batu untuk bahan mengokoh bangunan. Martil berukuran 5 kilogram dikeluarkan Tuti dari rumahnya. Perempuan yang pergelangan tangannya itu kini telihat kekar telah siap menaklukan nasib. Sebagai langkah awal, kedua perempuan perkasa ini, memecahkan bongkahan batu yang masih serupa kardus-kardus makanan kecil yang selalu terlihat tersusun di took kelontong. “Kita pecahkan dulu agak kecil, kemudian ditakar di ember atau di arco oleh karyawan, baru dipecahkan dengan palu-palu kecil jadi suplit. Kenapa ditakar, supaya kita tahu berapa mi yang dia kerja satu hari, biar bisa dihitung berapa harus digaji nanti,” urai Tuti, ihwal urusan takartakaran batu itu.

Pria ini dengan tenaga yang ada memindahkan bongkahan-bongkahan batu, mengumpulkannya hingga bisa mencukupi untuk satu ret angkutan truk. Ia adalah salah seorang pria di Moramo yang masih mengandalkan kekuatan manusia untuk mengurusi batu-batu ini, seperti pendahulunya

Baca KERas di Halaman 7.....

Luka Itu Biasa

u diapa, itu jadi tak asing lagi. “Ma ena jadi harus sabar,” s, Bagi Tuti dan Mina, terk kera ini p hidu adalah hal r kata “betul” pecahan batu saat bekerja jari-jari katanya, disambut koo dan lumrah. Telapak tangan kannya yang lain. n-re reka juga n o buruk yang yang bengkak dan kebirua mpuanSoal maut, itu juga resik i pere g bekerja di yan pria para jamak buat mereka. Bag ai gint men luka adalah impit batu perempuan perkasa itu, lokasi penambangan. Terh penamtkan mereka dialami para ali ngk harmoni yang mengua seri r, besa kan tradisi rti itu sudah untuk tetap tegar menerus bang itu. Kini resiko sepe lu pakai kaos yarakat itu. “Makanya kami sela ayan berkurang, sejak mas lum g uran berk ama breaker. tangan, biar resikonya mengenal teknologi bern tu manusia sedikit,” tutur Tuti. Alat itulah yang memban batu dan tebingSoal terpapar serpihan meruntuhkan keangkuhan bernilai ah sud a mat kan bah h batu Moramo ping mengenai waja gam ng tebi a. Masuk dialami beberapa rekanny semacam ekonomi tinggi itu. (***) han Puskesmas dengan kelu

Sementara di sisi berbeda, perempuan-perempuan perkasa ini tekun memecahkan batu-batu besar itu menjadi serpihan kecil untuk jadi suplit, material yang jamak dipakai untuk bangunan.

Hanya Melayani Order Besar Potensi tambang batu Moramo memang cukup menjanjikan. Tak heran jika perusahaan pengolahan batu, seperti CV. Watu Moramo (WM) tertarik membuka usaha di lokasi tersebut. Perusahaan itu, resmi beroperasi pada Juni 2012 lalu, dengan komitmen akan bersinergi dengan masyarakat setempat. Dalam artian bahwa keberadaan perusahaan itu tidak lantas mematikan usaha masyarakat sekitar yang masih mengelola batu dengan cara manual. CV Watu Moramo khusus memproduksi suplit dengan empat ukuran, yakni abu

Teknologi Mengusik Hegemoni Manusia Pusat penambangan batu-batu Moramo berada di Desa Sanggula. Masuk ke kawasan ini, memberikan anda pengalaman baru. Dari tinggi tebing batu, beberapa pria perkasa menantang maut demi hidup. Berbekal godam di tangan, mereka mencoba memecahkan batu-batu raksasa itu. Diawali dengan membakar dasar batu, dengan keyakinan akan memudahkan runtuhnya tebingtebing itu. Asar, adalah salah seorang pria di desa itu yang akrab dengan urusan yang sejatinya menantang maut itu. Bertahuntahun ia bekerja dengan cara tradisional, seperti diajarkan pendahulunya. Bongkahan-bongkahan batu yang runtuh dari

tebing itulah, yang dipecahkannya lagi, hingga sebesar ukuran kepala manusia. “Dalam sehari kami bisa dapat satu atau dua ret. Kalau lagi rajin dan lokasi penggalian mudah saya dan teman bisa dapat dua ret, tapi kalau medan galiannya susah, paling cuma dapat satu ret saja,” ujar Asar, salah seorang penambang batu. “Buat dipakai pondasi bangunan, nanti yang kecilnya, dibuat suplit sama ibuibu disini,” kata Asar. Kawasan tempat Asar bekerja itu sejatinya hanya satu titik saja tempat pengolahan. Tapi tetap saja menarik dilihat. Deretan pondok kecil, tempat para ibu pemecah batu bekerja, jelas nampak. Sejak pagi, mereka sudah datang ke lokasi itu, menunggu

sisa bongkahan yang dikerjakan suami mereka, untuk dikecilkan jadi suplit lagi. “Tapi sekarang, sudah banyak yang pakai teknologi, lebih mudah kasih pecah batu di tebing itu,” tutur Asar. Sementara itu, warga yang melakukan penggalian dengan cara modern, menyewa alat berat yang disebut breker. Alat ini sebenarnya adalah mesin ekskavator yang alat sendoknya telah dimodikasi menjadi breker. Dalam sehari, mesin ini bisa menambang batu hingga 80 ret. “Kami warga pemilik lahan, menyewa alat ini 800 ribu rupiah per jamnya. Hitung-hingannya, dalam satu jam bisa Baca MEsiN di Halaman 7.....

batu, 0/5, 2/1 dan ¾. Untuk dua jenis yang disebut pertama itu, biasanya dipesan para pekerja proyek pengaspalan jalan dan juga runaway bandara. Mesin greser raksasa ditempatkan di tengah area perusahaan. Mesin pemecah batu itulah yang bekerja setiap hari. “Sehari biasanya 200 ret batu gelondongan diolah,” tutur Hirmawan, tenaga administrasi perusahaan itu. Katanya, sebelum beroperasi pihak perusahaan sudah berkomitmen untuk tidak menjadi rival masyarakat dalam penjualan Baca ORDER di Halaman 7.....

2

Kendari Pos Minggu, 13 Januari 2013

BU DAYA

Kain Tenun Tolaki, Semakin Populer Tenun Tolaki semakin menjadi primadona,di Sulawesi Tenggara. Hingga sekarang tenunan khas ini terus berkembang karena kecintaan masyarakatnya terhadap kain tradisional tersebut. Kain tenun Tolaki selalu menjadi pakaian kebesaran dalam setiap pesta adat di lingkungan masyarakat Tolaki. Tanpa kain tolaki, bila menghadiri sebuah upacara adat, maka akan terasa ada yang kurang. Motif yang cukup terkenal di masyarakat tolaki adalah ragam hias mua. Motif ini biasanya menggunakan warna jingga muda, kelabu, biru laut, kuning susu, hijau lumut, dan merah samar. Selain itu digunakan juga benang emas yang membentuk motif garis halus dan kesan bunga kecil.

Kain tenun bercorak biasa disebut sebagai kain corak hujan panas karena adanya kesan berkilat yang disebabkan adanya benang emas. Jika benang emas membentuk garis lurus maka disebut sebagai tenun/songket selit Seiring berkembangnya waktu,kain tenun Tolaki bukan hanya dikenakan dalam acara kebesaran. Tapi semua lapisan masyarakat bisa mengenakan kain tenun Tolaki. Pemerintah Kota Kendari dan Pemda Sultra,telah mewajibkan kain tenun sebagai salah satu seragam PNS.Misalkan pada harihari tertentu mereka mengenakan kain tenunan adat. Bahkan kini kain tenun bukan hanya digunakan untuk seragam atau pakaian resmi. Sejumlah desainer nasional, telah memodifikasi tenunan Tolaki

dalam karya-karyanya. Disinilah nilai jual produk tradisional tersebut telah dikenal hingga manca negara. Untuk memperoleh kain tenun Tolaki saat ini sangat mudah. Di pasar tradisional, pusat perbelanjaan di kota ini bisa dijumpai. Salah satu pemilik Show Room tenunan terbesar di Kota Kendari, Mahkota Tenun, mengaku kualahan melayani konsumen. Dalam satu bulan kain tenun terjual seribu lembar lebih. Walau Mahkota sudah bisa memproduksi sendiri, tapi belum bisa total, masi harus minta bantuan pengrajin sebagai stok. “Produksi sendiri baru 500 lembar setiap bulan. Malah kalau ada permintaan dari luar Sultra penjaulan bisa seribu lembar lebih, untuk melayani tiga showroom yang saya layani,” paparnya Hj.Endang pemilik Mahkota Tenun. (int/Sulis) Kain Tenun Tolaki, dulu hanya digunakan sebagai acara kebesaran,tapi saat ini semua kalangan sudah mengenakannya.

SuLIS/KP

Mari KiTa LeSTariKan BuDaya KenDari Sinonggi, Tenun, Perak dan Lulo Kebanggaan Kita

B SuLIS/KP

Ketua dekranasda Kota Kendari, Sri Yastin asrun,bersama Hj Endang pemilik Mahkota tenun dan rekanrekannya memperlihatkan kain tenun Tolaki yang kian dikenal banyak kalangan.

Sejarah Kendari Werk Pernah Memikat Bangsawan Eropa Bagi pencinta perhiasan, nama Kendari Werk tentu sudah tak asing lagi. Kerajinan perak itu sudah cukupterkenal, karena kekhasan teknik pembuatan dan motif detail nan halus. Konon, karena mutunya tinggi, Kendari Werk sanggup memikat para bangsawan Eropa. Pertama kali muncul pada sekitar awal abad ke-20, Kendari Werk marak diusahakan perajinperajin kecil lokal di Kendari. Akibat kesulitan pemasaran dan bahan baku, pasca kemerdekaan para perajin tersebut memilih hijrah ke Makassar (dulu Ujungpandang) untuk mengembangkan usahanya. Meski pindah tempat produk yang dihasilkan tetap menggunakan nama Kendari Werk, bahasa Belanda yang artinya karya Kendari. Nama itu sudah telanjur menjadi brand jaminan mutu. Hingga kini, hasil kerajinan yang biasanya berbentu bros, anting, gelang cincin, kalung, atau hiasan miniatur itu besar di tanah perantauan. Pemda Sultra kembali membesarkan kerajinan itu ke daerah asalnya sekitar tahun 1980 an. Kala itu, pemerintah mendatangkan perajin-perajin Kendari Werk dari Makassar, Sulawesi Selatan, untuk melatih perajin-perajin lokal Kendari yang di pusat- kan di Dewan Kerajinan Nasional

agi wisawatan atau pendatang yang memasuki Kendari, tentunya pertanyaan pertama adalah apa yang khas dari kota ini. Ada makanan seperti Sinonggi dan kain tenun Tolaki.Nah untuk perhiasan sudah pasti perak atau orang lebih mengenal dengan saebutan Kendari Werk. Demikian untuk tariannya yang sudah tidak asing lagi adalah tarian lulo. Nah semua itu adalah milik Kendari, sebagai warga

Kota Kendari sudah sepatutnya kita lestarikan. Hal ini juga menjadi komitmen Ketua Dekranasda Kota Kendari, Sri Yastin Asrun untuk menjaga,melestarikan dan mempromosikan ke semua itu. Apa yang yang telah dilakukan? Misalkan promosi kain tenun baik di tingkat lokal,nasional hingga intenasional. Misalkan untuk tingkat lokasi melalui Pemkot telah menjadikan kain tenun Tolaki sebagai salah satu seragam pakain dinas pada hari tertentu. Dalam sejumlah pameran tingkat nasional dan internasional, bekerjasama dengan Dekranasda Sultra, se-

lalu menyertakan kain tenun. “Dengan begitu kain tenun Tolaki semakin dikenal banyak orang,” paparnya. Dekranasda bekerjasama dengan Pemkot Kendari, juga sering melakukan pelatihan kepada SDM (pengrajin) lokal. Untuk melestarikannya Dekranasda bekerjasama dengan sejumlah sekolah untuk memasukkan ke dalam materi pelajaran. Demikian dalam sejumlah iven misalkan fashion show yang terselenggara selalu memasukkan unsur tenun di dalamnya. “Orentasinya bagaimana generasi muda mencintai tenunan daerah sendiri, dan mencintainya,” paparnya.

Termasuk sinonggi, sebagai makanan khas, Istri Walikota Kendari ini, telah menganjurkan kepada setiap restaurant di Kota Kendari ini untuk menyediakan menu sinonggi. Harapannya makanan khas Kendari ini tidak punah dan dikenal oleh banyak pihak. Sehingga setiap tamu yang datang ke restaurant manapun bila ingin mencicipi sinonggi tersedia. “Kalau dulu orang makan sinonggi sembunyisembunyi,tapi sekarang tidak. Semua warga Kendari suku apapun itu mereka sudah terbiasa dengan Sinonggi. Siapa lagi yang melestarikan budaya lokal kalau bukan masyarakat Kendari,” ajaknya. (Sulis)

Tari Lulo, Jadi Tarian Khas Suku Tolaki Sebagai Tanda Persahabatan

Pengrajin perak di dekranasda Sultra. Daerah (Dekranasda) Sultra. Sejak saat itu hingga kini, Dekranasda menjadi rumah tunggal bagi pelestarian kerajinan tersebut. Pengrajin tersebut bekerja di bengkel karya Dekranasda Sultra.Perhiasan dan kerajinan perak di sini masih menggunakan teknik tradisional dan manual. Kandungan perak dalam setiap perhiasan yang dihasilkan mencapai 95 persen. “Modelnya saat ini banyak yang dimodifikasi, disesuaikan dengan trend perhiasan terkini,” jelas Hera, salah seorang pegawai di Dekranasda Sultra yagn pernah ditemui beberapa waktu lalu. Secara singkat, proses pembuatan perhiasan menggunakan

nt

perak yang telah dilebur kemudian dicetak menjadi batanganbatangan seukuran kelingking dewasa. Batangan di-press dengan alat khusus dan ditarik hingga menjadi benang.Pembuatan perhiasan dari benangbenang perak itulah yang menjadi kekhasan Kendari Werk. Benang-benang perak itulah yang kemudian dirangkai sebagai motif dalam kerangka perhiasan yang terbuat dari perak juga, entah itu bros, kalung, gelang, ataupun anting. Perangkaian motif benang ke dalam kerangka itu juga menjadi kekhasan Kendari Werk karena menuntut teknik khusus dan ketelatenan ekstra. (int/Sulis)

Mengenakan busana tradisional berwarna kuning menyala, dilengkapi selendang biru, dan ikat kepala merah, serta aksesoris kalung etnik. Para penari wanita muda dan cantik ini berlenggak-lenggok atraktif dan kadang gemulai mengikuti irama musik. Tarian itu kerap disuguhkan di berbagai acara khusus untuk menerima atau menjemput tamu kehormatan. Soal seni budaya, Kota Kendari pun tak kalah dengan daerah lain. Kalau Aceh identik dengan Tari Seudati, Jakarta tersohor dengan Tari Topeng Betawi, maka Kota Kendari pun memiliki beberapa tarian tradisional yang khas dan pantas dibanggakan, seperti Tari Monotambe dan Lulo. Tari Monotambe atau tari penjemputan misalnya merupakan tarian khas Suku Tolaki yang kerap ditampilkan saat ada event berskala besar untuk menjemput tamu besar. Misalnya saat pembukaan Festival Tekuk Kendari (Festek) yang kerap dihadiri beberapa tamu penting dari Jakarta dan daerah lain. Sebagai catatan Suku Tolaki merupakan penduduk asli Kota Kendari sebagaimana Suku Betawi di Kota Jakarta. Tarian ini dilakoni oleh 12 penari perempuan muda dan 2 penari lelaki sebagai pengawal. Para penari perempuanya mengenakan busana motif Tabere atau hiasan,

nt

Tari Lulo, tarian khas Kendari, sebagai tarian persahabatan dan sudah tidak asing lagi bagi warga Metro Kota. sarung tenun Tolaki, dan aksesoris seperti Ngaluh atau ikat kepala, dan kalung. Dalam tarian berdurasi sekitar 5 sampai 10 menit ini, beberapa penari perempuan membawa Bosara atau bokor dari rotan, sedangkan dua penari lelakinya memegang senjata tradisional. Sementar Tari Lulo merupakan tari pergaulan khas Sulawesi Tenggara yang juga populer di Kota Kendari. Tarian ini biasanya dilakukan oleh kawula muda sebagai ajang perkenalan. Kini Tari Lulo juga kerap disuguhkan saat ada tamu kehormatan sebagai tanda persahabatan antara warga Kota Kendari dengan pendatang, dalam hal ini wisatawan.

Gerakan Tari Lulo tidaklah serumit tarian tradisonal lain. Para penarinya saling berpegang tangan satu sama lain membetuk lingkaran yang saling menyambung. Dalam sebuah acara besar yang dihadiri pengujung dari luar Kota Kendari, para penari Lulo selalu mengajak tamu dengan ramah untuk ikut menari. Setiap tamu yang tidak bisa menari akan dianjarkan cara melangkah atau menari ala Tari Lulo oleh penari yang mengajaknya hingga terbiasa. Tari Lulo ini pun kerap ditampilkan pada Festek. Bahkan pada perayaan tersebut, tari ini pernah ditampilkan secara kolosal dengan mengikutsertakan warga kota dan wisatawan yang datang. (int/Sulis)

Budaya Mosehe, Juru Damai Sekaligus Tolak Bala Gubernur Sultra, Nyekar Makam Raja Lakidende Hasrudin Laumara, Konawe Budaya Mosehe dalam Suku Tolaki dianggap sebagai juru damai sekaligus tolak bala. Ritual Mosehe kini jarang ditemukan saat pelaksanaan adat tertentu. Ritual itu akan ditemui dalam kondisi tertentu. Misalnya, ketika terjadi pertikaian, sengketa atau seseorang pernah bernazar sesuatu maka Mosehe dapat digelar sebagai juru damai atau sebagai medium untuk menyampaikan permohonan setelah bernazar sebelumnya. Dipenghujung tahun 2012 lalu tepatnya, Senin (31/12) Gubernur Sultra menyempatkan diri nyekar ke Makam Raja Lakidende untuk kesekian kalinya selama menjadi gubernur. Untuk di periode keduanya, nyekar itu adalah kali pertama. Disana Nur Alam sekaligus menggelar ritual Mosehe, didampingi Bupati Konawe Lukman Abunawas dan beberapa pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkab Konawe. Abd Zahir selaku penyedia sesajen Mosehe merinci sesajen Mosehe

yang terdiri dari ana mbundi (anakan pisang), daun sirih hutan, kapur sirih, beberapa cuil kulit pinang tua, sebutir telur ayam kampung, koin. Ana mbundii berfungsi sebagai petotonaono (medium untuk mantera) sekaligus bermakna sebagai penyejuk (pombokomonapano). Ana mbundi sebagai jembatan atau perantara koin dan telur yang dijepit diantara kupasan ana mbundi. Nantinya telur itu dipecahkan, maknanya memecahkan dunia lalu melahirkan dunia baru. “Sehingga itu Mosehe pada intinya sebagai juru damai. Mendamaikan semuanya. Apalagi kalau ada pertikaian,” ujarnya. Sekeping koin dalam Mosehe bermakna sebagai bentuk kekuatan alam. Kulit pinang yang dicuil-cuil bermakna sumber kehidupan. Dalam Mosehe disediakan pula seekor kerbau. “Kalau dalam mosehe wonua maka harus pakai kerbau putih,”rinci Abd Zahir. Nah, kalau dalam konteks kunjungan pembesar semisal Gubernur Sultra Nur Alam yang saban nyekar ke makam Raja Lakidende selalu melakukan tradisi Mosehe ini menurut Zahir masih ada kaitannya dengan Pilgub Sultra yang lalu. Masing-masing orang memiliki

HaSRuddIN LauMaRa/KP

Gubernur Sultra, Nur alam didampingi Bupati Lukman abunawas saat mengikuti prosesi Mosehe disekitar Makam Raja Lakidende, Senin (31/12) 2012 lalu. perbedaan pandangan dan pendapat politik. “Makanya dengan jalan Mosehe ini diharapkan dalam permohonan kita dapat mencapai kedamaian didalamnya. Mungkin ada pertentangan politik. Dan intinya yang melakukan Mosehe itu bergantung

dari hajat masing-masing pribadi individu,” tukasnya. Menyangkut kerbau yang disembelih, cukup disedekahkan saja. Adapun tujuan dan maksud Gubernur Nur Alam melakukan Mosehe itu, Zahir mengaku belum mendapat bisikan

akan tujuan mosehe yang dilakukan gubernur. Menurut Zahir, mungkin sebelumnya Nur Alam memiliki hajat atau nazar dan baru kali ini sempat ditunaikan. “Dalam artian dia (Gubernur) pernah menyampaikan sesuatu, misalnya kalau terpilih kembali dia akan melakukan ritual mosehe. Jadi, Mosehe dalam konteks ini bergantung dari nazar beliau. Dan itu mutlak dilakukan,”tegasnya. Prosesi Mosehe itu memang dibarengi mantera-mantera tertentu lalu menyampaikan permohonan si empunya hajatan. Sedangkan yang menjalankan ritual Mosehe harus orang-orang pilihan yang diberikan amanah untuk melaksanakan tradisi Mosehe dimakam Raja Lakidende. Diluar dari itu maka siapapun bisa menjalankan Mosehe kendati tidak memiliki garis keturunan untuk itu. “Satu hal yang harus kita pahami bahwa ritual Mosehe Wonua (Tolak bala atau mensucikan kampung) di makam Sangia Ngginoburu ini (Makam Raja Lakidende,red) dan siraman (Mo Mubusi) sudah diberikan keistimewaan bagi keluarga yang berada di Parauna. Diluar dari itu bisa saja asalkan mendapat wangsit. Tetapi kalau kunjungan resmi seperti Gubernur

ini sudah diberikan keistimewaan keluarga Parauna. Menurut Abd Zahir, ritual mosehe ada beberapa macam. Prosesi dan isi sesajen tidak jauh berbeda. Hanya saja kalau Mosehe digelar dalam konteks mendamaikan dua pihak yang bertikai maka keduanya dihadirkan namun tidak dibenarkan duduk bersanding. “Kalau kerbau yang disediakan dalam mosehe untuk mendamaikan pertikaian maka yang bertikai tidak boleh memakannya. Disedekahkan saja kepada masyarakat yang menyaksikan Mosehe,” tambahnya. Abd Zahir merinci tradisi Mosehe ini lahir dijaman pemerintahan Raja Mokole Sangia Inato. Dijaman itu, Raja Mokole Sangia Inato membagi tujuh menteri birokrasinya dan empat menteri pertahanan, dalam masyarakat Tolaki dikenal Siwole Mbatohu, Pitu Dula Batu (Tujuh Menteri). “Selama pemerintahanya, mungkin ada hal-hal yang tidak berkenan. Beliau mendapat wangsit dengan jalan (Mosehe) dan bermohon kepada dewa yang mereka agungkan saat itu. Karena masa itu belum ada Agama Islam. Mereka hanya mengenal Dewa Sangia,” runtut Abd Zahir. (*)

hotel

Kendari Pos Minggu, 13 Januari 2013

3

ImperIal KomIt taKKan naIKan tarIf

Kendari, KP Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) mulai awal tahun 2013, menjadi tantangan bagi bisnis perhotelan. Lantaran berdampak pada kemungkinan naiknya tarif kamar hotel akibat meningkatnya biaya operasional. Namun untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada pelanggannya, Manajemen Hotel Imperial Kendari telah berkomitmen untuk tidak menaikan tarifnya hingga pertengahan tahun. General Manager Hotel Imperial Kendari, Hendra Soekarno mengatakan pelaku bisnis perhotelan merasa was-was terhadap rencana kenaikan TDL. Sebab, listrik

menjadi kompenen utama dalam mengembangkan usaha perhotelan. Hal ini akan berdampak pada biaya operasional yang semakin membengkak. Apalagi sebagian besar fasilitas-fasilitas hotel mulai dari penerangan, peralatan elektronik, pendingin, pemanas, serta fasilitas penunjang lainnya menggunakan energi listrik yang cukup banyak. “Tentunya cukup riskan untuk bisnis hotel. Meskipun demikian hingga Juni 2013, kami tidak akan menaikkan tarif,” katanya. Untuk memberikan pelayanan maksimal lanjut Hendra, pihaknya akan mengganti peralatan elektronik seperti TV menggunakan tabung dengan LCD.

Rencana ekspansi perluasan dan penambahan fasilitas

Selain itu, setiap kamar akan dipasangkan karpet khusus sehingga menimbulkan nuansa minimalis. Termasuk, pemberian potongan harga khusus untuk hari-hari tertentu. Khusus paket meeting kata Ketua PRHI Sultra ini, penentuan harga sangat fleksibel. User bisa berkompromi sesuai dengan budgetnya. Fasilitas ruang pertemuan yang disiapkan ada tiga jenis, yakni maksimal 20 orang, 40 orang, dan 200 orang. Meskipun ada potongan harga, hal tersebut tidak akan mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan. Tahun 2013, Imperial Hotel berencana melakukan ekspansi perluasan dan

penambahan fasilitas hotel. Bila saat ini hanya 40 kamar, akan ditambahkan menjadi 150 kamar dengan tambahan fasilitas lain, seperti kolam renang, sauna, dan gymnasium. Pihak Imperial Hotel saat ini menyediakan 40 unit kamar yang terbagi dalam lima tipe, mulai dari superior, deluxe, grand deluxe, imperial suite, dan president suite dengan tarif relatif bersaing sekitar Rp 385 ribu per malam plus antar jemput bandara. “Tambahanfasilitaslainnya,sepertihotspot Wifi dan restoran hadir dengan menu beragam terutama menu andalannya yaitu sop buntut,” pungkas pengurus Lemkari Kendari ini. (adv/p1/yen)

Hotel Buana Kendari

Menginap Seminggu Lebih, Dapat Diskon 20 Persen Semakin menjamurnya hotel dan penginapan besar di Sulawesi Tenggara (Sultra), bisa jadi akan menggeser bahkan mematikan hotel skala kecil. Namun dalam bisnis perhotelan, ukuran dan nama besar bukan jaminan bisa terus eksis. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang sebelumnya kecil, namun karena bisa mengelola pangsa pasar sehingga bisa berubah menjadi perusahaan raksasa. Hal paling penting dalam perusahaan jasa, adalah mengenai pelayanan. Peluang ini yang dimanfaatkan oleh Hotel Buana Kendari dalam upaya menghadapi persaingan hunian hotel yang semakin kompetitif dari hari ke hari. Menurut Agusdin, salah seorang karyawan Hotel Buana, pihaknya memberikan diskon 20 persen bagi pengunjung yang menginap diatas satu minggu. Beberapa fasilitas pendukung dalam upaya memanjakan pengunjung juga di sediakan, seperti AC dan televisi. Tersedia tiga tipe kamar, yakni family room, standar room, dan standar room plus. Untuk tipe family room, tarifnya Rp 275 ribu per hari, tipe standar room Rp 225 ribu per hari, dan tipe standar room plus Rp 250 ribu per hari. “Total kamar ada sembilan unit, kami hanya menyediakan satu unit kamar family room. Semua kamar dilengkapi fasilitas AC dan TV,” katanya. (adv/inong/yen)

Tawarkan Potongan Harga Sesuai Usia Kendari, KP Tampil dengan manajemen berbasis syariah, Hotel Athaya Kendari berhasil menunjukan eksistensinya lebih dari sewindu lamanya ditengah menjamurnya bisnis penginapan. Eksisitensinya tak lepas karena pelayanan dan fasilitas yang ditawarkan memuaskan dan komplit, plus posisinya yang strategis. Hal ini, membuat Hotel Athaya menjadi salah satu pilihan favorit wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bumi Anoa. Memasuki tahun 2013, Hotel Athaya menawarkan diskon harga khusus bagi setiap pelanggannya. Diskon yang ditawarkan cukup menarik, sebab setiap tamu yang chek in akan diberikan potongan harga berdasarkan usai tamu. Rencananya, potongan harga khusus berlangsung mulai bulan Januari hingga akhir Februari mendatang. Manager Pemasaran Hotel Athaya

Kendari, Rica Rahim mengatakan pelanggan yang chek in akan diberikan potongan harga sesaui dengan usia tamu. Misalkan usai tamu 50 tahun maka potongannya otomatis 50 persen per malam dan ini berlaku untuk semua tipe kamar. “Diskon harga ini, sebagai wujud terima kasih manajemen terhadap pelanggan yang telah memberi kepercayaan memilih Hotel Athaya sebagai tempat menginap,” ujarnya. Rica menambahkan, potongan harga juga dilaksanakan jelang moment hari besar semisal bulan Ramadhan, lebaran, perayaan Natal, dan tahun baru serta menyambut Universary Hotel Athaya. Tidak hanya itu, untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda, menu andalan yang disajikan setiap tiga bulan sekali berbeda. “Pada awal tahun ini, menu andalanya adalah Ikan Papare,” ujar wanita berjilbab tersebut. Fasilitas pendukung yang disedia-

kan guna memberikan pelayanan memuaskan kata Rica, yakni ruangan fitnes, kendaraan antar-jemput bandara, laundry, restoran yang tersedia 24 jam, serta kendaraan rental. Khusus kendaraan rental yang ditawarkan, adalah kendaraan mewah mulai dari Mercy, Alpard, BMW, dan sejumlah tipe kendaraan mewah lainnya. Jumlah kamar yang disiapkan Hotel Athaya, sebanyak 60 kamar yang

terbagi dari 28 kamar tipe Deluxe, 10 kamar tipe Suite, 19 tipe Superior, dan tiga kamar tipe president suite. Harga yang ditawarkan antara Rp 495 ribu per malam hingga Rp 1,9 Juta. “Dikarenakan pengelolaannya berbasis syariah, maka setiap pengunjung yang bukan pasangannya dilarang menginap dalam satu kamar. Demikian pula dengan minuman yang beralkohol,” pungkasnya. (adv/p1/yen)

EVER GREEN LIFE AFTER 50TH

4 Hj. Andi Norma Kaimoeddin

Jangan Merasa Tua R

endah hati, ramah, dan santun tutur bahasanya. Itulah karakter yang muncul pada diri Hj Andi Norma Kaimoeddin. Penuh kesederhanaan dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Istri mantan Gubernur Sultra, H. La Ode Kaimoeddin itu masih tetap produktif dalam menjalankan aktivitas, meskipun usianya sudah beranjak 63 tahun. Pukul 04.00 wita, mantan Ketua PKK Sultra itu telah beranjak dari tempat tidurnya. Ia mempersiapkan diri menanti Shalat Subuh. Usai menunaikan ibadah wajibnya, sejenak menonton ceramah agama dari ustad favoritnya. Saat fajar, ia pun menyiram bunga yang ada di sekeliling rumahnya. Satu persatu bunga itu disiram. Hj Norma mengangkat air sendiri dan menyiramnya dengan menggunakan alat manual yakni timba. Setelah memastikan bunga-bunga tersiram dengan baik, Hj Norma membersihkan rumah. Kadang mengepel lantai kediamannya

5

Kendari Pos | Minggu, 13 Januari 2013

itu. “Kegiatan ini saya lakukan setiap harinya. Bahkan, saya sendiri yang mencuci pakaian. Saya tidak mau dicucikan. Kadang juga, saya masak sendiri,” ungkap Hj Norma. Tidak adakah pembantu di rumah mantan Gubernur Sultra itu? Sebuah kedermawanan istri mantan Sang Gubernur pemberani itu. Ia memiliki dua pembantu di rumahnya. Namun tak pernah menganggap mereka sebagai pembantu, layaknya majikan yang lain memberikan tugas dan fungsi seorang pembantunya setiap hari. Pembantunya itu malah dianggap sebagai anak sendiri. Mereka sibuk dengan aktivitas pendidikannya. Satu orang sedang menjalani pendidikan di bangku SMA dan satunya lagi di Akademi Gizi. Keduanya pun berangkat pagi dan pulang siang atau sore. “Bukan mereka yang urus saya, tapi saya yang urus mereka. Kalau pun misalnya mereka pulang dari sekolah lantas masih ada yang bisa dikerjakan, ya mereka kerja.

Mereka seperti anak saya sendiri. Terkadang, saya yang memasakkan mereka. Selain itu, pembantu susah didapatkan di Kendari,” jelasnya. Semua aktivitas itu dilakukannya bukan karena sebuah keterpaksaan. Memang tipikal seorang Hj Norma dulunya senang dengan pekerja rumah seperti itu. “Menyiram bunga, membersihkan rumah, memasak, dan mencuci, itu olahraga bagi saya. Kalau kerjanya duduk-duduk atau tidur saja terus, malah bisa sakit. Itu menjadi kebiasaan dan tak bisa saya tinggalkan,” terangnya. Lalu, bagaimana dengan kegiatan lainnya? Masih aktifkan di beberapa organisasi? “Saya ini sudah tua. Berpikir terbatas, kerja pun terbatas. Soal organisasi dan usaha lainnya, saya serahkan saja kepada yang muda-muda agar ada regenerasi,” lanjutnya. Hal yang ditekuninya adalah melakukan pengawasan terhadap kebun dan villanya di Nanga-nanga. Sekitar 4 hektar are

lahan yang berada di kawasan Villa Kaimoeddin. Sebagian dijadikan kebun dengan tanaman yang ada didalamnya berupa rambutan, mangga, sukung dan tanaman lainnya. “Itulah yang saya awasi. Saya suruh belikan pupuk agar produksinya bagus. Rumputnya harus dibabat. Dalam satu musim, bisa menghasilkan Rp 30 juta, kalau cuaca mendukung. Hanya itu aktivitas tambahan yang saya lakukan,” kata Hj Norma. Resep untuk tidak stres, baginya adalah kerja dengan ikhlas dan jangan menjadikannya beban. Kadang kumpul dengan keluarga dan bercanda bersama. “Jangan merasa tua sehingga tetap semangat beraktivitas. Harus tetap enjoy. Kalau misalnya saya rindu dengan cucuku yang di Jakarta, saya berangkat ke Jakarta. Kalau tidak, saya di Kendari saja,” tambahnya. Selalu ceria dalam beraktivitas bisa mendukung kesehatan fisik dan psikis. (ano/aka)

Favoritkan ustad Maulana dan Fikri Haikal MZ

Lima Putaran Masih Sanggup TaMan Wali Kota Kendari menjadi tempat yang ideal bagi Hj Andi Norma melakukan jogging setiap hari. Keliling lintasan diperkirakan mencapai 500 meter. Ia masih mampu mengitari lintasan sebanyak 5 putaran. Bersama saudara dan teman-temannya, istri Gubernur Sultra periode 1992-2002 itu melakoninya dengan santai. Jogging menjadi pilihan olahraga yang mudah, simple, dan praktis dalam menjaga kebugaran dan kesehatan. “Kalau tidak hujan, setiap sore mulai pukul 15.30

MeskiPun disibukkan dengan aktivitas dalam keluarga, Hj Andi Norma tak pernah melewatkan tayangan ceramah di stasiun TV swasta nasional. Dua ustad favoritnya yng selalu dinanti jadwalnya yakni Ustad Maulana dan KH Fikri Haikal MZ (anak sulung almarhum KH Zainuddin MZ). Kedua penceramah kondang itu dinilainya mampu memberikan siraman rohani selama ini. Gerak melucu, sentilan, dan humoria terbalut pesan serta amanah

wita, saya sudah jogging di taman depan Kantor Wali Kota. Saya masih bisa sampai 5 putaran. Itu bisa membuat saya tetap semangat, tegar dan bugar dalam melakukan aktivitas lainnya,” jelasnya. Pilihan melakukan jogging di taman Kantor Wali Kota Kendari karena suasananya cukup sejuk dan nyaman. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. “Saya biasanya dijemput oleh saudara saya untuk jogging bersama,” ungkapnya. (ano/aka)

menjalani hidup menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keduanya. “Ustad Maulana itu penyampaiannya sangat praktis, simple dan lucu. Mungkin juga karena dari kampung yang sama (Kota Makassar, red) sehingga dialeknya pun menjadi sebuah keunikan dan memberikan rasa simpati. Tentu paling utama adalah pesan yang disampaikan oleh penceramah itu,” ungkap Hj Norma. Sedang, KH Fikri Haikal MZ dikagu-

minya karena karakter yang dimilikinya persis dengan mendiang ayahnya, KH Zainuddin MZ. Makna ceramah yang disampaikan, suaranya, serta gayanya persis sama dengan ayahnya. “Dulunya saya favoritkan Zainuddin MZ. Tapi beliau sudah meninggal dan penerusnya (Fikri Haikal MZ, red) juga persis mirip ayahnya, saya akhirnya memfavoritkannya juga. Jadwal ceramahnya itu setiap Sabtu dan Minggu siang,” jelasnya. (aka)

Pola Makan Tetap Terjaga Pola makan dan pilihan menu makanan sering berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. Menjaga pola makan secara proporsional masih dilakukan Hj Andi Norma agar kesehatan tubuhnya tetap terjaga. Tidak sembarang makanan yang harus dikonsumsi, tapi juga tidak mesti mahal dan tidak sulit didapat.

“Pilihan menu makanan saya itu cukup sederhana. Hanya nasi merah (beras merah, red), sayur bening, dn ikan bakar. Hanya itu resep makanan saya,” ungkap Hj Norma. Nasi merah dianggapnya memiliki serat yang cukup tinggi. Tiga menu masakan tersebut diang-

gapnya sudah memenuhi unsur 4 sehat. Malah, dengan banyaknya pilihan menu masakan, berbagai bumbu masakan, berbagai jenis daging dan makanannya lainnya, bisa menimbulkan penyakit bagi orang yang menapaki usia senja. “Alhamdulillah, dengan menu masakan yang sederhana, saya

tidak pernah tegang-tegang bagian leher. Saya banyak belajar soal cara hidup sehat saat menjaga bapak (suaminya, red) di rumah sakit. Selain itu, banyak mendapat pengetahuan dengan membaca,” jelasnya. Pemahaman pola hidup sehat dilengkapi dengan anaknya yang berprofesi sebagai dokter. (ano/aka)

Nostalgia

ketemu di Pemprov sultra TerinGaT kenangan indah masa lalu. Hj Andi Norma memadu kasih, mengarungi bahterai rumah tangga dengan H. La Ode Kaimoeddin tahun 1968 silam. Awalnya, tak pernah terlintas dalam benaknya akan bertemu jodohnya di Kendari. “Saya ke Kendari tahun 1964 ikut ayah yang dipindahtugaskan dari Pemda Sulsel ke Pemda Sultra. Waktu itu, Sultra baru saja mekar dari Sulsel sehingga sebagian tenaga ahli diambil dari Pemda Sulsel. Salah satunya, orang tua saya,” ungkap Hj. Norma. Ayahnya bernama P. Rafiuddin yang menjabat penanggung jawab pengelolaan keuangan Pemda Sultra (sekarang strukturnya bernama Karo Keuangan). Kala itu, Sultra masih dibawah kendali J. Wayong sebagai pelaksana gubernurnya. Bahkan pada masa kepemimpinan La Ode Hadi dan Edi Shabara, ayahnya masih aktif menjabat. Kala itu, La Ode Kaimoeddin menjadi pejabat struktural andalan di beberapa bidang

Gelombang Cinta Tidak Menyusahkan BunGa kesayangan yang selama ini menarik perhatian Hj Andi Norma Kaimoeddin adalah Bunga Gelombang Cinta. Bentuknya sederhana, namun tampak indah. Meskipun bunga yang lain juga dalam perawatannya, namun

Gelombang Cinta paling disukainya. “Saya itu paling senang dengan bunga yang tidak terlalu menyusahkan perawatannya. Bunga Gelombang Cinta cukup simple pemeliharaannya, tapi bunga itu sangat

indah. Makanya saya tarus di dekat jendela kamarku,” ungkap Hj Andi Norma sambil menyiram bunga kesayangannya itu. Selain Bunga Gelombang Cinta, ia pun sangat gemar dengan Boungen-

kala itu. Pertemuan mereka di Kantor Gubernur Sultra kala itu, menjadi “jembatan” terbangunnya komunikasi dan akhirnya sukses membina rumah tangga. Sempat kah terjalin hubungan asmara dengan La

Ode Kaimoeddin sebelum pernikahan? “Tidak ada. Dulu itu, tidak ada yang namanya pacar-pacaran. Mengintip saja orang yang bukan muhrimnya kita (seorang gadis melirik tamu pria) di balik tirai, orang tua sudah

pelototi. Cukup tatapan matanya, kita sudah takut. Itu sangat berbeda dengan anak-anak zaman sekarang,” ujarnya sambil tersenyum. Buah perkawinan H. La Ode Kaimoeddin dengan Hj. Norma yakni enam orang

anak. Tiga putra dan tiga putri. Lima orang diantaranya sudah berkeluarga dan tersisa anak bungsunya yang belum menikah. “Cucu saya sudah 8 orang. Anak saya ada 3 orang di Jakarta, tiga orang di Kendari,” jelasnya. (aka)

Nama : Hj. Andi Norma Kaimoeddin Tempat Tanggal Lahir : Makassar, 8 Desember 1950 Suami : H. La Ode Kaimoeddin (Gubernur Sultra Periode 1992-2002) Anak : 6 Orang Cucu : 8 Orang Alamat : Jalan Bunga Cempaka, Kelurahan Kemaraya, Kota Kendari

hobbies Kendari Pos | Minggu, 13 Januari 2013

dok flp for kendari pos

Foto bersama pengurus FLP (Forum Lingkar Pena) Kota Kendari

Didul, Humas Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Kendari

Sisipkan Pesan Moral di Setiap Tulisan

Orang tentu boleh hebat dan terkenal tetapi kalau tidak menulis maka dia akan hilang dalam sejarah. Inilah salah satu alasan yang membuat Didul, alumni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) semakin giat menulis.

B

eberapa tulisan dan Cerpen telah dibuatnya dan berhasil di publish di media cetak dan online seperti tulisan Parpol digerogoti koruptor serta dua Cerpen yaitu jas almamater di kloset bercerita tentang idealisme mahasiswa saat ini dipertanyakan, serta Cerpen berjudul kakak, ayah dan tanah lapang bercerita sindiran kepada mahasiswa yang seolah-olah memperjuangkan hak masyarakat. Berkat ketekunannya menulis Dewan Pembina Lingkar Studi Ilmiah Penalaran (LSIP) FKIP Unhalu ini masuk tahap 2 seleksi mengajar angkata VI nasional, yang mana sebanyak 7.502 penulis muda seluruh Indonesia ikut berkompetisi di ajang ini. “Menulis cerita fiksi dan non fiksi mulai saya tekuni sejak kuliah, apalagi Prodi saya sesuai yaitu PBSID. Tidak banyak yang tahu jika saya ini alumni STM Kendari , dan alasan

saya mengambil Prodi itu karena selain kelak akan menjadi guru, pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran UAN yang banyak tidak meluluskan siswa,” kata Didul. Kemampuan menulisnya semakin terasah tatkala bergabung dengan komunitas Arus asuhan Irianto Ibrahim. Apalagi saat ini dirinya sebagai koordinator Humas Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Kendari, dengan segudang program kerja membuat kemampuan menulisnya lebih bervariasi. Anak pertama dari delapan bersaudara ini merasakan dengan tulisan membuatnya semakin bersemangat mengeksplor kemampuan yang dimiliki bahkan lebih leluasa mengkritik hal-hal yang menurutnya bertentangan dengan hati nurani. “Tidak kalah pentingnya dalam menulis menyisipkan pesan moral, dan menurut Zainal Suryanto, sastrawan tidak pernah langsung mengemukakan sesuatu dengan gamblang tetapi melalui sindiran,” tuturnya. Ditanya cita-citanya, Didul mengungkapkan ingin menjadi pengajar swadaya di daerah terpencil. (fas)

FLP untuk Penulis Pemula Kendari

F

LP merupakan organisasi calon penulis yang didirikan Helvy Tiana Rosa Tahun 1997, di Sultra mulai terbentuk sekitar tahun 2000-an dan di Kendari terbentuk tanggal 23 September 2012 dengan kegiatan akbar perdana workshop penulisan nasional bersama Habiburrahman El-shirazy. Khusus di Kota Kendari, FLP didirikan oleh para alumni LSIP

FKIP Unhalu. Menurut Ketua FLP Kota Kendari, Mas Jaya didampingi Koordinator Humas, Didul, program kerja tahun 2013 yaitu membuat buku biografi guru-guru besar seSultra. “Buku tersebut akan kami buat seperti buku 100 tokoh berpengaruh di dunia, kami berharap buku ini dapat menjadi referensi sekaligus inspirasi bagi masyarakat Sultra,” kata Mas Jaya.

Mengenai harapan FLP Kota Kendari, kedua alumni PBSID FKIP Unhalu ini berharap penulis pemula di Kendari yang belum terorganisir dapat terorganisir dengan baik, hingga kelak dapat menghasilkan tulisan berkualitas, tentunya dengan menyisipkan pesanpesan moral. Adapun kegiatan FLP Kota Kendari menurut mereka yaitu

pertemuan intens dengan menghadirkan para penulis lokal dan nasional yang kapabel, untuk mengkaji tulisan maupun Cerpen yang dibuat masing-masing anggota. “Kedepannya kami merancang FLP goes to school, tentunya dengan terlebih dahulu meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) para anggota FLP Kota Kendari,” tandas mereka. (fas)

dok flp for kendari pos

Ketua Dewan Pembina FLP Pusat, Habbiburrahman El-Shirazy ketika launching FLP Kota Kendari dan Workshop Penulisan Nasional di Kendari

7

Kendari Pos | Minggu, 12 Januari 2013

Hentikan Semua Pungutan di Eks RSBI

MASJAYA/KP

Karyawan Swissbell Hotel dalam acara Charity Car Wash, sedang membersihkan mobil, dimana dana pencuciannya dipakai untuk amal

Swiss Bellhotel, Galang Dana Untuk Panti Jompo Kendari, KP Charity Car Wash. Itulah nama kegiatan amal yang dilakukan oleh Swiss Bellhotel , kemarin (12/1). Aksi galang dana lewat pencucian mobil tersebut dilakukan di pelataran hotel, dengan para kru pencucian yang melibatkan pegawai hotel. Uang hasil dari pencucian mobil itu nantinya akan di sumbangkan ke panti jompo. Public Relation Swiss Bellhotel, Tenri Mayasari mengatakan, kegiatan galang dana untuk panti jompo bukan pertama kali mereka lakukan. “Sebenarnya,

ini sudah menjadi agenda rutinitas kami tiap tahunnya yang diporgram oleh corporate social kami. Tahun lalu kami juga melakukan penggalangan dana yang sama, yaitu dengan pencucian mobil juga,” ujar wanita yang juga terlibat dalam kru pencucian mobil itu. Hasil penggalangan dana itu nantinya akan disumbangkan ke panti jompo. “Dulu hasil penggalangan dana ini kami berikan dalam bentuk sembako. Nah, untuk tahun ini kami akan membuat hal yang berbeda. Uangnya akan kami gunakan

untuk merenovasi gedung panti tersebtu,” jelasnya. Pihak Swiss Bellhotel nantinya akan mengnjungi panti jompo secara simbolis untuk memberikan bantuan berupa cat dan bahan-bahan lainnya yang dipakai untuk renovasi. “Jadi sistemnya, dengan uang itu kami akan membeli bahan dan menyewa orang untuk melakukan renovasi di tempat itu. Renovasinya sendiri akan dilakukan dalam bentuk pengecatan, membersihkan kamar-kamar dan lain-lainnya. Kalau tidak salah ada 12

rumah di sana yang akan kami renovasi,” terangnya yang belum tahu apa nama panti jompo tersebut. Dara cantik itu menuturkan, sejak 2 minggu lalu penjualan tiket mobil sudah dilakukan. “Kami tergetkan 50 mobil yang dapat kami cuci sampai siang ini. Hingga saat ini, sudah selesai sekitar 70 persen. Lagi pula, pengunjung hotel ada juga yang hanya membeli tiket pencucian tapi tidak mencuci mobilnya. Mereka hanya ikut berpartisipasi karena tahu ini kegiatan amal,” pungkasnya. (p4)

Jadi Caleg Dominan Motif Ekonomi BANDUNG - Motif ekonomi ternyata masih mendominasi seseorang untuk berkompetisi menjadi anggota legislatif. Demikian kesimpulan Wakil Ketua DPR-RI Pramono Anung Wibowo dalam sidang akademik Promosi Doktornya yang digelar di Aula Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, kemarin (11/1). “Penelitian ini menemukan adanya motivasi berlapis dari anggota legislatif, yaitu motif utama pada kekuasaan p o l i t i k d a n k e p e nt i n ga n ekonomi, serta beberapa motif turunan,” kata Pramono saat mempertahankan disertasinya di depan tim penguji dan tamu undangan. Pramono yang sempat menjabat Sekjen PDI Perjuangan ini

Keras ....... Itulah Tuti, wanita asal Moramo yang sepanjang usia dewasanya akrab dengan batu. Ia bersama hampir seluruh perempuan dewasa di desanya, dan juga desa-desa tetangganya di Moramo bekerja menjadi pemecah batu menjadi suplit. Itu mereka lakoni sudah seperti pekerjaan utama, selain tentu saja sebagai istri. “Suami-suami kami disini, kerjanya mengangkut batu ke truk. Mereka jadi buruh angkut, jika ada truk yang datang mengangkut batu, untuk dijual di Kota Kendari,” cerita Tuti, sembari menunjuk ujung jalan, di kampungnya, tempat biasanya para lelaki di desa itu menunggu truk. Sejak dulu, Moramo memang dikenal kaya dengan sumber alam, berupa batu gamping yang sangat keras. Setelah diuji laboratorium, dan kajian akademis, batu Moramo dianggap layak untuk material bangunan dan pengaspalan jalan. Sejak itulah, Moramo menjadi kawasan sibuk oleh truk pengangkut. Ini kemudian jadi ladang rezeki untuk menopang taraf hidup masyarakat sekitarnya. Ke Moramo tak jauh. Dari Kota Kendari, menuju ke timur, hanya sekitar 30 menit. Ia berbatasan dengan Kecamatan Abeli, Kota Kendari. Moramo masuk wilayah administrasi Konawe Selatan. Setelah melintasi batas dua kabupaten bertetangga ini, dan masuk kawasan Moramo, ada pemandangan

akhirnya dikukuhkan sebagai doktor setelah mempertahankan disertasinya berjudul Komunikasi Politik dan Pemaknaan Anggota Legislatif Terhadap Konstituen, dengan predikat cum laude. Bahkan dalam disertasinya Pram-sapaan Pramono- menguraikan hasil penelitiannya tentang rekan-rekannya di DPR RI. Menurutnya, selain

motif utamanya ekonomi, ada juga beberapa motif turunan anggota legislatif lainya. Seperti motif ideologis, memerjuangkan sistem demokratis, aktualisasi sikap-sikap politik, atau memerjuangkan aspirasi kaum marjinal. Karenanya, Pramono dalam kesimpulan disertasinya menyebut kuatnya motivasi kekuasaan dan ekonomi para anggota legislatif itu juga berimbas pada kebijakan yang dikeluarkan DPR. “Kuatnya motivasi kekuasaan dan ekonomi mengindikasikan pemahaman akan potensi lembaga legistlatif sebagai institusi sentral yang melahirkan sejumlah kebijakan yang dapat diarahkan secara politik dan ekonomi untuk

menguntungkan pribadi, kelompok atau golongonnya,” beber Pram. Untuk diketahui, Pramono merumuskan disertasinya setelah meneliti 21 rekannya di DPR bersedia menjadi informan. Bertindak sebagai tim promotor bagi Pramono adalah Prof Dede Mulyana (ketua) dengan dua anggota yakni Prof Engkus Kuswarno dan Prof Soleh Soemirat. Sejumlah tokoh hadir dalam sidang doktoral itu. Dari deretan politisi hadir Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, Marzuki Alie dan puluhan anggota DPR RI. Hadir pula Ketua BPK Hadir Purnomo, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, serta kolegakolega Pramono. (dms)

tak lazim. Hampir di setiap halaman depan rumah warga setempat terdapat tumpukan batu gelondongan. Di samping tumpukan batu yang ukurannya dua hingga tiga butir kelapa itu, terdapat pondokan kecil yang kurang lebih berukuran tiga kali lima mater persegi, beratapkan daun rumbia. Di tempat itulah, para ibuibu menekuni perkerjaannya sebagai pemecah batu yang biasa diigunakan untuk pengaspalan atau proyek bangunan. Pekerjaan itu mereka mulai di pagi hari dari jam delapan dan beristirahat pada jam sebelas. Setelah itu pekerjaan dilanjutkan kembali pada jam dua dan berakhir pada jam empat sore. Begitu seterusnya yang mereka lakukan tiap harinya. “Ketika awal pernikahan, saya dan suami sudah menekuni pekerjaan ini. Suami saya bekerja sebagai buruh pengangkat batu di tempat pengambilan batu gunung di Desa Sanggula. Sedangkan saya sendiri, bekerja di sini (pondokan depan rumah), menumbuk batu gelondongan menjadi suplit.,” ujar wanita berusia 34 itu. Ibu dari tiga anak itu melanjutkan, pekerjaan serupa juga ditekuni banyak oleh tetanggatetangganya. Dimana sang suami bekerja sebagai buruh pengangkat batu, sedang si isteri bekerja memecahkan batu di depan rumah mereka. Dalam sepekan, jika tak sembari mengurus masalah lain, Tuti dan rekannya bisa mengumpulkan tiga atau empat

kubik suplit, dengan ukuran yang disebut 2/1, atau serupa potongan sate. “Itu empat kubik sudah bisa mi satu ret truk. Biasanya, dibeli Rp ribu 400 atau 500 ribu. Kalau sedang tak banyak pekerjaan lain diluar, seperti hajatan atau kendala lain, dalam sebulan bisa kita selesaikan sampai tiga ret suplit. Yah, lumayan bisa tambah-tambah penghasilan suami. Memang dibagi dengan karyawan yang Bantu, kemudian modal beli batu-batu gelondongan. Dapat bersih Rp 600 ribu sebulan sudah syukur kasian,” kisah Tuti, tanpa melepas palu di tangannya yang terus bekerja. Di pondok lainnya, ada kelompok lain yang juga sibuk memecahkan batu. Namanya Mina, dan ia menggandeng tiga rekannya untuk “menyeroyok” tiga ret batu yang baru habis setengah. “Kami di sini bekerja empat orang. Untuk satu kali tumpah truk batu gelondongan, kami dapat selesaikan kurang lebih satu minggu,” ujarnya mengatakan kalau dalam pekerjaan itu dirinya dibantu oleh anak-anaknya sepulang sekolah. Batu-batu gelondongan itu mereka ambil dari desa Sanggula. Harga jual batu-batu tersebut ketika masih di lokasi penambangan senilai 250 ribu rupiah. Namun, ketika batu itu sudah dibawa ke Desa Puuasana, harganya jualnya sudah 350 ribu rupiah. Selisih harga 100 ribu rupiah itu merupakan ongkos truk pengangkut. “Batu

gelondongan yang satu ret itu kalau sudah dikecilkan, kami jual dengan harga 600 ribu,” terangnya. Ada tiga tahap yang dilakukan untuk menghasilkan batu berukuran. Pertama, batu diolah dalam bentuk gelondongan yang besarnya dua hingga tiga biji kelapa. Selantuknya, batu gelondongan itu dipecahkan dengan palu seberat 5 kilo hingga menghasilkan bongkahan batu berukuran dua kepalan tangan. Terakhir, batu seukuran dua kepalan tangan itu, dihancurkan lagi untuk menghasilkan batu kerikil ukuran 2/1. Dulu, pekerjaan Titi Juwiyanti dan Mina sebagai pemecah batu tidak dilakukan di halaman rumah, melainkan di tempat tambang galian batu di desa Sanggula. Namun, karena jauhnya lokasi tambang dengan Desa mereka, membuat mareka memutuskan untuk membeli batu batu dan membawanya ke halaman rumah. Hal serupa juga dilakukan oleh warga lainnya, sehingga pemandangan di halaman depan rumah penduduk Desa Puuasana terlihat banyak tumpukan batu. Usaha pemecah batu gelondongan itu, juga telah mengubah pola hidup masyarakat sekitar, khususnya Desa Puuasana. Masyarakat yang sebelumnya berprofesi sebagai petani, banyak yang beralih menjadi pemecah batu. Alasanya, menjadi pemecah batu sempel karena dikerjakan di depan rumah dangan cara yang cukup santai. (***)

Pramono Anung

Jakarta, KP Di masa transisi pembubaran rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan berubah-ubah. Mereka kini memutuskan seluruh sekolah bekas RSBI dilarang memungut biaya pendidikan dalam bentuk apapun, termasuk sumbangan pendidikan (SPP). Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran Kemendikbud pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal RSBI. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) Kemendikbud Suyanto mengatakan, surat edaran ini disebar ke seluruh dinas pendidikan kabupaten dan kota. “Surat edaran itu mengatur banyak hal. Terutama seluruh sekolah bekas RSBI untuk menghentikan pungutan, termasuk SPP,” kata dia. Aturan ini berkalu juga untuk SD dan SMP bekas RSBI. Khusus untuk SMA dan SMK bekas RSBI masih diperbolehkan menarik SPP, karena jenjang ini tidak masuk dalam program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Kebijakan penghentian pungutan ini diambil Kemendikbud untuk menghindari singgungan dengan MK. Sebab MK sudah memastikan jika putusan penghentian RSBI sudah termasuk dengan segala kebijakan yang berlaku di dalamnya. Seperti pemberian subsidi dari pemerintah pusat hingga diperbolehakannya SD dan SMP RSBI menarik SPP kepada siswa. Suyanto mengatakan, dalam surat edaran ini Kemendikbud juga meminta supaya sekolah-sekolah bekas RSBI tidak menurunkan kualitasnya. “Meskipun tidak bisa lagi memungut biaya pendidikan, mereka tetap bisa menggenjot sumbangan dari masyarakat,” tandasnya. Mantan rektor UNY itu mengatakan jika sekolah bekas RSBI ini masih diperbolehkan menerima sumbangan dari wali murid atau

unsur masyarakat lainnya. Suyanto juga mengingatkan soal penggunaan dana yang telah terkumpul. Dia mengatakaan pengelolaan sekolah harus bermusyawarah dengan dinas pendidikan setempat dan unsur komite sekolah dulu. “Jangan dibelanjakan dulu sebelum ada kesepakatan bersama. Kemendikbud tidak ikut-ikutan dalam musyarawah itu,” tandasnya. Dia juga mengatakan surat edaran itu mewajibkan seluruh sekolah bekas RSBI untuk segera mencopot embel-embel RSBI. Baik itu di papan nama sekolah hingga di kop surat resmi mereka. Urusan lain yang menjadi persoalan krusial adalah penamanaan sekolah-sekolah bekas RSBI. Suyanto mengatakan secara administrasi ketatanegaraan Kemendikbud mempersilahkan setiap pemda memberikan nama untuk sekolah bekas RSBI itu. “Pendidikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA serta SMK itu adalah wewenang pemerintah daerah. Ini terkait otonomi daerah,” katanya. Untuk itu, dia mengatakan Kemendikbud mempersilahkan Pemda untuk memberikan nama baru apapun sebagai pengganti istilah RSBI. Di sejumlah daerah sudah muncul istilah sekolah unggulan untuk menggantikan sebutan RSBI. Suyanto mengakui jika nama baru untuk sekolah bekas RSBI ini menjadi upaya pencitraan. Yakni untuk menjaga citra sekolah bersangkutan, supaya tetap terjaga kualitasnya. Dia berharap masyarakat tidak perlu mempersoalkan istilah baru itu. Sebab yang menjadi inti putusan MK adalah soal besarnya biaya pendidikan di sekolah bekas RSBI yang ditanggung masyarakat. Suyanto mewanti-wanti pemda dan pengelola sekolah tidak menjadikan istilah baru itu sebagai dasar untuk melegalkan pungutan biaya pendidikan. (wan)

Nasdem Mulai Saling Sikut BANDUNG-Setelah lolos sebagai parpol peserta Pemilu 2014, Partai Nasdem langsung berkonsolidasi. Akhir Januari ini partai yang kelahirannya tak bisa dilepaskan dari Ormas Nasdem itu akan berkongres. Ormas Nasdem yang selama ini mengaku tidak memiliki kaitan apa pun dengan Partai Nasdem mulai menunjukkan jati diri. Melalui kongres tersebut, pendiri Ormas Nasdem Surya Paloh disebut-sebut akan mengambil alih posisi ketua umum Partai Nasdem dari Patrice Rio Capella. Saat dikonfirmasi, Surya Paloh mengakui bahwa memang ada permintaan kepada dirinya untuk memimpin Partai Nasdem. Tapi, secara diplomatis dia menegaskan bahwa semua permintaan itu masih harus dievaluasi. “Toh, saya yang mendirikan partai ini. Saya lihat urgensinya apa dan apa yang terbaik bagi partai ini. Kalau tidak, sayang. Partai ini sudah mendapatkan dukungan, harapan,” kata Ketua Umum Ormas Nasdem Surya Paloh di kampus Universitas Padjadjaran, Jalan Dipatiukur, Bandung, kemarin (11/1). Saat dimintai penegasan soal kesiapan memimpin Partai Nasdem, Surya mengisyaratkan kemantapan hatinya. “Partai ini saya lahirkan. Saya besarkan. Kesiapan itu sudah pasti ada dalam jiwa, semangat, spirit, dan raga yang ada,” ujar bos Media Group tersebut. Tapi, Surya enggan menjelaskan urgensi di balik keinginan untuk mengambil alih kepemimpinan di Partai Nasdem. “Saya tidak bisa menjawab itu,” katanya. Dia juga membantah anggapan bahwa dirinya kecewa dengan kepemimpinan Patrice dkk saat ini. “Nggak (kecewa). Ini adik-adik saya yang tetap harus bersama saya,” tegasnya. Dia hanya menjelaskan bahwa pasca penetapan KPU, Partai Nasdem harus secepatnya melakukan revitalisasi, penyempurnaan, dan penguatan internal. Apalagi, Partai Nasdem

Order ....... menghasilkan 10 ret. Sehingga, kalau dalam sehari bekerja 8 jam maka bisa menghasilkan sekitar 80 ret,” terang Sofyan. S o f ya n me na mba hka n, masuknya breker di lokasi tambang batu Moramo itu belum lama. “Kalau tidak salah baru tahun 2011 lalu. Dan alat

Mesin ....... batu hasil olahan tersebut. “Di sini kami hanya melayani kontrak di atas 5000 ret. Kami tidak menjual batu dalam skala kecil sebab itu bisa mematikan ekomomi masyarakat yang juga menjual produk yang sama,” ujarnya. Memang, akan menjadi masalah jiak perusahaan menjadi rival masyarakat.

satu-satunya partai baru yang lolos sebagai peserta Pemilu 2014. Sembilan parpol lain merupakan parpol yang sekarang memiliki kursi di DPR. Surya optimistis Partai Nasdem berkesempatan menjadi partai alternatif masyarakat. Dia menyebut, saat ini sudah terjadi jarak yang jauh antara masyarakat dan konstituen dengan parpol-parpol di DPR. “Ada kebosanan, malas. Sehingga tinggal dua pilihan, yaitu tidak memilih sama sekali atau memilih partai baru,” papar dia. Apa berminat maju sebagai capres pada 2014? “Kami belum memikirkan ke arah sana. Kami mau lihat hasil pemilunya dulu. Kalau hasil pemilu berarti signifikan, kami coba duduk untuk renungkan apa yang terbaik bagi kepentingan bangsa ke depan,” jawabnya. Terpisah, Patrice belum bersedia berkomentar soal rencana lanjutan pengambilalihan Partai Nasdem dari ke p e mi mp ina nnya. Saat ditemui di gedung KPU kemarin, dia juga tidak ingin menanggapi terlalu jauh kabar adanya konflik yang kini melanda tubuh Garda Pemuda Nasdem (GPN), underbow Nasdem. “Garda itu sayap ormas (Nasdem). Saya ini pimpinan partai (Nasdem). Ngapain campuri urusan ormas,” ujarnya kemarin. Dia juga menolak berkomentar tentang latar belakang aksi pemecatan pengurus GPN. Tapi, para pengurus GPN yang dipecat itu menduga bahwa pemecatan tersebut disebabkan mereka lebih mendukung bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo sebagai ketua umum Nasdem daripada Surya Paloh. Di tempat yang sama Sekjen Partai Nasdem Ahmad Rofiq juga memilih tak berkomentar soal gejolak di GPN. Dia menilai, gejolak itu adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi. “Garda Pemuda itu sayap ormas, bukan sayap partai. Kalau Garda Pemuda main di Partai Nasdem, itu berarti penumpang gelap,” ujarnya. (pri/bay/c11/agm)

ini sangat mempermudah kami untuk menghasilkan bahan tambang batu gelondongan lebih yang banyak. Tapi ada juga negatifnya. Ketika batu gelondongan banyak, dan permintaan kecil, maka harga jual batunya juga menurun, karena harus bersaing dengan penambang lainnya,” katanya. Kawasan tambang batu

Moramo di Desa Sanggula itu dinilai cukup luas. Bahkan sebaran lokasi penambangannya memanjang hingga ke daerah pesisir pantai. “Tambang batu di sini memang lumayan luas. Karena kalau tidak salah, sekitar tahun 78 orang-orang sudah mulai melakukan penggalian batu di sini,” ingatnya.(***)

Pasalnya, produk yang dijual WM secara kualitas masih lebih baik jika dibandingkan dengan hasil olahan manual masyarakat. “Kualitas batu olahan kami jelas lebih baik, karena memiliki ukuran besar yang sama. Tidak seperti batu olahan masyarakat yang besar batunya tidak merata karena tidak disaring. Selain itu, masyarakat juga kadang membakar batunya agar mu-

dah pacah ketika dipalu. Padahal, ini juga bisa mengurangi kualitas batu olahan mereka,” tambahnya. Untuk membangun sinergi dengan masyarakat, pihak perusahaan juga membeli batu gelondong dari masyarakat. “Kami juga tidak menjual batu dalam bentuk gelondongan, tapi cuma batu yang sudah kami olah menjadi suplit. Sehingga ini juga tidak menganggu masyarakat yang juga

8

Kendari Pos Minggu, 13 Januari 2013

Manchester United vs Liverpool

SUdah Siap Manchester United sudah siap menghadapi ujian berat pertama pada tahun ini ketika menjamu rival abadi mereka, Liverpool, pada lanjutan Premier League, Minggu (13/1/2013) di Old Trafford. Menurut bek United, Jonny Evans, kunci timnya nanti adalah kepercayaan diri dan persiapan bagus. Manchester United semakin dekat dengan trofi Premier League ke-20 mereka. Hingga pekan ke-21 The Red Devils masih kokoh di puncak klasemen dengan perolehan nilai 52. Skuat asuhan Sir Alex Ferguson itu akan menghadapi ujian besar pertama tahun ini ketika menjamu rival abadi mereka, Liverpool. The Reds sangat berpeluang menjegal langkah United. Maklum, rivalitas kedua tim sarat gengsi. Namun, Manchester United percaya diri menghadapi skuat asuhan Brendan Rodgers itu. Sepanjang musim ini, United sudah mengalahkah tim-tim papan atas seperti Manchester City (3-2), Liverpool (2-1), Chelsea (3-2), dan Arsenal (2-1). “Kami pernah mengalahkan Chelsea, Liverpool, dan City di luar kandang. Mereka adalah nama-nama besar, kami senang bisa meraih tiga angka dari mereka. Pada musim-musim sebelumnya kami terkadang kesulitan meraih angka pada pertandingan-pertandingan besar itu, sehingga catatan itu akan menjadi suntikan moral bagi kami,” kata Jonny Evans dari situs resmi klub. Evans juga mengungkapkan kunci keberhasil timnya nanti saat melawan Liverpool adalah persiapan yang baik. “Kami tidak sekedar berkata harus memenangkan pertandingan ini. Kami telah mempersiapkan diri secara baik untuk pertandingan ini,” papar pria 25 tahun itu. Performa Manchester United belakangan ini sedang bagus. Sejak kekalahan dari Norwich City, November lalu, United telah meraih 25 dari kemungkinan 27 angka yang tersedia. Dalam 15 pertandingan terakhir, United meraih 40 dari kemungkinan 45 angka. Untuk Liverpool, lawatan ke markas Manchester United selalu menjadi partai berat. Itu tak lepas dari aspek “kengerian” yang dimiliki oleh Stadion Old Trafford. Akhir pekan ini Liverpool akan bertamu ke markas MU di Old Trafford, Minggu (13/3/2013). ‘Si Merah’ sudah menantikan sebuah laga sengit tersaji di stadion berjuluk Theatre of Dreams tersebut. Untuk Sterling, yang baru berusia 18 tahun, ini merupakan lawatan pertamanya ke Old Trafford. Belum ketahuan apa ia akan menyudahi lawatan perdana ke markas MU itu dengan ceria, meski Sterling cukup optimistis dengan peluang timnya mencuri angka. “Atsmofer di ruang ganti bagus sekali. Kami punya (Steven) Gerrard dan (Jamie) Carragher, mereka adalah pribadi-pribadi hebat. Mereka akan membuat kami mengetahui permainan macam apa yang akan hadir dan bagaimana kami harus mempersiapkan diri. Sepanjang pekan mereka terus mengatakan kepada kami betapa pentingnya laga tersebut,” lugas Sterling. (net)

GUardioLa BerGaji TerTinGGi? SEKARANG pelatih dengan gaji tertinggi masih dipegang entrenador Real Madrid Jose Mourinho. Dia dibayar 15,3 juta euro atau setara Rp 193,6 miliar pertahun. Tetapi, bila Josep Guardiola mau menerima tawaran Chelsea, maka gaji Mourinho jauh terlampaui. Owner Chelsea Roman Abramovich tampaknya sudah putus asa merayu Guardiola. Maka tawaran terakhir pun dilancarkan. Chelsea siap menjadikan Guardiola sebagai pelatih berbayaran tertinggi mencapai 18 juta pounds (Rp 278 miliar).

Bayaran Mourinho saja bisa kalah, apalagi bayaran manajer-manajer di Premier League. Saat ini bayaran paling tinggi adalah manajer Manchester United Sir Alex Ferguson yang digaji 7,6 juta pounds (Rp 117,7 miliar). The Daily Express mengklaim, Abramovich sudah lelah terus ditolak Guardiola yang saat ini beristirahat dari sepak bola dan bermukim di New York bersama keluarganya. Guardiola sendiri dikabarkan akan kembali berkarir sebagai pelatih mulai musim panas nanti. “Roman masih menginginkan Pep (sapaan Guardiola). Dia selalu menjadi target utama dan Chelsea akan memberikan tawaran yang luar biasa besar,” jelas sumber dari Chelsea. Selain gaji tinggi, Guardiola akan dikontrak selama tiga tahun. Sedangkan, Rafael Benitez yang sekarang menduduki jabatan manajer akan dilepas. Toh, sekarang statusnya adalah manajer interim dan performa Chelsea juga biasa-biasa saja di tangannya. (ham)

AsAl-usul KArtu Kuning dAn KArtu MerAh PENGGUNAAN kartu merah dan kuning diperkenalkan pada Piala Dunia 1970. Ide ini diinspirasi oleh kejadian pada perempat final Piala Dunia 1966, antara tuan rumah Inggris lawan Argentina yang dipimpin oleh Wasit Rudolf Kreitlein, asal Jerman. Cerita berawal dari pelanggaran keras yang dilakukan oleh kapten Argentina, Antonio Rattin. Kemudian, Kreitlein memberikan sanksi kepada Rattin dengan mengeluarkannya dari pertandingan. Tapi Rattin tidak paham dengan maksud Kreitlein, karena adanya bahasa yang berbeda. Rattin pun tidak keluar dari pertandingan dengan segera. Wasit Inggris yang ikut bertugas di perrtandingan itu, Ken Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, Aston mengatakan kepada Rattin bahwa Kreitlein mengeluarkan dirinya sebagai sanksi atas pelanggaran yang ia lakukan. Rudolf Kreitlein, hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, ia kesulitan menjelaskan keputusannya itu kepada Rattin. Akibat kasus ini, Aston kemudian berpikir bahwa harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Sehingga, wasit tanpa harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain. Suatu hari, Aston berhenti di perempatan jalan. Me-

lihat traffic light (lampu merah), dia kemudian mendapatkan ide. Aston lantas mengusulkan agar wasit dibekali kartu kuning dan merah. Kartu kuning untuk memberi peringatan keras atau sanksi ringan kepada pemain yang melakukan pelanggaran. Sedangkan kartu merah untuk sanksi berat dan pemain yang melakukan pelanggaran berat itu harus keluar dari lapangan. Ide itu diterima FIFA. Pada Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah untuk pertama kalinya digunakan. Ironisnya, sepanjang Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang terkena kartu merah. Hanya kartu kuning yang sempat dilayangkan. Sehingga, kartu merah tak bisa “pamer diri” pada Piala Dunia 1970. Meski ide itu datang dari wasit Inggris, namun negeri itu tak serta-merta menerapkannya di kompetisi mereka. Kartu merah dan kuning baru digunakan di kompetisi sepak bola Inggris pada 1976. Karena kemudian wasit terlalu mudah mengeluarkan kartu dan diprotes banyak pemain, maka penggunaannya sempat dihentikan pada 1981 dan 1987. Ya itulah sejarah awal diberlakukannya kartu kuning dan kartu merah dalam permainan sepakbola. Ide memunculkan kartu kuning dan kartu merah itu, memang ide briliant. Bisa dibayangkan, jika tidak ada hukuman seperti itu, bisa-bisa wasit kesulitan mengendalikan permainan. (net)

Did You Know ?


Kendari Pos Edisi 13 Januari 2013