Issuu on Google+

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

BUKU PANDUAN SKILL LAB

UROGENETALIA Semester IV

PENYUSUN : Dr. M. Arief Faisal

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH 2012

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, karena rahmat dan inayahNyalah Buku Panduan Skill Urogenetalia ini dapat disusun untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh berdasarkan Satuan Acara Perkuliahan yang berlaku. Buku ini sebagai peganggan wajib bagi mahasiswa yang sedang menjalankan Skill Lab, dengan harapan agar setiap mahasiswa mengerti teori yang mendasari setiap Skill Lab yang sedang dilakukannya serta mampu melakukan setiap praktikum dengan benar. Buku ini diharapkan dapat berguna dalam pemeriksaan laboratorium sederhan pada praktek dokter ataupun di puskesmas. Kami ucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku ini, walaupun tuntunan Skill Lab ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan demikian kami tidak menutup segala kriitik dan masukan demi sempurnanya buku ini dan berharap sepenuhnya agar buku ini dapat berhasil mencapai sasarannya. Wassalamualaikum Wr. Wb Lampoh Keude, Maret 2012 Penyusun,

Dr. M. Arief Faisal

i

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................

i

DAFTAR ISI ..............................................................................................................

ii

PERATURAN DAN TATA TERTIB PRAKTIKUM ............................................... iii

PEMERIKSAAN GENITALIA PRIA .......................................................................

1

1. Inspeksi dan Palpasi dengan pasien berbaring ....................................................

6

2. Inspeksi dan palpasi dengan pasien berdiri .........................................................

7

3. Pemeriksaan Hernia Inspeksi Daerah Inguinal dan Femoral ............................... 12

TEKNIK PEMASANGAN KATETER URINE ........................................................ 14 PEMERIKSAAN PERINEUM DAN RECTAL ........................................................ 23 Posisi pasien ................................................................................................................. 23 teknik ............................................................................................................................ 24 palpasi kelenjar prostat .................................................................................................. 25

PEMERIKSAAN GENITALIA WANITA ................................................................ 27 a. Palpasi Serviks dan Korpus Uterus .................................................................... 36 b. Palpasi Adneksa ................................................................................................ 37

Skill Lab 1 Male Genitalia Exam................................................................................... 39 Skill Lab 2 Pemeriksaan Perineal dan Rektal Exam ....................................................... 41 Skill Lab 3 Pemasangan Cateter Male Uretra Exam....................................................... 43 Skill Lab 4 Pemasangan Cateter Female Uretra Exam ................................................... 45 Postest 1 ....................................................................................................................... 47 Postest 2 ....................................................................................................................... 48 Postest 3........................................................................................................................ 49 Prestest 1....................................................................................................................... 50 Prestest 2....................................................................................................................... 51 Prestest 3....................................................................................................................... 52 LEMBARAN PENILAIAN ........................................................................................ 53

ii

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

PERATURAN DAN TATA TERTIB SKIL LAB 1. Mahasiswa yang mengikuti Skill Lab adalah mereka yang telah mendaftar terlebih dahulu dan terdaftar dalam salah satu grup skill lab. 2. Mahasiswa harus hadir 10 menit sebelum praktikum dimulai, bila terlambat lebih dan 20 menit dan tidak mengikuti pretest tidak diizinkan mengikuti skill lab. Mahasiswa tidak dapat meninggalkan ruangan sebelum waktu yang ditetapkan, kecuali atas izin asisten yang bertugas. 3. Presentasi skill lab adalah 100% (seratus persen), bila tidak/berhalangan hadir makna harus menggantinya sewaktu inhall. Praktikan yang persentasinya kurang dari 100% secar otomatis tidak lulus Skill lab dari awal. 4. Apabila nilai pretest 20 tidak diperkenakan mengikuti skill lab dan diwajibkan mengikuti inhal. 5. Bila mahasiswa berhalangan hadir, harus ada pemberitahuan dari yang berwenang memberikannya. 6. Selama skill lab, mahasiswa diharuskan berpakaian rapi (tidak memakai kaos dan sandal jepit) serta mengenakan jas pratikum dan papan nama. 7. Dilarang membuang sampah kedalam bak pencuci, buanglah ketempat yang disediakan. 8. Sebelum dan sesudah pratikum meja harus dibersihkan. 9. Sebelum dan sesudah skill lab alat-alat diperiksa terlebih dahulu, jika ada alat yang rusak atau hilang segera laporkan kepada petugas yang ada di laboratorium. 10. Alat yang rusak atau hilang karena kelalaian praktikan menjadi tanggung jawab praktikan, dan harus diganti dalam 1 minggu dan waktu kehilangan / rusak. 11. Selama praktikum dilarang makan/minum, ribut-ribut dan merokok. Handphone dimatikan atau dimatikan nada deringnya, serta dilarang menggunakan handphone berlebihan saat pratikum. 12. Saat memasuki laburatorium praktikan harus melepas sepatu, dan menggunakan sendal sudah disiapkan. (akan diatur tersendiri) 13. Bagi yang melanggar tata tertib ini akan dikenakan sanksi berupa pengurangan nilai ujian praktikum atau mengulang praktikum.

iii

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

PEMERIKSAAN GENETALIA PRIA (MALE GENITALIA EXAM) Tujuan Belajar: Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik pada genetalia, pria secara sistematis dan benar, sehingga dapat mengaitkan dengan kemungkinan diagnosis pasien.

Anatomi & Fisiologi: Penampang lintang dan pandangan frontal genetalia pria, sebagai berikut:

Gambar: anatomi genitalia pria

1

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Organ genitalia pria terdiri dari penis, scrotum, testis, epididimis, vesika seminalis dan kelenjar prostat. Uretra merupakan saluran berbentuk pipa yang berfungsi saluran pengeluaran urine yang telah ditampung di dalam vesica urinaria (kandung kencing) ke luar badan (dunia luar) dan saluran semen. Saluran tersebut dimulai dari orificium urethra internum dan masuk lewat di dalam prostat, berlanjut berjalan di dalam corpus cavernosum urethrae dan berakhir pada lubang luar pada ujung penis (orificium uretra eksternum). Dengan demikian uretra laki-laki menurut tempat yang dilewati dapat dibedakan menjadi tiga bagian berurutan, yaitu pars prostatica, pars membranosa clan pars spongiosa urethrae.

Gambar: uretra male Penis terdiri dari 3 struktur memanjang : dua pasang korpora kavernosa dan satu buah korpus spongiosum. Uretra melintasi korpus spongiosum. Korpora kavernosa dibungkus oleh jaringan fibroelasrik tunika albuginea sehingga meropakan satu kesatuan, sedangkan di sebelah proksimal terpisah menjadi dua sebagai krura penis. Korpora kavernosa mengandung otot polos yang berkontraksi selama ejakulasi.

2

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari diafagrna urogenitalis dan di sebelah proksimal dilapisi otot bulbo-kavernosus. Korpus spongiosum ini berakhir di bagian distal sebagai glans penis. Kedua korpora dibungkus oleh fasia guck dan lebih superfisial lagi oleh fasia Coiles atau fasia Donas. Penis mempunyai 2 permukaan, dorsal dan ventral (uretra), dan terdiri dari pangkal, batang dan kepala. Batang penis terdiri dari jaringan erektil, yang menimbulkan ereksi blla terisi penuh oleh pembuluh darah. Kulit penis halus, tipis dan tidak berambut. Pada ujung distal penis, tedapat suatu lipatan kulit bebas yang disebut preputium. Sekresi mukus dan lapisan sel epitel yang disebut smegma terkumpul diantara preputium dan glans, memberikan efek lubrikasi selama koitus. Selama sirkumsisi, preputium diinsisi. Suplai darah ke penis berasal dari arteri pudendus intema, yang mempercabangkan arteri dorsal dan arteri profunda pada korpora kavernosa. Vena-vena bermuara ke dalam vena dorsalis penis. Dalam keadaan ereksi, saluran arteriovenosa tertutup dan arteri-arteri terbuka lebar. Dalam keadaan tidak ereksi, saluran vena dan anastomosis arteriovenosa terbuka lebar, sedangkan arteri menyempit sebagian. Uretra terbentang mulai dari meatus urinarius internus di vesika urinaria, hingga meatus eksternus dan penis.

Uretra pria dewasa, memiiki panjang 23-25 cm dan dibagi atas: Pars prostatika Pars membranasea

Posterior

Pars kavernosa

Anterior

Spingter uretra eksterna mengelilingi meatus membranasea dan pada kedua sisinya terletak kelenjar bulbouretral Cowper.

3

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Gambar: penis male Skrotum adalah kantong yang mengandung testis, yang tergantung di luar dari perineum. Skroum di bagi menjadi dua oleh septum interskrotial. Dinding skrotum mengandung otot polos involunter dan otot inrik volunter. Peranan utama skrotum adalah mengatur suhu testis, yang dipertahankan kira-kira 20 C di bawah suhu rongga peritoneum, suatu keadaan yang penting untuk spermatogenesis. Testis berbentuk oval, halus dan panjangnya kira-kira 3,5-5 cm. Testiis kiri biasanya terletak lebih rendah dibandingkan kanan. Testis di bungkus oleh suatu lapisan fibrosa kuat, disebut tunika albugenia testis. Masing-masing testis mengandung tubulus semeniferus yang panjang, mikroskopis dan barkelokkelok yang menghasilkan sperma. Tubulus ini berakhir di dalam epididimis, yang berbentuk korna, dan terletak di batas posterior testis. Pars inferior epididimis melanjutkan diri sampai vas deferens. Arteri testis memasuki testis pada bagian tengah posteriornya, sedangkan vena yang berfungsi sebagai drainase testis membentuk jaringan padat yang disebut pleksus pampiniformis, yang mengalirke dalam vena testis. Vena testis kanan mengalir langsung kedalam vena kava inferior, sedangkan kiri mengalir kedalam vena renalis kiri. 4

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Vas deferen adalah suatu struktur seperti tali, yang dapat diraba dengan mudah di dalam skrotum. Di dekat basis prostat, vas deferens bergabung dengan duktus vesikula seminalis rmembentuk duktus ejakulatorius, yang menembus kelenjar prostat. Vas deferens, arteri-arteri testis dan vena-vena membentuk korda spermatika, yang memasuki kanalis inguinalis. Kelenjar prostat kira-kira berukuran, panjang 3,5 cm dan lebar 3 crn. Dibagian tengah ditembus uretra posterior. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen cairan ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan Âą 25 % dari seluruh volume ejakulasi.

Pemeriksaan Fisik Genetalia Pria Pemeriksa harus memakai sarung tangan karet yang dispofible harus dipakai. Jika pemeriksaan dilakukan secara objektif tidak akan menjadi sumber rangsangan bagi pasien, sehingga kemungkinan munculnya ereksi yang dapat mengganggu pemeriksaan dapat dihindarkan. Pemeriksaan genetalia pria dilakukan mula-mula pada saat pasien dalam posisi berbaring, kemudian dilanjutkan pada posisi berdiri. Perubahan sikap tubuh ini penting kerena hernia atau massa skrotum,mungkin tidak terlihat jelas dalam posisi berbaring.

Pemeriksaan genetelia pria terdiri atas :  lnspeksi dan palpasi dengan pasien berbaring  lnspeksi dan palpasi dengan pasien berdiri  Pemeriksaan hernia

5

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

1. Inspeksi dan Palpasi dengan Pasien Berbaring Inspeksi Kulit dan Rambut Kulit lipat paha harus diperiksa untuk melihat adanya infeksi jamur superfisial, ekskoriasi atau lainnya. Ekskoriasi mungkin menunjukkan infeksi skabies. Perhalikanlah distribusi rambut. Periksalah rambut pubis untuk melihat adanya kutu rambut atau nits (kumpulan telur) yang melekat pada rambut tersebut.

lnepeksi Penis dan Skrotum Pada pemeriksaan penis dan skrotum, perhatikanlah hal-hal berikut: Apakah pria ini disunat Perhatikan ukuran penis dan skrotum (bandingkan kiri dan kanan). Apakah terdapat lesi, edema di penis dan skrotum Perhatikan bentuk penis (phimosis) Perhatikan meatus eksternal uretra Perhatikan letak muara eksternal (normalnya terletak ditengah gland penis) Perhatikan adanya cairan abnormal yang keluar dari muara (discharge)

Inspeksi Massa di Lipat Paha Pasien di suruh untuk batuk, atau mengejan sementara anda memeriksa lipat paha. Suatu tonjolan yang timbul secara tiba-tiba mungkin menimbulkan suatu hernia inguinal atau femoral.

Palpasi Nodule Inguinal Dengan menggerakkan jari secara memutar sepanjang ligamentum inguinal, pemeriksa dapat menentukan adanya adenopati inguinal. Biasanya nodul-nodul limfe berukuran kecil (0,5 cm) dan dapat digerakkan dengan bebas ditemukan didaerah ini. 6

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

2. lnspeksi dan Palpasi Dengan Pasien Berdiri Pasien kemudian diminta berdiri sementara pemeriksa duduk di depannya.

Inspeksi Penis Jika pasien tidak disunat, kulupnya (preputium) harus diretraksikan, untuk menentukan keketatan katup. Parafimosis mempakan suatu keadaan dimana kulup dapat diretraksikan tetapi tidak dapat dikembalikan ketempat semula dan tertahan di belahan korona. Bahan putih seperti keju di bawah kulup adalah smegma dan itu adalah normal. Fimosis ada jika kulup tidak dapat diretraksikan dan meghalangi pemeriksaan glans secara memadai. Karena glans juga tidak dapat dibersihkan, smegma tertumpuk, sehingga dapat menimbulkan peradangan glans, yang disebut balanitis. Bila juga terlibatkan peradangan prepunum, disebut balonopostitis. Iritasi kronis ini dapat menjadi faktor penyebab kanker penis. Glans diperiksa untuk melihat adanya ulkus, kutil, nodulus, parut atau tanda peradangan.

7

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

lnspeksi Meatus Eketernus Pemeriksa harus memperhatikan posisi meatus uretra eksternus. Letaknya harus ditengah glane. Meatus diperiksa oleh pemeriksa dengan meletakkan kedua tangannya disisi glans penis dan membuka meatus.

Meatus harus diperiksa untuk melihat adanya secret, kutil atau stenosis. Kutil venereal, yang disebut kondiloma akuminata, dapat ditemukan di dekat meatus, di glans, perineum, anus atau batang penis. Secara khas, kutil ini mempunyai permukaan verukosa ,yang menyerupai kembang kol.

Kadang-kadang meatus uretra akan bemuara pada permukaan ventral penis, suatu keadaan yang disebut hipospadia. Keadaan yang jerang ditemukan adalah epispadia, yaitu suatu keadaan dimana meatus terletak pada permukaan dorsal penis.

Palpasi Penis Palpasi batang mulai dari glans sampai basis penis. Adanya parut, ulkus, nodulus, indurasi, atau tanda-tanda peradangan harus dicatat. Palpasi korpora kavernosa dilakukan dengan memegang penis diantara jari-jari kedua tangan dan memakai jari telunjuk untuk memeriksa indurasi.

8

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Adanya indurasi yang tidak nyeri tekan atau daerah fibrotik di bawah kulit batang penis mengarah ke penyakit Peynorie. Pasien dengan keadaan ini mungkin mengeluh deviasi penis selama ereksi.

Palpasi Uretra Uretra harus dipalpasi mulai dari meatus eksternus, melalui korpus spongiosm sampai ke pangkalnya. Untuk palpasi pangkal uretra, pemeriksa mengangkat penis dengan tangan kiri sementara jari telunjuk kanan menekan skrotum di garis tengah dan mempalpasi jauh ke pangkal korpus spongiosum. Bantal jari telunjuk kanan harus mempalpasi seluruh korpus spongiosum mulai dari meatus sampai ke pangkalnya. Jika terdapat sekret, ‘kemerahan uretra' dapat menghasilkan setetes sekret yang harus ditempatkan di atas gelas objek untuk pemeriksaan mikroskopis.

Palpasi Skrotum Skrotum diperiksa kembali dalam posisi berdiri. Perhatikan kontur dan isi skrotum. Harus ada 2 testis. Biasanya testis kiri lebih rendah dibandingkan yang kanan. Adanya massa yang tidak terlihat ketika pasien berbaring harus dicatat.

Gambar: scrotum

9

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Palpasi Testis Setiap testis di palpasi secara terpisah. Pakailah kedua tangan untuk memegang testis dengan lembut. Sementara tangan kiri memegang kutub superior dan inferior testis, tangan kanan melakukan palpasi pemukaan anterior dan perhatikan ukuran, bentuk dan konsistensi tiap testis. Nyeri tekan dan nodularis tidak boleh ada.

Gambar: testis Testis normal mempunyai konsistensi seperti karet. Ukuran dan konsistensi satu testis di bandingkan dengan testis lainnya. Apakah satu testis terasa lebih berat di banding lainnya. Jika ada massa, dapatkah jari pemeriksa masuk di atas massa di dalam skrotum. Jika hernia ingunalis, tangan pemeriksa tidak dapat masuk karena massa berasal dari rongga perut, namun bila berasal dari dalam skrotum, tangan pemeriksa dapat masuk.

Palpasi Epididimis dan vas deferens Tentukan lokasi dan palpasi epididimis pada bagian posterior testis. Tentukan adanya nyeri tekan, nodul, atau massa dari bagian superior (kepala) hingga inferior epididirnis (ekor). Korda spermatika di palpasi mulai dan epdidimis pada sampai ke cincin abdomen eksternal. Pasien diminta untuk mengangkat penisnya dengan hatihati. Jika penisnya di angkat terlalu tinggi, kulit skrotum akan berkurang dan 10

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

pemeriksaan akan lebih sulit. Pemeriksa harus memegang skroturn di garis tengah dengan meletakkan kedua ibu jari di depan dan kedua telunjuk pada sisi perineal skrotum.

Gambar: epididimis dan vas deverens Dengan memakai kedua tangan, pemeriksa secara serentak harus melakukan palpasi kedua korda spermatika di antara ibu jari dan jari tetunjuk ketika jari-jari itu digerakkan ke arah lateral pada permukaan skrotum. Struktur yang paling menonjol pada korda spermatika adalah vas deferens. Vas ini teraba sebagai tali yang keras kira-kira berdiameter 2-4 mm dan teraba sebagai spaghetti seperti setengah di masak. Ukurannya dibandingkan dan setiap nyeri atau benjolan di catat. Pembesaran korda spermatika yang lazim dijumpai yang disebabkan oleh dilatasi pleksus pampiniformis adalah varikokel, biasanya timbul di sisi kiri seperti meraba sekantong kumpulan cacing. Hanya terlihat pada saat pasien berdiri, oleh karena pengaruh gravitasi.

11

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

3. Pemeriksaan Hernia lnspeksi Daerah lnguinal dan Femoral Suruhlah pasien memutar kepalanya kesamping dan batuk atau mengejan. Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat timbulnya benjolan mendadak selama bantuk, yang menunjukkan adanya hernia. Jika teraba, ulang kembali untuk membandingkan dengan sisi lainnya. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk, tentukanlah lokasi nyeri dan periksarah kembali daerah tersebut.

Palpasi Hernia Inguinalis Dilakukan dengan meletakan jari telunjuk kanan pemeriksa didalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skroturn ke dalam. Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanal inguinal sejajar dengan ligamentum inguinal dan digerakkkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna (kanalis inguinalis) dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan.

Gambar: pemeriksaan hernia Dengan jari telunjuk di kanalis inguinal, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia. akan terasa impuls tiba-tiba yang meyentuh jari pemeriksa. Jika ada hernia, minta 12

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

pasien berbaring terlentang dan perhatikan apakah hernia dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada masa itu. Ulangi pada sisi lainnya. Bila ditemukan bunyi usus di dalam skrotum pada pemeriksaan auskultasi, memastikan adanya hernia inguinalis indirek.

13

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

TEKNIK PEMASANGAN KATETER URINE

Tujuan Belajar:  Mahasiswa mampu melakukan pemasangan kateter urine secara aseptik dan tepat  Kateterisasi uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli-buli melalui uretra.

Pendahuluan Kateterisasi uretra adalah memasukan kateter kedalam buli-buli melalui uretra. Istilah ini sudah dikenal sejak zaman Hypokrates yang pada waktu itu menyebutkan tentang tindakan instrumentasi untuk mengeluarkan cairan dari tubuh. Bernard memperkenalkan kateter yang terbuat dari karet th 1779, sedangkan Foley membuat kateter menetap pada th 1930. Kateter Folley inilah yang saat ini masih dipakai secara luas sebagai alat untuk mengeluarkan urine dari buli-buli. Sebelum melakukan pemasangan kateter, mahasiswa harus mampu melakukan pemeriksaan fisik genitalia eksterna wanita. Keterampilan ini dibatasi hanya sampai mengidentifikasi organ/bagian yang terdapat pada genitalia eksterna wanita. Selain itu mahasiswa juga harus dapat mengidentifikasi perbedaan yang terdapat pada organ genitalia eksterna pria dan wanita. Mahasiswa harus mampu melakukan pemeriksaan fisik ini karena merupakan dasar dari keterampilan prosedural pemasangan kateterisasi uretra.

Kateterisasi Uretra Kateterisasi uretra adalah suatu prosedur memasukkan kateter (selang kecil) melalui saluran uretra kedalam vesika urinaria. Kateter dibedakan menurut ukuran, bentuk, bahan, sifat pemakaian dan percabangan. Ukuran kateter dinyatakan dalam skala Cheriere’s (French). Ukuran ini merupakan 14

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

ukuran diameter luar kateter. 1 Ch atau 1 Fr = 0,33 mm. 1 mm=3 Fr. Bahan kateter dapat berasal dari logam (stainleess), karet (lateks), silikon dan lateks dengan lapisan silikon .Dewasa normal pemasangan kateter untuk drainase digunakan ukuran 16F – 18F. Adapun indikasi dilakukannya pemasangan kateter adalah untuk tujuan diagnosis dan terapi, yaitu

Tujuan kateterisasi: Tujuan diagnosis:  Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urine untuk pemeriksaan kultur urine. Tindakan ini diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kontaminasi sample urine oleh bakteri komensal yang terdapat disekitar kulit vulva atau vagina  Mengukur residu (sisa) urine yang dikerjakan sesaat setelah pasien miksi  Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi antara lain: sistografi atau pemeriksaan adanya refluks vesico-ureter melalui pemeriksaan voiding cysto urethro graphy (VCUG)  Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intra vesika  Menilai produksi urine pada saat dan setelah operasi besar

Tujuan terapi:  Mengeluarkan urine dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal baik yang disebabkan oleh hiperplasi prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang menyumbat uretra  Mengeluarkan urine pada disifungsi buli-buli  Diversi urine setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah yaitu pada prostektomi, vesikolitotomi

15

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra  Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain : sitostatika atau antiseptic untuk buli-buli. Kateter yang, dipasang untuk tujuan diagnostik secepatnya di lepas setelah tujuan selesai, tetapi yang ditujukan untuk terapi, tetap dipertahankan hingga tujuan terpenuhi.

Indikasi kateterisasi: o Retentio urine o Monitoring ketat produksi urin o Operasi urethra / bladder outlet o Buli-buli neuropathy o Urine sampling o Instilasi ke dalam buli-buli o Spalk urethra

Indikasi kontra : o Radang akut urethra

Perlu diperhatikan bahwa kateter untuk diagnostik segera dilepas setelah tujuan pemasangan selesai, namun untuk terapi dipertahankan sampai tujuan terpenuhi. Kateter uretra tidak boleh dipasang pada penderita trauma yang dicurigai adanya cedera uretra yang ditandai antara lain keluarnya darah dari uretra, hematom yang luas daerah perineal serta adanya perubahan letak prostat (pada pria) pada colok dubur. Pemasangan kateter pada keadaan ini ditakutkan akan terjadi salah jalur melalui cedera maupun menambah parahnya cedera.

16

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Macam-macam kateter Kateter dibedakan menurut ukuran. sifat pemakaian, system retaining (pengunci) dan jumlah percabangan.

Keterangan: A, B : kateter Nelaton C, D : kateter Tiemann E

: kateter Malecot empat sayap

F

: kateter Malecot dua sayap

G

: kateter Pezzer

H

: Fotey two way catheter

I

: Folley three way catheter

Ukuran kateter Ukuran kateter dinyatakan dalam skala Cheriem's (French). Ukuran ini merupakan ukuran diameter luar kateter. 1. Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0,33 mm, atau 1 mm a3 FR Jadi kateter yang berukuran 18 Fr artinya diameter luar kateter tersebut adalah 6 mm. Kateter yang mempunyai ukuran sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena perbedaan bahan dan jumlah lumen pada keteter itu.

17

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Bahan katater Bahan kateter dapat berasal dan logam (stainless), karet (lateks), lateks dengan lapisan silicon (siliconized) dan silicon. Perbedaan bahan kateter menentukan biokompatibilitas kateter di dalam buli-buli, sehingga akan mempengaruhi pula daya tahan kateter yang terpasang di buli-buli.

Persiapan kateterisasi  lnformasi lengkap dan informed consent  Memperhatikan prinsip pemasangan kateter:  Dilakukan secara aseptik dengan melakukan desinfeksi secukupnya memakai bahan yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit genetalia  Diusahakan tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien  Dipakai kateter dengan ukuran terkecil yang masih cukup efektif untuk melakukan drainase urine, yaitu untuk orang dewasa ukuran 16Fr-18Pr. Kateter logam tidak digunakan pada tindakan kateterisasi pada pria karena akan menimbulkan kerusakan uretra  Jika dibutuhkan pemakaian kateter menetap, diusahakan memakai system tertutup yaitu dengan menghubungkan kateter pada saluran penampug urine (urine bag)

18

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Kateter menetap dipertahankan sesingkat mungkin sampai dilakukan tindakan definitif terhadap penyebab retensi urine. Makin lama kateter dipasang, penyulit berupa infeksi atau cedera uretra semakin mungkin terjadi.

Teknik Kateterisasi: 1. Pada Pria  Baringkan pasien  Dokter berdiri disebelah kiri pasien  Dokter memakai sarung tangan steril  Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya, daerah genetalia dipersempit dengan kain steril (doek steril)  Keteter yang telah diolesi dengan pelicin/jelly dipegang seperti memegang pensil, kemudian dimasukkan ke dalam orrifisium uretra eksterna  Pelan-pelan kateter di dorong masuk dan kira-kira pada daerah bulbomembranasea (daerah sfingter uretra eksterna) akan terasa tahanan dalam

hal

ini

pasien

diperintahkan

untuk

rnengambil

napas

dalam/menelan supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks.

19

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Kateter terus di dorong hingga masuk ke dalam buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urine dan lubang kateter. Perhatikan urine ; jernih, keruh, merah, volume total (dicatat)  Sebaiknya kateter terus di dorong hingga masuk ke buli-buli lagi hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna  Balon kateter dikembagkan dengan 5-10 ml air steril  Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan urine bag  Kateter di fiksasi dengan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal. Fiksasi kateter yang tidak tepat, yaitu yang mengarah ke kaudal, akan menyebabkan terjadinya penekanan pada uretra bagian peno skrotal sehingga terjadi nekrosis.  Selanjutnya di tempat ini akan timbul striktura uretra atau fistel uretra

Gambar:pemasangan kateter male

20

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

2. Pada Wanita Berbeda dengan pria, teknik pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan, karena uretra wanita lebih pendek. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra/tumor vagina/serviks.

Kesulitan dalam memasukkan keteter:  Pada pria kateter sering tertahan di uretra pars bulbosa yang bentuknya seperti huruf “S”.  Ketegangan dai sfingter uretra eksterna karena pasien merasa kesakitan dan ketakutan  Terdapat sumbatan organik di uretra yang disebabkan batu uretra, striktur uretra, kontraktur leher buli-buli, atau tumor uretra

Ketegangan sfingter uretra eksterna dapat diatasi dengan:  Menekan tempat itu selama beberapa menit dengan ujung kateter sampai terjadi relaksasi sfingter dan diharapkan kateter dapat masuk dengan lancar ke buli-buli  Pemberian anastesi topikal berupa campuran lidokain hidroklorida 2% dengan jelly 10-20 ml yang dimasukkan per-uretram, sebelum dilakukan kateterisasi 21

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Pemberian sedatif perenteral sebelum kateterisasi  Pemakaian kateter menetap akan mengundang timbulnya beberapa penyulit jika pasien tidak merawatnya dengan benar. Karena itu beberapa hal yang pertu dijelaskan pada pasien adalah : ďƒ˜ Pasien harus banyak minum untuk menghindari terjadinya enkrustasi pada kateter dan tertimbunnya debris/kotoran dalam buli-buli ďƒ˜ Selalu mernbersihkan nanah, darah dan getah/sekret kelenjar periureter yang menempel pada meatus uretra atau kateter dengan kapas basah. Jangan mengangkat/meletakkan kantong penampung urine karena dapat terjadi aliran balik urine ke buli-buli ďƒ˜ Jangan sering rnembuka saluran penampung yang dihubungkan dengan kateter karena akan mempermudah masuknya kuman  Mengganti kateter setiap 2 minggu sekali dengan yang baru untuk kateter jenis lateks atau 4 minggu sekali untuk jenis silikon.

Gambar: pemasangan kateter female

22

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

PEMERIKSAAN PERINUM DAN RECTAL

Tujuan belajar  Mahasiswa/i mampu melakukan prosedur pemeriksaan perineum rektal secara sistematis dan tepat

Posisi Pasien  Pemeriksaan

rektum

dapat

dilakukan

dengan

pasien

berbaring

terlentang/berbaring pada sisi kiri tubuh atau berdiri, membungkuk, pada meja pemeriksaan  Posisi pasien litotomi (pasien terlentang dengan kedua lutut difleksikan) ; Pemeriksa menjulurkan tangan kanannya di bawah paha kanan pasien, jari telunjuk di dalam rektum bersamaan dengan tangan kiri pemeriksa yang diletakkan di abdomen, cara pemeriksaan bimanual ini berguna dan menimbulkan gangguan minimal pada pasien yang kesakitan.  Posisi berbaring miring ke lateral kiri, yang disebut posisi Sims, biasanya dipakai pada wanita atau jika pasian sangat lemah dan harus terpaku di tempat tidur. Dalam posisi ini tungkai kanan atas harus difleksikan sedangkan tungkai kiri bawah setengah diekstensikan  Posisi berdiri merupakan posisi yang paling banyak dipakai dan dengan posisi ini dapat dilakukan inspeksi menyeluruh pada anus dan palpasi rektum. Pasien disurruh berdiri membungkuk dengan bahu dan sikunya di sokong di atas tempat tidur atau meja pemeriksaan.  Tangan kanan pemeriksa dengan memakai sarung tangan memeriksa anus dan jaringan sekitarnya sementara tangan kiri dengan hati-hati merentangkan bokong. Jika mencurigai adanya infeksi, kedua tangan pemeriksa harus memakai sarung tangan. Kulit anus diperiksa untuk

23

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

tanda-tanda peradangan, ekskoriasi, fisura, nodulus, fistula, parut, tumor, atau hemorroid.  Setiap daerah abnormal harus dipalpasi. Pasien dimita mengedan sementara pemeriksa menginspeksi anus untuk melihat adanya hemorroid atau fissura.

Teknik  Pasien diberitahukan bahwa pemeriksaan rektum sekarang akan segera diilakukan  Pemeriksa memberitahukan pasien bahwa lubrikan yang memberikan sensasi dingin akan dipakai, dan ini akan diikuti dengan sensasi seperti akan buang air besar; pasien harus diberikan jaminan bahwa sebenarnya ia tidak akan buang air besar  Pemeriksa melaburi pelumas pada jari telunjuk tangan kanan yang bersarung tangan dan meletakkan tangan kirinya pada bokong pasien. Ketika tangan kiri merentangkan bokong pasien, jari telunjuk kanan dengan perlahan-lahan diletakkan pada pinggir anus. Sfingternya harus direlaksasikan dengan tekanan lunak oleh permukaan palmar jari telunjuk.  Pasien di suruh mengambil napas dalam, dan pada saat itu jari telunjuk kanan dimasukkan ke dalam anal anus ketika sfingter anus mengendur. Sfingter harus menutup dengan sempuma disekitar jari pemeriksa. Tonus sfingter harus dinilai. Jari itu harus dimasukkan sejauh mungkin ke dalam rektum, meskipun 10 cm merupakan batas eksplorasi jari yang mungkin dilakukan. Tangan kiri kemudian dapat dipindahkan ke bokong kiri pasien, sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum.

24

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Gambar: pemeriksaan perineum dan rectal Palpasi Dinding Rektum  Dinding lateral, posterior dan anterior rektum di palpasi.  Dinding lateral diraba dengan rnerotasikan jari sepanjang sisi-sisi rektum.  Spina ischiadika, os coccygeus, dan sakrum bawah dapat diraba dengan mudah.  Dinding rektum dipalpasi untuk mengetahui adanya polip, yang dapat melekat

pada

dasarnya

(sesil)

atau

melekat

pada

tangkainya

(pedunkulus). Setiap ketidak aturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya harus dicatat.  Agar seluruh keliling dinding rektum dapat diperiksa, pemeriksa,harus memutar punggungnya rnenghadapi pasien sehingga pemeriksa dapat melakukan hiperrotasi tangannya.

Palpasi Kelenjar Prostat  Kelenjar prostat terletak di sebelah anterior rektum, diameter kira-kira 4 cm  Ukunan, permukaan, konsistensi, simetris/tidak, dan bentuk kelenjar prostat harus diperiksa. Dalam keadaan normal, permukaannya halus dan kokoh, mempunyai konsistensi seperti bola karet keras, berbentuk seperti

25

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

hati, dimana apeks hati mengarah ke anus. Lylargo superior biasanya terlalu tinggi untuk dapat dijangkau.  Kenalilah sulkus median dan lobus-lobus lateral.  Catatlah setiap massa, nyeri tekan atau nodulus.  Modulus keras, asimetris mengarah ke kanker prostat dan paling sering menterang lobus posterior, sedangkan Benign Hipertrofi Prostat (BPH), kelenjar prostat membesar secara simetris dan lunak yang menonjol ke dalam lumen rektum.  Vesikulus seminalis terletak terletak di bagian atas kelenjar prostat dan jarang teraba, kecuali jika membesar.  Pemeriksaan rektum diakhiri dengan memberitahukan pasien bahwa pemeriksa akan segera menarik jari telunjuk pemeriksa.  Dengan perlahan-lahan keluarkan jari pemeriksa.

Gambar: pemeriksaan kelenjar prostat

26

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

PEMERIKSAAN GENETALIA WANITA (FEMALE GENETALIA EXAM)

Tujuan Belajar Mahasiswa mampu melakukan pcmeriksaan fisik pada genetalia wanita secara sistematis dan benar.

Anatomi dan fisiologi 1. Alat Genetalia Eksterna  Mons Veneris: tonjolan bulat dan jaringan lunak diatas simfisis pubis, ditutupi rambut kemaluan  Labia Mayor  Labia Minor  Klitoris, terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh dengan urat saraf, sangat sensitive  Vulva  Bulbus vestibuli sinistra et dekstra  lntroitus vaginalis  Perineum

Gambar: anatomi female

27

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

2. Alat Genetalia lnterna  Vagina  Uterus  Tuba fallopi  Ovarium

Gambar:genitalia feminina interna

Persiapan pemeriksaan  Pasien seharusnya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih dan rektum sebelum pemeriksaan  Pasien dibantu menaiki meja pemeriksaan dengan bokong pasien diletakkan didekat ujungnya  Pijakan meja pemeriksaan dikembangkan dan pasien disuruh meletakkan tumitnya pada tempat berpijak tersebut  Kepala meja pemeriksaan ditinggikan sehingga terjadi kontak mata dengan pasien  Lutut ditarik ke atas untuk meretaksasikan otot-otot perut ketika paha di abduksikan  Minta pasien untuk membiarkan tungkainya jatuh pada sisi tubuhnya.

28

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Pemeriksa rnemakai sarung tangan dan duduk diatas bangku diantara kedua tungkai pasien  Atur pencahayaan yang baik, termasuk sumber cahaya yang diarahkan kedalam vagina

Pemeriksaan genetalia wanita terdiri dari :  Inspeksi dan palpasi genetalia eksterna  Pemeriksaan speculum  Palpasi bimanual  Palpasi rektovaginal

lnspeksi dan Palpasi Genetalia Interna Untuk membuat pasien wanita merasa lebih nyaman selama pemeriksaan, seringkali akan bermanfaat jika pemeriksa menyentuh tungkainya dengan menggunakan sisi punggung tangan. Beritahukan pasien sewaktu akan menyentuh tungkainya.

Genetalia eksterna harus di inspeksi dengan cermat  Mons veneris diperiksa untuk melihat adanya lesi atau pembengkakan.  Rambut pubis diperiksa untuk melihat polanya dan adanya kutu pubis  Kulit vulva diperiksa untuk melihat adanya kemerahan, ekskoriasi, massa, leukoplakia atau pigmentasi. Setiap lesi harus dipalpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan. Krawosis vulva adalah keadaan dimana kulit vulva kemerahan, halus, berkilat, hampir transparan secara merata (sering

pada

wanita

pasca

menopause).

Bercak

putih

karena

hiperkeratosis yang dikenal sebagai leukoplakia vulva biasanya mendahului timbulnya karsinoma.

29

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Beritahukan kepada pasien pada saat hendak membuka labia. Dengan tangan kanan, labia mayor dan minor dibuka terpisah di antara ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan.  Catat setiap lesi peradangan, ulserasi, pengeluaran sekret, parut, taini, trauma, bengkak, perubahan atrofik atau massa yang ditemukan.  Klitoris diperiksa untuk rnelihat ukuran dan adanya lesi. Biasanya klitoris berukuran 3-4 mm  Melihat hymen : ada/tidaknya, gambaran hymen  Macam-macam bentuk hyrnen :

Gambar: hymen

 Inspeksi meatus uretra : apakah ada pus atau peradangan. Jika ada pus, tentukan sumbernya.  Celupkan kapas lidi kedalam sekret dan oleskan pada slide mikroskop untuk pemeriksaan lebih lanjut.  Beritahukan pasien ketika anda headak melakukan palpasi kelenjarkelenjar labia. Palpasi dilakukan pada area jarn 7-8 untuk daerah kelenjar kanan, dengan memegang bagian posterior labia kanan didalam vagina dan ibu jari, kanan diluar. Apakah ada nyeri tekan, bengkak atau pus.

30

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Biasanya kelenjar bartholin tidak dapat dilihat maupun diraba. Selanjutnya memakai tangan kiri untuk memeriksa daerah kelenjar kiri (jam 4-5).  Perineum ; perineum dan anus diperiksa untuk melihat adanya massa (lennastik hemorroid), parut, fissura, atau fistel.  Perneriksaan relaksasi pelvis : dengan kedua labia terpisah lebar, pasien diminta untuk mengejan atau batuk.  Jika ada relaksasi vagina, mungkin akan terlihat penggembungan dinding anterior atau poterior. Penonjolan dinding anterior berkaitan dengan sistokel ; penonjolan dinding posterior menunjukkan adanya suatu refetokel. Jika ada inkontinensia stres, batuk atau mengejan dapat menyebbakan penyemprotnya urin dan uretra.

Pemeriksaan Spekulum Persiapan Pemeriksaan spekulum dilakukan untuk mengamati vagina dan serviks. Ada beberapa macam Spekulum : spekulum metal Cusco atau bivalve, adalah yang paling populer digunakan. Spekulum ini terdiri dari dua daun yang dimasukkan dalam keadaan tertutup dan kemudian di buka dengan menekan pegangannya. Dinding vagina dipisahkan oleh kedua daun spekulum, sehingga dapat tercapai visualisassi vagina dan serviks secara memadai. Pada dasamya ada dua macam spekulum dua daun ; graves dan Pedersen. Spekulum Graves adalah spekulum yang lebih umum dan dipakai untuk kebanyakan wanita dewasa. Daun-daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisi-sisinya. Spekulum Pedersen mempunyai daun yang lebih sempit dan rata, dan dipakai untuk wanita dengan introitus kecil. Spekulum dua daun yang terbuat dari plastik dan sekali pakai. Kekurangan alat ini adalah bunyi klik yang

31

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

keras yang timbul ketika daun bawah dilepaskan selama dikelurkan dari vagina. Jika memakai spekulum plastik, pasien harus diberitahukan bahwa akan timbul bunyi klik ini.

Dari kiri ke kanan : spekulum logam Pedersen ukuran kecil, spekulum logam Pedersen ukuran sedang, spekulum logam Graves ukuran sodang, spekulum logarn Graves ukuran besar dan spekulum Pedersen plastik ukuran besar,

Prosedur pemeriksaan:  Sebelum memakai spekulum, berlatihlah membuka dan menutupnya. Jika pasien belum pernah menjalani pemeriksaan dengan spekulum, sebaiknya spekulum diperlihatkan terlebih dahulu kepada pasien. Spekulum dihangatkan terlebih dahulu dengan air hangat, dan kemudian menyentuhnya dengan punggung tangan untuk menentukan bahwa suhunya sudah tepat.  Lubrikasi jeli sebaiknya jangan dipakai karena dapat mengganggu pemeriksaan sitologi serviks dan biakan gonacocaus.  Beritahukan pasien ketika akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan speculum

32

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Jari telunjuk dan tengah kiri pemeriksa memisahkan labia dan menekan perineum  Spekulum yang masih tertutup, dengan dipegang oleh tangan kanan pemeriksa, dimasukkan secara miring dengan perlahan-lahan ke dalarn introitus di atas jari-jari tangan kiri.  Spekulum tidak boleh dimasukkan secara vertikal, karena dapat timbul cedera pada uretra dan meatus.

Gambar:pemasangan spekulum  Serviks ; spekulum dimasukkan sejauh mungkin kedalam vagina, kemudian spekulum diputar ke posisi transversal, dengan pegangannya sekarang mengarah ke bawah, dan di buka dengan perlahan-lahan. Serviks harus berada di dalam daun-daun spekulum. Untuk menjaga agar spekulum tetap terbuka, sekrupnya dapat dikencangkan. Jika serviks tidak segera terlihat, dengan hati-hati daun spekulum diputar ke berbagai arah untuk melihat serviks. Jika ada sekret yang mengaburkan setiap bagian dinding vagina atau serviks, harus dihilangkan. 33

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Cara membuat apusan PAP : diperoleh dengan memakai spatula kayu yang dimasukkan melalui spekulum. Ujung spatula yang lebih panjang dimasukkan ke dalam orrifisium eksterna servicis, kemudian spatulanya diputar 360 sementiara mengerok sel-sel dari orifisium eksterna servicis. Contoh lain diambil dengan memakai kapas Udi dari forniks posterior dan lateral vagina, dan dari endoserviks. Apuskan di atas slide kaca dan difiksasi dengan memasukkannya ke dalam larutan yang mengandung campuran metilalkohol 95% dan eter dengan perbandingan 1: 1. Atau dengan menyemprotkan fiksatif yang mengering dengan cepat.  Dinding vagina : beritahukan pasien bahwa spekulum sekarang akan diangkat. Sekrup spekulum dikendurkan dengan jari telunjuk kanan dan spekulum diputar kembali ke posisi semula (miring). Ketika spekulum perlahan-lahan ditarik dan ditutup, dinding vagina diperiksa untuk melihat adanya masa, laserasi, leukoplakia, atau laserasi. Dinding vagina harus halus dan tidak nyeri tekan. Biasanya ada mukus tak berwarna atau putih dalam jumlah cukup banyak.

Palpasi Bimanual Dipakai untuk palpasi uterus dan adneksanya. Teknik Pemeriksaan;  Posisi dokter harus berada diantara kedua tungkai pasien  Jika tangan kanan dimasukkan kedalam vagina, pemeriksa meletakkan kaki kanannya diatas bangku kecil  Lubrikasi jelli, dipegang dengan tangan kiri, dan sejumlah kecil diteteskan ke atas jari telunjuk dan tengah tangan kanan pemeriksa yang sudah memakai sarung tangan. Tangan kanan yang telah memakai sarung tangan tidak boleh menyentuh lubejelli  Pasien diberitahukan bahwa "pemeriksaan dalam" akan segera dimulai

34

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

 Perhatikan ekspresi wajah pasien, ketika pemeriksaan dilakukan  Beritahukan kembali bahwa pemeriksa akan menyentuh kembali tungkainya ketika memulai pemeriksaan. Punggung tangan kiri harus menyentuh sisi dalam paha kanan pasien.  Labia dibuka lebar dan jari telunjuk telunjuk dan tengah tangan kanan yang berpelumas dimasukkan secara vertikal kedalam vagina. Kemudian dilakukan penekanan ke bawah ke arah perineum. Jari keempat dan kelima kanan difleksikan ke dalam telapak tangan. Ibu jari kanan diekstesikan.  Tangan kiri diletakkin di atas abdomen kira-kira sepertiga jarak simfisis pubis dengan umbilikus.  Pergelangan tangan yang berada di abdomen tidak boleh difleksikan atau disupinasikan.  Tangan kanan (di dalam vagina) mengangkat organ-organ pelvis ke atas pelvis dan menstabilkannya, sementara organ-organ itu di palpasi oleh tangan kiri (di abdomen). Tangan yang diperut, bukan yang di dalam vagina, yang melakukan palpasi.

Gambar: palpasi bimanual

35

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

A. Palpasi Servikal dan Korpus Uterus Palpasi bimanual dapat dilakukan jika uterus anteversi dan antefleksi yang merupakan posisi uterus yang paling lazim.  Beritahukan pasien sebelum dilakukan perabaan serviks  Serviks di palpasi, perhatikan : konsistensinya (lunak, keras, nodular, rapuh)  Gerakkan serviks ke berbagai arah. Biasanya serviks dapat digerakkan 24 cm dalam segala arah. Serviks di dorong kebelakang dan ke atas ke arah tangan yang berada di permukaan perut ketika tangan itu mendorong ke bawah. Setiap keterbatasan gerakan atau timbulnya nyeri karena pergerakan tersebut harus di catat.  Mendorong serviks ke atas dan ke belakang cenderung menggerakkan uterus yang berada dalam posisi anteversi dan antefleksi ke dalam posisi yang lebih mudah di palpasi.  Uterus kemudian di palpasi diantara kedua tangan. Dengan cermat, perhatikan : posisi. ukuran, bentuk, konsistensinya, mobilitas dan nyeri tekan. Tentukan uterus anteversi atau retroversi, membesar, keras dan mobilitas. Apakah teraba ketidak aturan. Apakah ada nyeri tekan pada saat uterus digerakkan.

Gambar: palpasi servik 36

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

B. Palpasi Adneksa  Palpasi dilakukan di adneksa kanan dan kiri  Jika pasien sudah mengeluh nyeri pada satu sisi, mulailah pemeriksaan pada sisi lainnya  Tangan kanan pemeriksa dipindahkan ke forniks lateral kiri, sementara tangan kiri (yang dipermukaan perut) pindah ke kuadran kiri bawah pasien. Jari-jari di dalam vagina mengangkat adneksa ke arah tangan yang dipermukaan perut, yang berusaha melakukan palpasi strukturstruktur adneksa.  Perhatikan : ukuran, bentuk, konsistensi, mobilitas dan nyeri tekan struktur-struktur adneksa.  Ovarium normal peka terhadap tekanan.  Setelah memeriksa sisi kiri, adneksa kanan dipalpasi dengan memindah tangan kanan (vagina) ke forniks lateral kanan dan tangan kiri (perut) ke kuadran kanan bawah pasien  Setelah pemeriksaan adneksa. Jari pemeriksa yang berada di dalam vagina dipindahkan ke forniks posterior untuk melakukan palpasi ligamentum uterosakral dan kantong Douglas. Nyeri tekan yang jelas dan nodularitas mengarah kepada adanya endometriosis.  Jika pasiennya seorang gadis, pakailah jari tengah kanan saja.

Palpasi Rektovaginal  Beritahukan pasien bahwa akan dilakukan pemeriksaan vagina dan rectum  Tangan kanan, masih di dalam vagina, ditarik ke luar sedikit sehingga jari tengah kanan secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam rektum- Jari telunjuk kanan diletakkan sejauh mungkin ke atas pada permukaan posterior vagina

37

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

ďƒ˜ Septum rektovagina dipalpasi, apakah menebal atau nyeri tekan. Apakah nodulus atau massa. Jari tengah kanan harus meraba untuk mencari nyeri tekan, massa atau ketidak aturan di dalam rektum.

Gambar: palpasi rekto vaginal

38

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

SKILL I MALE GENETALIA EXAM No.

Aspek Yang Dinilai

Nilai 0

1.

Persiapan :

a.

Melakukan penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan

1

2

jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan dan efek yang ditimbulkan b.

Pemeriksa mencuci tangan dan memakai sarung tangan

2.

Melakukan inspeksi dan palpasi pada saat berbaring :

a.

Mempersilahkan pasien untuk berbaring dan pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien

b.

Melakukan inspeksi Kulit dan rambut : tanda peradangan, eskoriasi Penis

dan skrotum

: di

sunat/tidak,

ukuran,

lesi

(peradangan, ulserasi, kutil, abses) c.

Melakukan palpasi : ada/tidaknya massa atau tonjolan - Penis : smegma, ulkus, kutil, nodul, parut, tanda peradangan - Meatus uretra eksternus : letak (normal/epipadia, hipopaspadia), sekret, kutil, stenosis

d.

Melakukan palpasi - Penis : parut, ulkus, nodul, indurasi, tanda peradangan, nyeri tekan - Uretra : sekret, isi testis, bandingkan kiri dan kanan - Epididimis dan vas deferens : ada/tidaknya pembesaran (varikokel), nyeri tekan

39

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

4.

Pemeriksaan Hernia

a.

Melakukan inspeksi inguinal dan femoral : benjolan

b.

Melakukan palpasi inguinal : adanya benjolan, nyeri tekan

c.

Melakukan auskultasi skrotum : terdengar/tidak bunyi usus

5.

Memberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut

Keterangan : 0 : Tidak Dilakukan 1 : Dilakukan, tetapi kurang benar 2 : Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan: skor total/......x......% =......% Lampoh Keude,..............................2012

(........................................)

40

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

SKILL II PERINEAL & RECTAL EXAM

No.

Aspek Yang Dinilai

Nilai 0

1.

1

2

Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres sebelum melakukan pemeriksaan perineum dan rectal

a.

Memberikan penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan

b.

Memberikan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan, termasuk efek lubrikasi yang diberikan

2.

Persiapan

a.

Mengatur pelumas pada jari telunjuk tangan yang bersarung tangan dan meletakkan tangan kiri pada bokong pasien

b.

Tangan klien menentangkan bokong pasien, jari telunjuk kanan dengan perlahan-lahan diletakkan pada pinggir anus. Sfingternya harus direlaksasikan dengan tekanan lunak oleh permukaan palmar jari telunjuk

c.

Menyuruh pasien untuk mengambil nafas dalam, dan pada saat itu jari telunjuk kanan dimasukkan ke dalam anal anus ketika sfingter anus mengendur

d.

Memasukkan jari telunjuk kanan sejauh mungkin ke dalam rectum, tangan kiri kemudian dapat dipindahkan ke bokong kiri pasien, sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum

41

Buku Panduan Skill Lab

e.

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Palpasi dinding rectum (dinding lateral, posterior dan anterior rectum) : polip, ketidak teraturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya

f.

Palpasi kelenjar prostat : ukuran, permukaan, konsistensi, sensitivitas, dan bentuk kelenjar prostat. Sulcus median dan lobus-lobus lateral : massa, nyeri tekan atau nodul

g.

Memberitahukan pasien bahwa pemeriksa akan segera menarik jari telunjuk pemeriksa secara perlahan-lahan

h.

Melihat pada sarung tangan kemungkinan adanya : darah, lendir, feses, kemudian membersihkan sisa jelly dengan tissue

4.

Memberikan informasi hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut

Keterangan : 0 : Tidak Dilakukan 1 : Dilakukan, tetapi kurang benar 2 : Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan: skor total/......x......% =......% Lampoh Keude,..............................2012

(........................................)

42

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

SKILL III MALE CATETER URETRA EXAM No.

Aspek Yang Dinilai

Nilai

A.

PERSIAPAN

0

1.

Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan jujur

1

2

tentang cara dan tujuan pemeriksaan dan efek yang akan ditimbulkan, termasuk informed consent 2.

Mempersiapkan alat : kateter urine ukuran sesuai, urine bag, spuit 5 cc/10 cc, akuades dan NaCL 0,9%, doek steril, sarung tangan steril, pinset

3.

Pasien dibandingkan, lebih baik tidak memakai bantal

4.

Dokter berdiri disebelah kiri pasien (kecuali kidal)

5.

Dokter mencuci tangan memakai sarung tangan steril secara aseptik

B.

TEKNIK

6.

Melakukan desinfektan area muara uretra eksterna sampai perineum, kemudian membatasi dengan menggunakan doek steril

7.

Memasukkan jelly ke

muara uretra

eksterna

yang

mengandung anastesi : dewasa (10 cc), anak-anak (3-5 cc) biarkan Âą 5 menit, kemudian memasukkan kateter dengan menggunakan pinset 8.

Pada saat terasa tahanan (daerah bulbomenranasea), menyuruh pasien untuk mengambil nafas dalam atau menelan agar sfingter uretra eksterna relaks

9.

Mendorong kateter terus dengan pinset hingga masuk ke dalam buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urine dari lubang kateter. Perhatikan urine : jernih, keruh, merah,

43

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

volume total. Bila urine tidak keluar, uji coba dengan memasukkan NaCL 0,9% 10 cc, kemudian tarik kembali. 10. Mendorong terus kateter menggunakan pinset secara perlahan-lahan tanpa memaksanakan hingga masuk ke bulibuli lagi hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna 11. Apabila gagal, kateterisasi dihentikan 12. Mengembangkan balon kateter sesuai volume kateter bersangkutan

(5-10

mm)

aquades

steril,

kemudian

menghubungkan dengan urine bag 13. Memfiksasikan kateter menggunakan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal C.

Memberikan informasi bahwa pemasangan telah selesai dan follow up lebih lanjut

Keterangan : 0 : Tidak Dilakukan 1 : Dilakukan, tetapi kurang benar 2 : Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan: skor total/......x......% =......% Lampoh Keude,..............................2012

(........................................)

44

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

SKILL IV FEMALE CATETER URETRA EXAM No.

Aspek Yang Dinilai

Nilai

A.

PERSIAPAN

0

1.

Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan jujur

1

2

tentang cara dan tujuan pemeriksaan dan efek yang akan ditimbulkan, termasuk informed consent 2.

Mempersiapkan alat : kateter urine ukuran sesuai, urine bag, spuit 5 cc/10 cc, akuades dan NaCL 0,9%, doek steril, sarung tangan steril, pinset

3.

Pasien dibandingkan, lebih baik tidak memakai bantal

4.

Dokter berdiri disebelah kiri pasien (kecuali kidal)

5.

Dokter mencuci tangan memakai sarung tangan steril secara aseptik

B.

TEKNIK

6.

Melakukan desinfektan area muara uretra eksterna sampai perineum, kemudian membatasi dengan menggunakan doek steril

7.

Mengoleskan

kateter

menggunakan

jelly,

kemudian

memasukkan kateter dengan menggunakan pinset 8.

Mendorong kateter terus dengan pinset hingga masuk kedalam buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urine dan lubang kateter. Perhatikan urine: jernih, keruh, merah, volume total.

9.

Apabila gagal, kateterisasi dihentikan

10. Mengembangkan balon kateter sesuai volume kateter bersangkutan

(5-10

ml)

aquades

steril,

kemudian

menghubungkan dengan urine bag

45

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

11. Memfiksasikan kateter menggunakan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal 12. Membersihkan kembali area operasi dan doek steril dibuka C.

Memberikan informasi bahwa pemasangan telah selesai dan follow up lebih lanjut (membersihkan meatus eksternus setiap hari, bila pemasangan dalam waktu yang lama)

Keterangan : 0 : Tidak Dilakukan 1 : Dilakukan, tetapi kurang benar 2 : Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan: skor total/......x......% =......% Lampoh Keude,..............................2012

(........................................)

46

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Postest I:

47

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Postest II:

48

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Postest III:

49

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Pretest I:

50

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Pretest II:

51

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Pretest III:

52

Buku Panduan Skill Lab

Fakultas Kedokteran Abulyatama

BIODATA MAHASISWA/I

2 x 2²/1

Nama Mahasiswa : ……………………………. Nomor Induk

: …………………………….

Alamat

: …………………………….

Hp/Telp

: …………………………….

(KTP)

LEMBARAN PENILAIAN : NILAI : 1. SKILL LAB 1

:

2. SKILL LAB 2

:

3. SKILL LAB 3

:

REMEDIAL : 1. SKILL LAB 1

:

2. SKILL LAB 2

:

3. SKILL LAB 3

:

Maka dengan ini dinyatakan bahwa mahasiswa/i LULUS / TIDAK LULUS Lampoh Keudee, ……………………..2012 Mengatahui Koordinator SKILL LAB

Dr. M. Arief Faisal

53

Buku Panduan Skill Lab

Catatan:

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Buku Panduan Skill Lab

Catatan:

Fakultas Kedokteran Abulyatama

Buku Panduan Skill Lab

Catatan:

Fakultas Kedokteran Abulyatama


panduan_skill_lab_urogenitalia