Issuu on Google+

Gerbang

Unas dan Mahalnya Harga Kejujuran

I

ndikasi masih adanya ketidakjujuran pelaksanaan Unas kali ini – yang berujung pada pro-kontra Unas ulang - memang sudah diprediksi jauhjauh sebelumnya. Adalah Rektor ITS Surabaya Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, yang memprediksikan pertengahan Maret lalu. Sebagai lembaga yang ditunjuk sebagai koordinator pengawas Unas tingkat SMA/MA, Prof Priyo waktu itu dengan tegas menyatakan tidak dapat menjamin pelaksanaan Unas itu akan berlangsung dengan jujur. Alasan utamanya adalah masalah dana. Dana pengawasan yang hanya Rp 8,247 miliar sungguh tidak cukup untuk mengawasi pelaksanaan Unas di 1.526 sekolah penyelenggara se-Jatim. Idealnya butuh Rp 20 miliar hingga bisa melibatkan 4.000-an pengawas dari 9 PTB di Jatim, dengan obyek pengawasan mulai dari distribusi lembar ujian dari percetakan, kepolisian, sekolah hingga evaluasi. Dengan dana yang terbatas itu, seorang pengawas hanya mampu mengawasi 1 sekolah penyelenggara yang mencapai 5-7 kelas. Maka pengawas yang ada kesannya hanya sebagai pemantau. Apalagi kalangan sekolah pun terkesan tidak menghendaki “kehadiran” PTN sebagai pengawas. “Mungkin mereka sudah terbiasa dengan ketidakjujuran itu, sehingga pemerintah harus

mengalokasikan dana miliaran rupiah untuk mewujudkan kejujuran itu,” begitu tandas Prof Priyo ketika itu. Kejujuran, ya sekali lagi adalah soal kejujuran. Ini adalah kata kunci yang senantiasa lekat pada setiap Unas, UASBN atau apapun namanya. Seolah-olah ada kesan pelaksanaan Unas itu cenderung curang, culas, dari tahun ke tahun. Kebocoran soal, jualbeli jawaban, pemanfaatan HP untuk mengirim jawaban adalah segelintir dari modus pelanggaran-pelanggaran tersebut. Dan rebut-ribut soal Unas ulang tersebut jelas juga refleksi dari masih terjadinya kecurangan tersebut. Unas yang jujur adalah prioritas. Tak hanya peserta ujian yang dituntut jujur, sekolah, guru, penyelenggara ujian, pengawas, dan dinas pendidikan sendiri haruslah seiring. Dengan Unas yang jujur kredibilitas depdiknas akan meningkat, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga makin tinggi. Kejujuran harus dimulai dari atas, dalam hal ini dari Mendiknas dan anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) itu sendiri. Kejujuran di sini menyangkut upaya secara sistematis terstruktur yang benar-benar menjamin tidak akan terjadi mismanajemen pelaksanaan Unas. Di tingkat sekolah, juga harus tegas berani mengikis kecenderungan curang itu dengan orientasi proses pembelajaran yang lebih serius.

Sebab, terus terang, sebagaimana pernah dilontarkan Pamong Taman Siswa, Ki Supriyoko, ketidakjujuran unas justru banyak terjadi di lapangan yang dalam hal ini sekolah. Dibentuknya tim sukses di sekolah-sekolah yang bercara kerja negatif dan untouchable merupakan bentuk ketidakjujuran di lapangan. Ketika soal datang atau bersamaan dengan soal dibagikan kepada siswa, tim sukses yang beranggotakan guru bidang studi yang diunaskan (ditambah guru yang “kreatif”) segera mengerjakan soal ujian, kemudian mendistribusikan jawabnya kepada siswa secara tidak sehat. Tentu ini dimaksudkan untuk menolong siswa meski caranya jelas-jelas salah. Agak risih juga kenapa kecurangan Unas masih juga terjadi di era seperti sekarang ini, yakni di era ketika anggaran pendidikan sudah dinaikkan, di era ketika gaji guru tak lagi senasib “Oemar Bakri”, di era ketika beragam sertifikasi digalakkan yang ujung-ujungnya demi kualitas dan kesejahteraan guru. Kejujuran itu memang mahal harganya. Namun butuh tambahan berapa anggaran lagi agar dunia pendidikan kita bisa berproses jujur? Atau memang secara umum kita memang susah jujur?. (Siddiq Baihaqi)

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

|1

ketuk pintu

Semangat Baru

P

Edisi ini Gerbang .......................................................... 1 Ketuk Pintu .................................................... 2 Hot-News ........................................................ 3 Ruang Utama ................................................ 6 Embun ...........................................................13 Beranda .........................................................13 Panggung .....................................................14 Ruang Keluarga ..........................................16 Selasar ...........................................................18 Jendela ..........................................................19 Pilar .................................................................20 Ruang Baca ..................................................21 Ruang Tamu .................................................21 Kamar Ortu ...................................................22 Teras Al Hikmah ..........................................23 Pigura .............................................................27 Halaman Belakang ....................................28

embaca yang budiman. Tiada terasa kembali kali ini kita sudah memasuki tahun pelajaran baru, tahun semangat baru, tahun harapan baru dan tahun yang insya Allah akan membuahkan prestasi-prestasi baru bagi anak-anak didik kita dan tentu saja prestasi bagi kita semua, baik yang bernilai duniawi maupun ukhrowi. Dalam edisi kali ini, redaksi kembali ingin merefleksikan sebuah nilai dan norma yang alhamdulillah selama ini senantiasa kita jaga bersama, yakni kejujuran. Sepintas memang kadang terasa berat bila mendengar kata tersebut. Berat karena untuk berusaha jujur, tak semudah membalik telapak tangan. Ia butuh kemantapan ruhani yang amat luar biasa. Kalau kita hidup sendirian bisa jadi kita bisa menjaga konsistensi kejujuran itu. Namun karena gesekan dengan pengaruh di luar diri kita sendiri, maka hakekat kejujuran kadang tak pernah kesampaian. Karenanya wajar bila ada pameo di kalangan masyarakat kita, kalau mau jujur maka tetap saja kita jauh dari kemujuran. Singkatnya, kejujuran sering menjadi barang mahal, di semua sektor kehidupan kita. Termasuk sektor pendidikan. Di Al Hikmah, alhamdulillah pembinaan mental kejujuran tersebut sudah dimulai sejak siswa menginjakkan kakinya di sekolah hingga beranjak pulang. Berkat kejujuran pula beragam prestasi kita raih. Dan berkat kejujuran pula kepercayaan luar membuahkan opini, Al Hikmah itu sekolah yang jujur. Lihat saja di setiap pelaksanaan Unas misalnya. Juga ketika diselenggarakan penerimaan siswa baru. Kejujuran tak hanya pada ritual edukasi seperti itu. Yang lebih utama adalah jujur itu berlaku di semua dimensi, ruang dan waktu. Nah, di awal tahun pelajaran baru ini, semangat untuk memupuk dan menyirami kejujuran itu insya Allah senantiasa menghiasi keseharian anak didi kita, tak hanya di sekolah, tapi juga di rumah... .

SUSUNAN REDAKSI Dewan Redaksi : Nur Hidayat, M Zahri, Gatot Sulanjono, Mim Syaiful Hadi, Edy Kuntjoro, Lely Rachmawaty • Pemimpin Umum : Nur Hidayat. • Pemimpin Redaksi : Shiddiq Baihaqi • Redaktur Pelaksana : Lusie Wardani • Redaktur Foto : M. Muchtar • Redaktur Tamu : Wahida Ariffiyanti • Reporter: Sholikin, S. Fahmi, Hayatun Nufus, Nurul Fuadah, Nailul Inayah, Sis Ariyanti, Bambang, Asmaul Husna • Diterbitkan oleh : Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah Surabaya. • Pembina : Ir. Abdul Kadir Baraja, Prof. Dr. HM Roem Rowi, MA, H. Taufiq Husin Baya’sut, H. Moh. Arif Salim Martak. • Pengawas : H. Yahya Husin Baya’sut, Drs. HM Taufiq AB. • Pengurus : Ketua : Syafik Gadi. Wakil Ketua : Muryanto Atmodjo. Sekretaris : Nur Hidayat. Bendahara : Shakib Abdullah. • Alamat Redaksi : Jl. Gayungsari IV/25 Surabaya, telp 031-8290140, 8299093, fax 031-8281173, www.alhikmahsby.com • email: humas@alhikmahsby.com

2 | Al2Hikmah | Al Hikmah I Edisi Juli I Edisi 2009 Juli 2009

Hot-News

Modal ‘Sepatu’ Terbaik Untuk Unas

D

i tengah keseriusan siswa SMP Al Hikmah mengerjakan soal-soal Unas, tiba-tiba ada seorang pengawas yang mendekati seorang dari mereka. Ia mencoba membantu memberi jawaban, namun siswa itu menolak, apalagi jawaban yang diberikan lain dari yang diyakininya benar. “Saya ini guru bidang studi yang diujikan ini, masak kamu ndak percaya, jawabannya pasti ini,” begitu kata pengawas itu meyakinkan. Namun siswa itu bersikukuh, jawabannya yang benar, dan jawaban pengawas itu salah. Agaknya pengawas tadi memang sedang “bersandiwara”. Ia ingin menguji kesiapan mental siswa, menguji kejujuran siswa, yang dalam pandangannya selama ini siswa-siswi Al Hikmah jujur dan percaya diri, termasuk ketika mengerjakan ujian akhir. Pada Unas kali ini ia ingin mencoba menguji apakah siswa-siswi Al Hikmah masih tahan uji. Dan, alhamdulillah penyelenggaraan ujian akhir, baik UASBN tingkat SD atau Unas tingkat SMP dan SMA di lingkungan Al Hikmah, tahun ini berjalan sesuai harapan, lancar, tertib dan jujur.

“Ujian akhir yang jujur memang menjadi kami prinsip sejak awal,” begitu kata Ust. Gatot Sulanjono, Kepala SD Al Hikmah. Memang tidak mudah menanamkan kejujuran itu. Butuh waktu dan kesabaran. Yang terutama adalah menanamkan cara pandang yang positif bagi siswa tentang apa itu Unas. “Pada siswa ditanamkan bahwa Unas itu sebagai bentuk peribadatan kepada Allah, Rasul dan kedua orang tua, maka lakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesucian,” tambah Ust. Mim Syaiful Hadi, Kepala SMP Al Hikmah. Dengan filosofis itu siswa pun akan berusaha maksimal mengembangkan potensinya sesuai prosedur. Maksudnya, bila siswa benar-benar maksimal belajar, tulus ikhlas, mengikuti standar pembelajaran yang benar, insya Allah juga akan dinilai sebagai ibadah. Dan kejujuran adalah salah satu standar moral wajib bagi mereka. “Jujur itu tak bisa sesaat. Dimulai dari hal-hal kecil, termasuk pembiasaan sehari-hari,” kata Ustd. Hayatun Nufus, Wakasek SMA Al Hikmah. Al Hikmah I Edisi Juli 2009

|3

Hot-News

4 Unsur Berkesinambungan Secara umum, tambah Ust. Mim, penanaman kejujuran itu dibangun atas 4 unsur secara berkesinambungan. Secara intelektual dilaksanakan program bimbingan belajar, try out yang terstuktur dan terukur. Di SMP Al Hikmah, bimbel lebih diintensifkan sejak kelas 9. Setiap bulan dan pekan dievaluasi. Di SMA Al Hikmah, sejak kelas awal pemberian soal yang berbobot Unas sudah diperkenalkan, namanya respons. Ini agar ketika kelas akhir pun siswa tidak kaget. Siswa pun menjadi percaya diri. “Bila siswa biasa dilatih yang berat-berat, selanjutnya tak akan merasa terbebani,” ujar Ustz. Hayati. Bahkan, “Ada siswa yang bilang, kok UASBN biasa-biasa saja ya, malah lebih sulit try out,” kata Ust. Gatot. Secara emosional, pada siswa dibangun semangat kompetisi, berprestasi, bukan ambisi untuk lulus. Tak hanya terhadap siswa, para guru juga dibangun motivasi suksesnya, baik harian, mingguan dan bulanan. Secara spiritual, mutu dan frekuensi ibadah ditingkatkan. Ada qiyamul lail, mabit, khataman Qur’an, memperbanyak sedekah, sholat-

4 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

sholat sunnah, dan lainnya. :Ketika diadakan doa bersama, antara siswa, wali murid dan sekolah, kami senantiasa menekankan pentingnya kejujuran itu,” tambah Ust, Gatot. Secara fisik, dipastikan ada keseimbangan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah siswa. Untuk ini secara rutin diselenggarakan senam dan olahraga. Ada lari Unas dan tepuk sukses Unas, Bersyukur, pelaksanaan ujian akhir yang sesuai harapan itu, seperti yang lalu-lalu, juga cukup mengesankan para pengawasnya. Mereka senang bahkan seolaholah merasa para siswa tak perlu ditunggui dan diawasi. Seusai melaksanakan tugas pengawasan, Ust. Gatot pun senantiasa menanyai 20-an pengawas di sana, apakah ada siswanya yang macam-macam. Dan rupanya itu tak didapati. Meski begitu toh Ust. tak pernah lupa mengingatkan agar para pengawas itu tak mencoba membantu anak mengerjakan soal. “Kalau bapak membantu berarti tak membantu misi kami, bapak malah menggangu,” begitu permintaan Ust. Gatot.

Begitu juga yang diharapkan SMA Al Hikmah pada 8 orang pengawas yang bertugas di sana. “Kenapa harus tidak jujur. Pendidikan itu proses, bukan nilai. Nilai belum tentu mencerminkan proses, tapi proses pasti sebaliknya,” ujar Ustz Hayati Bila proses pendidikan berjalan sesuai rel yang benar, tak akan pernah ada yang namanya kecurangan atau keculasan. Lalu mengapa misalnya ada sekolah yang berupaya menghalalkan segala cara demi kelulusan siswanya? Ini memang persoalan yang komplek, namun intinya adalah karena tak ada persiapan dan proses yang maksimal terhadap proses pembelajaran di sana. Sederhana saja, bila misalnya kita mau mengikuti lomba di mall, tidak siap, tidak punya modal, apapun terpaksa dilakukan. “Kita di sana pakai sandal, padahal disyaratkan bersepatu, maka jalan pintasnya adalah kita pinjam sepatu teman atau bila tak boleh akan berusaha merebutnya,” begitu perumpamaan Ust. Mim. Dan bagi Al Hikmah, dalam pertarungan seperti itu, pilihan modalnya cuma satu: sepatu terbaik! (*)

Al Hikmah Honesty Award

K S

etika banyak pihak menyoroti angka-angka capaian Unas, Sekolah Al Hikmah lebih tertarik memberikan

penghargaan bagi siswanya yang telah mengikuti Unas dengan jujur. Pertengahan Juni lalu pengurus YLPI Al Hikmah menganugerahkan Al HIkmah Honesty Award kepada siswa kelas 6 SD, kelas 9 SMP dan kelas 12 SMA Al Hikmah. Sebuah piala warna kuning emas setinggi 2 meter , bergambar hati di atasnya. Hadir pada acara lesehan di serambi masjid sekolah ini, seluruh pengurus, komite sekolah, para guru dan pimpinan sekolah, perwakilan UPDT BPS Kec. Gayungan, dan siswa kelas akhir Sekolah Al Hikmah. “Mendapatkan nilai yang baik dalam UASBN memang penting, Tetapi meraih dengan usaha yang jujur jauh lebih penting. Alhamdulillah, saya bangga kepada siswa Al Hikmah yang bisa mempertahankan tradisi kejujuran ”, kata Ir. Abdulkadir Baraja, Pembina YLPI Al Hikmah.

“Memang saya percaya selama ini memang pelaksanaan Unas di Al Hikmah jujur, kata Fatahullah, SH, Kepala UPDT BPS Kecamatan Gayungan. M. Nouval Isroq Pratama, siswa kelas 6, mengaku senang dengan penghargan ini. Setelah menerima piala , siswasiswa berebut mengangkat lalu mengarak sepanjang jalan sekitar sekolah, sambil membagikan beras sekitar 2 ton kepada tukang becak, pasukan kuning, penjaga rel kerta api, polisi cepek, tukang kebun dan satpam sekolah. Beras tersebut sumbangan seluruh pengurus yayasan, komite, guru, karyawan dan orang tua siswa. “Beras kebutuhan pokok semua orang. Kami ingin anak-anak seperti beras, dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat,” kata Drs. Gatot Sulanjono, Kepala SD Al Hikmah. (*)

Kelulusan SMP, Raih 31 Nilai Sempurna urabaya, SMP AlHikmahFantastik! Itulah yang tergambar pada lulusan angkatan ke-6 SMP AlHikmah. Sebab, sebanyak 31 nilai 10 (sempurna, red) telah ditorehkan siswa-siswinya dalam ujian nasional tahun (UN) ini. Selain itu, diumumkan pula siswa teladan, peraih UN tertinggi dan siswa yang memperoleh penghargaan terbanyak. Ratusan siswa SMP Al-Hikmah beserta walimurid memadati ruang terbuka Kantin sekolah, Sabtu (27/6) siang, dalam acara Tasyakuran Kelulusan Siswa SMP angkatan ke-6. Tahun ini, lulusan dan para guru boleh berbangga. Karena, sebanyak 31 nilai sempurna ditorehkan siswa UN 2009. Peraih nilai 10 untuk masingmasing bidang yaitu matematika ada 27 siswa, Ilmu Pengetahuan Alam 1 siswa dan Bahasa Inggris diraih 3 siswa. ”Tiap tahun memang banyak sekali siswa yang mendapatkan nilai 10, terlebih untuk pelajaran matematika,” komentar seorang ustadzah.

Semua peraih nilai 10 tersebut pun dipanggil ke podium untuk menerima piala. Ekky, salah satu peraih nilai 10 bidang matematika pun menyatakan rasa sukanya. ”Seneng banget, nggak nyangka dapat 10,” ujar siswi yang diterima SMAN 1 Sidoarjo program RSBI. Juga dinobatkan pula masingmasing seorang siswa-siswi teladan SMP. Mereka adalah Mi’raj Shabrin Jamil dan Ega Sekartika. Mi’raj, yang sering dijadikan duta dalam event olimpiade matematika mengaku tak menyangka dirinya terpilih menjadi siswa teladan. ”Senang banget. Kalau masuk 10 besar nilai tertinggi unas saya nggak kaget, tapi kalau terpilih menjadi yang teladan, nggak nyangka ustadzah,” tandas putra dari ibu Ledia Hanifah, salah satu anggota DPR RI yang baru terpilih. Mi’raj pun kini telah diterima di dua SMAN favorit di Depok dan Jakarta, mengikuti kedua orangtuanya.

Terakhir, diumumkan pula siswa yang paling banyak menorehkan prestasi untuk almamater tercinta. Dia adalah Fatmah Munif Lahdji. Tak tanggung-tanggung, 8 kategori penghargaan telah diberikan putri pasangan Munif Lahdji dan Jamilah Bawazeer ini. Diantaranya juara harapan II OSN tingkat kota, peserta OSN provinsi, juara III Olimpiade Matematika provinsi. Fatmah juga tercatat no 2 peraih UN tertinggi di sekolah dan peraih nilai matematika 10. ”Kalau belajar di rumah biasa saja, yang terpenting ketika di sekolah fokus. Pokoknya usahanya hanya belajar dan berdoa,” papar siswi berkacamata ini. (*)

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

|5

ruang utama

Berharap Perubahan dari Sekolah

A

pa sih yang sebenarnya kita harapkan dari sekolah? Sudah tak terhitung berapa tahun anak kita menghabiskan waktunya di sana, sudah tak ternilai berapa rupiah yang kita investasikan di sana, sudah tak terhingga berapa tenaga dan pikiran yang kita curahkan untuk itu. Namun sudahkah kita mendapatkan “sesuatu” dari hasil jerih payah itu? Sudahkah kita menemukan perbedaan pada kebiasaan anak sebelum atau sesudah anak bersekolah. Tanpa disadari, seiring perjalanan waktu, tahu-tahu rambut kita sudah beruban, tahu-tahu anak kita sudah

6 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

remaja, tahu-tahu… . Ya, tahu-tahu semuanya berubah. Lalu apa yang kita rasakan, ketika anak kita sudah besar, ternyata mereka tidak bisa menghadapi hidup sesuai usianya. Atau ternyata pada akhirnya mereka hanya membuat kita para orang tua kecewa, mengeluh, sedih karena kelakuannya yang jauh dari kebaikan. Tanpa sadar, kita pun lantas mengambinghitamkan sekolah. Padahal, ’’Tanpa kita sadari, sistem yang dijalankan di sekolah dapat membuat seseorang berperilaku positif,’’ ujar Ust. Imam Robandi, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Bimbingan Wilayah PW

Muhammadiyah Jatim. Dan, meski semua sekolah menawarkan hal yang pada dasarnya sama, masing-masing sekolah tentu memiliki tujuan spesifik yang hendak dicapai, yang biasanya dirumuskan sejak awal berdiri. ’’Tujuan tersebut mempengaruhi segala sesuatu yang dikerjakan oleh sekolah, termasuk sistem pengajarannya. Contohnya ya di Al Hikmah ini,’’ jelas Ust. Muhammad Zahri, Kepala Kantor Sekretariat YLPI Al Hikmah. Al Hikmah, tambah Ust. Zahri menjelaskan bahwa, selain bertujuan mencetak generasi yang pandai secara intelektual, juga emosional dan spiritual. ’’Karena itulah kami juga mengajarkan dasar-dasar sosialisasi, beretika, dan beragama,’’ katanya. Murid-murid Al Hikmah dibiasakan mempraktikkan ajaran agama . Begitu terdengar suara adzan, mereka segera menuju masjid dan sholat berjamaah. Setiap haripun, sebelum pelajaran dimulai, mereka berdoa dan mengaji. Ini dilakukan semata-mata agar anak terbiasa dengan kebiasaan positif tersebut. Di rumah pun mereka diharapkan bisa menularkan kebiasaan mulia itu. ’’Mereka bisa menjadi fungsi kontrol orang tuanya dan membawa pengaruh positif untuk orang-orang di sekitarnya,’’ tutur Ust. Imam Robandi. Lebih dari sekedar pembiasaan, yang lebih penting lagi adalah perlunya maintenance. Sekolah hendaknya tetap memonitor kegiatan anak didik dan kebiasaannya di rumah. Secara periodik perlu pertemuan antara sekolah dan orang tua, sebagai forum komunikasi perkembangan anak didik mereka. Bila ini terjalin, insya Allah akan semakin memperkokoh pembiasaan positif anak, dan sekolah pun bisa menjadi sarana perubahan perilaku positif bagi anak didik, juga orangorang terdekatnya. Sebab terlalu berharap banyak perubahan pada sekolah tanpa peran orang tua, jelas seperti menggantang asap. (*)

Guru Sebagai Motor Perubahan

S

epintas tidak bisa dipungkiri kalau perubahan sikap yang terjadi pada anak-anak didik adalah hasil didikan ustadz dan ustadzah mereka di sekolah. Di tangan merekalah kita berharap agar tertanam nilai positif pada anak didik. ’’Sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan di sekolah. Guru merekalah yang setiap hari mendampingi belajar dan beribadah di sekolah,’’ kata Ustadzah Dewi Retno Suminar, psikolog anak. Benar, dalam melakukan sesuatu anak meneladani orang terdekat mereka. Teladan itu akan menjadi ’’role model’’ yang ditiru setiap tingkah lakunya. Makin seringnya bertemu di sekolah, membuat guru memiliki pengaruh besar terhadap sikap anak. Karena alasan itu pulalah banyak orang tua yang selektif memilih sekolah. Karena itulah, kata Ustadzah Dewi, orang tua harus selektif untuk memilih sekolah. Sebab, guru layaknya orang tua kedua anak-anak di sekolah. ’’Setiap perbuatan dan perkataan guru itu digugu dan ditiru. Karena itu harus hati-hati,’’ ujarnya.Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki guru-guru profesional. Mereka adalah

orang-orang yang ahli di bidangnya dan mampu menularkan ilmunya dengan baik kepada anak didiknya. Tidak hanya itu, dalam menjalankan upaya penanaman nilai-nilai positif, seorang guru yang profesional tidak mengedepankan penilaian pribadinya, baik dalam hal etika, sopan santun, maupun ibadah, melainkan menyesuaikannya dengan visi dan misi sekolah. Bila tidak, anakanak akan menjadi bingung mengapa pembiasaan di sekolah berbeda dengan ajaran yang diberikan gurunya. Selain itu, kedekatan guru dengan murid juga berpengaruh pada penerimaan pelajaran yang diberikan, termasuk dalam hal pelajaran beribadah. Kalau hubungan mereka dekat, pelajaran yang diberikan pasti cepat diterima. Dan untuk mengoptimalkan perubahan positif pada anak didiknya, kata Ustadz Muhammad Zahri, Kepala Kantor Sekretariat YLPI Al Hikmah, para guru di lingkungan Al Hikmah dituntut untuk bersikap profesional dan menjaga kedekatan hubungan dengan murid-muridnya. Sebab, pada dasarnya seorang guru bisa bertindak layaknya orang tua dan teman bagi anak didik mereka. ’’Di sini, mereka terbiasa diskusi masalah sekolah dan bahkan beberapa murid

juga ada yang meminta saran untuk menyelesaikan masalah pribadinya,’’ tambah Ust. Zahri. Tidak sebatas saat bersekolah di Al Hikmah saja, hubungan antara guru-guru di Al Hikmah dan muridnya terus berlanjut bahkan hingga anak-anak tersebut lulus. Alumnus Al HIkmah kerap bertandang di sekolahnya khusus untuk menemui guru-guru yang telah mengajari mereka ilmu, akhlak, dan etika. Ustad Zahri juga menjelaskan, untuk menjaga profesionalitas, yayasan Al Hikmah terus meng-up grade kemampuan pendidiknya, baik secara internal maupun eksternal. Sekali lagi upaya-upaya berkesinambungan, sematamata agar para pendidik di sana benar-benar bisa menjadi agen pembentukan sekaligus pembiasaan sikap-sikap positif siswa. (*)

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

|7

ruang utama

Peran Orang Tua

Juga Amat Penting

T

anpa peran orang tua, proses pembiasaan perilaku positif anak didik terasa sungguh mustahil. Biasa berperilaku positif di sekolah akan sia-sia jika tidak ada kesinambungan di rumah. Jika ingin berhasil, orang tua harus mendukung dan menerapkan segala kegiatan pembelajaran, baik itu, perilaku, etika, maupun ibadah, yang dilakukan anak di sekolah. Orang tua adalah elemen pendukung paling penting dalam penerapan pembiasaan baik yang diajarkan guru-guru anak mereka di rumah. Sebab, merekalah yang menciptakan budaya kehidupan sehari-hari di rumah, dan di rumahlah sebagian besar waktu anak dihabiskan. ’’Di rumah, orang tua harus menerapkan kebiasaan yang sama atau setidaknya mirip dengan yang diterapkan di sekolah,’’ kata Ust. Imam Robandi, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Bimbingan Wilayah PW Muhammadiyah Jatim. Karena itu orang tua hendaknya paham dengan visi, misi, serta

8 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

program yang dilaksanakan di sekolah tempat dia menitipkan putra-putranya untuk menuntut ilmu. Sehingga, mereka tidak akan me-reject input pengetahuan yang diberikan guru-guru di sekolah pada anaknya, melainkan malah mendukung. Di pihak lain, Ustadzah Dewi Retno Suminar, psikolog anak memandang, nilai-nilai di rumah jangan sampai bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diterapkan dirumah. Orang tua harus disadarkan melakukan sesuatu yang sesuai dengan sekolah. Kalau berbeda malah membuat anak menjadi bingung. Akhirnya perilaku positif yang diharapkan tidak akan terbentuk.

”Contohnya bacaan doa qunut ketika shalat subuh sebagai illustrasi pembanding. Anak yang saat di sekolah dibiasakan membaca qunut, tentu akan bingung jika di rumah tidak diterapkan hal yang sama,’’ ujarnya. Namun bila perbedaan nilai dan pembiasaan itu terjadi seharusnya orang tua tidak boleh menolak dan menyalahkan sang anak atau guru mereka. Jika tiba-tiba anak mereka menyalahkan apa yang mereka perbuat dan membenarkannya sesuai dengan ajaran yang diterimanya di sekolah. Berilah penjelasan dengan perlahan. Jangan langsung mengklaim kalau kebiasaan yang kita lakukan yang paling benar. Dalam hal ini, orang tua tidak perlu malu mengakui kekurangannya saat anakanak mereka memberitahu nilai dan pembiasaan yang tidak dipahaminya. Bukankah kebaikan bisa berasal dari siapa saja, tidak terkecuali dari anak kita yang usianya jauh lebih muda. Agar tercapai sinergitas serta hubungan baik antara sekolah, guru, dan orang tua dalam membudayakan perilaku positif anak, Ustadzah Dewi menyarankan agar dibentuk forum komunikasi bilateral antara keduanya sebagai pilar pendidikan anak. (*)

Tips Merubah Perilaku Anak

P

erubahan perilaku pada dasarnya dipengaruhi oleh pendidikan yang diterima anak sepanjang hayatnya. Pendidikan ini bukan saja sebatas yang formal seperti sekolah atau kursuskursus namun dalam arti luas. Artinya segala sesuatu yang diterima anak melalui panca indera itu juga menjadi bagian dari pendidikan mereka. Melihat, mendengar, merasa, dan meraba merupakan komponen penting dalam pendidikan, dan itu sangat-sangat mudah ia dapatkan dari lingkungan, baik lingkungan pendidikan formal di sekolah atau nonformal di rumah. Apa yang diterima anak di sekolah maupun di rumah sungguh akan lekat tertanam di benak mereka, yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk perilaku keseharian. Perilaku itu bersifat ajek dan berkesinambungan. Bila baik, maka keajekan perilaku itu akan menyejukkan siapapun yang melihatnya. Namun bila tidak baik, kebiasaan tersebut menyusahkan banyak pihak, tak hanya orang tua, sekolah dan lingkungan sekitarnya pun turut merasakan akibat yang tak mengenakkan tersebut. Lalu bagaimana bila perilaku anak terlanjur terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak baik, tidak sesuai

dengan norma-norma agama, susila dan kemasyarakatan. Tentu tak mudah untuk merubahnya, tak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan waktu, tenaga dan bahkan biaya yang tak sedikit agar anak kembali ke ďŹ trah aslinya, ďŹ trah kebaikan. Berikut ini disajikan beberapa kiat untuk mengembangkan perilaku positif anak-anak kita:

maka kebiasaan tersebut akan terpatri dan menjadi budaya hidup mereka. 3. Libatkan dalam proses diskusi bukannya menggurui. Sudah merupakan suatu kemahfuman jika seorang anak melakukan kesalahan. Jika itu terjadi, janganlah serta merta menyalahkan anak. Ajak mereka berdiskusi dan arahkan dengan bahasa yang halus. Hal itu akan lebih mengena untuk mereka.

1. Jadilah contoh 4. Apresiasi untuk perubahan baik Orang tua atau guru yang bermaksud Penghargaan dari orang tua atau guru, mengembangkan perilaku positif meskipun kecil tapi sangat berharga anak haruslah melakukan perilaku bagi anak. Karena itu, berilah sedikit serupa. Jika ingin anak kita baik pujian jika mereka berlaku baik. secara spiritual, kita sebagai orang Apresiasi saat mereka melakukan tua dan gurunya juga harus SUDAH perbuatan positif tentu akan membekas mengalami kesadaran spiritual dan membuat anak termotivasi untuk pula. Karena anak mungkin gagal terus melakukan perbuatan baik mengikuti kata-kata kita, tapi tersebut. mereka tidak akan gagal mencontoh 5. Rumuskan misi hidup perbuatan kita. dan perkenalkan pada anak 2. Lakukan pembiasaan sejak dini Nyatakan kepada anak bahwa ada Otak anak, terutama pada masa emas berbagai tingkat tujuan, mulai dari (0-3 tahun), bertindak layaknya spons. tujuan paling dekat sampai tujuan Mereka akan menyerap informasi paling jauh, tujuan akhir kita, kembali dengan baik. Jika pada usia itu pada Allah. Sampai di sini, kita sudah dilakukan pembiasaan membantu anak untuk menemukan baik, misalnya patuh tujuan hidupnya sehingga secara tidak pada orang tua, langsung mereka akan berbuat baik dan sopan, rajin positif dalam setiap tindakannya. Sebab, beribadah, mereka sadar bahwa setiap tindakan dicatat oleh malaikat yang selalu mengikuti setiap saat. (*)

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

|9

ruang utama

Awali dari Hal yang Sederhana

T

idaklah mudah melakukan pembiasaan sesuatu yang positif pada anak-anak. Ada beberapa tahapan pembiasan tergantung dari umur anak. Agar berhasil dan optimal, mulailah dari pembiasaan yang sederhana. Pertama, bangunlah kesadaran mereka tentang keberadaan Allah. Bahwa karunia yang diberikan Allah sangat besar, sehingga mereka sadar beribadah dan berbuat baik karena Allah. Ini mendorong mereka tunduk dan mengerjakan semua perintah

Allah baik yang disampaikan ustadz maupun orang tuanya. Ketundukan ini akan menjembatani tahapan selanjutnya, yaitu berkomunikasi pada Allah dalam beribadah. Pada dasarnya, anak-anak membutuhkan contoh konkrit saat diminta melakukan sesuatu. Mereka tidak akan begitu saja menelan ucapan orang yang lebih dewasa. Maka, sekolah harus punya konsep pembelajaran kemandirian dalam beretika dan beribadah sesuai Al Quran dan Sunnah.

Moh. Arodhi S.Pd (Kabid Supervisi YLPI Al Hikmah)

Konsep itu juga harus melekat pada guru dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak didiknya. (*)

Awalnya Terpaksa, Lama-Lama Jadi Terbiasa

P

Ani Chrisrina S.Psi (Chief Operation P3H)

embiasaan berperilaku baik memang tidak bisa dilakukan seketika, seperti membalik telapak tangan. Perlu dilakukan berulang-ulang sehingga bisa menetap menjadi kebiasaan. Bahkan awalnya mungkin harus dipaksa dulu, lama-lama baru jadi terbiasa. Dalam hal ibadah misalnya, jika tidak terbiasa, sholat tepat waktu akan sangat sulit dilakukan. Namun, dengan sedikit pemaksaan, salah satunya melalui aturan sekolah,

akan terbentuk kebiasaan dan akhirnya menjadi habit. Pelan tapi pasti, anak-anak pun akan terbiasa segera sholat begitu mendengar adzan berkumandang, baik di sekolah, di rumah atau saat bepergian. Di sekolah, pembiasaan-pembiasaan positif tersebut dilakukan dengan program yang terstruktur dan didukung oleh semua pihak, baik itu guru maupun orang tua. Sebab, pada intinya penanaman kebiasaan positif itu melalui percontohan atau biasa disebut dengan modeling. Para ustadz/ah dan orang tua adalah model dimaksud. (*)

Jadi Agen Perubahan di Rumah

P

embiasaan baik yang tertanam pada anak-anak di sekolah ternyata tidak hanya berguna untuk mereka. Itu akan ditularkan pada orang tua dan saudara-saudaranya. Mereka seakan menjadi agen perubahan kebaikan di keluarganya. Tak hanya pembiasaan, pengetahuan mengenai agama dan perilaku pun rupanya juga dibagikan anak-anak pada orang terdekatnya. Pernah ada salah satu wali murid yang bercerita bahwa anaknya

10 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

mengajari dia tentang masalah haid dan nifas, yang rupanya kurang dipahaminya. Ada pula yang mengajak orang tuanya segera mencari mushola untuk sholat saat dia melihat jam menunjukkan waktu sholat. Itu jelas bukti nyata bahwa siswa-siswi Al Hikmah tidak menyimpan ilmu yang diberikan. Mereka senantiasa mengingat dan mengajarkan segala sesuatu yang didapatkannya di sekolah pada orang terdekatnya. (*)

Sukestik

(Wali Kelas VIII-G SMP Al Hikmah)

Satu Suara

Mendukung Keberhasilan

P

enanaman kebiasaan baik mesti dilakukan dengan kompak. Pengajar maupun orang tua harus satu suara dalam menanamkan kebiasaan baik itu. Bila tidak, anak-anak akan bingung, sebab ada pendapat yang berbeda tentang perbuatan yang dilakukannya. Proses pembentukan kebiasaan baik jadi berjalan sangat lamban. Semua ustad atau ustadah yang melihat anak membuang sampah tidak di tempatnya harus segera mengingatkan. Jika ada satu saja guru mereka yang membiarkan, maka anak tersebut akan menganggap bahwa hal itu diperbolehkan. Akhirnya, mereka

tidak terbiasa buang sampah di tempat sampah. Inti dari penanaman perbuatan baik itu adalah pembiasaan. Kalau dilakukan berulang-ulang secara tidak langsung pasti akan terekam dan secara tidak sadar menjadi habit. Pembiasaan bisa melalui pemahaman. Kalau kita beritahu bahwa perbuatan tidak baik itu akan merugikan diri mereka sendiri dan orang lain, anakanak akan mulai berpikir dan akhirnya mengikuti nasehat dan ajaran kita. (*)

Sulastri

(Wali Kelas V SD Al Hikmah)

Anak Menjadi

Kontrol Orang Tua

M

emang terasa sekali perubahan pada anak saya sejak sekolah di Al Hikmah. Tidak hanya intelektual, kehidupan sosial dan religinya pun jadi lebih baik. Ini menjadi kontrol diri kami sebagai orang tuanya, dan kamipun jadi berusaha agar segala perbuatan dan perkataan kami sesuai kaidah Islam. Pengetahuan agamanya yang makin bertambah membuatnya jadi makin kritis. Pernah dia berani mengingatkan kakak laki-lakinya yang mengenakan celana di atas lutut. “Jangan pakai celana itu lagi kak, itu kan tidak menutup aurat.” Itu tentu saja membuat saya kaget sekaligus bahagia. Ternyata pelajaran di sekolah meresap dan dipraktekkan. Saya dan ayahnya juga kerap diingatkan. Misalnya, saat saya terkejut dan secara tidak sengaja terucap e copotcopot, tiba-tiba ia bercelutuk, “Jangan gitu bu, kalau kaget ngomongnya ya astaghfirullah atau subhanallah.” Saya pun tersadar dan mengucapkan astaghfirullah. Karena keberanian dan kecerdasannya itu saya jadi bangga sekali padanya. (*)

Nindya Astuti Aryani

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

(Ibunda dari M, Sulthan Alrizqy Nadyqal, TK Al Hikmah I)

| 11

ruang utama

Al Hikmah Perkuat

Pondasi Agama Anak

S

alah satu alasan utama kami menyekolahkan anak saya di Al Hikmah memang karena penerapan dasar-dasar kehidupan beragama yang kuat. Itu dapat memperkuat pondasi agama yang telah kami bangun selama ini. Sejak kecil ia memang terbiasa mengaji, bahkan sekarang dia sudah bisa memimpin pengajian yang rutin kami lakukan setiap Kamis malam. Nah, di sekolah rupanya dia juga diajari mengaji, bacaannya makin lancar saja sekarang. Sekolah juga menerapkan sholat berjamaah tepat waktu, sebagaimana yang juga selalu kami lakukan di rumah. Alhasil alhamdulillah ia tidak pernah terlambat sholatnya. Selain sholat, saya juga menemukan efek psikologis positif bila anak di sekolah Al Hikmah. Tentang seragam misalnya. Kalau sekolah di SMP negeri memakai celana pendek, itu tidak menutup aurat dan tidak memenuhi syariat. Nah kalau di Al Hikmah kan seragamnya panjang. Pokoknya nuansa ke-Islaman di Al Hikmah sangat kuat. Karena itu saya jadi tidak khawatir menyekolahkan anak saya di sana, karena pihak sekolah sangat memperhatikan masalah ibadah anak didik mereka. (*)

Lukman Hakim

(Ayah dari Mochammad Wijdan Rosyich, Kelas VII-D)

Tumbuh Jadi Remaja yang Patuh

S

aya tidak menyesal menyekolahkan anak saya di Al Hikmah, karena ternyata hasilnya sesuai dengan harapan saya. Anak saya tumbuh menjadi remaja yang patuh pada orang tua dan pintar, baik dalam hal pengetahuan umum maupun pengetahuan beragama. Awalnya saya sempat bingung mau menyekolahkan anak saya di mana. Terus terang saya takut dengan pergaulan remaja saat ini yang cenderung bebas. Saya pun mencari-cari informasi dan akhirnya diberi referensi oleh teman untuk menyekolahkan anak saya di Al Hikmah. Penerapan kehidupan beragama yang konon kuat dan sosialisasi antar teman yang katanya juga bagus, membuat saya akhirnya menjatuhkan pilihan di Al Hikmah. Ternyata benar. Sekarang saya mulai merasakan manfaatnya. Tidak seperti remaja kebanyakan yang biasanya suka keluyuran, anak saya selalu meminta ijin terlebih dahulu kalau ingin bepergian dengan temantemannya. Itu pun jarang dilakukan karena sistem pengajaran full day school dari Al Hikmah, sudah menyita sebagian besar waktunya. Dengan saudara dan teman-temannya dia juga sangat baik. Saya yakin itu hasil didikan ustad dan ustadahnya di sekolah. Yang jelas saya tidak ragu menitipkan anak saya di Al Hikmah. (*)

12 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

Zulkarnaen

(Ayah dari Tirta Mei Rani, Kelas XII IPS 2)

embun

Kesempatan untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan diri anda sendiri

Abimanyu Satriyo 3D

“Setelah sekolah di Al Hikmah lebih meningkatkan harga diri”, wah yang ini kayak komentar dewasa aja.

tu es g an g rin ah gP se ulill n i g d d sin m Ga 3 D t ma alha lagi” a a ng ak ol ry sh kara ngg u .A la se h M ka ng, uda ulu olo ng “D g-b kara lon se bo

Beranda

M. Arsyandi Ramadhan 3D “Dulu sering berbohong, tapi sekarang udah nggak lagi”

Zed Harif Azis 1A

M. Hammam Anwar F. II E

“Kalau aku sih dulu masih suka disuapi, setetelah di Al Hikmah udah nggak lagi”

Felia Ramadhani 3F

“Dulu malas belajar, sekarang udah rajin belajar, biar pinter gitu lho...”

“Kalau aq sih, setelah sekolah di Al Hikmah, sholat lebih rajin dan lebih patuh sama orang tua”

Devina Fajar Reunadi 1A “Al Hikmah membuat saya lebih mandiri dalam belajar”

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 13

panggung

Juara Kok Rombongan

S

enyum mengembang dari wajah Ustadzah Yuniati pada siang itu. Ternyata bukan hanya Ustadzah Yuni yang berbahagia. Adalah Salmawati Dewi, siswi kelas 5 D yang saat itu juga tersenyum bangga. Tak

ketinggalan Ilham, siswa kelas 5 C yang juga merasa gembira. Semua ini dikarenakan mereka berhasil meraih juara pada lomba guru dan siswa teladan tingkat kecamatan Gayungan. Pada even itu Ustadzah Yuni berhasil mengumpulkan poin terbanyak dari

3 tahapah seleksi yang diadakan panitia sehingga dinobatkan menjadi juara 1 kategori guru teladan sedangkan Salma meraih poin tertinggi pula untuk kategori siswa teladan sehiangga ia juga menjadi Juara 1, sementara Ilham menjadi juara 2 siswa teladan. Lomba yang diikuti semua sekolah se kecamatan Gayungan itu dilaksanakan pada hari Sabtu (30/5/09) di Graha Baitussalam SD Al Hikmah. Total ada lebih dari 50 peserta yang merupakan wakil terbaik dari masing-masing sekolah. SD Al Hikmah hanya sebagai tuan rumah dan kepanitiaan lomba dilaksanakan Diknas Kecamatan Gayungan. Setiap peserta melewati beberapa tahapan tes. secara terbuka. Setelah diumumkan juara salah seorang peserta berseloroh “Wah, Al Hikmah ini juara kok rombongan” sambil tersenyum.(bee)

Prestasi Bahasa Inggris Sambut Status SDBI Al Hikmah

If you want to succeed don’t copy others.

I

tulah kiat Salmawati (VI F) dan Alda Yunalvita (V D) saat ditanya tentang rahasia kesuksesannya memenangkan lomba story telling. Yah! Prestasi baru kembali diukir oleh dua anak SD Al Hikmah. Masingmasing oleh Salmawati sebagai juara I dan Alda Yuhalvita sebagai juara 2 pada lomba story telling yang dilaksanakan di Royal Plasa (7/3/09). Bagi Salma dan Alda, tampil di depan umum bukan hal yang baru. “Kami sudah terbiasa bicara di depan orang banyak dalam kegiatankegiatan yang dilaksanakan di sekolah, jadi kita tidak begitu grogi waktu tampil di lomba ini”, uangkap Alda usai memenabgi lomba itu diikuti yang diikuti sekolah-sekolah ternama di Surabaya itu.

14 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

Pada minggu depannya (giliran Frederic C. Santoso dan Teuku Rania Salsabila yang menyabet juara 1 dan 3 pada lomba English Reading. Kedua siswa kelas 4 SD Al Hikmah itu sukses membacakan cerita My Bees dengan gaya dan pronounciationyang tepat. Lomba yang diadakan do SMP-SMA Ulul Albab itu juga diikuti siswa-siswi pilihan di sekolah masing-masing. “Dengan banyaknya prestasi di bidang Bahasa Inggris semakin memotivasi kami untuk lebih meningkatkan kemampuan bahasa inggris anak-anak sekaligus amanah bagi kami agar lebih banyak lagi ank yang berprestasi”, Ungkap Ustad Fadholi selaku penanggung jawab program B. Inggris SD Al Hikmah. (bee)

Para Penulis Al Hikmah Padukan Mengajar dan Menulis sebagai Ibadah

Good writing is purposeful; it says something and says it correctly. Good writing has voice and energy. Good writing is thoughtful and thought provoking. Good writing communicates an important message clearly to intended audience. Good writing expresses the writer self honestly and evokes a personal response in the reader. (Christopher C. Burnham)

M

enulis memang dunia penuh inspirasi. Dengan menulis akan tercipta karya pengetahuan berhikmah, yang bisa menyulap pembacanya menjadi hidup lebih bermakna. Siapapun kita sebenarnya punya potensi untuk menulis. Sebab, dengan bakat dan keahlian masing-masing, setiap kita bisa menularkannya kepada orang lain, salah satunya dengan menulis. Namun tidak semua orang berkesempatan menuangkan setiap ide-idenya dalam bentuk tulisan. Alasannya macam-macam, tak punya waktu, banyak kesibukan, dan banyak lagi lainnya. Apapun profesi kita, kalau mau, kita bisa menuliskan pengalaman tersebut agar juga bisa bermanfaat bagi orang lain yang membacanya. Di lingkungan Al Hikmah, di tengah kesibukan dan

pengabdiannya mendidik anak-anak didik, tak sedikit ustadz-ustadzah yang benar-benar punya greget yang luar biasa untuk senantiasa menulis, dari TK hingga SMA. Sebut saja misalnya Ustz. Sys Aryanti (SMP), Ust. Fathurrofiq (SMP), Ust. Effendi (SD), Ustz. Tina (SD), Ustz. Su’dah (TK), Ust. Dwi Indriyanti (SD), Ust. Widi Nugroho (SD), dan Ustz. Zaenab (SD). Bahkan tak sedikit dari mereka yang meraih penghargaan baik lokal maupun nasional karena karya tulisnya itu. Bagi Ust. Fathurrofiq, menulis itu kebutuhan dan ibadah. Tak sekedar merangkai kata-kalimat, menulis adalah sarana untuk mengkodifiksi kalam-kalam Allah. Menulis itu alat dakwah. Maka, di samping mengajar, menulispun jadi sarana untuk meningkatkan kedekatan kita dengan Allah. Bisa jadi karena ia kuliah di Fakultas Sastra Bahasa Indonesia Unair, ustadz kelahiran Lamongan 11 Mei 1976

ini getol menulis. Dan sejak mahasiswa itu pula, tak hanya menulis di media lokal kampus, Ust. Rofiq tak pernah putus asa mengirimkan tulisannya itu ke media umum. Dan alhamdulillah, Ust. Rofiq dinobatkan termasuk dalam jajaran 9 penulis nasional Jatim yang diadakan Kompas. Tahun 2003, ia pernah menyabet juara 3 dalam Lomba Menulis Persiapan Pembelajaran tingkat nasional. Tahun 2005, dengan karyanya “Gerigi-gerigi yang tak Terlumasi”, istri Hidayatul Munawaroh ini menjadi juara 1 Lomba Cerpen Spiritual Manajemen yang diselenggarakan Majalah Nebula. Kepenulisan Ust. Rofiq rupanya juga menginspirasi Ustz. Sis Ariyanti untuk menungkan ide penanya. Memang ketika pertama masuk Al Hikmah tahun 2005, ustadzah kelahiran Sidoarjo 23 Maret 1989 itu sering bertanyatanya sendiri. “Saya ini bisanya apa ya?” begitu Ustz. Sis waktu itu. Melihat keberhasilan Ust. Rofiq ia pun mencoba mengikuti jejaknya. Setelah lebih dari 8 kali mengirimkan tulisannya, baru pada tahun 2006, karya tulis guru Bahasa Indonesia SMP Al Hikmah itu pun dimuat pertama kali di Jawa Pos, temanya kebijakan publik. Dan alhamdulillah, Ustz. Sis pun ketagihan menulis, hingga sekarang. Lalu bagaimana para ustadz dan ustadzah itu membagi waktu? Menurut Ustz. Sis, setiap waktu tertentu diusahakan bisa menghasilkan karya tulis. Dan bagi Ust. Rofiq, dimuat atau tidak di media massa itu tak penting, yang penting menulis dan menulis. “Ide itu liar, bisa waktu tidur, atau apa, dan kalau itu tidak dituliskan, bisa hilang,” tambah Ust. Rofiq. (*) Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 15

ruang keluarga

Kisah Ajaibnya Kata “Jangan”

S

ekitar 25 tahun yang lalu, saya punya seorang teman sepermainan. Dia laki-laki dan galaknya minta ampun. Suatu hari tanpa sengaja saya terpukul oleh dia cukup keras, pas di mata kanan saya. Saya pun menangis kesakitan. Apa yang kemudian dilakukan teman saya itu? Dia berseru “Jangan menangis!”. Akibatnya, saya pun semakin keras menangis. Sebagai orangtua, kita tentu pernah melarang anak-anak kita berbuat sesuatu (misalnya : jangan ribut, jangan ganggu adik), yang terjadi adalah sebaliknya, anak-anak malah semakin menjadi, malah melakukan apa yang kita larang tadi. Sudah lama saya diam-diam menyadari (mungkin sejak terpukul di mata 25 tahun yang lalu itu), bahwa kata “JANGAN” seringkali sangat tidak efektif untuk menghentikan sebuah perilaku. Karena apatis dengan kata ini jugalah, saya pun akhirnya seringkali memilih untuk melakukan trik “pengalihan perhatian” ketika anak-anak berbuat sesuatu yang tidak saya kehendaki. Mengalihkan perhatian sekedar supaya dia berhenti

16 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

melakukan perbuatannya yang tadi, dan seringkali ini pun sangat susah dilakukan. Yang sungguh-sungguh tidak saya pahami, adalah KENAPA? Kenapa kata “JANGAN” ini sangat tidak efektif? Jawabannya secara ilmiah baru saya temui di sebuah kelas pelatihan NLP for Parenting. Waktu itu dr. A. Fadly Noor (narasumber yang juga seorang dokter dan master NLP) membeberkan bagaimana struktur dan fungsi otak kita. Dan bagaimana perilaku kita sangat ditentukan oleh apa yang sedang terjadi di otak kita. Selain membeberkan betapa luar biasanya organ tubuh ciptaan Allah ini dalam menentukan perilaku kita, dr. Fadly juga menggambarkan bagaimana cara kerja sel-sel neuronneuron dalam otak kita. Sel-sel neuron adalah sel-sel pembentuk otak yang bertanggung-jawab pada proses penerimaan dan pengolahan data yang kita terima dari alat indera, dan karenanya sel-sel neuron bertanggungjawab pada suatu tindakan kita. Tetapi rasanya bukan ini yang ingin saya bahas disini, karena saya tentu akan sangat tidak kompeten menjelaskan hal yang

sangat tidak saya kuasai ini. Satu fakta dari hasil penelitian yang dikemukakan dr. Fadly adalah, bahwa dalam melaksanakan tugasnya neuron otak kita cenderung jauh lebih gampang menerima VERB (KATA KERJA). Kata “JANGAN” bukanlah kata kerja, hingga jauh lebih sulit diterjemahkan oleh neuron kita. Jadi, lanjut dr. Fadly memberi contoh, ketika kita menyerukan “Jangan Berteriak” kepada anak kita, maka yang cepat direspon oleh otak si kecil adalah jenis kata verb, yaitu “Berteriak” nya sehingga otomatis si kecil akan cenderung malah berteriak! Kata “JANGAN” juga seringkali tidak efektif menghentikan suatu perbuatan karena kata “JANGAN” lebih merujuk pada suatu pencegahan (sebelum sesuatu itu terjadi). Misal, ketika anak kita akan berangkat main sepeda dan kita memberi pesan “Jangan jauh-jauh” itu akan lebih mudah diterima karena toh si anak belum memulai kegiatan bersepedanya. Tetapi ketika 25 tahun yang lalu saya menangis (perbuatan “menangis” sudah kadung saya lakukan), maka kata-kata “Jangan Menangis” tidak akan efektif lagi menghentikan perbuatan saya, karena perbuatan itu sudah terjadi, tak dapat dicegah lagi. Neuron otak saya malah sangat cepat menangkap verb “menangis” sehingga tangisan saya pun malah semakin menjadi. Lantas, bagaimana caranya kalau suatu waktu kita harus menghentikan suatu perbuatan yang sudah kadung dilakukan, dan perbuatan itu tidak kita inginkan (misalnya dilakukan oleh anak kita)? Waktu itu, dr. Fadly memberikan alternatif, gunakanlah kata “BERHENTI”. Karena “BERHENTI” adalah merupakan kata kerja. Ah..seandainya waktu itu teman saya berkata “Berhentilah Menangis”, apalagi dengan intonasi yang lembut, mungkin serta merta saya akan menghentikan tangisan saya ya...

Sekilas Tentang “Modifikasi Perilaku” Apakah Modifikasi Perilaku (MP) itu? P adalah suatu teknik pengubahan tingkah laku dengan menerapkan prinsip-prinsip teori belajar. MP sebagai teknik pengubahan tingkah laku, dalam penerapannya mengikuti prosedur sistematis, dan dapat dipelajari oleh setiap guru maupun orang tua, meskipun mereka tanpa memiliki bekal pengetahuan psikologi yang memadai. Dengan MP kita bisa mengupayakan pengubahan perilaku tertentu. Memperkuat perilaku yang diinginkan dan atau menghilangkan perilaku yang tidak kita inginkan pada anak-anak kita.

M

Asumsi Dasar MP ada 3, yaitu : 1. Semua tingkah laku merupakan hasil dari proses belajar. Dengan kata lain, semua perilaku bisa dipelajari. Banyak orangtua mengklaim bahwa ketika anaknya bertingkah laku yang diinginkan (misal: rajin belajar, menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, bertutur kata lembut dan sopan, dll) maka itu adalah hasil didikan orangtua/pengasuhnya. MP, secara konsisten menekankan bahwa perilaku yang diinginkan

dan tidak diinginkan, keduanya adalah sama-sama hasil dari suatu proses belajar yang telah terjadi sebelumnya. 2. Lingkungan sangat menentukan tingkah laku mana yang mendapat ganjaran positif dan mana yang mendapatkan hukuman. Maka menurut MP, ketika anak kita bisa hidup disiplin, itu berarti bahwa pada hakikatnya kita sudah berhasil menyediakan lingkungan agar anak kita itu disiplin. 3. Tingkah laku dapat dirubah dengan merubah lingkungannya. Ini berarti bahwa lingkungan dapat diatur kembali untuk mengajarkan cara bertingkah laku baru yang lebih adaptif atau lebih sesuai dengan yang diinginkan. MP memberikan prosedur sistematis yang terdiri atas 4 langkah (1) Memilih satu tingkah laku sasaran yang akan diubah (dikuatkan atau dihilangkan). (2) Mengasesmen lingkungan., mengidentifikasi kejadian-kejadian di lingkungan yang menjadi kondisi pendukung terjadinya sebuah perilaku asal, sekaligus

menentukan kejadian-kejadian di lingkungan seperti apa yang akan memberikan kondisi pendukung bagi perilaku tujuan. (3) Merencanakan dan melaksanakan strategi pengubahan. Disini poin ”menguatkan” perilaku diinginkan lebih penting daripada ”menghilangkan” perilaku yang tidak diinginkan. Kenapa? Karena (misalnya) ketika kita berhasil menghilangkan perilaku-perilaku buruk pada anak bukan berarti kemudian secara otomatis anak-anak akan langsung bisa menerapkan perilaku yang baik. Anak tetap masih perlu BELAJAR untuk menerapkan perilaku yang baik tersebut. Dalam merencanakan strategi ini, ada satu hal yang krusial untuk dilakukan, yaitu kontrak persetujuan (perjanjian) dengan pihak yang akan diubah perilakunya. (4) Mengevaluasi program pengubahan. Disini yang menjadi ukuran bahwa sebuah program Modifikasi Perilaku itu berhasil, seringkali bukan terjadinya sebuah kebiasaan baru dari perilaku baru yang lebih diinginkan. (Wahida Ariffianti) Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 17

selasar

Perspektif Baru, Perubahan Perilaku

“Ketika Rasulullah berusia dua belas tahun, pamannya Abu Thalib membawa Rasulullah ikut berdagang ke negeri Syam. Pada waktu itu Syam termasuk salah satu negara yang masih mengadopsi undang-undang Romawi”. Inilah awal Rasulullah mengenal negara lain yang lebih luas, dengan peradaban yang berbeda, tata nilai yang berbeda, suku yang berbeda. Perspektif yang dapat merubah sudut pandang, setelah 12 tahun beliau hanya mengenal Makkah. Ini bekal penting saat beliau berdakwah, yang harus berhadapan dengan berbagai suku, golongan, tradisi, dan status sosial yang berbeda-beda. Satu hal penting sebagai pelajaran dari kisah ini yaitu, perlunya perspektif baru dalam membangun perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang dibangun di sekolah merupakan bekal anak untuk hidup di zamannya. Maka guru dan orang tua perlu merespon modernisasi kehidupan ini dengan arif dan bijaksana, sehingga pendidikan dapat menyiapkan generasi yang memiliki modalitas hidup yang luas, kontribusi dan peran yang bersifat universal. Untuk itu perubahan perilaku yang akan dilakukan perlu mempertimbangkan tiga hal. Pertama, paradigma baru. Bila dulu kita

18 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

menyiapkan anakanak kita menjadi muslim dan warga negara Indonesia yang baik, kini kita harus menyiapkan anak-anak menjadi muslim dan warga dunia yang baik. Perubahan perilaku yang menjadi salah satu tujuan penting pendidikan tentu saja harus menggunakan paradigma ini, berlandaskan nilai-nilai akhlaq Islami, juga nilai-nilai Islam . Sebagai muslim kita harus yakin, hal ini bisa diwujudkan. Tentu saja membutuhkan kearifan dan jalan yang “hikmah”, agar nilai-nilai dalam akhlaq Islami ini dapat dirasakan manfaatnya oleh pelakunya dan warga dunia. Pada sebagian kita dan anak-anak kita belum yakin, bahwa akhlaq Islami ini dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Hal ini terjadi karena pengaruh paradigma yang ditanam oleh musuh-musuh Islam, bahwa Islami itu identik dengan kekerasan, perkelahian, terorisme, dan citra negatif lainnya. Inilah perubahan paradigma yang perlu dirubah, bahwa akhlaq Islami akan membawa keselamatan bagi manusia dan warga dunia, sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kedua, konteks yang baru. Dengan paradigma “muslim dan warga dunia yang baik” tentu saja konteks pendidikan yang akan melakukan perubahan prilaku untuk membentuk karakter atau akhlaq, adalah konteks dunia. Ketiga, cara yang baru. Implementasi paradigma ,dan konteks diatas perlu diikuti

Oleh : Ust. Muhammad Zahri, M.Pd Kepala Kantor Sekretariat YLPI Al Hikmah.

dengan pengembangan cara baru untuk perubahan prilaku anak kita. Pada hakikatnya perubahan prilaku yang ingin dilakuan itu mengandung dua unsur yaitu menumbuhkan perilaku yang baik dan mulia, kedua mengendalikan dan mengeliminir perilaku yang buruk dan tercela. Pada umumnya sifat buruk dan tercela ini tumbuh lebih cepat karena pengaruh lingkungan eksternal yang begitu dahsyat. Era teknologi saat ini telah menancapkan pengaruh negatifnya selama dua puluh empat jam secara terus menerus. Untuk itu karakteristik cara yang digunakan yaitu bersifat cepat, mudah, akurat, dan dekat. Bila sifat-sifat ini tidak terpenuhi maka akan terjadi ketidakseimbangan proses, yaitu tumbunya prilaku buruk dan tercela jauh lebih subur dibandingkan sifat positifnya. Kondisi ini menyebabkan beberapa orang tua memilih jalan aman dengan melakukan “sterilisasi” terhadap anak. Hal ini kurang arif dan kurang bijaksana, karena sterilisasi dalam pembentukan perilaku dan akhlaq akan semu. (*)

jendela

Sulit Konsentrasi

Assamulaikum, Ustadah anak saya sepertinya sulit konsentrasi. Kalau di kelas umek terus, nggak bisa diam. Kenapa ya kok bisa begitu, apa ada kelainan? Beberapa anak teman saya yang seperti ini dibawa ke dokter dan akhirnya diberi obat. Memang katanya bisa jadi lebih tenang, setidaknya kalau minum obat pagi hari bisa tahan sampai jam 12 siang. Apakah obat seperti ini tidak berbahaya kalau dikonsumsi terus menerus? Ada nggak terapi psikologi untuk meningkatkan konsentrasi yang bisa diberikan biar tidak perlu pakai obat? Terimakasih. Waalaikumsalam Konsentrasi anak ketika belajar di kelas maupun di rumah dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kondisi ďŹ sik, situasi emosi, situasi sosial, dan juga minat. Kita harus meneliti dulu sebab kesulitan konsentrasi, baru bisa memberikan saran, apakah perlu terapi, atau perlu obat, atau penanganan lain. Dari beberapa kasus yang pernah kami tangani, memang ada anak-anak dengan kesulitan konsentrasi. Jika tanda-tanda umek tersebut diteliti lebih lanjut, kemungkinan ada ketidaktuntasan sistem sensorikmotorik. Maka salah satu solusinya dalah dengan mengikuti terapi okupasi dengan pendekatan sensorik integrasi. Terapi dilakukan untuk menstimulasi tubuh agar mengatur regulasi diri lebih baik. Jadi tidak perlu obat untuk membuat anak tenang dan mudah berkonsentrasi. Konsentrasi bisa dipengaruhi oleh situasi emosi. Beberapa anak memang tampak terlihat melamun

ketika di kelas sehingga kelihatan sulit konsentrasi. Biasanya anak-anak melamun dua hal, antara berkhayal atas keinginankeinginan yang belum tercapai atau kecemasan terhadap berbagai hal yang mereka takutkan. Terapi yang dilakukan tentu saja dalam rangka membantu mereka mengelola keinginan dan mengelola kecemasan. Terapi ini biasanya dengan program orangtua dan anak, tidak perlu obat juga. Penggunaan obat mungkin saja perlu ketika kesulitan konsentrasi cukup parah, sebab obat dapat menstimulasi tubuh untuk mengatur sistem hormon yang membantu regulasi dalam tubuh. Setiap penggunaan obat

Rubrik ini diasuh oleh Pusat Pelayanan Psikologi Al Hikmah Tel. 031 - 8299092, Krew

tentu ada efek sampingnya dan setiap orang memberikan respon yang berbeda, bisa cocok bisa tidak cocok, bisa berbahaya bisa juga tidak. Jika memang berkenan menggunakan obat, sebaiknya tanyakan kepada dokter pemberi obat tentang kegunaan obat tersebut, dan galilah lebih detil efek samping yang mungkin didapat ketika mengkonsumsinya. Dokter punya kewajiban untuk menjelaskan semua itu. Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 19

pilar

Rumah Surga Anak Kita

C

oba perhatikan apakah satu atau lebih dari gejala berikut ada pada diri anak kita: (1) Apabila acara TV telah menyedot perhatian anak pada jam-jam efektif belajar. Sebab, berdasarkan survey bahwa anakanak usia sekolah dasar perkotaan menghabiskan waktunya 43% untuk menonton acara TV pada jam-jam belajar. Mereka menjadi sasaran produser film dan iklaniklan consumer good. (2) Anak mulai menyukai kegiatan luar rumah pada jam-jam belajar di rumah dan mengalih-kan pada kegiatan non-belajar, seperti: jalan-jalan ke mall, play station, dan tempat nongkrong lain. Sebab, berdasarkan penelitian, anakanak setingkat SD pun sekarang ini mengalami penurunan greget belajar karena memperoleh alternatif mengalihkan perhatian pada (acara TV, hiburan luar ruang, dan jalan-jalan). (3) Anak-anak merasa kesulitan menghafal atau mengerjakan PR secara terus menerus tetapi merasa ketagihan untuk melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pencerdasan diri. Sebab, berdasarkan pengamatan Prof. Kusdwiratri (Desember, 2004) menurunnya minat intelektual disertai tidak berminatnya pada kegiatan lain yang mencerdaskan anak bukti berhasilnya sistem hiburan secara massal terhadap anak-anak Indonesia dan dunia belajar anak yang gagal. Memang pendidikan anak di jaman kesejagatan dan modern ini tidaklah mudah. Di satu sisi jaman ini memberikan berbagai banyak kemajuan teknologi yang memungkinkan anak-anak kita memperoleh fasilitas yang serba “canggih” dan “wah”. Bagi mereka HP, camera, dan berbagai teknologi informasi lain sudah bukan barang asing lagi. Pornografi, kekerasan,

20 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

konsumerisme, takhayul, klenik dan kemusyrikan melalui berbagai media informasi seperti internet, handphone, majalah, televisi dan juga CD pun, seakan tak bisa terbendung lagi. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda . Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan, nilainilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutkan pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak. Berikutnya adalah lingkungan masyarakat, atau tepatnya lingkungan pergaulan anak. Biasanya adalah temanteman sebaya di lingkungan terdekat. Mana pengaruh yang buruk dan bukan akibat pergaulan ini kadang serba relatif dan

kadang tidak dapat dirunut lagi. Banyak anak yang mengalami kesulitan menghadapi anak bukan karena keluarga mereka tidak memberikan kebiasaan yang baik. Demikian juga banyak anak yang tetap dapat menjadi baik justru tumbuh di keluarga yang kurang baik. Di jaman seperti ini, tak cukup hanya mengandalkan pendidikan di salah satu lini saja. Sehebat apapun keluarga menyusun sistem pertahanan diri, anak-anak tetap akan menjadi santapan dunia yang serba modern. Menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah juga bukan segala-galanya. Namun sekali lagi, tugas berat para orang tua adalah meyakinkan fungsi keluarga mereka benar-benar aman, nyaman bagi anak-anak mereka. Rumah adalah surga bagi anak, di mana mereka dapat menjadi cerdas, sholeh, dan tentu saja tercukupi lahir dan bathinnya. Bukankah jaminan Allah sudah jelas, ”Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. Al Baqarah:151). (*)

ruang baca

Behaviour Recovery,

Pemulihan Perilaku

D

alam kehidupan sehari-hari, seringkali kita temukan anak-anak yang berperilaku tidak sesuai dengan norma dan etika. Entah itu menjahili teman, menyembunyikan barang, atau mungkin menyakitinya. Apa sebab dan bagaimana mengatasinya? Buku ini mencoba memberi solusinya. Misalnya, seorang anak kelas 2 SD, berumur tujuh tahunan. Helen, wali kelas Matt berusaha menangani nya dengan melakukan pendekatan intensif dan bertahap. Lambat laun, Matt pun berubah dan berperilaku layaknya anak-anak lain. Dia tidak lagi menjadi trouble maker.

Pesan utama pelajaran perilaku pada anak-anak yang berperilaku menyimpang adalah dukungan orang-orang di sekitar anak itu. Guru-guru seharusnya mengajarkan perilaku layaknya pelajaran eksak yang mereka berikan pada anak didiknya. Guru-guru cenderung terbiasa mengajarkan, bahkan sampai memberi les privat untuk pelajaran yang membutuhkan ketrampilan akademis, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Padahal untuk mengajarkan perilaku juga diperlukan metode yang sama. Diperlukan pendekatan intensif dan pencotohan serta pelatihan empat mata antara mereka dengan gurunya. Untuk itu ada beberapa tahap. Pertama, guru menerangkan tentang perilaku baik yang ingin dicapai. Selanjutnya guru mendemonstrasikan dan mencontohkan. Setelah diberi contoh, secara otomatis anak akan meniru guru. Guru pun

langsung memberikan umpan balik dan penyempurnaan. Dua hal yang digarisbawahi Bill agar perubahan perilaku dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan yakni motivasi dan dukungan. Agar mau berubah melakukan tindakan positif, mereka harus terus diberi motivasi, bisa dengan pemberian apresiasi. Namun, tentu saja motivasi itu akan sia-sia jika ternyata lingkungan di sekitar siswa siswi tersebut tidak memberikan dukungan pada mereka untuk berubah. (*) Judul

: Behaviour Recovery, Pemulihan Perilaku Pengarang : Bill Rogers Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia Halaman : 221 halaman

ruang tamu

Tanggal 15,16,17 5,6 Mei 5,6,7 Mei 6 Mei 09 6 Mei 6 Mei 6 Mei 11,12 Mei 18,19,20 20 Mei 09 22 Mei

Nama Lembaga April SDIT Birrul Waliodain Muhammadiyah YPS Al Ummah SMP Al Ikhlash Lumaja ng SMP Al Uswah Surabaya Diklat Depag Jatim SD Sultan Agung Lamongan SD Luqman Al Hakim TK As Sa’diah 1 Yayasan Pen. Ichwanuttaqwa Yayasan Al Ibrah Gresik SDN Kandangan Kota 1 SMP Lab School Jakarta

Tanggal 27-28 Mei 27 Mei 3 Juni 13 Juni

Nama Lembaga Asrori Mahasiswa UN Malang SMP PERMATA Mojokerto SMP Negeri 1 Situbondo ( RSBI ) BKS SD Muhammadiyah Yogyakarta Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 21

kamar ortu

Ody dan Nilai 4-nya

G

ambar monster itu tampak marah sekali. Itu terlihat dari gulungan asap tebal yang keluar dari atas kepalanya. Dan kerutan kening yang menggambarkan betapa dia dalam keadaan yang mengenaskan……. Sebuah gambar yang saya temukan dalam buku catatan IPS anak sulung saya, Ody. Ketika gambar itu saya temukan, dia masih duduk di kelas III SD. Sekarang dia sudah di kelas VIII SMP Al-Hikmah. Sepintas tidak ada yang aneh dari gambar itu. Namun ada sesuatu yang cukup menarik disana, karena gambar itu

Sungguh, saya dan suami tidak cukup punya pengetahuan akan hal itu. Sampai akhirnya, kami temukan gambar monster marah itu dalam buku catatan IPS nya. Dari sinilah cerita ini berawal. Ketika itu kami harus menekan banyak hal untuk ini. Terutama menekan ego kami sebagai orang tua. Bukankah sering kali kita lupa bahwa pada saat-saat seperti itu anak-anak ini memerlukan teman untuk berbagi beban? Bukankah nilai 4 adalah angka yang sebenarnya mereka sendiri sangat tidak menginginkannya? Dan seringnya kita lupa, bahwa sebagai orang tua,

yang pernah dia alami. Nah, hasilnya mungkin sangat berbeda ketika itu saya katakan, “Dulubunda tidak pernah mendapat nilai seburuk nilai ini!” atau “dulu! ayahmu adalah bintang kelas, harusnya kamu mencotohnya!”. Namun dari kejadian itu kami belajar, bahwa banyak kejadian setelahnya yang memerlukan sikap. Memerlukan tindakan untuk menyikapi banyak hal yang tidak kita inginkan. Dengan mengantongi ego kita sebagai orang tua dan mau merendahkan diri untuk suatu pencapaian yang kita inginkan adalah

letaknya ada dibawah hasil ulangan harian IPS nya. Yang ternyata, gambar itu adalah modifikasi dari nilai ulangannya, yang mendapat nilai 4! Cukup terkejut saya mendapati nilai ini. Namun pastinya Ody sendiri lebih terkejut dan lebih terpukul dari apa yang dia dapatkan. Hal ini baru saya mengerti, bahwa beberapa hari itu dia sangat tidak kooperatif. Semua jadi serba salah. Sangat sensitiv, begini salah, begitu salah. Lebih-lebih keengganannya untuk pergi sekolah.

tidak selalu kita berhak menuntut apa-apa yang kita mau. Acapkali, ketika kondisi seperti itu terjadi, yang keluar dari lisan kita, adalah larangan dan hukuman. Singkat kata saya ingin mejadi sahabatnya ketika ia dalam kesempitan. Sehubungan dengan itu saya merespek dan mengatakan padanya, “InsyaAllah bunda tahu, apapun keputusanmu, pastilah keputusan yang paling baik.” Saya katakan dulu ibunya juga pernah mengalami hal yang lebih buruk dari

salah satu cara yang memudahkan kita untuk mendulang hasil maksimal. Menjadi sahabat mereka dikala ada konflik memang bukan perkara mudah. Menjadi pendengar yang baik ketika jurang perbedaan terbentang juga bukan hal ringan. Namun kalau kita melihat hasilnya, rasanya hal diatas yang kita lakukan sangatlah berharga. Ody sekarang sudah duduk di kelas VIII SMP Al-Hikmah. (Evie S.

22 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

Maulana)

teras al hikmah

Ada kebakaran di TK Al Hikmah? Kebakaran yang terjadi Jum’at, 27 Maret 09 pukul 09.30 di TK Al Hikmah, membuat anakanak TK lari berhamburan, Tak lama kemudian datanglah 1 Unit Mobil PMK Kota Suabaya dan segera berusaha memadamkan api dan dibantu oleh anak-anak Play Grup dan TK Al Hikmah, alhamdulillah akhirnya api dapat dipadamkan. Inilah adalah sebuah prosesi simulasi yang dilakukan oleh guru TK Al Hikmah untuk mengenalkan lebih nyata tentang bagaimana cara menghadapi bila terjadi kebakaran. Semoga tidak terjadi kebakaran di rumah atau sekolah kita yaa...

Ciptakan Generasi Cinta Al Qur’an Sabtu, 23 Mei 2009 menjadi moment penting bagi siswa-siswi TK Al Hikmah Surabaya. Mereka menunjukkan kemampuannya dalam membaca Al Quran dan menghafal surat-surat pendek. Sekitar 95 anak dengan kostum putih-putih memenuhi Gedung Serbaguna SMPSMA Al Hikmah. Ilmuwan-ilmuwan cilik ini mengikuti acara Hubbul Qur’an. Suasana hening mewarnai gedung yang berlokasi di Kebonsari Elveka V, saat dua bocah melantunkan surat Al Baqoroh ayat 1 – 8 sebagai pembuka acara. Tampak beberapa pimpinan YLPI Al Hikmah berada di barisan terdepan. Mereka ingin menyaksikan kemampuan para

generasi penerus bangsa dalam melantunkan ayat-ayat Allah SWT. Di sela-sela kesibukannya, Nursiati koordinator acara menyampaikan,”Acara ini merupakan salah satu bentuk hasil pembelajaran mengaji yang kita berikan setiap hari.

Dengan model pembelajaran secara klasikal dan individu, kemampuan anak-anak dalam mengaji akan berkembang lebih optimal. Selain itu, dengan mengaji setiap hari, kami ingin mengajak anak-anak menjadi generasi yang mencintai Al Quran”. Kemampuan para ilmuwan cilik dalam melantunkan Al Quran patut di acungi jempol. Dengan percaya diri, bocahbocah ini mampu menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan ust. H. Muzammil, S.Ag. selaku pentashih UMMI. Sebagai penutup acara, Dra. Lely Rachmawaty kepala KB-TK Al Hikmah memberikan sertifikat kepada peserta Hubbul Qur’an.. (Rul)

SD Al Hikmah Masuk 6 Besar Olimpiade Sains Alhamdulillah Pramasari Rajanna E Siswi kelas 5 SD Al Hikmah masuk 6 besar dalam even Olympiade Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya 30 Maret 2009 kemarin. Berikutnya akan mendapat bimbingan oleh Diknas untuk persiapan Olympiade Tingkat Propinsi Jawa Timur.

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 23

teras al hikmah

Dari Sakerah Sampai Teuku Umar Kegiatan Cinta Daerah Kelas 3 SD Indonesia adalah negara yang kaya. Kaya suku bangsa, adat-istiadat, bahasa, makanan daerah, dan lain-lain. Ada banyak cara untuk lebih dekat dengan budaya adiluhung berbagai suku di nusantara. Seperti halnya yang baru-baru ini dilaksanakan di SD Al Hikmah Surabaya. Mereka punya cara lain dalam menjunjung tinggi dan mencintai adat-istiadat dari berbagai suku bangsa di nusantara. Sebagai salah satu kegiatan dalam tematik “Daerahku” siswa-siswi SD Al Hikmah melaksanakan kegiatan

aku cinta adat nusantara. Diikuti seluruh siswa kelas 3 ,semua siswa memakai pakai pakaian adat semua daerah. Ada yang berpakaian ala sakerah, dari Madura, bahkan ada pula yang seperti pahlawan dari Aceh, Teuku Umar. Tidak hanya itu, acara yang diawali parikan dan jula-juli suroboyoan itu juga di isi dengan festival makanan khas dari berbagai daerah dan music adat. Setiap kelompok yang terdiri dari 4 siswa menampilkan lagu daerah dengan diiringi musik adat masing-masing. (bee)

SD Al Hikmah Tuan Rumah Olimpiade Matematika dan Sains Salah satu sudut ruang kelas SD Al Hikmah yang digunakan untuk pelaksanaan Olympiade Matematika dan Sains yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Surabaya pada hari Senin, 30 Maret 2009 mulaai pukul 08.00 - 16.00 WIB. Menurut Ibu Dra. Eko Prasetyoningsih, M. Pd. Kepala Bidang DIKDAS, juga selaku Ketua Panitia mengatakan : “Olympiade ini bertujuan untuk menggali bibit-bibit unggul dari Kota Pahlawan Surabaya, yang diharapkan mampu untuk mewakili Kota Surabaya, Tingkat Propinsi Jatim, Tingkat Nasional, dan bahkan Tingkat Internasional”. Semoga Olympiade ini diikuti dengan penuh sportifitas dan kejujuran dari semua pihak

Ular Besar di SD Al Hikmah Semua siswa SD Al Hikmah menjerit histeris saat melihat ular piton besar berada di teras lantai dua gedung baitul Ilmi. Tapi malah ada sebagian siswa yang mendekat bahkan mengelus-elus ular itu. Maklum, ular itu bukan ular liar melainkan ular jinak yang sengaja didatangkan beserta pawangnya. Acara ini merupakan kegiatan inti dari tematik kelas 2 SD Al Hikmah yang berjudul “Satwaku Sahabatku”. Selama satu hari anak-anak mengenal lebih dekat berbagai jenis satwa yang dibawa oleh teman-temannya. Acara diawali pertunjukan topeng monyet.

24 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

“Monyet aja bisa dilatih naik sepeda, ya”, ungkap Rido, siswa kelas 2A sambil dengan semangat menyaksikan berbagai atraksi si monyet. Setelah itu, anak-anak berkesempatan melihat pameran poster binatang dan mini zoo di lantai dua yang terdiri dari 190 binatang yang dibawa oleh semua siswa kelas 2. Saat pengunjung datang anak-anak berusaha menceritakan tentang binatang yang dibawanya semenarik mungkin. . “Selain untuk memenuhi standar kurikulum , inti kegiatan ini adalah agar anak-anak lebih bisa menyayangi dan melindungi binatang, karena

rasulullah juga mengajarkan agar kita sayang terhadap mahluk Allah, termasuk binatang”, ujag Anang Wahono selaku ketua pelaksana kegiatan ini. (bee)

Students Exchange 2009 To Malaysia 15 - 30 Juni 2009 Sebanyak 12 siswa-siswi SMP AlHikmah mengikuti program Homestay ke Malaysia, 15-30 Juni lalu. Mereka didampingi ustad Farkhan Habbib dan ustadzah Masrurin. Berbagai ilmu dan pengalaman unik pun didapatkan. Sekolah Islam Adni merupakan tempat pertama yang dikunjungi. Di sekolah tersebut, sistem pendidikan yang dipakai adalah Integrated Holistic Education System yaitu sistem yang mengintegrasikan nilai-nilai islam ke dalam seluruh subjek yang ada, baik untuk program nasional maupun internasional. “

Yang berkesan, ada 3 kelas yang benarbenar menerapkan kurikulum internasional total sejak di bangku SD. “Jika mereka memilih sains, yang diajarkan dari awal ditekankan hanya pada pelajaran itu saja,” tutur Ust. Farkhan. Kedisiplinan di sana patut untuk diteladani. Berikutnya kunjungan ke Maahad Intigrasi Tahfiz Istana Bandar, yang menerapkan Boarding School Penuh. Proporsi kurikulumnya, nasional 35

persen, Al-Azhar 15 persen dan tahfidz (Al-Quran) 50 persen. “Para siswa sepertinya tak mau kehilangan waktu untuk menghafal al-Quran, tandas Masrurin yang sering dipanggil dengan sebutan Rurin ini. (*)

Olimpiade Matematika Bukan hal yang baru bagi SMA Al Hikmah untuk menyelenggarakan even berskala regional dan bermutu seperti Olimpiade Matematika. Namun, kali ini pelaksanaan olimpiade sungguh luar biasa sebab mayoritas persiapan dihandel oleh siswa (OSIS). Bahkan hari libur dipakai untuk mempersiapkannya, bahkan sampai bermalam di sekolah dengan enjoynya. Acara diikuti 504 siswa SMP dalam 252 regu dari 28 kota di Jatim. Dari sekian peserta akan disaring

menjadi 15 besar untuk masuk ke babak semifinal dan akan diambil lagi 5 besar untuk lolos ke babak final. Pada saat peserta mengerjakan soal yang disajikan, guru pendamping mengikuti seminar dengan tema ‘Strategi Membina Tim Olimpiade’. Adapun orang tua atau wali murid mengikuti talk show bersama UIstadz Miftahul Jinan yang dipandu oleh Ustadzah Mirna dengan tema Smart Students Smart Parents. “Saya bangga, .” kata Pak Radison, salah satu wali murid peserta. (husna)

Suasana Haru dan Bahagia Mewarnai Pengumuman PMB di Al Hikmah Hari ini adalah saat yang diunggu-tunggu oleh calon wali murid Al Hikmah, Sabtu, 28 Maret 2009 tepat pukul 08.00 WIB secara serentak mulai Kelompok Bermain, TK, SD, SMP, dan SMA diumumkan hasil observasi / Tes penerimaan di Al Hikmah. Berikut adalah salah satu suasana haru, bahagia, dan tegang mewarnai perasaan anak-anak dan wali murid yang melihat langsung pengumuman di SD Al Hikmah.

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 25

teras al hikmah

Sukses Bisnis dengan Sedekah

Pengurus Komite Al Hikmah kembali menyelenggarakan acara yang insya Allah cukup bermanfaat terutama bagi mereka yang menjadi pengusaha. Pertengahan Mei lalu,

sekitar 70-an wali murid Al Hikmah berkumpul di ruang pertemuan Masjid Al Hikmah, serius menyimak paparan Hidayatur Rahman, SE, MM. pengusaha sukses dari Blitar. Kedatangan tamu Al Hikmah tersebut rupanya tepat dengan tema cara yaitu talkshow “Sukeses berbisnis dengan sedekah” , sebab beliau adalah contoh pengusaha yang memang menapaki sukses berbisnis dengan tidak lupa bersedekah. Sebagai seorang guru SD, pada tahun 1973, ia memulai usaha dengan

hanya membuka toko pakan. Pada tahun 2002, dinobatkan menjadi Perintis Peternakan Rakyat Nasional. Dan kini bisnisnya sudah menggurita. Ada dealer motor, trading drayer jagung, kedelai dan memiliki Jatim Indah Feedmill. Ini sesuai dengan nilai zakat yang senantiasa meningkat dari waktu ke waktu. Lantas kenapa banyak dari kita yang tidak sukses? Ada 3 hal : tidak punya tujuan jelas, keyakinan yang salah , dan tidak melakukan tindakan sesuai rencana. (*)

Seminar dan Workshop Perpustakaan Berbasis IT, Sebagai Aset Layanan Prima Awal April lalu ada acara seminar dan workshop Perpustakaan berbasis IT, sebagai aset layanan prima. Penyelenggaranya perpustakaan SMP- SMA Al Hikmah . Mengapa perpustakaan berbasis IT ? Karena peran perpustakaan semakin hari semakin penting, terutama terkait dengan kehadiran dan kemajuan informasi serta teknologi informasi yang ada. Di mana ledakan informasi dan teknologi informasi tersebut semakin membuat perpustakaan harus memasang strategi tepat (*)

Jaga Kinerja dengan Medical Check Up Untuk menjaga kinerja pengabdian dan kerja kerasnya, sekaligus sebagai wujud perhatian yayasan akan kesehatan guru dan karyawan, sekitar 150-an guru dan karyawan tetap YLPI Al Hikmah, selama 2 Sabtu berturut-turut (16 dan 23 Mei) yang lalu, berupaya menjaga ketahanan fisik tersebut dengan mengikuti pemeriksaan kesehatan, General Medical Check-up. Pertama diselenggarakan di SD Al Hikmah, berikutnya di SMP Al Hikmah, mulai jam 08.00 hingga 11.30.

26 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

Pemeriksaan medis itu hanya untuk mereka yang berusia 35 tahun ke atas. “Rentang usia tersebut memang rentan penyakit,” ujar Ust. Drs. Moch. Arifin, Kabid Sarana dan Prasarana Al Hikmah sekaligus penanggungjawab acara. Pemeriksaan kesehatan tersebut bekerja sama dengan Citra Medical Centre (SMS). Mencakup pemeriksaan radiologi dan laboratorium (darah lengkap, urine lengkap, tes fungsi hati, tes lemak darah, tes fungsi ginjal dan tes gula darah). (*)

pigura

Bermain peran kereta api

Percobaan Sains TK Al Hikmah

Hubbul Qu’ran wahana mencintai Al Qur’an

Wali murid Al Hikmah dukung piala kejujuran

Semangat perjuangan piala kejujuran

Fun Camp TK Al Himah bersama kakak SMA Al Hikmah

Pembekalan akhir Siswa-siswi SMA Al hikmah

Rapat Evaluasi Semester 1 YLPI Al Hikmah

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 27

halaman belakang

Lambaian dan Senyuman yang Mencairkan

D

i tengah padatnya lalu lintas pagi, ketika mengantar anak ke sekolah, saya bertemu seseorang yang dengan sebuah gerak sederhana, seolah berhasil mengubah perilaku semua orang di sana. Pria sederhana itu adalah petugas penyeberang jalan yang baru di sekolah anak saya. Ketika saya lewat, dia melambaikan tangannya persis seperti ketika kita melambaikan tangan kepada seorang teman. Tak cukup di situ, ia pun tersenyum lebar, lepas, seolah tanpa beban. Selang beberapa hari kemudian, saya berusaha diam-diam memperhatikan wajahnya, siapa tahu saya memang kenal atau pernah kenal dengan pria itu. Cukup lama saya mengingat-ingat sosok ramah penuh ikhlas itu. Ternyata tidak, saya tidak pernah mengenalinya. Lalu saya pun berprasangka, barangkali ia sendiri yang salah menyangka saya sebagai temannya. Ketika yakin bahwa kami tidak saling kenal, setiap

28 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

pagi pun kami saling tersenyum dan melambaikan tangan. Hingga suatu hari, misteri itu pun terkuak. Ketika kami mendekati tempat penyeberangan jalan, saya menghentikan mobil saya di belakang sederet mobil sementara sekelompok siswa menyeberang jalan. Dan ketika siswa menyeberang dengan selamat, pria itu pun menurunkan benderanya dan membiarkan mobil-obil lewat. Saya perhatikan ia melambaikan tangan dan tersenyum pada pengemudi mobil pertama dengan gerak yang saya pikir hanya ditujukan pada saya. Rupanya pengemudi mobil pertama sudah terbiasa dengan salam ramah di pagi hari tersebut. Mereka sudah menurunkan kaca candela dan membalas lambaian tangan pria tersebut dengan gembira sambil melongokkan kepala mereka. Ternyata, mobil kedua, ketiga dan berikutnya juga diperlakukan dan memperlakukan yang sama. Ternyata, tak seorang pun yang tak membalas salam pria tersebut. Bagaimana

perasaan mereka, ya, begitu kata saya dalam hati. Rupanya saya jadi bisa merasa, betapa kadang saya selalu tidak sabar untuk mendapatkan senyuman dari seorang teman yang belum pernah saya kenal. Rupanya senyuman dan lambaian tangan ikhlas itu telah merubah segalanya pada pagi hari di tengah lalu lintas yang mulai memadat itu. Keceriaannya dan ketulusannya sungguh telah membawa keceriaan dan menghangatkan di permulaan hari saya, dan tentu hari orangorang yang berlalu lalang di sana. Sebuah senyuman dan lambaian yang mampu mencairkan sifat egoisme, mematrikan rasa kemanusiaan, dan mengikis habis rasa tinggi diri hingga menjadi lebih berharga diri. Perubahan dan sikap hidup memang kadang bisa muncul dari hal-hal sepele, sederhana dan seakan tiada berarti apa-apa. (Shiddiq Baihaqi)

Al Hikmah I Edisi Juli 2009

| 29

30 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009

Hari Gini Belum Bisa Ngaji?...

Segera Daftarkan Jadi peserta Klub Qur’an Info Pendaftaran Hubungi : | 31

Eka Telp. 031- 8290140, 8299093 Al Hikmah I Edisi Juli 2009

32 | Al Hikmah I Edisi Juli 2009


Majalah Alhikmah