Issuu on Google+

KEPUTUSAN MUKTAMAR XII NASYIATUL AISYIYAH 14–17 SYA’BAN 1433 H /3–6 JULI 2012 M DI LAMPUNG

Bismillahirrohmanirrohiim

Muktamar XII Nasyiatul Aisyiyah yang berlangsung tanggal 14–17 Sya’ban 1433 H bertepatan dengan 3–6 Juli 2012 M di Lampung, setelah: Memperhatikan: 1. Sambutan Menteri Kehutanan Republik Indonesia, H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M.; 2. Sambutan Gubernur Lampung, Drs. H. Syachroedin, Z.P.; 3. Amanat Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang disampaikan oleh Bapak Prof. Dr. H. Din Syamsudin, M.A.; 4. Ceramah Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta tentang “Pemanfaatan Iptek Berbasis Nilai Bagi Kesejahteraan”; 5. Ceramah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang disampaikan oleh Deputi I, H.A. Alfitra Salam tentang “Penegakan Hukum Bagi Perempuan dan Anak Korban Konflik Sosial Berbasis SARA”; 6. Ceramah Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia yang disampaikan oleh Deputi I, Mudjiati,S.H tentang “Gerakan Bersama Komponen Bangsa untuk Advokasi Perempuan dan Anak Menuju Terwujudnya "Millenium Development Goal’s”; 7. Pidato Iftitah yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Abidah Muflihati, S.Th.I., M.Si.; 8. Laporan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Periode 2008–2012 yang dibacakan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Abidah Muflihati, S.Th.I., M.Si.; 9. Laporan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah se–Indonesia; 10. Prasaran Program Nasyiatul Aisyiyah; 11. Prasaran Rekomendasi;

Tanfidz Muktamar XII

1

12. Sumbang saran dan usulan yang disampaikan oleh para peserta Muktamar Nasyiatul Aisyiyah; 13. Hasil Pemilihan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah; 14. Tema Muktamar “Penguatan Peran Kader Nasyiatul Aisyiyah dalam Aksi Advokasi Menuju Terwujudnya Kualitas Hidup Perempuan dan Anak”.

Menimbang: 1. Perlunya peningkatan peran, kualitas, dan transformasi kader Nasyiatul Aisyiyah; 2. Perlunya pemantapan Gerakaran Aksi Advokasi Nasyiatul Aisyiyah terhadap perempuan dan anak.

Mengingat: 1. Anggaran Dasar Nasyiatul Aisyiyah; 2. Anggaran Rumah Tangga Nasyiatul Aisyiyah.

MEMUTUSKAN Tentang: A. Laporan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Periode 2008–2012 Menerima Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2008–2012 dengan beberapa catatan sebagai berikut : 1. Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah lebih memprioritaskan pembinaan wilayah dengan memperhatikan wilayah-wilayah yang membutuhkan pembinaan dan mengoptimalkan koordinator wilayah; 2. Menjalin kerjasama dan membuat MoU dengan Lembaga dan Kementerian untuk selanjutnya dapat disebarkan dan ditindak lanjuti program kegiatannya sampai ke wilayah-wilayah; 3. Meregulasikan pendirian PAUD Nasyiatul Aisyiyah.

B. Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Periode 2012–2016 1. Mengesahkan hasil pemilihan formatur Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016 sebagai berikut: a. Norma Sari, S.H., M.Hum.

2 Nasyiatul Aisyiyah

b. Abidah Muflihati, S.Th.I., M.Si. c. Ulfah, S.Pd., M.Pd. d. Widi Maryati, S.H. e. Nahar Miladi, S.E. f. Anisia Kumala, Lc., M.Si. g. Rita Pranawati, S.S., M.A. h. Rosa Kusuma Dewi Azhar, S.Pd. i. Diyah Puspitarini, S.Pd. 2. Menetapkan Norma Sari, S.H., M.Hum. sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016.

C. Program Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016 1. Menerima Rancangan Program Periode 2012–2016; 2. Mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah untuk menyusun kembali dan menyempurnakan program Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016 dengan memperhatikan pendapat, saran, dan usul para peserta Muktamar; 3. Mengamanatkan Pimpinan Pusat untuk mengoptimalkan koordinator wilayah dan melakukan kunjungan serta pendampingan ke wilayahwilayah; 4. Meregulasikan PAUD Nasyiatul Aisyiyah.

D. Rekomendasi Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XII Menerima Rancangan Rekomendasi Muktamar XII Nasyiatul Aisyiyah menjadi Rekomendasi Muktamar XII Nasyiatul Aisyiyah baik yang bersifat internal maupun eksternal dengan adanya penambahan atau pengurangan, serta perbaikan dan penyempurnaan dari peserta Muktamar adalah sebagai berikut:

A. Eksternal Kepada Pemerintah disemua tingkatan, Nasyiatul Aisyiyah: 1.

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II untuk:

Tanfidz Muktamar XII

3

a. Merealisasikan percepatan Milenium Development’s Goal dengan lebih intensif

sebagai komitmen Negara terhadap

perlindungan hak-hak sipil warga Negara khususnya akses wanita dan anak di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial. b. Mempermudah prosedur dan akses pelayanan terhadap jaminan kesehatan ibu dan anak dengan cara melakukan upaya untuk memperbaiki jaminan kesehatan wanita hamil, kesehatan reproduksi wanita dan remaja, perbaikan kesehatan anak dan wanita, serta perbaikan gizi keluarga Indonesia. c. Melakukan perlindungan terhadap perempuan dan anak Indonesia serta melakukan upaya preventif dan kuratif terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak indonesia.

2.

Aparat Penegak Hukum untuk melakukan : a. Penanganan kasus Tenaga Kerja Indonesia dan Tenaga Kerja Wanita Indonesia di luar negri yang selama ini tidak mendapatkan

perlindungan

dari

Negara

dengan

cara

perbaikan sistem pengiriman tenaga kerja, dan kepastian jaminan kehidupan serta perlindungan hukum yang kuat. b. Pemberantasan terhadap kasus perdagangan manusia yang melibatkan bukan hanya satu kawasan regional Negara akan tetapi

sampai

lintas

Negara

sehingga

memerlukan

bargaining position diplomasi yang kuat untuk kerjasama dengan Negara lain dan Interpol. c. Perlindungan terhadap perempuan dan anak Indonesia serta melakukan upaya preventif dan kuratif terhadap kasus kekerasan pada perempuan dan anak Indonesia. d. Reformasi hukum dengan mengadakan perbaikan sistem hukum, internalisasi nilai nilai keadilan, persamaan hak dan martabat manusia serta peningkatan gerakan sadar hukum agar masyarakat terhindar dari budaya anarkisme.

4 Nasyiatul Aisyiyah

e. Pemberantasan terhadap kasus peredaran narkoba dan miras serta menindak tegas bagi pengguna, pengedar dan pemasok narkoba dan miras. f. Hukuman yang tegas dengan memberi sanksi yang berat bagi penyelenggara tempat lokalisasi praktek prostitusi demi membentuk keluarga sakinah. g. Menerapkan fungsi edukasi dalam mengimplementasikan undang-undang pengadilan anak.

3.

Kementerian Pendidikan Nasional untuk melakukan reformasi dalam sistem pendidikan nasional khusus perbaikan kualitas pendidik, kurikulum, sarana dan prasarana serta akses biaya pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.

4.

Kementerian

Koordinator

Bidang

Ekonomi

Kabinet

Indonesia Bersatu Jilid II untuk melakukan perbaikan kebijakan dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan cara memperbaiki sistem ekonomi yang lebih mengedepankan ekonomi dengan melakukan pemberdayaan ekonomi rakyat miskin dan kelas menengah, pemberdayaan ekonomi perempuan, dalam penguatan pemberdayaan micro finance dalam

rangka

peningkatan kualitas hidup keluarga khususnya perbaikan kualitas hidup ibu dan anak.

5.

Partai Politik untuk melakukan reformasi politik yang lebih mengedepankan moral dan nilai budaya luhur bangsa Indonesia dengan meninggalkan semangat pragmatisme politik berlebihan yang akan membelokkan nilai demokrasi yang sesungguhnya.

6.

Kementerian Kesehatan a. Meningkatkan

gerakan

sadar

“bahaya

merokok�

di

lingkungan keluarga dan masyarakat secara terus menerus serta diberlakukannya undang undang pembatasan usia merokok.

Tanfidz Muktamar XII

5

b. Menghentikan pemberian kondom gratis yang memicu tindak penyalahgunaan hubungan seks di luar nikah.

7.

Kementerian Tenaga Kerja a. Memberikan hak untuk menyusui bagi seluruh pekerja perempuan minimal 3 bulan serta memberi akses tempat yang nyaman untuk menyusui bagi pekerja wanita yang menyusui di tempat kerja. b. Menginstruksikan kepada Perusahaan untuk menyediakan tempat penitipan anak di lingkungan kerja. c. Menghentikan pengiriman Tenaga Kerja Wanita Indonesia sektor domestik ke luar negeri.

8.

Kementerian Komunikasi dan Informasi a. Memperhatikan tayangan atau siaran publik yang aman bagi perempuan dan anak. b. Menutup jaringan internet yang berbau pornografi dan pornoaksi.

9.

Kementerian

Kehutanan

untuk

menjalin

kerja

sama

pengelolaan hutan dan lereng gunung sebagai upaya peningkatan perekonomian anggota Nasyiatul Aisyiyah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

10. Kementerian Pemuda dan Olahraga agar memberikan penghargaan dan jaminan hidup kepada atlet berprestasi di tingkat regional, nasional dan internasional.

11.

Kementerian Riset dan Teknologi a. Memberdayakan generasi muda yang berprestasi di bidang Iptek di perusahaan–perusahaan milik negara. b. Mempercepat teknologi daur ulang untuk memanfaatkan limbah bencana alam seperti gunung meletus dan lumpur lapindo.

6 Nasyiatul Aisyiyah

12.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengutamakan regulasi hukum yang progresif dan berkeadilan bagi Indonesia.

13.

Komisi Penyiaran Indonesia agar lebih selektif dalam melakukan pengawasan terhadap media massa dan elektronik dalam penayangan acara dan pemberitaan untuk lebih melindungi konsumen anak.

B. Internal Nasyiatul Aisyiyah mendesak kepada Muhammadiyah dan Ortomnya : 1.

Melakukan dakwah advokasi dengan intensif sebagai upaya untuk memfilter gejala demoralisasi yang akhir-akhir ini semakin meningkat dengan indikasi maraknya aksi anarkisme, pornografi dan liberalisasi media.

2.

Melakukan upaya revitalisasi semangat seabad Muhammadiyah dengan melakukan reaktualisasi semangat teologi Al-Maun yang kaya terhadap spirit advokasi terhadap kaum lemah dan mustadh’afin.

3.

Melakukan koordinasi gerakan dengan seluruh organisasi otonom

Muhammadiyah

agar

tercapai

sinergi

gerakan

muhammadiyah. 4.

Melakukan pengkaderan yang lebih masif dengan pemberdayaan kaum

muda

Muhammadiyah

serta

penanaman

spirit

Muhammadiyah di dalam ruh lembaga pengkaderan di keluarga, amal usaha dan organisasi. 5.

Memfasilitasi pengkajian tentang batasan usia dan fokus antar ortom di dalam persyarikatan Muhammadiyah.

6.

Meneguhkan kembali budaya organisasi Muhammadiyah.

7.

Menginstruksikan

kepada

Pimpinan

amal

usaha

di

Muhammadiyah dan ortomnya agar karyawan yang bekerja di amal usaha untuk ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi Muhammadiyah.

Tanfidz Muktamar XII

7

8.

Mendesak kepada Pimpinan Pusat Aisyiyah untuk membantu mendirikan cabang dan ranting Nasyiatul Aisyiyah di daerah masing-masing, sebagai wujud tanggung jawab keberlangsungan organisasi.

Lampung, 6 Juli 2012

8 Nasyiatul Aisyiyah

PROGRAM NASYIATUL AISYIYAH PERIODE 2012–2016

I.

MUQADIMAH A. Spirit Kehadiran Nasyiatul Aisyiyah Nasyiatul Aisyiyah pada Muktamar XII telah berusia 81 tahun (kalender masehi). Usia yang tentunya tidak muda lagi, namun masih akan terus menghadapi berbagai problematika perempuan dan anak khususnya, serta umat dan bangsa pada umumnya yang terus bergulir sesuai dengan jamannya. Nasyiatul Aisyiyah lahir pada situasi ketika perempuan masih didiskriminasikan menjadi warga kelas dua; anak-anak perempuan belum banyak mendapatkan kesempatan bersekolah maupun belajar agama; perempuan belum dapat menjalankan ibadah seperti sholat berjamaan di masjid dengan bebas; dan kondisi sosial masyarakat masih mengidentikan perempuan dengan sumur, pupur, dapur dan kasur serta wedok iku suwargo nunut neraka katut (perempuan itu surga ikut neraka juga ikut). Nasyiatul Aisyiyah lahir dengan keberanian para kadernya untuk memberdayakan perempuan. Dibawah bimbingan Bapak Sumodirjo, salah satu tokoh Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta, kelompok remaja perempuan yang bersekolah di Standart School Muhammadiyah berkumpul dalam wadah Siswa Praja Wanita (SPW). Para remaja putri yang berkumpul dalam SPW, yang menggunakan jam diluar sekolah ini, belajar tidak hanya materi keagaamaan sebagaimana didapatkan di Standart School yang merupakan sekolah Muhammadiyah pertama pada tahun 1918. Para remaja putri ini juga belajar ketrampilan keluarga, menjahit, memasak dan pidato (Setiawati, 1985). Para remaja putri ini pun belajar tentang kepemimpinan dan membangun solidaritas dalam kelompok tersebut mengingat apa yang mereka lakukan adalah hal yang

tidak

lazim

dilakukan

anak

perempuan

pada

zamannya

(Syamsiyatun, 2006). Para remaja ini aktif tidak semata-mata karena dukungan Muhammadiyah sebagai organisasi induk, tetapi juga

Tanfidz Muktamar XII

9

leadership dan integritas para kader Nasyiatul Aisyiyah yang berani keluar dari pakem masyarakat pada masa tersebut. Beberapa gebrakan gerakan SPW bersama dengan Sapa Tresna banyak dianggap tidak lazim pada awal berdirinya. Misalnya para kader SPW membantu menggalang dana untuk memelihara anak yatim, memberi bantuan

makanan, menyediakan pengungsian ketika terjadi

letusan gunung Kelud pada tahun 1918 dibawah satu atap Penolong Kesengsaraan Umat yang digawangi Muhammadiyah (Nakamura, 1983). Pada tahun 1938, SPW mendirikan perpustakaan kecil yang menjadi sumber akses informasi dan mendidik para kadernya pada masa kebanyakan

remaja

putri

terbatas

akses

informasinya

terhadap

pendidikan (Syamsiyatun, 2006). SPW juga berpartisipasi aktif mendirikan musholla perempuan agar para perempuan dapat beribadah sebagaimana laki-laki. Dalam praktik sholat berjamaah,

para remaja

putri ini tidaklah semata-mata belajar sholat, tetapi juga belajar bagaimana mengatur waktu, belajar berceramah, dan berinteraksi dengan anggota SPW lainnya. Nasyiatul Aisyiyah sejak awal juga memperhatikan pendidikan kadernya dengan membentuk sekolah-sekolah berdasarkan usia. Inisiatif SPW untuk melakukan pendidikan terhadap kadernya juga ditunjukkan dengan berdirinya sekolah remaja putri berdasarkan usia Jamiatul Athfal (7-10 tahun), Tajmilul Akhlak (10-15 tahun), Tholabus Saadah (15-18 tahun). Pada kelompok Jamiatul Athfal pertemuan diadakan dua kali dalam seminggu dengan aktivitas membaca Al-Quran, menyanyi, kerajinan tangan, serta olah raga. Pada kelompok Tajmilul Akhlak, pertemuan diadakan setiap hari Jumat dan membahas tentang menjadi pribadi yang mandiri, isu-isu aktual lainnya, latihan berpidato, serta ketrampilan ringan lainnya seperti memasak, merajut, dan menjahit. Pada kelompok ketiga, Tholabus Saadah, aktivitas yang dilakukan utamanya adalah berkaitan dengan hukum keluarga, membangun keluarga sakinah, belajar berceramah, serta administrasi organisasi (Syamsiyatun, 2006) Spirit dasar Nasyiatul Aisyiyah pada awal berdirinya adalah memberdayakan perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama terhadap akses keagamaan serta akses sosial lainnya seperti pendidikan.

10 Nasyiatul Aisyiyah

Kata-kata dalam syair mars Nasyiatul Aisyiyah “bekerja digemari” benar-benar

diaktualisisasikan

walaupun

dalam

bentuk

aktivitas

sederhana, namun memberikan proses pendidikan kepada perempuan dengan penuh makna. Gerakan inisiatif untuk memberikan solusi terhadap persoalan pada masanya menjadi kata kunci dalam setiap masa perjuangan Nasyiatul Aisyiyah.

B. Capaian Nasyiatul Aisyiyah (Tonggak Keberhasilan Nasyiatul Aisyiyah di Indonesia) Sepanjang usianya yang telah 83 tahun berdasar kalender Hijriyah, Nasyiatul Aisyiyah telah memberikan kontribusi besar pada akselarasi pembangunan bangsa Indonesia khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan anak. Hal ini karena jaringan yang dimiliki merata di seluruh Indonesia, dengan pimpinan wilayah, daerah, cabang dan ranting adalah struktur mapan yang tentu saja menjadi potensi yang strategis untuk menjadi pintu informasi, membukakan anggota Nasyiatul Aisyiyah terhadap akses pendidikan, kesehatan, dan isu-isu sosial lainnya. Berikut ini diantara capaian Nasyiatul Aisyiyah dari zaman ke zaman, pembagian periode ini bukan mencerminkan periodesasi kepemimpinan, tetapi lebih kepada kesamaan capaian dan tantangan:

1. Periode 1919–1930: Siswa Praya Wanita Pada masa-masa ini Nasyiatul Aisyiyah adalah gerakan remaja putri Islam yang berusia 7–18 tahun. Gerakan-gerakan yang dilakukan berorientasi pada mendorong

aktifitas perempuan muda di

masyarakat atau ruang publik. Di antara capaian pentingnya adalah: • Menggerakkan kegiatan keagamaan di ruang publik, seperti shalat jamaah dan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). • Menggiatkan pendidikan non formal bagi remaja putri, seperti sekolah agama putri yang mengintegrasikan pelajaran umum didalamnya,

TK

Aisyiyah

Bustanul

Athfal

(ABA),

menerbitkan buku untuk TK.

Tanfidz Muktamar XII

11

dan

• Menggiatkan fundrising kreatif dalam bentuk tabungan infaq bagi anak TK ABA dan mendirikan koperasi.

2. Periode 1930–1959: Nasyiatul Aisyiyah sebagai Bagian Aisyiyah Pada masa ini, Siswa Praya Wanita dirubah namanya dalam bahasa Arab dengan nama Nasyiatul Aisyiyah dan menjadi bagian struktur Aisyiyah. Capaian periode ini antara lain: • Diciptakannya simbol padi bersinar dan lagu Mars Nasyiatul Aisyiyah. • Meningkatkan gerakan kegiatan keagamaan di ruang publik secara lebih luas, seperti tabligh keliling dari kampung ke kampung, iuran kurban Idul Adha, dan pawai syiar agama di jalan-jalan yang ramai. • Meningkatkan gerakan pendidikan non formal; pada masa ini sekolah agama putri di periode sebelumnya tetap dilanjutkan dengan menambah muatan pengetahuan umum yang lebih banyak seperti psikologi, sosiologi, administrasi, dsb. Ada juga kursus musik. • Menggerakkan kaderisasi dengan membuat kelompok kader militan yang dinamakan Persatuan Pembantu Tenaga Nasyiatul Aisyiyah yang dididik menjadi calon pimpinan. • Pendataan anggota secara lebih sistematis 3. Periode 1960–1980: Nasyiatul Aisyiyah sebagai Organisasi Otonom Masa ini diawali dengan berbagai persiapan untuk menjadikan Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi otonom. Hingga kemudian pada tahun 1961 ditetapkan sebagai organisasi otonom oleh Muhammadiyah. Diantara capaian penting selama 20 tahun pada masa itu adalah: • Perekrutan siswi sekolah Muhammadiyah (Muallimat) sebagai kader Nasyiatul Aisyiyah, sehingga setelah mereka lulus dapat menyebarkan Nasyiatul Aisyiyah ke seluruh Indonesia

12 Nasyiatul Aisyiyah

• Menggerakkan kegiatan sosial dengan memperjuangkan peninjauan kembali pernikahan dini (dibawah umur) dan etika praktik pernikahan di budaya Jawa, hak-hak reproduksi perempuan dalam Keluarga Berencana, ketenagakerjaan, kepemimpinan perempuan, life skill, dan kewirausahaan. • Bergabung bersama elemen lain membendung PKI, dan mendorong rekonsiliasi atau perdamaian politik dengan menampung anak-anak perempuan aktifis Gerwani dalam kegiatan Nasyiatul Aisyiyah, • Menata ulang aturan dasar organisasi seperti merubah usia anggota Nasyiatul Aisyiyah dari usia 7 – 18 tahun menjadi 12 – 35 tahun, dan merumuskan kepribadian Nasyiatul Aisyiyah

4. Periode 1980–2004: Nasyiatul Aisyiyah dan wacana gender Seiring dengan perkembangan zaman, wacana Feminisme dan gender mulai masuk ke Indonesia dan turut mempengaruhi cara pandang Nasyiatul Aisyiyah terhadap masalah perempuan, sehingga isu menikah dan belum menikah tidak lagi menjadi persyaratan keanggotaan di Nasyiatul Aisyiyah. Capaian lainnya antara lain: • Perubahan ketentuan usia anggota Nasyiatul Aisyiyah di AD/ART dari 12–35 tahun menjadi 17–40 tahun (2003). • Menggunakan wacana gender dalam melihat isu-isu perempuan dan mengembangkan strategi dakwah muballighat motivator, seperti

pengembangan

masyarakat

melalui

pelatihan

kewirausahaan, bantuan modal, jaringan bisnis, mendirikan BUANA, kampanye HIV/AIDS dan Napza. • Mengubah

orientasi

politik

dengan

menggugah

kesadaran

partisipasi politik perempuan dalam partai politik dan lembagalembaga politik lainnya seperti KPU, DPD, Badan Pengawas. Terjadi juga perubahan orientasi pemilihan ketua umum dari berdasarkan keturunan tokoh Muhammadiyah kepada kualitas kapasitas calon. • Membuka kontak Nasyiatul Aisyiyah dengan lembaga-lembaga internasional, melalui partisipasi kegiatan atau kerja sama program.

Tanfidz Muktamar XII

13

5. Periode

2004–2008:

Nasyiatul

Aisyiyah

dalam

Proses

Demokratisasi Pada masa ini dorongan dari Luar Negeri dan Dalam Negeri Indonesia untuk melakukan proses demokratisasi di berbagai bidang sangat besar. Sehingga Nasyiatul Aisyiyah memberanikan diri untuk menyelenggarakan Muktamar Mandiri Nasyiatul Aisyiyah. Capaian lainnya antara lain: • Mencanangkan

Gerakan “Penghapusan Kekerasan terhadap

Perempuan sampai tiitik 0”, yang mencakup Sosialisasi UU PKDRT, Pendirian Pusat “Sahabat Keluarga” (Women Crisis Centre),

kampanye

anti

Trafiking,

Pelatihan

Life

Skill,

Pengembangan BUANA ekonomi dan pendidikan • Meluncurkan sarana dakwah media: web site www.Nasyiatul Aisyiyah.or.id, TVRI, dst • Mengembangkan program-program kerjasama dengan lembaga Luar Negeri (British Council, TAF, Pemerintah UK, Ausaid, Give To Asia), dan Pemantauan pemilu bersama Jaringan JPPR. • Pencanangan Gerakan Seribu Ranting 6. Periode 2008–2012: Nasyiatul Aisyiyah dalam gerakan Advokasi Pada periode ini strategi gerakan Nasyiatul Aisyiyah mulai dikembangkan ke arah advokasi. Adapun di antara capaiannya antara lain: • Mengembangkan Gerakan Seribu Ranting dengan melakukan pendataan Ranting, dan menyusun draft panduan ranting • Mengembangkan

aturan

manajemen

organisasi

dengan

menerbitkan AD/ART yang baru, buku panduan administrasi, aturan

tentang

lembaga

non

struktural,

dan

periodesasi

permusyawaratan. • Merintis Gerakan advokasi dengan menyusun Position Paper HMPA, penyusunan model Kespro di sekolah, gerakan membaca bagi perempuan dan anak, pendirian APUNA, dan pemantauan pemilihan secara mandiri.

14 Nasyiatul Aisyiyah

窶「 Mengembangkan sistem kaderisasi dengan menyusun modul Perkaderan Formal. 窶「 Mengembangkan dakwah media melalui TV, website, dan facebook. Capaian-capaian tersebut menunjukkan bahwa Nasyiatul Aisyiyah telah banyak melakukan gerakan dan penataan keorganisasian yang tentunya bukan untuk ditinggalkan tetapi untuk dilanjutkan dan dikembangkan lebih lanjut. Adalah suatu hal yang sangat disesalkan, jika capaiancapaian di periode sebelumnya tiba-tiba menghilang tanpa bekas karena tidak ditindaklanjuti kembali.

C. Posisi Nasyiatul Aisyiyah sebagai kader persyarikatan, ummat dan bangsa Nasyiatul Aisyiyah adalah kader persyarikatan umat dan bangsa. Sebagai kader persyarikatan, Nasyiatul Aisyiyah menempati fungsi ruang dakwah di kalangan perempuan muda Muhammadiyah. Fungsi Nasyiatul Aisyiyah untuk menggarap lahan dakwah perempuan muda menjadi vital mengingat pada usia produktif inilah kaderisasi menjadi efektif dan menentukan perjuangan Muhammadiyah di masa yang akan datang walaupun terkadang fungsi ini masih tumpang

tindih baik dengan

Ipmawati, Immawati, dan 窶連isyiyah. Meskipun demikian sebagai kader persyarikatan, Nasyiatul Aisyiyah dapat bersinergi dengan ortom lain guna merevitalisasi karakter Islam berkemajuan dalam Muhammadiyah. Sebagai

kader

Ummat,

Nasyiatul

Aisyiyah

berkewajiban

menguatkan struktur organisasinya dan menguatkan strategi gerakannya agar dapat lebih banyak berperan untuk pemberdayaan dan pembelaan kepentingan umat, khususnya mereka yang tertindas seperti orang-orang miskin, anak-anak, dan perempuan. Pendidikan yang selama ini menjadi strategi besar Muhammadiyah, termasuk di dalamnya Nasyiatul Aisyiyah, dalam perubahan sosial telah berkontribusi pada penciptaan kelas menengah yang lebih luas. Namun demikian, perhatian terhadap mereka yang tertindas juga menjadi amanah abadi ke-Ilahian yang harus tetap diperjuangkan, sehingga perubahan sosial ke arah yang lebih baik tidak

Tanfidz Muktamar XII

15

terhenti. Nasyiatul Aisyiyah sebagai agen perubah pun tidak menjadi jumud/stagnan. Sedangkan sebagai kader bangsa, Nasyiatul Aisyiyah adalah bagian dari

proses

pengkaderan

kepemimpinan

bangsa

secara

nasional.

Sebagaimana telah disebutkan diatas, menyumbangkan kader terbaiknya untuk menjadi kader nasional, menjadi bagian dari proses regenarsi tersebut, ataupun tetap menjadi mitra pemerintah dengan tetap bersikap kritis kepada kebijakan pemerintah adalah langkah yang perlu dipilih. Jika Nasyiatul Aisyiyah tidak bersikap, Nasyiatul Aisyiyah hanya akan menjadi gerbong terakhir

pada proses regenerasi kepemimpinan nasional dan

ketinggalan kereta perubahan bangsa. Namun demikian Nasyiatul Aisyiyah tidak akan meninggalkan fungsi sosialnya sebagaimana jati dirinya sejak kelahirannya untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas perempuan disekitarnya hingga bangsa pada umumnya.

II. KERANGKA

KEBIJAKAN

PROGRAM

NASYIATUL

AISYIAH

JANGKA PANJANG

A. Visi dan Misi Nasyiatul Aisyiyah 1. Visi Nasyiatul Aisyiyah Visi Ideal Nasyiatul Aisyiyah, sesungguhnya adalah Tujuan Nasyiatul Aisyiyah sebagaimana tercantumdalam AD/ART, yaitu terbentuknya putri Islam yang berarti bagi keluarga, bangsa dan agama menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 2. Misi Nasyiatul Aisyiyah 1) Melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar dalam membina putri Islam yang berarti bagi agama, bangsa dan negara menuju terwujudnya masyarakat yang sebenar-benarnya; 2) Melaksanakan pencerahan dan pemberdayaan perempuan menuju masyarakat yang menjunjung tinggi harkat, martabat dan nilainilai kemanusiaan yang sesuai dengan ajaran Islam;

16 Nasyiatul Aisyiyah

3) Menyelenggarakan amal usaha dan meningkatkan peran Nasyiatul Aisyiyah

sebagai

pelopor,

pelangsung

dan

penyempurna

perjuangan Muhammadiyah.

B.

Landasan Gerak Nasyiatul Aisyiyah Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan putri Islam dan kader Muhammadiyah dalam melakukan gerakannya berlandaskan kepada: 1.

Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.

2.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah.

3.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nasyiatul Aisyiyah.

4.

Asas-asas gerakan Nasyiatul Aisyiyah yakni : a. Asas Keislaman Bahwa Kebijakan Nasyiatul Aisyiyah dilaksanakan dalam kerangka perwujudan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. b. Asas Dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar Bahwa segala kebijakan yang ditetapkan merupakan pelaksanaan ajaran Islam dengan pendekatan dakwah yang dijiwai dengan semangat pemurnian, pembaharuan, keterbukaan, kritis dan inovatif. c. Asas Pemberdayaan Kader Bahwa kebijakan Nasyiatul Aisyiyah dilaksanakan dalam rangka memberikan saluran bagi potensi kader dalam berbagai aspek untuk dikembangkan baik internal Muhammadiyah maupun eksternal. d. Asas Kemasyarakatan Bahwa kebijakan Nasyiatul Aisyiyah diperuntukkan bagi terciptanya kebaikan hidup manusia sesuai dengan esensi, harkat dan kualitasnya sebagai makhluk yang dimuliakan Allah, untuk membawa dan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan Iil'alamin). e. Asas Ketinggian Ilmu dan Kecakapan

Tanfidz Muktamar XII

17

Bahwa kebijakan Nasyiatul Aisyiyah dilaksanakan sebagai wujud dari optimalisasi fungsi akal/ra'yu yang menjadi kelebihan asasi manusia.

C. Kebijakan Nasyiatul Aisyiyah Kebijakan adalah ketentuan-ketentuan yang telah disepakati dan ditetapkan oleh Nasyiatul Aisyiyah untuk dijadikan pedoman atau pegangan dan petunjuk untuk setiap usaha dan kegiatan organisasi agar tercapai kelancaran dan keterpaduan dalam upaya mencapai tujuan, misi, dan visi organisasi. Kebijakan NasyiatulAisyiyah yang menjadi acuan dalam penyusunan program Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016 adalah cita-cita Nasyiatul Aisyiyah tahun 2020 dan kebijakan Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016.

Cita Nasyiatul Aisyiyah tahun 2020 Sebagai kelanjutan dari program jangka panjang yang telah menetapkan prioritas program sejak awal, Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016

telah mencanangkan cita-cita Nasyiatul Aisyiyah tahun

2020. Pada tahun 2020 diharapkan Nasyiatul Aisyiyah mampu mewujudkan: 1.

Kualifikasi kader bangsa dan kader umat yang berpikir terbuka, memiliki etos kerja yang tinggi, istiqomah, dan komitmen yang tinggi terhadap perjuangan dan dakwah Islam amar ma'ruf nahi munkar.

2.

Organisasi Nasyiatul Aisyiyah menjadi organisasi yang profesional, berkembang secara kuantitas sesuai dengan pengembangan dan pemekaran wilayah Indonesia serta memiliki pengaruh terhadap dunia nasional maupun internasional.

3.

Berbagai sumber pembelajaran untuk keluarga (family learning centre), antara lain berupa lembaga yang memberikan perlindungan dan pendampingan terhadap permasalahan anak dan perempuan.

18 Nasyiatul Aisyiyah

Tahapan pencapaian Cita Cita Nasyiatul Aisyiyah 2020 adalah: Periode

2012–2016

adalah

dengan

pendidikan

profetik

untuk

mensinergikan sumber daya advokasi bagi perempuan dan anak. Periode 2016–2020

membangun

eksistensi Nasyiatul Aisyiyah di dunia

Internasional untuk gerakan perempuan yang berperadaban

III. ANALISA LINGKUNGAN Kiprah Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan tidak lepas dari pengaruh faktor lingkungan luar yang turut membawa dinamika dalam kehidupan organisasi. Berbagai faktor dari luar Nasyiatul Aisyiyah tersebut memberi peluang sekaligus tantangan dalam menyikapinya. 1.

Pembacaan atas kondisi global dan nasional a. Dampak Globalisasi dan Kapitalisme Global. Globalisasi merupakan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan lainnya sehingga batasbatas

suatu

negara

menjadi

semakin

sempit.

Globalisasi

mengakibatkan adanya pemaksaan kebijakan dan kondisi di semua Negara di dunia. Apa yang terjadi di Negara maju juga terjadi di Negara berkembang. Walaupun kita tidak menyukainya, globalisasi merupakan hal yang tak terelakkan. Di bidang ekonomi, kebijakan ekonomi pasar bebas yang dipaksakan kepada Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memunculkan kompetisi yang tidak imbang. Sehingga yang berkuasa adalah mereka yang memiliki modal (capital). Kapitalisme membuat mereka yang telah tertindas/terpinggirkan seperti orang miskin, minoritas, perempuan dan anak, semakin terpinggirkan. Kapitalisme di satu sisi berdampak pada meningkatnya peran perempuan dalam berbagai profesi publik. Namun pada saat yang sama, perempuan juga merupakan buruh murah yang hak-haknya kurang terlindungi. Akses perempuan terhadap modal juga terbatas, perempuan-perempuan pengusaha mikro di pasar tradisional kalah bersaing dengan pengusaha bermodal besar di hypermarket, negeri masuk dengan bebas,

produk-produk

luar

perempuan juga menjadi salah satu

Tanfidz Muktamar XII

19

target pasar produk-produk tersebut, seperti kosmetik, obat-obatan, aksesories, pakaian, makanan, dsb. Nasyiatul Aisyiyah ditantang untuk dapat memanfaatkan peluang pasar bebas ini dengan secara bersamaan mengusahakan penguatan dan pemberdayaan ekonomi bagi para perempuan yang kurang beruntung.

b. Polarisasi Ideologi Gerakan Perempuan Global Dampak globalisasi terhadap gerakan perempuan antara lain adalah pemberlakukan CEDAW dan Millenium Development Goals (MDGs)

di

Negara-negara

yang

meratifikasi/menandatangani,

termasuk Indonesia. MDGs merupakan program peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia yang ingin dicapai pada tahun 2014 nanti. Dalam MDGs ini perempuan dan anak menjadi bagian penting bagi tercapainya kualitas hidup suatu bangsa, yaitu kesetaraan gender, pemberantasan kemiskinan, pendidikan bagi semua, penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Pengurangan Penyakit menular dan HIV dan AIDS.

Sebagai konsekuensinya, Pemerintah menetapkan kebijakan

pengarusutamaan gender dalam semua kebijakan Departemen. Barubaru ini kebijakan tersebut akan ditingkatkan menjadi UndangUndang, dan saat ini DPR sedang dalam proses membahas rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender tersebut. CEDAW juga menuntut pemerintah Indonesia melaporkan kondisi perjuangan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan secara rutin. Harus diakui bahwa adanya CEDAW, masuknya isu gender dalam MDGs dan Human Development Indeks (Indeks Pembangunan Manusia) yang ditetapkan UNDP, merupakan bagian dari perjuangan para feminis, baik yang beraliran liberal, radikal, sosialis, maupun kultural. Di sisi lain, dunia juga sedang menghadapi globalisasi ideologi Islam radikal dan transnasional seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaida, Jama’ah Islamiyah, Salafi, dsb. Umumnya ideologiideologi ini mempunyai gagasan yang menentang gagasan-gagasan feminisme. Bahkan dalam lima tahun terakhir, gerakan-gerakan Islam radikal dan transnasional ini mulai unjuk gigi di forum publik.

20 Nasyiatul Aisyiyah

Menunjukkan identitas dan gagasan-gagasannya secara terbuka untuk menyerang gagasan-gagasan yang mereka pandang sebagai tidak Islami, seperti kepemimpinan perempuan, peran perempuan di ranah publik, mendukung Perda-Perda Syariah yang membatasi gerak perempuan di ranah publik dan mengatur secara ketat cara perempuan muslim berpakaian di ruang publik. Gagasan-gagasan kelompok ini mulai mempengaruhi opini publik, tak terkecuali sebagian anggota Nasyiatul Aisyiyah. Dari segi pola pikir, pertarungan ideologi tersebut dapat berdampak pada munculnya kebingungan dan tuntutan akan kejelasan posisi ideologi gerakan Nasyiatul Aisyiyah. Padahal

para pimpinan

dan anggota Nasyiatul Aisyiyah belum memiliki kesamaan persepsi tentang gender dalam konteks Islam, sehingga hal ini memunculkan kesenjangan antara pimpinan dengan struktur dibawahnya dalam menafsirkan isu tersebut. Karenanya perumusan visi ideologi gerakan perempuan Nasyiatul Aisyiyah adalah suatu keniscayaan.

c. Trend Budaya Pop, Konsumeris & Individualis Sampai saat ini, Nasyiatul Aisyiyah belum pernah memikirkan secara serius mengenai budaya populer, konsumerisme & individualis dikalangan perempuan. Nasyiatul Aisyiyah belum pernah menetapkan kacamata apa yang akan digunakan dalam memandang fenomena Budaya Populer yang menelikungi keluarga, lingkungan masyarakat dan generasi muda putri kita. Padahal budaya tersebut telah mempengaruhi

banyak

sendi

kehidupan

pembebekan massal terhadap kelompok

perempuan,

seperti

musik tertentu, model

fashion tertentu, produk tertentu, bahkan pengidolaan tokoh publik tertentu, yang sedang trend. Hal

semacam

ini dapat mengikis

karakter kepribadian individu, sehingga dengan mudah akan dimainkan/diperbudak oleh kelompok lain. Oleh karena itu, Nasyiatul Aisyiyah perlu memikirkan secara serius dan berperan serta dalam pembentukan karakter bangsa, khususnya perempuan.

Tanfidz Muktamar XII

21

d. Kondisi Kekerasan pada Perempuan dan Anak Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kita dipertontonkan lewat media para TKW Indonesia dipulangkan paksa dalam keadaan luka memar bahkan tidak sedikit yang dipulangkan dengan peti jenazah. Demikian sedikit gambaran kasus trafficking di Indonesia, yang menurut data International Organization for Migration (IOM) menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi teratas sebagai negara asal korban perdagangan manusia (trafficking). Hingga Juni 2011 lalu, sedikitnya tercatat ada 3.909 korban perdagangan manusia dan sebagian besar korbanya kaum perempuan. Sementara Catatan Tahunan

(Catahu)

Komnas

Perempuan

selama

2010–2011

menemukan sebanyak 4% atau 3.753 kasus dari total kasus kekerasan terhadap perempuan (105.103) adalah kasus kekerasan seksual. Dari segi pendidikan, data BPS tahun 2009 menunjukan bahwa 75.69% perempuan usia 15 tahun keatas hanya berpendidikan tamat SMP ke bawah, dimana mayoritas perempuan hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SD, yakni 30.70%. Semakin tinggi tingkat pendidikan, persentase partisipasi pendidikan perempuan semakin rendah, yaitu SMA (18.59%), Diploma (2.74%) dan Universitas (3.02%). Juga ada hampir 1,7 juta anak perempuan usia sekolah 15–19 tahun tidak bersekolah. Karena pendidikan yang rendah, maka proporsi terbesar pekerja perempuan juga adalah pekerja yang hanya tamatan SD (35.03%), sesuai dengan kisaran jumlah perempuan tamat SD. Terdapat 12.44% pekerja perempuan yang berpenghasilan bersih Rp 200,000,- ke bawah per bulan. Realitas tersebut tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebagai organisasi perempuan kegamaan, Nasyiatul Aisyiyah akan dituntut untuk dapat memberikan solusi dan berperan serta menangani masalah-masalah tersebut.

22 Nasyiatul Aisyiyah

e. Kualitas Partisipasi Politik Perempuan Masuknya kuota 30% keterwakilan perempuan dalam politik telah dapat meningkatkan jumlah perempuan yang masuk di anggota legislatif pusat dari 11,8% pada tahun 2004 menjadi 18% pada tahun 2009. Sedangkan di tingkat Provinsi, data yang dihimpun dari 33 propinsi menunjukkan bahwa secara keseluruhan hanya 13,53% perempuan terwakili di DPRD tingkat I, dan keterwakilan perempuan terendah di tingkat kabupaten/kota, yang

rata-rata hanya 10%.

Angka-angka tersebut masih jauh dari angka kuota 30% yang ditargetkan pemerintah Indonesia. Sayangnya, peningkatan ini bukan berarti bahwa kapasitas politik perempuan Indonesia juga meningkat. Karena anggota legislatif

perempuan ini adalah mereka yang populer di publik

sebagai artis, istri tokoh masyarakat, atau anggota keluarga elit masyarakat. Tokoh-tokoh perempuan yang memiliki kapasitas politik yang tinggi tidak banyak, karena beberapa diantaranya justeru tergusur oleh perempuan-perempuan popular tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk mengambil peran dalam peningkatan kapasitas politik para calon anggota legislatif dan lembaga publik lainnya, atau bahkan mengutus

kader-kadernya

untuk

berkompetisi

dalam

peran

pengambilan kebijakan.

f. Perubahan kebijakan keuangan negara dan internasional Pesatnya proses demokratisasi dan penegakkan HAM di Indonesia dalam 1 dasawarsa terakhir ini telah dianggap oleh lembaga-lembaga internasional sebagai berhasil, berdasar laporan negara dan lembaga swadaya masyarakat yang bermitra dengan mereka. Sehingga dana-dana internasional untuk program-program tersebut pun semakin dikurangi secara signifikan. Salah satu evaluasi terhadap program-program tersebut merekomendasikan pemotongan birokrasi agar biaya operasional semakin efisien dan tujuan pun tercapai secara efektif. Hal ini menjadikan lembaga-lembaga Internasional lebih banyak mengalokasikan dana bagi program-

Tanfidz Muktamar XII

23

program yang ditujukan secara langsung bagi masyarakat sasaran yang definitif, dengan biaya operasional yang kecil (small grand). Kebijakan

otonomi

daerah

Pemerintah

Indonesia

juga

berpengaruh terhadap kebijakan keuangan negara, yaitu adanya pembagian persentase anggaran untuk daerah dan pusat,

sekitar

33,07% untuk daerah dan 66.93 % untuk pusat pada tahun 2010, dan 31,23% untuk daerah dan 68, 77% untuk Pusat pada tahun 2011, sedangkan pada tahun 2012 ini alokasi untuk daerah adalah 26%. Adanya perimbangan ini berdampak pada dibatasinya kegiatan pusat yang mengikutsertakan banyak daerah. Organisasi tingkat pusat hanya diperkenankan untuk mengajukan satu kegiatan di satu daerah, tidak boleh untuk banyak daerah, karena anggaran masing-masing daerah sudah terdapat dalam APBD. Padahal selama ini Nasyiatul Aisyiyah selama ini mengandalkan keunggulan struktur jaringan dari tingkat nasional hingga tingkat ranting,

sehingga

banyak

program-program

yang

dapat

dikoordinasikan oleh Pimpinan Pusat. Perubahan kebijakan ini memaksa Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah di level manapun untuk merubah orientasi pendanaan programnya dan memacu kreatifitas masing-masing

daerah/wilayah

untuk

mengakses

APBD.

Konsekuensi lainnya, otonomi daerah membawa pengaruh pada kedekatan pemerintah terhadap mayarakat tingkat bawah sehingga masyarakat memiliki kemudahan dalam menyuarakan aspirasinya.

g. Kemajuan teknologi informasi dan media Pada 5 tahun terakhir ini perkembangan teknologi informasi, seperti internet, fax, telepon genggam, telah memudahkan Nasyiatul Aisyiyah periode ini dalam

melakukan komunikasi dengan

stakeholder dan anggota Nasyiatul Aisyiyah dimanapun berada. Nasyiatul Aisyiyah saat ini telah memiliki website sebagai media dengan berbagai manfaat sekaligus, bahkan jaringan facebook Nasyiatul Aisyiyah bukan hanya di tingkat daerah, tetapi juga hingga tingkat ranting. Hal ini tentu perlu ditindaklanjuti agar keberadaan Nasyiatul Aisyiyah di dunia maya bukan hanya sebagai sarana

24 Nasyiatul Aisyiyah

ekspresi individu atau eksistensi organisasi, tetapi menjadi sebuah gerakan sosial baru sebagaimana yang telah terjadi dalam kasus Prita Mulyasari dan pembelaan terhadap KPK. Namun disisi lain kebebasan media menjadi tantangan tersendiri untuk menyaring berbagai informasi berbasis teknologi yang kemungkinan

tidak

sesuai

dengan

kepribadian

Islam

dan

mempengaruhi perkembangan psikologi anak serta menimbulkan degradasi moral. Oleh karena Nasyiatul Aisyiyah harus mampu menghadapi gencarnya media yang tidak mendidik tersebut dan mengurangi dampak negatif media melalui berbagai program kegiatan alternatif dan sosialisasi untuk memilih media yang sehat.

h. Suksesi nasional dimana proses ini akan menentukan masa depan bangsa. Nasyiatul Aisyiyah adalah bagian dari generasi muda yang sudah seharusnya mengambil peran sentral dalam proses regenerasi kepemimpinan

nasional.

Apakah

Nasyiatul

Aisyiyah

sebagai

organisasi perempuan akan memilih menjadi bagian dari regenerasi ini atau menjadi penonton kritis perlu dipikirkan kembali. Hal ini menyangkut pula Undang-undang kepemudaan kita yang menyatakan usia pemuda hingga 30 tahun sedangkan AD ART Nasyiatul Aisyiyah mencantumkan usia keanggotaan hingga 40 tahun. Selain itu, isu-isu keperempuanan

yang

menyangkut

Rancangan

Undang-undang

Keadilan dan Kesetaraan Gender, masih banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, rendahnya pendidikan, trafiking, angka kematian ibu dan anak, perkawinan usia dini dan buruh migran adalah isu-isu yang masih terus mengakar dan belum juga lepas dari kondisi aman. Kepemimpinan pada pemilu 2014 tentu akan berpengaruh pada isu-isu yang dihadapi Nasyiatul Aisyiyah, bagaimana pula Nasyiatul Aisyiyah mendeskripsikan kepemimpinan yang diharapkan pada 2014, serta bagaimana pula pula Nasyiatul Aisyiyah menentukan posisinya.

Tanfidz Muktamar XII

25

2.

Pembacaan atas kondisi internal Nasyiatul Aisyiyah Sebagai sebuah organisasi yang telah cukup umur, Nasyiatul Aisyiyah memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam membangun sebuah gerakan yang dapat eksis hingga saat ini. Eksistensi ini tentunya didukung oleh berbagai kekuatan dan juga dihambat oleh berbagai kelemahan baik secara personal sumber daya manusianya, maupun secara kelembagaan. a. Sumber Daya Manusia 1) Antara kapasitas pimpinan dan gerak organisasi. Nasyiatul

Aisyiyah

mempunyai

kapasitas

personal

pimpinan yang cukup memadai. Tingginya tingkat pendidikan pimpinan

Nasyiatul

Aisyiyah,

dimana

61%

pimpinan

berpendidikan sarjana dengan berbagai latar belakang keilmuan, menunjukkan bahwa sumber daya Nasyiatul Aisyiyah adalah kalangan terdidik yang mampu berpikir secara konseptual dan bertindak secara profesional. Belum lagi usia anggota pimpnan yang tergolong usia produktif. Hal ini merupakan kekuatan sumber daya yang penting bagi gerakan Nasyiatul Aisyiyah yang lebih progresif dan dinamis serta bagi terbentuknya kader-kader Nasyiatul Aisyiyah yang mampu berperan dalam transformasi sosial. Namun sayangnya, seringkali kapasitas yang tinggi ini belum dapat bersinergi dengan gerak organisasi. Pendidikan sarjana baik S1 dan S2 yang telah ditempuh pimpinan belum didayagunakan untuk meningkatkan dan menciptakan kebijakan dan program yang kreatif dan inovatif. Menunggu instruksi dan petunjuk teknis dari pimpinan di atasnya menjadi kebiasaan yang masih sulit ditinggalkan. Demikian halnya dengan profesi para pimpinan yang cukup beragam, belum dikembangkan semaksimal mungkin untuk kemajuan Nasyiatul Aisyiyah dan oleh Nasyiatul Aisyiyah. Dari aspek politik, peran keummatan yang terkait dengan pengambilan keputusan kebijakan publik nampaknya belum dilakukan secara optimal. Kontribusi Nasyiatul Aisyiyah terhadap

26 Nasyiatul Aisyiyah

kebijakan publik baru bersifat pernyataan sikap yang

agak

reaktif, dan partisipan sebagai calon legislatif atau pun anggota partai, namun belum sampai pada pengusulan-pengusulan kebijakan publik

meskipun kesadaran politik pimpinan dan

anggota Nasyiatul Aisyiyah sudah cukup memadai.

2) Antara multiperan dan konflik internal Produktifitas Pimpinan bukan hanya berkaitan dengan sisi biologis, tetapi juga sisi peran sosial sebagai ibu, pekerja, dan aktifis sosial. Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah seringkali disibukkan dengan aktifitas kerja, keluarga, dan rangkap jabatan baik di internal Muhammadiyah maupun eksternal. Multi peran ini dapat saja didayagunakan bagi kemajuan Nasyiatul Aisyiyah. Namun hal ini juga berdampak pada terbatasnya waktu untuk beramal shaleh di Nasyiatul Aisyiyah. Sehingga gerak langkah organisasi harus tertumpu pada segelintir orang

Pimpinan, belum lagi

konflik internal yang bersifat kontraproduktif bagi konsolidasi pimpinan, yang disebabkan oleh terhambatnya komunikasi, pelimpahan beban tugas, atau pun elitnya pengambilan keputusan. Sedikitnya

Pimpinan

yang

dapat

menjalankan

organisasi

menjadikan para pimpinan seringkali terjebak dalam rutinitas (aktivisme) organisasi yang bersifat administratif.

3) Regenerasi kepemimpinan Keterbatasan sumber daya kader di hampir semua level kepemimpinan menyebabkan stagnasi regenerasi yang cukup serius di wilayah dan daerah tertentu. Kondisi ini juga didukung oleh kurang rutinnya penyelenggaraan perkaderan-perkaderan formal dan non formal, terutama di tingkat wilayah dan daerah. Alasan yang sering diajukan adalah belum terbentuknya tim instruktur/fasilitator yang solid di hampir semua level pimpinan. Terhambatnya regenerasi kepemimpinan bukan hanya berkaitan dengan sedikitnya kader, tetapi juga terkait dengan masih banyaknya pimpinan lama yang tidak mentransfer amanah dan

Tanfidz Muktamar XII

27

informasi kebijakan kepada pimpinan baru. Sehingga pimpinan yang baru kurang mengetahui tentang kebijakan atau program yang

lama,

bahkan

tidak

jarang

buku-buku

panduan

keorganisasian seperti SPNA, AD/ART, Panduan Departemen, dsb. juga tidak diserahkan kepada pimpinan yang baru. Akibatnya tidak ada kesinambungan program antara pimpinan periode lama dengan periode baru.

4) Antara volunterisme dan partisipasi paruh waktu Komitmen yang tinggi dari anggota dan pimpinan dalam memperjuangkan

cita-cita

Nasyiatul

Aisyiyah

merupakan

kekuatan sehingga organisasi Nasyiatul Aisyiyah dapat eksis sampai sekarang. Keberadaan Nasyiatul Aisyiyah bukan hanya sekedar sebagai suatu kebutuhan dasar namun telah menjadi media bagi aktuliasasi diri perempuan sehingga keikhlasan untuk berkorban baik dari materi maupun non materi para pimpinan dan anggota Nasyiatul Aisyiyah tidak diragukan lagi. Namun

ada

konsekuensi

yang

harus

dibayar

dari

kesukarelawanan tersebut, yaitu terbatasnya waktu dan perhatian yang dapat diberikan, sesuai kesempatan yang dimiliki oleh pimpinan tersebut, serta kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan pun lebih bersifat kegiatan kedermawanan.

b. Kelembagaan 1) Relasi dengan Organisasi Induk Sebagai organisasi induk, seharusnya Muhammadiyah dan Aisyiyah memberikan perhatian kepada Nasyiatul Aisyiyah. Namun selama ini pertemuan khusus dalam rangka pembinaan ortom sangat kurang. Pertemuan antara Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah lebih sering diinisiasi oleh Ortom karena audiensi atau forum pelatihan. Jarak ini menjadikan komunikasi yang dibangun antara Nasyiatul Aisyiyah dan Muhammadiyah lebih bersifat berdasar kebutuhan material atau finansial. Forum-

28 Nasyiatul Aisyiyah

forum transfer nilai dan wawasan dalam rangka pengembangan ortom masih sangat kurang. Sedangkan dengan 'Aisyiyah, meskipun relasi dengan Nasyiatul Aisyiyah lebih baik dari Muhammadiyah, namun kemiripan fokus gerakan dan irisan usia di antara keduanya, seringkali justru berdampak pada persaingan program, dan perebutan kader, misalnya program kesehatan reproduksi remaja yang selama ini telah ditangani Nasyiatul Aisyiyah, tiba-tiba menjadi program kerjasama 'Aisyiyah dengan lembaga donor dan tim pelaksana di berbagai daerah diambilkan dari para pimpinan Nasyiatul Aisyiyah. Hal lainnya, seringkali 'Aisyiyah menjadikan pimpinan Nasyiatul Aisyiyah sebagai anggota pimpinan juga di 'Aisyiyah, sehingga terkadang harus merangkap jabatan, dan tidak jarang Nasyiatul Aisyiyah yang dikorbankan.

2) Pemahaman Konsep Gerakan Konsep gerakan merupakan gambaran dasar misi Nasyiatul Aisyiyah. Kejelasan misi akan menjadi penentu/kekhasan yang membedakan antara gerakan Nasyiatul Aisyiyah dengan gerakan perempuan lainnya. Sayangnya konsep gerakan ini belum secara masif diinternalisasikan di kalangan Pimpinan maupun anggota Nasyiatul Aisyiyah. Akibatnya metodologi penerapan gerakan Nasyiatul Aisyiyah hanya berdasarkan pada pemahaman masingmasing Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah, bukan berdasarkan landasan

konsepsional

yang

dimiliki

Nasyiatul

Aisyiyah.

Sehingga warna gerakan Nasyiatul Aisyiyah pun menjadi beragam di masing-masing wilayah. Keragaman yang tanpa ciri khas justru akan menimbulkan konflik di antara pimpinan Nasyiatul Aisyiyah.

3) Struktur mirip Negara dan kompleksitasnya Sebagai organisasi kemasyarakatan yang mempunyai struktur mirip Negara, mulai dari desa hingga pusat, Nasyiatul Aisyiyah memiliki kekuatan jejaring struktur kelembagaan yang

Tanfidz Muktamar XII

29

luas, yang jika semuanya bergerak dapat menjadi alat penekan yang cukup efektif. Namun besarnya struktur juga bisa menjadi hambatan karena birokrasi menjadi lebih panjang. Belum lagi ketersediaan sarana prasarana yang belum tentu dimiliki oleh semua tingkat pimpinan, misalnya tidak semua wilayah, cabang dan daerah yang memiliki kesekretariatan permanen. Kombinasi dua hal ini tentu akan menghambat proses sosialisasi kebijakan yang efektif. Kesekretariatan menjadi sangat penting karena disanalah data-data organisasi yang faktual, valid dan akurat tersimpan dan dapat diakses oleh pimpinan selanjutnya.

4) Keterbatasan dana dan kerja sama Karena sifatnya sebagai organisasi sukarela, salah satu konsekuensinya adalah Nasyiatul Aisyiyah tidak mempunyai sumber dana yang reguler dan pasti. Keterbatasan dana sering menjadi alasan tidak berjalannya program yang direncanakan. Sehingga program kerja sama seringkali menjadi salah satu sumber pendanaan yang penting. Ketidaksiapan para pengelola program

dan infrastruktur dapat menjadikan pelaksanaan

program masih menemui kendala sehingga kelemahan ini menyebabkan target program sebagian tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini juga terlihat dalam pembentukan pusatpusat pembelajaran keluarga (Family Learning Center) baik yang berupa Pusat Pendampingan Keluarga “Sahabat Keluarga�, Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiyah (BUANA), maupun pusat Pelatihan

Kepemimpinan.

Pusat-pusat

pendampingan

ini

seharusnya menjadi wadah untuk menyiapkan kader dan advokasi non litigasi yang dapat bermanfaat tidak hanya untuk para anggota namun masyarakat umum, namun dalam realitanya belum berjalan secara optimal karena terbatasnya kapasitas dan waktu para penggiatnya.

30 Nasyiatul Aisyiyah

IV. ANALISIS SWOT Analisa SWOT adalah membandingkan faktor-faktor peluang dengan kekuatan dan kelemahan, serta faktor-faktor ancaman dengan kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh organisasi untuk selanjutnya dirumuskan upayaupaya untuk meraih peluang dan mengatasi tantangan. Sebagai bahan acuan analisis SWOT, maka berikut ini adalah tabel peluang, tantangan, kekuatan dan kelemahan yang dihadapi/dimiliki Nasyiatul Aisyiyah:

INTERNAL EKSTERNAL KEKUATAN KELEMAHAN PELUANG TANTANGAN PERSONAL  Tingkat  Kapasitas kader  Adanya  Problem sosial di pendidikan dalam kemudahan akses tingkat nasional pimpinan dan menghandle informasi maupun lokal  Semakin anggota isu-isu agama teradapat gencarnya Nasyiatul maupun sosial persoalan yang feminisme liberal; Aisyiyah rata-rata masih lemah berkembang di liberalisme, sarjana dengan padahal masyarakat radikalisme, spesialisasi yang organisasi revivalisme komplek Nayiah adalah  Budaya pop ormas keagamaan  Konflik berbasis agama, ras, suku dan golongan  Transnasional ideologi  Semangat  Volunterisme  Ketersediaan  Organisasi yang volunterisme masih instrumen IT tidak dikelola (kesukarelawana “seikhlasnya� untuk mentracer, dengan cara-cara n) yang tinggi menggerakkan baru akan kader ditinggalkan. Volunterisme harus dikelola secara proporsional dan profesional  Kader Nasyiatul  Rentang  Dimungkinkan  Gerakan yang Aisyiyah berada kelompok usia untuk membuat tidak fokus pada usia Nasyiatul program yang kesulitan produktif Aisyiyah variatif memposisikan

Tanfidz Muktamar XII

31

sehingga potensial gerak Nasyiatul Aisyiyah menjadi dinamis dan progresif  Multiperan anggota NA di ranah domestik dan publik  Mobilitas personal yang tinggi

variatif, pelajar, mahasiswa, ibu muda, sulit memfokuskan program

dalam konstelasi masyarakat yang kompleks

 Rangkap  Posisi dikuasai jabatan tanpa harus pimpinan dan mengorbankan anggota NA. domestik  Turn over  Sudah ada sistem kader pimpinan Tracer and tinggi di semua Transfer Kader level pimpinan (krisis kader secara kuantitas dan kualitas)

 Peran publik Nasyiatul Aisyiyah belum cukup tampak  Kader Nasyiatul Aisyiyah terjaring ke parpol, ormas lain, jaringan lain

 Kader Nasyiatul Aisyiyah melek teknologi

 Mekanisme organisasi dengan IT masih bermasalah

 Dunia IT dikuasai oleh kapitalis

 Kader Nasyiatul Aisyiyah pribadi pembelajar

 Political awareness masih rendah

 Sudah memiliki basis pemahaman kesetaraan gender

 Paradigma  Ada wacana dan  Posisi tidak jelas gender belum kebijakan dalam tuntas (holystik) pemerintah yang keberagaman arus mengarusutamaka gender n kesetaraan dan keadilan gender

 Jaringan yang terstruktur dari tingkat pusat sampai ranting

 Sarana prasarana IT mendukung di seluruh penjuru jaringan Nasyiatul Aisyiyah  Anggota Nasyiatul Aisyiyah potensial bergerak di isu politik dan sosial

KELEMBAGAAN  Kondisi  Belum memiliki struktur konsep, metode jaringan yang dan strategi belum solid dan untuk massifikasi

32 Nasyiatul Aisyiyah

 Dinamika sosial politik sangat tinggi

 Jaringan Nasyiatul Aisyiyah dimanfaatkan ormas dan parpol

 Program yang bervariatif

efektif (data organisasi tidak vaktual dan akurat)  Problem finansial organisasi yang belum mapan

gerakan.

 Organisasi besar

 Terjebak rutinitas organisasi .  Program kerja yang dibuat kurang memenuhi kebutuhan spiritual, bakat dan minat para anggota

 Program dijalankan dengan mitra

 Posisi tawar dan kebergantungan terhadap pemerintah dan lembaga donor  Keberadaan organisasi sebatas rutinitas

 Struktur pimpinan organisasi mapan

 Dinamika organisasi tertumpu pada segelintir orang  Keterbatasan sumberdaya kader di semua level pimpinan  Tidak tersedianya data base kader.  Potensi kader belum terpetakan  Keterlibatan dalam isu-isu publik, kebangsaan, lemah

 Potensi beberapa pimpinan

 Pimpinan yang tidak aktif

 Potensi kader yang luar biasa

 Organisasi akan ditinggalkan

 Sudah memiliki instrumen Tracer dan transfer  Sudah memiliki instrumen Tracer dan transfer  Keterbukaan pemerintah, kebijakan otonomi daerah membuka akses bagi keterlibatan Nasyiatul Aisyiyah

 Kader-kader akan lari

 Struktur organisasi mapan

 Jumlah kader banyak  Jumlah kader banyak  Belum memiliki infrastuktur da (kesekertariatan)

 Adanya tawaran kerjasama dari pihak pemerintah dan donor

lain

 Kader-kader akan lari  Wacana ormas LSM dan gerakan lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kita semakin dominan

Tanfidz Muktamar XII

33

ditingkat nasional dan lokal  Jumlah desa yang sangat banyak

 Nasyiatul Aisyiyah berstruktur lengkap

 Nasyiatul Aisyiyah lebih berbasis perkotaan dan kurang berbasis pedesaan ( kurang aktif di grass root)

 Organisasi besar

 Belum  Kader yang optimalnya banyak dan peran potensial kebangsaan kader Nasyiatul Aisyiyah  Kurang fokusnya program Nasyiatul Aisyiyah, sehingga menjadikan Nasyiatul Aisyiyah tidak mempunyai kekhasan yang membedakanny a dengan organisasi perempuan lain.  Berbedanya kondisi Nasyiatul Aisyiyah di Wilayahwilayah  Sosialisasi informasi keorganisasian

34 Nasyiatul Aisyiyah

 Desa tidak tersentuh NA, diisi yang lain yang belum tentu berdampak baik

 Organisasi semakin tidak bermanfaat

 Nasyiatul Aisyiyah belum akrab dengan media  Organisasi massa

 Organisasi berbasis perempuan yang mendukung kesetaraan Organisasi dakwah Organisasi besar

 SOSIAL Bergerak di bidang sosial termasuk budaya Organisasi masyarakat besar

Memiliki semangat advokasi

yang tidak tersampaikan ke level pimpinan yang paling bawah, hanya berhenti di wilayah  Nasyiatul Aisyiyah kurang populer di media  Posisi politik masih rendah daya tawarnya  Konsep gender secara kelembagaan belum ada  Belum ada Pemetaan objek dakwah  Posisi tawar Nasyiatul Aisyiyah di internal muhammadiyah dan eksternal (pemerintahan)

 Jaringan media terbuka terhadap siapapun

 Media berorientasi kapitalis, liberal,

 Politik terbuka

 Larut dalam percaturan politik

 Pengarusutamaan gender dikembangkan pemerintah

 Konsep di masyarakat kabur

 Dakwah muliti media

Masyarakat tidak tersantuni dakwah NA  Warna Nasyiatul Aisyiyah di Muhammadiyah dan pemerintah tidak tampak

 Organisasi perempuan semakin dikuatkan

 Paradigma yang sama memandang budaya  Belum ada bergaining politik

Kaya budaya dari seluruh penjuru nusantara

 Belum bisa menerapkan program advokasi

Berbagai model advokasi

Politik terbuka

Hybrid culture

Tersingkir dalam arus politik yang sedemikian dinamis berputar Tersingkir jika tidak secara nyata bergerak

Tanfidz Muktamar XII

35

Strategi KekuatanPeluang

Strategi Kelemahan - Peluang

Strategi KekuatanTantangan

 Merumuskan program dan menjalin kerja sama dengan lembaga dalam dan luar negeri yang peduli terhadap isu perbaikan hidup perempuan dan anak.  Mengoperasikan teknologi informasi untuk melakukan koordinasi, komunikasi antar jaringan struktur dan publikasi kegiatan Nasyiatul Aisyiyah bukanlah hal sulit.  Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah di tingkat lokal secara efektif mendesakkan kebijakankebijakan publik dan kepentingankepentingan Nasyiatul Aisyiyah kepada pemda setempat, baik dalam pelaksanaan program maupun

 Menguatkan koordinasi dan komunikasi antar pimpinan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi  Menggiatkan dan menumbuhkan ranting dan cabang di perkotaan dan pedesaan sebagai salah satu upaya untuk membangun daerah  Menyusun dan melaksanakan programprogram peningkatan hidup perempuan dan anak dengan berbasis masalah/kondisi perempuan dan anak setempat, bekerja sama dengan pemerintah daerah atau lembaga setempat, sebagai salah satu upaya

 Merumuskan konsep jender dalam konteks Islam yang disepakati bersama, dan mampu mengcounter aliran feminisme lain.  Mengusahakan penggalian fundrising untuk membiayai sebagian programnya, sehingga tidak akan bergantung pada donor secara penuh.  Literasi media yang ramah perempuan dan anak

36 Nasyiatul Aisyiyah









Strategi KelemahanTantangan Meneguhkan dan menguatkan ruh komitmen para pimpinan Nasyiatul Aisyiyah, serta menciptakan sistem organisasi yang efektif bagi koordinasi dan komunikasi para pimpinan Mengintensifkan program-program perkaderan untuk mendidik jiwa kepemimpinan dan semangat berorganisasi kader Nasyiatul Aisyiyah. Meningkatkan kesadaran dan peran Nasyiatul Aisyiyah dari tingkat pusat hingga ranting dalam persoalan jender dan Islam, dan resolusi konflik. Memfokuskan isu-isu programprogram tertentu, misalnya feminisme dan isu-isu perempuan, pendidikan media, resolusi

pendanaan.

pendanaan program.  Mengorganisir warga perempuan untuk terlibat dalam programprogram Nasyiatul Aisyiyah

konflik, dsb. Pada wilayahwilayah atau daerah-daerah yang rawan terhadap masalah atau isu tersebut  Menggalakkan berbagai model fundrising/penda naan  Meningkatkan kemampuan para kader Nasyiatul Aisyiyah dalam pengelolaan program  Menyusun program dan kegiatan yang terkait dengan isu perempuan dan anak, yang dapat memenuhi kebutuhan spiritual, bakat dan minat anggota.

Pilihan isu-isu strategis Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka isu-isu strategis Nasyiatul Aisyiyah periode 2012–2016 adalah sebagai berikut: 1. Revitalisasi manajemen organisasi dengan optimalisasi struktur pimpinan dan kelembagaan. 2. Pengarusutamaan perkaderan dalam kepemimpinan. 3. Menggerakkan Dakwah Terpadu Nasyiatul Aisyiyah. 4. Menciptakan budaya profetik. 5. Internalisasi gender perspektif Nasyiatul Aisyiyah. 6. Pemanfaatan media untuk penguatan gerakan dan jaringan.

Tanfidz Muktamar XII

37

7. Pengembangan metode fundrising untuk kemandirian organisasi. 8. Menggerakkan aksi Advokasi perempuan dan anak. 9. Menguatkan kesadaran dan kapasitas politik.

V. KEBIJAKAN PROGRAM 2012–2016 A.

Arah Kebijakan program Kebijakan adalah serangkaian aktifitas strategis agar dapat merealisasikan tujuan (objective) jangka pendek. Pada periode ini kebijakan

program

diarahkan

pada

”Pendidikan

profetik

untuk

mensinergikan sumber daya advokasi bagi perempuan dan anak” Gerakan aksi pendampingan yang dilakukan Nasyiatul Aisyiyah diinspirasi oleh ajaran Islam tentang amar ma’ruf nahi munkar. Kita tentu ingat bahwa Allah berfirman dalam surat Ali-Imran: 110:

110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Dalam memahami makna ayat ini, menarik sekali bahwa Kuntowijoyo, seorang budayawan Muhammadiyah, mengatakan bahwa dakwah Islam haruslah memuat tiga unsur yaitu amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi/pembebasan), tu’minuna billah (transendensi). Amar ma’ruf, ajakan berbuat baik, haruslah memanusiakan manusia, bukannya merendahkan derajat manusia. Nahi munkar, mencegah kemunkaran, haruslah membebaskan manusia dari penindasan, bukannya menciptakan penindasan. Keduanya tentu dilengkapi dengan menyeru beribadah kepada Allah. Pemaknaan tersebut menjadi lebih kaya, dengan penafsiran Buya Hamka, ahli Tafsir yang juga tokoh Muhammadiyah. Dalam tafsir al-

38 Nasyiatul Aisyiyah

Azharnya, beliau menjelaskan bahwa ma’ruf berasal dari kata ‘urf, yang artinya “yang dikenal”, atau “yang dapat dimengerti dan dapat dipahami serta diterima oleh masyarakat”. Perbuatan ma’ruf itu, jika dikerjakan, dapat diterima dan dipahami oleh manusia, dan dipuji, karena begitulah yang patut dikerjakan oleh manusia. Sedangkan munkar berarti “yang dibenci, yang tidak disenangi, yang ditolak oleh masyarakat, karena tidak patut, tidak pantas. Tidak selayaknya yang demikian itu dikerjakan oleh manusia berakal”. Ini artinya kriteria yang baik atau buruk ditentukan oleh pendapat umum atau pendapat masyarakat. Berdasarkan pemaknaan-pemaknaan tersebut maka kita bisa menyimpulkan bahwa mendampingi para tenaga kerja wanita yang dianiaya majikannya, para isteri yang mengalami kekerasan, anak yang ditelantarkan, memberikan pelayanan gizi dan kesehatan yang memadai bagi para Ibu, memberikan pendidikan yang tinggi pada perempuan, membantu kemandirian ekonomi perempuan, dengan dilandasi oleh keimanan adalah amar ma’ruf nahi dan nahi munkar, karena perbuatanperbuatan tersebut memanusiakan manusia dan membebaskan manusia dari penindasan, juga wujud ibadah muamalah kita. Hati nurani dan pendapat umum masyarakat juga pasti membenci segala bentuk penganiayaan, penelantaran, dan ketidakadilan. Karena itu segenap kader Nasyiatul Aisyiyah seluruh Indonesia harus beramar ma’ruf nahi munkar, sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah, bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan konsep dakwah dan perjuangan secara damai dalam bentuk aksi nyata. Amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar bil ma’ruf. Mari melakukan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan kita dan terus berusaha meningkatkannya hingga tingkatan yang tertinggi, sebagaimana sabda Rasul:

”Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengingkari dengan tangannya, Barang siapa tidak mampu, maka dengan mulutnya,

Tanfidz Muktamar XII

39

barang siapa tidak mampu, maka dengan hatinya, dan demikian itu adalah selemah-lemah Iman� (H.R Tirmidzi) Mengingkari kemungkaran berarti merubah kemungkaran tersebut menjadi kema’rufan. Sebagai kader Nasyiatul Aisyiyah yang berkualitas tentunya kita tidak hanya bisa melakukan perubahan dengan hati, atau bersikap pasif, mendiamkan persoalan begitu saja karena terlalu sibuk dengan urusan diri sendiri. Padahal Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah menasehati murid-murid perempuannnya �agar urusan dapur jangan jadi penghalang untuk menjalankan tugas dalam menghadapi masyarakat�. Minimal kader Nasyiatul Aisyiyah mampu melakukan perubahan secara lisan dengan mengingatkan pihak-pihak terkait seperti pemerintah, tokoh masyarakat, ulama, agen PJTKI, suami, Ibu, dsb. Menyampaikan nasehat, meringankan dan menghibur hati perempuan atau anak yang menjadi korban dengan penuh empati dan simpati. Mengusulkan alternatif solusi ataupun menuliskannya. Tentunya merubah secara lisan saja belum cukup, maka perlu ditindak lanjuti dengan usaha-usaha merubah dengan kekuatan, kekuasaan, kemampuan

dalam

bentuk

suatu

perbuatan/tindakan/aksi

nyata.

Menghimpun semua kekuatan Nasyiatul Aisyiyah dan korban baik secara personal maupun institusional untuk merubah kebijakan dan perilaku yang tidak

adil

terhadap

perempuan,

misalnya

menyediakan

rumah

perlindungan sementara, mendampingi secara intensif agar harga dirinya tumbuh kembali, memberdayakan ekonominya, menyediakan layananlayanan bagi kebutuhan perempuan dan anak. Ketercapaian arah kebijakan periode ini diukur oleh: 1.

Berjalannya

fungsi

dan

peran

struktur

kepemimpinan

dan

kelembagaan 2.

Intensifnya peningkatan kapasitas advokasi bagi kader Nasyiatul Aisyiyah

3.

Massifnya upaya-upaya penyadaran Nasyiatul Aisyiyah terhadap masalah perempuan dan anak di masyarakat

40 Nasyiatul Aisyiyah

B. Pengorganisasian dan pelaksanaan program Kebijakan ini diterjemahkan dalam bidang-bidang garap program Nasyiatul Aisyiyah. Bidang program merupakan bidang garapan/gerak program-program Nasyiatul Aisyiyah yang mengacu pada AD/ART pasal 2, bahwa Nasyiatul Aisyiyah adalah organisasi otonom dan kader Muhammadiyah, merupakan gerakan putri Islam, yang bergerak di bidang keperempuanan, kemasyarakatan, dan keagamaan. Karenanya bidang garap Nasyiatul Aisyiyah adalah bidang keorganisasian, bidang keislaman, bidang kaderisasi, dan bidang kemasyarakatan. Arah dan kebijakan bidang program adalah tujuan dan strategi yang akan menjadi pedoman bagi perumusan program kerja dan kegiatan di setiap tingkat pimpinan selama periode 2012–2016, baik bagi pimpinan harian, departemen, biro maupun lembaga. Meskipun demikian bidang program tidaklah identik dengan departemen. Satu bidang program dapat dijabarkan dalam berbagai kegiatan yang dikoordinasikan pelaksanaannya oleh berbagai departemen sesuai dengan fokus kegiatan. Misalnya program-program bidang organisasi dijabarkan dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pimpinan Harian, Departemen

Komunikasi

dan

Informasi,

Lembaga

Kajian

dan

Pengembangan Organisasi, Biro Hubungan Luar Negeri, dan Lembaga Penerbitan. Program-program bidang Kader dan Keislaman dijabarkan dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Departemen Kader dan Dakwah. Program-program bidang Kemasyarakatan dijabarkan dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan, Departemen Sosial dan Ekonomi, Departemen Seni Budaya, dan sebagainya. Bidang pendidikan dijabarkan oleh Departemen Pendidikan, Departemen Hikmah dan Advokasi. Nama dan jumlah departemen dalam contoh tersebut bukanlah hal yang baku, kecuali Departemen Kader dan Dakwah. Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Ranting berhak menentukan jumlah dan nama bagi departemen dalam struktur organisasi sesuai dengan kondisi dan sumber dayayang dimiliki masing-masing. Adapun tujuan dan strategi tiap-tiap bidang tersebut adalah sebagai berikut dalam matrik program bidang.

Tanfidz Muktamar XII

41

MATRIKS PROGRAM BIDANG NASYIATUL AISYIYAH PERIODE 2012-2016 1. Bidang Organisasi Isu strategis

Tujuan

Strategi

Program

1. Revitalisasi manajemen organisasi dengan optimalisasi struktur pimpinan dan kelembagaan.

Menciptakan sistem organisasi yang efisien (tepat waktu) dan efektif (tepat guna)

Meningkatkan efektivitas koordinasi dan komunikasi di setiap level pimpinan dalam menggerakkan organisasi.

aktivitas

Merumuskan konsep manajeman -Workshop berdasarkan level hierarkhis organisasi pimpinan -Penerbitan organisasi Menyediakan sarana dan Mengelola prasarana sekretariat sebagai sekretariat pusat untuk menggerakkan organisasi dan menjadi pusat infomarsi

Menyusun Cabang

42

Nasyiatul Aisyiyah

manajeman panduan keberadaan

buku

panduan

Hasil yang diharapkan 2016 Terciptanya mekanisme kerja yang tidak tumpang tindih antar struktur level pimpinan 100 % Pimpinan Wilayah, 75 % dari Pimpinan Daerah dan 55 % dari Pimpinan Cabang memiliki Sekretariat Tetap Tersedia materi organisasi (buku panduan, buku-buku administrasi) di setiap level seretariat Mengupayakan akses internet di semua level pimpinan Setiap Pimpinan daerah memiliki Minimal 3 pimpinan Cabang yang aktif

2. Pemanfaatan media untuk sinergi dan penguatan jaringan

Menjadikan media untuk penguatan eksistensi dan jaringan Nasyiatul Aisyiyah

Mendorong organisasi dan Membangun kerjasama dengan MoU dengan media publik kader memanfaatkan media media publik untuk publikasi dan komunikasi secara internal maupun ekstenal

Mengelola jejaring sosial untuk penguatan jejaring organisasi Mengintensifkan penerbitan media Membangun Nasyiah

3. Pengembangan Terciptanya metode penggalian kemandirian dana untuk organisasi kemandirian organisasi.

Meningkatkan perencanaan berdasarkan kebutuhan.

jaringan

Organisasi dan kader Nasyiah bersinergi di media publik (tulisan dan atau anggota berita kegiatan Nasyiah muncul di berbagai media massa)

Tim Task Force Sistem Adanya Sistem Jejaring jejaring sosial Sosial Nasyiah -Penerbitan secara berkala Terbitnya media pada dan berkelanjutan setiap level pimpinan

penulis Membentuk kelompok Terbentuknya penulis Nasyiatul Aisyiyah kelompok penulis Nasyiatul Aisyiyah di setiap level pimpinan

Memetakan fokus program Workshop penggalian dana program sesuai dengan kondisi dan analisa potensi lokal.

Mengembangkan jalinan Memfungsikan lembaga non Membuat kerjasama penggalian dana struktural sebagai sarana dana dengan lembaga lain di fundrising. dalam dan luar negeri.

Tanfidz Muktamar XII

43

tim

Adanya kerjasama dengan lembaga penggalian dana.

penggalian Adanya MoU berkelanjutan dengan lembaga-lembaga penggalian dana, minimal 3 di tingkat pusat, wilayah dan daerah

Adanya kontribusi dana dari tiap-tiap lembaga non struktural, di setiap tingkat pimpinan

2. Program Bidang Kader dan Keislaman Isu strategis

Tujuan

1. Pengarusutamaan perkaderan dalam kepemimpinan

Terwujudnya kader Nasyiatul Aisyiyah yang dapat menghimpun, mengembangka n, dan mendayagunaka n potensi untuk aktif berkiprah menggerakkan masyarakat

Strategi

Program

Meningkatkan Internalisasi Revisi dan Sosialisasi pedoman panduan perkaderan sebagai Perkaderan Nasyiatul Aisyiyah pedoman dalam di segenap level pimpinan mentransformasikan nilainilai ideologis gerakan

Aktivitas

Hasil yang diharapkan 2016 - Revisi 100 % PW, 75 % - Sosialisasi SPNA Pimpinan Daerah dan 50 - Sosialisasi silabus % Pimpinan Cabang perkadera tersosialisasi SPNA dan - Sosialisasii modul Modul Perkaderan Perkaderan

Massifikasi perkaderan pada Perkaderan secara berkala bagi Pengelolaan perkaderan 75 % anggota PW, 65 % setiap level pimpinan pimpinan minimal 1 periode Formal, Non Formal dan anggota PD dan 55 % sekali anggota PC telah Informal mengikuti proses perkaderan. Meningkatkan kuantitas dan Mensosialisasikan sistem Tracer Pelatihan singkat tracer dan Setiap level pimpinan

44

Nasyiatul Aisyiyah

kualitas kader agar krisis dan Transfer Kader di setiap transfer kader kader tidak terjadi level pimpinan

mendapat tambahan 10 % sumber daya pimpinan pertahun Memetakan potensi kader Pemetaan potensi kader Menyusun peta kader Adanya bank data secara sistemik potensi kader pimpinan di tingkat pusat, wilayah, dan daerah Meningkatkanan kualitas dan Mengoptimalkan peran -Mengelola korps instruktur 75 % PW, 65 % PD, 55 kuantitas output perkaderan ekstrainer perkaderan dalam Nasyiah % PC memiliki Korps mengembangkan dan mengelola Instruktur perkaderan 2. Menggerakka n dakwah terpadu Nasyiah

Terciptanya pemahaman tentang Islam yang utuh bagi kader-kader Nasyiah yang kemudian mampu diinternalisasika n dan diaktualisasikan untuk kepentingan kehidupan ummat manusia

Meningkatkan pemahaman kader mengenai nilai-nilai keIslaman dan mener apkan dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan berganisasi

Menggerakkan kajian-kajian keislaman serta mengaplikasikan kehidupan Islami dalam kehidupan seharihari setiap kegiatan berorganisasi

-Kultum dalam kegiatan organisasi -Qiroatul Qur’an dalam kegiatan organisasi -Menghidupkan Shalat Wajib dan sunnah baik berjamaah ataupun munfarid dalam kegiatan berorganisasi

Tanfidz Muktamar XII

45

-Terbentuknya Kualitas Keislaman yang semakin baik dengan indikator pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadi, organisasi, keluarga dan masyarakat. -Terbentuknya kelompok-kelompok pengajian NA yang intensif melakukan kajian Keislaman secara periodik minimal 1 minggu sekali dengan panduan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dalam kurikulum pengajian NA atau kajian

Meningkatkan pemahaman kader mengenai produk pemikiran Muhammadiyah dan Nasyiah mengenai dakwah

kontekstual di seluruh level kepemimpinan. Mensosialisasikan HPT, PHI, MenyelenggarakanKajian Semua level pimpinan Panduan Dakwah nasyiah HPT, PHI dan Panduan mengimplementasikan Dakwah Nasyiah Minimal 1 HPT PHI dan Panduan kali alam 1 periode Dakwah Nasyiah

Menggerakkan kajian intensif di kalangan pimpinan dan anggota Nasyiah khususnya tentang masalah sosial perempuan dan anak Meningkatkan kemampuan Mensosialisasikan dan berdakwah anggota Nasyiatul melaksanakan pelatihan Aisyiyah di media publik muballighot sesuai SPNA terbaru.

Menyusun pimpinan nasyiah

Meningkatkan kuantitas dan Membangun dan memelihara kualitas jaringan dakwah jaringan yang dimiliki lembaga maupun personal untuk keentingan dakwah Mengintegrasikan nilai-nilai Melakukan dakwah multimedia Islam dalam mensikapi dan multidimensi berbagai persoalan yang dihadapi ummat, khususnya masalah keluarga, perempuan dan anak-anak

Melakukan kerjasama dengan lembaga dakwah lain, pemerintah, media untuk melakukan dakwah Menyelenggarakan model dakwah bidang pendidikan di situs

46

Nasyiatul Aisyiyah

sistem kajian Adanya kajian pimpinan dan anggota minimal perbulan di setiap level pimpinan

Menyelenggarakan PMNA

PMNA terselenggara di PW PD dan PCNA Terbentuknya Korps Muballighat NA di setiap level pimpinan Semua level pimpinan memiliki minimal satu mitra dakwah model dimensi dakwah di satu media

3. Program Bidang Pendidikan Isu strategis 1. Menciptakan budaya profetik

Tujuan Terciptanya gerak Nasyiatul Aisyiyah yang dijiwai semangat profetik, (humanisme, liberasi dan transeden ) dalam aktifitas organisasi. (Q. S Ali-Imran 110)

Strategi Meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kapasitas kader Nasyiah dalam melakukan aksi profetik dalam memperjuankan hakhak perempuan dan anak.

Program Melakukan gerakan belajar alternatif bagi perempuan, anak, dan keluarga khususnya pada sektor pendidikan non formal.cth: parenting.

Aktivitas Hasil yang diharapkan 2016 Workshop pendidikan Lahirnya kelompok belajar berbasis profetik di kalangan dengan model pembelajaran aktifis nasyiah. Cth PAUD & yang dijiwai semangat Parenting. profetik bagi perempuan dan anak .

Memperluas jangkauan/akses pendidikan luar sekolah bagi perempuan putus sekolah, perempuan miskin, dan perempuan di pedesaan

Membuka layanan pendidikan life skill/ keaksaraan fungsional/ paket belajar di daerah sesuai kemampuan masing-masing tingkat pimpinan

Menyiapkan landasan keilmuan bagi aktivitas dan program Nasyiatul Aisyiyah sehingga dapat diterima secara ilmiah.

Adanya landasan teoritis bagi program-program Nasyiatul Aisyiyah di tingkat pusat dan wilayah

Membangun tradisi ilmiah di kalangan Nasyiatul Aisyiyah

Adanya kebiasaan berpikir yang terstuktur, rasional, dan solutif dalam menjalankan program

berfikir anggota

adanya sosialisasi anti kekerasan kepada masyarakat di semua tingkat pimpinan

Membangun kesadaran dan sikap anti kekerasan terhadap keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia Membangun

terjalinnya komunikasi dan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak untuk

kebiasaan

Tanfidz Muktamar XII

47

berkomunikasi dan bekerjasama dengan pihak yang beragam sebagai upaya mewujudkan perdamaian

2. Menguatkan Peningkatan kesadaran dan kapasitas politik kapasitas kader Nasyiah politik Nasyiah baik di tingkat lokal maupun nasional.

Meningkatkan efektifitas peran Nasyiatul Aisyiyah dalam pengambilan kebijakan publik

Pengembangan kapasitas perempuan dalam mempromosikan dan mendorong partisipasi nasyiah dalam pengambilan kebijakan publik.

Peningkatan pengetahuan dan kesadaran melaui pendidikan politik perempuan serta Menggiatkan advokasi-advokasi non litigasi khususnya terhadap kebijakan-kebijakan Negara yang tidak adil terhadap perempuan dan anak.

Menguatkan kemampuan telaah kebijakan publik (gender budgetting) secara komprehensif di lingkungan aktifis nasyiah

Membangun kemitraan dengan pemerintah dan NGO untuk peningkatan kapasitas politik perempuan serta mendukung pencapain tujuan MDG’s

48

Nasyiatul Aisyiyah

mewujudkan perdamaian.

Melatih kader nasyiah dalam Terwujudnya kemampuan menganalisis kebijakan analisis kebijakan publik publik. nasyiah seperti analisis gender budgeting. Pelatihan advokasi Adanya kader Nasyiatul perempuan dan anak Aisyiyah yang trampil melakukan advokasi sosial, pemberdayaan masyarakat, Workshop gender budgeting aksi sosial, dan pelayanan masyarakat sampai tingkat cabang dan ranting Adanya kemitraan dengan pemerintah dan NGO untuk peningkatan kapasitas politik perempuan serta mendukung pencapain tujuan MDG’s

4. Program Bidang Kemasyarakatan Isu strategis

Tujuan

Terciptanya pemahaman gender yang benar bagi Nasyiatul Aisyiyah untk Menginternalisasi sadar menggerakkan gender perspektif advokasi Nasyiah menuju masyarakat yang berkeadilan gender dengan peningkatan kualitas hidup anak dan perempuan

Hasil yang diharapkan 2016 pemahaman Workshop pengarusutamaan Adanya konsepsi gender Menyatukan paham Merumuskan disepakati kesetaraan dan keadilan kesetaraan dan keadilan jender gender pada lingkup Nasyiah yang Nasyiatul Aisyiyah gender dalam perspektif dalam perspektif Islam yang disepakati Nasyiatul Aisyiyah Nasyiah Strategi

Meningkatkan pemahaman Nasyiah mengenai keadilan dan kesetaraan gender Meningkatkan sensitivitas gender dalam memandang persoalan yang ada

Mensosialiasikan pemahaman kesetaran dan keadilan jender di kalangan Nasyiatul Aisyiyah Mensosialisasikan metodemetode penyelesaian persoalan di masyarakat berperspektif gender Meningkatkan sensitifitas Mensosialiasikan pemahaman gender masyarakat kesetaran dan keadilan gender Nasyiatul Aisyiyah di berbagai forum

Meningkatkan efektifitas peran Nasyiatul Aisyiyah dalam pengambilan kebijakan publik yang sensitif gender.

Contoh Aktivitas

Program

Pelatihan Gender Diskusi public

Sensitivitas Terpahamkannya Konsep gender Nasyiah di masyarakat Memiliki berbagai metode penyelesaian persoalan di masyarakat

Kajian perspektif gender bagi Terinternalisasinya masyarakat Konsep gender Nasyiah dalam masyarakat.

Menggiatkan advokasi-advokasi non litigasi khususnya terhadap kebijakan-kebijakan Negara yang tidak adil terhadap anak dan perempuan.

Tanfidz Muktamar XII

Kajian , FGD tentang Disampaikannya sikap Nasyiatul Aisyiyah kebijakan publik Draft usulan akademik terhadap kebijakan pemerintah pusat maupun daerah setempat

49

Meningkatkan kepedulian anggota Nasyiatul Aisyiyah terhadap isu kesehatan reproduksi dalam keluarga

Menggerakkan aksi Advokasi perempuan dan anak di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial

Terwujudnya kualitas kehidupan perempuan dan anak yang lebih baik dengan penguatan pada kesehatan, ekonomi dan sosial

Meningkatkan kapasitas Training pimpinan dan anggota terhadap Reproduksi persoalan kesehatan reproduksi pada usia produktif

Kesehatan Adanya training dan sosialisasi kesehataran reproduksi baik untuk tahap pra menstruasi, remaja, calon pengantin maupun ibu muda disemua tingkatan Nasyiatul Aisyiyah.

Menguatkan kapasitas kader Mengembangkan model TOT konselor peer group Nasyiah dalam sosialisasi kesehatan reproduksi mengembangkan advokasi usia produktif dan remaja kesehatan reproduksi Meningkatkan kuantitas dan kualitas Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiyah (BUANA) di semua tingkatan

Membentuk kelompok peer group konselor untuk kesehatan reproduksi remaja

-sosialisasi panduan BUANA Mengembangkan BUANA - Mengembangkan panduan BUANA ada di seluruh sebagai basis penguatan Buana tingkatan pimpinan ekonomi kelembagaan dan nasyiah. personal Nasyiah

Memberdayakan potensi Melakukan training-training Training kewirausahaan bagi Adanya training ekonomi masyarakat lokal. kewirausahaan dan Ibu muda kewirausahaan dan pendampingan ekonomi pendampingan ekonomi kerakyatan kerakyatan minimal di tingkat daerah Peningkatan peran organisasi Melatih/mengasah ketrampilan Training Advokasi dan personal Nasyiatul advokasi sosial, pemberdayaan Kader Nasyiatul

50

Nasyiatul Aisyiyah

Aisyiyah dalam membantu menyelesaikan masalahmasalah sosial yang dihadapi perempuan dan anak

masyarakat, aksi sosial, dan pelayanan masyarakat seperti pendirian dan pengelolaan pusat pendampingan keluarga, dan kegawat-daruratan.

Aisyiyah trampil melakukan advokasi sosial, pemberdayaan masyarakat, aksi sosial, dan pelayanan masyarakat di setiap level pimpinan

Membangun jaringan sosial dengan berbagai elemen yang tidak mempengaruhi kemandirian ideologi dan finansial organisasi dalam menghadapi problem/polemik sosial Menggerakkan Memberikan pendampingan pendampingan kepada kepada masalah sosial dan masalah sosial dan kegawat- kegawat-daruratan perempuan daruratan/petaka sosial dan anak perempuan dan anak

Kerjasama dengan Pemerintah mencegah Setiap level pimpinan perkawinan usia dini memiliki kerjasama aktif dengan mitra untuk mengentaskan problem sosial

Peningkatan jaringan sosial dengan berbagai elemen yang tidak mempengaruhi kemandirian ideologi dan finansial organisasi dalam menghadapi problem sosial

Menyusun pola pendampingan masalah sosial dan kegawat-daruratan perempuan dan anak

Tanfidz Muktamar XII

51

Adanya pola aksi sosial dan pertolongan kegawatdaruratan di semua level pimpinan

52

Nasyiatul Aisyiyah

GERAKAN SERIBU RANTING NASYIATUL AISYIYAH

A. Latar Belakang Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan yang berdiri pada tahun 1931 M memiliki sejarah panjang perjalanan melewati berbagai masa di negeri ini. Sejak berdirinya di masa perjuangan kemerdekaan, masa-masa kemerdekaan, orde lama, orde baru

hingga di masa reformasi di abad 21 merupakan bukti

panjang

pengabdian Nasyiatul Aisyiyah. Waktu dan umur yang tidak pendek bagi pengabdian sebuah organisasi gerakan perempuan

untuk berperan di masyarakat. Sebuah

prestasi luar biasa bagi organisasi dapat bertahan dan bila kita amati barangkali hanya beberapa organisasi yang mampu bertahan selama ini. Dalam perjalanan panjang sejarah, Nasyiatul Aisyiyah banyak memberikan sumbangan terutama bagi gerakan keagamaan dan pemberdayaan perempuan. Nasyiatul Aisyiyah telah memulai perannya perempuan di dunia. Gerakan perempuan

jauh sebelum munculnya gerakan dimulai sekitar 3-4 dekade terakhir

dengan munculnya kesadaran akan pentingnya peranan perempuan dalam pembangunan. Peran penting perempuan dalam pembangunan

ini kemudian

termanifestasi dalam berbagai kebijakan pendekatan pembangunan dari pendekatan anti kemiskinan sampai dengan pendekatan gender mainstreaming yang dimulai sekitar tahun 2000. Gerakan perempuan dunia ini ditandai pula dengan munculnya berbagai lembaga swadaya masyarakat/LSM perempuan dalam masyarakat yang masing-masing memiliki kekhasannya tersendiri. Nasyiatul Aisyiyah merupakan salah satu organisasi non pemerintah (Non Goverment Organization) akan tetapi Nasyiatul Aisyiyah bukan semata-mata LSM seperti halnya LSM lain. Keunggulan Nasyiatul Aisyiyah sebagai ortom Muhammadiyah memiliki struktur kepemimpinan dari tingkat pusat sampai tingkat ranting tersebar di seluruh wilayah republik ini. Jaringan yang sangat kuat untuk melakukan sebuah perubahan bagi pembaharuan apabila struktur ini sehat dan setiap tingkat dapat berfungsi secara optimal. Apakah jaringan Nasyiatul Aisyiyah telah berfungsi dengan baik sepanjang sejarah hidupnya? Apakah setiap tingkat pimpinan telah dapat berperan secara optimal? Pertanyaan ini bersifat evaluatif bagi Nasyiatul Aisyiyah yang barangkali karena telah establish dalam kurun waktu tersebut menjadi terlupakan. Tolok ukur apa yang akan digunakan untuk melihat keberhasilan? Nasyiatul Aisyiyah memiliki 32 PWNA yang masing-masing berada di setiap propinsi, dan PDNA yang berada di setiap Kabupaten dan Kota. Akan tetapi apakah ada PCNA di setiap Kecamatan dan

Tanfidz Muktamar XII

53

adakah PRNA di setiap desa/kelurahan di seluruh negeri ini? Bila pertanyaan ini dijawab dengan dengan berdasar pada AD/ART bahwa jaringan struktur orgnisasi akan berdiri dimulai dari adanya jamaah atau kumpulan minimal 7 orang kemudian mendirikan ranting, dari minimal 3 ranting akan berdiri PCNA, dari minimal 3 PCNA akan berdiri PDNA dan dari beberapa PDNA akan berdiri PWNA dan dari adanya PWNA akan muncullah PPNA maka kita bisa menghitung jumlah minimal PCNA dan jumlah minimal PRNA serta jumlah minimal jamaah Nasyiatul Aisyiyah. Akan tetapi nampaknya asumsi ini tidak dapat menjawab dengan tepat pertanyaan tersebut karena dalam realitas banyak PCNA yang telah kehilangan PRNA karena ketidakaktifannya dan lebih banyak lagi PRNA yang telah ditinggalkan jamaahnya. Salah satu program yang ditanfidzkan pada Muktamar

ke-10 Nasyiatul

Aisyiah di Surakarta dalam bidang organisasi adalah menggerakkan kembali ranting/jamaah. Hal ini menjadi kesadaran bersama karena bagimanapun juga efektifitas sebuah perubahan yang dilakukan bergantung pada eksisitensi jamaah sebagai anggota masyarakat. �Gerakan Seribu Ranting� menjadi sebuah idealitas Nasyiatul Aisyiyah yang diamulai pada periode 2004-2008 diharapkan 2020 jamaah Nasyiatul Aisyiyah mengakar kuat dalam masyarakat. Sebuah harapan dan cita-cita mulia. Gerakan ini menuntut kerja keras siapapun yang merasa dirinya sebagai Nasyiatul Aisyiyah juga siapapun yang merasa dirinya sebagai bagian dari Muhammadiyah. Keberadaan Nasyiatul Aisyiyah tidak terlepas dari keberadaan Muhammadiyah dan semua ortomnya. Peran riil dari semua personal pimpinan menjadi tuntutan utama bukan sekedar peran struktural. Bila tidak maka gerakan seribu ranting akan sekedar menjadi slogan dan tidak akan pernah terwujud.

B. Dasar Hukum 1. Anggaran Dasar BAB II Pasal 6 2. Tanfidz Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XI

C. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Panduan ini disusun dengan maksud untuk memberikan arah dan tuntunan dalam mewujudkan gerakan 1000 ranting. 2. Tujuan a.

Memberikan pemahaman tentang gerakan 1000 ranting.

54

Nasyiatul Aisyiyah

b.

Menjelaskan mekanisme gerakan 1000 ranting.

c.

Menjelaskan strategi gerakan 1000 ranting.

D. Pengertian. a. Ranting Pada ART Nasyiatul Aisyiyah Bab V Bagian 1 pasal 13 disebutkan bahwa Ranting adalah organisasi tingkat paling bawah di satu tempat atau lingkungan yang merupakan tempat atau pusat pembinaan. Pemahaman terhadap istilah

tempat atau lingkungan dalam ART

tersebut sangat luas. Selama ini dipahami identik dengan struktur pemerintahan terendah

yakni

Kelurahan

(kota)

dan

Desa

(Kabupaten).

Wilayah

Kelurahan/Desa sesungguhnya sangat luas karena didalamnya terdiri dari beberapa dusun. Dusun terdiri dari beberapa kampung/Rukun warga (RW) dan Kampung/RW juga terdiri dari beberapa tukun tetangga (RT). Pada tingkat RT inilah terdapat kumpulan orang-orang (jamaah). Apabila Ranting berkedudukan di satu wilayah kelurahan/desa maka sesungguhnya wilayah ini sangat luas dan tentu saja dengan jumlah jamaah yang besar pula. Padahal apabila dilihat pada AD/ART bahwa Ranting terdiri atas kumpulan sekurang-kurangnya 7 orang (jamaah) dalam satu tempat atau lingkungan maka tempat atau lingkungan wilayah Desa/Kelurahan dapat terdiri dari beberapa ranting/jamaah. Pengertian Ranting yang sekurang-kurangnya terdiri

dari 7 anggota

sebenarnya memberikan peluang yang besar kepada Nasyiatul Aisyiyah untuk membuat ranting yang sebanyak-banyaknya. Jumlah tujuh orang yang tergabung dalam satu jamaah merupakan sebuah komunitas kecil yang akan sangat efektif dan efisien bagi sebuah pembinaan untuk perubahan. Terlebih jumlah tujuh orang tersebut tidak harus berada di satu kalurahan/desa, bisa saja sekurangkurangnya tujuh orang tersebut berada di satu RW bahkan di satu RT sekalipun. b.

Memperluas Pemahaman Ranting Ranting identik dengan jamaah yang berada di sebuah tempat atau lingkungan memiliki makna yang bisa diperluas, tidak mengikuti struktur pemerintahan yang terbawah. Tempat atau lingkungan sebagai kumpulan orangorang dapat berada di manapun tidak hanya di area yang dibentuk oleh struktur pemerintahan, seperti desa, kampung, RW, RT dsb. Komunitas orang-orang bisa juga berada di sebuah lembaga atau instsitusi tertentu seperti sekolah, rumah sakit, perusahaan dsb. Bila pemahaman tentang tempat atau lingkungan seperti

Tanfidz Muktamar XII

55

tersebut maka terbuka kemungkinan untuk mendirikan jamaah Nasyiatul Aisyiyah di sekolah, rumah sakit ataupun intansi-instansi lainnnya.

E.

Mekanisme Gerakan 1000 Ranting a. Tugas dan Fungsi 1) Pimpinan Pusat berkewajiban menyusun pedoman gerakan 1000 ranting. 2) Pimpinan wilayah berkewajiban a) Reinventarisasi keberadaan ranting secara de facto dan de yure yang ada di wilayahnya (pendirian ranting telah dilimpahkan kepada pimpinan wilayah). b) Melakukan pemetaan terhadap ranting yang ada serta melakukan koordinasi pembinaan lintas ranting bersama pimpinan daerah. 3) Pimpinan Daerah berkewajiban menyediakan data dan melakukan pemetaan cabang dan ranting. 4) Pimpinan

Cabang

berkewajiban

membina

dan

memfasilitasi

pendirian ranting. 5) Pimpinan Ranting berkewajiban menyusun rencana dan laporan kegiatan secara berkala. 6) Anggota pimpinan di semua tingkatan berkewajiban berperan serta secara aktif pada kegiatan ranting dimana dia bertempat tinggal.

b. Proses pendirian ranting 1) Apabila di suatu tempat belum berdiri ranting tetapi sudah ada kegiatan rutin yang dilakukan oleh simpatisan Nasyiatul 'Aisyiyah yang berjumlah sekurang-kurangnya 7 (tujuh) orang maka dapat mengajukan permohonan pengesahan ranting kepada Pimpinan Wilayah melalui Pimpinan Cabang Nasyiatul 'Aisyiyah setempat dengan tembusan kepada Pimpinan Pusat dan Pimpinan Daerah. Surat permohonan pengesahan dilampiri daftar susunan pimpinan ranting dan program kerja. 2) Apabila di suatu tempat yang sudah berdiri Pimpinan Ranting Muhammadiyah tetapi belum berdiri Pimpinan Ranting Nasyiatul ’Aisyiyah maka Pimpinan Cabang Nasyiatul 'Aisyiyah melakukan koordinasi dengan Pimpinan Muhammadiyah Ranting setempat guna

56

Nasyiatul Aisyiyah

melakukan pembinaan kepada perempuan simpatisan Nasyiatul 'Aisyiyah. Dan anggota kelompok kegiatan inilah yang akan menjadi embrio dari Pimpinan Ranting Nasyiatul 'Aisyiyah setempat.

F. Strategi Gerakan 1000 Ranting Dalam upaya menggairahkan gerak organisasi di tingkat ranting, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : a. Menjalin kerjasama dengan Muhammadiyah dan 窶連isyiyah dalam upaya menggairahkan ranting. Dalam hal ini, Nasyiatul Aisyiyah menawarkan sebuah gerak terpadu karena Gerakan Seribu Ranting merupakan program kerja yang juga dicanangkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, sehingga di tingkat ranting, kerjasama antara Muhammadiyah, 'Aisyiyah,

Nasyiatul

'Aisyiyah,

dan

Pemuda

Muhammadiyah

dalam

menghidupkan gerak ranting sangat diperlukan. Setidaknya rasa kekeluargaan harus ditumbuhkan dalam keluarga besar Muhammadiyah. Matinya ranting Nasyiatul Aisyiyah juga merupakan tanggung jawab Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

b. Menjadikan pimpinan Nasyiatul Aisyiyah di semua tingkatan (Pusat, Wilayah, Daerah, dan Cabang) sebagai motivator dan penggerak ranting. Rangkap jabatan diperbolehkan bahkan sedikit diharuskan untuk posisi di ranting. Dengan menjadikan anggota pimpinan Nasyiatul Aisyiyah sebagai penggerak ranting, maka ranting-ranting yang selama ini hidup enggan matipun tak hendak akan menjadi aktif. Dalam hal ini loyalitas dan militansi kader Nasyiatul Aisyiyah yang menjadi pimpinan sangat dipertaruhkan.

c. Reorientasi program Nasyiatul Aisyiyah, dari sebuah daftar keinginan menjadi daftar kebutuhan masyarakat dan ummat.

d. Menggairahkan kembali semangat silaturrahmi secara langsung dan personal diantara anggota dan pimpinan Nasyiatul Aisyiyah.

e. Menghidupkan kembali kajian atau pengajian rutin anggota ranting yang diikuti bukan hanya pimpinan ranting namun juga pimpinan Nasyiatul Aisyiyah yang berada di wilayah ranting. Kegiatan pengajian hendaknya diikuti dengan kegiatan-

Tanfidz Muktamar XII

57

kegiatan seperti penambahan ketrampilan, arisan, atau kegiatan-kegiatan ringan dan menggembirakan lainnya. Diharapkan kegiatan-kegiatan tersebut dapat menambah nilai kehidupan anggota di ranting tersebut. f. Menghidupkan kembali pembinaan terhadap anak-anak melalui media pengajian anak-anak ba’da Maghrib atau ba’da Ashar yang pernah menjadi trade mark pengkaderan Nasyiatul Aisyiyah. Memberikan kegiatan yang positif terhadap anak-anak merupakan proses penggairahan baik dari sisi organisasi maupun kaderisasinya.

g. Intensitas pembinaan remaja dengan kegiatan yang sesuai dengan jiwanya, bersifat menggembirakan.

h. Diversifikasi terhadap kegiatan yang telah ada.

G. Contoh Kegiatan di Tingkat Ranting 1. Dakwah Jamaah Perekat Silaturrohim Nasyiatul Aisyiyah Ranting Kalilopo 2. GOTA (Gerakan Orang Tua Asuh), PRNA Nogotirto 3. Wisata Dakwah, PRNA Kalinyamat Kulon dan PRNA Margadana 4. Pasar Lebaran, PRNA Pleret, Bantul 5. Keberadaan ORENA (Organisasi Remaja NA) di PRNA Kauman

H. PENUTUP Gerakan Seribu Ranting yang dilaksanakan oleh Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah pada dasarnya adalah sebuah program yang terpadu, komprehensif, dan berkesinambungan yang harus dilaksanakan secara serentak di semua lapisan struktur Nasyiatul Aisyiyah. Peran Pimpinan Cabang dan Daerah sangat besar dalam mensukseskan program ini, karena merekalah yang langsung berhadapan dengan kepentingan Ranting. Dengan adanya gerakan ini diharapkan setidaknya 50% dari ranting yang ada memiliki aktivitas yang nyata dalam mendukung gerak organisasi. Nasyiatul Aisyiyah tidak menginginkan menjadi organisasi papan nama yang hanya memiliki nama dan kantor namun tidak memiliki gerakan aksi nyata di masyarakat. Nasyiatul Aisyiyah juga tidak menginginkan gerakan hanya terjadi di tingkat pimpinan saja atau menjadi organisasi elitis. Aktivitas ranting menjadi tuntutan yang

58

Nasyiatul Aisyiyah

harus kita realisasikan secara bersama jika kita menginginkan keberadaan Nasyiatul Aisyiyah menjadi berarti di masyarakat dan ummat. Ibarat sebuah pohon, keberadaan ranting menjadi sangat berarti karena disanalah menjadi tumpuan tumbuhnya daun. Demikian pula di Nasyiatul Aisyiyah, di Ranting-lah tumpuan berkembangnya anggota Nasyiatul Aisyiyah. Gerakan 1000 Ranting merupakan Gerakan Moral yang harus didukung oleh semua komponen

persyarikatan

termasuk

Nasyiatul 'Aisyiyah karena pada

dasarnya ranting merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan ummat.

Tanfidz Muktamar XII

59

60

Nasyiatul Aisyiyah


tanfidz-muktamar-27-sept