Issuu on Google+

MENYADARI HAKEKAT KEMBALI KE FITRAH DENGAN MENJAUHI DOSA Oleh: Samsul Wahidin Alhamdulillahi robbil alamin, Segala puja dan puji hanya milik Allah Tuhan Seru Sekalian alam Dia yang Maha Agung dengan segala keagungan yang tak akan pernah bisa dibandingkan dengan keagungan di jagat raya, di waktu lalu, sekarang dan yang akan datang; dia abadi, dengan segala sifat keabadianNya. Dia Maha Besar dengan segela kebesaranNya yang tak bisa dipersekutukan dengan apa pun. Dia penyandang Asmaul Husna dengan segala sifat kemahasempurnaan; Dia Maha Pengasih tak pernah pilih kasih; Dia Maha Penyayang, tak pernah pandang sayang; Dalam keterbatasan kosa kata yang dipunyai manusia, Dia ada, sebelum kata ada dikenal manusia, dan dia akan tetap ada ketika kata ada itu nanti tiada. Allau akbar walillahil hamd. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah untuk junjungan nabi agung, Muhammad SAW, para sahabat, para pengikutnya sampai akhir jaman. Allahu akbar walillahil hamd. Mulai kemaren sore, Takbir, tahmid dan tahlil berkumandang memenuhi cakrawala. Dibawa semilirnya senja merambat malam, disambut kesejukan pagi yang cerah ini. Suara alam mengagungkan dan memahabesarkan asmaNya. Takbir, tahmid dan tahlil yang membangkitkan kerinduan para perantau untuk kembali, menjenguk ke tanah kelahiran dengan berbagai kisah suka duka; Takbir dan tahmid yang membangkitkan kenangan terhadap orang-orang terkasih yang telah terlebih dulu dipanggilNya. Takbir dan tahmid yang membangkitkan kenangan masa lalu bersama orangorang terkasih yang sekarang entah di mana. Takbir, tahmid dan tahlil yang memutar kisah manusia, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Semua adalah atas kehendak yang tertulis di atas azal takdirNya. Subhanallah; Allahu akbar walillahil hamd; Takbir, tahmid dan tahlil ini melambangkan makna sebuah kemenangan dari umat Islam yang selama sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Kemenangan dari peperangan besar, yaitu peperangan yang berakhir dengan kemenangan untuk mengalahkan hawa nafsu – kemenangan untuk mengalahkan diri sendiri. Ketika pulang dari peperangan Badar, Rasulullah SAW menyampaikan kepada para sahabat, bahwa baru saja pulang dari jihadussughro menuju ke jihadul akbar. Para sahabat heran dan bertanya apa peperangan yang lebih besar dari peperangan di Badar kala itu. Rasulullah SAW menjawab, perang besar itu adalah perang melawan hawa nafsu. Perang sepanjang hayat, perang melawan diri sendiri. Ramadhan telah membuktikan kita menang selama sebulan ini, melawan hawa nafsu badaniah dan ruhaniyah. Badaniah dengan mencegah lapar dan haus, dan lainlain. Rohaniah dengan melawan segala penyakit hati, mulai dari iri dengki, pemarah, pencemburu, pemalas, boros dan lain-lain serta berlaku berdasarkan nafsulmutaminnah, yaitu berlaku sabar, ikhlas, tawadlu, qonaah dan sebagainya. Semuanya itu telah kita

lakukan selama sebulan penuh dengan harapan la’allakum tattaqun: mudah-mudahan menjadi insan yang bertaqwa. Kata “la’allakum” (mudah-mudahan) mengandung pemahaman bahwa taqwa bukan merupakan sebuah sertifikat yanag diberikan kepada orang yang telah melaksanakan puasa selama sebulan penuh. Taqwa merupakan klasifikasi awal yang harus dibuktikan dengan sikaplaku yang ditampilkan justru pasca romadhon. Itulah sebabnya dalam hadits disebutkan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan haus. Jadi gelar muttaqien dibuktikan pasca puasa. Apakah puasa membekas dalam nurani yang tercermin dalam perilaku, ataukah puasa hanya sebagai rutinitas tahunan dan setelah itu seolah kita keluar dari belenggu dan terbiasa hidup dalam nafsi-nafsi. Salah satu makna puasa adalah menahan lapar dan haus. Apakah setelah puasa Romadhon itu terbangkit dari nurani kita, upaya untuk menyantuni orang yang menderita di dalam kemiskinan; Salah satu tuntutan puasa adalah sahur. Apakah setelah ini, setiap sepertiga malam yang akhir kita bangun untuk bermunajat kepadaNya?. Begitu pentingnya makna tahajjud di sepertiga malam yang akhir sehingga Allah SWT memfirmankanNya dalam surah Al Isra’ 79:              “Dan di sebagian malam ber sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah tambahan. Semoga Allah mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. Hakkul yakin, orang yang rajin tahajjud akan menghadapai keseharian dengan teduh. Orang yang rajin tahajjud akan menghadapi berbagai permasalahan hidup dengan nyaman, dan orang yang rajin tahajjud, menjadi hamba yang dikasihi. Di dalam salah satu hadits qudsi Allah berfirman bahwa pada sepertiga malam yang akhir, malaikat Rahmat turun ke bumi, atas perintah Allah SWT mengadakan ronda, serta melaporkan langsung kepada Allah SWT siapa hamba-hambaNya yang sedang bertahajjud. Doa yang dipanjatkan pada waktu tahajjud, langsung menuju kepada Allah SWT, tanpa hijab. Subhanallah. Allahu akbar walillahilhamd Dari pantulan sejarah, takbir dan tahmid serta tahlil ini dikumandangkan pertama kali dengan sholawat rasul ketika perang Badar, juga ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shoum yang pertama, hanya sembilanbelas bulan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Ketika itu kaum muslimin melawan kaum kafir Quraisy dengan mengumandangkan takbir tahmid dan tahlil . Kaum muslimin berjihad di medan perang dalam perjuangan lialla likalimatillah—untuk menegakkan agama Allah semata, menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi dengan cara menundukkan kekufuran. Allahu akbar walillahilhamd. Takbir dan tahmid serta tahlil yang dikumandangkan pada masa lalu itu, terus berkumandang hingga sekarang. Hari ini, dan insyaallah akan seterusnya setiap menyambut Idul Fitri dan Idul Adha, bahkan sampai akhir waktu tiba. Namun bedanya, kita merasa kini seolah hanya ritualitasnya yang kita warisi. Waktu, tempat dan keadaan berbeda menjadi salah satu penyebab mengapa kumandang takbir, tahmid dan tahlil tak sedalam maknanya seperti pada masa lalu. Kalaupun ada maknanya, seolah hanya terbersit untuk sesaat setelah itu tak ada lagi. Sejujurnya, takbir dan tahmid hanya menggoyang relung keimanan kita sejenak, setelah itu ikita kembali ke rutinitas yang

berujung kematian. Sejujurnya pula, hal ini disebabkan keseharian kita tidak pernah luput dari perbuatan dosa. memang dalam tataran obyektif dan bahasa optimis, dalam kehidupan seperti sekarang ini masih banyak orang yang tetap menjaga diri untuk tidak berbuat dosa dan selalu memperbanyak pahala dengan melakukan: ‘amilus shalihat (amal-amal kebaikan). Masih banyak remaja dan pemuda-pemuda kita yang mendatangi masjid untuk bershalat, mengikuti da’wah dan mendekatkan diri pada illahi robbi. Kita berharap, mereka dan juga kita selalu berada dalam kehidupan yang diridhai Allah (mardhatillah), mengisi hidup ini dengan kebajikan yang membuat mereka mendapat penghargaan dari Allah (pahala). Mengetahui dan menyadari hakekat dosa dan pahala itu adalah suatu hal yang merupakan kewajiban kita, khususnya di antara kita yang telah membiasakan diri berbuat baik. Khususnya juga di antara kita yang telah dijangkiti dosa atau sudah membiasakan berbuat dosa. Sebabnya bagaimana harus mengeluarkan diri dari jurang kesesatan dan dosa, tanpa adanya penyadaran itu merupakan hal yang mustahil. Dalam pandangan Imam Gazali dalam masalah dosa ini bahwa manusia terdiri dari dua golongan saja. Pertama, golongan remaja atau pemuda yang berkembang dan tumbuh dalam ketaatan : “sesungguh Allah suka sekali kepada pemuda yang membawakan diri remajanya dalam mentaati Allah” (Abu Nu’aim). Kedua, golongan orang yang berbuat dosa. Namun diingatkan betapa dalam golongan ini ada yang kembali taubat dan ada pula yang berbuat dosa berketerusan Mari kita sadari bahwa dosa adalah sikap hidup dan gerakan pribadi yang berbentuk pelanggaran terhadap ketentuan ilahi dan merugikan,membencanai dan lain-lain dari tidak layak. Hal ini adalah bentuk pelanggaran terhadap hukum dan peraturan kepada Allah. Seperti tarkus shalat (tidak melakukan shalat). Syirik (mempersekutukan Allah). Tahawun (menganggap enteng agama) dan lainnya dari pelanggaran terhadap Allah. Sikap yang merugikan membencanai, menyiksa (zalim) terhadap sesama manusia dalam bentuk kelaliman, fitnah, menipu, merusak kehormatan, dsb. Semua itu bersumber pada lemahnya kontrol diri dan pemahaman serta penerapan yang dangkal dari ajaran Islam. Naudzubillahi min dzalik Dipahami, bahwa berdosa itu membuat seseorang tidak berbahagia di akhirat dan akan membawanya masuk ke neraka dengan merasakan: azabin aliim (siksaan pedih). Sebaliknya dengan berbuat amal saleh dan kebajikan orang akan berbahagia di akhirat dengan masuk sorga, merasa nikmat yang tak ternilai. Mari kita sadari bahwa dosa bukan semata-mata akan membawa orang masuk ke neraka di akhirat saja, tetapi dosa adalah ranjau-ranjau kehidupan yang diberitahukan Allah dan Rasul yang akan merusak hidup seseorang di dunia lebih dahulu, sebelum akhirat kelak. Berpuluh macam dosa yang diberitahukan Allah dan Rasulullah SAW, baik dosa besar maupun dosa kecil, adalah ranjau-ranjau hidup ayang harus dijauhi agar perjalanan hidup ini tidak terganggu.. Demikian pula sebaliknya mengenai pahala. Pahala itu ibarat biji dan benih yang bila ditanam dan disuburkan dengan lestari dan teratur, ia akan menimbulkan manfaat di dunia sebelum adanya jaza’ pembalasan yang membahagiakan dari Allah nantinya. Dosa dan pahala itu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dunia sekarang. Pendosa adalah pelanggar hukum, dan yang paling berat adalah melanggar hukum Allah SWT. Mari kita sadari, sebagaimana diperingatkan Rasulullah SAW bahwa orang yang melakukan dosa secara sadar, akan ada balasan di dunia, seperti di hukum masuk

penjara, namanya cacat yang membuat ruang geraknya menyempit dan dibenci, juga dicerca masyarakat. Suatu kerugian yang sangat besar dalam kehidupan yang hanya sekali diberi kesempatan oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang melakukan ibadah dan amal kebajikan, seperti shalat yang benar akan menemukan ketenangan jiwa, adanya nur di wajahnya (bila dilakukan dengan ikhlas dan khusyu’ ), zakat membuat seorang dihargai oleh sesama masyarakat dhuafa (lemah) yang tertolong olehnya. Puasa akan menanamkan kesadaran tentang kedloifan diri, dan lainnya. Oleh karena itu mengetahui bentuk-bentuk dosa itu dimaksudkan agar menjaga jangan terjatuh didalamnya. Diikhtiarkan sekuat tenaga agar selalu taat beribadah dan berbuat kebajikan, agar menjadi penghalang untuk tidak berbuat dosa untuk selajutnya membuat nama dan nilai hidup ini lebih bermakna. Adalah ‘Aum bin Hausyab, tokoh terkemuka dan ahli hikmah yang memberikan bimbingan agar orang dapat dijauhkan dari dosa dan menjelaskan betapa asal mulanya dosa itu berkembang biak dalam kehidupan seseorang. Pertama, istisghar, menganggap kecil dosa itu. Bila seorang melakun dosa dan kemudian ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi atau berbuat lagi, maka pertanda bahwa dia akan menjadi orang baik nantinya. Paling buruk ialah menganggap enteng dosa itu, seperti menipu, atau mencuri (besar atau kecil). Lalu dia merasa bahwa wajar dalam masyarakat modern, terlalu shaleh dalam hidup sekarang adalah merugikan diri dihiburnya diri secara demikian, bukan menyesal karena telanjur. Katanya jaman sekarang mendapat yang haram saja sulit apa lagi yang halal. Kedua. Istibsyaar, merasa gembira dengan berbuat jahat dan dosa itu. Apalagi kalau sekiranya dia berhasil dengan menipu dan mencuri (korupsi). Sedikitpun tidak timbul dalam hatinya untuk sadar dan menyesal yang akan dapat menahan diri untuk melakukan perbuatan jahatnya itu. Malah merasa gembira karena dengan demikian dia dapat melihat dunia dengan hasil dosanya yang merugikan dan meruntuhkan masa depannya, tidak saja di dunia tetapi juga di akherat. Ketiga. Ightirar, diperdayakan oleh dosa itu, dalam bentuk bahwa walau dia melakuka kejahatan, namun dia tidak mengalami sampai ajal, tidak mati istrinya; tidak kena musibah, rumahnya tidak terbakar, dsbnya. Betapapun juga ia tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat, dllnya, namun pangkatnya tidak turun, gajinya tidak kurang, mobilnya tidak terbakar, listrik di rumah tidak padam, air ledingnya tetap mengalir. Ightirar membuatnya tambah nekat dan membutakan hatinyai sehingga kalau sampai dalam taraf ini dia sudah berada pada yang sangat berbahaya: di tubir kehancuran. Allah menggambarkan mereka ini:                                   Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai (Al a’raf 179) Keempat. Ishrar, bergelimang dengan kejahatan dosa. Anak anak dan anggota keluarga dibesarkan dengan barang yang haram. Bergelimang dosa, dan sepanjang

hayatnya menunjukan tidak diharap kesadarannya lagi. Malah saat keruntuhan hidupnya hanyalah tinggal menunggu waktu. Kalau saja manusia tidak mengetahui karena pandai dan lihainya bermain, namun ketentuan Allah akan tiba saatnya seperti di beritahukan Allah:              “kehinaan akan menimpa orang-orang yang berdosa dari sisi Allah (di dunia ini) dan azab pedih (di akhirat) antara meraka melakukan tipu-daya(Al-An’am 124) Betapun, Allah maha pengasih. Mereka yang telah bergelimang dosa itu tetap diberi kesempatan Allah SWT untuk kembali taubat, memutar jalan hidup atau banting setir ke arah yang baik dan kebahagian abadi, masukan dalam diri Al-Quran:                “Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Alqashas 16) Istighfar, adalah istilah yang dikenal dalam islam, bagi meraka yang bergelimang dosa (atau berdosa), yaitu meminta ampun kepada Allah dengan penuh penyesalan atas dosa-dosa yang telah lalu, besar maupun yang kecil. Sebab betapa pun kecilnya namun kalau di dilakukan sudah ishrar, ia menjadi besar dan membahayakan hidupnya. Kembali kepada Allah setelah menyesali segala dosa dan selanjutnya diiringi dengan sikap hidup yang baik (taat) terhadap Allah dan kepada manusia (ihsan) maka baginya istilah: taubatan nashuha (taubat sepenuhnya dengan kesadaran tinggi) Tidak melakukan sikap yang berpura-pura: sekarang taubat, namun lain waktu berbuat dosa lagi. Ini bukanlah taubat dan tidak berarti apa-apa dalam hidup ini. Sikap yang demikian hanyalah membuat dirinya bermain-main dengan api. Betapa pun kecilnya, namun dapat membakar dirinya. Dosa, minta ampun, taubat, amal saleh adalah rentetan yang berhubungan satu sama lain dalam hidup sampai mencapai taraf orang-orang yang saleh. Hal ini memang sulit, tanpa melalui semacam revolusi pribadi. Orang mabuk baru akan berhenti kalau digerogoti penyakit. Orang korupsi baru berhenti kalau tertangkap dan dihukum, dan sebagainya. Sejatinya Allah menjanjikan, taubat dengan kesadaran, sebelum mendapatkan teguran adalah merupakan taubat utama. Ketika hal itu bertahan dengan baik, maka dia pun akan termasuk: muflihin seperti di terangkan dalam surat Al-Qashash ayat 67.             Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga Dia Termasuk orang-orang yang beruntung. Mari kita sadari, Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah. Anggaplah kita berumurn 63 tahun, mari kita berkontemplasi, ibarat mata hari, kita sudah berada di mana. Mari kita sadari bahwa kita baru kali ini lahir atau hadir di dunia ini, dan hanya untuk satu kali pula. Bila jatah umur kita habis, maka kita harus meninggalkan dunia ini, dan tidak kembali ke sini lagi untuk selamanya. Kita tidak mengetahui sebelumnya dimana dan dalam keadaan bagaimana kita dilahirkan, apa yang akan kita temui atau

yang akan menimpa kita. Juga tidak mengetahui sama sekali dimana dan dalam keadaan bagaimana kita akan menutup mata (mati). Satu kepastian, bahwa masing-masing kita akan menemui ajal. Itu pasti. Adapun yang beruntung adalah yang sejak awal senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan mendasarkan hidupnya atas hukum hukum Allah SWT. Merekalah yang nanti menghadap Allah dengan kepasrahan dan kedamaian. sesuai dengan firman Allah:                   Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anaki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Assyuara, 87-89) Kita sadari, bahwa mematikan makhluk yang pernah hidup adalah termasuk kebijaksanaan Allah azza wajalla yang tidak dapat dibantah atau dirubah, agar terjadi pergantian atau pergiliran makhluk yang hidup di permukaan bumi ini. Allah SWT berfirman yang artinya:                   “Kami gilirkan antara kamu kematian itu, dan kami tidak dapat dihalangi. Agar dapat kami pergilirkan satu generasi dengan generasi lain, dan menjadikan kamu dalam kejadian yang tidak kamu katahui”. (Al-Waqi’ah 60 dan 61) Karena setiap manusia akan mengalami mati sewajarnyalah setiap orang mempunyai pengertian tentang mati itu, agar jangan mati sebagai matinya binatang yang tidak memiliki pengertian sama sekali tetang mati. Kita sadari bahwa sampai sekarang belum pernah seorang yang sudah mati hidup kembali untuk dapat menceritakan kepada kita bagaimana kepayahan atau kesukaran yang dihadapi seseorang ketika menghadapi sakaratil maut yang amat mengerikan itu. Namun dapat dipastikan menurut pandangan mata bahwa kepayahan, kesukaran dan ketakutan menghadapi maut adalah puncak dari segala penderitaan, sehingga banyak orang yang tidak berani atau tidak sampai hati melihat atau menyaksikan orang yang sedang menghadapi ajalnya. Rasulullah SAW dengan perantara wahyu ilahi menerangkan bahwa sakarat atau mati itu berat bagi orang-orang yang jahat dan banyak dosa, tetapi ringan dan gampang bagi orang-orang yang beriman dan banyak beramal saleh, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, yang artinya:                                               “Ingatlah, bila roh sudah sampai di kerongkongan. Orang saling bertanya Siapakah yang dapat mengobatinya?. Akhirnya yakilah ia akan berpisah (mati). Ketika itu berbelitlah kepayahan tindih-menindih. Maka kepada TuhanMu lah hari itu ia akan kembali. Pada hal ia tidak membenarkan jalan Allah dan Rasul dan tidak pula mengerjakan shalat. Malah ia membohongkan ajaran agama dan selalu berpaling. Lalu bersombong diri di tengah

keluarganya. Celakalah engkau dan celaka. Sekali lagi celakalah engkau dan celaka”. (Al-Qiyamah 26-35). Dengan ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang dipayahkan waktu matinya ialah orang-orang yang mendustakan agama, tidak mengerjakan shalat, sombong dan jahat, orang-orang yang hidupnya bergelimang dosa dan maksiat. Mengenai orang-orang yang merasa ringan dan gampang di waktu sekaratnya di jelaskan Allah SWT dengan firmanNya, yang artinya:            “Adapun jika yang akan meninggal itu termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah maka baginya diberikan keentengan,kelegaan dan kenikmatan sorga,” (Al-Waqi’ah 88-89). Mari kita sadari, bahwa setiap dosa dan kejahatan yang pernah dilakukan oleh seseorang di waktu hidupnya akan menyebabkan kepayahan dan kesusahan di kala matinya. Karena sesaat sebelum ia meninggal dunia, semua dosa dan kesalahan yang telah dilakukan itu terkumpul dengan jelas sekali dalam ingatannya, Kalau ia mencuri, menipu, korupsi, berzina, menfitnah, menganiaya, membunuh dsb. Maka seluruh penderitaan lahir batin dari orang-orang yang pernah marasakan akibat perlakuannya itu dikumpulkan oleh Allah lalu ditimpakan kepadanya saat mengahadapi sakaratul maut, sehingga berbelitlah kepayahan demi kepayahan tindih-menindih. Dari itu ia merintih empat ganda sebagaimana dijelaskan oleh Allah Swt:          “Celaka engkau dan celaka. Kemudian celaka dan celaka”. Merintih pertama ialah mengigat dosa dan kejahatan selama hidup. Merintih kedua karena kepayahan demi kepayahan yang di deritanya di waktu menghadapi maut. Merintih yang ketiga melihat siksa di alam kubur. Dan merintih yang keempat melihat siksa neraka yang menunggu kedatangannya di akhirat. Khusus mengenai orang-orang kafir dan zalim, Allah SWT menjelaskan siksaannya sebagai berikut:                          “Dan engkau akan merasa ngeri kalau engkau melihat malaikat-malaikat pencabut nyawa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang meraka sambila berkata: Kamu rasakan siksa yang membakar. Yang demikian itu di sebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah tidak berlaku zalim terhadap hamba-hambaNya”. (Al-Anfal 50-51). Pada ayat lain di disebutkan:                                 

                   “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim itu dalam sakaratul maut, sedang malaikat-malaikat menguluran tangan-tangan meraka sambil berkata: Keluarkanlah nyawamu, di hari ini kamu akan dibalas dengan siksa yang menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah yang tidak benar dan kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya”. (AlAn’am ayat 93). Semua siksaan dan hal-hal yang mengerikan itu dialami dan dirasakan oleh orang-orang yang kafir, zalim dan berdosa, sedang orang-orang yang berada di dekatnya tidak melihat dan tidak mendengarkan. Orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dosa, merekalah yang dientengkan, disenangkan dan dilegakan Allah mengahapi mati. Ialah orang yang beriman dan beramal salih. Semua ibadah dan kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidupnya terhadap Allah SWT atau terhadap makhluk. Begitu pula kegembiraan dan kesenangan hati orang-orang yang pernah merasakan akibat dari kebaikannya, dikumpulkan Allah lalu dirasakan Allah kepadanya di waktu menghadapi mati itu. Janji Allah, akan diutus Allah malaikat Rahmat untuk menghibur hati di waktu menghembuskan nafas terakhir, sehingga ia merasa tenang, senang, gembira dan berbahagia. Di antara kita tentu ada yang pernah menangkap pertanda kematian dari orang orang di sekitar kita yaitu -- orang yang melepaskan nyawanya dalam keadaan senyum diliputi ketenangan dan keikhlasan. Orang yang sering menghadiri dan menyaksikan orang yang akan menghembuskan nafas terakhir akan dapat merasakan peristiwa itu. Sebenarnya hal itu telah dijelaskan Allah dengan firman Nya:                     “Sesungguhnya Orang-orang yang berkata: Tuhan kami Allah, mereka senantiasa berlaku lurus dalam hidupnya, niscaya akan mereka malaikat-malaikat mengatakan: Jangan kamu takut dan bergembiralah dengan sorga yang sudah di janjikan Allah ( Fusshilat 30).

kemudian turun atas sedih, dan untukmu”.

Orang-orang yang beriman dengan Allah dan berlaku lurus dalam hidupnya. Sekalipun mendapat tantangan dan ejekan, penganiayaan dan fitnah, namun mereka akan tetap tenang dan senang, karena mereka mendapatkan hiburan dari malaikat. Lebih-lebih ketika menghadapi maut. Mereka akan mati dalam keadaan tenang senang dan terhibur. Kendatipun kematiannya disebabkan kekejaman atau penganiayaan. Segala kekejaman dan penganiayaan itu tidak akan terasa sakitnya, karena hiburan para malaikat telah lebih dahulu menyusup ke dalam jiwanya. Untuk kita semua, mari kita sadari bahwa dimana dan bagaimana saja kematian itu terjadi adalah sama saja. Tetap enteng lega dan senang serta nikmat. Mati diatas kasur atau di tiang gantungan, atau dalam penjara yang suram, bagi mereka tidak ada bedanya. Lahirnya bagi kita yang melihat merupakan hal yang menyedihkan, tetapi bagi yang merasakan adalah merupakan kegembiraan yang tidak ada taranya. Dan kematian yang demikian yang disebut dengan Husnul khatimah (akhir hidup yang baik), yang

mendapat ridho dan ampunan Allah SWT. Demikian ini adalah kematian nabi-nabi, Rasul-rasul, para syuhada, para shalihin dan orang orang alim.                  Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku. (Alfajr 27-30) Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman, hidup bergelimang dosa dan kejahatan, suka mendustakan agama, apalagi senang berbuat dosa-dosa besar, seperti berzina, menganiaya, membunuh, memfitnah, durhaka terhadap orang tua dll. Mereka akan mengalami kesakitan, kepayahan demi kepayahan menghadapi mati. Sekalipun matinya di atas kasur yang empuk di hadapan rombongan penghibur dll. Dan itulah yang disebut su-ul khatimah (akhir hidup yang jelek) Mari kita berdoa, semoga idul fitri yang kita rayakan pagi ini, menjadi tonggak bagi niat tulus kita untuk menjauhi dosa, benar-benar kembali ke fitrah sebelum Allah SWT memanggil kita. Belum tentu kita bertemu dengan Romadlon tahun depan. Mari kita isi hari hari mendatang dengan amal sholeh, amal yang diridloi Allah SWT. Kita jadikan amal sholeh sebagai kebutuhan dan kenikmatan, bukan sekadar sebagai kewajiban. Ya Allah Tuhan kami yang maha pengasih dan penyayang. Akhirilah hidupa kami dengan akhir yang baik, janganlah engkau akhiri dengan kesudahan yang jelek, Amin ya Rabbal ‘alamin.


KHUTBAH IDUL FITRI