Issuu on Google+

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

1

Daftar Isi TOPIK UTAMA 13

Pemerkosaan dan Pakaian Muslimah KOMENTAR Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang menganjurkan wanita tidak memakai rok mini, dinilai telah membela pelaku pemerkosaan dan memojokkan kaum wanita.

17

Aurat dan Logika yang Menggelikan MASALAH aurat muncul sejak awal penciptaan manusia. Aurat juga merupakan salah satu bidikan pertama iblis dalam upayanya menjerumuskan umat manusia. Dalam QS al-A’raf ayat 27 dijelaskan bahwa setan menanggalkan pakaian Nabi Adam dan Ibu Hawa untuk memperlihatkan aurat mereka berdua.

21

WAWANCARA

Habib Muhammad Rizieq Syihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI)

Agar Wanita Tidak Diganggu

KASUS pelecehan seksual terhadap wanita makin marak terjadi. Mereka sering menjadi obyek pencabulan dan penistaan oleh laki-laki hidung belang. Banyak kalangan yang mengatakan itu salah mereka sendiri. Benarkah demikian?

34 Berkiblat Kepada Sahabat 38 Mengamalkan Hadis Dha’if 41 Hidangan Palsu di Mimbar Dakwah

33-55

CAKRAWALA Hadis-Hadis Dai Karbitan 2

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

44 Para Dai Perlu Didakwahi 48 Mendeteksi Hadis Palsu 52 Mengekspresikan Pesan Asyura

08

28

 Mungkinkah Bertemu Allah dalam Salat?

 Salat di Atas Pesawat  Menyembelih Hewan

SOWAN

SALAM REDAKSI SURAT PEMBACA SOWAN KATA MEREKA EDITORIAL TOPIK UTAMA WAWANCARA BAHTSUL MASAIL CAKRAWALA KHANIQAH SUFI KOLOM FUQAHA PESANTRENKU ALBUM-AGENDA REUNI SILATURAHIM SIDOGIRIDOTNET MUALAF HADHARAH RIHLAH RIJALUDDIN KLINIK PESANTREN TIPS PESANTREN SAKINAH KASYKUL SYAIR PENGAJIAN ISTIJABAH KUIS PENDIDIKAN

BAHTSUL MASAIL

dengan Mesin

04 05 08 10 11 13 14 28 34 54 57 60 64 66 69 73 77 80 85 89 92 95 99 102 104 107 110 112

66

REUNI KH. Fakhriyul Haq S. Setetes Jadi Selaut

69

SILATURAHIM PP. Mahir Arriyadl Pohon Sawo sebagai Filosofi Pesantren

74

SIDOGIRIDOTNET LIBYA Qadhafi Tewas, NATO Siap Kuras Minyak Libya

77

MUALAF Yusuf Islam Karena “LAGU untuk TUHAN”

85

RIHLAH Kota Kuno Jerusalem, Kota Suci Tiga Agama (1/2)

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

3

Salam Redaksi Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh PEMBACA yang budiman, pada edisi 65 ini, alhamdulillah BS bisa hadir kembali, tentu dalam format dan tampilan yang biasa. Akan tetapi kali ini, kita sedang ada dalam momentum yang luar biasa, yakni momen hijrahnya Rasul  dari Mekah menuju Madinah. Dan, pada kesempatan yang istimewa ini, seluruh kru BS mengucapkan: Selamat Tahun Baru Islam 1433 H. Namun meski demikian, pada edisi ini kami tidak mengangkat momentum hijrah ini sebagai topik utama kami, karena topik itu telah kami angkat di buletin ini sekitar lima tahun yang lalu, pada edisi 14, tahun II, Muharam, 1428 H. Silakan pembaca merujuk kembali edisi tersebut. Topik utama yang kami angkat kali ini adalah soal jilbab dan pakaian muslimah, sebab tempo hari, sebagaimana telah diketahui bersama, telah terjadi sejumlah kasus pelecehan seksual di dalam angkot, yang selanjutnya dikomentari oleh sejumlah tokoh. Dan sayangnya, peristiwa ini kemudian memantik kontroversi yang cukup panas. Sedangkan rubrik Kajian BS kali ini mengusung tema Hadis-Hadis yang sering dilontarkan oleh para dai dari podium maupun auditorium. Kita telah sama-sama menyaksikan, betapa mudahnya para dai masa kini menyampaikan Hadis-Hadis Nabi  tanpa permisi, seakan Hadis adalah kata-kata biasa. Nah, di sini BS tertarik untuk mengkritisi hal ini lebih mendalam. Dan, seperti biasa, tentu saja rubrikrubrik menarik lain turut mewarnai sajian dari kami selengkapnya. Selamat membaca! Redaksi

4

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Diterbitkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri dengan nomor SK: 08/BPP/A08/1429 sebagai Wahana Aktualisasi Pemikiran Salaf

Pondok Pesantren Sidogiri berdiri sejak 1745 M. Didirikan oleh Sayid Sulaiman, cicit Sunan Gunungjati. Pesantren ini berkomitmen mendidik umat dengan akidah, syariah, dan akhlak Ahlusunah wal Jamaah.

PENDIRI  Majelis Keluarga PP. Sidogiri PENASEHAT  Pengurus Harian PP. Sidogiri KOORDINATOR  d. Nawawy Sadoellah PEMIMPIN UMUM  HM. Masykuri Abdurrahman PEMIMPIN REDAKSI  Moh. Achyat Ahmad WAKIL PEMIMPIN REDAKSI  Moh. Yasir REDAKTUR SENIOR  H Ahmad Baihaqi, M. Sholeh Romli, Ahmad Dairobi, A. Qusyairi Ismail REDAKTUR  M. Masyhuri Mochtar, A. Fadoil Khalik, Ahmad Muntahal Hadi. STAF REDAKSI  Alil Wafa, Ahmad Biyadi, M. Husni Mubarok, Badrus Sholeh SH, Ali Wafa Yasin, Abdurrahman Wahid, Anwar Sholeh, Zainuddin Rusdi. DESAIN GRAFIS  M. Ali Hafidz (redaktur), Abdul Faqih M.R., Muhyidin, Dwy Sadoellah SEKRETARIS REDAKSI  Muhyiddin PERPUSTAKAAN & WEBSITE  Zainuddin Rusdi RUMAH TANGGA  Noer Kholis PEMIMPIN PERUSAHAAN  HM. Aminulloh Bq. TATA USAHA PERUSAHAAN  Ali Wafa SIRKULASI & DISTRIBUSI  M. Thoha (Kepala), M. Qosim, Moch Sibro Mulisi Chamim, A. Sa’dullah IKLAN & PROMOSI  Ach. Edy Amin (Kepala), Muhammad Ali, M. Halibi BENDAHARA  Ach. Edy Amin (Kepala), ALAMAT REDAKSI  Gedung MMU An-Nawawie, Pondok Pesantren Sidogiri, Sidogiri Kraton Pasuruan Jatim, PO. Box 22 Pasuruan 67101 Email: buletinsidogiri@yahoo.co.id Website: http://www.sidogiri.net buletinsidogiri

buletinsidogiri

KONTAK Redaksional  0343 7750000 Iklan dan Promosi  087856906174, 085851874111, Sirkulasi dan Distribusi  085730824111, 081913911258 Berlangganan  0811338358 Faximile  0343 431010 NOMOR REKENING a.n. Dwy Sadoellah Bank BCA: 0890533833 Redaksi menerima karya tulis dari pembaca sesuai rubrik yang telah disediakan. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah substansinya. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan.

Terdapat Tulisan al-Quran dan Hadis, Mohon Tidak Diletakkan di Sembarang Tempat!

Saran, kritik dan komentar, kirim melalui SMS ketik: SP#namaAnda#kotaAnda# atensiAnda (contoh: SP#Ahmad Mujib#Pasuruan#isi atensi), ke 081330440000, email: buletinsidogiri@yahoo.co.id atau surat ke alamat Redaksi

Kegiatan LPBAA Diupload ke SidogiriDotNet.

Bagaimana kalau pementasan unjuk kebolehan santri berbahasa Arab & Inggris diupload ke sidogiri.net biar kita tahu perkembangan bahasa Arab & Inggris di PPS.

Azizi, Pasuruan, 081936895xxx 25.10.2011 10.56

Terima kasih, usulan yang baik.

Surat Pembaca Pertanyaan seputar Pesantren dijawab oleh: Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri

ATENSI TERBAIK EDISI 64

M. Agus Amin, 081358928xxx SURAT PEMBACA TERBAIK Sertifikasi Anggota Kuliyah Syariah Anda berhak mendapatkan satu T-Shirt eksklusif Buletin SIDOGIRI

Mohon Konfirmasi di 0343 7750000/ 0343 431010 dengan menggunakan nomor HP Anda di atas

Modern tapi Tetap Salaf

Saya mau tanya, apa perbedaan antara pesantren salafi dan modern? dan sebagai Ahlussunah wal Jamaah, aku harus memilih dan mementingkan pesantren yang mana?

Imam Syafii, Blitar, 085646426xxx 18.10.2011 10.32

Pesantren Salaf menurut kami adalah pesantren yang fokus pada kegiatan tafaqquh fid-din ala thariqah ahlissunnah wal jamaah, dan tentunya antara pesantren salaf dan modern sama-sama memiliki sisi kelebihan dan kekurangan serta peranan yang berbeda.

IASS Lahirkan AlumniAlumni Terampil

Saya punya usul, bagaimana kalau semua alumni PPS yang mempunyai bakat seperti kaligrafi, qiraah, dll itu dibuatkan perkumpulan sehingga perkumpulan itu bisa memperkenalkan

PPS kepada masyarakat. Trims.

Zaini, Bogor, 08576328xxx 27.10.2011 11.59

Terima kasih, usulan bapak memang menjadi keinginan Pengurus IASS.

Bus Rombongan Saat Kembali Ke PPS

Bagaimana kalau santri Sidogiri waktu kembali ke PPS, juga disiapkan bus rombongan.

Ahsan, Situbondo, 081883221xxx 17.10.2011 07.25

Terima kasih, usulan Bapak pernah menjadi pemikiran kami tetapi masih ada kendala dalam komunikasi dan koordinasi pemulangan karena tempat yang berbeda dan berjauhan. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

5

Surat Pembaca Tabel Mahram sebagai Bonus BS

Bagaimana untuk edisi mendatang bonusnya jadwal mahram? Syukran.

Romi, Pamekasan, 03178372xxx 14.09.2011 13.50

Terima kasih. Masukan berharga, kami berusaha memberikan yang terbaik untuk pembaca.

Tempat Khusus Bagi Peziarah Perempuan

Kenapa PPS tidak menyediakan tempat khusus untuk tamu perempuan yang hendak ziarah ke pesarean Masyayikh Sidogiri?

Aldo, Surabaya, 085234998xxx 17.10.2011 11.21

Tamu perempuan belum boleh berziarah ke pesarean Masyaikh Sidogiri.

Filosofi Lambang PPS

Mengapa dalam lambang PPS ada sehelai kainya? Apa filosofi dari kain tersebut? Dan mengapa harus segi tiga berdiri sebagai penutup dari lambang itu? Terima kasih.

Rozak, Pasuruan, 0856567xxx 25.10.2011 12.20

Berdasarkan buku Anggaran Dasar Pondok Pesantren Sidogiri , lambang PPS berbentuk segitiga berdiri tegak lurus; suatu tampilan yang menggambarkan keteguhan dan kepastian; sebagaimana takrif Santri. Pita adalah sehelai kain yang sangat mudah dibentuk menjadi berbagai pola. Hal itu melambangkan sikap dan mental yang terbuka, mudah menerima saran, kritik, pendapat, dan nasehat yang datang dari manapun.

6

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Pertegas Aturan Berhenti Mondok sebelum Jabatan Selesai Kenapa masih banyak pengurus PPS dari santri aktif yang boyong sebelum masa jabatannya selesai, terutama pengurus daerah? Mohon ketegasannya,karena urusan daerah bisa tercecer.

Muhlas, Pasuruan, 03437678xxx 25.02.2011 19.47

Terima kasih. Memang seharusnya demikian, namun seringkali tidak bisa dibendung.

Sediakan Konsultasi Kesehatan dari Dokter Bagaimana jika BS menyediakan kolom konsultasi kesehatan yang diasuh oleh Tim Medis Kesehatan Sidogiri? Trims.

Mubtadak, Bangkalan, 085649785xxx 21.11.2011 20.24

Usulan brilian. Segera kami tindak lanjuti dalam sidang redaksi. Syukran.

Harga Barang di Kopontren Mahal

Di Kopontren cabang Pakong dan Ganding Sumenep, kenapa barangbarang yang disediakan kok relatif mahal? Padahal kualitasnya sama aja dengan toko-toko pada umumnya. Apa Kopontren milik orang yang menanam modal, bukan seutuhnya milik PPS? Terima kasih.

Syahid, Sumenep, 0856498xxx 17.11.2011 08.34

Terima kasih, koreksi Anda menjadi motivasi bagi kami. Semua badan usaha dengan badan hukum koperasi

Surat Pembaca adalah milik anggota. Tapi, khusus untuk Kopontren Sidogiri berada di bawah kendali Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri.

Bonus Sastra Arab

Bagaimana kalau bonus di setiap edisinya berupa kumpulan tukilan sastra Arab. Syukran.

Musyaffak, PPS K-02, Surabaya

Insya Allah, masukan Saudara semoga dapat kami wujudkan.

Hari Senin & Kamis Jam Buka Kopontren Ditambah

Bagaimana kalau setiap hari Senin sore dan Kamis sore jam buka kopontren unit 4 sampai adzan Maghrib dikumandangkan? Kasihan teman santri

yang sedang menunaikan buka puasa. Terima kasih.

Abdulloh, Pasuruan

Terima kasih, usulan Anda akan kami pertimbangkan.

PPS Perlu Seriusi Akhlaq Santri

Saya adalah salah satu simpatisan Sidogiri, ketika saya berkunjung ke PPS saya mendapati salah satu santri mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh santri.

Muhammad, Jember, 08213141xxx 17.10.2011 12.40

Terima kasih atas koreksi dan saran Bapak, insya Allah ini menjadi perhatian kami.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

7

Buletin SIDOGIRI menerima konsultasi masalah akidah dan ushuluddin. Kirim melalui SMS ketik: SW#nama Anda#kotaAnda#pertanyaan Anda (contoh: SW#Ahmad Mujib#Pasuruan#isi pertanyaan), ke 081330440000, email: buletinsidogiri@yahoo.co.id atau surat ke alamat redaksi.

Sowan

diasuh oleh: KH. A. Nawawi Abd. Djalil (Khâdimul-Ma‘had Sidogiri)

Mungkinkah bertemu Allah dalam Salat? Kami menemukan keterangan dalam sebuah buku bahwa dalam salat seseorang bisa bertemu Allah, dan bertemu dengan Allah tidak hanya di Akhirat. Mohon penjelasannya? Abdullah, Jember Lihat dulu, apa maksudnya bertemu itu. Kalau bertemu dzât bidz-dzât (secara langsung, seperti manusia bertemu manusia), itu mustahil. Sebab,

8

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Allah  itu bersifat qiyâmuhû bi-nafsihî (Maha Mandiri) dan mukhâlafah lilhawâdits (berbeda dengan makhluk). Allah tidak bertempat dan tidak berada di arah. Di akhirat pun, ketika orang mukmin di surga melihat Allah, itu terjadi bi lâ kaifin, tidak bisa dibayangkan atau tidak bisa ditanyakan dengan “bagaimana?”. Orang mukminnya memang di surga, tapi Allah tidak berada di surga, karena

Sowan Allah tidak bertempat. Begitu juga, bila kita mengikuti pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa Rasulullah bertemu langsung dengan Allah pada saat mi’raj, itu hanya Rasulullah yang ada di mustawâ. Sedangkan Allah tidak menempati tempat apa pun. Makanya, kata-kata wushûl (sampai) kepada Allah dalam istilah orang-orang sufi, maksudnya adalah ma’rifat atau wushûl bil-ilmi (sampai kepada Allah dengan pengetahuan tentang Allah), bukan melihat Dzat Allah.

Dalam Shalawat Masyisyiah, ada doa yang bunyinya; “Allâhumma ijma’ bainî wa bainika.” (Ya Allah, kumpulkanlah aku dengan-Mu). Maksudnya adalah: jadikanlah aku selalu ingat kepada-Mu. Bukan kumpul dzât bidz-dzât. Ada juga doa “wa hul bainî wa baina ghairika.” (Pisahkanlah aku dari selain-Mu). Maksudnya doa ini bukan pisah dzât bidz-dzât, bukan perpisahan tubuh antara dia dan isteri, anak, atau keluarganya. Tapi maksudnya: hilangkanlah hal-hal yang dapat menghalangi aku ingat kepada-Mu.

Perbedaan Sunni dan Syiah Syiah dicap sebagai aliran sesat dan sangat membahayakan akidah Ahlussunnah wal-Jamaah. Sebetulnya di mana letak perbedaan antara Sunni dan Syiah? Ahmad, Bangkalan, 085233456xxx Syiah itu adalah aliran yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal-Jamaah, bahkan Syiah itu lebih jauh dari pada Wahabi. Perbedaan dengan Muhammadiyah atau Wahabi kan hanya sekadar hukum-hukum syar’i, seperti tahlil dan lain sebagainya. Tapi kalau perbedaan Syiah ini sangat tajam. Hadis yang dibuat pegangan oleh Ahlussunnah tidak mereka pakai. Mereka punya hadis sendiri. Orang Syiah tidak mau kepada Hadis-hadis dalam Shahih al-Bukhâri, Muslim, Sunan Abî Dâwûd, an-Nasâ’i dan Ibnu Hibbân. Dan, al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut mereka masih kurang. AlQur’an kata mereka lebih banyak dari itu. Jadi, soal kitab dan rujukan saja antara Syiah dan Ahlussunnah sudah

lain. Kalau Muhammadiyah atau Wahabi, al-Qur’an dan Hadisnya sama dengan Ahlussunnah. Hanya masalah pengelolaannya yang berbeda. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

9

Kata Mereka Seorang anak miskin membutuhkan sekurangnya Rp 46.038.000 untuk biaya pendidikan dari SD sampai lulus S1. Uang Rp 1 miliar per tahun untuk anggaran satu wakil menteri dapat mencetak 22 anak miskin menjadi sarjana... Koordinator Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Ucok Sky Khadaffy mengatakan, keberadaan 19 wakil menteri merupakan pemborosan anggaran. Sebab, biaya tahunan bagi 19 wakil menteri diperkirakan setara dengan dana untuk mencetak 418 anak miskin bersekolah dasar hingga meraih gelar sarjana. Angka Rp 1 miliar per tahun sudah merupakan hitungan minimal. Pasalnya untuk anggaran operasional wakil menteri belum ada rujukaannya, sehingga mengacu kepada anggaran operasional menteri sebesar Rp 1,2 miliar per tahun. Jika Wamen bertugas tiga tahun hingga 2014, total anggaran operasional mereka dapat mencetak 1.485 sarjana dari keluarga miskin. Selasa, 18/10/2011. (kompas.com)

Itu perbuatan yang terkutuk, itu dosa. Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir mengutuk keras pemboman Masjid Adz Dzikro dan Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Solo. Pendiri PP Al-Mukmin Ngruki Solo itu juga membantah mengenal pelaku pemboman tersebut. Terkait tudingan bahwa pelaku merupakan anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Ba’asyir menegaskan bahwa itu urusan pribadi. Menurutnya, pihaknya tidak pernah mengajarkan jihad dengan cara demikian. ”Itu urusan anggota masing-masing... Kalau misalkan ada polisi yang melakukan kesalahan, masa Mabes Polri dibubarkan? Kan itu urusan pribadi?” tukasnya. Senin, 3/10/2011. (surya. co.id; kompas.com)

Jika seluruh rakyat dapat menanam 10 pohon dan merawatnya, maka hutan Indonesia dapat dipulihkan kembali dalam waktu 30 tahun. Untuk mendukung upaya ini Saya tidak mengeluarkan ijin baru sejak 2009. Ucapan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di sela-sela diskusi dengan para blogger di Jakarta, Jumat (14/10/2011) malam. Setiap tahun, kerusakan hutan di Indonesia mencapai lebih dari 1,08 juta hektare (ha). Total hingga saat ini, luas hutan yang rusak di Indonesia telah mencapai 65 juta ha atau sekitar 50 % dari total luas hutan (130 juta ha). Pemerintah mentargetkan 25 tahun mendatang, Indonesia menjadi penghasil kayu terbesar di dunia dengan tanpa merusak hutan alam yang ada saat ini. Kementerian Kehutanan sendiri menyediakan 500 juta batang bibit untuk menghijaukan kembali hutan Indonesia. (detik.com; vivanews.com)

10

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Editorial

Bukan Sekadar Imigrasi (Refleksi Tahun Baru 1433 H.)

I

NI adalah salah satu fragmen sejarah umat Islam yang paling fundamental. Ia adalah momen monumental dalam perjalanan Islam yang tak boleh dilewatkan. Ialah perjalanan hijrah, yang dilakukan oleh Nabi  bersama umat Islam pada tahun tiga belas kenabian. Ya, hijrah adalah peristiwa agung dalam suatu etape perjuangan Nabi  mendakwahkan Islam kepada seluruh umat manusia. Dan, kisah hijrah pun ditampilkan sebagai tonggak awal yang menandai perkembangan Islam dengan pesat pada episode-episode berikutnya. Sebab sebelum Nabi  berimigrasi ke Yatsrib, hasil yang diperoleh sungguh tak sebanding dengan upaya dakwah yang teramat terjal itu. Betapa tidak? Dalam tempo tiga belas

Ya, hijrah adalah peristiwa agung dalam suatu etape perjuangan Nabi  mendakwahkan Islam kepada seluruh umat manusia. tahun Rasulullah  berdakwah di Mekah kepada orang-orang kafir Quraisy, hanya segelintir saja orang yang bersedia menyatakan keimanannya dengan tulus. Akan tetapi kemudian Allah  menitahkan kepada RasulNya untuk memulai lembaran baru dakwahnya. Dengan berimigrasi ke Yatsrib, yang kelak disebut Madinah, dalam tempo 6 tahun dakwah edisi Madinah berlangsung, sudah lebih dari seribu orang yang mengikrarkan keislamannya. Sehingga pada saat perdamaian Hudaibiyah, yang terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 6 H, Nabi  mampu BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

11

membawa pasukan sebanyak 1400 personil. Dua tahun berikutnya, sebagai pengaruh dari perdamaian Hudaibiyah, eskalasi jumlah kaum Muslimin meningkat secara signifikan. Pada waktu penaklukan kota Makkah, Ramadhan tahun 8 H, Rasulullah  mampu membawa pasukan tujuh kali lipat lebih besar daripada sewaktu perdamaian Hudaibiyah, yaitu sebanyak 10.000 personil. Baru setelah penaklukan kota Makkah, masyarakat Arab secara keseluruhan berbondongbondong menyatakan masuk Islam. Delegasi yang mewakili suku-suku Arab berdatangan kepada Nabi  di Madinah sebagai pernyataan masuk Islam. Sehingga ketika Nabi  melaksanakan Haji Wada, akhir Dzul Qa’dah tahun 10 H, beliau diikuti jamaah haji yang jumlahnya ditaksir antara 114 ribu sampai 130 ribu orang. Dan, Rasulullah  wafat sepulang dari Haji Wada, 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H, setelah Jazirah Arab berada dalam genggaman Islam. Dari fakta dan data sejarah ini, kita bisa menyaksikan, dan tentu juga merasakan, ada getaran yang berbeda antara dua edisi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah

. Ada karakter dan titik tekan berbeda antara kedua periode dakwah itu; dakwah edisi Mekah bisa digambarkan semacam upaya keras untuk membuka kran berkarat yang salurannya tersumbat sedemikian rapat. Pada dakwah edisi Madinah, kran memang telah terbuka, akan tetapi ini tidak berarti perjuangan menjadi teramat mudah. Ini adalah periode yang teramat berat, seberat perjuangan periode Mekah, akan tetapi tentu dengan versinya yang berbeda. Namun apapun itu, pada edisi ini hijrah harus menjadi kata kunci, yang memperlancar arus dakwah, dan memberikan efek sekaligus gelombang luar biasa, sehingga gema dakwah itu menggulung Semenanjung Arabia dengan sempurna. Jadilah hijrah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari strategi, sehingga di sini, hijrah bukan sekadar imigrasi. Dan pada gilirannya, hijrah memang terus bertahan sebagai kata kunci dan solusi bagi berbagai problem yang meliliti setiap aspek hidup dan kehidupan, sehingga seakan tercipta adagium umum: tak ada keberhasilan tanpa keberanian untuk berhijrah.  BS

Jadilah hijrah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari strategi, sehingga di sini, hijrah bukan sekadar imigrasi. Dan pada gilirannya, hijrah memang terus bertahan sebagai kata kunci dan solusi bagi berbagai problem yang meliliti setiap aspek hidup dan kehidupan, sehingga seakan tercipta adagium umum: tak ada keberhasilan tanpa keberanian untuk berhijrah.

12

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Habib Muhammad Rizieq Syihab

Agar Wanita tidak Diganggu

Topik Utama

Pemerkosaan dan Pakaian Muslimah Livia, seorang mahasiswa Binus, diperkosa pada 16 Agustus lalu di angkot mikrolet M 24 jurusan Slipi-Srengseng. Ada pula perempuan berinisial RS, yang diperkosa di dalam angkot yang berputar-putar di sepanjang Jl TB Simatupang pada Kamis (1/9) malam. Rasa resah, getir, dan takut menyelimuti kaum Hawa Jakarta setelah kejadian tersebut. Khusus pemerkosaan di dalam angkot ini kemudian menjadi isu nasional lantaran Perkumpulan Pembela Hak Perempuan tidak terima jika dituduh sebagai biang dari tragedi tersebut. Komentar Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang menganjurkan wanita tidak memakai rok mini, dinilai telah membela pelaku pemerkosaan dan memojokkan kaum wanita. Mereka pun menggelar aksi massal di Bundaran Hotel Indonesia (18/09), memprotes pernyataan Fauzi Bowo. Aksi mereka ini menyisakan pertanyaan besar, apakah reaksi mereka dinilai wajar dan normal? Bukankah wanita akan lebih terhormat jika berpakaian sopan dan santun? Di sinilah kami tergerak untuk tampil guna memperjelas keremangremangan pemahaman yang masih saja terjadi di masyarakat, khususnya terkait dengan pakaian wanita.  BS

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

13

Tutup Aurat Anda.! Termasuk aib dan rahasia adalah aurat, sehingga pemiliknya merasa malu jika auratnya dilihat oleh orang lain.

14

D

ALAM hal apa saja, termasuk cara berpenampilan dan berpakaian, seharusnya kita tidak menyampingkan hak masyarakat sekitar kita. Jika masyarakat sudah menilai bahwa membuka aurat dapat mengganggu kesopanan, maka sudah seharusnya penilaian mereka dihargai dengan mengesampingkan ego pribadi. Setiap individu tidak boleh seenaknya menggunakan pakaian yang mengumbar syahwat karena dapat mengganggu nilai kesopanan masyarakat. Terlebih lagi menutup aurat merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim dan muslimah. Pada hakikatnya, pakaian sebagai kemasan luar bertujuan untuk menjaga rahasia dan aib yang memang harus dijaga oleh setiap individu. Termasuk aib dan rahasia adalah aurat, sehingga pemiliknya merasa malu jika auratnya dilihat oleh orang lain.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Sebab itulah, istilah yang kita gunakan untuk menunjuk “alat inti� manusia adalah “kemaluan�. Sebab, jika terlihat orang lain, pemiliknya akan merasa malu, dan orang yang selalu mengumbar aurat kita istilahkan orang yang tak punya malu. Dari itu, berbusana merupakan langkah maju dalam peradaban manusia, sehingga model dan bentuk berbusana dijadikan acuan dalam menilai kemajuan peradaban seseorang. Orang yang berpakaian lengkap dan sopan dinilai sebagai manusia beradab dan berbudaya, sedangkan orang yang tidak berpakaian lengkap dinilai sebagai manusia primitif dan pedalaman. Jika kemudian mengumbar aurat dinilai sebagai sebuah kemajuan, itu adalah persepsi yang keliru dan langkah mundur. Dalam hal berbusana, kewajiban dalam Islam tidak hanya sekedar berbusana, melainkan

menutup seluruh aurat. Mengenai perbedaan batasan aurat antara laki-laki dan perempuan tetap mengacu pada psikologis dan pengaruh aura syahwati dari dua insan lain jenis tersebut. Sebab, rangsangan sel libido atau birahi keduanya berbeda; kaum laki-laki lebih sensitif dibanding kaum perempuan di saat ada sesuatu yang menarik perhatian dari lawan jenisnya. Dalam kehidupan manusia, Allah  menetapkan syahwat pada mereka agar kehidupan di atas bumi terus berlanjut. Hanya saja, ada perbedaan tingkat syahwat antara laki-laki dan perempuan. Karena sel libido laki-laki lebih sensitif, ia lebih agresif dibanding kaum perempuan. Tidak heran jika kemudian muncul fenomena sosial yang timpang; angka pekerja seks komersial oleh kaum perempuan lebih tinggi daripada kaum lakilaki. Perbedaan syahwat tersebut merupakan bagian dari tatanan kehidupan untuk mencapai tujuan dimaksud, yaitu menjaga populasi kehidupan di dunia. Oleh karena itu, Allah  tidak lantas membiarkan keagresifan kaum laki-laki ini dengan liar. Sebab, jika itu dibiarkan, bukan tidak mungkin bumi akan hancur dan kehidupan dunia akan musnah akibat peperangan antar manusia yang memperebutkan pasangannya. Oleh karena itu, Allah  juga menetapkan aturan main dalam kehidupan manusia, seperti pemberlakuan hukum perkawinan, larangan untuk berbuat mesum (zina), larangan memandang lawan jenis yang bukan mahram,

dan kewajiban menutup aurat. Bahkan, untuk yang kategori zina, pelakunya tidak hanya diganjar dengan dosa, melainkan juga harus di-had dengan dilempar menggunakan batu. Termasuk bagian dari ketetapan di atas, Allah  memerintahkan kaum perempuan untuk menutup semua anggota tubuhnya. Hal itu tak lain untuk menghindari ledakan emosi seksual kaum pria yang sangat sensitif dan berakhir dengan pemerkosaan. Kaum lelaki berkewajiban menutup aurat antara pusar dan lutut, karena di bagian itulah sensitifitas mereka, yang dapat menarik perhatian kaum perempuan. Memang, pentutupan aurat oleh kaum hawa bukan solusi akhir untuk terhindar dari tindak pemerkosaan. Sebab, jika mental masyarakat rendah, meskipun kaum perempuan memakai baju tertutup dan berjilbab, tetap saja menjadi sasaran pelecehan seksual. Terlebih rasa keagamaan sebagian masyarakat kita saat ini sangat rendah, sehingga sedikit ada kesempatan saja sudah bertindak di luar norma. Meskipun demikian, paling tidak, tertutupnya aurat dapat meminimalisir terjadinya pemerkosaan yang kerap terjadi. Untuk sementara ini, ada paradigma yang salah dari sebagian kaum wanita dengan menganggap bahwa rok mini bukan sebuah kesalahan. Padahal, rok mini adalah salah satu pemantik kejahatan seksual karena dapat menarik lawan jenisnya untuk berpikiran negatif. Bagi

Termasuk bagian dari ketetapan di atas, Allah  memerintahkan kaum perempuan untuk menutup semua anggota tubuhnya.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

15

Akan tatapi, perlu juga diperhatikan bahwa mengumbar aurat dengan memakai busana yang meminggirkan aturan agama juga merupakan kejahatan

16

mereka yang memiliki keteguhan iman, mungkin tak akan goyah oleh rok mini, tapi bagi mereka yang keimanannya rapuh, pikiran negatif itu tentu akan dilanjutkan pada aksi pemerkosaan. Semua masalah pemerkosaan memang timbul lantaran berbagai penyebab yang saling berkaitan, semisal kesempatan yang didukung oleh suasana dan pikiran ngeres dari kaum lelaki. Akan tetapi, pakaian wanita yang seronok juga memiliki andil besar dalam memicu kasus pelecehan seksual. Sebab, kejahatan seks juga bisa terobsesi oleh pemandangan yang menggugah selera seks. Perlu dipikirkan pula bahwa kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Pemerkosaan yang kerap melanda kaum perempuan memang layak dikutuk dan pelakunya harus dihukum berat, karena ia telah merusak harga diri wanita dan menyalahi etika dan aturan agama. Akan tetapi, perlu juga diperhatikan bahwa mengumbar aurat dengan memakai busana yang meminggirkan aturan agama juga merupakan kejahatan, yang memberikan ruang bagi syahwat lelaki untuk bergejolak. Dari itulah, anjuran Fauzi Bowo agar wanita tidak memakai rok mini bukan suatu tuduhan dan menyalahkan korban, melainkan imbauan terhadap kaum wanita agar hati-hati dalam berpenampilan; jangan sampai mengundang syahwat lawan jenis yang bisa melahirkan kejahatan. Pernyataan itu juga mengandung nilai edukasi bagi semua lapisan

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

masyarakat untuk selalu mendidik anak-anaknya agar memiliki etika dan kesopanan, khususnya dalam berpakaian. Aksi kaum perempuan yang memprotes pernyataan Fauzi Bowo bukan sebuah sikap bijak. Sebab, konteks pembicaraan Fauzi mengarah pada peringatan bahwa setiap tindakan kejahatan sudah seharusnya dicegah sejak dini, termasuk mencegah kejahatan seksual dengan tidak memakai rok mini dan pakaian ketat. Karena pakaian model demikian dapat memancing reaksi tindakan pelecehan seksual. Setiap wanita memang punya hak berpakaian, tapi juga harus bisa mengondisikan cara berpakaian di luar rumah. Sebab, di luar rumah ada hak orang lain yang harus dijaga dan dihormati. Pemakaian rok mini juga sangat mengganggu hak orang lain. Dari itulah, mengaitkan pemakaian rok mini dengan kebebasan berekspresi dan Hak Asasi adalah salah alamat. Maraknya kasus pemerkosaan yang terjadi selama ini setidaknya membuka mata hati kita, betapa rendahnya moral bangsa ini. Bukan hanya dengan model pemerkosaan murni yang berbau kriminalitas, tapi juga hubungan suka sama suka yang kemudian dipelintir menjadi kasus pemerkosaan lantaran telah hamil di luar nikah dan sebagainya. Semuanya, memberi pelajaran berharga, khususnya bagi orangtua, tentang begitu pentingnya pendidikan moral dan agama bagi generasi muda. M. Masyhuri Mochtar/BS

Aurat dan Logika yang Menggelikan

M

ASALAH aurat muncul sejak awal penciptaan manusia. Aurat juga merupakan salah satu bidikan pertama iblis dalam upayanya menjerumuskan umat manusia. Dalam QS al-A’raf ayat 27 dijelaskan bahwa setan menanggalkan pakaian Nabi Adam dan Ibu Hawa untuk memperlihatkan aurat mereka berdua. Hal itu terjadi setelah iblis berhasil menggoda mereka untuk memakan buah terlarang. Menurut Imam arRazi, ada kemungkinan iblis tahu bahwa pakaian Nabi Adam dan Ibu Hawa akan terlepas bila memakan buah terlarang tersebut. Bagi iblis, dengan membuka

Bagi iblis, dengan membuka aurat Adam-Hawa berarti dia berhasil menjatuhkan kehormatan manusia. Bagi manusia, aurat adalah harga diri dan kehormatan yang wajib dijaga.

aurat Adam-Hawa berarti dia berhasil menjatuhkan kehormatan manusia. Bagi manusia, aurat adalah harga diri dan kehormatan yang wajib dijaga. Semakin terjaga auratnya, maka semakin terjaga pula kehormatannya. Setiap agama, ajaran moral, etika dan nilai-nilai tradisi memiliki sudut BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

17

pandang dan batas sendiri-sendiri tentang aurat. Dan, yang paling ketat mengenai hal ini adalah ajaran Islam. Tidak ada ajaran dan nilai apapun di dunia ini yang menyamai Islam dalam hal ketatnya aturan aurat, terutama untuk kaum wanita. Hal itu, karena ajaran Islam dibangun di atas landasan untuk menjaga fitrah dan kehormatan manusia dari berbagai penyimpangan dan pelecehan. Sudah sangat maklum bahwa cara berpakaian kaum wanita dalam sebuah komunitas menunjukkan ketat atau longgarnya norma pergaulan pada komunitas tersebut. Meski ini tidak mutlak, tapi sangat umum terjadi. Jika kaum wanita di sebuah komunitas masyarakat terbiasa “telanjang”, maka hampir bisa dipastikan jika komunitas tersebut memiliki pergaulan yang lebih Saat itu, Muslimah dan hijab masih setali tiga uang. Namun, ketika sejarah memasuki masa modern, ajaran hijab sedikit demi sedikit mulai digerogoti dari berbagai sisi. bebas dari norma. Oleh karena itu, Islam menerapkan ajaran hijab (pembatasan laki-perempuan) yang ketat sebagai kelanjutan dari visinya untuk menjaga sistem pergaulan agar tetap kondusif bagi pembangunan moral. Pergaulan adalah kunci moralitas manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Hijab merupakan syiar yang lekat pada diri kaum Muslimah dari masa ke masa, khususnya pada masa-masa Abad

18

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Pertengahan. Saat itu, Muslimah dan hijab masih setali tiga uang. Namun, ketika sejarah memasuki masa modern, ajaran hijab sedikit demi sedikit mulai digerogoti dari berbagai sisi. Terutama, sejak terjadinya sekularisasi massif di Turki, pasca runtuhnya Kekhalifan Utsmani (1924). Menurut penelitian arRuwaisyid dalam makalahnya yang berjudul Syubuhât wa-Aqâwîl Haulal-Hijâb, ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh orang-orang masa kini untuk melemahkan, atau bahkan menentang ajaran hijab. Di antaranya: Pertama, ada yang menyatakan, “Islam itu agama yang mudah, sementara penerapan hijab di masa seperti saat ini mempersulit orang.” Sebenarnya, alasan semacam ini sangatlah dangkal, namun tetap ada saja orang yang menggunakannya karena didorong oleh rasa alergi terhadap jilbab. Keberadaan Islam sebagai agama yang mudah, bukan berarti dalam Islam tidak ada sisi beratnya sama sekali. Bahkan, jika diteliti, hampir seluruh perintah Allah memiliki sisi berat atau masyaqqat bagi manusia, namun hal itu masih dalam batas kemampuan wajar mereka. Karena masih dalam batas kemampuan, maka harus dipatuhi meski berat. Melempar jumrah saat haji, di zaman ini begitu sulit, tapi tidak lantas gugur. Begitu pula riba, saat ini sudah menjadi sistem ekonomi dunia yang sulit dihindari, namun bukan berarti jadi halal gara-gara sulit. Kedua, sebagian penentang

hijab beralasan: Islam itu agama yang sesuai dengan perkembangan zaman. Saat ini, zamannya sudah berubah, tidak seperti masa-masa Abad Pertengahan, sehingga ajarannya pun harus berubah. Ini merupakan jargon normatif yang sering disalahgunakan. Atau, dalam istilah Sayidina Ali bin Abi Thalib: Kalimat haq yang digunakan untuk maksud batil. Ajaran Islam memang sesuai dengan seluruh umat manusia, seluruh generasi dan seluruh masa. Akan tetapi, bukan berarti ajaran Islam harus berubah karena mengikuti perkembangan masa. Sama sekali tidak begitu. Maksud “sesuai” di situ adalah sesuai untuk diterapkan bagi semua golongan dan semua zaman, tanpa pandang bulu, karena Rasulullah  diutus kepada segenap umat manusia. Oleh karena itu, tradisi masyarakatlah yang harus disesuaikan dengan ajaran Islam, bukan justru sebaliknya. Yang bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi adalah hal-hal yang tidak diatur secara permanen dalam agama. Ketiga, ada yang menggunakan alasan: yang penting niatnya baik dan bisa menjaga diri. “Meski tak berjilbab, saya bisa menjaga diri. Saya juga tidak punya maksud ingin menarik perhatian lelaki.” Ini adalah alasan klasik yang biasa dipakai para artis dan orang yang meremehkan syariat. Perlu diketahui, niat baik tidak bisa mengubah barang haram menjadi halal; mengubah yang sesat jadi benar. Sebagaimana

Maka, Islam datang dengan ajaran yang sangat adil, tidak berat sebelah. Mata dilarang memandang aurat, sedangkan aurat tidak boleh dibuka disinggung dalam QS az-Zumar ayat 3, kaum musyrikin Quraisy juga menyampaikan alasan ‘niat baik’ untuk membenarkan agama berhala. Mereka menyatakan, “Kami menyembah berhalaberhala itu hanyalah sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.” Lalu, apakah perbuatan mereka itu jadi benar gara-gara ‘niat baik’ tersebut!? Kalaupun si pembuka aurat itu benar-benar bisa menjaga diri, dia tetap tidak mungkin bisa menjaga orang lain yang melihat keindahan tubuhnya. Maka, Islam datang dengan ajaran yang sangat adil, tidak berat sebelah. Mata dilarang memandang aurat, sedangkan aurat tidak boleh dibuka. Jadi, subyek dan obyeknya sama-sama diantisipasi. Keempat, ada orang beralasan tidak memakai jilbab karena malu dan khawatir terkesan sok alim. Inilah alasan yang sangat buruk. Bayangkan, kalau masyarakat sudah malu melakukan kebaikan dan bangga melakukan keburukan, maka sudah benar-benar musnah nilai-nilai mulia dalam diri mereka. Kelima, ada yang bilang: penggunaan jilbab juga cadar (burqa) bisa menjadi sarana untuk menyembunyikan identitas. Oleh karena itu, jilbab-cadar harus dilarang. Alasan ini sedang marak beredar di Eropa dan Amerika. Ini juga terlalu dibuat-buat. Kalaupun BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

19

misalnya memang ada orang yang memakai jilbab-cadar untuk menyamar, lalu apakah cadarnya yang mesti disalahkan!? Kalau begitu, seragam polisi atau tentara harus juga dilarang. Sebab, kasus yang lebih banyak justru penipuan dengan berpura-pura memakai seragam polisi atau tentara, daripada memakai burqa. Keenam, ada juga yang bilang: letak kebaikan seorang wanita bukan pada jilbabnya. Tidak sedikit, wanita berjilbab yang berperilaku buruk; dan tidak sedikit pula wanita tak berjilbab yang berperilaku baik. Ini juga alasan yang terlalu dicari-cari. Sangat perlu diingat, bahwa Islam itu memerintahkan jilbab sekaligus memerintahkan perilaku baik. Dua-duanya harus dipatuhi, dan tidak ada jaminan keduanya melekat secara sempurna pada diri seseorang. Boleh jadi, hanya salah satunya. Lalu, kalau ada orang berjilbab melakukan perbuatan tercela, apakah jilbabnya yang akan disalahkan!?. Kalau begitu, rumah sakit pun juga tercela, karena sangat banyak orang yang meninggal dunia ketika dirawat di sana. Jilbab, sebagaimana rumah sakit, tidak memiliki potensi apapun untuk menyebabkan perilaku tercela. Jilbab justru memiliki potensi besar untuk perilaku terpuji, dan menjaga

kehormatan wanita. Selain alasan-alasan tersebut di atas, tidak sedikit orang yang menyebut tokoh-tokoh tertentu sebagai alasan. Misalnya, “Ibu nyai fulan, putrinya kiai fulan, atau istrinya ustadz fulan tidak memakai jilbab, memakai pakaian ketat, dan lain sebagainya.� Menanggapi hal ini, prinsip yang harus dipegang adalah: bahwa mereka bukanlah orang-orang yang maksum dari kesalahan. Mereka tidak memiliki otoritas apapun untuk dijadikan hujah dalam agama ini. Istri nabi sekalipun bisa salah, bahkan sesat, seperti istri Nabi Nuh alaihis salam. Karena, sebagaimana ditegaskan Sayidina Ali bin Abi Thalib, “Kebenaran tidak diketahui dengan tokoh-tokoh. Oleh karena itu, ketahuilah apa yang benar, maka kau bisa tahu siapa tokoh yang benar.� Walhasil, jika kita renungkan dengan mendalam, sebenarnya logika yang mereka gunakan untuk membela budaya obral aurat seringkali terkesan menggelikan. Namun, tidak sedikit orang Islam yang justru termakan propaganda mereka itu. Penyebab utamanya ada dua, yaitu dangkalnya pengetahuan tentang ajaran Islam dan kuatnya hegemoni nafsu dalam kehidupan umat Islam saat ini. Ahmad Dairobi/BS

Walhasil, jika kita renungkan dengan mendalam, sebenarnya logika yang mereka gunakan untuk membela budaya obral aurat seringkali terkesan menggelikan. Namun, tidak sedikit orang Islam yang justru termakan propaganda mereka itu. Penyebab utamanya ada dua, yaitu dangkalnya pengetahuan tentang ajaran Islam dan kuatnya hegemoni nafsu dalam kehidupan umat Islam saat ini.

20

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Habib Muhammad Rizieq Syihab Ketua Front Pembela Islam (FPI)

Agar Wanita tidak Diganggu KASUS PELECEHAN seksual terhadap wanita makin marak terjadi. Mereka sering menjadi obyek pencabulan dan penistaan oleh laki-laki hidung belang. Banyak kalangan yang mengatakan itu salah mereka sendiri. Kebiasaan mereka meninggalkan jilbab dan memilih busana minim dituding sebagai alasan banyaknya kasus asusila terhadap mereka. Benarkah demikian? Apakah jilbab memang satu-satunya solusi agar kasus seperti itu tidak terulang? Berikut pandangan Habib Muhammad Rizieq Syihab tentang isu yang selalu menjadi branding topic di media massa itu. Muntahal Hadi dan Alil Wafa dari Buletin SIDOGIRI, berhasil mewawancarai Ketua Front Pembela Islam (FPI) ini di sela-sela kunjungan ilmiahnya ke Pondok Pesantren Sidogiri. Berikut petikannya: BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

21

Sudah maklum, bahwa kaum hawa seringkali menjadi obyek pelecehan seksual. Bagaimana Habib melihat fenomena ini? Kalau kita kembali pada firman Allah  dalam al-Qur’an soal jilbab, maka di antara hikmah yang Allah  nyatakan adalah falâ yu’dzain. Dengan menghamparkan jilbab supaya mereka tidak diganggu, falâ yu’dzain. Artinya, salah satu cara untuk mengantisipasi agar tidak terjadi pelecehan seksual terhadap wanita, yaitu kita minta agar mereka betul-betul menjalankan perintah Allah  di dalam memakai pakaian jilbab sebagaimana mestinya. Kan jilbab juga ada aturannya. Pertama; harus menutup auratnya. Kedua; tidak ketat. Ketiga; tidak tipis. Memakai jilbab yang ketat atau tipis kan tetap dilarang. Artinya, jangan berpenampilan yang bisa

22

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

mengundang sesuatu yang samasama tidak kita inginkan. Tetapi dalam hal ini, bukan berarti kita hanya menyalahkan perempuan saja. Si laki-laki pun juga (harus disalahkan, red.). Laki-laki kan juga diperintahkan oleh Allah  untuk ghadhdhulbashar; menahan pandangannya. Jadi, kalau terjadi pelecehan seksual terhadap perempuan yang pakaiannya tidak senonoh, seperti yang belakangan ini terjadi di Angkot dan lain sebagainya, itu si perempuan yang salah, si laki-laki juga salah. Si perempuan salah karena tidak memakai pakaian busana muslimah sebagaimana mestinya. Sedangkan yang laki-laki salah karena tidak ghadhdhulbashar. Intinya, kedua-duanya sama-sama melanggar syariat. Bisa Habib jelaskan batas-batas aurat yang harus ditutupi oleh wanita muslimah? Ya, kita kembali kepada batasan syariat. Dalam syariat dijelaskan bahwa seluruh bagian tubuh muslimah adalah aurat. Kecuali wajahnya dan kedua tangannya sampai pergelangan tangan yang biasa dipakai untuk bekerja. Selain itu kan mesti tertutup, dengan adanya berbagai perbedaan pendapat ulama soal mata kaki ke bawah. Artinya, terlepas dari pada perbedaan pendapat yang ada, aurat perempuan wajib ditutup di hadapan laki-laki yang tidak halal baginya. Ada pendapat yang dikemukakan seorang cendekiawan, bahwa pakaian muslimah adalah pakaian yang

sesuai dengan tradisi setempat. Kita kembali kepada tafsir-tafsir yang mu’tabar. Memang betul ada perbedaan pendapat di antara ulama. Tapi kalau soal menutup aurat itu tidak ada perbedaan pendapat. Perbedaan antara mereka cuma berkisar seputar masalah tadi; soal pergelangan tangan. Apakah boleh melihat sampai telapak tangan saja atau bagian belakangnya juga boleh. Itu saja. Tapi kalau paha, pusar, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama. Jangan perbedaan di bagian kecil tertentu terus mereka perluas seolah-olah perbedaan itu terjadi di semua bagian. Tidak. Perbeadaan ulama itu hanya di bagian-bagian tertentu, seperti perbedaaan mereka pada saat perempuan pingin di-khitbah. Bagian mana yang boleh dilihat. Apa mata kakinya saja? Apa sampai betis? Itu saja perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Jadi, kalau bicara perbedaan ulama kita harus ambil yang mu’tabar. Qaul Munkar jangan dipakai. Makanya, ulama sepakat jangan sekali-sekali kita mengambil zillatul-âlim. Kalau mengambil zillatul-âlim kan repot. Kalau pendapat-pendapat yang terpeleset habis itu yang diambil kan repot. Bisa rusak syariat ini. Selama ini, bagaimana Habib melihat kesadaran wanita dalam memakai busana muslimah? Sebetulnya kita mesti mengakui dengan jujur, kesadaran perempuan-perempuan kita menggunakan pakaian muslimah makin hari makin bertambah.

Semakin menggembirakan. Dan ini tidak terlepas dari pengaruh pesantren-pesantren, madrasahmadrasah, dan dakwah-dakwah para dai. Cuma memang kita juga tidak menutup mata bahwa kebebasan yang ada di Indonesia saat inipun juga terlalu berlebihan. Kalau dulu orang kelihatan pahanya masih malu, sekarang sudah tidak malu lagi. Sebetulnya, yang menunjukkan paha kan dari dulu juga ada. Cuma bedanya, kalau dulu menunjukkan paha masih ada rasa malu. Sekarang, sudah tidak ada rasa malu sama sekali. Itu satu sisi yang perlu kita waspadai.

Yang mengatakan budaya muslimah ini tradisi Arab adalah pemikiran liberal. Pahampaham liberal ini sudah menjadi virus, menyebar kemana-mana.

Sebagian dari mereka enggan berjilbab karena berpandangan bahwa itu adalah budaya dan tradisi Arab, bukan syariat Islam. Yang mengatakan budaya muslimah ini tradisi Arab adalah pemikiran liberal. Paham-paham liberal ini sudah menjadi virus, menyebar kemana-mana. Sampai perempuan-perempuan kita yang sebetulnya tidak ngerti agama, abangan, tidak paham apa-apa, begitu mendapat dalil-dalil liberal semacam itu akhirnya menjadi justifikasi bagi mereka untuk mereka gunakan sebagai dalil untuk tidak berbusana muslimah. Bahkan yang kita sesalkan, pendapat-pendapat seperti itu justru datang dari orang-orang yang ditokohkan. Yang dianggap tokoh nasional. Yang dianggap orang yang ngerti soal agama. Mereka mengatakan jilbab itu tidak wajib. Ini kan jadi persoalan besar. Jadi sekali lagi, bahwa ada BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

23

satu problem besar di negeri kita, bahwa ada sejumlah tokoh nasional yang dikenal sebagai orang yang katanya paham Islam, tapi ternyata di dalam berbicara soal jilbab, mereka menganggap jilbab tidak wajib. Akhirnya itu menjadi pembenaran. Yang jelas, bahwa jilbab itu adalah bagian dari ajaran Islam. Kalaupun ada tradisi-tradisi Arab yang diambil oleh al-Qur’an atau oleh as-Sunnah untuk dijadikan sebagai satu bagian dari pada kewajiban, maka setelah diambil oleh syariat, dia bukan tradisi Arab lagi. Tapi sudah merupakan tradisi Islam. Itu yang pertama. Yang kedua, ternyata tidak benar juga kalau jilbab itu dikatakan tradisi arab. Karena masyarakat jahiliyah suka telanjang kok. Thawafnya saja sama-sama bugil-bugilan. Ini kan fakta sejarah. Bahkan pada saat jilbab ini diwajibkan, justru untuk membedakan antara perempuanperempuan yang beriman dengan yang tidak beriman. Untuk membedakan yang merdeka dengan yang tidak merdeka. Jadi kalau sudah melihat fakta sejarah semacam itu, jilbab itu bagian dari kewajiban Islam. Dia bukan bagian dari tradisi jahiliyah. Kalau memang di sana ada tradisi Arab sekalipun, jika sudah diadopsi oleh Islam, maka dia menjadi bagian dari ajaran Islam. Kita tahu kan konsep al-‘uruf dalam Ushul Fikih. Suatu tradisi yang bertentangan dengan syariat Islam wajib kita tolak. Kalau dia dikuatkan oleh ajaran Islam maka menjadi bagian dari ajaran Islam. Kalau ajaran Islam diam tentang

24

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

tradisi tersebut maka kita lihat; selama dia tidak melanggar aturan-aturan syariat Islam maka kita tidak boleh membunuh tradisi-tradisi tadi. Saya pikir kaedah soal ‘uruf sudah jelas. Di tengah-tengah kehidupan yang penuh fitnah ini, apa yang perlu dilakukan oleh para muslimah? Kita ingin menyampaikan kepada seluruh saudari-saudari kita; kaum muslimah, jadilah muslimah yang baik. Karena Nabi  mengatakan, “ad-dunyâ matâ’. Wa khairu matâ’ihâ almar’atush-shâlihah.” Jadi, dunia ini perhiasan. Perhiasan yang terbaik adalah perempuan salehah. Perempuan kalau sudah salehah semuanya terlihat serba cantik, di dunia maupun di akhirat. Tapi kalau perempuan sudah tidak salehah, secantik apapun fisiknya, seindah apapun wajah dan bentuk tubuhnya, semua tidak ada artinya. Jadi, harta yang paling berharga untuk seorang wanita dalam kehidupan dunia-akhirat, jadilah perempuan yang bertaqwa. Dan ingat, laki-laki–serusak apapun dirinya–pada saat ingin mencari isteri pasti dia mencari perempuan yang baik. Laki-laki– serusak apapun dirinya–tidak ada yang mau beristeri perempuan yang tidak baik. Karena itu, modal utama perempuan muslimah adalah salehah. Kalau salehah hidupnya akan berkah. Panjang umur dalam ibadah kepada Allah . Mudahmudahan murah rizkinya. Enteng jodohnya, dan dia selalu terhormat dan punya wibawa.  BS

WAWANCARA

KH. Hasan Saiful Islam (Pengasuh PP. Zaha Genggong)

Terhormat dengan Menutup Aurat KESADARAN wanita-wanita muslimah untuk mengenakan busana muslimah cenderung masih kurang. Banyak alasan dan argumen yang mereka dudukkan, mulai dari malas, malu, tidak percaya diri, ketinggalan zaman, bahkan menganggapnya tidak relevan karena itu adalah produk budaya Arab. Apakah alasan-alasan seperti itu bisa dibenarkan? Apa saja yang bisa kita lakukan untuk menanamkan kesadaran berbusana muslimah? Berikut petikan wawancara eksklusif Muntahal Hadi dari Buletin SIDOGIRI dengan KH. Hasan Saiful Islam, Pengasuh PP. Zainul Hasan Genggong.

Apa pendapat Anda tentang busana muslimah? Busana muslimah adalah pakaian yang memang ditetapkan oleh syariat Islam untuk para wanita muslimah yang konsekuwen dengan ajaran Islam itu sendiri, agar mereka menutupi

aurat, karena aurat tidak layak dilihat oleh orang lain. Karena itu, di sini ada beberapa kategori aurat. Yang umum, seperti yang diterangkan dalam kitab-kitab, adalah seluruh badan selain muka dan telapak tangan. Nah, sekarang yang dibahas adalah busana BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

25

Busana muslimah itu memang awalnya adalah baju yang biasa dipakai orang-orang Arab. Di sini saya tidak akan membahas kebudayaan bangsa Arab pra-Islam, karena budaya Arab pra-Islam sudah tidak karuan. muslimah umum yang dipakai orang-orang ketika di luar. Apa busana muslimah merupakan bagian dari budaya Arab? Busana muslimah itu memang awalnya adalah baju yang biasa dipakai orang-orang Arab. Di sini saya tidak akan membahas kebudayaan bangsa Arab praIslam, karena budaya Arab praIslam sudah tidak karuan. Namun kemudian, Islam memperbaiki budaya konvensional Arab, dan menetapkan syariat berbusana, sehingga mau tidak mau semua umat Islam harus mengikuti perintah syariat itu. Ada yang bilang gaya berbusana seperti itu tidak cocok dengan tren busana modern, dan ia dianggap tidak cocok dengan budaya kita. Sekali lagi, kalau ada orang mengatakan pakaian itu adalah baju kebudayaan Arab, memang betul awalnya, namun kemudian setelah itu sudah menjadi syariat dengan ketentuan Allah . Pakaian itu menjadi syari’atullâh, dan kalau sudah menjadi syari’atullâh, maka berlaku untuk setiap individu yang ada di muka bumi. Hal ini memang lumrah.

26

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Jadi syariat itu kadang-kadang berasal dari perilaku budaya yang kemudian ditegaskan menjadi syariat, dan kadang-kadang pula berasal dari keinginan yang kemudian di syariatkan. Seperti keinginan Sayyidina Umar , bagaimana kalau salat di Maqam Ibrahim  itu kemudian dimasyrû’, akhirnya turun ayat; “Wat-Takhidzû mim-Maqâmi Ibrâhîma Mushallâ.” Kadang juga ada pertanyaan-pertanyaan yang kemudian menjadi syariat. Jadi ketika itu sudah menjadi syariat, mau tidak mau wanita muslimah yang ada di Indonesia pun harus mengikuti, sam’ân wa thâ’atan kepada apa-apa yang ditetapkan oleh Allah , sebagaimana dalam Hadis: "Lil mar’i al-muslim as-sam’u wattha’ah fî mâ ahabba wa kariha illâ idzâ umira bima’shiyatin,…” Jadi harus sam’an wa thâ’atan pada apa yang ditetapkan oleh Allah , begitu juga apa yang sudah ditetapkan oleh atasan kita, selama tidak bertentangan dengan syariat, apalagi itu memang ketetapan dari Allah , seperti busana muslim, itu harus ditaati. Ini yang perlu digaris bawahi oleh para muslimah. Apa saja hikmah dari berbusana versi Islam ini? Salah satunya agar para wanita muslimah itu bermartabat dan selalu terlindungi. Karena wanita yang tidak memakai busana muslimah, biasa memakai pakaian mini misalnya, memakai pakaian yang merangsang hasrat biologis dan semacamnya, maka wanita seperti itu cenderung dianggap rendah di mata masyarakat. Selain

itu, wanita-wanita yang berbusana muslimah bisa terhindar dari berbagai bentuk keusilan-keusilan, baik itu secara pandangan atau secara perilaku, sehingga mereka menjadi al-muhshanât, wanitawanita yang terhormat.

untuk berbusana muslimah sejak dini, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah . Orang tua harus mengarahkan dengan cara-cara yang baik, sehinga dia menemukan kesadarannya sendiri untuk berbusana muslimah.

Kalau masih ada yang bilang jika itu ketinggalan zaman? Jangan orang yang berbusana muslimah itu dianggap kolot, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Orang yang berbusana muslimah itu berarti orang yang berpegang pada prinsip, berpegang pada syariat Allah , sam’an wa tha’atan pada ketentuan Allah . Wanita-wanita muslimah terlihat lebih anngun ketika menutupi aurat dengan berjilbab, daripada wanita-wanita yang tidak menutupinya, apalagi kalau sampai menampakan lekuklekuk tubuh yang seharusnya tidak ditampakkan, malah itu menurunkan martabatnya di mata masyarakat. Ini adalah hikmah yang paling besar dari busana muslimah itu.

Peran ulama dan pesantren? Pesantren harus mempertahankan prinsipnya dalam hal ini, bahkan harus terus meningkatkan konsistensinya dalam berpegang pada prinsip itu, serta memberi contoh dan teladan kepada wanita-wanita muslimah yang belum sadar untuk berbusana muslimah, dengan cara berperilaku yang baik. Karena akan sangat fatal akibatnya kalau sampai wanita-wanita yang memakai busana msulimah tapi perilakunya tidak baik. Ini yang perlu dijaga oleh para santriwati, perlu mengerjakan sesuatu yang positif menurut syariat. Maksudnya, kalau ada wanita yang tidak berbusana muslimah ternyata berperilaku negatif, mungkin masyarakat akan menganggapnya wajar. Tapi, ketika ada wanita memakai jilbab, ternyata berperilaku tidak baik, bahkan melanggar norma-norma syariat dan agama, itu kan tidak wajar. Karena itu, busana muslimah itu harus dibuat cermin dari perilaku yang baik. Jadi cerminan itu bisa dilihat dari pakaian, walaupun tidak semua pakaian itu menunjukkan kebaikan orangnya, tetapi dengan dia berbusana muslimah, paling tidak dia sudah berusaha mencerminkan perilakuperilaku yang baik, Islami, dan sesuai dengan syariat.

Melihat kurangnya kesadaran wanita-wanita muslimah, apa yang bisa kita lakukan? Kesadaran wanita-wanita muslimah untuk memakai busana muslimah itu beraneka ragam. Yang memakai busana muslimah karena kesadaran sendiri itu tidak sedikit, banyak juga. Tapi, yang tidak sadar juga banyak. Di sini peran orang tua, terutama ibu, sangat dibutuhkan. Orang tua harus ikut andil menanamkan kesadaran ini dengan mengarahkan anaknya

Tapi, ketika ada wanita memakai jilbab, ternyata berperilaku tidak baik, bahkan melanggar norma-norma syariat dan agama, itu kan tidak wajar.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

27

Buletin SIDOGIRI menerima konsultasi masalah keagamaan. Kirim melalui SMS ketik: bm#namaAnda#kotaAnda# pertanyaanAnda (contoh: BM#Ahmad Mujib#Pasuruan#isi pertanyaan), ke 081330440000, email: buletinsidogiri@ yahoo.co.id atau surat ke alamat redaksi

Wanita Melakukan Salat Hari Raya

Bagaimana hukum wanita melakukan Salat Id (salat hari raya)?

Amiratul Hasna, Jakarta 081847486xxx

Pada dasarnya salat hari raya itu disunahkan kepada semua umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja para ulama sudah menetapkan aturannya, yaitu: untuk laki-laki dilakukan dengan cara

28

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Bahtsul Masail Masail dijawab oleh Lajnah Murajaah Fiqhiyah (LMF)Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri dan dikoordinir oleh Ust. H. Ahmad Baihaqi

berjamaah, baik dilakukan di masjid maupun di lapangan. Sedangkan untuk perempuan cantik atau perempuan yang dapat menimbulkan syahwat dilakukan di dalam rumahnya.Untuk perempuan yang tidak menimbulkan syahwat tidak dilarang menghadiri jamaah salat hari raya yang dilakukan oleh laki-laki dengat syarat tidak berhias, tidak memakai parfum dan tidak memakai pakaian yang bagus serta mendapat izin dari suaminya. Lihat: Raudhatuth-ThâlibÎn, bab Salat Id.

Ciri-Ciri Dajjal

Bagaimana sebenarnya ciri-ciri dari Dajjal itu?

Amilah, Surabaya. 031784979xxx

Rasulullah  menjelaskan tentang ciri-ciri Dajjal itu dalam beberapa Hadis, di antaranya adalah berikut ini: Dari Anas bin Malik : Rasulullah  bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun melainkan dia mengingatkan umatnya supaya waspada terhadap al-A’war (yang buta sebelah), si pembohong besar. Ketahuilah dia a’war. Sedangkan Tuhanmu tidak a’war. Antara kedua matanya tertulis; “kafir”. (HR Abu Dawud dan Turmudzi). Dari Hudzaifah bin Yaman : Rasulullah  bersabda: “Dajjal matanya tertutup oleh selapis daging tebal. Antara keduanya tertulis; “kafir” yang dapat dibaca oleh setiap mukmin, baik yang tahu baca tulis atau tidak”. (HR Ibnu Majah) Dari Nawwas bin Sam’an: Pada suatu hari Rasulullah  berbicara mengenai Dajjal. Beliau bersabda: Dajjal pemuda berambut keriting, matanya buta sebelah. Aku lebih condong mengatakannya serupa dengan Abdul Uzza bin Qathan. Barang siapa di antara kamu bertemu dengan dia, bacakan kepadanya permulaan surah al-Kahfi. Dia akan muncul di suatu tempat antara Syam (Suriah) dan Irak, lalu merusak ke kiri dan ke kanan. Wahai hamba Allah, karena itu teguhkan pendirianmu.“ Kami bertanya: ”Berapa lama dia tinggal di bumi?” Rasulullah  menjawab: “Empat puluh hari, sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan selebihnya seperti hari-hari kamu sekarang.” Kami

bertanya lagi: ”Ya Rasulallah , ketika sehari seperti setahun, cukupkah kalau kami salat seperti salat kami sekarang?” Beliau menjawab: ”Tidak. Tetapi hitunglah bagaimana pantasnya.” Kami terus bertanya: “Berapa kecepatannya berjalan di bumi?” Beliau menjawab: “Seperti hujan ditiup angin.” (HR Turmudzi)

Dari Uqbah bin Amr dan Abi Mas’ud al-Anshari, disebutkan bahwa Abi Mas’ud al-Anshari berkata: “Aku bersama Uqbah bin Amr pergi menemui Hudzaifah bin al-Yaman. Uqbah berkata kepada Hudzaifah: ‘Ceritakanlah kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah  tentang Dajjal!’ Hudzaifah berkata: “Sesungguhnya Dajjal muncul membawa air dan api. Adapun yang tampak berupa air bagi orang-orang itu adalah api yang membakar, sedangkan yang kelihatan api sejatinya air yang sejuk lagi enak.’” (HR Bukhari dan Muslim). Demikian di antara ciri-ciri Dajjal yang dijelaskan dalam berbagai Hadis. Lihat: Syarh Muslim, XVIII/60; Syarhul-‘Aqîdah ath-Thahâwiyah, I/565. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

29

Muzayyanah, Probolinggo. 085230130xxx

Salat di Atas Pesawat

Bagaimana sebenarnya hukum salat di atas pesawat?

Muhammad Salim, Situbondo. 0858475648xxx

Mengenai salat di atas pesawat masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut pendapat yang kuat, sebagaimana ditegaskan dalam kitab at-taqrîrâtus-sadîdah bahwa salat di atas pesawat hukumnya tidak sah sebab dianggap tidak menetap (istiqrâr) dan tidak bersambung ke bumi. Oleh karenanya, meskipun salatnya dilaksanakan secara sempurna, menurut pendapat ini tetap wajib diqadhai. Sedangkan menurut pendapat Syekh Muhammad al-Hasan bin Ahmad alKhadim, salat di atas pesawat hukumnya sah. Dengan demikian, jika salatnya dilaksanakan dengan sempurna maka tidak wajib diqadhai. Lihat: at-Taqrîrât as-Sadîdah, 201; alLu’lu’ al-Muntasyir, 25

Mustahâdhah tidak Boleh Meng-qadha Puasanya

Apakah boleh perempuan mustahadhah meng-qadha puasa dan membaca al- Qur’an?

30

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Perempuan mustahâdhah tetap wajib berpuasa dan salat. Dia juga boleh membaca al-Qur’an dan hal-hal lain yang dilarang terhadap perempuan yang haid, sebab istihâdhah tidak termasuk mâni’ (pencegah). Hukum istihâdhah sama dengan salasil baul (beser), seperti wajib wudhu setiap mau melaksanakan salat dan wudhunya harus dilakukan ketika sudah masuk waktu, serta wajib mengganti pembalut setiap mau melaksanakan salat. Salat dan puasa yang dikerjakan waktu istihâdhah hukumnya sah. Jadi tidak boleh diqadhai. Lihat: al-Hâwî al-Kabîr, I/307.

Suami Raib, Isteri Boleh Kawin Lagi?

Apakah seorang isteri boleh kawin lagi ketika suaminya tidak ketahuan kabarnya?

Badriyah, Pamekasan. 087857293xxx

Pertanyaan ini sudah dijawab pada edisi sebelumnya, bahwa terdapat

perbedaan pendapat di kalangan mazhab yang empat. Rinciannya sebagai berikut: 1. Madzhab Syâfi’i dalam qaul jadîd mengatakan bahwa isteri dari suami yang tidak diketahui kabarnya tidak boleh menikah lagi selama belum yakin akan kematian suami tersebut. Yakin akan kematiannya ini bisa ditetapkan dengan persaksian dua orang yang adil. Apabila sudah ditetapkan kematiannya maka dia boleh menikah setelah melakukan iddah. 2. Madzhab Mâlik sama dengan Madzhab Syâfi’i dalam qaul qadîm, mengatakan bahwa isteri tersebut boleh menikah setelah melewati masa empat tahun kemudian melakukan iddah wafat. 3. Madzhab Ahmad mengatakan bahwa jika ada petunjuk yang mengindikasikan bahwa si suami lebih mendekati pada kematian, seperti perahu yang ditumpangi retak, atau keluar untuk keperluan sebentar kemudian tidak kunjung kembali maka isterinya boleh menikah lagi setelah menunggu masa empat tahun dan setelah melakukan iddah wafat. Lihat: Asnâl-Mathâlib fi Syarhi Raudhith-Thâlib, III/400; Hâsyiyah Ibnil ‘Âbidîn, IV/295.

Praktik Salat Tasbîh

Bagaimanakah cara salat tasbîh serta berapakah jumlah rakaatnya?

Hamim, Sidoarjo. 082132535xxx

Salat tasbîh termasuk salat sunat mutlak yang sangat dianjurkan untuk selalu dilakukan. Imam Ghazali dalam kitab Ihyâ’ menganjurkan agar dalam satu minggu jangan sampai terlewati tanpa melakukan salat tasbîh minimal satu kali, karena fadhilah dan

keutamaannya sangat besar. Seperti salat sunat mutlak yang lain, salat tasbîh tidak memiliki waktu khusus. Kapan saja salat tasbîh bisa dikerjakan, baik siang maupun malam selain waktu-waktu yang memang dilarang melaksanakan salat di dalamnya. Adapun jumlah rakaatnya adalah empat rakaat. Jumlah empat rakaat ini bisa dilakukan dengan satu kali pelaksanaan dengan satu salaman atau dua kali pelaksanaan dengan dua salaman. Namun aturan yang baik, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghazali, jika dilakukan di siang hari maka yang baik dilakukan dengan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

31

satu kali salaman, dan jika dilakukan di malam hari maka yang baik dilakukan dengan dua kali salaman. Sedangkan bacaan tasbih yang dibaca di dalam salat ini adalah:

Jumlah semuanya sebanyak 300 x, dengan rincian sebagaimana berikut: 1. Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca al-Fatihah sebanyak 15 x 2. Setelah membaca surat al-Qur’an dan sebelum ruku’ sebanyak 10 x 3. Dalam ruku’ sebanyak 10 x 4. Bangun dari ruku’ (ketika I’tidal) sebanyak 10 x 5. Ketika sujud pertama, sujud kedua, duduk di antara keduanya serta ketika duduk istirahat masing-masing sebanyak 10 x Demikian pula di rakaat setelahnya.

Menyembelih Hewan dengan Mesin

Bagaimana hukumnya menyembelih hewan pakai mesin?

Muslim, Malang. 08789475xxx

Dalam hal ini perlu ada pemilahan: (a) jika mesin yang dibuat alat menyembelih itu tajam, maka penyembelihannya sah serta halal

dimakan. (b) jika alat tersebut tumpul, sehingga hewan itu mati karena himpitannya, maka penyembelihannya tidak sah dan hewan sembelihannya tidak halal dimakan. Namun yang perlu menjadi pertimbangan dalam poin (a) adalah jangan sampai kepalanya putus atau disembelih melalui tulang belakang. Demikian ini hukumnya makruh karena ada unsur penyiksaan. Merujuk pada kenyataan bahwa setiap penyembelihan dengan mesin pasti memutus kepalanya hewan yang disembelih dan bahkan melalui tulang belakangnya maka dapat disimpulkan bahwa menyembelih dengan mesin hukumnya adalah makruh. Lihat: al-Majmû’, IX/81; al-Umm, II/262.

“Untuk bisa jadi petani, kau harus menanam bibit. Dan, untuk bisa jadi pemimpin kau harus menanam orang.” ~Abul Fath al-Busti

32

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

KH. Muhyiddin Abdusshamad Ketua Dewan Syuro PCNU Jember

Para Dai Perlu Didakwahi

Kajian

Hadis-Hadis Dai Karbitan Saat ini, mulai dari podium-podium bambu di sudut desa hingga panggungpanggung gemerlap di studeo stasiun televisi, penampilan para dai kian hari kian ngetren saja. Malah, kini mulai banyak dai-dai baru yang muncul dari dunia maya; para dai hasil produk YouTube dan semacamnya. Bagi sebagian pihak, barangkali tren ini dianggap positif. Namun bagaimanapun harus dikatakan, bahwa pada hakikatnya, tren ini adalah kabar buruk. Pada saat dunia lebih banyak melahirkan produser kata-kata daripada para ulama yang kaya akan makna, dan ketika berdakwah berubah menjadi profesi yang selalu diukur dengan materi, maka inilah bencana. Karena itu tak heran jika apa-apa yang disampaikan para dai generasi karbitan ini menyimpan setumpuk kepalsuan, baik isi maupun kulitnya. Tim Kajian Buletin SIDOGIRI (Moh. Achyat Ahmad, Ahmad Biyadi, Badrus Sholeh SH, Ali Wafa Yasin)

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

33

CAKRAWALA

ARTIKEL

Berkiblat kepada Sahabat Pada saat al-Qur’an telah menyatu dengan hati kaum muslimin, para Sahabat telah dapat membedakan dengan jelas, mana al-Qur’an dan mana al-Hadis.

J

IKA kita menjadi salah satu audiens yang memadati show seorang dai kondang, atau ikut nangkring di salah satu sudut halaman untuk mendengarkan ceramah seorang dai lokal, maka sedikit banyak kita bisa memberikan penilaian akan kedalaman keilmuan dari dai itu. Di antara mereka ada dai-dai yang berorasi dengan berbusa-

34

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

busa, namun isi dari kata-kata yang disampaikannya hampir tidak bermakna. Namun di antara mereka juga ada dai yang menghiasi naskah pidatonya dengan aneka dalil. Dai tipe ini memang kelihatannya begitu “wah�, tapi di balik dalil-dalilnya yang memukau terdapat kepalsuan-kepalsuan yang perlu diwaspadai. Memang tidak semua dai layak distempel negatif lantaran kecerobohan mereka dalam mengumbar dalil, akan tetapi karena hal tersebut sudah terjadi

secara umum, maka streotipe seperti itu menjadi lumrah, atau malah seakan sudah menjadi kelaziman. Karena itu, para calon dai harus berkomitmen untuk tidak menjadi dai karbitan. Mereka harus memperhitungkan kata-kata yang disampaikannya huruf demi huruf, dan memperkuatnya dengan dalil-dalil yang mantap, sehingga setiap kata yang diluncurkannya mengandung hikmah dan penuh makna. Dan, khususnya dalam hal menyampaikan Hadis sebagai dalil, para dai harus berkiblat kepada para sahabat. *** Pada saat al-Qur’an telah menyatu dengan hati kaum muslimin, para sahabat telah dapat membedakan dengan jelas, mana al-Qur’an dan mana alHadis. Di sini, Nabi Muhammad  memberikan lampu hijau kepada sebagian Sahabat untuk menulis apa saja yang bersumber dari beliau. Setidaknya, penegasan ini dapat dipahami dari sabda beliau saat penaklukan Mekah, “Menulislah kalian kepada Abu Syah”. Lebih gamblang, adalah sabda beliau kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash: “Tulislah! Demi Allah, tidaklah keluar darinya (Rasul berisyarah pada lisan beliau) kecuali kebenaran”. Babak baru ini ‘semestinya’ menjadi awal dari observasi, penelusuran, penulisan dan pembukuan Hadis pasca wafatnya Nabi  (periode Sahabat). Sebab, para Sahabat adalah generasi awal yang menerima informasi secara utuh dan langsung dari beliau. Akan tetapi para Sahabat

“Tulislah! Demi Allah, tidaklah keluar darinya (Rasul berisyarah pada lisan beliau) kecuali kebenaran”. tidak melakukan ‘eksplorasi’ Hadis secara besar-besaran. Dengan sangat bijak, mereka justru lebih memilih untuk memelihara dan membentengi kemurnian Hadis, melakukan langkah defensif guna membendung dampak-dampak negatif yang dapat memperkeruh kejernihannya. Ini dapat terlihat secara jelas dengan mengamati sederet pemuka Sahabat semacam Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah, Abbas bin Abdul Muthallib  yang lebih memilih untuk meminimalisir transferring Hadis-Hadis Nabi . Malah, sebagian dari mereka nyaris tak pernah meriwayatkan Hadis sama sekali, seperti Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail , salah satu dari sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga. Termasuk data empiris mengenai hal ini adalah, bahwa selama satu tahun asy-Sya’bi menyertai Ibnu Umar , namun ia tidak pernah mendengar satu Hadis pun dari beliau. Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Aku masih mengikuti masa 120 orang Sahabat Anshar, namun tak seorang pun dari mereka meriwayatkan suatu Hadis, melainkan lebih suka jika saudaranyalah yang melakukannya”. Karena itu, jika para sahabat meriwayatkan Hadis, maka perhatian dan sikap kehati-hatian benar-benar mereka curahkan. BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

35

CAKRAWALA Tak ada yang boleh tak serasi antara redaksi dan arti, dengan apa yang pernah disabdakan Nabi . Kekhawatiran yang memuncak akan terjerumus dalam kekeliruan penyampaian, membuat mereka bak disambar petir, menggigil, dan kulitnya berubah warna. Ekspresi spontanitas seperti ini dapat kita pahami semisal dari informasi Amr Ibnu Maimun. Ia berkata: Aku tak pernah absen menemui Ibnu Mas’ud setiap Kamis sore. Selama itu, aku tak pernah mendengar beliau mengucapkan kata-kata “Qala Rasulullah / Rasulullah  bersabda…”. Akhirnya, pada suatu sore, kudengar beliau

beliau: “Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atasku, maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka”—Hadis yang kata ulama mutawâtir ma’nan dan nyaris mutawâtir mabnan. Maka tak heran, jika kemudian Sahabat Anas  berkata, “Andai saja aku tidak takut keliru, maka akan aku ceritakan segala apa yang kudengar dari Rasulullah ”. Dan, jika Anas selesai meriwayatkan suatu Hadis, maka beliau mengatakan “aw kamâ qâla Rasulullah ”. Demikian juga halnya dengan Abu Darda’  dan para sahabat yang lain. Lebih menakjubkan dari

Akupun mengamati beliau yang beranjak berdiri melepasi kancing baju gamisnya, dengan bercucuran air mata dan tampak naik darah seraya berkata “Atau di bawah itu, atau lebih dari itu, atau mendekati itu, atau serupa dengan itu”. mengucapkan kata “Qala Rasulullah …”. Lalu beliau menundukkan kepalanya. Akupun mengamati beliau yang beranjak berdiri melepasi kancing baju gamisnya, dengan bercucuran air mata dan tampak naik darah seraya berkata “Atau di bawah itu, atau lebih dari itu, atau mendekati itu, atau serupa dengan itu”. Sikap seperti ini tentu saja tidaklah berlebihan, karena siapapun pasti mengerti, jika para Sahabat yang benar-benar faham akan kepribadian Rasulullah  yang agung, juga faham akan kebenaran sabda beliau, termasuk ancaman akan mendapatkan ‘fasilitas’ di neraka bagi siapa saja yang berdusta atas nama

36

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

semuanya, adalah bahwa Amirul Mu’minin Umar bin al-Khaththab  termasuk orang yang paling tidak suka dengan orang yang banyak meriwayatkan Hadis, atau menyatakan suatu Hadis tanpa saksi. Umar  bahkan memerintahkan para Sahabat untuk meminimalisir periwayatan Hadis (iqlâl fir-riwâyah), dengan tujuan agar orang-orang tidak menganggap enteng Hadis, yang akan dengan mudah memberikan peluang terhadap terjadinya penyisipan, pengkaburan, atau pemalsuan dari pihak munâfiqîn dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Metode pemeliharaan Hadis yang ditempuh Umar  ini juga

terpatri dalam jiwa Sahabat yang lain. Abu Hurairah  memberikan gambaran lebih lugas mengenai kedisiplinan para Sahabat seputar periwayatan Hadis pada periode Umar  ini; Ketika Abu Salmah  melontarkan pertanyaan pada Abu Hurairah , “Apakah pada masa Umar  kau juga meriwayatkan Hadis seperti ini?” Abu Hurairah  menjawab: “Jika saat itu aku meriwayatkan Hadis seperti ini, maka ia akan memukulku dengan alat pengocok telurnya.” Sepeninggal Sayyidina Umar , para khalifah penggantinya, Sayyidina Utsman  dan Sayyidina Ali  juga menerapkan manhaj yang sama persis dengan apa yang ditanamkan oleh Umar  sebelumnya. Sementara itu, diceritakan juga bahwa Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan  berkata: “Takutlah kalian terhadap meriwayatkan Hadis dari Rasulullah , kecuali Hadis yang telah disebutkan pada masa Umar . Karena beliau telah memperingatkan orang-orang karena Allah .” Demikianlah, usaha penuh pemeliharaan para Sahabat terhadap Hadis Nabi , merupakan tahap kedua setelah dengan segenap tenaga dan kemampuan mereka menjaga otentitas al-Qur’an dengan amat baik. Keberadaan Hadis yang tidak terkodifikasi pada masa Nabi  sebagaimana al-Qur’an, memotifasi para Sahabat untuk benar-benar melakukan verifikasi ilmiyah (al-tatsabbut al-‘ilmiy) dalam periwayatannya. Jadi, itu adalah langkah antisipasi, bukan berarti mereka bermaksud

Nah, dengan menyimak bagaimana para Sahabat  memperlakukan Hadis dengan amat berwibawa, tentu kita berharap semoga para dai bisa meletakkan Hadis-Hadis yang disampaikannya saat berpidato di posisi yang tinggi lagi mulia,

menyumbat membikin mati peredaran Hadis. Upaya para Sahabat yang luar biasa itulah yang menjadikan Hadis amat berharga, dengan keutuhan, orsinilitas dan otentitasnya yang masih terpelihara hingga kini. Jadi, alasan apakah yang membenarkan para dai yang dengan sesuka hati mengumbar Hadis-Hadis Nabi  tanpa beban, tanpa rasa takut dan seakan terselamatkan dari dosa dan ancaman siksa? Mengumbar Hadis dengan uraian yang panjang dan berbusa-busa adalah hal yang amat riskan, karena lumrahnya, mereka menyampaikan Hadis tanpa periwayatan yang jelas dan rujukan yang tegas, sehingga dikhawatirkan di sini terjadi penyimpangan dan pemalsuan. Nah, dengan menyimak bagaimana para Sahabat  memperlakukan Hadis dengan amat berwibawa, tentu kita berharap semoga para dai bisa meletakkan Hadis-Hadis yang disampaikannya saat berpidato di posisi yang tinggi lagi mulia, sehingga para pendengar memahami dengan hati, bahwa apa yang mereka dengar bukan sekadar kata-kata biasa. Moh. Achyat Ahmad/BS

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

37

CAKRAWALA

ARTIKEL

Mengamalkan Hadis Dha‘îf Hadis dha‘îf tidak boleh digunakan dalam hal apapun, baik yang berkaitan dengan fadhâ’ilul-a‘mâl (keutamaan-keutamaan) atau penetapan hukum halal-haram.

S

EBAGAIMANA lumrahnya, seorang dai pasti menyampaikan satu atau dua Hadis dalam ceramah yang disampaikannya. Sebagian HadisHadis itu bahkan telah tertancap kuat di benak masyarakat, karena sangat sering disampaikan oleh para penceramah. Anehnya, setelah diteliti, tidak jarang ditemukan bahwa Hadis-Hadis tersebut ternyata dha‘îf (lemah),

38

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

sedangkan para pakar Hadis memasukkan Hadis dha‘îf kedalam kategori mardûd (ditolak). Terlepas dari berbagai kemungkinan motif dan alasan para dai dalam menyampaikan Hadis-Hadis dha‘îf tersebut, di sini penulis ingin mengajak pembaca untuk mengetahui bagaimana sebenarnya para ulama menghukumi penggunaan Hadis dha‘îf sebagai dasar bagi suatu tindakan atau amalan. Adanya kemungkinan bahwa sebuah Hadis yang diklaim dha‘îf pada kenyataannya telah diriwayatkan dan disampaikan dengan jalan yang benar oleh perawinya, telah menyebabkan

perbedaan pendapat para ulama dalam menetapkan hukum penggunaanya. Dari hasil penelitian penulis terhadap kitabkitab mustalahul-hadîts, didapati tiga kelompok pemikiran yang saling berbeda pendapat dalam persoalan ini. Kelompok pertama, berpendapat bahwa Hadis dha‘îf tidak boleh digunakan dalam hal apapun, baik yang berkaitan dengan fadhâ’ilul-a‘mâl (keutamaan-keutamaan) atau penetapan hukum halal-haram. Pendapat ini diafiliasikan kepada Abu Bakar bin al-Arabi yang dikuti oleh Syihab al-Khafaji dan Jalal ad-Duani. Kelompok kedua berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, Hadis dha‘îf bisa digunakan dalam semua permasalahan, termasuk dalam permasalahan halal-haram dan hukum-hukum yang lain (meski kemudian term dha‘îf dalam pendapat ini diarahkan pada Hadis yang taraf ke-dha‘îf-annya tidak terlalu parah. Sebab para ulama tidak menggunakan Hadis dengan taraf ke-dha‘îf-an yang tinggi). Hal demikian apabila dalam suatu bab memang tidak ditemukan dalil selain Hadis dha‘îf tersebut, serta tidak ada keterangan yang bertentangan dengannya. Ini merupakan pendapat sebagian ulama-ulama penting seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Abi Daud. Bahkan al-Mawardi mengatakan bahwa Imam asySyafii juga menggunakan Hadis mursal sebagai hujjah ketika tidak menemukan dalil lain selain itu. Adapun mengenai perkataan Imam Ahmad yang berupa “Hadis

yang dha‘îf lebih baik daripada pemikiran yang kuat”, para ulama telah mentakwilnya. Menurut mereka, apa yang dikehendaki oleh Imam Ahmad dengan kata dha‘îf memilki makna yang berbeda dengan arti dha‘îf yang dipahami secara umum. Dha‘îf yang dikehendaki Imam Ahmad adalah Hadis hasan. Sebab Imam Ahmad hanya membagi Hadis menjadi dua macam, yaitu shahîh dan dha‘îf (karena tidak memenuhi standard maksimal Hadis shahîh). Sedangkan kelompok ketiga berpendapat bahwa mengamalkan hadis dha‘îf yang tidak berkaitan dengan permasalahan hukumhukum syariat dan akidah, seperti urusan fadhâ’ilul-a‘mâl yang berisi kesunatan-kesunatan (mustahabbât) dan ha-hal yang dimakruhkan (makrûhât) justru diperbolehkan, dan bahkan disunahkan. Demikian ini merupakan pendapat mayoritas ulama ahli Hadis, fikih, dan lainnya. Imam an-Nawawi merupakan salah satu ulama yang sangat tegas menganjurkan untuk mengamalkan Hadis-Hadis dha‘îf dalam urusan fadhâ’ilul-a‘mâl. Dalam al-Adzkâr ia menulis: “Bagi orang yang menerima suatu keterangan tentang fadhâ’ilula‘mâl dianjurkan baginya untuk mengamalkannya, sekalipun hanya satu kali, agar ia tergolong sebagai ahlinya. Dan tidak seharusnya ia meninggalkannya sama sekali, melainkan mengamalkan semampunya. Karena Rasulullah  bersabda: “Jika aku perintahkan sesuatu pada kalian, maka kerjakanlah semampunya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Bahkan alMawardi mengatakan bahwa Imam asy-Syafii juga menggunakan Hadis mursal sebagai hujjah ketika tidak menemukan dalil lain selain itu.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

39

CAKRAWALA

ARTIKEL

an-Nawawi mengatakan: “Menurut para ulama Hadis, fikih, dan lainnya, mengamalkan Hadis dha‘îf tentang fadhâ’ilul-a‘mâl, targhîb (motivsasi) dan tarhîb (peringatan), diperbolehkan dan disunahkan selagi tidak sampai pada taraf palsu.” Lebih lanjut an-Nawawi mengatakan: “Menurut para ulama Hadis, fikih, dan lainnya, mengamalkan Hadis dha‘îf tentang fadhâ’ilul-a‘mâl, targhîb (motivsasi) dan tarhîb (peringatan), diperbolehkan dan disunahkan selagi tidak sampai pada taraf palsu.” Selain itu, sebagaimana dikutip al-‘Allamah al-Laknawi dalam al-Ajwibah al-Fadhîlah, Ibnu Hajar al-Haitami juga memaparkan sebuah kesimpulan akan bolehnya beramal dengan Hadis dha‘îf. Al-Haitami berkata, “Para ulama telah sepakat akan bolehnya mengamalkan Hadis dha‘îf dalam masalah fadhâ’ilula‘mâl. Karena jika faktanya Hadis itu justru shahîh, berarti ia telah mendapatkan haknya karena telah diamalkan. Dan jika sebaliknya, maka tidak ada efek negatif yang berupa penghalalan, pengharaman, dan mennyia-nyiakan hak sebab mengamalkannya.” Namun demikian, kelompok ini, sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar al-Haitami, juga menetapkan beberapa syarat untuk mengamalkan Hadis dha‘îf dalam urusan fadhâ’ilul-a‘mâl. Pertama, tingkat ke-dha‘if-an Hadis tersebut tidak terlalu parah. Karena itu Hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu orang pendusta, atau yang diduga pendusta dan orang yang kekeliruannya berakibat fatal,

40

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

tidak bisa diamalkan. Kedua, Hadis tersebut terhimpun dalam sebuah dasar umum yang diterima. Sehingga kandungan Hadis yang sifatnya mengada-ada (ikhtirâ’) yang tidak memilki suatu dasar umum tertentu juga tidak bisa diamalkan. Ketiga, ketika mengamalkan Hadis dha‘îf, seseorang tidak boleh berkeyakinan akan ketetapan Hadis itu. Demikian agar ia tidak menisbatkan pada Nabi  suatu perkataan yang tidak pernah beliau katakan. Melainkan ia mengerjakannya semata-mata sebagai langkah kehati-hatian (ihtiyâth) kalau perkataan itu pada kenyataanya adalah perkataan Nabi . Kesimpulannya, jika mengikuti pendapat mayoritas ulama, maka kita bebas, bahkan dianjurkan, untuk mengamalkan Hadis-Hadis fadhâ’ilul-a‘mâl yang statusnya dha‘îf, asalkan mengikuti syaratsyarat yang telah ditetapkan. Karena itu, menurut penulis, orang-orang yang getol menyampaikan Hadis-Hadis dha‘îf, baik di podium, mimbarmimbar dakwah, di majelis-majelis taklim, atau di manapun, perlu memberitahukan status Hadis tersebut kepada para audiens. Tujuannya agar orang yang mengamalkan Hadis tersebut tidak berkeyakinan bahwa Hadis itu benar-benar datang dari Nabi  sebagaimana syarat ketiga di atas. Dan tentu saja hal ini hanya bisa terpenuhi apabila yang menyampaikan Hadis itu paham akan status Hadis yang ia sampaikan. Wallâhu a‘lam. Badrus Sholeh SH/BS

Hidangan Palsu di Mimbar Dakwah

M

IMBAR dakwah adalah salah satu ujung tombak dalam menyebarkan ilmu agama dan saling menasehati antar-sesama. Utamanya saat ini, saat di mana kebanyakan orang tak punya banyak waktu untuk mendalami ilmu agamanya – meski hanya yang wajib-wajib saja, sehingga forum-forum keagamaan yang singkat dan instan lebih banyak dipilih daripada menggeluti ilmu-ilmu agama secara mendalam melalui belajar di madrasah ataupun di pesantren. Maka seiring perjalanan waktu, kebutuhan masyarakat kepada dai dan penceramah atau juga ustadz yang menjelaskan hukum ‘siap saji’

Forum keagamaan yang instan itu kadang pula melahirkan ustadz-ustadz instan dengan keilmuan yang belum mumpuni. Hingga tak jarang ada banyak kesalahpahaman massal yang diakibatkan si penceramah menyampaikan sesuatu yang salah akan kian besar. Dan sungguh pun, mimbar dakwah adalah ladang pahala, yang di dalamnya terdapat kebaikan amar makruf nahi mungkar, plus menyebarkan ilmu kepada khalayak ramai. Hanya saja, dalam penerapannya masih ada banyak hal yang kurang tepat. Forum keagamaan yang instan itu kadang pula melahirkan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

41

CAKRAWALA ustadz-ustadz instan dengan keilmuan yang belum mumpuni. Hingga tak jarang ada banyak kesalahpahaman massal yang diakibatkan si penceramah menyampaikan sesuatu yang salah, karena ia sendiri sebenarnya juga masih belum begitu memahami. Meski juga tidak bisa dipungkiri, bahwa isi dari ceramah-ceramah itu terkadang memberikan dampak positif bagi para pendengarnya. Dikisahkan pernah suatu ���Apakah engkau tahu tentang nâsihk mansûkh?” Sang dai menjawab, “Tidak.” Mendengar hal itu, Ali  pun berkata, “Celaka kamu, dan kau membuat orang lain celaka!” ketika Ali bin Abi Thalib bertemu seorang dai yang kebetulan berceramah dengan menyampaikan cerita-cerita. Maka Ali  pun bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu tentang nâsihk mansûkh?” Sang dai menjawab, “Tidak.” Mendengar hal itu, Ali  pun berkata, “Celaka kamu, dan kau membuat orang lain celaka!” Kisah singkat yang disampaikan oleh Abul Faraj al-Qarasyi dalam kitabnya alQashshâsh wal Mudzakkirîn itu menunjukkan bahwa seorang dai dan penceramah haruslah memiliki landasan keilmuan yang tinggi. Karena sudah barang tentu seorang yang sudah ‘terlanjur’ menjadi dai akan sering ditanyai dalam berbagai bidang ilmu, seperti fikih, akhlak, hadis, politik,

42

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

dan mungkin juga hal-hal lainnya. Maka tentu saja sang dai haruslah memiliki kemampuan yang mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu agama. Sikap gengsi adalah penyakit yang mematikan bagi setiap dai. Dan ini haruslah benar-benar diwaspadai. Sebab terkadang sang dai terjepit oleh tuntuntan publik untuk lebih dikenal alim dan berpengetahuan luas, sehingga jarang sekali ada dai yang sanggup untuk berkata “tidak tahu” jika memang dia tidak tahu. Memang ada kalanya dalam menasehati orang lain terdapat sebuah kenikmatan tersendiri, kenikmatan yang membuat si penasehat selalu ingin melanjutkan ceramahnya. Apalagi bila beberapa pasang mata yang mendengarkan terlihat begitu yakin dan khidmat. Maka dalil demi dalil, mulai dari al-Quran, Hadis, kalam hikmah, cerita, atau apapun yang memperkuat pernyataannya akan diungkapkan – meski bisa jadi dalam kondisi ingat-ingat lupa atau lupa-lupa ingat. Tentu semacam hal itu sangatlah fatal, terlebih bila yang diungkapkan adalah ayat al-Quran atau Hadis. Karena bila dia sendiri masih ragu-ragu pada apa yang dia sampaikan, bisa jadi dia akan terjerumus ke dalam kebohongan menyampaikan apa yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah . Dan bila hal itu terjadi, maka dikhawatirkan pahala besar dari amar makruf nahi mungkar, menasehati orang lain, dan pahala menyebarkan ilmu Allah  akan sirna oleh ancaman

siksa besar yang diberikan bagi mereka yang berdusta atas nama Rasulullah . Entah tak terbilang jumlah sahabat Nabi  yang enggan meriwayatkan banyak Hadis lantaran takut tergelincir. Mereka takut ada kesalahan dalam riwayat mereka lantas kemudian tergolong orang yang berdusta atas nama Rasul . Bahkan Abu Bakar dan Umar bin khattab senantiasa mengecek ulang Hadis orang lain yang tak pernah didengarnya dengan meminta orang tersebut mendatangkan saksi bahwa Rasul  memang pernah bersabda demikian. Karena itulah para ulama sejak masa sahabat terus berhatihati dalam mengungkapkan Hadis, takut-takut ada kata yang salah atau masih ragu pada kualitas Hadis tersebut. Berbeda dengan situasi saat ini, di mana begitu mudahnya orang mengatakan Rasulullah  bersabda, ini Hadis Nabi , atau ungkapan-ungkapan lainnya, yang tak jarang pula mereka sendiri masih ragu dalam ungkapan tersebut. Cukuplah siksa api neraka sebagai ancaman yang dapat membuat kita untuk lebih berhati-hati dalam menyandarkan sebuah ungkapan kepada Nabi , karena khawatir Nabi

 tidak pernah benar-benar mengungkapkannya. Hadis mengenai ancaman neraka bagi yang berdusta atas nama Nabi  adalah Hadis mutawatir dalam makna. Bahkan menurut Imam as-Suyuthi, Hadis tersebut diriwayatkan lebih dari 100 orang sahabat. Jumlah yang sangat cukup untuk menunjukkan betapa pentingnya kandungan Hadis tersebut. Dan lebih dari itu, menurut sebagian ulama, orang yang sengaja berdusta atas nama Nabi  dihukumi kafir dan keluar dari agama Islam, seperti yang diungkapkan oleh Imam al-Juwaini dari mazhab Syafii dan diikuti oleh beberapa ulama kalangan Malikiyah. Maka, alangkah baiknya, bila dalam berceramah, ungkapanungkapan penisbatan kepada Nabi  tidak begitu mudah terlontar. Sebagai langkah untuk berhatihati. Toh masyarakat Indonesia terkadang justru lebih mudah mengena pada kisah hikmah yang dekat dengan kehidupan mereka saat ini, semacam kisah kiai atau tokoh masyarakat. Maka dari itu, semoga kita dan para dai selalu dijaga oleh Allah  agar selalu berada di jalan kebenaran. Amin. Ahmad Biyadi/BS

Maka, alangkah baiknya, bila dalam berceramah, ungkapanungkapan penisbatan kepada Nabi  tidak begitu mudah terlontar. Sebagai langkah untuk berhati-hati.

“Jika kau suka membeli suatu yang tak penting, maka sebentar lagi kau pasti akan menjual suatu yang penting” ~ Kalam Hikmah Arab

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

43

CAKRAWALA

WAWANCARA

K.H. Muhyiddin Abdusshamad Ketua Dewan Syuro PCNU Jember

Para Dai Perlu Didakwahi! MUNCULNYA dai-dai karbitan, bagaimanapun, telah ikut serta memperluas beredarnya Hadis-Hadis palsu di tengah-tengah masyarakat. Dai-dai dadakan yang tampil begitu saja karena tuntutan momen, tentu tidak bisa menimba apaapa sebelum mereka mendakwahi masyarakat yang juga sama awamnya dengan sang dai. Dan ceramah-ceramah yang penuh kepalsuan pada gilirannya dinikmati bersama-sama. Tentunya, ini adalah kabar buruk yang terbungkus di dalam tren yang selama ini dianggap positif. Dan karena itu tren seperti ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama, agar tidak menjadi virus yang mewabah. Karena itu, beberapa waktu yang lalu reporter Buletin SIDOGIRI Ali Wafa Yasin bersama fotografer Badrus Soleh SH, telah melakukan wawancara eksklusif dengan K.H. Muhyiddin Abdusshamad, Ketua Dewan Syuro PCNU Jember yang juga seorang dai kawakan. Berikut ulasan lengkapnya:

44

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Dewasa ini banyak HadisHadis palsu bertebaran di podium-podium para dai karbitan. Komentar Anda? Kalau Hadis Maudhû’ (palsu), para ulama sepakat untuk tidak melegalkannya, dan tentunya haram melegalkannya. Jadi seperti yang kita ketahui bahwa para ulama dalam hal penggunaan Hadis sangat memperhatikan betul para tokoh-tokoh yang menjadi rujukannya, semisal Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan atsTsauri, Abdullah bin al-Mubarak, dan lain-lainnya. Kalau nilai Hadis yang digunakan tidak palsu, tapi hanya lemah, bagaimana? Kalau Hadis Dha‘îf (lemah) mungkin masih bisa digunakan dengan memenuhi syaratsyarat tertentu, sebagaimana disampaikan oleh Abdullah bin al-Mubarak, “idzâ rawainâ filhalâli wal-harâmi syaddadnâ, wa idzâ rawainâ fil-fadhâ’ili wa nahwihâ tasahhalnâ”. Jika kami meriwayatkan Hadis tentang halal dan haram maka kami perketat, dan jika meriwayatkan Hadis tentang keutamaan dan semacamnya, maka kami perlonggar. Demikian pula Imam anNawawi dalam “al-Adzkâr” juga menyampaikan bahwa Hadis lemah masih dapat digunakan untuk semisal targhîb atau memotivasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Kenapa banyak dai yang tidak selektif terhadap HadisHadis yang mereka sampaikan?

Oleh karena itulah kalaupun masyarakat hingga kini gemar mendengarkan ceramah, namun ceramah yang mereka inginkan adalah yang mengundang tawa, sebab sebenarnya mereka sedang mencari hiburan saja. Semua sudah berubah seiring perubahan zaman. Sekarang ini peran dai tidak hanya sekadar berdakwah, tapi dai yang laris adalah dai yang pandai berhumor, pandai menyampaikan cerita-cerita yang membuat orang gembira di saat mereka dibuat resah, gelisah, dan galau menghadapi perubahan kehidupan mereka dari segala aspeknya, baik ekonomi, keluarga maupun lainnya. Oleh karena itulah kalaupun masyarakat hingga kini gemar mendengarkan ceramah, namun ceramah yang mereka inginkan adalah yang mengundang tawa, sebab sebenarnya mereka sedang mencari hiburan saja. Nah, lubang ini ternyata diisi oleh orang-orang yang bukan ahlinya, oleh mereka yang tidak mempunyai latar belakang pengetahuan agama yang memadai, kemudian mereka menjadi dai, sehingga apa saja yang mereka ketahui, ya itulah yang dijual ke masyarakat, sehingga tak sedikit dari para artis, pelawak, atau pemain ludruk yang merebut kesempatan ini. Jika seseorang memaksakan diri terjun ke bidang yang bukan ahlinya, maka rusaklah semuanya. Tapi agaknya, Hadis palsu yang disampaikan oleh sejumlah dai ada yang bisa memberikan dampak positif BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

45

CAKRAWALA pada pendengarnya. Tidak akan ada dampak positif muncul dari sesuatu yang diawali dengan sesuatu yang tidak baik bahkan bohong, karena hasilnya juga pasti akan tidak baik. Cobalah Anda lihat faktanya. Mana manfaat yang dihasilkan dari tablig-tablig itu? Adakah di antara mereka yang semakin semarak datang ke masjid? Saya kira tidak, bahkan maksiat yang malah tambah meraja lela. Itu artinya tidak ada sisi positif yang bisa diambil dari Hadis-Hadis palsu itu. Oleh karena itulah kita tidak boleh diam saja. Para santri harus masuk ke wilayah ini dan mengambil bagian di dalamnya. Kita tidak boleh membiarkan masyarakat dicekoki oleh ajaran-

atas namaku secara sengaja, maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka). Jadi Hadis palsu itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Jangankan pada orang lain, apa yang disampaikan untuk dirinya saja sudah tidak ada manfaatnya. Tapi agaknya, kebanyakan pemicu munculnya Hadis-Hadis palsu itu adalah karena faktor ketidaktahuan saja Kalau keyakinan saya ya demikian, karena tidak tahu dan terlanjur hafal. Misalnya, Hadis bulan Maulid yang sering kali kita dengar “Man ‘adzhdzhama maulidî kuntu syafî‘an lahû yaumalqiyâmah” (Barangsiapa yang mengagungkan hari kelahiranku,

Oleh karena itulah kita tidak boleh diam saja. Para santri harus masuk ke wilayah ini dan mengambil bagian di dalamnya. Kita tidak boleh membiarkan masyarakat dicekoki oleh ajaran-ajaran agama yang palsu, yang dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya ajaran agama yang palsu, yang dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya, karena ada Hadis, “idzâ wusidal-amru ilâ gairi ahlihî fantadhiris-sâ’ah” ( jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kedatangan Hari Kiamat). Apa dampak negatif bagi dai yang mendakwahkan Hadis palsu? Nabi sendiri kan sudah bersabda, “Man kadzdzaba ‘alayya muta‘ammidan falyatabawwa’ maq‘adahû minannâr”, (Barangsiapa yang berdusta

46

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

maka aku akan memberinya syafaat di Hari Kiamat). Itu kan tidak ada sanadnya. Dan masih banyak Hadis-Hadis lainnya. Kalau yang menyampaikan tidak tahu bahwa Hadis yang ia gunakan adalah Hadis palsu? Ya kita kasih tahu. Itu kan tugas kita, sebagaimana disampaikan Nabi , “Ballighû ‘annî walau âyah” (Sampaikanlah apa-apa dariku, sekalipun hanya satu ayat). Jadi kita dakwahi juga dai itu. Saya kira mereka tidak akan menolak, karena yang saya ketahui, baik itu kiai maupun para profesional,

kalau memang ada data yang otentik dan valid, mereka tidak akan menolak untuk diingatkan. Apakah cara yang paling efektif untuk mengatasi merebaknya Hadis-Hadis palsu? Barangkali perlu ditulis sebuah buku sederhana, dengan bahasa yang halus, yang tidak mendiskreditkan, yang menjelaskan secara lugas tentang penggunaan Hadis palsu, karena bagaimanapun seorang tokoh kan punya harga diri, sehingga tidak dengan mudah mereka akan mengatakan “OK�. Oleh karena itulah kita harus pandai mengolah kata-kata yang menyimpan saran dan kritik yang tidak sampai melukai. Karena umumnya mereka memang tidak tahu jika Hadis yang sering mereka sampaikan itu palsu. Akan tetapi kadang suatu Hadis yang dicap palsu oleh sebagian ulama, ternyata oleh ulama lain tidak divonis palsu, tapi hanya lemah. Dan karenanya itu memerlukan kajian yang mendalam, lalu dikumpulkan dalam sebuah buku, dan dibagikan-bagikan pada seluruh mubalig yang ada di tiap-tiap daerah. Mubalig itu kan bisa dihitung dengan jari, artinya kalau kita kumpulkan mereka semua itu

Buat buku tentang bagaimana kita mengenal dan mewaspadai Hadis palsu, dengan contoh-contohnya, dan dikemas dengan bagus, diberi kata pengantar sekiranya dapat diterima di mana-mana, masih bisa. Misalnya dulu pada bulan Ramadhan saya pernah mengumpulkan para dai yang ada di Jember, dan yang hadir sudah hampir 90%, itu pun cuma sekitar 50 orang, padahal jumlah penduduk kota Jember sendiri sudah dua juta tiga ratus jiwa lebih. Apa tidak sebaiknya kita membuat tindakan yang lebih besar dengan mengikutsertakan peran pemerintah? Ya dak apa-apa, tapi kita tidak bisa menunggu, kita harus segera memulai yang bisa kita lakukan, sedangkan yang bisa kita lakukan ya itu tadi, buat buku tentang bagaimana kita mengenal dan mewaspadai Hadis palsu, dengan contoh-contohnya, dan dikemas dengan bagus, diberi kata pengantar sekiranya dapat diterima di mana-mana, baik yang dari NU maupun yang Muhammadiyah, dan dari ormasormas lainya. Itulah tindakan konkret yang terbaik.

“Saat menumbuhkan sayap di tubuh rayap, Allah justru hendak membuatnya mati.� ~ Kalam Hikmah Arab

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

47

CAKRAWALA

BEDAH KITAB

Mendeteksi Hadis Palsu Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal Peresensi

P

: Al-Asrâr al-Marfû‘ah fil-Akhbâr al-Maudhû‘ah : Mulla Ali al-Qari : al-Maktab al-Islami : Kedua (1406 H/1986 M) : 590 halaman : Badrus Sholeh

ROSES pentransmisian Hadis sempat mengalami sejumlah masalah yang mengancam otentisitasnya. Ancaman yang terbesar muncul dari sekelompok orang yang berupaya memalsukan Hadis dan kemudian menyebarkannya, sehingga bercampur dengan Hadis-Hadis yang asli. Efek yang ditimbulkan pemalsuan Hadis bisa sangat berbahaya, karena memalsukan Hadis berarti memalsukan dasar utama agama Islam setelah al-Qur’an. Untungnya masalah ini segera mendapatkan penanganan serius dari para ulama, sehingga ekses negatifnya dapat diamputasi dengan segera. Mereka dengan cermat memeriksa satu persatu Hadis yang beredar, sampai akhirnya berhasil mendeteksi Hadis-Hadis palsu dan memisahkannya dari Hadis yang sahih.

48

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Namun demikian, seiring perjalanan waktu, pengaruh pemalsuan Hadis rupanya tidak sepenuhnya hilang. Sebagian Hadis palsu justru masih ada yang beredar di kalangan masyarakat. Bahkan setelah dilakukan penelitian, para pakar Hadis (muhadditsîn) menemukan fakta yang cukup mencemaskan. Bahwa ternyata tidak sedikit Hadis yang telah sangat akrab dengan umat Islam pada kenyatannya adalah Hadis-Hadis palsu. Dan ironisnya, kebanyakan mereka tidak menyadari hal itu. Berangkat dari kecemasan itulah buku yang berjudul alAsrâr al-Marfû‘ah fil-Akhbâr alMaudhû‘ah ini ditulis. Penulisnya, al-‘Allamah Nuruddin Ali bin Muhammad bin Sulthan, atau yang masyhur dengan sebutan Mulla Ali al-Qari, menganggap bahwa masalah pemalsuan Hadis atas

nama Nabi  bukanlah persoalan sederhana. Baginya, ini adalah problem agama yang sangat serius. Hal itu tergambar jelas dari halaman-halaman awal buku ini, di mana penulis secara berulangulang dengan mata rantai sanad yang berbeda-beda, menampilkan Hadis mutawâtir mengenai ancaman neraka bagi orang yang dengan sengaja berbohong atas nama Nabi . Selain itu, ia juga mencantumkan Hadis serupa riwayat ath-Thabrani yang menceritakan tentang seseorang di zaman Nabi  yang mengaku kepada sekelompok masyarakat Arab bahwa dirinya diperintah Nabi  untuk memutuskan hukum-hukum terkait wanita sekehendaknya. Singkat cerita, setelah kabar itu sampai kepada Nabi , beliau lengsung memerintahkan seseorang dari kalangan Anshar untuk membunuh pembohong tadi dan agar membakar mayatnya. (hlm. 50). Berdasarkan Hadis-Hadis tersebut, para ulama kemudian menetapkan bahwa meriwayatkan Hadis maudhû‘ adalah haram. Untuk membuktikan hal ini, penulis mengutip pernyataan an-Nawawi dalam Syarh Muslim, “Haram meriwayatkan Hadis maudhû‘ bagi orang yang tahu atau punya dugaan kuat akan ke-maudhû‘-annya. Maka siapa saja yang meriwayatkan Hadis yang diketahui maudhû‘ tanpa menjelaskan status Hadis tersebut, berarti ia termasuk kedalam ancaman Nabi . Keharaman berbohong atas Nabi  berlaku

Buku ini mengkaji seputar para juru cerita yang sering menyalin Hadis yang mereka tidak mengerti statusnya. Bahkan mereka cenderung acuh dan tidak peduli apapun status Hadis yang mereka salin. dalam semua hal, baik terkait dengan hukum atau tidak, seperti targhîb wat-tarhîb (motivasi dan peringatan) dan mawâ‘idz (wejangan-wejangan). Semua itu hukumnya haram dan termasuk dosa besar.” (hlm. 71). Selanjutnya, buku ini mengkaji seputar para juru cerita yang sering menyalin Hadis yang mereka tidak mengerti statusnya. Bahkan mereka cenderung acuh dan tidak peduli apapun status Hadis yang mereka salin. Menurut al-Hafidz Zainuddin al-‘Iraqi, sekalipun seandainya secara kebetulan Hadis yang disalin adalah sahih, maka orang-orang seperti ini tetap berdosa, karena telah menyalin sebuah Hadis yang tidak mereka ketahui statusnya. Tidak ketinggalan, buku ini juga membahas orang-orang zindik yang banyak memalsukan Hadis dan menyandarkannya pada Nabi . Penulis menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan betapa banyak Hadis palsu yang diciptakan oleh orangorang zindik, sebagaimana berikut: Al-‘Uqaili berkata pada Hammad bin Zaid, “Orangorang zindik telah membuat dua belas ribu Hadis palsu yang disandarkan pada Nabi ”. Ibnu ‘Adi berkata kepada Ja’far bin Sulaiman, “Aku mendengar alMahdi berkata: seorang zindik mengaku padaku bahwa dirinya BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

49

CAKRAWALA telah membuat empat ratus Hadis palsu yang semua itu telah menyebar di masyarakat”. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Harun ar-Rasyid, bahwa suatu ketika ia memanggil seorang zindik yang kemudian diperintah agar dibunuh. Zindik itu lantas berkata, “Hai Amirul Mukminin, tahukah engkau bahwa aku telah menyebarkan empat ribu Hadis palsu terhadap orang-orang di antara kalian. Di dalamnya aku mengharamkan perkara halal dan menghalalkan perkara haram, di mana tidak tidak satu huruf pun dari Hadis-Hadis itu yang dikatakan oleh Nabi .” Harun ar-Rasyid kemudian menjawab, “Tahukah engkau bahwa Abdullah

tersebut, penulis mengikuti pola susunan kamus. Yaitu dengan mendahulukan Hadis-Hadis dengan awalan huruf Hamzah, kemudian dikuti dengan hadis berawalan huruf Ba’, dan begitu seterusnya mengikuti urutan huruf hijaiyah. Dalam menyebutkan suatu Hadis, tidak jarang penulis juga mengimbuhi keterangan singkat terkait Hadis tersebut. Semisal, ia menjelaskan bahwa sebenarnya itu bukan Hadis, melainkan perkataan seorang ahli hikmah atau sufi. Bahkan terkadang ia juga menyebutkan Hadis lain yang statusnya shahîh atau hasan namun substansinya sama dengan Hadis maudhû‘ tersebut. Dan, sebagaimana

Pada bagian selanjutnya, yang merupakan pembahasan inti dari buku ini, adalah berisi uraian Hadis-Hadis yang oleh muhadditsîn divonis maudhû‘ atau tidak memiliki asal, sehingga sangat wajar kalau bagian ini mendapatkan porsi halaman yang sangat banyak dari penulis. bin al-Mubarak dan Abi Ishak al-Fazari telah menyaring HadisHadis itu dan menerangkan huruf demi hurufnya?” (hlm. 89-90). Pada bagian selanjutnya, yang merupakan pembahasan inti dari buku ini, adalah berisi uraian Hadis-Hadis yang oleh muhadditsîn divonis maudhû‘ atau tidak memiliki asal, sehingga sangat wajar kalau bagian ini mendapatkan porsi halaman yang sangat banyak dari penulis. Pada bagian ini, dipaparkan tidak kurang dari 625 Hadis maudhû‘ atau yang tidak memiliki asal. Barangkali inilah sebabnya mengapa buku ini juga terkenal dengan nama Maudu‘ât al-Kubrâ. Dalam menyusun Hadis-Hadis

50

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

pengakuan penulis, bahwa ia tidak memasukkan HadisHadis yang ke-maudhû‘-annya masih diperdebatkan. Karena menurutnya, bisa jadi Hadis itu maudhû‘ dari satu jalur dan sahih dari jalur yang lain. Pembahasan menarik selanjutnya adalah penjelasan yang diceritakan oleh as-Suyuti dari Ibnu al-Jauzi tentang berbagai macam alasan yang menyebabkan seseorang meriwayatkan Hadis maudhû‘. Menurut keterangan itu, ada sembilan tipe orang yang dengan berbagai macam alasan meriwayatkan Hadis maudhû‘. Pertama, orang yang sibuk dengan kezuhudannya, sehingga ia lupa akan hafalannya atau

catatannya hilang. Lantas kemudian orang lain meriwayatkan Hadis darinya, dan ternyata ia salah dalam menyampaikannya. Kedua, orang-orang yang sebenarnya tsiqah (kredibel). Hanya karena usia yang telah tua, akhirnya pikiran mereka mulai kacau. Ketiga, seseorang yang keliru menyampaikan Hadis karena lupa. Namun setelah sadar akan kesalahan itu, ia tidak mencabutnya kembali dan menjelaskan kekeliruannya. Keempat, orang zindik yang memalsukan Hadis dengan maksud merusak syariat atau menanamkan keraguan dan bermain-main dalam agama. Sebagian mereka bahkan ada yang dengan sengaja menyisipkan Hadis kedalam kitabnya yang sebenarnya tidak ia dapat dari gurunya. Kelima, orang yang memalsukan Hadis untuk mendukung kelompoknya. Keenam, orang yang

memalsukan Hadis dengan maksud memotivasi orang lain agar senang mengerjakan sesuatu dan memperingatkan mereka dari meninggalkannya. Ketujuh, orang yang memperbolehkan memalsukan sanad untuk dinisbatkan pada suatu perkataan yang indah. Kedelapan, orang yang ingin lebih dekat dengan penguasa. Kesembilan, juru cerita, karena mereka ingin orang lain simpati terhadapnya dan memberinya uang. Bagian terakhir buku ini berisi tentang empat puluh petunjuk dan kaidah-kaidah umum untuk dapat mendeteksi ke-maudhû‘-an suatu Hadis, semisal suatu Hadis bertentangan dengan ayat alQur’an yang sharîh, seperti Hadis yang menjelaskan bahwa usia dunia ini hanya tujuh ribu tahun. Ini jelas bertentangan dengan ayat ke-187 surat al-A’raf yang dengan tegas menjelaskan bahwa hanya Allah  yang mengetahui kapan Hari Kiamat itu tiba.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

51

CAKRAWALA

OPINI

Mengekspresikan Pesan Asyura Oleh: M. Imron Hamzah *)

B

ULAN Muharam merupakan bulan yang istimewa di dalam Islam, karena ia akan selalu mengingatkan kita pada episode dakwah Nabi  yang sangat menentukan bagi perkembangan Islam, yang selanjutnya dapat ditanam dengan merata di seluruh jazirah Arabia, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Akan tetapi juga tak boleh dilupakan, bahwa di dalam bulan Muharam itu juga terdapat momen penting lain yang juga sangat penting bagi umat Islam, yakni momen Asyura, tanggal 10 Muharam. Bagaimanapun, umat Islam tidak boleh mati-gaya di sini. Mereka harus terus konsisten menjaga dan melestarikan tradisi Islam yang tentunya bisa dieskpresikan dengan nilainilai kebaikan, dalam berbagai momentum yang berbeda-beda. Tulisan berikut ini akan menyoroti secara khusus, bagaimana

52

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

seharusnya kita mengekspresikan pesan yang sangat mungkin terpancar dari Asyuro. Data klasik yang memaparkan perihal Asyura seringkali berbicara mengenai hal-ihwal dan asal-mula Asyura diberi nama Asyura: bahwa tepat pada tanggal 10 Muharam itulah Nabi Adam  diampuni dari kekhilafannya, bahtera Nuh  bersandar di bukit Judy, Nabi Ibrahim  diangkat sebagai kekesih-Nya, Nabi Musa  selamat dari pengejaran musuh bebuyutannya, Nabi Ayub  disembuhkan dari penyakitnya, Nabi Yunus  keluar dari perut ikan besar, Nabi Ya’qub  bersatu kembali dengan Nabi Yusuf  setelah terpisah bertahun-tahun, Nabi Isa  dilahirkan dan diangkat ke langit, dan Nabi Muhammad  menikah dengan Khadijah Kubra. Kisah-kisah agung Asyura itu sepintas melukiskan terciptanya peradaban baru dalam setiap generasi para pesuruh Tuhan. Nabi Musa  membuka sejarah baru setelah lepas dari kungkungan

tirani Firaun, Nabi Ya’qub  dan Nabi Yusuf  membangun kembali keharmonisan hubungan putera-ayahanda, seperti juga Nabi Muhammad  yang menempuh hidup baru bersama Khadijah Kubra. Bahkan, kisah Nabi Nuh  menyajikan cerita akan terciptanya peradaban masyarakat yang sepenuhnya baru. Suatu transmisi fundamental; dari masyarakat kocar-kacir menuju masyarakat beradab, madani dan tertata rapi. Potret-potret kehidupan masa silam itulah yang barangkali memotivasi Islam untuk tidak gampang lupa akan anugerah melimpah ruah yang diberikan Tuhan pada umat manusia. Dan puasa di hari Asyura adalah salahsatu dari ritual-religi dalam rangka mengenang kisah, sekaligus mensyukuri anugerah-anugerah itu. Tradisi puasa Asyura pada gilirannya menjadi peradaban resmi umat Islam, dalam rangka mengisi hari penuh sejarah itu dengan refleksi-refleksi positif. Memang, kesan yang muncul pertama kali dari kata “peradaban” adalah kesan baik, nilai plus dan segala hal yang positif: setiap peradaban pasti beradab dan segala sesuatu yang tidak beradab bukanlah suatu peradaban. Di sinilah posisi Asyura yang sebenarnya. Maka tidak berlebihan kiranya jika Abdurrahman bin Abdissalam as-Shafuri (w. 894 H) dalam bukunya Nuzhatul-Majâlis wa Muntakhabun-Nafâ’is, menulis versi yang unik tentang makna dari kata “‘Asyurâ’” ini. Ia bilang makna kata ‘Asyurâ’ adalah “‘Âsya nûran”, “hidup dalam terang” (huruf Nûn dibuang untuk meringankan

pengungkapan). Jika begitu, maka betapa Asyura menjadi momen yang pas untuk merekonstruksi peradaban. Hanya tinggal setitik ke-isykalan yang terus mengganjal: bahwa sebagian masyarakat malah mengisi momentum asyura ini dengan ritual-ritual yang kurang positif, atau bahkan menyalahi syariat Islam. Tentu saja hal ini telah menodai kesucian momentum ini. Orang-orang Syiah, misalnya. Mereka justru melakukan parade di jalan-jalan, meneriakkan yel-yel sambil melukai diri sendiri, sehingga terjadi semacam pertunjukan yang amat mengerikan. Maka betapa ini adalah ironi yang sungguh mengganggu, betapapun mungkin, umat Syiah dalam hal ini juga berminat untuk merekonstruksi peradaban Islam menuju jalur yang lebih baik. Kalau saja semangat untuk maju mengikuti langkah Imam Husain  dengan menumpas kebathilan menuju peradaban baru itu, direfleksikan melalui ritus yang sejalan dengan sabda wahyu (Syara’). Jika demikian, maka barangkali perdebatan—yang kerap menyulut api pertikaian dan perpecahan—seputar absah tidaknya ritual Asyura yang dilakukan masing-masing komunitas muslim, akan segera redup. Dan semua umat Islam sama-sama berjalan di atas fondasi motivasi yang sama: bersama membangun kesadaran umat menuju ‘Izzatul-Islâm wal-Muslimîn. *) Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Sidogiri 2004, tinggal di Probolinggo

Sebagian masyarakat malah mengisi momentum asyura ini dengan ritual-ritual yang kurang positif, atau bahkan menyalahi syariat Islam.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

53

KHANIQAH SUFI

Ketika Terjadi Pergulatan antara Fikih dan Tasawuf (2)

Hanya Daun, Bukan Akar Ada beberapa tokoh sufi yang dinyatakan kafir oleh sebagian ulama fikih. Dan, itu cukup sering menghiasi sejarah tasawuf.

54

M

ULA-MULA, marilah kita simak dawuhnya Imam Abdul Wahhab asySya’rani: “Ketahuilah Saudaraku, perseteruan yang terjadi antara ulama fikih dan orang-orang sufi, umumnya timbul dari kalangan yang dangkal dari dua golongan itu. Ulama fikih sejati menerima penuh apa yang ada pada kaum Ârifîn (sufi sejati, orang yang makrifat). Sedangkan, Ârifîn bersikap menerima penuh apa yang ada pada ulama fikih. Sebab, syariat itu datang dengan dua tingkat. Ada yang takhfîf (memperingan) dan ada yang tasydîd (memperberat). Masingmasing tingkat ada orangnya sendiri-sendiri saat mereka beramal. Orang yang kuat diberi syariat yang berat, sedangkan orang yang lemah diberi syariat yang ringan.” Di masa generasi salaf, sepertinya memang belum terlalu

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

muncul dikotomi antara fikih dan tasawuf. Siapa yang dulu disebut faqîh, berarti dia juga seorang sufi yang zuhud. Tapi, belakangan, masing-masing berkembang dengan nalar parsialnya sehingga timbullah gesekan-gesekan, yang kadang saling menjauh, dan kadang saling menabrak. Memang ada beberapa tokoh sufi yang dinyatakan kafir oleh sebagian ulama fikih. Dan, itu cukup sering menghiasi sejarah tasawuf. Yang paling terkenal, misalnya Abu Manshur al-Hallaj, Ibnu Arabi, Abu Ali ad-Daqqaq, Abul Husain an-Nuri, al-Hakim at-Tirmidzi, juga Dzun-Nun alMishri. Apalagi, tuduhan bidah dan khurafat, sudah sangat lumrah terjadi dan ditudingkan kepada mereka. Hal itu, karena yang menjadi patokan ulama fikih adalah kesahihan dalil dari segi riwayat dan dirayah. Sedangkan patokan utama para sufi adalah

perasaan hati dalam menikmati ketentraman dan kedekatan dengan Sang Penguasa. Pada masa pemerintahan alMutawakkil (w.247 H), Khalifah ke-10 Dinasti Abbasiyah, sempat terjadi tragedi yang menggegerkan jagat tasawuf. Sejarah menyebutnya dengan istilah Mihnatu Ghulamil-Khalîl (tragedi Ghulamul Khalil). Waktu itu, Ghulamul Khalil, mengadukan Abul Husain an-Nuri, Abu Ali adDaqqad dan tokoh-tokoh sufi yang lain kepada Khalifah. Dia menyatakan bahwa para tokoh sufi tersebut telah keluar dari agama Islam. Singkat cerita, mereka ditangkap dan hendak dijatuhi hukuman mati. Saat algojo sudah siap, Abul Husain an-Nuri maju terlebih dahulu, menyatakan siap untuk dipenggal. “Kenapa Anda maju terlebih dahulu.” “Aku mendahulukan temantemanku untuk hidup sedikit lebih panjang…” Algojo terhenyak dengan pernyataan an-Nuri. Akhirnya, dia melapor ke Khalifah. Maka, Khalifah menyuruh hakim agung, Imam Ismail bin Ishaq alJahdhami, untuk mengadili dan meneliti akidah mereka. Ismail bin Ishaq meminta keterangan dan berdialog dengan para tokoh sufi itu dalam waktu yang cukup lama. Ismail bin Ishaq tersentuh dengan penjelasan-penjelasan mereka tentang hakikat agama, sampai akhirnya beliau pun menitikkan air mata. Ketika melaporkan hasil pengadilannya kepada Khalifah, sang hakim agung itu menegaskan, “Kalau mereka itu

kafir, maka di bumi ini sudah tidak ada lagi orang yang mukmin.” Coba bandingkan sikap Imam Ismail bin Ishaq dengan sikap Ghulamul Khalil. Ismail adalah ulama fikih yang sangat masyhur dalam mazhab Maliki. Beliau masih cicit Imam Hammad bin Zaid. Karena ilmunya yang luas, beliau dipercaya memegang jabatan Qâdhil-Qudhât (Hakim Agung) oleh Khalifah. Sementara Ghulamul Khalil, kredibilitasnya sebagai ulama masih sangat diragukan. Dalam kitab-kitab Musthalah Hadis dan sejarah perawi Hadis, dia dinyatakan sebagai perawi yang suka membuat Hadis palsu. Perbedaan wawasan dan integritas diri yang sangat jauh ini melahirkan sikap yang bertolak belakang antara Imam Ismail bin Ishaq dan Ghulamul Khalil. Ini adalah cermin sejarah yang tepat untuk mengamini pernyataan Imam asy-Sya’rani di atas: bahwa perseteruan antara fikih dan tasawuf umumnya timbul dari kalangan yang dangkal dari dua golongan itu. Atau, minimal karena kesalahpahaman, kurangnya tabayun, fitnah, informasi yang salah dan lain sebagainya. Orang-orang sufi sendiri sebenarnya sudah sangat siap dengan segala macam bentuk tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Bahkan, ada ajaran tersendiri dalam tasawuf yang secara lebih khusus mengarah pada sikap ini. Tasawuf selalu mengajarkan kepada salik agar tidak terlalu menghiraukan penilaian dari sesama manusia. Pujian dan cercaan sama saja. Dalam sebuah syair, Syekh

Tasawuf selalu mengajarkan kepada salik agar tidak terlalu menghiraukan penilaian dari sesama manusia. Pujian dan cercaan sama saja.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

55

Di tangan mereka, fikih menjadi sebuah teori, bukan ajaran. Juga, menjadi perangkat justifikasi terhadap tindakan penguasa, menjadi tangga untuk meraih jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Bahkan, fikih akhirnya menjadi nalar pembenaran terhadap hal-hal salah dan tuntutan nafsu.

Abdurrahman al-Majdzub menyatakan, “Orang-orang bilang aku penggemar bidah… bahwa jalanku harus ditebang… Akan tetapi, jika aku menjaga kemurnian bersama Tuhan… maka tak ada bahaya apapun dari manusia.” Di antara tanda ilmu yang bermanfaat, menurut ajaran sufi, adalah perasaan cukup (qanâ’ah) dengan penilaian Allah. Perasaan ini, kata Ibnu Ajibah al-Hasani, membuahkan sikap tak terlalu menghiraukan penilaian manusia, baik pujian atau cercaan. Dalam bahasa lain disebutkan: lâ yakhâfu fillâh laumata lâ’im, dalam menjalani kebenaran dia tidak takut dengan cercaan siapapun. Dalam sebuah nasehat sufi disebutkan, “Jika kau merasa sakit hati dengan cercaan orang, maka kembalilah kepada penilaian Allah. Jika kau masih belum merasa cukup dengan penilaian Allah, maka itu adalah musibah yang jauh lebih besar bagimu daripada cercaan orang tersebut.” Kritik Tasawuf terhadap Fikih Dalam Ihya’ Ulûmiddîn juga kitab-kitab tasawuf yang lain, tidak jarang dijumpai kritik yang ditujukan kepada ulama fikih. Tapi, yang menjadi sasaran kritik dalam kitab-kitab tersebut tentu

56

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

saja hanyalah fuqahâ’ tingkat bawah yang integritas keagamaan, kezuhudan, dan kewara’annya masih terbilang rendah. Di tangan mereka, fikih menjadi sebuah teori, bukan ajaran. Juga, menjadi perangkat justifikasi terhadap tindakan penguasa, menjadi tangga untuk meraih jabatanjabatan strategis di pemerintahan. Bahkan, fikih akhirnya menjadi nalar pembenaran terhadap halhal salah dan tuntutan nafsu. Fikih inilah yang mendapatkan kritikan keras dari tasawuf. Oleh karena itu, nyaris tidak ditemukan, kitab tasawuf yang mengkritik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan ats-Tsauri, dan tokoh-tokoh teras yang lain dalam ilmu fikih. Sebaliknya, banyak sekali ucapan dan tindakan mereka yang dikutip dan dikisahkan sebagai teladan dalam tasawuf. Jadi, jika dirunut pada hakikat masing-masing, fikih dan tasawuf adalah dua saudara kembar. Berasal dari darah yang sama, lahir di waktu dan tempat yang sama. Adanya keberpihakan yang ekstrem kepada salah satunya, menunjukkan ada kedangkalan atau langkah pendangkalan. Fikih dan tasawuf pada dasarnya bersifat saling membangun dan saling melengkapi. Jika ternyata tetap terjadi konflik, maka kacamata paling jernih dalam mengamati hal itu adalah pesan yang disampaikan oleh Imam asy-Sya’rani di atas. Dengan sikap itu, sebuah benturan hanya akan menjatuhkan daun, tapi takkan sampai mencabut akar. Ahmad Dairobi/BS

KOLOM FUQAHA

Tradisi Jamuan di Majelis Tahlil

D

I tengah masyarakat kita, selain ada tradisi pembacaan tahlil setelah kematian ada penjamuan dari pihak keluarga duka yang diberikan kepada para jamaah. Pada biasanya, penjamuan ini dengan menu ala kadarnya, seperti teh, kopi atau makanan ringan lainnya. Meskipun ada pula yang terlihat mewah manakala tahlilan yang diadakan oleh keluarga yang mampu secara ekonomi. Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan para sahabat

Yang disunnahkan untuk memberi makanan adalah orang-orang yang tidak berduka, bukan orang yang berduka. untuk membuatkan makanan untuk keluarga Jakfar bin Abi Thalib karena mereka sibuk mengurusi jenazah Jakfar yang terbunuh di perang Muktah. Artinya, yang disunnahkan untuk memberi makanan adalah orangorang yang tidak berduka, bukan orang yang berduka. Nah, di BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

57

Al-Khaththabi menceritakan, di antara kebiasaan orangorang Jahiliyah dulu adalah menyembelih unta di atas kuburan orang yang dermawan

sinilah akar masalahnya ketika terbalik, justru yang berduka memberi makanan. Tujuan menyediakan makanan oleh keluarga duka ini ada dua kemungkinan; untuk mengundang orang agar bertakziah atau dengan suka rela memberi makanan terhadap mereka yang memang berniatan takziah. Dua tujuan ini tentu berbeda hukumnya; jika saat menyediakan makanan bertujuan agar orangorang bertakziah maka hukumnya makruh; jika menyuguhi orangorang yang bertakziah dengan niatan sedekah, apa lagi ada niatan untuk menghadiahkan pahala sedekah untuk yang meninggal, tentu hukumnya lain. Syekh Abu Bakr Syaththa dalam kitab I’anah-nya mengatakan demikian, “Apa yang dibiasakan berupa penyediaan makanan oleh keluarga duka untuk mengundang orang-orang untuk mendatanginya, adalah bid’ah yang makruh sebagaimana mendatanginya mereka untuk hal itu. Sebab, ada Hadis sahih dari Jarir: “Kami menganggap pekumpulan di rumah duka dan membuat makanan setelah pemakaman adalah bagian dari ratapan.” Menjelaskan perkataan ibn Jarir di atas, ash-Shan’ani dalam

58

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Subulus-Salam-nya mengatakan demikian, “Yang dimaksud dari Hadis sahabat Jarir ini adalah pembuatan makanan oleh keluarga duka untuk orang yang memakamkan di antara mereka (pentakziah) dan dia hadir di tengah-tengah mereka sebagaimana kebiasaan di suatu daerah. Adapun bermurah hati pada mereka dengan membawa makanan maka tidaklah mengapa.” Juga menurut ash-Shan’ani, alasan mengapa pembuatan makanan bagi mereka tidak diinginkan karena di antara hal yang dilarang oleh Rasulullah adalah ‘al-Uqr; menyembelih hewan di atas kuburan setelah pemakaman. Rasulullah bersabda, “Tidak ada penyembelihan hewan di atas kuburan (‘Uqra) dalam Islam” (H.R. Imam Ahmad dan Abu Dawud). Al-Khaththabi menceritakan, di antara kebiasaan orang-orang Jahiliyah dulu adalah menyembelih unta di atas kuburan orang yang dermawan di antara mereka dan berkata, “Kami membalas atas apa yang ia telah lakukan, karena ia telah menyembelih unta di masa hidupnya dan memberi makan tamu-tamunya, dan kami menyembelih unta di atas kuburnya sampai hewan-hewan dan burung memakannya. Dengan begitu, ia tetap memberi makan setelah ia meninggal, sama seperti di masa hidupnya.” Sebab itulah, Rasulullah melarang praktik semacam itu. Dari ulasan ini dapat disimpulkan bahwa pembuatan makanan oleh keluarga mayyit tidaklah dilarang, paling banter

berhukum makruh jika dengan alasan seperti di atas, apa lagi ada niatan untuk menghadiahkan pahala sedekahnya untuk si mayyit tentu akan lebih bermanfaat dan boleh. Hanya saja yang perlu diperhatikan saat akan mengadakan selamatan seperti tahlilan, pembiayaan tidak boleh diambilkan dari harta warisan yang belum dibagi sesuai dengan hukum Islam. Apalagi, di antara salah satu ahli waris terdapat anak yang masih belum baligh, atau yang tidak normal akalnya. Sebab, di dalam harta tersebut masih terdapat hak orang yang tidak dianggap tasharruf-nya (pembelanjaannya). Hal tersebut apabila yang meninggal tidak berwasiat agar ia diselamati menggunakan hartanya. Jika demikian, biaya tahlilan dapat diambil dari harta peninggalannya, walaupun terdapat anak yang masih belum baligh atau tidak normal akalnya, dengan syarat, biaya yang dikeluarkan tidak melebihi sepertiga dari keseluruhan harta warisan. Juga dalam lingkup membuat makanan bagi pen-takziah ini, dalam sebuah Hadis diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah bersama sahabat Anshar keluar ke pemakamanan seseorang. Beliau mengatakan kepada para penggali kuburan: “Perlebar di bagian dua kaki, perlebar di bagian kepala.” Ketika Nabi pulang dari pemakaman, datang utusan seorang perempuan (isteri dari orang yang meninggal) dan mempersilahkan beliau untuk datang ke rumahnya. Rasulullah datang, dan beliau disuguhi

makanan. Nabi mengambilnya, kemudian sahabat-sahabat mengambil juga. Saat itu, beliau juga disuguhi daging kambing yang lantas berkata, “Aku temukan daging kambing yang diambil tanpa ada izin dari pemiliknya.” Akhirnya, perempuan tersebut menjelaskan duduk masalahnya bahwa ia telah mengutus seseorang untuk pergi Baqi’, tempat penjualan kambing, dan memberikan uang untuk membeli kambing. Namun, utusan tersebut tidak menemukannya di sana. Kemudian diketahui, ada tetangganya yang telah membeli kambing, dan ia menyuruh utusannya tersebut untuk mendatangi rumahnya, tapi tidak ia temukan pemiliknya. Yang ada hanyalah isteri pemilik kambing yang kemudian sang utusan mengganti uang pembelian kambing kepada si isteri tanpa sepengetahuan suaminya. Mendengar itu, Rasulullah bersabda, “Kamu berikan kambing itu kepada para tawanan”. (H.R. Abu Dawud). Meskipun Nabi tidak makan daging kambing suguhan perempuan tersebut, bukan berarti beliau mengingkari suguhan dari keluarga duka. Kenyataannya, beliau sudi datang dan makan. Konteks persoalan dalam keengganan Nabi tersebut terkait dengan penghindaran Nabi dari makanan yang bernilai syubhat, tidak jelas kehalalannya. Seperti inilah yang dijelaskan oleh ‘Abdul Muhsin al-’Ubbad, dalam Syarh Sunan Abu Dawud. Wallahua’lam.

Meskipun Nabi tidak makan daging kambing suguhan perempuan tersebut, bukan berarti beliau mengingkari suguhan dari keluarga duka.

M. Masyhuri Mochtar /BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

59

Madrasah Miftahul Ulum

Besar Tanggung Jawabnya di Akhirat

`

Menjadi guru tak sekadar mentransferkan ilmu pengetahuan kepada murid dan mendidik hati mereka.

S

EPERTI didawuhkan Hadratussyekh KH Cholil Nawawie, menjadi guru adalah tanggung jawab yang paling berat. Pesan Kiai Cholil, “Poro santri seng kebeneran dadi guru, ta’ jaluk sing ikhlas olehe mulang lan sing ati-ati olehe moco kitab. Ojo’ sembrono, ojo’ riya’, sombong, lan liyo liyane kelakoan sing ndak bagus. Tugasmu luwih abot timbang pengurus ing dalem soal akhirat. Soho kesalahane poro guru iku sing paling ngerusak timbang liyane.” (Para santri yang kebetulan menjadi guru, saya minta ikhlas dalam mengajar serta berhati-

60

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

hati dalam membaca kitab. Jangan sembarangan, jangan riya’, sombong, dan prilaku-prilaku yang tidak bagus lainnya. Tugasmu lebih berat [tanggung jawabnya] dibandingkan pengurus dalam soal akhirat. Karena kesalahan para guru itulah yang paling merusak dibandingkan yang lain.) Dari dawuh beliau ini dapat dipaham, menjadi guru, besar tanggung jawabnya di akhirat kelak. Makanya beliau sangat menekankan untuk berhati-hati dan ikhlas serta menjauhi sikapsifat negatif bagi yang kebetulan diangkat menjadi staf pengajar di PPS.

Menjadi guru tak semata mentransfer ilmu pengetahuan ataupun mendidik hati murid agar berkelakuan baik. Para guru juga harus menata diri serta berhatihati karena tanggung jawabnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Dan, yang disebut terakhir inilah yang paling berat. Demikianlah Hadratussyekh menuntun hati para staf pengajar PPS. Pesan beliau ini secara lengkap tetap tercatat hingga sekarang. Tercantum dalam buku agenda guru yang diberikan kepada seluruh staf pengajar. Sementara manuskrip aslinya tersimpan di Perpustakaan Sidogiri. Adapun secara formalitas, ada sistem atau tata aturan terkait dengan guru yang terbentuk dalam tubuh sistem penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dan pendidikan madrasah. Ada tiga pos instansi kepengurusan yang menangani sistem ini: 1) Badan Tarbiyah wa Taklim Madrasiy (Batartama); 2) Pimpinan Madrasah, dan; 3) Laboratorium Soal-Soal Madrasah (Labsoma). Ketiganya berada di bawah koordinasi Ketua I PPS. Pimpinan Madrasah berfungsi menangani KBM yang bersentuhan langsung dengan guru dan murid, Labsoma adalah tim pembuat soal-soal ujian, dan Batartama adalah mitra dua instansi pertama yang berfungsi memparalelkan semua tingkatan MMU dan Labsoma serta beberapa fungsi lainnya. Ketiganya bahu-membahu, mengadakan rapat, dan saling

bertukar informasi dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan untuk para murid yang tentunya masih dalam pantauan Ketua I sebagai koordinator. Di samping itu, mereka juga mengadakan rapat yang melibatkan komponen-komponen dari instansi lainnya di PPS: Bagian Ketertiban dan Keamanan (Tibkam) dan Kepala Daerah (kepala asrama). Kepala Daerah dalam fungsinya sebagai orang tua murid di asrama mereka dan Tibkam dengan fungsinya dalam menjaga akhlak dan tata kelakuan para murid. Rapat ini kemudian diistilahkan dengan rapat lintas sektoral. Di antara sistem yang berkenaan dengan guru adalah tentang kualitas pengetahuan guru. Kualitas pengetahuan guru memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kualitas pengetahuan murid. Seorang guru diharuskan jauh lebih menguasai materi dibandingkan murid di samping juga mereka diharuskan memiliki metode efektif dalam penyampaiannya. Untuk itu, Batartama memprogramkan pelatihan metode mengajar efektif untuk para guru. Ada pula program pelatihan khusus untuk guru yang baru diangkat. Khusus untuk guru yang bermukim di PPS, ada kegiatan musyawarah guru, forumforum halakah, dan pelatihan manasik haji yang penanganannya berada di bawah tanggung jawab instansi Kuliyah Syariah. A. Fadoil Khalik/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

61

LPSI; Tambah Dua Forum Kajian Lagi

S

EBAGAI instansi yang menjadi wadah bagi santri senior dalam mengembangkan dan mengoptimalkan ilmu keagamaan, Kuliah Syariah setiap tahunnya terus melakukan perkembangan. Pada tahun ini melalui Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI), Kuliah Syariah menambah dua forum kajian (FK), yaitu FK Tasawuf dan FK Fikih Muamalah. Seperti halnya tahun lalu yang juga menambah dua FK (FK Ushul Fikih dan FK Akidah) dari empat FK yang ada (FK Tafsir, FK Hadis, FK Adab, dan FK Sejarah). Di samping memberi peluang kepada santri untuk mendalami disiplin-disiplin ilmu, maksud diadakannya penambahan FK ini juga bertujuan untuk menjaga dan melestarikan khazanah-khazanah Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Kepala Kuliah Syariah, Moh. Achyat Ahmad, saat dikonfirmasi BS. “Untuk mengembangkan

62

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

khazanah keislaman yang telah ada. Jadi tidak cukup dengan hanya menjaga, namun juga bagaimana agar terjadi pengembangan yang mampu untuk memperkaya wawasan keislaman ke depan,� tuturnya. Untuk bisa meningkatkan kualitas kajian FK, lanjut pria yang juga Pemred BS itu, Kuliah Syariah akan mengadakakan observasi langsung ke lapangan dengan melakukan studi banding ke berbagai institusi-institusi lain. Karena, sementara ini metode yang dilakukan sekadar dengan penelitian di berbagai kitab dan buku-buku Islam. Malam Ahad (02/12) lalu, bertempat di Ruang Micro Teaching PPS, dihelat pelantikan anggota forum kajian LPSI bersama a’wan Kuliah Syariah yang lain, LMF (Lajnah Murajaah Fiqhiyah) dan redaksi buletin IstinbaT dan mading Tafaqquh. M. Husni Mubarok/BS

Habib Taufiq Assegaf, Bekali Akidah Alusunah Waljamaah

P

IMPINAN MMU Tsanawiyah PPS memulai kegiatan kaderisasi Ahlusunah Waljamaah (Annajah), malam Senin (03/12). Acara pembukaan yang sekaligus perkenalan staf Annajah I, II, dan III periode 14321433 H kali ini diselenggarakan di gelora PPS, dengan menghadirkan Habib Taufiq Assegaf, dari Pasuruan. Dalam presentasinya beliau menjelaskan ajaran Ahlusunah Waljamaah. Menurutnya, ajaran yang harus dipegang Ahlusunah Waljamaah selain mengikuti alQur’an dan sunah Rasulullah juga mengikuti as-salaf ashshalih. “Luzum kitabillah, ittiba’ sunnat Rasulillah, iqtida’ lis-salafi ash-shaleh adalah kunci ajaran Ahlusunah Waljamaah,” jelasnya. Berbicara mengenai maraknya aliran-aliran di luar paham Ahlusunah, beliau menganggap

perlu untuk membendung gerakan mereka. Baik dengan cara mengokohkan akidah Ahlusunah Waljamaah maupun pembekalanpembekalan untuk menghadapi aliran menyimpang itu. Lebih lanjut beliau memberikan arahan, untuk menghadapi mereka kita tak perlu menggunakan kitab. Karena dasar mereka lemah. Mereka bukan golongan orangorang pintar. Mereka hanya pintar berbicara. Yang dibutuhkan adalah cara-cara yang dapat mematahkan argumen mereka. “Gak ada ceritanya orang Wahabi, HTI, Liberal, Syiah itu alim. Hadapi mereka, ojok weddi ! Cuma, siapkan sebelum menghadapi mereka, dengan syarat kalian jangan mau jadi orang yang harus menjawab pertanyaan, tapi Kalian yang harus banyak mengajukan pertanyaan.” M. Husni Mubarok/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

63

Segenap bawahan Ketua II PPS, malam Rabu (14/11) lalu resmi dilantik. Pelantikan ini dilakukan langsung oleh Ketua II PPS, H. Mahmud Ali Zain. Dalam sambutannya, mantan DPD RI ini berharap kepada bawahannya agar bersungguh-sungguh serta ikhlas dalam mendedikasikan dirinya terhadap PPS.

Laziswa Sidogiri membuka cabang baru di Kota Probolinggo, tepatnya di Jl. Satelit II No. 99 blok Kolla Lecces Probolinggo Barat, Ahad (18/11). Ketua YBSS HM. Masykuri Abdurrahman beserta jajaran Pengurus Laziswa Sidogiri Pusat hadir menginisiasikannya. M. Kholili (35) terpilih sebegai Kepala.

Untuk meningkatkan kualitas baca kitab santri, setiap malam Selasa dan Sabtu pimpinan MMU Tsanawiyah mengadakan pembinaan baca kitab kepada santri/murid MMU Tsanawiyah. Malam Senin (19/11) lalu sebanyak 47 orang pembina diresmikan. Selain wali kelas mereka juga ada yang direkrut dari murid MMU Aliyah.

Malam Jumat (23/11) suasana kompleks PPS tampak ramai. Ribuan santri, wali santri, dan alumni PPS serta simpatisan berjubel memadati PPS guna mengikuti Haul KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil (Pengasuh ke-10 PPS). Menurut Ust. Mustain Mahdhori (Panitia Haul), mereka yang hadir kurang lebih mencapai 12.000-an orang.

Malam Ahad (25/11) pemilihan Ketua PP ISS periode 1432-34 H. Ahmad Biyadi (24) meraup suara terbanyak setelah melalui dua kali proses pemilihan. Pada pemilihan pertama, ia meraup 19 suara, seri dengan Abdul Faqih MR dan menyisihkan dua kandidat lain. Di pemilihan kedua, meraup 35 suara. Jauh mengungguli pesaing terberatnya yang hanya meraup 25 suara.

Tim Astronomi Kuliah Syariah melakukan rukyatul hilal bil fi’li, Kamis (29/11) di pulau Gili Ketapang Probolinggo untuk mengetahui awal bulan Dzul Hijjah. Berdasarkan perhitungan falak yang sudah dilakukan sebelumnya, diperkirakan tinggi (irtifak) hilal ada di 7 drajat dengan muktsul hilal selama 26 menit. Hanya karena mendung, rukyat kali ini tidak berhasil.

64

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

`

AGENDA KEGIATAN PONDOK PESANTREN SIDOGIRI

Muharram 1433 H

01

Peringatan Tahun Baru Islam 1433 H.

02

Ijazah Maulid Simthu Dhurar Alhabsyi

02

Rapat Pimpinan MMU A Imda I & II

05

Rapat Pimpinan MMU B Daur I Jawa & Madura

03-05

Imda-I Mid. Semester Ganjil MMU Isti’dadiyah

10-22

Imda-I MMU Ibtidaiyah dan Tsanawiyah

10

Semarak Muharam Laziswa Sidogiri (Santunan Anak Yatim)

11

Haul K. Ach. Sa’doellah bin Nawawie bin Noerhasan

23

Bahtsul Masail Wustha

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

65

KH. Fakhriyul Haq Suyuthi Pengasuh PP. Bustanul Ulum wal Lughah, Sumenep

Setetes Jadi Selaut Setetes pengalaman beroraganisasinya di PPS, memberkah. Membuatnya mampu mengatur beberapa lembaga sekaligus

1

984, “Yang lain sudah sekolah semua, saya masih nunggu lama untuk masuk ke Aliyah,” ungkap pria itu dalam bahasa Madura, menceritakan awal mondoknya di PPS. Lama dia menunggu. Karena saat itu belum ada aturan tentang tes masuk ke tingkat Aliyah bagi santri baru. Maka, setelah menunggu lama, akhirnya dia pun lulus tes dan masuk di kelas 1 Aliyah. Padahal saat itu dia masih berumur kurang lebih 16 tahun. Pria itu bernama lengkap Fakhriyul Haq Suyuthi. *** Kota Madura memang panas. Begitu kata orang. Di siang yang panas itu, Kiai Fakhri sedang tak enak badan, tapi beliau memaksakan diri menemui

66

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

BS yang datang berkunjung. “Je’ reng guleh mun edetengeh santreh aktif, nekah padeh ben edetengeh guruh, napah pole se lakar eotos ben pondhuk,” kata kiai itu, ramah. Ungkapan dalam bahasa Madura itu berartikan, “Lha wong saya kalau didatangi santri (PPS) aktif, itu (merasa) sama dengan didatangi kiai, apalagi kalo memang ditugas dari pondok.” Memang Kiai Fakhri adalah orang yang dikenal sangat menghormati guru. Bahkan beliau mondok ke PPS pun juga atas perintah dari guru beliau di pesantren sebelumnya. Di mana saat itu beliau mondok di Al-Is’af, Kalabaan Gulu-guluk Sumenep, yang sebenarnya juga masih keluarga beliau sendiri. Di sana

Nama: KH. Fakhriyul Haq Suyuthi Alamat: Paydungdeng Guluk-guluk Sumenep Ttl: Sumenep, 11-11-1968 Ayah: KH. Suyuthi Ibu: Hj. Khiyaroh Istri: Rafiah (alm), Aqidatud Dzuriah Putra-putri: Ruqyah, Faizah, M. Kholil Nawawi, M. Habibullah Rois, M. Abdul Hamid Itsbat, Abdul Qodir Hasani. beliau bersekolah hingga kelas 4. Baru kemudian melanjutkan dengan mondok di PPS. Sebelum akhirnya Kiai Fakhri berkeluarga dan mendirikan pondok pesantren, ada empat pesantren yang pernah beliau tempati untuk mencari ilmu, yaitu Al-Is’af, Kalabaan, kemudian Pondok Pesantren Sidogiri selama 5 tahun. Selanjutnya PP Bustanul Arifin, Kediri selama 6 bulan, dan berpindah lagi ke PP. Darul Lughah wad Da’wah, Bangil Pasuruan selama 3 bulan. *** “Lakar cek tampa’en barokanah Sidogiri” kata beliau. Barokah Sidogiri itu sangat ketara. Itulah yang beliau rasakan dalam kehidupan beliau saat ini. Saat ditanya tentang apa yang paling dirasakan beliau dari barokah Sidogiri. Beliau menjawab, “Pengalaman berorganisasi, pengalaman ngatur orang.” Karena sebelum beliau mondok di PPS, beliau tak banyak memiliki pengalaman keorganisasian dan bagaimana cara mengatur orang lain, utamanya dalam jumlah yang banyak. Maka, meski di PPS beliau hanya mondok 5 tahun, beliau menuai banyak bekal pengalaman guna menghadapi masyarakat. Di PPS, Fakhri muda saat itu banyak merasakan beberapa jabatan kepengurusan. Selain kesibukannya sebagai seorang

murid di ATM (Aliyah Tarbiyatul Muallimin), beliau juga menjadi tenaga pengajar di madrasah Ibtidaiyah kelas 4, padahal beliau masih baru 1 tahun mondok di PPS. Setahun kemudian beliau mengajar di kelas 1 Tsanawiyah. Dan tahun berikutnya beliau mengajar di kelas 2 Tsanawiyah. “Sebenarnya saya merasa tidak pantas untuk jadi guru. Di samping karena memang keilmuan saya yang tidak mumpuni, saya juga susah karena harus memberi makna bahasa Jawa,” ungkap beliau merendah sambil tersenyum ramah. Pada 2 tahun terakhir, Fakhri muda diangkat menjadi Kepala Kuliah Syariah. Selain itu, bersama dengan sahabatnya, Ust. Baihaqi Juri, Fakhri muda juga menjadi pembina musyawarah antardaerah dan antar-konsulat. Memang, saat itu musyawarah bahtsul masail juga diadakan antarorganisasi-organisasi kedaerahan yang diistilahkan dengan konsulat. Beliau sendiri pun saat itu juga menjadi ketua IKSMA (Ikatan Santri Madura). Dan yang lebih menghebohkan lagi, sebagai bukti kecintaan beliau terhadap ilmu pengetahuan, pada masa-masa pra-boyong, Fakhri menjadi qori’ kitab di ruang (memaknakan kitab kepada santri). Selama menjadi qori’ kitab itu, ada kurang lebih 50 judul kitab BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

67

“Saya tidak bisa mau bilang tidak, karena saya takut termasuk enggan dengan perintah guru,” yang telah beliau khatamkan di pengajian ruang itu. Pengalaman-pengalaman inilah yang begitu banyak mengubah beliau menjadi lebih mapan dan siap untuk menghadapi dilema masyarakat saat beliau berjuang nanti. Sadar akan itu, beliau serasa enggan untuk menolak setiap jabatan yang dititahkan kepadanya. “Saya tidak bisa mau bilang tidak, karena saya takut termasuk enggan dengan perintah guru,” kata beliau. Tersenyum. “Lha wong dawuhnya pengurus itu saya anggap dawuhnya kiai,” imbuhnya. *** Suara mobil terdengar sesekali berseliweran di depan rumah. Memang rumah Kiai Fakhri berada di pinggir jalan. Atau lebih tepatnya di Paydungdeng Gulukguluk Sumenep. Di seberang jalan itu adalah lokasi PP. Bustanul Ulum wal Lughah putra. Sedangkan pesantren putrinya berlokasi di sebelah kediaman Kiai Fakhri. PP. Bustanul Ulum wal Lughah itu adalah nama pesantren yang saat ini diasuh oleh beliau. Satu dari

sedikitnya 8 pesantren salaf yang beliau tangani. Tentang pesantren salaf Kiai Fakhri berkomentar, “Saya ingin agar mencari ilmunya (para santri) lil-Lâhi ta’âlâ, bukan karena ijazah. Kan mencari ilmu bukan lil-Lâhi ta’âlâ itu juga termasuk maksiat.” Pengalaman berorganisasi yang beliau tuai di PPS membuat beliau mampu mengatur pesantren-pesantren itu dengan baik. Padahal lokasinya berjauhan, ada yang di Kalimantan, ada yang di Jember, dan beberapa tempat lainnya. Banyak masyarakat yang memasrahkan sebidang tanah pada beliau untuk dijadikan pesantren sebagai lahan dakwah. “Enggi alhamdulillah, barokanah Sidogiri, guleh bisa ngontrol sedejeh.” (iya alhamdulillah, barokahnya Sidogiri, hingga saya bisa mengontrol semua). Ketua IASS Sumenep juga merupakan organisasi yang beliau tangani saat ini. Jabatan itu beliau genggam sejak awal berdirinya IASS Sumenep. Beliau juga aktif di Forkim, yaitu forum kiai muda Sumenep yang saat ini sedang mendorong Pemerintah Sumenep untuk menerapkan perda syariat, seperti yang telah diterapkan oleh beberapa kabupaten lainnya. Ahmad Biyadi/BS

“Anjing, semakin mandi justru semakin najis” ~ Kalam Hikmah Arab

68

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Nama: PP. Mahir Arriyadl Alamat: Ringin Agung, Keling, Kepung, Kediri, Jawa Timur PO. Box 104 Tahun berdiri: 1870 Pendiri: Kiai Imam Nawawi Pengasuh sekarang: K. Anwaruddin, KH. Jali Romlani, KH. Khozin, K. Khudaifah Muawan, KH. Zainal Abidin, KH. Abdurrahman, K. Aly Masyhar, K. Zainuri Romlani, K. Munsif Maisun. Telp.: 0354 328315 - 085235709596

PP. Mahir Arriyadl, Ringinagung Kediri

Pohon Sawo sebagai Filosofi Pesantren

A

DA begitu banyak pohon Sawo menjulang tinggi di kawasan pondok pesantren yang kami kunjungi ini. Pohon-pohon Sawo itu adalah peninggalan dari sang pendiri pesantren, Mbah Nawawi—begitu beliau dipanggil. Terkait pohonpohon sawo itu Mbah Nawawi yang hidup sekitar seabad setengah yang lalu mengungkapkan bahwa pesantren itu harus ada pohon sawonya, karena sawo itu berasal dari kata bahasa arab sawwû yang artinya rapatkanlah barisan. Pas sekali untuk dijadikan sebagai

filosofi para santri yang diminta untuk terus merapatkan barisan guna menghadapi tantangan zaman. Dan filosofi itulah yang tertanam kuat di pondok pesantren Mahir Arriyadl ini. Babat Alas Simpenan Seabad setengah sudah umur pondok pesantren ini. Tepatnya pada tahun 1870 Mbah Nawawi membabat alas simpenan (hutan belantara) Desa Keling yang terkenal angker. Bahkan saking angkernya, hutan itu dikenal dengan sebuah pepatah jalmo

“Pesantren itu harus ada pohon sawonya, karena sawo itu berasal dari kata bahasa arab sawwû yang artinya rapatkanlah barisan.”

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

69

moro, jalmo mati yang artinya barang siapa berani mendekat, dia berani mati. Pada awalnya, pesantren Mahir Arriyadl dikenal dengan nama pondok Ringin Agung, karena lokasinya yang terletak di Desa Ringin Agung. Plus juga karena terdapat kisah aneh di awal pembangunan pesantren itu. Dulu, di sana ada sebuah pohon beringin yang sangat besar plus angker. Meski pohon itu ditebang dan batang-batangnya telah putus, pohon itu tetap saja susah ditumbangkan. Singkat cerita, akhirnya Mbah Nawawi dan para santri beristigasah dengan salawat khusus – yang kemudian dikenal dengan salawat Ringin Agung dan hingga kini dibaca di

pesantren Mahir Arriyadl sebagai rutinitas. Maka akhirnya pohon beringin itupun tumbang. Karena itulah daerah dan pesantren yang didirikan Mbah Nawawi itu kemudian dikenal dengan Ringin Agung yang artinya pohon beringin besar. Sedikit demi sedikit, perjalanan pondok pesantren yang dibangun Mbah Nawawi kian beranjak maju. Pondok Ringin Agung kian dikenal di masyarakat luas, bahkan jumlah santri saat itu mencapai 7000 orang santri yang berasal dari berbagai daerah. Namun, sekitar tahun 1910 Mbah Nawawi, sang pengasuh, wafat. Pondok Ringin Agung pun diasuh oleh kedua menantu beliau, Kiai Imam Mu’ti dan Kiai Imam Bajuri. Masa kepengasuhan kedua kiai inipun juga tak lama. Kedua menantu Mbah Nawawi itupun juga wafat, menghadap Sang Pencipta Semesta. Saat itu, tersisalah cucu-cucu Mbah Nawawi yang masih kecil-kecil. Karena mereka masih belum siap untuk mengemban amanah memangku pondok pesantren, jumlah santri pondok mulai mengalami penurunan. Plus juga saat itu, penjajah selalu melakukan penekanan terhadap pesantrenpesantren dan para ulama. Hingga pesantren-pesantren yang ada tidak bebas melakukan kegiatannya. Periode selanjutnya pun datang.

Jajaran Pengasuh PP. Mahir Arriyadl ki-ka: KH. Khozin, KH. Zaid Abdil Hamid, K. Anwaruddin, K. Zainal Abidin, KH, Jali Romlani, K Muhsyif Maisur, K. Hudzaifah Mu’awwan, K. Ali Mashar, K. Zainuri Romlawi, K Ahmad Slamet Rohmat, K. Abdurrohman.

70

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Para cucu Mbah Nawawi yang kurang lebih berjumlah 10 orang telah siap meneruskan perjuangan sang kakek. Maka pondok Ringin Agung mulai bangkit kembali. Sejak saat itu pondok pesantren Mahir Arriyadl dipangku secara bersama oleh para keturunan Mbah Nawawi. Mereka bahu-membahu meneruskan perjuangan sang pendiri pesantren. Setelah wafatnya cucu-cucu Mbah Nawawi, generasi pengasuh ketiga menggantikan mereka. Generasi ketiga ini berjumlah 8 orang. Dan kemudian dilanjutkan kembali oleh generasi keempat yang berjumlah 18 orang yang memimpin pondok pesantren Mahir Arriyadl hingga saat ini. Begitulah gambaran sawwĂť yang diterapkan oleh para pengasuh pondok pesantren Mahir Arriyadl. Maka tak heran, saat BS bertanya kepada pengurus pondok siapa pengasuh pondok pesantren, mereka menjawab, “Di sini pengasuhnya banyak. Tapi yang paling sepuh adalah Kiai Anwaruddin.â€? Manajemen Kelurahan Gubuk-gubuk cangkruk kecil tampak menyapa di dekat pintu masuk pesantren. Gubukgubuk bambu itu dibangun dari swadaya para santri yang menghuninya. Memang, di PP. Mahir Arriyadl, bangunan asrama dibangun oleh organisasi gabungan santri per daerah asal yang diistilahkan dengan kelurahan. Kelurahan ini tak hanya mengurusi pembangunan asrama saja, tapi juga keadministrasian serta kegiatan-kegiatan ekstra semacam pengaosan (pengajian

Asrama swadaya santri Pacitan

Asrama santri tampak dari atas

kitab kuning) harian, pembacaan salawat, istigasah, dan musyawarah yang diadakan tiap malam selain malam Jumat dan malam Selasa. Hingga bisa digambarkan kelurahan ini bagaikan gubernur yang mengepalai beberapa daerah propinsi dan kota. Semua organisasi kelurahan tersebut dikelompokkan menjadi empat kelurahan besar, yaitu: Kelurahan Pekalongan; Kelurahan Sundo; Kelurahan Mataram; dan Kelurahan Pacitan. Manajemen kelurahan seperti ini dapat mempermudah pengaturan santri, mengingat BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

71

Gedung Madrasah Al-Asna

jumlah santri di PP Mahir Arriyadl berjumlah kurang lebih 1000 orang. Tentu saja, jumlah 1000 itu akan sulit bila diatur dengan kepengurusan tunggal seperti yang diterapkan di beberapa pondok pesantren lainnya. Selain pengaosan harian, di PP Mahir Arriyadl ilmu pengetahuan juga dipelajari dari madrasah yang diberi nama Madrasah Al-Asna. Madrasah yang didirikan antara tahun 1968-1969 ini memiliki empat jenjang pendidikan: Ibtidaiyah yang ditempuh selama 6 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Aliyah juga 3 tahun, dan Majelis Musyawarah yang ditempuh selama 6 tahun dengan 3 tingkatan, yaitu Fathul-Qarîb 1 tahun, Fathul-Mu‘în 2 tahun, dan FathulWahhâb 3 tahun. Selain majelis musyawarah, kegiatan musyawarah juga dilaksanakan tiap malam bagi murid di semua jenjang. Forum-forum musyawarah seperti ini diadakan dengan tujuan agar tercipta adanya gesekan keilmuan antara santri, utamanya di pesantren yang jumlah santrinya sangat banyak. Seperti itulah wujud bahu-membahu para santri PP Mahir Arriyadl dalam menuntut ilmu.

72

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Kopontren PP Mahir Arriyadl

Belajar Hidup Mandiri “Wayae ngaji yo ngaji, wayae nang sawah yo nang sawah,” ungkap salah satu pengurus menirukan dawuh pengasuh pesantren. Ungkapan bahasa Jawa itu memiliki arti waktunya ngaji ya ngaji, waktunya ke sawah (mencari nafkah) ya ke sawah. Maksudnya, saat seseorang mencari ilmu, hendaknya dia juga tidak melupakan mencari nafkah untuk dirinya. Maka tak heran, bila beberapa santri PP Mahir Arriyadl di samping memiliki kesibukan dengan kegiatan di pesantren, mereka juga menyempatkan diri untuk bekerja mencari nafkah di toko sekitar pesantren. Mereka dibebaskan untuk bekerja asal tidak melalaikan kegiatan yang ada di pesantren. Hal ini seolah menjadi pelajaran tak tertulis bagi mereka, yaitu pelajaran menghadapi dunia yang sebenarnya, bahwa mereka mau tak mau juga harus kembali ke masyarakat, mereka juga akan memiliki keluarga dan sanak famili yang harus dinafkahi. Kemandirian dan kedewasaan mereka itu bak barisan rapat guna menghadapi zaman ke depan. Ahmad Biyadi/BS

INGGRIS REP. CEKO PALESTINA

AMERIKA SERIKAT INDONESIA

PALESTINA UNESCO Akui Palestina, AS Hentikan Bantuan

PERJUANGAN Palestina untuk diakui di dunia Internasional memasuki tahap penting. Badan PBB untuk pendidikan, sains, dan budaya alias UNESCO memutuskan untuk menerima Palestina sebagai anggota secara penuh (31/10/2011). “Menerima Palestina masuk UNESCO merupakan kemenangan akan hak-hak, keadilan dan kebebasan,” kata Presiden Palestina Mahmud Abbas seperti disampaikan jubir Nabil Abu Rudeina, Selasa (1/11). Sementara Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki yang berada di Paris untuk voting UNESCO itu, menyebut peristiwa ini sebagai “momen bersejarah yang mengembalikan sebagian hak-hak Palestina.” Dalam voting yang digelar di kantor pusat UNESCO di Paris, resolusi yang menyetujui keanggotaan Palestina didukung oleh 107 negara. Sementara 14 negara menolak resolusi tersebut

dan 52 memilih abstain. AS, Israel, Kanada, Australia, dan Jerman termasuk negara yang menolak resolusi tersebut. Sedangkan Jepang dan Inggris memilih abstain. Pemerintah AS yang sejak awal menentang upaya tersebut, langsung memutuskan untuk menghentikan sebagian kucuran dananya untuk UNESCO. Menurut Duta Besar AS untuk UNESCO, David Killion, pemerintahan Obama secara resmi telah melaksanakan mandat kongres AS untuk menghentikan bantuan dana sebesar US$ 80 juta atau Rp 706 M yang setara dengan 22 % keseluruhan anggaran UNESCO. Pengakuan atas Palestina di UNESCO memberikan hak BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

73

bagi negara jajaran Israel itu untuk mendaftarkan situs-situs bersejarahnya masuk daftar warisan dunia. Ini sekaligus menaikkan posisi tawar Palestina untuk mendapat pengakuan sebagai sebuah negara dari PBB. Utusan tinggi Palestina di Jenewa, Ibrahim Khraishi meyakini keanggotan Palestisna dalam UNESCO akan membuka pintu untuk bisa bergabung dengan 16 badan PBB lainnya (1/11). Upaya pertama telah dilakukan menteri kesehatan Palestina Fathi Abu Moghli yang telah mempersiapkan proposal untuk keanggotaan penuh Palestina di badan PBB lainnya, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Namun demikian, sejumlah media massa menilai langkah UNESCO menerima Palestina tersebut sebagai langkah simbolis belaka yang tidak akan mempercepat kemerdekaan Palestina. Terlebih lagi, upaya Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB akan terus dihalanghalangi AS dan Israel. Beberapa aktivis dakwah justru menyerukan agar Palestina memperjuangkan kemerdekaannya dengan perlawanan, bukan dengan ‘mengemis’ kepada PBB. Pemungutan suara untuk menentukan status keanggotaan Palestina di PBB akan dilakukan pada Nopember ini. Dan AS telah mengancam akan menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk menggagalkan niat Palestina menjadi anggota penuh PBB. (tempointeraktif.com; detik. com; vivanews.com; republika.co.id)

74

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

LIBYA Qadhafi Tewas, NATO Siap Kuras Minyak Libya

GEJOLAK politik di Libya akhirnya mencapai klimaks dengan terbunuhnya Kolonel Moammar Qadhafi oleh pemberontak (20/10/11). Qadhafi telah tersingkir dari kekuasaannya pada 21 Agustus, setelah perang sipil yang berlangsung sejak Februari, dan menelan begitu banyak korban. Kematian Qadhafi mengundang kecaman dari sekutu pemimpin yang berkuasa sejak 1969 itu. Senin, (24/10), mantan pemimpin Kuba Fidel Castro mengecam NATO atas perannya dalam penggulingan Qadhafi. Castro menyebutnya “aliansi militer yang brutal telah menjadi instrumen paling represif sepanjang sejarah kemanusiaan.” Sebelunya, PBB dan kelompok HAM Jumat (21/10) menyerukan adanya penyelidikan penuh atas kematian Qadhafi. Mereka mengkhawatirkan Qadhafi mungkin telah dieksekusi, yang hal tersebut merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional. Berdasarkan Konvensi Jenewa

yang meletakkan aturan perilaku dalam konflik bersenjata, adalah dilarang untuk menyiksa, menghina atau membunuh tahanan. Peter Bouckaert dari Human Rights Watch, saat diwawancarai oleh CNN di Sirte dekat pipa pembuangan di mana Qadhafi ditangkap, mengatakan: “Kami tidak berpikir dia terperangkap dalam baku tembak. Apakah Moammar Qadhafi mati karena luka, atau apakah ia menerima luka di kepala yang fatal setelah dia meninggalkan daerah ini?” “Kami menyerukan untuk otopsi dan penyelidikan. Ini merupakan noda di Libya baru di mana Qadhafi meninggal dalam keadaan mencurigakan,” katanya menegaskan. Faktor Minyak Tak bisa dipungkiri, minyak merupakan faktor paling dominan di balik upaya penggulingan rezim Moammar Qadhafi. Selama 42 tahun berkuasa, Qadhafi memang memerintah dengan cara yang eksentrik dan brutal, dan membuat Libya menjadi negeri yang terisolasi. Tapi Libya kemudian berhasil ia bawa menjadi negara kaya minyak yang paling berpengaruh di Afrika Utara. Tak aneh bila Libya menjadi donor utama Uni Afrika sehingga memungkinkan organisasi itu mengirim pasukan perdamaian ke Somalia, Darfur, dan Kongo. Libya juga menyuplai sejumlah negara miskin di Afrika. Libya memasok 2 persen dari total minyak di dunia, memproduksi rata-rata sebesar 1,3 juta barel per hari, dengan

kualitas minyak terbaik di dunia. Perusahaan minyak asing, baik dari negara Eropa dan dunia ketiga seperti Turki, Rusia, Brazil, China, Malaysia, bahkan Indonesia dimana Pertamina dan MEdco Internasional juga mendapat proyek offshore di Teluk Sirte. ENI, BP (Inggris), Total (Prancis), Repsol YPF (Spanyol), dan OMV (Austria) merupakan produsen minyak terbesar di Libya sebelum pemberontakan terjadi. Sejumlah perusahaan AS, seperti Hess, ConocoPhillips, dan Marathon, juga membuat kesepakatan dengan rezim Qadhafi. Libya memasok kurang dari 1 persen kebutuhan impor minyak AS. “Keluarga yang berkuasa itu telah mati,” kata Graham Casey, seorang warga Australia, saat mengomentari tewasnya Qadhafi di situs berita The Daily Mail. “Selamat datang Halliburton, Chevron, ENI, Shell, BP, Exxon, Total, dan ambil singgasana itu dan juga keuntungan.” Laporan menarik disampaikan Cliford Cress di New York Times sebagaimana diterbitkan edisi Arabnya oleh ‘Asharq Al-Awsat’ edisi 24/8/2011 yang berjudul, “Memulai Berlomba-Lomba Memperebutkan Minyak Libya Bersamaan dengan Tumbangnya Regim Qadhafi”. Tulisan tersebut juga mencantumkan adanya tambahan analisa dari penulis Italia Elizabetha Boufaldo dari Roma. Dalam laporan tersebut, semua negara NATO sangat menginginkan mendapatkan jatah proyek dari minyak Libya yang selama ini memback-up para pemberontak menggulingkan pemerintahan sah BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

75

Qadhafi. Namun, dapat dibayangkan nantinya semua itu akan dibayar dengan berbagai konsesi dan hutang dengan pemberian minyak negeri tersebut. Diberitakan oleh media bahwa Mohamed Jibril, Perdana Menteri NTC sudah mencari pinjaman sebesar USD 2,5 miliar kepada Barat yang sangat mendesak untuk pembangunan pasca-perang dan penggulingan Qadhafi. Bahkan ada informasi bahwa penyerangan rudal yang dilakukan oleh NATO dihargai USD 4 juta perbuah. Akhirnya semua kegiatan yang dilakukan oleh NATO akan dibayar mahal oleh rakyat Libya dengan minyak kepada mereka. (republika.co.id; eramuslim.com; tempointeraktif.com; kompas.com)

INDONESIA Astaghfirullah, Festival Film Gay Kembali Digelar di Jakarta

KABAR tak sedap datang dari Jakarta Selatan. Berulang kali diprotes, acara Q! Film Festival, sebuah festival film yang mengampanyekan wacana lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) kembali digelar tahun ini. Festival tersebut berlangsung 1 s.d 7 Oktober di Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat ini, Q! Film Festival merupakan festival film bertema LGBT terbesar di Asia. Selain diputar di Salihara, Q! Film Festival juga akan dilaksanakan di CCF Salemba, Erasmus Huis, ruangrupa, Kontras, Kineforum dan Galeri Foto

76

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Jurnalistik Antara. Dalam rilisnya di situs salihara. org, panitia mengklaim bahwa sejak kali pertama digelar pada 2002, Q! Film Festival telah memutar lebih dari 800 judul film dan dihadiri oleh sekitar 160.000 pengunjung. Tamutamu dari mancanegara; pembuat film, distributor dan penyelenggara festival film pun turut hadir. Untuk mengembangkan jangkauannya, sejak beberapa tahun yang lalu, film-film seperti ini telah diputar di lebih dari 10 kota di Indonesia dan mengadakan berbagai program lain seperti pameran seni rupa, penerbitan buku dan workshop film. Digelarnya acara ini sengaja tidak dipublikasikan di media massa. Rupanya panitia masih dibayangi rasa takut akan adanya protes dari ormas Islam. Tahun lalu, acara ini sempat diprotes oleh Front Pembela Islam (FPI). Pada tahun 2010, FPI sempat menolak diputarnya film yang diselenggarakan oleh Q! Film Festival di beberapa tempat kebudayaan asing di Jakarta. FPI menganggap film yang diputar akan merusak moral dan bertentangan norma agama. Menurut Ketua DPD FPI DKI Jakarta, Habib Salim bin Umar AlAththas, film yang diputar dalam Q! Film Festival mereka nilai tidak wajar. Dia mengaku telah melihat cuplikan film tersebut. “Saya ada CD cuplikan film itu, durasinya 5 sampai 6 menit. Di situ ada adegan ciuman dan bugil,� ujarnya waktu itu. (eramuslim.com; hidayatullah. com; republika.co.id) Moh. Yasir/BS

Yusuf Islam, Musisi dan Penulis Lagu

Karena “Lagu untuk Tuhan”

Y

USUF Islam adalah nama yang selanjutnya akrab sebagai sapaan Stevens Demetre Georgiou, setelah dia masuk Islam. Namun, nama yang populer baginya di dunia musik adalah Cat Stevens, meski ia menggunakan nama Steve Adams ketika pertama kali merilis lagunya. Ia memilih nama Yusuf Islam karena merasa ada potongan sejarah perjalanan hidup Nabi Yusuf  yang tergambar dalam perjalanan hidupnya. Sejak kecil, Stevens memiiki jiwa seni dan musik. Suatu saat, ketika dia melihat grand piano berukuran kecil milik keluarganya yang lusuh. Stevens pun mencoba

Ia memilih nama Yusuf Islam karena merasa ada potongan sejarah perjalanan hidup Nabi Yusuf  yang tergambar dalam perjalanan hidupnya. menggunakannya. Setelah beberapa kali menggunakan alat itu, ia mulai mahir. Alunan nada yang dimainkan oleh jemari Stevens membuat orang yang mendengar terkesan. Dan akhirnya, hadirlah ia sebagai musisi yang lagu-lagunya sangat dikenal oleh penduduk EropaAmerika, lebih-lebih lagu yang dirilis sekitar tahun 1990-an. Berbagai prestasi tidak pernah kering daripadanya. Satu tahun sejak dipublikasikannya lagu BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

77

(2007), Special Achievement Award of the German sustainability Award (2009). Ia juga mendapatkan penghargaan Doktor HonorisCausa dari University of Gloucestershire (2005).

ROCK STAR: Cat Steven muda yang tak pernah kering akan prestasi

awal ciptaan Stevens (1970-an) membuat namanya terbang melambung ke angkasa, dan fotofoto Stevens memenuhi berbagai media Inggris. Bahkan satu dari judul lagunya pada saat itu menduduki anak tangga kedua di Inggris. Mayoritas lagu-lagu yang pernah dibawakan oleh Stevens, baik hasil karyanya sendiri atau bukan, menempati posisi teratas di Inggris, juga menjadi lagu favorit di kalangan penduduk Inggris. Bahkan pada usianya yang ke 19, lagunya termasuk dalam Top Ten Hits. Di samping itu, dia juga aktif di bidang pendidikan dan perdamaian dunia. Berbagai penghargaan pun diterimanya, semisal World Social Award (2003), Man for Peace Award (2004), Mediterranean Prize for Peace

78

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Musik untuk Tuhan Pada tahun 1968, akibat kebiasaan buruknya, kesehatan Stevens kian hari kian memburuk, bahkan dia hampir meninggal ketika dirawat di King Edward VII Hospital, Midhust. Ia diopname karena tuberculosis (TBC) dan penyempitan paru-paru yang diidapnya. Pada saat-saat seperti inilah dia mulai berfikir mengenai spiritual, mempertanyakan siapa dirinya, untuk apa dia hidup dan berbagai macam kegelisahan dan kegundahan tumpah-ruah di benaknya. Dia mencoba mencari jawaban atas segala pertanyaan yang selalu menyayat pikirannya itu dengan mempelajari meditasi, yoga, metafisika, numerologi, astrologi, kartu taror, zen dan ching. Ia juga mempelajari ajaran-ajaran agama hingga ke seluk-beluknya. Bahkan ia rela menjadi seorang vegetarian. Stevens juga mencoba kembali membaca Injil, namun dia tetap tidak mendapatkan jawaban. Ketika sudah dinyatakan sembuh, perjalanan spiritual yang pernah dijalaninya ketika di rumah sakit begitu berpengaruh terhadap kehidupan Stevens. Ia mulai terbiasa dengan jenggotnya yang panjang, dan perubahan yang paling nampak adalah serangkaian lagu yang ia karang memiliki makna begitu dalam juga mengandung arti ketuhanan.

Akhirnya ia melanjutkan langkahnya di ranah spiritual, dengan mempelajari agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Timur. Ketika itu ia sampai di sebuah pasar kota Marrakech, Maroko. Ia mendengar lantunan lagu yang tidak pernah didengarnya kecuali pada waktu dan tempat itu. Lantas ia mencari tahu akan lagu tersebut. “Itu adalah lagu untuk Tuhan,” jawab seseorang pada Stevens. Stevens terperanjat akan jawaban itu. Sebab yang ia kenal adalah musik untuk hiburan, pujian, tepuk tangan, dan uang. Justru musik yang baru didengarnya tidak mengharapkan apapun melainkan dari Tuhan. Pengalaman lain yang memantapkannya akan kehadiran Tuhan di sisinya adalah ketika Stevens berlibur di pantai Malibu, Amerika. Ia berenang cukup lama sehingga ketika ada ombak yang cukup besar, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap mengapung. Namun, ia malah hampir tenggelam. Saat itulah ia minta pertolongan Tuhan dan tidak lama pertolongan itu datang berwujud ombak-ombak kecil yang membawanya ke tepian pantai. Gejolak jiwa yang dirasakan Stevens terus bergemuruh. Segala pertanyaan yang muncul dari dalam dirinya tidak kunjung menemukan jawaban. Akhirnya dia merasakan hal lain ketika dia membaca salinan al-Qur’an yang didapat dari salah satu familinya yang non-Muslim. Segala kegundahan dan pertanyaan yang selama ini menjadi momok bagi Stevens

Segala kegundahan dan pertanyaan yang selama ini menjadi momok bagi Stevens satu per satu berguguran tatkala ia membaca dan merenungi kandungan al-Qur’an.

satu per satu berguguran tatkala ia membaca dan merenungi kandungan al-Qur’an. Bersamaan dengan itu, segala kebiasaan buruknya berganti kegiatan yang lebih bermanfaat. Stevens mulai menemukan keyakinannya dan hal yang paling ia inginkan saat itu adalah menjadi seorang muslim, namun saat itu hidayah masih belum menghampiri Stevens. Akhirnya, setelah kunjungannya ke Jerussalem, Stevens semakin yakin untuk memeluk Islam. Kemudian dia bertemu dengan seorang muslimah di London dan menceritakan perihal gejolak hati dan keinginannya. Muslimah itupun menganjurkan Stevens agar mendatangi masjid New Regent. Pada hari Jumat (1977), setelah pelaksanaan salat Jumat, Stevens mendatangi imam masjid dan ketika itu pula Stevens dituntun mengucapkan kalimat syahadat. Abdurrahaman Wahid/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

79

HADHARAH

Jerusalem, Kota Suci yang Terluka (1/2)

23 Kali Pengepungan, 52 Kali Peperangan, 2 Kali Penghancuran Bani Isreal, sebuah bangsa yang banyak melahirkan para nabi meyakini bahwa Kanaan, wilayah dimana Baitul Maqdis berada, adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka.

B

AITUL Maqdis, atau al-Quds, atau Kota Kuno Jerusalem selalu memiliki daya tarik kuat yang tidak dimiliki kota-kota lain. Sebagai kota suci bagi tiga agama Samawi, di dalam dinding kota penuh dengan tempat-tempat suci dan peninggalan berharga ketiga agama tersebut. Saat ini, wilayah Kota Kuno dibagi menjadi empat bagian: Muslim, Kristen,

80

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Armenia (Kristen), dan Yahudi. Dan karena lokasiya yang berada di perempatan tiga benua, kota tua yang oleh orang Romawi disebut Elia ini menjadi salah satu kota yang paling berpengaruh dalam sejarahnya yang membentang lebih dari 3.000 tahun. Selain itu, Bani Isreal, sebuah bangsa yang banyak melahirkan para nabi meyakini bahwa Kanaan, wilayah dimana Baitul Maqdis berada, adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka. Banyak Keutamaan Bagi orang umat Islam, Baitul

HADHARAH Maqdis adalah kota suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Dan Masjid al-Aqsha yang berada di kompleks tersebut, juga merupakan masjid suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Melaksanakan shalat di Masjid al-Aqsha bernilai 500 kali lipat daripada shalat di masjid-masjid lain. Dua sumber ajaran primer Islam kerap menyinggung kesucian, keutamaan, dan peran penting Baitul Maqdis dalam sejarah awal Islam. Surah al-Isra dalam al-Qur’an misalnya, menceritakan dengan jelas bagaimana kota yang disebut “berbarakah di sekitarnya” ini menjadi tujuan Isra yang dilakukan oleh Rasulullah , yang kemudian dilanjutkan dengan Mikraj dari kota ini ke Sidratul Muntaha. Buah dari momen ini adalah diwajibkannya shalat kepada umat Islam, dengan Baitul Maqdis–tepatnya Batu Karang Shakhrah–sebagai kiblatnya. Menurut az-Zuhri, sejak Nabi Adam, tak seorang nabi pun diutus oleh Allah kecuali kiblatnya di Shakrah Baitul Maqdis. Sejak disyariatkanya shalat pada tahun ke-12 kenabian hingga 16 (atau 17) bulan setelah Rasulullah  hijrah ke Madinah, beliau shalat menghadap Shakhrah, sebelum akhirnya kiblat beliau diubah ke Ka’bah. Abdullah bin Umar  mengatakan, ”Baitul Maqdis adalah tempat para nabi dan berkumpulnya mereka untuk beribadah. Tidak ada sejengkalpun tanah di tempat itu yang tidak dipakai untuk sembahyang oleh para nabi atau malaikat.”

LUAS: Peta wilayah 12 suku Israel

Sejarah Awal Terkait sejarah awal Kota Kuno Jerusalem, penulis kenamaan Karen Armstrong, dalam bukunya Jerusalem: One City, Three Faiths atau Jerusalem: Satu Kota, Tiga Iman (1996) menulis sebuah pernyataan bahwa tidak mungkin menyelidiki orang yang pertama kali tinggal di bukit-bukit dan lembah-lembah yang kelak menjadi Jerusalem. Ironisnya, lanjut Armstrong, kota itu tidak begitu terkenal dan letaknya terpencil di Kanaan Kuno, yaitu di dataran tinggi, yang sulit untuk ditempati dan berada di BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

81

luar pusat negara. Pada abadabad dimana Kanaan Kuno mulai ditempati (milenium kedua SM), perkembangan kota justru terjadi disekitar pesisir pantai dimana orang-orang Mesir membangun depo-depo perdagangan. Meski demikian, Kanaan adalah sebuah negeri yang kaya potensi; penduduknya banyak mengekspor anggur, minyak, madu, aspal dan biji-bijian. Kanaan juga memiliki nilai strategis, karena menghubungkan Asia dan Afrika dan menjadi jembatan antara Mesir, Syria, Phunisia, dan Mesopotamia. Namun beberapa ahli arkeologi seperti Kathleen Kenyon meyakini Jerusalem sebagai sebuah kota

1850 SM, Tuhan hadir kepada Nabi Ibrahim  di Haran dan berfirman, “Tinggalkan negerimu, keluargamu, dan rumah ayahmu menuju tanah yang akan Aku tunjukkan kepadamu.” Negeri itu adalah Kanaan. Nabi Ibrahim  tiba di Kanaan sebagai pendatang. Beliau tidak punya tanah di sana sampai dia membeli kapling tanah untuk memakamkan isteri beliau di Gua Machpelah (sekarang di al-Khalil atau Hebron). Bangsa-bangsa awal yang menempati Kota Kuno Jerusalem dalam Bible disebutkan berasal dari Mesopotamia yang menetap di Kanaan, ditambah 12 suku Israel yang pada sekitar 1750 SM

Bani Israel sangat yakin bahwa nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim , berasal dari Mesopotamia dan pada tahun 1850 SM, Tuhan hadir kepada Nabi Ibrahim  di Haran dan berfirman, “Tinggalkan negerimu, keluargamu, dan rumah ayahmu menuju tanah yang akan Aku tunjukkan kepadamu.” yang didirikan oleh masyarakat Semitik Barat dengan pemukiman yang terorganisir sejak sekitar tahun 2600 SM. Menurut tradisi Yahudi, kota ini didirikan oleh Shem dan Eber, nenek moyang Nabi Ibrahim . Ini sesuai dengan pendapat Karen Armstrong, bahwa Jerusalem baru bisa dikatakan telah memasuki sejarah pada sekitar abad ke-19 SM (masa hidup Nabi Ibrahim ), dimana penduduk mulai memasuki kota-kota benteng seperti Sikhem, Hebron dan Jerusalem dan bermukim di sana. Bani Israel sangat yakin bahwa nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim , berasal dari Mesopotamia dan pada tahun

82

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

bermigrasi ke Mesir karena paceklik (pada masa Nabi Yusuf ). Mereka hidup makmur di Mesir, hingga datang masa pemerintahan Firaun yang menjadikan mereka sebagai budak. Pada tahun 1250 SM, di bawah kepemimpinan Nabi Musa , mereka melarikan diri keluar Mesir dan hidup nomaden di Semenanjung Sinai. Tapi mereka yakin bahwa Tuhan telah menjanjikan Kanaan yang subur untuk mereka. Sayangnya, sebelum sampai ke Tanah yang Dijanjikan oleh Tuhan, Nabi Musa  meninggal dan di bawah kepemimpinan penerusnya yaitu Nabi Yusya’, kedua belas suku ini mengambil alih Kanaan dengan perang sekitar tahun 1200 SM.

Penaklukan-Penaklukan Membincang tentang Jerusalem sama saja dengan membincang sebuah kota suci yang penuh goresan luka. Bagaimana tidak, sepanjang 3.000 tahun lebih sejarahnya, pengepungan, perang, penaklukan, bahkan penghancuran terus melanda kota suci ini. Beberapa sumber mencatat bahwa kota ini telah dikepung sebanyak 23 kali, 52 kali diperangi, 2 kali dihancurkan, dan terjadi 44 kali pergantian kekuasaan. Pada masa Nabi Yusya’, ke-12 suku Israel berpencar di negeri Kanaan, dan wilayah Jerusalem berada di teritori suku Benyamin. Namun Jerusalem waktu itu tetap berada dalam kuasa independen suku Yebus sebelum ditaklukkan oleh Nabi Daud  dan dijadikan ibukota kerajaan Israel yang beliau pimpin (sekitar 1000-an SM). Pada masa Nabi Daud , kerajaan Isreal berada dalam puncak kejayaan dan itu terus berlangsung hingga masa masa Nabi Sulaiman  (memerintah sekitar 970-930 SM), yang membangun Bait Suci atau Haikal Sulaiman (kemudian dikenal sebagai Bait Suci Pertama). Hingga penaklukan Babilonia pada tahun 587 SM, Jerusalem terus memainkan peran sebagai ibukota politik dan Bait Suci menjadi pusat keagamaan Yahudi, agama Bani Israel. Setelah Nabi Sulaiman  wafat, 10 suku utara memisahkan diri membentuk Kerajaan Israel, sedangkan kerajaan Nabi Sulaiman  menjadi kerajaan Yehuda dengan ibukota Jerusalem dan memimpin wilayah selatan.

Kerajaan Israel di utara berakhir pada tahun 722 SM, saat ditaklukkan bangsa Assyria. Sedangkan kerajaan Yehuda di selatan tetap bertahan hingga tahun 587 SM, saat Nebukadnezar dari Babilonia datang menaklukkan Yehuda dan Jerusalem; menghancurkan Bait Suci; dan membawa Bani Israel ke Babilonia untuk dijadikan budak. Setelah 50 tahun (538 SM), Koresh atau Cyrus Agung, pendiri Dinasti Akhemeniyah Persia mengajak orang Yahudi untuk kembali ke Yahuda, merebut kembali Jerusalem, dan membangun kembali Bait Suci. Pembangunan Bait Suci Kedua selesai tahun 516 SM, pada masa Darius Agung dari dinasti yang sama. Kemudian, sekitar tahun 445 SM, Raja Artaxerxes I dari Persia mengeluarkan dekrit yang mengizinkan kota dan tembok dibangun kembali. Jerusalem kembali menjadi pusat keagamaan Bani Israel dan penganut agama Yahudi. Saat pengasa Makedonia, Aleksander Agung (356-323 SM) menaklukkan Persia, Jerusalem jatuh ke tangan Makedonia. Karena Aleksander tidak memiliki pewaris, maka setelah ia meninggal, para jendralnya berbagi kekuasaan. Jendral Ptolemy I, mendirikan Dinasti Ptolemaik yang menguasai Mesir dan Jerusalem. Tahun 198 SM, Ptolemy V kehilangan Jerusalem dari bangsa Seleukus dari Persia (penerus Akhemeniyah), di bawah kepemimpinan Antiochus III. Tahun 168 SM, meletus Revolusi Makabe, dimana para pemberontak

Beberapa sumber mencatat bahwa kota ini telah dikepung sebanyak 23 kali, 52 kali diperangi, 2 kali dihancurkan, dan terjadi 44 kali pergantian kekuasaan.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

83

Para sejarawan modern cenderung menetapkan peristiwa ini sebagai awal dari diaspora (penyebaran) Bani Israel, bukan kehancuran Bait Kedua Yahudi berhasil menumbangkan kekuasaan Seleukus di Jerusalem. Mereka lantas mendirikan Kerajaan Hasmonea pada tahun 152 SM, dengan Jerusalem sebagai ibukota. Kerajaan Hasmonea menguatkan kembali agama Yahudi, memperluas batas wilayah Tanah Israel, dan mengurangi pengaruh kebudayaan Yunani atau Hellenisme yang dibawa oleh Aleksander Agung. Kerajaan Hasmonea berakhir pada tahun 37 SM, saat Hasmonea menyerah kepada Herodes I, raja boneka Yahudi di Judea yang menjadi klien Romawi. Keturunan Herodes I hingga Agrippa II secara turun-temurun memangku jabatan raja boneka Romawi di Judea hingga tahun 96 M. Penguasaan Romawi atas Jerusalem dan wilayah sekitarnya berlangsung hingga tahun 638 H, ketika Jerusalem ditaklukkan oleh umat Islam. Selama periode tersebut, kendali Romawi atas Jerusalem harus menghadapi pemberontakan Bani Israel di provinsi Judea yang berlangsung tiga kali: 1. Pemberontakan Pertama atau Pemberontakan Besar, berlangsung 66-73 M. Direspons dengan penghancuran Bait Kedua pada tahun 70 M oleh Titus. 2. Pemberontakan Kedua atau Perang Kitos (115-117 M) 3.Pemberontakan Ketiga atau Perang Bar Kokhba (132-135

84

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

M). Saat itu, Kaisar Hadrianus membantai 580.000 orang Yahudi. Para sejarawan modern cenderung menetapkan peristiwa ini sebagai awal dari diaspora (penyebaran) Bani Israel, bukan kehancuran Bait Kedua pada tahun 70 M. Hadrianus lantas ‘meromawisasi’ kota dan mengganti namanya menjadi Aelia Capitolina (Elia) dan mengganti keseluruhan nama Provinsi Judaea menjadi Syria Palestina. Ia juga melarang orang Yahudi memasuki kota ini. Larangan memasuki Elia berlanjut hingga abad ke-4 M. Lima abad setelah revolusi Bar Kokhba, Jerusalem masih berada di bawah kekuasaan Romawi, dan kemudian dilanjutkan oleh Bizantium (Romawi Timur). Selama abad ke-4, Kaisar Romawi Konstantin I membangun tempattempat Kristen di Jerusalem seperti Gereja Makam Kudus. Dalam rentang beberapa dekade, Jerusalem berganti penguasa dari Romawi ke Persia dan kembali dikuasai Romawi sekali lagi. Dengan adanya tekanan Khosru II dari Dinasti Sassania di Persia di awal abad ketujuh terhadap Bizantium hingga ke Syria, Jendral Sassania Shahrbaraz dan Shahin menyerang Jerusalem. Mereka dibantu oleh orang Yahudi dari Palestina yang bangkit melawan Bizantium. Pada Pengepungan Jerusalem (614), setelah 21 hari peperangan tanpa ampun, Jerusalem direbut. Kota itu berada di tangan Sassania hingga sekitar 15 tahun kemudian, saat Heraklius merebutnya kembali (629 M). Moh. Yasir/BS

RIHLAH

Kota Kuno Jerusalem, Kota Suci Tiga Agama (1/2)

Kota Kuno Jerusalem

Penggalian Israel 1

Denah Pembagian Wilayah

Penggalian Israel 2

K

Kota Kuno Jerusalem OTA KUNO Jerusalem atau Baitul Maqdis merupakan kota suci bagi tiga agama Samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi. Di situ terdapat kompleks al-Haram asy-Syarif (al-Quds) yang di dalamnya terdapat Masjid alAqsha dan Kubah Shakhrah; Tembok Ratapan yang disucikan pemeluk Yahudi dan diyakini sebagai peninggalan Istana (Haikal) Nabi Sulaiman; serta Gereja Makam Kudus (Church of The Holy Sepulchre) milik pemeluk Kristen. Kota Kuno Jerusalem terletak di

Penggalian Israel 3

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

85

86

wilayah Palestina yang kini sedang dijajah oleh Israel, tepatnya di bagian timur kota Jerusalem saat ini. Kota Kuno ini terbagi atas empat wilayah berdasarkan agama: yaitu Wilayah Muslim (Muslim Quarter), Yahudi, Kristen, dan Kristen Armenia. Sejak Perang Arab-Israel pada tahun 1967, Kota Kuno Jerusalem jatuh ke tangan Israel. Termasuk kompleks al-Haram al-Syarif. Posisinya sebagai tempat suci bagi agama-agama Samawi menjadikan Jerusalem sebagai daerah yang menggiurkan bagi kerajaan manapun untuk merebutnya. Sepanjang sejarahnya, Jerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai/ dikuasai ulang 44 kali. Konflik paling hebat yang terekam oleh sejarah tentu saja adalah Perang Salib yang melibatkan umat Islam dengan Kristen Eropa yang berlangsung selama sekitar 200 tahun (abad XI s.d XIII) Kota Kuno Jerusalem termasuk salah satu warisan dunia yang dilindungi oleh Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu, dan Kebudayaan (UNESCO) mulai tahun 1981.

telah melakukan penggalianpenggalian di bawah Masjid al-Aqsha dan Kubah Shakhrah, sehingga menyebabkan beberapa dasar kompleks al-Haram asySyarif dan beberapa pilar Masjid al-Aqsha mengalami retak. (Denah al-Haram asy-Syarif selengkapnya bisa dibaca edisi depan, 66/Shafar 1433 H. Inysa Allah.)

Al-Haram asy-Syarif Kompleks al-Haram asySyarif berbentuk persegi panjang dengan luas 285 x 470 meter, sekelilingnya dipagari tembok. Sejak 1967, Zionis Yahudi bertekad akan membangun kembali Istana Sulaiman (Solomon Temple), apa pun dampaknya terhadap bangunan Masjid alAqsha dan al-Haram asy-Syarif. Sejak tahun 1970-an, mereka

Masjid al-Aqsha

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Foto Satelit Kompleks al-Haram asy-Syarif atau The Mount Temple

Bagian dalam Kubah Shakrah

Tembok Ratapan Tembok ratapan atau Wailing Wall berada di dinding sebelah barat al-Haram asy-Syarif. Tempat ini adalah tempat penting dan dianggap suci bagi pemeluk agama Yahudi. Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di sana berdiam Shekhinah (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan. Tembok ini diyakini sebagai sisa dinding Haikal Sulaiman atau Bait Suci. Haikal Sulaiman merupakan Istana Nabi Sulaiman ď ľ dimana Bani Israel membentuk sebuah pemerintahan adikuasa di zamannya. Wafatnya Nabi Sulaiman sekitar tahun 930 SM menyebabkan kerajaan Bani Israel terpecah-belah dan melemah. Sempat terjadi berkalikali pergantian kekuasaan, dan penaklukan terbesar dilakukan oleh Nebukadnezar dari Babilonia (587 SM), di mana ia menghancurkan Haikal Sulaiman, yang selanjutnya dikenang sebagai Bait Pertama. Tahun 535 SM, Koresy The Great dari Dinasti Akhemeniyah Persia membangun kembali Haikal Sulaiman atau Bait Suci Kedua. Pembangunan selesai pada tahun 513 SM pada masa Darius I dari kekaisaran yang sama. Tahun 70 M, Kaisar Titus dari Romawi menaklukkan Jerusalem dan menghancurkan Bait Suci Kedua, dan sejak saat itulah, Bangsa Yahudi mengimpikan untuk membangun Bait Suci Ketiga di kawasan al-Haram asySyarif. Panjang tembok ini aslinya

Tembok Ratapan dari dekat

Tembok Ratapan dari jauh (Nampak juga Masjid al-Aqsha)

sekitar 485 meter, dan sekarang yang tersisa hanyalah 60 meter. Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan� karena di situ orang Yahudi berdoa dan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

87

Maket Bait Suci kedua di Museum Israel

Gereja Makam Kudus

88

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celahcelah dinding itu. Dinding ini dibagi dua dengan sebuah pagar pemisah (mechitza) untuk memisahkan laki-laki dan perempuan. Orang Yahudi Ortodoks percaya bahwa mereka tidak boleh berdoa bersama-sama dengan kaum perempuan. Tempat ini juga penting bagi umat Islam karena konon di tembok ini Rasulullah  menambatkan kendaraan beliau Buraq, sebelum bertolak untuk mikraj ke atas langit. Karena itu orang-orang Arab menyebutnya Hâ’ithulBurâq (Tembok Buraq) Gereja Makam Kudus Gereja Makam Kudus atau Church of the Holy Sepulchre adalah gereja Kristen yang terletak di Kota Lama Jerusalem. Dalam bahasa Arab disebut KanîsatulQiyâmah. Situs ini dipercaya oleh banyak orang Kristen sebagai Golgota, tempat Yudas Iskariot–sosok yang diserupakan dengan Nabi Isa–disalib. Gereja ini menjadi tujuan peziarahan Kristen sejak abad ke-4, karena diyakini sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Dari berbagai sumber. Moh. Yasir/BS

RIJALUDDIN

Abu Dawud (202-275 H.)

Angin Segar dari Afganistan

P

ADA masa keemasan Islam, ilmu dikaji tidak ada habisnya. Para ilmuwan mendapat apresiasi positif dari pemerintah, dan para ulama pun tumbuh subur bermunculan. Kala itu terjadi sekitar abad ketiga hijriah, tepatnya pada periode pertama Daulah Abbasiyah (132-232 H/750-847 M) berkuasa, yang saat itu dipimpin oleh generasi ke tujuh mereka, Khalifah al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M). Jauh di negeri Sijistan, lahir seorang bayi yang kelak menjadi rujukan banyak orang. Bayi itu memiliki nama lengkap Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr al-Azdi asSijintani. Kelak ia adalah ulama besar penganut madzhab Imam Ahmad bin Hambal, yang dalam khazanah keilmuan ia akrab dan biasa dengan nama kunyahnya, Abu Dawud. Ia lahir pada tahun 202 di Sijistan, atau Afganistan saat ini.

Jauh di negeri Sijistan, lahir seorang bayi yang kelak menjadi rujukan banyak orang. Bayi itu memiliki nama lengkap Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr al-Azdi as-Sijintani. Meninggalkan Kampung Halaman Meninggalkan tanah kelahiran adalah suatu hal yang pahit dirasa, tapi hal itu menjadi berbeda bagi Abu Dawud. Sebab perjalanan jauh (rihlah) merupakan salah satu sarana untuk mencapai kematangan jiwa dan intelektual. Adapun tempat pertama yang menjadi persinggahan Abu Dawud adalah Bashrah, sebab Bashrah kala itu merupakan salah satu pusat ilmu, dan di sana tidak sulit ditemukan ulama dan pelajar yang sedang melakukan studi atau penelitian. Di Bashrah, ia mempelajari berbagai ilmu dasar. Setelah cukup lama tinggal di Bashrah dan dirasa BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

89

Tempat yang paling sering beliau kunjungi adalah Baghdad, sebab Baghdad merupakan pusat kekhilafahan Daulah Abbsasiyah cukup memiliki bekal keilmuan yang cukup matang, ia melanjutkan rihlah-nya ke berbagai belahan dunia Islam guna menyelami samudera ilmu yang tak terhingga dalamnya. Tempat yang paling sering beliau kunjungi adalah Baghdad, sebab Baghdad merupakan pusat kekhilafahan Daulah Abbsasiyah, yang pastinya selalu dikunjungi oleh para ulama. Daerah yang juga pernah menjadi sasaran rihlah beliau adalah Khurasan, Mesir, Hijaz, Irak, Syam, Damaskus dan berbagai daerah yang dianggap perlu untuk dikunjunginya. Dari banyaknya tempat yang ia kunjungi, tak heran jika guruguru Abu Dawud begitu banyak. Bahkan menurut pengamatan Ibnu Hajar al-’Asqalâni, guru Abu Dawud mencapai 300 orang. Di antara guru beliau yang tenar adalah Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Mu’in Abu Zakariya (w. 233), Ishaq bin Rahawaih (w. 238), ‘Ustman bin Muhammad al-Kufi (w. 239), Muslim bin Ibrahim al-Azdi (w. 222), Abu Abdirrahman (w. 221), Abul Hasan al-Bishri al-Asadi (w. 228), Abu Salamah (w. 223), Abu Bakr bin ‘Ustman al-Bishri (w. 252) dan Abu Hafsh (w. 264). Selain itu, orang-orang yang belajar kepada Abu Dawud juga teramat banyak. Beberapa murid Abu Dawud terdapat mereka yang menjadi anggota pengarang Kutubus Sittah. Adz-Dzahabi berkata, “Pantas bagi Abu Dawud

90

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

berbesar hati, sebab at-Tirmidzi dan an-Nasa’i termasuk murid beliau, bahkan salah satu gurunya, Ahmad bin Hanbal, pernah meriwayatkan dan menulis Hadis dari Abu Dawud.” Buah dari Rihlah Melalui rihlah yang melelahkan, Abu Dawuh akhirnya menguasai sekian banyak ilmu, terutama di bidang Hadis. Bahkan karena kehebatannya dalam meriwayatkan Hadis, Sahal bin Abdullah At-Tusturi pernah mengunjungi kediaman beliau dan meminta agar hajat yang dikehendaki Sahal beliau tunaikan. Kepada Abu Dawud, Sahal meminta agar beliau menjulurkan lidahnya. Ketika lidah Abu Dawud terjuntai keluar, Sahal langsung menciumnya. Hal sedemikian dilakukannya untuk mengambil berkah dari apa yang didapatkan Abu Dawud mengenai Hadis Rasulullah . Dari sekian banyak karangan Abu Dawud, Sunan Abi Dawud adalah kitab karangannya yang paling fenomenal. Ini adalah kitab pertama dalam katagori kitab Hadis yang secara spesifik mencantumkan Hadis-Hadis hukum, yang biasanya digunakan oleh para generasi berikutnya untuk mencetuskan suatu hukum. Sebab kitab Hadis yang beredar sebelumnya memuat berbagai hal, termasuk cerita, etika, wejangan, juga tentang hukum. Mungkin karena itulah Imam al-Ghazali mengklaim bahwa kitab ini cukup untuk menjadi bekal bagi mujtahid, karena kitab ini merupakan hasil telaah dan seleksi Abu Dawud terhadap sekitar 100.000 Hadis yang dihafalnya.

Namun yang beliau bukukan dalam kitab ini hanya sekitar 48.000 Hadis. Fakta ini menunjukkan bahwa selain ahli Hadis, Dawud juga seorang ahli fikih yang handal. Pribadi yang Unik Perilaku yang setiap hari menghiasai diri Abu Dawud selalu menjadi perhatian orang di sekitarnya, sebab apa yang dilakukannya selalu dicontoh oleh masyarakat di sekitarnya. Perilaku Abu Dawud memang mirip Rasulullah , karena ia lama belajar kepada Imam Ahmad Bin Hanbal. Sedangkan perilaku Ahmad mirip dengan Waki', Waki' mirip dengan Sufyan, Sufyan dengan Manshur, Manshur dengan Ibrahim an-Nakha'i, Ibrahim an-Nakha'i dengan 'Alqamah, 'Alqamah mirip dengan Ibnu Mas'ud, dan Ibnu Mas'ud mirip dengan Rasulullah . Selain itu, keunikan lain yang dimiliki oleh Abu Dawud adalah dalam hal berpakaian. Suatu ketika Abu Dawud ditanya mengenai model bajunya, yang salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Beliau menjawab, "Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedang yang satunya tidak untuk apa-apa." Mengenai kepribadiannya yang lain, Abu Dawud dikenal dengan sifat-sifat mulia, semisal hal-ihwal kewaraannya. Pernah suatu ketika, setelah Abu Dawud salat Maghrib bersama pelayannya, terdengar suara ketukan pintu. Ketika pintu dibuka, ternyata Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq muncul di balik pintu. Abu Dawud pun mengizinkan sang Amir masuk dan duduk. Abu Dawud menemuinya dan berkata,

“Apa yang membawa anda datang ke sini?” “Aku memiliki tiga kepentingan,” kata Amir. “Apa itu?” Tanya Abu Dawud. “Pertama, hendaknya Anda berpindah ke Bashrah dan menetap di sana, supaya para murid dari berbagai penjuru dunia bisa belajar pada Anda. Dengan demikian Bashrah makmur kembali setelah hancur dan ditinggalkan orang akibat tragedi Zenji,” ujar Amir. “Ini yang pertama, lantas yang kedua apa?”. Tanya Abu Dawud. “Hendaknya Anda berkenan untuk mengajari putra-putraku.” kata Amir lagi. Abu dawud mengiyakan dua permintaan Amir. “Lalu yang ketiga apa?” tanya Abu Dawud. “Hendaknya juga, Anda membuat pengajian yang dikhususkan bagi putra-putra khalifah, karena mereka tidak biasa duduk bersama masyarakat umum.” Atas permintaan terakhir ini, Abu Dawud menjawab, ”Untuk permintaan ini, aku tidak bisa memenuhinya, sebab dalam hal menuntut ilmu, anak cucu Adam adalah sama.” *** Abu Dawud wafat di Basrah, pada tanggal 16 Syawal 275 H, dan disemayamkan di sisi peristirahatan Sufyan ats-Tsauri. Di samping meninggalkan banyak karangan kitab, Abu Dawud juga meninggalkan putra yang bernama Abu Bakr bin Abu Dawud. Abdurrahman Wahid/BS BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

91

KLINIK PESANTREN

Tin;

Buah Penuh Khasiat dan Berkah Kenapa Allah sampai bersumpah atas nama buah tersebut. Sebab sesuatu yang dibuat sumpah oleh Allah pasti memiliki suatu keistimewaan dan kelebihan.

B

UAH Tin mungkin kita jarang atau bahkan belum pernah melihatnya. Tapi namanya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Di dalam al-Qur’an, buah Tin menjadi nama sebuah surat. Bahkan, buah yang berasal dari Asia Barat ini dibuat sumpah oleh Allah. Tentu kita tertarik kenapa Allah sampai bersumpah atas nama buah tersebut. Sebab sesuatu yang dibuat sumpah oleh Allah pasti memiliki suatu keistimewaan dan kelebihan. Tulisan ini menjelaskan tentang sejuta khasiat yang terkandung

92

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

yang terkandung dalam buah yang unik ini. Tumbuh Sepanjang Musim Buah tin merupakan buah yang produktif. Buah yang berasal dari Asia Barat ini terus menerus berbuah tanpa mengenal musim. Sekilas buah ini tampak unik karena kelihatannya langsung muncul tanpa ada penampakan bunga sebelumnya. Menurut para pakar tumbuhan, bunga Tin tidak tampak karena terlindung oleh dasar bunga yang menutup sehingga dikira buah. Penyerbukan dilakukan oleh sejenis tawon khusus, sama seperti serangga yang menyerbuki jenisjenis Ficus lainnya. Sebetulnya yang disebut buah adalah dasar bunga yang membentuk bulatan. Tipe ini khas untuk semua anggota suku

ara-araan (Moraceae). Buahnya berukuran panjang 3 hingga 5 cm, berwarna hijau. Beberapa kultivar berubah warna menjadi ungu jika masak. Getah yang dikeluarkan pohon ini dapat mengiritasi kulit. Buah ini juga lebih mirip sebagai makanan biasa karena mengenyangkan seperti buah korma, sehingga warga Arab jarang memasukkannya dalam daftar buah-buahan. Kandungan Vitaminnya Melimpah Buah Tin mengandung vitamin yang melimpah. Kandungan vitaminnya tidak kalah hebatnya dengan apel dan jeruk. Hasil riset California Figs Nutritional Information menyebutkan, buah Tin mengandung serat yang sangat tinggi. Setiap 100 g buah Tin kering mengandung 12,2 g serat, sedangkan apel hanya mengandung 2 g dan jeruk 1,9 g. Tin juga mengandung asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan bagi kesehatan, di antaranya omega-3 dan omega-6, yaitu sejenis lemak yang berperan dalam pencegahan penyakit jantung. Disamping itu, buah Tin juga mengandung unsur lain yang menjadi bahan anti kanker, yaitu benzaldehyde dan coumarins. Benzaldehyde telah terbukti mampu bertindak sebagai bahan anti tumor dan coumarins adalah untuk merawat kulit dan kanker prostat. Tin tergolong rendah lemak, rendah sodium, rendah kalori dan bebas kolesterol sehingga ampuh mencegah hipertensi dan sangat cocok dikonsumsi para penderita

Buah yang berasal dari Asia Barat ini terus menerus berbuah tanpa mengenal musim. Sekilas buah ini tampak unik karena kelihatannya langsung muncul tanpa ada penampakan bunga sebelumnya. diabetes atau penyakit gula. Selain kandungan vitamin dan gizi di atas, beragam vitamin dan mineral bermanfaat juga terkandung di dalamnya. Setiap 100 g buah Tin mengandung vitamin A sebanyak 9.76 IU, vitamin C, 0.68 mg, kalsium, 133.0 mg dan zat besi, 3.07 mg. Mengkonsumsi buah Tin secara teratur, menurut para pakar kesehatan, dapat membantu membersihkan racun di dalam tubuh, mencegah kanker kolon dan penyakit degeneratif lainnya. Khasiatnya tanpa Batas Tin atau yang dikenal sebagai figs dalam bahasa Inggris atau dalam bahasa Indonesia disebut buah ara banyak sekali khasiatnya bagi kesehatan. Tin banyak mengandung zat – zat yang amat dibutuhkan oleh tubuh kita dan memiliki banyak manfaat BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

93

bagi kesehatan. Tidak seperti makanan manis lainnya, Tin tidak membahayakan gigi. Bahkan, bila dikeringkan akan lebih manis dan bernutrisi karena mengandung vitamin A, B, dan mineral seperti seperti fosfor, zat besi dan kalsium. Secara khusus, Rasulullah bersabda tentang manfaat buah Tin, ”Sekiranya aku katakan, Sesungguhnya buah yang turun dari Surga maka aku katakan, inilah buahnya. sesungguhnya buah surga tiada keraguannya. Maka makanlah buah Tin karena

badan. Dalam sebuah penelitian, jus buah Tin merupakan minuman yang baik untuk membunuh bakteri merugikan. Di samping itu, kandungan serat, kalsium dan magnesium di dalam buah Tin dapat mengurangi serangan angin, mampu mengontrol tekanan darah tinggi, dan dapat memperlahan proses penyerapan glukosa di usus kecil bagi penderita kencing manis. Selain itu, buah Tin juga dapat memulihkan rasa lelah dan meningkatkan kekuatan

Rasulullah bersabda tentang manfaat buah Tin, ”Sekiranya aku katakan, Sesungguhnya buah yang turun dari Surga maka aku katakan, inilah buahnya. sesungguhnya buah surga tiada keraguannya. Maka makanlah buah Tin karena bisa menyumbat penyakit ambeien (wasir) dan berguna untuk penyembuhan encok.” bisa menyumbat penyakit ambeien (wasir) dan berguna untuk penyembuhan encok.” (HR. AlAwza’i dari Abi Dzarr). Menurut imam al-Baidhawi dalam tafsirnya, Tin adalah obat yang memiliki banyak khasiat, di antaranya dapat melemaskan usus (tidak kaku), mengencerkan dahak, membersihkan ginjal, kotoran (pasir) kandung kemih, hati dan limpa. Tin juga berkhasiat menghilangkan bau mulut, memanjangkan rambut, mencegah penyakit strok, dan bermanfaat bagi penderita tuberkulosis. Dalam kasus sembelit (sulit buang air besar), Tin bisa berfungsi sebagai obat pencahar. Buah ini juga baik untuk mengendalikan nafsu makan dan membantu usaha penurunan berat

94

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

otak. Kandungan lendirnya yang sangat tinggi efektif mengobati sakit tenggorokan. Konon, buah Tin juga efektif mengobati jerawat dengan melumat dan mengoleskannya ke wajah, lalu membiarkannya selama 10-15 menit. *** Itulah beberapa khasiat dan manfaat buah Tin bagi kesehatan. Buah ini dapat dikonsumsi setiap orang, termasuk anak-anak dan merupakan makanan yang terbaik untuk semua umur, karena Buah Tin mengandung serat yang tinggi dan manis rasanya. Jadi sangat tepat jika kita mengkonsumsi buah ini, sebagai makanan alternatif untuk meningkatkan kesehatan kita sehari-hari. Muntahal Hadi/BS

TIPS PESANTREN

Tips Usir Stres Oleh: Muh Kurdi Arifin*

K

ETIKA merasa emosi tidak stabil, artinya Anda sedang stres. Kejenuhan dan stres bisa mencengkram benak setiap orang, tak terkecuali Anda. Stres yang berkepanjangan dan terusmenerus akan menekan daya tahan tubuh dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Agar tidak berlarut-larut, mari lengkapi diri dengan beberapa senjata pemadamnya berikut ini. Salat Salat yang dikerjakan dengan khusuk dapat membantu menenangkan jiwa dan menghilangkan kecemasan dalam diri. Keadaan ini disebabkan beberapa hal, di antaranya karena salat terdapat perubahan gerak

yang berproses. Perubahan gerak ini dapat membebaskan tubuh secara alami dari berbagai tekanan dan depresi. Rasulullah ď Ľ telah memerintahkan seluruh umat manusia untuk melakukan gerakan (salat) ketika kemarahan sedang melanda. Penelitian dan riset ilmiah menunjukkan bahwa salat mempunyai pengaruh lansung pada urat-urat saraf. Salat dapat menenangkan gejolak dan menjaga keseimbangan dalam diri seseorang. Sujud juga bermanfaat untuk menghilangkan kecemasan dalam diri seseorang. Dengan sujud, seorang Muslim akan merasakan ketenangan yang melimpah dan menyeruak masuk dalam dirinya. Ia juga akan merasakan cahaya keyakinan disertai akidah tauhid memenuhi hatinya. Banyak orang BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

95

gerakan otot-otot mulut saat mengucapkan bacaan al-Qur’an juga mampu menurunkan kepenatan dan menyuplai energi untuk keaktifan akal

Jepang melakukan sujud ketika merasa penat dan lelah. Mereka sendiri tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah satu rukun salat yang selalu dikerjakan umat Islam. Baca al-Qur’an Membaca al-Qur’an yang diucapkan sesuai tajwid, dapat melancarkan pernafasan. Hal ini terjadi saat proses mengambil dan mengeluarkan nafas secara bergantian. Perputaran ini dapat menurunkan kecemasan dalam porsi besar. Selain itu, gerakan otot-otot mulut saat mengucapkan bacaan al-Qur’an juga mampu menurunkan kepenatan dan menyuplai energi untuk keaktifan akal. Hal ini seperti yang sudah dijelaskan dalam beberapa riset dan penelitian kedokteran modern. Latihan pernafasan Ambil posisi yang tenang, pejamkan mata sambil tarik nafas dalam-dalam dan p-e-rl-a-h-an, lalu hembuskan nafas yang sangat panjang. Setiap kali mengembuskan nafas, bayangkan bahwa Anda mendorong keluar perasaan-perasaan marah, tidak sabar, kesal, benci, dan tegang. Saat menarik nafas, tarik perasaan-perasaan nyaman, damai, kehangatan, ketenangan, dan cinta dalam tubuh kita. Cara sederhana ini selalu berhasil. Lakukan di mana saja saat Anda membutuhkan nafas penghilang stres darurat, jangan lupa satu lagi, terus lakukan ini berulang-ulang sampai diri Anda benar-benar merasa tenang.

96

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Tersenyum Dengan Tersenyum, perasaan kita jadi lebih lega. Otot-otot wajah akan tertarik dan menahan pusat emosi. Pikiran akan lebih tenang. Tidak perlu alasan khusus. Sekadar menggerakkan wajah Anda ke posisi tersenyum sudah mampu mengirim pesanpesan positif kepada sel-sel Anda. Cobalah sekarang lihat bangaimana perasaan Anda. Melihat sisi hidup lebih terang. Kata para riset, senyum membantu tubuh mengatasi berbagai dampak negatif stres secara lebih efisien dan menjauhkan diri dari suasana hati berubah-ubah dan kondisi yang melemah. Bantu Orang Lain Apakah ada keuntungan membantu orang lain sementara tugas Anda sendiri sedang menumpuk? Tentu saja! Melakukan kebaikan tak pernah ada ruginya, termasuk saat membantu rekan Anda. Lagipula dengan membantu orang lain, maka otomatis Anda menarik diri keluar dari bidang yang selama ini mengisi pikiran dan mendapat kesempatan emas mencicipi suasana berbeda di bidang lain. Curhat Menuangkan segala uneguneg kepada orang yang kita percayai, selain dapat mengurangi beban masalah karena masalah akan lebih plong, siapa tahu dapat solusinya dan dapat mempeerat tali silaturrahmi karena dengan curhat berarti telah menberi kepercayaan dan mau berbagi rasa dengan orang lain.

Menulis Jika keberatan curhat kepada orang lain atau tidak menemukan orang yang dipercaya, tuangkan saja semua uneg-uneg itu ke atas kertas sepuas-puasnya. Ia akan menampung semua problematika dan lebih menjaga rahasia karena buku adalah teman kita paling baik dan selalu setia menemani Anda kapanpun Anda mau. Hal itu selain membuat persaan lebih plong, siapa tahu coretan itu menuai kekreatifan dan menjadi modal suatu karya, karena dengan berkarya hidup bisa menjadi lebih indah. Bercanda dengan Rekan Tak dapat dipungkiri gelaktawa merupakan penangkal stres yang cukup manjur. Oleh sebab itu, jangan hanya berfokus pada kerjaan saja, bergaul dan bercanda dengan rekan juga perlu, untuk menjaga stamina pikiran tetap produktif. Berhenti dan Amati Betapapun sibuknya hari Anda, sampai-sampai 24 jam terasa kurang dalam sehari semalam, sesekali coba untuk tidak melakukan apa-apa karena hal itu bisa sangat bermanfaat. Bahkan beberapa menit membiarkan pikiran menerawang dapat menenangkan dan mengistirahatkan pikiran. Menataplah ke jauhan, ke luar jendela atau alam terbuka. Tutup mata dan banyangkan diri Anda berada di sebuah tempat yang Anda inginkan. Selama itu juga akan menbawa Anda jauh dari tugas Anda dalam beberapa detik

Tutup mata dan banyangkan diri Anda berada di sebuah tempat yang Anda inginkan. Selama itu juga akan menbawa Anda jauh dari tugas Anda dalam beberapa detik atau bahkan beberapa menit. Amotrapi Saat emosi tidak jelas, segeralah menghirup sesuatu yang harum agar bisa merilekskan otot. Pilihan aroma terapi seperti lavender, jahe, jassmin, juniper, clary sage, cendana, dan peppermint akan membuat perasaan lebih tenang, mengurangi rasa takut dan trauma. Berendam Berendam di dalam air hangat setiap hari, terutama jika dilakukan sebelum tidur, dapat mendorong relaksasi dan mengurangi perasaan gatal. Tambahkan dua atau tiga tetes minyak lavender dan jupiter dan berendam selama 10 menit. Jangan gunakan sabun, busa mandi, sampo, atau benda lain yang mengiritasi kulit. Keringkan kulit dengan lembut. Para ahli juga mengatakan, berendam di air hangat adalah cara terbaik meredakan stres dan membuka pori-pori tubuh yang tersumbat. Pijat Pijat seluruh bagian perut dengan minyak zaitun kualitas terbaik. Pijat dari kanan ke kiri dan kembali lagi ke kanan, dengan pijatan melingkar dan mantap. Jika dilakukan secara teratur, cara ini menbantu melepaskan gas yang BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

97

Ada baiknya Anda belajar untuk berkata ‘tidak’ untuk pekerjaanpekerjaan tertentu agar Anda tidak depresi karena diperlakukan seperti mesin pekerja.

terperangkap dan melemaskan otot-otot yang kejang. Pemijatan akan membuat peredaran darah menjadi lancar, sehingga otak bisa lebih jernih dan segar. Olahraga Biasanya stres bersembunyi di dalam jaringan otot peregangan dan pengenduran otot dengan berolahraga dapat mengusir depresi yang menekan diri sehingga membebaskan diri dari stres. Ahli riset mengatakan bahwa olahraga adalah kebutuhan mutlak semua manusia sekaligus pengusir stres terbaik yang pernah ditemukan. Karena “bergerak itu suatu keberkahan”. Biasanya stres bersembunyi di dalam jaringan otot peregangan dan pengenduran otot dapat membebaskan diri dari stres. Olahraga dapat meningkatkan produksi zat-zat kimia yang meningkatkan suasana hati dan ketahanan kita terhadap stres, juga rasa depresi saat tertekan. Jangan Paksakan Diri Anda berkata ‘ya’ untuk tugas A. Belum selesai dengan A, datang tugas B, dan sekali lagi Anda hanya mengangguk. Lalu, datang lagi tugas C. Belum kerja pun, Anda bisa jadi depresi hanya karena

melihat tumpukan file yang ada. Ada baiknya Anda belajar untuk berkata ‘tidak’ untuk pekerjaanpekerjaan tertentu agar Anda tidak depresi karena diperlakukan seperti mesin pekerja. Bila target yang dibebankan atasan terlalu berat, jangan sungkan untuk bicara. Ingat, bicara blak-blakan pada atasan bisa mengurangi stres! Berdoa Dengan berdoa, hati dan jiwa bisa lebih tenang dalam menghadapi persoalan. Karena timbulnya dalam diri manusia perasaan kecil di hadapan Allah . Dengan perasan itu, permasalahan yang ia hadapipun akan terasa kecil di hadapan kekuasaan dan keagungan Sang Maha Pecipta dan Pengatur Alam yang luas ini, karena semua persoalan ada jalan keluarnya dan Tuhanlah yang menentukan jalan tersebut. Dengan berdoa, seorang Muslim bisa menanggalkan segala beban derita dan problem kehidupan yang ia hadapi untuk diserahkan kepada Tuhan yang Pengasih dan Penyayang. *) Sekred Maktabati, Media Informasi Perpustakaan Sidogiri, Berdomisili di L-3, asal Malang

Orang yang gemar mencela orang lain di belakang, biasanya dialah yang paling banyak celanya.» ~Abdullah as-Saburi

98

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

SAKINAH

Hiasilah Jiwamu dengan Sifat Malu (Bagian II) Oleh: Muhairil Yusuf*

P

ADA edisi sebelumnya, penulis telah paparkan sedikit mengenai esensi sifat malu, klasifikasi sifat malu dan malu merupakan etika yang baik. Maka pada edisi ini penulis akan mencoba untuk menyuguhkan dan menampilkan keutamaankeutamaan yang terkait dengan sifat malu. Di samping itu, penulis juga menawarkan hidangan hangat perihal dari mana sebenarnya rasa malu itu bersumber? Sehingga dengan demikian, kita akan tahu dan yakin bahwa sifat malu menyimpan sejuta keindahan yang perlu dilestarikan dan dijaga. Dari Mana Rasa Malu itu Muncul? Ibnu al-Qayyim berpendapat bahwa malu merupakan satu sifat khusus yang berasal dari gabungan

antara sikap pengagungan dan cinta kepada Allah ď ‰. Jika keduanya berpadu, maka akan tumbuhlah sifat malu. Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa sifat malu bermula dari interaksi hati dengan segala sesuatu yang memang pantas untuk disikapi malu, desertai dengan keengganan dirinya untuk melakukan hal tersebut. Maka, dari interaksi dan keengganan inilah akan muncul suatu sifat yaitu malu. Menurut Ibnu al-Qayim pendapat-pendapat di atas tidak ada yang keliru dan kontradiktif antara satu dengan lainnya, disebabkan karena memang rasa malu itu bisa muncul dengan berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Di antaranya adalah sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Terkadang, rasa malu bisa

Ibnu alQayyim berpendapat bahwa malu merupakan satu sifat khusus yang berasal dari gabungan antara sikap pengagungan dan cinta kepada Allah ď ‰.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

99

Malu adalah kunci segala kebaikan. Dipandang dari segala sisi, sifat malu merupakan satu kebaikan. Bahkan, ia menjadi petunjuk untuk berbuat kebaikan. muncul pada seorang hamba, karena dia menyadari bahwa Allah yang Maha Benar selalu mengawasi gerak-gerik dirinya. Sehinggga kesadaran tersebut mendorong dia untuk bersikap berani menanggung beban, memandang buruk setiap kejahatan, dan tanpa mengeluh. Di saat yang lain, rasa malu bisa timbul dari kesaksian seseorang terhadap nikmat dan kebaikan yang diterimanya. Seorang yang mulia tidak mungkin membalas kebaikan orang lain dengan kejahatan. Hanya orang hina dan rendah saja yang tega melakukan hal itu, sehingga bentuk kebaikan dan kenikmatan yang diterima oleh dia mampu mencegahnya dari perbuatan dosa. Hal itu disebabkan karena dia merasa malu jika kebaikan dan kenikmatan yang telah diterimanya dibalas dengan balasan yang tidak setimpal. Sungguh suatu balasan yang buruk jika hal itu sampai terjadi. Keutamaan Sifat Malu Pertama, malu adalah kunci segala kebaikan. Dipandang dari segala sisi, sifat malu merupakan satu kebaikan. Bahkan, ia menjadi petunjuk untuk berbuat kebaikan. Perilaku malu diawali keengganan seseorang untuk berbuat buruk, karena takut dicap sebagai orang yang buruk, akhirnya

100

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

dia benar-benar meninggalkan keburukan tersebut. Di lain sisi hal ini merupakan suatu kebaikan tersendiri. Abu Nujaid ‘Imran bin Hushain al-Khuza’i meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda, “Sifat malu itu tidak akan datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim) Kedua, malu sebagai fitrah manusia. Malu merupakan sebagian dari ciri-ciri khusus dan watak dalam diri manusia. Meskipun dalam bentuk pelaksanaannya yang sesuai dengan ajaran agama sangat memerlukan pengorbanan, ilmu, dan niat yang kuat. Rasa malu ini bisa mencegah manusia dari segala perbuatan yang diinginkannya, sehingga dapat membedakan dirinya dengan hewan. Ketiga, malu adalah bagian dari Iman. Sayidina Umar  meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda, “Malu dan iman adalah dua sisi yang selalu bersama. Jika salah satunya hilang dari keduanya, maka yang lain juga ikut hilang.” (HR al-Hakim) Abu Hurairah  meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda, “Iman itu memiliki beberapa bilangan dan tujuh puluh cabang atau beberapa bilangan dan enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah kalimat tahlil (la ilaha illallah). Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Nabi Sulaiman , bahwa beliau  pernah berkata, “Malu itu merupakan penyangga iman. Jika

penyangganya rusak, maka semua yang ada di dalamnya akan hilang.” Abu Hurairah  meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda, “Malu adalah sebagian dari iman, dan iman itu berada di surga. Ketidaksopanan itu sebagian dari kelalaian, dan kelalaian itu berada di neraka.” (HR Ahmad dan atTirmidzi) Abu Hatim berpendapat, “Jika ada seseorang yang selalu memiliki sifat malu, maka dampak-dampak baik di baliknya akan terwujud. Seperti halnya jika ada seseorang yang berperangai buruk dan senantiasa melakukan keburukan, maka kebaikan pun tak bisa diharapkan darinya. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu berbagai akibat buruk akan datang. Karena bagaimana pun, malu merupakan dinding penghalang antara seseorang dan segala hal yang dilarang. Dengan kekuatan malu itulah kemampuan manusia untuk meninggalkan larangan semakin bertambah. Sebaliknya, dengan sedikitnya rasa malu, dia akan semakin berani melanggar larangan.” Keempat, malu adalah perhiasan terindah. Wajah yang dihiasi dengan rasa malu bagaikan permata yang disimpan dalam sebuah bejana bening. Tidak ada seorang pun yang memakai perhiasan lebih indah dan memukau daripada perhiasan rasa malu. Anas meriwayatkan sabda Rasulullah  yang berbunyi, “Tidak ada sifat keji yang melekat pada sesuatu kecuali akan memperburuknya. Tak ada rasa malu yang melekat pada sesuatu kecuali ia kan menghiasinya.”

Sabda Nabi  “Memperburuknya”, berarti menimbulkan aib di dalamnya. Keburukan adalah aib. AthThayyibi berpendapat bahwa di dalam Hadis tersebut ada kalimat yang mengandung arti hiperbola. Artinya, jika kekejian atau rasa malu saja yang melekat pada sesuatu bisa memperburuk atau menghiasinya, lalu bagaimana ia melekat pada diri manusia? Maksud dari Rasulullah  menyebutkan dua hal ini adalah untuk menunjukkan bahwa perangai yang buruk adalah kunci dari segala keburukan bahkan ia buruk secara keseluruhan. Begitu juga perangai yang baik adalah kunci dari kebaikan, bahkan ia baik secara keseluruhan. Kelima, malu merupakan bagian dari akhlak Islam. Karena memiliki pengaruh yang begitu besar serta derajat yang mulia, maka malu merupakan akhlak yang paling utama bagi agama yang suci ini. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak tersendiri. Akhlak agama Islam adalah malu.” Maksudnya bahwa mayoritas pemeluk agama terdahulu memiliki perilaku, kecuali malu. Adapun perilaku yang mendominasi pemeluk agama kita adalah malu. Karena malu merupakan penyempurna bagi kemuliaan akhlak. Sesungguhnya Rasulullah  diutus untuk menyempurnakan akhlak. Jika Islam merupakan agama yang paling mulia, maka Allah memberikan perilaku yang paling mulia pula, yaitu malu. *Santri Sidogiri asal Bangkalan BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

101

KASYKUL

Manisnya Buah Kesabaran

Dialog dalam Mimpi

SEORANG guru ternama pernah bertemu dengan Sufyan ats-Tsauri di alam bawah sadar (mimpi). Dalam pertemuan itu terjadi dialog antara keduanya. “Bagaimana kamu menghadapi kematian?” tanya sang guru. “Kalau kematian jangan ditanya akan rasa sakit dan kepedihannya,” jawab Sufyan ats-Tsauri. “Lalu apa yang paling bermanfaat bagi kamu?” tanyanya lagi. “Segala amal saleh pasti bermanfaat (ada balasannya). Namun yang paling berperan ketika aku dihisab adalah amalku yang berupa kesabaranku ketika aku tertimpa musibah yang berupa wafatnya putraku,” jawab Sufyan ats-Tsauri. “Maha Suci dan Maha Agung Allah,” sang guru menimpali. Tafsîr Mâ Ashâbaka

102

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

ABIL Hasan as-Siraj pergi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika tawaf beliau melihat kilau kecantikan dari wajah seorang perempuan. Beliau berkata, “Demi Allah, seumur hidup aku tidak pernah melihat kecantikan wajah seperti yang dimiliki perempuan ini, hanya saja dari raut mukanya terbesit bekas kesusahan dan kecemasan.” Ternyata si perempuan mendengar apa yang dikatakan Abil Hasan as-Siraj. Dan dia berkata, “Apa yang kau katakan wahai pemuda? Demi Allah, sekarang ini dagingku disayat oleh kesusahan, hatiku dicubit oleh keresahan, dan kecemasan itu tidak bisa diobati oleh apapun.” “Kok bisa?” kata Abil Hasan as-Siraj. Si perempuan mulai bercerita perihal kesedihannya. “Ketika waktu dhuha suamiku menyembelih kambing, sedangkan kedua anakku yang masih kecil bermain, dan aku pada waktu itu sedang menggendong adik mereka. Kejadian memilukan itu dimulai ketika aku pergi untuk memasak makanan. Ternyata si kakak berkata pada adiknya ‘Tahukah kamu apa yang dilakukan ayah pada kambing kita?’ ‘Ya.’ kata adik. Lalu kakakberadik itu mempraktikkan sebagaimana apa yang dilakukan ayah mereka. Mengetahui adik terkapar bermandikan darah, si kakak ketakutan dan lari ke gunung, diapun harus mati karena dimangsa oleh macan. Sedangkan sang ayah mencari

kemana-mana hingga dia kehausan dan akhirnya mati juga. Kemudian aku menurunkan anak bayiku dari gendongan guna mencari perkembangan apa yang telah dicapai oleh suamiku di luar rumah. Tanpa disangka si bayi merangkak menuju api yang ada di atas periuk dan dia menuangkan api tersebut pada tubuhnya, si bayipun mati. Tidak sampai di situ. Putriku yang telah menikah yang hidup bersama suaminya mendengar berita ini, dia shock berat dan pada akhirnya dia bunuh diri. Sejak saat itu aku

tidak punya siapa-siapa lagi.” “Bagaimana kamu sabar melewati musibah bertubi-tubi ini?” “Sulit sekali menemukan seseorang yang bisa membedakan sabar dan tidak sabar melainkan mereka hanya menemui antara keduanya pada tempat atau cara yang berbeda. Kesabaran dengan melakukan kebagusan adalah hal terpuji di akhirat kelak. Sedangkan orang yang tidak sabar tidak akan memperoleh balasan apa-apa.” Tafsîr Mâ Ashâbaka Abdurrahman Wahid/BS

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

103

SYAIR Acep Syahril, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 25 November 1963; umur 47 tahun. Adalah sastrawan Indonesia, menjajakan sajak sejak 1982 sampai sekarang di berbagai tempat di Indonesia termasuk di sekolahsekolah, perguruan tinggi, di bis-bis, lokalisasi, terminal, bandara, dan lain-lain. Tinggal di blok Senerang Desa Sudikampiran, Indramayu, Jawa Barat. Selain menulis, juga mengasuh Rubrik pendidikan, sastra dan budaya di harian Sinar Pagi serta aktif memberikan pelajaran ekstrakurikuler sastra di SMP dan SMA Indramayu, sering diundang sebagai penyair diberbagai acara Pertemuan Sastra di Indonesia. Karya puisinya yang diterbitkan adalah, Ketika Indonesia Berlari (Bohemian Jambi, 1995) dan Negri Yatim (iph, 2009). Dia juga memiliki belasan kumpulan puisi bersama.

tambah satu

:dimas arika mihardja syukurlah kawan usiamu tambah satu sehingga kita masih bisa bercengkrama di kontrakan ini bercerita tentang banyak hal dengan bahasa yang kita punya gotong royong membersihkan pekarangan dari kejahatan hewan pengerat atau polusi negara yang lebih ganas dari fasciola hepatica karena kita tau tikus adalah hewan paling rajin cari makan sekaligus perusak yang merugikan banyak orang seperti koruptor maling dengan wajah bercahaya berwibawa dan seolah-olah sangat bijaksana mengancam ratusan juta nyawa sedangkan cacing hati hanya sejenis parasit kecil tanpa dubur yang hidup meminta di hati hewan dan manusia sejak sebelum hawa dicinta syukurlah kawan rambutmu tambah satu warna tumbuh bebas dan berubah secara alamiah berproses dari akar yang tertanam di folikel tanpa harus mengikuti mode hingga terasa lebih enjoy berpenampilan di rumah sederhana yang dipercaya pemiliknya dari tahun ke tahun karena hidup berlebihan sangat tidak bagus apalagi banyak biaya yang harus dikeluarkan demi merawat dan menerus-lunaskan kontrakan ini syukurlah kawan matamu tambah satu lagi ketika dunia kian singkat‘tuk di gapai ketika jarak pandang tak lagi menjadi fokus pembicaraan dan ketika matahatimu kian peka terhadap belaian tangan-tangan tuhan karena dunia tak lebih dari elektrokardiogram yang mencatat kerja jantungmu dengan komunikasi yang tak perlu mengeluarkan busa sementara kau makin yakin akan segala kebaikan yang kau semai di sungsum anak-anakmu syukurlah kawan encokmu tambah satu kerutmu tambah satu dan terima kasih kawan puisiku juga tambah satu indramayu

104

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Marhaban Ya Ramadan Ma, aku pulang dengan membawa surat kabar Dalam bar dan bir Yang membuatku Melampaui pagar di sekolah Hingga aku mati dalam membaca satu angka Tak kuat aku di dalamnya Ma, setelah kubuka jendela rumah sendiri Mentari kembali Dan burung pagi kembali menyusun artiarti Dalam sajak yang kian lapuk Pada buku yang tertumpuk di gudang sana Dengan lagu indah ia bernyanyi Dan terus bernyanyi menyambut bulan Berkah dalam pintu rahmat dan pertaubatan terbuka Ya bulan Ramadan, apa kabarmu Dalam buku lembaran dalam tubuh birumu Yang kian mempersunting mata Menghapus buta... Piaaaah! Ramadan, ya Ramadan Apa kabarmu sayang Kujamah kau Dengan penuh getaran Takut keluar lagi dari ring pertandingan Ahhhh...! 03-08-32/03-06-11 Laesa3lang, PPS B-04 Alumnus Annuqayah “Andalas Community�

Jalan kekosongan awan saat keindahan bersemayam hingga batu-batu angkasa jadi terjal daun-daun tak kipaskan pelangi sinari jalan penghuni-penghuni salju turun kerikil-kerikil hitam pasir-pasir putih kicauan camar berbisik dan aku tak bisa terbang aku malu karena mimpi hingga buntu... jalan jalan bukan jalan-jalan namun tetap berjalan...!!! Rif’al Mahalli Ibnu Syarif BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

105

angin timur akulah angin timur, duhai, malam membawa dingin sedalam detak: lahirlah bulan purnama dan sampan-sampan yang sampai pada ujung matamu menampak rambat di lembah menuruni ketajaman gunung-gunung dan darah yang mengendap di ujung lalang dan pepadian sebab Ole olang tak gentar meski suara satwa mendekat perkampungan ---akulah angin timur, duhai, angsoka menitip beku pada gerimis rindu, yang berkali kau sebut rekayasa akan menjelma senja, seketika.. Noval Jubbek Malang.2011

Aku Katakan Padamu Aku katakan padamu Bukan waktunya untuk kau sirami Kelopak matamu, dik Sebab hanya akan menderaskan darah Yang mewarnai lukamu Lihatlah, benang surya masih mungkin didaki Aku katakan padamu Bukan waktunya kau serakkan Pita suaramu, dik Karena telinga tahajud Masih patuh pada titah dalam rintihan Terlembutmu Sidogiri, 29 Dzul Qa’dah 1431 H Muhaimin

106

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Memuisi#1 aku bertanya pada panas salju tentang kobaran yang meleleh di matamu aku bertanya pada diam suara tentang sepi yang ramai di hatimu aku bertanya.! aku melihat pada buta yang memandang tentang warna udara aku melihat pada pejam yang melotot tentang bentuk tiada aku melihat adakah kau mengerti puisi? saat rima ramai adalah kesepian dan kesendirian adalah kebersamaan atau warna transparan adalah sesolid gradasi aku tak mengerti puisi.! tiba-tiba ia tiba mengajakku meninggalakan diriku akupun ikut dalam akut akupun tertinggal dalam tunggal dan kau masih saja memuisi.! Sidogiri 21 Syaban 1432 Alvatihah

PENGAJIAN

Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf

A

Pendidikan Orangtua dan Guru Harus Klop

NAK memang merupakan nikmat dan anugerah yang sangat besar dari Allah. Sekaligus merupakan amanat bagi kita semuanya. Jika kita didik anak itu dangan baik sehingga menjadi anak yang saleh, maka kita berarti menjaga amanat itu. Tetapi kita lalai ( jika, red) tidak mendidik anak kita, bahkan membiarkan anak kita bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman dalam al-Qur’an: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasullulah (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu. Karena itu, nanti orang tua yang tidak mendidik anaknya, bertanggung jawab langsung di hadapan Allah di hari kiamat. Jika anak tadi menjadi anak yang saleh itu adalah nikmat yang sangat besar di dunia sampai akhirat. Sehingga dikatakankan dalam satu syiir: Nikmat Allah yang Allah berikan kepada hambanya banyak sekali, termasuk nikmat yang agung adalah anak yang saleh, anak yang baik, anak yang berbakti.

Anak yang saleh di dunia hormat pada orang tuanya, berbakti kepada ayah dan ibunya dalam kehidupan mereka. Jika orang tua meninggal dunia, anak yang saleh akan selalu mendoakan orang tuanya yang meninggal dunia, berziarah kepada mereka. Dan nanti di akhirat anak yang saleh akan menjadi saksi kebaikan orang tua, dia akan menyaksikan di hadapan Allah. “Bapakku yang membiayai aku mencari ilmu ya Allah, bapakku yang membelikan kitab, yang mencarikan aku rezeki halal. Ibuku yang merawat aku, ibuku yang selalu menasihati dan membina aku.” Sebaliknya, jika menjadi anak yang tidak saleh, maka itu menjadi malapetaka di dunia dan akhirat. Anak yang tidak saleh, di dunia durhaka kepada ayah dan ibu, bahkan anak yang tidak saleh menyiksa ayah dan ibunya. Berapa banyak ayah dan ibu menangis di zaman sekarang ini karena anak mereka menempeleng mereka, menghajar mereka. Bahkan terjadi anak membunuh ayah dan ibu. Na’udzu bil-Lâh. Mudah-mudahan anak kita selamat semua. Dan nanti setelah meninggal dunia,

Nikmat Allah yang Allah berikan kepada hambanya banyak sekali, termasuk nikmat yang agung adalah anak yang saleh, anak yang baik, anak yang berbakti.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

107

Pondok pesantren adalah sarana untuk membantu bapak dan ibu menciptakan anak yang saleh.

108

anak yang tidak saleh, kakak-adik, akan bertengkar berebut harta warisan, melupakan nasib orang tua dalam kuburnya. Nanti di akhirat anak yang tidak saleh akan melaknat orang tua mereka sendiri, menuntut di hadapan Allah atas kegagalan orang tua yang tidak mendidik mereka. Nabi ď Ľ berbabda: Pertama yang akan menuntut kepada manusia di hari kiamat adalah keluarga dan anak-anak mereka, mereka akan berkata, “Ya Allah bapak dan ibuku tidak memberikan hakku, tidak melaksanakan kewajiban terhadap anak, dan aku tidak pernah dididik oleh mereka, aku tidak dikenalkan mana yang wajib untuk aku lakukan, mana yang haram untuk aku hindari, mana yang harus aku kerjakan, mana yang harus aku hindarkan. Bahkan orang tuaku membiarkan aku dalam keadaan lalai, lupa, maksiat, dosa. Ayah dan ibuku memberikan makanan haram padahal aku lahir tidak mengenal dengan yang haram. Betapa banyak orang tua yang saleh ternyata disiksa di neraka hanya karena anaknya yang dilalaikan, tidak dididik dengan tarbiyah hasanah. Untuk memiliki anak yang saleh tidaklah cukup berharap, tidaklah cukup dengan doa, walaupun doa sangat diperlukan, tapi itu butuh satu usaha yang sangat maksimal dan optimal. Nabi ď Ľ bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, bersih, suci, iman kepada Allah, maka bapak-ibunya yang mengubah-ubah. Mereka ubah kehidupannya dengan cara

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

Yahudi, anaknya akhirnya menjadi Yahudi. Mereka mendidik dengan cara Nasrani, anaknya menjadi Nasrani. Mereka didik dengan cara Majusi, anaknyapun menjadi Majusi. Asal dibiarkan secara fitrahnya, maka anak itu tetap menjadi orang yang beriman dan saleh. Ulah orang tua inilah yang membuat anak tadi itu berubah gaya, berubah kehidupan, bahkan berubah keimanan. Ibarat kertas yang putih di hadapan pelukis, isi kertas bergantung dengan goresan pensil pelukis. Jika yang dilukis kembang mawar akan tampak gambar kembang mawar. Jika yang dilukis kera, maka akan tampak juga lukisan kera. Begitulah anak kita, jika bapak dan ibu menetrapkan salat berjamaah, membaca alQur’an bersama, dididik untuk mengikuti akhlak Rasulullah, maka akan menjadi anak yang saleh. Tapi jika anak itu dibiarkan bernyanyi tanpa mengaji, berjoget tidak bersalat, berlumuran dosa tidak taat kepada Yang Maha Kuasa, maka orang tua janganlah bermimpi mempunyai anak yang saleh. Karena itu, usaha harus maksimal dari bapak dan ibu. Pondok pesantren adalah sarana untuk membantu bapak dan ibu menciptakan anak yang saleh. Cuma bapak dan ibu kerjasama harus klop dengan ustad atau kiai yang ngajar di sini. Tahunan anak Anda di sini, diajarkan salat berjemaah. Jangan nanti kalau liburan, pulang ada di rumah, berganti nonton TV berjemaah. Terapkan salat berjemaah di rumah bersama anak Anda yang sudah mondok yang diajarkan salat

berjemaah di sini. Selama setahun anak Anda membaca al-Qur’an, tafsir al-Qur’an, dan juga Hadis Rasulillah. Jangan ada di rumah anaknya main kartu dibiarkan, anaknya main biliar dibiarkan. Jangan mengaji berubah menjadi menyanyi ada di rumah. Anda ternyata mengubah, merusak tarbiah, pendidikan pondok ini. Seharusnya Anda tanya, “Nak kalau pagi jam sekian biasanya di pondok apa?” “Baca Hadis Ibu.” “Ibu bacakan Hadis, Nak! Ini ibu juga kepingin tahu isi Hadis.” “Jam segini apa?” “Baca Qur’an.” (Maka) baca al-Qur’an bersama, sehingga rumah menjadi pesantren bagi anak Anda. Ayah dan ibu ibarat dua roda dari pada sepeda motor, anak ibarat penumpangnya. Dua roda ini harus kerjasama. Kalau yang dibelakang 60 km/jam, dituntut yang di muka 60 km/jam. Kalau sama, klop, maka penumpang akan selamat insya Allah sampai tujuan dengan baik. Begitu juga anak Anda yang belajar di sini. Semangat guru dan orang tua harus sama, tujuan guru dan orang tua harus sama. Insya Allah santri yang belajar di sini sesuai dengan harapan bapak-ibu, mempunyai anak yang saleh dan guru yang di sini memiliki santri yang saleh. Tapi kalau sepeda motor yang dibelakang rodanya 60 km/jam, yang di muka cuma 40 km/jam. Ya… jungkel, tibho. Nggak mungkin akan selamat jadinya. Begitulah juga pendidikan yang ada di pondok dengan yang ada di rumah jika tidak diklopkan, tidak ada kerja sama, tidak mungkin akan bisa berhasil.

Jangan-jangan santri ada di pondok, (berubah jadi) koboi ada di rumah. Jangan-jangan taat ada di pondok, maksiat ada di rumah. Akhirnya Anda telah menciptakan anak yang munafik. Karena itu keberhasilan ada di pondok itu adalah kuncinya dukungan dari pada bapak dan ibu. Tugas Anda juga tidak kalah pentingnya bagi anak-anak Anda untuk menjadi contoh baik. Jangan ditampakkan perbuatan negatif bapak dan ibu dihadapan anak-anak, karena sebentar lagi anak kamu akan lebih parah jika mencontoh perbuatannya. Segala sesuatu itu awal mulanya dari ngeliat, mengajak melihat untuk berbuat dan akhirnya terjadi perbuatan itu menjadi kebiasaan dan bisa-bisa menjadi kecanduan. Jika melihat orang tuanya melakukan perbuatan negatif, bentar lagi anaknya lebih parah. Contoh yang paling nyata yang realita. Kenapa anak-anak sekarang belum baligh kok mereka itu sudah kecanduan rokok. Karena bapaknya ngerokok di muka anaknya. Coba kalau bapaknya ahli baca Qur’an, saya yakin insya Allah anaknya menjadi ahli pembaca alQur’an. Karena itu jadilah contoh yang baik di hadapan anak Anda, insya Allah anak Anda meneruskan perjuanang Anda, insya Allah anak Anda akan meneruskan istiqamah Anda. *) Ditranskip dari ceramah agama pada acara Puncak Peringatan Hari Jadi ke-274 Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) dan Haflah Ikhtibar ke-75Madrasah Miftahul Ulum (MMU), 18 Syaban 1432 H. Abdurrahman Wahid/BS

Segala sesuatu itu awal mulanya dari ngeliat, mengajak melihat untuk berbuat dan akhirnya terjadi perbuatan itu menjadi kebiasaan dan bisabisa menjadi kecanduan.

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

109

ISTIJABAH

Doa Nabi Yunus  “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang zhalim.”

Penjelasan: Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Yunus  sewaktu berada di dalam perut ikan. Doa yang termaktub dalam QS. al-Anbiyâ’ ayat 87-88 ini juga dikenal dengan Ismul-Lah al-A’zham. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, anNasa’i, Ibnu Jarir dan beberapa perawi Hadis yang lain dari Sa’ad bin Abi Waqqash  disebutkan bahwa orang Islam yang berdoa dengannya untuk suatu urusan pasti dikabulkan oleh Allah . Rasulullah  juga bersabda, "Siapa pun orang Islam yang membaca doa itu saat sedang sakit sebanyak 40 kali lalu dia

mati, maka dia diberi pahalanya orang yang mati syahid. Apabila dia sembuh maka dosa-dosanya terampuni." (HR. Al-Hakim) Doa ini banyak terbukti istijabah-nya apabila rutin dibaca sebanyak 41 kali – tanpa pemisah – setelah salat Subuh selama 40 hari berturut-turut. Alhasil, ketika sedang punya urusan penting atau ditimpa masalah dianjurkan memperbanyak doa ini. Sumber: Abwâbul-Faraj, Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki alHasani /BS

Rasa cinta membuat seseorang suka melarangmu. Rasa benci membuat seseorang suka merayumu ~ Kalam Hikmah Arab

110

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

PASURUAN: BMT-MMU Pusat Abd. Hamid Sanusi, Jl. Raya Sidogiri no. 09 Sidogiri Kraton 419273. Pimpinan LAZISWA Pasuruan Pondok Pesantren Sidogiri. 417444. M. Luqman, PP. Yatim Beji/Tidu Pohjentrek 03437783502. M. Nasrullah Suham, Watestani 085236385709 Burhanudin PP Nguling Sabilunnajah Lebaksari Selatan Wonorejo 03438477772/081937166661 SIDOARJO: Syamsul Hidayat, PP. Al-Hidayah Ketegan Tanggulangin 03172133963. SURABAYA: A. Zaini Alwi, Jl. Banowati no. 35 03170768090/08175096090 MALANG: Abd. Halim, Banyulegi Gg. I RT 33 RW 04 Ketawang Gondanglegi 03415458637/081233479965. Zubairi, Maron Sebaluh Pandesari Pujon 03417679146 B L I TA R : H. A b d u l l a h M u k t i PP AsySyukur Satriyan Sembon Kanigoro 085736627949/0342441569 BANGKALAN: Imron Husnan, BMT-UGT Cab. Bangkalan Jl. HOS Cokroaminoto no. 17-A 70825434/3096930. Nur Hasyim S. Anam, Sumur Nangka Modung 081803237654. Moh. Subhan, Paterongan Galis 081703125275. Iklil Adzim, 087856126279/081553982007. PP. Kramat H. Hafadhoh, Timur Pasar Tanah Merah 081931054759 A. Syaikhu Lomair Blega 081803180140 PAMEKASAN: Al-Farisi Musleh, Panempan 0818377466. SUMENEP: KH. Fakhri Suyuthi, PP. AlBustan Guluk-guluk 081331543888. M. Utsman AM, Manding Timur, Manding 081803111817. Abdurohman, BMT-UGT. Ganding 081931055455. PROBOLINGGO: Ahmad Fauzi, Alas Sumur Kulon RT 02 RW 01 Kraksan 67282 081336265017. Ach. Taufiq, PP. Nurul Jadid Paiton 085230103115. Solihan, PP. Al-Islahiyah RT 03 RW 01 Polotan Jorongan Leces 085257973224 LUMAJANG: M. Adhim Affan, PP. Bustanul Ulum, Krai Yosowilangun 67382 081336775626. M. Anshor Chafidz, Madrasah Diniyah Miftahul Ulum, RT 02 RW 06 Blukon 67351 081803472738. Thomar Sakwan, Tempeh 081937425675 SITUBONDO: Abdul Hadi, Jl. Gunung Bromo 03 Besuki 081336415323. Agus Salim Sufyan, PP. Darul Ulum Kapongan 081358052780. M. Sattar Abdi, Jl. Rel KA Panarukan 081357439461. BONDOWOSO: Moh. Kakbatullah Chafidz, Petung Bondowoso 081358311177 H. Abdulloh Barsid, Jebung Kidul Tlogosari 085236629565. JEMBER: Rasul Baidha’ie, Ledokombo 7855130/08179671713. M. Ghufran Firdaus,

Balung 03317846335. Moch. Fadhil Azizi Jl. Imam Bonjol 29 Kaliwates Jember 085232323699 . Zainal 081946691983 BANYUWANGI: Habib Amin Hasyim AlIdrus, Kalibaru 081913926416. Khoiril Anwar, Jl. Raya Situbondo no. 16 Ds. Wongsorejo Kec. 081336147964. Hakam Wongsorejo 68453 Saifullah, PP. Ummul Quro Krikrilan Glenmore 081336101142. Zainal Arifin, Genteng 087852419797. GRESIK : A. Zabidi Junaidi, BMT-UGT Cab. Bawean Jl. Umar Mas’ud 82 Sangkapura 081331600677/0325422748. KEDIRI: Dwi Andryanto, JL.Karang Anyar I RT 05 RW 01 no 39 Ngronggo Kota Kediri 081335150036 JAWA TENGAH: Abd. Malik, Jl. Kiai Mojo Pasar Besi Tua (Dabag Sari) RT/RW 02/06 Semanggi Pasar Kliwon Solo 08170449559 JAKARTA: Ad. Muiz Ali, Yayasan Darul Ma’arif IKAMA Jl. Kebantenan no.14 Semper Timur Cilincing Jakarta Utara 087885813249. JAWA BARAT: Kholil Fata, Jl. Bandeng no. 110 Pesisir Utara Rt. 001/010 Kelurahan Panjuna Lemah Wungkuk Cirebon 081222955839. H. Andrian Aziz Widodo, (Ihram Agency) Jl. Niaga 1 F/1 Bekasi 17114 02193356040/08121076840. BANTEN: Rahmatullah, UD Annur, Jalan Raya Serang KM. 20 Cibadak Cikupa Tanggerang 15710 087852182449. BALI: H. Musleh, Jl. Gunung Batu Karu X no. 16 085237616509. Noer Djalil A Denpasar Bali Hasan, Jl. A. Yani RT 03 Wanasari no. 25 Denpasar, 80111 03617947209/081805605841. Saliman, Jl. Pantai Selatan no. 4A Cupel Negara Jembrana 087859310480/085238908938. M. Kholil Mawardi, Kampung Sindu Br Lebah Kramas Kec. Blahbatuh Gianyar 08283614001. Ust. Ahmad Marzuki MM, PP Thariqul Mahfudz, Jl. Gilimanuk Denpasar KM 12 Sumbersari Melaya Jembrana 081236133799. BATAM: Moh. Maktub, Kantor BAZ Kota Batam Graha Kadin Blok F-05 Batam Centre 081364534447. KA L I M A N TA N T E N G A H : M . S l a m e t Arsyadi, Kel. Madurejo RT 16 PangkalanBun 085249173689 KALIMANTAN TIMUR: Abd. Rohim Kholil, Masjid Nurul Hidayah PT Inne Donghwa PO Box 168 RT 6/2 Jenebora Balikpapan 085553000011. M. Muksin, Jl. Milono no. 39 RT 39 Gunung Sari Ilir. 081936935001 KALIMANTAN SELATAN: Mansur Subahri, Batu Tanam Sambung Makmur Banjarmasin 085651061122 BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433

111

KUIS PENDIDIKAN

Sahabat Nabi yang usianya lebih muda dari Nabi .

Empat orang beruntung berhak mendapatkan hadiah @ T-Shirt Eksklusif Buletin SIDOGIRI

a. Abu Bakar ash-Shiddiq  (Mertua Nabi ) b. Abu Sufyan bin Harb  (wafat tahun 31 H) c. Hakim bin Hazm bin Khuwailid  (Keponakan Sayidah Khadijah) d. Hassan bin Tsabit  (wafat tahun 54 H)

Kirimkan jawaban Anda disertai kupon KUIS PENDIDIKAN ke redaksi Buletin SIDOGIRI, PO. Box 22 Pasuruan 67101 paling lambat tanggal 15 Muharram 1433 H. Jawaban yang benar akan diundi dan pemenangnya akan diumumkan di edisi berikutnya.

Jawaban Kuis Pendidikan Buletin SIDOGIRI Edisi 64 Dzul Hijjah 1432 H C. Fatimah binti adh-Dhahhâk

Hadiah bisa diambil di Kantor Buletin SIDOGIRI, Gedung MMU An-Nawawie Lantai I Pondok Pesantren Sidogiri dengan membawa kartu tanda pengenal pada Jam Kerja (Pagi: 09.00-12.00 Wis; Malam: 07.00-09.00 Wis). Untuk pemenang dari luar, Hadiah akan dikirimkan.

112

PEMENANG EDISI 64 1. Jamaluddin, L-06 Kwanyar Bangkalan 2. Moch. Yasir, K-06 Surabaya 3. Abdul Kholiq, K-00 Robatal Sampang 4. M. Abdul Haq, L-01 Gumuk Sari Kalisat Jember

BULETIN SIDOGIRI.EDISI 65.MUHARRAM.1433


Buletin Sidogiri edisi 65