Issuu on Google+

REPUBLIKA

Teraju

AL ASION N R E T IN

HANDOUT/AP

Oleh Teguh Setiawan alam percakapan tak resmi dengan pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, Bashar Assad—presiden Suriah saat ini—mengingatkan lawan bicaranya akan Peristiwa Hama 1982. Dalam bahasa yang lembut Bashar menceritakan secara perinci bagaimana Hafez Assad, ayahnya, menghancurkan perlawanan Ikhwanul Muslimin—kelompok Muslim Sunni. Sejarawan Timur Tengah, mengutip sejumlah sumber di kota itu, mencatat antara 20 ribu sampai 38 ribu orang terbantai dalam peristiwa itu. Sementara lainnya mengatakan lebih 80 persen penduduk Hama terbunuh, hilang atau melarikan diri. Kini, hampir 30 tahun setelah peristiwa itu Hama kembali menjadi pusat perlawanan Muslim Sunni terhadap pemerintahan minoritas Alawites pimpinan Assad. Bedanya, Hama tidak lagi sendiri. Muslim Sunni di dua kota lainnya; Homs dan Deera, juga bangkit. Pertanyaannya, apakah Bashar akan melakukan hal yang sama—seperti yang dilakukan ayahnya tahun 1982—untuk mengakhiri perlawanan di Hama, Homs, dan Deera? Hugo Odiogor, seorang pengamat politik Timur Tengah, tidak terlalu yakin Bashar akan menempuh cara sama seperti yang dilakukan ayahnya. Pengamat lainnya mengatakan Bashar tampaknya sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan pukulan mematikan terhadap pemberontakan di Hama, Homs, dan Deera. Menurut Odiogor, situasi yang dihadapi Bashar lebih pelik. Ia menghadapi aksi pembelotan tentaranya ke kelompok oposisi. Kabar terakhir menyebutkan kelompok oposisi membentuk Free Syrian Army, yang beranggotakan 3.500 tentara pembelot. Kelompok-kelompok oposisi anti-Assad juga telah mengorganisasi dan mempersenjatai diri untuk menghadapi perang panjang melwan rezim diktator Partai Baath dan Alawites. Pembentukan kelompok bersenjata akan memudahkan Barat, dalam hal ini AS, memperlakukan Suriah seperti Libya. Odiogor yakin, Barat akan segera menyalurkan persenjataan kepada kelompok oposisi dan mengirimkan penasihat militernya ke Hama, Deera, atau Homs. Pengamat lainnya mengatakan Barat, terutama AS, tampaknya belum akan ikut campur dalam urusan Suriah. Sedangkan negara-negara Arab; Arab Saudi, Yordania, dan Qatar, berpikir dua kali untuk terlibat langsung. Mereka relatif hanya melancarkan kecaman terhadap pembunuhan yang dilakukan rezim Assad. Turki, sebagai akibat banyaknya pengungsi dari Suriah yang melintasi perbatasan dan masuk ke wilayahnya, mendesak Bashar segera mundur. Recep Tayyip Erdogan, PM Turki, juga telah membekukan semua aset Suriah yang berada di Turki.

RABU, 7 DESEMBER 2011

Rusia akan berperan aktif mencegah kejatuhan Bashar Assad demi mengamankan kepentingan ekonominya. AS sejak 2001 telah berupaya mendongkel keluarga Assad dari kursi kepemimpinan Suriah, tapi saat ini Presiden Barrack Obama dihadapkan pada sejumlah isu; sensitivitas isu Mesir, ketidakpastian politik di Libya, dan penarikan pasukan dari Afghanistan. Barat ingin mengakhiri anarki di Suriah, tapi— seperti di Mesir—pemerintahan yang akan muncul di Damaskus berikutnya adalah Ikhwanul Muslimin. Washington dihadapkan pada pilihan sulit. Pergantian rezim di Suriah akan mengubah konstelasi politik Timur Tengah yang belum tentu menguntungkan AS dan sekutunya, Israel.

Sunni vs Syiah Bagi AS, mendongkel Bashar Assad akan membangkitkan kemarahan Rusia dan Iran juga menyediakan tempat bagi Ikhwanul Muslimin sebagai penguasa baru. Bagi AS, Bashar Assad dan Partai Baath-nya adalah real demon, sedangkan Ikhwanul Muslimin adalah hidden demon. Tidak hanya itu, pendongkelan Assad hanya akan menimbulkan kemarahan Iran dan Rusia. Meski ulama Syiah di Iran menyebut Alawites— agama yang dianut Bashar Assad dan lebih dua juta pendukungnya—sebagai kaum bid’ah, Iran amat berkepentingan terhadap kelanjutan rezim di Damaskus saat ini. Bagi Iran, Suriah adalah akses menuju Laut Mediterania. Suriah yang bersahabat akan membuat kapal-kapal Iran bebas berlayar dari Teluk, Terusan Suez, sampai perairan sebelah utara Laut Mediterania. Rute ini jauh lebih cepat dan aman untuk pengangkutan berbagai komoditas, termasuk senjata. Suriah berbatasan langsung dengan Irak, musuh tradisional Iran. Suriah juga berbatasan langsung dengan Turki, kompetitor geopolitik Tehran sepanjang sejarah. Melalui Suriah, Iran bisa memasok bantuan senjata, finansial, dan logistik ke Hizbullah—kelompok Syiah radikal di Lebanon. Hizbullah adalah instrumen Iran paling penting yang memengaruhi stabilitas kawasan secara umum, AS, Israel, dan Lebanon, pada khususnya. Selama Bashar masih berkuasa, Iran akan tetap memiliki pengaruh di Timur Tengah, meski jauh. Arab Saudi punya kepentingan lain. Sejak pembunuhan Rafik Hariri—perdana menteri Lebanon dari kalangan Sunni—tahun 2005, Saudi tidak punya sekutu lagi di Timur Tengah. Saudi membutuhkan sekutu untuk menegakkan hegemoni Muslim Sunni di Timur Tengah dan mereka melihat kemungkinan naiknya Ikhwanul Muslimin jika Bashar dijatuhkan.

Musim panas 2011, Saudi punya sekutu lagi di Lebanon, yaitu Saad Hariri—putra Rafik Hariri. Hizbullah menjatuhkannya. Suriah memenangkan pertarungan politik di Lebanon dengan menempatkan Najib Mikati, politikus pro Damaskus. Saudi yakin pergantian rezim di Damaskus akan membuat Hizbullah teralinasi dan tidak lagi menjadi pemain penting dalam stabilitas Timur Tengah. Pada saat itu, Saudi bisa menempatkan politisi pro Riyadh di pemerintahan Lebanon.

Kepentingan Rusia Jauh dari Timur Tengah, Moskow memonitor situasi di Suriah dengan sangat hati-hati. Kemlu Rusia memperkirakan Suriah akan terjerumus ke dalam perang sipil berkepanjangan dengan banyak negara terlibat di dalamnya. Moskow mulai serius memperhatikan Suriah setelah terjadi demo anti-Rusia di jalan-jalan Damaskus. Pedemo mendesak Moskow tidak lagi menjual senjata kepada rezim Assad. Perkembangan ini membuat Moskow segera mencari cara mengamankan kepentingannya di Suriah. Moskow juga mulai gerah dengan war game yang dimainkan AS di kawasan itu. Terutama, ketika Obama mengkritik pidato Assad dan menyebut Suriah dan rezim yang berkuasa di Damaskus saat ini sebagai ancaman serius bagi AS. Sejak 1960-an, Rusia—saat itu masih bernama Uni Soviet—adalah pemasok tunggal kebutuhan militer Suriah. Moskow melakukan semua itu bukan semata bisnis, melainkan bagian strategi penangkalan terhadap agresi militer AS di Timur Tengah. Rusia tidak sendiri, tapi Cina juga ikut bermain di dalamnya. Kejatuhan Assad akan menjadi pukulan serius bagi Moskow. Saat ini, Rusia relatif telah terkepung oleh militer AS dan NATO sejak Paman Sam menginjakkan kakinya di Afghanistan. Rudalrudal AS bisa mencapai Moskow jika ditembakkan dari Afghanistan dalam beberapa jam. Rusia memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi Suriah. Moskow membangun 90 fasilitas industri dan infrastruktur. Sepertiga fasilitas pengolahan minyak Rusia dan perluasan jaringan irigasi dibangun oleh Rusia. Hubungan ekonomi kedua negara kian kuat setelah Rusia memenuhi janjinya menerapkan kebijakan pasar bebas dan Suriah meliberalisasi ekonominya. Liberalisasi pasar Suriah akan membuat investor Rusia bebas memasuki pasar Timur Tengah. Suriah juga telah berencana menarik sebanyak mungkin investor Rusia untuk terlibat dalam proyek-proyek ekonomi skala besar yang men-

23

cakup pembangunan lapangan gas dan minyak, pembangkit tenaga listrik, pelabuhan laut, dan renovasi infrastruktur industri Suriah. Kerja sama ini akan membuat Suriah menjadi mandiri dalam soal listrik. Saat ini, sebagian listrik Suriah dipasok dari Turki. Suriah juga berharap memasarkan produk pertanian dan tekstilnya ke Rusia. Sebagai gantinya, Rusia menyuplai permesinan dan peralatan industri. Untuk jangka pendek, Suriah juga telah meneken kesepakatan dengan Rusia untuk memordenisasi fasilitas pelabuhan di Tartous dan Latakia, yang membuat kapal-kapal angkatan laut negeri beruang merah itu bisa bersandar. Suriah benar-benar memanjakan Rusia dengan akses ke Mediterania. Saat ini saja, tidak kurang dari 50 perwira AL Rusia telah ditempatkan di Tartous untuk memonitor kapal-kapal Rusia yang melayari Laut Mediterania. Modernisasi di Tartous diperkirakan akan selesai pada 2012 yang akan membuat kota itu berfungsi sebagai basis AL Rusia. Dari sini, Rusia bisa menyadarkan kapal-kapal pengangkut rudal berhulu ledak nuklir. Jika rezim Assad jauh, Rusia dipastikan akan kehilangan pasar senjatanya di Timur Tengah. Moskow sangat khawatir akan hal ini. Penjualan senjata sangat menghidupi militer Rusia. Di sisi lain, pembangunan basis AL di luar negeri membuat Rusia memiliki daya tawar dalam politik luar negeri, khususnya menyangkut kepentingan di Timur Tengah. Rusia diyakini akan mencoba mencegah kejatuhan Bashar. Kejatuhan rezim Partai Baath hanya akan memicu perang besar antara Iran dan AS. Washington merespons sikap Rusia dengan mengatakan AS tidak berniat menjatuhkan Assad dan mengubah Suriah menjadi Libya kedua.

Menuduh Israel Di Timur Tengah, terdapat diktum; tidak ada perang tanpa Mesir, tidak ada perdamaian tanpa Suriah. Israel telah lama berdamai dengan Mesir, tapi masih dalam status at war dengan Suriah. Tel Aviv yakin pergantian rezim di Damaskus akan memungkinkan terwujudnya perdamaian Suriah-Israel. Kaum Alawites yakin Israel berada di balik aksi demo anti-Bashar Assad. Israel tidak hanya menghendaki perdamaian dengan Suriah, tapi juga berupaya mengamankan perbatasannya dengan Lebanon dari gangguan Hizbullah. Hizbullah memiliki kemampuan menyerang ke Israel berkat dukungan dari Iran, yang disalurkan lewat Suriah. Menjatuhkan Assad dan memunculkan rezim non-Alawites diyakini akan menyumbat pasokan bantuan bagi Hizbullah. Bashar Assad tahu betul posisinya dalam percaturan politik regional. Ia yakin nasibnya bukan ditentukan oleh aksi demo dan perlawanan Muslim Sunni pro demokrasi, melainkan oleh pertarungan kepentingan negara-negara lain terhadap Suriah. ■

Teraju

REPUBLIKA RABU, 7 DESEMBER 2011

Selama berabad-abad Alawites membantai dan dibantai. Pernah mendirikan negara sendiri, tapi berakhir setelah sang mesiah digantung.

S

itus muslimhope.com menulis Alawites, atau Alawi, adalah cabang dari Syiah. Sebagian Muslim khususnya di Lebanon dan Suriah menerima mereka sebagai Muslim. Lainnya menyebut mereka bidah (heretic) dan telah keluar dari Islam. Islam memiliki lima pilar: syahadat, shalat, puasa di bulan Ramadhan, zakat, dan menunaikan ibadah haji. Alawites meyakini kelimanya sebagai simbol, tanpa harus dipraktikkan. Alawites menambahkan dua pilar lagi, yakni jihad dan pengabdian kepada Ali bin Abi Thalib. Pengabdian melibatkan jihad melawan musuh-musuh Ali. Ismaili, cabang Syiah lainnya, percaya Allah hadir ke dunia ke dalam tujuh wujud manusia, nyata dan menyamar (revealed and hidden). Dalam bentuk nyata, Allah hadir dalam sosok Adam, Nuh, Yaqub, Musa, Sulaiman, Isa, dan Muhammad. Dalam bentuk penyamaran (hidden), Allah hadir ke dalam tubuh Abel, Seth, Jusuf, Joshua, Asaf, Peter, dan Ali. Menggunakan konsep trinitas dalam sistem kepercayaan Yunani kuno, Alawites percaya Muhammad, Ali, dan Salman al-Farisi adalah manifestasi tertinggi Allah. Alawites menyembah ketiganya meski tahu ketiganya tak mau dianggap Tuhan dan disembah. Alawites minum anggur, yang dianggap sebagai transubstansiasi menuju Allah. Seperti kaum Freemason dan Mormon, Alawites memiliki ajaran rahasia. Salah satu ritual mereka adalah communion, seperti dalam Katolik. Namun, tidak ada catatan apakah mereka mengonsumsi babi. Alawites merayakan Idul Adha dan Idul Fitri seperti umumnya Muslim Sunni dan Syiah di Iran. Namun, mereka juga merayakan Idul Kabir dan asySyura. Bahkan, mereka terlibat aktif dalam Natal dan Epiphany, serta merayakan Nawruz— Tahun Baru Zoroaster. Hari besar Syiah yang juga diperingati Alawites adalah saat Muhammad SAW melimpahkan kekhalifahan ke Ali.

Siapakah Alawites? Jangan pernah berupaya melacak sejarah Alawites karena hanya akan

Membantai, dibantai Alawites menuliskan sejarahnya dengan tinta darah. Mereka membantai siapa pun demi menegakkan eksistensi dan siap dibantai rezim apa pun demi menjaga eksistensi. Semua itu terjadi ketika Syiah kehilangan kekuasaan atas Damaskus. Pada 1097, Kesatria Kristen membantai sekelompok Nusayri. Tindakan keji ini berhenti ketika komandan Kesatria Kristen tahu Alawites, atau Nusayris, tidak benar-benar Muslim. Yang terjadi kemudian adalah koalisi Alawites-Kristen. Kesatria Kristen dalam Perang Salib membantu Nusayri memerangi Ismaili. Pada 1120, sekelompok orang Kurdi dan Syiah Ismaili mengalahkan 25 ribu serdadu Nusayri. Tiga tahun kemudian, Nusayri dengan bantuan pembelot Syiah Ismaili mengalahkan orang-orang Kurdi. Pada 1291, sejumlah pemimpin Alawites dan Ismaili bertemu untuk melakukan merger agama. Upaya ini tak sukses karena kedua pihak memiliki perbedaan dogma. Keduanya hanya sepakat menjalin koalisi militer yang rapuh.

Akibatnya, Ismaili dan Nusayri menjadi sasaran penghancuran Dinasti Mamluk antara 1260 sampai 1518 M. Ketika Ottoman mengambil alih Suriah pada 1516, Sultan Selim I, penguasa Kekaisaran Ottoman saat itu, membantai lebih dari 9.000 Alawites atas restu pemimpin Muslim Sunni. Sebagai gantinya, Selim I memukimkan banyak orang Turki di tanah nenek moyang Alawites. Seiring perjalanan waktu, pemukim Turki yang semula penganut Sunni menjadi pemeluk Alawites. Adalah Ibnu Taimia, cendekiawan Muslim dan peletak dasar ajaran Wahabi, yang kali pertama mengeluarkan fatwa Alawites sebagai ajaran sesat. Taimia mengatakan, Alawites lebih kafir dibanding Yahudi dan Kristen, lebih sesat dari penyembah berhala. Menurutnya, adalah hak setiap Muslim untuk berjihad memerangi Alawites, menumpahkan darah, dan mengambil properti mereka. Kecuali, menurut Taimia, kaum Alawites mau bertobat. Pada 1832, setelah Alawites menyerang Masyaf, desa kaum Ismaili, penguasa Damaskus mengirim ribuan pasukan untuk memerangi mereka. Pada 1870 dan 1877, Ottoman membantai lagi kaum Alawites. Prancis datang dan memfasifikasi tanah-tanah Alawites antara 1918 sampai 1922. Bersama Prancis, datang pula misionaris Katolik dan para biarawan. Awal Maret 1924, Alawites membantai para biarawati Katolik. Prancis marah dan datang dengan pasukan besar untuk membantai Alawites. Alawites mencoba mendirikan negara sendiri. Pada 29 September 1923, mereka memproklamasikan Negara Alawites setelah menerima mandat dari kolonialis Prancis. Tujuh tahun kemudian, resminya 22 September 1930, Alawites mengganti nama negaranya menjadi Republik Sanjak Latakia, dan bukan lagi protektorat Prancis. Enam tahun kemudian, mereka meleburkan diri ke dalam Suriah. Peleburan tidak berlangsung mulus. Sliman Murshad menghimpun ribuan Alawites untuk memerangi pasukan nasionalisme Suriah. Perjuangan Alawites berakhir setelah Sliman Murshad, yang dipercaya sebagaian Alawites sebagai mesiah, digantung pada 1946.

Alawites dan Assad Daniel Pipes, dalam The Alawi Capture of Power in Syria menulis, selama berabad-abad Alawites adalah masyarakat yang lemah, miskin, paling dibenci, tinggal di pedesaan, dan terbelakang. Namun selepas 1950 mereka mentransformasi diri dan sejak 1974 menjadi elite penguasa atas Damaskus. Sulit mencari penjelasan bagaimana Alawites mencapai semua itu. Menurut Annie Laurent, peneliti Timur Tengah, kebangkitan Alawites terjadi beberapa tahun setelah penggantungan Sliman Murshad— sumber lain mencatatnya dengan nama Sulaiman Murshid. Alawites termotivasi membalas kematian Murshad, memasukkan orangorangnya ke dalam militer dan Partai Baath untuk membangun sel. Pada 1959, Partai Baath—penganut faham sosialisme sekuler—membentuk komite militer setelah mengambil alih kekuasaan di Damaskus.

en Alaw ite s

Kristen

Ala wit es Kri ste n K rist

Yazidis

Kristen

an o

n

Muslim Sunni

Leb

menimbulkan perdebatan sengit. Namun, ada beberapa pendapat yang relatif bisa diterima kaum Alawites. Orang Alawites lebih suka disebut Alawi, atau pengikut Ali. Namun sebelum nama ini muncul, mereka disebut Nusayris. Mereka percaya sebagai kelompok Syiah yang datang dari Tuhan. Mereka mengaku memeluk agama yang diajarkan Muhammad dan Ali. Kelompok Syiah lainnya mengatakan bahwa Alawites adalah sempalan dari Druze—kelompok Syiah yang didirikan al-Darasi. Dalam 44 Pertanyaan Katekismus Druze disebutkan, Alawites memisahkan diri karena menyembah Ali. Mereka, masih menurut kelompok Druze, menolak menyembah Tuhan al-Hakim yang mewujud dalam pribadi al-Darasi, atau (Druze). Patrick Seale, dalam Asad: The Struggle for the Middle East, mengaitkan Alawites dengan Ismaili, atau Syiah 7 Imam, dan Druze. Sedangkan, Nusairy adalah sisa-sisa Syiah yang disapu oleh Islam seribu tahun sebelumnya. Para pakar sejarah Timur Tengah mengatakan Nusayri adalah keturunan Nazerini, sebuah bangsa yang disebut Pliny—sejarawan Romawi yang terkenal dengan ramalan seribu tahun letusan Gunung Vesuvius—dalam History. Penelitian lain mengaitkan Alawite dan Nusayri pada satu nama: Muhammad Ibnu Nusayri an-Namiri, tokoh yang hidup sekitar 850 Masehi dan menyebut diri gerbang, atau bab dalam Bahasa Arab, menuju kebenaran Ilahiah (Truth). Ajaran Muhammad Ibnu Nusayri berkembang dan mengalamai evolusi, sampai diajarkan kembali oleh Husayn Inu Hamdan al-Khasabi (hidup pada 970 Masehi). Sejarawan lain menyebutkan Alawites menghimpun sejumlah suku. Beberapa suku berasal dari barat daya Suriah. Lainnya adalah imigran Irak yang masuk ke Suriah sekitar abad ke-12.

Turki

Druze

Irak Druze

el

Oleh Teguh Setiawan

AGAMA-AGAMA DI SURIAH

Isra

ALAWITES, ASSAD, DAN MASA DEPAN SURIAH

24

Yordania

MUSLIM SUNNI

Sumber: Geocurrents Map

16.798.000

SYIAH 12 IMAM (Twelver)

100.000

SYIAH 7 IMAM (Sevener) ALAWITES

200.000 2.350.562

DRUZE

681.000

KRISTEN Ortodok Yunani

1.100.000

Ortodok Suriah

700.000

Ortodok Armenia LAINNYA

200.000 400.000

YAHUDI

200*

YAZIDIS

10.000**

Keterangan: * Tahun 1964 terdapat 3.000 Yahudi di Suriah. Setelah emigrasi besar-besaran ke Israel, kini hanya ada 200 Yahudi. Dokumen resmi Pemerintah Suriah menyebut mereka musawiyin, atau pengikut Musa, bukan Yahudin. Sinagogue mereka berada di bawah perlindungan Pemerintah Suriah. ** Muslim menyebut mereka penyembah setan. Mungkin tak keliru. Yang pertama diciptakan Tuhan adalah Tawûsê Melek. Berikutnya tujuh malaikat. Tuhan menyuruh ketujuh malaikat mengambil tanah, ada yang bilang abu, dari bumi. Dari tanah,

Hampir seluruh anggota Komite Militer adalah Alawites. Matti Moosa, pengamat Timur Tengah lainnya, mengatakan, Komite Militer tidak bertindak sebagai Baatist, tapi menjalankan agenda sektariannya. Tujuan akhir mereka adalah mengambil alih pemerintahan dari tangan Sunni. Pada 1960, sejumlah petinggi keagamaan Alawites dan perwira militer Suriah melakukan pertemuan rahasia di rumah Hafez Assad di Qardana. Pertemuan membicarakan rencana mendorong orang-orang Alawites ke posisi penting di Partai Baath. Tiga tahun kemudian diadakan pertemuan rahasia lainnya di Homs. Pertemuan ini membicarakan langkah lanjutan mengambil alih tampuk kekuasaan Partai Baath

Tuhan menciptakan Adam. Tuhan memerintahkan Tawuse Melek dan tujuh malaikat menunduk kepada Adam. Tujuh malaikat melakukannya, Tawuse Melek tidak. “Bagaimana mungkin saya menunduk kepada Adam. Saya adalah iluminasi Anda, sedangkan Adam dari tanah,” kata Tawuse Melek. Tuhan memuji Tawuse Melek dan mengangkatnya sebagai pemimpin para Malaikat. Di muka bumi, Tawuse Melek adalah representasi Tuhan. Ia turun setiap Rabu pertama April. Yazidis menolak Taurat, Injil, dan Alquran, tapi mereka mengadopsi ritual Yahudi, Kristen, Islam, dan mengoplosnya dengan Paganisme asli Irak. Pemeluk Yazidis kerap menolak membicarakan ajarannya kepada orang lain. Mereka menolak konvertis, alias peralihan dari agama lain ke Yazidis. Akibatnya, populasi mereka tak pernah bertambah secara signifikan. Mereka memiliki dua kitab suci; Kitêba Cilwe dan Mishefa Re . Banyak sarjana percaya kedua buku itu baru dikeluarkan tahun 1911 dan 1913. Para imam Yazidis mengajarkan shalat lima waktu dengan setiap shalat wajah menghadap ke arah berbeda. Namun, kebanyakan pengikutnya hanya menjalankan dua waktu shalat saja; saat terbit dan terbenam matahari.

sekaligus menjadi penguasa Damaskus. Pada 1966, Partai Baath melakukan kudeta tak berdarah di dalam pemerintahan. Ia membersihkan orang-orang partai lain dan mengangkat Hafez Assad sebagai menteri pertahanan—posisi paling berpengaruh di pemerintahan. Sedangkan, posisi presiden dijabat Nureddin al-Atassi. Terjadi ketegangan di sayap radikal partai. Assad mengambil langkah pragmatis dalam program reformasi sosial dan politik luar negeri. Lainnya, al-Atassi dan Saleh Jadid, sekretaris jenderal Partai Baath, lebih suka menempuh perubahan agresif. Setelah kegagalan Suriah dalam perang enam hari melawan Israel dan terbongkarnya keterlibatan dalam Black September Yordania-Palestina, konflik terbuka di sayap radikal Partai Baath tak terhindarkan lagi. Hafez Assad tahu dirinya bakal ditangkap. Ia mendahului dengan melakukan Corrective Revolution di tubuh Partai Baath pada Februari 1970. Ia mengirim al-Atassi dan Jadid ke penjara. Assad menempatkan loyalisnya di posisi-posisi penting di pemerintahan dan partai. Alawites, komunitas keagamaan beranggotakan 3,5 juta (sumber lain menyebutkan dua juta), menempatkan orangnya sebagai penguasa Suriah. Kini, Bashar Assad di ambang kegagalan melanggengkan kekuasaan Alawites di Damaskus. Kegagalan yang mungkin akan memicu pembantaian Alawites di era modern. Sunni, utamanya Ikhwanul Muslimin, diprediksi akan melakukan balas dendam atas pembantaian 20 ribu sampai 38 ribu Muslim Sunni di Hama. ■

AP

Teraju

REPUBLIKA RABU, 7 DESEMBER 2011

25

CHINA-DEFENSE-MASHUP.COM

REPUBLIK GANGSTER

Sekte Minoritas

………………………………………… ……………. Dan diktator, konglomerat dan preman duduk di Loges emas, mengerikan dan siap bertindak: orang takwa, beramal, orang-orang mukmin, menangis tersedak ke keheningan global, seperti lonceng tembaga, dan anak mati sekarang menunggu untuk satu air mata di sebuah kuburan tak bernama. (Walter William Safar dalam “Kuburan Tanpa Nama”)

Z

ainab Al Hosni, wanita berusia 18 tahun, ditemukan tewas dengan kepala terpenggal dan tubuh dimutilasi. Beredar kabar, Zainab dibunuh aktivis hak asasi manusia. Analis Timur Tengah mencium kejanggalan dalam pembunuhan itu. Alawites, sekte minoritas pendukung rezim Partai

Baath yang berkuasa di Suriah, sedang menggunakan taktik baru untuk menekan aktivis anti-Presiden Bashar Assad. Zainab diyakini sebagai wanita pertama yang dibunuh di ruang bawah tanah Alawites, sejak aksi protes anti-Bashar Assad merebak pertengahan Maret 2011. Amnesty International mengatakan, Zainab diculik dan ditahan agen-agen keamanan Alawites untuk menekan kakak gadis itu yang dikenal anti-Assad. Sebelum aksi penculikan terhadap Zainab, Alawites dan Rafidites—kelompok radikal Syiah Iran—berusaha menekan pemimpin aksi demo anti-Assad dengan berbagai cara. Salah satunya, menangkap perempuan-perempuan Muslim Sunni melucuti pakaian dan memaksa mereka berjalan dalam keadaan bugil di tengah kota. Alawites berupaya menciptakan ketakutan dengan terus melakukan penyiksaan, pemerkosaan, dan tindakan tak manusiawi terhadap keluarga Muslim Sunni yang diketahui terlibat dalam aksi demo dan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan Assad. Sasaran serangan Alawites Gangs adalah Muslim Sunni yang tinggal di Homs, Hama, dan Deera—tiga kota penggerak aksi anti-Assad. Situs albawaba.com memberitakan bahwa Zainab diculik pada 27 Juli 2011. Tak

AP

lama setelah penculikan, agen-agen Alawites mengontak Muhammad—kakak Zainab yang mengorganisasi pemberontakan di Homs—dan memintanya menghentikan perlawanan. Setelah itu, Muhammad tertangkap. Pada 13 September, Alawites menghubungi ibu Muhammad agar mengambil tubuh anaknya di kamar mayat. Aktivis hak asasi manusia mengatakan, tubuh Muhammad penuh luka memar, luka bakar, dan luka tembak. Muhammad disiksa sebelum dihabisi. Zainab tak dilepas. Orang tuanya berharap Alawites melepas putrinya karena telah membunuh Muhammad. Setelah dua bulan, sang ibu mendapat kabar tubuh anaknya ditemukan dalam keadaan menyedihkan. Alawites Gangs tak hanya memenggal kepala dan tangan sang gadis remaja, juga mengulitinya. Alawites sedang mengirim pesan: “Jangan coba mengganggu Bashar Assad jika tidak ingin bernasib seperti ini.” PBB memperkirakan, 2700 Muslim Sunni terbunuh di tangan Alawites sejak upaya penggulingan Bashar Assad berlangsung. Pengamat independen memperkirakan, 6.000 Muslim Sunni telah terbunuh.

Shabiha Entah tradisi atau bukan, setiap rezim

di Timur Tengah memiliki pasukan sendiri atau kelompok milisi bersenjata yang bertugas melindungi sang pemimpin. Milisi biasanya direkrut dari komunitas etnis, biasanya minoritas, asal sang pemimpin. Atau, dalam kasus Suriah, anggota milisi direkrut dari kelompok religius. Di Mesir dan Tunisia, Hosni Mubarak dan Zine El Abidine Ben Ali—sebelum keduanya digulingkan—memiliki milisi bersenjata pribadi yang bernama “Baltajia”. Nama serupa juga digunakan di Aljazair dan negara lainnya. Di Libya, Muamar Qadafi memberi nama “Zenga” untuk milisi bersenjata yang melindungi dirinya. Sedangkan di Suriah, Keluarga Assad memiliki “Shabiha” sebagai milisi bersenjata pribadi. Baltajia berarti senjata. Arti lainnya adalah preman bayaran. Sedangkan, Zenga adalah istilah yang relatif baru dan kata ini baru dikenal ketika terjadi aksi anti-Qadafi di Libya. Shabiha memiliki arti relatif sama dengan Baltajia, telah lama dikenal di Suriah, terutama sejak Hafez Assad menjadi presiden. Kini, Shabiha muncul lagi. Adrian Blomfield, koresponden The Telegraph menulis, Shabiha dibentuk di Latakia pada 1990. Mereka memperoleh reputasinya sebagai milisi paling keji sejak tahun pertama. Mereka bersedia melakukan apa saja: teror, pemerkosaan, perampokan, penyiksaan, sampai penembakan terhadap siapa pun yang berani mengganggu pemerintahan keluarga Assad. Mereka direkrut dari desa-desa Alawites di Latakia, dilatih secara khusus dan dipersenjatai. Bloomfield memperkirakan, Shabiha yang muncul saat ini jauh lebih kuat dan brutal. Mereka disebar di sekujur Homs, Hama, Deera, dan Damaskus. Kehadiran mereka kali pertama diidentifikasi ketika demonstran anti-Assad ditembaki sekelompok orang bersenjata tak berseragam dari atas mobil. Video amatir mengabadikan aksi Shabiha ketika terjadi aksi protes damai yang menelan korban. Hampir seluruh korban tewas terkena peluru senapan mesin kaliber besar. Bloomfield—mengutip sejumlah sumber—juga menulis, Shabiha diterjunkan ke Latakia dengan perintah membunuh siapa pun yang berani turun ke jalan untuk menggelar aksi protes. Shabiha—dengan dukungan pasukan pemerintah—juga menuju Hama untuk menghantam basis perlawanan bersenjata. Shabiha membunuh siapa saja. Di Latakia, Shabiha melucuti polisi dan tentara Suriah. Akibatnya, ketika kekerasan di jalan-jalan merajalela, polisi dan tentara hanya diam. Beberapa perwira mencoba mengintervensi untuk mencegah aksi kekerasan, namun Shabiha memberondong mereka dengan senapan mesin. Empat orang tewas. Seorang aktivis mengatakan, Shabiha adalah ‘juru bicara’ Bashar Assad di jalan-jalan dan desa-desa. Assad yang dikenal lembut dibesarkan oleh tradisi kekerasan sang ayah dan kelompok Alawites. Tidak ada yang tahu siapa komandan Shabiha. Rumor di Damaskus menyebutkan, Shabiha di bawah kontrol Maher al-Assad, adik Bashir Assad. Maher bersitegang dengan Farouq al-Sharaa, wakil presiden, dan tak segan-segan mencabut pistol untuk melukai orang nomor dua di pemerintahan rezim Partai Baath. Maher, yang juga komandan unit pengawal kepresidenan, disebut-sebut bertanggung jawab atas tewasnya 63 pendemo di Deera. Alia Ibrahim, koresponden Al Alarabia News, mempunyai informasi lain soal Shabiha. Menurutnya, Shabiha adalah elemen penting dalam rezim keluarga Assad. Bahkan, lebih penting dari pengawal presiden dan tentara. Militer akan selalu menjadi institusi yang dikorbankan ketika dunia internasional menuntut pertang-

gungjawaban atas jatuhnya korban. Shabiha tidak. Personel militer bisa diajukan ke pengadilan, namun anggota Shabiha tidak akan pernah dituntut bertanggung jawab atas kekejian yang dilakukannya. Shabiha bisa melakukan apa saja yang tidak mungkin dilaksanakan institusi militer resmi. Menurut Alia, Shabiha telah ada sejak 1970. Awalnya, mereka hanya gangster biasa yang melakukan semua tindakan ilegal, perampokan, penyelundupan di sepanjang perbatasan Turki dan Lebanon, perdagangan senjata, serta pencurian mobil mewah. Ada beberapa versi soal penamaan Shabiha. Pertama, dan sering diceritakan masyarakat Suriah, Shabiha berasal dari kata ‘Shabah’, yang artinya hantu. Julukan hantu diberikan kepada para gangster yang kerap mengendarai mobil mewah Mercedes model 250, 300, dan 600 secara gila-gilaan. Versi lain menyebutkan, mereka dijuluki hantu karena kebiasaan mereka menyebarkan teror dan ketakutan di tengah penduduk yang berdiri di jalanjalan. Mereka datang bergerombol dan mengenakan sedan berwarna hitam dengan kaca gelap yang sedikit terbuka hanya untuk memperlihatkan senjata. Shabiha sedikit low profile sejak kematian Hafez Assad. Kini, jumlah mereka meningkat sekian kali lipat dibanding tahun 1990-an. Seorang aktivis mengatakan, seorang pengusaha yang dekat dengan keluarga Assad mendanai perekrutan ribuan anggota baru Shabiha. Sang pengusaha, tulis Alia, membayar para anggota Shabiha sampai ratusan dolar per hari. Bandingkan dengan pendapatan per kapita penduduk Suriah yang rata-rata 10 dolar per hari. Informasi paling menarik dari Alia adalah pada masa lalu para anggota Shabiha terbatas dari Alawites. Kini, Shabiha merekrut anggota dari latar belakang agama apa pun. Aktivitas mereka juga diperluas. Selain membunuh dan menyiksa, mereka menyediakan jasa tukang tagih utang dan bodyguard bagi para businessman. Penduduk Suriah menyebut mereka gangster, rezim kriminal, dan mafia. Ada pula yang menuduh Shabiha sebagai bagian dari sistem keamanan nasional Suriah. Tuduhan yang tidak cukup keliru karena sebagian anggota Shabiha dilatih di kamp militer.

Ksatria Suriah Anggota Shabiha merespons pemberitaan buruk tentang dirinya dengan mengatakan, “Kami adalah Ksatria Suriah. Kami patriot Suriah.” Dalam percakapan di twitter dengan sejumlah koresponden media Barat, beberapa anggota Shabiha mengatakan, “Kami mengemban misi melakukan pembunuhan sistematis terhadap Muslim Sunni di Suriah dan Lebanon. Menghancurkan keluarga Hariri, dan lainnya. Koresponden lain yang bercakap-cakap dengan anggota Shabiha di twitter mengatakan, “Mereka selalu mengakhiri percakapakan dengan kata-kata. Enyahkan Sunni, Salafi, Wahabi. Seperti kebanyakan psikopat, ajakan membunuh selalu diakhiri dengan senyum dan kedipan mata.” Shabiha tampaknya hanya menjadikan Sunni sebagai sasaran kebencian. Mereka mengabaikan kelompok lain, salah satunya Kristen. Padahal, sejumlah media Barat melaporkan, Kristen Ortodoks Suriah, Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, dan Katolik turun ke jalan melancarkan protes. Belajar dari sejarah dan tidak ingin Pembantaian Hama 1982 terjadi lagi, Muslim Sunni mulai mempersenjatai diri. Suriah di ambang perang sipil dengan minoritas fasis Alawites menghadapi mayoritas Sunni yang ingin berkuasa secara demokratis. ■


Krisis Suriah