Issuu on Google+

Salam Redaksi

Editorial

Hidup ditengah keberagaman, menuntut masyarakat untuk memiliki sikap terbuka dan saling menghargai perbedaan. Termasuk ditengah keberagaman agama. Karena pluralitas agama berpotensi besar menuai konflik antar pemeluknya. Persoalan agama, adalah persoalan yang sangat sensitif. Menyangkut prinsip dan keyakinan. Jika terjadi konflik antar umat beragama, pertumpahan darah tak terelakkan. Konflik yang dilatar belakangi perbedaan keyakinan cenderung melahirkan dendam berkepanjangan. Minangkabau, dengan falsafah hidup Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi kitabullah telah menyatakan dengan tegas prinsip hidup masyarakatnya. Adat Minang adalah aturan Islam. Tak ada nego. Itu harga mati. Uniknya, Minangkabau dengan ajaran Islam yang kental, mampu menciptakan kehidupan yang harmonis dengan umat agama lain. Kehidupan sosial umat muslim dengan umat agama lain, dibingkai dengan toleransi yang nyaris tanpa cacat. Meski banyak yang mencoba untuk mempolitisasi keadaan, kehidupan sosial antar umat beragama tetap harmonis. Sebut saja sejumlah isu yang dilatar belakangi perbedaan agama. Kristenisasi mahasiswa PTAI dan penyelundupan al-kitab dalam paket bantuan, hanya secuil dari sekian banyak usaha mempolitisasi perbedaan agama, untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Toh, pada kenyatannya, Minang tetap damai. Tetap indah. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Minang adalah masyarakat yang terbuka terhadap segala bentuk kebudayaan yang datang dari luar. Namun tetap menjaga kultur asli terkait prinsip dan landasan hidup. Mereka hidup berdampingan. Tapi, tak ada tawar menawar dalam ranah keyakinan. Keberagaman seharusnya disyukuri. Kerena perbedaan akan melahirkan sesuatu yang baru. Perbedaan yang disikapi dengan cara yang bijak, tidak akan melahirkan konflik. Jika semua umat beragama menjalankan perintah agamanya dengan benar, tidak akan terjadi pertumpahan darah. Sebab semua agama mengajarkan umatnya untuk berbuat kebaikan. Agama apapun tidak akan pernah memerintahkan umatnya untuk membuat kerusuhan dan kerusakan. Jadi, kita bisa hidup berdampingan ditengah keberagaman.*

Ciloteh  IAIN Imam Bonjol Digunduli  Tantulah iyo samo-samo gundul ma.....  Kampus Tidak Penuhi Kontrak  Tanya Rektor lama.....

A

lhamdulillah, tabloid suara Kampus Edisi 118 telah terbit. Penerbitan kali ini molor dari jadwal yang ditetapkan. Rangkaian acara HUT LPM yang menyita perhatian seluruh pengurus menjadi salah satu penyebab keterlambatan penerbitan kali ini. Tahun ini, Suara Kampus genap berusia 33 tahun. Dalam perjalanannya, Suara Kampus telah menorehkan tetes demi tetes tinta untuk menyuarakan aspirasi seluruh civitas akademika dan memberikan informasi secara berimbang. Usia 33 tahun memang bukan usia yang muda. 33 tahun adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk belajar dan berbenah diri. Dalam prosesnya, LPM Suara Kampus terus berusaha untuk memperbaiki diri dan menjadi yang terbaik. Nostalgia mengenang perjuangan tempoe doeloe, ketika perayaan HUT LPM SK membawa semua anggota dan alumni larut dalam euforia romentisme masa lalu. Salah seorang Pembina Suara Kampus pun tak lagi kuasa membendung air mata. “Ada noktah sejarah hidup di sini. Yang tak mungkin terhapus apalagi dilupakan,” katanya. Suara Kampus, dengan semua

Foto: Adil Wandi/Suara Kampus

Kisah Romantis di Suara Kampus

Hidup Damai di Tengah Perbedaan

FOTO BERSAMA: Kru SUARA KAMPUS foto bersama dengan para senior pada acara HUT ke 33 di Aula Fakultas Dakwah.

kekurangan dan kelebihan yang ada padanya, memang akan selalu memberikan kesan mendalam pada setiap orang yang pernah mencicipi manis pahit menjadi anggota Suara Kampus. Menjadi wartawan kampus . Rapat redaksi, mengejar nara sumber, wawancara, menulis berita, mengedit tulisan, deadline, lay out adalah deretan proses yang dijalani seorang wartawan, sampai satu tabloid tiba di tangan pembaca. Tiap proses yang dilalui, tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga suatu kesan. Kesan itulah yang tak akan dilupakan setiap anggota LPM ini. Kini, Suara kampus akan melahir-

kan alumni-alumni baru yang juga akan mengenang sejarah mereka kelak. Tanggal 24 Desember, LPM SK akan mengdakan RATA (Rapat Tinggi Akhir Tahun). Mubesnya Suara Kampus. Regenerasi pengurus dalam menyambung tongkat estafet kepemimpinan adalah hal yang lumrah terjadi dalam sebuah organisasi. Semoga pengurus baru SK yang akan segera dibentuk, mampu membawa LPM yang telah menginjak usia kepala tiga ini, menjadi lebih baik. Selamat ulang tahun Suara Kampus.Semoga Suara mu tetap didengar.

Cerminia

Pesta di Udara Efi Salinda PemimpinRedaksi SuaraKampus

T

iba-tiba cuaca ekstrem. Lampu de ngan logo sabuk pun menyala. Sesuai dengan intruksi pilot, awak kabin pesawat mengingatkan penumpang untuk memasang sabuk pengamannya. Pesta pun dimulai. Pesawat “Boeing 909 ES Singa Air” dengan 500 penumpang terus menghadang badai di udara. Pilot bersama copilot berusaha melewati kecemasan itu. Sementara, awak kabin tidak bosan mengingatkan para penumpang. Cemas akibat goncangan pesawat yang melintasi ancaman di udara. Sebelum pesta di

udara, maskapai penerbangan harus melakukan persiapan matang. Menyediakan pesawat yang sehat. Pilot yang handal, co-pilot yang cakap, awak kabin yang ramah dan mempesona. Profesi pilot menuntut keahlian dalam mengemudikan sebuah pesawat. Untuk menerbangankan pesawat, pilot harus mendapatkan sertifikat terbang dengan menempuh ujian resmi yang diadakan oleh sekolah penerbangan. Pilot dibantu co-pilot. Selama penerbangan berlangsung semenjak take off hingga landing. Mereka mengikuti jalurjalur penerbangan yang telah terprogram dan dibantu navigasi pesawat. Mentaati rambu-rambu melalui menara kontrol lalulintas bandar udara Sementara itu, awak kabin yang terdiri dari pramugari dan pramugara (flight attendant) melayani penumpang. Mereka memberikan demo mengenai prosedur untuk kondisi darurat sebelum ke-

berangkatan. Jika dalam kondisi darurat, flight attendant harus dapat mengarahkan penumpang agar dapat mengikuti prosedur keselamatan. Pilot, co-pilot dan flight attendant disebut juga dengan awak pesawat. Mereka harus sinergi. Berkoordinasi dengan baik. Komunikasi yang lancar. Tugas mereka pun dibagi. Keselamatan penumpang menjadi prioritas utama. Pesta udara tanggung jawab mereka. Walaupun nyawa mereka menjadi taruhan. Tapi mereka ikhlas untuk sebuah profesi. Berkat kekompakan itu, pilot bersama co-pilot berhasil menjinakan udara. Pesta udara usai. Pesawat itu landing. Tak ada hentakan. Walaupun landasan licin akibat hujan lebat. Pramugari sebagai awak kabin kembali menebar senyum. Penumpang kembali bergairah. “Selamat sampai tujuan dan sampai ketemu diperbangan selanjutnya,” ujar operator pesawat.

Pelindung: Rektor IAIN Imam Bonjol Padang Penasehat: Pembantu Rektor III Pembina: Drs. Yulizal Yunus, M.Si, Drs. Sheiful Yazan, M.Si, Abdullah Khusairi, MA, Muhammad Nasir, MA, Suardi Sikumbang Dewan Redaksi: Iswanto JA, Ervin Hasibuan, Ade Faulina, S.Sos.I, Eka Yulina S.Sos.I, Adil Wandi, Andri El Faruqi,S.Sos.I, Ariya Ghuna Saputra, Debi Virnando,S.H.I, Hendra. Pemimpin Umum: Ariya Ghuna Saputra. Wakil Pemimpin Umum: Hamdan Kusuma. Sekretaris Umum: Mimi Permani Suci. Bendahara Umum: Widya Rahmita Hakim. Pemimpin Redaksi: Efi Salinda. Manager IT: Novera Indrawati. Pemimpin Perusahaan: Gusnita. Divisi SDM & Litbang: Yeni Purnama Sari, Adliza. Divisi Umum & Adm: April Jejen. Divisi Periklanan & EO: Fajriana Elfa. Web Development: M. Noli. Lay Out Pra Cetak: Defri Chandra. Redaktur Pelaksana: Rafi’I Hidayatullah Nazari. Koordinator Liputan: Yulia Vita Ramayona. Redaktur: Ahmad Syaifullah, Nurhamsi Deswila, Fitria Marlina, Ababil Gufron, Ega Romilia, Gita Jonelva. Reporter: Sri Handini, Arjuna Nusantara, Muhammad Rasyid, Ridho Permana, Ikhwatun Nasra, Yaspardi, Rahmawati Matondang, Urwatul Wusqa, Ari Yuneldi, Mardani Kambara, Septia Hidayati, Nur Khairat, Riri M. Nur, Andika Adi Saputra, Aidina Fitra, Devia Rahmi, Evi Chandra, Devarisa, Rika Rahmad, Eni Sapura, Defrizal, Tri Bayu Lestari, Nur Aisyah, Nesti Deswita, Rita Suryani. Magang: Sarli Wiryon, Gusriana Luxtarisia, Yunda Riski Ananda, Neni Putri Wahyuni, Hendri Putra, Kiki Julnasri Pratama, Prima Maulinda, Harini Sulastri, Zulfikar, Nela Gusti Hasanah, Desfrianto, Rada Marista, Irma Kristinadya Clara, Selfi Hastria Ningsih, Dedet Satria, Zulfikar, Restu Mutiara Sari, M. Juner, Yuni Marsela, Noris Afria Safitri, Tifany Diah A, Rahima Hayati, Gusmiati Ayu, Rizka Fauzia Akmal, Ahmad bil Wahid, Budi Satriadi, Andi S, Desy Maya Sari, Roni Ramadhan, Mickey Neldawati, Siti Jumatul Akidah, Titi Purnama Yuliarti, Muslim Siregar, Fitri Anisa, Okvia Novita Sari, Yefri Novela, Desria, Maisya Novilia Putri, Elfa Yanti.

Ada Apa dengan Kampus Kita?

Kolom

Terancam Putus

Arjuna Nusantara

Desember 2011 ini, musim hujan di Sumatera Barat. Musim tutup buku bagi perusahaan, intansi pemerintahan dan lembaga lain pada umumnya. Begitu pula kami mahasiswa Jurnalistik semester V (lima) IAIN Imam Bonjol Padang, terancam tu-

tup semester. Hal ini disebabkan, belum membayar biaya kuliah semester V (lima). Yang mestinya dibayar awal kuliah. Kami pun terancam tak bisa mengikuti ujian semester awal 2012 nanti. Saya salah satu calon korban. Korban kejamnya birokrasi. Awalnya, 25 mahasiswa angkatan pertama program khusus (PK) Jurnalistik teken kontrak di atas matrei 6000. Salah satu isi kontraknya, kami diberi beasiswa Rp 3.600.000/tahun selama empat tahun oleh pihak kampus. Jika ada yang berhenti kuliah, maka harus mengembalikan beasiswa itu. Dua tahun berlalu, kontrak sesuai koridor. Sirajudin Zar Rektornya. Masuk tahun ketiga, dengan Rektor Makmur Syarif, kontrak mulai teledor. Beasiswa turun drastis, menjadi Rp 1.200.000. Kabarnya untuk satu tahun juga. Sebelumnya, beasiswa Rp 3,6 juta, bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk biaya asrama, membeli buku, biaya les privat bahasa asing dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Pengembangan skill mahasiswa diutamakan Sesuai harapan dalam kontrak. Namun kini, dengan beasiswa segitu tak mampu rasanya menginjakan kaki di kampus ini. Bagaimana tidak, Rp 1,2 juta itu hanya cukup untuk bayar uang semester. Biaya asrama saja tak ada uang. Apalagi untuk beli buku dan peningkatan skill. Begitulah saya, berada dalam ancaman ekonomi. Ironisnya, ada diantara 25 teman saya itu, yang tidak mendapatkan beasiswa sepersen pun. Tanpa penjelasan. Padahal, diantara mereka ada yang kuliah dengan menghandalkan beasiswa yang dijanjikan dalam kontrak. Itu juga karena perekonomian keluarganya. Kami bertanya, apakah kontrak kami itu dengan Rektor atau dengan IAIN?. Pasalnya, berubah Rektor, berubah pula kontrak. Itupun secara sepihak. Mohon penjelasannya. Kami mahasiswa, bukan siswa. Menunggu Takdir Saya gelisah. Tak kalah gelisahnya dari teroris yang divonis hukuman mati. Persoalan masa depan. Hari ini, 22 Desember 2011, batas akhir pembayaran uang kuliah. Sampai saat ini, saya belum ada uang itu. Ujian semester saya pun terancam. Mengulang semester V ini hukumannya. Ah, Berat. Sebenarnya, beasiswa Rp 1.2 juta (yang seharusnya Rp 3,6 juta), sudah saya terima dua bulan lalu. Tapi, saya menggunakannya untuk biaya hidup. Bayar hutang di bulan lalu. Kiriman dari kampung pun tak ada. Maklum musim hujan. "Pening aku" menirukan Poltak. Orang tua saya yang keseharian menguliti pohon karet untuk mengambil getahnya dan ditukar dengan uang, sekarang tak lagi bisa. Tetesan getah berganti dengan air hujan. Tempurung penampungnya digenangi air langit. Ingin mengeluh, dosa. Tidak ada lagi panen sekali seminggu, tidak ada lagi ke pasar membeli sembako, tidak ada lagi mengirim uang kepada saya. Miris. Semester V yang sudah saya jalani empat bulan ini harus gagal. 24 SKS semester ini harus diulang. “Ampun nasib". Apakah kuliah saya berlanjut, atau dipanggil untuk memberi penjelasan karena tulisan ini.*

S

esekali berjalanlah ke kampus kita dengan santai. Nikmatilah suasana kampus kita. Apa yang didapatkan? Kirakira seperti yang saya tulis ini: Memasuki gerbang kampus, suasana seperti jalan raya sudah hadir di pandangan. Berbagai rambu-rambu tersebar di sepanjang jalan. Tak jelas apa maksud rambu-rambu itu. Mungkin untuk menjadikan kampus kita lebih teratur. Tapi, tak ada yang menaati peraturan itu. Sampai hari ini, ramburambu itu seperti tak ada gunanya. Parkiran tak teratur, masih banyak yang bawa kendaraan yang ngebut di lingkungan kampus kita. Seingat saya, rambu-rambu itu dibuat menjelang kuliah umum dengan Ketua DPR RI, Marzuki Ali beberapa bulan yang lalu. Oiyah, kampus kita semakin sering mengadakan kuliah umum. Alhamdulillah ya! Mungkin untuk memberikan citra bagus di mata orangorang. Tapi apa mesti dengan rambu-rambu? Sementara banyak yang lebih penting dibanding dengan rambu-rambu. Memasuki gerbang kampus, tengoklah ke sisi kiri. Lihatlah mesjid kampus kita. Masih belum tersentuh untuk perbaikan. Padahal ini sudah lebih dari dua tahun pasca gempa. Tapi, kondisi mesjid masih saja memprihatinkan. Rusak di sana-sini, jauh dari kesan layak. Sebagian aktifitas masyarakat kampus ini berlangsung di mesjid. Dengan kondisi “rusak� begitu, yang menjadi pertanyaannya adalah: Kapan diperbaiki?

Fresti Aldi

Pelajaran apa yang sebenarnya diajarkan kampus ini? Jika kita bertanya informasi tak ada yang memberikan jawaban dengan baik

Masuklah lebih ke dalam. Ingatlah beberapa hari yang lalu, di kampus kita ada aksi penanaman seribu pohon. Entah memang jumlahnya seribu atau tidak? Saya tidak tahu. Yang jelas, saya melihat lebih banyak jumlah pohon yang ditebang, dibanding yang ditanam. Katanya, penebangan pohon ini dilakukan untuk membuat taman di kampus kita. Taman seperti apa yang akan dibuat? Konsep seperti apa? Apa perlu mengorbankan kerindangan kampus untuk sebuah taman impian? Kata teman-teman, semenjak pohon-pohon ditebang, kampus sudah tak rindang lagi. Saat ber-

jalan di kampus, aroma panas menusuk kulit. Belum lagi, jika kita sekedar untuk mencari tempat peristirahatan, tak banyak pohon yang bisa diandalkan. Tak banyak lagi kambing-kambing yang berkeliaran. Sebab tak ada pohon yang mereka cari. Mudah-mudahan ini hikmahnya. Lalu, teruslah berjalan. Berbagai pemandangan masih saja kita dapati. Misalnya, mahasiswi. Wah, pakaiannya sudah sama saja seperti mahasiswa kampus lain. Tak banyak yang memakai baju kurung dan jilbab yang panjang. Apa yang mencirikan kampus ini Islami? Apa hanya karena kita belajar agama? Pelajaran apa yang sebenarnya diajarkan kampus ini? Jika kita bertanya informasi tak ada yang memberikan jawaban dengan baik. Masuklah ke beberapa bagian, jika mahasiswa yang bertanya, kita akan dibentak, dihardik dan dianggap mengganggu kerja. Lantas kepada siapa kita mesti mencari informasi jika ada yang ingin ditanya? Misalnya menanya informasi tentang beasiswa. Kabarnya beasiswa kali ini simpang siur. Benarkah? Kabar yang beredar, ada beasiswa yang ganda, ada beasiswa yang tidak keluar dan sebagainya. Kepada siapakah hendak kami tanyakan hal ini? Sebab, jika bertanya kami selalu tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sebetulnya ada apa dengan beasiswa? Kenapa begitu rumit urusannya. Ada apa dengan kampus kita sebenarnya?

InBox 08566918xxxx Aslm. Pak rektor, gimana kejelasan beasiswa DIPA untuk mahasiswa AS? Teman2 jurusan lain sudah dapat, kami kok blm juga? Tanggapan rektor : Kemarin memang ada sedikit kesalahan, dan itu sudah kita perbaiki. 08537426xxxx Aneh IAIN ko e, urang sadang gencar2nya penghijauan, nyo lamak se menebang2 pohon. Apo sabana e yg tajadi ko pak rektor? Tanggapan rektor : Pohon2 yang kita tebang itu karena sudah tua. Daripada nanti tumbang dan membahayakan, lebih baik kita tebang saja. Sebagai gantinya, walikota sudah menyumbangkan 6000 batang pohon ke IAIN untuk ditanam. Jadi kita juga sedang melakukan peremajaan kampus. 08566834xxxx Saya mulai suka dengan rektor skrg yang sangat mendukung kegiatan2 ekstra kurikuler mahasiwa di tiap UKM yang ada di IAIN Imam Bonjol. Tidak hanya itu, Rektor sekarang telah membenahi segala

infrastruktur yang ada di IAIN demi terciptanya kampus yang ideal. Lanjutkan :D 08779228xxxx Pak rektor, apa benar lembaga mahasiswa terbawah seperti HMJ tidak memiliki kebebasan penuh seprti lembaga kampus lainnya untuk meminjam fasilitas kampus sperti lapangan parkir? Tak hanya itu, ketika kami meminjam kursi untuk acara, kami mengajukannya sesuai prosedur, tapi pihak yang bersangkutan tak membolehkannya dengan alasan takut hilang. Ada apa ini sebenarnya pak rektor? 08536450xxxx Pak rektor tlg cairkan dana proposal kmi bia tbayia hutang kmi k urg lei. Ko lah lwat limit wktu kmi k urng mah pak. N tlng kaluaan uang lelah tim dsiplin pramuka jo tim kes dr KSR pak. Rkan2 dr menwa jo DEMA la dpek. Kmi koq alun? Tanggapan rektor : Kita tidak pernah mengenyampingkan dan membeda2kan lembaga mahasiswa yang ada. Semua kita fasilitasi sesuai dengan kebutuhannya.

Ungkapkan keluh kesah Anda atau masukan untuk kampus kita melalui SMS ke Suara Kampus. Kirim ke nomor 085274603860 dengan format; Nama- Bp/jurusan- pesan. Contoh: Abdullah-308.367/Muamalah - pesan Anda.

Foto: Andri ElFaruqi/Suara Kampus

EKSISTENSI KEBERAGAMAAN DI MINANGKABAU

Kita Bisa Hidup Damai K

onflik bernuansa agama telah melahirkan berbagai tindakan kekerasan yang melanggar hak asasi manusia. Tak perlu dijelaskan satu per satu, ada banyak sekali konflik yang terjadi di Indonesia yang disebabkan oleh Pluralisme Agama. Sebagai mana dilansir oleh Republika.co.id, berdasarkan hasil studi Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), kasus-kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia masih dinominasi kekerasan yang melibatkan agama. Direktur CRCS, Zainal Abidin Bagir, menjelaskan dalam launching dan diskusi Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2010 yang berlangsung di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM Jakarta (1/ 2), tercatat beberapa permasalah yang berkaitan dengan agama. Seputar rumah ibadah, ada 39 rumah ibadah yang menjadi persoalan. Menariknuya 70 persen kasus rumah ibadah

terkonsentrasi di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Zainal juga menjelaskan, ada 32 kasus yang terjadi menyangkut masalah antar umat beragama dan 4 kasus merupakan konflik internal umat beragama. “ Yang memprihatinkan, masih adanya kekerasan fisik sebanyak 17 kasus dalam masalah rumah ibadah tersebut,” tambah Zainal Dari keseluruhan kasus rumah ibadah, 24 kasus mengandung unsur ketiadaan izin. Namun dalam kenyataannya, ada 4 kasus rumah ibadah yang memiliki izin namun tetap saja dipersoalkan. Hebatnya, di Kota Padang hubungan antar umat beragama cukup harmonis, jarang sekali tersiar kabar adanya konflik antar umat beragama agama. Meskipun masyarakat minang memegang erat falsafah hidup Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, yang notabene lebih mengutamakan agama Islam. Namun masyarakat non-muslim mampu hidup ten-

ang di Kota Padang. Padang Harmonis Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumatera Barat (Sumbar), Drs. H. Ismail Usman membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, di kota Padang, keharmonisan antar umat beragama sudah baik, berbeda dengan daerah lainnya. “Bisa kita lihat di lapangan, tidak ada pemberontakan yang berlatar belakang penistaan agama, sehingga kecil kemungkinan terjadi pelecehan agama,” Ujar Ismail. Ia menjelaskan, hal itu disebabkan tingginya tingkat toleransi antar umat beragama di Ranahminang ini. Senada dengan itu, Ketua MUI Sumbar Prof. Dr. H. Syamsul Bahri Khatib ketika ditemui di ruangannya, Kamis (15/12), juga membenarkan hal tersebut. Menurutnya, sebagai kota yang multi etnis, hubungan antar umat beragama di Kota Padang amanaman saja, tidak ada hal pent-

ing yang membuat terjadinya kerusuhan seperti kota lain di Indonesia. Syamsul menjelaskan, hingga sekarang belum ada pengaduan secara resmi kepada MUI terkait hal tersebut. “Jika dilihat, di kota Padang ,tak ada kejadian yang membuat toleransi umat beragama itu terganggu, karena semuanya berjalan dengan baik sesuai aturanaturan yang berlaku di Sumbar,” tuturnya. Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN IB ini menambahkan, Sumbar merupakan daerah yang aman dan bisa menjaga toleransi antar umat beragama, karena tidak ada intervensi terhadap kelompok beragama dalam melaksanakan aktivitasnya. Sehingga kecil kemungkinan terjadinya konflik yang besar. “Jika dalam menjalankan aturan agama sesuai dengan UUD Negara, ketenangan dalam beribadah tidak akan terganggu. Selain itu, masyarakat telah mempunyai aturan, dan aturan itu lebih kuat dari aturan

tertulis,”jelasnya. Di tempat terpisah, Ketua PD. Majelis Buddha-yana Indonesia (MBI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Pandita Sudharma SL mengaku kerukunan hidup beragama di Kota Padang cukup baik. “Di Padang kerukunan itu sudah baik, meski masih ada riak-riak kecil, tapi itu tidak sampai membuat kerisuhan,” ujar Pandita ini. Ia menjelaskan, bagi Buddha kebahagiaanlah yang paling penting. “Amanat Buddha bukan menjadikan semua orang beragama Buddha, tapi kami hanya meningkatkan kualitas keberagamaan orang yang ada dan menunjukkan kebaikan. Tujuan Buddha adalah membuat orang bahagia, jika mereka sudah bahagia dengan agama mereka sekarang, berarti tujuan Buddha telah tercapai,” tegasnya, saat diwawancarai di Wihara, Sabtu (26/11). Menurut Sudharma, secara keseluruhan hubungan sosial Buddha dengan agama lainnya

baik-baik saja, bahkan kami rukun dan hidup dinamis. “Dari dulu hingga saat ini, kehidupan umat beragama di Sumbar sudah baik, yang harus kita jaga itu adalah orang-orang yang memprovokasi. Pesan saya, jangan sampai masuk ke ladang orang,” tuturnya. Di sisi lain, Pimpinan Gereja Huria Kristen Batak Protestant (HKBP) Resort Sumbar, Pdt. S. Manullang, S.Th juga mengatakan hal yang sama. “Di kota Padang, hubungan beragama cukup baik dan sangat toleran. Tidak seperti daerah lain yang ada gangguan antar sesama pemeluk agama,” ujarnya, Kamis (08/12). “Minang sangat terbuka menerima kehadiran kami disini, ini saya lihat dari toleransi yang mereka berikan. Saya sudah enam tahun disini, dan memang tidak pernah ada gangguan dari masyarakat sekitar,” tambahnya. Menurut Manullang, dalam beraktivitas harus saling memahami. “Kita hanya perlu saling mengasihi sesama umat beragama. Saya menilai Islam menganjurkan kebenaran, dan siapapun pemeluknya, pasti menjalankan kebenaran. Sehingga benturan itu tidak pernah terjadi,” tegasnya. Ia mengatakan, kerukunan ini harus dijaga. “Saya harap kerukunan ini terus berlanjut. Jangan ada yang mencoreng. Persoalan isu-isu kristenisasi itu tidak perlu dibahas. Itu hanya isu dari orang-orang yang tidak mengerti,” ujarnya. Politik Berbeda dengan yang lainnya, Ketua Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN IB Padang, Faisal, M.Ag mengatakan konflik yang terjadi antara umat beragama merupakan persoalan politik, bukan toelogis. “Kita hanya mengajak masuk Islam bukan memaksa orang lain. Peperangan yang dilakukan pada zaman Rasul karena alasan politis bukan teologis. Bahkan rasul menugaskan orang-orang kafir untuk melakukan tugas kenegaraan,” kata Faisal. Secara sosiologis, kita boleh bermuamalah dengan umat beragama lain. “Toleransi itu berada di wilayah muamalah. Tapi secara teologis, jelas Islam adalah satu-satunya agama yang benar,” tegasnya. Dinamika antar umat beragama bisa maju, bisa juga mundur. Disinilah letak peranan tokoh-tokoh agama. Untuk memberikan informasi dan pemahaman pada umatnya. ersoalan antar umat beragama di Sumbar seperti riak-riak kecil yang kemudian menghilang. Seperti isu pemurtadan atau kristenisasi melalui bantuan gempa atau pendirian rumah ibadah. “Konon ada yang menemukan al-kitab dalam bingkisan bantuan. Tapi persoalannya, siapa yang melakukan hal tersebut?” terangnya.

Keberagaman itu sunnatullah. Allah yang menghendaki keberagaman. Jika Allah mau, kita semua bisa menjadi orang yang beriman. Disitulah letak fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan-red). Dalam keberagaman itu kita menunjukkan kesempurnaan Islam Lebih lanjut dosen yang berasal dari Pasaman Barat ini mengatakan, persoalan antar umat beragama itu ada di Sumbar. Hanya saja tidak disikapi dengan emosional dan berlebih-lebihan. “Keberagaman itu sunnatullah. Allah yang menghendaki keberagaman. Jika Allah mau, kita semua bisa menjadi orang yang beriman. Disitulah letak fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikanred). Dalam keberagaman itu kita menunjukkan kesempurnaan Islam,” katanya. Agama adalah persoalan yang fundamental, krusial, emosional dan sensitif. “Berawal dari saling mencaci dan berakhir dengan konflik. Jika terjadi perang antar agama, maka tidak ada istilah kalahmenang. Semua pihak kalah. Karena kemanusiaan telah hancur,” ujar Faisal. Ikut Membantu Ka.Kanwil Kemenag Sumbar mengatakan, sampai sekarang belum ada percecokan antar umat beragama. Karena adanya beberapa program pemerintah dari pusat sampai ke daerah. Diantaranya Forum Perhimpunan Agama, yang bertujuan untuk menyatukan pandangan antar umat beragama di kota Padang, dalam jangka waktu satu kali sebulan. Ismail,hanya melanjutkan program pemimpin terdahulu. Adanya orientasi peningkatan umat beragama yang ditujukan untuk seluruh umat beragama seperti adanya acara Munas Pastural Leuskupan di Sumbar. “Saat ini, kami berusaha meningkatkan program-program yang lama yang sekaligus meningkatkan kualitas antar umat beragama. Program tersebut sudah ada acuannya. Saat ini, sudah ada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang menyatukan pandangan dan presepsi dalam kehidupan antar umat beragama. Jika ada miss understanding, persoalan tersebut dapat dipecahkan di FKUB,” ujar mantan Kepala Bidang Penamas ini. Kata Ismail, Kanwil Kemenag ini tidak hanya untuk satu agama saja, mewakili seluruh umat beragama. Di sini kami

menyatukan tokoh-tokoh agama, Islam, Katolik, Prostetan, Hindu dan Buddha. Ismail mengungkapkan, di Padang sudah ada tempat-tempat ibadah masing-masing agama, dan tidak menjadi masalah. Malahan jika tidak ada rumah ibadah, itu yang menjadi masalah. Sementara itu, Pandita Sudharma SL mengatakan, Buddha tidak mempunyai kendala dalam melaksanakan ibadah, karena telah bekerjasama dengan Polisi. “Dalam melaksanakan ibadah di Wihara, kami tidak punya kendala. Pada hari besar Waisak, kami ada prosesi keliling kota. Pihak kepolisian juga ikut membantu kami, sehingga tidak ada kendala yang dihadapi,” tuturnya. Senada dengan Pandita Sudharma, Pdt. S. Manullang mengatakan, situasi sangat tenang, aman dan damai saat melakukan peringatan hari besar. “Biasanya Polisi dan Intel selalu diutus, bahkan mereka menyisir dengan mengantisipasi hal-hal yang dikhawatirkan. Sekarang setiap hari besar, Polisi selalu datang ke gerejagereja dan minta konfirmasi. Menurut saya, pemerintah sudah ada antisipasinya,” ungkapnya. Seperti dikutip dari Antaranews.com, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta masyarakat untuk tidak memaksakan keyakinan atau menggunakan kekerasan dalam kehidupan antar umat beragama. “Kita tidak boleh memaksa, apalagi melakukan tindakan kekerasan dan anarkis terhadap mereka yang berbeda,” ujar Yudhoyono saat memberikan sambutan dalam Perayaan Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Stadiun Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Menurut SBY, setiap agama pasti mengajarkan nilai luhur dan kebaikan. Nilai-nilai itu bisa menjadi dasar dan modal utama untuk membangun karakter bangsa. Presiden menjelaskan, keragaman budaya dan agama di Indonesia harusnya tidak menjadi potensi perpecahan.

“Kemajuan bangsa kita adalah kekayaan yang harus kita syukuri,” katanya. Untuk itu, kata Yudhoyono, semua warga negara Indonesia harus saling menghormati dan menghargai meski hidup dalam perbedaan. Pemerintah akan terus berupaya untuk menciptakan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang damai, penuh persaudaraan, dan kebersamaan. “Kita harus tunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa hidup dalam keberagaman,” kata Kepala Negara ini. Saling Membantu Ketika ditanyai persoalan bantuan dari agama lain, Pandita Sudharma SL mengatakan bantuan secara langsung tidak ada, hanya sekedar bantuan pemikiran saja. “Memang tidak ada bantuan langsung, misalkan pada saat kami membangun Wihara ini, ada gangguan dari preman-preman di sini, tapi untungnya Ketua Lurah membantu kami dengan memberi pengertian kepada para preman itu,” ucapnya. Pandita ini juga mengatakan, kami juga ada membantu warga sekitar. “Pada saat gempa 30 September 2009 lalu, di Wihara ini, kami menyediakan sumur bor dan genset (Generator set-red), jadi banyak masyarakat sekitar yang numpang tinggal, bahkan kami membuka dapur umum dengan menyediakan makanan yang halal,” tuturnya. Di tempat terpisah, Pdt. S. Manullang mengaku bantuan antar sesama ada. Tapi bantuan secara langsung belum ada. “Bantuan yang ada hanyalah, dengan kondusifnya hidup kami disini, itu adalah bantuan yang sangat berharga bagi kami,” kata Manullang saat diwawancarai di Gereja HKBP. Murtad Bukan Orang Minang Salah seorang budayawan Sumbar, Suhendri mengatakan, sampai hari ini, di Minangkabau tidak ada benturan antar umat beragama. Kecuali ada suatu kelompok yang ingin menghancurkan kerukunan antar umat beragama, karena ketidaknyamanan mereka me-

lihat keharmonisan antar umat beragama. “Sejauh kita tidak saling menginterventasi, dengan artian, mereka tidak berusaha mengembangkan agama mereka dan kita tidak memaksa mereka masuk agama kita, benturan tidak akan terjadi. Kita sebenarnya telah diajarkan oleh agama kita tentang toleransi pada umat agama lain,” tambahnya saat diwawancarai di Taman Budaya Padang. Syuhendri juga menjelaskan, selama kita masih bisa menjaga harkat dan martabat masing-masing, tidak jadi masalah, sekalipun ada yang mempolitisir, kita tidak akan berusaha memaksa umatnya untuk masuk Islam. “Agama-agama yang masuk ke Minangkabau, tidak ada yang meracuni agama kita, yang mempolitisir itu bukan kita, tetapi sesuatu yang datang dari luar yang risih melihat kerukunan kita dengan agama yang lain,” ungkapnya. Dalam adat, orang minang yang menganut agama selain Islam, tidak dianggap lagi orang minang. “Secara emplisit, adat tidak mengasingkannya. Tetapi si murtad itu sendiri yang mengasingkan diri dari keluarganya. Sama seperti orang lain yang menjadi muallaf, mereka juga dikucilkan dari keluarganya,” jelasnya. Ketua LKAAM cabang Padang, Prof. H. Z. H. Dt. Rajo Lenggang juga mengatakan hal yang sama. “Urang Minang, jikok inyo murtad, bukan urang Minang lai,” ucapnya di kantor LKAAM, Rabu (14/12). Rajo Lenggang mengungkapkan bahwa dalam adat minangkabau, orang yang keluar dari Islam tersebut akan keluar langsung dari kekerabatannya, bukannya ada semacam aturan dalam adat tersebut, tetapi masyarakat itu sendiri yang menghukunnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam Minangkabau tidak ada pembauran agama, Minangkabau seluruhnya adalah penganut ajaran agama Islam, kecuali yang masih terpengaruh dengan kebiasaan ajaran agama Hindu dan Buddha. “Tidak Islam tidak orang minangkabau,” tegasnya. Orang minangkabau harusnya bersikap terbuka, jika dikaitkan dengan pergaulan umat antar beragama. “Tidak ada pemaksaan dalam islam, la naa a’malunaa wa lakum a’malakum,” ujar rajo lenggang ini. Agama apapun pada dasarnya mengajarkan umatnya untuk berbuat kebaikan. Semua agama mendambakan kehidupan yang harmonis. Jika setiap penganut agama menjalamkan perintah agamanya masingmasing sesuai. [Laporan: Efi Salinda, Gita Jonelva, Yulia Vita Ramayona, Fitria Marlina, Ababil Gufron, Evi Candra, Syarli Wiryon/ Editor: Ababil Gufron]

Pro Kontra Kebijakan Rektor Baru

OSEN Fakultas Tar biyah, Drs. Zainimal, M.Ag, M.Pd, menyatakan, pada poin (1) yang diwajibkan membayar zakat adalah karyawan/karyawati golongan III dan IV. Akan tetapi, dalam praktiknya gaji dosen juga dipotong. Padahal yang ditulis dalam Surat Edaran tersebut hanya bagi karyawan/ karyawati. Selain itu, muncul pertanyaan. Yang dizakatkan gajikah atau golongan? Sebab bisa saja dua orang PNS yang golongannya sama, yang satu diwajibkan zakat karena gajinya sampai senisab (setara dengan 5 wasaq), dan yang lainnya tidak wajib zakat karena gajinya tidak sampai senisab. Lebih lanjut dosen Sosiologi Pendidikan ini menyatakan, “Pada awalnya saya mengira bahwa zakat yang diwajibkan IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, kalau gajinya sampai senisab. Ternyata ketika saya menandatangi amprah gaji bulan Oktober 2011, saya kaget karena gaji saya juga dipotong dan ada banyak PNS yang lain yang nasibnya juga serupa dengan saya. Gaji Dipotong. Padahal gaji saya dan yang lainnya tersebut tidak sampai senisab. Ketika saya tanyakan kepada Bendahara, dikatakan bahwa semua gaji PNS golongan III dan IV dipotong. Pihak IAIN memotong 2,5% berdasarkan gaji kotor (belum dikeluarkan utang), bukan gaji bersih,” ungkapnya. Mengaku resah dengan hal ini, Zainimal mengirim surat kepada rektor IAIN IB Padang pada Selasa (11/10) lalu dalam bentuk makalah, yang berisikan tanggapan dan gambaran suasana batin beberapa pihak terkait Surat Edaran tersebut, dengan judul Fatwa Pemotongan Gaji PNS untuk Zakat ala IAIN Imam Bonjol Padang. Sebelumnya, ia juga mengirim tulisan berjudul Quo Vadis IAIN Imam Bonjol Padang. Namun karena tidak ada tanggapan dari rektor, ia kembali mengirim surat pada hari Kamis (24/11). Surat diberikan kepada mahasiswa untuk disampaikan kepada tujuan. “Saya minta tolong kepada mahasiswa sebab kaki saya belum bisa berjalan karena masih ngilu akibat kecelakaan beberapa minggu yang lalu. Untuk surat yang sebelumnya, saya langsung yang mengantarkan,” jelasnya. Tembusan surat pertama disampaikan kepada: pertama, Dekan Fakultas Adab; kedua, Dekan Fakultas Dakwah; ketiga, Dekan Fakultas Syari’ah; keempat, Dekan Fakultas Tarbiyah; kelima, Dekan Fakultas Ushuluddin; keenam, Direktur Program Pascasarjana. Namun surat kedua, tembusannya ditujukan kepada Senat IAIN Imam Bonjol Padang. Pada bulan November,

FOTO : HUMASIAIN IB

Pemotongan Gaji Atas Nama Zakat D

ZAKAT: Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Makmur Syarif, menyerahkan hasil zakat yang dikeluarkan dari gaji pegawai kampus.

Fakultas Adab atas nama Fakultas menolak pemotongan gaji yang dilakukan untuk kedua kalinya, sehingga gaji mereka tidak dipotong. Namun pada bulan sebelumnya pemotongan gaji tersebut diberlakukan untuk semua Fakultas. Zalnimal mengaku akan mendatangi rektor secara langsung jika masih tidak ada tanggapan. Sementara itu, rektor menyatakan akan menerima dengan terbuka kedatangan dosen yang ingin mendapatkan kejelasan tentang pemotongan gaji ini. Berlandaskan Nash, Terkait pemotongan gaji atas nama zakat ini, Dra. Hj. Idda Trisna, Dosen Fakultas Tarbiyah menyatakan tidak keberatan dengan hal itu. Namun, ia mengharapkan ada kejelasan terkait alokasi dana tersebut. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman. Karena belakangan ini sering terjadi tindakan korupsi. “Lebih baik diberikan kejelasan untuk apa digunakan uang tersebut, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ucapnya saat diwawancarai di ruang dosen, Senin (19/12). Menanggapi hal itu, Prof. Dr. H. Makmur syarif SH, M.Ag mengatakan, “Dalam alQur’an, Allah telah menyebutkan perintah untuk membayar zakat beriringan dengan ayat shalat. Memang tidak ada nash shahih yang menyatakan kewajiban membayar zakat profesi secara langsung. Tapi kewajiban membayar zakat dipahami dari ilmu mukhayyat,” jelasnya.

“Mereka bekerja, digaji dan ada tunjangan dosen, tunjangan sertifikasi. Dari total gaji sebesar 3 atau 4 juta, diambil zakatnya 2.5 %,” ungkap rektor di ruangannya, Selasa (20/12). Makmur juga menjelaskan, surat edaran ini telah dibahas dalam rapat senat. Jika ada yang tidak setuju dengan pemotongan gaji, ini dikarenakan mereka tidak mengerti. Namun setelah itu ada surat dari dekan dan gaji pegawai tetap dipotong. Menurut H. Gusrizal Gazahar, Lc, M.Ag, Dosen Fakultas Syari’ah, pembayaran zakat berlandaskan kepada nash (Al qur’an dan Hadits) bukan berdasarkan loyalitas ataupun keputusan senat. Pembayaran zakat profesi juga harus bisa dipertanggungjawabkan dalam kajian ilmiah zakat profesi. “IAIN IB Padang adalah lembaga ilmiah, pertanggungjawabkan dulu kajian ilmiah zakat profesi, sebelum kita berbicara dan menuntut orang dengan alasan loyalitas ataupun keputusan senat,” ujarnya saat diwawancarai di ruang dosen Fakultas syari’ah, Rabu (21/12). “Mengambil satu senpun harta orang tanpa jalan yang haq, itu adalah kebathilan,” tegasnya. Ketua bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat ini juga mengemukakan dasar-dasar zakat profesi. Diantaranya: Pertama, zakat itu dinilai apakah ia masuk ke dalam kategori harta zakat atau tidak. Gaji termasuk dalam kategori umum yang dis-

ebutkan dalam surat al Baqarah, maa kasabtu dan telah dimuzakarah oleh MUI, maka gaji termasuk harta zakat. Kedua, Masuk kategori apa zakat itu? Setelah diuji dalam muzakarah MUI Sumbar tahun lalu, yang dihadiri para profesor dan petinggi IAIN IB, termasuk Prof. Dr. Makmur Syarif, SH, M.Ag, Prof. Dr. H. Salmadanis M.Ag dan Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin diketahui bahwa mengqiyaskan gaji kepada zakat pertanian adalah qiyas yang bathil dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. “Saya bertanggungjawab menjelaskan hasil muzakarah itu kepada umat, termasuk IAIN IB. Zakat gaji adalah zakat uang. Karena yang diterima oleh dosen di IAIN adalah uang, bukan padi. Berarti seluruh ketentuan dari zakat uang berlaku terhadap zakat gaji baik dari sisi haul ataupun dari sisi hisab. Dan dari hasil pertemuan tersebut, juga dijelaskan cara menentukan nisab zakat gaji,” jelasnya. Dosen lulusan al-Azhar ini menambahkan, zakat dibebankan kepada orang kaya. Dalam menilai kekayaan seseorang, tidak bisa hanya dengan melihat golongannya III atau IV. Namun kita tentukan dengan melihat berapa penghasilan dan jumlah kewajiban serta tanggungannya. Selain itu kita harus memperhatikan apakah harta itu bebas dari hutang atau tidak. Dan hutang tidak bisa digeneralkan. Maka harus diperiksa. Dalam

konteks ilmiah hatta’amin, generalation itu salah. Dosen yang mengajar mata kuliah Ushul Fiqih tersebut mengatakan, tidak tertutup kemungkinan ada orang golongan III dengan gaji 3 juta dan belum disertifikasi. Tinggal di rumah kontrakan dengan empat orang anak. Gaji pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sampai-sampai orang di sekitar tempat tinggalnya kasihan dan memberikan zakat padanya. Tapi di IAIN, gajinya dipotong untuk zakat. “Apakah secara logika bisa kita terima keadaan demikian?,” tambahnya. Zakat profesi ini sudah ada sejak zaman khullafa’urrasyidin. Dalam kitab muwattha’, dijelaskan pengambilan zakat profesi harus memperhatikan kondisi ekonomi orang yang berzakat. “Berdasarkan keputusan muzakarah MUI Sumatera Barat yang dihadiri Bazda seSumbar termasuk Bazda propinsi, MUI Kab dan kota Sumbar serta para profesor IAIN IB, maka saya tidak akan pernah meyetujui hal ini. Walaupun mereka tanpa persetujuan memaksa memotong gaji saya. Saya tidak akan pernah takut. Apapun resikonya. Meski ditahan dan tidak dinaikkan pangkat sampai mati. Kelak di hadapan Allah kita berhak. Kezaliman pasti akan diselesaikan,” tegasnya. Lebih lanjut Dosen yang biasa disapa GG ini menyatakan, “Dalam sebuah lembaga ilmiah, perbedaan pendapat itu

FOTO : HUMASIAIN IB

biasa. Dalam kitab fikih, mayoritas ulama berbeda pendapat. Kenapa kekusaan dipergunakan sebagai alat? Padahal orang tidak setuju,”. “Saya tidak pernah menahan mereka memotong gaji saya. Tapi saya punya hak untuk menyatakan bahwa ini keliru,” katanya. Buya yang berasal dari kota Solok ini menghimbau para penguasa di manapun, termasuk IAIN, takutlah kepada Allah dalam mempergunakan kekuasaan untuk menzalimi orang lain. Ia juga menyatakan, tidak akan pernah mundur walaupun diintimidasi dengan cara seperti ini. “Bertaqwalah! Tinggalkan sedikit ketakutan kepada Allah dalam mendzalimi hak orang lain,” himbaunya. Ingat Mu’az bin Jabbal ketika diutus oleh nabi ke Yaman jadi amil zakat, nabi berkata kepadanya: “Aku peringatkan engkau, jangan diambil harta manusia yang terbaik”. Jadi bertaqwalah kepada Allah, siapa yang punya kekuasaan. Kekuatan tidak abadi. Allah berikan kekuasaan pada siapa yang dikehendakinya, dan mencabut kekuasaan seseorang dengan kehendaknya. “Kita senang menerima kekuasaan dalam waktu sekejap. Tapi pertanggungjawabannya berat,” ungkapnya. “Jika mau sadar Alhamdulillah. Jika tidak mau, tugas saya sudah selesai. Menyampaikan! Saya terima akibat dari apa yang saya sampaikan. Saya rela dan bertawakkal kepada Allah” tutupnya. Menanggapi sejumlah kritikan terkait kebijakan pemotongan gaji, Makmur mengungkapkan, “ Kita sudah melakukan sosialisasi tentang zakat untuk gaji pegawai ini. Semua sudah jelas. Sekalipun ada pegawai yang tidak setuju, tidak masalah. Yang penting zakat itu tetap diberlakukan,” tegasnya. IAIN Tandatangani MoU dengan BAZDA Padang Kebijakan Rektor ini diamini Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, “Zakat itu sama seperti buang air besar, kalau tidak dikeluarkan, akan jadi penya kit. Tidak akan memberikan manfaat pada tubuh,” tuturnya saat menghadiri upacara bendera di lapangan parkir IAIN IB Padang, Senin (19/12). Dalam upacara ini, Fauzi Bahar bertindak sebagai inspektur upacara. Fauzi Bahar juga menentang pihak-pihak yang seharusnya mengeluarkan zakat, tapi tidak mau mengeluarkannya. “Orang yang dikatakan miskin itu adalah orang yang memiliki hutang dan tidak memiliki kemampuan untuk membayar. Beda dengan PNS. Mereka punya hutang, tapi rumahnya permanen dan punya motor. Itu tidak bisa dikatakan miskin,” jelasnya. “Kalau ada ustadz yang menolak untuk membayar zakat, itu termasuk tanta-tanda kiamat sudah dekat,” selorohnya.

KERJASAMA: RektorIAIN Imam Bonjol Padang Makmur Syarif menandatangani kerjasama pengelolaan kepada Bazda Kota Padang.

Setelah upacara berakhir, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara BAZDA Kota Padang dengan IAIN Imam Bonjol Padang. MoU ini ditandatangani langsung oleh Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. H. MakmurSyarif, SH. M.Ag sebagai pihak pertama, Ketua BAZDA Kota Padang, Prof. Dr. Salmadanis, M.A sebagai pihak kedua serta Walikota Padang, Fauzi Bahar dan Kepala Biro AUAK IAIN IB, Drs. AmrulWahdi, MM sebagai saksi. Dalam MoU tersebut dinyatakan, IAIN sebagai pihak pertama akan menyerahkan infaq, sedekah dan zakat dari pimpinan, dosen dan staf IAIN kepada pihak kedua (BAZDA) untuk dikelola sesuai dengan syari’at dan UU. Penebangan Pohon di Kampus Hijau Di tengah banyaknya bencana yang diakibatkan penebangan pohon secara ilegal, IAIN IB yang terkenal dengan sebutan kampus hijau ini, justru menebang sebagian besar pohon yang menjadi pelindung selama bertahun-tahun. Seorang pegawai Fakultas Adab, menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan Rektor, yang menebang sebagian besar pohon di kampus ini. ”Kami kecewa terhadap keputusan rektor untuk menebang pepohonan yang ada di lingkungan IAIN, karena mengakibatkan keadaan kampus menjadi sangat panas dan gersang. Selain itu, kurangnya komunikasi antara atasan dan bawahan menimbulkan kesalahpahaman. Pemimpin kita terkesan otoriter,” terang seorang karyawan yang tak ingin disebutkan namanya ketika diwawancarai Suara Kampus (8/12/11). Ditemui usai upacara bendera di Lapangan Parkir, Rek-

tor IAIN menyatakan, “Kita menebang pohon-pohon tua yang ada di kampus ini, untuk peremajaaan pepohonan. Pohon yang sudah tua kita ganti dengan pohon baru yang disumbangkanWali Kota Padang sebanyak 6000 bibit batang pohon,” kata Makmur. “Disamping itu, penebangan pohon juga bertujuan untuk menghindari timbulnya kerugian. Seperti pohon tumbang yang menimpa mobil salah seorang dosen, dan menimpa tiang listrik,” ujarnya. Tomi, mahasiswa Fakultas Dakwah menilai, kampus IAIN menjadi lebih rapi dan bersih setelah dilakukan penebangan pohon. “Setelah ditebang, dilakukan pemasangan batu batako sehingga kampus lebih terlihat rapi dan bersih,” ungkapnya saat ditemui usai perkuliahan di gedung fakultas Dakwah, Senin (19/12). “Penebangan pohon terkait dengan pembuatan taman itu biasa saja.Yang tidak boleh itu penebangan ide inovasi yakni perbedaan persepsi tentang penebangan pohon,” ungkap Wakidul Kohar, ketua jurusan KPI saat dihubungi di sela-sela kesibukannya dalam acara temu ramah dengan mahasiswa dari Malaysia, Senin (19/12). Untuk mengganti pohon yang telah ditebang tersebut, pemerintah kota Padang telah menyediakan 6000 bibit pohon. Penanaman bibit pohon ini secara simbolis dilakukan langsung oleh Fauzi Bahar, Makmur Syarif, Salmadanis sebagai Ketua BAZDA Kota Padang dan Raichul Amar Peraih Satyalacana 2011 dari SBY. Hal ini merupakan bentuk realisasi program go green di IAIN Imam Bonjol Padang. Rektor nan Disiplin Ditengah banyaknya kritikan yang disampaikan civitas akademika terhadap kepemim-

pinan Makmur, namun dengan karakternya yang lurus, jujur dan tegas, Guru Besar fakultas Syari’ah itu telah membawa harapan untuk IAIN yang lebih baik. Hal ini disampaikan Drs. Sarwan, MA, Ketua Jurusan MDI (Menajemen Dakwah Islam) Fakultas Dakwah, di ruangannya, Jum’at (25/11). Sarwan menilai, ada beberapa hal positif semenjak IAIN dipimpin Mantan Direktur Pasca Sarjana itu. Seperti pembayaran tunjangan ketua jurusan dan mutasi kepegawaian di lingkungan IAIN IB. Persoalan tunjangan (honor) Ketua Jurusan, menurut Sarwan bukan masalah Rektor. Namun penempatan pegawai memang menimbulkan polemik. “Dalam melakukan mutasi pegawai, ada tim yang menilai. Bukan sesuka hati rektor saja meletakkan seseorang di posisi tertentu. Namun ada sistem manajemen di institusi yang meletakkan orang pada tempatnya. IAIN saat ini sedang dalam masa transisi, sedang dalam masa perbaikan. Dalam pemindahan jabatan, banyak yang tidak mau setelah ditunjuk. Bahkan banyak yang ingin berhenti. Saya tidak tahu apa sebabnya,” kata Sarwan. Hal senada juga diungkapkan Dra.Gusnida, M.Ag, Ketua Jurusan Ahwal asy-Syakhsiyyah Fakultas Syari’ah. “Memang sudah ada perbaikan, tapi jika kita ingin melihat perubahan yang mencolok, tentu tidak secepat yang kita inginkan,” ucapnya. Rektor IAIN juga menunjukkan keseriusannya dalam penegakan kedisiplinan di kalangan pegawai, dengan mengharuskan pegawai yang telah PNS untuk memakai Kartu Identitas Pegawai setiap hari kerja. “Pegawai yang PNS diharuskan memiliki pening (Kartu Identitas Pegawai) dan

memakainya setiap hari kerja. Jika ada yang melanggar, diberikan teguran,” kata Drs. M. Basyiruddin Usman, M.Pd, KetuaJurusan PAI. Ketika ditanya tentang mutasi pegawai, Basyiruddin Usman mengatakan, “Hal ini dilakukan setiap pergantian pemimpin untuk penyegaran. Sejauh ini, menurut saya pegawai telah diposisikan sesuai kompetensi masing-masing,” jelasnya. Dalam pandangannya, perubahan belum begitu tampak karena banyak kendala. “Namun untuk setahun ke depan, saya yakin akan terlihat perubahan. Sejauh ini, Rektor sudah mulai menegakkan kedisiplinan, perkuliahan dan keuangan,”. Nahrul, kepala TU Fakultas Ushuluddin menyatakan, “Dalam masalah perencanaan anggaran, bisa dikatakan sudah berhasil. Perbaikan sarana dan prasarana sesuai dengan progam kerja dan banyak hal yang sudah berhasil walaupun belum maksimal. Dan untuk kedepannya kami berharap agar rektor berkomitmen dengan progam kerja dan misi yang telah dirancang, sehingga bisa menghasilkan yang terbaik untuk IAIN, melahirkan sarjana yang berkualitas dan berakhlak mulia. Selain itu, secepatnya rektor menginstruksikan agar melengkapi sarana dan prasarana yang masih kurang,” ujar Nahrul ketika diwawancarai Suara Kampus, Kamis (1/12/2011). Sekeras apapun seorang pemimpin, alangkah baiknya meneladani Umar bin Khatab. Dia tegas, keras dan berwibawa. Namun, terbuka untuk menerima aspirasi dari rakyatnya. (Sri Handini, Zulfikar, Ari Yuneldi, Tifani Diah Annisa, Epi Candra, Riri M.Nur, Kiki Julnasri Pratama, Ahmad Bil Wahid/ Editor : Gita Jonelva)

H. Raichul Amar Peraih Anuggrah Kehormatan Satyalacana Pembangunan 2011

Foto: Dok. Pribadi

Tumpukan Koran Antar Raichul ke Istana P

EMERINTAH RI memberikan anugerah tenda kehormatan Satyalacana Pembangunan kepada 12 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Penghargaan tersebut disematkan langsung oleh Wakil Presiden RI, Boediono pada acara puncak peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), 5 November 2011 lalu. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang yang telah berjasa dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Individu ataupun kelompok yang pernah meraih Kalpataru, serta masih menunjukkan eksistensinya sekurang-kurangnya selama sepuluh tahun. Keduabelas orang tersebut adalah Mashuri dari Kabupaten Wonosobo (Jawa Tengah), Raichul Amar dari Padang (Sumatera Barat), Frans Manansang dari Kabupaten Bogor (Jawa Barat), Didi SJ Manengkey dari Kabupaten Minahasa (Sulawesi Utara), Marthen Mandenasi dari Kabupaten Yapen Waropen (Papua), Antipas Laana dari Kabupaten Alor (Nusa Tenggara Timur), Mujiman dari Kabupaten Kulon Progo (Daerah Istimewa Yogyakarta), Supri dari Kabupaten Bondowoso (Jawa Timur), Mulyono Herlambang dari Kabupaten Karang Anyar (Jawa Tengah), Kade Sidiyasa dari Kabupaten Kutai (Kalimantan Timur), Rustam Ibrahim dari LP3ES Jakarta dan Huki Radadiman dari Kabupaten Sumba Timur (Nusa Tenggara Timur). Salah seorang dari duabelas orang tersebut adalah dosen Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Raichul Amar, setelah melewati beberapa tahap penyeleksian, mantan Pembantu Rektor II IAIN IB ini terpilih untuk mendapatkan Satyalacana Pembangunan Tahun 2011. Alumni Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta ini, bahkan memajang ha-

SEMAT: Wakil Presiden Boediono menyematkan Penghargaan Satyalacana Pembangunan 2011 kepada Raichul pada puncak acara oeringatan HCPSN

sil jepretannya tentang lingkungan diseluruh dinding rumahnya ketika proses penilaian dilakukan tim dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Jakarta. Kepada Suara Kampus Raichul Amar menceritakan alasan ketertarikannya melestarikan lingkungan hidup. “Pada lebaran tahun 1984, saya melihat orang-orang yang shalat ‘id beralaskan Koran di bawah sajadahnya. Bukan Koran bekas, tapi Koran baru yang dibelinya pagi itu. Setelah sholat, mereka tidak membawa korannya, tapi hanya membawa sajadahnya. Pada waktu shalat Zuhur, saya lihat banyak sekali Koran yang berserakan. Padahal kalo dipikir-pikir, orang yang membuat Koran itu pasti kelimpungan dalam merampungkannya, tapi mereka hanya membeli dengan harga murah saja masih tidak menghargainya. Tidak masalah jika tak menghargai karya sebuah media, yang menjadi persoalan bagi saya, koran itu membentuk segunung sampah yang mengganggu mata

orang yang melihatnya,” jelas Bapak tiga anak ini. “ Berawal dari peristiwa itulah saya mulai fokus dengan segala hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Lebih fokus lagi dengan pameran foto tentang lingkungan. Sampai saat ini saya sudah 97 kali melakukan pameran foto sampai ke luar negeri,” ujarnya. Selain itu Pria kelahiran 1945 ini juga sering menulis tentang lingkungan di media massa lokal, seperti Harian Haluan, Singgalang, dan Mingguan Canang. Tidak hanya itu, ia bahkan juga menulis puisi bertema lingkungan hidup. Serta memberikan ceramah lingkungan hidup disetiap kegiatan kampus. Pada 5 Juni 1999, Raichul menerbitkan buku yang berjudul Bumiku Dulu Bumiku Kini, yang berisi kumpulan puisi dan foto lingkungan hidup. Selain Pengharagaan Kalpataru 2000, dosen yang tengah menyelesaikan program Doktoral di Pasca Sarjana IAIN IB Padang ini juga pernah mene-

rima penghargaan Kalpataru tingkat provinsi kategori Perintis Lingkungan dan Kalpataru tingkat II Padang tahun 1990 dalam kategori Pengabdi Lingkungan. Prihatin Terhadap Penebangan Pohon di Kampus Pria pencinta lingkungan ini sempat gusar ketika mengetahui pohon-pohon selingkungan Kampus IAIN IB ditebang. Padahal, pemerintah sedang menggalakkan go green dengan gerakan Tanam Seribu Pohon. Info tentang penebangan pohon ini ia dapat ketika menghadiri pemberian penghargaan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta. Setibanya di kota Padang, Dosen Ilmu Alamiah Dasar ini langsung mengahadap Pembantu Rektor I IAIN IB, Dr. Safruddin, M.Ag. Dari pertemuannya tersebut, Safruddin menyatakan penebangan pohon di IAIN IB saat ini untuk peremajaan dini terhadap pohon yang sudah lama ditanam dan mulai tua. Sebagai gantinya,

Anak - Ramel Yanuarta, A. Md, SE, MM -Ramelia Didi Astuti, S. Kep -Ramela Wahyu Saliswati, ST

Padang - Tahun 1977, Sarjana Lengkap IAIN IB jurusan PAI - Tahun 1994, lulus Magister Pendidikan, IKIP Jakarta jurusan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup - Kandidat Doktor Pendidikan Islam, PPS IAIN Imam Bonjol Padang (semester penyelesain)

Walikota Padang akan menyumbangkan 10.000 benih untuk ditanam kembali di IAIN IB. Namun hal ini tetap saja tak disukai Raichul Anwar. Pasalnya, pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menggalakkan one person one tree, IAIN malah gencar-gencarnya pula menebang pohon. Tak balance sekali menurutnya. Walaupun begitu, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Riset IAIN Imam Bonjol Padang (1984-1985) ini mau tak mau harus mengikuti program yang telah dilaksanakan pihak rektorat ini. “Setelah penebangan pohon di Kampus ini, kita semua pasti merasakan hawa sejuk yang biasanya terasa dari rindangnya pohon, sekarang sudah tidak terasa lagi. Bahkan kampus ini mulai menimbulkan tingkat kepanasan yang membuat kita tidak betah berlama-lama berdiri di luar ataupun dalam ruangan. Nah, kalau pemerintah menerapkan one person one tree, mungkin kita akan memakai one student one tree,” katanya. Melalui penghargaan ini, Raichul mengajak seluruh masyarakat Sumbar peka terhadap lingkungan. “Mulailah dari halhal kecil. Pembuangan sampah misalnya, pisahkan antara bahan organik dan anorganik. Begitu juga membangun rumah, sebaiknya tak seluruh permukaan tanah ditutup dengan keramik atau semen. Harus ada ruang terbukanya,” harapnya. Konsistensinya untuk menggugah kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup sejak tahun 1987 telah memberikannya kesempatan untuk bertemu langsung dengan orang nomor satu di negeri ini. Tapi lebih dari pada itu, ia telah mengajarakan kita tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Raichul Amar adalah bukti, bahwa komitmen untuk memperjuangkan sesuatu akan selalu membuahkan hasil [Gita Jonelva]

Curiculum Vitae Nama : Drs. Raichul Amar, M.Pd

Foto: Ababil Gufr on/Suara Kampus

Tempat/tgl lahir : Bukittinggi/10 November 1945 Alamat : Rumah Baca Lingkungan Hidup Al Syajarah Jalan Kam pung Baru 31 A Lubuk Lintah Padang, Sumatera Barat

Pendidikan -Tahun 1959, lulus Sekolah Rakyat (SR) No. 15 Bukittinggi -Tahun 1963, lulus Pendidikan Guru Agama Islam Negeri (PGAN) 4 Tahun, Bukittinggi -Tahun 1965, Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), Jogjakarta - Tahun 1969, Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol,

Pengalaman Jabatan - Sekretaris Lembaga Riset IAIN IB Padang, 1983-1984 - Ketua Lembaga Riset IAIN IB

Padang, 1984-1985 - KTU Balai Pengabdian Masyarakat IAIN IB Padang, 1986 - Kepala Balai Pengabdian Masyarakat IAIN IB Padang, 19871988 - Kepala Biro AUAK IAIN IB, 1989 - Pembantu Dekan Fakultas Adab IAIN IB Padang, 1991 - Pembantu Rektor II IAIN IB Padang, 1997-2002 - Ketua Program D3 PAD Fakultas Adab IAIN IB Padang, 2004-2008 - Ketua Jurusan IIP Fakultas Adab IAIN IB Padang, 2008-sekarang

Meski Banyak yang Menghujat

T

erungkapnya kejadian ini berawal dari kecurigaan Tunis (mantan sopir Ambulans masjid-red) yang melihat gerak-gerik aneh sepasang mahasiswa yang datang untuk shalat di masjid tersebut. Ketika dikonfirmasi Suara Kampus pada Rabu (23/11) di masjid tersebut, Tunis mengatakan “Kejadian itu berawal ketika saya tengah duduk santai di lantai dua masjid ini dengan dua teman saya. Lalu tibatiba, datang sepasang mahasiswa dengan mengendarai sepeda motor untuk sholat di masjid ini,” ungkap Tunis mengawali pembicaraannya. “Setelah beberapa menit, Saya turun ke lantai bawah dan saya lihat tidak ada orang sholat di dalam masjid padahal motornya ada,” kenangnya. Karena tidak ada orang yang sholat di masjid itu, Tunis langsung memastikan dimana sepasang mahasiswa tersebut berada. “Awalnya saya pergi ke belakang masjid untuk mencek apakah mereka berada di situ tapi ternyata mereka tidak ada di situ,” jelas pria asli Aceh ini. Karena penasaran, Tunis pergi ke WC masjid untuk memastikan apakah sepasang mahasiswa tersebut berada di sana. Anehnya ketika Tunis pergi ke WC cowok, ia tidak menemukan seorangpun di dalamnya, “Saya tidak menemukan cowok tersebut di dalam WC itu,” urainya. Setelah mencek di WC cowok, Tunis bergegas ke WC cewek. “Sesampai di depan pintu WC cewek, saya lihat pintunya tertutup rapat,”. Tunis lalu mengintip apakah sepasang mahasiswa tersebut berada dalamnya celah pintu bawah. Ternyata Tunis melihat ada empat kaki dalam WC tersebut. “Untuk memastikannya, saya memanjat dinding WC tersebut, alangkah kagetnya ketika saya melihat mereka berdua dalam keadaan bugil dan sedang berhubungan layaknya suami istri, setelah saya tegur, mereka terkejut dan langsung memakai pakaiannya,” jelas Tunis Sambungnya, “Seketika itu juga saya memanggil para pekerja masjid yang tengah bekerja saat itu untuk membantu saya membawa para pelaku itu keluar dari WC,” ujarnya Setelah keluar dari WC, Tunis memegang tangan cowok dan cewek itu. Si cewek menjerit sambil meronta hingga akhirnya lepas dari pegangan Tunis dan kabur. “Yang wanita berhasil kabur dengan menjerit sambil meronta lalu lepas dari tangan saya,” kenangnya. Sementara cowoknya, juga berhasil lepas dari tangan Tunis dan menaiki motornya untuk kabur. “Berkat bantuan warga setempat yang mengunci pintu

FOTO : ARIYA/SUARA KAMPUS

‘BU’ Tetap Bantah Melakukan Perbuatan Asusila

DITINGGAL: Sepeda motor milik seorang oknum yang diduga warga sekitar melakukan tindakan asusila.

pagar masjid, cowok tersebut tidak bisa kabur dengan sepeda motornya, akibatnya cowok tersebut kabur dengan meninggalkan sepeda motornya di masjid,” terangnya. Ketika ditanya mahasiswa mana yang melakukan perbuatan tersebut, dengan yakinnya Tunis mengatakan, “Saya yakin itu mahasiswa IAIN IB Padang karena selain sering makan berdua di sini, mereka juga sering sholat dengan mahasiswa IAIN IB Padang lainnya,” ucap Tunis dengan yakin. Tambah Tunis, “Selain itu, saya pernah bercerita singkat dengan keduanya dan mereka mengaku kuliah di IAIN tapi siapa nama keduanya saya tidak tahu pasti,” tutupnya. Bu: Saya Tidak Melakukan Perbuatan Asusila Ketika diwawancarai via telefon Jum’at (16/12), BU menegaskan bahwa ia tidak melakukan perbuatan asusila seperti yang heboh diberitakan saat ini. “Saya memang masuk ke WC wanita untuk mengambil gayung karena di WC lakilaki tidak ada gayung,” kata BU. Ketika ia masuk ke WC perempuan, teman wanitanya belum masuk ke WC tersebut karena masih meletakkan barang bawaannya di luar. Tak lama kemudian, teman wanita BU tersebut masuk kedalam WC. Ketika mereka berdua sedang berada di dalam, mereka mendengar langkah kaki orang yang akan memasuki WC. Reflek mereka masuk ke toilet kerena khawatir akan dituduh berbuat macam-macam. “Dalam fikran saya, jika saya langsung keluar, mereka akan mengira saya telah melakukan sesuatu. Karena itu

spontan saya dan teman wanita saya masuk ke toilet untuk bersembunyi, dengan harapan, orang yang baru masuk itu akan langsung keluar setelah selesai mengambil wudhu. Kemudian saya pun akan keluar. Jadi tidak menimbulkan masalah ataupun kecurigaan,” jelasnya. Namun dugaan BU salah. Orang yang baru masuk tersebut justru mengetuk pintu dan menyuruh mereka keluar. Begitu keluar dari toilet, mereka digirng sampai ke halaman depan mesjid. “Ketika sampai di halaman depan , ada orang yang sudah memegang motor saya. Ketika saya mendekati motor itu dan mau memasukkan kuncinya, tiba-tba ada yang menampar saya. Saya pikir mereka tidak bisa diajak bicara baik-baik dalam keadaan seperti itu. Akhirnya saya kembali ke WC dan mengajak teman perempuan saya,” tuturnya. Merasa yakin tidak ada warga yang mengikuti, BU dan teman wanitanya memutuskan untuk kabur dengan memanjat pagar dan lari. Karena WC tersebut memang terletak di bagian belakang mesjid. Yang ada dalam fikiran mereka saat itu hanyalah untuk menyelamatkan diri dari amukan warga. Beberapa hari setelah kejadian tersebut, BU mencoba menemui sejumlah pimpinan IAIN termasuk Dekan Fakultas Tarbiyah, Duski Samad. “Ketika saya menemui Dekan, dia memberikan beberapa pilihan. Klarifikasi berita, diam atau DO” katanya. BU mengaku bahwa ia telah mencoba untuk berkonsultasi dengan beberapa orang pengacara. Namun sejumlah pengacara yang ia temui menyatakan, dalam kasus ini BU

dan teman wanitanya berada di pihak yang lemah karena memang kedapatan berdua dalam WC tersebut. Satu-satunya cara adalah dengan meminta maaf. “Saya mengaku salah karena kedapatan berdua di dalam toilet perempuan. Namun saya tegaskan, saya sama sekali tidak melakukan perbuatan asusila. Saya hanya bersembunyi untuk menghindari kesalahpahaman,” tegasnya. Saat ini BU hanya bisa pasrah apapun yang dikatakan orang. “Paradigma urang terserah. Yang penting wak ndak ado malakuan itu do,” jelasnya. BU akan Melakukan Visum untuk Pembuktian  Setelah menerima surat dari masyarakat Parak Jigarang dan pengurus masjid Al-Bahri, Rektor IAIN Imam Bonjol (IB) Padang, Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH, M.Ag meminta Dekan Fakultas Tarbiyah untuk memanggil pelaku dan membuat surat pernyataan. Menurut Duski, proses ini akan berlangsung lama. “Sebenarnya ini tidak repot, jika pria itu mau membuat surat pernyataannya, namun kami juga akan meminta dokter untuk melakukan visum. Jika memang benar ia melakukannya, maka ia akan langsung dikeluarkan, tapi jika tidak kami akan membantunya mengklarifikasi,” ungkapnya. Pembantu Rektor III IAIN IB Padang, Prof. Dr. Asasriwarni, MH ketika ditemui sehabis pembukaan seminar Internasional Fakultas Syari’ah di Rocky Hotel, Rabu (23/11) mengatakan, “Jika itu benar mahasiswa IAIN, kita akan panggil dia segera, kita klarifikasi kebenarannya dan jika benar mereka melakukan itu, maka sesuai dengan tata tertib

IAIN kita akan keluarkan yang bersangkutan dari kampus ini segera,” tegasnya. BU mengaku bahwa teman perempuannya telah mencoba melakukan visum dibeberapa rumah sakit termasuk di RS M.Djamil dan Yos Sudarso. Namun pihak rumah sakit meminta surat dari kepolisain. “Surat dari kepolisian itu akan dikeluarkan jika kasus ini sudah dilaporkan. Namun sampai saat ini belum ada laporan kepihak kepolisian. Jadi surat itu belum bisa didapatkan,” ujarnya. Ia juga menyatakan, sudah siap mental untuk menerima apapun keputusan yang akan diberikan Rektor nantinya.  Kasus “BU” Belum Dilaporkan ke Pihak Kepolisian Kapolsek Kuranji, Kompol Winarno didampingi Kanit dua Reskrim Polsek Kuranji, Ipda Munte ketika ditemui pada Rabu (23/11) di ruangannya mengatakan, “Sampai saat ini, kami belum mendapatkan informasi pasti tentang siapa pelaku kejadian tersebut, apakah itu dari kalangan mahasiswa atau kalangan umum,” ungkapnya. Ketika ditanya apakah perbuatan pelaku bisa dipidanakan, Winarno mengatakan, “Itu tergantung di lapangan, dalam artian jika ada salah seorang pihak yang dirugikan melapor ke kami (contohnya dari pihak cewek-red) dan harus ada tersangkanya juga maka akan kita proses lebih lanjut dan bisa jadi melanggar perbuatan pidana,” jelasnya. Tambahnya, “Jika tidak ada, kami akan membuat surat pernyataan dari kedua pelaku untuk tidak mengulangi perbuatannya, di mana pun dan kapan pun itu. Di samping itu kita juga akan memanggil kedua orang tua mereka,” terangnya. Winarno pun berharap,waktu dekat ini, para pelaku sudah bisa dipastikan siapa orangnya, salah satu caranya ketika ia datang dan mengambil sepeda motornya. Sementara itu BU mengaku, sampai hari ini, Jum’at (16/12) ia belum menjemput motornya yang dititipkan di Kapolsek Kuranji. BU juga telah menemui tokoh masyarakat pada Kamis (15/12) lalu, untuk menyelesaikan persoalan ini. “Saat itu dihadiri oleh Lurah, RT, Polisi, tentara dan orang yang mengaku melihat kejadian tersebut. Mereka menyarankan saya unttuk menikah. Namun saya keberatan dengan saran itu. Saya akan menikah suatu hari nanti, tapi tidak dengan cara seperti ini,” tegasnya. [Ariya Ghuna Saputra, Gita Jonelva, Ababil Gufron, Efi Salinda]

Guru tak Sekadar Mengajar Guru merupakan profesi mulia dalam Islam, karena pendidikan adalah salah satu tema sentral dalam Islam. Nabi Muhammad sendiri sering disebut sebagai “pendidik kemanusiaan” (educator of mindkind). Bagi Umat Islam, guru bukan hanya sekedar tenaga pengajar, tetapi sekaligus pendidik. Oleh karena itu, seseorang dapat dikatakan guru, bukan hanya karena ia telah memenuhi kualifikasi keilmuan dan akademisi saja, tetapi lebih penting lagi ia harus memiliki akhlak yang terpuji. Al-Ghazali, dalam bukunya Ihyaa Ulumuddin menuliskan, guru yang dapat diberi tugas mendidik adalah guru yang cerdas dan sempurna akalnya. Selain itu, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Kesempurnaan akal memebuat seseorang memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam. Dan akhlak yang baik dapat menjadikan seseorang sebagai contoh atau teladan bagi para muridnya. serta Fisik yang kuat membuat ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya dengan Baik. Seperti kata salah seorang pujangga Yunani Decimus Iunius Iuvenalis, Mens sana in corpore sano. Guru besar Ilmu Pendidikan IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Ramayulis saat diwawancarai Rabu (29/11) di Fakultas Adab menjelaskan, Seorang guru berperan dalam membentuk karakter anak didiknya, dimana seorang guru harus memberikan pengetahuan, membentuk kepribadian siswa dalam satu kesatuan yang utuh, sesuai visi dan misi seorang guru yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Di sisi lain, seorang guru agama memiliki peran yang berbeda ketika dia berada di sekolah. Di sekolah, seorang guru berperan sebagai pendidik bagi siswanya, sebagai da’i terhadap kawan-kawan atau rekan kerjanya. Sedangkan di

luar sekolah, guru adalah pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat. Jika dia sebagai orang tua, dia berperan dalam mendidik anak-anaknya secara qodrat di rumah sebagai pendidik qodrati. “Qodrat seorang guru diciptakan sebagai pendidik. Artinya, seorang guru sebagai pemegang amanah dalam mendidik anaknya. Jika seorang guru tidak bisa mengubah anak didiknya, ia harus instrospeksi diri. Karena tugasnya sebagai seorang pendidik untuk mengubah dari yang tidak baik kepada hal baik,” tambah dosen Fakultas Tarbiyah ini. Dalam bukunya Ramayulis juga menulis, seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah orang yang memikul tanggung jawab untuk mem-

bimbing. Pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid, tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi. “ Guru yang tak mampu mengubah siswanya bisa dikatakan tidak mampu dalam mendidik siswanya dalam proses pendidikan. Ketidakmampuan tersebut harus dipertanyakan, apakah yang sebenarnya terjadi dengan guru tersebut dalam proses balajar mengajar?” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Prof. Dr. Zulmukim, M.Ag, Tugas seorang guru adalah mengajar, mendidik, membimbing, melatih, mencontohkan dan menilai hasil akhir. “ Guru sering terjebak dalam paradigma bahwa tugas mereka hanya mengajar. Ini adalah salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan kita hari ini,” ujar Guru Besar Ilmu Pendikan di Fakultas Tarbiyah ini. “Dalam Undang Undang dinyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional yang dilahirkan melalui pelatihan dan pendidikan khusus. Guru itu tidak ada begitu saja. Mereka dipersiapkan melalui pelatihan dan pendidikan tertentu,” tambah Zulmukim Ia juga menyatakan, tidak semua orang bisa menjadi guru, karena guru perlu dipersiapkan dengan keilmuan lain yang dapat menunjang kesuksesan proses belajar-mengajar seperti penguasaan media, metodologi pengajaran, ilmu psikologi dan ilmu lainnya. “Dulu orang beranggapan kalau semua orang bisa menjadi guru. Namun kini, tidak semua orang bisa jadi guru,” katanya. Ia menilai, pengajaran alami saat ini tidak bisa lagi digunakan. Dulu orang belajar di surau dan diajarkan secara alami tentang baca tulis AlQur’an. Namun hari ini seorang pendidik harus mengusai media pembelajaran sesuai perkembangan zaman. Dalam artian yang lebih luas, orang tua dan masyarakat adalah pendidik. Orang tua adalah pendidik in-

formal dan masyarakat adalah pendidik non-formal. “Bedanya, orang tua dan masyarakat tidak memiliki kurikulum, silabus dan metode. Namun, keberhasilan suatu pendidikan sangat bergantung pada sinergi ketiga komponen ini,” tegasnya. “Orang tua dan masyarakat ikut andil dalam pembentukan moral peserta didik, karena mereka hidup di tengah-tengah masyarakat. Ketika peserta didik diajarkan tentang budi pekerti yang baik di sekolah, masyarakat dan orang tua harus mengawasi dan mengontrol,” terusnya. Ramayulis berharap, jadilah seorang guru yang bisa memberikan sebuah perubahan bagi anak didik, karena menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan sebagai guru adalah ibadah, jadi lakukanlah dengan ikhlas tanpa mengharapkan gaji, karena jika kita bekerja dengan ikhlas, maka gaji tersebut akan menyusul sesuai dengan kemapuan kita, selain dari itu seorang guru harus memiliki kepribadian (soft skill) yang bisa dijadikan model (uswatun hasanah) bagi anak didiknya dan juga orang-orang disekitarnya. Seorang guru bukan hanya seorang pengajar. Lebih dari pada itu, guru adalah seorang pendidik yang membentuk moral peserta didiknya. Keberhasilan seorang pendidik tidak terletak pada angka atau huruf yang tertulis dalam rapor siswa semata. Namun kesuksesan sejati seorang pendidik adalah perubahan peserta didik. [Fitria Marlina]

Beragama Di Tengah Kemajuan

S

ejatinya, agama menja di rahmat kehidupan karena ajaran Tuhan itu diperuntukkan bagi manusia dan kemanusiaan. Secara normatif konseptual memang demikian, namun pada tataran historis sosiologis ternyata agama –sebagaimana dipahami pemeluknya- seringkali menjadi pemicu berbagai tragedi kemanusiaan. Di tingkat global, konflik antara Muslim-Kristiani-Yahudi di Timur Tengah, antara Muslim-Hindu-Sikh di anak benua India, dan antara Katolik-Protestan di Irlandia, masih bergejolak entah sampai kapan. Begitu juga di tanah air, konflik sosial berbau SARA di beberapa daerah melibatkan agama sebagai triggering factor (faktor pemicu) dalam tindak kekerasan tersebut. Kerusuhan Situbondo (1996) dipicu isu penghinaan terhadap Islam. Kerusuhan Tasikmalaya (1996) dipicu kasus penganiayaan oleh oknum aparat keamanan terhadap ustadz pondok pesantren. Sedangkan kerusuhan Pekalongan (1996) dipicu penghinaan agama oleh seorang warga etnis keturunan yang tidak waras yang menjadikan al-Qur’an sebagai bungkus makanan. Akibat berbagai konflik dan kerusuhan yang melibatkan ag-

ama tersebut, sebagian kalangan memposisikan agama sebagai ancaman, bencana, kutukan, bukan lagi rahmat bagi alam dan kemanusiaan. A.N. Wilson misalnya menulis buku berjudul Against Religion: Why We Should Try to Live Without It.. Dalam buku tersebut Wilson menyebut agama dengan istilah yang menakutkan, “tragedy of mankind”, sebuah tragedi bagi kemanusiaan. Pada sisi lain manusia menyadari bahwa secara naluriah (instinktif), agama menjadi kebutuhan fundamental. Banyak sekali pertanyaan kehidupan yang tidak bisa dijawab rasio dan sains, dan jawabannya hanya bisa disandarkan pada keyakinan agama. Persoalan menyangkut Tuhan, eskatologis, kehidupan akhirat, hidup pasca di dunia misalnya, sains dengan logika dan positivisme empiris tidak akan mampu menjawab tuntas dan memuaskan. Dahaga spritualitas pun tidak terobati dengan materi. Karenanya, agama yang menyediakan jawaban-jawaban itu selamanya akan tetap berperan penting dan tidak terlepaskan dari kehidupan manusia. Berangkat dari dua realita yang seakan bertolak belakang di atas, maka masyarakat be-

Faisal Zaini Dahlan

Ketua Jurusan Perbandingan Agama ragama sejak beberapa waktu terakhir berupaya menciptakan dan memelihara kerukunan umat beragama. Upaya mulia ini pada dasarnya ingin mengembalikan pesan utama agama sebagai rahmat bagi kemanusiaan dan alam, bukan bencana dan malapetakan yang merendahkan martabat kemanusiaan itu sendiri. Agama sesungguhnya perekat perbedaan, karena mengajarkan kedamaian, kasih sayang, saling berbagi dan hormat menghormati, bukan sebaliknya men-

cabik-cabik persaudaraan sebagai sesama makhluk Tuhan. Islam sesungguhnya sejak awal telah memberikan konsep yang jelas dan terang (cut and clear) tentang persoalan ini, baik melalui wahyu maupun dalam praktek kehidupan Rasulullah SAW. Menyadari Pluralitas Sebagai Sunnatullah Landasan berfikir, bersikap dan berbuat dalam menyikapi keragaman –termasuk agamaadalah, bahwa keragaman atau pluralitas merupakan sunnatullah. Tuhan sendirilah yang menghendaki keragaman. Alam raya tidak diciptakan dalam satu bentuk, satu warna dan satu jenis, tetapi penuh dengan warna warni yang beraneka ragam. Keragaman itulah yang justru membuat indahnya kehidupan, sekaligus memunculkan dinamika yang membuat roda kehidupan berjalan. Dalam konteks teologis, jika sekiranya Allah menghendaki maka tidak ada kesulitan bagiNya menjadikan semua manusia beriman (homogen dalam keimanan), tetapi realitasnya ada yang beriman dan ada yang engkar (Q.S. Yunus: 99 dan AtTaghabun: 2). Ayat ini tentu tidak bermaksud melemahkan semangat berdakwah kepada kebenaran dan kebaikan. Dak-

wah tetap menjadi kewajiban, tetapi ajakan kepada kebaikan tersebut tidak disertai pemaksaan (Q.S. Al-Baqarah: 256). Kesadaran lain yang diperlukan masyarakat majemuk adalah menyadari pluralitas itu sendiri selalu memiliki peran ganda. Ia sebagai modal pembangunan di satu sisi dan batu sandungan di sisi lain. Pluralitas mengandung potensi integratif dan sekaligus disintegratif, atau potensi konflik dan kerukunan/kerjasama sekaligus. Pluralitas bagaikan mozaik yang indah jika tersusun rapi dan terekat erat dengan kokoh, tetapi akan berubah seketika jadi kepingan-kepingan yang berbahaya ketika ia berceraiberai dan berserakan. Di sinilah letak penting kesadaran untuk menerima pluralitas sebagai sunnatullah. Dengan demikian, kemampuan dan kepiawaian dalam mengelola dan memenej berbagai keragaman dengan arif dan bijaksana, sekaligus mewaspadai, meminimalisir, dan mengeilminir potensi konflik dan disintegrasi yang juga dimiliki oleh keragaman tersebut, itulah tugas mulia manusia sebagai khalifatullah fil ardh, yakni mampu menjadi rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam yang sangat beragam ini.

Menjawab Arah Perubahan Mahasiswa “Agent of change” gelar yang selalu disematkan kepada seseorang saat ia beranjak dari bangku sekolah menuju Perguruan Tinggi. Harapan besar pun tertuju kepadanya, yang namanya kini telah berubah dari siswa menjadi Maha-siswa. Ada yang berpendapat gelar itu masih tergolong tidak layak bagi maha-siswa, akan lebih tepat lagi jika gelar tersebut adalah “ leader of change” pemimpin sebuah perubahan. Gelar tersebut kini nampaknya bisa terlihat jelas ditengah hiruk pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Allah ini “Indonesia”. Aksi bakar diri Sondang Hutagalung mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) angkatan 2007 menjadi salah satu bukti keinginan dirinya untuk menjadi agen perubahan di negeri ini. Meskipun kita tahu bahwa bunuh diri merupakan jalan menemui ajal yang diharamkan dalam Islam. 14 abad yang lalu Rasulullah SAW telah menjelaskan kepada kita mahasiswa, terlebih mahasiswa muslim “Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia

hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa disisi Allah; dan barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (HR Thabrani dari Abu Dzar Al Ghifari). Takdir sebagai seorang agent of change ternyata tidak hanya berada di pundak mahasiswa, tapi juga di pundak seluruh kaum muslimin, tepat kiranya kita menempatkan mahasiswa bukan hanya sekedar agent of change, namun mahasiswa berada pada posisi leader of change. Di tengah hiruk pikuk berbagai polemik di negeri ini, mereka digadang untuk tetap kritis. Para pemuda mesti memiliki nilai tawar untuk menjadi pemimpin masa depan. Menyelami lebih dalam apa yang kini mereka hadapi, sembari belajar dari kondisi kekinian. Mahasiswa pasti tahu bagaimana gelagat para pemimpin mereka saat ini. Berbagai masalah timbul. Salah satunya akibat merosotnya

Adi Kurniawan

Konsekuensi logis dari idealisme mahasiswa ialah tanggung jawab sebagai seorang yang menuntut ilmu harus dipenuhi dan peran sebagai sosial kontrol harus tetap dijaga.

moral pemimpin. Selain masalah moral, masalah negeri ini juga disebabkan oleh bobroknya sistem yang mengatur masyarakat. Akibatnya, mahasiswa kelabakan dalam menyikapi setiap masalah yang mengalir di permukaan. Belum lagi masalah intern yang mesti mereka pikirkan. Akhirnya, kejenuhan mulai menghinggapi dan gerak mahasiswa pun mengalami turbulensi. Bila mahasiswa tetap dengan kondisi seperti sekarang, kelak mereka juga menjadi bagian dari kerusakan yang terjadi secara sistematis ini. Kemudian pada siapa lagi negeri ini berharap? Mesti ada perlawanan arus terhadap kemorosotan intelektual yang dialami mahasiswa kini. Tentunya dengan mengembalikan idealisme. Konsekuensi logis dari idealisme mahasiswa ialah tanggung jawab sebagai seorang yang menuntut ilmu harus dipenuhi dan peran sebagai sosial kontrol harus tetap dijaga (Rahmat Munawar, Dinamika Pergerakan Mahasiswa). Tidak jarang dengan idealismenya, mahasiswa harus

“bentrok” pemikiran dengan status quo. Mahasiswa juga mesti jeli melihat masalah utama yang terjadi hari ini. Jika mahasiswa adalah pemimpin perubahan, jika mahasiswa harusnya berada di garis terdepan dalam sebuah perubahan, jika mahasiswa merupakan penggagas perubahan, pertanyaannya? perubahan seperti apa yang harusnya diciptakan oleh pemimpin perubahan? perubahan kearaha mana yang harus dilakukan oleh agen yang berada di garis depan sebuah perubahan? Kini, melalui berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia, mulai dari demo gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat, hingga Revolusi Arab (yang berawal dari bakar dirinya Bouazizi ‘26 tahun’ di Tunisia menjalar hingga Al-Jazair, Mesir, Libya, Yaman dan Suria) Masihkah anda ragu terhadap syari’at Islam sebagai jawaban perubahan? Maka saatnya untuk menjadikan Islam sebagai sebuah ideologi, jawaban atas seluruh permasalahan. Islam is the answer, Islam is the solution.

Berjuang dan Dibuang “Politik di negeri jajahan terutama berarti pendidikan. Politik mengenai pengertian biasa tidak dapat dijalankan, kalau raykat tidak mempunyai keinsafan dan pengertian. Sebab itu, didikan harus jalan dahulu. Dan didikan tidak akan sempurna, kalau ia tidak memaki asas yang terang” (hal. 27)

D

emikian sepenggal tu lisan Moh. Hatta yang disiapkannya untuk Harian Daulat Ra’jat No. 37 tanggal 20 September 1932. Melalui tulisan itu Hatta menyampaikan alasannya kenapa sekembalinya dari pendidikan di Belanda, ia langsung memilih bergabung dengan Pendidikan Nasional Indonesia. Semenjak pendidikan doktoralnya tahun 1929 di Belanda, Hatta sudah mempersiapkan diri untuk organisasi politik ini. Semula dia bermaksud menempuh ujian doktoral di bidang ilmu ekonomi pada tahun 1925. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu karena minatnya yang besar di bidang politik. Tentang urusan politik dan pemikirannya, Hatta bercerita melalui tulisan-tulisan yang

dikirimnya ke media daulat Ra’jat, Pemandangan, dan Nationale Commentaren. Berbeda dengan realitas pemuda (mahasiswa) hari ini. Semenjak meletusnya gerakan reformasi tahun 1998 lalu, pemuda Indonesia lebih intens menyatakan pemikirannya melalui aksi (lapangan) dibanding tulisan yang bisa lebih tajam. Aksi yang menurut sebagian kalangan tak berarti apa-apa. Tenaga dan massa terbuang percuma. Ide dan tuntutan kadang tak dihiraukan. Bahkan beberapa waktu lalu, kita dikenalkan dengan tokoh kritis mahasiswa Universitas Bung Karno. Sondang Hutagalung lebih memilih aksi bakar diri untuk mengungkapkan berbagai gejolak di pikirannya. Terlepas dari pro dan kontra sikap itu, yang jelas beragam aksi selain menulis kritikan (tajam) lebih dipilih pemuda hari ini. Atau barangkali tulisan sudah tak berarti apa-apa. Tapi Hatta telah membuktikan, bahwa pikiran dan idenya sampai ke berbagai kalangan lewat tulisan. Sesampai di Indonesia, Hatta dan Soekarno tetap saling menghargai, meskipun berbeda aliran politik. Melalui pertemuan dan diskusi dengan sejumlah tokoh penting, Hatta dan teman-temannya mempersiapkan kemerdekaan. Ia sempat diasingkan ke Digul, Papua. Saat ditawari oleh kepala pemerintahan di sana, agar Hatta bekerja untuk kolonial, dengan upah 40 sen sehari, ia menolaknya. Hatta lebih memilih hidup dari honorarium menulisnya di surat kabar Pemandangan. Prinsip hidup. Pasca perang pasifik, yang

Hatta untuk mempelajari bukubuku lain. Padahal setahu Bung Hatta, buku tersebut tidak membahas tulisannya, hukum administrasi. “Tiap-tiap hari aku minum Tonikum untuk memperkuat badan dan pikiran.”Akhirnya, semua buku itu dibaca juga. Dan benar, Hatta sama halnya dengan pelajar/mahasiswa sekarang, pusing berhadapan dengan buku. “karena itu, kuhentikan belajar. Tiap-tiap hari aku berjalan-jalan saja dengan meminum Tonikum. Ini rupanya menolong sangat. Kira-kira dua hari sebelum ujian kucoba membalik-balik buku pelajaran, dan segala yang kupelajari sejak empat bulan itu banyak yang teringat kembali dalam otakku.” Buku yang layak menjadi bacaan pemuda; pelajar dan mahasiswa Indonesia. Mengkaji kembali nasionalisme yang kian pudar. Tidak hanya bisa belajar dari pengalaman/perjalanan panjang dan komplek seorang tokoh bangsa, namun lebih pada sisi-sisi lain seorang Hatta yang tidak tergambar detail jika tidak membaca buku handy ini. Peresensi : Miftahul Hidayati banyak mengubah keadaan dan suasana di seluruh Hindia Belanda, pada tahun 1942 Hatta dipindahkan ke Sukabumi. Tempat malabuhkan harapannya agar terbebas dari ineterniran. Menarik. Meskipun Hatta bercerita detail dalam buku otobiografinya ini, tetap tidak membosankan. Bahasa tuturnya ringan dan jelas. Bahkan pada beberapa cerita/kisah per-

Aku dan Masa Depanku MENGAKU atau tidak, semua orang menginginkan kesuksesan di masa depan. Sekarang aku siapa? dan kelak ingin menjadi apa? Pertanyaan yang mesti ada dalam diri kita. Why? karena dalam hidup, kita membutuhkan impian dan planning sebagai motivasi menuju masa depan cerah. Benarkah demikian ? tentu saja ya. Seseorang yang tidak memiliki impian dalam hidupnya pasti akan hidup dalam kemalasan, karena tidak ada tujuan jelas untuk apa dia hidup dan untuk apa dia bekerja. Di sisi lain, ada seseorang yang memiliki impian menjadi pengusaha sukses sedangkan keluarga dan lingkungan tidak mendukung untuk meraih mimpinya. Nah, bagaimana solusinya agar masa depannnya gak antah berantah? Melalui buku “ MY BIG DREAM, Meraih Impian Terbesar Hidupku” Fuaziah

Fauzan seorang Trainer utama yang juga sebagai pendiri dan direktur di Dinniyah Trainer Centre ( DTC ) mengupas lebih dalam bagaimana cara merumuskan masa depan yang cerah. Sajian isi buku yang berawal tentang perjalanan hidup dengan beragam kisah remaja dalam menjalani hari-hari melelahkan, hari-hari yang menyenangkan menjadikan buku ini sangat inspiratif dan menarik untuk dibaca terutama bagi remaja yang masih gamang dalam menentukan pilihan masa depan. Ditambah lagi pada bab Impianku, pembaca pun terbawa arus untuk menjawab pertanyaan apa impianmu? Apa keinginanmu? Ingin memiliki apa? Ingin menjadi apa? dan sebagainya sehingga bisa meraih impian terbesar dalam hidupmu. Menariknya lagi dalam buku ini Fauziah Fauzan yang memiliki nama lengkap Fauziah Fauzan El Muhammady juga

memberikan contoh pembuatan “ Peta Hidupku “ dan detail memberikan penjelasan tentang 7 disiplin ilmu yang dapat kamu renungkan kecocokannya dengan bakat dan minatmu. Pada beberapa halaman belakang buku Buk Zizi begitu panggilan akrabnya, juga menjelaskan tentang “ Training My Big Dream “ . My Big Dream juga telah diberikan dalam bentuk training bagi pelajar sekolah menengah di Malaysia pada tahun 2011. So, Tentukan masa depanmu dari sekarang. Judul : MY BIG DREAM, Meraih Impian Terbesar Hidupku Pengarang: Fauziah Fauzan Cetakan: Pertama, September 2011 Penerbit: Dinniyah Research Centre Perguruan Dinniyah Putri Padang Panjang Tebal buku: 205 Halaman Resensor: Mimi Permani Suci

jalanan ia bertutur terlalu polos. Sehingga pembaca merasa seakan tidak sedang ‘dekat’ dengan Sang Proklamator Indonesia. Seperti pada bagian cerita yang mengisahkan bahwa seorang Bung Hatta juga mengalami masa-masa sulit jelang ujian. Ia habiskan berbagai buku yang disuruh baca oleh profesornya. Bahkan si Profesor dengan tega meminta Bung

Judul buku: Berjuang dan Dibuang (Seri kedua Otobiografi Mohammad Hatta) Penulis: Mohammad Hatta Editor: Mulyawan Karim Penerbit: Kompas Tahun: Februari 2011

Ketua DPD RI Kunjungi IAIN Imam Bonjol Padang

Suara Kampus - ”Mahasiswa IAIN punya beban yang lebih berat di banding mahasiswa lain. Dengan bernaung di bawah kampus islami, mahasiswa IAIN punya nilai plus.” Ungkap Ketua DPD RI Irman Gusman, SE, MBA dalam kuliah umum di gedung serba guna IAIN Imam Bonjol, Senin (19/ 12). Dalam penyampaian pidatonya, Irman Gusman membahas kasus korupsi yang merajalela di Indonesia. Dia mengatakan, dalam sebuah survei khusus, Indonesia tercatat menempati peringkat tinggi dalam masalah korupsi. “Sebagai orang yang berada dalam lingkup yang penuh nuansa islami, harusnya para mahasiswa mampu menjadi generasi penerus yang bebas dari korupsi, sesuai tema kita pada kuliah umum kali ini, yakni Pemberantasan Korupsi dan Pembangunan Daerah,” tambah Irman Gusman. Menurut Ketua DPD RI

Foto: Arjuna Nusantara/Suara Kampus

Kuliah Umum dan Bantuan Rp 50 Juta asal Sumbar ini, pembangunan kampus bukan tujuan. Merubah IAIN menjadi UIN dan membangun gedung itu hanya instrumen. Yang perlu adalah membangun karakter. Perkembangan bukan berarti tidak harus diperhatikan. “Namun, untuk membangun karakter yang bebas dari tindak korupsi tersebut jangan terlena dengan perkembangan itu. Harus mampu mengendalikan diri, bukan hanya dengan simbol tetapi langsung aplikasi. Sehingga apa yang dituju bisa tercapai,” tambahnya. “Kita akan lahirkan calon pemimpin yang berkarakter dari Sumbar. Kalau perlu kita akan mulai dari IAIN,” ujar Gusman.

Akrab - Irman Gusman (kanan) Ketua DPD RI terlihat akrab dengan Rektor IAIN Imam Bonjol Prof. Dr. Makmur Syarif, SH, M.Ag (kiri), Ka. Biro AUAK Drs. Amrul Wahdi,MM (sebelah rektor) dan Rektor II Prof. Dr. Salmadanis, MA (samping kanan ketua DPD RI) di teras Gedung Serba Guna IAIN Imam Bonjol, usai kuliah umum.

Bantuan Rp 50 juta Di ujung acara, Irman Gusman menyerahkan bantuan dari DPD RI untuk IAIN Imam Bonjol sebesar Rp 50 juta, tunai. Penyerahan uang chas ini diterima langsung oleh Rektor Makmur Syarif dan disambut tepuk

tangan hadirin. Di samping penyerahan bantuan, Irman Gusman juga menerima penghargaan dari Rektor karena telah memberikan kuliah umum bagi civitas

Kunjungan 10 Hari Mahasiswa Insaniyah Malaysia di IAIN IB

Foto: Ahmad Bil Wahid/Suara Kampus

Ummi Salmah : Mahasiswa IAIN Kreatif

Berkunjung - Mahasiswa Kolej University Insaniah MalaysiaBerkunjung ke Redaksi Suara Kampus

Suara Kampus - Tiga hari sudah mahasiswa malaysia berada di IAIN IB. Kedatangan ini dalam  rangka  membalas kunjungan mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) 27 Desember 2010 sampai 12 januari 2011 lalu. Mereka akan berada di Sumatera Barat dari 14 Desember sampai 23 Desember 2011. Ini merupakan kerjasama antara Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang dengan Kolej Insaniah University. Kerjasama dengan Fakultas dakwah ini terkhusus untuk jurusan KPI dan Prodi Jurnalistik. Tahun 2012, mahasiswa KPI dan Jurnalistik (semester V sekarang), akan diutus ke Insaniah University untuk belajar multimedia. “Dulu, mahasiswa KPI datang ke sana untuk kursus multimedia. Tapi mereka (maha-

siswa Malaysia) datang ke sini, untuk membuat film dokumenter tentang Sumatera Barat dan Ulama Besar asal Sumatera Barat,” kata Wakidul Kohar, Ketua jurusan KPI. “Selain nak buat documentary Padang, kami juga nak buat tentang Buya Hamka,” ujar Encik Hisyam, dosen Insaniah University keturunan Jawa ini. Mahasiswa Insaniah ini rata-rata sudah semester akhir. Jurusan mereka Creative Multimedia dan Grafic Design yang merupakan program diploma. Jadi, kedatangan mereka ke Padang dimanfaatkan untuk membuat film dokumenter sebagai tugas akhir.. “ Kami akan mendalami pemikiran dan sejarah Hamka,” tambah Encik Hisyam. Dalam schedule acara, mahasiswa Insaniah akan mengun-

jungi Padang Panjang, Bukittinggi, Maninjau dan Pariaman. Selain itu, selama di Padang mereka juga akan melakukan pertandingan persahabatan dengan mahasiswa IAIN dalam rangka mempererat silaturrahmi. Pertandingan persahabatan ini diantaranya Volly ball, Futsal, dll. Mahasiswa Insaniah merasa senang bisa ke IAIN Imam Bonjol Padang. Mereka tertarik dengan aktivitas mahasiswa. “Begitu teruja, suka keadaannya. Mahasiswa di sini kreatif, kalau di sana, mahasiswanya sendiri-sendiri,” ungkap Ummi Salmah. Menurut Ummi Salmah, ditempatnya hanya ada dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dia terkesan melihat 11 UKM di IAIN Imam Bonjol. “Dari segi pakaian kita berbeda. Kalau di sana, jibab harus dalam dan pakaian tidak boleh ketat bagi perempuan, tapi boleh pakai celana,” tambah Ummi Salmah. Rombongan lawatan (kunjungan) yang bertema “Kembara Padang” ini menginap di Wisma BLPT yang baru. “Kita akan sediakan pengipan dan transportasi,” ungkap Wakidul Kohar. Soal biaya mereka, pihak Fakultas Dakwah membantu sebagian. [Arjuna Nusantara]

akademika IAIN Imam Bonjol Padang. Berhubung dalam rangka penutupan dies natalis IAIN Imam Bonjol yang ke-45, rektor juga menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba

volly ball yang diselenggarakan dalam memeriahkan dies natalis. [Arjuna Nusantara/Nur Khairat/ Muhammad Rasyid]

Wali Kota Bicara Zakat Suara Kampus - “Zakat itu sama seperti buang air besar, kalau tidak dikeluarkan jadi penyakit,” uajar Walikota Padang Fauzi Bahar saat menghadiri upacara bendera di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Senin (19/12). Dalam upacara ini Fauzi Bahar bertindak sebagai inspektur upacara. Upacara bendera yang dilaksanakan pagi ini untuk memperingati Hari Bela Negara (HBN). Berbeda dengan biasanya, upacara kali ini dihadiri oleh Walikota Padang dan Sekjen BAZDA Kota Padang. Dalam upacara ini, Fauzi Bahar banyak membahas tentang masalah zakat di Kota Padang. Ia juga menyebutkan rencana pemerintah kota padang ke depan. “ Saya akan membagi masyarakat Kota Padang menjadi dua kelompok saja, kelompok muzakky dan kelompok mustahiq,” papar Fauzi Bahar. Fauzi Bahar juga menentang pihak-pihak yang sudah seharusnya mengeluarkan zakat tapi tidak mau mengeluarkannya. “Kalau ada ustadz yang menolak untuk membayar zakat, itu juga salah satu tanda-tanda sudah semakin dekatnya kiamat,” selorohnya. Selesai upacara, acara dilanjutkan dengan penandatangan-

Fauzi Bahar an MOU antara BAZDA Kota Padang dengan IAIN Imam Bonjol Padang. MOU ini ditandatangani langsung oleh Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH. M.Ag sabagai pihak pertama, ketua BAZDA Kota Padang, Prof. Dr. Salmadanis, M.A sebagai pihak kedua serta Walikota Padang, Fauzi Bahar dan Kepala Biro AUAK IAIN Imam Bonjol Padang, Drs. Amrul Wahdi, MM. Selain itu, pihak kampus juga memberikan piagam penghargaan pada beberapa orang mahasiswa berprestasi dan melakukan penanaman empat bibit pohon. Penanaman bibit pohon ini secara simbolis dilakukan langsung oleh Fauzi Bahar, Makmur Syarif, Salmadanis sebagai Ketua BAZDA Kota padang dan Raichul Amar Peraih Satyalacana 2011 dari SBY. Hal ini merupakan bentuk realisasi program go green di IAIN Imam Bonjol Padang. [Ahmad Bil Wahid]

Januari 1984 Aku tak tahu lagi pada siapa harus mengadukan nasib ini. Saat ini, Ratih (adikku) pasti sedang kelabakan mencari bukunya yang hilang, tempat yang kugoreskan luka hati sekarang ini.  Di kertas lusuh ini kucoba menuangkan kesalku. Cintaku pada Sutan Mudo terpaksa harus kurelakan dengan berat hati. Hidup ini memang kejam. Yang lemah selalu tertindas. Dan aku hanyalah sekeping cerita dari korban buasnya kehidupan. Cerita Siti Nurbaya yang dulu pernah menjadi dongeng sebelum tidurku, kini malah menimpa hidupku. Hanya saja aku bukan Siti Nurbaya korban hutang piutang keluarga. Kulihat kristal bening menggenang di pelupuk mata Sutan Mudo, saat aku terpaksa mengatakan bahwa sebulan lagi pesta pernikahanku dengan Sutan Saidi akan berlangsung. “Ini bukan mauku, Sutan,” kataku meyakinkan. “Tapi kau mau, bukan? Kalau memang kau mencintaiku, mengapa kita tak lari saja? Kita menikah, punya anak, dan hidup bahagia selamanya.”  Sutan Mudo mulai menjatuhkan air matanya. “Tidak semudah itu, Sutan, Amak menginginkan menantu urang surau.” Kucoba mendekati Sutan Mudo lantas mengusap air matanya. “Aku juga bisa tinggal di surau, hidup di sana, mengumandangkan adzan pada waktunya! Kalau kau mau, sekarang pun aku bisa pindah ke surau!” suara parau khasnya mulai meninggi. Tiba-tiba Amak datang dengan Angku (kakak lakilaki Amak). Aku kaget bukan kepalang. Sementara Sutan Mudo lari, menghilang entah ke mana, meninggalkanku seorang diri menghadapi Angku yang membawa parang. “Sekarang lihat?!! Lelaki yang kau agung-agungkan itu justru meninggalkanmu hanya karena melihat parang ini. Apa lelaki seperti itu yang kau harapkan? Saat kau dalam kesulitan dia malah lari meninggalkanmu.” Angku berkacak pinggang seraya mengangkat parang yang tadi di tangannya sedikit ke angkasa. Aku hanya diam. Amak pun menyeret tanganku. Dan tanpa perlawanan aku mengikuti langkah amak, seperti kerbau yang telah dicocok hidungnya. Februari 1985 Satu  tahun sudah aku hidup dengan Sutan Saidi. Lelaki pilihan orangtuaku. Tapi aku belum memiliki

Suami dari Surga Cerpen: Williya Meta

buah hati, seperti Hindun yang baru tiga bulan menikah dengan Sutan Mudo, tetanggaku. Tapi sangatlah wajar rasanya, karena selama pernikahan kami, Sutan Saidi tak pernah sedikitpun menyentuhku. Pernah sekali dia meminta haknya padaku. Dengan kasar dan berat hati, kubuka satu kancing atas bajuku. Sutan Saidi memegang tanganku, kemudian tersenyum. “Sudahlah, Dik, tidak usah dipaksakan.” Senyumnya mengembang, mencoba menenangkan. “Ini hakmu, ambillah!” Kataku sambil mencoba melanjutkan membuka kancing kedua. “Aku tidak akan meminta hakku sebelum Adik sudah benar benar sudah mencintaiku.” Ujarnya lagi sambil mengambil tanganku dan meletakkannya ke bawah, lantas berjalan meninggalkanku. “Abang yakin?” sedikit malu kubertanya. Dia tersenyum dan dan memejamkan matanya sejenak. “Hakku akan lebih menjadi ibadah jika diterima dari orang yang ikhlas memberinya. Aku akan selalu siap menunggu sampai Adik benar benar siap memberikan hakku seutuhnya” senyumnya sambil melanjutkan langkahnya meninggalkanku. Dan benar saja, sejak itu dia tidak pernah lagi meminta haknya padaku aku sedikit lega karena dia tidak pernah mengungkitnya sedikitpun. Aku bisa menghirup udara bebas bisa menjadi anak yang tak durhaka pada orang tua, dan suami yang tidak

membutuhkan haknya. Aku senang! Maret 1985 Hari ini aku benar-benar diselimuti ketakutan. Dari pengajian yang aku ikuti tadi Kiai berkata bahwa seorang istri tidak boleh menolak untuk  memberikan hak suaminya jika dia ‘memintanya’. Bahkan Sabda Rasullullah jelas mengatakan, jika ada seorang istri yang tidak mau melayani suaminya, kemudian suaminya tidur dalam keadaan jengkel maka sang istri akan dilaknat oleh para malaikat sampai esok pagi. Jujur, hatiku sedikit gemetaran mengingat malaikat melaknatku. Tapi tetap saja aku belum siap mencintai suamiku. Lagi pula, toh suamiku tidak pernah memintanya, dan aku pun tidak pernah menolaknya. Jadi aku bisa merasa diriku tidak dilaknat malaikat. Kenapa tidak? April 1985 Kadang aku bingung dengan Sutan Saidi. Bagaimana bisa dia tidak menuntut haknya? Tadi siang Hindun datang ke rumahku dengan air mata menceritakan  kepedihannya hidup bersama Sutan Mudo, orang yang dulu kucintai (bahkan sampai sekarang). “Uni, aku sudah tidak tahan lagi hidup dengannya.” Tangis Hindun menyeruak. Disandarkannya kepalanya ke pelukanku. “Sabar. Apa yang dilakukannya padamu hingga babak belur begini?” Tanyaku seraya mengusap-usap rambut Hindun mencoba menenangkannya.

“Dia memukuliku setiap hari, Uni” Hindun menegakkan kepalanya dan memperlihatkan memar yang ada di tubuhnya. “Apa masalahnya?” tanyaku semakin penasaran. “Semua masalah dia sudahi dengan pukulan ke tubuhku, Uni. Tadi malam dia memukuliku, menendangku seperti anjing karena aku tak bisa memenuhi keinginannya. Dia meminta haknya, dengan lembut kutolak karena sedang datang bulan. Dia memaksaku, Uni. Aku berteriak tapi dia tetap melakukannya padaku. Aku sudah tidak tau apa-apa lagi saat dia sudah memukuliku hingga pingsan. Entah apa yang dilakukannya semalam padaku, aku benar-benar tak tahu, Uni.” “Sungguh menjijikan kelakuannya.” gumamku dalam hati. “Saat aku terbangun, dia sudah tidak ada. Sementara pakaian yang aku kenakan sudah berserakan di lantai. Seluruh tubuhku sakit. Aku tak tahan hidup dengannya lagi, Uni. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku saja.” Tangisnya kembali memecah sepi. “Sabar, ya, Dik. Jika itu yang terbaik menurutmu, maka lakukanlah. Tapi pikirkan dalu. Apa Adik bisa menghidupi putra tanpa ada bapaknya?’ “Aku justru tidak bisa hidup tenang jika ada bapaknya.��� Dengan lantang Hindun berkata padaku. Sungguh malang nasib Hindun. Aku pun turut menangis. Cinta yang selama ini masih kupendam pada

Sutan Mudo seketika sirna, bahkan berganti murka.  Tiba tiba saja aku teringat pada suamiku yang lembut, tidak pernah memaksa dan selalu memperlakukanku bak permaisuri. Air mataku mulai membasahi pipi. Seharusnya dari dulu aku sadar betapa aku harus bersyukur mendapat suami sepertinya. Bagaimana bisa dia tidak menuntut haknya padaku? Dia bagaikan malaikat dari surga yang tak membutuhkan nafsu dan tak perlu terpenuhi syahwatnya. Tak pernah dia kasari aku, apalagi melukai perasaanku. Ya Allah, maafkanlah hambaMu ini. Betapa kufurnya aku selama ini? Kucari suamiku, di kamar, di mesjid, di sawah, dan di lading, tapi dia tak kutemukan. Aku mulai cemas, ke mana suamiku. Air mata terus mengalir deras. Aku takut kehilangannya. Saat kembali ke rumah ternyata dia duduk di taman belakang rumah kami sambil menghafal Al-Quran kecil yang ada di genggamnya. Segera kudekati dia dan kucium kakinya. Aku menangis sejadi-jadinya dan memohon maaf darinya. Suamiku yang bingung mengarahkan tubuhku untuk bangkit dari kakinya ke bangku sebelahnya. Kupeluk erat dia, menangis di pangkuannya. Suamiku mencoba menanyakan apa yang terjadi padaku, tapi hanya bulir air mata yang bisa menjawabnya. April 2009 Saat aku membersihkan gudang belakang, kembali kutemukan buku ini. Aku pikir buku ini sudah ikut terjual bersama kertas kertas lainnya ke tukang loak. Aku tersenyum membaca catatan harianku ini, buku yang dulu aku curi dari tas adikku, Ratih. Kuteteskan air mata saat membaca catatan ini, teringat kebodohanku di masa lalu. Kembali kugoreskan tinta hitam di atas kertas ini. Besok aku akan menghadiri acara wisuda anak sulungku. Besoknya lagi menghadiri rapat wali murid acara perpisahan si tengah di SMA-nya sekaligus mengambil tropi MTQ milik si bungsu di kantor Diknas. Sayangnya, semua acara itu kuhadiri seorang diri, tidak seperti biasa yang setiap acara selalu ada almarhum suamiku yang menemani. Setahun yang lalu, suamiku pulang ke kampungnya, ke surga. Meski kesepian aku bahagia dia meninggalkanku dengan tiga peri yang shaleh, berbakti pada orang tuanya, dan berprestasi. Tuhan terimakasih atas rahmatMu.*** Lawang, 09 Januari 2010

Kang Ipul Jadi Dosen

S

embilan dari sepuluh ke nalan saya menyatakan tidak percaya ketika saya katakan saya jadi dosen, bahkan kenalan yang ke sepuluh haqqul yaqin menganggap itu hanya lelucon, garah-kelakar, bodor-an ala Kang Ipul. “Kang Ipul jadi dosen? Jangan becanda, ah….” Saya sendiripun ingin mengakui terus-terang bahwa saya tiga perempat tidak percaya bahwa saya jadi dosen, sebuah predikat yang saya belum mengerti arti sesungguhnya, bahkan setelah belasan tahun orang-orang mulai yakin bahwa saya jadi dosen. Jangan tuduh saya melecehkan apalagi bermaksud mencemooh atau memandang rendah dosen. Sumpah mati, saya tidak punya niat sepeserpun untuk melakukan hal berbahaya semacam itu. Bagaimana tidak berbahaya, kalau banyak dosen yang pintar berkelahi, main pukul sampai lawan atau dirinya sendiri babak belur. Jelas amat sangat berbahaya menghina dosen karena tidak sedikit dosen yang ahli bermain politik atau bahkan jadi politikus ulung, meraih kursi legislatif atau kekuasaan eksekutif dan berbagai kekuasaan lain yang kuasa melakukan hal-hal yang di luar kekuasaan orang biasa. Saya tidak berani. Jadi, mohon beribu maaf, saya tidak ada tujuan-tujuan negatif menyatakan bahwa saya belum mengerti arti dosen. Saya belum begitu yakin bahwa dosen sama dengan guru. Saya sudah cukup lama paham tentang arti kata guru, apakah ibu guru, bapak guru, yang digugu dan ditiru, atau Guru Umar Bakri seperti yang didendangkan Iwan Fals. Bahwa guru membuat orang mengenal sebagian besar isi dunia. Guru yang konon di masa lalu amat sangat dihormati dan dihargai. Sampai-sampai orang Kuranji punya seloka kalau akan mencari menan-

tu: “Kalumbuak jo Balai Baru, bialah buruak asa lai guru.” Bahwa guru selalu jadi perbincangan politikus, jadi komoditas politik partai ketika kampanye atau diberi pil penenang oleh yang mulia presiden ketika berjanji menaikkan gaji guru sebagai kompensasi cekikan kenaikan BBM. Atau gajinya jadi rebutan tukang sunat di dinas dan departemen, saya juga agak tahu-tahu sedikit. Anda yang dukun atau mantri sunat jangan tersinggung, saya pernah dengar cerita bahwa keahlian sunat-menyunat sebenarnya bukan monopoli Anda saja. Konon, keahlian seperti Anda jauh lebih canggih dipraktekkan para pengelola guru di berbagai tingkatan. Begitu canggihnya, sehingga seorang guru yang disunat berulang kali, masih tetap bisa hidup walaupun megap-megap, bagai ikan pantau di lumpur kering. Bahwa ada guru yang harus menjadi tukang ojek, menjual kue, bahkan mencuci kain tetangga untuk melanjutkan karier terhormatnya, saya juga agak sering mendengar. Saya bahkan punya seorang tetangga yang mengontrak RSS tipe 36 yang sudah duapuluhan tahun jadi guru. Jadi jangan ragukan kalau saya sedikit mengerti arti kata guru. Saya tidak yakin dosen sama dengan guru, karena dalam banyak hal guru lebih guru dibanding dosen. Maksud saya, guru lebih banyak memberikan waktu dan dirinya secara kuantitatif untuk yang dididiknya. Guru SD tetangga saya mengajar 6 jam sehari selama enam hari seminggu. Sementara teman saya, maaf saya tidak mau menilai diri saya sendiri, nanti dibilang subyektif, banyak teman saya yang dosen mengajar satu-dua jam dalam seminggu, bahkan satudua jam dalam satu semester. Maksud saya ada teman saya dosen tetap pegawai negeri,

Sheiful Yazan Saya sungguh belum paham sepenuhnya arti dosen. Apalagi kalau ingat ucapan salah seorang dosen saya almarhum Mochtar Kusuma Atmadja yang menyatakan musibah ketika ditunjuk jadi Menteri Luar Negeri. cukup mengajar satu kali pertemuan dalam enam bulan. Ah, Anda jangan pura-pura tidak tahu, bahwa gaji dosen yang demikian sama saja dengan gaji dosen lainnya, yang jelas agak lebih tinggi dari gaji guru. Tidak ada niat saya membuat para guru cemburu dengan cerita saya ini. Lagi pula tidak pantas mencemburui dosen dalam banyak hal. Karena menurut pengamatan saya dosen bukan sebuah tujuan, setidaknya bagi sebagian mereka yang sudah merebut predikat tersebut, mungkin juga bagi saya. Sekali lagi maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan dosen, entah itu profesi, setengah profesi atau tidak sama sekali. Jangan anggap saya menuduh bahwa dosen-dosen tidak pernah puas menjadi dosen saja, lalu berusaha meloncat jadi pejabat, pimpro, politikus, konglomerat atau bahkan penjahat atau pengkhianat. Maaf, sekali-kali jangan menuduh demikian. Anda jangan menganggap bahwa dosen tidak boleh jadi

peneliti, ketua jurusan, dekan, rektor, bupati, walikota, gubernur, dirjen, menteri atau apapun. Itu kan sah-sah saja. Kembali pada pernyataan saya pertama tadi, saya sungguh belum paham sepenuhnya arti dosen. Apalagi kalau ingat ucapan salah seorang dosen saya almarhum Mochtar Kusuma Atmadja yang menyatakan musibah ketika ditunjuk jadi Menteri Luar Negeri. Dengan mata berkaca-kaca dia mohon maaf kepada para mahasiswanya, karena harus kehilangan banyak kesempatan menjadi dosen, setelah jadi menteri. Saya tidak tahu beliau sedih atau gembira mengurangi tugas kedosenannya. Saya hanya tahu beliau selalu berusaha memberi kuliah sebelum pulang ke rumahnya, selelah apapun beliau pulang dari tugasnya sebagai menteri. Saya makin tidak mengerti arti dosen ketika dosen saya yang lain, Yuyun Suria Sumantri malah asyik ngobrol setiap pagi dengan para mahasiswa di pinggiran kampus Baranangsiang hanya untuk minum segelas bajigur dan sebutir dua combro. Saya tidak mengerti mengapa ahli Filsafat Ilmu itu tidak bergabung dengan para dosen lain di restoran Mac Donald atau Lembur Kuring yang jadi favorit teman-temannya. Lebih tidak saya mengerti perilaku dosen saya yang senang bergerilya sepanjang kali Code menambah koleksi rumah kardus di sana, walaupun dengan istilah keren ilmu arsitektur. Dosen saya yang lain, Hendra Esmara tega-teganya mencemooh rekannya sesama guru besar dengan istilah GBHN, Guru Besar Hanya Nama, hanya karena mereka tidak sempat menulis buku. Saya ingin bertanya kepada beliau apakah seorang dosen yang tidak sekalipun menulis apalagi menulis buku, lalu tidak boleh menyebut dirinya dosen. Saya ingin buktikan kepada

beliau bahwa beberapa dosen saya yang mengajar ilmu jurnalistik bahkan belum pernah mengirim tulisannya ke suratkabar. Sayang beliau tidak mau lagi saya temui. Saya tidak bermasud menyatakan sepakat atau tidak sepakat jika ada yang mengharuskan dosen mampu menulis buku, karya ilmiah atau menulis di suratkabar, melarang dosen berebut jabatan di perguruan tinggi atau jabatan publik. Tidak juga penting membahas apakah dosen itu mencerdaskan mahasiswa atau mengejar segenggam proyek. Apalah artinya berbagai kegiatan ilmiah, toh ujungujungnya sama saja, demi sesuap nasi atau sesuap berlian, kan hanya beda sebutan. Jadi jangan salahkan kalau sebagian teman saya kadang lebih mementingkan mengejar jam tayang di televisi, atau sessi seminar dan lokakarya, mendahulukan kelas ekstensi dibanding kelas reguler, karena memang ujung-ujungnya lebih punya daya tarik. Saya, terus-terang belum terlalu paham sepenuhnya arti dosen. Karena saya agak terkesima juga melihat teman yang bisa gonta-ganti Kijang Super jadi Kijang Kapsul lalu Kijang Innova. Padahal setahu saya dia hanya mengajar sekali lima belas hari atau sekali sebulan, tidak pernah menulis buku atau seminar ini-itu, hanya agak rajin bawa setumpuk kain batik atau sekarung sepatu Cibaduyut ke kantor dam ke berbagai tempat. Jadi jangan salahkan kalau saya belum juga paham sepenuhnya arti dosen. Jangan marahi saya kalau saya lebih asyik ikut anak-anak muda di sanggar kaligrafi, atau belajar membuat koran-koranan kampus. Saya juga belum merasa nyaman dipanggil “Pak Dosen”, kecuali terpaksa karena situasi resmi dalam kelas. Sudahlah. Saya mungkin masih tiga perempat tidak percaya bahwa saya jadi dosen.

Puisi Isak malam jum’at

Untukmu Ibu

Terpaku dalam kotak beroda Deraian air mataku memeluk rindu Menembus senja Pakan Rabaa Kelelahan hatiku menahan pilu Kuatkan hati dalam do’a untuk pertemuanUntukmu ibu Empat mata di ujung sungai tua Kegelisahan meraih mimpimu Ketekunan menuntut ilmu Deringnya mengejutkan sang empunya Suara serak di udara mengabarkan Untukmu ibu Isak malam jum’at telah pecah Langkah patahku ke ujung haru Waktu berlalu lebih cepat Karena mimpimu ibu Aku terlambat Kupeluk menara angkuh itu Kujalani negeri ganas itu Di simpang lereang bukit pematang Ku dipapa dibawa pulang Dalam do’amu ibu Mengahampiri isak handai tolan Kuabaikan jatuh menggapai asa Mengayun langkah ke ujung rumah Kulupakan pedih teraniaya Berlutut di depan kelambu sulam Karena hanya untukmu ibu Kakekku terbaring di dalamnya Segala hancur lebur ini Untuk melihatmu bangga padaku

Tatapan malaikat Denting dawai nyiur menemani angina malam Menghembuskan aroma rapuh Terbangun aku dari mimpiku Terbangun aku dari mimpiku Saat kau jatuh dipeluk sulungmu Kutuangkan penyejuk ragu Kualirkan rasa perintang takutmu

Tuanmu menyalami untuk ridhoNya Kau sambut ia dan pejamkan mata Aku ragu akan senyummu Ku tunggu tatapan itu Tapi kau tak pernah menatap lagi Dan adzan menyadarkan ku Malaikat telah membawamu

Kau hanya menatapku dalm cemasmu Ku izinkan kau lepaskan aku Untuk meringankan tatapanmu Tapi kau tetapmenatapku Jiwamu mengalirkan aroma Tuhan Kau dengarkan dalam dekapan ajal

Puisi Nurhamsi Deswila


Edisi 118